Anda di halaman 1dari 248

Republik Indonesia

Dokumen Pengadaan
Secara Elektronik

Pengadaan
Pekerjaan Konstruksi

- Metoda Pelelangan Umum dengan Pascakualifikasi -

DOKUMEN PENGADAAN
Nomor : 15/DOK/2015
Tanggal : 13 Januari 2015

untuk
Pengadaan

Pembangunan Pengaman Pantai Parigi


Kabupaten Parigi Moutong

Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan : Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Jasa
Konstruksi Pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan
Pemanfaatan Air Sulawesi III dan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan
Jaringan Sumber Air Sulawesi III.

Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia

Tahun Anggaran : 2015


2

BAB II
PENGUMUMAN PELELANGAN UMUM DENGAN PASCAKUALIFIKASI
Nomor : 15/DOK/2015
Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Jasa Konstruksi Pada Satuan Kerja Non Vertikal
Tertentu Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Sulawesi III dan Satuan Kerja Non
Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sulawesi III Tahun Anggaran
2015akan melaksanakan Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi untuk paket
pekerjaan konstruksi sebagai berikut:
1. Paket Pekerjaan
Nama paket pekerjaan
: PEMBANGUNAN PENGAMAN PANTAI PARIGI
KABUPATEN PARIGI MOUTONG
Lingkup pekerjaan
: Pembangunan Pengaman Pantai
Nilai total HPS
: Rp. 4.000.000.000,- (Empat Milyar Rupiah)
termasuk PPN
Sumber pendanaan
: APBN Tahun Anggaran 2015
2. Persyaratan Peserta
Izin Usaha
: Pekerjaan Konstruksi
Klasifikasi
: Menengah
Kualifikasi
: Menengah
3. Pelaksanaan Pengadaan
Tempat dan alamat : Kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi III
Jln. Abd. Rahman Saleh No. 230 Palu
Website
: www.pu.go.id
4. Jadwal Pelaksanaan Pengadaan
No
Kegiatan
Hari/Tanggal
Waktu (jam)
a.
b.
c.
d.
e.

Pendaftaran dan Pengambilan


Dokumen Pengadaan
Pemberian Penjelasan
Pemasukan Dokumen Penawaran
Batas Akhir Pemasukan
Dokumen Penawaran
Pembukaan Dokumen
Penawaran

13/01/2015 s.d.
22/01/2015
16/01/2015
19/01/2015 s.d.
23/01/2015

00.00 s.d..24.00
09.00 s.d. selesai
00.00 s.d. 09.00

23/01/2015

09.00

23/01/2015

10.00

5. Peserta dapat melakukan pendaftaran secara elektronik melalui Website


Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat www.pu.go.id
6. Dokumen Pengadaan dapat diambil dalam bentuk softcopy dengan diunduh
melalui website Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
3

www.pu.go.id dan jika tidak diunduh oleh peserta, maka penawaran peserta tidak
akan dievaluasi.
7. Seseorang dilarang mewakili lebih dari 1 (satu) perusahaan pada saat proses
pelelangan berlangsung.

Demikian disampaikan untuk menjadi perhatian.

Palu, 13 Januari 2015


Mengetahui :
Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Jasa Konstruksi
Pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu
Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Sulawesi III
dan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan
Jaringan Sumber Air Sulawesi III.

BAB I
UMUM
A.

Dalam hal pemilihan metode evaluasi apabila ada pertentangan ketentuan yang
tertulis pada Lembar Data Pemilihan (LDP) dengan Instruksi Kepada Peserta (IKP)
maka yang digunakan adalah ketentuan pada Lembar Data Pemilihan (LDP).

B. Dokumen Pengadaan ini disusun untuk membantu peserta dalam menyiapkan


dokumen penawaran.
C. Dalam dokumen pengadaan digunakan pengertian, istilah, dan singkatan sebagai
berikut:
Pekerjaan
Konstruksi

: adalah seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan


pelaksanaan konstruksi bangunan atau pembuatan
wujud fisik lainnya;

Kontrak
Harga
Satuan

: adalah kontrak pengadaan


barang/jasa atas
penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu
tertentu, berdasarkan harga satuan yang pasti dan
tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan
spesifikasi teknis tertentu, yang volume pekerjaannya
masih bersifat perkiraan sementara, sedangkan
pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran
bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar
telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa;

HEA

: adalah Harga Evaluasi Akhir yang merupakan


penyesuaian atau normalisasi harga terhadap harga
penawaran dalam proses pengadaan dimana unsur
preferensi harga telah diperhitungkan berdasarkan
capaian TKDN dan status perusahaan;

LDP

: adalah Lembar Data Pemilihan yang memuat


ketentuan dan informasi yang spesifik sesuai dengan
jenis pekerjaan antara lain meliputi penyiapan,
penyampaian, pembukaan, kriteria dan tata cara
penilaian dokumen penawaran, pengumuman
pemenang, sanggahan, dan sanggahan banding;

LDK

: adalah Lembar Data Kualifikasi yang memuat


ketentuan dan informasi yang spesifik sesuai dengan
kualifikasi yang diperlukan penyedia barang/jasa
antara lain dalam menyiapkan, mengisi formulir isian
kualifikasi, dan melengkapi pakta integritas;

APIP

: adalah Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)


yang selanjutnya
disebut
Inspektorat
Kementerian bertugas melakukan pengawasan melalui
audit, review, evaluasi, pemantauan dan kegiatan
pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas
dan fungsi organisasi;

Penyedia
Sub penyedia

: adalah
badan
usaha
yang
melaksanakan Pekerjaan Konstruksi;

menyediakan/

: adalah penyedia yang mengadakan perjanjian kerja


dengan penyedia penanggung jawab kontrak, untuk
melaksanakan sebagian pekerjaan (subkontrak);

Kemitraan/
Kerja Sama
Operasi (KSO )

: adalah kerja sama usaha antar penyedia baik penyedia


nasional maupun penyedia asing, yang masing-masing
pihak mempunyai hak, kewajiban dan tanggung
jawab yang jelas berdasarkan perjanjian tertulis;

Surat Jaminan

: adalah jaminan tertulis yang selanjutnya disebut


Jaminan, bersifat mudah dicairkan dan tidak bersyarat
(unconditional), yang
dikeluarkan oleh Bank
Umum/Perusahaan Penjaminan/ Perusahaan Asuransi
yang diserahkan oleh penyedia kepada PPK/Pokja ULP
untuk menjamin terpenuhinya kewajiban penyedia;

Hari

: adalah hari kalender untuk proses pemilihan secara


elektronik, pelaksanaan kontrak dan jaminanjaminan, kecuali hari kerja untuk proses sanggahan
banding;

Daftar kuantitas
dan harga

: adalah daftar kuantitas yang telah diisi harga satuan


dan jumlah biaya keseluruhannya yang merupakan
bagian dari penawaran;

Harga
Perkiraan
Sendiri (HPS)

: adalah perhitungan perkiraan biaya seluruh volume


pekerjaan dikalikan dengan Harga Satuan yang
disusun dan ditetapkan oleh PPK, dikalkulasikan
secara keahlian berdasarkan data yang dapat
dipertanggungjawabkan sudah termasuk biaya umum,
keuntungan pekerjaan, dan beban pajak, serta
digunakan oleh Pokja ULP untuk menilai kewajaran
penawaran termasuk rinciannya;

Pekerjaan
Utama

Mata
Pembayaran
Utama

: adalah jenis pekerjaan yang secara langsung


menunjang terwujudnya dan berfungsinya suatu
konstruksi sesuai peruntukannya yang ditetapkan
sebagaimana tercantum dalam Dokumen Pengadaan;
: adalah mata pembayaran yang pokok dan penting
yang nilai bobot kumulatifnya minimal 80% (delapan
puluh per seratus) dari seluruh nilai pekerjaan,
dihitung mulai dari mata pembayaran yang nilai bobot
nya terbesar yang ditetapkan oleh Pokja ULP dalam
Dokumen Pengadaan;

Harga Satuan
Pekerjaan (HSP)

: adalah harga satu jenis pekerjaan tertentu per satu


satuan tertentu;

Harga Satuan
Dasar (HSD)

: adalah harga satuan komponen dari harga satuan


pekerjaan (HSP) per satu satuan tertentu, misalnya:
a. Upah tenaga kerja (per jam, per hari)
b. Bahan (per m, per m2, per m3, per kg, per
ton)
c. Peralatan (per jam, per hari)

Metode
pelaksanaan
pekerjaan

: adalah metode yang menggambarkan penguasaan


penyelesaian pekerjaan yang sistematis dari awal
sampai akhir meliputi tahapan/urutan pekerjaan
(utama) dan uraian/cara kerja dari masing-masing
jenis kegiatan pekerjaan utama dan penunjang
pekerjaan utama yang dapat dipertanggung jawabkan
secara teknis;

Personil inti

: adalah tenaga ahli atau tenaga teknis yang akan


ditempatkan secara penuh, yang di dalam organisasi
pelaksanaan
posisinya
sebagai
manajemen
pelaksanaan pekerjaan;

Bagian
pekerjaan yang
disubkontrakan

: adalah bagian pekerjaan bukan pekerjaan utama, atau


pekerjaan spesialis yang ditetapkan sebagaimana
tercantum dalam Dokumen Pemilihan, yang
pelaksanaannya
diserahkan
kepada
penyedia
barang/jasa dan disetujui terlebih dahulu oleh PPK;

Masa
Pelaksanaan
(jangka waktu
pelaksanaan)

: adalah jangka waktu untuk melaksanakan pekerjaan


dihitung berdasarkan SPMK sampai dengan serah
terima pertama pekerjaan;

K/L/D/I

: adalah Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat


Daerah/Institusi yang menggunakan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
: adalah Pengguna Anggaran yang merupakan pejabat
pemegang kewenangan penggunaan anggaran
Kementerian/Lembaga/Satuan
Kerja
Perangkat
Daerah atau Pejabat yang disamakan pada Institusi
Pengguna APBN.

PA

KPA

: adalah Kuasa Pengguna Anggaran yang merupakan


pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk menggunakan
APBN.

ULP

: adalah Unit Layanan Pengadaan yang dibentuk oleh

Menteri/Pimpinan
Institusi
yang
berfungsi
melaksanakan pengadaan barang/jasa yang bersifat
permanen. ULP dapat berdiri sendiri atau melekat
pada unit yang sudah ada;
Pokja ULP

: adalah Kelompok Kerja ULP perangkat dari ULP yang


disusun dan ditetapkan oleh Kepala ULP berfungsi
untuk melaksanakan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa.

PPK

: adalah Pejabat Pembuat Komitmen yang bertanggung


jawab atas pelaksanaan pekerjaan;

SPPBJ

: adalah Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa yang


diterbitkan oleh PPK kepada penyedia barang/jasa
untuk melaksanakan pekerjaan;

TKDN

: adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri besarnya


komponen dalam negeri pada barang, jasa, dan
gabungan barang dan jasa;

RK3K

: adalah Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Kontrak, merupakan dokumen lengkap rencana
penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang PU dan
merupakan satu kesatuan dengan dokumen kontrak
suatu pekerjaan konstruksi, yang dibuat oleh Penyedia
Jasa dan disetujui oleh Pengguna Jasa, untuk
selanjutnya dijadikan sebagai sarana interaksi antara
Penyedia Jasa dengan Pengguna Jasa dalam
penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang PU;
Kewajaran Harga : adalah pengklarifikasian atau pengevaluasian harga
dalam penawaran yang nilainya di bawah 80%
(delapan puluh persen) HPS dengan meneliti dan
menilai konsistensi rincian/uraian Analisa Harga
Satuan
Pekerjaan
Utama
terhadap
syarat
teknis/spesifikasi sehingga tidak terjadi penyimpangan
yang
mempengaruhi
lingkup,
kualitas,
dan
hasil/kinerja serta diyakini dapat menyelesaikan
pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan;

D. Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi ini dibiayai dari sumber pendanaan


sebagaimana tercantum dalam LDP.
E.

Pelelangan Umum ini terbuka dan dapat diikuti oleh semua peserta yang
berbentuk badan usaha tunggal atau kemitraan/KSO.

BAB II
INSTRUKSI KEPADA PESERTA (IKP)
A. Umum
1. Lingkup
Pekerjaan

2. Sumber Dana
3. Peserta

1.1

Pokja ULP mengumumkan kepada para peserta


untuk menyampaikan penawaran atas paket
pekerjaan konstruksi sebagaimana tercantum
dalam LDP.

