Anda di halaman 1dari 46

Muchlis

Klasifikasi mutu air ditetapkan


menjadi 4 kelas (PP no 82 tahun
2001)
a.Kelas :satu, air yang peruntukannya dapat

digunakan untuk air baku air minum, dan atau


peruntukan lain yang memper-syaratkan mutu
air yang sama dengan kegunaan tersebut;
b.Kelas dua, air yang peruntukannya dapat
digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air
untuk mengairi pertanaman, dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu
air yang sama dengan kegunaan tersebut;

c. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat


digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar,
peternakan, air untuk mengairi pertanaman,
dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut;
d.Kelas empat, air yang peruntukannya dapat
digunakan untuk mengairi pertanaman dan
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Lampiran PP no.82/2001

PERSYARATAN AIR
MINUM
Persyaratan fisik air minum : warna, bau,

rasa, keruh
Persyaratan kimia: jml kandungan logam (Fe,
Mn dll)
Persyaratan mikrobiologis: kandungan bakteri
Persyaratan radioaktif : kandungan zat
radioaktif

PERMENKES no. 907 thn


2002

Persyaratan fisik
Air harus jernih/tidak keruh
Tidak berwarna
Rasanya tawar
Tidak berbau
Temperatur normal (200 260c)
Tidak mengandung padatan
Persyaratan kimia
PH netral
Tidak mengandung bahan kimia beracun
Tidak mengandung garam dan ion-ion logam
Kesadahan rendah
Tidak mengandung bahan organik
Persyaratan mikro biologis
Tidak mengandung bakteri pathogen
Tidak mengandung bakteri non pathogen

Cara-cara prinsip
penyediaan air bersih
Koagulasi
Flokulasi
Aerasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi

Koagulasi
Koagulasi

merupakan proses destabilisasi


muatan partikel koloid, suspended solid halus
dengan penambahan koagulan disertai dengan
pengadukan cepat untuk mendispersikan
bahan kimia secara merata. Dalam suatu
suspensi, koloid tidak mengendap (bersifat
stabil)
dan
terpelihara
dalam
keadaan
terdispersi,
karena
mempunyai
gaya
elektrostatis yang diperolehnya dari ionisasi
bagian permukaan serta adsorpsi ion-ion dari
larutan sekitar.

Koagulan yang paling banyak digunakan

dalam praktek di lapangan adalah alumunium


sulfat [Al2(SO4)3], karena mudah diperoleh
dan harganya relatif lebih murah
dibandingkan dengan jenis koagulan lain.

Flokulasi
Proses

flokulasi dalam pengolahan air


bertujuan
untuk
mempercepat
proses
penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan
pada proses koagulasi. Partikel-partikel yang
telah
distabilkan
selanjutnya
saling
bertumbukan serta melakukan proses tarikmenarik dan membentuk flok yang ukurannya
makin lama makin besar serta mudah
mengendap.

Aerasi
Proses

aerasi merupakan suatu usaha


penambahan
konsentrasi
oksigen
yang
terkandung dalam air, agar proses oksidasi
untuk mengubah bentuk kation berjalan
dengan baik
Contoh: Fe dapat dihilangkan dari dalam air
dengan melakukan penambahan oksigen
menjadi Fe(OH)3 yang tidak larut dalam air,
kemudian diikuti dengan pengendapan dan
penyaringan

Sedimentasi
Sedimentasi

adalah proses pengendapan


partikel-partikel padat yang tersuspensi dalam
cairan karena pengaruh gravitasi (gaya berat
secara alami). Dalam proses sedimentasi
partikel tidak mengalami perubahan bentuk,
ukuran, ataupun kerapatan selama proses
pengendapan berlangsung. Biaya pengolahan
air dengan proses sedimentasi relatif murah
karena
tidak
membutuhkan
peralatan
mekanik maupun penambahan bahan kimia.

Filtrasi (Penyaringan)
Proses penyaringan merupakan bagian dari

pengolahan air yang pada prinsipnya adalah


untuk mengurangi bahan-bahan organik
maupun bahan-bahan anorganik yang berada
dalam air.
Bahan yang digunakan biasanya adalah pasir,
zeolit, karbon aktif dsb.

