Anda di halaman 1dari 6

ISSN 0216 - 3128

22

Irianto, dkk.

EFEK TEMPERATUR LINGKUNGAN TERHADAP KARAKTERISTIK


DETEKTOR GEIGER MULLER (GM)
Irianto, Emy Mulyani dan Sayono
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Email: irianto57@yahoo.co.id, emmy_learn@yahoo.com.

ABSTRAK
EFEK TEMPERATUR TERHADAP KARAKTERISTIK DETEKTOR GEIGER MULLER (GM). Telah
dilakukan penelitian efek temperatur terhadap karakteristik detektor Geiger Muller (GM). Penelitian dilakukan
untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap karakteristik detektor GM, yang meliputi tegangan plateau,
slope serta tegangan ambang. Detektor yang baik memiliki karakteristik plateau yang panjang, slope yang datar
serta tegangan operasi yang rendah. Pengujian efek temperatur dilakukan terhadap detektor GM yang telah
dibuat sebelumnya dengan menggunakan gas isian 90% Argon dan 10% Alkohol. Proses pengujian dilakukan
dengan melakukan pencacahan terhadap sumber Cs137, detektor diletakkan pada inkubator yang temperaturnya
dikondisikan pada temperatur 30oC-70oC. Data yang telah didapat, kemudian di analisa plateau, slope serta
tegangan ambangnya. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa kenaikan temperatur inkubator menyebabkan
pergeseran tegangan ambang dan perubahan pada plateau serta slope GM. Dalam penelitian ini disimpulkan
bahwa detektor GM yang dibuat memiliki karakteristik paling baik pada saat beroperasi pada temperatur 30oC60 oC, yaitu memiliki plateau 142,5 volt dan slope 15,25%/100 volt.
Kata Kunci : detektor GM, temperatur, slope, plateau.

ABSTRACT
EFFECT OF ENVIRONMENT TEMPERATURE ON THE GEIGER MULLER DETECTOR
CHARACTERISTIC. Research on the effect of environment temperature on the Geiger Muller detector
characteristics has been done. Research have been done to know the effect of environment temperature on GM
characteristic, include the plateau, slope and voltage threshold. GM detector will have a good performance if
they have long plateau, flat slope and can operate in low voltage. Testing of temperature effect have been done to
the GM detector with Argon 90% and Alcohol 10% gas filling. The testing is started with counting a 137Cs
radiation source, GM detector is put in the incubator that has a temperature range 30oC-70oC. After found out
data information, we have analyzed the plateau, slope and voltage treshold. From the calculation, we conclude
that the environment temperature, influence the characteristics of GM detector, in this case make displacement on
threshold voltage and also plateau and slope. And finaly we can conclude that GM detector will be on the best
performance if it operated at 30oC-60oC temperature, that is have 142,5 volt of plateau and 15,25%/100 volt of
slope.
Keywords : detector GM, temperature, slope, plateau.

PENDAHULUAN

lmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini


mengalami perkembangan yang sangat pesat,
demikian halnya bidang teknologi nuklir telah
banyak digunakan diberbagai bidang misalnya
instrumentasi nuklir untuk industri. Dalam
pemanfaatan teknologi nuklir selain memberikan
manfaat yang besar juga ada dampak negatifnya akibat
bahaya atau paparan radiasi yang ditimbulkan.[1]
Karena sifat-sifat radiasi tidak tampak oleh
penglihatan, maka untuk mengetahui/mendeteksi
keberadaan radiasi baik jenis maupun aktivitasnya
dengan menggunakan alat ukur radiasi.
Secara garis besar, penggunaan alat ukur
radiasi dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu
untuk kegiatan proteksi radiasi dan untuk kegiatan
aplikasi/penelitian radiasi nuklir. Alat ukur radiasi
yang digunakan untuk kegiatan proteksi radiasi harus