1.2

Nama paket dan lingkup pekerjaan sebagaimana


tercantum dalam LDP.

1.3

Penyedia yang ditunjuk berkewajiban untuk


menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu
sebagaimana tercantum dalam LDP, berdasarkan
syarat umum dan syarat khusus kontrak dengan
mutu sesuai spesifikasi teknis dan harga yang
tercantum dalam kontrak.

Pengadaan ini dibiayai dari sumber


sebagaimana tercantum dalam LDP.
3.1

pendanaan

Pelelangan Umum pekerjaan konstruksi ini


terbuka dan dapat diikuti oleh semua peserta
penyedia pelaksana konstruksi tunggal atau
kemitraan/KSO yang memenuhi kualifikasi.

3.2

Kemitraan/KSO dilakukan sebelum memasukkan


dokumen penawaran, antar badan usaha
pelaksana konstruksi swasta dan/atau milik
pemerintah, dan/atau salah satu pesertanya
BUJKA.

3.3

Dalam hal peserta melakukan kemitraan/KSO,


baik dengan perusahaan nasional maupun asing
maka peserta harus memiliki Perjanjian
Kemitraan/Kerja Sama Operasi yang memuat
persentase kemitraan/KSO dan perusahaan yang
mewakili kemitraan/KSO tersebut.

3.4

Kemitraan/KSO harus terdiri dari perusahaan


nasional untuk nilai pekerjaan di bawah
Rp.100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah)

3.5

Peserta kemitraan/KSO dilarang mengubah


Perjanjian Kemitraan/Kerja Sama Operasi selama
proses pelelangan.

4.

Larangan Korupsi,
Kolusi, dan
Nepotisme (KKN),
Penyalahgunaan
Wewenang serta
Penipuan.

4.1

Peserta dan pihak yang terkait dengan pengadaan


ini berkewajiban untuk mematuhi etika
pengadaan dengan tidak melakukan tindakan
sebagai berikut :
a. berusaha mempengaruhi anggota Pokja ULP
dalam bentuk dan cara apapun, untuk
memenuhi
keinginan
peserta
yang
bertentangan dengan Dokumen Pengadaan,
dan/atau peraturan perundang-undangan.;
b. melakukan persekongkolan dengan peserta
lain untuk mengatur hasil [dipilih Pelelangan
Umum], sehingga mengurangi/ menghambat/
memperkecil/ meniadakan persaingan yang
sehat dan/atau merugikan pihak lain
sebagaimana
diatur
dalam
peraturan
perundang-undangan.
Indikasi persekongkolan antar peserta
memenuhi sekurang-kurangnya 2 (dua)
indikasi di bawah ini:
1) terdapat kesamaan dalam Dokumen
Penawaran, antara lain pada: metode
kerja, bahan, alat, analisa pendekatan
teknis, koefisien, harga satuan dasar
upah, bahan dan alat, harga satuan
pekerjaan, dan/ atau spesifkasi teknis/
barang yang ditawarkan (merk/ tipe/
jenis) dan/ atau dukungan teknis;
2) seluruh
penawaran
mendekati HPS;

dari

peserta

3) adanya keikutsertaan beberapa Penyedia


Barang/Jasa yang berada dalam 1 (satu)
kendali;
4) adanya kesamaan/kesalahan isi dokumen
penawaran, antara lain kesamaan/
kesalahan pengetikan, susunan, dan
format penulisan; atau
5) jaminan penawaran dikeluarkan dari
penjamin yang sama dengan nomor seri
yang berurutan.
c. membuat dan/atau menyampaikan dokumen
dan/atau keterangan lain yang tidak benar
untuk
memenuhi
persyaratan
dalam
Dokumen Pengadaan ini.

4.2

Peserta yang menurut penilaian Pokja ULP


terbukti melakukan tindakan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 4.1 dikenakan sanksi
sebagai berikut :
a. sanksi administratif, seperti digugurkan dari
proses Pelelangan Umum atau pembatalan
penetapan pemenang;
b. sanksi pencantuman dalam Daftar Hitam;
c. gugatan secara perdata; dan/atau
d. pelaporan secara
berwenang.

5.

Larangan
Pertentangan
Kepentingan

pidana

kepada

pihak

4.3

Pengenaan sanksi dilaporkan oleh Pokja ULP


kepada PA/KPA.

5.1

Para pihak dalam melaksanakan tugas, fungsi


dan perannya, dilarang memiliki/melakukan
peran ganda atau terafiliasi.

5.2

Peran ganda sebagaimana dimaksud pasal 5.1


antara lain meliputi :
a. Seorang anggota Direksi atau Dewan
Komisaris suatu Badan Usaha merangkap
sebagai anggota Direksi atau Dewan
Komisaris pada Badan Usaha lainnya yang
menjadi peserta pada Pelelangan pekerjaan
yang sama;
b. Penyedia yang telah ditunjuk sebagai
konsultan manajemen konstruksi berperan
sebagai konsultan perencana dan/atau
konsultan pengawas;
c. Penyedia yang telah ditunjuk sebagai
konsultan perencana/ pengawas bertindak
sebagai pelaksana Pekerjaan Konstruksi yang
direncanakannya/diawasinya, kecuali dalam
pelaksanaan Kontrak Pengadaan Pekerjaan
Terintegrasi;
d. pengurus koperasi pegawai dalam suatu
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/
Institusi atau anak perusahaan pada
BUMN/BUMD yang mengikuti Pengadaan
dan bersaing dengan perusahaan lainnya,
merangkap sebagai anggota Pokja ULP atau
pejabat
yang
berwenang
menetapkan
pemenang Pelelangan.
e. PPK dan/atau anggota Pokja ULP, baik
langsung
maupun
tidak
langsung
mengendalikan atau menjalankan perusahaan
peserta;

f. Hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang


dikendalikan, baik langsung maupun tidak
langsung oleh pihak yang sama yaitu lebih
dari 50% (lima puluh per seratus) pemegang
saham.
6. Pendayagunaan 6.1
Produksi Dalam
Negeri

Peserta berkewajiban untuk menyampaikan


penawaran yang mengutamakan pekerjaan
konstruksi yang dilaksanakan di Indonesia oleh
tenaga Indonesia (produksi dalam negeri).

6.2

Dalam
pelaksanaan
pekerjaan
konstruksi
dimungkinkan menggunakan bahan baku, tenaga
ahli, dan perangkat lunak yang tidak berasal dari
dalam negeri (impor) dengan ketentuan:
a. pemilahan atau pembagian komponen harus
benar-benar mencerminkan bagian atau
komponen yang telah dapat diproduksi di
dalam negeri dan bagian atau komponen
yang masih harus diimpor;
b. komponen berupa bahan baku belum
diproduksi di dalam negeri dan/atau
spesifikasi teknis bahan baku yang diproduksi
di dalam
negeri
belum
memenuhi
persyaratan;
c. pekerjaan pemasangan, pabrikasi, pengujian
dan lainnya sedapat mungkin dilakukan di
dalam negeri;
d. semaksimal mungkin menggunakan jasa
pelayanan yang ada di dalam negeri, seperti
jasa asuransi, angkutan, ekspedisi, perbankan,
dan pemeliharaan;
e. penggunaan tenaga ahli asing dilakukan
semata-mata untuk mencukupi kebutuhan
jenis keahlian yang belum dapat diperoleh di
Indonesia, disusun berdasarkan keperluan
yang nyata, dan diusahakan secara terencana
untuk semaksimal mungkin terjadinya alih
pengalaman/keahlian dari tenaga ahli asing
tersebut ke tenaga Indonesia; dan
f. peserta diwajibkan membuat daftar Barang
yang diimpor yang dilengkapi dengan
spesifikasi teknis, jumlah dan harga yang
dilampirkan pada Dokumen Penawaran.

6.3

Pemberian preferensi harga terhadap penawaran


peserta atas penggunaan produksi dalam negeri
ditetapkan dalam LDP.

7. Satu Penawaran 7.1


Tiap Peserta

Setiap peserta, baik atas nama sendiri maupun


sebagai anggota kemitraan/KSO hanya boleh

memasukkan satu penawaran untuk satu paket


pekerjaan.
7.2

Setiap
peserta
yang
termasuk
dalam
kemitraan/KSO dilarang menjadi peserta baik
secara sendiri maupun sebagai anggota
kemitraan/KSO yang lain pada paket pekerjaan
yang sama.

B. Dokumen Pengadaan
8. Pengambilan
Dokumen
Pengadaan

9. Isi Dokumen
Pengadaan
Pekerjaan
Konstruksi

8.1

Semua peserta wajib melakukan pendaftaran


sebelum mengambil Dokumen Pengadaan.

8.2

Peserta dapat mengambil Dokumen Pengadaan


sesuai hari, tanggal, waktu dan tempat
pengambilan
yang
ditentukan
dalam
pengumuman.

8.3

Seseorang dilarang mewakili lebih dari 1 (satu)


perusahaan dalam pendaftaran dan pengambilan
dokumen.

9.1

Dokumen Pengadaan Pekerjaan Konstruksi terdiri


dari Dokumen Pemilihan dan Dokumen
Kualifikasi.

9.2

Dokumen Pemilihan terdiri atas:


a. Umum
b. Instruksi Kepada Peserta;
c. Lembar Data Pemilihan;
d. Contoh
Bentuk
meliputi:

Dokumen

Penawaran

1) Surat Penawaran;
2) Surat Kuasa;
3) Surat Perjanjian Kemitraan/Kerja Sama
Operasi (KSO);
4) Dokumen Penawaran Teknis;
5) Formulir Rekapitulasi Perhitungan TKDN;
6) Jaminan Penawaran;
e. Contoh Bentuk Rancangan Kontrak meliputi:
1) Surat Perjanjian/Pokok Perjanjian;
2) Syarat-Syarat Umum Kontrak;
3) Syarat-Syarat Khusus Kontrak;
f. Daftar Kuantitas dan Harga;
g. Formulir RK3K; dan
h. Contoh Bentuk Dokumen Lain meliputi:
1) Pengumuman Pelelangan;

2) SPPBJ;
3) SPMK;
4) Jaminan Sanggahan Banding;
5) Jaminan Pelaksanaan;
6) Jaminan Uang Muka;
7) Jaminan Pemeliharaan;
8) Daftar Barang yang diimpor.
9.3

Isi Dokumen Kualifikasi meliputi :


a. Lembar Data Kualifikasi;
b. Pakta Integritas;
c. Formulir Isian Kualifikasi;
d. Petunjuk Pengisian Formulir Isian Kualifikasi;
e. Tata Cara Evaluasi Kualifikasi.

9.4

Peserta berkewajiban memeriksa keseluruhan isi


Dokumen Pengadaan. Kelalaian menyampaikan
Dokumen Penawaran yang tidak memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam Dokumen
Pengadaan sepenuhnya merupakan risiko
peserta.

9.5

Peserta dapat meminta penjelasan secara tertulis


mengenai isi Dokumen Pengadaan kepada Pokja
ULP sebelum batas akhir pemasukan penawaran.

9.6

Pokja ULP wajib menanggapi setiap permintaan


penjelasan yang diajukan peserta secara tertulis.

10. Bahasa
Dokumen
Pengadaan

Dokumen Pengadaan beserta seluruh korespondensi


tertulis dalam proses Pengadaan menggunakan Bahasa
Indonesia.

11. Pemberian
Penjelasan

11.1

Pemberian penjelasan dilakukan pada waktu dan


tempat sebagaimana tercantum dalam LDP serta
dapat dihadiri oleh peserta yang terdaftar.

11.2 Ketidakhadiran peserta pada saat pemberian


penjelasan tidak dapat dijadikan dasar untuk
menolak/menggugurkan penawaran.
11.3 Perwakilan peserta yang hadir pada saat
pemberian penjelasan menunjukkan tanda
pengenal dan surat tugas kepada Pokja ULP.
11.4 Dalam pemberian penjelasan, Pokja
menjelaskan kepada peserta mengenai :
a.
b.
c.
d.

