Anda di halaman 1dari 95

ANATOMI GEH

APPARATUS DIGESTIVUS
Dr. YUSNAM SYARIEF

SUBTOPIK BAHASAN :
1. CAVUM ORIS
2. PHARYNX
3. OESOPHAGUS
4. GASTER
5. INTESTINUM
6. PANCREAS
7. HEPAR
8. LIEN
3

CAVITAS ORIS

BAGIAN-BAGIAN :
PALATUM DURUM : BAGIAN KERAS
PALATUM MOLLE : BAGIAN YG LUNAK
UVULA
PLICA PALATOPHARYNGEALIS
EPIGLOTIS
PLICA GLOSO EPIGLOTICA MEDIAN DAN LATERALIS
VALICULUS EPIGLOTICUS
TONSILA PALATINUS
LINGUA ( LIDAH ) : PELAJARI BAGIAN-2 DARI LIDAH
4

BAGIAN-BAGIAN LINGUA :
DORSUM LINGUA
CORPUS LINGUA

SULCUS TERMINALIS
FORAMEN COECUM

RADIX LINGUA

APEX LINGUA

TONSILLA LINGUA
PAPILLA LINGUA :
PAPILLA FILIFORMIS

PAPILLA VALATAE

PAPILLA LENTICULARIS

PAPILLA FOLIATA

PAPILLA FUNGIFORMIS
PAPILLA CONICAE
6

PADA POTONGAN TRANSVERSA LINGUA ( UNTUK MELIHAT


OTOT-2 INTRINSIK ), TAMPAK :

M. LONGITUDINALIS SUPERIOR
M. TRANSVERSA LINGUAE
M. LONGITUDINALIS INFERIOR
M. VERTICALIS LINGUA
SEPTUM LINGUAE
A. PROFUNDA LINGUAE

PADA POTONGAN SAGITAL LINGUE :

M. LONGITUDINALIS SUPERIOR
M. TRANSVERSUS LINGUAE
M. LONGITUDINALIS INFERIOR
M. GENIOGLOSUS
M. GENIOHYOIDEUS
M. MYLOHYOIDEUS
EPIGLOTIS

10

11

FASCIES INFERIOR LINGUAE DAN REGIO SUBLINGUALIS

MARGO LATERALIS LINGUAE


PLICA FIMBRIATA
FRENULUM LINGUAE
PLICA SUBLINGUALIS
CARUNCULAE SUBLINGUALIS
GLANDULA LINGUALIS ANTERIOR
GLANDULA SUBLINGUALIS
DUCTUS SUBLINGUALIS MAYOR
N. LINGUALIS, V. LINGUALOS , A. PROFUNDA LINGUAE
12

13

14

PHARYNX

SUATU SALURAN OTOT DAN SELAPUT DENGAN


KEDUDUKAN TEGAK LURUS , ANTARA BASIS CRANII DAN
V.C VI ATAU PINGGIR CAUDAL CART. CRICOIDEA
KEARAH CAUDAL LANJUT SEBAGAI OESOPHAGUS YAITU
SALURAN MAKANAN YANG SEBENARNYA ( SEJATI )
VENTRAL BERHUBUNGAN DENGAN RONGGA HIDUNG ,
RONGGA MULUT DAN LARYNX

15

PHARYNX DIBEDAKAN DALAM 3 BAGIAN :


NASOPHARYNX = EPIPHARYNX = CAVUM
PHARYNGO NASALE = PARS NASALIS PHARYNX
OROPHARYNX = MESOPHARYNX = PARS ORALIS
PHARYNX
LARYNGO-PHARYNX = HYPOPHARYNX = PARS
LARYNGEA PHARINGIS
DINDING PHARYNX TERDIRI DARI 4 LAPIS :
SELAPUT LENDIR
MEMBRANA FIBROSA
LAMINA MUSCULARIS
JARINGAN AREOLAR

16

PERDARAHAN : DILAKUKAN OLEH A. PHARYNGEA


ASCENDENS , DARI A.CAROTIS EXTERNA DAN A. PHARYNGEA
SUPREMA ( A. MAXILLARIS INTERNA )
PERSARAFAN :
PLEXUS PHARYNGEUS DG SERABUT-2 DARI
TRUNCUS SYMPHATICUS, N. GLOSSOPHARYNGEUS
N. GLOSSOPHARYNGEUS ( N. IX ), N. VAGUS ( N. X )
DISEKITAR PHARYNX ADA FASCIES YAITU : SPATIUM
PARAPHARYNGEALIS
DAN
SPATIUM
RETROPHARYNGEUS

