Anda di halaman 1dari 15

I.1.

Serat Poliamida (Nilon)


Poliamida pertama kali dibuat oleh W. Carothers pada tahun 1928 dengan
nama dagang Nylon. Poliamida dibuat dari hasil reaksi senyawa diamina dan
dikarboksilat. Poliamida yang pertama dibuat dari heksametilendiamina dan asam
adipat. Serat yang dihasilkannya disebut Nylon 66 angka dibelakang nama Nylon
menunjukkan jumlah atom karbon penyusun dari senyawa amina dan senyawa
karboksilatnya.

Struktur Nylon 66
Serat

Nylon

lain

yang

dibuat

adalah

dari

asam

sebasat

dan

heksametilendiamina yang hasil reaksinya dinamakan Nylon 6.10 dengan struktur


seperti pada gambar berikut:

Struktur Nylon 6.10

I.1.1.

Sifat Poliamida (Nilon)


Sifat poliamida tergantung senyawa penyusunnya. Secara umum serat poliamida

mempunyai penampang memanjang berbentuk silinder dan penampang melintang


bulat. Serat Nylon dibuat dengan berbagai tujuan penggunaan. Untuk keperluan
industri dibuat serat dengan kekuatan tinggi dan mulur yang kecil, sedangkan tekstil
untuk pakaian dibuat dengan kekuatan yang tidak terlalu tinggi, dan mulur yang agak
tinggi. Karakteristik serat poliamida adalah sebagai berikut:
I.1.1.1.

Sifat dari Nylon 66

Nylon mempunyai kekuatan dan mulur berkisar dari 8,8 g/denier dan 18%
sampai 4,3 gram/denier dan 45%. Kekuatan basah 80 90% kekuatan
kering.

Nylon mempunyai tahan tekukan dan gosokan yang tinggi.

Pada penarikan 8% nylon elastis 100% dan pada penarikan 16%, nylon
masih mempunyai elastisitas sampai 91%.

Berat jenis nylon 1,14

Nylon meleleh pada suhu 263 0C dalam atmosfer nitrogen dan di udara
meleleh pada suhu 250 0C. Karena titik lelehnya tidak begitu tinggi, apabila
suhu setrika terlalu tinggi, seratnya akan lengket. Apabila suhu setrika diatas
180 0C, serat nylon mulai lengket dan apabila lebih dari 230 0C serat nylon
akan rusak.

Nylon tahan terhadap pelarut-pelarut dalam pencucian kering.

Nylon tahan terhadap asam-asam encer, tetapi dalam asam klorida pekat
mendidih selama beberapa jam akan terurai menjadi m adipat dan
heksametilena diamonium hidroklorida.

Nylon sangat tahan terhadap basa.

Nylon tahan terhadap serangan jamur, bakteri dan serangga.

Pada kondisi standar (RH 65% dan suhu 21 0C) moisture regain nylon 4,2%.

Bentuk

memanjangnya

seperti

silinder

yang

rata

dan

penampang

melintangnya hampir bulat.

Sebelum penarikan nylon suram, tetapi setelah penarikan seratnya berkilau


dan cerah.

Nylon seperti serat tekstil lainnya akan terdegradasi oleh pengaruh sinar,
tetapi ketahannya jauh lebih baik dibandingkan dengan sutera.

Nylon merupakan isolator yang baik, sehingga dapat menimbulkan listrik


statik.

Pengerjaan dengan panas dan lembab akan memberi bentuk yang tetap
pada nyolon, yaitu bentuknya akan tetap selama nylon tersebut dikerjakan
pada suhu pengerjaan pertama.

Radiasi nuklir pada umumnya menyebabkan terjadinya degradasi serat.


Tetapi dengan dosis radiasi tertentu dan cara tertentu dapat dibuat timbulnya
rantai cabang pada permukaan serat nylon.

I.1.1.2.

Sifat Nilon 6

Perbedaan pokok antara nylon 6 dan 66 ialah titik lelehnya lebih rendah.

Kekuatan mulur nylon 6 dapat divariasikan dari 8 g/denier dan 16 20%


sampai 5 g/denier dan 30%.

Berat jenis nylon 6 adalah 1,14.

Moisture regainnya adalah 4%

Apabila nylon 6 direndam dalam air dan kemudian diperas, volumenya hanya
bertambah 13% sedangkan kapas bertambah 40 45% dan rayon viskosa 80
110%.

Tahan sinarnya seperti serat alam.

