Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan
berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat
menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan
sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya
bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan
keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada beberapa
tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular berbisa yang
sering terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih sering
terjadi keracunan akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah
pengetahuan masyarakat kami menyampaikan informasi mengenai bahaya
dan pertolongan terhadap gigitan ular berbisa. Selain kasus gigitan
serangga dan binatang berbisa.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis menyusun
rumusan masalah tentang Bagaimana penerapan Asuhan Keperawatan
Gawat Darurat pada Klien Dengan Keracunan?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Penulis mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan Gawat
Darurat Pada Klien Dengan Keracunan dengan penerapan metode
yang baik dan benar.
1.3.2 Tujuan Khusus
Di harapkan penulis mampu:
a. Melakukan pengkajian asuhan keperawatan Pada klien Keracunan
dengan penerapan metode yang baik dan benar.
b. Merumuskan diagnosa asuhan keperawatan Pada klien Keracunan
dengan penerapan metode yang baik dan benar.
c. Menyusun dan menetapkan rencana asuhan keperawatan Pada klien
Keracunan dengan penerapan metode yang baik dan benar.
d. Melakukan tindakan asuhan keperawatan Pada klien Keracunnan
dengan penerapan metode yang baik dan benar.
e.

Melakukan evaluasi asuhan keperawatan Pada klien Keracunan


dengan penerapan metode yang baik dan benar.

f. Melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan Pada klien


Keracunan dengan penerapan metode yang baik dan benar.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1

Penulis
Dapat memberikan manfaat kepeda penulis dan menambah
pengalamam dan pengetahuan untuk mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh selama dalam pendidikan.

1.4.2

Perawat
Dapat meningkatkan mutu pelayanan perawat.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Teori
2.1.1

Definisi Racun
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terisap, diabsorbsi,
menempel pada kulit atau dihasilkan di dalam tubuh dalam
jumlah yang relative kecil menyebabkan cedera dari tubuh dengan
adanya reaksi kimia. Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya
zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan
efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan melalui
inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena
kesengajaan, merupakan kondisi bahaya kesehatan. Sekitar 7%
dari semua pengunjung departemen kedaruratan dating karena
masalah toksik.

2.1.2

Definisi gigitan serangga


Insect Bites adalah gigitan atau serangan serangga. Gigitan
serangga seringkali menyebabkan bengkak, kemerahan, rasa
sakit (senut-senut), dan gatal-gatal. Reaksi tersebut boleh
dibilang biasa, bahkan gigitan serangga ada yang berakhir dalam
beberapa jam sampai berhari-hari. Bayi dan anak-anak labih
rentan terkena gigitan serangga dibanding orang dewasa.
Insect bites adalah gigitan yang diakibatkan karena serangga
yang

menyengat

atau

menggigit

seseorang.

Beberapa contoh masalah serius yang diakibatkan oleh gigitan


atau serangan gigitan serangga didantaranya adalah:
a. Reaksi alergi berat (anaphylaxis).
Reaksi ini tergolong tidak biasa, namun dapat mengancam
kahidupan dan membutuhkan pertolongan darurat. Tandatanda atau gejalanya adalah:
1) Terkejut (shock). Dimana ini bisa terjadi bila system
peredaran darah tidak mendapatkan masukan darah yang
cukup untuk organ-organ penting (vital)
2) Batuk, desahan, sesak nafas, merasa sakit di dalam mulut
atau kerongkongan/tenggorokan
3) Bengkak di bibir, lidah, telinga, kelopak mata, telapak
tangan, tapak kaki, dan selaput lendir (angioedema)
4) Pusing dan kacau
5) Mual, diare, dan nyeri pada perut
6) Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak
Gejala tersebut dapat diikuti dengan gejala lain dari
beberapa reaksi.
b. Reaksi racun oleh gigitan atau serangan tunggal dari
serangga.
Serangga atau laba-laba yang menyebabkan hal tersebut
misalnya:
1) Laba-laba janda (widow) yang berwarna hitam

2) Laba-laba pertapa (recluse) yang berwarna coklat


3) Laba-laba gembel (hobo)
4) Kalajengking
c. Reaksi racun dari serangan lebah, tawon, atau semut api.
1) Seekor lebah dengan alat penyengatnya di belakang lalu
mati setelah menyengat. Lebah madu afrika, yang
dinamakan lebah-lebah pembunuh, mereka lebih agresif
dari pada lebah madu kebanyakan dan sering menyerang
bersama-sama dengan jumlah yang banyak
2) Tawon, penyengat dan si jaket kuning (yellow jackets),
dapat menyengat berkali-kali. Si jaket kuning dapat
menyebabkan sangat banyak reaksi alergi
3) Serangan semut api kepada seseorang dengan gigitan dari
rahangnya, kemudian memutar kepalanya dan menyengat
dari perutnya dengan alur memutar dan berkali-kali
d. Reaksi kulit yang lebar pada bagian gigitan atau serangan.
e. Infeksi kulit pada bagian gigitan atau serangan.
f. Penyakit serum (darah), sebuah reaksi pada pengobatan
(antiserum) digunakan untuk mengobati gigitan atau
serangan serangga. Penyakit serum menyebabkan rasa gatal
dengan bintik-bintik merah dan bengkak serta diiringi gejala
flu tujuh sampai empat belas hari setelah penggunaan anti
serum.

g. Infeksi virus. Infeksi nyamuk dapat menyebarkan virus West


Nile kepada seseorang, menyebabkan inflamasi pada otak
(encephalitis).
h. Infeksi

parasit.

