Anda di halaman 1dari 42

SIMULASI RESERVOIR

Pengertian Simulasi Reservoir


Simulasi reservoir adalah suatu proses matematik yang digunakan
untuk memprediksikan perilaku reservoir hidrokarbon dengan
menggunakan suatu model. Suatu model diasumsikan memiliki sifatsifat yang mirip dengan keadaan reservoir yang sebenarnya. Model
tersebut memiliki dua tipe, yaitu model fisik dan model matematik.
Model fisik dimodelkan dengan menggunakan objek yang tampak
sehingga mudah untuk di teliti atau dievaluasi, sedangkan model
matematik menggunakan persamaan matematik yang
memperhitungkan sifat-sifat atau kelakuan fisik, kimia dan thermal dari
reservoir dalam penginterpretasiannya. Perumusan matematik sangat
sulit untuk dipecahkan menggunakan metode analitis, sehingga
pemecahannya menggunakan cara numerik (misal, finite difference).
4.2. Jenis-Jenis Pemodelan Reservoir
Pemodelan reservoir dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
model analog, model fisik dan model matematik. Model-model tersebut
akan dibahas dalam sub bab berikut ini.
4.2.1. Model Analog
Model analog merupakan suatu model yang berdasarkan suatu proses
lain yang mempunyai kesamaan dengan proses yang akan dipelajari,
misalnya aliran fluida reservoir dengan arus listrik. Beberapa contoh
model yang didasarkan atas kesamaan aliran fluida reservoir dengan
arus listrik yaitu:
A. Model Resistor-Capasitor (R-C)
Model resistor-capasitor (R-C) menggambarkan kesamaan antara arus
listrik dengan aliran fluida reservoir untuk mengembangkan analog
kelistrikan pada suatu reservoir migas. Perilaku reservoir dapat
dihitung dengan menggunakan faktor-faktor konversi yang cocok
berdasarkan analisa beberapa parameter kelistrikan pada suatu kondisi
operasi tertentu. Analogi kedua system tersebut dapat dilihat dari
kedua persamaan berikut ini:
Aliran Fluida Reservoir:
...................................................................................(4-1)
......................................................................................(4-2)
Arus Listrik
i = .....................................................................................(4-3)
.....................................................................................(4-4)
Hubungan antara parameter-parameter tersebut dapat dilihat pada
tabel IV-1.

Tabel IV-1
Hubungan antara Sistem Fluida dan Sistem Listrik
(Crichlow, H.B, 1977)
Model R-C biasa digunakan pada grid reservoir 2D, seperti terlihat pada
gambar 4.1., 4.2. dan 4.3. Gambar-gambar tersebut merupakan
pemodelan reservoir Woodbine Basin menggunakan model R-C.
Persamaan (4-1) sampai (4-4) menggambarkan hubungan satu-satu
sebagai berikut :
q i .......................................................................................................
(4-5)
.............................................................................................(4-6)
P E ..........(4-7)
Hambatan (resistan) dalam suatu model wilayah tertentu dapat
dihitung dari permeabilitas batuan pada wilayah tersebut. Nilai beda
potensial (E) dan arus (i) bervariasi dalam suatu sirkuit listrik.

Gambar 4.1.
Reservoir Woodbine Basin
(Crichlow, H.B.,1977.)

Gambar 4.2.
Lapangan East Texas
(Crichlow, H.B.,1977)

Gambar 4.3.
Jaringan Resistor
(Crichlow, H.B.,1977)
B. Model Electrolytic
Model electrolitic steady-state dikembangkan oleh Botset, Wyckoff dan
Muskat untuk menganalisa pergerakan front fluida di reservoir. Model
ini didasarkan pada analogi hukum Ohm dengan hukum Darcy untuk
aliran fluida dalam media berpori. Model electrolitic steady state dapat
dibuat pada kertas filter atau agar gelatin untuk menganalisa distribusi

potensial. Skala model ini dibuat secara geometris.

Gambar 4.4.
Model Electrolitic
(Crichlow, H.B.,1977)
Elektroda tembaga merupakan lokasi sumur sedangkan pergerakan
front fluida dimodelkan dengan pergerakan ion tembaga amonium
berwarna yang bergerak dari elektroda negatif ke elektroda positif.
Media yang digunakan mengandung ion seng amonium yang tidak
berwarna. Ion tembaga bergerak pada sudut yang tepat sesuai dengan
garis isopotensial. Gambar 4.4. menggambarkan model electrolitic.
C. Model Potentiometric
Model potentiometric merupakan model steady-state yang
menggunakan wadah tertentu sesuai dengan batas reservoir,
permeabilitas dan ketebalan reservoir yang dimodelkan. Sumur-sumur
diwakili dengan elektroda tembaga yang diletakkan dalam suatu
medium. Medium ini terdiri atas elektrolit seperti kalium klorida (KCl).
Laju injeksi dan laju produksi dimodelkan dengan arus bolak-balik
tertentu. Tujuan penggunaan model potentiometric adalah untuk
menentukan distribusi potensial steady state. Garis gelombang (stream
line) dapat ditentukan dengan memplot sejumlah titik potensial dalam
sudut yang tepat terhadap garis isopotensialnya. Stream line dapat
digunakan untuk menentukan lokasi front pendesakan dengan
memperhitungkan jarak yang ditempuh stream line yang berasal dari
suatu sumber. Model potentiometric diperlihatkan pada gambar 4.5.

Gambar 4.5.
Model Potentiometric
(Crichlow, H.B.,1977)
4.2.2. Model Fisik
Model ini dibangun dengan menggunakan sampel batuan reservoir
atau membuat bentuk reservoir dimana model ini mempunyai sifatsifat yang sama dengan reservoir sebenarnya. Beberapa contoh model
fisik adalah :
a. Model Elemental
Model elemental menggunakan contoh batuan (core) sebagai model
reservoir yang diambil melalui coring. Core tersebut digunakan untuk
mengukur sifat fisik batuan reservoir, seperti porositas, saturasi fluida,
permeabilitas dan mempelajari perilaku metode pendesakan (flood

test).
b. Model Scale
Model ini dilakukan dengan membuat skala kecil dari reservoir,
sehingga proses aliran dalam reservoir dapat dipelajari. Model scale
dapat diketahui pada proses injeksi air dengan pola sumur yang
teratur, contohnya five spot.
4.2.3. Model Matematika
Model matematika menggambarkan aliran fluida reservoir dalam
bentuk persamaan-persamaan matematika. Persamaan matematik ini
berbentuk persamaan differensial parsial yang diturunkan dari
persamaan konservasi massa, hukum Darcy dan persamaan keadaan.
Persamaan differensial tersebut merupakan persamaan non-linear
(kontinu) dan kompleks sehingga sukar dipecahkan secara analitik dan
memerlukan pemecahan secara numerik. Untuk itu maka diperlukan
suatu program komputer untuk pemecahannya.
Hal-hal baru yang dapat dikemukakan dari model matematik ini adalah
bahwa bentuk dan kondisi reservoir secara detail dapat dimasukkan di
dalam perhitungan, heterogenitas dari batuan reservoir akan
berpengaruh dalam model, performance dari sumur-sumur dapat
diketahui.
Reservoir dibagi dalam blok-blok atau grid dalam sistem numerik
dimana bentuk blok dapat disesuaikan dengan heterogenitas dari
reservoir, akan tetapi pada prinsipnya makin kecil blok-blok tersebut
makin baik. Dengan adanya pembagian ini maka tergantung dari
keadaan reservoir, model dapat merupakan model satu dimensi, dua
dimensi atau tiga dimensi.
Kesalahan dari metoda ini dengan sendirinya ada yaitu dengan
dipakainya pendekatan-pendekatan dari bentuk persamaan differensial
menjadi bentuk persamaan finite difference, akan tetapi kesalahankesalahan ini dapat dibatasi atau dibuat sekecil mungkin dengan
mengadakan analisa terlebih dahulu terhadap metoda penyelesaian
yang akan digunakan.
4.3. Persamaan Dasar Simulasi Reservoir
Aliran fluida dalam media berpori merupakan suatu fenomena yang
sangat kompleks, yang tidak dapat dideskripsikan secara analistis.
Dasar untuk mempelajari aliran fluida dalam media berpori dibutuhkan
pemahaman mengenai beberapa sistem persamaan matematik yang
berpengaruh terhadap kelakuan fluida. Aliran fluida dalam media
berpori dapat direpresentasikan secara matematis berdasarkan hukum
konservasi massa, hukum darcy dan persamaan keadaan. Persamaan
aliran di dalam media berpori dapat diturunkan yaitu dengan

mengkombinasikan ketiga persamaan ini.


4.3.1. Hukum Konservasi Massa
Hukum konservasi massa untuk aliran satu fasa dapat dinyatakan
bahwa total massa aliran yang terkumpul merupakan pengurangan
dari massa aliran yang masuk dengan massa aliran yang keluar.
Elemen keseimbangan massa dapat dinyatakan pada gambar 4.6.
Persamaan yang menyatakan hukum konservasi massa dapat
dinyatakan berikut :
....(4-8)

Gambar 4.6.
Keseimbangan Massa
(Crichlow, H.B.,1977)
Persamaan (4-8) dibagi dengan x,y,z akan diperoleh persamaan
berikut :
................................................(4-9)
Persamaan (4-9) dengan menggunakan limit x dan t mendekati nol ,
maka persamaannya menjadi :
....................................................................................(4-10)
Persamaan (4-10) untuk aliran tiga dimensi dapat dinyatakan berikut :
.........................................................(4-11)
dimana:
= kecepatan pada saat masuk
= kecepatan pada saat keluar
x = densitas saat masuk
x + x = densitas saat keluar
x, y, z = jarak ke x, y, dan z
4.3.2. Hukum Darcy
Kemampuan untuk memperkirakan kelakuan dari reservoir tergantung
pada kemampuan seorang engineer untuk memperkirakan
karakteristik aliran fluida didalam reservoir. Setelah semua perhitungan

tentang porositas dan saturasi fluida telah dilakukan, maka masih ada
satu hal yang harus diperhitungkan yaitu kecepatan fluida reservoir
untuk diproduksikan.
Dikenalkan suatu konsep untuk mendefinisikan kemampuan dari
batuan untuk melewatkan fluida,. Konsep ini adalah permeabilitas dari
batuan, yang dinyatakan oleh Darcy :
Laju aliran fluida homogen melalui media berpori berbanding lurus
dengan gradient tekanan dan arah normal terhadap luas penampang
lintang dari arah aliran serta berbanding terbalik dengan viskositas.

