Anda di halaman 1dari 73

PROPOSALPENELITIAN

KAJIAN EPIDEMIOLOGI LINGKUNGAN PENYAKIT KECACINGAN PADA


KELOMPOK PEMULUNG DI TPK SARIMUKTI KECAMATAN CIPATAT
KABUPATEN BANDUNG BARAT
KetuaPeneliti

: Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL AHMAD YANI CIMAHI


2012

LAPORANPENELITIAN

KAJIAN EPIDEMIOLOGI LINGKUNGAN PENYAKIT KECACINGAN PADA


KELOMPOK PEMULUNG DI TPK SARIMUKTI KECAMATAN CIPATAT
KABUPATEN BANDUNG BARAT
KetuaPeneliti

: Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL AHMAD YANI CIMAHI


2012

HALAMAN PENGESAHAN

1. JudulPenelitian

Kajian Epidemiologi Lingkungan Penyakit


Kecacingan pada kelompok Pemulung di TPK
Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten
Bandung Barat

2. KetuaPeneliti
a. NamaLengkap
b. Jenis Kelamin
c. NIP
d. Jabatan Struktural
e. Jabatan Fungsional
f. Fakultas/Jurusan
g. Pusat Penelitian
h. Alamat
i. Telpon/Faks
j. Alamat Rumah

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes


Laki-laki
04.1606.7401
Ka. LPPM STIKES A. YaniCimahi
Lektor
IlmuKesehatanMasyarakat
LPPM STIKES A. YaniCimahi
JalanTerusanJendralSudirman-Cimahi
0226631624/0226631624
Perumahan Kota Mas, Jalan Kota Mas V No.23
Kota Cimahi-40255
02266262945/budiman_1974@yahoo.com

:
:
:

Syarifah Noor Citra Mutia


4Bulan
STIKES A. YaniCimahi/Rp. 3.500.000

k. Telpon/Faks/E-mail
3. Anggota
4. JangkaWaktuPenelitian
5. Pembiayaan/Jumlah

Cimahi,17 September 2012


Mengetahui,
Ketua Prodi
Ilmu Kesehatan Masyarakat (S1)

KetuaPeneliti

Suhat, SKM., M.Kes

Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian danPengabdianMasyarakat

Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

Page i

Page
ii

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Penelitian

Kajian Epidemiologi Lingkungan Penyakit


Kecacingan pada kelompok Pemulung di TPK
Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten
Bandung Barat

2. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap
b. Jenis Kelamin
c. NIP
d. Jabatan Struktural
e. Jabatan Fungsional
f. Fakultas/Jurusan
g. Pusat Penelitian
h. Alamat
i. Telpon/Faks
j. Alamat Rumah

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes


Laki-laki
04.1606.7401
Ka. LPPM STIKES A. Yani Cimahi
Lektor
Ilmu Kesehatan Masyarakat
LPPM STIKES A. Yani Cimahi
Jalan Terusan Jendral Sudirman-Cimahi
0226631624/0226631624
Perumahan Kota Mas, Jalan Kota Mas V No.23
Kota Cimahi-40255
02266262945/budiman_1974@yahoo.com

k. Telpon/Faks/E-mail

: Syarifah Noor Citra Mutia


3. Anggota
4. Jangka Waktu Penelitian : 4Bulan
: STIKES A. YaniCimahi/Rp. 3.500.000
5. Pembiayaan/Jumlah

Cimahi,31 Desember 2012


Mengetahui,
Ketua Prodi
Ilmu Kesehatan Masyarakat (S1)

Ketua Peneliti

Suhat, SKM., M.Kes

Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes

Page i

Page
ii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN......................................................................................i
DAFTAR ISI ..........................................................................................................ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................4
C. Tujuan Penelitian .............................................................................4
D. Manfaat Penelitian ...........................................................................5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Penyakit Kecacingan ..........................................................6
B. Epidemiologi Penyakit Kecacingan..................................................6
1. Faktor Agent ..............................................................................6
2. Faktor Lingkungan ...................................................................12
3. Faktor Host ..............................................................................18

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian ...........................................................................25
B. Populasi dan Sampel .....................................................................30
C. Pengumpulan Data ........................................................................31
D. Pengolahan Data............................................................................34
E. Analisis Data ..................................................................................35
F. Etika Penelitian ..............................................................................40
G. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................41

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Page ii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Data WHO tahun 2006 melaporkan kejadian penyakit kecacingan di
dunia masih tinggi yaitu 1 milyard orang terinfeksi cacing Ascaris
lumbricoides, 795 juta orang terinfeksi cacing Trichuris trichiura, dan 740 juta
terinfeksi

cacing

hookworm

(Ancylostoma

duodenale

dan

Necator

americanus). Secara epidemiolog penyakit kecacingan merupakan endemis


di Negara tropis dan subtropics. (Kandun, 2009).
Penyakit cacingan adalah penyakit cacingan usus yang ditularkan
melalui tanah atau sering disebut Soil Transmitted Helminthes (STHs) yang
sering dijumpai pada anak usia Sekolah Dasar.Masa usia anak masih sering
kontak dengan tanah. Ada tiga jenis cacing yang terpenting berhubungan
dengan kejadian STHs yaitu cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing
cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale
dan Necator americanus) (Depkes RI, 2004).
Prevalensi STHs diIndonesia masih tinggi berkisar lebih dari 6070%.Terbesar ditemukan pada anak dan usia Sekolah Dasar (Judarwanto,
2005). Di Propinsi Jawa Barat prevalensi Ascaris disertai adanyaTrichuris
trichiura melebihi 70% yaitu angka kejadiannya mencapai 90% (Sutanto et al,
2008).Angka tersebut menunjukan prevalensi STHS yang merupakan

Laporan Penelitian

Page 1

manifestasi dari penyakit kecacingan merupakan masalah kesehatan


masyarakat.
Di Kabupaten Bandung Barat (KBB), kejadian penyakit kecacingan
cukup tinggi terutama di Puskesmas Cipatat Kecamatan Cipatat KBB tahun
2010 insidens sebanyak 1.330 orang dengan prevalens rate sebanyak 1.365
orang. Tahun 2011 insidens sebanyak 1.173 dengan prevalens sebanyak
1.191 orang. Tahun 2012 pada bulan Januari tidak ditemukan adanya kasus
kecacingan, bulan Februari insiden 80 orang, bulan Maret sebanyak 62
orang. Frekunsi penyakit kecacingan secara epidemiologi mengalami
peningkatan setiap saat dalam waktu tertentu.
Penyakit kecacingan merupakan penyakit infeksi yang memiliki
efek/dampak

tersembunyi

pada

pertumbuhan

dan

perkembangan

manusia.Efek yang ditimbulkan bersifat kronis atau infeksi berat dapat


diantaranya anemia dan daya tahan tubuh berkurang seseorang terganggu
(Aswani et al dalam Sutanto et al, 2008). Kelompok yang berisiko tinggi
terinfeksi penyakit kecacingan diantaranya komunitas pemulung sampah. Di
KBB, salah satu komunitas pemulung yaitu Tempat Pengolahan Kompos
(TPK) Sarimukti di Kecamatan Cipatat.
Peneliti melakukan riset epidemiologi pendahuluan di TPK Sarimukti
ternyata lingkungan TPK tersebut merupakan daerah perkebunan, kondisi
tanah yang subur, tempat optimum berkembang biaknya telur cacing,
perilaku warga kurang memperhatikan kebersihan diri, sanitasi lingkungan
rendah (kurang memperhatikan sarana kebersihan), dan sumber air bersih

Laporan Penelitian

Page 2

serta jamban tidak tersedia. Dalam konteks epidemiologi lingkungan


berpotensi menjadi sumber penyakit kecacingan yang dapat menyerang
masyarakat di komunitas TPK.
Fenomena permasalahan lain yang diperoleh di TPK tersebut hanya
memiliki 1 buah MCK. Penggunaannya selain dipakai untuk tempat mandi,
pengambilan air untuk memasak dan minum, digunakan untuk sumber air
bersih digunakan pula sebagai tempat buang air besar, sehingga dalam hal
ini banyak sekali pemulung yang mengeluh gatal-gatal, diare, batuk,
pilek.Kondisi initerjadi karena masyarakat di wilayah TPK Sarimukti tersebut
kurang peduli terhadap kesehatan dan lingkungan yang buruk.
Studi pendahuluan melalui wawancara kepada 13 responden
diperoleh informasi sebagai berikut: seluruh responden selalu mencuci
tangan sebelum dan sesudah makan, 11 responden selalu mencuci tangan
dengan menggunakan sabun, 12 responden selalu memotong kuku setiap 2
minggu sekali, 11 responden selalu mencuci tangan setelah BAB, 4
responden yang sering mengkonsumsi makanan mentah (lalaban) tanpa
dimasak atau direbus terlebih dahulu, 13 responden yang ketika bekerja
memakai alas kaki, 8 responden yang tidak memiliki jamban, 6 responden
yang tidak memiliki sumber air bersih, 7 responden yang ketika bekerja tidak
menggunakan alat pelindung (sarung tangan, masker) dan 13 responden
yang mandi 2 kali sehari dengan mengguanakan sabun.
Masalah penyakit kecacingan melibatkan interaksi agent, host, dan
lingkungan. Menurut Achmadi (2001) sumber penyakit dapat menyebabkan

Laporan Penelitian

Page 3

sakit pada host jika di mediasi oleh lingkungan. Teori ini dikenal dengan teori
simpul. Maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk kajian
epidemiologi lingkungan penyakit cacingan di komunitas TPK Sarimukti
Kabupaten Bandung Barat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti membuat
rumusan

masalah

sebagai

berikut

Bagaimana

kajian

epidemiologi

lingkungan kejadian penyakit kecacingan pada kelompok pemulung di TPK


Sarimukti Kecamatan Cipatat?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk melakukan kajian epidemiologi lingkungan kejadian penyakit
kecacingan pada kelompokpemulung di TPK Sarimukti Kecamatan
Cipatat.
2. Tujuan Khusus
a. Untukmengidentifikasi penyediaan air bersihpada kelompok pemulung
di TPK Sarimukti
b. Untuk mengidentifikasi higiene perorangan pada kelompok pemulung
di TPK Sarimukti Kecamatan Cipatat.
c. Untuk mengetahui kejadian penyakit kecacingan pada kelompok
pemulung di TPK Sarimukti Kecamatan Cipatat.

