Anda di halaman 1dari 7

Analisa Kekuatan Media Massa dalam Perpolitikan Indonesia

Pendahuluan
Media massa saat ini sudah termasuk komponen penting dalam politik. Media massa
sebagai sarana politik merupakan salah satu bagian sistem politik yang di mana para pelaku
politik secara individual maupun kelompok dapat menambah ruang privat dan publiknya,
sehingga mereka tetap dapat mengurusi masalah politik ketika pelaku politik sedang
bersentuhan langsung dengan kegiatan-kegiatan politik dengan melalui komunikasi yang bisa
menjangkau masyarakat dengan melalui alat, yaitu media massa. Dalam pengertian
konvensional, media massa digunakan oleh para pelaku politik untuk memenangkan
pemilihan umum dan dapat memerintah sebagai anggota tim partai.
Dalam peristiwa politik, media massa sudah menjadi alat penting sehingga banyak
partai-partai politik yang menggandeng atau mungkin menguasai media massa itu sendiri.
Banyak partai politik berusaha menguasai media massa untuk berbagai kepentingan, seperti
menyampaikan suara partai dan mempengaruhi massa partai, menjaga nama baik partai dan
menyerang partai lain. Dalam hal ini, perebutan wacana politik dalam bentuk yang lebih maju
terjadi dalam penyajian berbagai peristiwa politik. Langkah ini dimulai dengan pemilihan isu,
pemakaian sudut pandang dan menggunakan simbol-simbol tertentu.
Media massa sebagai sarana wajib dalam politik terjadi juga di Indonesia. Sorotan
terhadap dampak konglomerasi media massa kembali mengemuka menjelang Pemilu 2014.
Peranan media massa baik cetak maupun elektronik yang strategis dalam sosialisasi dan
pencitraan politik membuat semua kekuatan politik berupaya memanfaatkan dan menguasai
media massa. Persoalannya, tidak semua partai politik memiliki tokoh yang menguasai media
massa terutama petinggi politik terhadap suatu media. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan
karena masuknya para pemilik media massa ke kancah politik akan menimbulkan situasi
yang tidak tidak seimbang dan menjadi ancaman bagi kualitas demokrasi akibat monopoli
media massa untuk kepentingan politik partai atau tokoh tertentu.
Namun pada kenyataannya, kebebasan pers pada isi media terbelenggu. Banyak
pemilik media lama maupun media baru yang menjadi kawan bahkan kader politisi dan
kekuasaan. Sehingga kinerja redaksi dikooptasi dengan unsur politik. Isi media menjadi tidak
bebas dan mengikuti alur dari keinginan partai politik sebagai alat mobilisasi partai. Jadi
dalam pandangan para penganut aliran kritis, keterlibatan media massa dengan kegiatan
politik tidak semata-mata mencerminkan perhatian media terhadap politik. Melainkan

menyiratkan pula adanya keterikatan atas dasar suatu kepentingan antara sebuah media dan
kekuatan politik yang diberitakannya entah itu kepentingan politik, ekonomi, ataupun
ideologis. Yang jadi pertanyaannya, bagaimana pengaruh media massa dalam perpolitikan
Indonesia dan seberapa kuat media massa menempatkan diri dalam pemilihan umum
Indonesia tahun 2014.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah atas latar belakang di atas adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kekuatan media dalam perpolitikan Indonesia ?
2. Bagaimana keadaan media pada pemilu 2014 ?
Pembahasan
A. Kekuatan media dalam perpolitikan Indonesia
Pada sistem demokrasi guna memenangkan kompetisi di ajang pemilu, para kontestan
partai politik saling bersaing satu sama lain dengan menerapkan berbagai strategi komunikasi
politik yang jitu. Strategi komunikasi politik yang dilakukan oleh partai politik terhadap
masyarakat sangat diperlukan dalam menghadapi sebuah pemilihan umum (pemilu).
Keberhasilan suatu strategi komunikasi politik oleh partai politik dalam merencanakan dan
melaksanakan, akan ikut berperan pada hasil perolehan suara partai politik dalam pemilu.
Dengan media massa lah sebagai sarana politik dapat menjamin terlahirnya strategi-strategi
politik.
Media massa dapat menjadi kekuatan sosial yang menjalankan fungsi pengawasan
sosial jika dikelola dengan prinsip-prinsip jurnalisme yang ketat. Namun demikian,
kemungkinan besar media massa juga menjadi kekuatan yang mengabdi kepada kepentingan
ideologi politik modal yang menggerakkannya sekaligus tunduk pada mekanisme pasar untuk
mencapai keuntungan yang maksimum. Dalam sistem media massa yang demikian, para
pejabat, birokrat, militer, dan politikus di Indonesia, tentu tidak dapat lagi mengontrol media
massa, yang semakin independen. Justru itu, pemanfaatan media massa sebagai sarana
komunikasi politik sangat ditentukan oleh banyak faktor yang berkaitan dengan kepentingan
masing-masing media massa. Dalam konteks itu, konglomerasi media massa di Indonesia
memperlihatkan bagaimana media massa didominasi oleh kepentingan politik pemiliknya
sekaligus menjadi instrumen bisnis untuk meraup kepentingan dalam konglomerasi media
massa ini secara jelas sehingga dapat dilihat dari munculnya sikap media massa yang
cenderung partisan dan tidak netral dalam pemberitaan.

