Anda di halaman 1dari 2

Merumuskan Kebahagiaan Rakyat

INDRA TRANGGONO
Tanyalah kepada Tjokroaminoto, Bung Karno, Sjahrir atau pemimpin nasionalis-humanis
lainnya. Jawabannya pasti sama: salah satu tujuan penting mendirikan negara adalah
menciptakan kehidupan rakyat bahagia.
Ukuran kebahagiaan tak hanya pemenuhan hidup secara material, juga secara emosional,
intelektual, eksistensial, kultural, dan spiritual.
Tanpa melupakan jasa besar gerakan Boedi Oetomo, Tjokroaminoto merasa wajib menanam
dan menumbuhkan nasionalisme ke dalam jiwa murid-muridnya, antara lain Koesno
(Soekarno). Kemudian Soekarno mengembangkan nasionalisme menjadi ideologi
pergerakan untuk mencapai kemerdekaan.
Cita-cita yang terbayang di benak Soekarno pasti bukan berkaitan dengan ambisi personal
melainkan impian sosial: negara berdaulat, pemerintahan kuat, dan rakyat bermartabat. Ada
ideologi negara (Pancasila) yang dijabarkan melalui konstitusi (UUD 1945) di mana rakyat
dilindungi, dicerdaskan, dibangun martabatnya, dan disejahterakan.
Membahagiakan kehidupan rakyat menjadi horizon harapan yang selalu diperjuangkan.
Rakyat hadir sebagai subyek yang ikut memproses harapan-harapan kebahagiaan. Begitulah
Soekarno menggunakan ideologi dan sistem kekuasaan yang populis, antimodal asing dan pro
sipil, untuk mendistribusikan kesejahteraan dan membahagikan rakyat.
Soeharto mempunyai cara berbeda. Ia menggeser paradigma Soekarno dengan menghadirkan
"kapitalisme negara", sebuah sistem pro modal asing yang disangga kekuatan militer dan
kelompok elite teknokrat untuk memacu pembangunan ekonomi. Negara mengontrol
mekanisme pasar agar rakyat dapat ruang untuk bernapas. Sistem kekuasaan ototarian
berhasil menciptakan stabilitas ekonomi. Harga-harga kebutuhan pokok relatif terjangkau.
Biaya hidup tidak tinggi. Rakyat mengenangkan era Orde Baru sebagai era "sandang pangan
murah dan mencari uang relatif gampang".
Namun, tebusannya amat besar: demokrasi mati. Perbedaan pikiran, keragaman pendapat dan
kebebasan ekspresi tak boleh dirayakan. Kritisisme ditentang. Rakyat ditundukkan secara
kolektif. Negara menjelma menjadi "monster". Suasana hidup penuh horor menjadi
kenyataan yang harus dihadapi.
Langgam kapitalisme
Adapun rezim-rezim demokratis-liberal pasca Orde Baru merumuskan kebahagiaan hidup
rakyat berdasarkan logika dan langgam kapitalisme serta daulat pasar, di mana semua
kebutuhan harus dibeli dengan harga tinggi oleh rakyat jelata. Lihatlah, misalnya, pada
penentuan harga BBM yang lebih ditentukan mekanisme pasar dunia sehingga sangat labil.
Akibatnya, kehidupan ekonomi rakyat jungkir balik, harus mengejar harga-harga kebutuhan
pokok yang terus melambung tanpa kendali. Tampaknya, penyelenggara negara dan
pemerintahan justru bangga dengan memamerkan "ketidakberdayaannya" atas tekanan politik
ekonomi pasar bebas.

Di dalam rezim demokratis-liberal seperti saat ini, rakyat kecil justru tak mendapatkan
manfaat dan makna apa pun. Secara ekonomi, rakyat tersingkir dan menjadi
korban brutalitas pasar bebas. Secara politik, rakyat hanya menjadi komoditas para juragan
politik ambisius. Secara sosial, rakyat menjadi "gelandangan", tak terpenuhi hak-hak
konstitusional. Secara budaya, rakyat dimiskinkan, direndahkan martabatnya, dilucuti
identitas dan jatidirinya, serta dijebol dari akar kulturalnya yang otentik. Rakyat kecil pun
akhirnya dalam posisi mengenaskan: sudah miskin, tak memiliki kebudayaan lagi.
"Hadiah" dari sistem demokrasi berupa kebebasan hanya menjadi kebutuhan kelas menengah
atas. Mereka bisa survive karena dekat atau berada dalam pusat-pusat kekuasaan politik dan
ekonomi, baik sebagai "tukang", kolaborator, atau mediator/makelar politik. Apa artinya
kebebasan jika rakyat kelaparan? Apa artinya demokrasi tanpa kesejahteraan? Begitulah
gugatan rakyat dalam kemarahan yang sunyi, kemarahan yang purba.
Rakyat hanya diberi keleluasaan dalam menikmati penderitaan, menikmati limbah penuh
racun yang dihasilkan pabrik kekuasaan yang korup dan jauh dari nilai-nilai konstitusi.
Rakyat merumuskan kebahagiaan dengan sederhana: terpenuhinya kebutuhan dasar berupa
pangan, papan, sandang, kesehatan, pekerjaan, dan pendidikan. Ditambah tidak susah
mencari uang atau memiliki daya beli di mana harga-harga kebutuhan pokok terjangkau,
hidup aman/ nyaman dan mampu berekspresi secara kultural. Namun, tampaknya negara dan
rezim berkuasa masih "owel" alias berat hati mewujudkan impian kebahagiaan rakyat itu.
Mungkin karena tak mau repot atau memang tidak mempunyai kepekaan atas derita
rakyat? Sementara itu, jargon "pemimpin adalah pelayan" terus berkumandang.
Penderitaan rakyat kecil tak bisa ditolong dengan senyum presiden yang ramah, tetapi hampa,
wajah kelimis para menteri atau gaya sok serius para politikus. Teater-teater palsu dan basabasi pencitraan itu terbukti gagal menyejahterakan apalagi membahagiakan rakyat. Harus
berapa abad lagi rakyat bisa hidup bahagia?
INDRA TRANGGONOPemerhati Kebudayaan