Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberi Rahmat
dan Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa saya ucapkan
banyak terimakasih kepada Dosen pembimbing materi Ekonomi Mikro sehinga saya dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terjadi kesalahan
dan kekeliruan. Saya berharap kritik dan saran yang membangun untuk makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi setiap pembaca.

DAFTAR ISI
Kata pengantar...........................................................................................................1
Daftar isi.....................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang............................................................................................................3
Rumusan masalah......................................................................................................3
Tujuan........................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.
O.

Ilmu ekonomi mikro......................................................................................4


Tinjauan umum..............................................................................................4
Asumsi dan devenisi......................................................................................5
Model operasi.................................................................................................6
Biaya peluang.................................................................................................8
Penerapan ekonomi mikro.............................................................................9
Mekanisme harga dan system pasar...............................................................10
Perencanaan dan system harga.......................................................................11
Permintaan pasar dan perilaku konsumen......................................................13
Pendekatan-pendekatan dalam perilaku konsumen.......................................13
Pendekatan marginal utility...........................................................................13
pendekatan indifference curve.......................................................................16
hukum permintaan.........................................................................................19
elastisitas........................................................................................................21
system harga...................................................................................................25

BAB III PENUTUP..................................................................................................29


A. kesimpulan.....................................................................................................29
Daftar Pustaka............................................................................................................30

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Untuk mengetahui lebih lengkap tentang ekonomi mikro, sekaligus sebagai
wadah informasi tentang Ilmu Ekonomi
2. Rumusan Masalah
1) Pengertian ilmu Ekonomi?
2) Ruang lingkup ilmu ekonomil?
3) Mekanisme Pasar?
4) Permintaan dan Penawaran?
3. Tujuan
1) Mengetahui tentang ekonomi mikro.
2) Menjelaskan tentang pengertian dan pembahasan dari ekonomi mikro.

BAB II
PEMBAHASAN
A. ILMU EKONOMI MIKRO
Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi) adalah cabang dari ilmu
ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan
hargaharga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan.
Ekonomi mikro meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut
mempengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan
harga; dan bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan
barang dan jasa selanjutnya. Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi
secara optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu
keseimbangan dalam skala makro; dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama
(ceteris paribus).
Kebalikan dari ekonomi mikro ialah ekonomi makro, yang membahas aktivitas
ekonomi secara keseluruhan, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi,
pengangguran, berbagai kebijakan perekonomian yang berhubungan, serta dampak atas
beragam tindakan pemerintah (misalnya perubahan tingkat pajak) terhadap hal-hal
tersebut.
B. Tinjauan umum
Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisa pasar beserta mekanismenya
yang membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan alokasi dari sumber terbatas
diantara banyak penggunaan alternatif. Ekonomi mikro menganalisa kegagalan pasar,yaitu
ketika pasar gagal dalam memproduksi hasil yang efisien; serta menjelaskan berbagai
kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi suatu pasar persaingan sempurna. Bidangbidang
penelitian yang penting dalam ekonomi mikro, meliputi pembahasan mengenai
keseimbangan umum (general equilibrium), keadaan pasar dalam informasi asimetris,
pilihan dalam situasi ketidakpastian, serta berbagai aplikasi ekonomi dari teori permainan.
Juga mendapat perhatian ialah pembahasan mengenai elastisitas produk dalam sistem
pasar.
C. Asumsi dan definisi
4

Teori penawaran dan permintaan biasanya mengasumsikan bahwa pasar


merupakan pasar persaingan sempurna. Implikasinya ialah terdapat banyak pembeli dan
penjual di dalam pasar, dan tidak satupun diantara mereka memiliki kapasitas untuk
mempengaruhi harga barang dan jasa secara signifikan. Dalam berbagai transaksi di
kehidupan nyata, asumsi ini ternyata gagal, karena beberapa individu (baik pembeli
maupun penjual) memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga. Seringkali,
dibutuhkan analisa yang lebih mendalam untuk memahami persamaan penawaranpermintaan terhadap suatu barang. Bagaimanapun, teori ini bekerja dengan baik dalam
situasi yang sederhana.
Ekonomi arus utama (mainstream economics) tidak berasumsi apriori bahwa pasar
lebih disukai daripada bentuk organisasi sosial lainnya. Bahkan, banyak analisa telah
dilakukan untuk membahas beragam kasus yang disebut kegagalan pasar, yang
mengarah pada alokasi sumber daya yang suboptimal, bila ditinjau dari sudut pandang
tertentu (contoh sederhananya ialah jalan tol, yang menguntungkan semua orang untuk
digunakan tetapi tidak langsung menguntungkan mereka untuk membiayainya). Dalam
kasus ini, ekonomi akan berusaha untuk mencari kebijakan yang akan menghindari kesiasiaan langsung di bawah kendali pemerintah, secara tidak langsung oleh regulasi yang
membuat pengguna pasar untuk bertindak sesuai norma konsisten dengan kesejahteraan
optimal, atau dengan membuat pasar yang hilang untuk memungkinkan perdagangan
efisien dimana tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dipelajari di bidang
tindakan kolektif. Harus dicatat juga bahwa kesejahteraan optimal biasanya memakai
norma Pareto, dimana dalam aplikasi matematisnya efisiensi Kaldor-Hicks, tidak
konsisten dnegan norma utilitarian dalam sisi normatif dari ekonomi yang mempelajari
tindakan kolektif, disebut pilihan masyarakat/publik. Kegagalan pasar dalam ekonomi
positif (ekonomi mikro) dibatasi dalam implikasi tanpa mencampurkan kepercayaan para
ekonom dan teorinya.
Permintaan untuk berbagai komoditas oleh perorangan biasanya disebut sebagai
hasil dari proses maksimalisasi kepuasan. Penafsiran dari hubungan antara harga dan
kuantitas yang diminta dari barang yang diberi, memberi semua barang dan jasa yang lain,
pilihan pengaturan seperti inilah yang akan memberikan kebahagiaan tertinggi bagi para
konsumen.
D. Model operasi

