Anda di halaman 1dari 91

ANALISIS STOCK SPLIT SIGNAL PADA FUTURE PROFITABILITY PERUSAHAAN

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA


Asih P. Sari, SE., M.Si., dan Dr. Djoko Susanto, MSA., Akuntan
PERSEPSI KEPUASAN TERHADAP KESUKSESAN KARIR DOSEN
PERGURUAN TINGGI SWASTA (PTS) DI KOPERTIS WILAYAH V DIY
Ani Muttaqiyathun, SE., M.Si.
PELUANG DAN TANTANGAN TENAGA KERJA DI KABUPATEN SLEMAN
DALAM PERPEKTIF SEKTORAL DAN SPASIAL
Dra. Mufidhatul Khasanah, M.Si.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENDAPATAN
PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA YOGYAKARTA
Dra. Salamatun Asakdiyah, M.Si. dan Tina Sulistiyani, SE., MM.
AUDIT VALUE FOR MONEY MENUJU AKUNTABILITAS PUBLIK
Julianto Agung Saputro, SE., S.Kom., M.Si.
PENGARUH KELOMPOK INDUSTRI, BASIS PERUSAHAAN,
DAN TINGKAT RETURN TERHADAP KUALITAS PENGUNGKAPAN SUKARELA
DALAM LAPORAN TAHUNAN: STUDI EMPIRIS DI BURSA EFEK JAKARTA
Inge Gunawan, SE., M.Si. dan Dr. Djoko Susanto, MSA., Akuntan

ISSN 0853-1269 - Akreditasi No. 118/DIKTI/Kep/2001

Rp7.500,-

Editorial Staff Jurnal Akuntansi Manajemen (JAM)


Editor in Chief
Djoko Susanto
STIE YKPN Yogyakarta
Managing Editor
Sinta Sudarini
STIE YKPN Yogyakarta
Editors
Al. Haryono Jusup
Universitas Gadjah Mada

Indra Wijaya Kusuma


Universitas Gadjah Mada

Arief Ramelan Karseno


Universitas Gadjah Mada

Jogiyanto H.M
Universitas Gadjah Mada

Arief Suadi
Universitas Gadjah Mada

Mardiasmo
Universitas Gadjah Mada

Basu Swastha Dharmmesta


Universitas Gadjah Mada

Soeratno
Universitas Gadjah Mada

Djoko Susanto
STIE YKPN Yogyakarta

Suad Husnan
Universitas Gadjah Mada

Enny Pudjiastuti
STIE YKPN Yogyakarta

Suwardjono
Universitas Gadjah Mada

Gudono
Universitas Gadjah Mada

Tandelilin Eduardus
Universitas Gadjah Mada

Harsono
Universitas Gadjah Mada

Zaki Baridwan
Universitas Gadjah Mada

Editorial Secretary
Rudy Badrudin
STIE YKPN Yogyakarta
Editorial Office
Pusat Penelitian STIE YKPN Yogyakarta
Jalan Seturan Yogyakarta 55281
Telpon (0274) 486160, 486321 Fax. (0274) 486081
(http://v2.stieykpn.ac.id/jurnal)

DARI REDAKSI

Pembaca yang terhormat,


Selamat berjumpa kembali dengan Jurnal
Akuntansi Manajemen (JAM) STIE YKPN Yogyakarta
Edisi April 2004. Kami telah melakukan beberapa
perubahan tampilan dan isi JAM. Di samping
perubahan-perubahan tersebut, kami juga memberikan
kemudahan bagi para pembaca dalam mengarsip dalam
bentuk file artikel-artikel yang telah dimuat pada edisi
JAM sebelumnya dengan cara mengakses artikelartikel tersebut di website STIE YKPN Yogyakarta
(www://stieykpn. ac.id). Semua itu kami lakukan sebagai
konsekuensi ilmiah dengan telah Terakreditasinya JAM
berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 118/DIKTI/ Kep/2001.
Dalam JAM Edisi April 2004 Ini, Disajikan 6
Artikel Sebagai Berikut: Analisis Stock Split Signal
pada Future Profitability Perusahaan yang Terdaftar
di Bursa Efek Jakarta; Persepsi Kepuasan Terhadap
Kesuksesan Karir Dosen Perguruan Tinggi Swasta
(PTS) di Kopertis Wilayah V DIY; Peluang dan

Tantangan Tenaga Kerja di Kabupaten Sleman dalam


Perspektif Sektoral dan Spasial; Analisis Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Pedagang
Pasar Tradisional di Kota Yogyakarta; Audit Value For
Money Menuju Akuntabilitas Publik; dan Pengaruh
Kelompok Industri, Basis Perusahaan, dan Tingkat
Return Terhadap Kualitas Pengungkapan Sukarela
dalam Laporan Tahunan: Studi Empiris di Bursa Efek
Jakarta.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah memberikan kontribusi pada
penerbitan JAM Edisi April 2004 ini. Harapan kami
mudah-mudahan artikel-artikel pada JAM tersebut
dapat memberikan nilai tambah informasi dan
pengetahuan dalam bidang Akuntansi, Manajemen,
dan Ekonomi Pembangunan bagi para pembaca.
Selamat menikmati sajian kami pada edisi ini dan sampai
jumpai pada edisi Agustus 2004 dengan artikel-artikel
yang lebih menarik.
REDAKSI.

DAFTAR ISI

ANALISIS STOCK SPLIT SIGNAL PADA FUTURE PROFITABILITY PERUSAHAAN


YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA
Asih P. Sari, SE., M.Si., dan Dr. Djoko Susanto, MSA., Akuntan
1
PERSEPSI KEPUASAN TERHADAP KESUKSESAN KARIR DOSEN
PERGURUAN TINGGI SWASTA (PTS) DI KOPERTIS WILAYAH V DIY
Ani Muttaqiyathun, SE., M.Si.
23
PELUANG DAN TANTANGAN TENAGA KERJA DI KABUPATEN SLEMAN
DALAM PERPEKTIF SEKTORAL DAN SPASIAL
Dra. Mufidhatul Khasanah, M.Si.
33
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
TINGKAT PENDAPATAN PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTAYOGYAKARTA
Dra. Salamatun Asakdiyah, M.Si. dan Tina Sulistiyani, SE., MM.

55
AUDIT VALUE FOR MONEY MENUJU AKUNTABILITAS PUBLIK
Julianto Agung Saputro, SE., S.Kom., M.Si.
67
PENGARUH KELOMPOK INDUSTRI,
BASIS PERUSAHAAN, DAN TINGKAT RETURN
TERHADAPKUALITAS PENGUNGKAPAN SUKARELA DALAM LAPORAN TAHUNAN:
STUDI EMPIRIS DI BURSA EFEK JAKARTA
Inge Gunawan, SE., M.Si. dan Dr. Djoko Susanto, MSA., Akuntan

75

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Analisis Stock Split Signal ......

ABSTRACT
Small businesses in Indonesia have already proved
that
SPLIT
SIGNAL

ANALISIS STOCK
ANALISIS
PENGARUH
TEKANANPERUSAHAAN
KETAATAN
PADA
FUTURE
PROFITABILITY
TERHADAP JUDGMENT
YANG TERDAFTAR
DI BURSA AUDITOR
EFEK JAKARTA
Hansiadi Yuli Hartanto1)
*)
P. Sari
Indra Asih
Wijaya
Kusuma2)
Djoko Susanto **)

Berbagai penelitian mengenai stock split telah banyak


dilakukan, namun demikian hasil-hasil penelitian
tersebut belum menjawab pertanyaan mengapa
perusahaan melakukan stock split (Huang et al, 2002).
Selain itu, secara empiris hanya terdapat sedikit bukti
yang mendukung bahwa pengumuman stock split
memberikan kandungan informasi tentang peningkatan
profitabilitas masa depan perusahaan. Lakonishok dan
Lev (1987) mengungkap bahwa perusahaan yang
melakukan stock split memiliki pertumbuhan laba
jangka pendek lebih tinggi dibandingkan perusahaan
yang tidak melakukan stock split. McNichols dan
Dravid (1990) menemukan hubungan signifikan antara
excess return pada saat pengumuman split dan error
peramalan laba satu tahun berikutnya. Namun fokus
kedua penelitian tersebut hanyalah pada laba jangka
pendek, sehingga tidak jelas apakah informasi laba masa
depan perusahaan untuk jangka waktu yang lebih
panjang sudah tercakup dalam keputusan manajemen
untuk melakukan stock split.
Secara teoritis, harga saham cenderung
meningkat setelah perusahaan melakukan stock split.
Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa
perusahaan memecah sahamnya untuk memberikan
sinyal informasi mengenai laba masa depan yang akan
diperoleh perusahaan. Dalam signaling hypothesis

*)
**)

dikatakan bahwa stock split berhubungan dengan


kelebihan laba karena manajer melakukan tindakan
tersebut sebagai sarana untuk mengungkap informasi
privat mengenai prospek perusahaan di masa depan.
Hartono (2000) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
pengaruh stock split memiliki sinyal positif dalam
menyampaikan prospek perusahaan dengan kinerja
yang baik kepada publik. Apabila pasar bereaksi pada
saat pengumuman split, hal ini bukan berarti bahwa
pasar bereaksi karena informasi tersebut memiliki nilai
ekonomis, tetapi pasar bereaksi karena mengetahui
prospek masa depan perusahaan yang disinyalkan
melalui stock split. Copeland (1979) mengungkap
bahwa dalam stock split terkandung biaya yang harus
ditanggung, sehingga hanya perusahaan yang memiliki
prospek baik saja yang dapat menanggung biaya ini
dan sebagai akibatnya pasar bereaksi positif terhadap
sinyal stock split. Begitu pula sebaliknya, pasar akan
bereaksi negatif pada sinyal stock split bila prospek
perusahaan dianggap tidak baik karena perusahaan
tidak dapat menanggung biaya tersebut. Apabila pasar
dinilai cukup kompetitif untuk mengetahui kondisi
tersebut, maka sinyal stock split tidak akan menaikkan
harga namun sebaliknya akan menurunkan harga saham
perusahaan.

Asih P. Sari, SE., M.Si., adalah alumni Magister Akuntansi Program Pascasarjana STIE YKPN Yogyakarta.
Dr. Djoko Susanto, MSA., Akuntan adalah Dosen Tetap STIE YKPN Yogyakarta.

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


Ikenberrry et al, (1996) menganalisis kinerja
perusahaan yang melakukan stock split tiga tahun
setelah pengumuman dengan menggunakan excess
return. Huang et al, (2002) menguji hubungan antara
stock split dan profitabilitas masa depan. Dalam
penelitian tersebut terungkap bahwa hanya terdapat
sedikit bukti yang mendukung bahwa stock split
memiliki hubungan positif dengan profitabilitas masa
depan, bahkan stock split secara umum memiliki
hubungan negatif dengan profitabilitas masa depan
pada tahun-tahun setelah pengumuman, sehingga
dapat dikatakan bahwa stock split bukanlah sinyal atas
prospek laba perusahaan di masa depan (Huang et al.,
2002).
Di Indonesia penelitian tentang stock split di
Bursa Efek Jakarta telah banyak dilakukan. Berbagai
penelitian telah dilakukan untuk menguji pengaruh
stock split terhadap: harga saham (Ewijaya dan
Indriantoro, 1999), laba dan dividen (Anggraini, 1999
dan Marwata, 2000), keuntungan saham (Zulfikar, 1999),
likuiditas (Sukardi, 1998, Fatmawati dan Asri, 1999,
Susanti, 2000, Herawati, 2001, dan Nuryanti, 2001), risiko
saham (Kurniawati, 2001), dan harga saham intra
industri (Tobing, 2001). Begitu juga penelittian
mengenai reaksi pasar terhadap stock split telah
dilakukan oleh Sukardi (1998), Julita (2001) dan
Kurniawati (2001). Berbeda dengan penelitianpenelitian di atas, studi ini dimaksudkan untuk meneliti
kembali pengaruh stock split yang diproksikan sebagai
split factor signal terhadap laba dan perubahan laba
masa depan dalam konteks pasar modal di Indonesia
dengan mengacu pada penelitian Huang et al., (2002).
PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Huang et
al. (2002) mengambil sampel 635 pengumuman stock
split dari tahun 1982 hingga 1997. Sampel penelitian
difokuskan pada pengumuman split yang memiliki split
factor rendah, yaitu sama dengan atau kurang dari 0.5.
Sebagaimana penelitian-penelitian terdahulu, sampel
penelitian menunjukkan excess returns positif dalam
kurun waktu lima hari menjelang pengumuman stock
split. Temuan penelitian tersebut mengindikasikan
adanya pertumbuhan laba negatif dua tahun setelah
pengumuman stock split. Penelitian tersebut juga
mengamati perusahaan-perusahaan yang menaikkan

Analisis Stock Split ......

pembayaran dividen sebelum tahun pengumuman split


atau perusahaan-perusahaan yang mempertahankan
pembayaran dividen pada tingkat yang sama dengan
pembayaran sebelumnya. Bagi perusahaan-perusahaan
yang tidak membayarkan dividen baik pada tahun
sebelum pengumuman stock split atau perusahaan
yang mengalami penurunan dividen menunjukkan
pertumbuhan laba positif pada tahun pertama dan
kedua, namun untuk tahun ketiga menunjukkan hasil
yang berlawanan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut
dapat disimpulkan bahwa stock split memiliki hubungan
negatif dengan laba masa depan.
Hal yang menarik dari penelitian Huang et al.
(2002) adalah bahwa perusahaan-perusahaan yang
melakukan stock split pada tahun pengumuman
memiliki pertumbuhan laba jauh lebih tinggi
dibandingkan beberapa tahun setelahnya. Temuan ini
mengindikasikan bahwa manajer mengambil keputusan
untuk melakukan stock split didasarkan atas informasi
kinerja perusahaan pada masa sekarang atau masa yang
lalu dan dalam hal ini manajer cenderung merasa optimis
mengenai laba perusahaan jangka panjang. Ada
kemungkinan bahwa manajer cenderung tidak
memberikan sinyal tetapi justru mereka melakukan stock
split agar dapat menarik perhatian investor (Grinblatt
et al., 1984), atau kemungkinan lain manajer melakukan
split untuk menambah tingkat kepemilikan saham
(Baker dan Powel, 1993). Hasil penelitian Huang et al.
(2002) menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan
positif antara split factor signal dengan tiga
pengukuran profitabilitas masa depan, yang meliputi
perubahan laba, laba, dan laba abnormal, sehingga
penelitian tersebut bertujuan untuk menjelaskan bahwa
stock split bukan merupakan sinyal yang dapat
dipercaya untuk menilai kinerja laba masa depan.
Stock Split
Stock split atau pemecahan saham merupakan
suatu aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan go
public untuk menaikkan jumlah lembar saham beredar
(Brigham dan Gapenski, 1994). Pada dasarnya, stock
split dikelompokkan dalam dua kategori yaitu split-up
(pemecahan naik) dan split-down atau reverse split
(pemecahan turun). Split-up adalah penurunan nilai
nominal per lembar saham yang mengakibatkan
bertambahnya jumlah lembar saham beredar. Misalnya

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


stock split dengan split factor 2:1, 3:1 atau 4:1
menunjukan bahwa jumlah lembar saham beredar
setelah split naik menjadi masing-masing dua kali, tiga
kali, atau empat kali lebih besar dibandingkan sebelum
split. Split-down adalah peningkatan nilai nominal per
lembar saham dan mengurangi jumlah lembar saham
beredar. Split-down dengan split factor 1:2, 1:3, atau
1:4 menunjukkan bahwa jumlah lembar saham beredar
setelah split masing-masing menjadi dua kali, tiga kali
atau empat kali lebih kecil dibandingkan sebelum split.
Dalam hal ini, split factor diartikan sebagai
perbandingan antara jumlah lembar saham beredar
setelah split dengan jumlah lembar saham beredar
sebelum split (Swevezyk dan Tsetsekos, 1993).
Pengaturan stock split belum tercakup dalam
Standar Akuntansi Keuangan, meskipun demikian
praktik stock split di Indonesia telah banyak dilakukan
oleh emiten. Stock split yang umumnya dilakukan
adalah split-up. Berbeda dengan Indonesia, di pasar
modal Amerika yaitu New Stock Exchange (NYSE),
praktik stock split diatur dengan membedakan stock
split menjadi dua yaitu partial stock split dan full stock
split (McGough, 1993). Partial stock split adalah
bertambahnya distribusi saham yang beredar sebesar
25% atau lebih tetapi kurang dari 100% dari jumlah
lembar saham lama yang telah beredar. Misalnya, stock
split dengan split factors 1,25:1 atau 1,5:1. Full stock
split adalah bertambahnya distribusi saham yang
beredar sebesar 100% atau lebih dari jumlah saham lama
yang telah beredar, misalnya 2:1, 3:1, atau 4:1.
Stock split biasanya dilakukan setelah harga
saham tertentu dianggap terlalu tinggi oleh pasar.
Tingginya harga saham akan mengurangi minat investor membeli saham tersebut. Untuk meningkatkan minat
investor terutama investor kecil sekaligus
mempertahankan harga sahamnya agar tetap barada
dalam kisaran perdagangan yang optimal, para emiten
melakukan penurunan nilai nominal saham dengan cara
melakukan stock split (McGough, 1993).
Menurut Ballmore dan Blucher (1956) dalam
Anggraini (1999) ada beberapa alasan seorang manajer
melakukan stock split, antara lain: (1) meningkatkan
daya pasar saham, (2) memberikan informasi mengenai
kesempatan yang lebih besar untuk berinvestasi.
Alasan pertama menjelaskan bahwa stock split dapat
menguntungkan pemegang saham dengan
meningkatkan popularitas dan daya pasar (marketabil-

Analisis Stock Split Signal ......

ity) sekuritas dengan membawa harga-harga saham


pada kisaran pardagangan yang lebih baik (Johnson,
1966 dalam Anggraini, 1999). Pada umumnya literatur
keuangan memusatkan pada alasan kedua yaitu
argumentasi kandungan informasi sebagai motivasi
yang kuat untuk memecah saham. Stock split
memberikan informasi mengenai keuntungan yang akan
datang kepada pemegang saham. Informasi tersebut
dapat berupa informasi keuangan yang lebih baik
seperti kesempatan investasi yang lebih besar yang
diharapkan menghasilkan peningkatan laba pada masa
mendatang (Bar dan Brown, 1977 dalam Anggraini,
1999).
Teori Sinyal
Teori sinyal menunjukkan masalah asimetri informasi
di pasar. Asumsi yang mendasari teori ini yaitu bahwa
manajer mempunyai informasi akurat tentang prospek
perusahaan, yang tidak diketahui oleh investor dan
analis keuangan sebagai individu yang selalu berusaha
memaksimalkan insentif yang diharapkan. Asimetri
informasi terjadi jika manajer tidak secara penuh
menyampaikan semua informasi yang dimilikinya
tentang semua hal yang dapat mempengaruhi nilai
perusahaan di pasar. Jika manajer menyampaikan suatu
informasi ke pasar maka pada umumnya pasar akan
merespon informasi tersebut sebagai suatu sinyal
terhadap adanya peristiwa tertentu yang dapat
mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari
perubahan harga dan volume perdagangan saham yang
terjadi. Sebagai implikasinya, pengumuman perusahaan
untuk memecah saham akan direspon oleh pasar sebagai
suatu sinyal informasi yang dikeluarkan oleh pihak
manajer, yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai
saham perusahaan dan aktivitas perdagangan
Dalam teori sinyal juga disebutkan bahwa stock
split merupakan suatu tindakan yang digunakan oleh
manajemen untuk menyampaikan informasi mengenai
laba masa depan ke pasar. Doran (1984) menjelaskan
bahwa stock split dianggap sebagai sinyal yang
diberikan oleh manajer kepada publik bahwa
perusahaan memiliki prospek yang baik di masa depan.
Analis akan menangkap sinyal tersebut dan kemudian
menggunakannya untuk memprediksi laba jangka
panjang perusahaan. Reaksi pasar tidak disebabkan
oleh tindakan stock split, melainkan oleh prospek

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


perusahaan di masa depan yang disinyalkan oleh stock
split tersebut.
Lakonishok dan Lev (1987) memberikan
beberapa bukti yang mendukung teori sinyal. Penelitian
mereka menunjukkan bahwa perusahaan yang
melakukan stock split menghasilkan pertumbuhan laba
sebesar 16,31% pada tahun pertama setelah stock split,
tetapi bagi perusahaan-perusahaan yang tidak
melakukan stock split mengalami pertumbuhan laba
sedikit lebih kecil sebesar 13.28%. Meskipun demikian,
hasil dari penelitian Lakonishok dan Lev (1987)
menyimpulkan bahwa perusahaan melakukan stock
split disebabkan karena perusahaan ingin
menyesuaikan harga sahamnya agar berada pada
tingkat harga yang optimal.
Penelitian lain yang mendukung hasil di atas
dilakukan oleh Asquith et al. (1989) yang melakukan
penelitian terhadap 121 perusahaan yang melakukan
stock split selama periode 1970-1980 dan tidak
melakukan pembayaran dividen. Hal yang cukup
menarik dari penelitian ini adalah perusahaan yang
digunakan sebagai sampel ternyata tidak membagikan
dividen selama 5 tahun terakhir menjelang stock split.
Hasil penelitian ini adalah bahwa pasar bereaksi positif
terhadap stock split, tetapi hal ini tidak disebabkan
karena adanya informasi mengenai perusahaan yang
akan membagikan dividen, namun lebih disebabkan
kerena adanya peningkatan laba yang signifikan selama
beberapa tahun sebelum stock split.
Begitu juga penelitian yang dilakukan
McNichols dan Dravid (1990) yang menemukan bahwa
earnings forecast errors atau kesalahan peramalan laba
selama satu tahun ke depan menunjukkan korelasi
positif dengan pengumuman abnormal returns.
Selanjutnya penelitian Ikenberry et al. (1996) serta Desai
dan Jain (1997) memberikan hasil bahwa terdapat excess returns dalam tiga tahun setelah pengumuman
stock split. Hasil penelitian mereka mendukung
pendapat yang mengatakan bahwa stock split dapat
menggambarkan optimisme manajemen di masa depan.
Penelitian tersebut berbeda dengan yang
dilakukan oleh Ikenberry et al. (1996) yang menemukan
excess returns negatif selama tiga tahun setelah
melakukan stock split terhadap 52 perusahaan yang
memiliki harga saham negatif sebelum melakukan stock
split. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian
sinyal stock split memiliki dampak yang buruk terhadap

Analisis Stock Split ......

perusahaan. Walaupun demikian, Ikenberry et al. (1996)


dan Desai dan Jain (1997), karena tidak menganalisa
laba masa depan, maka hasil penelitian mereka tidak
mengindikasikan adanya hubungan positif antara stock
split dan profitabilitas masa depan.
Bukti-bukti yang terdapat dalam penelitian
Ikenberry dan Ramnath (2002) menunjukkan bahwa
penyimpangan yang positif selama satu tahun setelah
pengumuman stock split dihubungkan dengan
kurangnya reaksi pasar. Secara khusus, penemuan
mereka menyimpulkan bahwa para analis keuangan
cenderung mengabaikan laba perusahaan yang
melakukan stock split dan pendapat para analis ini
secara bertahap akan hilang pada saat diumumkannya
laba yang sesungguhnya (actual). Meskipun hasil
penelitian Ikenberry dan Ramnath (2002) menunjukkan
dugaan terhadap laba yang diharapkan oleh para analis,
tetapi hal ini belum memperoleh kejelasan mengenai
apakah stock split dapat mengindikasikan kinerja
operasional perusahaan yang semakin meningkat di
masa depan.
Penelitian lain yang mendukung hasil dari
penelitian Ikenberry dan Ramnath (2002) dilakukan oleh
Lakonishok dan Lev (1987) yang melaporkan bahwa
angka pertumbuhan laba pada perusahaan yang
melakukan stock split selama satu tahun sebelum
pengumuman stock split mengalami penurunan dari
26,35% menjadi masing-masing 16,31%, 8,61%, dan
8,02% dalam tiga tahun sesudah pengumuman stock
split.
Banyak penelitian tentang perusahaanperusahaan yang melakukan stock split dan juga
penelitian mengenai perusahaan yang mengumumkan
dividen yang dihubungkan dengan stock split, tetapi
sampai saat ini belum dapat menjelaskan seberapa
banyak kandungan informasi yang terdapat dalam
pengumuman stock split dan pengumuman dividen.
Berbagai usaha telah dilakukan untuk dapat
menjelaskan seberapa besar kandungan informasi
dividen yang dihubungkan dengan stock split, seperti
penelitian yang dilakukan oleh Nayak dan Prabala
(2001). Hasil penelitian Layak dan Prabala (2001)
menunjukkan bahwa sekitar 54% pengaruh
pengumuman stock split diberikan terhadap informasi
yang terkandung pada stock split. Hal tersebut
menunjukkan bahwa pengumuman stock split dan
pengumuman dividen merupakan informasi yang saling

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


dapat menggantikan satu sama lain (substitutes).
Berbagai penelitian memberikan sedikit bukti yang
mendukung pernyataan bahwa stock split dapat
menghasilkan informasi yang menyenangkan mengenai
pendapatan masa depan.
Hasil yang berbeda ditunjukkan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Grinblatt et al. (1984) yang
menyatakan bahwa dengan cara menarik perhatian
terhadap suatu perusahaan maka stock split dapat
mengurangi asimetri informasi yang ada di pasar.
Penelitian Brennan dan Hughes (1991) konsisten
dengan penelitian Grinblatt et al. (1984), yang
menyebutkan bahwa jumlah analis sekuritas yang
mengikuti suatu perusahaan memiliki hubungan positif
dengan besaran stock split. Selanjutnya Admati dan
Pfleiderer (1988) menjelaskan bahwa informasi stock
split bukan hanya menarik para traders tetapi para noise
traders juga lebih tertarik terhadap informasi stock split
disebabkan karena harga saham dinilai lebih rendah
setelah stock split.
Sebuah penjelasan alternatif mengenai stock
split menyatakan bahwa perusahaan lebih tertarik jika
saham-sahamnya diperdagangkan dalam kisaran harga
tertentu (Copeland, 1979). Hal ini menunjukkan bahwa
manajemen perusahaan memiliki kecenderungan untuk
selalu mempertahankan harga sahamnya agar berada
di kisaran harga tertentu sehingga apabila terdapat
harga saham yang dinilai terlalu tinggi dapat
menyebabkan para investor kecil atau investor yang
belum diberi informasi tidak dapat memperdagangkan
harga sahamnya dalam jumlah besar, maka ini semua
akan dapat mempengaruhi likuiditas saham. Saham yang
dipecah dapat meningkatkan likuiditas dengan
menambah jumlah pemegang saham dan dapat juga
mengurangi biaya perdagangan saham.
Penelitian yang dilakukan oleh Baker dan
Gallagher (1980) menunjukkan bahwa 94% dari sampel
yang mereka teliti merupakan kepala bagian keuangan
dari beberapa perusahaan. Hasil penelitian
menyebutkan bahwa mereka melakukan stock split agar
mereka dapat mengembalikan harga saham perusahaan
agar berada dalam kisaran perdagangan optimal.
Meskipun demikian, terdapat bukti empiris yang
membingungkan mengenai likuiditas yang semakin
meningkat setelah stock split. Sebagai contoh,
beberapa penelitian yang dilakukan oleh Copeland
(1979), Lamoureux dan Poon (1987), Conroy et. al.

Analisis Stock Split Signal ......

(1990), dan Dubofsky (1991) yang menemukan hasil


bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam penelitian
tentang likuiditas, seperti perubahan stock returns atau
bid-ask spread yang proposional.
Hasil yang sebaliknya ditunjukkan dalam
penelitian Easley et al. (2001), yang dalam penelitiannya
menemukan bahwa terjadi peningkatan jumlah investor yang tidak diberi informasi, meskipun mereka juga
menemukan adanya peningkatan biaya perdagangan
secara keseluruhan dari para investor yang tidak diberi
informasi. Easley et al. (2001) menunjukkan bahwa
hasil temuannya konsisten dengan trading range hypothesis.
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Hubungan Antara Split Factor Signal dan Perubahan
Laba
Menurut signaling hypothesis, para manajer yang
melakukan stock split memiliki harapan agar dapat
memberikan informasi khusus mengenai peningkatan
laba perusahaan di masa depan. Dalam menguji signaling hypothesis, para analis keuangan harus
mengetahui bukan hanya laba namun juga perubahan
laba perusahaan di masa yang akan datang. Oleh karena
itu, jika dikatakan bahwa stock split merupakan sinyal
yang dapat dipercaya, maka setiap laba harus
mencerminkan laba yang sesungguhnya (actual) dari
perusahaan yang melakukan stock split sehingga investor tidak menggunakan semua informasi yang
tersedia di pasar pada saat pengumuman stock split.
Berdasarkan penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa
investor perlu mengestimasi laba yang diharapkan dan
laba yang tidak terduga.
Huang et al. (2002) dalam penelitiannya
mengestimasi laba yang cenderung tidak pasti sehingga
laba yang diharapkan pada masa yang akan datang
memiliki kecenderungan yang sama terhadap laba pada
tahun ini. Konsekuensi yang diambil oleh Huang et al.
(2002) adalah bahwa perubahan laba yang tidak terduga
dapat diukur dengan perubahan laba yang
direalisasikan. Hasil penelitian Huang et al. (2002)
menyimpulkan bahwa pengumuman stock split dapat
memprediksi perubahan laba di masa depan, tetapi
sinyal stock split yang ditimbulkan bertentangan
dengan prediksi model signaling. Penelitian ini juga

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


menyebutkan bahwa perusahaan yang mengalami
penurunan dividen justru memberikan sinyal stock split
yang positif selama tiga tahun dan tidak menemukan
korelasi yang positif antara sinyal stock split dan
perubahan laba dalam tiga tahun setelah pengumuman
stock split pada perusahaan yang membagikan dividen.
Untuk dapat mengendalikan dampak yang ditimbulkan
dari perubahan dividen pada tahun pengumuman stock
split maka penelitian ini menggunakan perubahan
dividen yang dibandingkan dengan book value of equity pada awal tahun perusahaan yang melakukan stock
split (ROE). Penggunaan ROE dalam persamaan regresi
sebagai variabel kontrol dimaksudkan untuk
mengontrol profitabilitas perusahaan pada tahun
sebelumnya, dalam menjelaskan kandungan informasi
pengumuman stock split. Huang et al. (2002) dalam
penelitiannya juga menggunakan split factor signal
sebagai informasi khusus perusahaan yang tidak
diketahui oleh pasar pada saat perusahaan melakukan
stock split. Penggunaan split factor signal
dimaksudkan sebagai proksi untuk sinyal informasi
khusus yang menguntungkan manajemen dalam
meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Untuk menguji apakah stock split dapat
digunakan untuk memprediksi laba yang tidak terduga
di masa yang akan datang, maka hipotesis alternatif
dapat disusun sebagai berikut:
H1 : Split factor signal berpengaruh positif terhadap
perubahan laba masa depan.
Hubungan Antara Split Factors Signal dan Laba Masa
Depan
Penelitian yang dilakukan oleh Asquith et al, (1989)
menguji apakah pengumuman stock split mengandung
informasi laba masa depan. Sampel data yang
digunakan sebanyak 121 perusahaan yang melakukan
pengumuman stock split minimal 25% selama periode
tahun 1970 hingga 1980 dan tidak membayarkan dividen.
Mereka menyimpulkan bahwa reaksi positif pasar
dengan adanya stock split tidak disebabkan oleh
informasi bahwa kemungkinan perusahaan akan
membagi dividen, namun lebih disebabkan oleh
kemungkinan adanya peningkatan laba. Kesimpulan
yang hampir sama juga dikemukakan oleh Lakonishok
dan Lev (1987) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan

Analisis Stock Split ......

laba perusahaan yang melakukan stock split hanya


berlangsung hingga tahun pertama setelah split.
Hasil yang berbeda ditunjukkan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Anggraini (1999) terhadap
kandungan informasi laba dan dividen yang dibawa
oleh pengumuman stock split. Hasil penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa stock split berhubungan negatif
dengan perubahan laba sebelum dan setelah
pengumuman stock split serta tidak terdapat
peningkatan laba yang signifikan sebelum dan setelah
pengumuman stock split. Hal tersebut tidak konsisten
dengan penelitian yang dilakukan oleh Asquith et al.
(1989) dan Lakonishok dan lev (1987).
Marwata (2000) dalam Julita (1999) melakukan
penelitian dengan menggunakan sampel perusahaan
yang melakukan stock split antara tahun 1996-1997.
Data laba yang digunakan adalah laba bersih, Earning
Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), dan
Price to Book Value (PBV). Hasilnya membuktikan
bahwa terjadi peningkatan laba dari tahun ketiga hingga
tahun pertama sebelum pengumuman split.
Dalam penelitian yang menganalisis informasi
yang terkandung dalam hipotesa dividen, Nissim dan
Ziv (2001) menyatakan bahwa perubahan laba memiliki
kesalahan pengukuran yang lebih besar dibandingkan
tingkat laba yang sesungguhnya (actual). Dalam hal
ini alasan yang mendukung pendapat mereka adalah
bahwa manajer akan meningkatkan dividen perusahaan
pada saat mereka memiliki harapan terhadap
peningkatan laba yang terjadi tanpa mereka duga
sebelumnya. Bagaimanapun juga tingkat keyakinan
para manajer tersebut kemungkinan tidak sama ketika
menetapkan keputusan untuk meningkatkan laba pada
saat sebelum mereka meningkatkan dividen perusahaan.
Dalam kenyataannya, laba yang diharapkan oleh
manajer perusahaan tidak dapat diketahui, sehingga
untuk memperoleh laba yang diharapkan, manajer harus
melakukan estimasi. Penelitian yang dilakukan oleh
Nissim dan Ziv (2001) menggunakan laba yang
sesungguhnya sebagai estimasi dari laba yang
diharapkan dengan asumsi bahwa laba perusahaan pada
setiap saat tidak akan berubah.
Penelitian yang dilakukan oleh Huang et al.
(2002) menyimpulkan bahwa stock split signal tidak
dapat menjelaskan laba untuk tahun-tahun yang akan
datang. Hasil ini menunjukkan bahwa stock split

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


mempunyai pengaruh negatif jika dihubungkan dengan
laba masa depan pada tahun pertama dan ketiga setelah
pengumuman stock split. Di samping itu, untuk
perusahaan yang mengalami penurunan dividen, sinyal
stock split yang ditimbulkan berpengaruh negatif pada
tahun pertama dan kedua, sedangkan untuk tahun
ketiga berpengaruh positif. Sehingga dalam hal ini signaling hypothesis diharapkan dapat memberikan
informasi khusus yang dimiliki manajemen untuk
menjelaskan laba masa depan.
Pada perusahaan yang memiliki peningkatan
dividen atau pembayaran dividennya sama dengan
tahun sebelum pengumuman stock split, maka hal ini
dapat memberikan pengaruh positif terhadap laba masa
depan. Meskipun demikian, karena dampak dari sinyal
stock split sangat mempengaruhi pengumuman
dividen, maka cukup beralasan jika sinyal stock split
berpengaruh positif disebabkan oleh perubahan
dividen pada saat pengumuman stock split (Nayak dan
Prabhala, 2001).
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah
diuraikan sebelumnya maka dapat disusun hipotesis
alternatif sebagai berikut:
H2 : Split factor signal berpengaruh positif terhadap
laba masa depan.
METODE PENELITIAN
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini
sebagaimana yang digunakan dalam Huang et al. (2002)
meliputi variabel yang ditujukan untuk menguji kedua
hipotesis penelitian yang dikembangkan di atas.
Variabel dependen adalah perubahan relatif laba tahun
ke t terhadap laba tahun split dan laba pada tahun ke
t dengan variabel independen adalah split factor.
Variabel-variabel kontrol dalam penelitian ini adalah
ROE, perubahan dividen, nilai buku ekuitas, harga
saham, dan laba pada tahun split
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini
didefinisikan dan diukur sebagai berikut :
1. Perubahan relatif laba tahun ke t terhadap laba
tahun split (Et - Et-1) yaitu untuk t = 1, 2, 3, dimana
Et-Et-1 adalah laba pada tahun ke t relatif terhadap
laba tahun pengumuman stock split. Definisi laba

Analisis Stock Split Signal ......

yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba


sebelum pos luar biasa.
2. Laba pada tahun ke t (Et) yaitu untuk t = 1, 2, 3,
dimana E t adalah laba pada tahun setelah
pengumuman stock split. Sebagaimana dalam poin
(1) di atas, untuk membuktikan apakah stock split
memiliki kandungan informasi mengenai laba
perusahaan di masa depan, maka laba dihitung untuk
tahun pengumuman (tahun ke-0) hingga tiga tahun
setelah pengumuman stock split (tahun pertama
hingga tahun ketiga).
3. Split factor signal (spfac) merupakan informasi
privat yang dimiliki manajemen mengenai laba masa
depan perusahaan. Sebagaimana dalam Huang et
al. (2002), variabel ini merupakan nilai residual dari
persamaan berikut :
SPLi = a0 + a1PR_PRICE + a2MVi +
a3RUNUPi + spfaci (1)
Di mana :
SPLi

: adalah ukuran split factor


perusahaan i,
PR-PRICEi : adalah harga saham perusahaan i
pada lima hari perdagangan
menjelang split. Variabel ini
dimasukkan karena perusahaan
dengan harga saham yang tinggi
lebih cenderung melakukan stock
split;
MVi
: merupakan logaritma natural dari
nilai pasar perusahaan pada lima hari
perdagangan menjelang split.
Variabel ini digunakan sebagai
variabel kontrol, karena perusahaan
besar
cenderung
untuk
mempertahankan sahamnya pada
harga yang tinggi;
RUNUPi
: adalah peningkatan harga, yang
merupakan rasio antara harga saham
perusahaan pada lima hari menjelang
split dan harga saham satu tahun
sebelum split;
spfaci
: merupakan nilai residual, yang dapat
dipandang sebagai informasi privat
perusahaan i yang tidak diketahui
oleh pasar ketika perusahaan

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

4.
5.

6.

7.