Desinfeksi
Desinfeksi adalah pemberian adalah bahan

kimia atau yang digunakan untuk mencegah


terjadinya infeksi atau pencemaran jasad
renik seperti bakteri dan virus, juga untuk
membunuh
atau
menurunkan
jumlah
mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.
Bahan
kimia
yang
digunakan
disebut
Desinfektan

DESINFEKSI AIR
1. Dengan Kaporit
Bila air yang telah dijernihkan dengan PAC
atau Tawas, perlu dilakukan disinfeksi
dengan kaporit (70% Chlor aktif) agar tidak
mengandung bakteri/kuman pathogen
Kaporit yang dibutuhkan dengan sisa chlor
0,2 mg/l untuk 1 KK (5 orang, 100 liter) per
hari = 72 mg/hari

2. Dengan Aquatabs (aqua tablet)


Setiap tablet Aquatabs mempunyai berat
8,5 mg. Apabila persyaratan sisa chlor
0,10,15 mg/liter dalam air minum, maka
dibutuhkan 0,40,5 mg aquatabs/liter. Jika
berat aquatabs 8,5 mg.
maka 1 tablet dapat mengolah 20 liter air
bersih.
Setiap 1 KK (5jiwa) dibutuhkan 5 tablet
aquatabs per hari untuk mendesinfeksi
100 liter air bersih.

TEKNOLOGI SEDERHANA
PENGELOLAHAN AIR
Pengolahan air keruh dengan pengendapan saja
Pengolahan air gambut
Pengolahan air gambut tipe TP2AS Sistem Batch
Pengolahan air dengan bahan kimia bertingkat
Pengolahan air bersih skala rumah tangga
Pengolahan air kotor dengan saringan pasir (aerasi dan
filtrasi)
7. Pengolahan air kotor dengan saringan pasir (aerasi dan
filtrasi) secara sederhana
8. Pengolahan air skala rumah tangga
9. Si kate, model kebutuhan air bersih
10.Pengolahan air dengan penyulingan
11.Pengolahan air sumur yang mengandung bakteri E.coly
12.Pengolahan air kotor sumur sederhana
1.
2.
3.
4.
5.
6.

PENGOLAHAN AIR KERUH DENGAN


PENGENDAPAN SAJA
(Sumber: Kusnaedi, 1995; 38-41)

BAHAN: 2 buah drum air yang diberi lubang kran air (untuk RT 200
lt, untuk air minum 25-50 lt), atau 2 buah ember atau 2 buah
kaleng atau 2 buah gentong.
BAHAN BAKU: air sungai, air rawa, air danau, air hujan dan air
yang mengandung Kaporit
Catatan: Apabila air susah diendapkan, maka perlu ditambahkan
bahan koagulan misal untuk air 200 l digunakan koagulan 20 g
kapur atau 2 gram kaporit atau 20 gram tawas.
Bubuk bahan kimia sebelum dipakai harus dilarutkan dengan air.
Tetapi kalau semalam diendapkan sudah jernih, maka tidak perlu
menggunakan bahan kimia.
Cara penggunaan dan pemeliharaan
Bak pertama diisi air baku dan dibiarkan selama satu malam
Bak kedua dibiarkan kosong
Esok harinya, air dalam bak pertama sudah dapat digunakan dan
bak kedua mulai diisi untuk dipakai hari berikutnya/hari ke 3
Selanjutnya bak pertama dibersihkan dan diisi kembali untuk
keperluan hari ke-4, dstnya

PENGOLAHAN AIR KERUH DENGAN PENGENDAPAN SAJA


(Sumber: Kusnaedi, 1995; 38-41)

2. PENGOLAHAN AIR GAMBUT


(Sumber: Kusnaedi, 1995; 23-30
ADA 2 TAHAP PENGOLAHAN:
1. Koagulasi, flokulasi, absorbsi dan sedimentasi
2. Penyaringan/filtrasi
Tahap koagulasi, flokulasi, absorbsi dan sedimentasi, dilakukan pada
drum pertama, dengan cara mencampurkan zat koagulan yang
dilengkapi dengan pengaduk panjang
Tahap penyaringan/filtrasi: menggunakan pasir dan kerikil setempat.
Ukuran pasir yang baik 0,3-1,2 mm. Tabung penyaringan menggunakan
PVC berdiameter 6 inchi.
BAHAN BAKU: air gambut dan bahan koagulan (bisa pakai kapur atau tawas
atau tanah liat setempat atau biji kelor)
CARA PENGGUNAAN:
Air gambut 200 lt dimasukkan dalam drum dengan kondisi kran tertutup
Campur kg atau 40 sendok makan bahan koagulan dengan air 2 ltr
diember dan masukkan dalam drum pertama. Aduk selama 5-10 menit.
Endapkan air dalam drum pertama selama 45-60 menit, kemudian buka
kran dan alirkan ke wadah penyaringan dan air bersih siap dipakai.
Wadah penyaring harus selalu terendam air, baik waktu dioperasikan
atau tidak

2. PENGOLAHAN AIR GAMBUT

Sumber:
Kusnaedi, 1995; 23-30

PENGOLAHAN AIR GAMBUT TIPE TP2AS SISTEM


BATCH (Sumber: BPPT Jakarta)
ADA 4 TAHAP PENGOLAHAN:

1.
2.
3.
4.