Laporan Penelitian

Page 4

d. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lingkungan dan higiene


personal secara parsial (sendiri-sendiri) terhadap kejadian penyakit
kecacingan pada kelompok pemulung di TPK Sarimukti Kecamatan
Cipatat.
e. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lingkungan dan higiene
personalsecara simultan (bersama) terhadap kejadian penyakit
kecacingan pada kelompok pemulung di TPK Sarimukti Kecamatan
Cipatat.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pengembangan ilmu
kesehatan masyarakat khususnya lingkup kajian epidemiologi lingkungan
yang berhubungan dengan penyakit kecacingan.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
informasi untuk komunitas di TPK Sarimukti Kecamatan Cipatat dalam
upaya pencegahan terhadap penyakit kecacingan.

Laporan Penelitian

Page 5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Penyakit Kecacingan


Penyakit cacingan adalah penyakit cacing usus yangditularkan
melalui tanah atau sering disebut Soil Transmitted Helminthes (STHs) yang
sering dijumpai pada anak usia Sekolah Dasar dimana pada usia ini anak
masih sering kontak dengan tanah. Ada tiga jenis cacing yang terpenting
adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris
trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator
americanus) (Depkes RI, 2004).
Cacingan adalah segala macam cacing yang ternyata hidup parasit
dalam lambung manusia.Mereka turut hidup parasit di dalam pencernaan
manusia. Penyakit cacingan ini banyak di derita oleh anak-anak yang belum
begitu tahu tentang cara memelihara kebersihan dan kesehatan. Misalnya
mereka mungkin saja diidapi oleh orang dewasa juga karena faktor kurang
memelihara kebersihan dan kesehatan (Saydam, 2011).

B. Epidemiologi Kejadian Penyakit Kecacingan


1. Faktor Agent (Penyebab Penyakit)
Penyebab penyakit kecacingan diklasifikasikan dalam tiga filum,
yaitu: Nemathelminthes (cacing bulat), platyhelminthes (cacing pipih), dan
annelid (Irianto, 2009).

Laporan Penelitian

Page 6

Namun yang dibahas dibawah ini adalah kelompok Nematoda


usus(Nemathelminthes)sebab

sebagian

dari

Nematoda

usus

ini

merupakan penyebab kecacingan yang sering dijumpai pada masyarakat


Indonesia. Diantara Nematoda ini yang sering menginfeksi manusia
ditularkan melalui tanah atau sering disebut soil transmitted helminthes,
yakni:
a. Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides, umumnya sebagai parasit dalam usus
manusia.

Hewan

ini

bersifat

kosmopolit,

terutama

didaerah

tropis.Askaris menyebabkan penyakit yang dikenal askariasis.


Klasifikasi
Kelas

: Nematoda

Subkelas

: Phasmida

Superfamilia

: Ascaroidea

Genus

: Ascaris

Spesies

: Ascaris lumbricoides

(Irianto, 2009)

Gambar 2.1: cacing Ascaris lumbricoides

Laporan Penelitian

Page 7

Trichuris trichiura (cacing cambuk)


Nama lain cacing ini adalah cacing cambuk atau cacing cacing
benang. Panjang tubuhnya 5 cm, tempat hidup pada sekum, usus
besar dan ileum, dan masuk melalui makanan.Setiap hatinya Trichuris
trichiura dapat menghasilkan telur sekitar 3.000-10.000 butir.Telurnya
berbentuk guci atau sitrun.Kulit luar berwarna kekuningan dan kulit
dalam transparan.Telur-telur yang telah dibuahi mengandung embrio
yang tidak beruas waktu dikeluarkan.
Klasifikasi
Kelas

: Nematoda

Subkelas

: Aphasmidia

Ordo

: Enoplida

Superfamili

: Trichuroidea

Familia

: Trichuridae

Genus

:Trichuris

Spesies

:Trichuris trichiura

(Irianto, 2009)

Laporan Penelitian

Page 8

Gambar 2.2: cacing Trichuris trichiura


Hookworm (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
Superfamilianya adalah strongloida merupakan nematoda yang
cacing jantannya mempunyai bursa kopulatriks yaitu suatu pelebaran
membran dari ujung posterior tubuh, bentuk tubuler dengan rays
dibagian dalamnya.
Klasifikasi
Filum

: Nemathelminthes

Kelas

: Nematoda

Subkelas

: Phasmida

Ordo

: Rhabditida

Familia

: Ancylostomatidae

Genus

: Ancylostoma dan Necator

Spesies

: Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

(Irianto, 2009)

Laporan Penelitian

Page 9

Gambar 2.3: cacing Ancylostoma duodenale(kiri: betina kanan: jantan)

Gambar 2.4: cacing Necator americanus(kiri: betina kanan: jantan)

Daur hidup masing-masing klasifikasi berbeda seperti berikut ini:


a. Ascaris lumbricoides
Telur belum matang (bersama tinja)

pematangan ditanah (20-24)

hari tertelan,dilambung menetas keluar larva menembus


mukosa usus kapiler darah aliran darah hati jantung
kanan paru-paru (keluar dari kapiler darahalveolus) bronc
heolusbronchustrachea larynk tertelan, esophagus
lambungusus halusdewasa.
Waktu yang diperlukan mulai larvamenembus mukosa usus, ke
paru-paru dan berakhir di lumen usus, sedangkan mulai berada di

Laporan Penelitian

Page 10

dalam usus yang kedua sampai menjadi dewasa dapat menghasilkan


telur, 6-10 minggu (Irianto, 2009).

Gambar 2.5: daur hidup cacing Ascaris lumbricoides


b. Trichuris trichiura
Telur belum matang (bersama feses)
minggu
larva

pematangan di tanah 3-5

tertelan, di proksimal usus halus menetas

keluar

menetap 3-10 hari dewasausus besar (menetap).


Mulai telur infektif tertelan sampai cacing betina bertelur,

membutuhkan 30-90 seperti Ascaris Lumbricoides, siklus hidup


Trichuris

trichiura

merupakan

siklus

langsung

karena

tidak

membutuhkan tuan rumah perantara (Irianto, 2009).

Laporan Penelitian

Page 11

Gambar 2.6: daur hidup cacing Trichuris trichiura


c. Hookworm (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
Telur keluar bersama feses

dalam 24-48 jam menetas

larva rhabditiform (hari ke lima)larva filariform (infektif)


menembus kulit

kapiler darahaliran darahjantung

kanan, selanjutnya seperti Ascaris lumbricoides.


Waktu yang diperlukan sampai kembali ke usus halus kurang
lebih 10 hari cacing dewasa dapat hidup selama kurang lebih 10 tahun.
Larva dapat masuk kedalam badan melalui air minum atau makanan
yang terkontaminasi (Irianto, 2009).

Laporan Penelitian

Page 12

Gambar 2.7: daur hidup cacing Hookworm


2.

Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologis,

sosial, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana


lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang
merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang, 2000). Pengertian
lingkungan yang klasik adalah sekeliling tempat organisasi beroperasi
termasuk udara, air, tanah, sumber daya alam, flora dan fauna, manusia
(Anies, 2006).
Pengaruh lingkungan dalam menimbulkan penyakit pada manusia,
telah lama disadari. Bahkan telah lama pula disinyalir, bahwa peran
lingkungan dalam meningkatkan derajat kesehatan sangat besar. Faktor
perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan memiliki kontribusi yang
lebih kecil dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Menurut WHO (1986) pentingnya lingkungan yang sehat telah
dibuktikan dengan penyelidikan-penyelidikan di seluruh dunia dimana
didapatkan hasil bahwa, angka kematian (mortality) yang tinggi serta
seringnya terjadi epidemik, terdapat ditempat-tempat dimana sanitasi
lingkungannya buruk, yaitu di tempat-tempat dimana terdapat banyak lalat,
nyamuk, pembuangan kotoran, dan sampah yang tidak teratur, air rumah
tangga yang buruk, perumahan yang terlalu sesak, dan keadaan sosio
ekonomi yang buruk.

Laporan Penelitian

Page 13

Menurut penyelidikan WHO bahwa di Negara-negara yang sedang


berkembang terdapat banyak penyakit kronis endemis, sering terjadi
epidemik, masa hidup yang pendek hal ini disebabkan oleh:
a.

Pengotoran persediaan air rumah tangga

b.

Infeksi karena kontak langsung ataupun tidak langsung dengan feses


manusia

c.

Infeksi yang disebabkan oleh arthropoda, vektor-vektor penyakit


lainnya.

d.

Penyakit-penyakit hewan yang berhubungan dengan manusia

e.

Perumahan yang terlalu sempit


Maksudnya membangun sebuah rumah harus memperhatikan
tempat dimana rumah itu didirikan. Rumah adalah salah satu
persyaratan pokok bagi kehidupan manusia (Notoadmodjo, 2007).
Berdasarkan hasil rumusan yang dikeluarkan oleh APHA di
Amerika, rumah sehat adalah rumah yang memenuhi persyaratan
sebagai berikut: 1) harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiologis
2) memenuhi kebutuhan psikologis 3) dapat terhindar dari penyakit
menular 4) terhindar dari kecelakaan-kecelakaan (Mubarak dan
chayatin, 2009).
Fasilitas-fasilitas sanitasi, sebuah rumah yang sehat harus
memiliki

fasilitas-fasilitas

sanitasi

yang

baik

atau

memadai,

diantaranya seperti penyediaan air bersih dan kepemilikan jamban


(Mubarak dan Chayatin, 2009).

Laporan Penelitian

Page 14

a. Penyediaan air bersih


Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia, kebutuhan
manusia akan air sangat komplek antara lain untuk minum, masak,
mandi, mencuci dll. Menurut perhitungan WHO di Negara-negara setiap
orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di
Negara-negara

berkembang,

termasuk

Indonesia

setiap

orang

memerlukan air antara 30-60 liter per hari.Diantara kegunaankegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kbutuhan untuk
minum.Oleh karena itu untuk keperluan minum (termasuk untuk masak)
air harus mempunyai persyaratan khusus agar tidak menimbulkan
penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2007).
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut
hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan.
Menurut Notoatmodjo (2007) Air yang sehat harus mempunyai
persyaratan sebagai berikut:
1)

Syarat kimia
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah yang bening
(tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa).

2)

Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala
bakteri, terutam bakteri pathogen.