Sifat biologinya sangat baik. Nylon 6 yang dikubur dalam tanah selama 6
bulan masih mempunyai kekuatan 95% kekuatan aslinya, sedangkan serat
sutera sudah rusak sama sekali, benang wol dan kapas sudah rusak dalam
waktu sebulan.

Nylon 6 melunak pada suhu 170 180 0C dan meleleh pada suhu 2150 C
pada suhu 100 0C dalam waktu yang lama tidak berubah warnanya.

Nylon 6 tahan terhadap kebanyakan pelarut organic seperti benzene,


kloroform, aseton, ester-ester dan eter-eter tetapi larut dalam fenol, kresol
dan asam kuat.

Nylon 6 tahan terhadap alkali.

Nylon 6 tahan terhadap asam-asam lemah dingin, tetapi tidak tahan asamasam dalam keadaan panas.

Nylon 6 larut dalam asam formiat.


Nylon dapat dicelup dengan zat warna yang dapat mencelup wol dan sutera

seperti zat warna asam dan kompleks logam. Zat warna basa juga dapat digunakan
tetapi tahan luntur warnanya terhadap sinar dan pencucian jelek. Sedangkan zat
warna direk, belerang dan bejana affinitas terhada serat nylon jelek.
Serat poliamida merupakan serat sintetik yang hidrofob sehingga zat warna
yang sukar larut dalam air misalnya zat warna disperse dapt dipergunakan untuk
mencelup serat tersebut.
Zat warna disperse pada poliamida mudah menutupi kekurangan-kekurangan
yang terdapat pada serat poliamida dan tahan cucinya untuk warna-warna muda
baik. Tetapi untuk warna-warna tua selain sukar dicapai juga tahan cucinya akan
berkurang.
Untuk memperoleh ketahanan-ketahanan yang lebih baik maka dapat
digunakan zat warna yang larut. Molekul serat poliamida serupa dengan serat-serat
protein yakni mengandung sejumlah gugusan amina primer dan gugus amina
sekunder yang dapat mengikat zat warna asam meskipun kemempuan penyerapan
lebih kecil.
Zat warna mordan asam dan zat warna yang mengandung logam dapat pula
digunakan untuk mencelup warna tua dengan ketahanan yang tinggi. Tetpi

kekurangannya tidak dapat menutupi kekurangan-kekurangan dalam molekul


poliamida dalam serat.
Pada tahun 1959 I.C.I memproduksi zat warna reaktif yang disebut procinyl,
terutama untuk mencelup serat-serat poliamida. Zat warna tersebut merupakan zat
warna terdispersi yang mengandung system rektif jenis triazina.
Dalam suasana netral sifat-sifatnya seperti zat warna terdispersi, tetapi bila
ditambahkan alkali maka zat warna tersebut akan berekasi dengan serat dan
memberikan ketahanan cuci yang baik.
I.1.2.

Morfologi Serat Poliamida (Nilon)


Serat poliamida dipintal dengan pemintalan leleh, seperti halnya dengan buatan

yang lain poliamida mempunyai penampang melintang bermacam-macam, tetapi yang


paling umum adalah bentuk trilobal dan bulat seperti yang disajikan pada gambar
berikut:

Penampang Membujur dan Melintang Serat Poliamida

I.1.3.

Penggunaan Serat Poliamida (Nilon)


Serat poliamida memiliki kekuatan yang cukup tinggi dan ketahanan kimia

yang cukup baik, oleh karena itu penggunaannya cukup luas. Dapat digunakan untuk
tekstil pakaian misalnya kaos kaki, pakaian dalam, baju oleh raga, sampai pada
penggunaan teknik seperti benang penguat ban, terpal, belt penarik dan lain
sebagainya.
I.2.

Zat Warna Asam


Zat warna asam merupakan zat warna yang larut dalam air karena memilki
gugus pelarut sulfonat atau karboksilat dalam struktur molekulnya. Gugusgugus
tersebut juga berfungsi sebagai gugus fungsi untuk mengadakan ikatan ionik dengan
tempat positif dengan serat protein.

