Anda di halaman 1dari 31

RESIKO BUNUH

Iko Ruhiyat
DIRI Ani
Rohaeni
Dewi Ratnasari
Vina Amalia
Putri Puspa

Definisi
Bunuh diri adalah segala sesuatu perbuatan
dengan tujuan untuk membinasakan dirinya
sendiri dan dengan sengaja dilakukan oleh
seseorang yang tau akan akibatnya yang
mungkin pada waktu yang singkat (W.F.
Maramis, 1992)
Menciderai diri adalah tindakan agresif yang
merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan
keputusan terakhir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi
(Captain, 2008).

adaptif
Selft enhancment pengambaran diri menyayangi
kehidupan diri berusaha selalu meningkatkan
kualitas diri .
Growh promoting risk taking berani mengambil
risiko untuk meningkatkan perkembangan diri .
maladptif
Indirect selft-destructife behavior perilaku
merusak diri tidak langsung aktivitas yang dapat
mengancam kesejahtraan fisik dan berpotensi
mengakibatkan kematian,individu tak menyadari
atau menyangkal bahaya aktivitas tersebut .
Selft injury mencederai diri ;tak bermaksud
bunuh diri tetapi perilakunya bisa mengancam
jiwa .
Sucide atau bunuhdiri ; Perilaku yang di sengaja
menimbulkan kematian diri ;individu sadar
bahkan menginginkan kematian

penyebab tentang alasan seseorang


Kegagalan
melakukan
bunuh diri
beradapta
si

interperso
nal

mengak
hiri

Perasa
an
terisola
si

Perasaan
marah/
bermusuh
an

Faktor Predisposisi
Diagnosa medis ;
gangguan jiwa
Sifat kepribadian
Lingkungan
psikososial
Riwayat keluarga
faktor biokimia

Faktor Presipitasi
Faktor pencetus seseorang
melakukan percobaan
bunuh diri adalah:
Perasaan terisolasi
dapat terjadi karena
kehilangan hubungan
interpersonal/gagal
melakukan hubungan
yang berarti.
Kegagalan beradaptasi
sehingga tidak dapat
menghadapi stres.
Perasaan
marah/bermusuhan,
bunuh diri dapat
merupakan hukuman pada
diri sendiri.
Cara untuk mengakhiri
keputusan

Menurut Durkheim, bunuh diri


dibagi
menjadi tiga jenis
t
e
r
k
a
i
t

k
faktor
dalam diridan
faktor
lingkungan
e
seseorang
tekanan
h
o
r
m
a
t
a
n

Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)


Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini
disebabkan oleh kondisi kebudayaan atau karena
masyarakat yang menjadikan individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat
menerangkan mengapa mereka tidak menikah lebih rentan
untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan
mereka yang menikah.
Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia
cenderung untuk bunuh diri karena indentifikasi terlalu kuat
dengan suatu kelompok, ia merasa kelompok tersebut
sangat mengharapkannya.
Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan
integrasi antara individu dan masyarakat, sehingga individu
tersebut meninggalkan norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau
kelompoknya tidak memberikan kepuasan padanya karena
tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap
kebutuhan-kebutuhannya

Patofisiologi

Tanda dan Gejala


Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut
tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk
melakukan rencana bunuh diri tersebut adalah:
keputusasaan, celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak
berguna, alam perasaan depresi, agitasi dan gelisah, insomnia yang
menetap, penurunan BB, berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari
lingkungan sosial.
Adapun Ancaman bunuh diri Upaya bunuh diri Bunuh diri petunjuk
psikiatrik anatara lain: upaya bunuh diri sebelumnya, kelainan afektif,
alkoholisme dan penyalahgunaan obat, kelaianan tindakan dan depresi
mental pada remaja, dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia.
Sedangkan riwayat psikososial adalah: baru berpisah, bercerai/
kehilangan, hidup sendiri, tidak bekerja, perubahan/ kehilangan
pekerjaan baru dialami, faktor-faktor kepribadian: implisit, agresif, rasa
bermusuhan, kegiatan kognitif dan negatif, keputusasaan, harga diri
rendah, batasan/gangguan kepribadian antisosial

Faktor Penyebab terjadinya Bunuh diri.


Berdasarkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan

Penyebab bunuh diri pada anak : pelarian dan penganiayaan


atau pemerkosaan, situasi keluarga yang kacau, perasaan tidak
disayang atau selalu dikritik, gagal sekolah, takut atau dihina
disekolah, kehilangan orang yang dicintai, dihukum oranglain.
Penyebab bunuh diri pada remaja: hunungan interpersonal
yang tidak bermakna, sulit mempertahankan hubungan
interpersonal, pelarian dan penganiayaan fisik atau
pemerkosaan, perasaan tidak dimengerti oranglain, kehilangan
orang yang dicintai, keadaan fisik, masalah dengan orangtua,
masalah seksual, depresi.
Penyebab bunuh diri padadewasa awal: self ideal yang terlalu
tinggi, cemasakan tugas akademik yang banyak, kegagalan
akademi yang berarti kehilangan penghargaan dan kasih sayang
orangtua, kompetisi untuk sukses.
Penyebab bunuh diri pada lanjut usia : perubahan status dari
mandiri ketergantungan, penyak yang menurunkan kemampuan
berfungsi, perasan tidak berarti dimasyarakat, kesepian dan
isolasi sosial, kehilanganganda (seperti pekerjaan kesehatan
pasangan ), sumber hidup berkurang.

Komplikasi
Pada klien dengan percobaan
bunuh diri dengan cara
meminum zat kimia atau
intoksikasi

Pada klien dengan perdarahan


akan mengalami syok hipovolemik
yang tidak dilakukan resusitasi
cairan dan darah

Asuhan keperawatan

Ny N ( 40 Tahun) masuk UGD RSJ pada tanggal 5 Februari 2015. Hasil pengkajian
perawat menunjukan TTV 90/60, pulse 112x/menit, tampak perdarahan dari
pergelangan tangannya. Menurut suaminya ia mencoba bunuh diri dengan pisau cutter.
Empat bulan yang lalu Ny. N diagnosa menderita Ca Mammae stadium 4. Beberapa
haro sebelumnya klien tampak muruk, sedih dan tidak mau berbicara, klien menolak
pengobatan. Kepada dokter, Ny N pernah mengatakan ingin di suntik mati. Kepada
suaminya klien sering mengatakan lebih bak mati saja karena malu, takut suaminya
meninggalkan dia dan anak- anaknya masih kecil.
Kepada perawat ia mengatakan Saya tidak percaya akan menderita penyakit seperti
ini. Kalau saja saya tidak di timpa musibah ini tentunya semua akan baik- baik saja.
Kemudian Ny. N menceritakan bahwa ibunya pun meninggal karena penyakit yang
sama, kemudian di susul dengan kejadian masa SMA nya. Isi pembicaraan Ny. N sering
berubah- ubah,satu ide belum selesai sudah di susul dengan ide laian. Kepada perawat
klien menyatakan bekerja sebagai sekrtaris direktur di sebuh perusahaan asing ( namun
menurut keluarga itu tidak benar). Selama wawancara pandangan matanya mudah
beralih dan sering menunduk. Ia berkta Saya ingin cepat mati..........supaya cepat
bertemu ibu saya.

Identitas Pasien
Inisial : Ny.N
Umur : 40 Tahun
Informan : Suami
Pengkajian : 5 febuari
2015
Alasan Masuk
Menurut suami klien mencoba bunuh diri dengan
pisau cutter.

Faktor Pre-Diposisi
Klien menderita mpenyakit ca mamae stadium 4 , dan
pengobatan sebelumnya tidak berhasil karena selalu
menolak saat pengobatan.