Infeksi

nyamuk

dapat

menyebabkan

menyebarnya malaria.
2.1.3

Keracunan Akibat Gigitan Binatang


Kondisi lingkungan dipedesaan memungkinkan berbagai
jenis bintang peliharaan maupun binatang liar dapat hidup
berdampingan

dengan

masyarakatnya

walaupun

binatang

peliharaan kita sudah jinak namun bahaya dari binatang ini perlu
di waspadai.
Pada kondisi tertentu jenis binatang berdarah panas seperti
pada anjing, kucing, dan monyet yang terkena rabies dapat
membahayakan kesehatan masyarakat. Demikian pula jenis
binatang melata yang memiliki racun seperti ular, kalajengking,
dan lipan (kelabang) yang masih banyak terdapat dialam
pedesaan. Binatang-binatang tersebut akan menggigit siapa saja
yang ada didekatnya bila mereka akan merasa terganggu. Bila
hal ini terjadi maka gigitan tersebut akan meninggalkan racun
dalam tubuh orang yang digigitnya.

2.1.4

Gigitan Binatang Berbisa


1. Defenisi
Gigitan binatang berbisa adalah gigitan atau serangan yang
di akibatkan oleh gigitan hewan berbisa seperti ular, laba-laba,
kalajengking, dll.
Ular berbisa hanya sedikit yang ditemukan di Indonesia,
diantaranya: ular sendok (kobra), ular anang (tedung atau king
kobra), ular welang, ular weling, ular hijau pucuk/ular gadung
(luwuk), ular taliwangsa (belang hitam-kuning) dan ular tanah
(coklat tua dengan taring panjang).
2. Sifat Ular
Sifat ular yang harus dipahami adalah; ular takut pada
manusia, menggigit untuk memperingatkan/mengusir manusia
(pada kebanyakan kasus) serta 70% gigitan ular bukan dari ular
berbisa, umumnya hanya sedikit atau tidak ada racun yang
disuntikkan. Gigitan ular tidak semuanya berakhir dengan
kematian. Kematian tidak datang seketika atau dalam beberapa
menit saja. Gejala biasanya timbul 15 menit sampai 2 jam
kemudian setelah korban digigit ular
Korban gigitan ular adalah pasien yang digigit ular atau diduga
digigit ular.

3. Cirri-Ciri Ular Berbisa


Ciri secara umum (tidak mutlak) yg biasanya ada pada ular
berbisa, yaitu: bentuk kepala pipih dan berpola huruf V,
ukuran relatif kecil atau pendek, kecuali King Cobra yang bisa
mencapai 5 meter dan warna biasanya cerah (tetapi hal ini tidak
mutlak).
Ular yang berbisa memiliki ciri- ciri :
a. Bentuk kepala segiempat panjang
b. Gigi taring kecil
c. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan
Sedangkan ciri-ciri ular tidak berbisa seperti :
a. Bentuk kepala segitiga
b. Dua gigi taring besar di rahang atas
c. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taring
Bisa ular mengandung toksin dan enzim yang berasal dari air
liur. Bisa tersebut bersifat:
a. Neurotoksin: berakibat pada saraf perifer atau sentral.
Berakibat fatal karena paralise otot-otot lurik. Manifestasi
klinis: kelumpuhan otot pernafasan, kardiovaskuler yang
terganggu, derajat kesadaran menurun sampai dengan koma.
b. Haemotoksin:

bersifat

hemolitik

dengan

zat

antara

fosfolipase dan enzim lainnya atau menyebabkan koagulasi


dengan mengaktifkan protrombin. Perdarahan itu sendiri

sebagai akibat lisisnya sel darah merah karena toksin.


Manifestasi klinis: luka bekas gigitan yang terus berdarah,
haematom pada tiap suntikan IM, hematuria, hemoptisis,
hematemesis, gagal ginjal.
c. Myotoksin: mengakibatkan rhabdomiolisis yang sering
berhubungan dengan mhaemotoksin. Myoglobulinuria yang
menyebabkan kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat
kerusakan sel-sel otot.
d. Kardiotoksin: merusak

serat-serat otot jantung yang

menimbulkan kerusakan otot jantung.


e. Cytotoksin:

dengan

vasoaktifamin

melepaskan

lainnya

histamin

berakibat

dan

zat

terganggunya

kardiovaskuler.
f. Cytolitik: zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan
nekrose di jaringan pada tempat patukan
g. Enzim-enzim: termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada
penyebaran bisa.
4. Gambaran Gigitan Ular Berbisa
Gambaran gigian ular berbisa akan timbul rasa nyeri daerah
tusukan (muncul segera seelah gigitan), daerah gigitan
bengkak, kemerahan, memar (dapat cepat berkembang), reaksi
emosi yang kuat, penglihatan kembar/kabur, mengantuk, sakit
kepala, pusing dan pingsan, mual dan atau muntah dan diare,