3)

Laporan Penelitian

Syarat kimia

Page 15

Air yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah


yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia
dalam air, akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia.
b. Kepemilikan jamban
Jamban adalah salah satu sarana dari pembuangan dua kotoran
manusia berupa tinja dan air seni.Dilihat dari kesehatan masyarakat,
masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah yang
pokok untuk sedini mungkin diatasi. Karena feses manusia adalah
sumber penyebaran penyakit yang bersumber pada feses dapat
melalui berbagai macam jalan atau cara seperti air, tangan , tanah,
serangga (lalat, kecoa, dsb). Makanan, minuman, sayuran sehingga
menyebabkan penyakit (Notoatmodjo, 2007).

Air
Mati
Tangan
Tinja
Lalat

Makanan,
minuman,
sayuran dll

Penjamu
(host)

Tanah

Sakit

Gambar 2.8: peranan tinja dalam penyebaran penyakit


Dari skema tersebut tampak jelas bahwa peranan tinja dalam
penyebaran penyakit sangat besar, jadi bila pengolahan tinja tidak baik,
jelas penyakit akan mudah tersebar. Untuk mencegah sekurang-

Laporan Penelitian

Page 16

kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka


pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya
pembuangan kotoran harus disuatu tempat tertentu atau jamban yang
sehat. Menurut Notoatmodjo (2007) suatu jamban disebut sehat untuk
daerah pedesaan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Tidak mengotori permukaan tanah disekeliling jamban tersebut
b. Tidak mengotori air permukaan disekitarnya
c. Tidak terjangkau oleh serangga terutama lalat dan binatangbinatang lainnya
d. Tidak menimbulkan bau
Tipe-tipe jamban yang sesuai dengan teknologi pedesaan
menurut Notoatmodjo (2007) antara lain:
1) Jamban cemplung, kakus (pit latrine)
Jamban

cemplung

sering

kita

jumpai

didaerah

pedesaan.Tetapi sering dijumpai jamban cemplung yang kurang


sempurna, misalnya tanpa rumah jamban dan tanpa tutup,
sehingga serangga mudah masuk dan bau tidak bisa dihindari.
Disamping itu, karena tidak ada rumah jamban, bila musim hujan
tiba maka jamban itu akan penuh oleh air.
2) Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine =
vip latrine)
Jamban ini hampir sama dengan jamban cemplung,
bedanya lebih lengkap, yakni menggunakan ventilasi pipa.

Laporan Penelitian

Page 17

3) Jamban empang (fishpond latrine)


Jamban ini dibangun diatas empang ikan.Dalam system
jamban empang ini disebut daur ulang (recycling), yakni tinja dapat
langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang dan selanjutnya orang
mengeluarkan tinja yang dimakan, demikian seterusnya.Jamban
empang

ini

mempunyai

fungsi,

yaitu

disamping

mencegah

tercemarnya lingkungan oleh tinja, juga dapat menambah protein


bagi masyarakat (menghasilkan ikan).
4) Jamban pupuk (the compost privy)
Pada prinsipnya jamban ini seperti kakus cemplung, hanya
lebih dangkal galiannya disamping itu jamban ini juga untuk
membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan.
5) Septic tank
Latrine jenis septic tank ini merupakan cara yang paling
memenuhi persyaratan, oleh sebab itu cara pembuangan tinja
semacam ini dianjurkan. Septi tank terdiri dari tangki sedimentasi
yang kedap air, dimana tinja dan air buangan masuk dan
mengalami dekomposisi. Dalam tangki ini tinja akan berada dalam
beberapa selama beberapa hari.
3. Faktor Host
a. Personal Higiene
Personal higiene berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang
artinya perorangan dan higiene berarti sehat. Kebersihan seseorang

Laporan Penelitian

Page 18

adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan


seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (http://keperawatan-agung.
blogspot.com/). Menjaga personal higiene berarti menjaga kebiasaan
hidup bersih dan menjaga kebersihan seluruh anggota tubuh.
Kata higiene digunakan untuk menggambarkan penerapan prinsipprinsip kebersihan untuk perlindungan kesehatan manusia. Manusia
merupakan sumber potensial mikroorganisme yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia. Kebersihan diri adalah suatu usaha individu
dalam menjaga kesehatan memalui kebersihan individu sebagai cara
untuk mengendalikan kondisi lingkungan terhadap kesehatan.
Kebiasaan hidup bersih harus dimulai dari diri pribadi karena
seseorang yang sudah membiasakan dirinya selalu bersih, tidak akan
senang melihat lingkungan yang kotor. Oleh karena itu seseorang yang
selalu menjaga kebersihan diri dengan sendirinya akan berusaha menjaga
kebersihan lingkungan dimanapun dia berada.
Kebersihan atau kesehatan lingkungan merupakan faktor utama
dalam mewujudkan kesehatan. Artinya kesehatan tidak terlepas dari
keadaan lingkungaan. Seseorang tidak akan merasa nyaman bila berada
dilingkungan kotor, yang dapat menularkan penyakit. Karena itu
pengelolaan lingkungan merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan
agar dapat hidup sehat.
Selain faktor lingkungan, praktek kebersihan diri masing-masing
pemulungdapat menjadi faktor risiko terjadinya kejadian Kecacingan jika

Laporan Penelitian

Page 19

pemulung tidak melaksanakannya dengan baik antara lain, kebiasaan


mencuci

tangan

menggunakan

sabun,

kebiasaan

memakai

alas

kaki/sandal, kebiasaan memotong kuku, kebiasaan memakan makanan


mentah.
1)

Kebiasaan mencuci tangan


Mencuci tangan adalah proses yang secara mekanis melepaskan
kotoran dan debris deri kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa
dan air. Tujuan mencuci tangan adalah merupakan salah satu unsur
pencegahan penularan infeksi (Depkes, 2007). Cucilah tangan sebelum
dan sesudah makan, sebelum dan sesudah bekerja dan setelah BAB.

2)

Kebiasaan memakai alas kaki/sandal


Pencegahan kecacingan terutama tergantung pada sanitasi
pembuangan tinja dan melindungi kulit dari tanah yang terkontaminasi,
misalnya dengan memakai alas kaki (Sutanto et al, 2008).

3) Kebiasaan memotong kuku


Kebersihan

perorangan

penting

untuk

pencegahan.

Kuku

sebaiknya selalu dipotong pendek untuk menghindari penularan cacing


dari tangan ke mulut, ketika tangan yang kurang bersih itulah ikut pula
telur-telur cacing kedalam mulut yang akhirnya bekembang biak
(Saydam, 2011).
4) Kebiasaan mengkonsumsi makanan mentah
Kebiasaan

makan

masyarakat,

menyebabkan

terjadinya

penularan penyakit tertentu.Misalnya, kebiasaan makan secara mentah

Laporan Penelitian

Page 20

atau setengah matang, ikan, kerang, daging atau sayuran, bila didalam
makanan tersebut terdapat kista atau larva cacing, maka siklus hidup
cacingnya menjadi lengkap, sehingga terjadi infeksi pada manusia
(Entjang, 2003).
5) Sosial ekonomi
Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungannya dengan
angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat
kehidupan seseorang.Kelas sosial ini ditentukan pula oleh tempat tinggal
(Notoadmodjo, 2007). Pengertian sanitasi lingkungan yang baik sulit
dikembangkan dalam masyarakatyang mempunyai keadaan sosioekonomi rendah, dengan keadaan sebagai berikut:
a) Rumah berhimpitan didaerah kumuh (slum area) dikota besar yang
mempunyai sanitasi lingkungan buruk, khususnya tempat anak balita
tumbuh
b) Didaerah pedesaan anak berdefekasi dekat rumah dan orang dewasa
dipinggir kali, diladang dan perkebunan tempat bekerja
c) Penggunaan tinja yang mengandung telur cacing untuk pupuk dikebun
sayuran
d) Pengolahan tanah pertanian/perkebunan dan pertambangan dengan
tangan dan kaki telanjang, tidak terlindungi (Sutanto et al, 2008).
6) Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui
beberapa jalan, yakni:

Laporan Penelitian

Page 21

a)

Adanya faktor-faktor lingkungan yang lansung dapat menimbulkan


kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas beracun, radiasi, bendabenda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan

b)

Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress

c)

Karena berkerumun dalam satu tempat yang relative sempit maka


dapat terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja

d)

Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan


pekerjaan (Notoatmodjo, 2007).

7) Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikanpenyelidikan epidemiologi.Angka-angka kesakitan maupun kematian
didalam hampir semua keadaan menunjukan hubungan dengan umur
(Notoatmodjo, 2007). Penyakit cacingan ini banyak diderita oleh anakanak yang belum begitu tahu cara memelihara kebersihan dan kesehatan.
Misalnya mungkin saja diidapi oleh orang dewasa juga karena faktor
kurang memelihara kebersihan (Saydam, 2011).

3. Cara Pencegahan Penyakit Kecacingan


a. Ascaris lumbricoides
1) Memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menggunakan
fasilitas jamban yang memenuhi syarat kesehatan

Laporan Penelitian

Page 22

2) Sediakan fasilitas yang cukup memadai untuk pembuangan kotoran


yang layak dan cegah kontaminasi tanah pada daerah yang
berdekatan langsung dengan rumah
3) Didaerah pedesaan buatlah jamban umum yang konstruksinya
sedemikian rupa sehingga dapat mencegah penyebaran telur
Ascaris melalui aliran air, angin dan lain-lain. Kompos yang dibuat
dari kotoran manusia untuk digunakan sebagai pupuk kemungkinan
tidak membunuh semua telur
4) Dorong kebiasaan berperilaku hiegienis pada anak-anak, misalnya
ajarkan mereka untuk mencuci tangan sebelum makan dan sesudah
makan
5) Didaerah endemis, jaga agar makanan selalu ditutup supaya tidak
terkena debu dan kotoran. Makan yang telah jatuh ke lantai jangan
dimakan kecuali telah dicuci atau dipanaskan (Kandun, 2009).
b. Trichuris trichiura
1) Beri penyuluhan kesehatan kepada semua anggota keluarga,
terutama anak-anak mengenai manfaat penggunaan jamban
2) Sediakan fasilitas jamban yang cukup untuk pembuangan kotoran
3) Mendorong kebiasaan yang hiegienis, perilaku hidup bersih dan
sehat, terutama membiasakan mencuci tangan sebelum makan,
cucilah sayur-sayuran, buah-buahan dan bahan makanan yang
lainnya sebaik-baiknya sebelum dikonsumsi, untuk menghindari
tertelannya tanah dan debu yang mencemari (Kandun, 2009).