Secara metematis dapat ditulis :


Vs = - ......(4-12)
dimana :
Vs = kecepatan
= viskositas absolut
k = permeabilitas fluida
= gradient tekanan
Tanda negatif dari Persamaan 4-12 menyatakan bahwa aliran akan
terjadi pada penurunan potensial.
Percobaan yang dilakukan oleh Darcy terdapat beberapa keterbatasan
dan asumsi yang digunakan sebagai berikut :
a. Fluida homogen dan satu fasa
b. Tidak ada reaksi kimia antara media dan fluida
c. Permeabilitas tidak tergantung pada fluida, temperatur, tekanan dan
lokasi
d. Alirannya laminer
e. Tidak ada efek klikenberg
f. Tidak ada efek elektrokinetik

4.3.3. Persamaan Keadaan


Persamaan keadaan digunakan untuk memperlihatkan hubungan
antara densitas dengan tekanan. Persamaan itu dapat dinyatakan
berikut :
. ....................................................................................(4-13)
dimana :
= densitas pada tekanan P
o = densitas pada tekanan Po
c = faktor kompresibilitas isothermal
c=
Persamaan (4-12) disubstitusikan dengan persamaan (4-10) didapat
persamaan:

..............................................................(4-14)
Turunan persamaan 4-14 dapat ditulis dengan mengganti harga dan
harga menghasilkan persamaan berikut:
......................................(4-15)
......................................(4-16)
Harga bisa dihilangkan, karena gradien tekanan diasumsikan kecil.
Persamaan 4-16 dikalikan 1 akan didapatkan persamaan :
..............................................................(4-17)
Kedua ruas pada persamaan 4-17 dibagi dengan , sehingga didapat
persamaan sebagai berikut :
..............................................................(4-18)
Kompresibilitas dapat dinyatakan sebagai hubungan antara densitas
dan tekanan , yaitu :
c = ......................................................................................(4-19)
Persamaan 4-19 disubstitusikan pada persamaan 4-18. sehingga
didapat persamaan:
..........................................................................(4-20)
Harga bila dipindah ke ruas kanan akan di dapat persamaan berikut :
..........................................................................(4-21)
Persamaan yang menyatakan harga merupakan fungsi dari dimensi
ruang adalah
..........................................................................(4-22)
Persamaan 4-21 dan 4-22 biasanya disebut sebagai persamaanpersamaan diffusivitas karena menyerupai persamaan diffusivitas
untuk perpindahan panas seperti persaman berikut:
......................................................................................(4-23)
Persamaan untuk aliran radial ialah :
..............................................................(4-24)
Persamaan untuk aliran dua dimensi dapat dinyatakan berikut :
..............................................................(4-25)
dimana :
k = permeabilitas, mD
P = tekanan, psia
= porositas, fraksi
= viskositas, cp
4.3.4. Persamaan Aliran Multifasa pada Aliran Fluida Media Berpori
Aliran fluida dalam media berpori merupakan hal yang sangat
kompleks dan tidak dapat digambarkan dengan mudah secara eksplisit
seperti halnya aliran di dalam pipa. Aliran dalam media berpori adalah
suatu konsep yang harus diuraikan dan dimengerti sebelum kita
memformulasikannya kedalam simulasi. Konsep ini meliputi
permeabilitas, aliran fluida satu fasa dan multifasa, permeabilitas

relatif dan kompresibilitas fluida.


Persamaan aliran multifasa merupakan persamaan differensial parsial
yang non linier yang tidak dapat diintegrasi . Persamaan untuk sistem
tiga fasa terdiri dari fasa minyak, air dan gas.
A. Fasa minyak
Persamaan aliran pada fasa minyak dapat dinyatakan bahwa aliran
minyak yang terkumpul merupakan pengurangan dari aliran minyak
yang masuk dengan aliran minyak keluar, atau dapat dinyatakan
dengan persamaan :
........(4-26)
dimana :
V=
A=
Persaman (4-26) dibagi dengan V kemudian dilimitkan terhadap akan
menghasilkan persamaan berikut :
..............................................................(4-27)
Persamaan (4-27) untuk sistem radial dapat dinyatakan sebagai
berikut:
..................................................(4-28)
B. Fasa Air
Persamaan aliran pada fasa air dapat dinyatakan bahwa aliran air yang
terkumpul merupakan pengurangan dari aliran air yang masuk dengan
aliran air keluar. Persaman aliran untuk fasa air sama dengan aliran
fasa minyak, sehingga persamaan yang menyatakan fasa air utuk
sistem linear dapat dinyatakan berikut:
..................................................(4-29)
Persamaan 4-29 untuk sistem radial dapat dinyatakan sebagai berikut:
..................................................(4-30)
C. Fasa Gas
Persaman aliran untuk sistem tiga fasa untuk gas merupakan
akumulasi dari semua gas baik berupa gas bebas, gas terlarut dalam
minyak dan gas yang terlarut dalam air, persamaan tersebut
dinyatakan sebagai berikut: - =
V ..........................(4-31)
Persamaan (4-31) jika dibagi V dan dilimitkan terhadap akan menjadi
..............(4-32)
Persamaan aliran pada sistem radial fasa gas dapat dinyatakan
berikut :
........(4-33)

Persamaan differensial parsial pada aliran multifasa dapat dinyatakan


sebagai penjumlahan dari fasa gas minyak dan air , atau dapat
dinyatakan:
+ + + + ..........................(4-34)
I. Ekspansi Dalam Bentuk Radial
Umumnya persamaan aliran multifasa untuk aliran transient (unsteady
state) fasa minyak, gas, dan air pada media berpori dikembangkan dari
kombinasi persamaan aliran fasa tunggal, dan harga saturasi untuk
semua fasa adalah satu atau dapat ditulis :
So + Sw + Sg = 1 ..........................................................................(4-35)
Persamaan (4-35) dapat juga ditulis sebagai berikut:
( So + Sw + Sg ) = 0 ...................................................................(4-36)
a. Fasa Minyak
Ekspansi bentuk radial pada fasa minyak dilakukan dengan mengalikan
turunan persamaan fasa minyak pada aliran radial (4-28) dengan Bo,
sehingga dapat ditulis sebagai berikut:
..................................................(4-37)
Persamaan (4-37) dapat disederhanakan menjadi :
..................(4-38)
Persamaan (4-38) dengan harga 0 akan menghasilkan persamaan :
.....................................(4-39)
dimana : .....................................(4-40)
b. Fasa Air
Ekspansi bentuk radial pada fasa air dilakukan dengan mengalikan
turunan persamaan fasa air pada aliran radial (4-30) dengan Bw,
sehingga didapat persamaan berikut:
............................................(4-41)
c. Fasa Gas
Ekspansi bentuk radial pada fasa gas dilakukan dengan mengalikan
turunan persamaan fasa gas pada aliran radial (4-33) dengan Bg,
sehingga dapat ditulis dengan persamaan berikut:

Persamaan (4-42) dapat disederhanakan sebagai berikut:


..............................................................................................................
(4-43)
Persamaan (4-43) dengan mengabaikan harga akan menghasilkan
persamaan:
.............................................................................................................(444)

Persamaan yang menyatakan kombinasi fasa minyak dan fasa air


dapat ditulis sebagai berikut:
....(4-45)
Persamaan ekspansi radial untuk aliran multifasa merupakan
gabungan dari persamaan ekspansi radial fasa air dan fasa minyak (445) dan persamaan fasa gas (4-44) yang dinyatakan sebagai berikut:
Right Hand Side pada persamaan (4-39) dapat dinyatakan sebagai
berikut :
.............................................................................................................(447)
Bagian Left Hand Side dihasilkan dari substitusi dari persamaan (4-40)
dan (4-45) ke persamaan (4-47) adalah dapat dinyatakan berikut :
Persamaan (4-48) dengan total mobilitas atau dan harga akan menjadi
Persamaan (4-49) dapat disederhanakan menjadi persamaan berikut:
..................................................(4-50)
Persamaan (4-50) dengan memindahkan ke ruas kanan akan menjadi
persamaan aliran tiga fasa unsteady state untuk minyak, air dan gas
pada sistem radial. Asumsi yang digunakan pada persamaan ini adalah
mobilitas yang tidak berubah terhadap jari-jari, dan persaman ini
memberikan harga tekanan di jari-jari setiap waktunya. Persamaan
tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut:
..................................................(4-51)
II. Ekspansi Pada Bentuk Satu Dimensi
Bentuk sistem satu dimensi fasa minyak ,air dan gas dapat ditunjukkan
oleh persaman berikut:
......................................(4-52)
..........................(4-53)
.............................................................................................................(454)
,dimana = potensial fluida minyak
,dimana = potensial fluida air
, dimana = potensial fluida gas
Po = Pw + Pcw ..........................................................................(4-55)
Pg = Po + Pcg ..........................................................................(4-56)
Persamaan (4-52) dikombinasikan dengan persamaan (4-56) dan (4-36)
akan didapatkan persamaan berikut:
dimana:

= mobilitas
= variabel fungsi dari PVT ( pressure-volume-temperature )
= variabel produksi
4.3.5. Kondisi Batas
Aliran masuk dan keluar sistem pada simulasi reservoir terjadi pada
batas terluar dari reservoir dan batas dari sumur. Kondisi batas pada
suatu reservoir yang diwakili suatu sumur radial simetris dengan jarijari sumur terbatas dan jari-jari terluar terbatas dapat dilihat pada
gambar 4.7. Kondisi batas suatu reservoir terdiri dari :

Gambar 4.7.
Sistem Sumur Radial
(Crichlow, H.B.,1977)
Kondisi Awal
Kondisi awal dari suatu reservoir dan interaksi reservoir dengan
sekitarnya harus diketahui sebelum kita membuat suatu model
reservoir. Kondisi awal merupakan keadaan awal reservoir pada saat
waktu nol. Semua sistem pada posisi setimbang pada saat waktu nol
akan tetap kecuali jika ada gangguan dalam sistem tersebut. Sebagai
contoh suatu reservoir minyak tidak mengalami gangguan dalam posisi
diam kemudian dilakukan pemboran hal ini menyebabkan suatu
gangguan kesetimbangan normal dimana reservoir mulai bereaksi
dengan pengaturan kembali pola alir dan tekanannya pada reservoir
tersebut. Tergantung pada sifat gangguan alamiah, sistem reservoir
mungkin atau tidak mungkin pada kondisi steady state. Kondisi yang
mungkin adalah:
Kondisi batas dalam reservoir meliputi:
1. Tekanan konstan pada lubang sumur, atau dapat dinyatakan P(rw,t)
adalah konstan
2. Laju alir konstan, atau dapat dinyatakan bahwa r = konstan
3. Variabel tekanan lubang sumur, dapat dinyatakan bahwa P(rw ,t) =
f1(t)
4. Variabel laju alir, dapat dinyatakan bahwa r = g1 (t)
5. Penutupan sumur, dapat dinyatakan bahwa r = 0
Kondisi batas luar reservoir meliputi :
1. Tekanan konstan, yaitu P( re , t ) adalah konstan
2. Influx untuk semua batas adalah konstan ,atau = konstan
3. Variabel laju influx, dapat dinyatakan bahwa = f2 (t)
4. Closed outer boundary , dapat dinyatakan = 0

