Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang misterius karena menyimpan
banyak rahasia yang menarik untuk dikaji. Semakin dikaji maka semakin
tersadar bahwa betapa banyak hal-hal dalam diri manusia yang belum
terungkapkan. Pada dasarnya semua hal tentang pengkajian manusia itu
didasari oleh pertanyaan-pertanyaan unik dan mendasar mengenai hakikat
manusia, seperti Siapakah sesungguhnya manusia itu? Apakah hakikat
manusia itu bersifat material ataukah spiritual? Bagaimanakah kedudukan
manusia di alam semesta raya yang maha luas ini? Apa sebenarnya arti, nilai
atau makna hidup manusia itu? Apakah tujuan hidup manusia? Apakah ada
kebebasan pada diri manusia? Kalau kebebasan itu memang ada, sampai
sejauh mana pertanggungjawaban yang harus dipikul manusia? Apa yang
seharusnya dilakukan manusia di dalam dunia yang serba tidak menentu ini?
Bagaimana sebaiknya manusia bersikap dan berperilaku sehingga manusia
tidak merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya? dan masih banyak
lagi pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai hakikat manusia.
Walaupun pengkajian tentang hakikat manusia itu sangat kompleks dan
tidak pernah akan terungkap secara tuntas, namun banyak sekali pelajaran
yang dapat diambil dari ketidakterbatasan pengkajian tersebut. Salah satu
tokoh memberikan pernyataan Apabila kita mampu menemukan hakikat jiwa
kita sendiri, kita mungkin akan mempunyai kunci untuk membuka pintu
kehidupan.1 Karena kita ketahui bahwa kehidupan yang sedang dijalani
manusia ini ibarat sebuah perjalan yang amat panjang, tidak ada yang
mengetahui kapan perjalanan hidup ini akan berakhir dan di mana ujung
kehidupannya, kecuali hanya Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Terkadang
1 Zainal Abidin. 2003. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, hlm.58

kehidupan yang dijalani oleh manusia banyak menemui kebahagian maupun


rintangan. Hanya manusia yang memiliki tujuan hidup dan sadar akan kodrat
penciptaan manusialah yang dapat melalui semua halangan dalam perjalanan
kehidupan ini hingga dia dapat kembali lagi kepada Sang Pencipta. Dengan
tujuan hidup yang pasti, maka manusia akan lebih mantap menghadapi ujian.
Seberat apapun ujian yang ditemui dalam kehidupan, manusia tersebut akan
tetap kuat menghadapi cobaan karena mereka mengetahui apa yang sedang dia
lakukan dan mengetahui apa yang ingin dicapai. Bahkan tujuan hidup
adalah penentu pencapaian prestasi pribadi.2 Orang yang memiliki tujuan
yang jelas, akan hidup terarah dan memiliki rencana-rencana untuk mencapai
tujuan yang dimaksud.
Selain itu, ketika seseorang mencoba menemukan hakikat jati dirinya
sendiri maka secara tidak langsung ia akan mengenal Sang Penciptanya yaitu
Allah SWT. Jika manusia itu sudah mengenal jiwanya pasti ia akan mengenal
Tuhannya. Jika tidak, ia tidak akan pernah mengenal Tuhannya. Manusia itu
sendiri sebenarnya adalah bukti konkrit dan persaksian besar dari keagungan
Allah.3
Bertolak dari latar belakang tersebut, maka melalui karya tulis ilmiah ini
penulis ingin memaparkan hakikat manusia terlahir di dunia serta
menjabarkan tujuan hidup manusia berdasarkan firman Allah dan keilmuan
Filsafat.

2 Agus Riyanto, 2013. Bangkit, Maju dan Raih Mimpi Menjadi Manusia Sukses Sejati
Dunia-Akhirat. Jakarta.PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. hlm. 42
3 Fauzi Chaniago. 2012. Siapa Manusia Itu. (online). Tersedia di :
http://mukjizatrasulullah.blogspot.com/2012/02/siapa-manusia-itu.html [diakses: 3 Juni
2015].

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka dalam
pembahasan karya tulis ilmiah ini akan difokuskan menjadi lima rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah sebenarnya manusia itu?
2. Bagaimana hubungan manusia dengan Allah (Sang Pencipta) dan
hubungan manusia dengan manusia?
3. Apa hakikat manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan
makhluk susila?
4. Apa sebenarnya tujuan hidup manusia di dunia ini?
5. Apakah peran bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila dalam
membentuk masyarakat modern?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Untuk menjawab rumusan masalah yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka
tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini yaitu dimaksudkan untuk:
1. Mengetahui apa sebenarnya manusia itu.
2. Mengetahui hubungan manusia dengan Allah (Sang Pencipta) dan
hubungan manusia dengan manusia.
3. Mengetahui hakikat manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial
dan makhluk susila.
4. Mengetahui tujuan hidup manusia di dunia ini.
5. Mengetahui peran bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila
dalam membentuk masyarakat modern.

BAB II
PEMBAHASAN

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang misterius dan sangat menarik.
Dikatakan misterius karena semakin dikaji maka semakin terungkap betapa
banyak hal-hal mengenai manusia yang belum terungkapkan, dan dikatakan
menarik karena manusia sebagai subjek sekaligus objek kajian yang tiada hentihentinya dikaji oleh para ahli dengan sudut pandang dan pemikiran yang berbedabeda4. Hakikatnya manusia merupakan makhluk yang bidimensional atau duadimensional yaitu makhluk yang memiliki dua dimensi berupa dimensi spiritual
atau ketuhanan dan dimensi material.5 Karena manusia dianggap makhluk yang
bidimensional maka manusia membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan
kepentingan dunia yaitu kepentingan yang berhubungan antara manusia dengan
sesama umat manusia beserta lingkungannya (habluminannas) dan kepentingan
akhirat yaitu kepentingan yang berhubungan antara manusia dengan Sang
Pencipta-Nya Allah SWT (habluminallah). Jika didasarkan pada habluminallah
dan habluminannas, manusia sesungguhnya dapat mengetahui jati diri manusia
itu sebenarnya, mengetahui tujuan hidup di dunia serta dapat menjalankan tujuan
hidupnya tersebut hingga dapat mencapai kemuliaan dunia akhirat. 6

Dua

kepentingan yang mendasar tersebut yaitu habluminallah dan habluminannas


secara tersirat telah Allah sampaikan kepada umat manusia melalui QS.Ali Imran
ayat 112:7
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan
4 NN. Manusia Dalam Perspektif Islam. (online). Tersedia di
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/agama_islam/bab2manusia_dalam_perspektif_islam.pdf [diakses: 4 Juni 2015]. hlm.31
5 Ary Ginanjar Agustian. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual ESQ. Jakarta: Penerbit Arga. Hlm. xix-xx
6 Amujadid. 2014. Manusia dan Pandangan Hidup. (online) . Tersedia di:
http://amujaddid.blogspot.com/2014_06_01_archive.html. [diakses: 1 Juni 2015].
7 Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Quran dan Terjemahanya. Bandung: CV
Penerbit Diponegoro. hlm.64

mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi


kerendahan...
Namun selama ini banyak berkembang dalam masyarakat sebuah
dikotomisasi pemikiran antara kepentingan duniawi atau yang hanya sepenuhnya
berorientasi horizontal (habluminannas) dengan kepentingan ukhrowi atau yang
sepenuhnya berorientasi vertical (habluminallah). 8 Bukti nyatanya ialah manusiamanusia yang berorientasi horizontal cenderung berpikir dan berpijak hanya pada
alam duniawi, kekuatan berpikirnya tak pernah diimbangi oleh kekuatan dzikir.
Manusia dengan konsep duniawi atau habluminannas sering merasakan
kekosongan batin yang amat sangat sepi bahkan ia tak lagi tahu kemana
seharusnya ia melangkah, atau untuk tujuan apakah hidupnya, kemana ia harus
berpijak, dan untuk apa semua itu dilakukannya, hingga hampir manusia ini hanya
diperbudak uang dan waktu.9 Manusia berorientasi horizontal lupa akan jati
darinya bahwa ia adalah makhluk ber-Tuhan. Tujuan hidupnya hanya
berorientasi pada materialistis dan hubungan antar manusia semata. Bukankah
hanya mengejar kebendaan, berarti hanya mencakup satu tujuan hidup saja yaitu
amaliyah duniawi ?10

