Anda di halaman 1dari 14

2

2.1.

Laporan
Akhir

METODOLOGI
PELAKSANAAN PEKERJAAN

PENGUMPULAN DATA / INFORMASI

Dalam penyusunan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders yang akan menggunakan maupun mengelolanya, diperlukan
informasi-informasi lain, berupa data primer (peraturan maupun studi terdahulu yang relevan) maupun data sekunder (wawancara,
kesepakatan dengan pelaku terkait). Adapun metode untuk mendapatkan masukan dan informasi yaitu :
1. Instansi yang menjadi sumber data / informasi yang bermanfaat dalam penyusunan kebijakan dibidang pelestarian kawasan dan bangunan
cagar budaya, yaitu :

Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), berupa data tentang RTRW, BWK, Advice Planning, maupun produk yang berkaitan dengan kawasan
dan bangunan cagar budaya

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, berupa data dan hasil studi yang relevan

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah berupa data dan hasil studi yang relevan

2. Konsultan perencana harus mencari informasi lain yang dibutuhkan serta memeriksa kebenaran informasi yang digunakan dalam
Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta
2.2.

PEMBUATAN LAPORAN PERENCANAAN

Dengan mendasarkan dari hasil pencarian informasi tahapan selanjutnya dalam Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan
Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta yang juga memuat data Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya serta pembuatan Peta
Digital Di Kota Surakarta.

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir

2.3.

METODE PENELITIAN

Dalam pencarian sumber-sumber acuan utama, yaitu sumber-sumber yang diduga memuat data atau informasi yang relevan dengan topik
penelitian. Dengan menelaah sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat memahami ruang lingkung penelitian, baik ruang
lingkup masalah maupun ruang lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) obyek penelitian.
Ruang lingkup penelitian itu kemudian dituangkan dalam rencana kerangka tulisan (laporan penelitian). Sementara itu, telaah pula
bibliografi/daftar pustaka pada setiap sumber acuan utama yang berupa buku ilmiah. Hal itu dimaksudkan untuk mendapat tambahan informasi
sumbersumber yang diduga memuat data tentang masalah yang akan diteliti.
2.3.1. Implementasi Penelitian
Penelitian sejarah yang pada dasarnya adalah penelitian terhadap sumber-sumber sejarah, merupakan implementasi dari tahapan kegiatan
yang tercakup dalam metode sejarah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.
A. Heuristik
Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil-tidaknya pencarian sumber, pada dasarnya tergantung
dari wawasan peneliti mengenai sumber yang diperlukan dan keterampilan teknis penelusuran sumber. Berdasarkan bentuk penyajiannya,
sumber-sumber sejarah terdiri atas arsip, dokumen, buku, majalah/jurnal, surat kabar, dan lain-lain. Berdasarkan sifatnya, sumber sejarah
terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya tidak jauh dari waktu peristiwa
terjadi. Sumber sekunder adalah sumber yang waktu pembuatannya jauh dari waktu terjadinya peristiwa. Peneliti harus mengetahui benar,
mana sumber primer dan mana sumber sekunder. Dalam pencarian sumber sejarah, sumber primer harus ditemukan, karena penulisan
sejarah ilmiah tidak ukup hanya menggunakan sumber sekunder. Agar pencarian sumber berlangsung secara efektif, dua unsur penunjang
heuristik harus diperhatikan.

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
a)

Pencarian sumber harus berpedoman pada bibliografi kerja dan kerangka tulisan. Dengan memperhatikan permasalahan-permasalahan
yang tersirat dalam kerangka tulisan (bab dan subbab), peneliti akan mengetahui sumbersumber yang belum ditemukan.

b)

Dalam mencari sumber di perpustakaan, peneliti wajib memahami sistem katalog perpustakaan yang bersangkutan.