Diasumsikan bahwa semua perusahaan mengikuti pembuatan keputusan rasional,


dan akan memproduksi pada keluaran maksimalisasi keuntungan. Dalam asumsi ini, ada
empat kategori dimana keuntungan perusahaan akan dipertimbangkan:
Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan ekonomi ketika average total
cost lebih rendah dari setiap produk tambahan pada keluaran maksimalisasi keuntungan.
Keuntungan ekonomi adalah setara dengan kuantitas keluaran dikali dengan perbedaan
antara average total cost dan harga.
Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan normal ketika keuntungan
ekonominya sama dengan nol. Keadaan ini terjadi ketika average total cost setara
dengan harga pada keluaran maksimalisasi keuntungan.
Jika harga adalah di antara average total cost dan average variable cost pada keluaran
maksimalisasi keuntungan, maka perusahaan tersebut dalam kondisi kerugian minimal.
Perusahaan ini harusnya masih meneruskan produksi, karena kerugiannya akan makin
membesar jika berhenti produksi. Dengan produksi terus menerus, perusahaan bisa
menaikkan biaya variabel dan akhirnya biaya tetap, tetapi dengan menghentikan
semuanya akan mengakibatkan kehilangan semua biaya tetapnya.
Jika harga dibawah average variable cost pada maksimalisasi keuntungan, perusahaan
harus melakukan penghentian. Kerugian diminimalisir dengan tidak memproduksi sama
sekali, karena produksi tidak akan menghasilkan keuntungan yang cukup signifikan
untuk membiayai semua biaya tetap dan bagian dari biaya variabel. Dengan tidak
berproduksi, kerugian perusahaan hanya pada biaya tetap. Dengan kehilangan biaya
tetapnya, perusahaan menemui tantangan. Akan keluar dari pasar seutuhnya atau tetap
bersaing dengan resiko kerugian menyeluruh. Kegagalan pasar Dalam ekonomi mikro,
istilah kegagalan pasar tidak berarti bahwa sebuah pasar tidak lagi berfungsi. Malahan,
sebuah kegagalan pasar adalah situasi dimana sebuah pasar efisien dalam mengatur
produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen. Ekonom normalnya memakai istilah
ini pada situasi dimana inefisiensi sudah dramatis, atau ketika disugestikan bahwa
institusi non pasar akan memberi hasil yang diinginkan. Di sisi lain, pada konteks
politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar untuk situasi
saat pasar dipaksa untuk tidak melayani kepentingan publik, sebuah pernyataan
subyektif yang biasanya dibuat dari landasan moral atau sosial.
Empat jenis utama penyebab kegagalan pasar adalah :

Monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan dari kekuasaan pasar dimana
sebuah pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh signifikan pada harga atau
keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa dikurangi dengan menggunakan
undang-undang anti trust.
Eksternalitas, dimana terjadi dalam kasus dimana pasar tidak dibawa kedalam akun dari
akibat aktifitas ekonomi didalam orang luar/asing. Ada eksternalitas positif dan
eksternalitas negatif. Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti dimana program
kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif
terjadi ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air.
Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau subsidi,
atau dengan menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan atau perorangan
untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf yang seharusnya.
Barang publik seperti pertahanan nasional dan kegiatan dalam kesehatan publik seperti
pembasmian sarang nyamuk. Contohnya, jika membasmi sarang nyamuk diserahkan
pada pasar pribadi, maka jauh lebih sedikit sarang yang mungkin akan dibasmi. Untuk
menyediakan penawaran yang baik dari barang publik, negara biasanya menggunakan
pajak-pajak yang mengharuskan semua penduduk untuk membayar pda barang publik
tersebut (berkaitan dengan pengetahuan kurang dari eksternalitas positif pada pihak
ketiga/kesejahteraan sosial).
Kasus dimana terdapat informasi asimetris atau ketidak pastian (informasi yang
inefisien). Informasi asimetris terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki
informasi yang lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjua yang
lebih tahu tentang produk tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi
dalam kasus ini. Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui
dimana mbil tersebut telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi yang
tidak tersedia bagi pembeli. Contoh dimana pembeli memiliki informasi lebih baik dari
penjual merupaka penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan kesaksian penghuni
sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini mungkin memiliki informasi
lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota keluarga yang ditinggalkan. Situasi
ini dijelaskan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminartentang kesehatan
tahun 1963 berjudul ketidakpastian dan Kesejahteraan Ekonomi dari Kepedulian
Kesehatan, di dalam American Economic Review. George Akerlof kemudian
menggunakan istilah informasi asimetris pada karyanya ditahun 1970 The Market for
Lemons. Akerlof menyadari bahwa , dalam pasar seperti itu, nilai rata-rata dari
7

komoditas cenderung menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat sempurna


kebaikannya, karena para pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah
produk yang mereka beli akan menjadi sebuah lemon (produk yang menyesatkan).
E. Biaya peluang
Walaupun biaya peluang (opportunity cost) terkadang sulit untuk dihitung, efek
dari biaya peluang sangatlah universal dan nyata pada tingkat perorangan. Bahkan, prinsip
ini dapat diaplikasikan kepada semua keputusan, dan bukan hanya bidang ekonomi. Sejak
kemunculannya dalam karya seorang ekonom Jerman bernama Freidrich von Wieser,
sekarang biaya peluang dilihat sebagai dasar dari teori nilai marjinal.
Biaya peluang merupakan salah satu cara untuk melakukan perhitungan dari
sesuatu biaya. Bukan saja untuk mengenali dan menambahkan biaya ke proyek, tetapi juga
mengenali cara alternatif lainnya untuk menghabiskan suatu jumlah uang yang sama.
Keuntungan yang akan hilang sebagai akibat dari alternatif terbaik lainnya; adalah
merupakan biaya peluang dari pilihan pertama. Sebuah contoh umum adalah seorang
petani yang memilih mengolah pertaniannya dibandingkan dengan menyewakannya ke
tetangga. Maka, biaya peluangnya adalah keuntungan yang hilang dari menyewakan lahan
tersebut. Dalam kasus ini, sang petani mungkin mengharapkan untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar dari pekerjaan yang dilakukannya sendiri. Begitu juga
dengan memasuki universitas dan mengabaikan upah yang akan diterima jika memilih
menjadi pekerja, yang dibanding dengan biaya pendidikan, buku, dan barang lain yang
diperlukan (sebagai biaya total dari kehadirannya di universitas). Contoh lainnya ialah
biaya peluang dari melancong ke Bahamas, yang mungkin merupakan uang untuk
pembayaran cicilan rumah.
Perlu diingat bahwa biaya peluang bukanlah jumlah dari alternatif yang ada,
melainkan lebih kepada keuntungan dari suatu pilihan alternatif yang terbaik. Biaya
peluang yang mungkin dari keputusan sebuah kota membangun rumah sakit di lahan
kosong, merupakan kerugian dari lahan untuk gelanggang olahraga, atau ketidakmampuan
untuk menggunakan lahan menjadi sebuah tempat parkir, atau uang yang bisa didapat dari
menjual lahan tersebut, atau kerugian dari penggunaan-pengguaan lainnya yang beragam
tapi bukan merupakan agregat dari semuanya (ditotalkan). Biaya peluang yang
sebenarnya, merupakan keuntungan yang akan hilang dalam jumlah terbesar diantara
alternatif-alternatif yang telah disebutkan tadi.