Netralitas media menjadi ilusi belaka. Tingginya pengaruh media massa dalam
menggiring opini publik mengakibatkan ideologi politik bukan lagi menjadi kekuatan yang
dapat menarik para pemilih terutama ketika pemilik media massa sebagai praktisi politik,
maka penggiringan opini melalui media massa menjadi kekuatan baru. Media massa menjadi
alat sebagai ajang pencitraan publik, meruntuhkan popularitas lawan politik, dan alat untuk
menyerang balik kepada serangan-serangan politis.
Dengan relasi antara pemilik modal yang merangkap politisi membuat para pengelola
media massa tidak bisa netral dari kepentingan politik pemilik modalnya sehingga harus
tunduk pada kaidah-kaidah jurnalistik dalam menyajikan informasi kepada publik dengan
kepentingan politik dari pemilik media tersebut menjadi tidak terhindarkan. Apabila hal
tersebut terjadi secara masif dan mengabaikan kode etik jurnalistik maka dikhawatirkan
konglomerasi media massa akan mampu merusak kualitas demokrasi.
B. Keadaan media pada pemilu 2014
Terlihat pada tahun 2014 yang merupakan tahun istimewa bagi masyarakat Indonesia
di seluruh pelosok tanah air. Pada tahun tersebut, masyarakat Indonesia kembali mengawali
pelaksanaan momen politik berupa pemilihan umum (pemilu) yang merupakan bentuk
perwujudan pesta demokrasi. Pelaksanaan pemilu yang akan berjalan kesebelas kalinya ini
secara periodik menunjukkan bahwa Indonesia menganut sistem negara demokrasi.
Pemilihan umum ini menjadi wahana aspirasi politik rakyat Indonesia yang digelar setiap
lima tahun sekali, sebagai amanat dari Undang-undang Dasar 1945. Dalam sistem
perwakilan, tidak ada cara lain yang paling absah untuk memilih para wakil rakyat kecuali
melalui pemilu. Peran media kembali terlihat pada pemilu 2014 ini. Berbagai peristiwa
mewarnai agenda lima tahunan ini. Dari gejala sampai akibat yang segalanya diramaikan juga
dengan media. Berbagai kontroversi yang dibuat dan disampaikan oleh media pun ramai
untuk dibicarakan.
Pada pemilu 2014, banyak warga Indonesia sebagai peserta pemilu yang perilaku
memilihnya berubah-ubah atau berpindah-pindah di setiap kurun waktu. Tipikal seperti ini
biasa disebut swing voters. Dengan berjalannya perpolitikan di Indonesia dan pemanfaatan
media massa oleh partai politik yang disebabkan oleh semakin banyaknya swing voters
membuat banyak partai politik menggunakan media massa untuk mengiring opini publik.
Media tidak hanya sebagai alat pewarta dalam demokrasi melainkan sebagai ruang untuk
menanamkan pengaruh dan kekuasaan itu sendiri.

Pemilu ini menjadi semakin urgent untuk dicermati karena adanya rivalitas para
kandidat

sebagai

konglomerat

media.