10

rasa sakit atau berat didada dan perut, tanda-tanda tusukan


gigi, gigitan biasanya pada tungkai/kaki, sukar bernafas dan
berkeringat banyak, kesulitan menelan serta kaku di daerah
leher dan geraham.
2.1.5

Penyebab Gigitan Serangga Dan Binatang Berbisa


1. Penyebab gigitan serangga dan binatang berbisa
Serangga dan binatang berbisa tidak akan menyerang
kecuali kalau mereka digusar atau diganggu. Kebanyakan
gigitan dan sengatan digunakan untuk pertahanan. Gigitan
serangga untuk melindungi sarang mereka.
Sebuah

gigitan

atau

sengatan

dapat

menyuntikkan

bisa(racun) yang tersusun dari protein dan substansi lain yang


mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita. Gigitan
serangga juga mengakibatkan kemerahan dan bengkak di
lokasi yang tersengat.
Lebah, tawon, penyengat, si jaket kuning, dan semut api
adalah anggota keluarga Hymenoptera. Gigitan atau sengatan
dari mereka dapat menyebabkan reaksi yang cukup serius
pada orang yang alergi terhadap mereka. Kematian yang
diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih sering dari pada
kematian yang diakibatkan oleh gigitan ular. Lebah, tawon
dan semut api berbeda-beda dalam menyengat.

11

Ketika lebah menyengat, dia melepaskan seluruh alat


sengatnya dan sebenarnya ia mati ketika proses itu terjadi.
Seekor tawon dapat menyengat berkali-kali karena tawon
tidak

melepaskan

seluruh

alat

sengatnya

setelah

ia

menyengat.
Semut api menyengatkan bisanya dengan menggunakan
rahangnya dan memutar tubuhnya. Mereka dapat menyengat
bisa berkali-kali.
2. Gejala
Gejala dari gigitan serangga bermacam-macam dan
tergantung dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi.
Kebanyakan gigitan serangga menyebabakan kemerahan,
bengkak, nyeri, dan gatal-gatal di sekitar area yang terkena
gigitan atau sengatan serangga tersebut. Kulit yang terkena
gigitan bisa rusak dan terinfeksi jika daerah yang terkena
gigitan tersebut terluka. Jika luka tersebut tidak dirawat,
maka akan mengakibatkan peradangan akut.
Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak,
desahan, sesak napas, pingsan dan hampir meninggal dalam
30 menit adalah gejala dari reaksi yang disebut anafilaksis.
Ini juga diakibatkan karena alergi pada gigitan serangga.
Gigitan

serangga

juga

mengakibatkan

bengkak

pada

tenggorokan dan kematian karena gangguan udara.Sengatan

12

dari serangga jenis penyengat besar atau ratusan sengatan


lebah jarang sekali ditemukan hingga mengakibatkan sakit
pada otot dan gagal ginjal.
Sedangkan tanda dan gejala dari gigitan binatang berbisa
seperti ular yaitu :
Tanda umum ular berbisa adalah kepalanya berbentuk
segitiga. Tanda lain adalah dari penampakan langsung
misalnya corak kulitnya. Dari bekas gigitan dapat dillihat dua
lubang yang jelas akibat dua gigi taring rahang atas bila
ularnya berbisa, dan deretan bekas gigi-gigi kecil berbentuk
U bila ularnya tak berbisa.
Digigit oleh ular berbisa menghasilkan efek yang
bervariasi, dari luka gigitan yang sederhana sampai sakit
yang mengancam nyawa dan kematian. Hasil temuan pada
korban gigitan ular dapat menyesatkan. Seorang korban dapat
tidak menunjukkan gejala inisial, dan kemudian tiba-tiba
menjadi sesak nafas dan menjadi syok.
Gejala dan tanda gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam
beberapa kategori mayor :
a. Efek lokal : digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa
kobra (Naja spp) menimbulkan rasa sakit dan perlunakan
di daerah gigitan. Luka dapat membengkak hebat dan

13

dapat berdarah dan melepuh. Beberapa bisa ular kobra


juga dapat mematikan jaringan sekitar sisi gigitan luka.
b. Perdarahan : Gigitan oleh famili viperidae atau beberapa
elapid Australia dapat menyebabkan perdarahan organ
internal seperti otak atau organ-organ abdomen. Korban
dapat berdarah dari luka gigitan atau berdarah spontan dari
mulut atau luka yang lama. Perdarahan yang tak terkontrol
dapat menyebabkan syok atau bahkan kematian.
c. Efek sistem saraf : bisa ular elapid dan ular laut dapat
berefek langsung pada sistem saraf. Bisa ular kobra dan
mamba dapat beraksi terutama secara cepat menghentikan
otot-otot

pernafasan,

berakibat

kematian

sebelum

mendapat perawatan. Awalnya, korban dapat menderita


masalah visual, kesulitan bicara dan bernafas, dan
kesemutan.
d. Kematian otot : bisa dari Russells viper (Daboia russelli),
ular laut, dan beberapa elapid Australia dapat secara
langsung menyebabkan kematian otot di beberapa area
tubuh. Debris dari sel otot yang mati dapat menyumbat
ginjal, yang mencoba menyaring protein. Hal ini dapat
menyebabkan gagal ginjal.