Satu pertanyaan yang muncul dari ini ialah bagaimana menghitung keuntungan
dari alternatif yang tidak sama. Kita harus menentukan sebuah nilai uang yang
dihubungkan dengan tiap alternatif untuk memfasilitasi pembandingan dan penghitungan
biaya peluang, yang hasilnya lebih-kurang akan menyulitkan untuk dihitung, tergantung
dari benda yang akan kita bandingkan. Contohnya, untuk keputusan-keputusan yang
melibatkan dampak lingkungan, nilai uangnya sangat sulit untuk dihitung karena
ketidakpastian ilmiah. Menilai kehidupan seorang manusia atau dampak ekonomi dari
tumpahnya minyak di Alaska, akan melibatkan banyak pilihan subyektif dengan implikasi
etisnya.
F. Penerapan ekonomi mikro
Ekonomi mikro yang diterapkan termasuk area besar belajar, banyak diantaranya
menggambarkan metode dari yang lainnya. Regulasi dan organisasi industri mempelajari
topik seperti masuk dan keluar dari firma, inovasi, aturan merek dagang.Hukum dan
Ekonomi menerapkan prinsip ekonomi mikro ke pemilihan dan penguatan dari
berkompetisi dengan rezim legal dan efisiensi relatifnya. Ekonomi Perburuhan
mempelajari upah, kepegawaian, dan dinamika pasar buruh. Finansial publik (juga dikenal
dengan ekonomi publik) mempelajari rancangan dari pajak pemerintah dan kebijakan
pengeluaran dan efek ekonomi dari kebijakan-kebijakan tersebut (contohnya, program
asuransi sosial). Ekonomi kesehatan mempelajari organisasi dari sistem kesehatan,
termasuk peran dari pegawai kesehatan dan program asuransi kesehatan.
Politik ekonomi mempelajari peran dari institusi politik dalam menentukan
keluarnya sebuah kebijakan. Ekonomi kependudukan, yang mempelajari tantangan yang
dihadapi oleh kota-kota, seperti gepeng, polusi air dan udara, kemacetan lalu-lintas, dan
kemiskinan, digambarkan dalam geografi kependudukan dan sosiologi. Finansial Ekonomi
mempelajari topik seperti struktur dari portofolio yang optimal, rasio dari pengembalian
ke modal, analisa ekonometri dari keamanan pengembalian, dan kebiasaan
finansial korporat. Bidang Sejarah ekonomi mempelajari evolusi dari ekonomi dan
institusi ekonomi, menggunakan metode dan teknik dari bidang ekonomi, sejarah,
geografi, sosiologi, psikologi dan ilmu politik.
G. Mekanisme harga dan Sistem Pasar
Semua anggota Masyarakat terlibat dalam dua sektor yaitu :
1. Sektor proses produksi
9

2. Sektor rumah tangga.


Transaksi antara kedua sektor tersebut terjadi di dua pasar :
1. Pasar hasil produksi (atau pasar output)
Di pasar output produsen bertemu konsumen dan harga dari berbagai macam barang
ditentukan. Gerak harga-harga output ini memecahkan masalah WHAT.
2. Pasar faktor produksi (atau pasar input).
Di pasar input, sektor produksi berperan sebagai konsumen faktor produksi dan
sektor rumah tangga sebagai penjual faktor produksi (karena semua penduduk
tinggal di sektor rumah tangga, maka semua pemilik faktor produksi ada di sana).
Harga berbagai faktor produksi ditentukan di pasar ini. Gerak harga faktor produksi
mempunyai dua fungsi:
a. Memberi petunjuk kepada produsen bagaimana mengkombinasikan faktorfaktor produksi agar biaya produksi serendah mungkin (masalah HOW).
b. Menunjukkan beberapa imbalan (per unit faktor produksi) yang diberikan
kepada para pemilik faktor produksi (masalah FOR WHOM).
Perlu diperhatikan serta diingat di sini , adalah :
1. Bahwa mekanisme harga bisa memecahkan semua itu secara otomatis. Tidak
ada perencanaan lebih dulu.
2. Masing-masing warga masyarakat bertindak sendiri-sendiri, tetapi hasil akhir
dari semua tindakan-tindakan yang tidak terkoordinir itu akan membuat
semrawutnya harga di pasaran.
Pemecahan tiga masalah ekonomi pokok dari masyarakat adalah adanya mekanisme
pasar. Karena :
1. mekanisme ini bisa memecahkan ketiga masalah ekonomi pokok yang dihadapi
masyarakat dengan biaya yang sangat murah.
2. Tidak perlu masyarakat menggaji birokrat-birokrat untuk menghitung dan
merencanakan berapa masing-masing barang yang harus diproduksikan,
bagaimana dan untuk siapa.
Pada masyarakat industri modern, proses produksi selalu dilakukan dengan
menggunakan alat-alat, mesin dan barang-barang modal. Akibat tersebut menimbulkan :
1. Penggunaan Barang-barang modal dalam proses produksi menaikkan
produktivitas.
2. Semakin banyak barang-barang modal yang digunakan maka akan semakin
tinggi produktivitas masyarakat tersebut.
10

3. Barang-barang modal dalam masyarakat akan semakin banyak bila masyarakat


tersebut tidak memakai habis (atau tidak mengkonsumsi seluruh) barangbarang hasil produksi yang dihasilkan tiap tahun.
4. Setiap aktivitas Produksi setiap tahunnya harus diarahkan pada produksi
barang-barang modal;
5. Barang-barang ini disisihkan untuk ditambahkan pada stok barang-barang
modal yang telah ada di dalam masyarakan atau di investasikan.
Mekanisme harga juga mampu memecahkan masalah penentuan berapa bagian dari
hasil produksi total yang dikonsumsikan. Masalah ini dipecahkan melalui gerakan harga
faktor produksi modal (kapital), yaitu tingkat bunga.
1. Bila tingkat bunga naik maka warga masyarakat akan bersedia menyisihkan
lebih banyak dari penghasilannya untuk dipinjamkan (Ditabung di bank)
kepada produsen-produksen ( Kredit ke bank) untuk memperluas pabrikpabriknya, yaitu dengan penambahan barang-barang modal investasinya,
karena mendapat imbalan berupa bunga yang lebih tinggi.
2. Sebaliknya bila tingkat bunga menurun maka warga masyarakat akan
membelanjakan penghasilannya sebagai barang produktif, diperjual belikan.
Keberadaan tingkat bunga akan menentukan berapa besar konsumsi dan
seberapa besarnya investasi.
karena besarnya investasi menentukan besarnya kenaikan produktivitas.
Kenaikan produktivitas; menentukan besarnya kenaikan prosuksi ini berarti
meningkatkan produksi masyarakat yang menimbulkan kenaikan
penghasilan masyarakat.
# Maka tingkat bunga menentukan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sehingga
bisa dikatakan bahwa mekanisme harga memecahkan masalah ekonomi
pokok yang keempat yaitu seberapa cepat perekonomian akan tumbuh atau
masalah HOW FAST