17

DINDING PHARYNX :
LAMINA MUSCULARIS : ADA 2 GOLONGAN OTOT YAITU :
1. OTOT-2 MELINGKAR : TERDIRI LAGI ATAS ,
SUSUNAN OTOT SATU SAMA LAIN SEPERTI
GENTENG :
- M. CONSTRICTOR PHARYNGEA SUPERIOR
* M. BUCCOPHARYNGEUS
* M. PTERYGOPHARYNGEUS
* M. MYLOPHRYNGEUS
* M. GLOSSOPHARYNGEUS
- M. CONSTRICTOR PHARYNGEUS MEDIUS
- M. CONSTRICTOR PHARYNGEUS INFERIOR

18

2. OTOT-2 MEMBUJUR :
a. M. STYLOPHARYNGEUS
b. M. PALATOPHARYNGEUS
BAGIAN DARI PHARYNX YANG HARUS DIPELAJARI :
ISTHMUS FAOCIUM
PLICA PHARYNGOEPIGLOTICA
RECESSUS PIRIFORMIS
PLICA ARYEPIGLOTICA
ADITUS LARYNGEIS
OROPHARYNX
19

20

21

22

23

24

LARYNGOPHARYNX
N. LARYNGEUS RECURENS
DASAR MULUT :
M. DIGASTRICUS VENTER ANTERIOR
M. MYLOHYOIDEUS
M. GENIOHYOIDEUS
M. GENIOGLOSSUS
M. HYPOGLOSSUS

25

ALAT-ALAT PHARYNX LAINNYA :


CORNU MAYUS OS. HYOID
M. STYLOGLOSSUS
STYLOHYOID
M. STYLOPHARYNGEUS
DUCTUS GL. SUBMANDIBULARIS ( WHARTONI )
GLD. SUBLINGUALIS
A./ N. LINGUALIS
N. HYPOGLOSSUS
A. FACILAIS ( A. MAXILLARIS EXTERNA )

26

OESOPHAGUS
:
BERJALAN DARI CRANIAL DI DEPAN FASCIA VERTEBRALIS,
TERLETAK DI LINEA MEDIANA DIBELAKANG TRACHEA.
PADA SAAT TRACHEA BERCABANG MENJADI BIFURCATIO
TRACHEA, OESOPHAGUS BERJALAN SEBELAH AGAK KIRI.

27

28

SEHINGGA SEDIKIT DI SEBELAH KIRI AORTA , KEMUDIAN TERUS KE


BAWAH MENEMBUS DIAPHRAGMA MELALUI HIATUS OESOPHAGUS
( SETINGGI V.TH. 10 ) , BERSAMA N. VAGUS.

29

PERDARAHAN OESOPHAGUS :
DARAH ARTERI :
a. R. OESOPHAGUS A. THYROIDEA INFERIOR UNTUK BAGIAN
ATAS
b. R. OESOPHAGUS AORTA THORACALIS UNTUK BAGIAN
TENGAH
c. R. OESOPHAGUS A. GASTRICA SINISTRA UNTUK BAGIAN
DISTAL

30

FUNGSI OESOPHAGUS :

SEBAGAI ALAT MENGANGKUT MAKANAN DARI PHARYNX KE


GASTER.
BILA BOLUS MAKANAN TIDAK ADA YANG DIANGKUT MAKA
OESOPHAGUS BENTUKNYA PIPIH, DENGAN BENTUK LUMEN
KECIL DAN TIDAK TERATUR, DIAMETER 1 cm DI SEBELAH
ORAL DAN 2 - 3 cm DI SEBELAH DISTAL.

31

OESOPHAGUS MEMPUNYAI TUNICA

MUSCULARIS TEBAL

DARI PADA TRACT. DIGEST YANG LAIN.

PANGKAL OESOPHAGUS TERDIRI OTOT SERAN LINTANG


TAK TERATUR KE DISTAL MULAI TERPISAH OLEH LAPIS
DALAM , OTOT LINGKAR DAN OTOT INI MAKIN KE DISTAL
MAKIN MENGHILANG, SEDANG

OTOT POLOS MAKIN

DOMINAN.