Faktor Presipitasi
karena klien pernah mengatakan ingin suntik mati,
dan kepada suaminya klien sering mengatakan lebih
baik mati saja karena malu , takut suaminya
meninggalkan dia dan anak anak .
Masalah Keperawatan:
1. Resiko bunuh diri
2. Risiko perilaku kekerasan
3. Harga diri rendah

Fisik
Ada bekas percobaan bunuh diri pada pergelangan tanggan
dengan menggunakan pisau cutter, klien tampak lemas, sedih
dan tidak mau berbicara. Tanda-Tanda Vital TD : 90/60 mmhg
N :112 x/menit
Konsep diri
Identitas
Klien sudah menikah mempunyai anak yang
masih kecil kecil
Peran Diri
Klien adalah seorang istri
Ideal Diri
Klien mengatakan kalau saja saya tidak di
timpa musibah ini tentunya semua akan bailkbaik saja. Dan klien lebih baik mati saja
karena malu, takut suaminya meninggalkan
dia anak anakny ayng masih kecil
Harga diri
Klien tanpak muruk , sedih dan tidak mau
berbicara

Status Mental
Pembicaraan:
Klien saat ditanya oleh perawat klien sering berubah ubah satu
ide belum selesai sudah di susul dengan ide lain .Klien hanya mau
bicara bila ditanya oleh perawat, jawaban yang diberikan pendek,
afek datar, lambat dengan suara yang pelan, tanpa kontak mata
dengan lawan bicara kadang tajam, terkadang terjadi blocking.
Aktivitas Motorik:
Klien tanpak muruk ,
Alam perasaan
Klien sedih dan tidak mau berbicara
Interaksi selama wawancara:
Kontak mata kurang, klien selalu pandangan matanya beralih dan
sering menunduk
Proses pikir
Pengulangan pembicaarn persevarasi dengan mengatakan kepada
suaminya lebih baik mati saja karena malu , takut suaminya
meninggalkan dia dan anak anaknya masih kecil
Isi pikiran
Klien menceritakan bahwa ibunya pun meninggal karena penyakit
yangsama dan klien ingin cepat mati supaya cepat bertemu
ibunya

Mekanisme Koping
Mal adaptif : mencederai diri dengan cara mencoba
membunuh denga n pisau cutter dan pengen di suntik mati ,
murung tidak mau berbicara, dan klien menolak pengobatan.
Pohon masalah

Analisa data
Diagno
sa
Resiko
bunuh

diri

Data mayor

Data minor

Subyektif:

Subyektif:
Klien mengatakan ingin

Mengatakan hidupnya tak


berguna lagi

cepat mati karena

Inggin mati

supaya cepat bertemu

Menyatakan pernah mencoba

dengan ibu saya

bunuh diri

Mengancam bunuh diri

Pernah mengatakan ingin di


suntik mati

Obyektif:

Ekspresi murung

Sedih

tidak mau berbicara

Ada bekas percobaan bunuh

Obyektif:
Perubahan kebiasaan
hidup

Masalah Keperawatan Dan Data Yang Perlu


Dikaji
Perilaku bunuh diri

DS: menyatakan ingin bunuh diri / ingin mati saja,


tak ada gunanya hidup.
DO: ada isyarat bunuh diri, ada ide bunuh diri,
pernah mencoba bunuh diri.
Koping maladaptif

DS: menyatakan putus asa dan tak berdaya, tak


ada harapan.
DO: nampak sedih, murung .

Rencana Tindakan Keperawatan untuk pasien resiko


bunuh diri

Pasien:
Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.
Tujuan khusus
Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:

Perkenalkan diri dengan klien


Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
Bersifat hangat dan bersahabat.
Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.

Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri

Tindakan:
Jauhkan klien dari bendabenda yang dapat membahayakan (pisau, silet,
gunting, tali, kaca, dan lainlain).
Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.
Awasi klien secara ketat setiap saat.

Klien dapat mengekspresikan perasaannya

Tindakan:
Dengarkan keluhan yang dirasakan.
Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan
keputusasaan.
Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya.
Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan, kematian,
dan lainlain.
Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan
keinginan untuk hidup.
Klien dapat meningkatkan harga diri

Tindakan:
Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
Kaji dan kerahkan sumbersumber internal individu.
Bantu mengidentifikasi sumbersumber harapan (misal: hubungan antar
sesama, keyakinan, halhal untuk diselesaikan)

Klien dapat menggunakan koping yang adaptif

Tindakan:
Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalamanpengalaman yang menyenangkan setiap hari (misal :
berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat dll.).
Bantu untuk mengenali halhal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan pentingnya terhadap kehidupan
orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.
Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau
penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut
dengan koping yang efektif.
Klien dapat menggunakan dukungan sosial

Tindakan:
Kaji dan manfaatkan sumbersumber ekstemal individu (orangorang terdekat, tim pelayanan kesehatan,
kelompok pendukung, agama yang dianut).
Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan
agama).
Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).
Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat

Tindakan:
Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

Keluarga
Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota
keluarga yang mengancam atau mencoba bunuh diri.