8.

melakukan split, dan digunakan


sebagai proksi untuk sinyal
informasi
privat
yang
menyenangkan (favorable) yang
dimiliki manajemen. Variabel ini
dimasukkan karena pada umumnya
split dilakukan oleh perusahaan
yang memiliki peningkatan harga
saham tinggi;
ROEt-1 adalah rasio laba terhadap nilai buku ekuitas
pada awal tahun split (Et-1/Bt-1).
Perubahan dividen (DDIV-1) adalah perubahan
dividen dalam tahun menjelang tahun pengumuman
stock split
Nilai buku ekuitas (B-1) adalah nilai buku ekuitas
pada awal tahun split, sebagai variabel penjelas
yang mengkontrol untuk sumber-sumber informasi
yang paling mungkin mengenai laba masa depan.
Harga saham (P-1) adalah harga saham pada awal
tahun pengumuman stock split yang juga
merupakan variabel penjelas yang mengkontrol
sumber-sumber informasi yang paling mungkin
mengenai laba masa depan.
Laba pada tahun split (E0) merupakan variabel
penjelas yang mengkontrol laba dalam tahun
pengumuman split.

Teknik Sampling
Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh
perusahaan publik yang sahamnya terdaftar di Bursa
Efek Jakarta dan melakukan pemecahan saham dalam
periode antara tahun 1993 hingga 1998. Metode
pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive
sampling, dimana sampel dipilih berdasarkan kriteria
tertentu yang telah ditetapkan, sebagai berikut:
1. Mempunyai split factor kurang dari atau sama
dengan 0,5.
2. Data harga saham, jumlah lembar beredar dan return tersedia dari satu tahun sebelum dan lima hari
di sekitar tanggal pengumuman stock split.
3. Data dividen sebelum dan sesudah tahun stock
split.
4. Tersedia data laporan keuangan satu tahun sebelum
dan tiga tahun sesudah stock split.
Data yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari berbagai sumber diantaranya Bursa Efek

Analisis Stock Split ......

Jakarta, Indonesian Capital Market Directory, Indonesia Security Market Data Base, Badan Pengawas
Pasar Modal (Bapepam) dan website www.bi.go.id.
Data dan Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yaitu data mengenai tanggal pengumuman
stock split, data mengenai pembayaran dividen, data
harga saham dan data laporan keuangan tahunan
seluruh perusahaan go public yang sahamnya terdaftar
di Bursa Efek Jakarta.
Periode penelitian mencakup tahun 1993 hingga
tahun 1998. Periode ini relatif panjang karena jumlah
perusahaan yang melakukan stock split untuk masingmasing tahun sangat sedikit dan untuk menghindari
kekurangan data pada saat analisis. Dipilihnya Bursa
Efek Jakarta sebagai sumber perolehan data karena
Bursa Efek Jakarta merupakan pasar saham terbesar
dan paling representatif di Indonesia.
Model Analisis dan Uji Hipotesis
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah regresi berganda. Karena penelitian ini dilakukan
untuk menguji dua variabel dependen yang berbeda,
maka terdapat dua persamaan regresi, yaitu:
1. Hipotesis pertama, yang menyatakan bahwa split
factor signal berpengaruh terhadap perubahan laba
masa depan, diuji dengan persamaan regresi:
(Et - Et-1)/B-1 = a0 + a1spfac0 +
a2ROEt-1 + et ..(2)
ROE dimasukkan sebagai variabel kontrol
karena dapat menjelaskan perubahan laba (Freeman,
Ohlson, and Penman, 1982 dalam Huang et al., 2002);
spfac merupakan proksi untuk split factor signal yang
diperoleh dari persamaan (1), karena dalam signaling
hypothesis manajer menggunakan stock split untuk
mengungkap informasi privat yang menyenangkan (favorable) mengenai peningkatan laba perusahaan di
masa depan. Model tersebut memasukkan faktor-faktor
yang diduga berpengaruh terhadap keputusan
perusahaan dalam melakukan stock split dan untuk
membuktikan apakah stock split memiliki kandungan
informasi mengenai laba perusahaan di masa depan,

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


maka perubahan laba dihitung untuk tahun
pengumuman (tahun ke-0) hingga tiga tahun setelah
pengumuman stock split (tahun pertama hingga tahun
ketiga). Sebagaimana dalam Huang et al. (2002)
perubahan laba tersebut dibagi dengan nilai buku
ekuitas pada awal tahun split (B-1).
2. Hipotesis kedua, menyatakan bahwa split factor
signal berpengaruh terhadap laba masa depan, diuji
dengan persamaan berikut:
Et = b0 + b1spfac0 + b2E0 + b3B-1 + b4P-1 +
b5DDIV-1 + et . (3)
Untuk menguji apakah split factor signal
berpengaruh positif terhadap perubahan laba dan laba
di masa depan digunakan uji t yaitu dengan melihat
nilai t statistik. Sedangkan untuk melihat signifikansi
dapat dilihat dari nilai probabilitasnya. Jika nilai
probabilitas menunjukkan nilai kurang dari 0.05 maka
dapat dinyatakan bahwa variabel independen
berpengaruh signifikan pada level 5% terhadap variabel
dependennya. Berdasarkan hasil uji t juga akan
diperoleh hasil apakah variabel kontrol yang digunakan
dalam model persamaan regresi juga mempunyai
pengaruh signifikan terhadap variabel dependennya
(perubahan laba dan laba masa depan).
Lebih jauh lagi untuk mengetahui pengaruh
secara simultan yaitu bagaimana semua variabel
independen yang diikutkan dalam penelitian ini
berpengaruh terhadap variabel dependennya
(perubahan laba dan laba masa depan) dapat dilihat
berdasarkan hasil uji F. Jika probabilitas pada uji F
menunjukkan nilai lebih kecil dari 0.05 maka dapat
dikatakan semua variabel independen secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependennya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Populasi
Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh
perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta dan melakukan stock split pada tahun 1993
hingga 1998. Data yang digunakan dalam penelitian
merupakan data sekunder, dan dari data yang ada

Analisis Stock Split Signal ......

diperoleh populasi sejumlah 153 perusahaan.


Berdasarkan populasi tersebut kemudian dilakukan
seleksi sampel, dan setelah melalui beberapa kriteria
pemilihan sampel diperoleh sampel awal sebanyak 100
perusahaan selama periode pengamatan. Berdasarkan
sampel awal tersebut kemudian dilakukan uji asumsi
klasik yaitu normalitas, dan diperoleh hasil bahwa data
yang digunakan tidak memenuhi asumsi normalitas.
Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan prosedur trimming yaitu dengan mengeluarkan data yang dianggap
outlier, yaitu data dengan z-score lebih besar dari +1,96
atau lebih kecil dari 1,96 sehingga diperoleh distribusi
data yang normal. Dari prosedur tersebut diperoleh
sampel akhir sejumlah 38 split, dimana hal tersebut
ditunjukkan dengan rasio skewness dan kurtosis yang
berada dalam kisaran +2 dan 2.
Profil Perusahaan Sampel
Klasifikasi perusahaan berdasarkan tahun split. Tabel
1 menyajikan pengelompokan perusahaan berdasarkan
tahun split selama periode pengamatan yaitu dari tahun
1993 hingga 1998. Tabel tersebut menunjukkan bahwa
sebagian besar perusahaan sampel melakukan stock
split pada tahun 1997 (16 perusahaan) dengan
persentase sebesar 42.11%, disusul tahun 1996 (15
perusahaan) dengan persentase sebesar 39.47%.
Sedangkan sisanya (7 perusahaan) melakukan split
pada tahun 1995 dan 1998 (18.42 %). Tabel tersebut
juga mengungkap bahwa selama dua tahun pertama
pengamatan (tahun 1993 dan 1994) ternyata tidak
terdapat perusahaan yang melakukan stock split.
Tabel 1
Klasifikasi Perusahaan Berdasarkan Tahun Split
Tahun
Split
1993
1994
1995
1996
1997
1998
Jumlah

Jumlah
Perusahaan
0
0
4
15
16
3
38

Persentasi
(%)
0
0
10,53
39,47
42,11
7,89
100

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Analisis Stock Split ......

Klasifikasi perusahaan berdasarkan ukuran split.


Tabel 2 menggolongkan perusahaan sampel menurut
ukuran split. Dari tabel tersebut terlihat bahwa seluruh
perusahaan sampel ternyata memiliki ukuran split yang

sama sebesar 0.50, yaitu bahwa seluruh perusahaan


sampel melakukan pemecahan saham dari 1 menjadi 2
saham.

Tabel 2
Klasifikasi Perusahaan Berdasarkan Ukuran Split
Tahun
Split
<0,25
= 0,25
>0,25 dan <0,50
= 0,50
Jumlah

Jumlah
Perusahaan
0
0
0
38
38

Klasifikasi perusahaan berdasarkan jenis usaha.


Berikut ini disajikan pengelompokan sampel menurut
jenis usaha dalam Tabel 3. Berdasarkan tabel tersebut
terlihat bahwa sebagian besar perusahaan sampel

Persentasi
(%)
0
0
0
100
100

berasal dari industri perdagangan, jasa dan investasi


(23.69%), disusul dengan industri keuangan dan aneka
industri masing-masing sebesar 21.05 %, sedangkan
sisanya berasal dari industri lain.

Tabel 3
Klasifikasi Perusahaan Berdasarkan Jenis Usaha
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Jenis Industri
Keuangan
Perdagangan, Jasa dan Investasi
Infrastruktur, Utulitas dan Transportasi
Industri dasar dan Kimia
Industri barang konsumsi
Aneka industri
Properti dan Real Estate
Pertanian
Jumlah

Klasifikasi perusahaan berdasarkan pembagian


dividen. Tabel 4 memberikan gambaran mengenai
pengelompokan perusahaan yang didasarkan atas
pembagian dividen. Berdasarkan tabel tersebut maka
dapat diketahui bahwa sebagian besar perusahaan
sampel mengalami penurunan dalam hal pembayaran
dividen yang dibagikan kepada investor dengan
persentase masing-masing sebesar 42,11% dan 13,16%

10

Jumlah
8
9
2
7
1
8
2
1
38

Persentase (%)
21,05
23,69
5,27
18,42
2,63
21,05
5,27
18,42
100

dengan jumlah keseluruhan sebanyak 21 perusahaan.


Selain itu terdapat 4 perusahaan yang mengalami
kenaikan dalam pembagian dividen dengan persentase
masing-masing sebesar 5,26%. Sedangkan perusahaan
sampel dengan pembayaran dividen yang konstan
(tidak berubah) berjumlah 4 perusahaan dengan
persentase 10,53% dan yang tidak membagikan dividen
sebesar 2,63% atau satu perusahaan.

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Analisis Stock Split Signal ......

Tabel 4
Klasifikasi Perusahaan Berdasarkan Pembagian Dividen
Keterangan
Kenaikan > 100%
Kenaikan = 100%
Kenaikan < 100%
Tidak ada kenaikan (tetap)
Penurunan = 100%
Penurunan < 100%
Tidak membagikan dividen
Jumlah

Statistik Deskriptif Variabel Penelitian


Sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya
bahwa penelitian ini ditujukan untuk menguji dua

Jumlah
2
2
8
4
5
16
1
38

Persentasi (%)
5,26
5,26
21,05
10,53
13,16
42,11
2,63
100

hipotesis mengenai pengaruh variabel-variabel


independen terhadap variabel dependen selama 3 tahun.
Tabel 5 menyajikan hasil statistik deskriptif variabel
yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

Tabel 5
Ringkasan Statistik Deskriptif
Variabel
EC1
EC2
EC3
Spfac
ROE
E1
E2
E3
E0
B0
P0
DC

Maksimum
1,0248
1,0482
1,6112
0,0270
25,05000
96.806.000.000
140.156.000.000
192.924.000.000
60.213.000.000
310.315.000.000
7,200
1,9375

Pada tabel tersebut tampak bahwa perubahan laba tahun


ketiga setelah split memiliki nilai terbesar yaitu 1,6112
jika dibandingkan dengan perubahan laba pada tahun
pertama dan kedua dimana laba dari masing-masing
tahun tersebut menunjukkan nilai 1,0248 dan 1,0482.
Hasil yang tidak jauh berbeda terjadi pada laba tahun
ketiga setelah split yaitu sebesar 192,924 milyar rupiah
jika dibandingkan dengan laba pada tahun pertama dan

Minimum
-0,7972
-0,8454
-1,0026
-0,0008
-2,0500
-115.231.000.000
-123.380.000.000
-112.748.000.000
-35.046.000.000
23.845.000.000
425
-1,0000

Rata-rata
-0,0609
-0,0265
0,1086
0,0086
1,7616
4.147.736.842
2.752.000.000
22.543.552.632
16.271.473.684
124.826.315.789
2884,215
-0,0696

kedua setelah split dengan jumlah masing-masing


sebesar 96,806 milyar dan 140,156 milyar rupiah. Nilai
rata-rata tertinggi juga terjadi pada laba pada tahun
ketiga setelah split yaitu sebesar 22,543 milyar rupiah.
Sedangkan untuk perubahan dividen, nilai tertinggi
sebesar 1,9375 dan terendah sebesar 1,0000 dengan
rata-rata 0,0696.

11

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Analisis Stock Split ......

Hasil Uji Asumsi Klasik Regresi


Pengujian asumsi normalitas. Uji asumsi normalitas
dilakukan untuk mengetahui apakah data yang
digunakan dalam penelitian ini memiliki distribusi normal. Uji normalitas data dilakukan dengan melihat rasio
skewness atau rasio kurtosis seperti tampak dalam Tabel
6.
Rasio skewness dan kurtosis diperoleh dengan
membagi nilai skewness dan nilai kurtosis dengan
standart error masing-masing nilai tersebut. Apabila

nilai skewness dan nilai kurtosis berada diantara 2


dan +2 maka data dikatakan telah memenuhi asumsi
klasik normalitas. Berdasarkan Tabel 6 terlihat bahwa
semua rasio, baik skewness maupun kurtosis
menunjukkan angka lebih kecil 2 dan lebih besar dari
2 kecuali rasio skewnes untuk perubahan dividen.
Meskipun demikian rasio kurtosis untuk perubahan
dividen (DC) menunjukkan angka kurang dari +2,
sehingga dari keseluruhan uji normalitas dapat
dikatakan bahwa seluruh variabel penelitian telah
memenuhi asumsi normalitas.

Tabel 6
Hasil Pengujian Normalitas
Variabel Penelitian
Perubahan Laba tahun ke-1 (EC1)
Perubahan Laba tahun ke-2 (EC2)
Perubahan Laba tahun ke-3 (EC3)
Split Factor (Spfac)
Return On Equity (ROE)
Laba tahun pertama (E1)
Laba tahun kedua (E2)
Laba tahun 3 (E3)
Laba pada awal tahun Split (E0)
Nilai buku ekuitas pada awal tahun split (B0)
Harga saham awal tahun split (P0)
Perubahan Dividen (DC)

Rasio Skewnes
1,18
1,26
0,85
1,99
0,41
-1,80
-0,40
0,55
-0,52
1,14
1,67
2,63

Pengujian asumsi multikolinearitas. Pengujian


asumsi klasik multikolinearitas dilakukan dengan
melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Secara
umum jika VIF lebih besar dari 10 maka variabel tersebut
memiliki persoalan multikolinearitas dengan variabel

Rasio Kurtosis
1,33
1,72
-0,27
-0,23
0,20
1,30
0,59
1,01
0,84
-1,03
-0,52
1,17

bebas lainnya, dan suatu variabel dikatakan bebas


multikolinearitas apabila nilai VIF mendekati 1, yang
berarti bahwa tidak terdapat kolinearitas diantara
variabel-variabel independen yang diregresi. Berikut
ini disajikan tabel hasil pengujian multikolinieritas:

Tabel 7 Hasil Pengujian Multikolinearitas


Model Regresi
Model Regresi I
Model Regresi II

12

Keterangan
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas
Normalitas

Variabel Independen
Spfac
ROE
Spfac
E0
B0
P0
DC

Nilai VIF
1.008
1.008
1.605
1.159
1.935
1.020
1.024

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Analisis Stock Split Signal ......

Dengan melihat pada Tabel 7 di atas dapat


disimpulkan bahwa seluruh nilai VIF tidak satupun yang
lebih besar dari 10, sehingga hal tersebut menunjukkan
tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas.
Multikolinearitas dapat juga dilihat dari nilai korelasi,
dan apabila dilihat pada lampiran besaran korelasi
masing-masing variabel kurang dari 80% sehingga

dapat ditarik kesimpulan tidak terjadi multikolinearitas


antar variabel bebas.
Pengujian asumsi autokorelasi. Pengujian
autokorelasi dilakukan dengan melihat hasil Durbin
Watson pada analisis regresi. Gambar 1 menyajikan hasil
untuk pengujian autokerelasi pada model persamaan
pertama, sebagai berikut:

Gambar 1
Hasil Uji Autokorelasi Persamaan Regresi I

Positive
Autocorelation

Indecision

No
Autocorelation

Indecision

Negative
Autocorelation

dl = 1.28

du = 1.50

4-du = 2.50

4-dl = 2.72

s DW = 1.955
s DW = 1.768
DW = 1.642

Berdasarkan hasil analisis regresi untuk model


persamaan pertama diperoleh hasil masing-masing
untuk DW hitung pada EC1 sebesar 1.955, EC2 sebesar
1.642, dan EC3 sebesar 1.768. Sedangkan untuk DW
tabel untuk n = 38 dan k = 2 pada tingkat signifikansi
5% dapat diperoleh nilai dL = 1.28; dU = 1.50; 4-dL =
2.72; dan 4-dU = 2.5. Dengan demikian berdasarkan hasil

pengujian autokorelasi ini dapat disimpulkan bahwa


persamaan regresi pada model pertama telah bebas dari
masalah autokorelasi karena semua model berada pada
daerah no autocorrelation.
Uji autokorelasi pada model persamaan kedua disajikan
pada Gambar 2 sebagai berikut:

Gambar 2
Hasil Uji Autokorelasi Persamaan Regresi II
Positive
Autocorelation

Indecision

No
Autocorelation

Indecision

Negative
Autocorelation

dl = 1.12

du = 1.64

4-du = 2.36

4-dl = 2.88

s DW = 2.358
s DW = 1.946
DW = 1.673

13

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


Untuk uji autokorelasi pada analisis regresi
model persamaan kedua diperoleh hasil untuk DW
hitung masing-masing pada E1 sebesar 2.358, E2 sebesar
1.946, dan E3 sebesar 1.673. Sedangkan untuk DW tabel
pada n = 38 dan k = 5 pada tingkat signifikansi 5%
diperoleh nilai dL = 1.12; dU = 1.64; 4-dL = 2.88; 4-dU =
2.36. Hasil uji autokorelasi atas persamaan regresi kedua
tersebut menunjukkan hasil yang sama dengan
pengujian terhadap model persamaan pertama yaitu
bebas dari masalah autokorelasi karena model ini juga
berada pada daerah no autocorrelation.
Pengujian asumsi heteroskedastisitas. Pengujian
asumsi heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat
grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED)
dengan residualnya (SREZID). Dalam mendeteksi ada
tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan
melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik
scatterplot antara SREZID dan ZPRED dimana sumbu
Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah
residual yang telah di-studentized. Berdasarkan uji
tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat pola yang
jelas, seperti titik-titik yang menyebar di atas dan
dibawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas
pada sampel yang digunakan.
Perumusan Model Persamaan Regresi
Model yang digunakan dalam penelitian ini mengacu
pada penelitian Huang et al. (2002) yaitu pengaruh
stock split yang diproksikan sebagai split factor signal terhadap laba dan perubahan laba. Huang et al.
(2002) menggunakan split factor signal sebagai
informasi khusus perusahaan yang tidak diketahui oleh
pasar pada saat perusahaan melakukan stock split. Split
factor signal digunakan sebagai proksi atas sinyal
informasi khusus yang menguntungkan manajemen
dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan. Untuk
mengutip informasi khusus manajemen mengenai
kinerja perusahaan yang terdapat dalam split, terdapat
beberapa variabel yang dapat mempengaruhi keputusan
manajemen dalam melakukan split.
Menurut McNichols dan Dravid (1990) dalam
Huang et al. (2002) beberapa variabel tersebut
merupakan nilai residual dari persamaan berikut:

14

Analisis Stock Split ......

SPLi = a0 + a1PR_PRICE + a2Mvi +


a3RUNUPi + spfaci

(4)

Nilai spfac yang merupakan residual error dari


hasil persamaan regresi digunakan sebagai proksi dari
split factor signal untuk masing-masing perusahaan
sampel.
Model analisis regresi linier berganda yang
digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu
(1) pengaruh split factor terhadap perubahan laba masa
depan untuk tahun pertama, kedua dan ketiga setelah
split yang diformulasikan sebagai berikut:
(Et - Et-1)/B-1 = a0 + a1spfac0 + a2ROEt-1 + et

(5)

dan (2) pengaruh split factor terhadap laba perusahaan


di masa mendatang untuk tahun pertama, kedua dan
ketiga setelah split, dan dirumuskan dalam persamaan
berikut:
Et = b0 + b1spfac0 + b2E0 + b3 B-1
+ b4P-1 + b5DDIV-1 + et

(6)

Berdasarkan dua model persamaan tersebut diperoleh


hasil persamaan matematis model regresi dari hasil uji
t, yaitu:
1. Model matematis persamaan regresi I:
Perubahan laba tahun 1 =
-0,098 + 0,328 spfac 0,159 ROE
(7)
Perubahan laba tahun 2 =
0,183 0,049 spfac 0,242 ROE
(8)
Perubahan laba tahun 3 =
0,256 0,318 spfac + 0,119 ROE
(9)
2. Model matematis persamaan regresi II:
Laba masa depan tahun 1 =
0,000000047 + 0,502 spfac0 + 0,267 E0
+ 0,111 B-1 + 0,018 P-1 0,023 DDIV-1
(10)
Laba masa depan tahun 2 =
0,000000046 + 0,455 spfac0 0,254 E0
+ 0,403 B-1 0,100 P-1 0,023 DDIV-1
(11)
Laba masa depan tahun 3 =
0,000000035 0,212 spfac0 + 0,170 E0
+ 0,099 B-1 0,143 P-1 + 0,026 DDIV-1
(12)
Berdasarkan persamaan regresi pertama
diketahui bahwa konstanta untuk perubahan laba tahun

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Analisis Stock Split Signal ......

pertama, kedua, dan ketiga masing-masing adalah


0,098; 0,183; dan 0,256. Hal ini berarti bahwa dengan
asumsi variabel independen konstan, maka perubahan
laba masa depan perusahaan untuk tahun pertama,
kedua, dan ketiga adalah sebesar nilai konstanta
tersebut. Koefisien regresi spfac untuk tahun pertama,
kedua, dan ketiga masing-masing sebesar 0,328; 0,049;
dan 0,318. Hal ini menunjukkan bahwa setiap
peningkatan dalam split factor signal sebesar 1 untuk
masing-masing tahun tersebut akan menyebabkan
kenaikan dalam perubahan laba pada tahun pertama
dan menyebabkan penurunan dalam perubahan laba
pada tahun kedua dan ketiga sebesar nilai koefisien
tersebut. Sedangkan koefisien regresi ROE untuk tahun
pertama, kedua, dan ketiga masing-masing adalah
sebesar 0,159; 0,242; dan 0,119. Hal ini berarti bahwa
setiap kenaikan ROE sebesar 1 maka akan menyebabkan
penurunan dalam perubahan laba untuk tahun pertama
dan kedua, dan kenaikan untuk tahun ketiga sebesar
koefisien tersebut.

Persamaan regresi kedua menunjukkan bahwa


konstanta untuk laba tahun pertama, kedua, dan ketiga
masing-masing adalah 0,000000047; 0,000000046; dan
0,000000035. Hal ini berarti bahwa dengan asumsi
variabel independen konstan, maka laba masa depan
perusahaan untuk tahun pertama, kedua, dan ketiga
adalah sebesar nilai konstanta tersebut. Koefisien
regresi spfac untuk tahun pertama, kedua, dan ketiga
masing-masing sebesar 0,502; 0,455; dan 0,212. Hal
ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan dalam split
factor signal sebesar 1 untuk masing-masing tahun
tersebut akan menyebabkan kenaikan dalam laba pada
tahun pertama dan kedua, serta menyebabkan
penurunan dalam perubahan laba pada tahun ketiga
sebesar nilai koefisien tersebut.
Pengaruh Split Factor Terhadap Perubahan Laba
Berikut ini disajikan hasil analisis regresi untuk menguji
hipotesis pertama, yaitu pengaruh split factor terhadap
perubahan laba, sebagai berikut:

Tabel 8
Hasil Pengujian Split Factor Terhadap Perubahan Laba
Variabel Independe
Variabel
Dependen

Spfac
Adjusted
R2

Sig

Keterangan

EC1

0,093

2,087

0,044

H1 terima

EC2

0,005

-0,297

0,769

H1 tidak dapat dit

EC3

0,072

-2,000

0,053

H1 tidak dapat dit

Hasil dalam penelitian ini konsisten dengan


temuan Huang et al. (2002) dalam hal arah hubungan
split factor signal terhadap perubahan laba masa depan
untuk tahun pertama, kedua, dan ketiga setelah split.

Sedikit berbeda dengan temuan Huang et al. (2002)


yang menemukan adanya hubungan positif yang tidak
signifikan untuk tahun pertama dan hubungan negatif
yang tidak signifikan untuk tahun kedua dan ketiga,

15

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


temuan dalam penelitian ini menunjukkan adanya
hubungan positif yang signifikan pada tahun pertama,
sedangkan temuan yang lain konsisten dengan Huang
et al. (2002). Hasil ini mengindikasikan bahwa
pengumuman stock split bukan saja tidak dapat
memprediksi perubahan laba di masa mendatang,
namun juga bahwa dua dari tiga arah hubungan yang
dihasilkan bertentangan dengan prediksi model signaling, dimana model tersebut menyatakan bahwa
perusahaan yang melakukan stock split secara tidak
langsung ingin memberikan sinyal ke pasar bahwa
perusahaan tersebut memiliki kinerja yang baik. Hal
tersebut juga ditunjukkan dalam penelitian Lakonishok
dan Lev (1987), yang mendokumentasikan bahwa
perusahaan yang melakukan stock split memiliki
pertumbuhan laba dalam jangka pendek yang lebih
tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan
stock split. Dengan kata lain hasil penelitian ini
mengungkap bahwa terdapat pertumbuhan laba negatif
dua tahun setelah perusahaan melakukan stock split.
Sebagai variabel kontrol, ROE ditemukan
memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap
perubahan laba, baik untuk tahun pertama, kedua,

Analisis Stock Split ......

maupun tahun ketiga setelah split. Hal tersebut


ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang jauh di atas
level signifikansi (a) 5%. Sebagaimana telah diuraikan
sebelumnya bahwa ROE dimasukkan sebagai variabel
kontrol karena ROE dapat menjelaskan perubahan laba
(Freeman et al., 1982 dalam Huang et al., 2002). Namun
demikian, dalam kurun tiga tahun setelah split variabel
split factor signal dan ROE apabila digabungkan hanya
mampu menjelaskan pengaruhnya terhadap perubahan
laba masa depan untuk tahun pertama, kedua, dan
ketiga masing-masing sebesar 9,3%; 0,5%; dan 7,2%.
Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai Adjusted R2 yang
tidak lebih dari sepuluh persen, yaitu sebesar 0,093;
0,005; dan 0.072 masing-masing untuk tahun pertama,
kedua, dan ketiga, sedangkan sisanya dijelaskan oleh
sebab-sebab lain di luar variabel penelitian.
Pengaruh Split Factor Terhadap Laba Masa Depan
Hipotesis kedua dalam penelitian ini menyatakan
bahwa terdapat hubungan positif antara split factor
signal terhadap laba masa depan setelah perusahaan
melakukan stock split. Tabel 9 berikut ini menyajikan
hasil analisis untuk hipotesis tersebut.

Tabel 9
Hasil Pengujian Split Factor terhadap
Laba Masa Depan
Variabel
Dependen

16

Variabel Independen
E0

Spfac

Adjusted
2
R

t
(sig)

E1

0,116

E2

E3

Keterangan

2,563
(0,015)

H2 diterima

1,602
(0,119)

0,075

2,271
(0,030)

H2 diterima

-1,491
(0,146)

0,021

-1,028
(0,312)

H2 tidak dapat
diterima

0,973
(0,338)

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


Berdasarkan hasil analisis sebagaimana
terangkum dalam Tabel 9 di atas terlihat bahwa split
factor signal memiliki pengaruh positif yang signifikan
terhadap laba perusahaan di masa depan untuk tahun
pertama dan kedua setelah split, yang ditunjukkan
dengan tingkat signifikansi masing-masing sebesar
1,5% dan 3%, sehingga dengan kata lain hipotesis
kedua diterima untuk tahun pertama dan kedua. Namun
tidak demikian halnya dengan laba pada tahun ketiga
setelah split, yang menunjukkan adanya hubungan
negatif yang tidak signifikan, sehingga hipotesis
tersebut tidak dapat diterima.
Variasi laba setelah split dapat dijelaskan oleh
variasi dari variabel-variabel independen sebesar
11,6%; 7,5%; dan 2,1% masing-masing untuk tahun
pertama, kedua, dan ketiga setelah split. Hal tersebut
ditunjukkan dengan nilai Adjusted R2 untuk tahun
pertama, kedua, dan ketiga masing-masing sebesar
0,116; 0,075; dan 0,021. Sedangkan sisanya sebesar
88,4%; 92,5%; dan 97,9% masing-masing untuk tahun
pertama, kedua, dan ketiga setelah perusahaan
melakukan stock plit dijelaskan oleh faktor-faktor lain
yang tidak termasuk dalam variabel penelitian.
Split factor signal memiliki pengaruh positif
yang signifikan terhadap laba pada tahun pertama dan
kedua setelah perusahaan melakukan stock split. Hal
tersebut berarti bahwa split signal dapat menjelaskan
laba untuk tahun pertama dan kedua setelah split,
namun tidak untuk tahun ketiga. Hasil ini bertentangan
dengan temuan Huang et al. (2002) yang menyatakan
bahwa split signal memiliki hubungan negatif dengan
laba masa depan, bahkan split signal tidak berpengaruh
terhadap laba masa depan, baik untuk tahun pertama,
kedua, maupun tahun ketiga setelah split. Huang et al
(2002) menemukan bahwa split signal memiliki
hubungan negatif dengan laba masa depan untuk
tahun pertama dan ketiga setelah split, serta hubungan
positif untuk tahun kedua setelah split. Namun tidak
satupun dari hubungan tersebut yang memiliki
pengaruh signifikan.
SIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sinyal
stock split dapat mempengaruhi profitabilitas
perusahaan-perusahaan di masa yang akan datang. Jika

Analisis Stock Split Signal ......

sinyal stock split ini dianggap sebagai informasi yang


kuat bagi pasar maka hal ini dapat memberikan
optimisme pihak manajer terhadap pertumbuhan laba
perusahaan di masa yang akan datang. Penelitian ini
secara khusus menguji karasteristik sinyal stock split
dengan menggunakan pengukuran profitabilitas masa
depan yaitu perubahan laba masa depan dan laba masa
depan.
Hasil pengujian hipotesis pertama (H1) dan
kedua (H2) ini secara umum menunjukkan kesamaan
pada hasil-hasil penelitian sejenis sebelumnya, seperti
penelitian yang telah dilakukan oleh Lakonishok dan
Lev (1987) dan McNichols dan Dravid (1990) yang
mengatakan bahwa perusahaan yang melakukan
pemecahan saham memiliki pertumbuhan laba jangka
pendek jika dibandingkan dengan perusahaan yang
tidak melakukan stock split. Pendapat yang sama juga
kemukakan oleh Huang et al. (2002) bahwa terdapat
peningkatan laba pada saat perusahaan mengumuman
split sedangkan untuk tahun-tahun mendatang sinyal
stock split tidak membantu menjelaskan adanya
peningkatan laba. Akan tetapi, hasil yang berbeda
ditunjukkan dalam penelitian di Indonesia yang
dilakukan oleh Anggraini (1999) terhadap kandungan
informasi laba dan dividen yang dibawa oleh
pengumuman stock split. Peneliti menyimpulkan bahwa
stock split berhubungan negatif dengan perubahan
laba sebelum dan setelah pengumuman stock split serta
tidak ada peningkatan laba yang signifikan sebelum
dan setelah pengumuman stock split.
Pengaruh split factor (spfac) terhadap
perubahan laba tahun pertama menunjukkan hasil yang
signifikan dan memiliki arah hubungan positif. Hasil
pengujian ini memberikan simpulan bahwa spfac secara
signifikan berhubungan positif atau dapat
mempengaruhi perubahan laba tahun pertama. Tahun
kedua memiliki hasil yang berbeda yaitu spfac dan
perubahan laba memiliki hasil yang tidak signifikan dan
mempunyai arah hubungan negatif, sehingga dapat
disimpulkan bahwa spfac berhubungan negatif atau
tidak berpengaruh terhadap perubahan laba tahun
kedua. Tahun ketiga menunjukkan hasil bahwa spfac
dan perubahan laba pada tahun ketiga menunjukkan
arah hubungan negatif dan signifikan sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa spfac berpengaruh negatif
atau tidak berpengaruh terhadap perubahan laba tahun
ketiga.

17

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto


Pengaruh split factor terhadap laba masa depan
pada tahun pertama memiliki arah hubungan yang
positif dan signifikan sehingga dapat disimpulkan
bahwa spfac secara signifikan berhubungan positif atau
dapat mempengaruhi laba masa depan tahun pertama.
Hasil yang tidak jauh berbeda juga terdapat ditahun
kedua yang menunjukkan bahwa spfac dan laba masa
depan berpengaruh secara signifikan dan memilki
hubungan yang positif, sehingga dapat disimpulkan
pula bahwa spfac secara signifikan berhubungan negatif
atau tidak berpengaruh terhadap laba masa depan di
tahun kedua. Spfac dan laba masa depan pada tahun
ketiga memiliki hasil berbeda yang menunjukkan
adanya arah hubungan yang negatif dan tidak
signifikan, sehingga hasil ini menyimpulkan bahwa
spfac berhubungan negatif atau tidak mempengaruhi
laba masa depan tahun ketiga .
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
beberapa bukti yang penting bagi pelaku pasar modal
di Bursa Efek Jakarta sebagai pertimbangan untuk
mengambil keputusan investasi pada perusahaan yang
melakukan stock split. Namun demikian hasil penelitian
ini haruslah diinterpretasikan dengan hati hati
mengingat beberapa keterbatasan yang melekat pada
penelitian ini.
Rentang waktu yang panjang dengan data dari
tahun 1996 sampai dengan 1998 meliputi masa sebelum
krisis ekonomi dan pasca krisis ekonomi berpeluang
besar memberikan hasil yang bias terhadap hasil
penelitian. Hal ini terutama apabila perilaku investor
yang tercermin dari aktivitas perdangangan di lantai
bursa berbeda antara masa sebelum krisis dan sesudah

18

Analisis Stock Split ......

krisis ekonomi, sehingga terdapat kecenderungan


aktivitas di lantai bursa bukan lagi sebagai aktivitas
alternatif keputusan investasi.
Dalam melakukan pengujian penelitian ini tidak
mempertimbangkan size effect. Lakonishok dan Lev
(1987) serta Ikenberry et al. (1996) mengemukakan
bahwa ukuran perusahaan yang ditunjukkan dalam
hipotesa trading range dapat memberikan informasi
terhadap perusahaan yang melakukan stock split
khususnya bagi perusahan yang berukuran sedang
untuk dapat mengembalikan harga saham mereka pada
kisaran yang normal. Pendapat yang sama juga
dikemukakan oleh Han dan Suk (1998) bahwa ukuran
perusahaan dapat menunjukkan adanya informasi
asimetri.
Penelitian ini tidak memasukkan pengujian
terhadap laba abnormal masa depan seperti pada
penelitian Huang et al., (2002). Ketidakcukupan
informasi terhadap data real equity premium
menambah kesulitan untuk memberikan hasil dan
kesimpulan yang tepat dan akurat. Keterbatasan data
khususnya pada pengelompokkan harga saham
perusahaan-perusahaan yang mendekati nilai median
dan pengkategorian kreteria sampel penelitan terhadap
split factor yang tidak mungkin dilakukan oleh
mengingat kondisi perusahaan yang melakukan stock
split tidak begitu banyak.
Beberapa keterbatasan tersebut di atas
diharapkan dapat mendorong penelitian lebih lanjut
untuk mempertajam hasil penelitian ini di masa yang
akan datang dengan mengeliminir keterbatasan
tersebut.

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

DAFTAR PUSTAKA
Admati, A. R. and P. Pfleiderer (1988), A Theory
of Intraday Patterns: Volume and Price
Variability, Review of Financial Studies 1, 3-40.
Anggraini, W. (1999), Penelitian Tentang
Informasi Laba dan Dividen Kas yang
Dibawa oleh Pengumuman Pemecahan
Saham, Tests, Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta. Asquith,
Asquith, O., P. Healy, dan K. Palepu (1989),
Earnings and Stock Split, Accounting
review 64, 387-403.
Baker, H. K. dan P. L. Gallagher (1980),
Managements View of Stock Split,
Financial Management 9, 73-77.
Baker, H. K. dan Powel, G. E. (1993), Futher
Evidence on Managerial Motive for
Stock Splits, Quarterly Journal of Business & Economics 32, 20-23.
Boehme, D. R. dan S. M. Sorescu (2002), Reexamining the Long-run Stock Split
Anomaly Puzzle.
Brennan, M. J. dan T.E. Copeland (1988), Stock
Split, Stock Prices, and Transaction
Costs, Journal of Finance Economics
22, 83-101.
Brennan, M. J. dan P. J. Hughes (1991), Stock
Price and The Supply of Information,
Journal of Finance 46, 1665-1691.
Brigham, E. F. dan L. C. Gapensiki (1994), Financial Management: Theory and Practice, Orlando, The Dryden Press.

Analisis Stock Split Signal ......

Spread, The,Journal of finance 45,


1285-1295.
Copeland, T. E. (1979), Liquidity Change Following Stock Split, The Journal of Finance (march), 115-141.
Desai, N. S., M. Nimalendran, dan S.
Venkataraman (1998), Change in Trading Activity Following Stock Split and
Their Effect on Volatility and AdverseInformation Component of The Bid-ask
spread, The Journal of Financial Research (summer), 159-183.
Doran, D. (1994), Stock Split Test Earnings Signaling and Attention Derecting Hypothesis Using Analysis Forecast and Revision, Journal of Accounting,Auditing
and Finance 9, 411-422.
Dubofsky, D.A. (1991), Volatility Increases
Subsequent to NYSE and AMEX Stock
Splits, ^Journal of Finance 46, 421-431.
Easly, D., M. OHara, dan G. Saar (2001), How
Stock Splits Affect Trading: A Microstructure Approach, Journal of Finance and Quantitative Analysis 36, 2551.
Ewijaya dan N. Indriantoro (1999), Analisis
Pengaruh Pemecahan Saham terhadap
Perubahan Harga Saham, Journal Riset
Akuntansi Indonesia Vol II no.l
(Januari): 53-65.
Fatmawati, S, dan Marwan Asri (1999),
Pengaruh Stock Split Terhadap
Likuiditas Saham yang diukur dengan
Bid Ask Spread di Bursa Efek Jakarta,
Jurnal Ekonomi dun Bisnis Indonesia,
Vol 14, no. 4.