H. PERENCANAAN DAN MEKANISME HARGA


Mekanisme harga dikatakan mampu memecahkan semua permasalahan ekonomi.
Namun untuk masalah-masalah ekonomi penting tertentu, Mekanisme harga tidak bisa
memecahkan permasalahan dengan baik. Masalah-masalah Ekonomi lainya di mana
mekanisme harga tidak memecahkan masalah ekonomi dengan baik yaitu :
11

a. Distribusi pendapatan.
Mekanisme harga tidak selalu bisa menjamin dipecahkannya masalah FOR
WHOM secara adil.
b. Ketidaksempurnaan pasar
Apabila terdapat perbedaan yang menyolok dalam hal kekuatan ekonomi antara
pihak-pihak yang bertransaksi di pasar, maka harga yang terbentuk tidak
mencerminkan prioritas masyarakat secara wajar, sehingga masalah WHAT dan
HOW tidak bisa dipecahkan dengan baik.
c. Barang-barang kolektif
Ada barang-barang yang hanya bisa disediakan secara kolektif oleh masyarakat
(misalnya : keamanan, ketertiban hukum, beberapa macam infrastruktur dan
sebagainya). Harga pasar bagi barang-barang semacam ini tidak ada, atau
kalaupun ada tidak mencerminkan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya.
Lagi, masalah WHAT untuk barang-barang ini tidak bisa dipecahkan dengan
baik oleh mekanisme harga.
d. Eksternalitas
Mekanisme pasar tidak bisa memperhitungkan pengaruh-pengaruh tidak
langsung dari kegiatan ekonomi ( misalnya, pengaruh suatu pabrik terhadap
lingkungan ).
e. Pengelolaan perekonomian secara makro
Dalam perekonomian Makro Mekanisme pasar tidak bisa diandalkan untuk
menstabilkan gejolak naik turunnya kegiatan ekonomi nasional secara total.
Pada kelima bidang masalah ekonomi ini, mekanisme harga tidak bisa diharapkan
menyelesaikan permasalahan ekonomi secara otomatis dengan baik, Di sini perlu
tindakan-tindakan yang dirumuskan dan dijalankan secara sadar oleh masyarakat
(Negara). Tindakan-tindakan ini disebut perencanaan dalam arti luas. Di luar bidangbidang ini mekanisme masih efektif.. Dalam kenyataan mekanisme harga dan perencanaan
digunakan bersama-sama, karena keduanya saling melengkapi. tentunya Dengan porsi
yang berbeda-beda bagi masing-masing negara dan bagi waktu yang berbeda).
I. PERMINTAAN PASAR dan PERILAKU KONSUMEN
Sector rumah tangga sebagai konsumen di pasar output. Akan berakibat :
1. Perilaku konsumen dalam memutuskan berapa jumlah masing-masing barang
yang akan dibeli dalam berbagai situasi.
2. Konsumen-konsumen secara bersama-sama menimbulkan permintaan di pasar.
12

J. PENDEKATAN PENDEKATAN DALAM PERILAKU KONSUMEN


Hukum Permintaan, yang mengatakan bahwa bila sesuatu barang naik maka ceteris
paribus jumlah yang diminta konsumen akan barang tersebut turun. Dan sebaliknya bila
harga barang tersebut turun. Ceteris paribus berarti bahwa semua faktor-faktor lain
yang mempengaruhi jumlah yang diminta dianggap tidak berubah.
Pendekatan yang dinyatakan oleh Hukum Permintaan :
a. Pendekatan marginal utility, yang bertitik tolak pada anggapan bahwa kepuasan
(atau utility) setiap konsumen bisa diukur dengan uang atau dengan satuan lain
(utility yang ber-sifat cardinal) seperti kita mengukur volume air, panjang jalan
atau berat dari sekarung beras.
b. Pendekatan indifference curve, yang tidak memerlukan adanya anggapan bahwa
kepuasan konsumen bisa diukur; anggapan yang diperlukan adalah bahwa tingkat
kepuasan konsumen bisa dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah tanpa mengatakan berapa lebih tinggi atau lebih rendah.
K. PENDEKATAN MARGINAL UTILITY
Perilaku konsumen bisa diterangkan dengan menggunakan pendekatan marginal
utility sebagai berikut:
(a) Utility bisa diukur dengan uang, dan
(b) Hukum Gossen (law of diminishing marginal utility) berlaku, yaitu bahwa
semakin banyak sesuatu barang dikonsumsikan, maka tambahan kepuasan
(marginal utility) yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang
dikonsumsikan akan menurun, dan
(c) Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum.
Perhatikan perbedaan antara kepuasan total (total utility) dan kepuasan marjinal
(marginal utility).