dapat menunjukkan nilai intensitas atau dosis radiasi


yang mengenai alat tersebut sehingga seorang pekerja
radiasi dapat langsung mengambil tindakan tertentu
setelah membaca alat ukur yang digunakannya.
Sedangkan alat ukur yang digunakan di bidang
aplikasi radiasi/penelitian biasanya ditekankan untuk
dapat menampilkan nilai kuantitas radiasi atau
spektrum energi radiasi yang digunakan.
Setiap alat ukur radiasi, baik yang digunakan
untuk mengukur kuantitas energi, intensitas maupun
dosis radiasi selalu terdiri dari dua bagian utama yaitu
detektor dan peralatan penunjang. Detektor
merupakan suatu bahan yang peka terhadap radiasi,
yang bila terkena radiasi akan menghasilkan
tanggapan (response) tertentu yang lebih mudah
diamati, sedangkan peralatan penunjang, biasanya
merupakan peralatan elektronik, berfungsi untuk
mengubah tanggapan detektor tersebut menjadi
informasi yang dapat diamati oleh panca indera

Buku I Prosiding PPI - PDIPTN


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 14 Juli 2009

Irianto, dkk.

ISSN 0216 - 3128

manusia atau dapat diolah lebih lanjut menjadi


informasi yang berarti.
Ada beberapa jenis detektor sebagai alat ukur
radiasi, yaitu detektor isian gas, detektor
semikonduktor, detektor sintilasi, dan detektor film.
Detektor gas isian merupakan detektor yang paling
banyak digunakan untuk mengukur radiasi. Secara
umum, detektor gas isian khususnya detektor Gieger
Muller (GM) mempunyai keunggulan pada
konstruksinya yang sederhana. Disamping itu yang
bersifat portable jika digunakan sebagai alat ukur
radiasi banyak digunakan di bidang litbang industri
nuklir,
perusahaan/industri,
lembaga
penelitian/litbang, kesehatan, dan pendidikan. Namun
demikian harga detektor GM masih relatif mahal dan
ketersediaan di pasar dalam negeri masih relatif
sedikit.
Di PTAPB penelitian pembuatan detektor
GM telah dilakukan beberapa dekade yang lalu,
namun unjuk kerjanya masih perlu ditingkatkan,
Berdasarkan masalah tersebut maka diusulkan
kegiatan
penelitian
bertahap
dengan
judul
Peningkatan spesifikasi kinerja detektor GM. Dalam
peningkatan spesifikasi kinerja detektor GM dilakukan
penelitian-penelitian
parameter-parameter
yang
berpengaruh terhadap karakteristik detektor GM
meliputi geometri, jenis bahan katoda dan anoda, jenis
gas isian, tekanan perbadingan gas isian, tegangan
plato, slope per 100 volt, temperatur operasi.
Keberhasilan penelitian ini mendorong terbukanya
peluang pemanfaatan produk inovatif hasil Litbang
khususnya dalam pengukuran sampel radioaktif untuk
program keselamatan lingkungan. Dengan konstruksi
detektor GM sebagai sarana penunjang demo plant
akan terjalinnya kemitraan stragtegis dengan Institusi
Pendidikan sebagai sumber untuk pengembangan
teknologi selanjutnya dan industri nasional sebagai
manufacturer detektor GM.
Berdasarkan uraian diatas dalam makalah ini
dilakukan penelitian efek temperatur terhadap
karakteristik detektor GM, yang meliputi tegangan
ambang, panjang plateau dan slope. Dari hasil
penelitian ini diperoleh spesifikasi mekanik untuk
temperatur operasi detektor GM.

DASAR TEORI
Medan listrik dalam tabung detektor
Jika terdapat dua bahan yang berbeda yang
dialiri arus listrik, maka diantara kedua bahan tersebut
akan timbul medan listrik. Pada tabung detektor
bentuk silinder yang berporos konsentris. Jari-jari
tabung bagian luarnya (katoda) adalah b dan jari-jari
kawat yang terbentang di bagian dalam (anoda) adalah
a dengan r adalah jari-jari tabung antara a dan b, atau a
< r < b. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
1.

23

Gambar 1. Jari-jari tabung (r) antara a dan b.