Laporan Penelitian

Page 23

c. Hookworm (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)


1) Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya tanah yang
tercemar oleh feses manusia, kotoran kucing dan kotoran anjing dan
tentang upaya pencegahan yang harus dilakukan seperti memakai
sepatu didaerah endemis
2) Lakukan

pencegahan

membangun
pedesaan.

sistem

pencemaran
pembuangan

Pemupukan

tanaman

terhadap
jamban
dengan

tanah
umum

tinja

dan

dengan
didaerah
sistem

pembuangan air limbah yang buruk sangat berbahaya


3) Lakukan pemeriksaan dan pengobtan terhadap penduduk yang
pindah dari daerah endemis ke daerah non-endemis, khususnya
mereka yang bekerja tanpa menggunakan sepatu pada sector
pertambangan atau sektor pertanian (Kandun, 2009).

Laporan Penelitian

Page 24

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode penelitian
1. Paradigma penelitian
Penyakit cacingan adalah penyakit cacingan usus yang ditularkan
melalui tanah atau sering disebut Soil TransmittedHelminths (STHs)
yang sering dijumpai pada anak usia Sekolah Dasar.Pada usia ini anak
masih sering kontak dengan tanah yang merupakan reservoir penyakit
kecacingan. Ada tiga jenis cacing terpenting adalah cacing gelang
(Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing
tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) (Depkes RI,
2004).
Dalam konteks epidemiologi penyakit kecacingan terjadi karena
adanya interaksi faktor lingkungan, faktor host, dan faktor agent..Faktor
lingkungan meliputi: penyediaan air bersih dan kepemilikan jamban
(Notoadmodjo, 2007). Sedangkan faktor host diantaranya higiene
personal meliputi: kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan memakai alas
kaki/sandal, kebiasaan memotong kuku, kebiasaan mengkonsumsikan
makanan mentah (Sutanto et al, 2008).Faktor agent melibatkan tiga jenis
klasifikasi cacing.
Frekuensi

penyakit

kecacingan

disuatu

daerah

cenderung

mengalami peningkatan baik angka insidens rate maupun prevalens te.

Laporan Penelitian

Page 25

Indikator tersebut merupakan masalah kesehatan masyarakat yang


harus dikendalikan. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti membuat
kerangka penelitian sebagai berikut:

Faktor Lingkungan
Kejadian kecacingan
pada Kelompok
Pemulung
Higiene Personal

Gambar 3.1: Kerangka Konsep Penelitian

2. Rancangan penelitian
Rancangan atau jenis penelitian adalah sesuatu yang sangat
penting dalam penelitian, yang bisa mempengaruhi akurasi suatu hasil
(Nursalam, 2003).Metode penelitian yang digunakan adalahmetode
penelitian survei analitikjenis kasus kontrol yaitu suatu metode penelitian
yang

dilakukan

dengan

tujuan

untuk

menganalisis

faktor

risiko

berdasarkan kelompok kasus dan kontrol (Budiman, 2011).


Alasan peneliti menggunakan studi kasus kontrol adalah peneliti
melakukan identifikasi kelompok kasus terlebih dahulu selanjutnya
mengidentifikasi kelompok kontrol. Kemudian secara retrospektif peneliti
mengidentifikasi faktor risiko kejadian penyakit cacingan.

Laporan Penelitian

Page 26

3. Hipotesis statistik
Hipotesis statistik yang akan diuji dalam penelitian ini terdiri dari
dua kelompok yaitu uji model regresi secara simultan dan secara parsial.
Uji model secara simultan adalah untuk melihat apakah variabel-variabel
independen secara keseluruhan memberikan peran terhadap variabilitas
variabel dependen, sedangkan uji secara parsial untuk melihat peran
masing-masing

variabel

independen

secara

mandiri

dengan

memperlakukan variabel lainnya konstan. Rumusan hipotesis statistiknya


adalah :
a. Uji regresi secara bersama-sama (simultan)
Hipotesis 1 :
H0

: 1 = 2 = 0,

H1

: 1 0 atau 2 0,

Jika H 0 ditolak, maka perlu dicari variabel bebas X mana saja yang
berpengaruh signifikan terhadap Y
b. Uji regresi secara parsial
Hipotesis 2 :
H 0 : 2 = 0 vs H 1 : 2 0
Hipotesis 3 :
H 0 : 1 = 0 vs H 1 : 1 0

Laporan Penelitian

Page 27

4. Variabel penelitian
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki
oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang
dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2010). Variabel penelitian ini
terdiri dari variabel terikat dan variabel bebas yaitu:
a. Variabel bebas (Independent)
Variabel bebas (Independent) yaitu variabel perlakuan untuk
diketahui hubungannya terhadap variabel terikat (Notoatmodjo,
2010).Variabel independent dalam penelitian ini adalah faktor
lingkungan dan higiene personal.
b. Variabel terikat (dependent)
Variabel terikat (dependent) yaitu variabel yang timbul dan
dapat dipengaruhi variabel bebas (Notoatmodjo, 2010).Variabel
dependent dalam penelitian ini adalah kejadian kecacingan pada
kelompok pemulung.

5. Definisi operasional
Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang
dimaksud,

atau

tentang

apa

yang

diukur

oleh

variabel

yang

bersangkutan. Definisi operasional ini penting dan diperlukan agar


pengukuran variabel atau pengumpulan data (variabel) itu konsisten agar
sumber data (responden) yang satu dengan responden yang lain seperti
terlihat pada tabel berikut ini:

Laporan Penelitian

Page 28

Tabel 3.1 Definisi operasional dan Cara pengukurannya


No

Vaiabel

Kejadian
kecacingan

Faktor
lingkungan

higiene
personal

Laporan Penelitian

Definisi
konseptual
Cacingan
adalah segala
macam
cacing yang
ternyata
hidup parasit
dalam
lambung
manusia
(Saydam,
2011).

Definisi
operasional
Cacingan
adalah
penyakit yang
ditularkan
melalui tanah
pada kelompok
pemulung
di
TPK Sarimukti
Kecamatan
Cipatat.

Alat
ukur
Uji
labolato
rium

Faktor
lingkungan,ba
ik lingkungan
fisik, biologis
maupun
lingkungan
sosial
(Notoatmodjo,
2007).

Kepemilikan
jamban dan
penyediaan
air
bersih
seperti pada
kelompok
pemulung
diTPK
Sarimukti
Kecamatan
Cipatat.

Wawan
cara

Kebiasaan
mencuci
tangan,
memperhatika
n kebersihan
kuku,
mengkonsumsi
makan
mentah,
memakai alas
kaki,
pada
pemulung
di
TPK Sarimukti
Kecamatan
Cipatat.

Wawan
cara

kebersihan
seseorang
adalah suatu
tindakan
untuk
memelihara
kebersihan
dan
kesehatan
seseorang
untuk
kesejahteraan
fisik
dan
psikis
(http://kepera
watan-agung.
Bl
ogspot.com/)

Kategori

Skala

0=kecacin
gan

Nomin
al

1=tidak
kecacinga
n

0=Buruk,ji
kapertany
aan no 13
salah
satu atau
seluruhny
a dijawab
tidak

Ordinal

1=Baik,
jika
seluruh
pertanyaa
n no 1-3
dijawab
ya
0= Buruk,
jika
pertanyaa
n no 4-12
salah
satu atau
seluruhny
a dijawab
tidak

Ordinal

1= Baik,
jika
seluruh
pertanyaa
n no 4-12
dijawab
ya

Page 29

B. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi
Populasi menurut Arikunto (2010) adalah keseluruhan subjek
penelitian. Adapun pendapat lain, populasi adalah subjek yang
memenuhi criteria (misalnya manusia, klien) yang telah memenuhi criteria
yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008). Populasi dalam penelitian ini
adalah para pemulung yang berada di TPK Sarimukti Kecamatan Cipata
yang menderita penyakit kecacingan.

2. Sampel
Menurut Notoatmodjo (2010) sampel adalah objek yang diteliti
dan dianggap mewakili seluruh populasi. Sedangkan menurut Arikunto
(2010) sampel adalah sebagian atau mewakili populasi yang diteliti.
Penelitian ini menggunakan total sampling yaitu dengan cara kelompok
yang menderita penyakit cacingan dijadikan kelompok kasus dan
seluruhnya menjadi responden dalam penelitian ini. Kelompok kontrol
ditentukan oleh peneliti dengan teknik pengambilan sampel Purposive
Sampling berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh peneliti yaitu
berjumlah 15 responden.

Laporan Penelitian

Page 30

C. Pengumpulan Data
1. Teknik pengumpulan data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh
peneliti untuk mengumpulkan data (Arikunto, 2010). Teknik pengumpulan
data yang diperoleh dari penelitian ini berupa:
a. Kuesioner: melalui pertanyaan mengenai kondisi lingkungan dan
higiene personal.
b. Uji laboratorium yang dilakukan di STIKES A. Yani Cimahi untuk
mengetahui adanya penyakit kejadian kecacingan.
Metode pemeriksaan labolatorium yang dipilih dalam penelitian ini
adalah, metode pemeriksaan telur cacing secara pengapungan cacing
dengan NaCl jenuh atau flotasi dan dengan cara metode Natif.
Alat dan bahan untuk pemeriksaan:Peralatan yang digunakan dalam
pemeriksaan telur cacing teknik pengapungan dengan larutan NaCl
jenuh ini diantaranya:
1)

Tabung reaksi

2)

Rak tabung reaksi

3)

Gelas piala kimia

4)

Batang aplikator

5)

Kaca objek

6)

Kaca penutup

7)

Mikroskop

Prosedur kerja:

Laporan Penelitian

Page 31

1)

Disiapkan seluruh alat dan bahan

2)

Diambil sampel pemeriksaan feses sekitar 5 gr, dimasukan


kedalam tabung reaksi

3)

Tambahkan Nacl jenuh hingga 1/3 volume tabung reaksi, lalu


lakukan pengadukan hingga merata

4)

Buanglah kotoran besar yang terdapat dalam suspensi sampel


tersebut, lalu letakan tabung reaksi pada rak tabung

5)

Tambahkan lagi larutan NaCl jenuh hingga hampir mencapai bibir


tabung reaksi, lakukan pengadukan kembali

6)

Tambahkan larutan NaCl hingga penuh (permukaan cairan pada


bibir tabung reaksi mencembung)

7)

Letakan kaca penutup diatas bibir tabung reaksi, diamkan selama


45 menit

8)

Ambil kaca penutup, lalu letakan pada kaca objek sedemikian


rupa dan lakukan pengamatan secara mikroskopis dengan
pembesaran lemah (10x lensa objek)

Peralatan yang digunakan dalam pemeriksaan telur cacing teknik


pemeriksaan secara Natif ini dilakukan sebagai berikut:
1) Gelas objek
2) Cairan NaCl 0,9% atau eosin 2%
3) Lidi
4) Mikroskop
Prosedur kerja:

Laporan Penelitian

Page 32

1) Pada gelas objek bersih, teteskan 1-2 tetes NaCl 0,9% atau eosin
2%
2) Ambil feses sedikit dengan lidi, ditaruh pada larutan tersebut
3) Dengan lidi, ratakan/larutkan, kemudian ditutup dengan gelas
penutup
4) Periksa dibawah mikroskop, pembesaran 100 kali.
2. Instrument penelitian
Instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan
oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah
dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis
sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2006). Instrumen penelitian yang
akan digunakan diantaranya kuesioner, peralatan uji laboratorium,
komputer, dan ATK lainnya.