13

Pada Gambar 1 marginal utility diatas :


1. Dari konsumsi suatu barang X , Semakin banyak barang X yang
dikonsumsikan, semakin kecil marginal utility yang diperoleh dari barang X
yang terakhir dikonsumsikan [anggapan (b) di atas].
2. Bila harga barang X adalah OPx, maka pada tingkat konsumsi yang lebih
rendah dari 0X 3, tingkat kepuasan total (total utility) konsumen belum
mencapai maksimum. Misalnya pada tingkat konsumsi OX1, maka setiap
tambahan pembelian 1 (satu) unit X akan memberikan tambahan kepuasan
(yang dinilai dengan uang) sebesar X1 B sedangkan pengorbanan (berupa
pembayaran harga) untuk 1 unit tersebut adalah hanya X1 A ( = OPx).
Jadi ada tambahan kepuasan netto sebesar AB bila konsumen membeli
lebih banyak X. Oleh sebab itu masih menguntungkan baginya apabila ia
menambah pembelian barang X.
3. Sebaliknya, pada tingkat konsumsi lebih besar dari OX 3 maka kepuasan total
konsumen juga tidak maksimum. Misalnya pada imgkat konsumsi OX2, maka
tambahan kepuasan yang diperoleh dari pembelian 1 (satu) unit terakhir dari
barang X hanya sebesar X2E, sedangkan pengorbanan konsumen adalah sebesar
X2D (= OPx); jadi
4. Akan menambah kepuasan total konsumen bila ia mengurangi tingkat konsumsi
(pembeliannya). Konsumen akan mencapai kepuasan total yang maksimum pada
14

tingkat konsumsi (pembelian) di mana pengorbanan untuk pembelian unit


terakhir dari barang tersebut (yang tidak lain adalah harga unit terakhir tersebut)
adalah sama dengan kepuasan tambahan yang didapatkan dari unit terakhir
tersebut.
Kepuasan total maksimum tercapai bila :

Penjelasannya :
1. Bila seandainya harga barang X naik dari OPx menjadi OPx, maka untuk
mencapai posisi kepuasan total yang maksimum (atau sering disebut posisi
equilibrium konsumen), konsumen akan me-milih tingkat konsumsi
(pembelian) sebesar OX4 (yang lebih kecil dari OX3). Jadi perilaku konsumen
yang dinyatakan oleh Hukum Permintaan terbukti.
2. Perhatikan bahwa dengan pendekatan marginal utility ini, kurva Marginal Utility
(yang diukur dengan uang) tidak lain adalah kurva permintaan konsumen,
karena menunjukkan tingkat pembeliannya (atau jumlah yang ia minta) pada
berbagai tingkat harga.
Untuk kasus di mana konsumen menghadapi beberapa macam barang yang
dibeli, maka posisi equilibrium konsumen adalah :

1. Syarat ini bisa dicapai dengan anggapan bahwa konsumen mempunyai uang
(atau penghasilan atau budget yang cukup untuk dibelanjakan untuk setiap
barang sampai marginal utility setiap barang sama dengan harga masingmasing barang.
2. Bila kita menganggap suatu kasus yang lebih realistis di mana konsumen hanya
mempunyai sejumlah uang yang tertentu yang tidak cukup untuk membeli
barang-barang sampai pada tingkat MU = P untuk setiap barang, maka bisa
dibuktikan bahwa dengan uang yang ter-batas tersebut ia bisa mencapai
kepuasan total yang paling tinggi bila ia mengalokasikan pembelanjaannya
sehingga dipenuhi persyaratan tersebut :

15

Syarat ini disebut equilibrium konsumen dengan constraint. (Yaitu dengan


pembatasan jumlah uang yang dipunyai).
Dalam kasus banyak barang ini pun kita bisa menunjukkan bahwa Hukum
Permintaan berlaku bagi masing-masing barang (X, Y,Z dan seterusnya).
L. PENDEKATAN INDIFFERENCE CURVE
Perilaku konsumen bisa pula diterangkan dengan pendekatan Indifference curve
sebagai berikut:
(a) konsumen mempunyai pola preferensi akan baarang-barang konsumsi
(misalnya X dan Y) yang bisa dinyatakan dalam bentuk indifference map atau
kumpulan dari indifference curve,
(b) konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu dan
(c) konsumen lelalu berusaha mencapai kepuasan maksimum.
Definisi: Indifference curve adalah konsumsi (atau pembelian) barang-barang yang
menghasilkan tingkat kepuasan yang sama.
Asumsi: Indifference curve :
a. turun dari kiri atas ke kanan bawah,
b. cembung ke arah origin,
c. tidak saling memotong,
d. yang terletak di sebelah kanan atas menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih
tinggi ( tanpa perlu menunjukkan berapa lebih tinggi, yaitu asumsi ordinal ulility)
Gambar

16

Perliatikan Gambar .2. di atas. Dengan sejumlah uang ter-tentu (M) konsumen bisa
membelikannya semua untuk barang X
memperoleh sebanyak :M/Px atau membelikannya semua untuk barang Y dan
memperoleh M/Py atau membelanjakan jumlah uang M tersebut untuk berbagai
kemungkinan kombinasi X dan Y seperti yang ditunjukkan oleh garis lurus yang
menghubungkan M/Px dan M/Py
Garis ini disebut garis budget atau budget line. Tingkat kepuasan yang maksimum
dicapai bila konsumen membelanjakan M untuk membeli sebanyak OY 1 barang Y dan
OX 1 barang X, yaitu pada posisi persinggungan antara budget line dengan indifference
curve.
(Posisi ini menunjukkan posisi kepuasan yang maksimum atau posisi equilibrium
konsumen dengan constraint (M) karena I 1 adalah Indifference curve yang tertinggi yang
bisa dicapai oleh budget line tersebut; posisi selain A hanya bisa mencapai indifference
curve yang lebih rendah dari I 1).
bila harga X turun dari Px menjadi Px dan harga Y tetap. Maka budget line akan
berayun ke kanan menjadi garis M/Py <-> M/Px Posisi equilibrium yang baru adalah pada
C.
Jadi dengan adanya penurunan harga barang X, maka jumlah barang X yniig
diminta naik dari OX 1 menjadi OX 3. Perilaku konsumen
Menurut Hukum Permintaan terbukti.