Apabila V adalah beda potensial dari tabung
tersebut pada jarak r, maka didapat persamaan sebagai
berikut :
b
V (r ) = E dr
a

(1)

Untuk detektor yang berbentuk silinder


dengan pusat muatan adalah poros silinder dan berjarijari r, maka jumlah garis gaya yang menembus seluruh
selimut silinder akan berbanding dengan kuat medan
listriknya. Menurut hukum Gauss dinyatakan dalam
persamaan berikut :
N
An

= 0 E

(2)

dengan N adalah jumlah garis gaya yang menembus


tegak lurus seluruh selimut silinder, An adalah luas
bidang yang ditembus garis-garis tebus gaya, 0 adalah
permitivitas udara/ ruang hampa dan E adalah kuat
medan listrik
Detektor Geiger-Muller
Detektor Geiger-Mller merupakan jenis
detektor isian gas yang bekerja pada daerah GeigerMuller. Detektor Geiger-Muller mempunyai sifat
khusus yaitu tidak dapat membedakan besarnya energi
yang masuk ke dalamnya. Hal ini disebabkan karena
tinggi pulsa yang terjadi tidak tergantung pada
besarnya energi radiasi yang datang. Untuk
penggunaan bukan spektrometri energi maka detektor
Geiger-Mller banyak memberikan keuntungan,
karena cara pengoperasian dan konstruksinya lebih
sederhana.
Secara sederhana skema detektor Geiger
Muller berbentuk tabung silinder ditunjukkan pada
gambar 2. Untuk silinder An = 2..r.l, r dan l masingmasing jari-jari dan panjang silinder, maka persamaan
(2) menjadi
N

o 2 r l

=E

(3)

dengan mensubstitusikan persaman (3) ke persamaan


(1) didapat :

Buku I Prosiding PPI - PDIPTN


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 14 Juli 2009

ISSN 0216 - 3128

24

V (r ) =

V (r ) =

b dr

2 l 0 a r
q

q
2 l 0

ln

(4)
b

Irianto, dkk.

Kurva karakteristik detektor GM yang


menyatakan hubungan antara jumlah cacah per satuan
waktu terhadap tegangan kedua elektroda seperti
ditunjukkan pada Gambar 3.

(5)

dari persaman (3) dan persaman (5) didapat :


E (r ) =

V (r )

r ln (b / a )

(6)

Gambar 3. Kurva karakteristik


Mller.

Gambar 2. Detektor berbentuk tabung silinder


dengan pusat muatannya adalah poros
silinder dan jari-jari tabung adalah r.
Jika tegangan V dinaikkan lebih tinggi maka peristiwa
pelucutan elektron sekunder atau avalance akan
semakin besar dan elektron sekunder yang terbentuk
banyak sekali. Akibatnya, anoda diselubungi oleh
muatan negatif elektron, sehingga peristiwa ionisasi
akan terhenti. Karena gerak ion positif ke dinding
tabung (anoda) lambat maka ion-ion ini dapat
membentuk semacam lapisan pelindung positif pada
permukaan dinding tabung. Keadaan yang demikian
ini disebut efek muatan ruang atau space charge
effect[2].
Karakteristik detektor Geiger-Muller
Detektor Geiger Muller yang berfungsi
sebagai alat pendeteksi zarah radiasi mempunyai
beberapa karakateristik diantaranya plateau, slope,
tegangan ambang (threshold).
Daerah tegangan kerja detektor GM disebut
daerah plateau. Daerah plateau adalah daerah dimana
pada kenaikan tegangan detektor, menghasilkan
kenaikan jumlah cacah yang kecil, sehingga banyak
pulsa yang tercacah relatif sama. Apabila batas
plateau dilampaui, kenaikan jumlah cacah akan
melonjak pada setiap penambahan tegangan sedikit
saja. Panjang plateau suatu detektor GM yaitu dari
tegangan ambang sampai pada batas tegangan
permulaan terjadinya proses lucutan. Panjang dan
kemiringan plateau menentukan kualitas detektor.
Detektor GM yang baik mempunyai plateau yang
panjang dan slope yang kecil.

detektor

Geiger-

Keterangan gambar 3 :
A : Tegangan awal (Starting Voltage),
B : Tegangan ambang (Threshold voltage),
C : Tegangan batas, mulai timbul kerusakan
(Break down),
B-C : Daerah plateau Geiger-Mller atau daerah
kerja.
Untuk pengoperasiannya, detektor GM
sebaiknya diberi tegangan pada tengah-tengah daerah
plateau. Pada Gambar 3. dapat dilihat bahwa daerah
plateau bentuk kurvanya tidak datar melainkan sedikit
miring. Kemiringan daerah plateau disebut slope. Jika
harga slope makin kecil, maka daerah plateau makin
datar berarti detektor makin baik. Besarnya slope
dinyatakan dalam % per 100 volt [2].
Slope =

( N 2 N1 )
100%
(V 2 V1 )(100)

(7)

dimana
N1 = Jumlah cacah persatuan waktu pada tegangan V1,
N2 = Jumlah cacah persatuan waktu pada tegangan V2,
V1 = Besar tegangan 1
V2 = Besar tegangan 2.