Konglomerasi

media

massa

di

Indonesia

memperlihatkan bagaimana media massa didominasi oleh kepentingan politik pemiliknya


sekaligus menjadi instrumen bisnis untuk meraup kepentingan dalam konglomerasi media
massa ini secara faktual dapat dilihat dari munculnya sikap media massa yang cenderung
partisan dan tidak netral dalam pemberitaan.
Lihat saja keberadaan Aburizal Bakrie sebagai pemilik TV One dan ANTV sekaligus
Ketua Umum Golkar yang sedikit banyak memberi insentif politik tersendiri baik bagi
kepentingan politiknya secara pribadi maupun Golkar. Sebelum tahapan kampanye pemilu
dimulai, mereka sudah dapat memanfaatkan media massa yang dikuasai guna sosialisasi,
pencitraan, menyerang opini sekaligus propaganda politik dengan menyeleksi informasi yang
akan diberitakan pada publik melalui media mereka. Begitu pula dengan MNC Group yang
yang jauh-jauh hari sebelum dilaksanakannya pemilu 2014 sudah gencar menopang
pencitraan politik Hanura maupun Wiranto dan Hary Tanoesudibjo yang telah
mendeklarasikan diri sebagai pasangan calon presiden (capres) dan cawapres (calon wakil
presiden) dalam Pemilihan Presiden 2014. Hal serupa terjadi dengan media massa di bawah
kendali Media Group yang sulit untuk menghindari tudingan sebagai mesin kampanye dan
pencitraan Surya Paloh maupun Partai Nasdem.
Secara formal beberapa pemilik media massa di Indonesia seperti MNC Group,
Bakrie Group maupun Media Group tidak pernah menyatakan bahwa mereka memiliki
hubungan politik. Namun demikian, relasi antara pemilik modal yang merangkap politisi
membuat para pengelola media massa tidak bisa netral dari kepentingan politik pemilik
modalnya sehingga harus tunduk pada kaidah-kaidah jurnalistik dalam menyajikan informasi
kepada publik dengan kepentingan politik dari pemilik media tersebut menjadi tidak
terhindarkan. Apabila hal tersebut terjadi secara masif dan mengabaikan kode etik jurnalistik,
sudah jelas konglomerasi media massa akan mampu merusak kualitas demokrasi.
C. Kontroversi quick count pada pemilu 2014
Kontroversi hasil Quick Count (QC) di pemilihan presiden nampaknya sudah
berakhir. Sudah jelas, mana lembaga penelitian yang sungguh-sungguh melakukan QC secara
bertanggung jawab dan mana yang mungkin sekali memanipulasi data. Faktanya, dua
lembaga survei yang melakukan QC dengan hasil yang memenangkan Prabowo-Hatta
ternyata tak bersedia untuk diaudit oleh Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia
(Persepi). Ini menunjukkan bahwa hasil QC dua lembaga itu Puskaptis dan Jaringan Suara

Indonesia layak diragukan kesahihannya. Dengan kata lain, yang nampaknya layak
dipercaya adalah hasil QC delapan lembaga survei lain yang memenangkan Jokowi-JK.
Dengan intinya kedua QC tersebut adalah buatan dari media para konglomerasi partai politik.
Isu audit lembaga survei ini mengemuka ketika pada hari pemilihan presiden, terdapat
12 lembaga penelitian yang mengeluarkan hasil Quick Count yang hasilnya terbelah secara
bertolak belakang. Delapan lembaga menyatakan yang menang Jokowi, sementara 4 lainnya
menyatakan Prabowo yang menang. Penting dicatat, hasil delapan lembaga di kubu pertama
praktis tidak jauh berbeda. Hampir semua menunjukkan kemenangan tipis Jokowi atas
Prabowo, dengan selisih suara sekitar 4-5%. Di kubu yang lain, tiga lembaga menunjukkan
selisih hanya sekitar 1%, sementara satu lainnya (IRC) menunjukkan keunggulan Prabowo
mencapai 5%. Ini menjadi penting karena, menurut ilmu statistik, hasil QC yang dilakukan
secara benar seharusnya merupakan prediksi akurat mengenai hasil pemilu sesungguhnya.
Jadi, bila ternyata ada perbedaan mencolok seperti itu, ada dua kemungkinan jawaban,
apakah ternyata para ilmuwan statistik salah dengan keyakinannya selama ini, atau ada yang
salah dengan pelaksanaan penelitian. Dalam kaitan kegalauan itulah, Persepi sebagai asosiasi
yang menghimpun puluhan lembaga survei opini publik memutuskan untuk melakukan audit
terhadap semua lembaga yang melaksanakan QC. Asumsinya, perbedaan hasil QC ini terjadi
karena ada lembaga-lembaga yang tidak melakukan penelitian secara bertanggung jawab.
Segenap informasi di atas umumnya tidak dipublikasikan oleh lembaga pelaksana QC. Hasil
QC umumnya dimuat secara mentah-mentah oleh media, tanpa ada pertanggungjawaban
metodologis.
Kembali permainan konglomerasi para pelaku politik yang memiliki media bermain.
Membuat berita terbaik untuk calon yang mereka usung tetapi menjelekan lawan mainnya. Di
sini media massa sangatlah diharapkan untuk senetralnya, bukan mementingkan kehendak
sendiri. Dengan tujuan awal media sebenarnya adalah sarana informasi bagi masyarakat
termasuk dalam bidang politk. Tega lah mereka yang bermuka untuk kepentingan rakyat
tetapi media massa saja bisa dimainkan.