ULP

lingkup pekerjaan;
metode pemilihan [dipilih Pelelangan Umum];
metode pemasukan Dokumen Penawaran;
kelengkapan yang harus dilampirkan bersama

10

Dokumen Penawaran;
e. jadwal batas akhir pemasukan Dokumen
Penawaran dan pembukaan Dokumen
Penawaran;
f. tatacara pembukaan Dokumen Penawaran;
g. metode evaluasi;
h. hal-hal yang menggugurkan penawaran;
i. jenis kontrak yang akan digunakan;
j. ketentuan dan cara evaluasi berkenaan
dengan preferensi harga atas penggunaan
produksi dalam negeri;
k. ketentuan tentang penyesuaian harga;
l. risiko K3 yang mungkin timbul akibat
pekerjaan termasuk kondisi dan bahaya;
m. ketentuan dan cara sub kontrak sebagian
pekerjaan kepada Usaha Mikro dan Usaha
Kecil serta koperasi kecil;
n. besaran, masa berlaku dan penjamin yang
dapat menerbitkan jaminan; dan
o. ketentuan
tentang
asuransi,
asuransi
pekerjaan.
11.5 Apabila diperlukan, Pokja ULP dapat memberikan
penjelasan lanjutan dengan cara melakukan
peninjauan lapangan. Biaya peninjauan lapangan
dan keperluan peserta ditanggung masingmasing.
11.6 Pemberian penjelasan mengenai isi Dokumen
Pengadaan, pertanyaan dari peserta, jawaban
dari Pokja ULP, perubahan substansi dokumen,
hasil peninjauan lapangan, serta keterangan
lainnya harus dituangkan dalam Berita Acara
Pemberian
Penjelasan
(BAPP)
yang
ditandatangani oleh anggota Pokja ULP dan
minimal 1 (satu) wakil dari peserta yang hadir.
11.7

Apabila tidak ada satupun peserta yang hadir


atau yang bersedia menandatangani BAPP, maka
BAPP cukup ditandatangani oleh anggota Pokja
ULP yang hadir.
11.8 Apabila dalam BAPP sebagaimana dimaksud pada
11.6 terdapat hal-hal/ketentuan baru atau
perubahan penting yang perlu ditampung, maka
Pokja ULP menuangkan ke dalam Adendum
Dokumen Pengadaan yang menjadi bagian tidak
terpisahkan dari Dokumen Pengadaan.
11.9 Perubahan rancangan kontrak, spesifikasi teknis,
gambar, dan/atau nilai total HPS, harus
mendapatkan
persetujuan
PPK
sebelum
dituangkan
dalam
Adendum
Dokumen
Pemilihan.

11

11.10 Apabila ketentuan baru atau perubahan penting


tersebut tidak dituangkan dalam Adendum
Dokumen Pengadaan, maka ketentuan baru atau
perubahan tersebut dianggap tidak ada dan
ketentuan yang berlaku adalah ketentuan dalam
Dokumen Pengadaan awal.
11.11 Peserta diberitahu oleh Pokja ULP untuk
mengambil salinan BAPP dan/atau Adendum
Dokumen Pengadaan (apabila ada).
11.12 Peserta dapat mengambil salinan BAPP dan/atau
Adendum Dokumen Pengadaan yang disediakan
oleh Pokja ULP atau mengunduh melalui website
Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan
Rakyat (www.pu.go.id).
11.13 Sangat dianjurkan kepada peserta untuk
menghadiri pemberian penjelasan pekerjaan di
kantor dan peninjauan lapangan agar dapat
menyiapkan penawarannya dengan baik.
12. Perubahan
Dokumen
Pengadaan

12.1

Setelah Pemberian Penjelasan dan sebelum batas


akhir pemasukan penawaran, Pokja ULP dapat
menetapkan Adendum Dokumen Pengadaan,
berdasarkan informasi baru yang mempengaruhi
ketentuan
pemilihan
maupun
substansi
Dokumen Pengadaan.
12.2 Setiap Adendum yang ditetapkan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Dokumen
Pengadaan.
12.3 Peserta diberitahu oleh Pokja ULP untuk
mengambil
salinan
Adendum
Dokumen
Pengadaan.
12.4 Peserta dapat mengambil salinan Adendum
Dokumen Pengadaan yang disediakan oleh Pokja
ULP atau mengunduhnya melalui website
Kementerian Kementerian Pekerjaan Umum Dan
Perumahan Rakyat (www.pu.go.id).

13. Tambahan
Waktu
Pemasukan
Dokumen
Penawaran

Dalam Adendum Dokumen Pengadaan, Pokja ULP dapat


memberikan tambahan waktu untuk memasukkan
Dokumen Penawaran.

C. Penyiapan Dokumen Penawaran


14. Biaya dalam
Penyiapan
Penawaran

14.1 Peserta menanggung semua biaya


penyiapan dan penyampaian penawaran.

dalam

15. Bahasa
Penawaran

15.1 Semua Dokumen Penawaran harus menggunakan


Bahasa Indonesia.

14.2 Pokja ULP tidak bertanggung jawab atas kerugian


apapun yang ditanggung oleh peserta.

15.2 Dokumen

pendukung

yang

terkait

dengan

12

Dokumen Penawaran dapat menggunakan Bahasa


Indonesia atau bahasa asing.

16. Dokumen
Penawaran

15.3

Dokumen pendukung yang berbahasa asing perlu


disertai penjelasan dalam Bahasa Indonesia.
Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran, maka
yang berlaku adalah penjelasan dalam Bahasa
Indonesia.

16.1

Dokumen Penawaran
kurang terdiri atas:

pokok/utama

paling

a. Penawaran Administrasi;
b. Penawaran Teknis;
c. Penawaran Harga; dan
d. Dokumen Isian Kualifikasi.
16.2 Dokumen Penawaran, meliputi :
a. surat penawaran;
b. Jaminan Penawaran asli;
c. daftar kuantitas dan harga;
d. surat kuasa dari direktur utama/pimpinan
perusahaan kepada penerima kuasa yang
namanya tercantum dalam akta pendirian
atau perubahannya (apabila dikuasakan);
e. surat perjanjian kemitraan/kerja
operasi (apabila bermitra);
f.

sama

dokumen penawaran teknis.

g. RK3K;
h. rekapitulasi perhitungan TKDN;

17. Harga
Penawaran

i.

dokumen isian kualifikasi; dan

j.

dokumen lain, seperti: Daftar Barang yang


diimpor (apabila impor).

17.1 Harga penawaran ditulis dengan jelas dalam


angka dan huruf.
17.2

Peserta mencantumkan harga kegiatan/keluaran


dan harga total untuk setiap kegiatan pekerjaan
dalam kebutuhan biaya (daftar kegiatan dan
harga) dapat dalam setiap mata pembayaran yang
pokok (milestone) atau dalam rincian. Jika harga
kegiatan/keluaran ditulis nol atau tidak
dicantumkan, maka pekerjaan tersebut tetap
harus dilaksanakan. Harga penawaran yang
mengikat adalah harga total penawaran
terkoreksi.

17.3

Biaya overhead termasuk untuk penyelenggaraan


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan
keuntungan serta semua pajak, bea, retribusi, dan
13

pungutan lain serta biaya asuransi yang harus


dibayar oleh penyedia untuk pelaksanaan paket
pekerjaan konstruksi ini telah diperhitungkan
dalam total harga penawaran.
18. Mata Uang
Penawaran
dan Cara
Pembayaran

18.1

19. Masa Berlaku


Penawaran

19.1

Semua harga dalam penawaran harus dalam


bentuk mata uang sebagaimana tercantum dalam
LDP.

18.2 Pembayaran
atas
pelaksanaan
pekerjaan
dilakukan sesuai dengan cara sebagaimana
tercantum dalam LDP dan diuraikan dalam
Syarat-Syarat Umum/Khusus Kontrak.
Masa berlaku penawaran sebagaimana tercantum
dalam LDP.

19.2 Apabila evaluasi belum selesai dilaksanakan,


sebelum akhir masa berlakunya penawaran, Pokja
ULP dapat meminta kepada seluruh peserta secara
tertulis untuk memperpanjang masa berlakunya
penawaran tersebut dalam jangka waktu tertentu
dan diperhitungkan paling kurang sampai
perkiraan tanggal penandatanganan kontrak.
19.3 Berkaitan dengan 19.2, maka peserta dapat :
a. menyetujui
permintaan
tersebut
mengubah penawaran; atau

tanpa

b. Tidak
bersedia
memperpanjang
sesuai
permintaan
tersebut
dan
dianggap
mengundurkan diri, serta tidak dikenakan
sanksi.
20. Bentuk
Dokumen
Penawaran

Dokumen Penawaran disampaikan secara elektronik, dan


penyerahan dokumen penawaran asli hanya dilakukan
terhadap penawaran yang akan diusulkan sebagai calon
pemenang dan calon pemenang cadangan (apabila ada).

21. Pakta
Integritas

21.1

Pakta Integritas berisi ikrar untuk mencegah dan


tidak melakukan dan akan melaporkan terjadinya
kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) termasuk
penyalahgunaan wewenang dalam pengadaan
pekerjaan konstruksi.

21.2 Pakta Integritas dimasukkan dalam Dokumen


Isian Kualifikasi dan menjadi bagian Dokumen
Penawaran.
22.1 Peserta berkewajiban untuk melengkapi dan
22. Pengisian
menandatangani Pakta Integritas serta mengisi
Dokumen Isian
Formulir Isian Kualifikasi.
Kualifikasi
22.2

Pakta Integritas dan Formulir Isian Kualifikasi


ditandatangani oleh:
a. direktur utama/pimpinan perusahaan;
b. penerima kuasa dari direktur utama/pimpinan
perusahaan yang nama penerima kuasanya
tercantum dalam akta pendirian atau

14

perubahannya;
c. kepala cabang perusahaan yang diangkat oleh
kantor pusat yang dibuktikan dengan
dokumen otentik; atau
d. pejabat yang menurut perjanjian kerja sama
berhak mewakili perusahaan yang bekerja
sama.
23. Jaminan
Penawaran

23.1 Penggunaan jaminan penawaran:


a. Paket
pekerjaan
sampai
dengan
Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus
juta rupiah) tidak diperlukan jaminan
penawaran
dan
tidak
bersyarat
(unconditional).
b. Paket
pekerjaan
di
sampai
Rp
50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)
menggunakan surat jaminan yang dikeluarkan
oleh Bank Umum/ Perusahaan Penjamin/
Perusahaan Asuransi,
bersifat
mudah
dicairkan
dan
tidak
bersyarat
(unconditional), serta diserahkan oleh
Penyedia Barang/Jasa kepada Kelompok Kerja
ULP.
23.2

Jaminan penawaran asli bagi penyedia jasa yang


mengikuti pengadaan secara elektronik wajib
diterima Pokja ULP sebelum batas waktu
pemasukan penawaran berakhir.

23.3

Peserta menyerahkan Jaminan Penawaran dalam


mata uang penawaran sebagaimana tercantum
dalam LDP.

23.4

Jaminan Penawaran memenuhi ketentuan sebagai


berikut:
a. diterbitkan oleh Bank Umum, perusahaan
penjaminan atau perusahaan asuransi yang
mempunyai program asuransi kerugian
(suretyship) sebagaimana ditetapkan oleh
Menteri Keuangan;
b. Jaminan Penawaran dimulai sejak tanggal
terakhir pemasukan penawaran dan masa
berlakunya tidak kurang dari waktu
sebagaimana tercantum dalam LDP;
c. nama peserta sama dengan nama yang
tercantum dalam Jaminan Penawaran;
d. besaran nilai Jaminan Penawaran tidak kurang
dari nilai nominal sebagaimana tercantum
dalam LDP;

15

e. besaran
nilai
Jaminan
Penawaran
dicantumkan dalam angka dan huruf;
f. nama Pokja ULP yang menerima Jaminan
Penawaran sama dengan nama Pokja ULP yang
mengadakan pelelangan;
g. paket pekerjaan yang dijamin sama dengan
paket pekerjaan yang dilelangkan;
h. Jaminan Penawaran harus dapat dicairkan
tanpa syarat (unconditional) sebesar nilai
Jaminan dalam waktu paling lambat
14 (empat belas) hari kerja, setelah surat
pernyataan wanprestasi dari Pokja ULP
diterima oleh Penerbit Jaminan; dan
i. Jaminan Penawaran atas nama perusahaan
kemitraan (Kerja Sama Operasi/KSO) harus
ditulis atas nama perusahaan kemitraan/KSO
23.5

Jaminan Penawaran dari pemenang lelang dan


pemenang cadangan akan dikembalikan setelah
pemenang
lelang
menyerahkan
Jaminan
Pelaksanaan dan menandatangani kontrak.