Gambar 1. Orientasi horizontal (habluminannas)


Di lain pihak manusia yang berorientasi vertical saja cenderung berpikir
bahkwa kesuksesan dunia adalah sesuatu yang dapat dinisbikan atau sesuatu yang
bisa dengan mudahnya dimarginalkan. Hasilnya mereka unggul dalam
kekhusyuan dzikir dan kekhitmatan berkontemplasi namun menjadi kalah dalam
8 Ary Ginanjar Agustian. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual ESQ. Jakarta: Penerbit Arga. Hlm. xix
9 Ary Ginanjar Agustian. 2001. Ibid.xx
10 Ary Ginanjar Agustian. 2001.Ibid. xxxix

perekonomian, ilmu pengetahuan, politik perdagangan dan lain sebagainya yang


berhubungan dengan duniawi.11 Manusia dengan konsep ukhrowi atau
habluminallah saja lupa akan jati dirinya bahwa manusia tidak hanya
makhluk ber-Tuhan tetapi manusia juga makluk individu, makhluk sosial,
makhluk susila dan makhluk berbangsa.

Gambar 2. Orientasi vertikal (habluminallah)


Untuk dapat memahami jati diri atau hakikat manusia seutuhnya dan
memahami apa tujuan hidup manusia di dunia ini seharusnya manusia
menggabungkan

kedua

kepentingan

di

atas

yaitu

habluminallah

dan

habluminannas sehingga manusia akan sadar bahwa ia adalah makhluk berTuhan, makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk
berbangsa. Ketika manusia tersebut mengerti akan jati dirinya maka manusia akan
menjalani hidup yang lebih bermakna.

Gambar 3. Gambaran Manusia Seutuhnya (habluminallah dan


habluminannas)

11 Ary Ginanjar Agustian. 2001.Ibid. xxxviii

Gambaran manusia seutuhnya yang memahami jati dirinya sesuai dengan Hadits
Rasulullah SAW sebagai berikut12:
Bukanlah sebaik-baik kamu orang yang bekerja untuk dunianya saja tanpa
akhiratnya, dan tidak pula orang-orang yang bekerja untuk akhiratnya saja dan
meninggalkan dunianya. Dan sesungguhnya, sebaik-baiknya kamu adalah orang
yang bekerja untuk akhirat dan untuk dunia.
A. Hakekat Manusia (Siapakah sebenarnya manusia itu?)
1. Manusia adalah Makhluk Ber-Tuhan
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk ber-Tuhan atau makhluk
religius. Manusia sebagai makhluk ber-Tuhan tidak bisa lepas dari dzat
yang disebut Tuhan yang mengendalikan roda kehidupan seluruh alam
dengan peranan yang mutlak. Tuhan berkuasa penuh terhadap segala aspek
kehidupan manusia.13 Manusia dikatakan makhluk ber-Tuhan karena
manusia pada dasarnya ialah makhluk yang lemah dan memerlukan tempat
untuk bersandar atau tempat mengadu dari segala masalah kehidupan.
Satu-satunya tempat bersandar manusia ialah Sang Pencipta Allah SWT.
Allah memberikan petunjuk dan ajaran-ajaran yang benar kepada manusia
dalam menyelesaikan masalah dan menentukan pilihan hidup melalui
agama.14
Selain itu melalui agama, manusia mendapatkan pedoman hidup yang
mutlak kebenarannya agar kehidupan manusia dapat selamat sejahtera
beserta ketentraman di dunia hingga perjalanannya menuju tempat yang
kekal di akhirat nanti. Ajaran tersebut didapatkan melalui bimbingan para
12 Ary Ginanjar Agustian. 2001.Ibid. x1i
13 Anggraeni S. 2013. Fitrah Manusia berTuhan. (online). Tersedia di:
http://shamagachi415.blogspot.com/2013/10/fitrah-manusia-ber-tuhan.html [diakses: 4
Juni 2015]
14 Muhamad Fathullah. 2014. Dimensi Hakikat Manusia. (online). Tersedia di :
http://dganezha.blogspot.com/2014/06/makalah-dimensi-hakikat-manusia.html [diakses:
4 Juni 2015]

nabi, ulama, orang tua, guru ataupun orang yang mengerti agama. Manusia
pada hakikatnya, memiliki kecenderungan untuk beragama. Hal ini
dimulai semenjak manusia sudah mulai dalam kandungan, sehingga naluri
beragama pasti dimiliki oleh setiap individu bahkan seorang Atheispun
demikian. Seorang atheis meyakini bahwa tidak ada Tuhan di dalam
kehidupan ini, atau tidak meyakini adanya Tuhan. Keyakinan itulah yang
menjadi Tuhan mereka. Jadi pada intinya tidak ada seorang pun yang tidak
bertuhan.
Namun dari sekian banyak agama yang ada di muka bumi ini, hanya
Agama Islam yang menjadi petunjuk yang benar. Agama Islam tidak
hanya berorientasi kepada dunia saja tetapi kepada keseimbangan antara
keduanya yaitu habluminallah dan habluminannas. Selain itu memang
agama yang benar disisi Allah hanyalah agama Islam.15 Islam menjadi
agama yang menjungjung tinggi fitrah manusia, menjungnjung tinggi
ajaran Tauhid, mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak boleh lepas
dari pedoman agama, karena agama merupakan satu-satunya pedoman
vertical maupun horizontal yang mutlak kebenarannya. Islam yang
bertuhankan Alloh SWT menjadikan Al quran dan Al-Hadist sebagai
pedoman untuk hambanya di dunia. Al Quran berisikan ajaran-ajaran
yang mencakup berbagai aspek. Tentunya aspek-aspek yang dimuat dalam
Al Quran, tidak mungkin bertentangan dengan fitrah manusia. Dalam QS.
Al Baqoroh ayat 21:
Hai Manusia, beribadahlah kepada Rabb yang mencirtakanmu dan
orang-orang yang sebelum kamu supaya kamu bertakwa. 16
Ayat diatas menjelaskan bahwa, manusia sebagai makhluk yang bertuhan
tidak boleh salah dalam menjalankan fitrah manusia sebagai makhluk yang
beragama menyembah apa yang tidak sepatutnya mereka sembah. Jadi
15 Q.S. Ali Imran 19: Sesunguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah
Islam.
16 Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Quran dan Terjemahanya. Bandung: CV
Penerbit Diponegoro. hlm.4

pesan dalam ayat diatas bahwa manusia harus menyembah kepada Rabb
yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka supaya
mereka bertakwa17. Selain itu dalam firman Allah QS. An-Nahl ayat 89:
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat
seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu
(Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami
turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri.