14

e. Mata : semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara


tepat mengenai mata korban, menghasilkan sakit dan
kerusakan, bahkan kebutaan sementara pada mata.
2.1.6

Penatalaksanaan Gigitan Serangga Dan Binatang Berbisa


1. Penatalaksanaan pada gigitan serangga
Jika seseorang yang telah digigit serangga mengalami
gejala seperti di atas maka carilah pengobatan. Gejala
tersebut bisa jadi anafilaksis fatal. Rasa gatal dengan bintikbintik merah dan bengkak adalah gejala yang paling sering
ditemui. Paling sering ini diobati di rumah dengan
antihistamin.Jika gigitan menyebabkan infeksi (kemerahan
dengan atau tanpa nanah, suhu tubuh tinggi, demam, atau
kemerahan di tubuh), pergilah ke dokter.Jika tidak diketahui
apa yang menggigit, sangat penting untuk menjaga area yang
digigit agar tidak terjadi infeksi.
Hubungi dokter jika ada luka yang terbuka, mungkin itu
sengatan racun laba-laba. Seseorang yang mempunyai
riwayat tergigit atau tersengat serangga harus pergi ke rumah
sakit terdekat jika mendapati gejala lain. Sedang orang yang
tidak mempunyai riwayat tergigit serangga juga harus ke
bagian gawat darurat jika:
1) Mendesah
2) Sesak nafas

15

3) Dada sesak atau sakit


4) Tenggorokan sakit atau susah berbicara
5) Pingsan atau lemah
6) Infeksi
Pengobatan

gigitan

serangga

pribadi

di

rumah

Pengobatan tergantung pada jenis reaksi yang terjadi. Jika


hanya kemerahan dan nyeri pada bagian yang digigit, cukup
menggunakan es sebagai pengobatan. Bersihkan area yang
terkena gigitan dengan sabun dan air untuk menghilangkan
partikel yang terkontaminasi oleh serangga (seperti nyamuk).
Partikel-partikel dapat mengkontaminasi lebih lanjut jika luka
tidak dibersihkan.
Pengobatan dapat juga menggunakan antihistamin seperti
diphenhidramin (Benadryl) dalam bentuk krim/salep atau pil.
Losion Calamine juga bisa membantu mengurangi gatalgatal.
2. Penatalaksanaan

pada

gigitan

binatang

berbisa

Penatalaksanaan tergantung derajat keparahan envenomasi;


dibagi menjadi perawatan di lapangan dan manajemen di
rumah sakit
1) Perawatan di Lapangan
Seperti kasus-kasus emergensi lainnya, tujuan utama
adalah untuk mempertahankan pasien sampai mereka tiba

16

di instalasi gawat darurat. Sering penatalaksanaan dengan


autentisitas yang kurang lebih memperburuk daripada
memperbaiki keadaan, termasuk membuat insisi pada luka
gigitan, menghisap dengan mulut, pemasangan turniket,
kompres dengan es, atau kejutan listrik. Perawatan di
lapangan yang tepat harus sesuai dengan prinsip dasar
emergency

life

support.

Tenangkan

pasien

untuk

menghindari hysteria selama implementasi ABC (Airway,


Breathing, Circulation).
2) Pertolongan Pertama :
a) Cegah gigitan sekunder atau adanya korban kedua. Ular
dapat terus mengigit dan menginjeksikan bisa melalui
gigitan berturut-turut sampai bisa mereka habis.
b) Buat korban tetap tenang, yakinkan mereka bahwa
gigitan ular dapat ditangani secara efektif di instalasi
gawat darurat. Batasi aktivitas dan imobilisasi area
yang terkena (umumnya satu ekstrimitas), dan tetap
posisikan daerah yang tergigit berada di bawah tinggi
jantung untuk mengurangi aliran bisa.
c) Jika terdapat alat penghisap, (seperti Sawyer Extractor),
ikuti petunjuk penggunaan. Alat penghisap tekanannegatif dapat memberi beberapa keuntungan jika
digunakan dalam beberapa menit setelah envenomasi.

17

Alat ini telah direkomendasikan oleh banyak ahli di


masa lalu, namun alat ini semakin tidak dipercaya
untuk dapat menghisap bisa secara signifikan, dan
mungkin alat penghisap dapat meningkatkan kerusakan
jaringan lokal.
d) Buka semua cincin atau benda lain yang menjepit /
ketat yang dapat menghambat aliran darah jika daerah
gigitan membengkak. Buat bidai longgar untuk
mengurangi pergerakan dari area yang tergigit.
e) Monitor tanda-tanda vital korban temperatur, denyut
nadi, frekuensi nafas, dan tekanan darah jika
mungkin. Tetap perhatikan jalan nafas setiap waktu jika
sewaktu-waktu menjadi membutuhkan intubasi
f) Jika daerah yang tergigit mulai membengkak dan
berubah warna, ular yang mengigit kemungkinan
berbisa.
g) Segera dapatkan pertolongan medis. Transportasikan
korban secara cepat dan aman ke fasilitas medis darurat
kecuali ular telah pasti diidentifikasi tidak berbahaya
(tidak

berbisa).