TATA KERJA PENELITIAN

Gambar 4. Skema sistem pengujian detektor GM.


Detektor yang akan di uji adalah detektor
buatan sendiri dengan gas isian berupa argon 90% dan
alkohol 10 %. Detektor diletakkan dalam suatu

Buku I Prosiding PPI - PDIPTN


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 14 Juli 2009

ISSN 0216 - 3128

Irianto, dkk.

inkubator (incubator) yang telah diatur temperaturnya,


kemudian digunakan untuk mencacah sumber radiasi
yang diletakkan di luar inkubator. Skema dari sistem
pengujian, disajikan pada gambar 4.
Berdasarkan skema sistem pengujian pada
gambar 4, selanjutnya dilakukan pengujian dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pembuatan tabung detektor GM.
Tabung detektor dibuat dari bahan SS untuk
katoda dan bahan tungsten untuk anoda, dengan
isian gas 90 % Argon dan 10 % uap alkohol.
2. Uji respon detektor.
Hal pertama yang harus dipenuhi oleh detektor
ialah mempunyai plateau. Untuk mengetahuinya,
dilakukan pencacahan terhadap radiasi latar
belakang (background) memakai detektor ini.
Untuk menentukan adanya plateau beserta
ukurannya, dibuat grafik antara tegangan terhadap
jumlah cacah per menit. Di samping itu juga diuji
apakah daerah plateau detektor bisa membedakan
sumber. Artinya apakah ada perbedaan jumlah
pencacahan apabila jumlah radiasi yang diterima
berubah. Sumber radiasi yang digunakan adalah
137
Cs.
3. Pengkondisian temperatur inkubator (T) sebagai
fungsi tegangan (V).
Temperatur inkubator di kondisikan dapat
beroperasi pada temperatur antara 30-70oC. Untuk
mengkondisikannya maka pada bagian dalam
inkubator di pasang filamen pemanas yang tingkat
pemanasannya diatur oleh tegangan variak.
4. Pengujian karakteristik GM sebagai fungsi
temperatur (T).
Setelah temperatur inkubator dikondisikan stabil,
maka dilakukan pengujian karakteristik detektor
GM, yaitu dengan melakukan pencacahan terhadap
sumber radiasi 137Cs dengan variasi temperatur
inkubator. Pencacahan dilakukan selama 1 menit
dengan variasi temperatur inkubator masing-masing
30oC, 40oC, 50oC, 60oC dan 70oC. Untuk masingmasing pencacahan dilakukan pengulangan 3 kali.
5. Pengamatan karakteristik GM (plateau dan slope )
sebagai fungsi waktu.
Dari data yang telah didapat, maka untuk masingmasing variasi temperatur dibuat plateau dan slope
nya.
6. Analisis karakteristik GM.
Dilakukan analisis terhadap panjang plateau serta
slope, untuk masing-masing variasi temperatur
inkubator.
7. Kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sebelum dilakukan pencacahan, terlebih
dahulu dilakukan pengkondisian temperatur inkubator.
Pengkondisian inkubator dilakukan dengan menaikkan
tegangan dari variak. Temperatur pada inkubator akan
dikontrol dengan menggunakan sistem pengontrol