B. Kritik Sumber
Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukan sembarang sumber, tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu harus dinilai melalui kritik ekstern
dan kritik intern. Kritik ekstern menilai, apakah sumber itu benar-benar sumber yang diperlukan. Apakah sumber itu asli, turunan, atau palsu.
Dengan kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber.
Tujuan utama kritik sumber adalah untuk menyeleksi data, sehingga diperoleh fakta. Setiap data sebaiknya dicatat dalam lembaran lepas
(sistem kartu), agar memudahkan pengklasifikasiannya berdasarkan kerangka tulisan.
C. Interpretasi
Setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan
makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh sikap obyektif. Kalaupun dalam hal
tertentu bersikap subyektif, harus subyektif rasional, jangan subyektif emosional. Rekonstruksi peristiwa sejarah harus menghasilkan sejarah
yang benar atau mendekati kebenaran.
D. Historiografi
Kegiatan terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya secara kronologis/diakronis dan
sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah. Kedua sifat uraian itu harus benar-benar tampak, karena kedua hal itu merupakan bagian
dari ciri karya sejarah ilmiah, sekaligus ciri sejarah sebagai ilmu. Selain kedua hal tersebut, penulisan sejarah, khususnya sejarah yang bersifat
ilmiah, juga harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah umumnya.
a)

Bahasa yang digunakan harus bahasa yang baik dan benar menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Kaya ilmiah dituntut untuk
menggunakan kalimat efektif.

b)

Merperhatikan konsistensi, antara lain dalam penempatan tanda baca, penggunaan istilah, dan penujukan sumber.

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
c)

Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai dengan konteks permasalahannya.

d)

Format penulisan harus sesuai dengan kaidah atau pedoman yang berlaku, termasuk format penulisan bibliografi/daftar pustaka/daftar
sumber. Kaidah-kaidah tersebut harus benar-benar dipahami dan diterapkan, karena kualitas karya ilmiah bukan hanya terletak pada
masalah yang dibahas, tetapi ditunjukkan pula oleh format penyajiannya.

2.3.2. Pengertian, Konsepsi, dan Prinsip dalam Pelestarian


Dalam konteks sumber daya kultural atau warisan cagar budaya, istilah pelestarian dapat diartikan sebagai upaya untuk melindungi dan
memelihara bangunan atau lingkungan bersejarah sesuai dengan keadaannya dan mengoptimalkan bangunan tersebut dengan
memanfaatkannya sesuai dengan fungsi lama yang dapat meningkatkan kualitas bangunan tersebut maupun lingkungan sekitarnya yang
bertujuan untuk memahami masa lalu dan memperkaya masa kini (Nurmala 2001:27).
Untuk kepentingan studi ini ditetapkan definisi pelestarian yang akan digunakan adalah upaya untuk melestarikan dan melindungi bangunan
bersejarah yang bertujuan untuk memahami masa lalu dan memperkaya masa kini, sehingga bermanfaat bagi perkembangan kota, dan
generasi masa datang melalui penerapan berbagai metoda pelestarian. Budiharjo (1994:22), berpendapat bahwa upaya preservasi
mengandung arti mempertahankan peninggalan arsitektur dan lingkungan kuno persis dengan keadaan semula. Karena sifat pendekatan
preservasi yang statis, maka upaya pelestarian juga merupakan pendekatan konservasi yang dinamis, tidak hanya mencakup bangunannya
saja, akan tetapi juga lingkungan (conservation areas) serta kota bersejarah (historic towns). Dengan pendekatan konservasi, berbagai
kegiatan dapat dilakukan, mulai dari inventarisasi bangunan bersejarah, kolonial maupun tradisional, upaya pemugaran (restorasi, rehabilitasi,
rekonstruksi, sampai dengan revitalisasi). Prinsip pelestarian adalah (Sidharta & Budiharjo dalam Erwin 2000):
1.

Dilandasi atas penghargaan terhadap keadaan semula dari suatu tempat supaya tidak mengubah bukti-bukti sejarah yang dimilikinya;

2.

Menangkap kembali makna kultural dari suatu tempat dan harus menjamin keamanan dan pemeliharaannya di masa mendatang;

3.

Suatu bangunan, lingkungan/kawasan bersejarah harus tetap berada lokasi historisnya. Pemindahan seluruah atau sebagian dari suatu
bangunan tidak diperkenankan, kecuali bila hal tersebut merupakan satu-satunya cara guna menjamin kelestariannya.

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir

2.4.