Identifikasi

atau

upayakan

mendeskripsikan jenis ular, tapi lakukan jika tanpa


resiko

yang

signifikan

terhadap

adanya

gigitan

sekunder atau jatuhnya korban lain. Jika aman, bawa

18

serta ular yang sudah mati. Hati-hati pada kepalanya


saat membawa ular ular masih dapat mengigit hingga
satu jam setelah mati (dari reflek). [5] Ingat, identifikasi
yang salah bisa fatal. Sebuah gigitan tanpa gejala inisial
dapat tetap berbahaya atau bahkan fatal.
h) Jika berada di wilayah yang terpencil dimana
transportasi ke instalasi gawat darurat akan lama,
pasang bidai pada ekstremitas yang tergigit. Jika
memasang bidai, ingat untuk memastikan luka tidak
cukup

bengkak

sehingga

menyebabkan

bidai

menghambat aliran darah. Periksa untuk memastikan


jari atau ujung jari tetap pink dan hangat, yang berarti
ekstrimitas tidak menjadi kesemutan, dan tidak
memperburuk rasa sakit.
i) Jika dipastikan digigit oleh elapid yang berbahaya dan
tidak terdapat efek mayor dari luka lokal, dapat
dipasang pembalut dengan teknik imobilisasi dengan
tekanan. Teknik ini terutama digunakan untuk gigitan
oleh elapid Australia atau ular laut. Balutkan perban
pada luka gigitan dan terus sampai ke bagian atas
ekstremitas dengan tekanan seperti akan membalut
pergelangan kaki yang terpeleset. Kemudian imobilisasi
ekstremitas dengan bidai, dengan tetap memperhatikan

19

mencegah terhambatnya aliran darah. Teknik ini


membantu mencegah efek sistemik yang mengancam
nyawa dari bisa, tapi juga bisa memperburuk kerusakan
lokal pada sisi gigitan jika gejala yang signifikan
terdapat di sana.
3) Manajemen di Rumah Sakit
Perawatan definitif meliputi pengecekan kembali ABC dan
mengevaluasi pasien atas tanda-tanda syok (seperti
takipneu, takikardi, kulit kering dan pucat, perubahan
status mental, hipotensi). Rawat dahulu keadaan yang
mengancam nyawa. Korban dengan kesulitan bernafas
mungkin membutuhkan endotracheal tube dan sebuah
mesin ventilator untuk menolong korban bernafas. Korban
dengan syok membutuhkan cairan intravena dan mungkin
obat-obatan lain untuk mempertahankan aliran darah ke
organ-organ vital.
Semburan bisa ular sendok, apabila mengenai mata, dapat
mengakibatkan iritasi menengah dan menimbulkan rasa
pedih yang hebat. Mencucinya bersih-bersih dengan air
yang mengalir sesegera mungkin dapat membilas dan
menghanyutkan bisa itu, mengurangi iritasi dan mencegah
kerusakan

yang

lebih

lanjut

pada

mata.

Penderajatan envenomasi membedakan kebutuhan akan

20

antivenin pada korban gigitan ular-ular viper. Derajat


dibagi dalam ringan, sedang, atau berat.
a) Envenomasi ringan ditandai dengan rasa sakit lokal,
edema, tidak ada tanda-tanda toksisitas sistemik, dan
hasil laboratorium yang normal.
b) Envenomasi sedang ditandai dengan rasa sakit lokal
yang hebat; edema lebih dari 12 inci di sekitar luka; dan
toksisitas sistemik termasuk nausea, vomitus dan
penyimpangan pada hasil laboratorium (misalnya
penurunan jumlah hematokrit atau trombosit).
c) Envenomasi berat ditandai dengan ptekie, ekimosis,
sputum

bercampur

darah,

hipotensi,

hipoperfusi,

disfungsi renal, perubahan pada protrombin time dan


tromboplastin time parsial teraktivasi, dan hasil-hasil
abnormal

dari

tes-tes

lain

yang

menunjukkan

koagulopati konsumtif.
Penderajatan envenomasi merupakan proses yang
dinamis. Dalam beberapa jam, sindrom ringan awal
dapat berkembang menjadi sedang bahkan reaksi yang
berat.
Beri antivenin pada korban gigitan ular koral sebagai
standar perawatan jika korban datang dalam 12 jam
setelah gigitan, tanpa melihat adanya tanda-tanda lokal

21

atau sistemik. Neurotoksisitas dapat muncul tanpa


tanda-tanda sebelumnya dan berkembang menjadi
gagal nafas
Bersihkan luka dan cari pecahan taring ular atau
kotoran lain. Suntikan tetanus diperlukan jika korban
belum pernah mendapatkannya dalam kurun waktu 5
tahun terakhir. Beberapa luka memerlukan antibiotik
untuk mencegah infeksi.
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Sengatan Dan Gigitan Ular
Berbisa
Asuhan

keperawatan

adalah

pelayanan

keperawatan

yang

dilakukan oleh seorang perawat dengan pendekatan keperawatan.


