Anda di halaman 1dari 2

Reboisasi Perilaku dan Pemeliharaan Karakter Dalam Rangka

Mengemban Amanah di Badan Eksekutif Mahasiswa Berkaitan


dengan Era Globalisasi
Kian maraknya pengaruh arus globalisasi memang tidak dapat dihindari
dikalangan dan strata manapun. Dari orang muda sampai orang tua, pria maupun
wanita, kalangan terpelajar maupun tidak terpelajar. Dari makanan sampai pakaian,
dari gaya sampai budaya. Banyak pihak terkait yang empati dengan perkembangan
mundur ini, tetapi hanya sebagian kecil yang peka dan menaruh perhatian. Sebagian
besar lainnya berpangku tangan, pura-pura tuli, pura-pura buta.
Apa yang kita hadapi bukan masalah kecil : menggulingkan orde pembunuhan
jati diri dan pembalakan pribadi berkualitas yang mengarah pada kemunduran akibat
pemanfaatan produk globalisasi. Terutama pihak yang akan menjadi pemberantas
keburukan bangsa (bukan penerus keburukan bangsa) pemuda-pemudi- menjadi
sorotan paling tajam. Apa yang anda pikirkan ketika anak SD menghabiskan waktu
bermain di warnet? Remaja gontok-gontokan meniru para publik figure di layar kaca?
Pernahkah kita analisis secara kerasan dan mendalam bagaimana pengaruh film,
jejaring sosial, dan game yang semua itu tidak pada tempatnya? Bukankah suatu ironi
jika anak kecilnya saja sudah begitu, apalagi remajanya?

Apalagi pemuda-

pemudinya? Dan titik puncaknya bagaimana dengan kaum pengeyam pendidikan


tertingginya? Yang penulis tekankan di sini bukan suatu pandangan sinis mengenai
hal hiburan dan munafik karena sedikit maupun besar banyak manfaat globalisasi
yang dirasakan dan dimanfaatkan, namun dampak pada perilaku dan karakter.
Kehidupan berorganisasi sudah jelas membutuhkan kedisiplinan, ketepatan
waktu, konsekuensi dan persistensi yang lumayan tinggi, itu lazim dan sangat lumrah.
Namun bersinggungan dengan maraknya penebangan karakter yang disebutkan tentu
saja menjadi suatu ancaman : malas-malasan, menunda-nunda pekerjaan utama,
menjadi tidak produktif, gaya hidup santai dan glamour. Inilah yang ingin diangkat
sebagai fokus kita sebelum melangkahkan kaki ke suatu organisasi, lebih rincinya

sebelum berkiprah di Badan Eksekutif Mahasiswa. Dunia yang kita hadapi nanti
bukan sekedar penyusunan dan pelaksanaan program kerja hasil persetujuan seluruh
anggota organisasi, tetapi masalah paling besar adalah semakin gundulnya pribadi
kita dari pohon-pohon karakter luhur bangsa Indonesia. Kesuksesan program dan
kebijakan apapun akan tercapai dengan menyiapkan pondasi kepribadian mulai dari
sekarang. Tidak ada waktu lagi, kita harus segera mencabut gulma ini sampai pada
akar-akarnya. Kemudian segera menanam kembali benih-benih karakter luhur dan
menyiramnya dengan kesadaran serta menyinarinya dengan semangat perubahan
sampai nanti mengakar menembus ideologi dan tumbuh menjulang serta berbuah
keberlanjutan pada generasi berikutnya. Artinya ini menjadi PR bagi seluruh keluarga
mahasiswa, apalagi yang berminat masuk BEM TPB, untuk menebar perubahan ini
melalui berbagai program kegiatan dan sosialisasi nyata.
Pada akhirnya kembali pada diri kita kesimpulan yang terlintas dari serangkaian
ironi diatas, mau dibawa kemana diri kita, mau dibawa kemana BEM TPB kita, dan
mau bagaimana IPB kita. Ingat, tidak ada waktu lagi. Keburu banjir budaya barat jika
kita tidak melakukan reboisasi dan pemeliharaan mulai dari sekarang. Mari kita
tanamkan karakter luhur, bergerak mendobrak pembalakan perilaku penyebab
kemunduran, dan menembus masa kejayaan! Hidup Mahasiswa!