Anda di halaman 1dari 4

DWANGSOM

(UANG PAKSA)
A.

PENGERTIAN
Marcel Stome, Guru Besar pada Rijksuniversiteit Gent, Antwerpen, Belgia:
Suatu hukuman tambahan pada si berutang untuk membayar sejumlah uang
kepada si berpiutang, di dalam hal si berutang tersebut tidak memenuhi
hukuman pokok. Hukuman tambahan mana dimaksudkan untuk menekan si
berutang agar supaya dia memenuhi putusan hukuman pokok.
Prof Mr. P.A. Stein:
Sejumlah uang yang ditetapkan dalam putusan, hukuman tersebut diserahkan
kepada penggugat, di dalam hal sepanjang atau sewaktu-waktu si terhukum
tidak melaksanakan hukuman. Uang paksa ditetapkan di dalam suatu jumlah
uang, baik berupa sejumlah uang paksa sekaligus, maupun setiap jangka waktu
atau setiap pelanggaran.
Mr. H. Oudelar:
Suatu jumlah uang yang ditetapkan hakim yang dibebankan kepada terhukum
berdasarkan atas putusan hakim yang dibebankan kepada terhukum
berdasarkan atas putusan hakim dalam keadaan ia tidak memenuhi suatu
hukuman pokok.
Mr. FMJ. Jansen:
Upaya eksekusi yang tidak langsung untuk memperoleh prestasi riil yang tidak
dapat dicapai melalui upaya eksekusi biasa kecuali secara khusus hal sita
revindikasi.
Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH.,:
Sejumlah uang yang ditetapkan di dalam vonis yang harus dibayar oleh
terhukum kalau prestasi hukum pokok tidak dipenuhi, singkatnya bahwa
dwangsom hanya dapat dikenakan kepada penghukuman untuk sesuatu yang
lain daripada pembayaran sejumlah uang.
[Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH., Memahami Eksistensi Uang Paksa
(Dwangsom) Dan Implementasinya di Indonesia, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta, 2010, hlm. 74]

B.

DASAR HUKUM

Halaman 1 dari 4

Adapun Dwangsom tidak diatur dalam HIR dan RBg. Di dalam praktik peradilan di
Indonesia, ketentuan mengenai Dwangsom mengacu pada Pasal 606 a dan Pasal 606 b Rv.
Pasal 606 a, berbunyi:
Sepanjang suatu putusan hakim mengandung hukuman untuk sesuatu yang lain
daripada membayar sejumlah uang, maka dapat ditentukan bahwa sepanjang atau setiap
kali terhukum tidak mematuhi hukuman tersebut, olehnya harus diserahkan sejumlah uang
yang besarnya ditetapkan dalam putusan hakim dan uang tersebut dinamakan uang paksa.
Pasal 606 b, berbunyi:
Bila putusan tersebut tidak dipenuhi, maka pihak lawan dari terhukum berwenang
untuk melaksanakan putusan terhadap sejumlah uang paksa yang telah ditentukan tanpa
terlebih dahulu meperoleh alas hak baru menurut hukum.
C.

SIFAT DWANGSOM

Merujuk pada pengertian Dwangsom dan ketentuan hukum yang mengaturnya, sifat
dari Dwangsom adalah:
1.

Assesoir, artinya keberadaan uang paksa tergantung kepada hukuman pokok. Jadi
suatu Dwangsom tidak mungkin ada apabila dalam suatu putusan tidak ada
hukuman pokok. (Lilik Mulyadi, Tuntutan Uang Paksa dalam Teori dan Praktik, 2001)

2.

Hukuman tambahan, artinya apabila hukuman pokok yang ditetapkan oleh hakim
tidak dipenuhi oleh tergugat dengan sukarela, maka dwangsom diperlakukan (dapat
dieksekusi). Apabila Dwangsom telah dilaksanakan tidalklah berarti bahwa hukuman
pokok telah hapus. Hukuman pokok masih tetap dapat dilaksanakan. [Dr. Harifin A.
Tumpa, SH., MH., Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) Dan
Implementasinya di Indonesia, hlm. 19]

3.

Tekanan psikis bagi terhukum, artinya dengan adanya hukuman Dwangsom yang
ditetapkan oleh hakim di dalam putusannya, maka si terhukum ditekan secara
psychis agar ia dengan sukarela memenuhi hukuman pokok yang ditetapkan oleh
hakim bersama Dwangsom tersebut. [Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH., Memahami
Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) Dan Implementasinya di Indonesia, hlm. 19]

D.

BERLAKUNYA DWANGSOM

1.

Tidak Ada Dwangsom Tanpa Hukuman Pokok


Hal ini selaras dengan sifar dari Dwangsom yang telah dijelaskan di atas. Tidak
mungkin ada suatu Dwangsom tanpa hukuman pokok, tetapi hukuman pokok
mungkin ada tanpa Dwangsom.

2.