Netralisasi pH
Aerasi
Koagulasi, flokulasi, absorbsi dan sedimentasi
Penyaringan/filtrasi

BAHAN BAKU: air gambut dan bahan netralisasi


(kaporit dan kapur), bahan koagulan (bisa
pakai kapur + tawas + kaporit) dan bahan
penyaringan (kerikili, pasir, kerikil, arang
karbon aktif, ijuk dan koral)

PENGOLAHAN AIR GAMBUT TIPE TP2AS SISTEM BATCH


(Sumber: BPPT Jakarta)

4. PENGOLAHAN AIR DENGAN BAHAN KIMIA


BERTINGKAT (Sumber: Kusnaedi, 1995; 35-38)
ADA 2 TAHAP PENGOLAHAN:
1 Tahap: Koagulasi
2. Tahap penyaringan/filtrasi
BAHAN BAKU:
1. Koagulan 100 ltr air (1 gr kaporit, 10 gr tawas, 10 gr kapur/100 gr karbon
aktif)
2. Bahan penyaring: pasir, kerikil, ijuk, arang karbon aktif
3. Air baku berupa air sungai, danau, rawa atau air sumur
4. Bahan Unit pengolahan: 2 bh drum 100 ltr, rak dan kran air
CARA PENGGUNAAN:
Air olahan 100 ltr dimasukkan dalam drum pertama dengan kondisi kran

tertutup
Campur bahan koagulan, aduk 5-10 menit dan diamkan 10-30 menit,
kemudian buka kran dan alirkan ke wadah penyaringan dan air bersih
siap dipakai.
Wadah penyaring harus selalu terendam air, baik waktu dioperasikan
atau tidak
Apabila air yang keluar keruh, maka saringan harus segera dicuci dengan
air panas

4. PENGOLAHAN AIR DENGAN BAHAN KIMIA BERTINGKAT

(Sumber:
Kusnaedi, 1995; 35-38)

PENGOLAHAN AIR BERSIH SKALA RUMAH


TANGGA
Sumber: Widarto, 1996

ADA 2 TAHAP PENGOLAHAN:


1 Tahap: Koagulasi
2. Tahap penyaringan/filtrasi
Bahan baku: Koagulan: 0,01 % kaporit, 0,10 %
tawas,
dan 0,10 % kapur utk 100 ltr air
Bahan penyaring: pasir, kerikil, ijuk, arang karbon
aktif

PENGOLAHAN AIR BERSIH SKALA RUMAH


TANGGA

Sumber:
Widarto, 1996

PENGOLAHAN AIR KOTOR DENGAN SARINGAN


PASIR (AERASI DAN FILTRASI)
Sumber: Kusnaedi, 1995: 32-35

Aerasi dan filtrasi dapat mengatasi kekeruhan serta


menurunkan kandungan kation yang larut, terutama
kadar besi (Fe), mangan (Mn) dan aluminium (Al).
BAHAN BAKU: Drum 2 bh yang bagian bawahya
dilobang-lobang untuk proses aerasi, pasir, kerikil, pasir
batu (sirtu), air dari sungai, rawa atau sumur yang
mengandung Fe, Mn dan Al.
Pemeliharaan:
Apabila air yang keluar sudah keruh atau berjalan
sangat lambat, maka segera lakukan pencucian
terhadap bahan2 penyaringan dengan air panas.

PENGOLAHAN AIR KOTOR DENGAN SARINGAN PASIR


(AERASI DAN FILTRASI)

Sumber:
Kusnaedi, 1995: 32-35

7. PENGOLAHAN AIR KOTOR DENGAN SARINGAN


PASIR (AERASI DAN FILTRASI) SECARA SEDERHANA
(Sumber: Kusnaedi, 1995: 35)

TAHAP PENGOLAHAN:
Aerasi
Filtrasi
Absorbsi
BAHAN BAKU:
2 buah gentong yang bagian bawahya
dilobang-lobang agar terjadi proses aerasi
, dan sebagai bahan penyaring adalah
pasir, kerikil, arang karbon aktif.

8. PENGOLAHAN AIR SKALA RUMAH TANGGA


Sumber: Ruliasih Marsidi, 1998

BAHAN BAKU:
Drum air dengan diameter 100 cm
Air olahan: air permukaan atau air sungai
Bahan baku penyaringan: Pasir dan Kerikil
TAHAP PENGOLAHAN:
Koagulasi dan flokulasi: adalah proses pemisahan
partikel2 halus penyebab kekeruhan air. Proses
pemisahan menggunakan bahan2 koagulan.
Pengendapan: air kotoran yang mengendap sebaiknya
dibuang secara periodik, dan air bersih yang ada di
atasnya disalurkan ke dalam bak penyaringan.
Penyaringan: menggunakan media butiran (granuler)
seperti: pasir dan kerikil.
Desinfeksi: memakai bahan klorin. Bisa dipakai mulai
awal pengolahan atau sebelum proses koagulasi dan
dipakai pada akhir proses setelah penyaringan.