18

Berdasarkan firman Allah tersebut maka dapat diartikan bahwa ruang


lingkup ajaran Islam meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang tidak
bisa disamakan dengan agama-agama yang lainnya. Al-Quran dan AlHadis juga menjadi sumber ajaran yang mengandung penjelasan mengenai
siapa

sebenarnya

manusia,

dari

mana

asalnya,bagaimana

proses

penciptaanya, dimana ia berada sekarang dan kemana ia akan pergi.


Kita ketahui manusia tersusun dari dua dimensi utama yaitu materi dan
imateri atau jasmani dan ruhani. Tubuh manusia berasal dari tanah
sedangkan ruh manusia berasal dari substansi imateri di alam ghaib. Tubuh
pada akhirnya akan kembali menjadi tanah dan ruh akan kembali ke Sang
Pencipta-Nya19. Tidak ada yang dapat menandingi penggambaran manusia
dalam

Al-Quran.

Buktinya

beberapa

ahli

filsafat

mencoba

menggambarkan wujud manusia secara parsial seperti Plato yang


17Iqramuzakiland. 2011. Fitrah Bertuhan. (online}. Tersedia di:
http://iqramuzakiland.blogspot.com/2011/04/fitrah-bertuhan.html [diakses: 4 Juni 2015].
18 Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Quran dan Terjemahanya. Bandung: CV
Penerbit Diponegoro. hlm.277
19 Imam Nasruddin, 2013. Konsep Kehidupan Dunia dalam Perspektif Teologi
Pendidikan. (online). Tersedia di:
http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/konsepkehidupandunia.pdf. [diakses: 1 Mei
2015]. hlm. 1

memandang manusia ialah makhluk yang terdiri dari tubuh dan jiwa yang
dipandang terpisah. Jiwa bersifat kekal sedangkan tubuh tidak bersifat
kekal sehingga tubuh dianggap lebih rendah kedudukannya daripada
jiwa20. Berbeda dengan Plato, Aristoteles memandang tubuh dan jiwa
sebagai dua aspek dari substansi yang saling berhubungan. Tubuh adalah
materi, sedang jiwa adalah ialah bentuk. Karena bentuk tidak pernah lepas
dari materi maka pada saat manusia mati maka jiwanya akan hancur
artinya tubuh dan jiwa sebagaisatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan .
21

Sedangkan penggambaran manusia dalam Al-Quran bersifat lebih

komprehensif

daripada gambaran ahli filsafat di atas, manusia

meruapakan makhluk basyari, makhluk insan, makhluk al-Nasi dan


makhluk bani Adam.

Maksud manusia sebagai makhluk basyari atau

makhluk biologis mengarah pada gejala umum yang nampak pada fisik
atau bentuk lahiriyah yang aktivitasnya dipengaruhi oleh dorongan kodrat
alamiah seperti makan, minum, berhubungan, berjalan, bernafas dan lainlain. Pada keadaan ini, perilaku manusia secara tidak langsung dibentuk
oleh lingkungannya.22 Konteks istilah manusia sebagai makhluk basyar
dapat dilihat dalam surat Al-Hijr: 28, al-Furqan: 54, al-Rum: 20, AlMuminun: 33, Ali Imran: 47 dan Al-Anbiya:34. Berbeda dengan manusia
sebagai makhluk basyar, konteks istilah insan dalam al-Quran menunjuk
pada potensi yang membentuk struktur kerohanian manusia dan berfungsi
sebagai modal dasar kehidupannya di dunia. Potensi itu berupa kapasitas
nafsu, akal dan rasa. Konteks istilah manusia sebagai insani dapat dilihat
dalam surat al-Syams: 7-8, Ar-Rahman:2, al-Alaq:5, al-Hajj: 46, an-Nahl:

20 Harun Hardiwijono. 1994. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Yogyakarta: Kanisius, hlm.42
21 K.Bertens. 1994. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, hlm.15
22 Udi Mufrodi Mawardi. 2008. Gambaran Komprehensif Tentang Manusia. Serang:
FUD Press. Hlm.15-16

12, Abasa: 24, at-Tin: 4, al-adiyat: 6, Fusilat: 49.

23

Sedangkan konteks an-

Nas dalam al-Quran mengacu pada manusia sebagai mahkluk sosial yang
saling bersekutu dan berinteraksi dengan berpedoman pada petunjuk Ilahi
yang merupakan rel pembatas dari suatu tindakan yang dibolehkan dan
dilarang. Konteks istilah manusia sebagai an-Nas dapat dilihat dalam
QS.Al-Rum: 30, QS. Lukman: 20, QS.Ali-Imran: 87, QS. Al-Baqarah: 21,
QS.Fatir:3, QS.Lukman: 33, QS. An-Nisa: 170.

24

Adapun konteks

manusia sebagai Bani Adam adalah sebagai makhluk theoformis yang


tersusun dari jasad dan ruh. Jasad berasal dari tanah sedangkan ruh berasal
dari Tuhan sebagai mata energi yang menyebabkan daya atau dorongan
atau kehendak pada diri manusia. Konteks istilah manusia sebagai Bani
Adam dapat dilihat dalam QS. Al-Hijr: 28. 25
Proses Penciptaan Manusia
Ternyata di dalam Al-Quran juga terdapat firman-firman Allah yang
secara jelas menerangkan tentang proses penciptaan manusia di dunia ini,
antara lain 26: Proses kejadian manusia diciptakan Allah melalui beberapa

23 Udi Mufrodi Mawardi. 2008. Ibid. hlm. 16-17


24 Udi Mufrodi Mawardi. 2008. Ibid. hlm. 17-19
25 Udi Mufrodi Mawardi. 2008. Ibid. hlm. 19-21
26 Haryanto. Quran Terjemah. (online). Tersedia di : http://quran-terjemah.org/html
[diakses: 1 Mei 2015]

tahapan. 27 Tahapan pertama manusia pada awalnya berasal dari tanah 28,29,
30

dan juga berasal dari air mani yang terpancar dari tulang sulbi atau

pinggang dan ovum yang tersimpan dalam tulang dada. 31 Dengan


kehendak ilahi bertemulah sperma dan sel telur yang dinamakan nutfah.
Setelah 40 hari air mani yang bercampur berangsur menjadi segumpal
darah di dalam rahim ibu. kemudian menjadi segumpal darah (alaqah),
diproses kemudian dijadikan menjadi segumpal daging (mudghah), tulang
belulang (idhaman), dibungkus dengan daging (lahman) hingga jadilah
makhluk yang berbentuk lain (janin),32 kemudian ditiupkan ruh dari Allah

27 QS.Nuh ayat 14 : Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa
tingkatan kejadian.

28 QS.Nuh ayat 17: Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya
29 QS. Ali Imran ayat 59: Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti
(penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:
"Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.