25

temperatur. Semakin tinggi temperatur yang


dikehendaki maka, semakin lama waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai kondisi stabil. Grafik
pengkondisian kestabilan temperatur inkubator
disajikan pada Gambar 5. Pencacahan dilakukan
dengan variasi temperatur inkubator yaitu pada
temperatur 30oC, 40oC, 50oC, 60oC dan 70oC. Data
hasil pencacahan disajikan pada gambar 3.
Tegangan V merupakan tegangan yang
diberikan untuk menimbulkan medan listrik pada
tabung detektor. Besar medan listrik yang terjadi
tergantung pada jari-jari tabung detektor serta jari-jari
masing-masing elektroda (anoda dan katoda). Jika
anoda diberi tegangan +V terhadap dinding tabung
(katoda), dan zarah radiasi nuklir masuk ke dalam
tabung detektor, selanjutnya zarah tersebut akan
berinteraksi dengan medium gas sehingga akan terjadi
pembebasan elektron dan ion-ion, atau terjadi suatu
peristiwa ionisasi. Ion positif akan bergerak ke arah
dinding tabung (katoda) dengan kecepatan lebih
lambat daripada gerakan elektron ke arah anoda. Jika
tegangan yang diberikan terlalu rendah maka gerakan
elektron maupun ion akan melambat dan
kemungkinan antara ion dan elektron akan bertemu
dan bergabung kembali, peristiwa penggabungan ini
dinamakan rekombinasi. Untuk menghindari hal itu,
maka tegangan yang diberikan harus cukup besar.
Dengan sesampainya elektron dan ion ke elektroda
masing-masing maka akan timbul pulsa arus listrik.

Gambar 5. Pengkondisian temperatur


sebagai fungsi waktu.

inkubator

Dari gambar 6 didapatkan bahwa semakin


tinggi temperatur inkubator maka semakin tinggi
tegangan ambang dari detektor tersebut. Tegangan
ambang merupakan tegangan minimal yang
dibutuhkan oleh detektor untuk memulai proses
ionisasi dan ion-ion serta elektron sampai ke elektroda
masing-masing dan terjadi pulsa listik.[3] Pergeseran
tegangan ambang ini disebabkan karena kenaikan
temperatur inkubator yang menyebabkan peningkatan
kecepatan gerak-gerak atom gas isian. Fenomena ini
terkait dengan gerak Brown, yaitu gerak acak partikel
gas ke segala arah. Semakin besar ukuran partikel,
semakin lambat gerak Brown yang terjadi dan

Buku I Prosiding PPI - PDIPTN


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 14 Juli 2009

26

ISSN 0216 - 3128

sebaliknya, semakin kecil ukuran partikel, maka akan


semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Temperatur
juga dapat mempengaruhi gerak Brown, jadi semakin
tinggi temperatur sistem, maka semakin besar energi
kinetik yang dimiliki partikel untuk bergerak.
Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel semakin
cepat, dan sebaliknya, semakin rendah temperatur
sistem, maka gerak Brown semakin lambat.
Seperti diketahui, massa elektron lebih kecil
daripada massa ion dan menyebabkan elektron
bergerak ke anoda lebih cepat dari pada gerak ion
kearah dinding tabung atau katoda.

Gambar 6. Hubungan cacahan permenit (cpm)


sebagai fungsi tegangan untuk variasi
temperatur inkubator.
Elektron bergerak sangat cepat dan terkumpul
di anoda dalam waktu yang jauh lebih cepat bila
dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh ion
positif untuk sampai ke katoda. Ion positif yang
bergerak perlahan ini akan membentuk tabir pelindung
di sekeliling anoda yang bermuatan posistif. Hal ini
menyebabkan sangat turunnya medan listrik di
sekeliling anoda dan karena itu tidak mungkin terjadi
avalanche yang disebabkan oleh lewatnya zarah
radiasi berikutnya. Sesuai dengan persamaan 6, untuk
menghindari terjadinya rekombinasi kembali antara
elektron dan ion maka perlu di naikkan tegangan
ambang, dengan maksud supaya elektron dan ion
dapat sampai ke elektroda masing-masing dan
selanjutnya dapat terjadi pulsa listrik.
Berdasarkan data yang telah didapatkan dan
dengan menggunakan persamaan 7, maka didapatkan
panjang plateau serta slope untuk masing-masing
variasi temperatur, yang hasilnya ditampilkan pada
tabel 2.
Tabel 2. Nilai plateau dan slope dari detektor sebagai
fungsi temperatur inkubator.
Temperatur (oC) Plateau (volt) Slope (% / 100 volt)
30
110
15
40
150
16
50
130
18
60
180
12
70
90
20

Irianto, dkk.