17

Keunggulan pendekatan Indifference Curve dibanding dengan pendekatan Marginal


Utility, adalah :
(a) tidak perlunya menganggap Bahwa utility konsumen bersifat cardinal,
(b) efek perubahan harga terhadap jumlah yang diminta bisa dipecah lebih lanjut
menjadi dua, yaitu efek substitusi atau substitution effect dan efek pendapatan atau income
effect. Dari gambar di atas, efek total dari penurunan harga :
barang X dari Px menjadi Px dapat dipecah menjadi X1 X2 = substitution effect
dan X2 X3 = income effect.
Substitution effect didalam contoh ini adalah kenaikan konsumsi X karena adanya
substitusi Y dengan X, karena sekarang harga X relatif menjadi lebih rendah
dibanding harga Y.
Income effect adalah kenaikan X, yang (disebabkan oleh kenaikan income riil
karena turunnya harga X; yaitu nilai M secara riil naik karena Px turun.
Contoh : Apabila dengan gaji Doni Rp 100.000,00, maka doni sekarang bisa
membeli 500 kg beras sedang sebelumnya hanya 400 kg beras, karena harga beras turun
dari Rp 500,00 menjadi Rp 400,00 per kg, maka daya beli Doni meningkat, atau income
riil Doni meningkat, meskipun M Doni tetap Rp 100.000,00).
Keunggulan lain dari pendekatan indifference curve adalah bisa ditunjukkannya
beberapa faktor lain yang sangat penting yang mempengaruhi permintaan konsumen akan
sesuatu barang. Faktor-faktor ini (yang di dalam Hukum Permintaan dianggap tidak
berubah, atau ceteris paribus) adalah :
a. Penghasilan atau income riil konsumen. Kenaikan income riil konsumen, yang
dicerminkan oleh kenaikan M bila harga-harga barang dianggap tetap, biasanya
menaikkan permintaan konsumen. Keadaan seperti ini berlaku bagi barang-barang
pada umumnya, atau barang normal. Pengecualian terjadi untuk barang-barang
inferior, di mana kenaikan income riil menurunkan permintaan akan barang tersebut
(income effect negatif). Contoh barang inferior adalah gaplek dari rumah tanggarumah tangga di kota-kota. Barang inferior tidak banyak jumlahnya. Kebanyakan
barang yang kita beli adalah barang normal. Gambar berikut menggambarkan
pengaruh perubahan income terhadap jumlah barang yang diminta.
06
b. Perubahan harga barang lain. Perubahan harga barang yang mempunyai hubungan
ekat dengan suatu barang bisa pula mempengaruhi permintaan akan barang tersebut.
Perubahan liarga Y bisa mempengaruhi permintaan akan barang X. Gambar 111.4.
18

berikut enunjukkan dua pengaruh yang berbeda dari perubahan harga Y terhadap
jumlah barang X yang diminta.
07
c. Selera konsumen. Perubahan selera konsumen bisa ditunjuk-k;in oleh perubahan bentuk
atau posisi dari indifference map. I anpa ada perubahan harga barang-barang maupun
income, permintaan akan sesuatu barang bisa berubah karena perubahan selera.
Permintaan (demand function) adalah : Jumlah suatu barang yang mau dan dapat
dibeli oleh konsumen pada pelbagai kemungkinan harga, dalam jangka waktu
tertentu dengan anggapan hal-hal lain akan tetap sama ( Cateris Paribus)
Penawaran adalah : Jumlah dari suatu barang tertentu yang mau dijual pada pelbagai
kemungkinan harga, dalam jangka waktu (cateris paribus)
M. Hukum Permintaan
Kurve permintaan untuk pelbagai macam barang dan jasa tidak semuanya tepat sama.
Bahkan kurve permintaan akan barang yang sama pun dapat berbeda menurut tempat dan
waktu yang berbeda. Tetapi semua kurve permintaan menunjukkan satu ciri yang sama,
yaitu arahnya yang turun dan kiri-atas ke kanan-bawah (downward sloping to the right).
Bentuk kurve mi menunjukkan bahwa antara HARGA (P) dan JUMLAH YANG MAU
DIBELT (Qd) terdapat suatu hubungan yang berbalikan:
- Kalau harga naik, jumlah yang mau dibeli berkurang
- Kalau harga turun, jumlah yang mau dibeli bertambah
Gejala mi dikenal dengan nama Hukum Permintaan, yang dapat dirumuskan sbb.:
Orang cenderung membeli lebih banyakpada harga rendah daripadapada harga tinggi.
Disehut hukum karena merupakan gejala umum yang sulit dicari perkecualiannya.
Hal ini terjadi karenaHukum permintaan menunjuk pada fakta bahwa, kalau harga
suatu barang/jasa naik, jumlah yang akan dibeli cenderung menjadi Iebih sedikit, sedang
kalau harganya turun, jumlah yang mau dibeli oleh masyarakat akan lebih banyak.
Sekarang kita her- tanya: mengapa terjadi demikian? Apa sebabnyajumlah yang mau dibeli
berkurang bila harga barang itu naik, dan bertambah bila harganya turun? Pada dasarnya
ada tiga alasan yang dapat menjelaskan gejala tsb.:
I. Pengaruh penghasilan (Income effect)
Kalau harga suatu barang naik, maka denganjumlah penghasilan uang yang sama
orang terpaksa hanya dapat membeli barang lebih sedikit. Sebaliknyajika harga barang tu
turun, dengan penghasilan yang sama orang dapat membeli lebih banyak dan barang ybs.,
(dan mungkinjuga dan barang-barang lain pula), sebab penghasilan realnya naik.
19

Misalnya datam contoh di atas: pada harga beras Rp 400-/kg, keluarga ybs. dapat
membeli 50kg beras perbulan. Tetapi kalau harga beras naik menjadi Rp 500, 1kg,
denganjumlah uang yang sama rncrcka hanya dapat membeli 40 kg beras per bulan.
Hal yang sama berlaku tidak hanya untuk permintaan individual tetapi juga untuk
permintaan pasar. Kalau harga suatu barang naik (ceteris paribus), Iebih sedikit warga
masyarakat yang mampu membelinya dengan penghasilan mereka. Sebaliknya jika harga
barang tertentu turun (ceteris paribus), semakin banyak orang yang dulu tidak mampu
membelinya sekarang akan dapat menjangkaunya, sehingga jumlah pembeli bertambah
banyak. Hal mi disebut income effect:
2. Pengarub substitusi (Substitution effect)
Jika harga suatu barang naik, orang akan mencari barang lain yang fungsinya sama
tetapi harganya lebih murah. Penggantian mi dengan istilah teknis disebut substitusi. Maka
gejala mi disebut substitution effect.
3. Penghargaan subyektif (Marginal Utility)
Andaikan seseorang hanya mernpunyai satu pasang sepatu saja. Maka ia akan
menilai sepatunya itu lebih tinggi daripada scandainya ia mempunyai sepuluh pasang.
Kalau sepatunya itu rusak ia akan bersedia mengeluarkan uang untuk membeli sepasang
sepatu yang barn, walau harganya mahal. Sebaliknya kalau orang mempunyai sepuluh
pasang sepatu, ia tidak akan merasa kerugian besar kalau kehilangan satu pasang sepatu,
dan ia tidak begitu bersedia mengeluarkan uang untuk membeli sepatu lebih banyak lagi.
Jadi makin banyak dan satu macam barang tertentu yang telah dimiliki, makin rendah
penghargaan kita terhadap barang itu.
Tinggi-rendahnya harga yang bersedia dibayar oleh konsumen untuk barang
tertentu mencerminkan kegunaan atau kepuasan (Marginal) yang diperolehnya dan
konsumsi barang tsb. Gejala mi dikenal dengan nama Hukum Semakin Berkurangnya
Tambahan Kepuasan (Law of Diminishing Marginal Utility LDMU), atau Hukum
Gossen ke-I.
N. ELASTISITAS
PENGERTIAN ELASTISITAS
Kurve permintaan dan penawaran memperlihatkan bagaimana reaksi pembeli dan
penjual (dalam hal banyak-sedikitnya jumlah yang mau dibeli atau dijual) terhadap
perubahan harga. Dalam masalah reaksi ini dipertanyakan lebih lanjut: berapa besarnya
perubahan harga dan berapa besarnya reaksi tsb. Sehingga para para ahli ekonomi
memberikan pengertian elastisitas permintaan dan penawaran
20