Proses

keperawatan

adalah

serangkaian

kegiatan

yang

dilaksanakan secara sistematis dan menggunakan pemikiran, pengetahuan


dan pengalaman yang dipergunakan oleh perawat dalam membantu
pemecahan masalah pasien. Kegiatan ini terdiri dari lima tahap yaitu tahap
pengkajian, tahap penyusunan diagnosa keperawatan, perencanaan, tahap
pelaksanaan dan tahap evaluasi.
2.2.1

Pengkajian
Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan
asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh
karena itu pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan
kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan

22

suatu

diagnosa

keperawatan

dan

memberikan

pelayanan

keperawatan sesuai dengan respon individu, sebagaimana yang


telah ditentukan dalam standar praktik keperwatan dari ANA
(American Nursing Association) (Nursalam, 2001).
Pada sengatan serangga mungkin ditemukan :
a) Mendesah
b) Sesak nafas
c) Tenggorokan sakit atau susah berbicara
d) Pingsan atau lemah
e) Infeksi
f) Kemerahan
g) Bengkak
h) Nyeri
i) Gatal-gatal

di

sekitar

area

yang

Pada gigitan ular dapat ditemukan data :


a) Tampak kebiruan
b) Pingsan
c) Lumpuh
d) Sesak nafas
e) syok hipovolemik
f) nyeri kepala
g) mual dan muntah
h) nyeri perut

23

terkena

gigitan

i) diare
j) keluarnya darah terus menerusdari tempat gigitan
k) flaccid paralysis
l) Miotoksisitas
Pemeriksaan Fisik:
Pendahuluan fisik racun, berdasarkan sifat-sifat organo
leptik, seperti bentuk, warna baud an rasa. Selain itu, dengan
dilakukan pemijaran akan dapat diketahui apakah bahan atau zat
yang kita periksa merupakan senyawa organic anorganik. Senyawa
organic tidak meninggalkan sisa setelah pemijaran.
1. Bentuk
Bentuk racun dapat berupa bahan atau rasa (serbuk, Kristal, tablet,
kapsul), bahan atau zat cair lanjut (larutan, sirup, suspense, obat
suntik) setegah padat (salep,cream) campuran bahan atau zat padat
dengan cairan (muntahan, isi perut) dan mungkin juga gas atau uap.
Pada tablet atau kapsul mungkin tertera nama obat atau kandungan
isinya akan mempermudah dalam pemeriksaan selanjutnya.
2. Warna
Bahan atau zat kimia pada umumnya tidak berwarna atau berwarna
putih. Tapi beberapa diantaranya mempunyai warna asli. Warna asli
tersebut dapat berubah bila terjadi oksidasi oleh udara. Sedangkan
warna sediaan jadi, biasanya bukan warna asli tapi sebagai akibat

24

tambahan zat warna, sehingga tidak dapat digunakan sebagai cirri


yang spesipik.
3. Bau
Pemeriksaan bau dapat dilakukan dengan cara membaui langsung
setelah digerus, setelah digosok dengan dua jari. Jika berupa cairan
di kocok terlebih dahulu dan dibaui langsung setelah dibakar.
4. Rasa
Pemeriksaan rasa dilakukan dengan mencicipi bahan atau zat
peminimal mungkin.
2.2.2

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang
menjelaskan respons manusia (status kesehatan atau resiko
perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat
secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan
intervensi

secara

menurunkan,

pasti

untuk

membatasi,

menjaga

status

kesehatan,

mencegah,

dan

merubah

bahwa

diagnosa

(Carpenito,2000).
Gordon

(2000),

mendefinisikan

keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial


dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, dia mampu
dan

mempunyai

kewenangan

untuk

memberikan

tindakan

keperawatan. Kewenangan tersebut didasarkan pada standar


praktek keperawatan dan etik keperawatan yang berikut adalah

25

diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan


keracunan ular berbisa adalah sebagai berikut:
1. Nyeri berhubungan dengan proses toksikasi
2. Syok berhubungan dengan tidak adekuatnya peredaran darah ke
jaringan
3. Rasa gatal, bengkak dan bintik bintik merah berhubungan
dengan proses inflamasi
4. Gangguan Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan reaksi
endotoksin
5. Hipertermia berhubungan dengan efek langsung endotoksin
pada hipotalamus
6. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan
tubuh tak adekuat
2.2.3

Intervensi
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk
mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang
diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah
menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana
dokumentasi (Nursalam;2001).
Secara tradisional, rencana keperawatan diartikan sebagai
suatu dokumen tulisan tangan dalam menyelesaikan masalah,
tujuan dan intervensi. Sebagaimana disebutkan sebelumnya,
rencana keperawatan merupakan metode komunikasi tentang

26

asuhan keperawatan kepada klien. Setiap klien yang memerlukan


asuhan keperawatan perlu suatu perencanaan yang baik. (Nursalam,
2001).
1.