Zat warna asam yang memiliki 1 (satu) gugus sulfonat dalam struktur
molekulnya disebut zat warna asam monobasik, yang memilki 2 (dua) gugus sulfonat
disebut zat warna asam dibasik dan seterusnya.
Karena gugus pelarut zat warna asam dibasik lebih banyak gugus pelarutnya,
maka kelarutannya makin tinggi, akibatnya pencelupannya menjadi lebih mudah rata,
tetapi tahan lunturnya terhadap pencuciannya berkurang. Selain itu dibandingkan zat
warna asam monobasik jumlah maksimum zat warna asam dibasik yang dapat
terserap oleh serat wool dan sutera menjadi lebih kecil, terutama bila suasana
larutan celup kurang begitu asam, karena dalam kondisi seperti itu tempattempat
positif pada bahan terbatas. Jadi untuk pencelupan warna tua dalam kondisi tersebut
sebaiknya digunakan zat warna asam monobasik.
Keunggulan lain dari zat warna asam adalah warnanya yang cerah, hal
tersebut karena ukuran partikelnya relatif kecil (lebih kecil dari ukuran partikel zat
warna direk).
Struktur kimia zat warna asam bervariasi, antara lain jenis trienil metan, xanten,
nitro aromatik, azo dan pirazolon. Kebanyakan zat warna asam termasuk jenis azo
sehingga hasil celupnya dapat dilunturkan oleh reduktor.
Penggolongan zat warna asam yang lebih umum adalah berdasarkan cara
pemakaiannya, yaitu :
1. Zat Warna Asam Celupan Rata (Levelling Acid Dyes)
Disebut zat warna asam celupan rata karena pencelupannya mudah rata
akibat dari ukuran molekul zat warnanya yang relatif sangat kecil sehingga
substantifitasnya terhadap serat relatif kecil, sangat mudah larut dan warnanya
sangat cerah, tetapi tahan luntur warnanya rendah.
Ikatan antara serat dan zat warna yang utama adalah ikatan ionik disamping
sedikit ikatan Van der Waals. Untuk pencelupan warna tua biasanya diperlukan
kondisi larutan celup yang sangat asam pada pH 3 4, tapi untuk warna sedang
dan muda dapat dilakukan pada pH 4 5.
Pemakaian NaCl pada larutan celup yang pHnya rendah akan berfungsi
sebagai perata, tetapi pada pH > 4 akan berfungsi sebagai pendorong penyerapan
zat warna.
2. Zat Warna Asam Milling
Ukuran molekul zat warna asam milling agak lebih besar dibanding zat warna
asam celupan rata, sehingga afinitas zat warna asam milling lebih besar dan agak
sukar bermigrasi dalam serat, akibatnya agak sukar mendapatkan kerataan hasil
celup.

Tahan luntur warna hasil celupannya lebih baik dari zat warna asam celupan
rata karena walaupun ikatan antara serat dan zat warna dengan serat masih
didominasi ikatan ionik tetapi sumbangan ikatan sekunder berupa gaya Van Der
Waals nya juga relatif mulai cukup besar (sesuai dengan makin besarnya ukuran
partikel zat warna.)
Untuk mencelup warna tua umumnya diperlukan kondisi larutan celup pH 4-5,
tetapi untuk warna sedang dan muda sebaiknya dilakukan pada pH 5-6 agar hasil
celupannya rata. Penambahan NaCl dalam larutan celup akan berfungsi sebagai
pendorong penyerapan.
3. Zat Warna Asam Super Milling
Diantara seluruh jenis zat warna asam, ukuran molekul zat warna asam
supermilling paling besar (tapi masih kecil dari ukuran molekul zat warna direk)
sehingga afinitas terhadap serat relatif besar dan sukar bermigrasi, akibatnya sukar
mendapatkan kerataan hasil celupannya, tetapi tahan luntur warnanya tinggi.
Tahan luntur yang tinggi diperoleh dari adanya ikatan antara serat dan zat
warna yang berupa ikatan ionik yang didukung oleh ikatan dari gaya Van Der
Waals serta kemungkinan terjadinya ikatan Hidrogen. Untuk pencelupan warna tua
dapat dilakukan pada kondisi larutan celup pH 5-6, tetapi untuk warna sedang dan
muda dapat dilakukan pada pH 6-7. Agar resiko belang menjadi lebih kecil
biasanya tidak diperlukan penambahan NaCl (atau jumlahnya dikurangi), karena
NaCl dalam suasana larutan celup yang kurang asam akan berfungsi sebagai
pendorong penyerapan zat warna.
Dalam pencelupan dengan zat warna asam supermilling seringkali sukar untuk
menghindarkan terjadinya ketidakrataan. Untuk itu pada proses pencelupan dapat
ditambahkan perata anionik.
Agar dapat mengetahui perbedaan diantara ketiga jenis zat warna tersebut
dapat dilihat pada table berikut:
pH Pencelupan
Kerataan
Penyerapan
(Affinitas)
Larutan
Ketahanan Luntur