32

ANTARA OTOT LINGKAR DAN OTOT MEMANJANG TERRDAPAT


NEURON

SERABUT

PARASYMPHATIS

YANG

MENGADAKAN

SYNOPSIS UNTUK MEMBERIKAN SERABUT POSTGANGLIONER.


SEL SARAF PARASYMPHATIS ITU TERLETAK DI DALAM PLEXUS
MYENTERICUS

(AURBACH)

SERABUT

EFFERENT

PRE-

GANGLIONER

PARASYMPHATIS N. VAGUS BERGANTI NEURON

DISANA , UNTUK MENSARAFI OESOPHAGUS

33

PADA OESOPHAGUS TERDAPAT :


DUA OTOT SPINCTER YAITU :
1. Pada pangkal oseophagus : dimana selalu

tertutup, kecuali

waktu menelan, sendawa dan muntah.


Bolus makanan pada oesophagus menyebabkan terjadinya
kontraksi peristaltic, sehingga dalam waktu 5 - 6 detik akan
mencapai cardia Gaster

34

2. Pada sambungan antara oesphagus dengan gaster : dimana


otot spincter disini selalu tertutup, dia akan terbuka bila
bolus makanan sudah sampai disini.

35

ASPEK KLINIK :
1. Varices oesophagia : Pada submucosa osephagus terdapat
plexus venosus oesophagia yang berhubungan dengan v.
azygos dan v. hemiazygos dimana bermuara ke v. cava
superior, sedang pihak lain dia berhubungan dengan cabang
dari v.gastrica sinistra (yang merupakan cabang dari v.
porate ).

36

Kalau terjadi hypertensi pada system portae , maka darah bisa


membalik ke arah plexus venosus oesophagia, dengan akibat
timbulnya varices. Varices ini bisa pecah pada waktu : makan,
muntah, memasukkan alat periksa

( sonde, gastroskopi ).

Sehingga bisa timbul perdarahan. Yang terlihat dengan klinis


terjadi : Muntah darah ( hematemesis ) yang hebat..

37

Salah satu terjadinya hipertensi portae ini adalah cirrhosis


hepatis, dimana hampir 50 % menimbulkan kematian
2. Reflux ( alir balik ) :
Cairan gaster membalik ke oesophagus, cairan gaster terlalu
asam maka bila sampai di oseophagus akan menyebabkan
kerusakan mucosa oesophagus, yang menimbulkan rasa seperti
terbakar di ulu hati, dikenala sebagai : Hearburn reflux.

38

bila ini terjadi berulang ulang menyebabkan terjadinya


oesphagitis,

bila

terus

menerus

menimbulkan

tukak

oesophagitis, akibatnya rasa sakit waktu menelan, pada stadium


lanjut terjadi hematemisis

39

3. Achlasia ( cardiospasm)

Keadaan dimana terjadi kejang otot spincter cardia , akibat


dari gangguan jalannya serabut parasymphatis. Tandatandanya : dysphagia dan pelebaran progresif oesophagus.

40

GASTER
SALURAN PENCERNAAN ANTARA OESOPHAGUS DENGAN
USUS HALUS
LETAKNYA SEBAGIAN BESAR DITUTUP OLEH IGA
TERMASUK INTRAPERITONEAL
FUNGSI :

MENYIMPAN MAKAN ( DEWASA 15OO ml )

BENTUK SPT HURUF J DENGAN :


- 2 LUBANG : OSTEUM CARDIACUM DAN PYLORICUM
- 2 KURFATURA : MAYOR DAN MINOR
- 2 PERMUKAAN : ANTERIOR DAN POSTERIOR
41

BAGIAN-2 DARI GASTER :


FUNDUS : SEPERTI KUBAH BERISI GAS
CORPUS : DARI OSTIUM CARDIACA S/D INCISURA
ANGULARIS ADA CURVATURA MAYOR DAN MINOR
ANTRUM PYLORICUM SEPERTI TABUNG DG OTOT YANG TEBAL
SPINCTER PYLORICUM : MENGATUR PENGELUARAN ISI
LAMBUNG KE DUODENUM
MEMBRANA MUCOSA : TEBAL, BANYAK PEMBULUH DARAH,
BERLIPAT ( RUGAE )
42