30 QS Al-Hijr ayat 28: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk,

31 QS Ath-Thariq ayat 5-7 : Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa ia


diciptakan. Dia diciptakan dari air mani yang terpancar yang keluar dari antara tulang
punggung dan tulang dada.
32 QS Al-Mukminun ayat 12-14: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari
suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu
Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta Yang Paling Baik.

pada hari yang ke 120 usia kandungan, 33 dan terlahir sebagai bayi34,
kemudian Allah berikan pendengaran, penglihatan dan hati kepada bayi
tersebut,35 bayi tersebut kemudian tumbuh menjadi anak-anak, dewasa,
tua36 dan ujungnya di dunia ialah mati

37

dan dibangkitkan dari kubur pada

hari kiamat.38
Jalan Hidup Manusia
Bahkan dalam Al-Quran juga secara jelas terdapat perjalanan hidup
manusia:
33 QS Al-Hijr ayat 28-29: Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud.
QS As-Sajadah ayat 7-9: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan
Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari
saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh
(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi)
kamu sedikit sekali bersyukur.

34

QS.Al-Hajj ayat 5: Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka
sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian
dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang
tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim, menurut
kehendak kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai
bayi, Kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara
kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia
sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan
kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan air hujan di atasnya,
hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan
tetumbuhan yang indah".

35 QS. An-Nahl ayat 78: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur.

36 QS.Al-Hajj ayat 5

37 QS. Al-Mukminun ayat 15: Kemudian setelah itu sungguh kamu mati

seperti yang tergambar di bawah ini39

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Manusia berada di alam ruh


Manusia berada di alam rahim
Manusia berada di alam dunia
Manusia berada di alam barzakh
Manusia berada di hari kiamat atau kebangkitan
Manusia berada di hari penghisaban atau perhitugan amal
Manusia berada di hari pembalasan.

Jika dianalisis berdasarkan firman Allah di atas, sebenarnya manusia


tersusun dari dua unsur materi dan imateri, jasmani dan ruhani. Tubuh
manusia berasal dari tanah dan ruh atau jiwa berasal dari substansi imateri
di alam ghaib. Tubuh pada akhirnya akan kembali menjadi tanah dan ruh
atau jiwa akan pulang ke alam ghaib. 40. Selain itu juga tergambar bahwa
manusia memiliki dua dimensi yaitu dimensi ketuhanan yang tercermin
dari adanya ruh dan dimensi kerendahan atau kehinaan yang tercermin dari
38 QS. Al-Mukminun ayat 16: Kemudian kamu akan dibangkitkan dari kuburmu pada
hari kiamat
39 Gambar di ambil dari : http://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://dakwah.info/utama/wp-content/uploads/2010/07/Peta-Hidup
Manusia.jpg&imgrefurl=http://dakwah.info/utama/featured/peta-hidupmanusia/&h=466&w=640&tbnid=J6c708tUOw7tLM:&zoom=1&docid=xqeN6tFUUbbK
rM&ei=enNDVb74OYmYNoLugdAO&tbm=isch&ved=0CB4QMygEMAQ [diambil 1
Mei 2015]
40 Imam Nasruddin, 2013. Op Cit. hlm. 1

tanah. Akibat fenomena dualistis tersebut manusia akhirnya bebas untuk


memilih mana yang akan dia lakukan, tetapi harus tetap bertanggungjawab
pada Sang Pencipta. Terkadang manusia bergerak ke spektrum yang
mengarah ke jalan Tuhan, di pihak lain mengarah ke jalan setan. Dengan
menggunakan akal yang dianugerahkan Tuhan, manusia seharusnya dapat
memilih apakah ia akan terbenam dalam lumpur kehinaan ataukah ia akan
mengangkat dirinya menuju ke kutub kemuliaan di jalan Allah. Oleh
karena hakikat manusia tersebut maka manusia memerlukan pedoman
untuk menentukan pilihan hidupnya yaitu agama.41

Tidak hanya itu

sebenarnya permulaan manusia berasal dari Tuhan dan akhirnya manusia


akan kembali lagi di dekat Sang Pencipta-Nya. Itulah esensi manusia
sebagai makhluk Ber-Tuhan.
2. Manusia sebagai Makhluk Individu
Manusia sebagai makhluk individu dimaksudkan sebagai orang yang
utuh (individual; in-devide : tidak terbagi) yang terdiri dari kesatuan fisik
dan pisikis. Keberadaan ini bersifat unik (unique), artinya berbeda antara
yang satu dari yang lainnya. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri
merupakan perujudan individualitas manusia. Kesadaran ini mencakup
pengertian yang sangat luas diantaranya ; kesadaran akan realitas,
selfrespect, selfnarcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbadaan dan
persamaan terhadap potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar dari self
realisasi.
Manusia yang dilahirkan telah dikaruniai potensi yang berbeda-beda
dari yang lainnya atau menjadi seperti dirinya sendiri. Tidak ada individu
yang identik dimuka bumi ini, bahkan dua anak yang kembar sekalipun
pasti mempunyai perbedaan, hanya serupa namun tidak sama apalagi
identik.
Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan)
sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya.
41 Mohammad Daud Ali, 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta. Rajawali Press. Hlm.
27.

Disadari

atau

tidak,

setiap

manusia

mengembangkan kemampuan pribadinya

senantiasa

akan

berusaha

guna memenuhi hakikat

individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya).


kepribadian seseorang yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat
dibagi-bagi (indevide). Setiap individu bersifat unik (tidak ada tara dan
bandingannya) dengan adanya individualitas itu setiap orang memiliki
kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat, dan daya tahan
yang berbeda.
M.J.Lavengeld menyatakan bahwa setiap anak memiliki dorongan
untuk mandiri yang sangat kuat, meskipun disisi lain pada anak terdapat
rasa tidak berdaya, sehingga memerlukan pihak lain, (pendidik) yang
dapat dijadikan tempat bergantung untuk memberi perlindungan dan
bimbingan, sifat-sifat sebagaimana di gambarkan diatas yang secara
potensial telah dimiliki sejak lahir perlu ditumbuhkan dikembangkan
melalui pendidika agar bisa menjadi kenyataan. Sebab tanpa dibina
melalui pendidikan, benih-benih individualitas yang sangat berharga itu
yang memungkinkan terbentuknya suatu kepribadian yang unik, serta
kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan ciri yang
sangat esensial dari adanya individualitas pada diri manusia. Dengan kata
lain kepribadian seseorang tidak akan terbentuk dengan semestinya,
sehingga seseorang tidak memiliki warna kepribadian yang khas sebagai
miliknya. Jika terjadi hal demikian seorang tidak memilki kepribadian
yang otonom dan orang seperti ini tidak akan memilki pendirian serta
mudah dibawa oleh arus masa.42

3. Manusia sebagai makhluk sosial


42 Muhammad Fathullah. 2014. Dimensi hakikat manusia. (online). Tersedia di :
http://dganezha.blogspot.com/2014/06/makalah-dimensi-hakikat-manusia.html [diakses:
4 Juni 2015]

Pada dasarnya setiap individu diharapkan dapat bersosialisasi dengan


lingkungannya dengan dasar-dasar yang baik agar dalam perkembangan
selanjutnya tidak meninggalkan bibit-bibit perpecahan antara satu dengan
yang lainnya demi terciptanya masyarakat yang lebih kondusif. Seseorang
akan menemukan jati dirinya manakala berada diantara orang banyak
artinya manusia tidak mengenali dirinya dan dapat mewujudkan
potensinya sebelum dia berinteraksi dengan manusia lainnya. Manusia
adalah makhluk sosial sekaligus juga makhluk individu. Dimaksudkan
disini manusia berbeda dengan lainnya, namun manusia sangat
membutuhkan manusia lain karena manusia tidak akan bisa hidup sendiri
tanpa orang lain. Manusia hidup dalam suasana interdependensi (saling
ketergantungan) dalam antar hubungan dan antaraksi. Sebagai contoh
posisi keluarga atau orang tua dalam menentukan disiplin anak.
Bahwasanya anak itu juga manusia yang tidak bisa hidup sendiri dan
membutuhkan orang disekitarnya untuk mendidik sang anak. 43 Itulah
esensi manusia sebagai makhluk sosial yang sangat menentukan hakekat
bermasyarakat.
4.