METODE PENELITIAN

Studi dilakukan dengan menggunakan metode rasionalistik-kualitatif, yaitu dilakukan dengan cara observasi lapangan dan interview, metode
deskriptif dengan pendekatan historis dan tipologis, dan metode eksploratif. Metode rasionalistik-kualitatif merupakan metode yang dilakukan
dengan cara peneliti bertindak sebagai instrumen utama (Moehadjir 1989; Guba 1985).
Metode ini digunakan untuk menggali dan mengungkap latar sosio-kultural-historis yang tersembunyi di balik tampilan fisik objek, dan untuk
memperkuat apa-apa saja yang telah terdapat pada telaah dokumenter. Metode deskriptif merupakan suatu metode yang dilakukan dengan
cara mengumpulkan data dari hasil interview, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi, dokumen resmi, ataupun data-data yang dapat
dijadikan petunjuk lainnya untuk digunakan dalam mencari data dengan interpretasi yang tepat. Metode ini digunakan untuk menggambarkan
bagaimana kondisi di lapangan, proses apa-apa saja yang telah berlangsung dengan cara diagnosa dan menerangkan hubungan yang terjadi
di lapangan dengan kajian teori, untuk kemudian dapat ditarik kesimpulan dari masalah yang ada sekarang, yang kesemuanya disusun secara
sistematis berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan (Moleong 2002:7).
Metode eksploratif dilakukan dengan tujuan agar dapat menggali lebih dalam tentang elemen-elemen yang digunakan pada bangunan kuno,
sehingga didapatkan informasi yang dapat mengarahkan pada unsur-unsur, terutama gaya yang mempengaruhi bentukan dari wajah dan
ragam hias bangunan kuno tersebut. Metode evaluatif digunakan dalam penentuan nilai kultural bangunan kuno yang ada di kawasan
bersejarah, sehingga didapatkan klasifikasi bangunan berdasarkan makna kultural yang dikandungnya. Bentuk penilaian berupa pembobotan
untuk setiap kriteria makna kultural yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan pada penjelasan teori makna kultural yang ada. Penilaian
dilakukan oleh pemerintah (Bappeda dan Diknas), budayawan.
2.4.1. Pelestarian Fisik Arsitektur Bangunan
Pelestarian fisik di wilayah studi meliputi pelestarian bangunan kuno yang potensial untuk dilestarikan. Penentuan bangunan kuno yang
potensial untuk dilestarikan dilakukan melalui penilaian makna kultural. Makna kultural yang dinilai dalam penelitian yaitu, terdiri dari estetika,

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
keaslian, kelangkaan, keterawatan, keluarbiasaan, dan memperkuat citra kawasan. Untuk lebih jelasnya mengenai makna kultural yang akan
dinilai.
Tabel 2.1.
Kriteria Penilaian Bangunan Kuno
No

Kriteria

Estetika

Keaslian

Kelangkaan

Keterawatan

Keluarbiasaan

Memperkuat
citra kawasan

Definisi

Tolak ukur

Terkait dengan nilai estetika dan


arsitektural dalam hal bentuk,
struktur, tata ruang, dan
ornament.
Terkait dengan perubahan yang
terjadi terhadap bentuk asli
bangunan dan fasade bangunan
Terkait bangunan sebagai
peninggalan terakhir atau jarang
sekali terdapat tipe bangunan
yang masih ada (beserta
keunikan dan kemewahan
visualnya)
Berkaitan dengan kondisi fisik
bangunan
Memeliki kekhasan yang bisa
diwakili oleh faktor usia atau
ukuran

Corak pada bangunan (asli


kolonial atau ada
percampuran CinaKolonial)
Perubahan bangunan
(perombakan atau sebatas
perbaikan)

Memiliki peran yang signifikan


dalam pembentukan citra
kawasan

Bangunan merupakan
bangunan satu-satunya di
kawasan
Terawat, kurang terawat,
ataukah terabaikan
Menjadi landmark kota,
kawasan dan atau
lingkungan
Memiliki nilai signifikan
pada aspek estetika,
kelangkaan, dan
keluarbiasaan serta peran
sejarah

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
Masing-masing kriteria pada Tabel 1 dibagi atas tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang dan rendah, yang disesuaikan dengan kondisi bangunan
dilihat dari aspek kriteria makna kultural. Penilaian masing-masing kriteria makna kultural dibagi ke dalan tiga tingkatan, yaitu sebagai berikut:
a. Tinggi= 3; b. Sedang= 2; dan c. Rendah= 1. Penentuan bobot berdasarkan pertimbangan keberadaan rentang yang cukup antara tiap
tingkatan namun tetap menjaga reliabilitas pengukuran (Pamungkas, 1998:78). Penilaian terhadap makna kultural masing-masing bangunan
kuno dilakukan oleh empat responden yang mewakili beberapa elemen, yaitu pemerintah, budayawan, dan masyarakat.
1.