Conroy, J. S., R. S. Harris dan B. A. Benet (1990),


The Effects of Stock Split on Bid-ask

19

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Grinblatt, M, S., R. W. Masulis, dan S.


Titman (1984), The Valuation Effects of
Stock Splits and Stock Dividends Journal of Financial Economics 13, 461-490.
Han, K. C. dan D. Y. Suk (1998), Insider Ownership and Signals: Evidence from Stock
Split Announcement Effects, The Financial Review 33, 1-24.
Hartono, J. M. (1998), Teori Portofolio dan
Analisis Investasi, edisi II Yogayakarta,
BPFE.
Herawati, D. S. (2001), Analisis Pengaruh
Saham Terhadap Volume Perdagangan
dan Harga Saham, Tesis, Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta.
Huang, G., Liano, K, dan Pan, M. (2002), Do
Stock Split Signal Future Profitability.
Ikenberry, D. L., G. Rankine, dan E. K. Slice
(1996), What Do Stock Splits Really
Signal? Journal of Financial and
Quantitaive Analysis 31, 357-375.
Ikenberry, D. L., dan S. Ramnath (2002),
Underreaction to Self-selected News
Events: The Case of Stock Split, Review of Financial Studies 15, 489-526.
Indonesian Capital Market Directory.
Julita (2001), Reaksi Pasar Terhadap
Pengumuman Pemecahan Saham,
Tests,Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta
Kurniawati, I. (2001), Analisis Kandungan
Informasi Stock Split Menggunakan
Beta Koreksi dan Perbedaan Beta
Seputar Stock Split di Bursa Saham
Jakarta, Tests, Untversitas Gajah Mada,
Yogyakarla.

20

Analisis Stock Split ......

Lakonishok, J. dan B. Lev (1987), Stock Splits


and Stock Dividends: Why, Who, and
When, Journal of Finance 42, 913-932.
Lamoureux, C. G. dan P. Poon, 1987, The Market Reaction to Stock Splits, Journal
ofFinance 42, 1347-1370.
Marwata (2000), Kinerja Keuangan, Harga
Saham, dan Pemecahan Saham,
Makalah yang dipresentasikan pada
SNA III di Jakarta.
McGough, E. F., (1993), Anatomy of Stock
Split, Management accounting.
McNichols, M. dan A. Dravid (1990), Stock
Dividends, Stock Splits and Signaling,
Journal of Finance 45, 857-879.
Murray, D. (1985), Futher Evidence on The Liquidity Effects of Stock Split and Stock
Dividends, Journal of Financial Research 8, 59-67.
Nayak, S. dan N. R. Prabhala (2001), Disentangling The Dividend Information in Splits:
A Decomposition Using Conditional
Event-study Methods, Review of Financial Studies 14, 1083-1116.
Nissim, N. dan A. Ziv (2001), Dividend Changes
and Future Profitability, Journal of Finance 56, 2111-2133.
Nuryanti (2001), Peruhahan Lukuiditas Saham
Akibat Penumuman Stock Split di Bursa
Efek Jakarta Periode 1998-2000", Tesis,
Universitas Gajah Mada,Yogyakarta.
Sukardi (200!), Reaksi Pasar Terhadap Stock
Split Analisis di Bursa Saham Jakarta,
Tests, Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta.

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

Analisis Stock Split Signal ......

Susanti, M. (2002), Pengaruh Stock Split


terhadap Likuiditas Saham yang diukur
dengan Presentase Bid Ask Spread
Selama Periode Krisis (1997-1999),
Tesis,Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta.
Szewezyk, S., dan Tsetsekos, 1993, The Effect
of Managerial Ownership on Stock Split
Induced Abnormal Return, Financial
Review 12, 0732-8516.
Tobing, B. R. L. (2001), Pengaruh Pengumuman
Stock Split Terhadap Harga Saham Intra
Industri, Tesis, Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta.
Zulfikar (2001), Pengaruh Tingkat Kepemilikan
Insider terhadap Tingkat Keuntungan
Saham pada Perusahaan Pemegang
Saham, Tesis, Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta.

21

Jam STIE YKPN - Asih P. Sari dan Djoko Susanto

22

Analisis Stock Split ......

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun

Persepsi Kepuasan ......

ABSTRACT
Small businesses in Indonesia have already proved
that TERHADAP
KEPUASAN

PERSEPSI
ANALISIS
PENGARUH KARIR
TEKANAN
KETAATAN
KESUKSESAN
DOSEN
TERHADAP TINGGI
JUDGMENT
AUDITOR
PERGURUAN
SWASTA
(PTS)
DI KOPERTIS WILAYAH 1)V DIY
Hansiadi Yuli Hartanto
Indra Wijaya Kusuma2)
Ani Muttaqiyathun, SE., M.Si. *)

ABSTRACT
Everyone wants to be successful in his or her career.
To get that, they usually develop some plans and try
to reach them by improving their job performance that
is appropriate for global markets. Every member organization needs to improve their readiness for the ideal
position by upgrading their skill needed to reach their
success. This objective research is to know how their
perception satisfaction about career successfully..
This research involves 117 male and female lecturers in 6 private universities located in Yogyakarta.
This research proves that: there is no any career satisfaction difference between lecturers of their institution
,there is no any career satisfaction difference between
male and female lecturers, but there are difference between senior and yunior lecturers in their career satisfaction.
Keywords: career, satisfaction.
PENDAHULUAN
Pekerjaan seorang dosen ternyata bukan merupakan
hal yang mudah. Dosen tidak hanya sekedar
mentransfer ilmu yang telah dimiliki kepada
mahasiswanya, tetapi juga harus secara produktif

*)

mengembangkan ilmu dan kemampuannya dalam


mengemban misi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang
merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan oleh
dosen. Tugas pokok ini diatur dalam bab II pasal 3
Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang
Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan
Aparatur Negara No.38/Kep/MK.WASPAN/ 8/1999
yang berbunyi: Tugas pokok dosen adalah
melaksanakan pendidikan dan pengajaran pada
perguruan tinggi, melakukan penelitian serta
pengabdian kepada masyarakat.
Selain melaksanakan tugas pokok tersebut,
tentu seorang dosen juga ingin mengembangkan
karirnya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya
merupakan suatu bagian dari rencana karir yang
disusun demi meraih kesuksesan dan kepuasan
karirnya. Karir yang selalu berkembang atau meningkat
sering diartikan dengan kesuksesan seseorang yang
kemudian akan menimbulkan kepuasan. Dengan
berdasar itulah, maka penelitian ini akan mengupas
persepsi kepuasan karir dosen PTS.
Belakangan ini juga terlihat bahwa wanita yang
memilih profesi sebagai dosen memperlihatkan adanya
peningkatan. Belum diketahui secara pasti seberapa
besar signifikansi peningkatan gejala tersebut dan
penelitian tentang hal tersebut belum pernah peneliti
temui, karena masih terbatasnya data-data yang bisa

Ani Muttaqiyathun, SE., M.Si adalah Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

23

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun


dihimpun. Untuk itu, dilakukan penelitian tentang ada
tidaknya perbedaan kepuasan terhadap kesuksesan
karir antara dosen pria dan dosen wanita.
Kesuksesan serta kepuasan dalam
melaksanakan tugas Tridharma Perguruan Tinggi
sangat tergantung juga pada kinerja masing-masing
orang dan sarana pendukungnya. Sarana pendukung
sebagian besar merupakan penyediaan fasilitas, waktu,
dan dana dari instansi mereka. Untuk itu maka penelitian
ini juga akan meneliti ada tidaknya perbedaan kepuasan
terhadap kesuksesan karir dosen berdasar instansi
tempat mereka bekerja. Dalam penelitian ini juga akan
menguji kembali pendapat Nicholson (1996) yang
menyatakan bahwa umur dan senioritas juga dapat
berpengaruh pada karir seseorang, dalam hal ini
senioritas dilihat dari masa kerjanya.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan
di atas, maka penelitian ini dapat dirumuskan
permasalahannya sebagai berikut: pertama,
sejauhmana persepsi kepuasan terhadap kesuksesan
karir dosen PTS saat ini, kedua, apakah ada perbedaan
persepsi kepuasan terhadap kesuksesan karir antara
dosen pria dan wanita, ketiga, apakah ada perbedaan
persepsi kepuasan terhadap kesuksesan karir antara
dosen berdasar instansi tempat mereka bekerja,
keempat, apakah ada perbedaan persepsi kepuasan
terhadap kesuksesan karir antara dosen senior dan
yunior.
Dalam penelitian ini, peneliti membatasi
populasinya adalah seluruh dosen pada enam PTS
terbesar di DIY tahun 2002. Kriteria enam besar disini,
adalah berdasarkan rangking satu sampai dengan enam
(urutan terbanyak) jumlah mahasiswa yang terdaftar
berdasar laporan Kopertis Wilayah V DIY pada
Desember tahun 2002. Pembatasan ini dilakukan dengan
alasan bahwa peneliti menganggap keenam PTS
terbesar tersebut merupakan PTS yang telah berusia
lebih dari 20 tahun sehingga telah mempunyai
pengalaman-pengalaman yang cukup banyak dan lebih
baik dalam pembinaan dan pengembangan bagi dosendosennya.
TINJAUAN TEORI DAN HIPOTESIS
Organisasi yang fleksibel, flat dan lean telah menjadi
trends pada era 1990-an (Walker, 1993). Struktur

24

Persepsi Kepuasan ......

organisasi cenderung mengarah pada bentuk network


dengan alasan lebih tanggap terhadap berbagai
persaingan dan perubahan baik domestik maupun
internasional. Kondisi ini semakin menuntut adanya
perubahan bentuk organisasi yang lebih cepat dan
fleksibel mengatasi berbagai perubahan terutama pada
abad 21 yang mengarah pada bentuk organisasi seluler.
Bentuk organisasi ini secara bertahap menghilangkan
unsur hirarki perusahaan (Allred, dkk., 1996).
Dengan struktur seperti ini tentu saja memiliki
konsekuensi pengelolaan karir yang berbeda dengan
struktur tradisional. Dengan struktur ini memungkinkan
karyawan berkarir di luar perusahaannya sesuai dengan
pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki. Setiap
karyawan mempunyai tanggungjawab terhadap karir
mereka sendiri. Mereka bebas berkreasi sesuai dengan
kesempatan dan ketrampilan yang mereka kembangkan
sendiri. Sedangkan perusahaan berfungsi bukan
sebagai majikan tetapi sebagai penyedia atau pemberi
untuk mengembangkan pengetahuan anggotanya.
Karir mengalami perubahan makna, dari makna
lama yang artinya suatu arah kemajuan yang tercermin
dari pencapaian dalam hierarki formal seperti layaknya
manajer dan profesional sebagaimana dijelaskan Cascio
(1978), telah beralih ke makna baru sebagai tahap-tahap
perkembangan pengalaman kerja seseorang selama
masa kerjanya (Greenberg dan Baron, 1995). Dengan
demikian kesempatan karir bukan berarti menunggu
giliran atau menanti adanya pengurangan tenaga kerja
dalam suatu organisasi, tetapi merupakan karir tanpa
batas, dinamis dan didukung oleh pengetahuan dan
ketrampilan yang memadai.
Arti tenaga kerja juga berubah, dari artinya
semula sebagai suatu keadaan atau pekerjaan atau
bisnis yang ditekuni secara reguler, berubah menjadi
status sesaat atau manifestasi dari keadaan
dipekerjakan untuk jangka panjang. Sehingga
diharapkan setiap individu hendaknya memahami
keahlian apa yang diperlukan untuk tumbuh secara
profesional (Summers, 1999), memahami situasi yang
berkembang di lingkungan karirnya, selalu
meningkatkan kompetensi, memperluas kolaborasi dan
tanggungjawab serta memelihara kelenturan karir.
Dengan demikian, karir benar-benar ditentukan oleh
individu itu sendiri, tidak ditentukan oleh organisasi
yang diciptakan dari waktu ke waktu sesuai dengan

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun


perubahan yang terjadi pada individu dan perubahan
yang ada. Makna karir diatas sering disebut dengan
karir protean (Hall, 1996).
Namun demikian, organisasi tidak bisa lepas
tangan begitu saja, tetapi tetap harus memberikan
kesejahteraan bagi anggotanya di era fleksibilitas ini
(Bernhardt dan Balley, 1998). Organisasi harus
memberikan kesempatan dan keleluasaan yang tinggi
bagi anggotanya untuk meningkatkan kemampuannya
dalam menghasilkan produktivitas dan komitmen yang
baik terhadap tujuan organisasi, serta memberikan
lingkungan yang mendukung sepanjang anggota
berada dalam organisasi tersebut. Hal ini berarti karir
individu harus didukung oleh karir organisasi atau
sebaliknya, sehingga harus ada kesesuaian (fit) antara
keduanya.
Berdasarkan makna baru, karir tidak diukur dari
bertambahnya usia secara kronologis dan tingkatan
kehidupan, tetapi dicapai melalui pembelajaran secara
berkelanjutan dan perubahan-perubahan identitas yang
dicapai. Karir terbentuk dari serangkaian tahap-tahap
pembelajaran yang singkat. Kesuksesan secara
psikologis merupakan tujuan tertinggi dari karir
seseorang, yaitu perasaan bangga atas prestasi
seseorang yang didapatkan ketika tujuan terpenting
dalam kehidupannya tercapai. Hal ini bertolak belakang
dengan keberhasilan vertikal yaitu meniti piramida
korporat sebagaimana dalam kontrak karir lama. Ciri
pencapaian kesuksesan telah berubah menjadi
bagaimana mempelajari sesuatu dengan selalu
bercermin pada kekurangan-kekurangan yang dimiliki
dan berusaha sendiri untuk mengeliminir kekurangankekurangan tersebut. Seseorang juga harus memiliki
kemampuan untuk meningkatkan adaptasi terhadap
tuntutan pasar kerja atau lingkungan kerja yang
berubah secara terus menerus. Dengan demikian setiap
individu harus mengembangkan ketrampilan metaskills.
Meskipun terjadi perubahan dalam fungsi
organisasi, individu dan pasar kerja, perencanaan karir
tetap diperlukan. Para karyawan akan melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang merupakan suatu bagian dari
rencana karir yang disusunnya secara hati-hati. Mereka
akan melakukan eksplorasi untuk mendapatkan hal-hal
yang mendukung kesuksesan karir sehingga dapat
meningkatkan pengetahuan mengenai karir serta
keahlian dan perilaku yang dibutuhkan untuk
dikembangkan demi kesuksesan karir (Noe, 1986).

Persepsi Kepuasan ......

Menurut teori goal setting, tujuan atau cita-cita


seseorang akan mempengaruhi perilaku melalui direct
attention, stimulating dan maintaining effort serta
memfasilitasi strategi pengembangan (Locke dan
Latham, 1990). Sedangkan menurut Greenhaus (1987),
karir akan berhubungan dengan hasil yang ingin dicapai
oleh seseorang seperti promosi, peningkatan gaji dan
peningkatan keahlian.
Fokus terhadap tujuan atau cita-cita yang
diinginkan seseorang, menunjukkan pentingnya
pencapaian tujuan karir, kepuasan terhadap kemajuan
karir dan partisipasi dalam aktifitas yang berhubungan
dengan tercapainya tujuan karir (Stevens, 1973;
Sugalski dan Greenhaus, 1986). Sedangkan fokus
terhadap tujuan atau cita-cita diartikan sebagai
keyakinan seseorang mengenai tujuan karir atau
preferensi tentang tugas, pekerjaan atau jenis organisasi
dimana individu tersebut bekerja (Stumpf, Colarelli, dan
Hartman, 1983). Karyawan sebagai anggota organisasi
perlu meningkatkan kesiapannya untuk posisi yang
diinginkan melalui peningkatan keahlian dan
kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai sukses.
Penelitian terdahulu beranggapan bahwa definisi dari
kesuksesan karir seseorang merupakan persepsi orang
tersebut tentang kesuksesan karirnya.
Hasil pemikiran Nicholson (1996) menyebutkan
beberapa sistem karir yang salah satunya adalah
mechanistic ladder system, umur dan senioritas sangat
berpengaruh terhadap karir. Sistem ini ada pada public
service, pendidikan dan perbankan. Individu dalam
lembaga-lembaga tersebut mengakumulasikan
kemampuan dan keahliannya lewat pengalaman kerja.
Jadi kemajuan karir diperoleh lewat pengabdian.
Pandangan terhadap gender (pria/wanita)
dihubungkan dengan sifat positif dan negatif. Sifat pria
dipandang memiliki sifat kuat dan keras yang
dikonotasikan nilai positif, sedangkan sifat wanita
dipandang memiliki sifat lemah dan lembut yang
dikonotasikan nilai negatif di lingkungan pekerjaan.
Apabila sifat wanita ini sesuai dengan kondisi
lingkungan pekerjaan akan menjadi sangat terbatas
sekali, misalnya hanya cocok untuk pekerjaan sebagai
sekretaris, perawat rumahsakit dan administratif
(Abdurahim, A.,1999).
Dalam beberapa hasil penelitian ditunjukkan
bahwa pegawai wanita lebih emosional dibanding pria,
sedangkan pegawai pria menunjukkan kemampuan

25

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun


kerjasama yang tinggi dalam organisasi. Hook (1992)
sebagaimana dikutip Abdurrahim (1999) dalam
penelitiannya menyatakan bahwa diskriminasi secara
langsung terhadap wanita dalam rekruitmen dan
kompensasi mungkin saja terjadi. Oleh karena itu, perlu
adanya tekanan yang mendorong upaya secara sadar
untuk mengurangi bias yang dilakukan melalui
perubahan cara pandang terhadap perilaku. Perbedaan
juga dapat muncul akibat kecenderungan pria pada sifat
assertiveness, task mastery (penguasaan terhadap
tugas) dan sikap individual. Misalnya dalam pekerjaan,
pegawai pria lebih cenderung bertindak untuk dapat
menyelesaikannya sendiri, sebaliknya wanita
cenderung kepada sifat membutuhkan bantuan pihak
lain, sifat patuh, acquiescence (diam-diam menyetujui)
dalam pekerjaannya sehingga cenderung adanya
ketergantungan kepada pihak lain. Di tempat kerja,
pegawai pria sering memiliki posisi penting dan
bertindak secara lebih otoriter dan dominan, sedangkan
wanita akan lebih tunduk dan patuh. Ketundukan dan
kepatuhan wanita ini terlihat lebih konsisten pada
aturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh perusahaan,
sehingga hal tersebut membuat wanita lebih sulit untuk
melakukan penyesuaian dalam hubungan antara kinerja
dan distress.
Dalam pengamatan sosial diperoleh gambaran
bahwa secara umum cara pandang terhadap wanita
sering dihubungkan dengan sifat emosional, lemah,
tergantung, kurang kompetitif, cenderung mengalah
dan kurang merasa yakin. Berdasarkan uraian tersebut
memunculkan hipotesis berikut :
H1 : Terdapat perbedaan persepsi kepuasan
terhadap kesuksesan karir antara dosen pria
dan dosen wanita
Betapapun baiknya suatu rencana karir yang
telah dibuat oleh seorang karyawan disertai dengan
suatu tujuan karir yang wajar dan realistik, rencana
tersebut tidak akan menjadi kenyataan tanpa adanya
pengembangan karir yang sistematik dan programatik.
Hal ini berarti bahwa seseorang yang sudah
menetapkan rencana karirnya, perlu mengambil langkahlangkah tertentu guna mewujudkan rencananya.
Berbagai langkah yang perlu ditempuh itu dapat diambil
atas prakarsa sendiri, atau dapat pula berupa kegiatan
yang disponsori oleh organisasi atau gabungan dari
keduanya. Meskipun sesungguhnya yang paling
bertanggungjawab dalam pengembangan atau

26

Persepsi Kepuasan ......

pencapaian tujuan karir adalah masing-masing karyawan


sendiri, tetapi bagian pengelola sumberdaya manusia
organisasi tempat mereka bekerja juga turut berperan
dalam hal tersebut.
Usaha menentukan tujuan, jalur, rencana dan
pengembangan karirnya, seorang pegawai berangkat
dari keinginan memuaskan berbagai jenis
kebutuhannya, baik kebutuhan primer, sekunder dan
bahkan tertier. Dengan demikian tujuan, sasaran dan
kepentingan organisasi bisa saja ditempatkan pada
peringkat pemuasan yang lebih rendah. Oleh karena
itu, persepsi seorang pekerja tentang kemungkinan
meniti karir dalam suatu organisasi akan sangat diwarnai
oleh pandangan sampai sejauhmana kebutuhan dan
kepentingan pribadinya itu akan terpenuhi.
Sesungguhnya persepsi itulah yang menjadi dasar
keputusan seseorang apakah akan terus berkarya dalam
organisasi tertentu ataukah pindah ke organisasi yang
lain di mana kepentingan pribadinya itu diperhitungkan
akan lebih terjamin.
Kenyataan di muka menuntut para manajer perlu
memberikan dukungan kepada program yang
diselenggarakan oleh bagian kepegawaian dan bagian
pendidikan dan pelatihan untuk bersikap proaktif dalam
pengembangan karir para anggota organisasi.
Organisasi harus memberikan kesempatan dan
keleluasaan yang tinggi bagi anggotanya untuk
meningkatkan kemampuannya agar menghasilkan
produktivitas dan komitmen yang baik terhadap tujuan
organisasi serta memberikan lingkungan yang
mendukung sepanjang anggota berada dalam
organisasi tersebut. Dengan demikian karir individu
harus didukung oleh organisasi dan sebaliknya.
Beberapa instansi tentu saja sangat dimungkinkan
adanya perbedaan dalam memberikan fasilitas atau
sarana dan prasarana pendukung. Hal ini tergantung
kebijaksanaan pimpinan masing-masing instansi,
kemampuan dana ataupun dengan berbagai
keterbatasan yang ada. Berdasarkan uraian tersebut
memunculkan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Terdapat perbedaan persepsi kepuasan karir
antara dosen berdasar instansi tempat mereka
bekerja
Dosen yunior dicirikan dengan rata-rata usia
yang relatif masih muda(kurang dari 40 tahun), kreatif,
produktif dan bersemangat tinggi. Sebaliknya dosen
senior biasanya usianya sudah banyak (lebih dari 40

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun


tahun), sudah mapan secara psikologis maupun secara
ekonomi, serta sudah berpengalaman sehingga sudah
berkurang motivasinya untuk meningkatkan kinerjanya
secara lebih baik lagi, sudah masanya untuk mulai
mempersiapkan masa pensiunnya. Dalam beberapa
literatur disebutkan bahwa terdapat keyakinan yang
tinggi antara pengaruh usia terhadap kinerja. Banyak
dari pegawai yang berusia lebih tua yang telah berusaha
mempertahankan kemampuannya, ternyata menerima
nilai yang lebih rendah. Pembayaran yang tinggi
cenderung diberikan kepada pegawai yang lebih muda
dengan alasan untuk mengikat mereka tetap dalam
organisasi. Bahkan ada klaim dari para pegawai senior
yang mengatakan bahwa para supervisor yang masih
muda biasanya cenderung menilai rendah kinerja
mereka dibanding dengan mereka yang seusia supervisor atau yang lebih muda. Pegawai yang lebih muda
dipandang lebih banyak diberi peluang pada posisiposisi yang lebih cepat mendatangkan keberhasilan.
Berdasarkan latar belakang tersebut memunculkan
hipotesis sebagai berikut:
H3 : Terdapat perbedaan persepsi kepuasan
terhadap kesuksesan karir antara dosen senior
dan yunior.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini, populasi didasarkan pada seluruh
dosen pada enam PTS terbesar di Kopertis Wilayah V
DIY yang sudah memiliki jabatan akademik. Berdasar
informasi dari Kopertis Wilayah V dalam Daftar
Perkembangan Program Studi, keadaan hingga bulan
Desember 2002, bahwa enam PTS terbesar di DIY
berdasar jumlah mahasiswanya berdasar rangking
adalah UII, UMY, UPN, USD, UAJY, dan UAD.
Dalam penelitian ini, pengambilan sampel
didasarkan pada teknik convenience sampling, dan
diambil sampel minimal 100 responden. Penentuan
jumlah sampel ini didasarkan pada pendapat Roscoe,
dalam Sekaran (1992) yang menyatakan bahwa jumlah
sampel lebih besar dari 30 dan kurang dari 500 pada
sebagian besar penelitian sudah dapat mewakili.
Kuesioner yang terkumpul sebanyak 113 eksemplar
terdiri dari responden laki-laki 50 eksemplar dan wanita
63 eksemplar.

Persepsi Kepuasan ......

Data yang digunakan dalam analisis penelitian


ini adalah data primer, yang berisi tentang persepsi
kepuasan karir, gender, instansi tempat mereka bekerja
dan masa kerja. Pengumpulan data primer dilakukan
dengan cara memberikan daftar pertanyaan (kuesioner)
kepada responden yang sudah ditentukan
karakteristiknya.
Definisi Operasional
Definisi operasional ini diadaptasi dari beberapa definisi
yang sudah ada dan dikembangkan sendiri oleh peneliti
menurut kebutuhan.
1. Kepuasan karir
Kepuasan karir dosen diartikan dengan sejauhmana
persepsi kepuasan dosen tentang pengalamannya
selama menjadi dosen meliputi kesuksesannya,
tujuan karir, pendapatan/gaji dan peningkatan/
pengembangan lebih lanjut (Greenhaus,
Parasuraman dan Wormley, 1990).
2. Gender
Gender diterjemahkan sebagai jenis kelamin yang
terdiri dari pria dan wanita.
3. Instansi tempat kerja
Instansi tempat mereka bekerja dalam penelitian ini
diartikan dengan tempat dimana dosen diakui
sebagai dosen tetap yayasan atau tempat dimana
dosen ditugaskan jika yang bersangkutan adalah
dosen negeri dipekerjakan (DPK).
4. Masa Kerja
Masa kerja adalah masa yang dihitung sejak dari
diterimanya menjadi dosen pada instansinya sesuai
dengan Surat Keputusan Pengangkatan atau sejak
ditugaskan sesuai dengan Surat Penempatan. Masa
kerja ini dijadikan dasar untuk menentukan kriteria
dosen senior dan yunior. Untuk ini peneliti
membatasi bahwa dosen senior adalah yang sudah
memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun
(Susena,1999).
Instrumen Penelitian dan Alat Pengukurannya
Dalam penelitian ini dipergunakan pengukuran yang
telah dipergunakan oleh Greenhaus, Parasuraman dan
Wormley (1990) karena yang dianggap lebih luas
cakupan pengukurannya serta telah tersedia
instrumennya. Instrumen kepuasan terhadap

27

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun


kesuksesan karir ini berjumlah lima item pernyataan
yang menggunakan skala Likert dari 1 sampai 5 dari
sangat tidak puas sampai dengan sangat puas.
Pengujian Validitas, Reliabilitas, dan Normalitas
Untuk mendapatkan data yang berkualitas, maka
instrumen penelitian yang akan digunakan harus diuji
validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu. Menurut
Hadi, S. (1991), instrumen penelitian dapat
dikembangkan menurut teori-teori yang relevan.
Apabila bangunan teorinya sudah benar, maka hasil
pengukuran dengan instrumen yang berbasis pada teori
itu sudah dipandang sebagai hasil yang valid.
Sedangkan uji reliabilitas dilakukan untuk menguji
kestabilan dan konsistensi instrumen dalam mengukur
konsep. Untuk instrumen penelitian ini, setelah diuji
validitas, hasilnya adalah semua valid dengan nilai jauh
diatas nilai tabel. Sedangkan uji reliabilitasnya
menggunakan teknik Cronbach Alpha dengan hasil 0.88
dan dinyatakan reliabel. Hasil uji normalitas dengan
alat uji Kolmogorov-Smirnov menyatakan instrumen
ini berdistribusi normal karena nilai signifikansinya
diatas 0,05.
ANALISIS DATA
Persepsi Kepuasan Karir Dosen
Berdasar jawaban responden atas kuesioner yang
disampaikan, tergali ungkapan tentang kepuasan karir
mereka sebagai berikut: pertama, secara umum mereka
menyetujui bahwa telah memperoleh kesuksesan dalam
karirnya. Kedua, mereka menyatakan tentang
kepuasannya terhadap kesuksesan yang telah
diperoleh yang sesuai dengan tujuan karir yang mereka
dambakan. Ketiga, responden mayoritas juga
menyatakan kepuasannya bahwa kesuksesan yang
telah mereka peroleh sesuai dengan pendapatan/gaji
yang didambakan. Keempat, responden menyatakan
puas bahwa kesuksesan yang telah mereka peroleh
sesuai dengan peningkatan/pengembangan lebih
lanjut. Dan yang kelima, mayoritas responden merasa
puas atas kesuksesan yang telah diperoleh sesuai
dengan pengembangan keahliannya.

28

Persepsi Kepuasan ......

Hasil Pengujian dan Pembahasan


Sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono (1997),
bahwa teknik statistik yang akan digunakan untuk
pengujian hipotesis tergantung pada interaksi antara
dua hal yaitu macam data yang akan dianalisis dan
bentuk hipotesisnya. Dalam penelitian ini,
instrumennya menggunakan skala Likert, sehingga data
yang diperoleh adalah data interval dan diambil dari
populasi yang berdistribusi normal. Hal ini
menunjukkan bahwa pengujian hipotesis dapat
menggunakan alat statistik parametrik. Maka untuk
pengujian hipotesis 1 digunakan uji t untuk dua sampel
independen, sedangkan untuk hipotesis 2 dan 3 akan
digunakan uji Anova
Pengujian Hipotesis 1
Hipotesis 1 menyatakan bahwa: terdapat perbedaan
persepsi kepuasan terhadap kesuksesan karir antara
dosen pria dan dosen wanita. Berdasarkan hasil output perhitungan, diperoleh t-hitung lebih kecil dari ttabel yaitu (0,208 < 1,980) dan p-value 0,835 > 0,05 maka
H0 diterima, H1 ditolak. Sehingga kesimpulannya tidak
ada perbedaan persepsi kepuasan terhadap kesuksesan
karir antara dosen pria dan dosen wanita. Dengan
demikian secara umum dapat dikatakan bahwa dalam
hal persepsi kepuasan karir, antara dosen pria dan
dosen wanita tidak ada perbedaan yang mencolok.
Berdasarkan pekerjaannya, pekerjaan sebagai dosen
tidak terlalu banyak diperlukan kekuatan fisik, yang
paling penting adalah ketrampilan dan intelektualitas.
Nilai-nilai moderen dalam hal kesetaraan gender telah
memberikan peluang yang sama bagi setiap individu
baik pria maupun wanita untuk berkiprah di bidang
pendidikan, pekerjaan dan disertai jaminan promosi
yang sama. Tidak ada pembedaan dalam sistem
penggajian maupun penugasan bagi dosen pria maupun
dosen wanita, semua diserahkan pada kemampuan
masing-masing untuk mengelola dirinya.
Pengujian Hipotesis 2
Hipotesis 2 menyatakan bahwa: terdapat perbedaan
persepsi kepuasan terhadap kesuksesan karir diantara

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun


dosen berdasar instansi tempat mereka bekerja. Hasil
perhitungan menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil
daripada F tabel (1,9 < 2,3) dan P-value lebih besar dari
0,05 (0,099 > 0,050), maka H0 diterima dan H2 ditolak.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari hasil
pengujian ini tidak terdapat perbedaan persepsi
kepuasan karir diantara dosen berdasar instansi tempat
mereka bekerja.
Hal ini dapat dipahami bahwa rata-rata semua
instansi memberikan fasilitas dan kesempatan yang
sama untuk semua dosen-dosennya dalam meniti karir,
sehingga mengembangkan karir merupakan
tanggungjawab masing-masing dosen. Pihak-pihak lain
seperti pimpinan, atasan langsung, kenalan dan para
spesialis di bidang kepegawaian hanya berperan
memberikan bantuan. Dosen yang bersangkutan diberi
keleluasaan untuk memanfaatkan berbagai kesempatan
untuk mengembangkan diri atau tidak. Berbagai
kesempatan tersebut seperti keikutsertaan dalam program pelatihan, melanjutkan pendidikan yang lebih
tinggi dan aktif melakukan berbagai kegiatan Tridharma
Perguruan Tinggi. Hal tersebut tentunya akan berakibat
secara positif bukan hanya berupa keuntungan bagi
diri sendiri, tetapi juga bagi organisasi. Manfaat
psikologis bagi dosen yang bersangkutan ditunjukkan
oleh kesediaan memanfaatkan berbagai kesempatan
sebagai manifestasi keinginan yang bersangkutan
untuk tumbuh dan berkembang.
Perolehan informasi tentang berbagai
kesempatan pengembangan itu tidak hanya terbatas
pada kesempatan yang tersedia di lingkungan instansi
tempat seseorang bekerja saja, tetapi juga kesempatan
di luar instansi seperti pada kesempatan reuni para
alumni, klub olah raga, atau tawaran dari berbagai
instansi lainnya. Informasi demikian perlu dimiliki karena
dengan aneka ragam informasi tersebut semakin banyak
kesempatan yang mungkin dimanfaatkan.
Pengujian Hipotesis 3
Hipotesis 3 menyatakan bahwa: terdapat perbedaan
persepsi kepuasan terhadap kesuksesan karir antara
dosen senior dan yunior. Berdasarkan hasil
perhitungan, ternyata F hitung lebih besar daripada F
tabel (3,403 > 2,460) dan p-value lebih kecil dari 0,050
(0,011 < 0,050), sehingga H0 ditolak dan H3 diterima.
Dengan demikian dari hasil pengujian ini dapat

Persepsi Kepuasan ......

dikatakan bahwa terdapat perbedaan persepsi


kepuasan karir diantara dosen senior dan yunior.
Hasil temuan ini bisa dipahami karena dosen
yang telah senior yaitu dosen yang telah memiliki masa
kerja lebih lama, lebih banyak pengalaman, sudah mapan
kondisinya sehingga merasa telah mencapai kepuasan
baik dalam hal kemajuan karir yang telah diperoleh,
pendapatan / gaji yang didambakan ataupun kepuasan
dalam hal peningkatan/pengembangan keahliannya.
Sementara dosen yang masih yunior, yaitu dosen yang
masa kerjanya lebih sedikit, mereka belum mencapai
kepuasannya, rata-rata dari mereka masih dalam taraf
eksplorasi terhadap karirnya. Mereka selalu mencari
kesempatan aktivitas dan mempunyai kesadaran yang
lebih besar tentang ketrampilan apa dan perilaku seperti
apa yang dibutuhkan untuk berkembang guna
membuat pahatan-pahatan untuk kemajuan,
kesuksesan serta kepuasan karir mereka.
PENUTUP
Simpulan
Pertama, tidak ada perbedaan kepuasan terhadap
kesuksesan karir antara dosen pria dan dosen wanita.
Hal ini ditunjukkan oleh kepuasan terhadap kesuksesan
yang telah didapatkan sekarang, kesuksesan karirnya
yang sesuai dengan tujuan karir yang didambakan,
kesuksesan yang sesuai dengan pendapatan/gaji yang
didambakan, kesuksesan yang sesuai dengan
peningkatan / pengembangan lebih lanjut dan
kesuksesan yang sesuai dengan pengembangan
keahliannya.
Kedua, tidak ada perbedaan persepsi kepuasan
terhadap kesuksesan karir diantara dosen berdasar
instansi tempat mereka bekerja. Hal ini dapat dipahami
bahwa rata-rata instansi memberikan fasilitas dan
kesempatan yang sama untuk semua dosen-dosennya
dalam meniti karir. Pada akhirnya tanggungjawab dalam
mengembangkan karir terletak pada masing-masing
dosen. Pihak-pihak lain seperti pimpinan, atasan
langsung, kenalan dan para spesialis di bidang
kepegawaian hanya berperan memberikan bantuan.
Ketiga, terdapat perbedaan persepsi kepuasan
terhadap kesuksesan karir di antara dosen senior dan
yunior. Hasil temuan ini bisa dipahami karena dosen
senior dengan masa kerja lebih lama, lebih banyak

29

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun


pengalaman, sudah mapan kondisinya sehingga merasa
telah mencapai kepuasan baik dalam hal kemajuan karir
yang telah diperoleh, pendapatan/gaji yang didambakan
ataupun kepuasan dalam hal peningkatan/
pengembangan keahliannya. Sementara dosen yunior
yang masa kerjanya lebih sedikit, tingkat kepuasannya
masih rendah, sehingga selalu mencari kesempatan
aktivitas dan mempunyai kesadaran yang lebih besar
tentang ketrampilan apa dan perilaku seperti apa yang
dibutuhkan untuk berkembang guna membuat pahatanpahatan untuk kemajuan, kesuksesan serta kepuasan
karirnya.
Perlu dipahami pula bahwa ukuran keberhasilan/
kemajuan karir setiap orang adalah berbeda-beda.
Perbedaan itu merupakan akibat tingkat kepuasan
seseorang berbeda pula. Kepuasan dalam konteks karir
tidak selalu berarti keberhasilan mencapai posisi tinggi
dalam organisasi, melainkan dapat pula berarti bersedia
menerima kenyataan bahwa karena berbagai faktor
keterbatasan yang dimiliki seseorang, maka ia puas bila
dapat mencapai tingkat tertentu dalam karirnya,
meskipun tidak banyak anak tangga karir yang berhasil
dinaikinya.
Keterbatasan
Keterbatasan utama penelitian ini adalah pada
pengukuran kesuksesan karir dosen yang belum dapat
mengukur seluruh atribut dari konsep. Penelitian
berikutnya perlu memperbaiki kuesioner penelitian
yang dipergunakan. Beberapa faktor kepuasan karir

30

Persepsi Kepuasan ......

yang belum terukur pada kuesioner ini sebaiknya


dikembangkan, sehingga faktor-faktor yang belum
terukur dapat tercakup dan hasil penelitian menjadi
lebih baik. Jumlah item pertanyaan perlu juga
ditambahkan, sehingga dari satu faktor tertentu bisa
ditanyakan dalam beberapa item pertanyaan.
Sampel/responden yang digunakan dalam
penelitian ini masih sangat terbatas, karena hanya
diambil dari enam PTS terbesar saja sehingga mungkin
belum bisa digeneralisir. Oleh karena itu, untuk penelitian
mendatang disarankan agar memperluas populasi dan
memperbanyak jumlah sampelnya agar bisa
digeneralisir. Hasil penelitian kemungkinan akan
berbeda jika diterapkan pada sampel yang berbeda
misalnya khusus dosen negeri dipekerjakan (DPK) atau
dosen di lingkungan Kopertis Wilayah lainnya.
Implikasi
Terlepas dari keterbatasan yang dimiliki, penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan
pertimbangan bagi Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi (Dirjen Dikti) atau para pimpinan PTS dalam
menetapkan kebijakan-kebijakan bagi dosen. Dosen
adalah salah satu sumber keunggulan kompetitif
perguruan tinggi. Kompetensi harus dimiliki apalagi
dalam kondisi persaingan yang ketat dan perubahanperubahan yang tidak menentu. Diharapkan penelitian
ini dapat menjadi tambahan wawasan bagi para
pengambil kebijakan dalam menggali dan
mengintegrasikan kompetensi untuk meraih
keunggulan kompetitif.