Manusia sebagai makhluk susila


Susila berasal dari bahasa Sanskerta. Susila berasal dari dua kata yaitu
su yang artinya baik, dan sila yang artinya perbuatan. Jadi susila
adalah segala perbuatan yang baik. Jadi hakekat manusia sebagai makhluk
susila adalah dalam bertingkah laku manusia harus berpedoman pada etika
berprilaku yang baik dan sopan terhadap sesama.44
Kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket. Etika adalah persoalan
kebaikan sedangkan etiket adalah persoalan kepantasan dan kesopanan.
Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil
keputusan susila serta melaksanakannya, sehingga dikatakan manusia itu
makhluk susila. Satu-satunya makhluk hidup yang dipandang paling tinggi

43 Muhammad Fathullah. 2014.Ibid


44 Muhammad Fathullah. 2014.Ibid

derajatnya ialah manusia. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat


dengan nilai-nilai kehidupan dan moral. Nilai kehidupan sendiri adalah
norma yang berlaku dalam masyarakat dan moral ialah ajaran tentang baik
buruk perbuatan dan kelakuan. Dalam moral diajarkan segala perbuatan
yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu perbuatan yang dinilai
buruk yang ditinggalkan. Tahapan perkembangan nilai-nilai yang
terkandung dalam dimensi ini memiliki berbagai macam tingkatan, antara
lain:
a.
Tingkatan pertama, Anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman,
b.

nilai dianggap baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya.
Tingkatan kedua, Pada tahapan ini, seseorang tidak lagi tergantung
pada aturan yang secara mutlak mengaturnya, namun seseorang
menjadikan aturan sebagai suatu yang dianggap sebagai aturan yang

membuatnya tidak bebas dan selalu mengikuti kehendak pribadi.


c.
Tingkatan ketiga, Pada tingkatan ini seorang anak memasuki umur
belasan tahun, dimana mereka mempelihatkan orientasi perbuatan
yang dinilai baik.
d.
Tingkatan keempat, Pada tahapan ini, perbuatan baik yang
diperlihatkan seseorang bukan hanya dapat diterima, melainkan
bertujuan agar ikut mempertahankan aturan dan norma-norma.
e.
Tingkatan kelima, Tingkatan ini merupakan tahapan orientasi
terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Pada
stadium ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan
lingkungan sosial, dengan masyarakat.45
Manusia dianggap memiliki jiwa yang rasional. Dengan jiwa
rasionalnya manusia mampu berpikir secara sadar untuk membuat segala
norma sosial serta menyusun kebijakan-kebijakan moral.

46

Selain itu

dengan akal dan jiwa rasionalnya manusia harus mampu menentukan


pilihannya, menentukan mana yang baik dan tidak. Dalam menentukan
45 Muhammad Fathullah. 2014.Ibid.
46 Zainal Abidin. 2003. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm.37

pilihan harus melihat secara realistis dan analisis yang benar. Itulah esensi
manusia makhluk susila yang berkaitan dengan hakekat hidup yang
realistic dan analitik.
Setelah memahami bahwa sebenarnya manusia ialah makhluk berTuhan,
makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk susila, secara tidak langsung
didapatkan gambaran untuk apa sebenarnya tujuan hidup manusia,
mengetahui gambaran tentang hakikat hidup, hakikat masyarakat serta hakekat
yang realistic dan analistis.
B. Hakekat Hidup (Apa sesungguhnya tujuan atau misi hidup manusia di
dunia?)
Allah Tuhan Pecipta Manusia tidak akan membiarkan begitu saja hasil
ciptaannya terombang-ambing diatas bumi tanpa petunjuk. Untuk itu Dia
memberikan panduan agar manusia dapat mejalani hidup sesuai tujuan
penciptaannya.Allah, Tuhan yang Maha berkuasa, Dia memiliki tujuan dalam
penciptaan Manusia, tujuan itu terangkum dalam firmannya. Dalam sebuah
firman Allah QS. Al-Muminun 115-116 diterangkan :
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada
Kami? Maka Maha TInggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan
yang berhak disembah selain Dia, Tuhan Yang mempunyai Arsy Yang mulia
Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang hak yaitu menjalankan
sebuah misi di bumi ini. Melalui firman Allah dalam Al-Quran ditegaskan misi
yang harus dilakukan oleh manusia yaitu melakukan ibadah47, menjadi
khalifah di bumi48 dan menjalankan ujian yang diberikan Sang Penciptanya. 49
Untuk dapat menjalankan misi hidup manusia, Allah memberikan sarana
47 QS. Adz Dzariyat ayat 56 : Dan Tidaklah Aku menciptakan Manusia & Jin kecuali agar
mereka menyembahKu.

prasarana terbaik bagi manusia meliputi tubuh, kelengkapan indera, akal


pikiran, hati, status bahkan petunjuk hidup yaitu Al-kitab (Al-Quran).
Manusia dijadikan dalam bentuk yang paling baik sebagai ciptaan Tuhan yang
paling sempurna.50,51 Dengan bentuk yang sempurnya baik itu sempurna
struktur tubuhnya, gejala yang ditimbulkan jiwanya, mekanisme yang terjadi
dalam organnya seharusnya manusia senantiasa bersyukur dan menunjukkan
eksistensinya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
Tidak hanya itu, bahkan segala yang ada di muka bumi telah didesain oleh
Sang Pencipta dengan sebaik mungkin untuk satu tujuan yaitu memfasilitasi
manusia supaya mampu untuk menjalankan misinya dengan baik di muka
bumi.52
1. Tujuan manusia untuk beribadah
Sudah dapat dipastikan dalam kehidupan manusia diwajibkan untuk
beribadah, tetapi ternyata objek ibadahnya bermacam-macam. Secara garis
besar dalam melakukan ibadah manusia terbagi menjadi dua yaitu ibadah
kepada Allah dan ibadah kepada sesama manusia. Tujuan ini sangat

48 QS. Al-Baqarah ayat 30: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. "Mereka berkata, Apakah Engkau hendak
menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih
memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? "Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui."

49 QS. Al-Insan ayat 2 : "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani
yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami
jadikan dia mendengar dan melihat."

50 QS At-Tin ayat 4 : sesungguhnya kami telah menjadikan manusia dalam bentuk


yang sebaik-baiknya.
51 QS. Al-Isra: 70: "Dan sesungguhnya, telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna, atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."