43

44

45

46

MUKOSA LAMBUNG : MENGHASILKAN ASAM DAN PEPSIN


YG PENGELUARANNYA DIATUR OLEH SARAF N. X ( VAGUS )
SERTA HORMON GASTRIN
SEKRET ANTRUM DAN PYLORIC : ALKALIN
MUKOSA ANTRUM MENGHASIL HORMON GASTRIN
ASPEK KLINIS :
BILA ASAM BERLEBIHAN DI SEKRESI TERJADI TUKAK
LAMBUNG , UNTUK MENGURANGI BISA DILAKUKAN
RESEKSI N. X ( VAGOTOMI ) ATAU PEMBUANGAN MUKOSA
ANTRUM.
( GASTROKTOMI PARSIAL )

47

BATAS GASTER :
ANTERIOR :
POSTERIOR :
PERDARAHAN :
DARI A. COLIACA ( TRIPLE HALLERI ) BERASAL DARI A.
ABDOMINALIS
CABANGNYA YAITU :
1. A. GASTRICA SINISTRA ( KIRI ATAS )
2. A. LIENALIS ( BAWAH, KIRI )
3. A. HEPATICA COMMUNIS ( KANAN )
48

INTESTINUM
ADA 2 :
1. INTESTINUM TENUE ( USUS HALUS )
2. INTESTINUM CRASUM ( USUS BESAR )
1. INTESTINUM TENUE ( USUS HALUS )
YANGPALING PANJANG , DIBAGI 3 :
A. DUODENUM
B. YEYENUM
C. ILEUM
49

FUNGSI : PENCERNAAN DAN ABSORBSI HASIL PENCERNAAN


1. DUODENUM :
USUS DUABELAS JARI
LANJUTAN DARI GASTER BERBENTUK HURUF C
PANJANG 25 CM ( 12 JARI )
BERMUARA SALURAN EMPEDU DAN PANCREAS
OMENTUM MINUS MELEKAT DIPINGGIR ATAS
OMENTUM MAYUS MELEKAT DIPINGGIR BAWAH
ADA DUA LENGKUNG : FISSURA DUODENI SUPERIOR
DAN INFERIOR

50

DUODENUM DIBAGI DALAM TIGA BAGIAN :

1. PARS SUPERIOR DUDENI


2. PARS DESCENDENS DUODENI
3. PARS INFERIOR :
- ADA PARS HORIZONTALIS ( MELINTANG )
- PARS ASCENDENS ( KEATAS )
PERDARAHAN :
1. BAGIAN ATAS : A. PANCREATICO DUODENALIS SUPERIOR
ASAL DARI A. GASTRO DUODENALIS
51

52

SEPAROH BAGIAN BAWAH : A. PANCREATICO DUDENALIS


INFERIOR CAB. A. MESENTERICA SUPERIOR
PERSARAFAN : SIMPATIS DAN PARA SIMPATIS N. X DARI
PLEXUS MESENTERICUS SUPERIOR DAN PLEXUS
COELIACUS

53

YEYENUM DAN ILIUM

INTRA PERITONIUM
PANJANG 6 METER, BERPUTAR PUTAR

INTESTINUM CRASUM ( USUS BESAR ) :


a. CAECUM

e. COLON DESCENDEN

b. APPENDIX VERMIFORMIS

f. COLON SIGMOID

c. COLON ASCENDENS

g. RECTUM

d. COLON TRANSVERSUM

h. ANUS
54

USUS HALUS :
SIFAT MOBILE / KECUALI DUODENUM
UMUMNYA KECIL
PUNYA MESENTERIUM
OTOT LONGITUDINALE MEMBENTUK LAPISAN YG
KONTINU
KANTONG LEMAK TIDAK ADA
DINDING HALUS
PUNYA PLICA CIRCULARIS
VILLI +
JAR. LYMPHOID : +
55

USUS BESAR :
TERFIXIR
BESAR
TDK PUNYA MESENTERIUM
OTOT LONGITUDINALE BERGABUNG : - LIBERA, OMENTALIS,
MESOCOLICA
ADA KANTONG LEMAK
SAKULAR
TIDAK ADA PLICA CICULARIS
VILLI TIDAK ADA
JAR. LYMPHOID : TIDAK ADA
56