Nyeri

berhubungan

dengan

proses

toksikasi

Tujuan : Meredakan nyeri\


Intervensi:
a.

Sengat kalau masih ada dicabut dengan pinset


R/ : mengeluarkan sengat serangga yang masih tertinggal

b.

Berikan kompres dingin


R/ : meredakan nyeri dan mengurangi bengkak

c.

Lakukan tehnik distraksi relaksasi


R/ : mengurangi nyeri

d.

Kolaborasi

dalam

pemberian

antihistamin

seperti

diphenhidramin (Benadryl) dalam bentuk krim/salep atau


pil, losion Calamine
R/ : mengurangi gatal gatal
2.

Syok berhubungan dengan tidak adekuatnya peredaran darah


ke jaringan
Tujuan : Menangani penyebab, Memperbaiki suplai darah ke
jaringan
Intervensi:
a. Atasi setiap penyebab shock yang mungkin dapat di
atasi(perdarahan luar)

27

R/: Mengurangi keparahan


b. Pasien

dibaringkan

kepala

lebih

rendah.

R/: Kepala lebih rendah supaya pasien tidak hilang


kesadaran
c. Kaki

di

tinggikan

dan

di

topang

R/: Meningkatkan suplai darah ke otak


d. Longgarkan pakaian yang ketat atau pakaian yang
menghalangi
R/: Sirkulasi tidak terganggu
e. Periksa dan catat pernapasan nadi dan tingkat reaksi tiap 10
menit
R/: Mengetahui tingkat perkembangan pasien
3.

Rasa gatal, bengkak dan bintik bintik merah berhubungan


dengan proses inflamasi
Tujuan : Mencegah peradangan akut
Intervensi:
a. Pasang

tourniket

pada

daerah

di

atas

gigitan

R/: Mencegah tersebarnya racun ke seluruh tubuh


b. Bersihkan area yang terkena gigitan dengan sabun dan air
untuk menghilangkan partikel yang terkontaminasi oleh
serangga (seperti nyamuk).
R/: Untuk menghindari terkontaminasi lebih lanjut pada
luka

28

c. Kolaborasi dalam pemberian antihistamin dan serum Anti


Bisa Ular (ABU) polivalen i.v dan disekitar luka. ATS dan
penisilin procain 900.000 IU
R/: Mencegah terjadinya infeksi
4.

Gangguan Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan


reaksiendotoksin
Intervensi:
a.

Auskultasi bunyi nafas

b.

Pantau frekuensi pernapasan

c. Atur posisi klien dengan nyaman dan atur posisi kepala


lebih tinggi

5.

d.

Motivasi / Bantu klien latihan nafas dalam

e.

Observasi warna kulit dan adanya sianosis

f.

Kaji adanya distensi abdomen dan spasme otot

g.

Batasi pengunjung klien

h.

Pantau seri GDA

i.

Bantu pengobatan pernapasan (fisioterapi dada)

j.

Beri O2 sesuai indikasi (menggunakan ventilator)

Hipertermia berhubungan dengan efek langsung endotoksin


pada hipotalamus
Intervensi:
a.

Pantau

suhu

diaphoresis

29

klien,

perhatikan

menggigil

atau

6.

b.

Pantau suhu lingkungan, batasi linen tempat tidur

c.

Beri kompres mandi hangat

d.

Beri antipiretik

e.

Berikan selimut pendingin

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan


tubuh tak adekuat
Intervensi:
a.

Berikan isolasi atau pantau pengunjung sesuai indikasi

b.

Cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas terhadap


klien

c.

Ubah posisi klien sesering mungkim minimal 2 jam


sekali

d. Batasi penggunaan alat atau prosedur infasive jika


memungkinkan
e.

Lakukan insfeksi terhadap luka alat infasif setiap hari

f.

Lakukan tehnik steril pada waktu penggantian balutan

g. Gunakan sarung tangan pada waktu merawat luka yang


terbuaka atau antisipasi dari kontak langsung dengan
ekskresi atau sekresi
h. Pantau kecenderungan suhu mengigil dan diaphoresis
i. Inspeksi flak putih atau sariawan pada mulu
j. Berikan obat antiinfeksi (antibiotic)
2.2.4

Tindakan Keperawatan

30

Tindakan / pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana


tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Iyer et al.;2001).
Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan
ditujukan pada nursing oders untuk membantu klien mencapai
tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang
spesifik dilaksanakan untuk memodofikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan klien.
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam
mencapai

tujuan

yang

telah

ditetapkan,

yang

mencakup

peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan


dan memfasilitasi koping. Perencanaan tindakan keperawatan akan
dapat dilaksanakan dengan baik, jika klien mempunyai keinginan
untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.
Selama tahap pelaksanaan, perawat harus melakukan pengumpulan
data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan
kebutuhan klien. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam
format yang telah ditetapkan oleh institusi (Nursalam, 2001)
2.2.5

Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi
proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa
keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil
dicapai.