Pedoman Teknis adalah acuan teknis yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Peraturan Pemerintah ini dalam bentuk ketentuan
teknis pelestarian bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi.

2.

Pelestarian adalah upaya perawatan, pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung untuk memperpanjang usia, serta untuk
mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki,
serta memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung yang mencakup persyaratan kelaikan fungsi dan
keandalan bangunan gedung serta sebagai bagian dari upaya perlindungan dan Peringkat BCB Arsitektur dan Lingkungan Bangunan
gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berbeda peringkat dari segi nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan
kebudayaan, yaitu berdasarakan kepentingannya yang dapat berskala nasional ataupun internasional/dunia; berskala provinsi; dan
berskala lokal.

Untuk peringkat nasional pengusulannya diajukan oleh Menteri yang terkait kepada Presiden dengan pertimbangan karena bangunan
gedung dan lingkungan atau kawasan tersebut penting dari nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berskala nasional.

Bangunan dan lingkungan cagar budaya berperingkat dunia, bersyarat bahwa bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan
dilestarikan tersebut sudah bernilai sebagai cagar budaya berperingkat nasional dan diusulkan oleh Presiden/Pemerintah Indonesia ke
UNESCO melalui ICOMOS (International Council for Monuments and Sites) untuk diakui dan terima untuk masuk daftar sebagai
kekayaan budaya dunia (World Heritage List) sesuai prosedur pencalonan dan penetapan yang berlaku. Persyaratan lainnya yang
harus dipenuhi adalah bahwa dari segi nilai sejarah, ilmu pengetahuan atau kebudayaannya, cagar budaya tersebut merupakan

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
bagian yang signifikan dari peradaban dunia, dan yang sistem pengelolaannya pun sepadan dengan standar pengelolaan bangunan
dan lingkungan cagar budaya yang direkomendasikan badan kebudayaan dunia tersebut.

Untuk peringkat provinsi pengusulannya diajukan oleh kepala dinas terkait kepada Pemerintah Provinsi serta penetapannya dilakukan
Gubernur dengan pertimbangan karena bangunan gedung dan lingkungan tersebut penting dari segi nilai sejarah, ilmu pengetahuan
dan kebudayaan, atau signifikan sebagai mewakili citra budaya kawasan etnik atau berskala wilayah provinsi atau lintas kabupaten.

Untuk peringkat lokal pengusulannya diajukan oleh kepala dinas terkait kepada Pemerintah Kabupaten atau Kota, serta penetapannya
dilakukan oleh Bupati atau Walikota dengan pertimbangan karena bangunan gedung dan lingkungan tersebut penting dari segi nilai
sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan lokal.

Kriteria yang dipenuhi dalam klasifikasi kawasan cagar budaya yang dilindungi. Klasifikasi kawasan cagar budaya yang dilindungi ditentukan
oleh jumlah kriteria yang dapat dipenuhi antara semua atau separuh dari 6 (enam) kriteria seperti diuraikan di atas, Lingkungan di kawasan
cagar budaya berklasifikasi utama, memenuhi ke enam kriteria tersebut di atas dan yang secara fisik mengalami sedikit perubahan terhadap
bentuk lingkungan aslinya.
Lingkungan di kawasan cagar budaya berklasifikasi madya, memenuhi 3 (tiga) kriteria dari 6 (enam) dengan pilihan alternatif dan berciri bahwa
lingkungan telah mengalami perubahan terhadap keadaan aslinya tetapi masih memiliki beberapa unsur aslinya.Lingkungan di kawasan cagar
budaya berklasifikasi pratama, memenuhi 3 (tiga) kriteria dari 6 (enam) dengan pilihan alternatif namun secara fisik banyak mengalami
perubahan tanpa memiliki lagi unsur keaslian.

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
2.5.