D. Pengolahan dan Analisa Data


1. Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan dengan tahap sebagai berikut:
a. Editing
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isi formulir
apakah jawaban yang tercantum dalam formulir sudah sesuai. Dalam
hal ini peneliti akan mewawancarai, memberikan kuesioner dan akan
melakukan

pemeriksaan

labolatorium

dari

hasil

pemeriksaan

labolatorium tersebut, secara langsung untuk mendapatkan informasi

Laporan Penelitian

Page 33

yang jelas, sehingga hal ini mengurangi tingkat kesalahanan


ketidakpahaman responden dalam menjawab pertanyaan.
b. Cooding
Tahap ini merupakan tahap merubah data yang dikumpulkan
kedalam bentuk yang lebih sederhana dengan cara pengkodean.
Kegunaan cooding adalah untuk mempermudah kita pada saat
analisis data dan juga pada saat entry data.
c. Pemindahan data
Pemindahan data dilakukan dengan cara data yang telah
diberi kode dimasukan kedalam master tabel. Pemindahan data
dilakukan setelah proses cooding. Dalam penelitian ini, tahap
pemindahan data akan dilakukan kedalam program komputerisasi.
d. Tabulating
Pindahan data dari master tabel kedalam bentuk tabel
distribusi frekuensi. Hal ini akan dilakukan peneliti setelah melakukan
analisa data menggunakan program komputerisasi.
e. Cleaning
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah
dimasukan, dilakukan bila terdapat kesalahan dan memasukan data
yaitu, dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang
diteliti dan menilai faktor kelogisannya.

Laporan Penelitian

Page 34

E. Analisa data
Analisis ini menggunakan analisis jalur untuk melihat bagaimana
pengaruh antara variabel independen dengan dependen dalam hal ini
pengaruh faktor lingkungan(X 1 ) dan higiene personal (X 2 )terhadap kejadian
penyakit cacingan (Y), maka digunakan analisis jalur seperti yang dianjurkan
oleh Soedibjo (2005). Analisis jalur digunakan untuk melihat dan menguji
model hubungan antar variabel yang berbentuk sebab akibat (kausal).
Sedangkan analisis regresi baik sederhana maupun berganda hanya dapat
menjelaskan hubungan fungsional dan korelasional bukan hubungan kausal.
Penamaan ini didasarkan pada alasan bahwa analisis jalur memungkinkan pengguna dapat menguji proposisi teoritis mengenai hubungan
sebab dan akibat tanpa memanipulasi variabel-variabel. Memanipulasi
variabel maksudnya ialah memberikan perlakuan (treatment) terhadap
variabel-variabel tertentu dalam pengukurannya. Asurnsi dasar model ini
ialah beberapa variabel sebenamya mempunyai hubungan yang sangat
dekat satu dengan lainnya.
Terdapat beberapa definisi mengenai analisis jalur ini (Jonathan, 2007),
di antaranya: "Analisis jalur ialah suatu teknik untuk menganalisis hubungan
sebab akibat yang tejadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya
mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya secara langsung, tetapi juga
secara tidak langsung" (Robert D. Rutherford, 1993). Sementara itu, definisi
lain mengatakan "Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk
regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat

Laporan Penelitian

Page 35

kepentingan (magnitude) dan signifikansi (significance) hubungan sebab


akibat hipotetikal dalam seperangkat variabel." (Paul Webley, 1997). David
Garson dari North Carolina State University mendefinisikan analisis jalur
sebagai

"Model

perluasan

regresi

yang

digunakan

untuk

menguji

keselarasan matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubungan sebab
akibat yang dibandingkan oleh peneliti.
Berbeda dengan analisis regresi, analisis jalur ini menggunakan model
struktural. Dalam analisis jalur, variabel yang dipengaruhi (terikat) disebut
sebagai variabel endogen (variabel akibat), sedangkan variabel yang
mempengaruhi (bebas) atau variabel penyebab disebut sebagai variabel
eksogen. Di samping itu ada variabel lain yang disebut sebagai variabel
gangguan (ada juga yang menyebutnya variabel residu atau komponen
acak). Variabel gangguan ini berisikan penyebab dari sumber-sumber lain
selain variabel eksogen yang mungkin belum teridentifikasi oleh teori.
Pada penelitian ini model analisis jalur adalah model persamaan satu
jalur dengan bentuk :
Gambar 3.2.
Model Persamaan Satu Jalur
X1

pyx1

rx1x2

X2

Laporan Penelitian

pyx2

Page 36

Model struktural dari Gambar 1.3 dituliskan sebagai :

Y = p yx1 X 1 + p yx 2 X 2 +
di mana :
p yx1 , p yx2

= koefisien jalur

r x1x2

= korelasi antara X 1 dan X 2

= variabel residu (gangguan).

X1

= variabel lingkungan (variabel eksogen)

X2

= variabel personal higene(variabel eksogen)

= variabel Kejadian kecacingan(variabel endogen)

Di sini kita hanya memerlukan satu persamaan. Karena persamaan


mempunyai dua variabel penyebab (X 1 dan X 2 ) yang menghasilkan satu
variabel akibat (Y), maka kita dapat cirikan bahwa kedua variabel penyebab
ini tidak berkorelasi dengan residu ( r x1 = r x2 = 0 ). Model tidak
menyatakan apa-apa tentang korelasi antara X 1 dan X 2 , oleh karena itu lebih
baik apabila kita anggap bahwa ada korelasi antara keduanya dengan
menggambarkan garis lengkung dengan dua anak panah.
Dari model tersebut bisa dihitung (Jonathan, 2007), berikut ini:
Analisis korelasi dilakukan untuk mencari besarnya korelasi antar
variabel eksogen (r x1x2 ) yaitu korelasi antara X 1 (lingkungan) dan X 2
(personal higiene). Untuk analisis ini karena datanya dikonversi ke interval

Laporan Penelitian

Page 37

menggunakan

Korelasi

Pearson,

analisisnya

menggunakan

bantuan

komputer :

rxy =

n
n
n

n xi y i xi y1
i =1
i =1
i =1

2
2
n
n
n

2
2
n xi x i n y i y i

i =1

i =1

i =1
i =1

Dimana : X = X 1 (faktor lingkungan) dan Y = X 2 personal higiene)


r xy

= Koefisien korelasi antara X dan Y

= Banyaknya responden

xi

= Skor yang diperoleh subyek dari seluruh item

yi

= Skor total yang diperoleh dari seluruh item

x i

= Jumlah skor dalam distribusi X

y i

= Jumlah skor dalam distribusi Y

x i 2 = Jumlah kuadrat masing-masing distribusi X


y i 2 = Jumlah kuadrat masing-masing Y
Untuk melihat keeratan hubungan, maka digunakan kriteria
Champion sebagaimana dikutip oleh Soedibjo (2005) sebagai berikut:

Laporan Penelitian

Page 38

Tabel 3.2.
Kriteria Derajat Keeratan Koefisien Korelasi Champion
Koefisien Korelasi

Interpretasi Tingkat Hubungan

0.00 0.25

Tidak ada hubungan atau hubungan yang sangat


lemah

0.26 - 0.50

Hubungan cukup lemah

0.51 0.75

Hubungan yang cukup kuat

0.76 1.00

Hubungan sangat kuat

Untuk mengetahui pengaruh secara simultan dalam menjawab


hipotesis penelitian menggunakan uji F dan uji t, yaitu berikut ini:

F=

MSR
MSE

di mana :

MSR =

SSR
p

dan

MSE =

SSE
(n p 1)

Untuk mengetahui pengaruh secara parsial menggunakan uji


koefisien regresi secara satu persatu dan untuk menguji hipotesis
digunakan statistik uji t yang berbentuk :

t=

bi
sbi

di mana :
b i adalah koefisien regresi sampel ke-i (i = 1, 2, ..., 5) dan
s bi adalah kekeliruan baku taksiran dari koefisien regresi.

Laporan Penelitian

Page 39

F. Etika Penelitian
Sebelum
rekomendasi

melakukan

dari

penelitian,

institusinya

atau

peneliti

pihak

lain

mendapatkan
dengan

adanya

mengajukan

permohonan izin kepada tempat penelitian dengan cara memberikan surat


izin untuk penelitian, informasi berupa topik penelitian, identitas peneliti,
tujuan dan manfaat penelitian. Selain mendapatkan persetujuan barulah
melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
1) Informed concent
Memberi informasi tentang tujuan penelitian baik lisan maupun tulisan
berupa lembar persetujuan responden yang akan diteliti disertai judul
penelitian dan manfaat penelitian. Bila responden menolak maka peneliti
tidak dapat memaksa dan menghormati hak-hak responden.
2) Anonymity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mencantumkan nama
responden pada kuesioner tetapi hanya inisialnya.
3) Privacy
Identitas responden tidak akan diketahui oleh orang lain dan bahkan oleh
peneliti itu sendiri, sehingga responden dapat secara bebas untuk
menentukan jawaban dari kuesioner tanpa takut oleh intimidasi dari
pihak.
4) Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya kelompok data
tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

Laporan Penelitian

Page 40

G. Lokasi dan Waktu Pengambilan Data


1)

Penelitian dilakukan di TPK Sarimukti Kecamatan Cipatat.

