Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Hiperemesis gravidarum ringan merupakan keluhan umum (fisiologis) yang di
sampaikan pada kehamilan muda (Manuaba, 2010). Hiperemesis gravidarum ringan
lebih sering terjadi pada usia kehamilan 6-12 minggu (Tiran, 2008). Hiperemesis
gravidarum dianggap fisiologis jika keluhan tersebut berkurang atau bahkan hilang
pada trimester pertama kehamilan. Menetapkan kejadian hiperemesis gravidarum
tidak sukar, sekalipun batas antara muntah yang fisiologis dan patologis tidak jelas,
tetapi muntah yang menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi
memberikan petunjuk bahwa wanita hamil memerlukan perawatan yang intensif
(Manuaba, 2010). Seringkali ibu mempunyai respon perilaku yang biasa atas keadaan
yang dialaminya sehingga keluhan mual muntah dapat bertambah hebat dimana
segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan (Tiran, 2008). Hal ini dapat
berlanjut pada keadaan yang lebih lemah, turgor kulit berkurang, lidah kering, mata
cekung, hipotensi, hemokonsentrasi serta konstipasi yang merupakan tandatanda
hiperemesis gravidarum tingkat II.

Hiperemesis gravidarum dapat disebut juga

kondisi ketika muntah terjadi sangat hebat dan dapat mengarah pada kekurangan
cairan tubuh dan kehilangan berat badan (Dewi, 2011).
Terjadinya kehamilan menimbulkan perubahan hormone estrogen, progesteron
dan dikeluarkannya human chorionic gonadothropin plasenta. Hormon-hormon inilah
yang diduga menyebabkan hiperemesis gravidarum (Manuaba, 2010). Faktor emosi

atau psikologis berperan penting pada kejadian hiperemesis gravidarum, umumnya


oleh wanita hamil dengan latar belakang sosial yang rendah, dimana gaya hidup lebih
sederhana, lebih rileks dan sedikit tuntunan (Vivian, 2011).
Hiperemesis gravidarum yang ringan (tingkat I) yang dialami secara terus
menerus menyebabkan ibu hamil atau penderita menjadi lemah, nafsu makan
menurun dan kurangnya asupan makanan yang sehat, hal ini tentunya dapat
mempengaruhi perkembangan janin dan memperburuk keadaan ibu serta memicu
timbulnya hiperemesis berat. Berdasarkan suatu kajian bahwa 95% wanita yang
mempunyai diet yang baik akan mempunyai bayi yang sehat dan dari wanita yang
mempunyai gizi buruk hanya 8% mempunyai bayi dengan kesehatan baik
(Cunningham, 2005). Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan diketahui bahwa
ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum ringan menganggap kondisi ini
merupakan hal wajar dan akan sembuh dengan sendiriya. Keyakinan tersebut
seharusnya juga diikuti dengan perilaku yang baik dalam pencegahan hiperemesis
gravidarum namun sebagian ibu hamil tersebut masih kesulitan dalam menyikapi
kondisi yang dialaminya.
Hiperemesis gravidarum dapat dideteksi dan dicegah pada masa kehamilan
dengan cara pemeriksaan kehamilan secara teratur (Varney, 2006). Hiperemesis
gravidarum paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I namun biasa berlanjut
sampai trimester ke II. Dengan penanganan yang baik, hiperemesis dapat teratasi
dengan sangat memuaskan. Akan tetapi, muntah yang terus menerus tanpa
pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim. Pada

tingkat yang lebih berat hiperemesis dapat mengancam jiwa ibu dan janin
(Wiknjosastro, 2002).
Mual atau sering disebut nausea dan emesis gravidarum adalah hal yang wajar
dan sering ditemukan dalam kehamilan terutama dalam trimester pertama kehamilan.
Menurut penelitian 60%-80% dari wanita yang pertama kali mengandung
(primigravida) dan 40%-60% dari wanita yang sudah pernah mengandung
(multigravida) mengaku mengalami masalah mual muntah ini (Wiknjosastro, 2002).
World Health Organitation (WHO) mencatat pada tahun 2013 tiap tahunnya
lebih dari 300 hingga 400 per 100.000 kelahiran hidup, perempuan meninggal yang
disebabkan oleh perdarahan 28%, eklampsia 12%, abortus 13%, sepsis 15%, partus
lama 8% dan penyebab lain-lain 2%, sedangkan angka kematian ibu di Indonesia
pada tahun 2010 lebih tinggi di Negara-negara ASEAN yaitu 226 per 100.000
kelahiran hidup dibandingkan Filipina 170 per 100.000 kelahiran hidup, Thailand 44
per 100.000 kelahiran hidup, Malaysia 41 per 100.000 kelahiran hidup dan Singapura
hanya 6 per 100.000 kelahiran hidup (WHO, 2013).
Dalam kasus Hiperemesis Gravidarum pada ibu yang sedang hamil trimester
pertama ini, seorang dokter perlu meyakinkan kepada pasien bahwa mual dan muntah
adalah gejala yang normal terjadi pada kehamilan muda, dan akan menghilang setelah
usia kehamilan 4 bulan. Keluarga terutama suami mempunyai peranan dalam hal
memberi dukungan agar gejala tidak bertambah berat .
Berdasarkan pada uraian pada latar belakang tersebut maka dalam kasus
hyperemesis gravidarum pada ibu yang sedang hamil trimester pertama ini, perlu
dilakukan bagi seorang dokter meyakinkan kepada pasien bahwa mual dan muntah

adalah gejala yang normal terjadi pada kehamilan muda, dan akan menghilang setelah
usia kehamilan 4 bulan. Keluarga terutama suami mempunyai peranan dalam hal
mendukung agar gejala tidak bertambah berat lagi.

I.2. Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum
Memahami permasalahan kesehatan secara menyeluruh, berkelanjutan
dengan pendekatan kedokteran keluarga.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kualitas kesehatan seluruh anggota keluarga.
b. Membantu seluruh anggota keluarga untuk mengenali masalah yang ada di
dalam keluarga tersebut yang akan mempengaruhi derajat kesehatan anggota
keluarga
c. Membantu keluarga untuk memahami fungsi-fungsi anggota keluarga

(biologis, psikologis, sosial, ekonomi dan pemenuhan kebutuhan, serta


penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi).
d. Membantu keluarga untuk dapat memecahkan permasalahan kesehatannya
secara mandiri.
e. Membentuk perilaku hidup sehat di dalam keluarga.

I.3.

Manfaat Penulisan

Bagi Penulis

Menambah

pengetahuan

penulis

tentang

kedokteran

keluarga,

serta

penatalaksanaan kasus Hiperemesis Gravidarum dengan pendekatan kedokteran


keluarga.

Bagi Pasien dan Keluarga


a. Keluarga menjadi lebih memahami mengenai masalah kesehatan yang ada
dalam lingkungan keluarga.
b. Keluarga mampu untuk mengatasi permasalahan kesehatan keluarga secara
mandiri.
Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan agar setiap memberikan
penatalaksanaan kepada pasien Hiperemesis Gravidarum dilakukan secara holistik
dan komprehensif serta mempertimbangkan
kesembuhan.

aspek keluarga dalam proses