ELASTISITAS PERMINTAAN
Inti pengertian permintaan adalah: hubungan antara HARGA suatu barang dengan
Jumlah yang mau dibeli. Bentuk kurve permintaan yang turun ke kanan menunjukkan
hagaimana reaksi jumlah yang mau dibeli terhadap perubahan harga: kalau P naik, Qd
Iislru berkurang, sedang kalau P turun, Qd justru bertambah.
Tetapi reaksi konsumen tidak mesti sama untuk pelbagai macam barang. Untuk
heherapa macam barang para konsumen sangat peka terhadap perubahan harga, artinya:
1witihahan harga yang kecil saja sudah menyebabkan jumlah yang mau dibeli
berkurang hanyak. Tetapi ada juga barang di mana konsumen hampir tidak peka terhadap
pertihahan harga: biarpun harga naik, jumlah yang dibeli hampir tidak berkurang. Untuk
iiicnyatakan peka-tidaknya jumlah yang mau dibeli terhadap perubahan harga
dipergunakan istilah elastisitas, tepatnya elastisitas harga (price elasticity of demand).
PENGERTIAN DAN RUMUS ELASTISITAS PERMINTAAN
Ealastisitas (harga) menunjukkan bagaimana reaksi pembeli (dalam hal jumlah yang
mau dibeli) bila ada peruhahan harga, atau: peka-tidaknya jumluh yang man dibeli
terhadap perubahan harga. Maka agar dapat dibandingkan dua-duanya dinyatakan dalam
%
Jika konsumen peka terhadap perubahan harga suatu barang, permintaan akan barang itu
disebut ELASTIS.
Artinya: perubahan harga yang kecil menyebabkan perubahan yang relatif (lebih)
hesar dalam jumlah yang diminta. Misalnya harga naik dengan 10%. Akibatnya
jumlah barang yang mau dibeli berkurang dengan % yang lebih besar, misalnya 20%
Jika konsumen kurang peka terhadap perubahan harga suatu barang tertentu, permintaan
akan barang itu disebut INELASTIS.
Artinya: meskipun kenaikan harga (relatif) cukup besar. namun jumlah yang mau
diheli hampir tidak berkurang; sedang kalau harga barang turun, jumlah yang diminta
hampir tidak bertamhah.
Misalnya harga turun 10% menyebabkan pertambahan dalam jumlah yang
diminta relatif lebih kecil, misalnya hanya 5%. Hal mi terutama terjadi pada barangbarang kehutuhan hidup pokok seperti beras, garam, dli.
Rumus elastisitas permintaan

21

Elaslisitas permintaan dapat diukur dan dinyatakan dalam suatu angka yang di%chiII
koelisien elastisitas. Besar-kecilnya koefisien elastisitas permintaan dapat diIiiliiiig dengan
hantuan suatu rumus yang sederhana.
Rumus umum untuk elastisitas permintaan adalah sbb:

Dibawah ini contoh perhitungan koefisien elastisitas permintaan.


22

Sebagai contoh kita perbandingkan permintaan akan dua macam barang, yaitu obat
nyamuk dan teh hungkus.

Untuk mcmpermudah pcrbandingannya, kedua barang tersehut digambarkan kurve


permintaannya dalam satu grafik.. Kemudian kita hitung elastisitas pcrinintaan,misalnya
apa yang terjadi dengan jumlah yang diminta (Qd) kalau harga naik dariRp 200,- menjadi
Rp 300,-. Perhatikan cara kerjanya!

23

24

O. SISTEM HARGA
Dalam kehidupan ekonorni modern harga-harga memainkan peranan yang amat
penting, justru karena produsen dan konsumen (termasuk dunia perbankan, pedagang
ckspor-impor dan pemerintah sendiri) bertindak atas dasar pertimbangan dan
perbandingan harga.
a. NILAI DAN HARGA
Para ahli filsafat telah memikirkan persoalan harga dan nilai. Karena pada waktu
itu uang helum begitu berperanan, yang diutamakan adalah pengertian Nilai barang.

25

ARISTOTELES (384-322 seb.M.) pada tahun 300 sebelum Masehi telah


membahas masalah ini, Menurut Aristoteles suatu barang mempunyai nilai karena
berguna untuk yang memilikinya (= Nilai pakai), atau karena barang tsb. dapat
dipertukarkan dengan barang lain (= Nilai tukar). Jenis-jenis nilai mi masih dapat
dibedakan obyektif dan subyektif.
Nilai pakal (Value in use atau Utility) adalah kemampuan suatu barang untuk dapat
memenuhi suatu kebutuhan manusia.
1. Nilai pakai obyektif = kemampuan atau sifat barang untuk dapat memenuhi suatu
kebutuhan manusia, jadi kegunaan atau faedah barang.
2. Nilai pakai subyektif = penilaian yang diberikan seseorang terhadap suatu barang
karena kemampuan barang tsb. dalam memenuhi kebutuhannya. Pcnilaian subyektif
mi dapat sangat berbeda-beda menurut situasi dan kondisi, seperti mendesaknya
kebutuhan seseorang dan jumlah barang yang tersedia.
Nilai tukar (Value in exchange) adalah kemampuan suatu barang untuk dilukarkan
dengan barang lain di pasar.
a. Nilai tukar obyektif = kemampuan suatu barang untuk dipertukarkan dengan
barang lain.
b. Nilai tukar subyektif = penilaian yang diberikan seseorang bila barang tsb. akan
ditukarnya dengan barang lain.
Harga suatu barang adalah nilai (tukar) barang tsb. dinyatakan atau diukur dengan
uang. Jadi antara nilai dan harga tidak sama: Nilai (tukar) suatu barang diukur dengan
membandingkannya dengan barang lain. Sedang harga diukur dengan uang. Nilai suatu
barang adalah dasar untuk penentuan harga barang tsb.
Pada abad pertengahan masalah harga terutama disoroti dan segi moral baik-buruk,
halal dan haram. Yang dipersoalkan adalah apakah harga suatu barang itu adil
(wajar/pantas = just price). Karena harga yang diminta oleh produsen penjual barang
tertentu ikut mempengaruhi kesejahteraan pembeli atau masyarakat, perlu dijaga jangan
sampai orang mencari keuntungan dengan memeras sesamanya yang miskin. Hal ini
khususnya berlaku untuk pinjam-meminjam uang dengan bunga yang tinggi.
Sementara itu kaum klasik mempersoalkan faktor apa yang penentuan tinggi
rendahnya harga suatu barang Meskipun jelas bagi mereka bahwa suatu barang tidak
akan diproduksikan kalau barang tsb. tidak berguna bagi konsumen, tetapi perhatian
mereka dipusatkan pada segi biaya produksi.
Biaya produksi sebagai dasar harga dan nilai: Teori nilai obyektif
26