Tindakan:
Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien
serta jangan pernah meninggalkan pasien sendirian
Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat
menjauhi barang-barang berbahaya disekita pasien
Mendiskusikan dengan keluarga untuk tidak sering
melamun sendiri

Tujuan: pasien mampu merawat pasien dengan resiko bunuh diri

Tindakan
Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
yang pernah muncul pada pasien
Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya
muncul pada pasien beresiko bunuh diri
Mengajarkan keluarga tentang cara melindungi pasien dari
perilaku bunuh diri.
Mengajarkan keluarga tentang cara yang dapat dilakukan
keluarga bila pasien memperlihatkan tanda dan gejala bunuh
diri.
Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:

Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat


dilakukan apa bila pasien melakukan percobaan bunuh
diri, antara lain:
Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka
masyarakat untuk menghentikan upaya bunuh diri tersebut
Segera membawa pasien kerumah sakit atau puskesmas untuk
mendapatkan bantuan medis.

Mencari keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan


yang tersedia bagi pasien
Memberikan informasi tentang nomor telpon darurat tenaga
kesehatan
Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien
berobat/control secara teratur untuk mengatasi masalah bunuh
dirinya

Catatan Perawatan Dan


Perkembangan
1. Resiko Bunuh Diri
Sp I Pasien
1. Membina hubungan saling percaya dengan klien
2. Mengidentifikasi benda-benda yang dapat
membahayakan pasien
3. Mengamankan benda-benda yang dapat
membahayakan pasien.
4. Melakukan kontrak treatment
5. Mengajarkan cara mengendalikan dorongan bunuh
diri
Sp II Pasien
1. Mengidentisifikasi aspek positif pasien
2. Mendorong pasien untuk berfikir positif terhadap
diri sendiri
3. Mendorong pasien untuk menghargai diri sebagai
individu yang berharga

Sp III Pasien
1.
Mengidentisifikasi
pola koping yang
biasa diterapkan
pasien
2. Menilai pola
koping yng biasa
dilakukan
3.
Mengidentifikasi
pola koping yang
konstruktif
4. Mendorong
pasien memilih
pola koping yang
konstruktif
5.
Menganjurkan
pasien
menerapkan pola
koping konstruktif

Sp IV Pasien
1. Membuat
rencana masa
depan yang
realistis bersama
pasien
2.
Mengidentifikasi
cara mencapai
rencana masa
depan yang
realistis
3. Memberi
dorongan pasien
melakukan
kehiatan dalam
rangka meraih
masa depan yang
realistis

SP 1 Keluaga
1. Mendiskusikan massalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien
2. Menjelaskan pengertia, tanda dan gejala resiko bunuh diri,
dan jenis prilaku yang di alami pasien beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien resiko bunuh diri
yang dialami pasien beserta proses terjadinya.
SP II Keluarga
1. Melatih keluarga
mempraktekan cara merawat pasien dengan
resiko bunuh diri
2. Melatih keluarga melakukan cara
merawat langsung kepada pasien resiko
bunuh diri.
SP III Keluarga
1. Membantu keluarga membuat jadual
aktivitas dirumah termasuk minum obat\
2. Mendiskusikan sumber rujukan yang
bias dijangkau oleh keluarga

Evaluasi
S:
Klien mengatakan sudah mencoba belajar berkenalan namun
masih enggan untuk dilakukan

O:
Klien aktif dan memperhatikan selama latihan berkenalan dengan
perawat

A:
Klien sudah tahu cara berkenalan dengan menyebutkan
nama,asal,hobi

P:
Lanjutkan berkenalan dengan orang lain.

Terima
kasih