23.6 Jaminan Penawaran dari peserta yang tidak


ditetapkan sebagai pemenang lelang dan
pemenang cadangan akan dikembalikan setelah
penandatanganan kontrak.
23.7

Jaminan Penawaran akan disita dan dicairkan


apabila sebagai:
a. peserta terlibat KKN;
b. peserta menarik kembali penawarannya
selama dilaksanakannya pelelangan;
c. tidak bersedia menambah nilai Jaminan
Pelaksanaan dalam hal sebagai calon
pemenang dan calon pemenang cadangan 1
dan 2 harga penawarannya di bawah 80%
HPS;
d. tidak hadir dalam klarifikasi dan/atau
verifikasi kualifikasi dalam hal sebagai calon
pemenang dan calon pemenang cadangan 1
dan 2 dengan alasan yang tidak dapat
diterima; atau
e. calon pemenang dan calon pemenang
cadangan 1 dan 2 mengundurkan diri atau
gagal tanda tangan kontrak.

D. Dokumen Penawaran
24. Pemasukan
dan Cara
Penyampaian
Dokumen

24.1 Pemasukan
Dokumen
Penawaran
menggunakan metode 1 (satu) sampul.
24.2 Peserta

menyampaikan

dokumen

dengan

penawaran

16

Penawaran

dengan cara mengunggah pada sistem pengadaan


secara elektronik melalui website Kementerian
Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
bersangkutan sesuai ketentuan dalam LDP.

25. Batas Akhir


Pemasukan
Penawaran

Penawaran harus disampaikan kepada Pokja ULP melalui


sistem pengadaan secara elektronik melalui website
Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
bersangkutan paling lambat pada waktu yang ditentukan
dalam LDP.

E.

Pembukaan dan Evaluasi Penawaran

26. Pembukaan
Penawaran

26.1

Dokumen Penawaran dibuka di hadapan peserta


pada waktu dan tempat sebagaimana tercantum
dalam LDP yang dihadiri paling kurang 2 (dua)
peserta sebagai saksi.

26.2

Perwakilan peserta yang hadir pada saat pembukaan


Dokumen Penawaran menunjukkan tanda pengenal
dan surat tugas kepada Pokja ULP.

26.3

Apabila tidak ada peserta atau hanya ada 1 (satu)


peserta sebagai saksi, maka Pokja ULP menunda
pembukaan Dokumen Penawaran selama 2 (dua)
jam.

26.4

Apabila setelah ditunda selama 2 (dua) jam, hanya


ada 1 (satu) atau tidak ada peserta sebagai saksi,
maka pembukaan Dokumen Penawaran tetap
dilanjutkan dengan menunjuk saksi tambahan di
luar Pokja ULP yang ditunjuk oleh Pokja ULP.

26.5

Dinyatakan sebagai penawaran yang masuk apabila


dokumen penawaran pokok/utama sebagaimana
dimaksud pada 16.1 terpenuhi. Surat pengunduran
diri (misalnya) tidak termasuk sebagai penawaran.

26.6 Apabila jumlah penawaran yang masuk kurang dari


3 (tiga) maka pelelangan dinyatakan gagal.
26.7 Pokja ULP membuka
dihadapan peserta.
26.8

Dokumen

Penawaran

Pokja ULP memeriksa dan menunjukkan dihadapan


para peserta mengenai kelengkapan/pemenuhan
Dokumen Penawaran yang meliputi :
a. surat penawaran yang didalamnya tercantum
masa berlaku penawaran dan harga penawaran;
b. surat kuasa dari direktur utama/pimpinan
perusahaan kepada penerima kuasa (apabila
dikuasakan);
c. Jaminan Penawaran asli;
d. daftar kuantitas dan harga;
e. surat perjanjian kemitraan/kerja sama operasi
(apabila bermitra);

17

f. dokumen penawaran teknis;


g. formulir rekapitulasi perhitungan TKDN;
h. formulir RK3K;
i. dokumen isian kualifikasi; dan
j. dokumen lain yang dipersyaratkan seperti:
Daftar barang yang diimpor (apabila impor).
26.9 Pokja ULP tidak boleh menggugurkan penawaran
pada waktu pembukaan penawaran.
26.10 Pokja ULP membuat Berita Acara Pembukaan
Penawaran yang paling kurang memuat :
a. jumlah Dokumen Penawaran yang masuk;
b. jumlah Dokumen Penawaran yang lengkap dan
tidak lengkap;
c. harga penawaran masing-masing peserta;
d. kelainan-kelainan
yang
dijumpai
Dokumen Penawaran (apabila ada);

dalam

e. keterangan
lain
yang
dijumpai
dalam
pembukaan Dokumen Penawaran (apabila ada);
f. tanggal pembuatan Berita Acara; dan
g. tanda tangan anggota Pokja ULP dan wakil
peserta yang hadir atau saksi yang ditunjuk oleh
Pokja ULP apabila tidak ada saksi dari peserta.
26.11 Dalam hal terjadi penundaan waktu pembukaan
penawaran, maka penyebab penundaan tersebut
harus dimuat dengan jelas dalam Berita Acara.
26.12 Setelah dibacakan dengan jelas, Berita Acara
ditandatangani oleh anggota Pokja ULP yang hadir
dan 2 (dua) orang saksi.
26.13 Berita Acara dilampiri Dokumen Penawaran.
26.14 Salinan Berita Acara dibagikan kepada peserta yang
hadir tanpa dilampiri Dokumen Penawaran dan
Pokja ULP dapat mengunggah salinan tersebut
melalui website Kementerian Pekerjaan Umum Dan
Perumahan Rakyat sebagaimana tercantum dalam
LDP yang dapat diunduh oleh masing-masing
peserta.
27. Klarifikasi Dan
Konfirmasi
Penawaran

27.1

Dalam mengevaluasi dokumen penawaran, Pokja


ULP dapat melakukan klarifikasi terhadap hal-hal
yang tidak jelas dalam dokumen penawaran. Peserta
harus memberikan tanggapan atas klarifikasi.
Klarifikasi tidak boleh mengubah substansi dan
harga penawaran. Klarifikasi dan tanggapan atas
klarifikasi harus dilakukan secara tertulis.

27.2

Terhadap hal-hal yang diragukan berkaitan dengan


dokumen penawaran, Pokja ULP dapat melakukan
konfirmasi kebenarannya termasuk peninjauan
18

lapangan kepada pihak-pihak/instansi terkait.


27.3

Hasil klarifikasi/konfirmasi dapat menggugurkan


penawaran.

Dalam keadaan khusus, Pokja ULP berhak membatalkan


28. Hak Menolak
atau Menerima proses pelelangan, menerima atau menolak penawaran
atau
semua
penawaran
setiap
saat
sebelum
Penawaran
penandatanganan kontrak, dan tidak dapat diminta
bertanggung jawab apapun kepada penawar atau
berkewajiban untuk menginformasikan kepada penawar
alasan dari tindakan tersebut. Dalam hal pembatalan,
semua penawaran khususnya jaminan penawaran segera
dikembalikan kepada penawar.
29. Evaluasi
Penawaran

29.1 Evaluasi penawaran dilakukan dengan sistem gugur.


29.2

Data yang digunakan Pokja ULP dalam evaluasi


dokumen penawaran adalah data yang diunggah
(upload) pada sistem pengadaan secara elektronik,
sesuai dengan data syarat-syarat yang tertulis dalam
dokumen pengadaan.

29.3

Dalam hal terdapat lebih dari satu data dokumen


elektronik berbeda isi dan tidak saling melengkapi
serta tidak ada keterangan penarikan, penggantian,
pengubahan, atau penambahan dokumen, maka
dokumen yang digunakan untuk evaluasi adalah
dokumen yang diupload paling akhir. Tetapi jika
waktu uploadnya sama maka yang digunakan
adalah dokumen yang waktu modifikasinya paling
akhir.

29.4 Data dokumen elektronik yang rusak (sesudah


mendapat klarifikasi dari LPSE)/Kementerian
Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat akibat
kesalahan pengiriman dokumen oleh Penyedia Jasa,
yang mengakibatkan dokumen
tersebut
tidak
dapat dilakukan evaluasi oleh Pokja ULP, maka
dokumen elektronik tersebut dinyatakan tidak
memenuhi syarat.
29.5 Sebelum evaluasi penawaran, dilakukan koreksi
aritmatik dengan ketentuan :
a. volume pekerjaan yang tercantum dalam daftar
kuantitas dan harga disesuaikan dengan yang
tercantum dalam Dokumen Pengadaan;
b. apabila terjadi kesalahan hasil perkalian antara
volume dengan harga satuan pekerjaan, maka
dilakukan pembetulan, dengan ketentuan harga
satuan pekerjaan yang ditawarkan tidak boleh
diubah;
c. jenis pekerjaan yang tidak diberi harga satuan
dianggap sudah termasuk dalam harga satuan

19

pekerjaan yang lain dan harga satuan pada


daftar kuantitas dan harga tetap dibiarkan
kosong;
d. Jenis pekerjaan yang tidak tercantum dalam
daftar kuantitas dan harga disesuaikan dengan
jenis pekerjaan yang tercantum dalam Dokumen
Pemilihan dan harga satuan pekerjaan dimaksud
dianggap nol serta sudah termasuk dalam harga
satuan pekerjaan yang lain serta dilakukan
klarifikasi.
29.6 Hasil koreksi aritmatik dapat mengubah nilai
penawaran sehingga urutan peringkat dapat
menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari urutan
peringkat semula.
29.7

Penawaran setelah koreksi aritmatik yang melebihi


nilai total HPS dinyatakan gugur.

29.8 Berdasarkan hasil koreksi aritmatik Pokja ULP


menyusun urutan dimulai dari nilai penawaran
terendah terkoreksi.
29.9

Hasil koreksi aritmatik diumumkan melalui website


Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan
Rakyat sebagaimana tercantum dalam LDP.

29.10 Pelaksanaan evaluasi dengan sistem gugur dilakukan


oleh Pokja ULP untuk mendapatkan 3 (tiga)
penawaran yang memenuhi syarat yang dimulai
dari penawaran terendah setelah koreksi aritmatik.
29.11 Apabila setelah koreksi aritmatik terdapat kurang
dari 3 (tiga) penawar yang menawar harga di
bawah HPS maka proses lelang tetap dilanjutkan
dengan melakukan evaluasi penawaran.
29.12 Pokja ULP melakukan evaluasi penawaran yang
meliputi :
a. evaluasi administrasi;
b. evaluasi teknis; dan
c. evaluasi harga.
29.13 Ketentuan umum dalam melakukan evaluasi sebagai
berikut :
a. Pokja ULP dilarang menambah, mengurangi,
mengganti dan/atau mengubah kriteria dan
persyaratan yang telah ditetapkan dalam
Dokumen Pengadaan;
b. Pokja ULP dan/atau peserta dilarang menambah,
mengurangi, mengganti, dan/atau mengubah isi
Dokumen Penawaran;
c. penawaran yang memenuhi syarat adalah
penawaran yang sesuai dengan ketentuan antara
lain disampaikan oleh penawar yang berhak,
pada waktu yang telah ditentukan, untuk paket