5. Infinite reservoir system, dapat dinyatakan


Sumur yang diproduksi dengan tekanan sekitar jari-jari dalam akan
mulai turun dan mengalami perubahan penurunan tekanan sampai
limit dari reservoir. Profil penurunan tekanan sebagai fungsi waktu
dapat dinyatakan pada gambar 4.8.
Kondisi batas reservoir dua dimensi seperti gambar 4.9. dapat
ditentukan kondisi sebagai berikut :
1. No flow condition reservoir tertutup
Komponen velocity ke batas permukaan harus nol saat tidak ada
aliran .
2. Menentukan aliran yang melewati batas gradient influx aquifer
3. Menentukan tekanan pada batas
Kondisi batas sebagai fungsi tekanan dapat digunakan untuk
menentukan persamaan differensial dalam fungsi tekanan. Hubungan
antara aliran dan tekanan dinyatakan oleh persamaan Darcy :
................................................................................(4-58)
dimana n adalah arah normal ke batas. Kedua ruas persamaan 4-58
dikalikan dengan luas dari batas untuk mendapatkan laju alir, qn :
qn = ..............................................................................(4-59)
..............................................................................(4-60)
Persamaan 4-59 untuk memecahkan gradien tekanan normal terhadap
batas. Gradien tekanan dapat dihitung menggunakan persamaan 4-60
untuk setiap nilai qn.
Persamaan untuk no flow condition, (qn), menjadi :
........ .............................................................................(4-61)

Gambar 4.8.
Profil Tekanan Radial
(Crichlow, H.B.,1977)

Gambar 4.9.
Kondisi Batas
(Crichlow, H.B.,1977)
4.4. Pendekatan Finite Difference
Persamaan differensial parsial non-linear yang menghubungkan

perubahan tekanan dan saturasi terhadap waktu melalui suatu media


merupakan suatu persamaan yang mengatur aliran fluida dalam media
berpori. Persamaan ini sangat kompleks dan lebih rumit dengan
adanya kondisi batas yang khusus.
Penyelesaiannya tidak mungkin dilakukan secara analitik. Penyelesaian
secara numerik adalah umum dilakukan. Tahapan penyelesaian
numerik memenuhi pada setiap titik diskrit dalam sistem. Sistem
diskrit ditunjukkan pada gambar 4.10. Proses perubahan dari
persamaan differensial kontinu ke bentuk diskrit dapat dilakukan
dengan menggunakan finite difference. Finite difference ini dapat
memisahkan ruang dan waktu atau pada proses ini waktu dan ruang
didiskritisasi.

Gambar 4.10.
Sistem Diskrit
(Crichlow, H.B.,1977)
4.4.1. Proses Pemisahan (Discretization)
Proses penyelesaian sistem persamaan aliran pada umumnya
melibatkan penentuan variabel-variabel yang tergantung terhadap
waktu dan ruang. Penyelesaiannya dilakukan dengan membuat titiktitik diskrit dalam waktu dan ruang. Domain ruang akan dipisahkan
menjadi sejumlah cell, grid atau blok yang terdiri atas beberapa grid.
Grid ini pada umumnya berbentuk rectangular. Gambar 4.10.
menggambarkan penggunaan grid dua dimensi.

Gambar 4.11.
Diskritisasi Waktu (Time Discretization)
(Crichlow, H.B.,1977)
Domain waktu juga dipisahkan menjadi sejumlah time step. Lamanya
setiap time step tergantung dari persoalan yang akan diselesaikan,
pada umumnya semakin kecil setiap time step maka penyelesaiannya
akan semakin akurat. Contoh dari time discretization ditunjukkan oleh
gambar 4.11. Persamaan finite difference digunakan untuk
mendapatkan beberapa parameter dalam grid-grid yang telah dibuat.
4.4.2. Finite Difference

Persamaan differensial parsial dapat digantikan dengan persamaan


finite differencenya. Persamaan finite difference dapat diperoleh
dengan perluasan deret Taylor dari fungsi pada titik yang diberikan dan
penyelesaiannya dengan derivatif yang dibutuhkan. Perluasan deret
Taylor dapat dituliskan sebagai berikut :
P(x + x) = P(x) + x P(x) + x2 P(x) + x3 P(x) ..............(4-62)
Forward Difference
P(x x) = P(x) x P(x) x2 P(x) x3 P(x) ..............(4-63)
Backward Difference
dimana : P = ; P = ; P =
A. Derivatif Pertama
Persamaan 4-62 dan 4-63 dapat dipecahkan untuk derivatif pertama
atau kedua sesuai kebutuhan.
P(x) = ..................................................(4-64)
P(x) = ..................................................(4-65)
Kedua persamaan diatas merupakan persamaan forward difference dan
backward difference untuk derivatif pertama. Persamaan central
difference dapat dibuat dengan mengkombinasikan persamaan 4-64
dan 4-65 dan dapat dituliskan
P(x) = ......................................(4-66)
Kesalahan yang dihasilkan oleh ketiga persamaan tersebut berbeda,
hal ini disebabkan masing-masing persamaan mempunyai pendekatan
yang berbeda. Forward difference dan backward difference dalam
bentuk x, sedangkan central difference dalam bentuk x2. Kesalahan
ini biasa disebut truncation error. Derivative pertama pada suatu finite
difference dapat dinyatakan dengan menggunakan gambar 4.12. yang
menunjukkan kurva derivatif pertama.

Gambar 4.12.
Kurva Derivatif Pertama
(Crichlow, H.B.,1977)

B. Derivatif Kedua
Kombinasi persamaan 4-62 dan persamaan 4-63 akan menghasilkan
persamaan sebagai berikut :
P(x + x) + P(x x) = 2P(x) + x2 P(x) + 0(x4) ..........................(467)
P = + 0(x2) ..........................(4-68)

Gambar 4.13.
Kurva Derivatif Kedua
(Crichlow, H.B.,1977)
Derivative kedua pada suatu finite difference dapat dinyatakan dengan
menggunakan gambar 4.13.
Kesalahan dalam derivatif kedua dinyatakan dalam bentuk x2
berdasarkan persamaan 4-68. Persamaan-persamaan yang dapat
disimpulkan dari persamaan derivatif pertama dan derivatif kedua
adalah sebagai berikut :
;
;
4.4.3. Penyelesaian Eksplisit Dan Implisit
Pembentukan persamaan kelakuan temperatur akan mengikuti tipe
dari kondisi batas, jika memperhatikan proses sederhana seperti timedependent yaitu pemecahan berbagai fungsi waktu dan
memperhatikan pembagian temperatur pada batang satu dimensi.
Persamaan kelakuan yang sesuai dengan kondisi batas dapat
dinyatakan berikut :
.........................(4-69)

Gambar 4.14.
Grafik Distribusi Temperatur
(Crichlow, H.B.,1977)
Penyelesaian sistem ini akan diperoleh fungsi T(x,t) yang mana kita
dapat menentukan distribusi temparatur pada berbagai lokasi x dan
lokasi waktu t. Perhitungan secara analitik dapat memperoleh
penyelesaian dimana waktu dan jarak adalah kontinyu, dalam
penyelesaian secara numerik kita akan memperoleh harga temparatur
pada lokasi x yang tetap dan titik diskrit waktu. Penyelesaiannya dapat
ditunjukkan oleh grafik yang terlihat pada gambar 4.14.
Harga waktu 0, 1, 2, 3, . . . berhubungan dengan level waktu yang
berbeda dan semakin besar sesuai dengan kemajuan proses. Informasi
yang didapat pada level waktu misal ; t = 1 digunakan untuk
menghitung pada tingkat yang lebih besar yaitu t = 2.
Terdapat dua metoda dalam pengubahan dari nilai level waktu yang
lama ke level waktu yang baru. Nilai yang baru dapat dihitung masing-

masing untuk setiap lokasi dalam jarak x dimana proses dimulai dari x
= 0 dan berakhir pada x = L untuk nilai waktu yang diberikan. Metode
yang digunakan untuk menghitung satu nilai baru pada waktu tertentu
adalah metoda eksplisit. Metode ini melibatkan satu persamaan
dengan satu parameter yang tidak diketahui. Semua nilai baru antara x
= 0 dan x = L dapat dihitung secara simultan untuk setiap nilai waktu
yang diberikan. Metode untuk menghitung nilai-nilai baru secara
simultan disebut metode implisit. Metode ini melibatkan penyelesaian
sistem N N untuk persamaan linear yang simultan.
4.4.3.1. Penyelesaian Eksplisit
Metoda eksplisit meliputi penyelesaian yang berurutan dari satu
persamaan dengan satu harga yang tidak diketahui dimana variabel
pada waktu n+1 dihitung berdasarkan variabel pada waktu n yang
sudah diketahui. Seperti terlihat pada gambar 4.15. Persamaannya
untuk sistem dua dimensi adalah sebagai berikut :
..........................................................................(4-70)
Bentuk finite differencenya dapat dituliskan
.....................(4-71)
dimana :
i,j = lokasi cell dalam grid
n = level waktu lama
n + 1 = level waktu baru
Persamaan 4-48 hanya mempunyai satu parameter tak diketahui, yaitu
tekanan baru pada saat (n + 1). Nilainya melibatkan derivatif waktu.
Persamaan 4-71 dapat diubah untuk mendapatkan tekanan yang baru
secara eksplisit dimana tekanan tersebut berbatasan dengan tekanan
sebelumnya, dapat dituliskan :
..............(4-72)

Gambar 4.15.
Formula Eksplisit untuk Satu Dimensi
(Crichlow, H.B.,1977)
Parameter yang terletak di sisi kanan diketahui sedangkan satu
parameter yang terletak di sisi kiri tidak diketahui. Nilai-nilai pada
waktu yang baru diselesaikan dengan menggerakkan lokasi (i,j) dalam
suatu model dengan aturan yang sistematik. Gambar 4.16.
menunjukkan susunan grid dalam bentuk dua dimensi.

Gambar 4.16.
Susunan Grid Dua Dimensi
(Crichlow, H.B.,1977)
Persamaan 4-72 dapat disederhanakan menjadi :
.......................(4-73)
dimana :
;
Metode eksplisit tidak umum digunakan dalam simulasi reservoir
karena adanya pembatasan dalam ukuran time step. Program untuk
membentuk simulator berdasarkan metode eksplisit membutuhkan
waktu yang lebih sedikit.
4.4.3.2. Penyelesaian Implisit
Penyelesaian metode implisit menggunakan cara simultan untuk
semua nilai yang tidak diketahui. Gambar 4.17 meperlihatkan skema
implisit untuk satu dimensi. Persamaan differensial parsial yang
menyatakan pengaruh tekanan pada sistem satu dimensi adalah
......................................................................................(4-74)
Persamaan finite difference adalah sebagai berikut :
..............................................................(4-75)
Terdapat parametr yang tidak diketahui pada persamaan 4-75.
Persamaan ini dapat digunakan untuk menyelesaikan ketiga nilai Pi.
Persamaannya menjadi :
..................................................(4-76)
Persamaan ini mempunyai seluruh tekanan yang tak diketahui pada
level waktu yang baru seperti terlihat dalam gambar 4.18. Persamaan
4-76 dapat disederhanakan menjadi
......................................(4-77)

Gambar 4.17.
Formula Implisit untuk Satu Dimensi
(Crichlow, H.B.,1977)

Gambar 4.18.

