Anda di halaman 1dari 22

Leon Shargel

KINETIKA DISOLUSI

7/1/15

Ela Julisni Molita Sari


1201087

DISOLUSI
2

Disolusi merupakan
merupakan proses
proses dimana
dimana
Disolusi
suatu bahan
bahan kimia
kimia atau
atau obat
obat menjadi
menjadi
suatu
terlarut
dalam
suatu
pelarut.
terlarut dalam suatu pelarut.

Laju pelarutan
pelarutan obat-obat
obat-obat dengan
dengan

Laju
kelarutan dalam
dalam air
air sangat
sangat kecil
kecil dari
dari
kelarutan
bentuk sediaaan
sediaaan yang
yang utuh
utuh atau
atau
bentuk
terdisentegrasi dalam
dalam saluran
saluran cerna
cerna
terdisentegrasi
sering mengendalikan
mengendalikan laju
laju sisitemik
sisitemik
sering
obat.
obat.

Leon Shargel

7/1/15

Uji disolusi dapat digunakan untuk


meramalkan bioavaibilitas dan dapat
digunakan
untuk
membedakan
faktor-faktor
formulasi
yang
mempengaruhi bioavaibilitas obat.

Leon Shargel

7/1/15

Kinetika
KinetikaDisolusi
Disolusi
4

Kinetika
Kinetikadisolusi
disolusidapat
dapatdipengaruhi
dipengaruhi
oleh
:
oleh :
Sifat Fisikokimia Obat
Sifat Fisikokimia Obat
Faktor Formulasi Yang
Faktor Formulasi Yang
Mempengaruhi
MempengaruhiPelarutan
PelarutanObat
Obat
Pelarutan Dan Uji Pelepasan Obat
Pelarutan Dan Uji Pelepasan Obat

Leon Shargel

7/1/15

Sifat Fisikokimia Obat


5

Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar


terhadap kinetika disolusi. Luas permukaan
efektif dapat diperbesar dengan memperkecil
ukuran partikel. Laju disolusi akan diperbesar
karena kelarutan terjadi pada permukaan
solut,maka makin besar luas permukaan
makin cepat laju pelarutan. Kelarutan obat
dalam air juga mempengaruhi laju disolusi.
Obat berbentuk garam, pada umumnya lebih
mudah larut dari pada obat berbentuk asam
maupun basa bebas.
Leon Shargel

7/1/15

Faktor Formulasi Yang Mempengaruhi


Pelarutan Obat
6

Bahan tambahan (eksipien) yang ditambahkan


pada suatu formulasi memberi sifat fungsional
tertentu pada obat dan bentuk sediaan. Beberapa
sifat fungsional dari bahan tambahan ini digunakan
untuk memperbaiki kompersibilitas obat aktif,
menstabilkan
obat
terhadap
penguraian,
menurunkan iritasi lambung, mengendalikan laju
absorbsi obat, meningkatkan bioavaibilitas obat.
Bahan tambahan dalam produk obat juga dapat
mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan
mengubah media tempat obat melarut atau
bereaksi dengan obat itu sendiri.
Leon Shargel

7/1/15

Pelarutan Dan Uji Pelepasan Obat


7

Uji pelarutan dan pelepasan obat merupakan


komponen kendali kualitas yang penting untuk
fabrikasi produk obat. Sebagai suatu uji kendali
kualitas, pengujian pelarutan dan pelepasan
obat dapat digunakan untuk :
Keseragaman pelepasan obat dari batch ke
batch
Stabilitas

Scale up dan perubahan setelah persetujuan


(SUPAC- scale up poslapproval changes)
Prediksi tampilan in vivo
Leon Shargel

7/1/15

Faktor Lain Yang Mempengaruhi


Kinetika Disolusi :
8

1. Ukuran dan bentuk wadah


2. Jumlah pengadukan dan sifat
pengadukan
3. Suhu dan sifat media pelarutan
4. Rancangan alat pelarutan

Leon Shargel

7/1/15

Ukuran dan bentuk wadah


9

Ukuran dan bentuk dapat mempengaruhi


laju dan tingkat pelarutan. Untuk
mengamati pelarutan dari obat-obat
yang sangat tidak larut dalam air
mungkin perlu menggunakan suatu
wadah yang berkapasitas sangat besar.

Leon Shargel

7/1/15

Suhu dan sifat media pelarutan


10

Suhu media pelarutan juga harus


dikendalikan dan variasi suhu harus
dihindarkan sebagian besar uji pelarutan
dilakukan pada 37 C.
Sifat media pelarutan juga mempengaruhi
uji pelarutan. Kelarutan maupun jumlah
obat
dalam
bentuk
sediaan
harus
dipertimbangkan.
Media
pelarutan
hendaknya tidak jenuh dengan obat.
Leon Shargel

7/1/15

11

Jumlah pengaukan dan sifat


pengadukan

Kecepatan
pengadukan
harus
dikendalikan, dan spesifikasi yang
membedakan antar produk.

Leon Shargel

7/1/15

Rancangan alat pelarutan


12

Tidak satupun alat atau uji yang


dapat digunakan untuk keseluruhan
produk obat. Tiap produk obat harus
diuji secara individual dengan uji
pelarutan yang memberikan korelasi
yang
paling
baik
dengan
bioavaibilitas in vivo.

Leon Shargel

7/1/15

Metoda uji disolusi :


13

Metoda pelarutan kompendial

Metode rotating basket (Alat 1)


Metoda ini terdiri dari keranjang silindrik yang
ditahan oleh tangkai motor. Keranjang menahan
cuplikan dan berputar dalam suatu labu bulat yang
berisi media pelarutan. Keseluruhan labu tercelup
dalam suatu bak yang bersuhu konstan 37 C.