2)

Waktu pelaksanaan penelitian ini rencananya dilakukan pada bulan


September s.d Desember 2012

Laporan Penelitian

Page 41

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisa Univariat
a. Gambaran Faktor Lingkungan Pada Kelompok Pemulung di TPA
Sarimukti Kecamatan Cipatat
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Gambaran Faktor Lingkungan
Pada Kelompok Pemulung di TPA Sarimukti
Kecamatan Cipatat.
Faktor Lingkungan

Frekuensi

Persentase (%)

Buruk
Baik

20
10

66,7
33,3

Total

30

100

Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa sebagian besar dari


responden memiliki faktor lingkungan yang buruk dengan jumlah 20
responden (67,7%).
b. Gambaran Higiene Personal Pada Kelompok Pemulung di TPA
Sarimukti Kecamatan Cipatat
Tabel 4.2 Distribusi Gambaran Higiene Personal Pada Kelompok
Pemulung di TPA Sarimukti Kecamatan Cipatat.
Higiene Personal

Frekuensi

Persentase (%)

Buruk
Baik

18
12

60,0
40,0

Total

34

100

Laporan Penelitian

Page 41

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan bahwa sebagian besar dari


responden memiliki higiene personal yang buruk dengan jumlah 20
responden (60,0%).
c. Gambaran Kejadian Kecacingan Pada Kelompok Pemulung di
TPA Sarimukti Kecamatan Cipatat
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kejadian Kecacingan Pada
Kelompok Pemulung di TPA Sarimukti Kecamatan
Cipatat.
Kejadian Kecacingan

Frekuensi

Persentase (%)

Kecacingan

15

50,0

Tidak Kecacingan

15

50,0

Total

30

100

Berdasarkan

tabel

4.4

didapatkan

bahwa

setengah

dari

responden dinyatakan positif kecacingan dengan jumlah 15 (50,0%).


2. Analisis Jalur
Untuk melihat bagaimana pengaruh antara variabel independen dengan
dependen dalam hal ini pengaruh Kepemimpinan (X 1 ) dan Motivasi (X 2 )
terhadap Kinerja (Y), maka digunakan analisis jalur. Pada penelitian ini
model analisis jalur adalah model persamaan satu jalur dengan bentuk :

Laporan Penelitian

Page 42

Gambar 4.4
Model Persamaan Satu Jalur

X1

pyx1
Y

rx1x2
X2

pyx2

Model struktural dari Gambar 4.4 dituliskan sebagai :

Y = p yx1 X 1 + p yx 2 X 2 +
di mana :
p yx1 , p yx2

= koefisien jalur

r x1x2

= korelasi antara X 1 dan X 2

= variabel residu (gangguan).

X1

= variabel lingkungan (variabel eksogen)

X2

= variabel personal hiegiene(variabel eksogen)

= variabel kejadian kecacingan(variabel endogen)

Dari model di atas analisis jalur ini bisa dihitung (Jonathan, 2007) melalui:
a.

Analisis Korelasi
Analisis korelasi dilakukan untuk mencari besarnya korelasi antar
variabel eksogen (r x1x2 ) yaitu korelasi antara X 1 (faktor lingkungan) dan
X 2 (personal hiegiene). Untuk analisis ini menggunakan Korelasi
Pearsondidapat Koefisien korelasi (r xy ) sebesar 0,433, dengan nilai
signifikansinya sebesar 0,017. Hasil tersebut menunjukkan adanya
korelasi antara faktor lingkungan dan personal hiegine karena nilai

Laporan Penelitian

Page 43

korelasi dalam rentang 0,25 0,50maka korelasi bersifat cukup lemah


(Jonathan, 2007).

b.

Analisis Regresi
Analisis regresi dilakukan untuk :
1) Mengetahui seberapa besar pengaruh variabel eksogen (X 1 dan X 2 )
terhadap variabel endogen (Y).
Besarnya pengaruh faktor lingkungan (X1) dan personal hiegiene (X2)
terhadap kejadian kecacingan (Y) dengan cara menghitung koefisien
determinasi (KD) setelah mengetahui nilai R2, dengan rumus koefisien
determinasi (KD) sebagai berikut :
KD = R2 x 100%
Dengan menggunakan software SPSS versi 15 (hasil perhitungan
pada lampiran ) didapat :
Tabel 4.16 Nilai R Square

Model Summary
Model
1

R
,583a

R Square
,340

Adjusted
R Square
,291

Std. Error of
the Estimate
,428

a. Predictors: (Constant), HIGIENEPERSONAL,


FAKTORLINGKUNGAN

Laporan Penelitian

Page 44

Besarnya angka Adjusted R square (R2) adalah 0,291, maka koefisien


determinasi (KD) sebesar 0,291 x 100% = 29,1%.
Hal ini berarti pengaruh faktor lingkungan (X1) dan persoanl hiegiene
(X2) terhadap kejadian kecacingan (Y) 29,1%, sedangkan sisanya 70,9%
dipengaruhi faktor-faktor lain.
2) Mengetahui signifikansi model melalui uji hipotesis yaitu uji F dan uji t :
Uji F adalah untuk mengetahui apakah variabel eksogen (X 1 dan X 2 )
berpengaruh terhadap variabel endogen (Y), yaitu membandingkan
besarnya angka F hitung dengan F tabel. Dengan hipotesisnya sebagai
berikut :
H 0 : tidak ada satupun dari variabel eksogen X 1 (faktor lingkungan) dan
X 2 (personal hiegene), yang mempengaruhi variabel endogen Y
(kejadian kecacingan) secara signifikan.
H 1 : ada minimal satu variabel eksogen X yang berpengaruhi terhadap
variabel endogen Y secara signifikan.
Kriteria keputusan uji hipotesis :
Tolak H 0 jika Fhitung >Ftabel (F (),(1, 2) ) atau nilai significant > 5%
Terima H 0 jika Fhitung <Ftabel (F (),(1, 2) ) atau nilai significant < 5%
Dimana : = 5% (0,05)

Laporan Penelitian

Page 45

1 = 2 (jumlah variabel 1 = 3 1)
2 = 52 (jumlah responden 3 = 55 3)
Dengan menggunakan software SPSS versi 15 (hasil perhitungan pada
lampiran) didapat
Tabel 4.18 Hasil Uji F

ANOVAb
Model
1

Regres sion
Residual
Total

Sum of
Squares
2,550
4,950
7,500

df
2
27
29

Mean Square
1,275
,183

F
6,956

Sig.
,004a

a. Predic tors: (Constant), HIGIENEPERSONAL, FAKTORLINGKUNGAN


b. Dependent Variable: KEJADIANKECACINGAN

Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai F hitung = 6,956


melebihi F tabel (= 3,175) untuk derajat bebas pembilang 2 dan derajat
bebas penyebut 27 (27 2 1 = 24) dan level signifikansi 5%. Dan nilai
Uji F adalah 0,004. Selain itu F hitung lebih besar dari F tabel, maka
variabel-variabel bebas (X 1 & X 2 ) secara simultan mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap variabel terikat Y. Hal ini memiliki makna bahwa
variabel-variabel faktor lingkungan dan personal higiene secara simultan
(bersama-sama) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kejadian
kecacingan.

Laporan Penelitian

Page 46

Sehingga dengan demikian :


Hipotesis yang penulis ajukan terbukti, yaitu faktor lingkungan dan
personal hiegene berpengaruh terhadap kejadian kecacingan.

B. Pembahasan
1.

Faktor Lingkungan Pada kelompok Pemulung di TPA Sarimukti


Kecamatan Cipatat
Dari hasil penelitian berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa dari 30
responden, sebagian besar dari responden memiliki faktor lingkungan yang
buruk dengan jumlah 20 (66,7%). Sebagian besar lingkungan responden
belum

lengkap

dengan

penyediaan

air

bersih

dan

kepemilikan

jamban.Lingkungan di TPA Sarimukti memiliki lingkungan yang sangat buruk


merupakan tempat pembuangan akhir sampah yang memang tidak layak
untuk dihuni. Para kelompok pemulung tersebut tidak menghiraukan dan
cenderung tidak peduli dampak yang ditimbulkan.
Dampak kesehatan masyarakat diantaranya timbulnya penyakit
kecacingan. Selain itu daerah tersebutmerupakan daerah perkebunan dan
kondisi tanah subur sehingga menjadi tempat perkembangbiakan telur
cacing. Timbulnya penyakit dapat diintervensi melalui media lingkungan yang
direkayasa agar memenuhi standar kesehatan.
Kusnoputranto (2000) mengatakan penyakit dapat timbul apabila
terjadi gangguan keseimbangan lingkungan yang mencakup beberapa faktor
fisik, biologi, sosial ekonomi. Gangguan keseimbangan ini biasanya

Laporan Penelitian

Page 47

disebabkan oleh adanya perubahan dari satu faktor atau lebih.Faktor


lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologis, social, dan
ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang
berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki
atau dihilangkan (Entjang, 2000).
Faktor lingkungan berperan sangat besar dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, sebaliknya kondisi kesehatan yang buruk termasuk
timbulnya berbagai penyakit menular.Menurut WHO (1986) pentingnya
lingkungan yang sehat telah dibuktikan dengan penyelidikan-penyelidikan di
seluruh dunia dimana didapatkan hasil bahwa, angka kematian (mortality)
yang tinggi serta seringnya terjadi epidemik, terdapat ditempat-tempat
dimana sanitasi lingkungannya buruk, yaitu di tempat-tempat dimana
terdapat banyak lalat, nyamuk, pembuangan kotoran, dan sampah yang tidak
teratur, air rumah tangga yang buruk, perumahan yang terlalu sesak, dan
keadaan sosio ekonomi yang buruk.
Faktor lingkungan yang buruk ini dapat dicegah dan dapat dilakukan
pemberantasan dengan cara memutuskan daur hidup dengan cara: defekasi
di jamban, menjaga kebersihan, cukup air bersih di jamban, memberikan
pengobatan masal, melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai
sanitasi lingkungan yang baik dengan cara menghindari infeksi cacing
(Sutanto et al, 2008).
Pengalaman membuktikan, bahwa ketentuan yang tertera diatas
sangat

Laporan Penelitian

sulit

diterapkan

disuatu

masyarakat

yang

sedang

Page 48

berkembang.Pengertian sanitasi lingkungan yang baik sulit dikembangkan


dalam masyarakat yang mempunyai keadaan sosio ekonomi yang rendah
dengan keadaan seperti rumah berhimpitan di daerah kumuh yang
mempunyai sanitasi yang buruk, penggunaaan tinja yang mengandung telur
cacing untuk pupuk, bekerja dengan tangan dan kaki tanpa alas kaki, tidak
terlindungi.
Dari paparan diatas maka sangat diperlukan perhatian untuk para
kelompok pemulung tersebut agar dapat terjadi perubahan dengan cara
mengarahkan dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya kesehatan
lingkungan dan pentingnya kesadaran diri akan kesehatan.