HAL-HAL YANG DIANJURKAN DAN TIDAK DIANJURKAN DALAM KEGIATAN PEMUGARAN BANGUNAN GEDUNG DAN
LINGKUNGAN YANG DILINDUNGI

2.5.1. Lingkungan/Kawasan Cagar Budaya


Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Mempertahankan unsur-unsur penting seperti ukuran, skala, masa, warna


Menambah konstruksi baru di lingkungan tersebut yang dari segi ukuran, skala,
dan bahan dari bangunan-bangunan bersejarah, termasuk atap, serambi
warna dan bahan tidak serasi dengan karakter dari lingkungan/kawasan yang
depan (porch), dan tangga yang memberi ciri khas atau karakter dari
bersangkutan.
lingkungan yang bersangkutan.
Mempertahankan unsur-unsur lansekap seperti taman, halaman, lampu/ Merusak keseimbangan
hubungan dari bangunan-bangunan dengan
penerangan jalan, papan tanda, bangku, jalan setapak, jalan, gang dan lingkungannya dengan cara pelebaran jalan eksisting, merubah permukaan jalan
ruang depan bangunan yang telah menjadi ikatan tetap antara bangunan setapak, atau pembangunan jalan baru dan tempat parkir yang tidak sesuai
dengan lingkungannya.
dengan karakter dari lingkungan yang bersangkutan.
Menggunakan jenis penghijauan/tanaman baru, pemagaran, jalur pejalan
kaki, jalan, penerangan jalan, papan tanda dan perabot jalan, yang dari segi Menambah papan tanda, penerangan jalan, perabot lingkungan, jenis tanaman
ukuran, skala, bahan dan warna, serasi dengan karakter dari lingkungan baru; yang dari skalanya tidak serasi dengan karakter lingkungannya.
ybs.

2.5.2. Tapak Bangunan dan Lingkungan Cagar Budaya


Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Mengidentifikasi tanaman, pohon-pohon, pagar, jalan setapak, bangunan


luar, atau elemen tapak bangunan lainnya yang penting bagi tapak dari segi
sejarah dan perkembangan tapak tersebut.
Melakukan perubahan penampilan dari tapak dengan pengahancuran pohon
Mempertahankan tanaman, pohon-pohon, pagar, jalan setapak, jalan,
atau tanaman lama, pagar, jalan setapak, bangunan luar dan elemen lama
penerangan jalan, dan perabot lingkungan yang merefleksikan sejarah dan
lainnya sebelum terhadap masing-masing dilakukan evaluasi terlebih dahulu
perkembangan bangunan di tapak yang bersangkutan.
mengenai kepentingannya dari segi sejarah dan perkembangan tapak tersebut.
Menjadikan penelaahan tentang masa lalu dari penampilan bangunan

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
melalui dokumentasi lama foto, gambar, koran dan arsip pajak sebagai dasar
dalam pekerjaan merancang baru dari tapak.
Membuat drainase tapak dan talang atap bangunan sebaik mungkin
sehingga tidak mengakibatkan tembok dan pondasi bangunan basah
menerus dan menimbulkan kerusakan karena lembab akibat pengaliran air
yang buruk.

2.5.3. Unsur Yang Bernilai Arkeologi


Dianjurkan
Melindungi unsur yang bernilai arkeologi agar tetap utuh

Tidak Dianjurkan
Memasang utilitas di bawah tanah, yang dapat mengganggu
sumber yang bernilai arkeologi

Menghindari adanya gangguan terhadap lahan kawasan yang memiliki unsur arkeologi sehingga Menggunakan alat-alat besar di kawasan yang dapat
dengan maksud untuk merusak kemungkinan ada unsur arkeologi lainnya di kawasan tsb.
merusak atau menganggu sumber yang bernilai arkeologi.
Mengadakan penelitian arkeologi di kawasan lahan kalau dalam pekerjaan rehabilitasi
diperlukan pengerukan lahan. Penelitian tersebut harus dilakukan oleh seorang ahli arkeologi.

2.5.4. Sistem Struktur Bangunan


Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Memperhatikan dengan cermat masalah yang khas terkait dengan sistem struktur dan Mengganggu pondasi eksisting dengan mengadakan
konstruksi bangunan bersejarah, khususnya bilamana terlihat adanya keretakan, kemiringan penggalian yang dapat mengakibatkan gangguan stabilitas
tiang atau dinding, atau adanya keruntuhan.
dari bangunan itu sendiri.
Membiarkan masalah struktur bangunan yang telah diketahui
Menstabilisasi dan memperbaiki bagian-bagian struktur bangunan yang melemah atau dapat
dengan akibat kelalaian tersebut memperpendek umur dan
menimbulkan bahaya.
struktur tersebut.
Penggantian bagian dari struktur yang bernilai sejarah hanya diterapkan kalau benar-benar
diperlukan saja.