52 Anshori Ismail, Jalan Islam Transformasi Akidah Dalam kehidupan, 2008, Jakarta
;an-nur books publishing, hlm.19.

berhubungan dengan hakikat manusia sebagai makhluk ber-Tuhan,


makhluk individu dan makhluk sosial
2. Tujuan manusia sebagai khalifah
Sebagaimana telah diketahui bahwa tujuan awal penciptaan manusia
adalah untuk mengemban tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Khalifah diartikan menggantinkan-Ku dalam melaksanakan hukum-Ku di
atas bumi, sedangkan dalam tafsir wal Bayan diartikan khalifah adalah
wakil Allah SWT dalam melaksanakan hukum-hukum dan kehendakkehendak-Nya dalam hal memakmurkan dan mengelola bumi ini.53 Tugas
utama Khalifah antara lain:
Menegaskan hukum-hukum di muka bumi (QS. Shad: 26)
Seorang khalifah dalam melaksanakan syariah wajib menghukumi

manusia dengan al-haq yaitu Al-Quran dan Sunah Rasul


Mengelola dan memakmurkan bumi (QS Hud: 61)
Manusia sebagai khalifah wajib memakmurkan bumi ini, karena bumi
adalah tempat baginya, di bumi itulah manusia mengibadati Allah
selama hidupnya. Segala yang dilakukan manusia di muka bumi akan
dimintai pertanggungjawabnnya oleh Allah. Apakah manusia telah
berjalan sesuai syariahnya atau tidak (QS Yunus:14). Untuk menopang
keberhasilan tugas tersebut Allah telah memberikan sarana yaitu
basthah fil khalqi (keunggulan dalam penciptaan) (QS: Al-Araf: 69) &
QS Al Baqarah: 248
Dengan keunggulan ilmu dan kekuatan fisik maka seseorang khalifah
wajib memiliki nilai positif atas dirinya.

3. Tujuan untuk menjalani ujian


Salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjalani ujian
sehingga Allah dapat mengetahui siapa yang terbaik amalannya. Sehingga
sangat jelas bahwa manusia tergantung dari amalannya. (QS At-Taubah :
105) . Adapaun sesuai dengan subyek dan obyeknya amal manusia terbagi
menjadi

dua

yaitu

amal

yang

berhubungan

dengan

Allah

(Hablumminallah) dan amal yang berhubungan dengan manusia dan


53 Anshori Ismail. 2008.Ibid. hlm.26-27.

sekitarnya (hablum minannas). Amal yang langsung berhubungan dengan


Allah dapat disebut dengan amal ibadah dan amal yang berhubungan
dengan manusia disebut amal shaleh.54
a. Amal ibadah yaitu amal hamba yang berkaitan khusus dengan alkhaliq. Seperti sholat, puasa, zakat, berdoa, haji dan lain-lain.subjek
dari amal ini adalah roh manusia sedangkan objeknya Allah semata.
Amaliyah ini sifatnya fardhuain. Kewajiban ini berhubungan dengan
tugas manusia menjalankan misi ibadah dan aplikasi manusia
diciptakan dari bahan dasar ruh.
b. Amal shaleh yaitu amal hamba yang berkaitan dengan makhluk
lainnya. Seperti berhubungan antar suami, istri, orang tua, anak,
tetangga dll. Kewajiban amal ini berhubungan dengan tugas manusia
sebagai khalifah dan aplikasi manusia diciptakan dari bahan tanah.
Secara umum manusia terkadang salah memahami bahwa derajat
ketakwaan manusia hanya bisa dicapai dengan ama-amal ibadah
(hablum minallah) semata tanpa amal shaleh (hablumminnas). Dengan
pemahaman seperti itu maka terkadang ada manusia yang memisahkan
antara urusan agama dan dunia. (QS. Al-Baqarah: 21) (QS. Al-Baqarah
183), (QS Al-Baqarah 179), (QS Ali Imran : 130), (QS Al-Anam :
153), (QS Al-Hujurat: 10). Jadi antara amal Ibadah dan amal shaleh
tidak dapat dipisahkan sama sekali. Keduanya seharusnya menjadi
sarana untuk menyongsong turunnya karunia Allah dan manusia
menjadi makhluk di muka bumi yang memiliki derajat tinggi.

C. Ke mana arah Bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila?


54

Anshori Ismail.2008. Ibid. hlm.34-35.

Tanpa adanya jati diri bangsa, suatu bangsa akan mudah terombangambing dan kehilangan arah dalam era globalisasi yang bergerak cepat
dewasa ini
Sebagai makhluk individu, manusia harus berusaha kuat menjadi manusia
yang independen dan mandiri. Akan tetapi manusia tidak boleh lupa pada
hakikatnya bahwa ia juga merupakan makhluk sosial yang selalu ingin hidup
bermasyarakat dan membentuk kelompok didasarkan atas kesamaan tujuan
ataupun visi misi.55 Begitu juga dengan orang-orang di negara Indonesia yang
bersatu dan membentuk kelompok yang dikenal dengan Bangsa Indonesia.
Setiap bangsa pasti memiliki jati diri yang menjadi ciri khas bangsa tersebut.
Jati diri Bangsa Indonesia yang beretika, bermoral, bernorma kesusilaan
dan menjunjung tinggi Pancasila
Jati diri bangsa berbeda dengan jati diri manusia. Bila jati diri manusia
merupakan sesuatu yang diberi dari Tuhan sejak kelahirannya dan menjadi
fitrah semasa hidupnya, sedangkan jati diri bangsa adalah suatu pilihan karena
harus melalui tampilan dari adanya suatu bangsa. Sementara, suatu bangsa
lahir dari pilihan sekumpulan individu yang mengelompok dan bersepaham
untuk mendirikan suatu bangsa. Jati diri bangsa adalah suatu pilihan sebagai
cerminan dari tampilan karakter bangsa. Jati diri bangsa tampil dalam tiga
fungsi yaitu sebagai penanda keberadaanya atau eksistensinya, sebagai
pencerminan kondisi bangsa yang menampilkan jiwa, daya juang dan
kekuatan bangsa, dan juga sebagai pembeda dengan bangsa lain di dunia. Itu
berarti bahwa jati diri bangsa Indonesia ialah pencerminan karakter bangsa
Indonesia yang terangkum dalam Pancasila.56
Selain memiliki jati diri, sebuah bangsa juga harus memiliki pandangan
hidup. Pandangan hidup suatu bangsa bersumber dari kristalisasi nilai-nilai
55 Suparman Usman. 2010. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Serang: Suhud
Sentrautama.hlm. 60
56 Soemarno Soedarso. 2009. Karakter mengantar Bangsa Dari Gelap Menuju Terang.
Jakarta: PT Gramedia Elex Media Komputindo. Hlm. 50-53

yang dimiliki bangsa tersebut. Nilai itu diyakini kebenarannya, ditaati dan
selalu dipertahankan serta selalu diwujudkan dalam tata kehidupannya. Nilai
tersebut dijadikan landasan dan pedoman untuk menentukan tujuan dan upaya
pencapaian tujuan tersebut. Demikian halnya dengan Pancasila yang digali
dan bersumber dari bumi Indonesia. Pancasila merupakan kristalisasi dari
nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu
Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi
bangsa Indonesia dijadikan sebagai dasar negara dan pandangan hidup Bangsa
Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merupakan sumber
kaidah hukum konstitusional tertinggi yang mengatur dan menjadi pedoman
bagi Bangsa Indonesia, dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
merupakan kristalisasi dan institusionalisasi dari nilai yang dimiliki dan
diyakini kebenarannya serta menimbulkan tekad untuk mewujudkannya. 57
Prinsip-prinsip yang terdapat dalam Pancasila bersumber kepada budaya
dan pengalaman bangsa Indonesia yang berkembang akibat dari upaya bangsa
dalam mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang esensial yang
menyangkut makna atas hakikat sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan
bangsa Indonesia, yang meliputi alam semesta, manusia dan kehidupannya
serta norma-norma yang mengatur kehidupan. Nilai-nilai dasar dalam
Pancasila berisi nilai Ketuhaan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai
kerakyatan,

dan

nilai

keadilan

sosial.