Penutup

Keberhasilan suatu strategi komunikasi politik oleh partai politik dalam


merencanakan dan melaksanakan, akan ikut berperan pada hasil perolehan suara partai politik
dalam pemilu. Dengan media massa sebagai sarana politik dapat menjamin terlahirnya
strategi-strategi politik. Karena media massa dapat menjadi kekuatan sosial yang
menjalankan fungsi pengawasan sosial jika dikelola dengan prinsip-prinsip jurnalisme yang
ketat. Media massa juga sebagai sarana penghubung para politisi dengan rakyat. Dan tidak
dipungkiri, Indonesia yang menganut asas demokrasi memberikan tempat penting tersendiri
untuk media massa.
Swing voters yang menguat menjelang Pemilu 2014, membuat para calon presiden
dan calon wakil presiden berupaya untuk menarik simpati dan membangun popularitas
melalui media massa. Bahkan para pemilik media yang menjadi capres dan cawapres
menggunakan media massa yang dimilikinya untuk membangun popularitas serta mengiring
opini tentang dirinya dan lawan politik. Ideologi media yang diusung menjadi berunsur
politik demi kepentingan pemilik media. Keberadaan swing voters dan tingginya pengaruh
media massa dalam mengiring opini publik membuat ideologi partai politik bukan lagi
menjadi suatu kekuatan yang mampu menarik para pemilih. Partai politik bersama dengan
capres dan cawapres yang diusungnya menempatkan pengaruh opini untuk memenangkan
petarungan pada Pemilu 2014. Sehingga adanya peran tambahan media massa menjadi alat
untuk mencitrakan diri bahkan untuk menjatuhkan lawan politik partai yang diusungnya.
Dengan media massa dikuasai oleh petinggi-petiinggi partai politik. Memungkinkan
pesan politik yang disampaikan oleh media massa bukanlah realitas sebenarnya melainkan
realitas buatan orang kedua. Apabila hal tersebut terjadi secara masif dan mengabaikan kode
etik jurnalistik maka dikhawatirkan konglomerasi media massa akan mampu merusak
kualitas demokrasi. Dan dengan tujuan awal media sebenarnya adalah sarana informasi bagi
masyarakat termasuk dalam bidang politk. Tegalah mereka yang bermuka untuk kepentingan
rakyat tetapi media saja bisa dimainkan. Pentingkan kepentingan rakyat bukanlah
memanipulasi berita.

Daftar Pustaka
Agung Wasono. Ketidakadilan, Kesenjangan, dan Ketimpangan: Jalan Panjang Menuju
Pembangunan Berkelanjutan Pasca-2015. Jakarta: Kemitraan, 2013.
Anwar Arifin. Komunikasi Politik. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.
Detik.com. SMRC: Swing Voter Berpotensi Ubah Peta Politik Pemilu 2014. Diambil dari
http://news.detik.com/read/2012/10/14/171433/2062200/10/smrc-swing-voterberpotensi-ubah-peta-politik-pemilu-2014; Internet diakses 16 September 2014.
Hendra Sunandar, Regulasi Kampanye : Analisis terhadap Aturan Main Kampanye
Ibnu Ahmad. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: Granit, 2004.
Indonesia 2014. Kontroversi Quick Qount danPemenang Pemilu Sesungguhnya. Diambil
dari

http://www.indonesia-2014.com/read/2014/07/16/kontroversi-quick-count-dan-

pemenang-pemilu-sesungguhnya; Internet diakses 16 September 2014.


Koirudin. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Kuskridho Ambardi. Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di
Indonesia Era Reformasi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.
Miriam Budiarjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia: Jakarta, 2010.
Miriam Budiarjo. Partisipasi dan Partai Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998.
Muhammad Amin MS. Dilema Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
Pemilu 2014, http://www.academia.edu/4969929/Regulasi_Kampanye; diakses tanggal 16
September 2014.
Sahat Simamora. Kerangka Kerja Analisa Sistem Politik. Jakarta: Bina Aksara, 1984.