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang


Pengawasan Pembangunan dan
Pendayagunaan Aparatur Negara
No.38/Kep/MK.Waspan/8/1999 tentang
Jabatan Fungsional Dosen dan angka
kreditnya, Jakarta.
Abdurahim, A., 1999. Pengaruh Perbedaan
Gender terhadap Perilaku Akuntan
Pendidik. Tesis tidak dipublikasikan,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Alfred, B.B., Snow, C.C dan Miles, R.E. 1996.
Characteristic of Managing Careers in
the 21st century. Academy of Management Executive, vol.10. no.4.
Asad, M., 2001. Seri Ilmu Sumber Daya
Manusia : Psikologi Industri. Edisi
Keempat, Cetakan Keenam, Liberty,
Yogyakarta.
Bernhardt, A. Dan Balley, T. 1998. Improving
Worker Welfare in the Age of Flexibility. Challenge, Sept-Oct, vol. 41
Cascio, Wayne. R., 1978. Applied Psychology
in Personnel Management. Reston, Va,
: Reston Publishing.
Cooper, Donald R dan Emory, C.W. 1995. Business Research Methods. Fifth edition,
Richard D. Irwin. Inc.
Greenberg, Jeral dan Robert A. Baron. 1995. Behavior in Organization Understanding
and Managing the Human Side of
Work. Fifth edition, Prentice Hall International Edition.
Greenhaus, J.H. 1987. Career Managemen.
Dryden Press, New York.

Persepsi Kepuasan ......

Greenhaus, J.H., Parasuraman, S. dan Wormley,


W.M. 1990. Effect of Race on Organizational Experience, Job Performance
Evaluation and Career Outcomes. Academy of Management Journal, vol.33.
Hadi, Sutrisno. 1991. Analisis Butir untuk
Instrumen. Andi Offset, Yogyakarta.
Hall, D.T. 1996. Protean Careers of the 21st Century. Academy of Management Executive, vol.10, no.4
Handoko, T.Hani., 2000. Manajemen
Personalia dan Sumberdaya Manusia.
edisi 2, BPFE Yogyakarta.
Igbaria, M. dan Wormley, W. 1992. Organizational Experience and Career Success of
MIS Profesionals and Managers : An
Examination of Race Differences. MIS
Quarterly, Dec.
Igbaria, M. dan Baroudi, J.J. 1995. The Impact
of Job Performance Evaluations on Career Advancement Prospects : An Examination of Gender Differences in the
IS Workplace. MIS Quarterly, March.
Kilduff, M. dan Day, D.V. 1994. Do Chameleons
Get Ahead? The Effect of Self Monitoring on Managerial Careers. Academy
of Management Journal, 37.
Kossek, E.E dan Ozeki, C. 1998. Work-Family
Conflict, Policies and the Job-Life Satisfaction Relationship: A Review and Directions for Organizational Behavior
Human Resource Research. Journal of
Applied Psychology, 83.
Locke, E.A dan Latham, G.P. 1990. A Theory
of Goal Setting and Task Performance
1969-1980. Psychological Bulletin, 90.

31

Jam STIE YKPN - Ani Muttaqiyathun

Nicholson, N. 1996. Careers Systems in Crisis


: Change and Opportunity in the Information Age. Academy of Management
Executive. vol.10, no.4
Noe, R.E. 1996. Is Career Management Related
to Employe Development and Performance? Journal of Organizational
Behavior.
Noe, dkk. 2000. Human Resource Management: Gaining a Competitive Advantage. third edition, Mc Graw Hill.
Sekaran, Uma. 1992. Research Methods for
Business : A Skill Building Approach.
Second edition, John Wiley & Sons, Inc
Sondang P. Siagian. 2000. Manajemen Sumber
Daya Manusia. Cetakan kedelapan,
Bumi Aksara, Jakarta.
Stevens, N. 1973. Job Seeking Behavior : A
Segment of Vocational Development.
Journal of Vocational Behavior, 3.
Stumpf, S.A, Colarelli, S.M.dan Hartman, K.
1983. Development of the Career Exploration Survey (CES). Journal of Vocational Behavior, 22.
Stroh, Breet dan Reilly (1992). All the Right
Stuff : A Comparison of Female and Male
Managers Career Progression. Journal of Applied Psychology, vol.77 no.3.
Sugalski, T. dan Greenhaus. 1986. Career Exploration and Goal Setting among Managerial Employees. Journal of Vocational Behavior, 29.
Sugiyono, 1997. Statistika untuk Penelitian.
Cetakan kedua, Alfabeta, Bandung.

32

Persepsi Kepuasan ......

Summers, J. 1999. How to Broaden your Career Management Program. HR Focus,


June.
Susena. 1999. Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Karyawan Universitas Ahmad
Dahlan. Laporan Penelitian (tidak
dipublikasikan), Universitas Ahmad
Dahlan.
Turban, D.B. dan Dougherty, T.W. 1994. Role
of Protege Personality in Receipt of
Mentoring and Careers Success. Academy of Management Journal, 37.
Walker, J. 1993. Managing HR in Flat, Lean
and Flexible Organizations : Trends for
the 1990s. Human Resource Planning,
11 (2).
Widiyastuti, S.M.,dan Harsiwi, A.M., 2000.
Produktivitas Kerja dan Kesempatan
Aktualisasi Diri Dosen Wanita pada
PTS di Kopertis Wilayah V : Tinjauan
pada Aspek Hukum dan Aspek
Manajemen Sumberdaya Manusia.
Laporan Penelitian, Universitas Atma
Jaya Yogyakarta.

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

ABSTRACT
Small businesses in Indonesia have already proved
that TENAGA KERJA
TANTANGAN

PELUANG DAN
PENGARUH
TEKANAN
DIANALISIS
KABUPATEN
SLEMAN
DALAM KETAATAN
PERPEKTIF
TERHADAP
JUDGMENT
AUDITOR
SEKTORAL
DAN SPASIAL
Hansiadi Yuli Hartanto1)
*)
2)
Dra.Indra
Mufidhatul
Khasanah,
M.Si.
Wijaya
Kusuma

ABSTRAK
Pengangguran yang terjadi di berbagai wilayah
termasuk Kabupaten Sleman disebabkan oleh adanya
penurunan kesempatan kerja. Agar pengangguran
yang terjadi di Kabupaten Sleman dapat dikendalikan
maka Pemerintah Kabupaten Sleman perlu memberikan
fasilitas kepada pelaku ekonomi sehingga pelaku
ekonomi dapat memanfaatkan peluang yang dimiliki dan
tantangan yang dihadapi tenaga kerja. Oleh karena
pengertian kesempatan kerja dalam perspektif spasial
menurut paradigma baru adalah perusahaan harus
mengembangkan pekerjaan yang sesuai dengan
kondisi penduduk daerah sedangkan pada sisi lain
ditunjukkan bagaimana peranan desa sebagai penyedia
tenaga kerja bagi kota, maka pembahasan tentang
tantangan dan peluang tenaga kerja di Kabupaten
Sleman dapat pula dilakukan melalui pendekatan
sektoral dan spasial.
Kata Kunci: Tenaga kerja, sektoral, dan spasial.
PENDAHULUAN
Ketidakmerataan pembangunan di Indonesia yang
berlangsung selama ini terwujud dalam berbagai bentuk,
aspek, atau dimensi (Dumairy, 1996: 62).

*)

Ketidakmerataan itu terjadi pada kegiatan


pembangunan, distribusi pendapatan, spasial atau
antarwilayah, dan sektoral. Ketidakmerataan
pembangunan yang disertai dengan pertumbuhan
ekonomi yang tinggi nampaknya menjadi suatu
kecenderungan yang terjadi di beberapa negara sedang
berkembang.
Fenomena yang kontradiktif antara
pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan ketidakmerataan
pembangunan yang terjadi di negara sedang
berkembang sejalan dengan teori yang dikemukakan
Simon Kuznets dengan inverted U curve (Mudrajad
Kuncoro, 1997: 105-106). Inverted U curve menyatakan
bahwa pada tahap awal pembangunan akan ditandai
dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang
disertai tingkat ketimpangan pendapatan yang tinggi
pula. Kondisi tersebut akan berlangsung sampai pada
titik krisis tertentu, dimana tingkat pertumbuhan
ekonomi yang tinggi akan diikuti oleh menurunnya
tingkat ketimpangan pendapatan. Pilihan antara
pertumbuhan dan pemerataan ekonomi sebagai hal
yang kontradiktif juga dikemukakan oleh Nicholas
Kaldor seperti formulasi berikut ini:
r = [ ( sk - sb ) K/Q + sb ] h

Dra. Mufidhatul Khasanah, M.Si., adalah Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Wangsa Manggala.

33

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Catatan:
r
: pertumbuhan ekonomi
sk
: MPS kelompok kapitalis
sb
: MPS kelompok buruh
K/Q : profit share atau bagian pendapatan nasional
yang diterima kelompok kapitalis atau pola
distribusi pendapatan antarkelompok
masyarakat
h
: output capital ratio atau efisiensi
pengeluaran investasi
Berdasarkan persamaan terakhir tersebut, maka
dapat dihitung pertumbuhan ekonomi r yang nilainya
tergantung nilai K/Q yang menunjukkan profit share
atau distribusi pendapatan antar-kelompok masyarakat.
Apabila nilai K/Q semakin mendekati angka 1 maka
pertumbuhan ekonomi makin meningkat dan apabila
nilai K/Q semakin mendekati angka 0 maka
per-tum-buhan ekonomi makin menurun. Nilai K/Q yang
semakin mendekati angka 0 artinya hampir seluruh
pendapatan nasional diterima oleh kelompok buruh dan

nilai K/Q yang semakin mendekari angka 1 artinya


hampir seluruh pendapatan nasional diterima oleh
kelompok pengusaha.
PARADIGMA BARU TEORI PEMBANGUNAN
EKONOMI DAERAH
Teori-teori pembangunan ekonomi daerah yang ada
belum mampu untuk menjelaskan kegiatan-kegiatan
pembangunan ekonomi daerah secara tuntas dan
komprehensif. Oleh karena itu, suatu pendekatan
alternatif terhadap teori pembangunan ekonomi daerah
telah dirumuskan untuk kepentingan perencanaan
pembangunan ekonomi daerah. Pendekatan ini
merupakan sintesa dan perumusan kembali konsepkonsep yang telah ada. Pendekatan ini memberikan
dasar bagi kerangka pikir dan rencana tindakan yang
akan diambil dalam konteks pembangunan ekonomi
daerah. Paradigma baru ditunjukkan pada tabel 1 berikut
ini:

Tabel 1
Paradigma Baru Teori Pembangunan Ekonomi Daerah
Komponen

Konsep Lama

Konsep Baru

Kesempatan Kerja

Semakin banyak perusahaan =


semakin banyak peluang kerja

Perusahaan harus mengembangkan pekerjaan yang sesuai dengan


kondisi pen-duduk daerah

Basis Pembangunan

Pengembangan sektor ekonomi

Pengembangan lembaga-lembaga
ekonomi baru

Aset-Aset Lokasi

Keunggulan komparatif didasarkan pada aset fisik

Keunggulan kompetitif didasarkan


pada kualitas lingkungan

Sumberdaya Pengetahuan

Ketersediaan angkatan kerja

Pengetahuan sebagai
pembangkit ekonomi

Sumber: Lincolin Arsyad, Ekonomi Pembangunan, Ed. 4, BP STIE YKPN., Yogyakarta, 1999, hal. 302.
Dasar pemikiran pewilayahan (regionalisasi)
sebenarnya merupakan sesuatu yang nyata, yaitu
setiap kegiatan itu pasti terjadi dan mempunyai efek
dalam sebuah ruang dan bukan dalam sebuah titik yang
statis (Budiono Sri Handoko, 1984, hal. 1). Misalnya,
sebidang lahan yang diusahakan untuk sawah, maka
kegiatan produksi padi itu tidak terbatas pada lahan itu
saja, tetapi ber-dasarkan pemikiran bahwa tata ruang

34

(spasial) kegiatan produksi padi itu berkaitan dengan


letak tempat tinggal petani, berapa jauh si petani harus
berjalan menuju sawahnya, asal tempat petani
mendapatkan input yang di-perlukan, sasaran tempat
petani menjual hasil produksinya, sasaran tempat petani
akan membelanjakan pendapatannya, dan sebagainya.
Dengan demikian, dalam pendekatan tata ruang,
pembangunan yang terjadi di suatu daerah akan

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

mempengaruhi daerah lain, demikian pula sebaliknya.


Dalam perkembangan regional selan-jutnya,
pendekatan tata ruang ini digunakan untuk membahas
hubungan antara pertumbuhan dae-rah perkotaan
dengan pedesaan. Hubungan atau kontak yang terjadi
antara daerah perkotaan de-ngan pedesaan berserta
hasil hubungannya yang berujud tertentu diartikan
sebagai interaksi. (R. Bintarto., 1996, hal. 61). Interaksi

antara desa-kota merupakan suatu proses sosial,


proses eko-nomi, proses budaya, maupun proses
politik yang terjadi karena berbagai faktor atau unsur
yang dalam kota, dalam desa, dan di antara desa dan
kota, seperti adanya kebutuhan (hubungan) timbal-balik
antara desa-kota.
Secara garis besar hubungan timbal-balik antara
desa-kota ditunjukkan dalam tabel 2 berikut ini:

Tabel 2
Hubungan Timbal-Balik antara Desa-Kota
Desa
Produksi pangan
Konsumen input
Sumber tenaga kerja
Pasar untuk hasil industri
Sumber investasi dalam artian teoritik

Kota
Pasar bagi hasil produksi pa-ngan
Produsen input untuk industri pa-ngan
Pusat layanan kota (sekolah, ru-mah sakit,
bank dan sebagai-nya)
Sumber penemuan teknologi
Pusat kegiatan industri

Sumber: Budiono Sri Handoko, Interaksi antara Desa dan Kota, PPE FE UGM dan Biro
Perencanaan Deptan. RI, 1985, hal. 1.
Berdasarkan tabel 2 dapat diinterpretasikan
berbagai macam hubungan antara kegiatan-kegiatan
yang berada di desa dan kota, di antaranya ada yang
menyamakan hu-bungan antara desa dan kota dengan
hubungan antara pertanian dan industri. Hubungan
tim-bal balik itulah yang mengakibatkan munculnya
fungsi kota, yaitu antara lain sebagai tempat
pengumpulan hasil pro-duksi dari daerah-daerah di
belakangnya atau desa-desa di sekitarnya (hinterland),
sebagai tempat pengumpulan input yang diperlukan
pedesaan (pupuk, bibit, obat-obatan dan sebagainya)
dan se-buah pusat administrastif (Kadariah, 1989, hal.
67). Kota tidak dapat tumbuh untuk dirinya sendiri,
tetapi juga tumbuh untuk desa-desa di seki-tarnya.
Dalam pandangan ekonomi regional, pembangunan
perkotaan tanpa meng-kaitkan dengan pembangunan
pedesaan adalah tidak mungkin terjadi, demikian pula
se-baliknya.
Nampak tabel 1 menunjukkan bagaimana
tentang ketenagakerjaan dalam perspektif spasial
menurut paradigma baru, yaitu pengertian kesempatan
kerja yang diartikan bahwa perusahaan harus
mengembangkan pekerjaan yang sesuai dengan
kondisi penduduk daerah. Sedangkan pada tabel 2

ditunjukkan bagaimana peranan desa sebagai penyedia


tenaga kerja bagi kota. Berdasarkan penjelasan dua
tabel tersebut maka pembahasan tentang tantangan
dan peluang tenaga kerja dapat pula dilakukan melalui
pendekatan spasial atau keruangan kewilayahan.
KONDISI PEREKONOMIAN MAKRO KABUPATEN
SLEMAN
Berdasarkan interaksi antarwilayah di Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu antara kota
Yogyakarta sebagai pusat dengan empat kabupaten,
nampak bahwa interaksi yang paling kuat adalah
interaksi antara kota Yogyakata dengan kabupaten
Sleman. Model interaksi ini menggunakan dasar hukum
Sir Isaac Newton tentang gravitasi yang menyatakan
bahwa dua benda akan saling tarik-menarik dengan
gaya yang besarnya berbanding lurus dengan perkalian
massa kedua benda tersebut dan berbanding terbalik
dengan jarak kuadrat antara kedua benda tersebut.
Menurut Suwarjoko Warpani (1994, hal. 114),
pengembangan model gravitasi dan interaksi
antarruang dalam analisis regional adalah:

35

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

I1,2 = a (w1 P1) (w2 P2) / Jb12


yang menunjukkan bahwa:
I1,2 : interaksi dalam ruang antara wilayah 1 dan 2
w1 : pendapatan per kapita wilayah 1
w2 : pendapatan per kapita wilayah 2
P1 : jumlah penduduk wilayah 1
P2 : jumlah penduduk wilayah 2
Jb 1,2 : jarak antara wilayah 1 dan 2
a
: konstante empirik yang besarnya 1
b : konstante jarak yang besarnya 2
Nilai I1,2 menunjukkan eratnya hubungan antara
wilayah 1 dan 2. Semakin besar nilai I1,2 maka semakin

erat hubungannya dan dengan demikian semakin


banyak pula perjalanan ekonomi yang terjadi sebagai
konsekuensi interaksi kota-desa dalam analisis ekonomi
regional. Hasil perhitungan nilai I1,2 menunjukkan
bahwa interaksi antara kota Yogyakarta dengan
kabupaten Sleman nilainya makin meningkat dari waktu
ke waktu, tanpa mengabaikan potensi yang terdapat
dalam interaksi antara kota Yogyakarta dengan
kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo.
Perhitungan nilai I1,2 ditunjukkan dalam tabel 3 berikut
ini:

Tabel 3
Indeks Gravity dan Interaksi Antarruang
Propinsi DIY, Tahun 1991-1996
Tahun

Yogyakarta
Sleman

Yogyakarta
Bantul

Yogyakarta
Gunungkidul

Yogyakarta
Kulon Progo

1991
1992
1993
1994
1995
1996

1.568,1
2.197,9
2.980,7
3.980,7
3.904,2
6.935,3

932,2
1.272,8
1.768,2
2.372,0
3.239,2
4.422,6

103,8
123,8
169,5
224,2
301,6
405,7

103,2
132,1
166,8
204,6
254,5
316,4

Sumber: Biro Pusat Statistik. Propinsi DIY Dalam Angka Tahun 1997.
Data diolah.

Hasil perhitungan indeks gravity dan interaksi


antara kota Yogyakarta dengan kabupaten Sleman yang
semakin meningkat nilainya menunjukkan bahwa
mobilitas ekonomi yang dilakukan antarpelaku ekonomi
kedua wilayah tersebut cenderung meningkat pula.
Dengan demikian, pertukaran output (barang dan jasa)
dan input (faktor produksi, misalnya tenaga kerja)
antarkedua wilayah tersebut cenderung meningkat pula.
Hal ini mengakibatkan penduduk di masing-masing
wilayah tersebut akan memperoleh peningkatan
kesejahteraan.

36

Analisis perekonomian makro kabupaten Sleman


dilakukan dengan menganalisis PDRB kabupaten
Sleman tahun 1998-2001 atas dasar harga berlaku dan
atas dasar harga konstan tahun 1993. Analisis yang
dilakukan berupa penghitungan kontribusi atau
kontribusi sektor dan subsektor terhadap PDRB
kabupaten Sleman atas dasar harga berlaku dan
penghitungan laju pertumbuhan sektor dan subsektor
PDRB kabupaten Sleman atas dasar harga konstan
tahun 1993.
Data PDRB Kabupaten Sleman tahun 1998-2001
ditunjukkan pada tabel 4 berikut ini:

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Tabel 4
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sleman
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 1998-2001 (Ribuan Rupiah)
NO.

LAPANGAN USAHA

PERTANIAN
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan hasilhasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
PERTAMBANGAN dan
PENGGALIAN
a. Minyak dan Gas Bumi
(Migas)
b. Pertambangan Tanpa
Migas
c. Penggalian
INDUSTRI PENGOLAHAN
a. Industri Migas
b. Industri Tanpa Migas
LISTRIK, GAS, & AIR BERSIH
a. Listrik
b. Gas
c. Air Minum
BANGUNAN
PERDAGANGAN, HOTEL,
dan RESTORAN
a. Perdagangan Besar dan
Eceran
b. Hotel
c. Restoran
PENGANGKUTAN dan
KOMUNIKASI
a. Pengangkutan
1. Angkutan Rel
2. Angkutan Jalan Raya
3. Angkutan Laut

5
6

1998

1999

2000

2001

478,540,000
408,605,000
9,286,000
47,536,000

599,661,000
522,379,000
10,074,000
51,337,000

704,858,000
610,138,000
15,921,000
58,503,000

784,699,000
638,764,000
30,943,000
85,770,000

3,674,000
9,439,000
11,075,000

4,511,000
11,360,000
13,301,000

3,924,000
16,372,000
14,793,000

4,347,000
24,875,000
17,179,000

11,075,000
407,319,000
407,319,000
24,228,000
23,201,000
1,027,000
251,927,000
519,002,000

13,301,000
469,529,000
469,529,000
24,891,000
23,752,000
1,139,000
279,037,000
621,673,000

14,793,000
546,511,000
546,511,000
28,667,000
27,429,000
1,238,000
328,170,000
708,549,000

17,179,000
642,310,000
642,310,000
32,671,000
31,035,000
1,636,000
370,996,000
850,109,000

152,990,000

180,597,000

213,193,000

255,102,000

67,638,000
298,374,000
258,264,000

76,690,000
364,386,000
284,986,000

90,812,000
404,544,000
307,520,000

113,972,000
481,035,000
355,902,000

244,091,000
239,832,000
-

266,408,000
261,679,000
-

286,725,000
281,572,000
-

329,124,000
323,428,000
-

37

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah


8

KEUANGAN, PERSEWAAN,
dan JASA PERUSAHAAN
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa
Bank
c. Jasa Penunjang Keuangan
d. Sewa Bangunan
e. Jasa Perusahaan
JASA-JASA
a. Pemerintahan Umum
1. Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan
2. Jasa Pemerintahan
b. Swasta
1. Sosial Kemasyarakatan
2. Hiburan dan Rekreasi
3. Perorangan dan
Rumahtangga
PRODUK DOMESTIK
REGIONAL BRUTO

Peluang dan Tantangan ......

287,939,000

331,826,000

324,290,000

384,869,000

32,851,000
24,629,000

42,568,000
30,555,000

11,121,000
33,200,000

10,028,000
49,037,000

339,000
224,141,000
5,979,000
453,435,000
277,608,000
277,608,000

390,000
252,069,000
6,244,000
550,408,000
362,200,000
362,200,000

361,000
272,816,000
6,792,000
597,627,000
384,013,000
384,013,000

408,000
317,442,000
7,954,000
681,053,000
437,544,000
437,544,000

175,827,000
36,812,000
6,043,000
132,972,000

188,208,000
42,609,000
6,630,000
138,969,000

213,614,000
50,084,000
7,275,000
156,255,000

243,509,000
57,691,000
8,653,000
177,165,000

2,691,729,000

3,175,312,000

3,560,985,000 4,119,788,000

Sumber: Kabupaten Sleman Dalam Angka Berbagai Tahun. BPS Sleman.

Berdasarkan tabel 4, dapat dianalisis perubahan


struktur ekonomi yang terjadi di Kabupaten Sleman
tahun 1998-2001. Hal ini ditunjukkan pada hasil

38

perhitungan tabel 5 yang menjelaskan tentang


kontribusi sektor dan subsektor PDRB Kabupaten
Sleman tahun 1998-2001.

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Tabel 5
Kontribusi Sektor dan Subsektor PDRB Kabupaten Sleman
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 1998-2001
NO.
1

5
6

LAPANGAN USAHA
PERTANIAN
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
PERTAMBANGAN dan PENGGALIAN
a. Minyak dan Gas Bumi (Migas)
b. Pertambangan Tanpa Migas
c. Penggalian
INDUSTRI PENGOLAHAN
a. Industri Migas
b. Industri Tanpa Migas
LISTRIK, GAS, dan AIR BERSIH
a. Listrik
b. Gas
c. Air Minum
BANGUNAN
PERDAGANGAN, HOTEL, dan RESTORAN
a. Perdagangan Besar dan Eceran
b. Hotel
c. Restoran
PENGANGKUTAN dan KOMUNIKASI
a. Pengangkutan
1. Angkutan Rel
2. Angkutan Jalan Raya
3. Angkutan Laut
4. Angkutan Sungai, Danau, dan
Penyeberangan
5. Angkutan Udara
6. Jasa Penunjang Angkutan
b. Komunikasi
1. Pos dan Telekomunikasi
2. Jasa Penunjang Komunikasi

1998

1999

2000

2001

17.78%
85.39%
1.94%
9.93%
0.77%
1.97%
0.41%
0.00%
0.00%
100.00%
15.13%
0.00%
100.00%
0.90%
95.76%
0.00%
4.24%
9.36%
19.28%
29.48%
13.03%
57.49%
9.59%
94.51%
0.00%
92.86%
0.00%
0.00%

18.89%
87.11%
1.68%
8.56%
0.75%
1.89%
0.42%
0.00%
0.00%
100.00%
14.79%
0.00%
100.00%
0.78%
95.42%
0.00%
4.58%
8.79%
19.58%
29.05%
12.34%
58.61%
8.98%
93.48%
0.00%
91.82%
0.00%
0.00%

19.79%
86.56%
2.26%
8.30%
0.56%
2.32%
0.42%
0.00%
0.00%
100.00%
15.35%
0.00%
100.00%
0.81%
95.68%
0.00%
4.32%
9.22%
19.90%
30.09%
12.82%
57.09%
8.64%
93.24%
0.00%
91.56%
0.00%
0.00%

19.05%
81.40%
3.94%
10.93%
0.55%
3.17%
0.42%
0.00%
0.00%
100.00%
15.59%
0.00%
100.00%
0.79%
94.99%
0.00%
5.01%
9.01%
20.63%
30.01%
13.41%
56.59%
8.64%
92.48%
0.00%
90.88%
0.00%
0.00%

0.00%
1.65%
5.49%
4.48%
1.00%

0.00%
1.66%
6.52%
5.48%
1.03%

0.00%
1.68%
6.76%
5.58%
1.19%

0.00%
1.60%
7.52%
6.16%
1.36%

39

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah


8

KEUANGAN, PERSEWAAN, dan


JASA PERUSAHAAN
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Jasa Penunjang Keuangan
d. Sewa Bangunan
e. Jasa Perusahaan
JASA-JASA
a. Pemerintahan Umum
1. Administrasi Pemerintahan dan
Pertahanan
2. Jasa Pemerintahan Lainnya
b. Swasta
1. Sosial Kemasyarakatan
2. Hiburan dan Rekreasi
3. Perorangan dan Rumahtangga
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

Peluang dan Tantangan ......

10.70%

10.45%

9.11%

9.34%

11.41%
8.55%
0.12%
77.84%
2.08%
16.85%
61.22%
61.22%

12.83%
9.21%
0.12%
75.96%
1.88%
17.33%
65.81%
65.81%

3.43%
10.24%
0.11%
84.13%
2.09%
16.78%
64.26%
64.26%

2.61%
12.74%
0.11%
82.48%
2.07%
16.53%
64.25%
64.25%

0.00%
38.78%
8.12%
1.33%
29.33%

0.00%
34.19%
7.74%
1.20%
25.25%

0.00%
35.74%
8.38%
1.22%
26.15%

0.00%
35.75%
8.47%
1.27%
26.01%

100.00%

100.00%

100.00%

100.00%

Sumber: Tabel 4. Data diolah.


Berdasarkan tabel 5, nampak bahwa lima sektor
besar memberikan kontribusi dalam PDRB kabupaten
Sleman tahun 1998, yaitu terbesar sektor perdagangan,
hotel, dan restoran se-besar 19,28%. Sektor-sektor
berikutnya adalah sektor pertanian sebesar 17,78%,
sektor jasa-jasa sebesar 16,85%, sektor industri
pengolahan sebesar 15,13%, serta sektor keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 10,70%. Pada
tahun 1999, lima lima sektor besar pemberi kontribusi
dalam PDRB kabupaten Sleman, yaitu terbesar sektor
perdagangan, hotel, dan restoran se-besar 19,58%.
Sektor-sektor berikutnya adalah sektor pertanian
sebesar 18,89%, sektor jasa-jasa sebesar 17,33%, sektor
industri pengolahan sebesar 14,79%, serta sektor
keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar
10,45%. Pada tahun 2000, lima sektor besar pemberi
kontribusi dalam PDRB kabupaten Sleman, yaitu

40

terbesar sektor perdagangan, hotel, dan restoran


se-besar 19,90%. Sektor-sektor berikutnya adalah
sektor pertanian sebesar 19,79%, sektor jasa-jasa
sebesar 16,78%, sektor industri pengolahan sebesar
15,35%, serta sektor bangunan sebesar 9,22% (sektor
perdagangan, hotel, dan restoran hanya sebesar
9,11%). Pada tahun 2001, lima sektor besar pemberi
kontribusi dalam PDRB kabupaten Sleman, yaitu
terbesar sektor perdagangan, hotel, dan restoran
se-besar 20,63%. Sektor-sektor berikutnya adalah
sektor pertanian sebesar 19,05%, sektor jasa-jasa
sebesar 16,53%, sektor industri pengolahan sebesar
15,59%, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran
sebesar 9,34%. Apabila diringkas, penjelasan lima
sektor besar dalam PDRB kabupaten Sleman tahun
1998-2001 ditunjukkan pada tabel 6 berikut ini.

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Tabel 6
Perkembangan Kontribusi Lima Sektor Besar PDRB Kabupaten Sleman
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 1998-2001
No.
1

Lapangan Usaha
Perdagangan, Hotel,

1998

1999

2000

2001

19.28%

19.58%

19.90%

20.63%

Dan Restoran
2

Pertanian

17.78%

18.89%

19.79%

19.05%

Jasa-jasa

16.85%

17.33%

16.78%

16.53%

Industri Pengolahan

15.13%

14.79%

15.35%

15.59%

Keuangan, Persewaan,

10.70%

10.45%

9.11%

9.34%

Dan Jasa Perusahaan

Sumber: Tabel 5. Data diolah.


Berdasarkan tabel 6 nampak bahwa sektor di
kabupaten Sleman yang memiliki kecenderungan
kontribusi semakin meningkat dalam kurun waktu 19982001 adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran,
sektor pertanian, dan sektor industri pengolahan.
Sedang sektor jasa-jasa dan sektor keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan semakin menurun.
Dengan demikian, berdasarkan kecenderungan
kontribusi ketiga sektor yang semakin meningkat di

kabupaten Sleman, maka ketiga sektor tersebut


merupakan sektor yang berpotensi di kabupaten
Sleman dalam waktu-waktu mendatang dengan tidak
mengesampingkan potensi sektor-sektor lain.
Untuk mengembangkan ketiga sektor tersebut
perlu memperhatikan kontribusi subsektor ketiga sektor
yang berpotensi di kabupaten Sleman selama kurun
waktu tahun 1998-2001. Kontribusi ketiga subsektor
tersebut ditunjukkan pada tabel 7 berikut ini.

Tabel 7
Perkembangan Kontribusi Subsektor PDRB Kabupaten Sleman
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 1998-2001
NO.
1

LAPANGAN USAHA

1998

1999

2001

2001

PERDAGANGAN, HOTEL, dan RESTORAN

19.28%

19.58%

19.90%

20.63%

a. Perdagangan Besar dan Eceran

29.48%

29.05%

30.09%

30.01%

b. Hotel

13.03%

12.34%

12.82%

13.41%

c. Restoran

57.49%

58.61%

57.09%

56.59%

PERTANIAN

17.78%

18.89%

19.79%

19.05%

a. Tanaman Bahan Makanan

85.39%

87.11%

86.56%

81.40%

b. Tanaman Perkebunan

1.94%

1.68%

2.26%

3.94%

c. Peternakan dan hasil-hasilnya

9.93%

8.56%

8.30%

10.93%

d. Kehutanan

0.77%

0.75%

0.56%

0.55%

e. Perikanan

1.97%

1.89%

2.32%

3.17%

15.13%

14.79%

15.35%

15.59%

0.00%

0.00%

0.00%

0.00%

100.00%

100.00%

100.00%

100.00%

INDUSTRI PENGOLAHAN
a. Industri Migas
b. Industri Tanpa Migas

Sumber: Tabel 5. Data diolah.

41

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah


Berdasarkan tabel 7 nampak bahwa subsektor
sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang memiliki
kecenderungan kontribusi semakin meningkat dalam
kurun waktu 1998-2001 adalah subsektor perdagangan
besar dan eceran dan subsektor hotel, sedangkan
subsektor restoran memiliki kecenderungan kontribusi
semakin menurun. Pada subsektor sektor pertanian
yang memiliki kecenderungan kontribusi semakin
meningkat dalam kurun waktu 1998-2001 adalah
subsektor perkebunan, subsektor peternakan dan hasilhasilnya, dan subsektor perikanan sedangkan
subsektor tanaman bahan makanan dan subsektor

Peluang dan Tantangan ......

kehutanan memiliki kecenderungan kontribusi semakin


menurun. Pada sektor industri pengolahan, semuanya
merupakan sumbangan dari subsektor industri tanpa
migas. Oleh karena itu, subsektor industri tanpa migas
merupakan salah satu subsektor yang memiliki prospek
untuk dikembangkan.
Apabila kelima sektor yang memiliki kontribusi
besar terhadap PDRB kabupaten Sleman tahun 19982001 dilakukan penghitungan laju pertumbuhan atas
dasar harga konstan tahun 1993 maka diperoleh hasil
seperti yang ditunjukkan pada tabel 8 berikut ini:

Tabel 8
Perkembangan Laju Pertumbuhan Lima Sektor Besar PDRB Kabupaten Sleman
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993
Tahun 1999-2001
NO.

LAPANGAN USAHA

1
2
3
4
5

PERDAGANGAN, HOTEL, dan RESTORAN


PERTANIAN
JASA-JASA
INDUSTRI PENGOLAHAN
KEUANGAN, PERSEWAAN, dan JASA PERUSAHAAN

1998

1999

2000

2,06%
3,57%
2,01%
1,22%
1,37%

4,37%
9,58%
2,42%
5,08%
-4,28%

4,83%
3,08%
3,32%
5,39%
4,31%

Sumber: Kabupaten Sleman Dalam Angka Berbagai Tahun. BPS Sleman. Data diolah.
Berdasarkan tabel 8 nampak bahwa di antara
kelima sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap
PDRB kabupaten Sleman dalam kurun waktu yang sama,
sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor jasajasa, dan sektor industri pengolahan memiliki laju
pertumbuhan sektor semakin meningkat, sedangkan
sektor pertanian dan sektor keuangan, persewaan, dan

42

jasa perusahaan mengalami laju pertumbuhan sektor


yang fluktuaktif. Apabila ketiga sektor yang memiliki
kecenderungan laju pertumbuhan sektor yang semakin
meningkat, dirinci menurut subsektor maka hasil
penghitungan laju pertumbuhan subsektor ditunjukkan
pada tabel 9 berikut ini:

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Tabel 9
Perkembangan Laju Pertumbuhan Subsektor PDRB Kabupaten Sleman
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993
Tahun 1999-2001
NO.

LAPANGAN USAHA

PERDAGANGAN, HOTEL, dan RESTORAN


a. Perdagangan Besar dan Eceran
b. Hotel
c. Restoran
JASA-JASA
a. Pemerintahan Umum
1. Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan
2. Jasa Pemerintahan Lainnya
b. Swasta
1. Sosial Kemasyarakatan
2. Hiburan dan Rekreasi
3. Perorangan dan Rumahtangga
INDUSTRI PENGOLAHAN
a. Industri Migas
b. Industri Tanpa Migas

1999

2000

2001

2,06%
1,19%
3,48%
2,21%
2,01%
1,40%
1,40%
0%
3,44%
9,30%
4,23%
1,40%
1,22%
0%
1,22%

4,37%
7,32%
-2,74%
4,52%
2,42%
2,14%
2,14%
0%
3,08%
3,05%
2,30%
3,16%
5,08%
0%
5,08%

4,83%
3,89%
5,25%
5,30%
3,32%
2,56%
2,56%
0%
5,06%
3,85%
6,43%
5,39%
5,39%
0%
5,39%

Sumber: Kabupaten Sleman Dalam Angka Berbagai Tahun. BPS Sleman. Data diolah.
Berdasarkan tabel 9 nampak bahwa subsektor
sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang memiliki
kecenderungan laju pertumbuhan semakin meningkat
dalam kurun waktu 1998-2001 adalah subsektor restoran,
sedangkan subsektor perdagangan besar dan eceran
dan subsektor hotel memiliki kecenderungan laju
pertumbuhan yang fluktuaktif. Pada subsektor sektor
jasa-jasa yang memiliki kecenderungan laju
pertumbuhan semakin meningkat dalam kurun waktu
1998-2001 adalah subsektor administrasi pemerintahan
dan pertahanan (pemerintahan umum) dan subsektor
perorangan dan rumahtangga (swasta), sedangkan
subsektor lainnya pada sektor jasa-jasa memiliki
kecenderungan laju pertumbuhan semakin menurun.
Pada sektor industri pengolahan, semuanya merupakan

sumbangan dari subsektor industri tanpa migas. Oleh


karena itu, subsektor industri tanpa migas merupakan
salah satu subsektor yang memiliki prospek untuk
dikembangkan karena memiliki kecenderungan laju
pertumbuhan semakin meningkat.
Apabila perhitungan prospek sektor, subsektor,
dan produk Kabupaten Sleman ditambahkan alat
analisis location quotient (LQ) maka akan diperoleh
hasil analisis yang lebih lengkap. Berikut ini disajikan
hasil perhitungan LQ Kabupaten Sleman dan LQ per
kecamatan se Kabupaten Sleman pada tabel 10, 11, dan
12:
Sektor yang memiliki nilai LQ > 1 berpotensi
untuk dikembangkan.