2.

Higiene

Personal

pada

Kelompok

Pemulung

di

TPA Sarimukti

Kecamatan Cipatat
Dari hasil penelitian pada tabel 4.2 diatas menunjukan bahwa dari 34
responden, sebagian besar dari responden memiliki higiene personal
buruk dengan jumlah 21 (61,8%). Sebagian besar dari responden memiliki
higiene personal yang buruk. Buruknya personal higiene seseorang
menyebabkan kecacingan yang sering dipengaruhi oleh perilaku tidak baik
seperti kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, kebiasaan
memakai

alas

kaki,

kebiasaan

memotong

kuku

dan

kebiasaan

mengkonsumsi makanan mentah.


Kata higiene digunakan untuk menggambarkan penerapan prinsipprinsip kebersihan untuk perlindungan kesehatan manusia.Manusia

Laporan Penelitian

Page 49

merupakan sumber potensial mikroorganisme yang dapat menyebabkan


penyakit pada manusia.Kebersihan diri adalah suatu usaha individu dalam
menjaga kesehatan memalui kebersihan individu sebagai cara untuk
mengendalikan kondisi lingkungan terhadap kesehatan.
Kebiasaan hidup bersih harus dimulai dari diri pribadi karena
seorang yang sudah membiasakan dirinya selalu bersih, tidak akan
senang melihat lingkungan yang kotor. Oleh karena itu seseorang yang
selalu menjaga kebersihan diri dengan sendirinya akan berusaha menjaga
kebersihan lingkungan dimanapun dia berada. Kebersihan atau kesehatan
lingkungan

merupakan

faktor

utama

dalam

mewujudkan

kesehatan.Artinya kesehatan tidak terlepas dari keadaan lingkungaan.


Seseorang tidak akan merasa nyaman bila berada di lingkungan kotor,
yang dapat menularkan penyakit. Karena itu pengelolaan lingkungan
merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan agar dapat hidup sehat.
Selain faktor lingkungan, praktek kebersihan diri masing-masing
pemulungdapat menjadi faktor risiko terjadinya kejadian Kecacingan jika
pemulung tidak melaksanakannya dengan baik antara lain, kebiasaan
mencuci

tangan

menggunakan

sabun,

kebiasaan

memakai

alas

kaki/sandal, kebiasaan memotong kuku, kebiasaan memakan makanan


mentah.
Hal ini didukung oleh Ratna (2006) yang melakukan penelitian
kepada pemulung bahwa higiene personal erat kaitannya dengan higiene
personal.

Laporan Penelitian

Page 50

3. Kejadian Kecacingan pada Kelompok Pemulung di TPA Sarimukti


Kecamatan Cipatat
Dari hasil penelitian, tabel 4.4 menunjukan bahwa dari 34
responden, bahwa hampir setengah dari responden mengalami kejadian
kecacingan 15 (44,1%). Uji laboratorium yang dilakukan di laboratorium
Parasitologi STIkes Jenderal Achmad Yani cimahi dapat diketahui
bahwa yang mengalami kejadian kecacingan adalah sebanyak 15
(44,1%). Hal ini berkaitan dengan faktor lingkungan, higiene personal
dan kebiasaan minum obat, dari 34 pemulung yang diwawancarai
mereka cenderung tidak peduli akan penyakit kecacingan ini hal ini
terjadi karena mereka tidak mengetahui akan dampak dari penyakit
kecacingan ini.
Menurut Depkes RI (2004) penyakit cacingan adalah penyakit
cacing usus yang ditularkan melalui tanah ataun sering disebut soil
transmitted helminthes. Dampak dari penyakit kecacingan ini dapat
mengakibatkan terjadinya anemia, penurunan kognitif, daya tahan tubuh
berkurang serta penurunan prestasi kerja (Sutanto et al, 2008).
Kebiasaan defekasi ditanah dan pemakaian tinja penting dalam
penyebaran kejadian kecacingan. Untuk seorang pemulung yang
memang pekerjaannya berhubungan langsung dengan tanah sangat
beresiko mengalami kejadian kecacingan, ditambah lagi dari segi
perilaku responden yang cenderung tidak memperhatikan kebersihan

Laporan Penelitian

Page 51

diri seperti memakai alas kaki ketika bekerja hal ini sangat perlu
diperhatikan oleh para pemulung karena untuk kejadian kecacingan
sendiri bukan hanya dapat ditularkan melalui makanan saja tetapi
melalui telapak kaki juga dapat ditularkan, hal ini yang kadang-kadang
masih tidak dipahami oleh kelompok pemulung tersebut karena para
kelompok pemulung tersebut selalu beranggapan bahwa penyakit
kecacingan hanya bisa ditularkan melalui makanan saja.
Hal ini didukung oleh penelitian Ayu (2003) yang menyatakan
bahwa kejadian kecacingan berhubungan dengan penggunaan alas
kaki.Penggunaaan alas kaki merupakan salah satu penyebab terjadinya
kejadian kecacingan karena jika dilihat secara luas kejadian kecacingan
tidak hanya berhubungan dengan penggunaan alas kaki saja tetapi
dapat dilihat pula secara luas yaitu dari higiene personal dan dari faktor
lingkungan.
Berdasarkan data diatas didapatkan bahwa sebagian besar
pemulung mengalami kejadian kecacingan. Hal ini dimungkinkan karena
dari waktu ke waktu semakin berkurangnya pengetahuan masyarakat
akan kesehatan dan tidak adanya penyuluhan dan pengobatan oleh
tenaga kesehatan.

Laporan Penelitian

Page 52

4. Kajian Epidemiologi (Faktor Lingkungan dan Higiene Personal)


dengan Kejadian Kecacingan
Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang ikut berperan
pada kejadian kecacingan.Faktor lingkungan seperti tanah, air, tempat
pembuangan feses tercemar telur atau larva cacing serta berakumulasi
dengan perilaku manusia yang tidak sehat sehingga menimbulkan
penyakit kecacingan (Sutanto et al, 2008).Faktor lainnya adalah kondisi
sanitasi rumah diantaranya penyediaan air bersih dan kepemilikan
jamban, perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik
bahwa peran lingkungan dalam terjadinya penyakit sangat besar.Cara
pandang epidemiologi, penyakit terjadi karena adanya interaksi antara
manusia,

agent

lingkungan,

makanan

dan

minuman

yang

belum

sehinnga

menyebabkan penyakit.
Keadaan

kesehatan

lingkungan

memenuhi

persyaratan sanitasi dapat berakibat timbulnya penyakit-penyakit seperti


malaria, colera, penyakit kulit dan penyakit kecacingan.
Seperti yang telah diuraikan diatas sebelumnya bahwa lingkungan
seperti penyediaan air bersih dan kepemilikan jamban dapat memicu
terjadinya kejadian kecacingan, hal ini diperkuat pula dari hasil penelitian
yang sudah dilakukan oleh peneliti, dari hasil observasi yang dilakukan
oleh peneliti di TPA Sarimukti Kecamatan Cipatat dapat dilihat bahwa di
TPA tersebut hanya memiliki 1 MCK dengan kondisi jamban yang kotor
dan belum memenuhi syarat yang baik dari segi kebersihannya serta

Laporan Penelitian

Page 53

terbatasnya penyediaan sumber air bersih. Kondisi inilah yang sangat


dimungkinkan bahwa faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab
terjadinya kecacingan.
Menurut Notoatmodjo (2007) suatu jamban disebut sehat untuk
daerah pedesaan apabila memenuhi syarat sebagai berikut yaitu, tidak
mengotori

permukaan

tanah

disekeliling

jamban

tersebut,

tidak

mengotori air permukaan sekitarnya, tidak terjangkau oleh serangga


terutama lalat, tidak menimbulkan bau.
Selain syarat sehat untuk jamban menurut (Notoatmodjo, 2007) air
yang sehatpun harus mempunyai persyaratan sebagai berikut, syarat
fisik (tidak berwarna dan tidak berbau), syarat bakteriologis (bebas dari
segala bakteri), syarat kimia (terbebas dari segala zat-zat kimia).
Menurut Didik Sumanto (2010) kejadian kecacingan berhubungan
bermakna dengan kondisi sanitasi lingkungan, namun penelitian yang
dilakukan oleh Didik Sumanto (2010) dilakukan kepada anak SD di Desa
Rejosari Karangawen, Demak.
Aspek pembentukan perilaku pada kelompok pemulung di TPA
Sarimukti Kecamatan Cipatat terutama perilaku hidup bersih dan sehat
sebagian besar masih dalam kategori buruk, namun demikian masih
dijumpai tindakan kebersihan perorangan yang baik hal ini dimungkinkan
karena sudah terbentuknya kesadaran akan kebersihan pada diri
masing-masing.

Laporan Penelitian

Page 54

Infeksi kecacingan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah


satunya yaitu faktor kebersihan perorangan, kebersihan perorangan
khususnya

pada kelompok

pemulung

sangat

penting

mengingat

pekerjaan pemulung sendiri setiap hari berhubungan dengan tanah.Hal


ini terlihat dari hasil penelitian bahwa responden dengan personal higiene
yang buruk mengalami kecacingan lebih banyak dibandingkan dengan
responden yang memiliki higiene personal yang baik.
Buruknya personal higiene seseorang menyebabkan kecacingan
yang sering dipengaruhi oleh perilaku tidak baik seperti kebiasaan
mencuci tangan menggunakan sabun, kebiasaan memakai alas kaki,
kebiasaan memotong kuku dan kebiasaan mengkonsumsi makanan
mentah.
Higiene personal merupakan suatu tindakan untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan
pssikis (http://keperawatan-agung.blogspot.com/diunduh pada tanggal 11
April 2012).Higiene yang baik merupakan syarat yang penting dalam
mencegah dan memutuskan mata rantai penyebaran penyakit menular
seperti penyakit kecacingan.
Ginting. A (2009) dalam penelitiannya yang dilakukan pada anak SD
di Kecamatan Panguruan Kabupaten Samosir menyatakan bahwa
higiene personal mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian
kecacingan namun adanya perbedaan dalam penelitian ini sangat
dimungkinkan karena adanya perbedaan dalam hal pemilihan responden,

Laporan Penelitian

Page 55

Ginting, A (2009) melakukan penelitian kepada anak-anak namun dalam


penelitian ini penelitian dilakukan kepada orang dewasa yaitu kepada
kelompok pemulung. Hal inilah yang sangat dimungkinkan menjadi
penyebab bahwa higiene personal tidak terbukti menjadi salah satu faktor
terjadinya kejadian kecacingan, hal ini disebabkan karena orang dewasa
sudah tahu bagaimana cara menjaga higiene personalnya masingmasing.
Lingkungan dan higiene personal secara statistik ada korelasi
cukup kuat dengan kejadian kecacingan. Bahkan hasil dari analisis jalur
ternyata sebesar 20,9% berpengaruh terhadap kejadian kecacingan.