57

58

59

PERDARAHAN :
A. A. COLIACA
B. A. MESENTERICA SUPERIOR
C. A. MESENTERICA INFERIOR

60

61

LIEN ( LIMPA )
MASA LUNAK , RAPUH DARI JAR. LIMFOTIK
LETAK : - ANTARA V.TH 9 12, PROYEKSI KIRI DEPAN
IGA 5-8
BENTUK : -POLUS CRANIAL DAN CAUDAL
CARA PENGUKURAN :
ARCUS COSTAE SINSITRA

UMBILUCUS

SIAS

GARIS SCHUFFNER
62

63

PANCREAS :
KEL. EKSOKRIN : ENZIM YG DAPAT MENGHIDROLISIS
PROTEIN, LEMAK DAN K.H
KEL. ENDOKRIN : PULAU LANGERHANS MENGHASILKAN
HORMON INSULIN DAN GULKAGON UNTUK METABOLISME
K.H
ORGAN LUNAK, BERLOBUS DI DINDING POSTERIOR
ABDOMEN
DIBELAKANG PERITONIUM
64

65

66

67

BENTUK ANATOMIS :
- CAPUT : RETROPERITONEAL
- COLLUM : BAGIAN YG MENGECIL
- CORPUS : MENYILANG GARIS TENGAH
- CAUDA : INTRAPERITONEAL ( SATU-SATUNYA )
SALURAN KELENJAR PANCREAS :
1. DUCTUS PANCREATICUS MAYOR ( WIRSUNGI )
2. DUCTUS PANCREATICUS MONIR ( SANTORINI )

68

PERDARAHAN :
A. LIENALIS
A. PANCREATICO DUODENALIS SUPERIOR
A. PANCREATICO DUODENALIS INFERIOR
VENA-VENA SENAMA YG NANTINYA MASUK KE SISTEM
PORTAL
PEMBULUH LYMPHE :
MELALUI PEMBULUH LIMPHE SEPANJANG ARTERI KE Lnn.
COELIACUS MESENTERICUS SUPERIOR
PERSYARAFAN : N. X ( VAGUS ) SIMPATIS DAN PARA SIMPATIS
69

KLINIS :
PANCREAS MASUK KE BURSA OMENTALIS ( ANTERIOR )
EFUSI CAIRAN PERITONEAL
BILA TERJADI PENIMBUNAN CAIRAN DLM BURSA
OMENTALIS TERJADI CYSTA YG DISEBUT PSEUDO-CYSTO
PANCREAS
BILA ADA SUMBATAN PD DUCTUS CHOLEDOCUS YANG
BERHUBUNGAN DENGAN CAPUT BISA TERJADI KANKER
DAN SUMBATAN MAKA TERJADI IKTERUS OBSTRUKTIF

70

HEPAR
KELENJAR TERBESAR
ORGAN PALING BESAR, INTRAPERITONIUM
MELEKAT PADA DIAPHRAGMA , PADA PARS AFIXA HEPATIS
PADA HYPOCHONDRIUM KANAN DAN EPIGASTRIUM
PROJEKSI :
DIAPHRAGMA THORACIS MEMP. 2 CUPULA KANAN DAN KIRI
, DIMANA YG KANAN LEBIH TINGGI .
TITIK TERTINGGI DI LINEA MEDIANA CLAVICULA KANAN PD
SELA IGA 4, SEDANG SEBELAH KIRI SELA IGA KE 5
71

TENGAH : MELEWATI XYPHISTERNALIS SEBAGAI PROYEKSI


TEPI ATAS
TEPI BAWAH :
NORMALNYA TIDAK MELIWATI ARCUS COSTARUM
PD INSPIRASI DALAM TERABA, NAFAS BIASA TIDAK
TERABA
MENYILANG ARCUS COSTARUM KANAN PD IGA 8 DAN 9
MARGO INFERIORNYA MENYILANG DI TENGAH
PD ANGULUS INFERIOR STERNALIS TIDAK TERLINDUNG
OLEH IGA ATAU TULANG
TEPI ATAS KIRI : IGA 5
72

HEPAR : TERDIRI DARI 2 LOBUS


BENTUK SEPERTI PIRAMID 4 SISI

BENTUK :
BAGIAN ATAS DAN LATERAL KANAN : FASCIES SUPERIOR
HEPATIS
DEPAN : FASCIES ANTERIOR
BELAKANG FASCIES POSTERIOR
BAWAH : FASCIES INFERIOR / FASCIES VISCERALIS ,
MERUPAKAN DATARAN MENUJU KEDALAM PERUT
73