Tekanan-Tekanan pada Level Waktu Baru


(Crichlow, H.B.,1977)
Persamaan 4-77 dapat diubah menjadi :
......................................(4-78)
Persamaan 4-78 mempunyai tiga bilangan tak diketahui, dimana titik i
berhubungan dengan titik (i + 1), (i 1). Persamaan 4-78 mempunyai
bentuk umum sebagai berikut :
aiPi-1 + biPi + ciPi+1 = di ..............................................................(479)
Koefisien ai,bi dan ci dihubungkan dengan geometri sistem dan sifatsifat fisiknya sedangkan di merupakan parameter yang diketahui.
Persamaan 4-79 dapat dituliskan untuk N cell dalam suatu grid linier,
dimana satu persamaan untuk setiap cell. Hasilnya adalah terdapatnya
N persamaan dengan N bilangan tak diketahui.
Contoh :
Cell
1 a1Po b1P1 + c1P2 = d1
2 a2P1 b2P2 + c2P3 = d2
3 a3P2 b3P3 + c3P4 = d3
4 a4P3 b4P4 + c4P5 = d4 ........ (4-80)
.....
.....
.....
N anPn-1 bnPn + cnPn+1 = dN
Cell dengan subscript 0 dan n + 1 pada umumnya merupakan cell
yang fiktif. Cell tersebut tidak termasuk dalam bagian model dan
dihilangkan dengan penggunaan kondisi batas yang sesuai.
Matriks ini merupakan matriks tridigonal dimana terdapat tiga elemen
diagonal dan semua elemen yang terletak diluar diagonal bernialai nol.
Persamaan
4-80 dapat dituliskan dalam bentuk matriks tridigonal yang dapat di
notasikan dalam bentuk :
AP = d..................................................................................................(481)
Dimana :
* = ......................................(4-82)
Sistem ini diselesaikan untuk menentukan parameter tekanan tak
diketahui (P) menggunakan algoritma Thomas yang merupakan
modifikasi dari eliminasi Gauss. Contoh yang sudah diterangkan diatas
merupakan contoh model satu dimensi. Penyelesaian untuk dua

dimensi seperti terlihat pada gambar 4.19. Penyelesaiannya adalah


identik dengan satu dimensi, tetapi hasilnya sedikit berbeda.
Persamaan differensial parsial untuk sistem dua dimensi adalah
sebagai berikut :
..........................................................................(4-83)

Gambar 4.19.
Grid Dua Dimensi
(Crichlow, H.B.,1977)
Persamaan 4-83 menjelaskan respon tekanan dalam sistem dua
dimensi. Persamaan finite differencenya secara implisit dapat
dituliskan :
......................(4-84)
Persamaan diatas dimana semua variabel tekanan pada level waktu
yang baru, tidak diketahui. Terdapat lima variabel tekanan yang tidak
diketahui.
Persamaan ini kemudian disederhanakan dengan mengasumsikan x
= y, sehingga menjadi :
........................(4-85)
Persamaan diatas kemudian menjadi
......................(4-86)
Persamaan 4-86 mempunyai bentuk umum sebagai berikut :
....................................(4-87)
dimana koefisien ei, ai, bi, ci, fi merupakan variabel tak diketahui
sedangkan di merupakan variabel yang dketahui.
Tipe persamaan untuk semua cell dalam suatu model menghasilkan N
persamaan dengan N variabel tak diketahui. Sistem ini merupakan
sistem lima diagonal yang ditunjukkan sebagai berikut :
AP = d, dimana :
= ......................................(4-88)
Sistem ini, penyelesaiannya tidak ada algoritma yang efesien dalam
pemecahannya. Sistem ini dapat dipecahkan dengan suatu algoritma
khusus untuk grid dua dimensi. Algoritma ini dibuat untuk mengurangi
pekerjaan pada penentuan vektor P. Metode implisit ini tidak
dikondisikan stabil untuk semua nilai t/x2.
C. Penyelesaian Crank-Nicholson
Skema Crank - Nicholson melibatkan kombinasi dari nilai baru dan nilai
lama setiap time step untuk variabel tertentu, dapat dilihat pada
gambar 4.20. Persamaan yang digunakan

......................................................................................(4-89)
Persamaan differensialnya dapat ditulis :
......(4-90)
dimana :
0<1
jika : = 0 berarti metode yang digunakan adalah eksplisit
= berarti metode yang digunakan adalah Crank-Nicholson
= 1 berarti metode yang digunakan adalah implicit

Gambar 4.20.
Bentuk Penyelesaian Crank-Nicholson
(Crichlow, H.B.,1977)
4.5. Pemilihan Simulator
Simulator merupakan program komputer yang sangat kompleks dan
terdiri dari tiga komponen utama diantaranya formula matematis,
operasional serta software dan hardware. Proses secara fisik dan kimia
dijelaskan dengan persamaan matematis. Simulator secara umum
terbagi atas black oil, compositional, thermal dan chemical.
Pembagiannya berdasarkan aliran fluidanya, perpindahan panas dan
massa. Pemilihan simulator dapat ditunjukkan dalam diagram alir
seperti yang terlihat dalam Gambar 4.21.

Gambar 4.21.
Pemilihan Simulator
(Crichlow, H.B.,1977)
4.5.1. Black Oil Simulator
Model black oil adalah simulator konvensional yang digunakan untuk
kondisi isothermal, aliran simultan dari minyak, gas, dan air yang
melibatkan gaya kapilaritas, gravitasi dan viskositas. Black oil
digunakan untuk menunjukkan bahwa jenis cairan adalah homogen,
tidak ditinjau dari komposisi kimiawinya walaupun kelarutan gas dalam
minyak dan air diperhitungkan.
Simulator black oil dapat dibedakan berdasarkan fasa fluida yang
mengalir, arah aliran dan tipe penyelesaian persamaan finite
difference. Simulator ini berdasarkan fasa fluida yang mengalir dapat

dibedakan menjadi :
Single phase
Simulator ini digunakan apabila hanya gas atau minyak yang mengalir.
Two phase
Simulator ini digunakan apabila minyak-air, minyak-gas atau gas-air
yang mengalir.
Three phase
Simulator ini digunakan apabila gas-minyak-air yang mengalir.
Simulator ini juga dapat dibedakan berdasarkan arah alirannya, yaitu :
1-Dimensional Linear atau Radial
Simulator ini digunakan apabila fluida hanya mengalir dalam satu arah.
2-Dimensional Areal atau Cross-Sectional
Simulator ini digunakan apabila fluida mengalir dalam arah x-y, x-z dan
r-z.
3-Dimensional
Simulator ini digunakan apabila fluida yang mengalir dalam arah x-y-z.
4.5.2. Compositional Simulator
Model compositional memperhitungkan variasi komposisi fasa
berdasarkan tekanan dalam hubungannya dengan aliran berbagai fasa
tersebut. Model ini sering digunakan untuk reservoir minyak volatil dan
gas kondensat.
4.5.3. Thermal Simulator
Simulasi ini banyak digunakan untuk studi aliran fluida, perpindahan
panas maupun reaksi kimia. Simulasi ini banyak digunakan untuk studi
injeksi uap panas dan pada proses perolehan minyak tahap lanjut
(Thertiary Oil Recovery). Simulator ini digunakan untuk
mensimulasikan steam-flood dan in-situ combustion.

4.5.4. Chemical Simulator


Merupakan jenis simulator multi component untuk kondisi isothermal
yang menggambarkan konsentrasi kimia dan reaksi-reaksi yang terjadi
selama fluida mengalir dalam batuan reservoir. Simulator ini digunakan
untuk mensimulasikan injeksi surfactant, polimer dan alkaline.
4.6. Penyelesaian Persamaan Simulator
Persamaan aliran yang simultan dari semua fasa fluida yang telah
diperoleh, kemudian kita harus menyelesaikan sistem persamaan
tersebut untuk parameter-parameter penting yang tidak diketahui.
Parameter penting yang tidak diketahui, yaitu :
1. Tekanan minyak

2. Tekanan gas
3. Tekanan air
4. Saturasi minyak
5. Saturasi air
6. Saturasi gas
Parameter yang dapat diperoleh dari variabel diatas :
1. Laju produksi minyak
2. Laju produksi gas
3. Produksi air
Terdapat dua persamaan dasar untuk menyelesaikan persamaan
simulator yang dapat ditunjukkan pada gambar 4.22.
Proses penyelesaian tergantung seberapa besar sistem yang
dimodelkan. Ada dua penyelasaian persamaan simulator yaitu :
1. Metode Implicit Pressure Explicit Saturation (IMPES)
2. Metode Implicit Pressure Implicit Saturation

Gambar 4.22.
Penyelesaian Persamaan dalam Simulasi Reservoir
(Crichlow, H.B.,1977)
4.6.1. Metode Implicit Pressure Explicit Saturation (IMPES)
Metode ini terdiri dari 3 persamaan: minyak, air dan gas
dikombinasikan menjadi satu persamaan dengan satu variabel tekanan
(misalnya tekanan minyak). Dari persamaan ini secara implicit
kemudian dihitung harga-harga tekanan minyak pada setiap waktu.
Kemudian disusul secara explicit harga saturasi dihitung dengan
persamaan semula dengan menggunakan harga-harga tekanan yang
telah diketahui. Tahap awal metode IMPES dapat dilihat pada Gambar
4.23, dan tahap akhir metode IMPES dapat dilihat pada Gambar 4.24.