Bagi bangsa Indonesia, nilai-nilai Pancasila ini merupakan kesatuan yang


bulat dan utuh, yang tersusun secara sistematis-hierarkis, artinya bahwa antara
nilai dasar yang satu dengan nilai dasar lainnya saling berhubungan, tidak
boleh dipisah-pisahkan, dipecah-pecahkan maupun ditukar. Pancasila yang
sarat dengan nilai-nilai ini tidak sekedar untuk diketahui, melainkan
dimaksudkan untuk dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
kehidupan pribadi, maupun dalam rangka kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
57 Suparman Usman. 2010. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Serang: Suhud
Sentrautama.hlm. 60-63

1. Sila Ketuhanan yang Mahaesa


Ketuhanan berasal dari kata Tuhan yang berarti Pencipta segala sesuatu
yang ada dan semua makhluk. Yang Mahaesa berarti Mahatunggal, tiada
sekutu bagi-Nya, Esa dalam zat-Nya, dalam sifat-Nya, maupun dalam
perbuatan-Nya. Keberadaan Tuhan tidaklah disebabkan oleh keberadaan
daripada makhluk dan siapapun, sedangkan sebaliknya keberadaan daripada
makhluk dan siapapun justru disebabkan olah adanya kehendak Tuhan.
Karena itu Tuhan adalah Prima Causa, yaitu sebagai sebab pertama dan
utama atas sebab timbulnya yang lain. Dengan demikian Ketuhanan Yang
Mahaesa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan yang
Mahatunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dengan
keyakinan demikian, negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur,
yaitu berdasarkan Ketuhanan yang Mahaesa, yang sebagai konsekuensinya,
maka negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk
memeluk dan untuk beribadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
Sila I ini menjadi sumber utama nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia,
yang menjiwai dan mendasari serta membimbing perwujudan sila lainnya.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang Mahaesa memiliki potensi
pikir, rasa, karsa, dan cipta sehingga menempati kedudukan dan martabat
yang tinggi. Dengan akal budinya manusia menjadi berbudaya dan
dengan nuraninya manusia menyadari akan nilai-nilai dan norma-norma.
Kata adil mengandung makna bahwa suatu keputusan dan tindakan
didasarkan atas atas ukuran/norma-norma yang obyektif, sehingga tidak
sewenang-sewenang. Kata beradab berasal dari kata adab, artinya
budaya. Jadi adab mengandung arti berbudaya, yaitu sikap hidup,
keputusan dan tindakan yang selalu dilandasi oleh nilai-nilai budaya,
terutama nilai sosial dan kesusilaan/moral. Kata adab mengandung
pengertian ketatasopanan, kesusilaan dan moral. Beradab dapat

ditafsirkan sebagai berdasarkan atas nilai-nilai kesusilaan atau moralitas


khususnya, dan kebudayaan pada umumnya. Kemanusiaan yang adil dan
beradab mengandung pengertian adanya kesadaran sikap dan perbuatan
manusia yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam
hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya, baik
pada diri pribadi atau sesama manusia.
3.

Sila Persatuan Indonesia


Persatuan berasal dari kata satu, yang berarti utuh, tidak terpecah-pecah,
persatuan mengandung pengertian bersatunya macam-macam corak yang
beraneka ragam menjadi satu kebulatan. Persatuan Indonesia adalah
persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Bangsa yang
mendiami wilayah Indonesia itu bersatu karena didorong untuk
mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah negara yang
merdeka dan berdaulat. Persatuan Indonesia merupakan faktor yang
dinamis dalam kehidupan bangsa Indonesia, dengan tujuan memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut
mewujudkan perdamaian dunia yang abadi. Persatuan indonesia
merupakan perwujudan dari paham kebangsaan yang dijiwai oleh Sila I
dan Sila II sehingga paham kebangsaan Indonesia bukan paham
kebangsaan yang sempit, tetapi paham kebangsaan yang menghargai
bangsa

lain

sesuai

dengan

sifat

kehidupan

kebangsaan

yang

bersangkutan.
4. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan dan perwakilan.
Kerakyatan dalam hubungannya dengan sila ini menunjukkan
makna bahwa kekuasaan yang tertinggi berada di tangan rakyat. Karena
itu kerakyatan disebut pula dengan kedaulatan rakyat, artinya rakyat
yang berdaulat atau berkuasa dan menentukan atau diistilahkan dengan
demokrasi, yang berarti rakyat yang memerintah atau pemerintahan
dengan mengikutsertakan rakyat. Hikmat kebijaksanaan mengandung
arti adanya penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu

mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan rakyat


dilaksanakan dengan sadar, jujur, dan bertanggung jawab didorong
dengan iktikad baik sesuai dengan hati nurani.Permusyawaratan adalah
ciri khas kepribadian bangsa Indonesia. Perwakilan adalah sistem
dengan mengusahakan rakyat untuk mengambil bagian dalam kehidupan
bernegara melalui badan-badan perwakilan yang ada. Dengan demikian
yang dimaksud kerakyatan dipimpin oleh hukmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan

ini

ialah

bahwa

rakyat

di

dalam

menjalankan kekuasaan harus dengan mengatasnamakan rakyat yang


ditempuh dengan sistem perwakilan, dan keputusan diambil dengan jalan
musyawarah yang dipimpin oleh pikiran yang sehat serta rasa tanggung
jawab kepada Tuhan dan rakyat
5. Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Makna keadilan sosial ini mencakup pengertian adil dan makmur.
Keadilan itupun meliputi keadilan pemenuhan tuntutan-tuntutan hakiki
bagi kehidupan jasmani dan rohani atau material dan spiritual manusia,
yaitu bagi seluruh rakyat Indonesia secara merata, berdasarkan atas asas
kekeluargaan. Kehidupan adil dan makmur yang ingin diwujudkan ialah
suatu kehidupan bangsa yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam
keadilan.
Sila keadilan sosial ini merupakan tujuan dari empat sila sebelumnya
sebagai tujuan bangsa Indonesia dalam bernegara, yang perwujudannya
ialah tata cara masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. 58

Dengan menggunakan dasar falsafah Pancasila, Bangsa Indonesia dapat merubah


masyarakat dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern yaitu
masyarakat yang telah mengalami transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi
58 Ohit Sujiza. 2009. Pancasila Sebagai Falsafah Hidup Bangsa Indonesia. (online).
Tersedia di : http://fudhla.blogspot.com/ [diakses: 4 juni 2015]

yang mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi zamannya atau hidup
sesuai dengan konstelasi zamannya. Menurut Soerjono Soekanto 59, Secara garis
besar ciri-ciri masyarakat modern antara lain bersikap terbuka terhadap
pengalaman-pengalaman baru dan penemuan-penemuan baru, siap menerima
perubahan setelah menilai kekurangan yang dihadapinya, peka terhadap masalahmasalah yang terjadi di lingkungannya, berorientasi ke masa kini dan masa yang
akan datang, menggunakan perencanaan dalam segala tindakannya serta
memberikan argumentasi di setiap keputusannya, yakin akan manfaat iptek,
menghormati hak, kewajiban dan kehormatan pihak lain (HAM) dan tidak mudah
menyerah atau pasrah terhadap nasib (selalu berusaha untuk memecahkan
masalah).