Kemungkinan Eksekusi Riil Bukan Halangan Untuk Menjatuhkan Dwangsom


Di dalam Putusan Hakim yang bersifat Condemnatoir dapat berupa:

Halaman 2 dari 4

a. Melakukan suatu perbuatan, dapat berupa:

Mengosongkan suatu bangunan/tanah;


Menyerahkan suatu barang;
Melakukan suatu perbuatan tertentu;
Membayar sejumlah uang.

b. Tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu dan/ atau menghentikan suatu


perbuatan tertentu.
Kesemua putusan yang berisi penghukuman tersebut, kecuali hukuman pembayaran
sejumlah uang, dapat disertai suatu hukuman tambahan berupa pembayaran uang paksa
(dwangsom).
Maka dapat disimpulkan bahwa hanya putusan hakim yang berisi perintah yang
pelaksanaannya yang dapat dilakukan secara riil (reele executie) yang dapat disertakan
suatu uang paksa (dwangsom).
[Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH., Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) Dan
Implementasinya di Indonesia, hlm. 24-25]
3.

Dwangsom Bukanlah Ganti Rugi

Pembayaran ganti rugi untuk suatu kerugian, tidak saling ketergantungan dengan
suatu pembayaran Dwangsom, di mana si berutang harus membayar Dwangsom karena dia
tidak menaati perintah yang ditentukan oleh pengadilan. Itu berarti bahwa apabila si
berutang tetap melalaikan hukuman pokok yang disertai suatu ganti rugi, ia harus pula
membayar Dwangsom, jadi si berutang harus membayar dua kali, baik melalui Dwangsom
mapun melalui ganti rugi kepada pihak lainnya. Pembayaran ganti rugi kepada penggugat
harus dilepaskan dari pikiran tentang kewajiban membayar Dwangsom dari si berutang.
[Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH., Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) Dan
Implementasinya di Indonesia, hlm. 26]
4.

Hal-Hal Di Mana Dwangsom Tidak Boleh Dijatuhkan

Pada prinsipnya setiap putusan perkara dapat pula disertai suatu Dwangsom,
apabila hal tersebut memang diminta oleh penggugat kecuali hal-hal tersebut di bawah ini:
a.

Dwangsom dapat dijatuhkan oleh hakim kecuali penghukuman pembayaran


sejumlah uang.
Mengenai hal ini, Harifin Tumpa menyatakan:
Dari yurisprudensi yang ada, penulis tidak menemukan, atas dasar apa
penghukuman pembayaran sejumlah uang tidak dapat diterapkan Dwangsom
(uang paksa). Dwangsom (uang paksa) juga tidak dapat diterapkan terhadap
pembayaran sejumlah uang, karena baik pemikiran pembuat undang-undang
maupun undang-undangnya itu sendiri telah menyediakan suatu upaya hukum
untuk eksekusinya, yakni berupa penyitaan atas harta kekayaan tergugat.

Halaman 3 dari 4

[Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH., Memahami Eksistensi Uang Paksa


(Dwangsom) Dan Implementasinya di Indonesia, hlm. 78-79]
b.

Dwangsom tidak dapat dijatuhkan apabila sudah ternyata sebelumnya bahwa si


berutang tidak akan mungkin melaksanakan hukuman pokok.
Umpama: jika seorang penjual yang tidak dapat menyerahkan sebuah barang tidak
bergerak, tidak akan mungkin dihukum untuk melaksanakan suatu Dwangsom
apabila ternyata bahwa sebelum berperkara dia bukan lagi pemilik (eigenaar) dari
barang tersebut, karena ia telah menjual dan menyerahkan barang tersebut kepada
pembeli lain.
[Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH., Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom)
Dan Implementasinya di Indonesia, hlm. 31]

E.

PELAKSANAAN (EKSEKUSI) DWANGSOM

Untuk mengetahui kapan secara formal dan atau kapan perhitungan kongkrit
Dwangsom itu menjadi beban terhukum dan atau kapan terhukum tersebut terikat dalam
suatu perhitungan Dwangsom, maka terhadap hal ini, Undang-Undang tidak menyebutkan
secara expresis verbia, namun hal tersebut tetap mengikuti hukum eksekusi yang berlaku,
karena eksekusi Dwangsom (uang paksa) tidak diperlukan adanya suatu titel baru,
melainkan Dwangsom itu sendiri melekat pada suatu eksekusi. (baca rumusan ketentuan
Pasal 606 b Rv)
Pengalaman praktik di dalam dunia peradilan kita selama ini sesuai hukum eksekusi,
perhitungan Dwangsom (uang paksa) dimulai sejak masa peringatan dilampaui oleh
tereksekusi, yaitu 8 hari sejak aan maning, sedangkan kalau terjadi penundaan eksekusi,
maka Dwangsom tidak terutang atau diperhitungkan, yang berarti jumlah uang paksa
selama penundaan tidak dapat dibayarkan dari kekayaan terhukum atau tereksekusi.
[Dr. Harifin A. Tumpa, SH., MH., Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) Dan
Implementasinya di Indonesia, hlm. 81-82]

Halaman 4 dari 4