Melalui

evaluasi

memungkinkan

perawat

untuk

memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian,

31

analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan (Ignatavicius &


Bayne, 2000).
Menurut Griffith & Christensen (2002) evaluasi sebagai
sesuatu yang direncanakan, dan perbandingan yang sistematik pada
status kesehatan klien. Dengan mengukur perkembangan klien
dalam mencapai suatu tujuan, maka perawat bisa menentukan
efektifitas tindakan keperawatan. Evaluasi merupakan langkah
terakhir dalam proses keperawatan yang merupakan kegiatan
sengaja dan terus menerus yang melibatkan klien perawat dan
anggota tim kesehatan lainnya.
Tujuan evaluasi adalah :
(a)Untuk menilai apakah tujuan dalam rencana perawatan tercapai
atau tidak
(b)Untuk melakukan pengkajian ulang
Untuk dapat menilai apakah tujuan ini tercapai atau tidak dapat
dibuktikan dengan prilaku klien
a. Tujuan tercapai jika klien mampu menunjukkan prilaku sesuai
dengan pernyataan tujuan pada waktu atau tanggal yang telah
ditentukan
b. Tujuan tercapai sebagian jika klien telah mampu menunjukkan
prilaku, tetapi tidak seluruhnya sesuai dengan pernyataan tujuan
yang telah ditentukan
c. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak mampu atau tidak mau

32

sama sekali menunjukkan prilaku yang telah ditentukan.


Menurut Alimul, (2001) catatan perkembangan merupakan
catatan tentang perkembangan keadaan klien yang didasarkan pada
setiap masalah yang ditemui pada klien. Modifikasi rencana dan
tindakan mengikuti perubahan keadaan klien. Adapun metode yang
digunakan dalam catatan perkembangan adalah sebagai berikut :
S : Data subjektif
Perkembangan keadaan didasarkan pada apa yang dirasakan,
dikeluhkan, dan dikemukakan klien.
O : Data objektif
Perkembangan yang bisa diamati dan diukur oleh perawat atau
tim kesehatan lain.
A : Analisis
Kedua jenis data tersebut, baik subjektif

maupun objektif

dinilai dan dianalisis, apakah perkembangan kearah perbaikan


atau kemunduran. Hasil analisis dapat menguraikan sampai
dimana masalah

yang

ada dapat diatasi atau adakah

perkembangan masalah baru yang menimbulkan diagnosa


keperawatan baru.
P : Perencanaan
Rencana penanganan klien dalam hal ini didasarkan pada hasil
analisa di atas yang berisi malanjutkan rencana sebelumnya

33

apabila keadaan atau masalah belum teratasi dan membuat


rencana baru bila rencana awal tidak efektif.
I : Implementasi
Tindakan yang dilakukan berdasarkan rencana.
E : Evaluasi
Evaluasi berisi tentang sejauh mana rencana tindakan dan
evaluasi telah dilaksanakan dan sejauh mana masalah pasien
teratasi.
R : Reassesment
Bila berhasil evaluasi menunjukkan masalah belum teratasi,
pengkajian ulang perlu dilakukan kembali melalui proses
pengumpulan data subjektif, data objektif, dan proses
analisisnya.
Rencana evaluasi tindakan yang akan digunakan pada kasus
kelolaan adalah SOAP.
2.2.6

Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan adalah pencatatan yang lengkap dan
akurat

terhadap

suatu

kejadian

dalam

proses

keperawatan.

Dokumentasi dilakukan segera setelah setiap kegiatan atau tindakan


dalam setiap langkah proses keperawatan dari pengkajian sampai
dengan evaluasi. (Wartonah, 2006).
Sebagai

dokumentasi

yang

mencatat

semua

pelayanan

keperawatan klien, dokumentasi tersebutdapat diartikan sebagai

34

suatu catatan bisnis dan hokum yang mempunyai banyak manfaat


dan penggunaan. Tujuan utama dari pendokumentasian adalah untuk:
1.

Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat


kebutuhan

klien,

merencanakan,

melaksanakan

tindakan

keperawatan dan mengevaluasikan tindakan.


2.

Dokumentasi untuk Penulisan, keuangan, hokum dan etika.


Sedangkan manfaat dan pentingnya dokumentasi dapat dilihat
dari berbagai aspek seperti hukum, jaminan mutu pelayanan,
komunikasi, keuangan, pendidikan, Penulisan dan akreditasi
( Nursalam, 2001)

35

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari kelompok kami bahwa keracunan adalah salah
satu penyebab kematian yang sering terjadi disekitar kita, akibat keracunan
yang di sebabkan oleh makanan, gigitan binatang, dan sengatan serangga.
Hal tersebut terjadi karena kelalainan dan kurangnya pengetahuan dari
pihak- pihak tersebut.
3.2 Saran
Saran dari kelompok kami adalah karena ini mengakibatkan
kematian dan terjadi bisa dengan sengaja ataupun tidak sengaja maka
untuk itu kita harus hati-hati pada bahan kimia ataupun yang lainnya.

36