20

pekerjaan yang dilelangkan, memenuhi syaratsyarat yang ditetapkan meliputi syarat


administrasi, syarat teknis dalam menyelesaikan
pekerjaan sesuai dengan spesifikasi teknis yang
ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan dan
harga yang wajar dapat dipertanggung jawabkan
tanpa ada penyimpangan yang bersifat
penting/pokok atau penawaran bersyarat;
d. penyimpangan yang bersifat penting/pokok atau
penawaran bersyarat adalah:
1) penyimpangan dari Dokumen Pengadaan
yang mempengaruhi lingkup, kualitas dan
hasil/kinerja pekerjaan; dan/atau
2) penawaran dari peserta dengan persyaratan
tambahan
yang
akan
menimbulkan
persaingan usaha tidak sehat dan/atau tidak
adil diantara peserta yang memenuhi syarat.
e. para pihak dilarang mempengaruhi atau
melakukan intervensi kepada Pokja ULP selama
proses evaluasi;
f. apabila dalam evaluasi ditemukan bukti adanya
persaingan usaha yang tidak sehat dan/atau
terjadi
pengaturan
bersama
(kolusi/persekongkolan) antara peserta, Pokja
ULP dan/atau PPK, dengan tujuan untuk
memenangkan salah satu peserta, maka:
1) peserta yang ditunjuk sebagai calon
pemenang dan peserta lain yang terlibat
dimasukkan ke dalam Daftar Hitam;
2) anggota Pokja ULP dan/atau PPK yang
terlibat persekongkolan diganti, dikenakan
sanksi administrasi dan/atau pidana;
3) proses evaluasi tetap dilanjutkan dengan
menetapkan peserta lainnya yang tidak
terlibat (apabila ada); dan
4) apabila tidak ada peserta lain sebagaimana
dimaksud pada angka 3), maka pelelangan
dinyatakan gagal.
29.14 Evaluasi Administrasi :
a. penawaran dinyatakan memenuhi persyaratan
administrasi, apabila :
1) syarat-syarat substansial yang diminta
berdasarkan
Dokumen
Pengadaan
dipenuhi/dilengkapi:
a)

surat penawaran;

b) surat
kuasa
dari
direktur
utama/pimpinan perusahaan kepada
penerima kuasa (apabila dikuasakan);

21

c)

Jaminan Penawaran asli;

d)

Daftar Kuantitas dan Harga;

e)

surat perjanjian kemitraan/kerja sama


operasi (apabila bermitra);

f)

rekapitulasi
perhitungan TKDN
(khusus untuk peserta yang tidak
menyampaikan TKDN, penawarannya
tidak digugurkan dan nilai TKDNnya
dianggap nol);

g) dokumen lainnya (apabila dipersyaratkan, dicantumkan dalam LDP


seperti, daftar barang yang diimpor
(apabila impor); dan
h) dokumen penawaran teknis.
2) memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) surat penawaran memenuhi ketentuan
sebagai berikut :
(1) ditandatangani oleh :
(a) direktur utama
perusahaan;

/ pimpinan

(b) penerima kuasa dari direktur


utama/ pimpinan perusahaan/
pengurus koperasi yang nama
penerima kuasanya tercantum
dalam
akta
pendirian/Anggaran Dasar;
(c) kepala cabang perusahaan
yang diangkat oleh kantor
pusat yang dibuktikan dengan
dokumen otentik; atau
(d) pejabat
yang
menurut
perjanjian kerja sama berhak
mewakili perusahaan yang
bekerja sama.
(2) jangka waktu berlakunya surat
penawaran tidak kurang dari
waktu sebagaimana
tercantum
dalam LDP, dengan ketentuan:
(a) apabila ada perbedaan nilai
penulisan antara angka dan
huruf maka yang diakui adalah
tulisan huruf;
(b) apabila nilai yang tertulis
dalam angka jelas sedangkan

22

nilai dalam huruf tidak jelas,


maka nilai yang diakui adalah
nilai yang tertulis dalam
angka; atau
(c) apabila nilai dalam angka dan
nilai yang tertulis dalam huruf
tidak jelas, maka penawaran
dinyatakan gugur.
(3) Bertanggal.
b) Jaminan Penawaran asli memenuhi
ketentuan sebagai berikut :
(1) diterbitkan oleh Bank Umum,
perusahaan
penjaminan
atau
perusahaan
asuransi
yang
mempunyai
program
asuransi
kerugian (suretyship) sebagaimana
ditetapkan oleh Menteri Keuangan;
(2) Jaminan Penawaran dimulai sejak
tanggal
terakhir
pemasukan
penawaran dan masa berlakunya
tidak
kurang
dari
waktu
sebagaimana tercantum dalam
LDP;
(3) nama peserta sama dengan nama
yang tercantum dalam Jaminan
Penawaran;
(4) besaran nilai Jaminan Penawaran
tidak
kurang
dari
nilai
sebagaimana tercantum dalam
LDP;
(5) besaran nilai Jaminan Penawaran
dicantumkan dalam angka dan
huruf;
(6) nama Pokja ULP yang menerima
Jaminan Penawaran sama dengan
nama Pokja ULP yang mengadakan
pelelangan;
(7) paket pekerjaan yang dijamin sama
dengan paket pekerjaan yang
dilelangkan;
(8) Jaminan Penawaran harus dapat
dicairkan
tanpa
syarat
(unconditional)
sebesar
nilai
Jaminan dalam waktu paling
lambat 14 (empat belas) hari kerja,
setelah
surat
pernyataan
wanprestasi dari Pokja
ULP
diterima oleh Penerbit Jaminan;
(9) Jaminan Penawaran atas nama

23

perusahaan kemitraan (Kerja Sama


Operasi/KSO) harus ditulis atas
nama perusahaan kemitraan/KSO;
(10) Kriteria
pencairan
penawaran
sesuai
persyaratan yaitu:

jaminan
dengan

(a) peserta terlibat KKN ;


(b) peserta
menarik
kembali
penawarannya
selama
dilaksanakannya pelelangan;
(c) tidak bersedia menambah nilai
Jaminan Pelaksanaan dalam
hal sebagai calon pemenang
dan calon pemenang cadangan
1 dan 2 harga penawarannya
di bawah 80% HPS;
(d) tidak hadir dalam klarifikasi
dan/atau verifikasi kualifikasi
dalam hal sebagai calon
pemenang
dan
calon
pemenang cadangan 1 dan 2
dengan alasan yang tidak
dapat diterima; atau
(e) mengundurkan diri atau gagal
tanda tangan kontrak.
(11) substansi dan keabsahan/keaslian
Jaminan
Penawaran
telah
diklarifikasi
dan
dikonfirmasi
tertulis oleh Pokja ULP kepada
penerbit jaminan.
c)

surat kuasa (apabila dikuasakan):


(1) Harus
ditandatangani
direktur
utama / pimpinan perusahaan;
(2) Nama penerima kuasa tercantum
dalam akte pendirian/anggaran
dasar ;
(3) Dalam hal kemitraan, surat kuasa
ditandatangani
oleh
anggota
kemitraan yang diwakili menurut
perjanjian kerja sama.

d) surat perjanjian kemitraan/kerja sama


operasi (apabila bermitra) memenuhi
persyaratan antara lain sebagai berikut:
(1) mencantumkan nama kemitraan
sesuai dengan dokumen isian
kualifikasi

24

(2) mencantumkan
mitra/anggota;

lead

(3) mencantumkan modal


dari setiap perusahaan;

firm

dan

(sharing)

(4) mencantumkan nama pihak yang


mewakili kemitraan/KSO;
(5) ditandatangani para calon peserta
kemitraan/KSO.
e)

dokumen lain seperti daftar barang


yang diimpor (apabila impor).

f)

dokumen penawaran teknis.

b. Pokja ULP dapat melakukan klarifikasi secara


tertulis terhadap hal-hal yang kurang jelas dan
meragukan namun tidak boleh mengubah
substansi;
c. peserta yang memenuhi persyaratan administrasi
dilanjutkan dengan evaluasi teknis;
d. apabila dari 3 (tiga) penawaran terendah ada
yang tidak memenuhi persyaratan administrasi,
Kelompok Kerja ULP melakukan evaluasi
administrasi
terhadap
penawar
terendah
berikutnya (apabila ada);
e. apabila hanya ada 1 (satu) atau 2 (dua) peserta
yang memenuhi persyaratan administrasi, maka
evaluasi tetap dilanjutkan dengan evaluasi teknis;
dan
f. apabila tidak ada peserta yang memenuhi
persyaratan administrasi, maka pelelangan
dinyatakan gagal.
29.15 Evaluasi Teknis:
a. evaluasi teknis dilakukan terhadap peserta yang
memenuhi persyaratan administrasi;
b. unsur-unsur yang dievaluasi teknis sesuai
dengan yang ditetapkan dalam dokumen
pengadaan ini;
c. evaluasi teknis dilakukan dengan sistem gugur
dengan ketentuan:
1) Pokja ULP menilai persyaratan teknis
minimal yang harus dipenuhi dengan
membandingkan pemenuhan persyaratan
teknis sebagaimana tercantum dalam LDP
dan khusus personil inti serta peralatan

25

utama minimal tercantum dalam LDK;


2) penilaian persyaratan
dilakukan terhadap:

teknis,

minimal

a) metode
pelaksanaan
pekerjaan
memenuhi persyaratan substantif yang
meliputi tahapan/urutan pekerjaan dari
awal sampai akhir secara garis besar
dan uraian/cara kerja dari masingmasing jenis pekerjaan utama dan
pekerjaan penunjang/sementara yang
ikut
menentukan
keberhasilan
pelaksanaan pekerjaan utama yang
dapat dipertanggung jawabkan secara
teknis dan diyakini menggambarkan
penguasaan
dalam
penyelesaian
pekerjaan.
Penilaian
metode
pelaksanaan tidak mengevaluasi jobmix/ rincian/ campuran/ komposisi
material dari jenis pekerjaan;
Jenis-jenis pekerjaan utama dan
pekerjaan penunjang/ sementara yang
ikut
menentukan
keberhasilan
pelaksanaan
pekerjaan
utama
ditetapkan dalam LDP. Pekerjaan
penunjang/
sementara
dimaksud,
misalnya:
(1) Pembuatan
saluran
(diversion channel);

pengelak

(2) Pengeringan
tempat
pekerjaan
(dewatering/unwatering)
skala
besar;
(3) Pembuatan konstruksi pengaman
(protection construction);
(4) Pengaturan lalu lintas (traffic
management) pekerjaan
skala
besar; atau
(5) Jalan
pengalihan/
sementara.

jembatan

b) jangka waktu pelaksanaan pekerjaan


yang ditawarkan tidak melampaui batas
waktu (yaitu sampai dengan serah
terima pertama/Provision Hand Over
(PHO)) sebagaimana tercantum dalam
LDP.
c) Peralatan
utama
minimal:
jenis,
kapasitas, komposisi dan jumlah yang
disediakan
untuk
pelaksanaan
pekerjaan menggunakan data peralatan

26

yang tercantum pada isian kualifikasi.


d) personil inti Tenaga ahli : tingkat
pendidikan, jabatan dalam pekerjaan
yang
diusulkan, pengalaman kerja,
keahlian, yang ditempatkan secara
penuh, menggunakan data personil inti
yang tercantum pada isian kualifikasi;
e)

RK3K memenuhi persyaratan yaitu


adanya sasaran dan program K3 yang
secara
umum
menggambarkan
penguasaan
dalam
mengendalikan
risiko bahaya K3 terhadap pekerjaan
utama.

3) Pokja
ULP
dapat
meminta
uji
mutu/teknis/fungsi
untuk
bahan/alat
tertentu sebagaimana tercantum dalam LDP;
d. apabila dalam evaluasi teknis terdapat hal-hal
yang kurang jelas atau meragukan, Pokja ULP
melakukan klarifikasi dengan peserta. Hasil
klarifikasi dapat menggugurkan penawaran;
e. peserta yang dinyatakan lulus evaluasi teknis
dilanjutkan ke tahap evaluasi harga;
f. apabila dari 3 (tiga) penawaran terendah setelah
koreksi aritmatik ada yang tidak memenuhi
persyaratan teknis, Pokja ULP dapat melakukan
evaluasi penawaran terhadap penawar terendah
berikutnya (apabila ada);
g. apabila hanya ada 1 (satu) atau 2 (dua) peserta
yang lulus evaluasi teknis, maka evaluasi tetap
dilanjutkan dengan evaluasi harga;
h. apabila tidak ada peserta yang lulus evaluasi
teknis maka pelelangan dinyatakan gagal.