Gambar 4.23.
Tahap Awal Metode IMPES
(Crichlow, H.B.,1977)

Gambar 4.24.
Tahap Akhir Metode IMPES
(Crichlow, H.B.,1977)
Proses perumusan IMPES dimulai dengan persamaan single-phase
dalam satu dimensi yaitu :
..........................................(4-91)
.......................................(4-92)
.................................(4-93)
Persamaan tersebut kemudian ditambahkan parameter potensial aliran
dan tekanan kapiler, yaitu:
Potensial aliran : - Minyak : = Po + ogh
- Gas : = Pg + ggh
- Air : = Pw + wgh
Tekanan Kapiler : - Air/Minyak : Pcw = Po - Pw
-Gas/Minyak : Pcg = Pg - Po
Persamaan satu fasa dengan parameter potensial aliran dan tekanan
kapiler dapat dinyatakan berikut :
.........(4-94)
dimana adalah mobilitas, yang merupakan fungsi dari saturasi dan
tekanan, persamaannya dapat dinyatakan :
i = o, g, w ....................................................(4-95)
B1 dan B2 merupakan penggabungan dari bentuk saturasi, bentuk PVT,
dan bentuk produksi. Persamaan ini umumnya digunakan untuk
memperoleh penyelesaian tekanan minyak untuk setiap titik di
reservoir, sehingga fasa saturasi dan produksi dapat ditentukan. Suatu
masalah kemudian muncul, bagaimana mungkin kita dapat
mengevaluasi tekanan jika penyelesaian persamaannya tergantung
pada perrhitungan mobilitas yang mana mobilitas itu sendiri
tergantung dari tekanan. Terdapat dua cara untuk menyelesaikannya.
Pertama, dengan mengevaluasi , Pog dan Pow pada harga saturasi dan
tekanan sebelumnya, sehingga pendekatan ini diharapkan tidak
merubah harga saturasi dan tekanan dengan cepat. Pendekatan ini
dapat digambarkan sebagai berikut :
(Mobility, data kapiler)n(Pressure)n+1 = ruas kanann+1 .......................
(4-96)
Parameter mobilitas dan data kapiler dievaluasi pada level waktu n
sedangkan tekanan dan ruas kanan yang merupakan persamaa 4-94
diformulasikan pada level waktu (n+1). Level waktu n+1 ini kemudian

diselesaikan, karena terdiri dari data-data yang tidak diketahui.


Pendekatan ini adalah noniteratif dan diselesaikan dalam satu jalan.
Penyelesaian kedua menggunakan bentuk iterasi untuk
memperbaharui harga data tekanan, saturasi, dan kapiler yang
merupakan asumsi dari nilai perhitungan terbaru. Time step baru
dimulai dari harga yang terakhir menjadi time step lama, sehingga dari
harga time step yang paling baru merupakan harga iterasi yang
terakhir. Ilustrasinya digambarkan sebagai berikut :
(Mobility, data kapiler)n+1, k(Tekanan)n+1, k+1 = ruas kanann+1,
k+1 .......(4-97)
Finite Difference Analog
Bentuk finite difference pada persamaan tekanan dapat diselseaikan
dengan menggunakan sistem algoritma misalkan, ADIP (Aleternating
Direction Implicit Procedures), , LSOR (Line Successive Over
Relaxation), eliminasi gaus, SIP, sistem algoritma ini digunakan untuk
memperoleh distribusi tekanan untuk selanjutnya distribusi potensial
dapat ditentukan.
Distribusi potensial pada saturasi baru dapat dihitung dengan
persamaan : = + ...................................(4-98)
................(4-99)
Harga saturasi dapat ditentuan dengan persamaan berikut:
= + = S + ..(4-100)
4.6.2. Metode Implicit Pressure Implicit Saturation (Simultaneous
Solution)
Ketiga persamaan aliran (gas, minyak dan air) diselesaikan secara
simultan, tanpa terlebih dahulu mengurangi jumlah persamaan,
sehingga dengan demikian disetiap cell terdapat tiga variabel yang
harus dihitung yaitu Po, Pw, dan Pg. Hal ini dengan sendirinya akan
memberikan sistem persamaan yang kompleks, demikian pula
coefficient matrix dari persamaan tersebut. Selain kompleks juga
metoda ini memerlukan waktu komputer yang jauh lebih besar.
Saturasi untuk setiap fasa akan diperhitungkan secara implisit
menggunakan hubungan tekanan kapiler.
Metode ini menggunakan persamaan differensial parsial satu dimensi
untuk setiap fasa, sehingga akan menggambarkan aliran fluida untuk
masing-masing fasa fluida yang mengalir dalam reservoir. Aliran dua
fasa incompressible dalam satu dimensi dapat dinyatakan :
............................................................(4-101)
...........................................................(4-102)
dimana : = P + gh = potensial aliran
h = ketinggian diatas bidang horisontal yang direferensikan
g = percepatan gravitasi
= densitas air atau minyak

P = tekanan fasa minyak atau air


Kemudian :
= Po + gh
= Pw + gh
Persamaan 4-101 dan 4-102 adalah persamaan differensial partial satu
dimensi yang sederhana mengenai aliran fasa tertentu. Selanjutnya
diketahui bahwa hanya minyak dan air yang ada dalam sistem, maka :
So + Sw = 1 So = 1 - Sw
Tekanan kapiler untuk setiap titik dalam sistem secara matematik
dapat dituliskan sebagai :
Pc = Po - Pw ....................................................................................(4103)
Pci = ..................................................................(4-104)
.......................................................................(4-105)
dapat juga ditulis
...........................................................................(4-106)
dimana S adalah slope kurva saturasi dan tekanan kapiler
Persamaan 4-105 dimasukkan ke persamaan 4-106 didapatkan
persamaan berikut:
.............................................(4-107)
Persamaan 4-101 dan 4-102 dapat ditulis sebagai berikut :
. ......................................(4-108)
........................................(4-109) Perubahan saturasi harus
digambarkan kedalam bentuk tekanan kapiler dan kemudian dalam
bentuk potensial aliran, untuk melakukan ini kita memerlukan aturan
rantai dari kalkulus sehingga akan didapatkan derivatif yang dapat
dituliskan dalam bentuk potensial sebagai berikut :
..............................................................(4-110)
Cara ini dapat dimodifikasi untuk menghitung S pada level (n + ),
dimana persamaan differensial parsial dituliskan untuk setiap cell
menggunakan persamaan implisit secara lengkap, sehingga
didapatkan dua variabel yang tidak diketahui pada level waktu yang
baru yaitu dan . Persamaan tersebut didapat dengan menggabungkan
persamaan 4-85, 4-86 dan 4-87 , untuk fasa minyak dapat ditunjukkan
sebagai berikut:
.................................................................................................................
..(4-111) Persamaan 4-111 dapat ditulis grid finite difference-nya
sebagai berikut:
...........................................(4-112)
dimana e,f,g, dan h merupakan istilah yang dapat digantikan dengan
,dan lain lain.

Persamaan 4-111 untuk fasa air dapat ditunjukkan sebagai berikut:


.................................................................................................................
..(4-113) Persamaan 4-113 dapat ditulis grid finite difference-nya
sebagai berikut:
...........................................(4-114)
Persamaan differensial parsial untuk minyak dan air dapat dituliskan
dalam bentuk finite difference yang akan memberikan tiga sistem cell.
Setiap cell-nya akan memberikan enam persamaan dengan enam
variabel yang tidak diketahui. Nilai dari dan dapat diperoleh dari
penyelesaian dengan menggunakan matrik, sehingga tekanan kapiler
dapat dihitung dengan menggunakan :
Pci = ..........................................................(4-115)
Metode Implicit Pressure Implicit Saturation dapat dilihat pada Gambar
4.25.
Data tekanan kapiler ini pada setiap cell i dapat digunakan untuk
menentukan saturasi air dan kemudian dapat diketahui saturasi
minyak. Penentuan harga saturasi dari data tekanan dapat ditunjukkan
oleh gambar 4.26.

Gambar 4.25.
Tahap Metode Implicit Pressure-Implicit Saturation (Simultaneous
Solution)
(Crichlow, H.B.,1977)

Gambar 4.26.
Penentuan Saturasi Berdasarkan Tekanan Kapiler
(Crichlow, H.B.,1977)
4.6.3. Analisa Simultaneous Solution dan IMPES
Karakteristik yang digunakan untuk analisa ini meliputi :
1. Stability
Suatu algoritma numerik dikatakan stabil bila kesalahan yang
dihasilkan pada beberapa tahap perhitungan tidak bertambah besar
selama perhitungan berikutnya. Sistem dikatakan stabil bila , sistem
dikatakan tidak stabil bila , dimana adalah kesalahan antara true
solution dengan computed solution pada sembarang waktu n.

Kestabilan suatu sistem tekanan dapat diketahui dari grafik perubahan


tekanan pada time step tertentu, dimana dikatakan stabil bila grafik
tersebut mengalami perubahan harga yang tetap, dan sebaliknya jika
grafik menunjukkan perubahan yang tidak tetap dan berubah-ubah
dapat dikatakan sistem tersebut tidak stabil.
Kestabilan pada Simultaneous Solution dan IMPES memiliki dua
kemungkinan yaitu:
a. Kondisi tidak stabil terjadi karena pada Simultaneous solution
method menyelesaikan semua variablenya secara implicit dan pada
IMPES yang menyelesaikan tekanan kapiler secara eksplisit. Kestabilan
kedua metode ini tergantung pada magnitude .
b. Kemungkinan kedua bahwa hasil pendekatan secara ekspilisit untuk
transmisibilitas akan memberikan garis yang tidak linier dan ruwet.
Kestabilan dapat dicapai dengan cara memperhatikan harga Pc ,
dimana dalam analisa ini kita mengasumsikan dan transmisibilitas
adalah konstan dan mengabaikan efek gravitasi. Kestabilan juga dapat
dicapai dengan memperhatikan transmibilitasnya yaitu dengan asumsi
fluida yang mengalir adalah fluida compressible, aliran dua fasa
dengan tekanan kapiler dan gaya gravitasi adalah nol.
2. Convergency
Convergency adalah kesalahan antara solusi eksak dari persamaan
differensial dan solusi eksak dari persamaan finite difference yang
disebut diskritisasi error. Formulasi finite difference disebut konvergen
jika diskiritisasi mendekati nol.
3. Existence dan Uniquiness Solution
Existence dan uniquiness pada Simultaneous Solution menggunakan
asumsi bahwa kompresibilitas batuan adalah nol dan tak ada aliran
pada kondisi batas yang didiskrit dari teknik refleksi Asumsi dari
kompresibilitas merupakan bagian dari keunikan yang diidentifikasikan
dari teorema yang baru. Kriteria ini menunjukkan hubungan antara
matrik D dengan material balance, dimana matrik D memiliki jumlah
garis nol, sehingga tidak simetris. Error yang terjadi setelah time step
(Et) adalah nol selama operator tidak konservatif., hal ini karena (Et)
seharusnya tidak digunakan untuk menghitung convergency ketika
memecahkan suatu persamaan.
Existence dan uniquiness pada IMPES mempunyai karakteristik yang
sama dengan Simultaneous Solution, dengan menggunakan manipulasi
tekanan kapiler yang telah ditentukan.
4.7. Tahap Kerja Simulasi Reservoir Secara Umum
4.7.1. Persiapan Data
Sebelum dilakukan input data, dilakukan persiapan data seperti yang