BAB III
PENUTUP
59 Dalam Akhmad Solihin. 2015. Pengertian cirri masyarakat modern. (online). Tersedia
di: http://visiuniversal.blogspot.com/2015/01/pengertian-ciri-ciri-masyarakatmodern.html [diakses: 4 Juni 2015]

Kesimpulan
Untuk mengetahui hakikat keberadaan seorang manusia di dunia, manusia
terlebih dahulu harus menyadari bahwa dirinya ialah makhluk bidimensional atau
dua-dimensional (makhluk yang memiliki dua dimensi berupa dimensi spiritual
atau ketuhanan dan dimensi material) dan manusia terlebih dahulu harus
memperhatikan hubungan horizontal - vertikal atau
habluminannas.
habluminallah dan

Setelah

manusia

dapat

habluminallah -

menyeimbangkan

hubungan

habluminannas, manusia akan menemukan jati diri atau

hakikat dirinya sebagai makhluk berTuhan, makhluk individu, makhluk sosial dan
makhluk susila.
Sebagai makhluk berTuhan manusia harus sadar bahwa manusia datang
dan kembali kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Hanya kepada Tuhan manusia
mengikuti perintahnya berdasarkan Al-Quran dan al-hadist, beribadah, mengabdi,
berbakti, berserah diri dan memohon pertolongan.
Sebagai makhluk individu, manusia dilahirkan dengan potensi yang Tuhan
berikan secara unik kepada masing-masing individu. Pada dasarnya setiap potensi
manusia ialah baik, tinggal bagaimana manusia dapat mengelolanya. Untuk
membantu manusia mengelola potensinya untuk digunakan dijalan yang lurus,
Allah memberikan pedoman atau panduan hidup melalui agama. Inilah tugas
manusia sebagai makhluk individu memilih yang terbaik untuk dirinya, mau
mengikuti ajaran agama atau tidak.Untuk membuat pilihan hidup manusia harus
memikirkan secara realistis, rasional dan analitis.
Sebagai makhluk sosial, manusia harus hidup dalam kebersamaan bersama
manusia yang lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri,karena manusia yang satu
dengan yang lainnya saling membutuhkan. Sedangkan sebagai makhluk susila,
hakikatnya dalam bertingkah laku manusia harus berpedoman pada etika
berprilaku yang baik dan sopan terhadap sesama.
Karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang selalu
ingin hidup bermasyarakat dan membentuk kelompok didasarkan atas kesamaan
tujuan ataupun visi misi metika, maka manusia Indonesia yang terkenal beretika,
bermoral dan bernorma akhirnya bersatu dan membentuk kelompok yang dikenal

dengan Bangsa Indonesia dengan jati dirinya Pancasila. Pancasila merupakan


kristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia.
Pancasila dijadikan sebagai dasar negara dan pandangan hidup Bangsa Indonesia.
Dengan menggunakan dasar falsafah Pancasila, Bangsa Indonesia mencoba
merubah masyarakat dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.
Setelah menyadari hakikat manusia, selanjutnya manusia tersadar bahwa
Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang hak yaitu menjalankan sebuah
misi di bumi ini. Melalui firman Allah dalam Al-Quran ditegaskan misi yang
harus dilakukan oleh manusia yaitu melakukan ibadah, menjadi khalifah di bumi
dan menjalankan ujian yang diberikan Sang Penciptanya.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Riyanto, 2013. Bangkit, Maju dan Raih Mimpi Menjadi Manusia Sukses
Sejati Dunia-Akhirat. Jakarta.PT Elex Media Komputindo Kompas
Gramedia.
Amujadid. 2014. Manusia dan Pandangan Hidup. (online) . Tersedia di:
http://amujaddid.blogspot.com/2014_06_01_archive.html. [diakses: 1 Juni
2015].
Anggraeni S. 2013. Fitrah Manusia berTuhan. (online). Tersedia di:
http://shamagachi415.blogspot.com/2013/10/fitrah-manusia-ber-tuhan.html
[diakses: 4 Juni 2015]
Anshori Ismail, Jalan Islam Transformasi Akidah Dalam kehidupan, 2008, Jakarta
;an-nur books publishing,.
Ary Ginanjar Agustian. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual ESQ. Jakarta: Penerbit Arga.
Dalam Akhmad Solihin. 2015. Pengertian cirri masyarakat modern. (online).
Tersedia di: http://visiuniversal.blogspot.com/2015/01/pengertian-ciri-cirimasyarakat-modern.html [diakses: 4 Juni 2015]
Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Quran dan Terjemahanya. Bandung:
CV Penerbit Diponegoro.
Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Quran dan Terjemahanya. Bandung:
CV Penerbit Diponegoro.
Departemen Agama RI. 2009. Al-Hikmah Al-Quran dan Terjemahanya. Bandung:
CV Penerbit Diponegoro.
Fauzi Chaniago. 2012. Siapa Manusia Itu. (online). Tersedia di
http://mukjizatrasulullah.blogspot.com/2012/02/siapa-manusia-itu.html
[diakses: 3 Juni 2015].

Harun Hardiwijono. 1994. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Yogyakarta: Kanisius


Haryanto. Quran Terjemah. (online). Tersedia di : http://quran-terjemah.org/html
[diakses: 1 Mei 2015]
Imam Nasruddin, 2013. Konsep Kehidupan Dunia dalam Perspektif Teologi
Pendidikan.
(online).
Tersedia
di:
http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/konsepkehidupandunia.pdf.
[diakses: 1 Mei 2015].

Iqramuzakiland.
2011.
Fitrah
Bertuhan.
(online}.
Tersedia
di:
http://iqramuzakiland.blogspot.com/2011/04/fitrah-bertuhan.html [diakses: 4
Juni 2015].
K.Bertens. 1994. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Mohammad Daud Ali, 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta. Rajawali Press.
Muhamad Fathullah. 2014. Dimensi Hakikat Manusia. (online). Tersedia di :
http://dganezha.blogspot.com/2014/06/makalah-dimensi-hakikatmanusia.html [diakses: 4 Juni 2015]
Muhammad Fathullah. 2014. Dimensi hakikat manusia. (online). Tersedia di :
http://dganezha.blogspot.com/2014/06/makalah-dimensi-hakikatmanusia.html [diakses: 4 Juni 2015]
NN.

Manusia
Dalam
Perspektif
Islam.
(online).
Tersedia
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/agama_islam/bab2manusia_dalam_perspektif_islam.pdf [diakses: 4 Juni 2015].

di

Ohit Sujiza. 2009. Pancasila Sebagai Falsafah Hidup Bangsa Indonesia. (online).
Tersedia di : http://fudhla.blogspot.com/ [diakses: 4 juni 2015]
Soemarno Soedarso. 2009. Karakter mengantar Bangsa Dari Gelap Menuju
Terang. Jakarta: PT Gramedia Elex Media Komputindo.
Suparman Usman. 2010. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Serang: Suhud
Sentrautama
Udi Mufrodi Mawardi. 2008. Gambaran Komprehensif Tentang Manusia. Serang:
FUD Press.