ADAM SMITH (1723-1790) menegaskan bahwa nilai (= nilai tukar atau harga)
suatu barang diteniukan oleh biaya produksinya. Dalam masyarakat yang masih sangat
sederhana, nilai tukar atau harga suatu harang terutama ditentukan oleh banyaksedikitnya kerja manusia yang telah dicurahkan untuk menghasilkan barang tsb. Tetapi
dalam masyarakat yang sudah lebih maju, biaya-biayaproduksi lain harus ikut
diperhitungkan pula, yaitu upah tenaga kerja, biaya bahan-hahan. sewa tanah. bunga
modal dan laba pengusaha.
DAVID RICARDO (1772-1823) membatasi biaya produksi hanya pada tenaga
kerja nianusia saja. Jadi harga suatu harang tergantung dan banyak-sedikitnyakerja
manusia yang telah dicurahkan dalarn produksi barang tsb. Ia membedakan antara
barang seni dan barang biasa. Nilai harang seni memang ditentukan oleh banyaknya
pengaguran barang seni tsb.: makin banyak penggernarnya, makin tinggi nilai dan
harganya, karena harang seni tidak dapat diperbanyak. Lain halnya dengan barang
biasa yang dapat diproduksi dalarnjumlah yang banyak. Teorinya dikenal dengan nama
teori nilai kerja.
Contoh:
Andaikan kita dapat mengukur berapa jumlah jam kerja yang diperlukan untuk
produksi agung, beras dan pakaian (kain ). Angkaangka di hawah mi hanya sebagai
misal saja:
Produk Jumlah jam kerja yg diperlukan
Jagung (kg) 20
Beras (kg) 10
Kain (meter) 80
Menurut teori ini, jagung dan beras akan dipertukarkan dengan perbandingan 2 kg
jagung untuk 1 kg beras. Satu meter kain dapat dijual dengan harga 4kg jagung atau
2kg beras. Satu kg beras cukup untuk membayar meter kain. Satu kg jagung dapat
ditukar dengan kg beras atau 74 meter kain.
Cara berpikir seperti ini memang masuk di akal pada jaman itu. Karena pada waktu
itu tenaga kerja adalah faktor produksi yang utama, peralatan produksi masih serba
primitif. dan kehutuhan masyarakat rnasih terbatas pada kebutuhan dasar sandang,
pangan dan papan. Lagi pula penggunaan baang masih sangat terhatas. Dalam keadaan
seperti itu barang-barang dipertukarkan dengan harga sesuai dengan biaya produksinya.
KARL MARX (1818-1883) mengambil alih teori Ricardo tsh., tetapi lebih
diperseinpitlagi. Menurut Marx tenaga kerja merupakan satu-satunya sumher nilai.
27

Nilai dan harga setiap barang ditentukan oleh jumlah kerja (rata-rata) yang telah
dicurahkan dalam proses produksinya. Dan itu Marx menarik kesimpulan, hahwa laba
(selisih antara harga jual suatu barang dan biaya produksinya, atau yang disebutnya
nilai lebih)
HENRY CAREY (1793-1879) memperbaiki teori nilai biaya produksi dengan
mtnunjukkan hahwa yang penting sebenarnya bukan biaya-biaya yang telah
dikeluarkati (= harga histonis). melainkan biaya-biaya yang penlu untuk rnenghasilkan
kembali harang yang sama (= biaya reproduksi).
Teori-teori di atas dikenal dengan nama teori nilai obyektif.
Kelemahan teori tsb adalah bahwa hendak menjelaskan terjadinya nilai dan dari
satu segi saja, yaitu dan segi biaya produksi atau dan segi produsen saja.
Memang, biaya produksi itu penting dalam penentuan harga jual oleh produsen.
tetapi nilai dan harga tidak hanya tergantung dan produsen saja! Sebenarnya mereka pun
tahu bahwa kehutuhan dan selera konsumen pentingjuga. Kalau begitu. mengapa
mereka membatasi hanya pada segi hiaya saja. Sementara itu segi kegunaan barang
sama sekali diabaikan.

28

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi) adalah cabang dari ilmu ekonomi
yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan hargaharga pasar
dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro
meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut mempengaruhi penawaran
dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan bagaimana harga,
pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya.
Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi secara optimal, bersamasama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu keseimbangan dalam skala makro;
dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama (ceteris paribus).
Teori penawaran dan permintaan biasanya mengasumsikan bahwa pasar merupakan pasar
persaingan sempurna. Implikasinya ialah terdapat banyak pembeli dan penjual di dalam
pasar, dan tidak satupun diantara mereka memiliki kapasitas untuk mempengaruhi harga
barang dan jasa secara signifikan. Dalam berbagai transaksi di kehidupan nyata, asumsi ini
ternyata gagal, karena beberapa individu (baik pembeli maupun penjual) memiliki
kemampuan untuk mempengaruhi harga. Seringkali, dibutuhkan analisa yang lebih
mendalam untuk memahami persamaan penawaran-permintaan terhadap suatu barang.
Bagaimanapun, teori ini bekerja dengan baik dalam situasi yang sederhana.

29

DAFTAR PUSTAKA
http://edingulik.files.wordpress.com/2008/02/ekonomi-mikro-lengkap-compatibilitymode1.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_mikro
http://www.scribd.com/doc/9228295/Ekonomi-Mikro
http://www.scribd.com/doc/28184955/Makalah-Ekonomi-Mikro

30