27

29.16 Evaluasi Harga :


i. Unsur-unsur yang perlu dievaluasi adalah halhal yang pokok atau penting, dengan ketentuan :
1) total
harga
penawaran
dibandingkan nilai total HPS:

terkoreksi

a)

apabila
total
harga
penawaran
terkoreksi melebihi nilai total HPS,
dinyatakan gugur; dan

b)

apabila semua harga penawaran


terkoreksi di atas nilai total HPS,
pelelangan dinyatakan gagal;

2) harga satuan penawaran yang nilainya lebih


besar
dari 110% (seratus
sepuluh
perseratus) dari harga satuan yang
tercantum dalam HPS, dilakukan klarifikasi.
Apabila
setelah
dilakukan
klarifikasi
ternyata harga satuan penawaran tersebut
timpang, maka harga satuan penawaran
timpang hanya berlaku untuk volume sesuai
dengan Daftar Kuantitas dan Harga.
Selanjutnya daftar jenis/item pekerjaan
timpang tersebut dimasukkan ke dalam
Kontrak
3) mata pembayaran yang harga satuannya nol
atau tidak ditulis dilakukan klarifikasi dan
kegiatan tersebut harus tetap dilaksanakan.
Harganya dianggap termasuk dalam harga
satuan pekerjaan lainnya;
j. Dilakukan klarifikasi kewajaran harga dengan
ketentuan sebagai berikut :
1) Klarifikasi dalam hal penawaran Tingkat
Komponen Dalam Negeri (TKDN) berbeda
dibandingkan dengan perkiraan Pokja ULP;
2) Klarifikasi/Evaluasi kewajaran harga dalam
hal harga penawaran nilainya di bawah
80% (delapan puluh perseratus) HPS,
dengan ketentuan:
a) Meneliti dan menilai kewajaran harga
satuan dasar meliputi harga upah,
bahan, dan peralatan dari harga satuan
penawaran, sekurang-kurangnya pada
setiap mata pembayaran utama;
b) Meneliti
dan
menilai
kewajaran
kuantitas/koefisien dari unsur upah,
bahan, dan peralatan dalam Analisa
Harga Satuan;
c) Hasil penelitian butir a) dan butir b)
digunakan untuk menghitung harga
28

satuan yang dinilai wajar


memperhitungkan keuntungan
ditawarkan; dan

tanpa
yang

d) Harga satuan yang dinilai wajar


digunakan untuk menghitung total harga
penawaran yang dinilai wajar dan dapat
dipertanggungjawabkan.
e) Total harga sebagaimana dimaksud pada
huruf d. dihitung berdasarkan volume
yang ada dalam daftar kuantitas dan
harga.
Apabila total harga penawaran yang
diusulkan lebih kecil dari hasil evaluasi
sebagaimana tersebut diatas, maka harga
penawaran dinyatakan tidak wajar dan
gugur harga.
Apabila total harga penawaran lebih besar
dari hasil evaluasi sebagaimana tersebut
diatas, maka harga penawaran dinyatakan
wajar dan apabila peserta tersebut ditunjuk
sebagai pemenang pelelangan, harus
bersedia
untuk
menaikkan
Jaminan
Pelaksanaan menjadi 5% (lima perseratus)
dari nilai total HPS.
Apabila peserta yang bersangkutan tidak
bersedia
menaikkan
nilai
Jaminan
Pelaksanaan menjadi sebesar 5% HPS,
penawarannya digugurkan dan Jaminan
Penawaran dicairkan dan disetorkan ke kas
Negara, serta dimasukkan dalam Daftar
Hitam.
k. Memperhitungkan
preferensi
harga
atas
penggunaan produksi dalam negeri (apabila
memenuhi
persyaratan
diberlakukannya
preferensi harga) dengan ketentuan Perhitungan
Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang
disampaikan oleh peserta berdasarkan penilaian
sendiri (self assessment), digunakan dalam
evaluasi penawaran harga apabila pelelangan
pekerjaan tersebut diberlakukan preferensi harga
yaitu apabila memenuhi ketentuan:
1) Preferensi Harga untuk Barang/Jasa dalam
negeri diberlakukan pada Pengadaan
Barang/ Jasa yang dibiayai rupiah murni
tetapi hanya berlaku untuk Pengadaan
Barang/
Jasa
bernilai
diatas
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
sampai dengan 31 Desember 2013 dan
mulai 1 Januari 2014 untuk Pengadaan
Barang/
Jasa
bernilai
diatas
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah);

29

dan
2) Preferensi Harga hanya diberikan kepada
Barang/Jasa dalam negeri dengan TKDN
lebih besar atau sama dengan 25%
(dua puluh lima perseratus).
Apabila peserta tidak menyampaikan
formulir perhitungan TKDN maka peserta
dianggap tidak menginginkan diberlakukan
preferensi harga bagi penawarannya dan
tidak menggugurkan.
Ketentuan dan tata cara penghitungan TKDN
merujuk pada ketentuan yang ditetapkan
oleh Menteri yang membidangi urusan
perindustrian dengan tetap berpedoman
pada tata nilai Pengadaan Barang/Jasa
sebagaimana diatur
dalam Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 yang
terakhir diubah dengan Peraturan Presiden
No. 70 Tahun 2012 beserta petunjuk
teknisnya.
3) rumus penghitungan sebagai berikut:
1
HEA
HP
1 KP
HEA = Harga Evaluasi Akhir.
KP
= Koefisien
Preferensi
(Tingkat
Komponen Dalam Negeri (TKDN)
dikali
Preferensi
tertinggi
Barang/Jasa).
HP = Harga Penawaran (Harga
Penawaran/
terkoreksi
yang
memenuhi persyaratan lelang dan
telah dievaluasi).
4) dalam hal terdapat 2 (dua) atau lebih
penawaran dengan HEA yang sama,
penawar dengan TKDN terbesar adalah
sebagai pemenang;
5) pemberian Preferensi Harga tidak mengubah
Harga Penawaran dan hanya digunakan
oleh Pokja
ULP
untuk
keperluan
perhitungan
HEA
guna
menetapkan
peringkat pemenang.
l. Apabila terdapat 2 (dua) calon pemenang
memiliki harga penawaran yang sama dalam hal
tidak diperhitungkan TKDN, maka Pokja ULP
memilih peserta yang mempunyai kemampuan
teknis lebih besar dan hal ini dicatat dalam Berita
Acara Hasil Pelelangan.
m. Apabila dalam evaluasi ditemukan bukti harga
tidak wajar akibat terjadinya persaingan usaha

30

tidak sehat dan/atau terjadi pengaturan bersama


(kolusi/persekongkolan) sebagaimana ketentuan
peraturan dan perundang-undangan, maka
pelelangan dinyatakan gagal dan peserta yang
terlibat dimasukkan dalam Daftar Hitam.
29.17 Pokja ULP menyusun urutan 3 (tiga) penawaran
sebagai calon pemenang dan calon pemenang
cadangan 1 dan 2 (apabila ada).
30. Evaluasi
Kualifikasi

30.1
30.2
30.3

30.4
30.5
31. Pembuktian
Kualifikasi

Evaluasi dilakukan terhadap calon pemenang lelang


dan calon pemenang cadangan 1 dan 2 (apabila
ada).
Evaluasi kualifikasi dilakukan dengan menggunakan
metode penilaian sistem gugur.
Pakta Integritas telah diisi dan ditandatangani oleh
peserta sebelum pemasukan penawaran, apabila
tidak ditandatangani maka tidak dievaluasi lebih
lanjut.
Tata cara evaluasi kualifikasi dilakukan sesuai
dengan ketentuan dalam Dokumen Kualifikasi.
Apabila tidak ada calon pemenang yang lulus
evaluasi kualifikasi, maka lelang dinyatakan gagal.

31.1 Pembuktian kualifikasi terhadap peserta yang


memenuhi persyaratan kualifikasi dilakukan setelah
evaluasi kualifikasi.
31.2 Pembuktian kualifikasi dilakukan dengan cara
melihat keaslian dokumen dari dokumen asli atau
salinan dokumen yang sudah dilegalisir oleh pejabat
yang berwenang dan meminta salinan dokumen
tersebut. Dalam pembuktian kualifikasi harus
dihadiri oleh penanggung jawab penawaran atau
yang
menerima
kuasa
dari
direktur
utama/pimpinan perusahaan yang nama penerima
kuasanya tercantum dalam akta pendirian atau
perubahannya, atau kepala cabang perusahaan yang
diangkat oleh kantor pusat yang dibuktikan dengan
dokumen otentik, atau pejabat yang menurut
perjanjian kerja sama berhak mewakili perusahaan
yang bekerja sama.
31.3 Apabila peserta tidak hadir dalam pembuktian
kualifikasi dan telah diberikan kesempatan serta
tenggang waktu yang cukup, maka peserta
digugurkan dan dimasukkan dalam daftar hitam,
Jaminan Penawaran yang bersangkutan dicairkan
dan disetorkan ke kas Negara.
31.4 Pokja ULP melakukan klarifikasi dan/atau verifikasi
kepada penerbit dokumen, apabila dokumen yang
digunakan dalam pembuktian kualifikasi masih
diragukan kebenarannya.
31.5 Apabila hasil pembuktian kualifikasi ditemukan data
tidak
benar/pemalsuan
data/tidak
dapat
menunjukan dokumen asli atau salinan dokumen
yang sudah dilegalisir, maka peserta digugurkan,
badan usaha dan/atau pengurusnya dimasukkan

31

F.

dalam Daftar Hitam, Jaminan Penawaran yang


bersangkutan dicairkan dan disetorkan ke kas
Negara.
31.6 Apabila tidak ada calon pemenang yang lulus
pembuktian kualifikasi, maka lelang dinyatakan
gagal.
Penetapan Pemenang

32. Penetapan
Pemenang

32.1

Pokja ULP membuat Surat Penetapan Pemenang


untuk nilai sampai dengan Rp100.000.000.000,00
(seratus miliar rupiah) berdasarkan Berita Acara
Hasil Pelelangan (BAHP).
32.2 Dalam hal peserta mengikuti beberapa paket
pekerjaan yang dilelangkan oleh Pokja ULP, dan
beberapa penawarannya terendah serta berdasarkan
sisa kemampuan menangani paket (SKP), akan
ditetapkan sebagai calon pemenang oleh Pokja ULP
pada paket berdasarkan pilihan penyedia jasa setelah
mempertimbangkan ketersediaan peralatan dan
personil setelah dilakukan klarifikasi.
32.3 Dalam hal peserta mengikuti pelelangan beberapa
paket pekerjaan konstruksi dalam waktu bersamaan:
a. menawarkan peralatan yang sama pada masingmasing paket pekerjaan, maka hanya dapat
ditetapkan sebagai pemenang pada 1 (satu)
paket pekerjaan setelah dilakukan klarifikasi
untuk menentukan peralatan tersebut akan
ditempatkan, sedangkan untuk paket pekerjaan
lainnya dinyatakan peralatan tidak ada dan
dinyatakan gugur.
b. Ketentuan hanya dapat ditetapkan sebagai
pemenang pada 1 (satu) paket pekerjaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat
dikecualikan dengan syarat kapasitas dan
produktifitas peralatan secara teknis dapat

32

menyelesaikan pekerjaan lebih dari


paket.

1 (satu)

c. menawarkan personil yang sama pada masingmasing paket pekerjaan, maka hanya dapat
ditetapkan sebagai pemenang pada 1 (satu)
paket pekerjaan setelah dilakukan klarifikasi
untuk menentukan personil tersebut akan
ditempatkan, sedangkan untuk paket pekerjaan
lainnya dinyatakan personil tidak ada dan
dinyatakan gugur.
d. menawarkan personil yang sedang bekerja di
paket lain, maka pada saat akan ditetapkan
sebagai pemenang dipastikan sudah tidak terikat
pada paket lain.
32.6 Penetapan pemenang disusun sesuai dengan
urutannya dan harus memuat:
a. nama paket pekerjaan dan nilai total HPS;
b. nama dan alamat Penyedia serta harga
penawaran atau harga penawaran terkoreksi;
c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
d. hasil evaluasi penawaran administrasi, teknis,
harga; dan
e. evaluasi kualifikasi.
32.7 Data
pendukung
yang
diperlukan
untuk
menetapkan pemenang adalah:
f. Dokumen Pengadaan beserta adendum (apabila
ada);
g. BAPP;
h. BAHP; dan
i. Dokumen Penawaran dari pemenang dan
pemenang cadangan 1 dan 2 (apabila ada) yang
telah diparaf anggota Pokja ULP dan 2 (dua)
wakil peserta/saksi.
32.8

Apabila terjadi keterlambatan dalam menetapkan


pemenang dan mengakibatkan surat penawaran dan
Jaminan Penawaran habis masa berlakunya,
dilakukan konfirmasi kepada calon pemenang, calon
pemenang cadangan 1 dan 2 (apabila ada) untuk
memperpanjang masa berlaku surat penawaran dan
Jaminan Penawaran sampai dengan perkiraan
jadwal penandatanganan kontrak. Calon pemenang,
calon pemenang cadangan 1 dan 2 (apabila ada)
yang tidak bersedia memperpanjang
surat
penawaran dan Jaminan Penawaran dapat
mengundurkan diri tanpa dikenakan sanksi.