43

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Tabel 10
Location Quotient (LQ)
Kabupaten Sleman, Tahun 1999
NO.

LAPANGAN USAHA

1
2
3
4
5
6
7
8
9

LQ

Pertanian
Pertambangan dan Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas, dan Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel, dan Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan, Persewaan, dan Jasa perusahaan
Jasa-Jasa

0.8661
0.2747
0.8796
1.1481
1.1867
1.0020
0.9066
1.3451
1.1326

Sumber: Diolah dari Buku Propinsi DIY Dalam Angka tahun 2000.

Tabel 11
Location Quotient (LQ) > 1 Per Kecamatan Se Kabupaten Sleman,
Tahun 1999
Kecamatan

Sektor A

Sektor B

Sektor C

Sektor D

Sektor E

Se

Berbah
Cangkringan
Depok
Gamping
Godean
Kalasan
Minggir
Mlati
Moyudan
Ngaglik
Ngemplak
Pakem
Prambanan
Seyegan
Sleman
Tempel
Turi

Sumber: Data diolah dari Buku PDRB Kabupaten Sleman Tahun 1999 dan 2000 dan PDRB per Kecamatan
se-kabupaten Sleman Tahun 1999.

44

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Keterangan Tabel 11:


Menunjukkan bahwa nilai LQ nya lebih besar
daripada 1
Sektor A adalah Pertanian
Sektor B adalah Pertambangan dan Penggalian
Sektor C adalah Industri Pengolahan
Sektor D adalah Listrik, Gas, dan Air Bersih
Sektor E adalah Bangunan
Sektor F adalah Perdagangan, Hotel, dan Restoran
Sektor G adalah Pengangkutan dan Komunikasi
Sektor H adalah Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan
Sektor I adalah Jasa-Jasa

Berdasarkan tabel 11, maka pemerintah


Kabupaten Sleman dapat me-ngem-bangkan potensi
di masing-masing wilayah kecamatan berdasarkan
penghitungan nilai LQ sektor per kecamatan di
Kabupaten Sleman yang lebih besar daripada 1. Potensi
yang dikembangkan di masing-masing wilayah
ke-camatan Kabupaten Sleman memungkinkan
terjadinya penyerapan tenaga kerja di Kabupaten
Sleman.
Urutan lima sektor berdasarkan nilai LQ di
masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel 12
di bawah ini.

Tabel 12
Lima Sektor Teratas Berdasarkan LQ Per KecamatanSe Kabupaten Sleman,Tahun 1999
NO.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

KECAMATAN
Berbah
Cangkringan
Depok
Gamping
Godean
Kalasan
Minggir
Mlati
Moyudan
Ngaglik
Ngemplak
Pakem
Prambanan
Seyegan
Sleman
Tempel
Turi

I
Listrik, ...
Pertamb. ...
Jasa-jasa
Pengang. ...
Pertamb. ...
Keu., ...
Industri P.
Perdag., ...
Pengang. ...
Bangunan
Pertamb. ...
Pertanian
Pertanian
Pertanian
Jasa-jasa
Pertamb. ...
Pertanian

Urutan Berdasa
II
III
Pertanian
Pertamb
Pertanian
Listrik, ..
Perdag., ...
Pengang
Bangunan
Listrik, ..
Pengang. ...
Industri P
Listrik, ...
Pertania
Pertanian
Listrik, ..
Keu., ...
Pengang
Industri P.
Pertania
Industri P.
Listrik, ..
Pertanian
Pengang
Bangunan
Listrik, ..
Perdag., ...
Banguna
Industri P.
Keu., ...
Industri P.
Banguna
Pertanian
Industri P
Listrik, ...
Banguna

Sumber: Data diolah dari Buku PDRB per Kecamatan se kabupaten Sleman Tahun 1999.

45

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Berdasarkan tabel 10, 11, dan 12 nampak sektorsektor di kabupaten Sleman dan kecamatan se
kabupaten Sleman yang berpotensi untuk
dikembangkan. Apabila berpotensi untuk
dikembangkan maka sektor-sektor tersebut diasumsikan
membutuhkan input atau faktor produksi yang salah
satunya adalah tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja
di masing-masing sektor tentunya tergantung
bagaimana pembiayaan sektor-sektor tersebut, serta
kemampuan (ability) dan kemauan (willingness)
masing-masing tenaga kerja. Pembiayaan sektor
menjadi faktor penentu karena modal atau kapital yang
tersedia akan mempengaruhi langsung kuantitas dan
kualitas produk yang dihasilkan. Kemampuan dan
kemauan tenaga kerja mempengaruhi pilihan sektor
mana yang akan dimasuki sebagai tempat bekerja.
KONDISI KETENAGAKERJAAN KABUPATEN
SLEMAN
Interaksi antara kabupaten Sleman dengan
daerah-daerah lain yang makin meningkat yang disertai
dengan adanya pertumbuhan ekonomi di kabupaten
Sleman akan meningkatkan penyediaan lapangan kerja.
Peningkatan penyediaan lapangan kerja akan

meningkatkan kemampuan daerah dalam menyerap


tenaga kerja sehingga dapat menjadi solusi bagi
masalah pengangguran di kabupaten Sleman. Interaksi
antarwilayah yang disertai dengan pertumbuhan
ekonomi merupakan salah satu hasil pembangunan
daerah yang dilaksanakan.
Apabila hasil pembangunan beserta faktorfaktor yang mempengaruhinya diibaratkan seperti
kegiatan produksi dalam suatu perusahaan maka dalam
membahas pembangunan ekonomi dapat menggunakan
pendekatan teori produksi. Salah satu teori
pembangunan ekonomi yang menggunakan
pendekatan teori produksi dan telah berkembang sejak
tahun 1950-an adalah teori pembangunan ekonomi NeoKlasik yang dikemukakan oleh Solow-Swan Menurut
teori ini, pembangunan ekonomi tergantung kepada
pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi
(tenaga kerja dan akumulasi modal) dan tingkat
kemajuan teknologi. Dengan demikian, faktor produksi
seperti tenaga kerja akan mempengaruhi hasil
pembangunan ekonomi. Berikut ini disajikan tabel 13
tentang indikator ketenagakerjaan kabupaten Sleman
tahun 1999-2000.

Tabel 13
Indikator Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman
Tahun 1999-2001
No.
1
2

3
4
5
6

46

Uraian
Penduduk Usia Kerja (15 tahun ke atas)
Angkatan Kerja
a. Bekerja
b. Mencari Pekerjaaan
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%)
Tingkat Pengangguran Terbuka (%)
Bekerja Kurang 35 jam seminggu (%)
Bekerja Menurut Lapangan Usaha (%)
a. Pertanian
b. Industri
c. Perdagangan
d. Jasa-jasa
e. Lainnya

1999
671.021

2000
735.291

2001
732.548

429.517
20.861
67,09
4,81
27,63

436.572
24.238
62,67
5,26
32,01

433.271
17.525
61,54
3,89
27,69

30.19
13.48
22.72
21.37
12.23

27,16
14.70
25.17
16,57
16,40

27.25
13.81
25.35
21.31
12.28

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah


7.

Peluang dan Tantangan ......

Bekerja Menurut Status (%)


a. Berusaha sendiri
b. Berusaha dengan buruh tidak tetap/ pekerja keluarga
c. Berusaha dengan buruh tetap
d. Pekerja/buruh
e. Pekerja keluarga

19,90
17,21
1,37
45.37
16,16

21,87
20.29
1.02
42.74
14.07

24.24
20.32
3.21
38.71
13.53

Sumber: Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Sleman Tahun 2001, hal. 29-34.
Nampak pada tabel 13 angka TPAK dari tahun
1999 sampai dengan tahun 2001 mengalami penurunan,
yaitu dari 67,09% , 62,67%, dan 61,54%. Penurunan
angka TPAK ini disebabkan jumlah angkatan kerja relatif
tetap sedangkan jumlah penduduk usia kerja mengalami
kenaikan. Untuk meningkatkan angka TPAK kabupaten
Sleman dapat dilakukan dengan menambah jumlah
penduduk yang bekerja atau penduduk yang mencari
pekerjaan. Di samping itu, dapat pula dilakukan dengan
menekan angka kelahiran sehingga akan mengurangi
jumlah penduduk pada akhirnya.
Apabila dilihat pada tabel 13, nampak tingkat
pengangguran terbuka memiliki arah trend yang
menurun. Hal ini berarti, secara relatif semakin banyak
penduduk kabupaten Sleman yang tidak menganggur
secara terbuka. Namun apabila dilihat dari jumlah
absolut, kemungkinan jumlah penduduk absolut
kabupaten Sleman yang menganggur secara terbuka
mengalami kenaikan karena terjadinya kenaikan jumlah
penduduk. Apabila dilihat pada tabel 13, nampak angka
bekerja kurang daripada 35 jam kerja seminggu relatif
konstan, yaitu dari 27,63%, 32,01%, dan 27,69%. Namun
. Namun apabila dilihat dari jumlah absolut,
kemungkinan jumlah penduduk absolut kabupaten
Sleman yang bekerja kurang daripada 35 jam kerja
seminggu mengalami kenaikan karena terjadinya
kenaikan jumlah penduduk yang bekerja. Apabila dilihat
pada tabel 13, nampak jumlah penduduk yang bekerja
menurut lapangan usaha dari tahun 1999 sampai
dengan 2001 terbesar tetap saja di sektor pertanian,
kemudian diikuti sektor perdagangan, dan jasa-jasa.
Apabila dilihat pada tabel 13, nampak penduduk yang
paling banyak bekerja menurut status adalah bekerja
sebagai pekerja/buruh, kemudian bekerja sebagai
berusaha sendiri, dan berusaha dengan buruh tidak
tetap/pekerja keluarga.

PELUANG DAN TANTANGAN TENAGA KERJA DI


KABUPATEN SLEMAN
Menurut Gunawan Sumodiningrat (1999: 5), untuk
menyonsong Otonomi Daerah maka perlu penyiapan
sumberdaya manusia di daerah. Sumberdaya manusia
di daerah yang antara lain aparat daerah, perguruan
tinggi, lembaga pengembang masyarakat, dan berbagai
pihak yang peduli dalam pembangunan yang
berwawasan pada pemberdayaan masyarakat sangat
diharapkan peranannya dalam sumbangan pemikiran
pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat
dengan menempatkan pembangunan pada proporsi
sebenarnya. Aparat dituntut untuk mengembangkan
kepemimpinan yang merakyat yang mampu memahami
aspirasi dan masalah yang dihadapi masyarakatnya.
Kepemimpinan yang seperti itu merupakan syarat untuk
mengembangkan sumberdaya manusia. Dalam kerangka
makro, penyiapan sumberdaya manusia sebagai pelaku
ekonomi yang appropriate untuk Otonomi Daerah
segera diwujudkan. Dalam kerangka mikro, penyiapan
tehnis aparat pelaksana Otonomi Daerah diwujudkan
melalui pelatihan dan pemberian kesempatan yang luas
kepada pelaku ekonomi di daerah untuk ikut
bertanggungjawab dalam penyelenggaraan Otonomi
Daerah.
Pelaku ekonomi di daerah sebagai komponen
sumberdaya manusia di daerah dalam menyongsong
Otonomi Daerah dapat dijelaskan secara teori dengan
menggunakan circular flow diagram. Diagram tersebut
menjelaskan bagaimana pelaku ekonomi berinterakasi,
dengan asumsi bahwa ada lima pelaku yaitu
masyarakat, perusahaan, lembaga keuangan bank dan
bukan bank, dan pemerintah daerah, dan dewan
perwakilan rakyat daerah.

47

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Masyarakat diasumsikan sebagai pelaku


ekonomi yang memiliki faktor produksi (di antaranya
tenaga kerja) dan kemudian dijual kepada perusahaan
yang oleh karena itu masyarakat akan memperoleh
pendapatan. Di samping itu, masyarakat merupakan
pelaku ekonomi yang akan mengkomsumsi barang dan
jasa -pengeluaran konsumsi masyarakat- yang
dihasilkan perusahaan. Perusahaan diasumsikan
sebagai pelaku ekonomi yang melakukan kegiatan
produksi menghasilkan barang dan jasa yang dijual
kepada masyarakat. Perusahaan dapat menghasilkan

barang dan jasa karena perusahaan membeli atau


menyewa faktor produksi yang ditawarkan masyarakat.
Lembaga keuangan bank dan bukan bank merupakan
lembaga yang mempunyai peran sebagai lembaga
perantara (intermediation role) dan lembaga pelancar
jalannya interakasi ekonomi (transmission role).
Pemerintah daerah beserta dewan perwakilan rakyat
daerah mempunyai kekuasaan dalam membuat
kebijakan-kebijakan untuk melancarkan interaksi
ekonomi antarpelaku ekonomi daerah. Circular flow
diagram digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1
Circular Flow Diagram
Faktor Produksi/Input
Pendapatan

s
s

Perusahaan

Masyarakat

s
s

Pengeluaran Konsumsi
Barang dan jasa

Tabungan

Lembaga Keuangan Bank


dan bukan Bank

Investasi

Pemerintah Daerah dan


Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah

Berdasarkan gambar 1 nampak tenaga kerja


sebagai salah satu faktor produksi yang diasumsikan
dimiliki pelalu ekonomi masyarakat- memiliki peranan
penting dalam proses produksi yang dilakukan oleh
pelaku ekonomi perusahaan. Peran penting tersebut

48

akan nampak pada hasil produksi yang dilakukan oleh


perusahaan yang ditunjukkan pada nilai PDRB.
Demikian pula di kabupaten Sleman, kualitas dan
kuantitas tenaga kerja akan mempengaruhi nilai PDRB
kabupaten Sleman. Berdasarkan penjelasan tabel 6

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah


sampai dengan tabel 13 beserta penjelasan hakekat
Otonomi Daerah maka tenaga kerja di kabupaten Sleman
memiliki peluang dan tantangan. Peluang muncul
karena adanya kekuatan dan tantangan muncul karena
adanya kelemahan pelaku ekonomi di daerah tenaga
kerja.
Sektor perdagangan, hotel, dan restoran memiliki
kontribusi terbesar dalam PDRB kabupaten Sleman pada
kurun waktu tahun 1999 2001. Disusul kemudian sektor
pertanian. Apabila dilihat dari kontribusi masing-masing
subsektor kedua sektor tersebut, nampak subsektor
restoran memiliki kontribusi terbesar dalam sektor
perdagangan, hotel, dan restoran. Sedang subsektor
tanaman bahan makanan memiliki kontribusi terbesar
dalam sektor pertanian. Berdasarkan angka laju
pertumbuhan sektor, nampak sektor pertanian memiliki
angka laju pertumbuhan sektor yang paling tinggi,
disusul kemudian sektor perdagangan, hotel, dan
restoran. Apabila dilihat dari angka laju pertumbuhan
masing-masing subsektor kedua sektor tersebut,
nampak subsektor tanaman perkebunan memiliki angka
laju pertumbuhan yang paling tinggi, disusul kemudian
subsektor restoran. Berdasarkan nilai LQ tahun 1999,
sektor perdagangan, hotel, dan restoran memiliki nilai
LQ yang lebih besar daripada 1 daripada sektor
pertanian yang memiliki nilai LQ kurang daripada 1.
Berdasarkan LQ kedua sektor tersebut per kecamatan,
nampak sektor pertanian memiliki nilai LQ lebih besar
daripada 1 di kecamatan Berbah, Cangkringan, Godean,
Kalasan, Minggir, Moyudan, Ngemplak, Pakem,
Prambanan, Seyegan, Tempel, dan Turi. Sedang sektor
perdagangan, hotel, dan restoran memiliki nilai LQ lebih
besar daripada 1 di kecamatan Depok, Kalasan, Mlati,
Ngemplak, Pakem, dan Prambanan.
Berdasarkan penjelasan sektoral dan spasial
sektor-sektor di kabupaten Sleman maka dapat
dianalisis bahwa secara sektoral dan spasial,
penyerapan tenaga kerja di berbagai kecamatan di
kabupaten Sleman hampir merata di sektor pertanian.
Oleh karena itu, apabila dilihat pada tabel 13 nampak
sektor pertanian banyak menyerap tenaga kerja pada
periode pengamatan tahun 1999-2000 (rata-rata sebesar
28,20%) disusul kemudian sektor perdagangan, hotel,
dan restoran (rata-rata sebesar 24,41%).
Apabila dilihat pada kontribusi sektor-sektor
terhadap PDRB kabupaten Sleman, nampak sektor yang

Peluang dan Tantangan ......

memiliki kontribusi terbesar adalah sektor perdagangan,


hotel, dan restoran. Oleh karena itu, apabila penyerapan
tenaga kerja pada sektor pertanian tetap dominan hal
ini akan menimbulkan masalah mengingat kontribusi
sektor pertanian terhadap PDRB kabupaten Sleman
tidak dominan. Masalah ini terjadi karena wadah
sebagai tempat berlangsungnya kegiatan produksi di
kabupaten Sleman makin menyusut. Penyusutan lahan
pertanian ini akan berakibat permintaan tenaga kerja di
sektor pertanian juga akan mengalami penurunan.
Tenaga kerja yang tidak dapat diserap oleh sektor
pertanian akan diserap oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Alih penyerapan ini akan berlangsung
lancar apabila kualitas tenaga kerja di sektor pertanian
dan perdagangan, hotel, dan restoran sebanding.
Padahal seperti diketahui kualitas tenaga kerja di sektor
perdagangan, hotel, dan restoran tuntutan kualitas
lebih tinggi daripada di sektor pertanian sehingga
tenaga kerja yang tidak dapat diserap inilah yang akan
menambah jumlah pengangguran terbuka. Penambahan
jumlah pengangguran terbuka di kabupaten Sleman
akan meningkat seiring adanya ketidakmampuan sektor
perdagangan, hotel, dan restoran untuk tumbuh seperti
pada waktu kasus bom Bali yang menurunkan
penerimaan devisa dari sektor pariwisata.
Kekuatan yang dimiliki tenaga kerja di
kabupaten Sleman nampak pada tabel 13, yaitu bekerja
menurut status yang menunjukkan jiwa kewirausahaan
pada berusaha sendiri atau berusaha dengan buruh
tetap maupun tidak tetap yang persentasenya makin
meningkat pada tahun 1999-2001. Hal ini menunjukkan
bahwa kelompok masyarakat tersebut memiliki kekuatan
modal dan manajerial yang memadai. Hal ini menjadi
peluang bagi tenaga kerja tersebut untuk berkembang
tanpa bergantung kepada pihak lain. Kelompok
masyarakat ini sebgaian besar bergerak di sektor
pertanian, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta
sektor industri pengolahan. Kekuatan lain adalah
nampak pada bekerja menurut status pada pekerja/
buruh yang persentasenya makin menurun. Hal ini dapat
diartikan bahwa kelompok masyarakat ini telah
melakukan alih status pekerjaan dari status sebagai
buruh ke status berusaha sendiri atau berusaha dengan
buruh tetap maupun tidak tetap.
Kelemahan yang dimiliki tenaga kerja di
kabupaten Sleman nampak pada tabel 14 berikut ini:

49

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

Tabel 14
Penduduk 10 Tahun ke atas yang Mencari Pekerjaan
Menurut Jenjang Pendidikan yang Ditamatkan, Tahun 2001

Sumber:

BPS, Indikator Kesejahteraan Rakyat dan Standar Indikator Kesra, Kabupaten Sleman, Tahun
2001, hal. 35. Data diolah.

Pada tabel 15 nampak sebagian besar penduduk


10 tahun ke atas yang mencari pekerjaan sebagian besar
memiliki jenjang pendidikan yang ditamatkan adalah
SMU dan SMK ke bawah (63,59%). Dengan demikian,
63% penduduk 10 tahun ke atas yang mencari
pekerjaan memiliki jenjang pendidikan SMU dan SMK
ke bawah. Dengan tingkat pendidikan yang relatif
kurang tersebut dapat dihitung kemana kelompok
masyarakat tersebut akan mencari pekerjaan dan berapa
tingkat pendapatan yang diperoleh. Hal ini
mengakibatkan pencari kerja di kabupaten Sleman
memiliki kualitas yang rendah sehingga alih penyerapan
tenaga kerja tidak akan berlangsung lancar. Tidak
lancarnya alih penyerapan ini disebabkan karena
kualitas tenaga kerja di sektor perdagangan, hotel, dan
restoran memiliki tuntutan kualitas lebih tinggi (tamat
minimum D IV atau S-1) daripada di sektor pertanian
sehingga akan menambah jumlah pengangguran
terbuka. Belum lagi apabila gap antara kualitas yang
dimiliki tenaga kerja penduduk kabupaten Sleman
dengan yang dibutuhkan perusahaan di kabupaten
Sleman semakin lebar sehingga kesenjangan ini
dimanfaatkan oleh tenaga kerja dari penduduk luar
kabupaten Sleman. Hal inilah yang mengakibatkan
masyarakat kabupaten Sleman hanya sebagai

50

penonton yang menonton adegan sinetron yang


berjudul pembangunan kabupaten Sleman.

Laki-Laki
Perempuan
Jenjang Pendidikan
yang Ditamatkan
KEBIJAKAN
KETENAGAKERJAAN
DI KABU-Absolut
Absolut
Relatif
Re

PATEN SLEMAN

1. SLTP ke bawah

252

2,21%

751

Berdasarkan uraian sebelumnya maka


2. SMU
4.128
36,24%
pemerintah
daerah kabupaten Sleman
perlu
melakukan 877
beberapa kebijakan dalam bidang ketenagakerjaan,
3. SMK
4.758
41,77%
378
yaitu:

12,
14,
6,1

D III
126
1,11% saing 1.502
1.4. Menyiapkan
tenaga kerja
yang berdaya
melalui dunia pendidikan

24,

2.602

42,

11.391 (Pusat
100,00%
Jumlah Menurut Mochtar Buchori
Data dan 6.134

100

5. D IV / S 1

2.127

18,67%

Informasi Pendidikan, 2003) ada tiga aspek penting


yang harus dimiliki tenaga kerja Indonesia agar mampu
bersaing dengan tenaga kerja asing, yaitu
pengetahuan, skill, dan karakter. Pengetahuan
dibutuhkan untuk menopang skill yang terus berubah,
dan harus berkarakter agar tahan banting dalam
menghadapi persiangan. Dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini banyak menjejali anak didik dengan
pengetahuan tanpa memberikan waktu kepafa anak
didik untuk menyerap makna dari pengetahuan itu.

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah


Hal ini mengakibatkan pengetahuan menjadi tidak
bermakna (meaningless knowledge) dan tidak dapat
menjadi topangan dari suatu skills yang bersifat
dinamis. Selain itu, banyak pelajaran yang sifatnya
hafalan, sampai matematika pun dihafalkan, sejarah pun
dihafalkan tanpa dipahami, begitu juga agama
dihafalkan tanpa diresapi. Oleh karena itu, Departemen
Pendidikan Nasional segera menarik suatu garis
kebijaksanaan yang akan membuat seluruh institusi
pendidikan mulai memperhatikan cara menanamkan
meaningfull knowledge dan akhirya meaningfull readjust, sehingga dapat melahirkan manusia Indonesia
yang sanggup bersaing dengan tenaga kerja asing.
Untuk mencapai hal tersebut perlu segera dimulai
membangun dasarnya, yaitu pendidikan guru. Lembaga
pendidikan guru saat ini telah diredusir menjadi School
administration atau bahkan class room managers.
Kondisi ini harus segera diubah sehingga dapat
menghasilkan tenaga-tenaga pendidik yang mampu
memberikan meaningfull knowledge.
2. Membangun tenaga kerja bersendikan penduduk
Menurut Pusat Informasi Keluarga Berencana
(2003), untuk mengatasi masalah pengangguran,
mempengaruhi sisi supply dan demand tenaga kerja
adalah pekerjaan yang yang harus dilakukan. Pada sisi
demand, perlu diupayakan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi agar mampu menyerap tenaga kerja. Pada sisi
supply, perlu dihambat laju pertumbuhan angkatan
kerja. Pada elemen laju pertumbuhan angkatan kerja,
terkait di dalamnya soal laju pertumbuhan penduduk.
Maka, pada sisi supply, hal yang perlu dilakukan adalah
mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan penduduk dan laju angkatan
kerja, memang ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat
dipisahkan. Atau ibarat hidup secara simbiose
mutualisme, saling memetik manfaat dalam hal
penduduk dan angkatan kerja, manfaat yang dipetik
bisa positif, bisa pula negatif. Proses keterkaitan itu,
bisa disimak misalnya dari menurunnya pertumbuhan
penduduk. Kondisi ini, yang diyakini para pakar
kependudukan akan menurunkan jumlah penduduk
struktur muda (0-15 tahun), memang bakal
mendongkrak jumlah penduduk struktur umur di
atasnya, meski hanya untuk beberapa saat. Masalahnya
pada penduduk berstruktur muda seperti Indonesia,

Peluang dan Tantangan ......

pertumbuhan penduduk usia kerja (15-64) menjadi lebih


tinggi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan
antara tahun 1990-1995 penduduk usia kerja tumbuh
rata-rata 2,7 persen per tahun, meski trend-nya
kemudian menurun menjadi 2,4 persen per tahun antara
tahun 1995-2000, dan diproyeksikan menurun lagi
menjadi 1,1. persen antara tahun 2015-2020. Angka
tersebut melebihi angka pertumbuhan penduduk itu
sendiri, misalnya pada kurun waktu 1995-2000 ratarata pertumbuhan penduduk hanya mencapai 1,48
persen, sementara penduduk usia kerja tumbuh 2,7
persen.
Data lain memperlihatkan, secara absolut jumlah
angkatan kerja di Indonesia pada 2000 mencapai 95,6
juta orang, meningkat menjadi 100,8 juta pada 2002.
Pada periode yang sama, penduduk yang mencari kerja
juga meningkat dari 5,8 juta (6,1 persen) menjadi 9,1
juta (9,1 persen). Di antara para pencari kerja tersebut,
diperkirakan sekitar 2,1 juta orang adalah pencari kerja
pertama kali. Dengan jumlah penduduknya yang besar
dan kompleks, sudah semes-tinya Indonesia menyadari
perlunya membangun kebijakan kependudukan yang
berpihak pada pembangunan berkelanjutan.
Semestinya pula indikator-indikator yang ada dicermati
dan disikapi dengan kritis untuk mendapatkan jalan
keluar yang tepat dari krisis yang tengah melilit saat
ini. Di samping itu, perlu disadari bahwa investasi yang
substansial dan berkelanjutan dalam upaya
pembangunan manusia merupakan jalan utama
meningkatkan kualitas dan produktivitas sumberdaya
manusia. Kualitas penduduk yang tinggi di antaranya
akan meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia
dengan tenaga kerja asing di era globalisasi. Kondisi
suram itu bisa menjadi nyata kalau melihat
perkembangan sektor industri di Indonesia yang lebih
mengarah ke industri padat modal. Jenis industri ini
memang akan memberikan kontribusi signifikan
terhadap pendapatan nasional, termasuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tetapi,
kemampuan menyerap angkatan kerja sangat terbatas.
Akibatnya, surplus angkatan kerja di sektor pertanian
tidak dapat terserap di sektor industri.
Tambahan pula, kesempatan kerja di sektor
industri adalah untuk ang-katan kerja terdidik.
Keterbatasan penyerapan angkatan kerja di sektor
industri inilah yang menjelaskan mengapa banyak

51

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah


angkatan kerja terdidik tidak terserap di pasar kerja.
Kondisi tersebut secara jelas memberikan indikasi,
bahwa Indonesia masih menyimpan segudang
persoalan tentang penyediaan kesempatan kerja,
walaupun pembangunan ekonomi menunjukkan performance baik. Dengan demikian, menjadi penting
untuk mengintegrasikan aspek kependudukan ke dalam
perencanaan pembangunan nasional, yaitu dengan
memandang bahwa kebijakan ke arah pertumbuhan dan
stabilitas ekonomi memang penting, tetapi kebijakan
pembangunan yang mengarah pada kualitas penduduk
jauh lebih penting.
3. Menciptakan pasar tenaga kerja sesuai kebutuhan
pasar (http://www.detik.com)
Tenaga kerja yang berkualitas merupakan
permasalahan utama dalam menyusun kebijakan yang
menyangkut pengembangan ekonomi wilayah, oleh
karenanya, tingkat kemampuan usaha-usaha kecil dan
menengah di wilayah ekonomi ini (Klaten dan
sekitarnya) perlu ditingkatkan. Hal ini jelas akan
meningkatkan daya saing dan pertumbuhan sektor
UKM. Oleh karena itu, bidang utama ini ditujukan untuk
lebih menekankan bahwa pengembangan ekonomi dan
sumber daya manusia memberikan konstribusi yang
signifikan dalam pembangunan daerah khususnya
dalam menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas melalui peningkatan pendidikan kejuruan
yang bersifat formal dan non formal. Secara garis besar,
program ini dimaksudkan untuk meningkatkan
kerjasama antara majelis pendidikan, lembaga pelatihan
dan sektor swasta supaya bisa menyediakan jasa
pelatihan yang berorientasi pada permintaan dan dapat
memenuhi kebutuhan pelatihan keterampilan yang
diinginkan oleh UKM di wilayah ini. Pengembangan
kapasitas bagi para pelaku utama di bidang pendidikan
menjadi aspek lain dalam rangka pengembangan sumber
daya manusia di wilayah ini. Sumber informasi mengenai
peluang peningkatan kompetensi dan pelatihanpelatihan juga akan dikembangkan. Bidang utama ini
memberikan dukungan bagi lembaga-lembaga pelatihan
untuk mengembangkan best pratices di tempat
pendidikan dan tempat magang yang menyangkut
masalah keterampilan kejuruan, menjalin linkage secara
aktif antara lembaga-lembaga pendidikan dengan dunia
usaha. Best practices ini akan tercermin dalam bentuk

52

Peluang dan Tantangan ......

dukungan dalam rangka membentuk suatu sistem


sertifikasi dan standardisasi daerah dan juga membantu
skema keuangan yang inovatif bagi pendidikan
kejuruan.
4. Mengembangkan kursus ketenagakerjaan
Karena output dunia pendidikan di Indonesia
kurang memperhatikan kualifikasi sebagaimana yang
dituntut dunia kerja, maka perlu memberi bekal kepada
para lulusan agar mereka menjadi siap untuk dipakai.
Bekal yang diberikan kepada mereka adalah materi yang
tidak diajarkan di dunia pendidikan tetapi dibutuhkan
oleh dunia kerja. Materi tersebut berupa kursus
ketenagakerjaan yang diajarkan oleh para praktisipraktisi dari berbagai lintas sektoral perusahaan. Tujuan
pemberian materi ini agar para lulusan memiliki nilai
plus dalam bersaing maupun dalam bekerja di
perusahaan nantinya. Bahkan dapat pula menjadikan
para lulusan memiliki kemampuan untuk menciptakan
pekerjaan.
5. Mengembangkan jaminan sosial tenaga kerja
Menurut Prijono Tjiptoherijanto (2003), jaminan
sosial yang menjadi harapan bagi seluruh pekerja untuk
menunjang hidup para pekerja tersebut, baik pada saat
masih bekerja maupun setelah purna karya, perlu terus
menerus diperhatikan dan disesuaikan dengan kondisi
yang ada. Apabila pemerintah maupun para pengusaha
tidak memperhatikan masalah ini, akan timbul reaksi
keras dari publik dan para pekerja itu sendiri. Akhirakhir ini banyak pekerja menuntut kenaikan biaya
jaminan sosial melalui tindakan demonstrasi dan
pemogokan. Dampaknya akan merugikan kedua belah
pihak. Bagi pengusaha hal itu berarti terjadinya
penurunan produktivitas baik dari segi kualitas maupun
kuantitas hasil produksi, sedangkan bagi para pekerja
bisa berupa penurunan penghasilan karena tidak masuk
kerja, serta lebih parah lagi apabila sampai terjadi
pemutusan hubungan kerja.
Meskipun menjadi harapan bagi semua pekerja
agar jaminan sosial ditingkatkan, namun dengan adanya
kondisi ekonomi yang tidak semakin membaik
belakangan ini, agaknya harapan tersebut hanya tinggal
harapan. Karena justru banyak usaha-usaha yang
belakangan ini terpaksa harus tutup. Bagi usaha yang

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Peluang dan Tantangan ......

masih dapat dijalankan, secara terpaksa pula tidak dapat


memberikan gaji secara penuh. Pemotongan yang
bahkan hampir mencapai separuhnya terpaksa harus
dilakukan.
Besarnya jaminan sosial dengan berbagai
sistem dan aturannya berkaitan erat dengan besarnya
dana yang dapat dihimpun. Pada saat ini jaminan sosial
yang berupa tunjangan pensiun tidak hanya dapat
dinikmati oleh para pegawai negeri sipil dan BUMN
namun juga telah diberikan kepada para pekerja swasta.
Kebanyakkan di antaranya dilakukan melalui
pemotongan gaji para pegawai tersebut semasa aktif
bekerja, dan merupakan tabungan bagi hari tua para
pekerja. Kebijaksanaan ini hanya diberlakukan di
beberapa usaha swasta seperti perbankan. Meskipun
telah dianggap menjadi suatu kemajuan, namun perlu
pula diingat bahwa masih banyak segmen penduduk
lainnya yang seharusnya menerima jaminan sosial,
sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Seperti
misalnya, di beberapa negara maju telah diberikan
tunjangan perumahan (housing subsidy) dan makanan
(food stamp) yaitu berupa rumah penampungan bagi

penduduk yang menganggur. Sesuatu yang masih


merupakan mimpi-mimpi panjang bagi para pekerja
dan kelompok bawah dalam masyarakat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

___________________.Indikator Kesejah
teraan Rakyat dan Standar Indikator
Kesra, Tahun 2001.

BPS Kabupaten Sleman. Kabupaten Sleman


Dalam Angka. Berbagai Tahun.
___________________. Produk Domestik
Regional Bruto Kabupaten Sleman
Tahun
1999 dan 2000.
___________________. Produk Domestik
Regional Bruto per Kecamatan se
Kabupaten Sleman Tahun 1999.
__________________.Indeks Pembangunan
Manusia Kabupaten Sleman Tahun
2001.

SIMPULAN
Agar peluang dapat dimanfaatkan dan
tantangan dapat diatasi maka perlu melakukan beberapa
tindakan sebagai berikut:
1. Menganalisis sektoral dan spasial sebagai
perspektif dalam pengambilan keputusan
(kebijakan) yang berkaitan dengan ketenagakerjaan
di kabupaten Sleman, baik kebijakan yang dilakukan
oleh swasta maupun pemerintah.
2. Membenahi kurikulum pendidikan menengah dan
tinggi agar mampu menyiapkan lulusannya siap
pakai.
3. Membangun tenaga kerja bersendikan penduduk.
4. Menciptakan pasar tenaga kerja sesuai kebutuhan
pasar.
5. Mengembangkan kursus ketenagakerjaan.
6. Mengembangkan jaminan sosial tenaga kerja.

BPS Propinsi DIY. DIY Dalam Angka 1997 dan


2000.
Bernas, 17 Oktober 2003.
Budiono (1992), Seri Sinopsis Pengantar Ilmu
Ekonomi No. 4: Teori Pertumbuhan
Ekonomi. Yogyakarta: BPFE.
Budiono Sri Handoko (1984), Pembangunan Regional, PPE FE UGM dan Deptan RI,
Yogyakarta.
__________________ 1985), Interaksi antara
Desa dan Kota, PPE FE UGM dan
Deptan RI, Yogyakar-ta.

53

Jam STIE YKPN - Mufidhatul Khasanah

Dumairy (1996), Perekonomian Indonesia,


Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jurnal Ekonomi Pembangunan FE UII, Vol. 4,


No. 2, Desember, h. 171.

Gunawan Sumodiningrat (1999), Agenda


Pemantapan Otonomi Daerah: Suatu
Pokok Pikiran. Seminar Nasional
Otonomi Daerah, Yogyakarta: ISEI
Yogyakarta.

Suwarjoko Warpani (1994), Analisis Kota dan


Daerah, Bandung: Penerbit ITB.

http://www.detik.com
Kadariah (1989), Ekonomi Perencanaan, Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Lincolin Arsyad (1999), Ekonomi
Pembangunan, Edisi 4, Yogyakarta:
Bagian Penerbitan STIE YKPN
Yogyakarta.
Mahbub ul Haq (1983), Tirai Kemiskinan:
Tantangan-tantangan Untuk Dunia
Ketiga, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mudrajad Kuncoro (1997), Ekonomi
Pembangunan: Teori, Masalah, dan
Kebijakan, Yogyakarta: UPP AMP
YKPN.
Payaman J. Simanjuntak, (1985), Pengantar
Ekonomi Sumberdaya Manusia,
Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Prijono Tjiptoherijanto (2003), Jaminan Sosial
Tenaga Kerja di Indonesia, Fakultas
Ekonomi Unicversitas Indonesia.
Pusat Data dan Informasi Pendidikan. 2003
Pusat Informasi Keluarga Berencana. 2003.
Rudy Badrudin (1999), Pengembangan
Wilayah Propinsi DIY (Pendekatan
Teoritis),

54

Peluang dan Tantangan ......

Sekretariat Negara Republik Indonesia (1999),


Undang-Undang Otonomi Daerah
1999, Bandung: Penerbit Kuraiko
Pratama.

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani

Analisis Faktor-faktor ......