Levelling
2-3
Baik Sekali, Migrasi

Milling
4-5
Sedang ,Migrasi

Super Milling
67
Jelek, Migrasi

Tinggi

Cukup

Rendah

Kurang

Baik

Sangat Baik

Terdispersi Molekuler

Terdispersi Koloidal

Terdispersi Koloidal

Warna
Pemakaian

Cukup

Baik

Baik Sekali

Penghambat

Penambah

Penambah

Elektrolit

Penyerapan

Penyerapan

Penyerapan

Catatan:
Untuk ukuran partikel zat warna asam mulai dari yang paling kecil adalah zat
warna asam levelling, milling, supermilling, sehingga kecerahan zat warna asam
levelling paling tinggi dibanding zat warna tipe zat warna asam lainnya.
Ukuran partikel zat warna juga menentukan besarnya ikatan sekunder antara
zat warna dengan serat yang berupa ikatan dari gaya Van Der Waals, dimana
makin banyak elektron dalam molekul (makin besar ukuran molekul) zat warna
makin besar ikatan fisika (Van Der Waals) nya. Oleh karena itu dapat dipahami bila
tahan luntur hasil pencelupan dengan zat warna levelling lebih rendah bila
dibanding dengan tahan luntur hasil celup dengan zat warna asam milling atau
supermilling.
Zat warna asam merupakan zat warna yang larut dalam air dan berikatan
ionik dengan serta poliamida. Ketuaan pencelupan zat warna asam sangat
bergantung pada kondisi pH larutan sehingga kontrol ketuaan dapat dilakukan
dengan mengontrol pH karena dengan pH yang rendah maka muatas positif bahan
akan bertambah sehingga akan meningkatkan laju penyerapan zat warna.
I.2.1.

Sifat Zat Warna Asam

Larut dalam air dan umumumnya mengion

Mencelup serat protein dan poliamida

Pada umumnya berikatan dengan serta membentuk ikatan elektrovalen (ionik)

Pada umumnya menggunakan asam pada pencelupannya

Tidak menggunakan air sadah

Liquor ratio berpengaruh terhadap tua muda warna

Dipakai pada temperatur panas

Jenisnya ada yang mudah rata, sedang dan sukar rata

Tahan luntur bervariasi tergantung jenis zat warnanya

Setelah pencelupan perlu dicuci dengan air panas

POLIAMIDA dengan zat warna dispersi


Poliamida adalah serat yang derajat kristalinitasnya tinggi, yang terbentuk
akibat rantai polimer yang linear dan antar rantai polimernya berikatan hidrogen
sehingga strukturnya relatif sangat rapat dan bersifat hidrofob. Oleh karena itu,
poliamida dapat dicelup dengan zat warna dispersi yang molekulnya realtif kecil
dan bersifat hidrofob. Poliamida dikenal pula dengan sebutan poliamida yang
merupakan serat sintetik yang cukup banyak digunakan baik untuk tekstil sandang
maupun non sandang. Poliamida untuk keperluan industri mempunyai kekuatan
sangat tinggi dengan mulur kecil, sedangkan yang ditunjukkan untuk pakaian
mempunyai kekuatan yang lebih rendah dengan mulur yang lebih tinggi.
Poliamida yang banyak diproduksi adalah nylon 6 dan nylon 66. Nylon 6 banyak
digunakan untuk benang ban, tali pancing, tali temali, kaos kaki, karpet, kain
penyaring dan kain untuk pakaian. Kelebihan yang dimiliki adalah pembuatannya
lebih sederhana , tahan sinar, memiliki affinitas yang tinggi terhadap zat warna,
daya celup serta elastisitas dan stabilitas terhadap panas yang lebih baik. Nylon
66 memiliki kekatan yang lebih besar dibandinkan nylon 6 sehingga banyak
digunakan untuk industri non sandang. Memiliki sifat ketahanan gosok dan
elastisitas yang baik. Perbedaan proses manufaktur pada nylon berpengaruh
terhadap hasil pencelupannya
Serat poliamida atau poliamida dibuat dari senyawa dikarboksilat dan
diamina
HOOC R1 COOH + H2N R2 NH2

HOOC R1 COHN R2

NH2
Monomer

(prepolimer)

yang

dihasilkan

dipolimerisasikan

secara

polikondensasi.
Poliamida yang pertama dibuat dari heksametilendiamina dan asam adipat
yang menghasilkan serat poliamida yang sering disebut Nylon 66. Angka
dibelakang nama Nylon menunjukkan jumlah atom karbon penyusun dari
senyawa amina dan senyawa karboksilatnya.