33

33. Pengumuman
Pemenang

Pokja ULP mengumumkan pemenang dan pemenang


cadangan 1 dan 2 (apabila ada) kepada masyarakat di
website Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan
Rakyat sebagaimana tercantum dalam LDP dan papan
pengumuman resmi yang memuat sekurang-kurangnya :
a. nama paket pekerjaan dan nilai total HPS;
b. nama dan alamat penyedia;
c. harga penawaran;
d. harga penawaran terkoreksi;
e. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan
f. hasil evaluasi penawaran administrasi, teknis, harga, dan
kualifikasi untuk seluruh peserta yang dievaluasi
dilengkapi dengan penjelasan untuk setiap penawaran
yang dinyatakan gugur dari substansi yang dievaluasi
(alasan gugur administrasi/teknis/harga/ kualifikasi).

34. Sanggahan

34.1 Peserta yang memasukkan penawaran dapat


menyampaikan sanggahan secara elektronik atas
penetapan pemenang kepada Pokja ULP disertai
bukti terjadinya penyimpangan melalui website,
dengan tembusan kepada PPK, PA/KPA dan APIP
Kementerian sebagaimana tercantum dalam LDP,
dengan ketentuan:
a. Pelelangan Umum paling lambat 5 (lima) hari
kalender setelah pengumuman pemenang; atau
b. Pemilihan Langsung paling lambat 3 (tiga) hari
kalender setelah pengumuman pemenang.
34.2

Sanggahan diajukan oleh peserta yang memasukkan


penawaran baik secara sendiri-sendiri maupun
bersama-sama dengan peserta lain, ditandatangani
oleh :
a. direktur utama/ pimpinan perusahaan;
b. penerima kuasa dari direktur utama/ pimpinan
perusahaan yang nama penerima kuasanya
tercantum
dalam
akte
pendirian
atau
perubahannya;
c. kepala cabang perusahaan yang diangkat oleh
kantor
pusat yang dibuktikan dengan bukti
otentik; atau
d. pejabat yang menurut perjanjian kerja sama
berhak mewakili perusahaan yang bekerja sama.

34.3

Sanggahan diajukan apabila terjadi penyimpangan


prosedur meliputi:
a. penyimpangan terhadap ketentuan dan prosedur
yang diatur dalam Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 yang terakhir diubah dengan
Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 beserta
petunjuk teknisnya dan yang telah ditetapkan
dalam Dokumen Pengadaan;

34

b. rekayasa
tertentu
sehingga
terjadinya persaingan usaha
dan/atau

menghalangi
yang sehat;

c. penyalahgunaan wewenang oleh Pokja ULP


dan/atau pejabat yang berwenang lainnya.
34.4 Apabila sanggahan dinyatakan benar maka Pokja
ULP menyatakan pelelangan gagal.
34.5 Sanggahan yang diajukan bukan dari peserta dan
tidak ditandatangani sebagaimana dimaksud pada
36.2. dianggap sebagai pengaduan dan tetap harus
ditindaklanjuti serta tidak menghentikan proses
pelelangan.

35. Sanggahan
Banding

34.6

Sanggahan yang disampaikan kepada PA/KPA, PPK


atau disampaikan dan diterima diluar masa sanggah,
dianggap sebagai pengaduan dan tetap harus
ditindaklanjuti serta tidak menghentikan proses
pelelangan.

35.1

Peserta sebagaimana dimaksud pada 34 apabila tidak


sependapat dengan jawaban sanggahan dari Pokja
ULP, dapat mengajukan sanggahan banding secara
tertulis kepada Menteri Pekerjaan Umum Dan
Perumahan Rakyat yang menjawab sanggahan
banding, dengan tembusan APIP Kementerian
sebagaimana tercantum dalam LDP, dengan
ketentuan:
a. Pelelangan Umum, paling lambat 5 (lima) hari
kerja setelah menerima jawaban sanggahan; atau
b. Pemilihan Langsung, paling lambat 3 (tiga) hari
kerja setelah menerima jawaban sanggahan.

35.2

Peserta yang akan melakukan sanggahan banding


harus memberikan Jaminan Sanggahan Banding
kepada Pokja ULP sebesar 1% (satu perseratus) dari
HPS sebagaimana tercantum dalam LDP dengan
masa berlaku 15 (lima belas) hari kerja sejak
tanggal pengajuan sanggahan banding.

35.3 Penggunaan jaminan sanggahan banding:


a. Paket pekerjaan sampai Rp 50.000.000.000,00
(Lima Puluh Miliar Rupiah) menggunakan surat
jaminan yang dikeluarkan oleh Bank
Umum/ Perusahaan Penjaminan/Perusahaan
Asuransi, bersifat mudah dicairkan dan tidak
bersyarat (unconditional), serta diserahkan oleh
Penyedia Barang/Jasa kepada Kelompok Kerja
ULP.

35

35.4 Sanggahan
pelelangan.

banding

menghentikan

proses

35.5 Sanggahan banding yang diajukan bukan dari


peserta yang tidak sependapat dengan jawaban
sanggahan sebagaimana dimaksud pada 35.1 atau
tidak ditandatangani seperti halnya sanggahan
sebagaimana dimaksud pada 34.2, dianggap sebagai
pengaduan dan tetap harus ditindaklanjuti serta
tidak menghentikan proses pelelangan.
35.6 Sanggahan banding yang disampaikan bukan
kepada Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan
Rakyat yang menjawab sanggahan banding atau
disampaikan dan diterima di luar masa sanggah
banding, dianggap sebagai pengaduan dan tetap
harus ditindaklanjuti serta tidak menghentikan
proses pelelangan.
35.7 Dalam hal jawaban sanggahan banding berupa
evaluasi ulang, maka terhadap penetapan pemenang
tidak dapat dilakukan sanggahan dan sanggahan
banding lagi.
G. Penunjukan Pemenang Pengadaan
36. Penunjukan
Penyedia
Barang/Jasa

36.1 Pokja ULP menyampaikan Berita Acara Hasil


Pelelangan (BAHP) kepada PPK dengan tembusan
kepada Kepala ULP sebagai dasar untuk menerbitkan
Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ).
36.2 PPK menerbitkan SPPBJ, dengan ketentuan apabila:
a. pernyataan peserta pada formulir isian kualifikasi
masih berlaku;
b. tidak ada sanggahan dari peserta;
c. sanggahan dan/atau sanggahan banding terbukti
tidak benar; atau
d. masa sanggah dan/atau masa sanggah banding
berakhir.
36.3

Penyedia yang ditunjuk wajib menerima keputusan


tersebut, dengan ketentuan:
a. apabila yang bersangkutan mengundurkan diri
dan masa penawarannya masih berlaku dengan
alasan yang dapat diterima secara obyektif oleh
Pokja ULP, maka Jaminan Penawaran yang
bersangkutan
dicairkan
dan
disetorkan
sebagaimana tercantum dalam LDP;
b. apabila yang bersangkutan mengundurkan diri
dan masa penawarannya masih berlaku dengan

36

alasan yang tidak dapat diterima secara obyektif


oleh Pokja ULP, maka Jaminan Penawaran yang
bersangkutan
dicairkan
dan
disetorkan
sebagaimana tercantum dalam LDP serta
dimasukkan dalam Daftar Hitam /Black List; atau
c. apabila yang bersangkutan tidak bersedia
ditunjuk karena masa
penawarannya sudah
tidak berlaku, maka tidak dikenakan sanksi dan
Jaminan Penawaran yang bersangkutan tidak
boleh dicairkan.
36.4

Apabila pemenang yang ditunjuk mengundurkan


diri, maka penunjukan pemenang dapat dilakukan
kepada pemenang cadangan sesuai dengan urutan
peringkat, selama masa surat penawaran dan
Jaminan Penawaran pemenang cadangan masih
berlaku atau sudah diperpanjang masa berlakunya.

36.5 Apabila
semua
pemenang
yang
ditunjuk
mengundurkan diri, maka pelelangan dinyatakan
gagal oleh PA/KPA setelah mendapat laporan dari
PPK.
36.6 SPPBJ harus diterbitkan, dengan ketentuan:
a. pada Pelelangan Umum, paling lambat 6 (enam)
hari kerja setelah pengumuman penetapan
pemenang, apabila tidak ada sanggahan;
b. pada Pemilihan Langsung, paling lambat 4
(empat)
hari
kerja setelah
pengumuman
penetapan pemenang, apabila tidak ada
sanggahan; atau
c. Dalam
hal
Pelelangan
Umum/Pemilihan
Langsung, paling lambat 2 (dua) hari kerja
setelah semua sanggahan dan sanggahan banding
dijawab.

37. Kerahasiaan
Proses

36.7

Di dalam SPPBJ disebutkan/ditegaskan/ditulis bahwa


penyedia harus menyiapkan Jaminan Pelaksanaan
sebelum penandatanganan kontrak.

37.1

Proses evaluasi Dokumen Penawaran bersifat rahasia


dan dilaksanakan oleh pokja ULP secara independen.

37.2 Informasi yang berhubungan dengan penelitian,


evaluasi, klarifikasi, konfirmasi, dan usulan calon
pemenang tidak boleh diberitahukan kepada peserta,
atau orang lain yang tidak berkepentingan sampai
keputusan pemenang diumumkan.
37.3 Setiap usaha peserta lelang mencampuri proses
evaluasi dokumen penawaran atau keputusan
pemenang
akan
mengakibatkan
ditolaknya
penawaran yang bersangkutan.
37.4

Evaluasi penawaran yang disimpulkan dalam Berita


Acara Hasil Pelelangan (BAHP) oleh Pokja ULP
bersifat rahasia sampai dengan saat pengumuman

37

pemenang.
H. Pelelangan Gagal
38. Pelelangan
Gagal

38.1 Pokja ULP menyatakan pelelangan gagal, apabila :


a. jumlah peserta yang memasukkan Dokumen
Penawaran kurang dari 3 (tiga) peserta;
b. tidak ada penawaran
penawaran;

yang

lulus

evaluasi

c. dalam
evaluasi
penawaran
ditemukan
bukti/indikasi terjadi persaingan tidak sehat;
d. harga penawaran terendah terkoreksi lebih tinggi
dari HPS;
e. sanggahan dari peserta atas pelaksanaan
pelelangan yang tidak sesuai dengan ketentuan
Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 yang
terakhir diubah dengan Peraturan Presiden No.
70 Tahun 2012 beserta petunjuk teknisnya dan
Dokumen Pengadaan ternyata benar;
f. sanggahan dari peserta atas kesalahan substansi
Dokumen Pengadaan ternyata benar; atau
g. calon pemenang dan calon pemenang cadangan
1 dan 2, setelah dilakukan evaluasi dengan
sengaja tidak hadir dalam klarifikasi dan/atau
pembuktian kualifikasi.
38.2 PA/KPA sebagaimana tercantum dalam
menyatakan pelelangan gagal, apabila :

LDP

a. PA/KPA sebagaimana tercantum dalam LDP


sependapat dengan PPK yang tidak bersedia
menandatangani SPPBJ karena proses Pelelangan
tidak sesuai dengan Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 yang terakhir diubah dengan
Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 beserta
petunjuk teknisnya;
b. pengaduan masyarakat adanya dugaan KKN yang
melibatkan Pokja ULP dan/atau PPK ternyata
benar;
c. dugaan KKN dan/atau pelanggaran persaingan
sehat dalam pelaksanaan Pelelangan dinyatakan
benar oleh pihak berwenang;
d. sanggahan dari Penyedia Barang/Jasa atas
kesalahan prosedur yang tercantum dalam
Dokumen Pengadaan ternyata benar;
e. Dokumen Pengadaan tidak sesuai dengan
Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 yang
terakhir diubah dengan Peraturan Presiden No.
70 Tahun 2012 beserta petunjuk teknisnya;

38

f. pelaksanaan Pelelangan tidak sesuai


menyimpang dari Dokumen Pengadaan;

atau

g. calon pemenang dan calon pemenang cadangan


1 dan 2 mengundurkan diri; atau
h. pelaksanaan Pelelangan melanggar Peraturan
Presiden No. 54 Tahun 2010 yang terakhir
diubah dengan Peraturan Presiden No. 70 Tahun
2012 beserta petunjuk teknisnya.
38.3 Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
menyatakan pelelangan gagal, apabila :
a. Sanggahan banding dari peserta atas terjadinya
pelanggaran prosedur dalam pelaksanaan
pelelangan yang melibatkan KPA, PPK dan/atau
Pokja ULP, ternyata benar; atau
b. Pengaduan masyarakat atas terjadinya KKN yang
melibatkan KPA, ternyata benar.
38.4 Setelah pelelangan dinyatakan gagal, maka Pokja ULP
memberitahukan kepada seluruh peserta.
38.5

Setelah pemberitahuan adanya pelelangan gagal,


Pokja ULP atau Pokja ULP pengganti (apabila diganti)
meneliti dan menganalisis penyebab terjadinya
pelelangan gagal, untuk menentukan langkah
selanjutnya, yaitu melakukan:
a. evaluasi ulang;
b. penyampaian ulang Dokumen Penawaran;
c. pelelangan ulang; atau
d. penghentian proses pelelangan.