telah dibahas pada bab sebelumnya. Persiapan data sangat berperan


sekali untuk mendapatkan data yang valid dan sesuai dengan
kebutuhan yang didasarkan pada tujuan dan prioritas simulasi. Proses
persiapan data dimulai dengan pengumpulan, pengelompokan dan
pemilihan data lapangan yang merupakan salah satu bagian terpenting
dalam studi simulasi reservoir.
Data-data yang dibutuhkan untuk melakukan simulasi dapat diperoleh
dari berbagai sumber data yang memungkinkan. Meskipun demikian,
sebagian besar dari data tersebut tidak dapat langsung dipakai, tetapi
memerlukan proses pengolahan sehingga dihasilkan data yang siap
pakai. Pemilihan sumber data serta pengolahan juga sangat
berpengaruh terhadap kesiapan data itu sendiri, yang pada akhirnya
juga berpengaruh terhadap hasil simulasi secara keseluruhan.
Prosentase keakuratan hasil simulasi yang dilakukan, ditentukan oleh
validitas data yang dipergunakan
Bentuk data masukan untuk suatu simulator biasanya berupa
representasi polynomial atau secara tabulasi (table look-up). Bentuk
polynomial terutama digunakan untuk data fluida dan PVT serta
beberapa data korelasi, misalnya korelasi Standing. Bentuk polynomial
sangat berguna untuk data yang bersifat kontinyu dan licin (smooth)
dalam suatu selang harga, misalnya kurva Rs vs P. Data masukan
dalam bentuk table look-up lebih umum dan mudah digunakan, karena
beberapa data PVT tidak mudah untuk direpresentasikan secara grafis.
Sumber data dan parameter-parameter dalam studi simulasi reservoir
dapat dilihat pada Gambar 4.27.
Gambar 4.27.
Aliran Informasi dan Peranan Data Dalam Suatu Studi Simulasi
Reservoir
(Crichlow, H.B.,1977)
Data yang diperlukan untuk input simulator tersebut meliputi :
4.7.1.1. Data Geologi
Data geologi yang dipakai untuk mengkonstruksikan model reservoir
meliputi peta kontur struktur, peta isopach, peta isoporosity, peta
isosaturasi dan peta isopermeability. Peta - peta tersebut dibuat
berdasarkan data seismic, drilling cutting, dan logging. Peta struktur
dan peta isopach dapat menghasilkan data ketebalan formasi
produktif. Data ketebalan formasi produktif dibedakan dalam dua
pengertian yaitu ketebalan kotor ( gross sand thicknes ) dan ketebalan
bersih (net sand). Ketebalan kotor adalah ketebalan yang mulai diukur
dari puncak formasi atau perangkap sampai batas dasar. Ketebalan
kotor digunakan untuk membuat gross isopach map. Ketebalan bersih

adalah ketebalan formasi yang mengandung hidrokarbon.


4.7.1.2. Data Batuan
Sifat fisik batuan yang sangat penting sebagai input data pada simulasi
: porositas ( ), permeabilitas absolut ( K), permeabilitas relatif (Krg,
Krw), data tekanan kapiler (Pc), saturasi fluida ( Sw, Sg, So ) dan
ketebalan formasi (h ), kompresibilitas batuan ( Cf).
4.7.1.3. Data Fluida Reservoir
Data fluida meliputi : densitas air (w, densitas minyak (o dan
densitas gas (g, factor volume formasi air (Bw), minyak (Bo) dan gas
(Bg) serta viscositas minyak (, airw dan gasg. Data diatas
dapat diperoleh dari hasil pengukuran di laboratorium. Data yang tidak
tersedia di laboratorium dapat ditentukan dengan pilihan pilihan
korelasi standart seperti Standing, Frik, Glaso, Lasater, Carr
Kobayasshi-Burrows. Pemilihan korelasi ini disesuaikan dengan keadaan
di lapangan.
4.7.1.4. Data Produksi
Data produksi untuk setiap sumur diperlukan untuk input simulator
nanti didalam proses history matching . Data ini diperoleh dari data
produksi setiap sumur di lapangan. Data yang diperlukan antara lain :
qw vs waktu
qo vs waktu
qg vs waktu
Kumulatif minyak
Gas-Oil Ratio (GOR), Water-Oil Ratio (WOR), Gas-Water Ratio (GWR)
Kebanyakan perekaman data pada sumur memiliki data yang lengkap
tentang produksi minyak tetapi beberapa data dari produksi air atau
produksi gas ada yang hilang. Kehilangan data ini harus ditentukan
untuk digunakan dalam history matching..
Gambar 4.28.
Smoothing Data Yang Hilang
(Crichlow, H.B.,1977)
Gambar 4.28 menunjukkan pengeplotan data produksi dan smoothing
kurva dari titik yang hilang
4.7.1.5. Data Tekanan
Data tekanan diperoleh dari analisa tes tekanan ( PBU, dan PDD ).
Analisa tekanan pada lapangan baru dilakukan tiap enam bulan sekali
dan bila telah berproduksi cukup lama biasanya dilakukan secara
tahunan. Tes tekanan dilakukan pada kedalaman tertentu dari reservoir
dan dicatat tanggal, bulan, dan tahun pengukurannya.

4.7.1.6. Data Flow Rate


Data yang dibutuhkan simulator dalam menghitung kapasitas produksi
sumur:
Produktivity Index
Injectivity Index
Optimum Flow Rate
Maximum Alloable Drawdown
Data produktivity index dan injectivity index diperoleh dari test analisa
tekanan, sedangkan kedua data yang terakhir diperoleh dari kinerja
aliran fluida di dalam sumur-sumur tersebut.
4.7.1.7. Data Penunjang
Data penunjang yang dibutuhkan adalah tanggal awal sumur tersebut
berproduksi (tanggal produksi) dan batas akhir peramalan.
4.7.2 Input Data Simulator
4.7.2.1. Metode Untuk Input Data
Pemasukan data ke simulator bisa dilakukan dengan tiga cara :
1. Typing yaitu dengan mengetikkan data yang ada ke kolom isian yang
sudah tersedia.
2. Digitizing adalah proses perekaman koordinat x dan y dari peta
geologi yang sudah ada sebanyak mungkin dengan interval sekecil
mungkin agar dapat membentuk garis batas peta yang baik. Langkah
yang dilakukan adalah :
- Menempel peta pada suatu kertas besar.
- Memplot koordinat garis masingmasing peta (isoporositas, top
struktur, ketebalan vertikal).
- Memplot koordinat sumur yang menembus lapisan batuan yang
sama.
- Menulis dan menyimpan data tersebut ke file digitasi.
3. Importing yaitu memasukkan file hasil digitasi yang merupakan
kumpulan data koordinat dari tiap peta, koordinat patahan dan
koordinat sumurnya.
Langkah yang dilakukan setelah membagi reservoir dalam kotak-kotak
kecil (cell) adalah melakukan overlay terhadap peta isosaturasi,
isoporositas dan peta net sand isopach, sehingga dapat diketahui
ketebalan rata-rata, saturasi rata-rata dan porositas rata-rata dari
masing-masing grid dan kita dapat mengetahui distribusi cadangan
dan produktivitas masing-masing grid.
4.7.2.2 Pengelompokkan Data Input Dalam Variabel
Data-data yang dimasukan ke dalam simulator dapat dikelompokkan
dalam variabelvariabel sebagai berikut :
1. Variabel Sebagai Fungsi Dari Lokasi

Variabel yang merupakan fungsi dari lokasi ialah panjang, lebar, tebal,
porositas, permeabilitas, elevasi, tekanan dan saturasi.
2. Variabel Sebagai Fungsi Tekanan
Variabel yang merupakan fungsi tekanan adalah kelarutan gas dalam
minyak/air, faktor volume formasi minyak/air/gas, viskositas
minyak/air/gas, densitas minyak/air/gas serta kompressibilitas formasi.
3. Variabel Sebagai Fungsi Saturasi
Variabel yang merupakan fungsi saturasi adalah permeabilitas relatif
dan tekanan kapiler.
4. Data Sumur
Variabel yang merupakan data sumur meliputi laju alir produksi dan
laju alir injeksi, lokasi sumur serta limitasi produksi.
a) Laju produksi dan Laju alir injeksi
Laju produksi atau laju injeksi diperlukan untuk setiap sumur yang akan
dimodelkan. Besarnya laju produksi liquid biasanya dalam STB/day,
dan untuk gas dalam MCF/day.
b) Lokasi sumur
Lokasi sumur pada sistem grid juga dibutuhkan, untuk itu perlu
diketahui letak sumur tersebut terletak pada cell keberapa dari arah
sumbu x, dari arah sumbu y dan dari arah sumbu z. Secara umum
untuk model areal dan model 3D, sumur harus terletak ditengah
tengah cell bila diperlukan.

c) Limitasi Produksi
Limitasi produksi dapat dikenakan pada sumur, seperti tekanan dasar
sumur (bottom hole pressure), faktor skin, maksimum GOR atau GOR
limit, dan efek coning.
4.7.3 Pembuatan Grid
4.7.3.1. Definisi Grid
Penyelesaian persamaan diferensial secara numerik memerlukan
pembagian daerah yang di dalam boundary menjadi kotak-kotak
(daerah-daerah) yang lebih kecil atau sering disebut blok atau grid,
dimana untuk blok - blok atau grid-grid ini variabel-variabel ditentukan
sehingga harga variabel yang dihitung adalah harga rata-rata di dalam
blok. Di dalam simulasi reservoir dikenal dua macam grid sistem, yaitu
blok centered dan point lattice. Pemakaian dari grid dan type koordinat
disesuaikan dengan problem yang akan dikerjakan, misalnya type
boundary, bentuk reservoir dan sebagainya.
Dua tipe grid yang sering digunakan antara lain :
1. Block-Centered Grid
Parameter-parameter dihitung di tengah cell atau blok, dimana tidak

ada titik pada batas grid. Gambar 4.29a. menunjukkan block-centered


grid.
2. Lattice Grid
Parameter-parameter dihitung pada perpotongan garis grid sehingga
terdapat beberapa titik pada garis batas grid. Gambar 4.29b.
menunjukkan lattice grid.

Gambar 4.29.
Jenis-Jenis Grid
(Crichlow, H.B.,1977)
(a) Block-Centered Grid (b) Lattice Grid
Penggunaan kedua type grid itu tergantung pada type boundary kondsi
dari reservoir. Block centerd system pada umumnya digunakan untuk
kondisi batas Neumann, kondisi batas ini dapat ditunjukkan dengan
gambar 4.30a. Sedangkan untuk Lattice grid sistem pada umumnya
cocok digunakan pada kondisi batas Dirichlet. seperti terlihat pada
gambar 4.30b.

Gambar 4.30.
Konfigurasi Grid
(Crichlow, H.B.,1977)
(a) Batas Neumann (b) Batas Dirichlet
Bentuk grid yang lain adalah irregular grid. Irregular grid mempunyai
jarak yang tidak sama dalam arah x dan y. Grid ini digunakan agar
kondisi suatu area yang perlu dikontrol menjadi lebih jelas. Irregular
grid ditunjukkan pada gambar 4.31.