Sedangkan Poliamida 6 10 terbuat

dari heksametilena diamina + asam

Sebasat.

Dan Poliamida 6 dibuat dari kaprolaktam :

Garam

poliamida

hasil

reaksi

asam

karboksilat

dan

diamina

dipolimerisasikan pada suhu sekitar 300oC. Pemintalan dilakukan dengan cara


pemintalan leleh.Proses yang terjadi pada saat pemintalan antara lain :
1. Pendinginan pada atmosfir nitrogen, untuk menghindari degradasi rantai polimer
& bahaya kebakaran.
2. Dilewatkan pada ruang uap(steam chamber) untuk menjaga kelembaban agar
saat disimpan tidak terjadi perpanjangan

Morfologi serat poliamida

Penampang Membujur

Penampang Melintang

Sifat Fisika Poliamida

Sifat Kimia Poliamida


1. Tahan asam-asam encer dan sangat tahan basa,
2. Rusak oleh asam kuat,
3. Dapat dicelup dengan zat warna dispersi, asam, dan reaktif.
Penggunaan Poliamida
1. Memiliki kekuatan yang cukup tinggi dan ketahanan kimia yang cukup
baik, oleh karena itu penggunaannya cukup luas.
2. Digunakan untuk tekstil pakaian misalnya kaos kaki, pakaian dalam, baju
oleh raga,
3. penggunaan teknik seperti benang penguat ban, terpal, belt penarik dan
lain sebagainya.

2.2 ZAT WARNA DISPERSI


Zat warna dispersi pada mulanya banyak dipergunakan untuk mencelup
serat selulosa asetat yang merupakan serat hidrofob. Dengan dikembangkannya
serat buatan yang bersifat hirofob, seperti serat poliakrilat, poliamida dan

poliester, maka penggunaan zat warna dispersi makin meningkat. Pada waktu ini
zat warna dispersi, terutama dipergunakan pada pencelupan serat poliester.
Zat warna dispersi merupakan zat warna yang tidak memiliki gugus pelarut
sehingga tidak akan larut dalam air dan disebut dengan zat warna hidrofobik. Zat
warna hidrofobik ini sebenarnya dikembangkan ketika selulosa asetat dan
triasetat ditemukan yang hampir tidak bisa diwarnai dengan zat warna hidrofilik
yang dibutuhkan untuk mewarnai serat alam. Struktur kimia pada jenis zat warna
yang berbeda untuk jenis serat yang berbeda sangat lah hampir sama kareana
kromofor dan auksokrom yang digunakan dapat membentuk corak yang khsusus,
tanpa memperhatikan substratnya. Kebanyakan perbedaan datangnya dari
auksokrom yang bertanggung jawab pada kelarutan pada kasus serat hidrofilik,
dan yang pada gugus yang tidak larut di air, pada kasus ini ada pada serat
hidrofobik. Zat warna dispersi terdiri dari jenis golongan :
1. Kromogen azo

3. Kromogen antrakuinon

5. Kromogen Styryl (methine)

7. Kromogen Nitrodiphenylamine

2. Kromogen cincin heterosiklik

4. Kromofor Benzodifuranone

6. Kromogen Thiophene

Pada waktu ini zat warna dispersi beredar dengan nama dagang, antara lain :
a) Foron (Sandoz)
b) Resolin (Bayer)
c) Palanil (BASF)
d) Smaron (Hoechst)
e) Dispersol (I.C.I)
f) Miketon (Jepang)
g) Acetoquinone (Francolor)
h) Terasil (CibaGeigy)
Pada pemakainnya memerlukan bantuan zat pengemban (Carrier) atau
adanya suhu yang tinggi. Zat warna dispersi digunakan dalam bentuk bubuk dan
dalam bentuk cairan. Sifat tahan cucinya baik tetapi tahan sinarnya jelek. Ukuran
molekulnya berbeda-beda dan perbedaan tersebut sangat erat kaitannya
dengan sifat kerataan dalam pencelupan dan sifat sublimasinya. Berdasarkan
ukuran molekulnya zat warna dispersi tergolong menjadi
No
1

Tipe
Golongan A

Sifat
Sifat kerataan celup sangat baik karena ukuran
molekulnya paling kecil,

akan tetapi mudah


o

3
4

Golongan B (Tipe

bersublimasi pada suhu 130 C.