ABSTRACT
Small businesses in Indonesia have already proved
that
FAKTOR-FAKTOR

ANALISIS
ANALISIS
PENGARUH TINGKAT
TEKANAN PENDAPATAN
KETAATAN
YANG
MEMPENGARUHI
TERHADAP PASAR
JUDGMENT
AUDITOR
PEDAGANG
TRADISIONAL
DI KOTA YOGYAKARTA
1)
Hansiadi Yuli Hartanto
Indra
Wijaya
Kusuma*)2)
Salamatun
Asakdiyah
Tina Sulistyani **)

ABSTRACT
This research was to know income level of traditional market sellers in city of Yogyakarta, analyzing factors that influence toward level of income of
the sellers, and knowing about dominant factor that
influence toward the sellers incomein city of
Yogyakarta. Sample was taken by purposive sampling method of 100 respondents. This research was
conducted in four traditional markets that located at
city of Yogyakarta, that is Demangan, Kranggan,
Sentul, and Prawirotaman market. This research used
multiple regression analysis method. This research
showed that level of income of the traditional sellers
was influenced by some factors including working
capital, working hours, number of workers, and length
of business. Working capital was the most influencing factor toward level of income. Result of test on
regression coefficient individually showed that working capital, number of workers, ,and length of business variables positively and significantly influenced
toward level of income of the sellers. Meanwhile working hours variable did not influenced significantly
toward level of income of the traditional sellers in
city of Yogyakarta. Working capital, working hours,
number of work, and length of business variables can

explained level of income about 69,7% and the rest


of 30,3% was caused by other variables which were
not included in this model.
Keywords: Traditional market sellers, Income of the
sellers, working capital, working hours, number of
workers and length of business.
PENDAHULUAN
Dampak dari proses globalisasi dan liberalisasi
perdagangan dunia telah memacu terjadinya
perubahan-perubahan yang drastis terhadap
lingkungan bisnis. Hubungan antarnegara dan bangsa
tidak lagi mengenal batas-batas teritorial, baik dalam
segi investasi, industri, individu, terlebih lagi informasi.
Selanjutnya semua penghalang terjadinya lalu lintas
perdagangan antarnegara dihilangkan. Dalam situasi
ini maka persaingan bisnis menjadi lepas kendali dan
dikenal dengan istilah hypercompetition (DAveni,
1994). Persaingan lepas kendali ini diindikasikan
dengan munculnya dinamika manuver yang semakin
agresif di pasar dan tidak ada satupun pasar yang
selamanya bebas dari persaingan.
Di Indonesia, salah satu bidang usaha yang
merasakan imbas dari perkembangan ekonomi global

*) Dra. Salamatun Asakdiyah, M.Si. dan **) Tina Sulistiyani, SE., MM., adalah Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas
Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

55

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


tersebut adalah sektor bisnis eceran. Fenomena
hiperkompetisi pada sektor ini mulai terlihat sejak
masuknya pelaku-pelaku bisnis eceran asing pada
tahun 1990-an. Hal ini dimulai dengan kehadiran raksasa
bisnis eceran Sogo, yang selanjutnya disusul
perusahaan eceran internasional lainnya seperti Metro,
Makro, Seibu, Wal-Mart, Price Mart, Mack and Spencer, JC Feny dan Yaohan. Setidak-tidaknya terdapat 20
perusahaan eceran asing yang telah beroperasi di Indonesia. Mereka bersaing ketat dengan 153 perusahaan
eceran nasional yang terdiri dari 84 pasar swalayan
dengan 297 outlet dan 64 departement store dengan
outlet berjumlah 265 buah (Goni, 1996).
Persaingan ketat antara bisnis eceran
internasional dengan bisnis eceran nasional telah
makin memperburuk kondisi pasar-pasar tradisional,
yang selama ini telah menghadapi tekanan berat akibat
pertumbuhan pasar-pasar modern lokal. Hasil studi
Departemen Dalam Negeri pada beberapa kota besar
menunjukkan fakta bahwa kehadiran pasar modern
mempunyai dampak negatif terhadap usaha pasar
tradisional dalam bentuk penurunan omzet penjualan.
Pada jarak 3 km dari pasar modern, omzet pedagang
pasar tradisional mengalami penurunan 25-35%.
Sedangkan pada jarak 2 km dari pasar modern,
penurunan omzet pedagang pasar tradisional bisa
mencapai 45% (Parawangsa, 1994).
Guna merespon ancaman dari bisnis eceran
besar, maka pasar tradisional perlu berbenah diri dengan
menyesuaikan dirinya sesuai dengan tuntutan selera
konsumen. Perkembangan selera konsumen
menginginkan tempat berbelanja yang bersih, nyaman,
dengan harga yang relatif murah, serta mutu barang
yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk tujuan ini
maka diperlukan adanya program peremajaan atau
renovasi pasar tradisional. Kios pasar perlu ditata
dengan jarak yang cukup lega bagi konsumen untuk
bergerak. Fasilitas kebersihan, keamanan, dan tempat
parkir perlu disediakan dengan kondisi yang memadai.
Lingkungan sekitar pasar perlu dibenahi agar menarik
dan terhindar dari kesan kumuh.
Proses marjinalisasi pedagang pasar tradisional
memerlukan kajian serius dari pelbagai pihak. Harus
disadari dengan seksama bahwa pasar tradisional
merupakan lahan usaha pedagang yang sebagian besar
terdiri dari golongan ekonomi lemah. Meskipun belum
ada pencacahan resmi tetapi pedagang berskala kecil

56

Analisis Faktor-faktor ......

ini diduga persentasenya mencapai 90% dari populasi


unit usaha yang bergerak di sektor perdagangan eceran
(Hidayat, 1987). Selain itu, kedudukan pada pedagang
pasar sebagai penggerak ketahanan ekonomi rakyat
merupakan salah satu pilar ketahanan nasional
(Depkop, 1986). Dengan demikian, maka tergusurnya
pedagang pasar tradisional akan dapat menciptakan
situasi kerawanan sosial.
Melalui pemaparan di atas, menjadi jelas bahwa
tergusurnya para pedagang pasar tradisional dari lahan
berdagangnya lebih disebabkan karena kurangnya
kemampuan investasi para pedagang pasar. Hal ini tentu
saja berkaitan erat dengan kondisi tingkat pendapatan
yang diperolehnya. Semakin tinggi tingkat pendapatan
usahanya maka akan semakin besar pula peluangnya
melakukan investasi. Oleh karena itu, pemikiran yang
timbul adalah bagaimana agar para pedagang pasar
tradisional dapat memperoleh pendapatan pada tingkat
yang memungkinkan untuk diinventasikan guna
membeli kios apabila suatu saat pasar di pugar atau
direnovasi.
Berdasarkan kondisi tersebut maka dibutuhkan
adanya kepedulian dan komitmen semua pihak,
utamanya pemerintah, guna menciptakan pelbagai
peluang agar pedagang pasar tradisional lebih mampu
meningkatkan pendapatannya. Dalam hal ini
pemerintah, khususnya pemerintah daerah, diharapkan
memiliki kepekaan dalam merumuskan kebijakan agar
dapat selaras dengan kondisi obyektif ekonomi pasar
tradisional. Dalam rangka memenuhi harapan tersebut
maka dibutuhkan masukan informasi yang relevan
tentang pelbagai faktor yang kondusif terhadap
kemampuan pedagang pasar dalam meningkatkan
pendapatannya. Melalui pemahaman yang
komprehensif terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang pasar
maka diharapkan dapat dijadikan konsideransi akademik
dalam formulasi kebijakan publik menyangkut penataan
pasar dan pusat perbelanjaan.
TINJAUAN PUSTAKA
Arti Penting Pasar Tradisional
Salah satu fungsi penting dari pasar adalah sebagai
fasilitas umum untuk melayani kebutuhan sehari-hari
masyarakat. Meskipun secara fisik suasana berbelanja

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


di pasar tradisional kurang menyenangkan, namun
pasar tradisional mempunyai jangkauan pelayanan yang
luas kepada masyarakat. Berdasarkan survei yang
dilakukan oleh Asosiasi Pengecer dan Pusat Pertokoan
Indonesia (AP31) di Jakarta setiap hari hampir sejuta
orang yang berbelanja ke pasar tradisional. Bahkan
pangsa pasarnya mencapai 50% dari seluruh konsumen
(Sinungan, 1987).
Sebagai pusat perdagangan kota, pasar
merupakan unsur penggerak kegiatan perekonomian
kota dan sebagai unsur utama pembentuk struktur tata
ruang kota. Oleh karena itu, kawasan perdagangan kota
pada umumnya tumbuh dan berkembang dari adanya
pasar, dimana intensitas kegiatannya semakin
meningkat sesuai dengan perkembangan kota dan
kebutuhan masyarakat. Selanjutnya, pasar dapat
berkembang lebih luas lagi sebagai pusat perdagangan
yang melayani seluruh kota atau bahkan kawasan regional. Namun demikian pasar dapat pula berfungsi
hanya sebagai pusat pelayanan lingkungan kota (Ali,
1994).
Dikaitkan dengan perkembangan pertumbuhan
ekonomi yang semakin pesat, pasar telah meningkat
pula fungsinya sebagai stabilitas harga, tempat
pembentukan harga eceran bagi berbagai komoditas,
dan menyediakan peluang untuk memperoleh
pendapatan. Selain penjual eceran, banyak kelompok
masyarakat yang dapat memperoleh pendapatan dari
aktivitas ekonomi pasar baik secara langsung maupun
tidak langsung. Secara langsung pasar memberi
kesempatan pekerjaan dan berusaha kepada mantri
pasar, tukang parkir, pemasok barang, buruh angkut,
penjaga malam, rentenir, pengemis, dan pemulung.
Selain itu, pasar juga memberi kesempatan usaha kepada
penjahit, pandai besi, tukang reparasi, tukang sepatu,
dan tukang cukur (Sinungan, 1987, Chandler, 1985).
Karakteristik Pasar Tradisional
Ditinjau dari perspektif ekonomi, pasar adalah wahana
pertemuan antara penjual dengan pembeli untuk
melakukan transaksi jual beli. Dalam hal ini, pasar dapat
dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yaitu pasar modern, pasar campuran, dan pasar tradisional (Parawangsa,
1994). Masing-masing pasar memiliki karakteristik yang
berbeda baik dari segi bangunan fisik maupun
manajemen operasinya.

Analisis Faktor-faktor ......

Karakteristik fisik dari pasar modern dicirikan


oleh keberadaan bangunan yang menarik,
menggunakan teknologi modern, dan menyediakan
pelbagai fasilitas kenyamanan sebagai salah satu cara
untuk menarik konsumen. Pasar ini dapat berbentuk
pasar swalayan (supermarket) ataupun toko serba ada
(departement store) yang dimiliki oleh pemodal kuat
dan dikelola dengan manajemen profesional,
sedangkan pangsa pasarnya adalah golongan
masyarakat berpendapatan menengah ke atas.
Sementara yang dimaksud pasar campuran
adalah perpaduan antara pasar modern dengan pasar
tradisional. Pada umumnya pasar campuran dibangun
sebagai hasil renovasi pasar tradisional dengan
mengikutsertakan pemodal besar atau kerjasama
dengan pihak swasta. Pasar ini dimaksudkan untuk
melayani kebutuhan seluruh strata masyarakat yang
berbeda. Kondisi fisik pasar campuran secara umum
cukup baik. Meskipun demikian, lingkungan bagian
pasar swalayan cenderung lebih terawat dibandingkan
bagian pasar tradisionalnya.
Sedangkan pasar tradisional merupakan sarana
tempat berlangsungnya transaksi jual beli, dimana
pedagang secara langsung dan kontinyu
memperdagangkan aneka barang dan jasa. Sebagian
besar yang diperdagangkan terdiri dari barang-barang
kebutuhan sehari-hari dan dengan harga yang relatif
murah. Bentuk fisik pasar tradisional biasanya terdiri
dari bangunan los dan kios sederhana, relatif kurang
terawat dan terkesan kumuh. Suasana pasar kurang
menyenangkan, ruang belanja sempit, penerangan
kurang baik, tempat parkir kurang memadai, dan
pelayanan kurang memuaskan (Sinungan, 1987).
Salah satu karakteristik yang menonjol dari
pasar tradisional adalah banyaknya pedagang yang
menjual jenis barang dan jasa yang sama. Selain itu,
penentuan harga dilakukan melalui proses tawar
menawar. Walaupun harga barang relatif murah namun
kualitas dan kebersihan barang kurang diperhatikan.
Kebanyakan pedagang pasar tradisional tidak
mempunyai catatan penjualan. Biaya produksi maupun
ongkos-ongkos lainnya jarang sekali dihitung dengan
seksama. Didalam mengelola usaha dan khususnya
dalam menyediakan persediaan barang dagangan, para
pedagang pasar berjalan sendiri-sendiri. Untuk
memenuhi kebutuhan modal biasanya berhubungan

57

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


dengan sumber perkreditan informal (Sinungan, 1987
dan Alexander, 1987).
Determinan Pendapatan Pedagang Pasar
Salah satu faktor yang sangat penting dalam usaha
perdagangan adalah modal. Di dalam persepsi
pedagang pasar yang dimaksud dengan modal atau
biasanya disebut pawitan (bahasa Jawa) adalah
sejumlah barang dagangan dan bukannya dalam
pengertian uang (Alexander, 1987). Beberapa hasil
penelitian terhadap pedagang sektor informal
menunjukkan terdapatnya kaitan langsung antara
modal dengan tingkat pendapatan pedagang
(Tjiptoroso, 1993; Jafar, 1994; Santayani, 1996). Modal
yang relatif besar akan memungkinkan suatu unit
penjualan menambah variasi komoditas dagangannya.
Dengan cara ini berarti akan makin memungkinkan
diraihnya pendapatan yang lebih besar.
Selain faktor modal, tingkat pendapatan
pedagang juga ditentukan oleh lamanya waktu operasi.
Hasil penelitian Jafar (1994) dan Tjiptoroso (1993)
membuktikan adanya hubungan langsung antara jam
kerja dengan tingkat pendapatan. Setiap penambahan
waktu operasi akan makin membuka peluang bagi
bertambahnya omzet penjualan. Jam kerja pedagang
pasar tradisional sangat bervariasi. Di daerah pedesaan,
khususnya di pulau Jawa pedagang pasar beroperasi
menurut hari pasaran Jawa seperti Kliwon, Pahing, dan
seterusnya (Chandler, 1985 dan Alexander, 1987).
Sedangkan di daerah perkotaan tidak dikenal adanya
hari pasaran dan jam kerja pedagang pasar relatif cukup
panjang antara 12 hingga 15 jam perhari (Widaningroem,
Sunaryo, dan Djasmani, 1992).

Analisis Faktor-faktor ......

Penggunaan tenaga kerja dapat pula


meningkatkan jumlah pendapatan pedagang pasar.
Santayani (1996) dan Syahruddin (1987) membuktikan
bahwa dengan tambahan jumlah tenaga kerja akan
memungkinkan adanya pelayanan yang lebih baik
kepada konsumen, baik dalam arti kualitas maupun
kuantitas layanan. Melalui cara ini maka akan dapat
memikat jumlah pelanggan yang lebih banyak dan lebih
memungkinkan terpeliharanya loyalitas pelanggan.
Pengaruh pengalaman berusaha terhadap
tingkat pendapatan pedagang telah dibuktikan dalam
penelitian Tjiptoroso (1993) maupun dalam studi yang
dilakukan. Sri Edi Swasono et.al (1986). Lamanya
seorang pelaku bisnis menekuni bidang usahanya akan
mempengaruhi kemampuan profesionalnya. Semakin
lama menekuni bidang usaha perdagangan akan makin
meningkatkan pengetahuan tentang selera ataupun
perilaku konsumen. Ketrampilan berdagang makin
bertambah dan semakin banyak pula relasi bisnis
maupun pelanggan yang berhasil dijaring.
HIPOTESIS PENELITIAN
Kesimpulan sementara yang akan dibuktikan
kebenarannya dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Tingkat pendapatan pedagang pasar tradisional
dipengaruhi oleh faktor modal usaha, jam kerja,
jumlah tenaga kerja, dan lama usaha.
2. Masing-masing faktor tersebut memiliki derajat
pengaruh yang berbeda.
3. Salah satu dari faktor-faktor tersebut mempunyai
tingkat pengaruh yang lebih besar dibandingkan
faktor-faktor lainnya.

Gambar 1
Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Pedagang Pasar
Jumlah Tenaga Kerja
Jam Kerja
s

Modal Usaha
Lama Usaha

58

Tingkat Pendapatan

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pedagang pasar
tradisional yang beroperasi di dalam pasar tradisional
yang ada di Kota Yogyakarta. Adapun unit analisisnya
adalah unit usaha (the enterprises) dan bukan
perorangan maupun keluarga.
Responden penelitian ditentukan dengan
metode purposive sampling. Sampel diambil
berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan
terlebih dulu (Cooper dan Emory, 1995; Babbie, 1995).
Penentuan kriteria sampel dimaksudkan agar lebih
tinggi tingkat homogenitasnya. Adapun kriteria
responden adalah sebagai berikut:
a. Pedagang pasar yang beroperasi di dalam pasar
dan bukannya di emperan pasar.
b. Jenis mata dagangangannya ditentukan di dalam
kelompok sebagai berikut : (1) sembilan bahan
pokok; (2) pakaian dan (3) kelontong.
Jumlah responden ditentukan dengan tingkat
presisi melalui error maksimum sebesar 0,20 dengan
tingkat keyakinan 95%, sehingga jumlah sampel dapat
ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Djarwanto
dan Subagyo, 1994) :
1,96

Analisis Faktor-faktor ......

berlokasi di Jalan Parangtristis yang mewakili daerah


Kota Yogyakarta bagian selatan. Keempatnya dipilih
karena dipandang cukup mewakili fenomena pasar
tradisional di Kota Yogyakarta bila dilihat dari variasi
jenis mata dagangan dan skala besarnya pasar.
Sedangkan pasar yang ada di Kota Yogyakarta
berjumlah 13 pasar.
Berdasarkan jumlah 125 kuesioner yang dibagikan
kepada para pedagang pasar tradisional di Kota
Yogyakarta, ternyata responden yang mengembalikan
kuesioner sebanyak 100 pedagang. Dengan demikian,
tingkat pengembaliannya (respon rate-nya) sebesar
80%. Adapun perincian pengembalian kuesioner dapat
disajikan melalui tabel sebagai berikut:
Tabel 1
Perincian Pengembalian Kuesioner
Pasar

Jumlah
(orang)

Persentase

Demangan
Kranggan
Sentul
Prawirotaman
Jumlah

25
25
25
25
100

25%
25%
25%
25%
100%

Sumber: Data Primer.

n =
Metode Pengumpulan Data

E
1,96

n =
0,20
n =

100

Lokasi penelitian dilakukan di empat pasar


tradisional yang berada di Kota Yogyakarta yaitu: (1)
Pasar Demangan berlokasi di Jalan Demangan mewakili
daerah Kota Yogyakarta bagian utara, (2) Pasar
Kranggan berlokasi di Jalan Diponegoro yang mewakili
daerah Kota Yogyakarta bagian barat, (3) Pasar Sentul
berlokasi di Jalan Sultan Agung mewakili daerah Kota
Yogyakarta bagian tengah, dan Pasar Prawirotaman

Data primer untuk penelitian ini dikumpulkan melalui


daftar pertanyaan yang diajukan kepada pedagang
pasar. Data primer digunakan untuk menghitung
variabel penelitian. Data primer yang dikumpulkan
meliputi pendapatan usaha, modal usaha, jam kerja,
jumlah tenaga kerja, dan lama usaha.
Data primer yang telah diperoleh diolah dengan
menggunakan bantuan program SPSS. Sementara itu
data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan
yang digali baik dari buku, jurnal ilmiah, maupun hasilhasil penelitian. Sumber data sekunder lainnya adalah
kantor-kantor instansi pemerintah seperti Kantor
Kelurahan, Kantor Kecamatan, Kantor Departemen
Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah, dan Dinas
Pasar.

59

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


Identifikasi Variabel dan Skala Pengukuran
Untuk menguji hipotesis penelitian variabel yang
digunakan terdiri dari:
a. Variabel Terikat
Variabel terikat dari penelitian ini adalah tingkat
pendapatan, yaitu hasil yang diterima dari jumlah
seluruh penerimaan selama satu hari setelah
dikurangi pengeluaran biaya operasi. Tingkat
pendapatan ini dihitung dalam waktu seminggu atau
mingguan.
b. Variabel Bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya meliputi:
1) Modal Usaha, yaitu jumlah uang yang
digunakan untuk mengusahakan unit usaha dan
dinyatakan dalam rupiah.
2) Jam Kerja, yaitu lamanya waktu yang digunakan
untuk menjalankan usaha. Di mulai sejak
persiapan sampai pasar tutup. Jam kerja
dihitung dalam waktu seminggu.
3) Jumlah Tenaga Kerja, yaitu banyaknya tenaga
kerja yang digunakan untuk mengoperasikan
usaha. Dalam hal ini tidak dibedakan antara
pekerja upahan dengan pekerja keluarga.
4) Lama Usaha, yaitu lamanya berkarya pada usaha
perdagangan pasar yang sedang dijalani saat
ini.
Metode Analisis
Untuk melakukan pembuktian hipotesis, penelitian ini
menggunakan metode analisis statistik. Analisis
statistik digunakan untuk membuktikan adanya
pengaruh dari modal, jam kerja, jumlah tenaga kerja,
dan lama usaha terhadap pendapatan. Pengujian
dilakukan dengan menggunakan model regresi
berganda dengan metode kuadrat terkecil biasa yang
dapat dirumuskan sebagai berikut :
Y = b0 + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4 X4 + ei
Dimana :
Y
= Tingkat Pendapatan
X1
= Jumlah Modal Usaha
X2
= Jam Kerja
X3
= Jumlah Tenaga Kerja

60

Analisis Faktor-faktor ......

X4
= Lama Usaha
ei
= Kesalahan Pengganggu
b0
= Intersep
b1, b2, b3, b4 = Koefisien Regresi X1, X2, X3, X4
Untuk menguji hipotesis yang dikemukakan,
maka digunakan uji t dan uji F. Uji t dimaksudkan untuk
mengetahui variabel bebas yang berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel tidak bebas (terikat) secara
individual. Sedangkan uji F digunakan untuk
mengetahui apakah secara bersama-sama variabelvariabel bebas tersebut dapat menjelaskan variabel
terikat.
Model regresi berganda dapat digunakan
apabila tidak terjadi penyimpangan asumsi-asumsi
klasik. Guna mengetahui ada tidaknya penyimpangan
atau pelanggaran asumsi klasik, model regresi berganda
ini akan diuji dengan tiga asumsi klasik, yaitu: uji
multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji
autokorelasi (Gujarati, 1995; Sumodiningrat, 1995).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Variabel Analisis
Untuk menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang pasar
tradisional di Kota Yogyakarta digunakan variabel
analisis yang terdiri dari variabel terikat dan variabel
bebas. Dalam penelitian ini tingkat pendapatan
digunakan sebagai variabel terikat, sedangkan jumlah
modal usaha, jumlah jam kerja, jumlah tenaga kerja, dan
lama usaha digunakan sebagai variabel bebas.
Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat
pendapatan pedagang pasar dapat dicari dengan cara
menghitung rata-rata tingkat pendapatan dari ketiga
kelompok pedagang pasar di Kota Yogyakarta yang
meliputi: Pasar Demangan, Pasar Kranggan, Pasar
Sentul, dan Pasar Prawirotaman. Demikian pula untuk
mengetahui seberapa jauh jumlah modal usaha yang
digunakan, jam kerja yang dijalankan, jumlah tenaga
kerja yang digunakan, serta lama usaha yang telah
ditekuni pedagang pasar. Hal ini dapat dicari dengan
cara menghitung rata-rata dari masing-masing variabel.
Adapun hasil perhitungan masing-masing
variabel analisis dapat dijelaskan sebagai berikut:

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


1. Tingkat Pendapatan Pedagang Pasar
Berdasarkan data yang dikumpulkan sebanyak 100
responden, maka hasil perhitungan dari tingkat
pendapatan rata-rata dari pedagang pasar di Pasar
Demangan, Pasar Kranggan, Pasar Sentul, dan
Pasar Prawirotaman rata-rata sebesar Rp. 479.000,00
perminggu. Hal ini berarti bahwa rata-rata tingkat
pendapatan pedagang pasar di Kota Yogyakarta
memperoleh pendapatan bersih rata-rata sebesar
Rp. 68.428,57 per-hari.
2. Modal Usaha
Modal usaha yang digunakan pedagang pasar
merupakan jumlah uang yang digunakan untuk
mengusahakan unit usaha. Jumlah modal usaha
yang digunakan dapat dicari dari rata-rata jumlah
modal usaha yang digunakan pedagang pasar di
Pasar Demangan, Pasar Kranggan, Pasar Sentul,
dan Pasar Prawirotaman. Hasil perhitungan ratarata jumlah modal usaha yang digunakan pedagang
pasar di Kota Yogyakarta sebesar Rp. 3.583.000,00.
Hal ini berarti bahwa rata-rata jumlah uang yang
digunakan untuk mengusahakan unit usaha di Kota
Yogyakarta rata-rata sebesar Rp. 3.583.000,00.
3. Jam Kerja
Jam kerja merupakan lama waktu yang digunakan
untuk menjalankan usaha, yang dimulai sejak
persiapan sampai pasar tutup. Hasil perhitungan
dari rata-rata jam kerja yang dijalankan oleh
pedagang pasar di Kota Yogyakarta selama 46 jam
per-minggu. Hal ini berarti bahwa rata-rata jam kerja
pedagang pasar di Kota Yogyakarta selama 6,5 jam
per-hari.
4. Jumlah Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja merupakan banyaknya tenaga
kerja yang dipekerjakan untuk mengoperasikan
usaha. Dalam hal ini tidak dibedakan antara pekerja

Analisis Faktor-faktor ......

upahan dengan pekerja keluarga. Hasil perhitungan


rata-rata jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan
oleh pedagang pasar di Kota Yogyakarta berjumlah
2 orang. Hal ini berarti banyaknya tenaga kerja yang
digunakan untuk mengoperasikan usaha pedagang
pasar di Kota Yogyakarta rata-rata berjumlah 2 orang.
5. Lama Usaha
Lama usaha merupakan lamanya pedagang pasar
berkarya pada usaha perdagangan pasar yang
sedang dijalani saat ini. Hasil perhitungan dari ratarata lama usaha yang ditekuni pedagang pasar di
Kota Yogyakarta selama 6 tahun. Hal ini berarti
bahwa pedagang pasar di Kota Yogyakarta ratarata telah mempunyai pengalaman usaha dengan
berkarya pada perdagangan pasar selama 6 tahun.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat
Pendapatan Pedagang Pasar
Untuk menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang pasar di
Kota Yogyakarta digunakan variabel modal usaha (x1),
variabel jam kerja (x2),variabel jumlah tenaga kerja (x3),
dan variabel lama usaha (x4) sebagai variabel-variabel
bebas. Sedangkan tingkat pendapatan pedagang pasar
sebagai variabel terikat (y).
Dalam penelitian ini, responden yang diambil
sebagai sampel berjumlah 100 orang pedagang pasar
di Kota Yogyakarta yang meliputi Pasar Demangan,
Pasar Kranggan, Pasar Sentul, dan Pasar Prawirotaman.
Sedangkan alat analisis yang digunakan adalah
Analisis Regresi Berganda. Berdasarkan data yang
dikumpulkan dan hasil perhitungan dengan komputer,
maka dapat disajikan hasil analisis regresi sebagai
berikut:

61

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani

Analisis Faktor-faktor ......

Tabel 2
Hasil Analisis Regresi Berganda
Variabel

Koefisien

Nilai T

Probabilitas

Konstanta

-112.531,4

-1,146

0,255

Modal Usaha (x1)

0,084

7,96

0,00

Jam Kerja (x2)

1.009,57

0,51

0,609

Jumlah Tenaga Kerja (x3)

79.302,76

3,35

0,001

Lama Usaha (x4)

13.017,40

2,37

0,020

R = 0,835; R2 = 67,7%; F = 54,645; Sig. F = 0,000


Sumber: Data Primer, diolah.
Berdasarkan tabel yang telah disajikan, maka
dapat dijelaskan bahwa hasil pengujian koefisien
regresi secara individual dengan uji t menunjukkan
bahwa variabel modal usaha (x1), variabel jumlah tenaga
kerja (x3) dan variabel lama usaha (x4) secara signifikan
mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang pasar di
Kota Yogyakarta (P < 0,05). Sedangkan variabel jam
kerja (x2) tidak signifikan mempengaruhi tingkat
pendapatan pedagang pasar di Kota Yogyakarta (P >
0,05).
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut di atas,
maka dapat dijelaskan bahwa di antara beberapa variabel
yang mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang
pasar tradisional di Kota Yogyakarta, maka variabel
modal usaha merupakan variabel yang mempunyai
pengaruh paling besar terhadap variabel tingkat
pendapatan pedagang pasar.
Hasil pengujian koefisien regresi secara
serempak dengan uji F menunjukkan nilai F hitung
sebesar 54,645. Sedangkan dengan a = 5% nilai F tabel
sebesar 2,46. Nilai F hitung lebih besar dari F tabel.
Hasil ini menunjukkan bahwa variabel-variabel besar
secara serempak atau bersama-sama mempengaruhi
variabel terikat. Hal ini berarti variabel modal usaha,
variabel jam kerja, variabel jumlah tenaga kerja, dan
variabel lama usaha secara bersama-sama mampu
menjelaskan variabel tingkat pendapatan pedagang
pasar.
Nilai R2 sebesar 0,697 menunjukkan bahwa
variabel modal usaha, variabel jam kerja, variabel
jumlah tenaga kerja, dan variabel lama usaha dapat

62

menjelaskan variabel tingkat pendapatan pedagang


pasar sebesar 69,7%, sedangkan sisanya yang sebesar
30, 3 % disebabkan oleh variabel-variabel lain yang
tidak dimasukkan dalam model penelitian.
Berdasarkan hasil pengujian ini, dapat diketahui
bahwa variabel modal usaha mempunyai pengaruh
signifikan terhadap tingkat pendapatan pedagang pasar
di Kota Yogyakarta. Hasil ini sesuai dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu
(Tjiptoroso, 1993; dan Jafar, 1994; Santayani, 1996). Hal
ini berarti modal usaha merupakan salah satu faktor
penting untuk meningkatkan pendapatan pedagang
pasar. Dengan modal yang relatif lebih besar, maka akan
memungkinkan pedagang pasar untuk menambah
variasi komoditas dagangannya, sehingga
memungkinkan para pedagang memperoleh pendapatan
yang lebih besar.
Variabel jam kerja tidak signifikan mempengaruhi
tingkat pendapatan pedagang pasar. Hal ini berarti
lamanya waktu operasi pedagang pasar tidak
mempengaruhi besarnya tingkat pendapatan pedagang
pasar yang diperoleh. Hal ini disebabkan para pembeli
yang berbelanja di pasar hanya dalam jam tertentu saja,
sehingga bertambahnya waktu operasi pedagang tidak
meningkatkan pendapatan pedagang pasar.
Variabel lama usaha secara signifikan
mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang pasar.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Sri Edi Swasono et. al (1986). Hal ini
menunjukkan bahwa semakin lama pedagang pasar
menekuni bidang usahanya, semakin banyak

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


pengalaman dalam berdagang. Oleh karena itu, semakin
banyak pengalaman dalam berdagang semakin besar
tingkat pendapatan yang diperoleh.
Variabel jumlah tenaga kerja secara signifikan
mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang pasar.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Santayani (1996). Hal ini menunjukkan
bahwa tambahan jumlah tenaga kerja memungkinkan
pemberian pelayanan yang lebih baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Dengan kualitas pelayanan yang
meningkat akan memuaskan pelanggan. Tercapainya
kepuasan pelanggan akan meningkatkan pendapatan
pedagang pasar.
Uji Asumsi Klasik
Model regresi berganda dapat digunakan apabila tidak
terjadi penyimpanan asumsi-asumsi klasik. Guna
mengetahui ada tidaknya penyimpanan atau
pelanggaran terhadap asumsi klasik, maka model
regresi berganda ini diuji dengan tiga asumsi klasik,
yaitu: uji multikolinearitas, uji heteroskedastistas, dan
uji autokorelasi.
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas dengan
analisis korelasi Person, maka dapat diketahui bahwa
korelasi antarvariabel bebas x1, x2, x3 dan x4 menghasilkan koefisien korelasi di bawah 0,8. Dengan
demikian, pada model regresi yang digunakan tidak
terjadi masalah multikolinearitas yang serius untuk
semua variabel bebas.
Hasil uji heteroskedastistas dengan analisis
korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa baik
untuk x1, x2, x3 dan x4 menghasilkan probabilitas >0,05.
Hal ini berarti bahwa pada data pengamatan tidak
terdapat heteroskedastisitas. Sedangkan hasil uji
autokorelasi dengan metode Durbin Watson Test Disturbance menghasilkan nilai Durbin Watson hitung
sebesar 1,829. Nilai hitung tersebut merupakan daerah
bebas autokorelasi. Dengan demikian, tidak ada
autokorelasi dalam sampel pengamatan tersebut.
Berdasarkan uji asumsi klasik dapat diketahui
bahwa tidak adanya gejala multikolinearitas,
menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antar variabel
bebas yang digunakan. Selain itu, tidak adanya gejala
heterokedastisitas menunjukkan bahwa varians
gangguan dari suatu observasi ke obsevasi lainnya
tidak berbeda, sedangkan tidak adanya gejala

Analisis Faktor-faktor ......

autokorelasi menunjukkan bahwa gangguan pada suatu


observasi tidak berkorelasi dengan gangguan
observasi yang lain.
SIMPULAN
Tingkat pendapatan yang diperoleh pedagang pasar
tradisional di Kota Yogyakarta rata-rata sebesar
Rp.479.000,00 per-minggu. Sedangkan jumlah modal
usaha yang digunakan rata-rata sebesar Rp.479.000,00
per minggu. Sedangkan jumlah modal yang digunakan
rata-rata sebesar Rp.3.583.000,00. Pedagang pasar
tradisional di kota Yogyakarta beroperasi atau
menjalankan usaha yang dimulai sejak persiapan sampai
pasar tutup rata-rata selama 46,02 jam per-minggu atau
rata-rata selama 6,57 jam per-hari. Hal ini menunjukkan
bahwa rata-rata waktu operasi pedagang pasar
tradisional sudah cukup wajar bila dikaitkan dengan
tingkat pendapatan yang diperoleh.
Sedangkan jumlah tenaga kerja yang digunakan
pedagang pasar rata-rata berjumlah 2 orang. Hal ini
menggambarkan bahwa usaha perdagangan di pasar
tradisional cukup memberi kontribusi terhadap
penyerapan tenaga kerja. Pedagang tradisional di kota
Yogyakarta telah menekuni usahanya rata-rata selama
6 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usaha
perdagangan pasar cukup prospektif sebagai sumber
penghidupan yang memungkinkan pelakunya
memperoleh pendapatan yang layak, sehingga merasa
betah untuk menekuni usahanya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
pendapatan pedagang tradisional di kota Yogyakarta
adalah jumlah modal usaha yang digunakan, jumlah
tenaga kerja, dan lama usaha yang dijalankan. Di antara
ketiga faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan
pedagang pasar, maka modal usaha merupakan faktor
yang paling dominan mempengaruhi tingkat
pendapatan pedagang pasar.

63

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani


DAFTAR PUSTAKA

Alexander, J. (1987), Batas Minimum Kredit


Untuk Pedaganb Kecil Prisma, No. 7 Th.
XVI, h. 49-81.
Ali, T.H. (1994), Keterpaduan Pembangunan
Pasar dengan Penataan Kota di Indonesia, dalam Departemen Koperasi dan
Pembinaan Pengusahaan Kecil, Pola
Pikir Penataan Pasar dan Pedagang Kaki
Lima, Jakarta.
Arjana, IG.B. (199 7 ), Faktor-faktor yang
Menentukan Peningkatan Pendapatam
Rumah Tangga. Disertasi Program Pasca
Sarjana IKIP Jakarta (tidak
dipublikasikan).
Babbie, E. (1995) The Practice of Social Research,
th. 1d. Belmonth : Wadsworth Publishing Company.
Chandler, G. (995), Wanita Pedagang di Pasar
Desa di Jawa, Prisma No. 10 Th. XIV. H.
50-58 .

Analisis Faktor-faktor ......

Goni, R. (1996), Store Layout Strategy,


Usahawan, No. 40, Th. XXV, Oktober, h.
36-39.
Gujarati, D. (1995), Ekonometrika Dasar, a.b.
Sumarno Zain, Jakarta : Erlangga.
Hidayat (1978) Peranan dan Profil serta
Prospek Perdagangan Eceran, Prisma,
No. 4, Desember, h. 415-445.
Muhammad, F. (1994), Pasar Masa Depan dan
Peranan Kopearsi, dalam Departemen
Koperasi dan Pembinaan Pengusaha
Kecil, Pola Pikir Penataan Pasar dan
Pedagang Kaki Lima, Jakarta.
Jafar, M.I. (1991), Implikasi Program Keluarga
Berencana terhadap Partisipasi Wanita
pada Sektor Informal di Kecamatan
Soreang Kotamadya Pare-pare, Tesis
Program Pasca Sarjana Universitas
Hasanuddin Ujung Pandang (tidak
dipublikasikan).
Kedaulatan Rakyat, 18 Agustus 1997.
Kontan, No. 2, Th. 1, 3 Maret 1997.

Cooper, D.R. dan C.W. Emory (1995) Business


Research Methodes, 5 th. Ed. Chicago :
Irwin.
DAveni, R.A. dan R. Gunther (1994),
Hypercompetition : Managing the Dynamics of Strategic Mancuvering, New
York : The Free Press.
Departemen Koperasi, (1996), Pola Pembinaan
dan Pengembangan Usaha Koperasi
Pedagang Pasar, Koperasi Serba Usaha,
dan Koperasi Unit Desa Yang Mengelola
Toko/Waserda, Jakarta.
Djarwanto, dan P. Subagyo (1994), Statistik
Induktif, Yogyakarta : BPFE.

64

Parawangsa, H.M. (1994), Manajemen


Pembangunan
Pasar,
dalam
Departemen Koperasi dan Pembinaan
Pengusaha Kecil, Pola Pikir Penataan
Pasar dan Pedagang Kaki lima, Jakarta.
Prospek, 11 Maret 1997.
Santayani (1996), Peranan Pendidikan dan
Pengalaman Berusaha Pada Sektor Informal ; Studi Kasus PKL Makanan dan
Minuman di Kotamadya Yogyakarta.
Skripsi Fakultas Ekonomi UGM
Yogyakarta (tidak dipublikasikan).

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani

Analisis Faktor-faktor ......