Laporan Penelitian

Page 56

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti membuat simpulan sebagai
berikut:
1. Hampirsetengahrespondensebesar

66,7%

yang

faktorlingkungannyaburuk
2. Hampirsetengahrespondensebesar 60,0% yang higienepersonalnyaburuk
3. Setengahrespondensebesar50,0% yang mengalamikejadiankecacingan.
4. Sebesar 43,3% lingkungan dan higiene personal secara parsial
berpengaruh terhadap kejadian kecacingan
5. Sebesar 20,9% lingkungan dan hiegine personal secara simultan
berpengaruh terhadapkejadiankecacingan

B. Saran
1. Adanya

rekayasa

lingkungan

pada

kelompok

pemulung

dengan

menyediakan sarana pengolahan lingkungan


2. Adanya penyuluhan secara berkelanjutan dalam memutus mata rantai
kejadian penyakit kecacingan.

Laporan Penelitian

Page 57

Informed Consent
Surat Persetujuan Responden
Bersedia menjadi responden penelitian pada riset dibawah ini:
Judul: Kajian Epidemiologi Lingkungan Penyakit Kecacingan pada Kelompok
Pemulung di TPK Sarimukti Kecamatan Cipatat KKB
Penelitinya: Dr. Budiman, S.Pd., SKM., S.Kep., M.Kes
Demikian surat persetujuan penelitian ini saya buat
Tidak Menyebutkan Nama

Responden-1

Kuesioner Penelitian
Kajian Epidemiologi Lingkungan Penyakit Kecacingan pada Kelompok Pemulung
di TPK Sarimukti Kecamatan Cipatat KBB.

Petunjuk pengisian
a. Isilah pertanyaan ini menurut anda sesuai persepsi anda
b. Pada data responden di isi sesuai kenyataan
c. Pada variabel lingkungan dan personal higiene diberikan tanda (x) pada jawaban
yang anda pilih
d. Setiap satu pertanyaan diisi dengan satu jawaban
e. Jika ada pertanyaan yang kurang jelas mohon saudara menanyakan pada peneliti
f. Periksalah kembali jawaban untuk meyakinkan dan mengecek seluruh jawaban
1.

Data umum responden


No responden :
Jenis kelamin :
Umur
:

2.

Variabel Faktor Lingkungan


Penyediaan sumber air bersih
1. Lihat kondisi air bersih (tidak berbau, tidak berwarna) observasi
a. Tidak
b. Ya
Kepemilikan jamban
2. Apakah ketika anda ke WC memakai alas kaki ?
a. Tidak
b. Ya
3. Lihat kondisi WC bersih atau tidak (observasi) ?
a. Tidak
b. Ya

3.

Variabel Higiene Personal


Kebiasaan mencuci tangan
4. Apakah sebelum makan anda mencuci tangan menggunakan sabun ?
a. Tidak
b. Ya
5. Apakah sesudah makan anda mencuci tangan menggunakan sabun ?
a. Tidak
b. Ya
6. Apakah setelah BAB anda mencuci tangan menggunakan sabun ?
a. Tidak
b. Ya
7. Apakah setelah bekerja anda membersihkan tangan dan kaki menggunakan sabun ?
a. Tidak
b. Ya
Kebiasaan memakai alas kaki
8. Apakah menggunakan alas kaki (sepatu dan sandal) setiap bekerja ?
a. Tidak

b. Ya
9. Apakah menggunakan alas kaki tertutup (observasi )
a. Tidak
b. Ya
Kebiasaan memotong kuku
10. Apakah anda memotong kuku setiap 1 minggu sekali ?
a. Tidak
b. Ya
11. Lihat keadaan kuku bersih dan pendek (observasi)
a. Tidak
b. Ya
Kebiasaan mengkonsumsi makanan mentah
12. Apakah ketika anda mengkonsumsi makan makanan mentah (lalaban) dicuci terlebih
dahulu ?
a. Tidak
b. Ya
Terimakasih, atas peran sertanya untuk menjadi responden dalam penelitian ini

Correlations
Correlations

FAKTORLINGKUNGAN

HIGIENEPERSONAL

FAKTORLIN
GKUNGAN
1

HIGIENEP
ERSONAL
,433*
,017
30
30
,433*
1
,017
30
30

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Frequencies
Statistics

Valid
Mis sing

FAKTORLIN
GKUNGAN
30
0

KEJADIANK
ECACINGAN
30
0

HIGIENEP
ERSONAL
30
0

Frequency Table
FAKTORLINGKUNGAN

Valid

BURUK
BAIK
Total

Frequency
20
10
30

Percent
66,7
33,3
100,0

Valid Percent
66,7
33,3
100,0

Cumulative
Percent
66,7
100,0

KEJADIANKECACINGAN

Valid

KECACINGAN
TIDAKKECACINGAN
Total

Frequency
15
15
30

Percent
50,0
50,0
100,0

Valid Percent
50,0
50,0
100,0

Cumulative
Percent
50,0
100,0

HIGIENEPERSONAL

Valid

BURUK
BAIK
Total

Frequency
18
12
30

Percent
60,0
40,0
100,0

Cumulative
Percent
60,0
100,0

Valid Percent
60,0
40,0
100,0

Analisis Jalur
Regression
Descriptive Statistics
KEJADIANKECACINGAN
FAKTORLINGKUNGAN
HIGIENEPERSONAL

Mean
,50
,33
,40

Std. Deviation
,509
,479
,498

N
30
30
30

Correlations

Pearson Correlation

Sig. (1-tailed)

KEJADIANKECACINGAN
FAKTORLINGKUNGAN
HIGIENEPERSONAL
KEJADIANKECACINGAN
FAKTORLINGKUNGAN
HIGIENEPERSONAL
KEJADIANKECACINGAN
FAKTORLINGKUNGAN
HIGIENEPERSONAL

KEJADIANK
ECACINGAN
1,000
,424
,544
.
,010
,001
30
30
30

b
Va riables Entered/Re moved

Model
1

Variables
Entered
HIGIENEP
ERSONAL,
FA KTORLI
NGKUNGA
a
N

Variables
Removed

Method

Enter

a. All request ed variables entered.


b. Dependent Variable: K EJA DIANKE CACINGAN

FAKTORLIN
GKUNGAN
,424
1,000
,433
,010
.
,008
30
30
30

HIGIENEP
ERSONAL
,544
,433
1,000
,001
,008
.
30
30
30

Model Summary
Model
1

R
,583a

R Square
,340

Adjusted
R Square
,291

Std. Error of
the Estimate
,428

a. Predictors: (Constant), HIGIENEPERSONAL,


FAKTORLINGKUNGAN

ANOV Ab
Model
1

Regres sion
Residual
Total

Sum of
Squares
2,550
4,950
7,500

df
2
27
29

Mean S quare
1,275
,183

F
6,956

Sig.
,004a

a. Predic tors: (Constant), HIGIENE PERSONAL, FA KTORLINGK UNGAN


b. Dependent Variable: KE JADIANKECACINGA N
Coeffi cientsa

Model
1

(Const ant)
FA KTORLINGK UNGAN
HIGIENEP ERS ONA L

Unstandardized
Coeffic ient s
St d. E rror
B
,105
,237
,246
,184
,177
,453

a. Dependent Variable: KE JADIANKECACINGA N

St andardiz ed
Coeffic ient s
Beta
,232
,444

t
2,245
1,338
2,559

Sig.
,033
,192
,016

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto.(2010).
ProsedurPenelitianSuatuPendekatanPraktik.
RinekaCipta.

Jakarta:

Anies.(2006). ManajemenBerbasisLingkungan. Jakarta: PT Elex Media


Komputindo.
Achmadi (2001). Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta PT. Buku
Kompas.
Budiman.(2011). Penelitian Kesehatan Buku Pertama. Bandung. PT Refika
Aditama
Depkes

RI.
(2004).
PedomanUmum
Program
NasionalPemberantasanCacing di Era Desentralisasi. Jakarta.
http://www.depkes.go.id/dwonloads/publikasi/profil%kesehatan
Indonesia.pdf.

Dinkes.Kabupaten Bandung
Bandung Barat.

Barat.(2011).

ProfilKesehatanKabupaten

Entjang.(2000). IlmuKesehatanMasyarakat. Jakarta: Citra AdityaBakti.


. (2003). MikrobiologidanParasitologi. Bandung: Citra AdityaBakti.
Format

referensielektronikdirekomendasikanolehLukman.D,
2011,
tersediahttp://keperawatan
agung-blogspot.com,
diunduhpadatanggal 11 April 2012.

Format

referensielektronikdirekomendasikanolehAliyah,
2011,
tersediahttp://medicastore.com, diunduhpadatanggal 10 Juni 2012.

Irianto.K.

(2009).PanduanPraktikumParasitologiDasar.
YramaWidya.

Bandung:

Kandun.(2009). Manual PemberantasanPenyakitMenular.Edisi 17. Jakarta:


INFOMEDIKA.
Mubarak

&Chayatin.(2009).
IlmuKeperawatanKomunitasPengantardanTeori.Jakarta:
SalembaMedika.

(2009).
IlmuKesehatanMasyarakatTeoridanAplikasi.
Jakarta: SalembaMedika.
Notoatmodjo.(2007).
RinekaCipta.

KesehatanMasyarakatIlmudanSeni.

Jakarta:

(2010). MetodologiPenelitianKesehatan. Jakarta: RinekaCipta.


Nursalam.(2003).
KonsepdanPenerapanMetodologiPenelitianIlmuKeperawatan.
Jakarta: MedikaSalemba.
Saydam.G.
(2011).MemahamiBerbagaiPenyakitPernafasandanGangguanPenc
ernaan. Bandung: Alfa Beta.
Sutanto et al. (2008).ParasitologiKedokteran. Edisi 4. Jakarta: FKUI.
Soedibjo. S.B (2005). Pengantar Metode Penelitian. Bandung: STIE-STMIK
PASIM.
WHO,

(2006).Jumat 10 Maret 2012.Soil


http://www.who.int/intestinal_worms/en/.

Transmitted

Helminths.