Sifat kerataannya celup cukup baik karena ukuran

E)

molekulnya sedang, dan menyublim pada suhu

Golongan C (Tipe SE)

190oC.
Sifat kerataan celup cukup baik, menyublim pada

Golongan D (Tipe

suhu 200oC.
Sifat kerataan celup kurang baik, menyublim pada

S)

suhu 210oC.
Dari keberagaman besar molekul akan mempengaruhi terhadapa affinitas

zat warna itu sendiri, dan juga ikatan yang terjadi antara zat warna dispersi
dengan serat poliamida. Maka dari itu dari jenis zat warna yang kita digunakan
kita dapat menentukan proses yang dipilih pada proses pencelupannya.

2.3 PERSIAPAN

PROSES PENCELUPAN

POLIAMIDA DAN

ZAT WARNA

DISPERSI

Persiapan kain tenun grey

Penghilangan kanji

Pemasakan

Pengelantangan

Pemantapan panas
Pemutihan optik

Proses penghilangan kanji dilakukan untuk menghilangkan kanji (Polivinil


Akrilat atau CMC) yang biasa digunakan untu menambah kekuatan benang pada
saatu proses
penenunan, kanji harus Pencapan
dihilangkan agar tidak mengganggu proses
Pencelupan
yang dilakukan setelah dilakukannya proses persiapan penyempurnaan.
Penghilangan kanji dapat menggunakan enzim atau dengan perendaman
menggunakan detergen. Proeses pemasakan dilakukan untuk menghilangkan
kotoran bukan alam, namun kotoran yang bisa terdapat dari proses pembuatan
Penyempurnaan
kain seperti misalnya oli. Pemasakan dilakukan dengan menggunakan detergen
atau alkali pada suhu 60-85oC. Proses pengenlantangan dilakukan karena kain
nylon sering berwarna kuning setelah proses pemantapan panas yang
disebabkan oksidasi gugus amina, maka dari itu dilakukan lah pengelantanga
menggunakan NaClO2 atau CH3COOH. Proses pemutihan optik dilakukan agar
kain meilki warna yang putih, zat yang digunakan antara lain azol, benzofuran,
dan naftalamida.
Pada saat pencelupan sebaiknya dipilih struktur molekul zat warna dispersi
yang bentuknya langsing agar zat warna dapat berdifusi dengan baik kedalam
serat. Bahan poliamida yang dicelup dengan zat warna dispersi diperuntukkan

untuk bahan sandang yang jarang terkena siar matahari. Untuk pencelupan
poliamida dengan zat warna dispersi biasanya menggunakan golongan C (tipe
SE) dan D (tipe S) pada suhu 130oC. Namun untuk poliamida yang elastisitasnya
relatif tinggi dapat digunakan golongan B (tipe E) dengan suhu pencelupn 120oC.
2.4 PENCELUPAN NYLON PADA ZAT WARNA DISPERSE
Cara pencelupan zat warna dispersi pada kain poliamida sama seperti
pencelupan pada serat selulosa asetat. Zat warna dispersi ditaburkan sambil
diaduk-aduk untuk membuat pasta . pemakaian air mendidih atau penambahan
zat pendispersi yang tidak diencerkan terlebih dahulu untuk membuat pasta zat
warna adalah kurang baik karena mudah menggumpalkan zat warna. Pemakaian
zat pendispersi sebanyak 1-2 g/L kedalam larutan celup berguna untuk membantu
membuat suspensi zat warna dan mengurangi kecepatan penyerapannya. Bahan
dimasukkan kedalam larutan celup waktu masih dingin dan suhu dinaikkan hingga
130oC selama 30 menit, kemudian diteruskan selama 45 menit (untuk metoda
suhu tinggi).
Skema proses pencelupan metoda suhu tinggi

4
3
2

Pada proses pencelupan terjadi empat tahapan penting yang terjadi, dari
skema diatas, dapat dilihat keempat tahapan tersebut.
1.

Migrasi

: proses dimana zat warna dispersi mulai bergerak mendekati

permukaan serat poliamida.


2.

Absorbsi : proses dimana zat warna disperi mulai bergerak menempel


pada permukaan serat poliamida.

3.

Difusi

: prose dimana zat warna dispersi mulai masuk ke sumbu

serat, proses disini merupakan proses yang paling lama.


4.

Fiksasi

proses dimana antara zat warnda dispersi dan serat

poliamida mulai terjadi ikatan.