Sinungan, J.A. (1987), Kelemahan dan


Kekuatan Retail Business, Prisma, No.
7. Th. XVI, Juli, h. 19-22.
Sumodiningrat, H. (1995), Ekonometrika
Pengantar, Yogyakarta : Erlangga.
Swasono, S.E., et. Al. (1987), Laporan Penelitian
Studi Kebijakan Pengembangan Sektor
Informal, Jakarta : PPPP dan LSP.
Syahruddin, et. al (1987),Laporan Penelitian
Pengembangan Sektor Informal :
Beberapa Alternatif Kebijaksanaan,
Padang : PSK Universitas Andalas.

65

Jam STIE YKPN - Salamatun dan Tina Sulistyani

66

Analisis Faktor-faktor ......

Jam STIE YKPN - Julianto agung S.

Audit Value For Money ......

ABSTRACT
Small businesses in Indonesia have already proved
that

AUDIT
VALUE TEKANAN
FOR MONEY
ANALISIS
PENGARUH
KETAATAN
MENUJU
AKUNTABILITAS
PUBLIK
TERHADAP JUDGMENT AUDITOR
Julianto Agung
Saputro *)1)
Hansiadi
Yuli Hartanto
Indra Wijaya Kusuma2)

ABSTRACT
Government auditors should consider how they can
best bring about improved quality of reporting so as to
enhance public accountability, which is the obligation
to answer publicly for discharge of responsibilities that
affect the public in important ways. When auditors
understand what type of information the governing
bodies need most for their accountability role, they
will know what needs to be audited. Value for money
audit is an expanding and exciting area for auditor, who
are naturally well placed to provide this service. The
auditor should consider value-for money points in all
work. Auditor should carry out reviews of individual
services to ensure that there are proper arrangenments
for ensuring value for money.
Keyword: audit, value for money, akuntabilitas.
PENDAHULUAN
Pemerintah sebagai penerima wewenang untuk
mengelola dana publik dalam bentuk penyediaan
fasilitas dan layanan, jasa publik, serta pengelolaan
berbagai sumber daya negara harus dapat
mempertanggungjawabkan pengelolaannya kepada
publik. Berbagai aktivitas serta alokasi dan pemakaian

*)

sumber daya tersebut harus dihitung dengan tepat dan


efisien. Jalannya aktivitas penyelenggaraan pemerintah
dan pengelolaan pemakaian sumber daya tidak bisa
lepas dari peran publik yang memberikan dukungan
dana yang salah satunya berbentuk pembayaran pajak.
Jadi, alasan mengapa publik menuntut transparansi
pertanggungjawaban kinerja pemerintah, karena publik
merupakan penyangga utama berjalannya roda
pemerintahan.
Value for money (VFM) bagi penyelenggaraan
pemerintahan merupakan suatu keharusan sebagai
wujud tanggung jawabnya kepada publik yang dapat
mewujudkan akuntabilitas publik. Wujud akuntabilitas
publik dapat terlihat dengan keberpihakan berbagai
rencana dan anggaran pemerintah kepada publik serta
didukung oleh transparansi pelaksanaan rencana dan
anggaran pemerintah. Audit VFM merupakan cara
untuk menilai VFM penyelenggaraan pemerintah.
Sebagaimana diatur dalam Standar Audit
Pemerintahan (SAP) 1995, audit kinerja mencakup audit tentang ekonomi, efisiensi, dan efektifitas. Audit
ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk mengetahui
apakah suatu entitas telah memperoleh, melindungi,
dan menggunakan sumber dayanya secara hemat dan
efisien; menentukan apa penyebab ketidakhematan dan
ketidakefisienan; dan menentukan apakah entitas
tersebut telah mematuhi peraturan perundangundangan yang berlaku.

Julianto Agung Saputro, SE., S.Kom., M.Si., adalah Dosen Tetap STIE YKPN Yogyakarta.

67

Jam STIE YKPN - Julianto Agung S.

Audit Value For Money ......

Sedangkan audit efektifitas digunakan untuk


menentukan tingkat pencapaian hasil program yang
diinginkan atau manfaat yang telah ditetapkan oleh
undang-undang atau badan lain yang berwenang;
untuk menentukan efektifitas kegiatan entitas,
pelaksanaan program, kegiatan, atau fungsi instansi
yang bersangkutan; dan untuk menentukan apakah
entitas yang diaudit telah mematuhi peraturan yang
berkaitan dengan pelaksanaan program atau kegiatan.
Dengan kata lain tujuan audit VFM adalah untuk
meningkatkan akuntabilitas lembaga-lembaga sektor
publik. Tuntutan untuk dilakukannya audit VFM
tersebut mendesak seiring dengan adanya perubahan
tatanan politik, ekonomi, serta sosial (Mardiasmo, 2000).
VFM dicapai ketika suatu badan publik
melakukan tugasnya dengan standar tinggi dan biaya
rendah (Malan, 1984). Dengan kata lain, segala tugas
yang ada dilaksanakan secara ekonomi, efektif, dan
efisien. Ekonomi dan efisiensi berkaitan dengan
penghematan sumber daya. Ekonomi berarti
meminimalkan input, efisiensi berarti mencapai output
maksimum dengan tingkat minimum agar menjadi
efektif.
Jasa publik seharusnya dapat menunjukkan apa
saja yang telah diperoleh dengan uang publik dan
berapa banyak uang yang telah digunakan. Audit VFM
merupakan audit yang tepat untuk diterapkan di
lembaga-lembaga pemerintahan, karena tidak hanya
melihat aspek ketaatan dan keuangan saja, melainkan
sudah mengarah pada hubungan input dan output
suatu aktivitas, serta pencapaian tujuan yang telah
ditentukan. Dengan diterapkannya audit VFM,
tindakan-tindakan yang mengarah pada berbagai
perbuatan yang merugikan publik seperti korupsi,
penyalahgunaan wewenang, penyelenggaraan

Nilai Input (Rp)

Ekonomi
(hemat)

68

Input

Proses

pemerintahan yang tidak ekonomi, tidak efisien dan


tidak efektif, dan tindakan lainnya yang merugikan
kepentingan publik, diharapkan dapat terdeteksi sedini
mungkin, dapat diantisipasi secara cepat dan segera
dapat dilakukan tindakan perbaikan.
Tulisan ini menjelaskan mengenai konsep
value-for-money, memberikan gambaran mengenai nilai
tambah audit VFM sebagai dukungan untuk menuju
akuntabilitas publik dari lembaga sektor publik. Pada
akhir tulisan ini akan dibahas mengenai peran auditor
dalam audit VFM, terutama peranannya dalam
menciptakan akuntabilitas publik.
KONSEP VALUE-FOR-MONEY
VFM merupakan ekspresi pelaksanaan lembaga sektor
publik yang mendasarkan pada tiga elemen dasar, yaitu:
ekonomi, efisiensi dan efektivitas yang merupakan
bagian dari performance auditing (Mardiasmo, 2000).
Ekonomi merupakan perolehan input dengan kualitas
dan kuantitas tertentu pada harga yang termurah.
Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value. Efisiensi menunjukkan tercapainya output
yang maksimum dengan input tertentu. Efisiensi
merupakan perbandingan output/input yang dikaitkan
dengan standar kinerja yang telah ditetapkan.
Sedangkan efektivitas menggambarkan tingkat
pencapaian hasil program dengan target yang
ditetapkan. Secara sederhana, efektivitas merupakan
perbandingan outcome dengan output (target/result).
Ketiga elemen tersebut memberikan rerangka bagi
pelaksanaan audit kinerja pada lembaga pemerintahan.
Ketiga elemen dasar ini sangat terkait satu dengan
lainnya. Keterkaitan ini digambarkan sebagai berikut
(Mardiasmo, 2002):

Output

Efisiensi
(berdaya guna)

Outcome

Efektivitas
(berhasil guna)

Tujuan

Jam STIE YKPN - Julianto agung S.


Ketiga elemen dasar ini dijadikan pedoman
untuk melakukan penilaian kinerja. Untuk dapat
digunakan sebagai penilaian kinerja, maka pengukuran
ketiga elemen ini penting untuk dilakukan. Pengukuran
ekonomi mempertimbangkan masukkan yag digunakan,
pengukuran efisiensi dilakukan dengan membandingkan
antara output dengan input, dan pengukuran efektivitas
melihat keberhasilan organisasi dalam mencapai
tujuannya. Sedangkan outcome merupakan dampak
kegiatan atau program yang akan dirasakan oleh
masyarakat
NILAI TAMBAH AUDIT VALUE FOR MONEY
Konsep VFM penting bagi pemerintah sebagai pemberi
layanan kepada masyarakat, karena implementasi
tersebut akan memberi manfaat bagi efektifitas layanan
publik, meningkatkan mutu layanan publik,
menggunakan sumber daya dan ekonomi secara
ekonomis, efisien dan efektif, meningkatkan kesadaran
atas uang publik dan mengelola serta mengembalikan
kembali dana yang dipercayakan dari publik kepada
publik, dalam bentuk berbagai aktivitas, sarana, sumber
daya dan layanan yang bermutu kepada publik. Audit
VFM memiliki kaitan erat dengan performance auditing. Ekonomi, efisiensi, dan efektivitas memberikan
rerangka bagi pelaksanaan audit VFM pada sektor
publik. Audit VFM mencakup audit tentang ekonomi,
efisiensi, dan efektivitas (Jones, 1996):
1. Audit tentang ekonomi dan efisiensi bertujuan
untuk menentukan apakah:
a. Suatu entitas telah memperoleh, melindungi,
dan menggunakan sumber daya secara hemat
dan efisien.
b. Penyebab ketidakhematan dan ketidakefisienan.
c. Entitas tersebut telah mematuhi peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan
kehematan dan efisiensi.
2. Audit efektivitas mencakup penentuan:
a. Tingkat pencapaian hasil program yang
diinginkan atau manfaat yang telah ditetapkan
oleh undang-undang atau badan lain yang
berwenang.
b. Efektivitas kegiatan entitas, pelaksanaan program, kegiatan, atau fungsi instansi yang
bersangkutan.
c. Apakah entitas tersebut telah mematuhi

Audit Value For Money ......

peraturan perundang-undangan yang berkaitan


dengan pelaksanaan program / kegiatan.
Ada empat tipe audit VFM, yaitu by-product
VFM work, arrangement review, performance review
dan follow up review (jones, 1990). By-product VFM
work merupakan produk sampingan dari penugasan
audit lainnya yang dilakukan untuk alasan lain. Tipe
ini biasanya dilakukan untuk menghitung nilai
penghematan pada manajemen dengan perubahan
yang kecil di dalam praktik pekerjaan tetapi pertimbangan
biaya-manfaatnya besar.
Arrangement review adalah pekerjaan yang
dilakukan untuk memastikan bahwa klien melakukan
perencanaan administratif yang diperlukan sebagai alat
untuk mencapai VFM. Tahap-tahap arrangement review adalah tahap penunjukkan, perencanaan
pemeriksaan, penelaahan tujuan kebijakan dan
manajemen, penelaahan prosedur manajemen, dan
pelaporan.
Performance review membantu untuk menaksir
tujuan VFM yang dicapai oleh klien ketika
dibandingkan dengan kinerja masa lalu, dengan target
yang ditetapkan, atau dengan kinerja organisasi sejenis
lainnya. Tahap-tahap performance review adalah
melakukan performance review, menggali data statistik
kinerja dan pembanding, membandingkan data statistik
kinerja dengan data statistik pembanding, pemilihan
contoh tentang prosedur yang baik dan buruk, dan
pembuatan laporan.
Follow up review dilakukan dengan cara
menaksir sejauh mana klien menindaklanjuti hasil telaah
masa lalu yang direkomendasikan. Prosedur yang
dilakukan adalah membuat perencanaan,
mengumpulkan data yang relevan, menganalisis data
yang diperoleh, menentukan opini, dan selanjutnya
membuat laporan.
Pada audit VFM, auditor menyelidiki dan
melaporkan dari segi ekonomi, efisiensi, dan efektifitas
pemakaian sumber daya dan hubungan dengan
informasi manajemen dan sistem pengendalian. Audit
VFM merupakan faktor utama yang sangat penting dan
tepat bagi sektor publik, karena kinerja yang tidak dapat
dilakukan dengan hanya menggunakan satu dasar
pengukuran saja, seperti misalnya profitabilitas.
Audit VFM berbeda dengan pemeriksaan
laporan keuangan yang biasa dilakukan oleh auditor.

69

Jam STIE YKPN - Julianto Agung S.


Perbedaan-perbedaan yang ada antara lain
(Keenan,1992):
a. Auditor diberi keleluasaan untuk menentukan
tujuan dan luas audit.
b. Auditor harus mengidentifikasi kriteria dan menilai
apakah sudah tepat dengan keadaan sekitarnya,
karena tidak ada suatu kriteria berterima umum yang
jelas, tidak seperti prinsip akuntansi yang berterima
umum.
c. Diperlukan anggota tim audit dari berbagai disiplin
ilmu, karena masalah yang dihadapi berbeda dan
lebih kompleks dibandingkan audit laporan
keuangan.
d. Laporan auditor tidak berbentuk pendek (short
form), tetapi lebih rinci dengan menjelaskan tujuan
dan luas audit, temuan-temuan audit, kesimpulan
dan rekomendasi.
e. Auditor melaporkan secara langsung kinerja
organisasi, sebagai ganti bukti untuk pernyataan
manajemen.
Hal penting yang membedakan audit VFM
berbeda dengan audit laporan keuangan adalah dalam
hal perencanaan audit (termasuk penyiapan tujuan dan
cakupan audit dan penilaian ketepatan dengan kriteria
yang telah ditentukan), pengetahuan mengenai entitas
untuk perencanaan audit, dan pemakaian tenaga specialist.
Dalam perencanaan audit, tujuan dan cakupan
audit memberikan kerangka kerja untuk audit dengan
mendefinisikan apa yang akan diperiksa. Ini merupakan
hal yang penting dalam VFM dengan
mempertimbangkan faktor-faktor signifikansi, risiko,
kemampuan untuk diaudit, kebutuhan sumber daya dan
waktu. Signifikansi dan risiko dalam audit VFM lebih
sulit, karena subyek pada umumnya dinyatakan secara
kualitatif daripada kuantitatif, dalam beberapa kasus
dapat dinilai secara kuantitatif tetapi tidak dalam satuan
uang.
Pengetahuan mengenai entitas (entitas yang
dimaksud disini adalah lembaga atau departemen atau
fungsi yang ada dalam pemerintahan) merupakan hal
penting yang harus dipahami dalam perencanaan VFM.
Auditor perlu memahami hal ini karena digunakan
sebagai dasar untuk membangun dan menilai tujuan
dan cakupan audit serat untuk mengidentifikasi dan
menentukan kriteria yang tepat untuk entitas yang akan

70

Audit Value For Money ......

diperiksa. Sifat dari entitas akan berpengaruh pada


hubungan akuntabilitas. Hubungan akuntabilitas pada
sektor publik sangat kompleks karena adanya lembaga
konstitusional, politik, hukum, dan komponen administratif lainnya. Adanya hubungan akuntabilitas yang
kompleks ini dapat menyebabkan adanya konflik
kepentingan yang berakibat pada ketidakmampuan
lembaga pemerintah untuk mencapai VFM. Lingkungan
eksternal seperti ekonomi, keuangan, teknologi, politik,
dan pengaruh sosial, juga menciptakan kebutuhan
untuk memperkenalkan program baru dan berbagai
risiko yang muncul. Sebagai contoh perubahan
teknologi dapat menyebabkan pemanfaatan tenaga
kerja menjadi tetap atau bahkan berkurang. Atau kondisi
ekonomi yang buruk akan meningkatkan risiko
kerugian pemerintah atau meningkatnya utang, seperti
yang sedang dialami Indonesia saat ini. Berbagai aspek
inilah yang seharus masuk dalam audit VFM, sehingga
dalam melakukan penilaian tidak terjadi bias atau
kesalahan, yang semuanya akan berdampak luas
terhadap akuntabilitas publik.
Keterbatasan kemampuan auditor dalam
menghadapi kompleksitas masalah pada audit VFM
menyebabkan diperlukannya seorang ahli khusus (specialist) yang memiliki pengetahuan dan kompentensi
yang memadahi. Specialist dapat terlibat sejak
perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan disusun
laporan audit. Keterlibatkan spesialist dapat sebagai
penasehat tim audit atau juga dapat sebagai anggota
tetap. Hal penting yang harus diperhatikan dalam
pemakaian specialist adalah pertimbangan konsistensi
dalam pengetahuan entitas dan bukti serta temuan
lainnya. Jika ternyata ditemukan ketidakkonsistenan
kompetensi dan pengetahuan specialist, auditor dapat
mempertimbangkan untuk mencari sumber bukti yang
lain yang dapat memenuhi tujuan audit atau memakai
specialist yang lain. Pemakaian specialist hanya
diperbolehkan sejauh tidak melakukan semua tanggung
jawab auditor, seperti penyiapan laporan audit.
Hal lain yang membedakan audit VFM dengan
audit konvensional adalah dalam laporan audit. Dalam
audit VFM laporan audit tidak hanya menyatakan
kewajaran laporan keuangan dengan standar dan
kriteria yang telah ditetapkan tetapi juga dilengkapi
dengan rekomendasi-rekomendasi perbaikan yang
sebaiknya dilakukan.

Jam STIE YKPN - Julianto agung S.


MENUJUAKUNTABILITAS PUBLIK
Akuntabilitas publik adalah kewajiban untuk menjawab
kepada publik mengenai pelaksanaan tanggung jawab
yang berpengaruh kepada publik. Kewajiban untuk
melakukan tanggung jawab dan kewajiban untuk
melaporkan tanggung jawabnya (McCandless, 1993).
Pelaporan akuntabilitas memberikan informasi untuk
penilaian kinerja dan meyakinkan bahwa agenda
berbagai tanggung jawab kepada publik telah dilakukan
dengan baik.
Pemerintah sebagai penerima pelimpahan
wewenang dan tanggung jawab untuk mengelola dana
publik, harus diikuti dengan transparansi penggunaan
dana sebagai wujud tanggung jawabnya. Dengan
memperhatikan VFM, maka pengelolaan dana publik
harus dilaksanakan secara transparan, yaitu dengan
didukung adanya peraturan yang jelas dan audit secara
periodik. Audit VFM merupakan salah satu cara untuk
menjamin dikelolanya dana publik secara ekonomis,
efisien, efektif, transparan, dapat dipercaya, dan
berorentasi pada kepentingan publik.
Akuntabilitas keuangan pemerintah adalah
kewajiban pemerintah untuk memberikan
pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan
mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang
terkait dengan penerimaan dan penggunaan uang
publik kepada publik. Prinsip akuntabilitas keuangan
pemerintah meliputi (Mardiasmo, 2001A):
1. Adanya suatu sistem akuntansi dan sistem
anggaran yang mendapat menjamin bahwa
keuangan pemerintah dilakukan secara konsisten
sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
2. Pengeluaran pemerintah dilakukan dengan orientasi
pada pencapaian visi, misi, tujuan, sasaran dan
manfaat yang akan dicapai, yaitu manfaat yang baik
dan berkualitas kepada publik.
Peraturan pemerintah juga perlu dikeluarkan
untuk mendukung dan memberikan keleluasaan dalam
memaksimalkan pengelolaan dananya dengan
memperhatikan VFM, serta menggutamakan orientasi
anggaran pada kepentingan publik sesuai dengan
prinsip-prinsip anggaran publik. Transparansi dalam
penyelesaian siklus anggaran diperlukan agar tercipta
akuntabilitas publik dan kepedulian masyarakat pada
proses yang terjadi di pemerintahan. Oleh karena itu,

Audit Value For Money ......

diperlukan perspektif perubahan dalam pemerintahan


pada kerangka hukum dan administrasi bagi
pembiayaan, investasi, dan pengelolaan uang
pemerintah yang berasal dari publik, dengan
didasarkan pada kaidah mekanisme pasar, VFM,
transparansi, dan akuntabilitas (Mardiasmo, 2000).
Akuntabilitas publik merupakan pemberian
informasi dan pengungkapan atas aktivitas dan kinerja
pemerintah kepada pihak-pihak yang berkepentingan
dengan informasi tersebut, terutama publik. Pemerintah
menjadi subyek pemberi informasi sebagai pemenuhan
hak-hak publik, yaitu hak untuk diberi informasi,
didengar inspirasinya dan diberi penjelasan.
Untuk mendukung dilakukannya pengelolaan
dana masyarakat yang mendasarkan pada VFM, maka
perlu didukung dengan pola kinerja VFM yang
mengarah pada kepentingan publik. Wujud nyata dari
VFM yang dilakukan oleh pemerintah adalah
transparansi dalam pengelolaan dana masyarakat dan
audit VFM yang menjadi bukti keperpihakan
pemerintah kepada publik.
PERAN AUDITOR
Peran auditor untuk melakukan pekerjaan VFM
disebabkan karena auditor mempunyai akses untuk
seluruh informasi keuangan, mempunyai akses untuk
seluruh informasi manajemen, independen, dan auditor sebagai seorang profesional yang terlatih (Jones,
1990). Kelemahan utama auditor untuk melakukan
pekerjaan value-for-money bahwa auditor kurang ahli
dalam banyak jasa-jasa yang disediakan.
Peran auditor dalam VFM tidak terbatas hanya
dalam menilai kinerja, tetapi juga meningkatkan keahlian
organisasi di bidang manajemen, personalia, akuntansi,
pemrosesan data, teknologi informasi, riset pasar dan
pemasaran serta memberikan saran pada sikap
pelayanan yang baik kepada publik selama menjalankan
pekerjaannya.
Peran lain yang cukup penting dari auditor
adalah mengenalkan perlunya perubahan mind set
dalam pengelolaan dan pelayanan kepada publik.
Pemerintah tidak lagi sebagai pihak yang berusaha
menghabiskan dana publik dengan berbagai
pembangunan yang tidak tertata tanpa misi dan visi.
Tetapi, pemerintah adalah lembaga yang dapat
memberdayakan sumber daya manusia untuk dapat

71

Jam STIE YKPN - Julianto Agung S.

Audit Value For Money ......

mengelola dana publik dengan pelayanan yang


bermutu dan terarah dengan misi dan visi yang jelas.
Perlu disadarkan bahwa pemerintah dan publik adalah
dua pihak yang saling sinergi untuk mencapai tujuan
kemakmuran dan kesejahteraan. Semboyan yang sering
kita dengar dengan kalimat kalau bisa dipersulit
mengapa dipermudah perlu secara radikal diganti
dengan kalau bisa berkualitas dan mudah mengapa
tidak. Perubahan mind set ini juga perlu diterapkan
auditor untuk mempengaruhi perubahan sikap adalah
dengan merencanakan dan mencari ide-ide baru
manajemen, yaitu dengan memberikan rekomendasi
yang terinci dalam penyusunan dan pelaporan kinerja,
menyediakan nasihat khusus untuk klien yang

memerlukan panduan, serta meningkatkan dedikasi


bentuk struktur manajemen untuk memperbaiki kinerja.
Peran yang paling penting dari auditor adalah
menyajikan laporan hasil audit VFM yang
dipublikasikan kepada publik sebagai dasar penilaian
akuntabilitas kepada publik. Laporan ini dapat
memberikan dampak yang cukup penting atas
hubungan pemerintah dan publik, yaitu landasan
kepercayaan publik. Publik menilai apakah pemerintah
benar-benar dapat memberikan VFM bagi publik atas
dana yang dipercayakan kepada pemerintah.
Hubungan antara auditor dengan pihak-pihak yang
terkait dalam audit VFM ditunjukkan pada gambar di
bawah ini (Mardiasmo, 2002).

Auditor
Fungsi atestasi

Pihak yang
menuntut adanya
akuntabilitas

Fungsi audit

Fungsi akuntabilitas

PENUTUP
VFM bagi sektor publik merupakan suatu keharusan
sebagai bentuk akuntabilitas publik, yang pada
akhirnya akan meningkatkan kepercayaan dan
transparansi penyelenggaraan pemerintahan yang
profesional. Kepercayaan publik terhadap pemerintah
merupakan modal yang sangat berharga, karena publik
tidak akan pernah ragu untuk membantu dan

72

Entitas yang
diaudit

mendukung penyelenggaraan pemerintahan, yaitu


salah satunya dengan membayar pajak secara sadar.
Sejalan dengan tuntutan dilaksanakan
akuntabilitas publik, pelaksanaan berbagai aktivitas
pemerintahan perlu dilakukan berbagai pembenahan
dan pembaharuan. Konsep VFM harus benar-benar
dilakukan dalam mewujudkan pelayanan yang terbaik
bagi publik. Audit VFM merupakan cara untuk memacu
percepatan dilakukannya pemerintahan yang ekonomi,
efisien dan efektif.

Jam STIE YKPN - Julianto agung S.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pemeriksa Keuangan (1995). Standar
Audit Pemerintahan. BPK Jakarta.
Buchman, Thomas A., Philip E. Tetlock, dan
Ronald O. Reed (1996). Accountability and Auditors Judgments about
Contigent Events. Journal of Business
Finance and Accounting. Vol. 23. April:
379-398.
Elliott, Robert K dan Peter D. Jacobson (1997).
Adding Value Auditing. CA
Magazine.Vol. 130, November: 35-37.
Fischer, Michael J., dan John P. McAllister
(1993). Enhancing Auditing Efficiency
With New Technologies. CPA Journal.
Vol. 63. November:58-62.
Jones, P.C. dan J.G. Bates (1990). Public Sector Auditing: Practical Techniques For
An Integrated Approach. Chapman And
Hall. Hongkong.
Jones, Rowan dan Maurice Pendlebury (1996).
Public Sector Accounting. Pitman Publishing. London.
Keenan, Joy (1992). Adding Value to VFM Audits. CA Magazine. Vol. 125. November:
53-55.
Kirk, Donald J., dan Arthur Siegel (1996).
How Directors and Auditors Can Improve Corporate Governance. Journal
of Accountancy. Vol. 181., Januari: 5357.
Mackenzie, Craig (1998). Ethical Auditing
and Ethical Knowledge. Journal of Business Ethics. Vol. 17. Oktober: 13951402.

Audit Value For Money ......

Malan, Roland, M., James R. Fountain, Jr.,


Donald S. Arrowsmith, dan Robert L.
Lockridge II (1984). Performance Auditing In Local Goverment. Government
Finance Officers Association. Chicago.
Mardiasmo (2000). Value For Money Audit
Dalam Pemeriksaan Keuangan Daerah
Sebagai
Upaya
Memperkuat
Akuntabilitas Publik. Makalah Seminar
Strategi Pemeriksaan Keuangan Daerah
yang Ekonomis, Efisien, dan Efektif
dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi
Daerah. Diselenggarakan oleh
BEPEKA RI, April di Yogyakarta.
____________ (2000). Reformasi Kelembagaan
dan Paradigma Baru Perencanaan
Strategik dalam Pengelolaan Keuangan
Daerah. Jurnal Akuntansi dan
Manajemen. STIE YKPN Yogyakarta.
Edisi Februari: 45-57.
____________ (2001A). Reinventing Government:
Menciptakan
Model
Pemerintahan Daerah Masa Depan.
Makalah Seminar Reinventing Government. Diselenggarakan dalam
Rangka Diklat Transforming
Yogyakarta Into World Class Region.
____________ (2001B). Pengawasan,
Pengendalian dan Pemeriksaan
Kinerja Pemerintah Daerah dalam
Pelaksanaan Otonomi Daerah. Artikel
Belum Dipublikasikan.
____________ (2002). Akuntansi Sektor
Publik. Andi Offset.
McCandless, Henry E. (1993). Auditing to
Serve Public Accountability. International Journal of Government Auditing.
Vol. 20, April: 14-16.

73

Jam STIE YKPN - Julianto Agung S.

McCrindell, James dan Paul-Emile Roy (1998).


Public Needs, Public Purse. CA Magazine. Vol 131. Desember: 37-38.
Office of the Auditor General of Canada (2000).
Value-for-Money Audit Manual. OAG/
CESD. Desember.
Zadek, Simon (1998). Balancing Performance,
Ethics, and Accountability. Journal of
Business 17: 1421-1441.

74

Audit Value For Money ......

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto

Pengaruh Kelompok Industri ......

ABSTRACT
Small businesses in Indonesia have already proved

PENGARUH KELOMPOK that


INDUSTRI, BASIS
PERUSAHAAN, DAN TINGKAT RETURN TERHADAP
KUALITAS PENGUNGKAPAN SUKARELA DALAM
LAPORAN TAHUNAN: STUDI EMPIRIS
DI BURSA EFEK JAKARTA
Inge Gunawan *)
Djoko Susanto **)

PENDAHULUAN
Laporan tahunan adalah media utama untuk
mengkomunikasikan informasi keuangan dan informasi
lainnya dari pihak manajemen kepada pihak-pihak di
luar perusahaan. Laporan tersebut menjadi alat utama
manajemen untuk menunjukkan efektivitas kinerja dan
pelaksanaan fungsi pertanggungjawaban dalam
perusahaan. Pengungkapan dalam laporan tahunan
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu, pengungkapan
wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan
sukarela (voluntary disclosure). Pengungkapan wajib
merupakan pengungkapan informasi yang diharuskan
dalam laporan keuangan yang diatur oleh suatu
peraturan pasar modal yang berlaku. Sedangkan
pengungkapan sukarela merupakan pengungkapan
informasi yang tidak diwajibkan atau sukarela, karena
dipandang relevan dengan kebutuhan pemakai laporan
keuangan (Meek, Roberts, dan Gray, 1995).
Keuntungan perusahaan dalam memberikan
pengungkapan sukarela sampai saat ini masih
merupakan isu yang kontroversial. Tidak adanya bukti
empiris mengenai hal itu membuat terjadinya
perdebatan di antara para praktisi berkaitan dengan
pembuatan dan pengembangan pengungkapan
sukarela. The Special Committee on Financial Reporting of the American Institute of Certified Public Ac-

*)

countants (1994) melalui Jenkins Committee


menyatakan bahwa keuntungan utama dari adanya
pengungkapan yang lebih luas adalah semakin
rendahnya cost of equity capital. Keuntungan tersebut
diperoleh karena pengungkapan informasi oleh
perusahaan akan membantu investor dan kreditur dalam
memahami risiko investasi.
Manajemen yang mengungkap informasi secara
sukarela tentunya harus mempertimbangkan faktor
biaya dan manfaat (trade-off antara cost dan benefit).
Manajemen akan mengungkap informasi secara
sukarela apabila manfaat yang diperoleh dari
pengungkapan tersebut lebih besar dari biayanya.
Besarnya biaya dan manfaat pengungkapan informasi
berbeda antara perusahaan satu dan lainnya. Trade-off
antara biaya dan manfaat pengungkapan informasi
secara sukarela dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu,
yang berpengaruh pada perbedaan kualitas
pengungkapan dalam laporan tahunan antara
perusahaan yang satu dan perusahaan yang lain.
Pengaruh karakteristik perusahaan terhadap
kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan
telah dilakukan dalam beberapa penalitian sebelumnya.
Dalam sebagian besar penelitian sebelumnya, kualitas
pengungkapan sukarela diukur dengan cara tanpa
pembobotan yaitu hanya melihat jumlah item
pengungkapan sukarela. Artinya, semakin banyak item

Inge Gunawan, SE., M.Si. dan **) Dr. Djoko Susanto, MSA., Akuntan adalah Dosen Tetap STIE YKPN Yogyakarta.

75

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto


pengungkapan sukarela yang diungkap, semakin luas
pengungkapan sukarela tersebut. Penelitian terhadap
kualitas pengungkapan sukarela di Indonesia yang
diukur dengan cara pembobotan dilakukan dalam
Susanto (1992). Dalam studinya, Susanto melakukan
penelitian terhadap 98 laporan keuangan perusahaan
tahun 1990 untuk melihat pengaruh karakteristik
perusahaan tertentu terhadap kualitas pengungkapan
sukarela. Kualitas pengungkapan sukarela diukur
dengan suatu indeks yang dihitung berdasarkan bobot
dari hasil wawancara kepada berbagai pihak yang terkait
dengan laporan tahunan.
Penelitian yang dilakukan oleh Subiyantoro
(1997) dengan menambahkan variabel industri ke dalam
model penelitian yang diklasigikasikan ke dalam
industri manufaktur dan non-manufaktur. Demikian pula
Suripto (1998) melakukan penelitian sejenis dengan
mengelompokkan perusahaan ke dalam perusahaan
bank dan non-bank. Berbeda dengan kedua penelitian
tersebut, penelitian ini menggunakan variabel industri
yang dikelompokkan ke dalam sektor jasa dan sektor
riil. Perusahaan di sektor jasa diperkirakan
membutuhkan tingkat kepercayaan masyarakat lebih
besar dibanding perusahaan di sektor riil, maka
diasumsikan bahwa perusahaan di sektor jasa akan
memberikan pengungkapan sukarela yang lebih
berkualitas dibandingkan dengan perusahaan di sektor
riil. Penelitian ini juga mengukur kualitas
pengungkapan dengan menggunakan hasil wawancara
terhadap beberapa pejabat BAPEPAM sebagai wakil
badan pembuat regulasi. Penelitian ini menguji kembali
variabel basis perusahaan dan tingkat return serta
mengontrol variabel size perusahaan dan rasio leverage yang ditemukan selalu signifikan dalam penelitian
sebelumnya.
KUALITAS PENGUNGKAPAN DAN
PENGUKURANNYA
Kualitas pengungkapan dalam laporan tahunan
perusahaan dikenal dengan berbagai konsep yaitu
adequacy (Buzby, 1975), comprehensiveness (Barret,
1976 dan Imhoff, 1992), informativeness (Alford et.al.,
1993), dan timelines (Courtis, 1976 dan Whittred, 1980).
Sedangkan Singhvi dan Desai (1971) menggunakan
terminology comprehensiveness, accuracy, dan reliability sebagai karakteristik kualitas pengungkapan.

76

Pengaruh Kelompok Industri......

Pada umumnya penelitian penelitian tersebut


menggunakan indikator kualitas pengungkapan berupa
indeks pengungkapan (disclosure index) yang
menunjukkan rasio antara jumlah butir informasi yang
ditemukan dalam laporan tahunan dengan jumlah butir
informasi yang mungkin tersedia dalam suatu laporan
tahunan. Makin tinggi angka indeks pengungkapan,
makin tinggi pula kualitas pengungkapan.
Salah satu cara untuk mengukur kualitas
pengungkapan yang digunakan dalam penelitianpenelitian sebelumnya adalah berdasarkan daftar item
pengungkapan yang terdapat dalam laporan tahunan.
Pengukuran kualitas pengungkapan tersebut dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu memberi bobot kepada
setiap item dan tanpa memberi bobot kepada item
pengungkapan tersebut. Pengukuran kualitas
pengungkapan tanpa pembobotan telah dilakukan oleh
beberapa peneliti misalnya Cooke (1989, 1992, 1993),
Meek et.al. (1995), Subiyantoro (1997), dan Suripto
(1998). Pengukuran kualitas pengungkapan yang
dilakukan dengan pembobotan, pemberian bobot setiap
item akan didasarkan pada hasil wawancara atau
kuesioner yang ditujukan kepada berbagai pihak yang
berkepentingan dengan laporan tahunan. Cara
pengukuran kualitas pengungkapan dengan
pembobotan tersebut telah dilakukan oleh beberapa
peneliti sebelumnya, misalnya Cerf (1961), Singhvi dan
Desai (1971), Buzby (1975), dan Susanto (1992).
Alasan peneliti untuk melakukan pengukuran
kualitas pengungkapan dengan pembobotan adalah
untuk menilai kualitas (seberapa pentingnya)
pengungkapan sukarela, bukan hanya kuantitas
(luasnya) saja. Susanto (1992) melakukan penelitian
mengenai corporate disclosure dalam laporan tahunan
perusahaan publik yang terdaftar di BEJ, dengan
menggunakan daftar item pengungkapan sukarela yang
diukur dengan pembobotan. Pihak penilai terdiri dari
wakil para analis sekuritas berbagai kelompok investor
institusional (seperti institusi keuangan non-bank, brokerage houses, dan perusahaan asuransi) dan wakil
badan pembuat regulasi (BAPEPAM).
Penelitian ini mendefinisikan pengungkapan
sebagai kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan
tahunan. Pengungkapan wajib diatur dengan adanya
aturan dan pengawasan sehingga tidak terjadi variasi
kualitas pengungkapan wajib. Variasi pengungkapan
sukarela terjadi karena pengungkapan sukarela

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto


tersebut dilakukan melebihi pengungkapan yang
diwajibkan. Pengukuran kualitas pengungkapan
sukarela dilakukan dengan pembobotan. Item
pengungkapan sukarela diperoleh dengan cara
melakukan survey literature (Susanto, 1992; Choi dan
Mueller, 1992; Meek et. al., 1995), kemudian dilanjutkan
dengan membandingkan daftar item pengungkapan
sukarela tersebut dengan daftar item informasi
pengungkapan wajib yang dikeluarkan oleh Pemerintah
melalui Keputusan Ketua Bapepam No Kep-38/PM/
1996. Setelah mengeluarkan seluruh item informasi
pengungkapan wajib dari daftar item pengungkapan
sukarela, maka diperoleh daftar item informasi
pengungkapan sukarela yang akan digunakan dalam
penelitian ini. Langkah selanjutnya adalah meminta
anggota BAPEPAM, dalam hal ini para kepala bagian
biro penilaian keuangan perusahaan sektor jasa dan
sektor riil, untuk memberikan bobot (rating) pada daftar
item informasi pengungkapan sukarela yang telah
tersedia. Berdasarkan hasil rating tersebut, dibuat
indeks pengungkapan sukarela untuk data yang
tersedia.
KUALITAS PENGUNGKAPAN
DAN KARAKTERISTIK PERUSAHAAN
Cerf (1961) menguji secara empiris beberapa faktor yang
kemungkinan mempengaruhi kualitas pengungkapan
perusahaan dalam laporan tahunan. Pengukuran
kualitas pengungkapan dilakukan dengan
mengembangkan indeks pengungkapan yang mungkin
ada dalam laporan tahunan berdasarkan studi terhadap
proses keputusan investasi, telaah literature,
wawancara dengan para analis sekuritas, dan
pengujian terhadap laporan analis. Daftar
pengungkapan terdiri dari 31 item yang kemudian
diterapkan pada sejumlah sampel laporan tahunan.
Indeks skor pengungkapan tersebut kemudian
dihubungkan dengan tiga karakteristik perusahaan,
yaitu besarnya aktiva, jumlah pemegang saham, dan
status pendaftaran. Cerf menemukan bahwa besarnya
aktiva, jumlah pemegang saham, dan status pendaftaran
(listing status) berkaitan secara positif dengan skor
indeks pengungkapan.
Singhvi dan Desai (1971) meneliti variabelvariabel yang memiliki pengaruh terhadap kualitas
pengungkapan menunjukkan bahwa besar perusahaan,

Pengaruh Kelompok Industri ......

jumlah pemegang saham, tingkat return, margin laba,


status pendaftaran, dan kantor akuntan publik yang
mengaudit, berhubungan secara signifikan dengan
kualitas pengungkapan. Oleh karena hasil penelitian
sebelumnya tidak konsisten, maka Buzby (1975)
melakukan penelitian yang sama dengan menguji
pengaruh dua karakteristik perusahaan yaitu size dan
status pendaftaran terhadap luas pengungkapan dalam
laporan keuangan. Hasilnya menunjukkan bahwa
kualitas pengungkapan tidak dipengaruhi oleh status
pendaftaran tetapi berkaitan secara positif dengan size
perusahaan.
Chow dan Wong-Boren (1987) meneliti praktik
pengungkapan sukarela perusahaan Meksiko dan
menghubungkan luas pengungkapan tersebut dengan
variabel size perusahaan, rasio leverage dan proporsi
aktiva. Hasil pengujian yang diperoleh adalah size
perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap luas
pengungkapan sukarela sedangkan rasio leverage dan
proporsi aktiva tidak berpengaruh secara signifikan.
Cooke (1989) menguji pengaruh status pendaftaran
terhadap kualitas pengungkapan dan sekaligus melihat
hubungan antara kualitas pengungkapan tersebut
dengan sejumlah karakteristik perusahaan. Hasil
penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kualitas
pengungkapan antar perusahaan dan terdapat
hubungan yang signifikan antara kualitas
pengungkapan dengan status pendaftaran. Hasil
lainnya menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara size perusahaan dengan kualitas
pengungkapan.
Cooke (1992) meneliti pengaruh size, status
pendaftaran, dan jenis industri terhadap kualitas
pengungkapan dalam laporan tahunan di perusahaan
Jepang yang terdaftar di bursa. Hasil analisis
menunjukkan bahwa size perusahaan dan status
pendaftaran merupakan variabel penting yang
menjelaskan kualitas pengungkapan dalam laporan
tahunan. Sedangkan untuk jenis industri, ditemukan
bahwa perusahaan manufaktur berpengaruh secara
signifikan terhadap kualitas pengungkapan
dibandingkan jenis industri lainnya. Bradbury (1992)
meneliti hubungan antara pengungkapan sukarela pada
perusahaan di Selandia Baru dengan earning volatility, unexpected earnings dan firm size. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa pengungkapan sukarela
berkaitan secara signifikan dengan earning volatility.