Kecepatan berputar dan posisi keranjang harus


memenuhi rangkaian syarat khusus dalam USP
yang terakhir. Kecepatan berputar yang paling
lazim untuk metoda basket adalah 100 rpm.
Leon Shargel

7/1/15

14

Metode Paddle (Alat 2)


Alat ini terdiri atas suatu dayung yang dilapisi
khusus, yang berfungsi memperkecil turbulensi
yang disebabkan oleh pengadukan. Dayung diikat
secara vertikal ke suatu motor yang berputar
dengan suatu kecepatan yang terkendali. Alat
ditempatkan dalam suatu bak air yang bersuhu
konstan. Posisi dan kesejajaran dayung ditetapkan
dalam USP. Metode Paddle sangat peka terhadap
kemiringan dayung. Kecepatan operasi yang lazim
untuk alat 2 adalah 50 rpm untuk bentuk sediaan
oral padat dan 25 rpm untuk suspensi.
Leon Shargel

7/1/15

15

Metode Reciprocating Cylinder


(Alat 3)
Alat ini terdiri atas serangkaian wadah
gelas
silindris,
dasar
datar
yang
dilengkapi dengan reciprocating cylinder
untuk uji pelarutan dari produk extend
release, terutama sediaan pelepasan
modifikasi tipe butiran (bead) tertentu.
Media pelarutan dipertahankan pada
suhu 37 C.
Leon Shargel

7/1/15

16

Metode Flow-Through-Cell (Alat 4)


Alat ini terdiri dari suatu reservior untuk media
pelarutan dan suatu pompa yang mendorong
media pelarutan melewati sel yang menahan
cuplikan uji.
Metode Paddle-Over-Disk (Alat 5)
Alat terdiri atas suatu penahan cuplikan atau
rakitan
piring
yang
menahan
produk.
Keseluruhan sediaan ditempatkan dalam suatu
labu pelarutan yang terisi dengan media
tertentu yang dipertahankan pada 32 C.

Leon Shargel

7/1/15

17

Metode Silinder (Alat 6)


Metode silinder untuk pengujian sediaan transdermal dimodifikasi
dari metode basket (alat 1). Untuk peletakan keranjang, suatu
silinder
baja digunakan untuk menahan sampel. Sampel
diletakan pada cuprophan dan keseluruhan sistem ditempatkan
pada silinder. Penguji di pertahankan pada 32 c. Untuk analisis
sampel diambil pada pertengahan antar permukaan media
pelarutan dan ujung silinder yang berputar.

Metode Reciprocating Disk (Alat 7)


Metode ini menggunakan suatu rakitan motor penggerak untuk
membalik sistem secara vertikal, dan sampel diletakan pada
penahan yang berbentuk piringan dengan menggunakan
pendukung cuprophan.
Leon Shargel

7/1/15

18

Metode Uji Pelarutan Alternatif


Metoda Rotating Bottle
Metode ini terutama digunakan untuk mengendalikan
pelepasan butiran-butiran. Untuk maksud ini media
pelarutan dapat diubah dengan mudah. Peralatan terdiri
atas satu rak yang berputar yang menahan cuplikan
produk obat dalam botol. Botol ditutup secara kuat dan
diputar dalam suatu bak yang bersuhu 37 C. pada
berbagai waktu, cuplikan dipindahkan dari botol,
didekantir melalui suatu ayakan ukuran 40 dan residu
ditetapkan kadarnya. Pada residu obat yang tinggal
dalam suatu botol ditambah suatu nvolume media baru
yang sama.
Leon Shargel

7/1/15

19

Metoda pelarutan instrinsik


Sebagian besar metode pelarutan berhubungaan dengan produk
akhir obat. Kadang-kadang suatu obat atau bahan baru dapat diuji
untuk pelarutan tanpa pengaruh dari bahan tambahan atau proses
fabrikasi.
Pelarutan
dari
suatu
serbuk
obat
dengan
mempertahankan suatu luas permukaan yang tetap disebut
pelarutan instrinsik.

Metoda peristaltik
Alat terdiri atas suatu tabung plastik silindrik yang kaku yang
dipasang suatu ekat dan tutup karet pada kedua ujung. Bak
pelarutan terdiri atas sutu ruangan antara sekat dan tutup karet
padan kedua ujung. Alat diletakkan dalam suati beker yang berisi
media pelarutan. Media pelarutan di pompa dengan aksi peristaltik
melewati bentuk sediaan obat.
Leon Shargel

7/1/15

20

Cara uji disolusi yang diuraikan


dalam Farmakope Indonesia adalah
cara keranjang yang menggunakan
pengaduk jenis keranjang dan cara
dayung
yang
menggunakan
pengaduk berbentuk dayung. Dalam
Farmakope Indonesia kedua cara ini
dikenal dengan cara keranjang dan
dayung.
Leon Shargel

7/1/15

Syarat Uji Disolusi Untuk Pengujian Suatu


Produk Obat :
21

dipilih metode yang tepat, sehingga


teruji korelasinya dengan kecepatan
absorpsinya.
setelah terbukti adanya korelasi
maka akan dapat digunakan sebagai
metode baku untuk prosedur
pengendalian kualitas baku produk
obat seperti yang telah tercantum
dalam literatur resmi seperti USP
XX/ NF XX.
Leon Shargel

7/1/15

22

TERIMA KASIH

Leon Shargel

7/1/15