Gambar 4.31.
Nonuniform Grid
(Crichlow, H.B.,1977)
Lokasi sumur dalam sistem grid diidentifikasikan dengan koordinat i,j
dan k, dimana i menunjukkan lokasi sumur pada arah x, j menunjukkan
lokasi sumur pada arah y dan k menunjukkan ketebalan zona yang
diperforasi.
Ukuran grid sangat memperngaruhi tingkat ketelitian perhitungan
cadangan dan pergerakan fluida reservoir yang dilakukan simulator.
Ukuran sel yang semakin kecil akan menghasilkan perhitungan yang
dilakukan simulator semakin teliti dan akan menambah jumlah sel
keseluruhan, sehingga akan membutuhkan waktu yang lebih lama
pada saat dijalankan karena kerja simulator semakin berat.
4.7.3.2 Pemilihan Model Grid
Parameter-parameter yang berpengaruh dalam pemilihan model
adalah :
1. Geometri dan dimensi reservoir
2. Jenis Reservoir
3. Data yang tersedia
4. Jenis proses secondery atau tertiary recovery yang akan dimodelkan
5. Kemampuan teknologi komputer
6. Biaya yang diperlukan
7. Sumber daya manusia
A. Model 1-Dimensi (1D)
Model 1-D dapat digunakan untuk menentukan batas kontak fluida,
menyelidiki sensitivitas perilaku reservoir terhadap berbagai variasi
parameter reservoir dimana pada studi ini diperhitungkan efek dari
permeabilitas secara vertikal dan juga untuk aplikasi pilot project atau
bagian linear yang sederhana dari suatu reservoir.
Model 1-D untuk studi reservoir secara luas jarang sekali digunakan
karena tidak dapat memodelkan pengurasan areal dan vertikal selain
itu juga model ini tidak dapat menghitung efesiensi pendesakan secara
nyata dalam zona pendesakan karena tidak dapat menghadirkan efek
gravitasi tegak lurus pada arah aliran.

Gambar 4.32.
Model Horizontal 1-D
(Crichlow, H.B.,1977)
Model 1-D dapat diputar secara vertikal, horizontal atau curvilinear

tergantung pada kebutuhan simulasi. Gambar 4.32. menggambarkan


model 1-D yang digunakan dalam simulator, dimana terdapat kontak
fluida. Gambar 4.33. menggambarkan model 1-D yang
memperhitungkan kemiringan reservoir.

Gambar 4.33.
Model Miring 1-D
(Crichlow, H.B.,1977)
B. Model Areal 2-Dimensi (2-D)
Model areal 2-D merupakan pilihan terbaik untuk simulasi dengan
cakupan yang luas dan dipengaruhi oleh perubahan parameter areal.
Model ini secara umum dapat ditunjukkan pada gambar 4.34. Model
reservoir 2-dimensi horizontal digunakan dalam simulasi struktur multiwell dalam skala besar. Model ini menangani variasi yang luas dari sifat
batuan dan sifat fluida secara areal, tetapi berasumsi bahwa tidak ada
variasi yang besar dari sifat tersebut ke arah vertikal. Oleh karena
areal yang dimodelkan sangat luas, engineer dapat mengamati migrasi
fluida melewati lease line, efek dari interferensi aquifer dan juga
pengaruh dari luar dalam perilaku reservoir. Baru-baru ini, suatu model
diusulkan yang mana model dua dimensi ini dapat digunakan untuk
menirukan aliran 3 dimensi melalui pemilihan suatu set kurva
permeabilitas relative yang meliputi efek vetikal dari aliran dinamis.
Data permeabilitas pseudo-relative ini akan digunakan secara
ekonomis untuk memprediksikan perilaku tiga dimensi tanpa
penghalang masalah keuangan untuk suatu model tiga dimensi.

Gambar 4.34.
Model 2-Dimensi Horizontal
(Crichlow, H.B.,1977)
Model 2-dimensi horizontal ini dapat juga digunakan untuk mengamati
sifat heterogenitas batuan dan juga pemilihan rencana operasi yang
optimum dalam secondary recovery dan pressure maintenance.
C. Model Cross-Sectional dan Radial 2-D
Model Cross-Section disebut juga model x-z dimana dapat digunakan
untuk studi cross-section dari reservoir, menganalisa pemisahan secara
gravity dari fluida, mengetahui pengaruh crossflow dan anisotropy
dalam frontal placement misalnya studi coning. Selain itu dari model

ini dapat digunakan untuk menganalisa single atau multiple-well


komplesi. Model Cross-Section dapat dilihat pada gambar 4.35.
Model Radial 2-Dimensi dapat disebut model r-z. yang merupakan
model 2-dimensi yang sangat khusus. Model ini dapat digunakan untuk
mensimulasikan perilaku single-well, studi coning, deliverability dan
juga penentuan lokasi interval untuk komplesi sumur selain itu dapat
juga digunakan untuk analisa well test . Model radial 2-D dapat
ditunjukkan pada gambar 4.36.

Gambar 4.35.
Model Cross-Section 2D
(Crichlow, H.B.,1977)
Gambar 4.36.
Model Radial 2-D
(Crichlow, H.B.,1977)
D. Model 3-D
Model 3-D dapat digunakan dengan beberapa alasan sebagai berikut :
1. Geometri reservoir sangat kompleks untuk model cross-section dan
areal 2-D. Reservoir yang mempunyai jendela permeabilitas dimana
terjadi crossflow sulit dimodelkan hanya dengan 2 dimensi.
2. Mekanika fluida reservoir sangat kompleks dimana tampilan 2dimensi sulit untuk dianalisa. Reservoir dengan pengurasan tahap
lanjut termasuk dalam kategori ini. Reservoir ini memerlukan
pemodelan yang tepat untuk menggambarkan dengan jelas kinerja
yang dihasilkan oleh beberapa alternatif rencana pengurasan.
3. Pendesakan yang dipelajari didominasi oleh aliran vertikal seperti
cusping dan coning. Model areal dan vertikal secara detail sangat
diperlukan, hal ini hanya dapat dihasilkan dengan model 3-D.
4. Simulasi 2-D kadang-kadang mempunyai lebih banyak masalah dan
lebih mahal dibandingkan dengan model 3-D. Pemodelan reservoir
dengan 2-D untuk beberapa reservoir yang sangat kompleks
membutuhkan banyak pseudo-function.
5. Studi yang melibatkan sejumlah aplikasi pseudo-function yang
digunakan untuk menampilkan reservoir management kurang disukai
oleh manajemen.
Satu masalah yang terkait dengan penggunaan model 3-D adalah
model ini tidak mudah untuk dibuat. Model ini membutuhkan blok-blok
grid yang sangat banyak dimana pembuatan dan penggunaannya
membutuhkan waktu yang lama, sehingga waktu untuk mendapatkan
hasil terlalu lama dalam pembuatan keputusan. Rencana dibuat secara
hati-hati untuk menghindari hal tersebut. Gambar 4.37. dan 4.38.

menggambarkan model 3-D.

Gambar 4.37.
Model 3-D
(Crichlow, H.B.,1977)

Gambar 4.38.
Model 3-D dengan Patahan (Fault)
(Crichlow, H.B.,1977)
4.7.4. Inisialisasi
Inisialisasi merupakan pengkajian ulang data yang dimasukkan ke
dalam simulator. Proses inisialisasi tidak akan berjalan jika terdapat
kekurangan data. Data yang harus dimasukkan dalam inisialisasi ini
adalah sistem grid reservoir, sifat fisik reservoir, seperti top struktur,
ketebalan gross dan net, permeabilitas serta data PVT.
Hasil keluaran dari inisialisasi ini berupa cadangan volumetrik mulamula reservoir, IOIP, IGIP, IWIP dan rata-rata tekanan awal reservoir.
Hasil inisialisasi ini dapat dibandingkan dengan hasil perhitungan
cadangan secara konvensional dengan tujuan untuk mengetahui
kebenaran proses inisialisasi. Perhitungan cadangan dengan
konvensional yang dimaksud adalah perhitungan dengan
menggunakan persamaan volumetrik pada keadaan reservoir awal.
Hasil inisiali
i yang jauh dari hasil perhitungan konvensional, maka proses
inisialisasi harus diulang dari awal. Pengulangan proses inisialisasi
tersebut dilakukan dengan mengatur parameter sifat fisik batuan yang
mempengaruhi besarnya cadangan awal hidrokarbon seperti Net to
Gross (NTG), porositas () dan tekanan kapiler (Pc). Penyesuaian
tekanan awal reservoir dilakukan dengan merubah harga tekanan pada
suatu kedalaman tertentu. Hasil inisialisasi yang diperoleh bila memiliki
selisih yang kecil kira-kira < 1 % maka proses inisialisai dianggap
selesai dan proses simulasi reservoir dapat dilanjutkan ketahap
selanjutnya.
4.7.5 Penyelarasan / History Matching
History matching merupakan tahap terpenting dari suatu studi simulasi

reservoir. History matching menyelaraskan kinerja model reservoir


dengan kinerja aktual reservoir sehingga didapat model reservoir yang
mendekati reservoir yang sesungguhnya. History matching dilakukan
dengan mengatur parameter-parameter pada model sampai hasil
komputasi selama sejarah produksi mendekati data aktualnya. History
matching ini dapat dibedakan menjadi :

4.7.5.1 Penyelarasan Laju Produksi


Simulator akan menghitung laju alir minyak setelah harga tekanan
sebenarnya dimasukkan. Penyelarasan ini dilakukan bila grafik laju alir
minyak yang diperoleh tidak sesuai dengan laju alir aktual.
Penyelarasan dilakukan dengan merubah nilai permeabilitas relatif
yang ada sampai terjadinya keselarasan model simulasi dengan model
sebenarnya. Perubahan permeabilitas relatif ini tidak akan merubah
apa yang telah dilakukan pada proses inisialisasi. Perubahan viskositas
minyak juga akan menyebabkan laju produksi akan berubah.
4.7.5.2. Penyelarasan Tekanan
Simulator akan menghitung sendiri tekanan alir dasar sumur saat laju
alir minyak aktual dimasukkan..Hasil tekanan model akan berbentuk
garis-garis sedangkan tekanan aktual akan berbentuk simbul pada
grafik. Penyelarasan tekanan dilakukan dengan memberikan rincian
produksi pada sumur-sumur yang ada dan mengatur parameterparameter yang mempengaruhi besarnya cadangan awal hidrokarbon
seperti porositas ( ), kompressibilitas total (Ct) dan ketebalan (h)
hingga didapat suatu batas tekanan (pressure level) yang sesuai
dengan tekanan produksi sebenarnya.
Bentuk tekanan yang diinginkan dapat ditentukan dengan mengadakan
perubahan terhadap nilai permeabilitas dan penyelarasan saturasi
terhadap grafik produksi yaitu dengan melakukan pengaturan pada
permeabilitas relatif (kr) dan tekanan kapiler (Pc) baik dalam satu
lapangan maupun per sumur agar diperoleh water-gas ratio (WGR)
pada lapangan dan pada tiap sumur. Langkah setelah harga tekanan
dan saturasi yang sudah selaras sebagai fungsi dari sejarah produksi,
adalah mengatur produktivitas sumur yaitu indeks produktivitasnya
(PI), baru setelah itu dilakukan run terakhir yang merupakan akhir dari
penyelarasan sehingga akhirnya diperoleh keselarasan terhadap
sejarah produksinya. Gambar 4.39. menunjukkan contoh hasil history
matching.