8. PENGOLAHAN AIR SKALA RUMAH TANGGA


Sumber: Ruliasih Marsidi, 1998

9. SI KATE: MODEL KEBUTUHAN AIR BERSIH


Design: Prof. Ir. Hardjoso Projopangarso, tahun 2000

10. PENGOLAHAN AIR DENGAN PENYULINGAN

PENGOLAHAN AIR DENGAN PENYULINGAN

11. PENGOLAHAN AIR SUMUR YANG MENGANDUNG


BAKTERI E. COLY,
Design: Ir. Dwi Indah Purnamawati, M.Si, dan Sudarsono, AMKL

BAHAN:
1. Pompa air
2. Bak penampung pengendapan awal
3. Bak pengolahan/penyaringan
4. Saringan pasir dan kerikil
5. Desinfektan kaporit
Cara kerja alat:
Air dari sumur dinaikkan ke tandon air, biarkan
semalam. Kemudian pagi harinya disalurkan ke
bak 2 penyaring, setelah itu baru air bisa
dimanfaatkan untuk keperluan air bersih

11. PENGOLAHAN AIR SUMUR (MENGANDUNG BAKTERI E.


COLY )
Design: Ir. Dwi Indah Purnamawati, M.Si, dan Sudarsono, AMKL

12. PENGOLAHAN AIR KOTOR SUMUR


(KKN DI KECAMATAN TEMON KULON PROGO)
Design: Ir. Dwi Indah Purnamawati, M.Si, dan Sudarsono, AMKL

BAHAN
Pasir
Pipa Pralon PVC 10 cm
CARA KERJA ALAT:
Air sumur dimasukkan ke dalam bak
saringan pralon yang berdiameter 10 cm,
kemudian saring dengan pasir.
Alat penyaring harus selalu terendam air,
walaupun sedang tidak dimanfaatkan.

PEDOMAN PENJERNIHAN AIR DALAM KEADAAN


DARURAT
PENJERNIHAN AIR SECARA CEPAT
Dengan Aluminium Sulfat (Tawas)
Cara Penggunaan:
1. Sediakan air baku yang keruh dalam ember 20 liter
2. Tuangkan/campurkan tawas yang sudah digerus sebanyak
sendok teh dan langsung diaduk perlahan-lahan selama
5 menit sampai larutan tersebut merata.
3. Setelah diaduk, diamkan/biarkan selama 10 20 menit
sampai terbentuk gumpalan/flok-flok dari kotoranlumpur
dan mengendap. Pisahkan air jernih yang berada di atas
dari endapan, atau gunakan selang plastik untuk
mendapatkan air bersih, dan siap untuk dimanfaatkan.
4. Bila digunakan untuk air minum, direbus sampai mendidih
atau didensifeksi dengan aquatabs.

Dengan Poly Aluminium Chlorine (PAC)

Lazim disebut Penjernihan Air Cepat yaitu polimer


dari garam Aluminium Chloride yang dipergunakan
sebagai koagulan/flokulan dalam proses
penjernihan air, sebagai pengganti Aluminium
Sulfat. Bahan ini dikemas dalam sachet.

Kemasan PAC terdiri dari:


Cairan: yaitu koagulan yang berfungsi untuk
mengumpulkan kotoran/lumpur yang ada dalam air
Bubuk putih: yaitu kapur yang berfungsi untuk
menetralisir derajad keasaman (pH) air

2) Cara penggunaan:
Sediakan air baku, yaitu air sungai atau air
keruh dalam ember sebanyak 100 liter.
Bila air baku mempunyai pH rendah (asam),
tuangkan kapur (kantong bubuk) terlebih dahulu
agar netral (pH=7). Bila air baku mempunyai pH
netral, kapur tidak digunakan.
Tuangkan larutan PAC (kantong A) ke dalam
ember, langsung aduk perlahan-lahan selama 5
menit sampai larutan tersebut merata.
Setelah diaduk, biarkan selama 510 menit
sampai terbentuk gumpalan/flok-flok dari
kotoran/lumpur dan mengendap. Pisahkan air
jernih dari endapan, atau gunakan selang.
Bila digunakan untuk air minum, direbus sampai
mendidih atau didensifeksi dengan aquatabs.