Daerah plateau adalah daerah dimana pada


kenaikan tegangan detektor, menghasilkan kenaikan
jumlah cacah yang kecil, sehingga banyak pulsa yang
tercacah relatif sama. Apabila batas plateau
dilampaui, kenaikan jumlah cacah akan melonjak pada
setiap penambahan tegangan sedikit saja. Daerah
plateau di hitung mulai dari tegangan ambang sampai
tegangan batas mulai terjadinya lucutan.
Karakteristik detektor GM yang baik adalah
apabila mempunyai daerah tegangan plateau yang
panjang antara 100V-200V dan mempunyai
kemiringan daerah plateau yang kecil (small slope)
yaitu antara 8%-10% [1]. Jika ditinjau hasil
perhitungan nilai tegangan plateau dan slope sebagai
fungsi temperatur yang disajikan pada tabel 2
menunjukkan bahwa plateau yang terbaik pada 180
volt dan slope 12%/100V yang dioperasikan pada
60oC.
Temperatur
kerja
detektor
dapat
dikategorikan spesifikasi mekanik (mechanical
specification) detektor GM, yang menunjukkan
kemampuan mekanik detektor pada jangkau
temperatur dan memberikan dan memberikan daerah
plateau yang terbaik [4]. Dengan demikian daerah
temperatur kerja GM yang dibuat dapat bekerja pada
daerah temperatur antara 30oC-60oC dan mempunyai
daerah plateau rata-rata 142,5 volt dan slope
15,25%/volt.
Dari hasil penelitian dapat diketahui
karakteristik mekanik dari konstruksi mekanik tabung
detektor GM yang berpengaruh terhadap perubahan
temperatur (temperature changes), umur detektor GM
(age of the count), cacah radiasi (large intensity of
irradiation)[1].

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian efek temperatur terhadap
karakterstik detektor GM, dapat diambil kesimpulan
bahwa:
lingkungan
mempengaruhi
1. Temperatur
karakteristrik dari detektor GM yaitu meliputi
plateau, slope dan tegangan ambang.
2. Semakin tinggi temperatur lingkungan maka
tegangan ambang akan semakin besar, disebabkan
karena penambahan energi kinetik serta gerak
Brown dari partikel gas isian
3. Detektor GM yang diteliti memiliki karakteristik
terbaik ketika bekerja pada temperature 30oC60oC, yaitu memiliki panjang plateau 142,5 volt
dan slope 15,25% per 100 volt.

UCAPAN TERIMAKASIH
Dengan selesainya penelitian ini disampaikan
ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
Sdr. Sumarmo atas semua bantuannya.

Buku I Prosiding PPI - PDIPTN


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 14 Juli 2009

Irianto, dkk.

ISSN 0216 - 3128

DAFTAR PUSTAKA
1. EFENYVES and O. HAIMAN, The Physical
Principal of Nuclear Radiation Measurements,
Akademiai Kiado, Budapest, 1969.
2. WARDHANA, WISNU ARYA Teknologi
Nuklir, proteksi radiasi dan Aplikasinya Penerbit
Andi, 2007.
3. KNOLL, GLENN F Radiation Detection and
Measurement John Wiley&Sons, 1979.
4. BULLETINE NUCLEAR DETECTORS AND
SYSTEM Halogen Quenched Geiger Muller
Tubes he Harshaw Chemical Company, 1975.

27

plateau 142,5 volt dan slope 15,25 % per volt tidak


sesuai dengan data tabel 2? (mestinya tidak dirataratakan, cukup diberikan rentang nilai plateau dan
slope-nya saja).

Irianto
Untuk temperatur operasi detektor GM yang
baik antara 30 C-60 C, sebenarnya
mempunyai jangka panjang plateau 110 volt180 volt dan slope 12-18 % per 100 volt. Jadi
detektor GM yang dibuat mempunyai
karakteristik mekanik untuk temperatur operasi
30 C-60 C.

TANYA JAWAB
Pramudita Anggraita
- Mengapa hasil pengukuran temperatur operasi
detektor GM antara 30 C-60 C mempunyai

Buku I Prosiding PPI - PDIPTN


Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 14 Juli 2009