Gambar 4.39.
Contoh proses History Matching
(Satter, A. dan Ganesh C. Thakur)
Data-data aktual dari sejarah produksi yang sering digunakan adalah :
Water-Oil Ratio (WOR) dan Gas-Oil Ratio (GOR)
Tekanan alir dasar sumur
Tekanan shut-in
Laju produksi minyak digunakan apabila sumur diproduksikan dengan
withdrawal yang konstan atau tekanan yang konstan.
Proses history matching membutuhkan banyak waktu, kadangkala
membuat putus asa dan memerlukan biaya yang besar. History
matching biasanya dilakukan secara manual dengan mengatur data
melalui prosedur trial and error. Proses ini dapat dilakukan secara
otomatis melalui inverse simulation dengan penyelesaian persamaan
untuk setiap nilai parameter reservoir tertentu sehingga perbedaan
antara hasil komputasi dengan data aktual dapat dikurangi. Teknik ini
mempunyai keterbatasan dalam penggunaannya untuk kasus-kasus
praktis di lapangan, kecuali untuk kasus yang sederhana seperti
reservoir gas satu fasa.
Aturan utama dalam history matching secara manual adalah untuk
mengubah berbagai parameter yang mempunyai ketidakpastian tinggi
dan juga mempunyai pengaruh terbesar dalam suatu persamaan.
Sensitivitas persamaan untuk sejumlah parameter tertentu terbentuk
selama proses history matching. Tidak ada aturan baku dalam proses
history matching. Parameter-parameter tersebut dapat diatur secara
tunggal ataupun berkelompok untuk meminimalkan perbedaan antara
data sejarah produksi dengan data perhitungan simulator. Modifikasi
parameter yang umum antara lain :
1. Modifikasi data batuan
a. Permeabilitas
b. Porositas
c. Ketebalan
d. Saturasi

2. Modifikasi data fluida


a. Kompressibilitas
b. Data Pressure-Volume-Temperature (PVT)
c. Viskositas
3. Data permeabilitas relatif
a. Perubahan kurva permeabilitas relatif
b. Perubahan data saturasi kritis
4. Data komplesi sumur individual
a. Efek skin
b. Tekanan alir dasar sumur
Dua proses dasar yang dapat dikontrol dalam history matching adalah
1. Kuantitas fluida dalam sistem pada waktu tertentu dan distribusi
fluida tersebut dalam reservoir
2. Pergerakan fluida dalam sistem berdasarkan gradien potensial
Petunjuk-petunjuk yang berguna dalam proses history matching antara
lain :
Penyelarasan tekanan dipengaruhi oleh fluid volume in-place, ukuran
aquifer dan hubungan antara reservoir dan aquifer. Penyelarasan GOR
dan WOR yang kurang baik akan menghasilkan penyelarasan tekanan
yang kurang baik pula.
Tekanan draw-down sangat dipengaruhi oleh permeabilitas horizontal
dan efek skin.
WOR dan GOR sangat tergantung pada draw-down sehingga dapat
dikatakan WOR dan GOR tegantung pada permeabilitas. Posisi kontak
fluida dan ketinggian zona transisi (tergantung pada Pc) juga
mempengaruhi WOR dan GOR. Bentuk kurvanya setelah breakthrough
tergantung kurva permeabilitas relatif, tetapi waktu breakthrough
tergantung pada kurva permeabilitas efektif dimana hanya satu fasa
yang mengalir. Model 2D areal dan 3D tidak dapat menyelaraskan
dengan tepat perilaku sumur individual tanpa perlakuan khusus.
History matching dalam beberapa kasus memerlukan pseudo-function
yang tepat. Studi jenis ini harus dilengkapi dengan penyelarasan
kinerja sumur tunggal untuk meningkatkan keakuratan deskripsi
reservoir.
Penyelarasan waktu breakthrough merupakan bagian yang paling
sulit. Waktu breakthrough sensitif terhadap trunctation error (dispersi
numerik) dan penyelarasannya yang akurat membutuhkan grid yang
lebih baik.
Kualitas history matching dan kepercayaan terhadap model tergantung
pada sejumlah data sejarah produksi yang tersedia untuk diselaraskan.
History matching dapat dilakukan dengan deskripsi reservoir yang
berbeda-beda apabila data yang tersedia tidak lengkap. Penyelarasan
yang gagal ketika data yang tersedia lengkap mengindikasikan bahwa

sejumlah asumsi yang dibuat dalam pengembangan model harus


diperbaiki. Asumsi itu antara lain struktur geologi, perilaku PVT, luas
reservoir dan keberadaan aquifer. Penyelarasan yang gagal untuk
sejumlah kasus menandakan ketidakakuratan data yang ada.
Data tekanan, GOR dan WOR biasanya dibutuhkan untuk menghasilkan
penyelarasan yang akurat dalam simulator black oil. Penyelarasan
yang akurat untuk sejumlah data sejarah produksi tambahan
membutuhkan pengaturan parameter reservoir yang lebih jauh
walaupun sebelumnya telah diperoleh penyelarasan yang akurat untuk
sejumlah data. Penggunaan data yang tersedia secara maksimum
sangat penting dalam proses history matching tersebut.
Keakuratan prediksi kinerja reservoir untuk masa yang akan datang
tergantung pada sejumlah data yang tersedia untuk history matching.
Keakuratan prediksi kinerja reservoir semakin berkurang dengan
bertambahnya waktu, untuk inilah perlu dilakukan updating studi
simulasi reservoir. Updating dilakukan setelah periode waktu tertentu
dengan menyelaraskan data sejarah produksi yang baru, sehingga
dihasilkan prediksi untuk masa yang akan datang yang baru.
4.7.6 Peramalan Prilaku Reservoir
Prediksi atau peramalan merupakan tahap akhir dalam melakukan
simulasi reservoir setelah history matching (penyelarasan) selesai.
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui atau melihat perilaku reservoir
yang disimulasi pada masa yang akan datang berdasarkan kondisi
yang diharapkan, dalam hal ini dilakukan production run untuk waktuwaktu yang dinginkan.
Model reservoir yang telah selaras dengan keadaan reservoir
sebenarnya dapat digunakan untuk peramalan perilaku reservoir untuk
skenario produksi seperti yang dapat diterapakan pada reservoir yang
sebenarnya di lapangan. Ketepatan hasil peramalan melalui model
sangat dipengaruhi oleh kualitas history matching yang dilakukan,
sedangkan kualitas history matching dipegaruhi oleh banyaknya
besaran produksi yang dijadikan dasar history matching dan cara
modifikasi besaran-besaran fisik batuan dan fluida reservoir.
Peramalan yang dapat dilakukan melalui simulasi reservoir antara lain :
1. Hubungan tekanan reservoir dengan produksi kumulatif fluida,
seperti terlihat pada gambar 4.40.

Gambar 4.40.
Prediksi untuk Tekanan Reservoir vs Produksi Kumulatif Minyak
(Satter, A. dan Ganesh C. Thakur)

2. Hubungan tekanan reservoir dengan waktu


3. Hubungan laju produksi fluida dengan tekanan reservoir
4. Hubungan laju produksi fluida dengan waktu, seperti terlihat pada
gambar 4.41.
Gambar 4.41.
Prediksi untuk Laju Produksi Minyak vs Waktu
(Satter, A. dan Ganesh C. Thakur)
5. Besarnya ultimate recovery untuk berbagai skenario produksi.
6. Jumlah dan penyebaran pola sumur.
4.7.7 Pemilihan Skenario Pengembangan Lapangan
Model reservoir yang telah selaras dengan keadaan reservoir
sebenarnya dapat digunakan untuk peramalan perilaku reservoir untuk
skenario produksi seperti yang dapat diterapkan pada reservoir yang
sebenarnya di lapangan. Hasil dari peramalan performance reservoir
tersebut dapat digunakan sebagai perbandingan recovery factor yang
dihasilkan dari masing-masing skenario yang dilakukan. Sehingga
dapat diambil keputusan rencana pengembangan lapangan.
Pengembangan suatu lapangan migas dapat dilakukan dengan
menentukan posisi titik serap atau lokasi sumur baru. Posisi dan jumlah
sumur merupakan suatu faktor dalam optimasi pengurasan karena
dengan ketepatan keduanya diharapkan mampu menguras hidokarbon
di reservoir pada tahap awal. Untuk meningkatkan produksi minyak
setelah tahap primary recovery, direncanakan pengembangan
lapangan dengan menentukan metode EOR yang sesuai dengan
kondisi reservoir atau penambahan sumur baru yang dilakukan dengan
simulasi reservoir. Jadi dapat dikatakan simulasi reservoir dapat
digunakan untuk menentukan metode produksi tahap lanjut (EOR)
sehingga dapat direncanakan untuk mengambil minyak sisa yang
masih ada dalam reservoir tersebut.
4.7.7.1. Dasar Pemilihan Skenario
Dari data-data yang didapat selama proses persiapan untuk
simulasi,dapat digunakan untuk pemilihan skenario yang digunakan
untuk pengembangan lapangan. Secara umum pemilihan skenario
didasarkan pada:
Sejarah Tekanan
Decline Production
Penurunan produksi dapat dilihat dari penentuan cadangan
hidrokarbon secara decline curve berdasarkan data-data produksi atau
grafik penurunan produksi yang menunjukkan hubungan antara laju

produksi terhadap waktu atau produksi kumulatif. Dengan terjadinya


penurunan produksi dari suatu reservoir maka perlu dipertimbangkan
skenario yang digunakan untuk meningkatkan produksi.
Kemampuan suatu formasi untuk berproduksi
Dari data reservoir yang diperoleh dapat ditentukan kemampuan
formasi untuk berproduksi. Sebagai contoh jika dari data didapatkan
harga porositas dan permeabilitas yang kecil maka dapat dikatakan
formasi tersebut tidak produktif.
Sisa cadangan hidokarbon
Jika dari pengumpulan data didapatkan sisa cadangan hidrokarbon
yang sedikit maka simulasi tidak perlu dilakukan. Karena jika dilihat
dari aspek ekonomi hal tersebut tidak menguntungkan.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka dapat ditentukan metode yang
digunakan untuk pengurasan. Apakah menggunakan metode EOR yaitu
dengan penginjeksian. Ataukah dilakukan work over pada sumur agar
tidak tejadi hal buruk yang menyerang perforasi atau sumur dapat
dilakukan shut in. Dapat juga dilakukan penambahan sumur baru untuk
meningkatkan produksi.

Sumber : http://gede-siddiarta.blogspot.com/2011/10/simulasireservoir.html
https://iatmismmigas.wordpress.com/2012/06/07/pengantarstudi-water-flood/