10

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
2.5.5. Unsur Eksterior Bangunan Gedung dan Lingkungan Cagar Budaya
a. Dinding Tembok/Bata
Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Menggunakan cat pelapis yang tahan atau menolak air sebagai cara
konsolidasi permukaan tembok kecuali kalau-kalau hal tersebut sangat
Mempertahankan sedapat mungkin keaslian tembok dan adukannya tanpa
diperlukan setelah dilakukan penelitian secara teknis terlebih dahulu.
penambahan pekerjaan apapun terhadapnya.
Pelapisan (coating) sering tidak perlu disamping mahal namun justru
dapat mempercepat kerusakan tembok.
Melakukan sesuatu terhadap sambungan adukan hanya kalau ternyata ada Menurap
sambungan
adukan
yang
tidak
perlu
diturap.
masalah kelembaban atau kerontokkan adukan cukup luas sehingga tidak dapat Menggunakan gergaji listrik dan martil untuk melepas plesteran dan
menahan air sehingga menyerap ke dalam dinding
menghancurkan atau merusak bata dari dinding bangunan tsb.
Membuat campuran adukan sesama
campurannya, warna dan teksturnya.

mungkin

(duplikat)

dengan

seasli Menurap adukan dengan kekasaran ukuran, profil adukan, tekstur dan
warna yang tidak sesuai dengan aslinya.

Memasang duplikasi adukan tua, hanya di bidang adanya kerusakan sesuai


besarnya, profilnya dan dengan cara pengerjaannya yang tepat.
Memperbaiki plesteran dengan membuat campuran plesteran sebagai duplikat
aslinya, baik dari penampilan maupun teksturnya.
Membersihkan tembok bangunan hanya kalau diperlukan untuk menghentikan Melakukan penyemprotan dengan pasir atau angin dengan tekanan tinggi,
kerusakan untuk menghapus grafiti atau noda dan dengan cara sehalus mungkin merusak permukaan bata atau batu dapat berakibat mempercepat
seperti dengan semprotan air yang tidak keras atau dengan sikat yang halus.
kerusakan tembok.
Menggunakan bahan baru yang asing dikurun waktu bangunan didirikan,
Melakukan perbaikan dan penggantian bagian-bagian yang rusak hanya kalau
seperti permukaan tembok bata dalam bentuk kertas tembok atau plastik
sangat diperlukan dan dengan memakai duplikat dari bahan seaslinya.
dsb.
Mengganti atau menambah kembali unsur arsitektur yang khas, yang hilang atau Menghilangkan dengan sengaja unsur arsitektur yang khas seperti kornis,
rusak berat, seperti kornis, list, railling dan penutup jendela (krapyak).
list, railling, penutup jendela, arkitraf jendela dan pendimen pintu.
Mengembalikan warna asli atau warna semula dan tekstur dari permukaan dinding Menghilangkan atau mengganti warna permukaan dinding tembok tanpa
tembok. Permukaan dinding bata atau batu kemungkinan dicat atau di kapur demi pertimbangan yang dapat mengakibatkan kerusakan terhadap bangunan
kepraktisan atau keindahan.
gedung atau mengubah penampilannya.

11

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
b. Dinding Kayu dan Sejenis
Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Menghilangkan atau mengganti unsur bangunan yang terbuat dari kayu yang memberi
Mempertahankan dan memelihara sedapat mungkin unsur arsitektur
ciri khas atau karakter thd bangunan tsb, seperti susunan papan pelapis, kornis,
yang terbuat dari kayu dan memberi ciri khas dari bangunan ybs.
arkitraf jendela, pediment pintu dan penopang pada dinding.
Perbaiki atau mengganti bila sangat diperlukan bahan kayu yang rusak Melapisi bangunan konstruksi rangka kayu dengan pelapis bahan baru yang tidak
atau lapuk dengan cara duplikasi sedekat mungkin dengan aslinya dari sejaman atau ada ketika bangunan tsb. Terbuat dari batu buatan, asbestos, ubin aspal
segi ukuran, bentuk dan tekstur unsur kayu tersebut
atau alumunium.
Menghilangkan atau mengganti unsur bangunan yang terbuat dari kayu yang justru
Mempertahankan sedapat mungkin bahan kayu yang orisinal atau telah menjadi ciri atau yang menentukan karakter dari bangunan tsb, serta
seaslinya
menunjukkan perkembangan atau urutan perubahan dari bangunan tersebut dimasa
lampau.
Bersihkan bangunan dengan cara setepat mungkin. Bahan logam Mengekspos bahan logam yang seaslinya dimaksudkan terlindungi dari keadaan
harus dibersihkan dengan cara yang tidak merusak atau mengasarkan lingkungan. Jangan menerapkan cara pembersihan logam yang dapat merubah
permukaan.
warna, tekstur dan kekhasan nuansa warnanya.