77

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto


McKinnon dan Dalimunthe (1993) melakukan
penelitian untuk menguji insentif ekonomik yang
memotivasi perusahaan yang terdiversifikasi untuk
mengungkapkan informasi segmen secara sukarela.
Hasil yang didasarkan pada sampel yang terdiri dari 65
perusahaan terdiversifikasi yang terdaftar di bursa
Australia menunjukkan bahwa terdapat insentif
ekonomik (difusi pemilikan, tingkat pemilikan minoritas
dalam perusahaan anak, size perusahaan, dan kelompok
industri) yang berpengaruh terhadap informasi segmen
secara sukarela.
Mitchell, Chia, dan Loh (1995) meneliti insentif
perusahaan-perusahaan di Australia untuk melaporkan
informasi segmen secara sukarela. Hasil analisis
membuktikan bahwa pengungkapan informasi segmen
secara sukarela berhubungan signifikan dengan size,
leverage dan keterlibatan dalam aktivitas pertambangan
dan minyak. Meek et.al. (1995) meneliti faktor-faktor
yang mempengaruhi pengungkapan sukarela dalam tiga
tipe informasi (strategik, non keuangan dan keuangan)
dalam laporan tahunan perusahaan multinasional US,
UK dan Daratan Eropa. Hasil yang diperoleh
menjelaskan bahwa secara keseluruhan faktor-faktor
yang mempengaruhi kualitas pengungkapan sukarela
adalah size perusahaan, negara asal perusahaan, status pendaftaran dan tipe industri.
Penelitian mengenai hubungan antara
karakteristik perusahaan dengan pengungkapan, baik
wajib maupun sukarela, dalam laporan tahunan
perusahaan telah cukup banyak dilakukan di Indonesia. Susanto (1992) melakukan penelitian untuk menguji
pengaruh basis perusahaan, waktu pendaftaran (listing) dan tingkat pembatasan pemilikan saham kepada
investor asing terhadap kualitas pengungkapan dalam
laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di Bursa
Efek Jakarta (BEJ). Penelitian tersebut menggunakan
daftar item pengungkapan dengan pembobotan yang
terbatas pada pengungkapan sukarela. Hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa kualitas pengungkapan
sukarela dipengaruhi oleh basis perusahaan (lebih
besar untuk perusahaan berbasis asing) dan waktu
pendaftaran (lebih besar untuk perusahaan yang
mendaftarkan sahamnya sebelum PAKTO 1987). Akan
tetapi kualitas pengungkapan sukarela tidak berkaitan
dengan tingkat pembatasan pemilikan saham kepada
investor asing.

78

Pengaruh Kelompok Industri......

Subiyantoro (1997) melakukan penelitian yang


sama dengan yang dilakukan oleh Wallace et.al. (1994)
untuk kasus di Indonesia. Penelitian dilakukan untuk
perusahaan publik non keuangan di BEJ, menggunakan
daftar item pengungkapan tanpa pembobotan. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa hanya ada tiga
karakteristik perusahaan yang berpengaruh secara
signifikan terhadap tingkat kelengkapan pengungkapan
wajib laporan tahunan, yaitu total aktiva, rasio leverage dan rasio likuiditas. Suripto (1998) meneliti
pengaruh karakteristik perusahaan terhadap luas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan.
Karakteristik atau variabel yang diteliti meliputi size,
rasio ungkitan, rasio likuiditas, basis, waktu terdaftar,
penerbitan sekuritas, dan kelompok industri. Penelitian
ini dilakukan terhadap 68 sampel laporan tahunan
perusahaan-peruasahaan yang ada di BEJ pada tahun
1996. Hasilnya menunjukkan bahwa luas pengungkapan
sukarela masih rendah, namun variasinya bersifat
sistematik.
Hutami (1999) dalam penelitiannya menunjukkan
bahwa total aktiva, margin laba, laba per lembar saham
dan basis perusahaan berpengaruh secara signifikan
terhadap luas pengungkapan wajib dalam laporan
tahunan. Sedangkan margin laba, tingkat return ekuitas
dan likuiditas berpengaruh secara signifikan terhadap
luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan.
Naim dan Rakhman (2000) menguji hubungan antara
kelengkapan pengungkapan laporan keuangan, struktur
modal perusahaan dan tipe pemilikan saham. Hasil
menunjukkan bahwa rasio leverage secara signifikan
berkaitan positif dengan kelengkapan pengungkapan
laporan keuangan perusahaan. Sedangkan tipe
pemilikan saham secara lemah berkaitan dengan
kelengkapan pengungkapan laporan keuangan.
Marwata (2001) meneliti hubungan antara
karakteristik perusahaan dan kualitas pengungkapan
sukarela dalam laporan tahunan perusahaan publik di
Indonesia. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
size perusahaan dan penerbitan sekuritas pada tahun
berikutnya berkaitan positif secara statistik signifikan
dengan kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan
tahunan.
Karakteristik perusahaan yang akan diuji dalam
penelitian ini adalah karakteristik yang dalam penelitian
sebelumnya tidak konsisten berpengaruh terhadap

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto


kualitas pengungkapan, yaitu: basis perusahaan dan
tingkat return. Selanjutnya penelitian ini memasukkan
variable industri yang dikelompokkan ke dalam sektor
jasa dan sektor riil. Model penelitian ini juga
memasukkan berbagai variabel yang dalam penelitianpenelitian sebelumnya telah terbukti berpengaruh
signifikan terhadap kualitas pengungkapan, yaitu size
perusahaan dan rasio leverage.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu (1)
membuat dan mengembangkan daftar item informasi
pengungkapan sukarela, (2) melakukan wawancara
terhadap anggota BAPEPAM, untuk memberi bobot
pada daftar item informasi pengungkapan sukarela, dan
(3) mengukur kualitas pengungkapan sukarela sampel
laporan tahunan perusahaan.
Daftar item informasi pengungkapan sukarela
mula-mula dibuat dengan cara telaah literatur (Susanto,
1992; Choi dan Mueller, 1992; dan Meek et.al., 1995).
Dari telaah literature tersebut diperoleh 111 item
pengungkapan sukarela. Selanjutnya mengeluarkan
dari 111 item tersebut, item-item yang merupakan item
informasi pengungkapan wajib di Indonesia
berdasarkan peraturan BAPEPAM tentang laporan
tahunan (Kep-38/PM/1996), yaitu Peraturan BAPEPAM
VIII.G.2. Setelah mengeluarkan seluruh item informasi
pengungkapan wajib, maka akan diperoleh daftar item
informasi pengungkapan sukarela yang terdiri dari 28
item informasi yang diungkapkan oleh manajemen
perusahaan secara sukarela dalam laporan tahunan.
Berdasarkan daftar item pengungkapan
sukarela tersebut, dilakukan wawancara terhadap
anggota BAPEPAM (para kepala bagian biro penilaian
keuangan perusahaan). Pendekatan untuk penentuan
kualitas pengungkapan sukarela dilakukan dengan
memberikan bobot berupa skor satu sampai dengan
lima terhadap setiap item informasi. Sebuah item
informasi diberi skor satu jika informasi tersebut tidak
penting, skor dua jika informasi tersebut kurang
penting/penting hanya untuk kasus tertentu, skor tiga
jika informasi tersebut pada umumnya cukup penting,
skor empat jika informasi tersebut penting, dan skor
lima jika informasi tersebut sangat penting. Hasil
pembobotan yang dilakukan oleh para dewan juri

Pengaruh Kelompok Industri ......

digunakan untuk mengukur kualitas pengungkapan


sukarela sampel laporan tahunan perusahaan.
Populasi penelitian meliputi semua perusahaan
yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
pada tahun 2000. Sampel dipilih dengan metode proportionate stratified sampling untuk menjamin variabelvariabel yang akan diuji dalam penelitian ini terwakili.
Untuk masing-masing kelompok industri kemudian
ditentukan sejumlah sampel secara proporsional dan
dipilih secara random. Berdasarkan metode proportionate stratified sampling tersebut, diperoleh 4
perusahaan sektor jasa berbasis asing, 32 perusahaan
sektor jasa berbasis non asing/domestik, 11 perusahaan
sektor riil berbasis asing, dan 40 perusahaan sektor riil
berbasis non asing/domestik.
VARIABEL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
HIPOTESIS PENELITIAN
Terdapat tiga variable yang akan diuji dalam penenlitian
ini, yaitu: Kelompok Industri, Basis Perusahaan, dan
Tingkat Return. Di samping ketiga variabel tersebut,
model ini juga meliputi variabel size perusahaan dan
rasio leverage sebagai variabel kontrol. Berikut ini
adalah uraian mengenai masing masing variabel
independen tersebut.
Subiyantoro (1997) memasukkan variabel
industri yang dikelompokkan ke dalam perusahaan
manufaktur dan non-manufaktur tetapi hasilnya tidak
signifikan. Suripto (1998) membagi kelompok industri
ke dalam perusahaan bank dan non-bank. Hasil
penelitiannya tidak membuktikan bahwa perusahaan
bank mengungkap lebih banyak informasi dibanding
dengan perusahaan non-bank. Dalam penelitian ini,
variabel tersebut akan diuji kembali tetapi
dikelompokkan ke dalam kelompok perusahaan sektor
jasa dan perusahaan sektor riil. Perusahaan sektor jasa
pada umumnya dituntut lebih besar dalam memberikan
informasi kepada masyarakat. Oleh karena itu,
perusahaan sektor jasa mungkin memberikan
pengungkapan sukarela lebih luas dibandingkan
perusahaan sektor riil.
Terdapat beberapa alasan yang dapat
dikemukakan untuk kemungkinan perusahaan yang
berbasis asing memberikan pengungkapan yang lebih
luas dibandingkan dengan perusahaan domestik

79

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto


(Susanto, 1992). Pertama, perusahaan berbasis asing
mendapatkan pelatihan yang lebih baik, misalnya dalam
bidang akuntansi, dari perusahaan induknya di luar
negeri. Kedua, perusahaan berbasis asing mungkin
mempunyai sistem informasi manajemen yang lebih
efisien untuk memenuhi kebutuhan pengendalian internal dan kebutuhan informasi perusahaan induknya.
Terakhir, kemungkinan juga terdapat permintaan
informasi yang lebih besar kepada perusahaan berbasis
asing dari pelanggan, pemasok, analis dan masyarakat
pada umumnya.
Penelitian sebelumnya menunjukkan ada
hubungan yang positif antara tingkat pengungkapan
dengan tingkat return (Singhvi dan Desai, 1971).
Manajemen cenderung untuk mengungkap informasi
secara detil ketika perusahaannya mengalami tingkat
return tinggi. Sebaliknya, ketika tingkat return rendah,
manajemen akan mencoba untuk menyembunyikan
alasan turunnya tingkat return tersebut dengan
mengungkap sedikit informasi (Susanto, 1992). Dalam
penelitian ini, tingkat return dihitung sebagai rasio dari
laba bersih terhadap total aktiva perusahaan.
Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu,
terbukti bahwa perusahaan yang besar cenderung
mengungkapkan lebih banyak informasi dibanding
perusahaan yang kecil. Terdapat beberapa penjelasan
mengenai pengaruh size terhadap kualitas
pengungkapan. Perusahaan besar mungkin mempunyai
biaya produksi informasi yang lebih rendah atau mereka
mempunyai biaya competitive disadvantage lebih
rendah yang berkaitan dengan pengungkapan mereka.
Perusahaan besar mungkin juga lebih kompleks dan
lebih mempunyai dasar pemilikan yang luas dibanding
perusahaan kecil (Cooke, 1989). Perusahaan besar lebih
mungkin mempunyai beragam produk dan beroperasi
di berbagai wilayah, termasuk luar negeri. Perusahaan
besar lebih mungkin merekrut karyawan dengan
ketrampilan tinggi yang diperlukan untuk menerapkan
sistem pelaporan manajemen yang canggih sehingga
dapat mengungkapkan informasi yang lebih luas. Lebih
banyak pemegang saham perusahaan juga memerlukan
lebih banyak pengungkapan karena tuntutan dari para
pemegang saham dan analis. Semua alasan tersebut
menunjukkan bahwa perusahaan besar mempunyai
insentif untuk memberikan pengungkapan sukarela
lebih luas dibanding yang kecil (Suripto, 1998). Variabel
size perusahaan merupakan variabel yang paling

80

Pengaruh Kelompok Industri......

konsisten berpengaruh signifikan terhadap luas


pengungkapan dalam penelitian-penelitian sebelumnya
(Meek, Roberts dan Gray, 1995).
Leverage keuangan ditunjukkan sebagai
variabel penting dalam pembentukan tingkat
pengungkapan perusahaan (Leftwich et. al., 1981 dan
Malone, 1987). Pemikiran dasar yang mengatakan bahwa
kos keagenan akan lebih tinggi untuk perusahaan yang
memiliki leverage keuangan tinggi dalam struktur
modalnya, menemukan adanya hubungan yang positif
antara luas pengungkapan sukarela dan leverage (Chow
dan Wong-Boren, 1987). Semakin besar leverage
perusahaan, semakin besar kemungkinan transfer
kemakmuran dari kreditur kepada pemegang saham dan
manajer (Meek, Robert dan Gray, 1995). Oleh karena
itu, perusahaan yang mempunyai leverage tinggi
mempunyai kewajiban lebih untuk memenuhi
kebutuhan informasi kreditur jangka panjang (Wallace
et. al. 1994).
Untuk mengetahui kemampuan variabelvariabel yang diteliti secara bersama-sama dalam
menjelaskan perilaku kualitas pengungkapan sukarela,
dalam penelitian ini diajukan sebuah hipotesis yang
dirumuskan dalam bentuk hipotesis alternatif sebagai
berikut:
Kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan
tahunan dipengaruhi secara bersama-sama oleh
kelompok industri, basis perusahaan, tingkat return,
size perusahaan, dan rasio leverage.
Apabila hipotesis tersebut diterima, hal itu
menunjukkan bahwa beberapa variabel independen
(tidak harus semua) yang diteliti dalam penelitian ini
dapat menjelaskan perilaku kualitas pengungkapan
sukarela. Untuk menentukan variabel-variabel
independen yang dapat menjelaskan perilaku variabel
dependen diperlukan pengujian variabel independen
secara individu (Mason dan Lind, 1996).
Adapun rumusan hipothesis alternatif untuk
menguji pengaruh Kelompok Industri, Basis
Perusahaan, dan Tingkat Return terhadap
Pengungkapan Sukarela dalam penelitian ini dinyatakan
sebagai berikut:
H1: Perusahaan sektor jasa memiliki kualitas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan
yang lebih tinggi daripada perusahaan sektor
riil.

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto


H2:

H3:

Pengaruh Kelompok Industri ......

Perusahaan berbasis asing memiliki kualitas


pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan
yang lebih tinggi daripada perusahaan domestik..
Semakin tinggi tingkat return, semakin tinggi
kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan
tahunan.

MODEL PENELITIAN
Model regresi yang digunakan untuk menguji
hubungan antara Pengungkapan Sukarela (variabel
dependen) dengan variabel Kelompok Industri, Basis
Perusahaan, Tingkat Return, Size Perusahaan, dan
Rasio Leverage (variabel independen) di atas
dirumuskan dengan bentuk persamaan sebagai berikut:
INDEKSi = 0 + 1KEL + 2BAS + 1RETURN +
2SIZE + 3LEV + e

Y merupakan variabel dependen, sedangkan X1


sampai dengan X5 merupakan variabel independen dan
variabel kontrol. Untuk tujuan penelitian ini, hubungan
fungsional antara Y dan X dioperasionalisasikan
dengan dua asumsi. Pertama, hubungan antara masingmasing variabel independen dengan variabel dependen
diasumsikan bersifat langsung, yang berarti setiap
independen variabel memiliki pengaruh langsung
terhadap variasi dalam variabel dependen. Kedua,
hubungan statistik bentuk fungsional dapat didekati
dengan fungsi regresi linier. Dengan pendekatan
tersebut, fungsi regresi dimodelkan sedemikian rupa
sehingga tidak ada parameter yang akan muncul
sebagai suatu eksponen atau akan dikalikan atau dibagi
dengan parameter yang lain.
HASIL PENELITIAN

Keterangan:
INDEKS : indeks skor pengungkapan
KEL
: dummy kelompok industri
BAS
: dummy basis asing/domestik
RETURN: tingkat return
SIZE
: size perusahaan
LEV
: rasio leverage
a
: konstanta atau parameter variabel dummy
b
: konstanta atau parameter variabel kontinyu
e
: error
Hubungan fungsional antara variabel dependen
dan variabel-variabel independen serta variabelvariabel kontrol dapat dinyatakan dalam rumus
matematik sebagai berikut:
Y = f (X1, X2, , X5)

Berdasarkan 347 perusahaan yang terdaftar di BEJ pada


tahun 2000 telah dipilih 87 perusahaan sebagai sampel
penelitian. Cara pemilihan 87 buah perusahaan sampel
tersebut adalah sebagai berikut: 1):Perusahaan dalam
populasi dikelompokkan ke dalam empat kelompok,
perusahaan sektor jasa/perusahaan sektor riil dan
perusahaan berbasis asing/perusahaan berbasis
domestik; 2) Dari masing masing kelompok perusahaan
ditentukan jumlah perusahaan yang mewakili kelompok
yang bersangkutan secara proporsional sebagai sampel;
dan 3) Perusahaan perusahaan sampel untuk setiap
kelompok dipilih dengan cara random. Hasil yang
diperoleh dengan menerapkan prosedur pemilihan
sampel tersebut adalah 4 perusahaan sektor jasa
berbasis asing, 32 perusahaan sektor jasa berbasis
domestik, 11 perusahaan sektor riil berbasis asing, dan
40 perusahaan sektor riil berbasis domestik.
Distribusi frekuensi perusahaan sampel menurut
kelompok industri, basis perusahaan, rasio leverage,
dan statistik variabel dependen disajikan secara
berturut turut dalam Tabel 1, 2, dan 3 berikut ini.

Tabel 1
Distribusi Frekuensi Menurut Basis Perusahaan
Basis Perusahaan

Jumlah

Asing
Domestik

15
72

Indeks Pengungkapan
Rerata
0,33
0,30

Min.
0,16
0,12

Mak.
0,73
0,63

81

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto

Pengaruh Kelompok Industri......

Tabel 2
Distribusi Frekuensi Menurut Kelompok Industri
Kelompok Industri

Jumlah

Sektor Jasa
Sektor Riil
Total

36
51
87

Indeks Pengungkapan
Rerata
Min.
Mak.
0,36
0,15
0,73
0,26
0,12
0,5
0,30
0,12
0,73

Tabel 3
Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Return
Kelompok Industri
-0,7550
-0,0900
0,0100
0,0920

s.d -0,1000
s.d 0,0099
s.d 0,0900
s.d 1,0200

INDEKS PENGUNGKAPAN PERUSAHAAN SAMPEL


Daftar item informasi pengungkapan sukarela yang
diperoleh digunakan untuk mengukur kualitas laporan
tahunan perusahaan-perusahaan sampel. Indeks
pengungkapan untuk setiap laporan tahunan
ditentukan dengan cara membagi jumlah item informasi
yang ditemukan dalam laporan tahunan dengan jumlah
semua item informasi yang dapat diterapkan untuk
laporan tahunan yang bersangkutan. Semakin tinggi
indeks pengungkapan sukarela suatu perusahaan,
semakin tinggi kualitas pengungkapan sukarela
perusahaan tersebut. Rerata indeks pengungkapan
perusahaan sampel sebesar 0,30 dengan nilai minimum
0,12 dan nilai maksimum 0,73. Indeks pengungkapan
sukarela untuk setiap sampel perusahaan digunakan
sebagai variabel dependen dalam penelitian ini.
Menarik untuk diperhatikan bahwa dari 28 item
informasi pengungkapan sukarela, terdapat tiga item
informasi yang sama sekali tidak ditemukan pada
laporan tahunan perusahaan sampel, yaitu:
1. Informasi mengenai jumlah kompensasi tahunan
yang dibayarkan kepada dewan komisaris dan
direksi.
2. Informasi mengenai distribusi tenaga kerja secara
geografis dan berdasarkan line-of-business serta
kategori tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin.

82

Jumlah
22
21
22
22

Indeks Pengungkapan
Rerata
Min.
Mak.
-0,25
-0,76
-0,099
-0,027 -0,086 0,0096
0,041
0,01
0,09
0,224
0,092
1,018

3. Informasi mengenai pihak-pihak yang mencoba


memperoleh kepemilikan substansial terhadap
saham perusahaan.
HASIL ANALISIS REGRESI
Sebelum melakukan analisis regresi, tiga asumsi
(multikolinieritas, homoskedastisitas, dan autokorelasi)
yang mendasari model regresi klasik diuji. Metode
korelasi berpasangan antar regresor digunakan untuk
menguji tidak terdapatnya multikolinieritas antar
variabel-variabel independen dalam model regresi
penelitian. Pengujian dilakukan dengan menggunakan
covariance matrix dan collinierity diagnostics. Hasil
yang diperoleh menunjukkan nilai VIF untuk seluruh
variabel adalah sekitar 1, angka TOLERANCE
mendekati 1, dan koefisien korelasi antar variabel
independen lemah (di bawah 0,5) yang menunjukkan
tidak terdapat multikolinieritas dalam model regresi
penelitian ini.
Scatterplot menunjukkan adanya titik-titik yang
menyebar di atas dan di bawah sumbu Y. Plot ini
menunjukkan bahwa model regresi penelitian ini bebas
dari heteroskedastisitas atau terpenuhinya asumsi
homoskedastisitas. Untuk menguji autokorelasi dalam
model regresi penelitian ini, digunakan metode DurbinWatson d test. Hasil pengujian menggunakan SPSS for

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto

Pengaruh Kelompok Industri ......

Windows (SPSS 10.00 for Windows) diperoleh angka


Durbin-Watson sebesar 1,908. Oleh karena angka DW berada di antara 2 sampai +2 maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa model regresi penelitian ini bebas

dari autokorelasi. Hipotesis yang dikembangkan dalam


penelitian ini diuji dengan menggunakan model regresi
linier dengan hasil analisis regresi yang disajikan dalam
Tabel 4 berikut.

Tabel 4
Hasil Analisis Regresi
Model Summary

Model

R
.582

R Square
.338

Adjusted R Square
.297

Std. Error of the Estimate


.1003

Durbin-Watson
1.908

a Predictors: (Constant), LEVERAGE, SIZE, BASIS, SEKTOR, RETURN


b Dependent Variable: INDEKS

ANOVA

Model
1

Sum of
Mean
df
F
Squares
Square
1 Regression
.416
5
8.326E-02
8.277
Standardized Residual
.815
81
1.006E-02
t
Sig.
Coefficients
Total
1.231
86
Beta
9.936
.000 SIZE, BASIS, SEKTOR, RETURN
Predictors: (Constant),
LEVERAGE,
Dependent .394
Variable:4.207
INDEKS .000
.210
2.282
.025
.376
4.095
.000
-.026
-.268
.790
-.067
-.670
.505
Model

Coefficients

(Constant)
SEKTOR
BASIS
SIZE
RETURN
LEVERAGE

Unstandardized
Coefficients
B
.252
9.510E-02
6.622E-02
2.606E-09
-1.422E-02
-1.564E-02

Std. Error
.025
a
.023
b
.029
.000
.053
.023

a Dependent Variable: INDEKS

Hasil analisis regresi dalam penelitian ini


menunjukkan koefisien basis positif dengan p-value
0,025. Dengan menggunakan tingkat alpha sebesar 0,05,
hipotesis nol berhasil ditolak. Dengan demikian dapat
ditarik kesimpulan bahwa perusahaan berbasis asing
memiliki kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan
tahunan lebih tinggi daripada perusahaan domestik.

Hipotesis variabel ketiga dalam penelitian ini


dinyatakan dalam hipotesis sebagai berikut:
H3: Semakin tinggi tingkat return, semakin tinggi
kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan
tahunan.
Hasil analisis regresi dalam penelitian ini
menunjukkan koefisien negatif, tidak seperti yang

83

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto


dihipotesiskan dan nilai p-value yang cukup besar yaitu
0,790. Oleh karena itu, dengan tingkat alpha 0,05,
hipotesis nol yang menyatakan bahwa kualitas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan tidak
lebih tinggi dengan semakin tingginya tingkat return,
tidak berhasil ditolak.
Variabel kontrol dalam penelitian ini terdiri dari
size perusahaan dan rasio leverage. Dalam penelitianpenelitian sebelumnya, hasil yang diperoleh hampir
selalu menunjukkan bahwa size perusahaan dan rasio
leverage berpengaruh secara signifikan positif terhadap
kualitas atau luas pengungkapan. Pada penelitian ini,
hasil analisis regresi dalam Tabel 4 menunjukkan bahwa
variabel kontrol size perusahaan memiliki koefisien
positif dengan p-value 0,000. Artinya variabel size
perusahaan tersebut berpengaruh secara signifikan
positif terhadap model regresi penelitian. Sedangkan
rasio leverage menunjukkan koefisien negatif dengan
p-value cukup besar yaitu 0,505. Hasil tersebut
bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya. Ada
indikasi bahwa adanya krisis moneter telah
menyebabkan hasil rasio leverage yang bertentangan
dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Akan
tetapi dengan adanya kedua variabel kontrol tersebut,
model regresi penelitian ini berhasil menolak hipotesis
nol penelitian yang menyatakan bahwa kualitas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan tidak
dipengaruhi secara bersama-sama oleh kelompok
industri, basis perusahaan, tingkat return, size
perusahaan, dan rasio leverage.
PENUTUP
Penelitian ini menguji pengaruh karakteristik
perusahaan terhadap kualitas pengungkapan sukarela
dalam laporan tahunan. Pengukuran kualitas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan
dilakukan dengan cara pembobotan. Pemberian bobot
dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap
wakil badan pembuat regulasi (BAPEPAM). Item
pengungkapan sukarela diperoleh dengan cara
melakukan survey literatur (Susanto, 1992; Choi dan
Mueller, 1992; Meek et. al., 1995), yang dilanjutkan
dengan membandingkan daftar item pengungkapan
sukarela tersebut dengan daftar item informasi
pengungkapan wajib yang dikeluarkan oleh Pemerintah

84

Pengaruh Kelompok Industri......

melalui Keputusan Ketua Bapepam No Kep-38/PM/


1996 (Peraturan VIII.G.2), yang di dalamnya termasuk
peraturan untuk laporan keuangan (Peraturan VIII.G.7).
Setelah mengeluarkan seluruh item informasi
pengungkapan wajib dari daftar item pengungkapan
sukarela, maka diperoleh 28 item informasi
pengungkapan sukarela untuk menetapkan indeks
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan yang
digunakan dalam penelitian ini.
Penelitian ini menguji kembali variabel basis
perusahaan dan tingkat return serta mengontrol
variabel size perusahaan dan rasio leverage yang
ditemukan selalu signifikan dalam penelitian
sebelumnya. Satu variabel yang berbeda dalam
penelitian ini adalah variabel kelompok industri yang
dibagi ke dalam perusahaan sektor jasa dan sektor riil.
Ada tiga pertanyaan yang mendasari hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini. Pertama, apakah
perusahaan sektor jasa memiliki kualitas pengungkapan
sukarela dalam laporan tahunan lebih tinggi daripada
perusahaan sektor riil. Kedua, apakah perusahaan
berbasis asing memiliki kualitas pengungkapan
sukarela dalam laporan tahunan lebih tinggi daripada
perusahaan domestik. Ketiga, apakah semakin tinggi
tingkat return, kualitas pengungkapan sukarela dalam
laporan tahunan juga semakin tinggi.
Sebanyak 87 perusahaan yang terdaftar di BEJ
pada tahun 2000 dipilih sebagai sampel dalam penelitian
ini. Hasil pengujian empiris terhadap sampel
menunjukkan bahwa perusahaan sektor jasa memiliki
kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan
lebih tinggi daripada perusahaan sektor riil dan bahwa
perusahaan berbasis asing memiliki kualitas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan lebih
tinggi daripada perusahaan domestik.
Penelitian ini telah membuktikan bahwa ada
perbedaan yang sistematik pada kualitas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan antar
perusahaan yang terdaftar di BEJ. Dengan demikian,
pengungkapan item informasi dalam laporan tahunan
adalah keputusan pihak manajemen perusahaan setelah
mempertimbangkan antara manfaat dan biaya
pengungkapan. Manajemen perusahaan akan
mengungkap informasi jika manfaat yang diperoleh
lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan berkaitan
dengan pengungkapan tersebut.

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto

DAFTAR PUSTAKA
Alford, Andrew, Jennifer Jones, Richard
Leftwich dan Mark Zmijewski, 1993, The
Relative Informativeness of Accounting
Disclosure in Different Countries, Journal of Accounting Research, 31, Supplement, pp. 183-223.
Buzby, S.L., 1975, Company Size, Listed versus Unlisted Stocks and the Extent of
Financial Disclosure, Journal of Accounting Research, 13, Spring, pp. 1637.
Choi, Frderick D.S. dan Gerhard G. Mueller, 1992,
International Accounting, Second Edition, London: Prentice-Hall, Inc.
Chow, C. W. dan A. Wong-Boren, 1987, Voluntary Financial Disclosure by Mexican
Corporation, Accounting Review, 62,
July, pp. 533-541.
Cooke, T. E., 1989, Disclosure in the Corporate
Annual Reports of Swedish Companies,
Accounting and Business Research, 19,
Spring, pp. 113-124.
__________, 1992, The Impact of Size, Stock
Market Listing and Industry Type on
Disclosure in the Annual Reports of Japanese Listed Corporations, Accounting
an Business Research, 22, Summer, pp.
229-237.
__________, 1993, Disclosure in Japanese
Corporate Annual Reports, Journal of
Business Finance and Accounting, 20,
June, pp. 521-535.
Hutami, Yuanti Adi, 1999, Pengaruh
Karakteristik Perusahaan terhadap
Tingkat Pengungkapan Laporan
Tahunan, Skripsi S1, UKSW, Salatiga.

Pengaruh Kelompok Industri ......

Imhoff Jr., E. A., 1992, The Relation Between


Perceived Accounting Quality and Economic Characteristics of the Firm, Journal of Accounting and Public Policy,
11, Summer, pp. 97-118.
McKinnon, Jill L., Dalimunthe, Lian, 1993, Voluntary Disclosure of Segment Information by Australian Diversified Companies, Journal of Accounting and Finance (ACF), Vol 33, May, pp. 33-50.
Meek, Gary K., Clare B. Roberts, Sidney J. Gray,
1995, Factors Influencing Voluntary
Annual Report Disclosure by U.S., U.K.
and Continental European Multinational
Corporations, Journal of International
Business Studies, Third Quarter, pp. 555572.
Mitchell, Jason D., Chia, Chris W L, dan Loh,
Andrew S., 1995, Voluntary Disclosure
of Segment Information: Further Australian Evidence, Journal of Accounting and Finance (ACF), Vol 35, Nov,
pp. 1-16.
Naim, Ainun dan Fuad Rakhman, 2000,
Analisis
Hubungan
Antara
Kelengkapan Pengungkapan Laporan
Keuangan dengan Struktur Modal dan
Tipe Kepemilikan Perusahaan, Journal
Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 15,
No.1, pp. 70-82.
Singhvi, Surendra S., dan Harsha B. Desai, 1971,
An Empirical Analysis of the Quality
of Corporate Financial Disclosure, The
Accounting Review, January, pp. 129138.
Subiyantoro, Edy, 1997, Hubungan Antara
Kelengkapan Pengungkapan Laporan
Keuangan dengan Karakteristik
Perusahaan Publik di Indonesia, Tesis
S2, UGM, Yogyakarta.

85

Jam STIE YKPN - Inge Gunawan dan Djoko Susanto

Suripto, Bambang, 1998, Pengaruh


Karakteristik Perusahaan terhadap Luas
Pengungkapan Sukarela dalam Laporan
Tahunan, Tesis S2, UGM, Yogyakarta.
Susanto, Djoko, 1992, An Empirical Investigation of the Corporate Disclosure in
Annual Reports of Companies Listed on
the Jakarta Stock Exchange, Tim
Koordinasi Pengembangan Akuntansi
Jakarta, Disertasi S3, University of Arkansas, USA.
Wallace, R. S., Olusegun, Kamal Naser dan
Aracelu Mora, 1994, The Relationship
Between the Comprehensiveness of
Corporate Annual Reports and Firm
Characteristics in Spain, Accounting
and Business Research, Vol. 25, No. 97,
pp. 41-53.

86

Pengaruh Kelompok Industri......

KEBIJAKAN EDITORIAL
Jurnal Akuntansi & Manajemen
Format Penulisan
1.
2.
3.
4.
5.

6.

7.

8.

Naskah adalah hasil karya penulis yang belum pernah dipublikasikan di media lain.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar.
Naskah diketik di atas kertas ukuran kwarto (8.5 x 11 inch.) dengan jarak 2 spasi pada satu permukaan dan
diberi nomor untuk setiap halaman.
Naskah ditulis dengan menggunakan batas margin minimal 1 inch untuk margin atas, bawah, dan kedua sisi.
Halaman pertama harus memuat judul, nama penulis (lengkap dengan gelar kesarjanaan yang disandang),
dan beberapa keterangan mengenai naskah dan penulis yang perlu disampaikan (dianjurkan dalam bentuk
footnote).
Naskah sebaiknya diawali dengan penulisan abstraksi berbahasa Indonesia untuk naskah berbahasa Inggris,
dan abstraksi berbahasa Inggris untuk naskah berbahasa Indonesia. Abstraksi berisi keyword mengenai
topik bahasan, metode, dan penemuan.
Penulisan yang mengacu pada suatu referensi tertentu diharuskan mencantumkan bodynote dalam tanda
kurung dengan urutan penulis (nama belakang), tahun, dan nomor halaman. Contoh penulisan:
a Satu referensi:
(Kotler 1997, 125)
b. Dua referensi atau lebih:
(Kotler & Armstrong 1994, 120; Stanton 1993, 321)
c. Lebih dari satu referensi untuk penulis yang sama pada tahun terbitan yang sama:
(Jones 1995a, 225) atau (Jones 1995b, 336; Freeman 1992a, 235)
d. Nama pengarang telah disebutkan dalam naskah:
(Kotler (1997, 125) menyatakan bahwa .......
e. Referensi institusi:
(AICPA Cohen Commission Report, 1995) atau (BPS Statistik Indonesia, 1995)
Daftar pustaka disusun menurut abjad nama penulis tanpa nomor urut. Contoh penulisan daftar pustaka:
Kotler, Philip and Gary Armstrong, Principles of Marketing, Seventh Edition, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.,
1996
Indriantoro, Nur. Sistem Informasi Strategik; Dampak Teknologi Informasi terhadap Organisasi dan Keunggulan
Kompetitif.KOMPAK No. 9, Februari 1996; 12-27.
Yetton, Philip W., Kim D. Johnston, and Jane F. Craig.Computer-Aided Architects: A Case Study of IT and
Strategic Change.Sloan Management Review (Summer 1994): 57-67.
Paliwoda, Stan. The Essence of International Marketing. UK: Prentice-Hall, Ince., 1994.

Prosedur Penerbitan
1.
2.
3.
4.
5.

Naskah dikirim dalam bentuk print-out untuk direview oleh Editors JAM.
Editing terhadap naskah hanya akan dilakukan apabila penulis mengikuti kebijakan editorial di atas.
Naskah yang sudah diterima/disetujui akan dimintakan file naskah dalam bentuk disket kepada penulis
untuk dimasukkan dalam penerbitan JAM.
Koresponden mengenai proses editing dilakukan dengan Managing Editor
Pendapat yang dinyatakan dalam jurnal ini sepenuhnya pendapat pribadi, tidak mencerminkan pendapat
redaksi atau penerbit.Surat menyurat mengenai permohonan ijin untuk menerbitkan kembali atau
menterjemahkan artikel dan sebagainya dapat dialamatkan ke Editorial Secretary.