74

75

TEPI :
MARGO ANTERIOR : MEMISAHKAN FASCIES SUPERIOR
DENGAN FASCIES VISCERALIS
MARGO POSTERIOR : MEMISAHKAN FASCIES POSTERIOR
DAN VISCERALIS
FASCIES VISCERALIS :
BAGUNAN BERBENTUK HURUF H DG KAKI
MEMANJANG DIKANAN DAN KIRI
ADA CEKUNGAN DISEBUT : FISSURA SAGITALIS DEXTRA
DAN SINISTRA
ADA PORTA HEPATIS
76

BAGIAN YG PERLU DIKETAHUI :


FISSURA SAGITALIS DEXTRA :
DEPAN ADA KANTONG EMPEDU ( VESICA FELLEA )
BELAKANG : V.CAVA. INFERIOR
FISSURA SAGITALIS SINISTRA :
DEPAN : LIG. TERES HEPATIS
BELAKANG : LIG VENOSUS ARANTII

77

78

79

80

1. DUCTUS CHOLEDOCUS
BERUPA SALURAN EMPEDU DARI DUCTUS HEPATIS
KANAN DAN KIRI , DARI DUCTUS KELUAR KE PORTA
HEPATIS
BERGABUNG DG DUCTUS CYSTICUS ( SALURAN
EMPEDU DARI VESICA FELLEA )
2. VENA PORTAE
MENYALURKAN 70 % DARAH KE HATI ( BAGIAN
BAWAH OESOPHAGUS SAMPAI PERTENGAHAN ATAS
ANUS

81

82

SEMUA PERDARAHAN BALIK DARI PERUT KECUALI


GINJAL DAN SUPRARENALIS BERGABUNG KE V. PORTAE
DAN MASUK KE HEPAR

BERCABANG DUA RAMUS SINISTRA DAN DEXTRA


PANJANG 5 cm
DIBENTUK OLEH V. MESENTERICA SUPERIOR DAN V.
LIENALIS

83

3. A. HEPATIS PROPRIA
CABANG A. HEPATIS COMMUNIS
AORTA ABDOMINALIS

A. COELIACA

FISSURA SAGITALIS DEXTRA :


MEMBAGI HEPAR MENJADI 2 LOBUS YAITU LOBUS DEXTRA
DAN SINISTRA
LOBUS SINISTRA HEPAR : ADA 2 LOBI KECIL
1. LOBUS QUADRATUS
2. LOBUS CAUDATUS
84

85

FASCIES SUPERIOR HEPATIS :


LIGAMENTUM TERES HEPATIS
LIG FALCIFORME HEPATIS
FUNGSI HEPAR :
1. PEMBENTUKAN SEKRESI EMPEDU

DUODENUM

2. METEBOLISME KH, LEMAK DAN PROTEIN


3. MENYARING DARAH / PROTEKSI TERHADAP BENDA
ASING DAN BAKTERI

86

VESICA FELLEA
BENTUK : BUAH ALPUKAT
TERBAGI : FUNDUS, CORPUS DAN COLLUM
SALURAN KE KELUARNYA

KE DUCTUS CYSTICUS

GABUNGAN DG DUCTUS HEPATIS COMMUNIS


DUCTUS CHOLEDOCUS

DUODENUM PARS DESCENDEN

ADA LIPATAN : VALVULA SPIRALIS


SEBAGAI RESERVOAR DARI EMPEDU
PD HEPATITIS ( OLEH RADANG / VIRUS ) HEPAR TIDAK
BERKERJA MEMBENTUK BILLUS

87

88

89

90

BATAS :
ANTERIOR : - DINDING ABDOMEN
- PERMUKAAN VISCERAL HEPAR
POSTERIOR : - COLON TRANSVERSUM
- DUODENUM
KLINK :
LEMAKMERANGSANG HORMON HOLISITOKININ DARI
MUKOSA DUODENUM
DAERAH KANDUNG EMPEDU
AKAN BERKONTRAKSI,
OTOT DI DISTAL DUCTUS
CHOLEDOCUS DAN AMPULA RELAKSASI
EMPEDU
MASUK KE DUODENUM
UNTUK EMULSIFIKASI
LEMAK DI USUS HALUS DAN ABSORBSI LEMAK
91

92

93

94

95