c. Atap dan Penutup Atap


Dianjurkan
Mempertahankan bentuk atap seaslinya.

Tidak Dianjurkan
Mengubah bentuk dasar atap dengan penambahan unsur bangunan yang
tidak sesuai dengan penambahan jendela atap, lubang angin atau lubang
cahaya/skylight.

Menjaga agar atap memiliki cara pembuangan air yang baik dan yang menjamin
tidak menimbulkan kerusakan terhadap struktur bangunan sebagai akibat bocor
atau rembes.
Mengganti penutup atap yang rusak dengan bahan yang baru yang sesuai Mengganti penutup atap yang memburuk dengan bahan baru yang begitu
dengan penutup atap yang asli dari segi komposisi, ukuran, bentuk, warna dan beda dengan aslinya dari segi komposisi, ukuran, bentuk, warna dan
tekstur.
teksturnya sehingga mengubah penampilan dari bangunan tersebut.
Mempertahankan atau memelihara sedapat mungkin semua ciri atau kekhasan Menghilangkan semua unsur atap yang menjadi ciri khas dari bentuk atap
unsur arsitektur yang menentukan bentuk atap bangunan tersebut seperti jendela, tersebut, sehingga atap bangunan berubah karakternya.

12

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir
atap, kupola, kornis, penopang, lubang asap, lubang angin, atau hiasan atap
lainnya.

d. Jendela dan Pintu


Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Mempertahankan dan membetulkan semua unsur bukaan jendela dan pintu, seperti Mengubah atau mengganti bentuk, ukuran atau letak dari bukaan jendela
rangka, bingkai, kaca, awning dan penutupnya yang bersifat menentukan gaya dan pintu yang menghilangkan karakter arsitektur dan sejarah dari
arsitektur dari segi sejarah dan karakter bangunan tsb.
bangunan tersebut.
Mengganti unsur jendela dan pintu pada tampak bangunan utama yang
memiliki penentu bagi sejarah gaya dan karakter arsitektur bangunan
tersebut dengan bahan baru yang tidak serasi/asing.

e. Emperan/Teras
Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Mempertahankan dan memelihara sedapat mungkin ciri atau


kekhasan unsur arsitektur seperti balustrade, cornice, entablature,
kolom, lampu dan tangga

2.5.6. Unsur Interior Bangunan Gedung dan Lingkungan Cagar Budaya


Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Mempertahankan denah lantai asli Merubah yang bersifat mengubah karakter dan citra asal interior bangunan gedung tersebut
Mempertahankan unsur interior asli Mengganti dan memasang material baru yang kualitas dan karakternya berbeda dengan citra asal

13

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012

Laporan
Akhir

2.5.7. Sistem Mekanikal/Utilitas


Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Mempertahankan seluruh elemen mekanikal yang penting yang mendefenisikan


karakter bangunan secara keseluruhan seperti ventilasi, kipas, jalusi, pipa, keran
dan lampu
Mengganti bagian instalasi mekanikal elektrikal yang rusak yang disesuaikan
dengan karakter bangunan
Memasang instalasi AC di tempat-tempat yang dapat merusak tampilan atau
mengganggu estetika tampak bangunan cagar budaya, hindari suhu dingin
yang berlebihan sehingga menyebabkan kelembaban interior bangunan
Memasang papan tanda/nama dengan memperhitungkan kekuatan elemen
yang dibebaninya, membuat papan tanda/nama dengan warna dan bentuk yang Membuat papan tanda/nama yang dapat merusak dinding/penampilan
tidak mengganggu atau bertentangan dengan karakter atau citra bangunan keasrian bangunan
tersebut

14

Pekerjaan Inventarisasi Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Dan Pembuatan Peta Digital Di Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012