I.

Surat Jaminan Pelaksanaan

39. Surat Jaminan


Pelaksanaan

39.1 Surat Jaminan Pelaksanaan memenuhi ketentuan


sebagai berikut :
a. diterbitkan oleh Bank Umum (tidak termasuk
bank
perkreditan
rakyat),
perusahaan
penjaminan atau perusahaan asuransi yang
mempunyai
program
asuransi
kerugian
(suretyship) sebagaimana yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan;

39

b. masa berlaku Jaminan Pelaksanaan sejak tanggal


penandatanganan Kontrak sampai dengan serah
terima pertama pekerjaan berdasarkan Kontrak
(PHO) sebagaimana tercantum dalam LDP;
c. nama penyedia sama dengan nama yang
tercantum dalam surat Jaminan Pelaksanaan;
d. besaran nilai Jaminan Pelaksanaan tidak kurang
dari nilai jaminan yang ditetapkan;
e. besaran nilai Jaminan Pelaksanaan dicantumkan
dalam angka dan huruf;
f. nama PPK yang menerima Jaminan Pelaksanaan
sama dengan nama PPK yang menandatangani
kontrak;
g. paket pekerjaan yang dijamin sama dengan
paket pekerjaan yang tercantum dalam SPPBJ;
h. Jaminan Pelaksanaan harus dapat dicairkan
tanpa syarat (unconditional) sebesar nilai
jaminan dalam jangka waktu paling lambat 14
(empat belas) hari kerja setelah surat pernyataan
wanprestasi dari PPK diterima oleh penerbit
Jaminan;
i. Jaminan Pelaksanaan atas nama Kemitraan/KSO
harus ditulis atas nama Kemitraan/KSO; dan
j. memuat nama, alamat dan tanda tangan pihak
penjamin.
39.2 Kegagalan penyedia yang ditunjuk untuk
menyerahkan
Surat
Jaminan
Pelaksanaan
dipersamakan
dengan
menolak
untuk
menandatangani Kontrak atau tidak menerima
keputusan
penunjukan
sebagai
penyedia
barang/jasa, maka akan dikenakan sanksi.
39.3

J.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pencairan Surat


Jaminan Pelaksanaan diatur dalam Syarat-Syarat
Umum Kontrak.

Penandatanganan Kontrak

40. Penandatanganan
Kontrak

40.1

Penandatanganan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa


dilakukan setelah DIPA/DPA ditetapkan.

40.2 Sebelum penandatanganan kontrak PPK wajib


memastikan Isian Kualifikasi masih berlaku/valid.
Apabila terdapat data isian kualifikasi tidak valid,
maka kontrak tidak ditandatangani.
40.3 Penandatanganan kontrak dilakukan paling lambat
14 (empat belas) hari kerja setelah diterbitkan SPPBJ
dan setelah penyedia menyerahkan Jaminan
Pelaksanaan, dengan ketentuan :
a. nilai Jaminan Pelaksanaan untuk harga
penawaran terkoreksi antara 80% (delapan puluh

40

perseratus) sampai dengan 100% (seratus


perseratus) nilai total HPS adalah sebesar 5%
(lima perseratus) dari nilai Kontrak;
b. nilai Jaminan Pelaksanaan untuk harga
penawaran terkoreksi dibawah 80% (delapan
puluh perseratus) nilai total HPS adalah sebesar
5% (lima perseratus) dari nilai total HPS.
40.4

PPK dan penyedia tidak diperkenankan mengubah


substansi Dokumen Pengadaan sampai dengan
penandatanganan Kontrak, kecuali mempersingkat
waktu pelaksanaan pekerjaan dikarenakan jadwal
pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan sebelumnya
akan melewati batas tahun anggaran.

40.5

Dalam hal perubahan waktu pelaksanaan pekerjaan


melewati batas tahun anggaran, penandatanganan
kontrak dilakukan setelah mendapat persetujuan
kontrak tahun jamak.

40.6

PPK dan penyedia wajib memeriksa konsep Kontrak


meliputi substansi, bahasa, redaksional, angka dan
huruf serta membubuhkan paraf pada setiap lembar
Dokumen Kontrak.

40.7

Menetapkan urutan hirarki bagian-bagian Dokumen


Kontrak dalam Surat Perjanjian, dengan maksud
apabila terjadi pertentangan ketentuan antara bagian
satu dengan bagian yang lain, maka berlaku urutan
sebagai berikut :
a. adendum Surat Perjanjian (apabila ada);
b. pokok perjanjian;
c. surat penawaran berikut daftar kuantitas dan
harga;
d. syarat-syarat khusus kontrak;
e. syarat-syarat umum kontrak;
f. spesifikasi khusus;
g. spesifikasi umum;
h. gambar-gambar; dan
i. dokumen lainnya
SPPBJ, BAHP, BAPP.

40.8 Banyaknya
rangkap
kebutuhan, yaitu :

seperti:
kontrak

jaminan-jaminan,
dibuat

sesuai

j. sekurang-kurangnya 2 (dua) Kontrak asli, terdiri


dari:
1) kontrak asli pertama untuk PPK dibubuhi
materai pada bagian yang ditandatangani
oleh penyedia; dan
2) kontrak asli kedua untuk penyedia dibubuhi
materai pada bagian yang ditandatangani

41

oleh PPK;
k. rangkap kontrak lainnya (apabila diperlukan)
tanpa dibubuhi materai.
40.9 Penandatanganan
Kontrak
bernilai
diatas
Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah)
dilakukan setelah memperoleh pendapat ahli hukum
Kontrak.
40.10 Pihak yang berwenang menandatangani kontrak atas
nama penyedia adalah Direksi yang disebutkan
namanya dalam Akta Pendirian/ Anggaran Dasar,
yang telah didaftarkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

42

BAB III
LEMBAR DATA PEMILIHAN (LDP)
A. Penerapan IKP
dan LDP

B. Lingkup
Pekerjaan

Apabila ada pertentangan ketentuan yang tertulis


pada Lembar Data Pemilihan (LDP) dengan
Instruksi Kepada Peserta (IKP) maka yang
digunakan adalah ketentuan pada Lembar Data
Pemilihan (LDP).
1.

2.

a. Pokja ULP:
Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Jasa
Konstruksi Pada Satuan Kerja Non Vertikal
Tertentu Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air
Sulawesi III dan Satuan Kerja Non Vertikal
Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air
Sulawesi III Tahun Anggaran 2015
b. Alamat Pokja ULP:
Kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi III
Jln. Abd Rahman Saleh No 230 Palu

Website: www.pu.go.id
3.

a. Nama paket pekerjaan:


PEMBANGUNAN PENGAMAN PANTAI PARIGI
KABUPATEN PARIGI MOUTONG
b. Uraian singkat pekerjaan:
Pembangunan Pengaman Pantai

4.

Jangka waktu penyelesaian pekerjaan: 2 4 0


(Dua Ratus Empat Puluh) hari kalender.

C. Sumber Dana

Pekerjaan ini dibiayai dari sumber pendanaan:


APBN Tahun Anggaran 2015

D. Pendayagunaan
Produksi Dalam
Negeri

Preferensi harga diberikan terhadap penawaran


peserta.

43

E. Pemberian
Penjelasan
Dokumen
Pengadaan dan
Peninjauan
Lapangan

F. Dokumen
Penawaran

1. Pemberian Penjelasan Dokumen Pengadaan akan


dilaksanakan pada:
Hari
: Jumat
Tanggal : 16 Januari 2015.
Pukul
: 09.00 s.d.selesai.
Tempat
: Kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi III
Jln. Abd Rahman Saleh No. 230.
2.

Peninjauan lapangan akan dilaksanakan pada:


Hari
: Sabtu
Tanggal : 17 Januari 2015.
Pukul
: 09.00 s.d.selesai
Tempat : Sesuai Lokasi Pekerjaan (Kabupaten
Parigi Moutong)

1.

[Daftar Personil Inti dan Peralatan Utama Minimal


yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan adalah
daftar yang ada di dalam LDK (Lembar Data
Kualifikasi)].

2.

Pekerjaan utama adalah:


No.
1.
2.
3.
4.

Jenis Pekerjaan Utama


Pekerjaan Batu Kali 1:4
Timbunan Tanah di datangkan Jarak Angkut ( 1000 2000 M )
Pekerjaan Beton K-225
Pasangan Batu Kosong > 0,50 m untuk kaki tembok

5.
6.

Pembesian
Pengadaan dan Pemasangan Buis Beton 1,00X1,00

4. Pekerjaan
penunjang / sementara
pendukung pekerjaan utama adalah:
No.
1.

sebagai

Jenis Pekerjaan Penunjang/Sementara


Dewatering

44

5.

Identifikasi bahaya

Jenis/Tipe
No
Pekerjaan
.
1. Pekerjaan Batu Kali 1:4

Identifikasi Jenis
Bahaya & Risiko K3

Pekerja jatuh
Mata terkena / semen pasir /air
Tertimbun material
Luka Ringan, Berat dan Meninggal
2. Timbunan Tanah di

Pekerja tertabrak kendaraan alat berat


datangkan Jarak Angkut Mata kena percikan material timbunn/ debu

Luka Ringan, Berat dan Meninggal


( 1000 -2000 M )
3. Pekerjaan Beton K-225 Tertmpa cetakan beton
Beton molen terguling

4 Pasangan Batu Kosong > Mata terkena / semen pasir /air


Tertimbun Batu
0,50 m untuk kaki
tembok
5. Pembesian
Kena bar tender, bar cutter, tertipa besi
Mata terkena ser kena bar batender
Mata terkena serbuk besi saat memotong besi
Tertusuk Besi
Luka Ringan, berat dan Meninggal

6. Pengadaan dan
Pekerja jatuh dari ketinggian
Pemasangan Buis Beton Tertmpa cetakan beton
Beton molen terguling
1,00X1,00

6.

Uji mutu/teknis/fungsi dalam kondisi tertentu


diperlukan untuk:
a. Bahan konstruksi permanen: Tidak Ada
b. Alat yang menjadi
permanen: Tidak Ada

bagian

konstruksi

45

G. Mata Uang
Penawaran dan
Cara
Pembayaran
H. Masa
Berlakunya
Penawaran

I. Jaminan
Penawaran

1.
2.

Mata uang yang digunakan Rupiah


Pembayaran dilakukan dengan cara Angsuran
(Termin) didasarkan pada hasil pengukuran bersama
atas volume pekerjaan yang telah dilaksanakan
Masa berlaku penawaran selama 90 (Sembilan
Puluh) hari kalender sejak batas akhir pemasukan
penawaran

1. Besarnya Jaminan Penawaran adalah :


Rp. 80.000.000,- ( Delapan Puluh Juta Rupiah,-)
2. Jaminan penawaran berlaku selama 118 (Seratus
Delapan Belas) hari kalender.

J. Penyampaian
Dokumen
Penawaran

Hari
: Senin s.d Jumat
Tanggal : 19/01/2015 s.d. 23/01/2015
Pukul
: 00.00 s.d. 09.00

K. Batas Akhir
Waktu
Pemasukan
Penawaran

Hari
: Jumat
Tanggal : 23/01/2015
Pukul
: 09.00

L. Pembukaan
Penawaran

M. Ambang Batas

Hari
Tanggal
Pukul
Tempat

: Jumat
: 23/01/2015
: 10.00
: Kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi III

Tidak Ada

46

N. Sanggahan, Dan
Sanggahan
Banding

1.

Sanggahan ditujukan kepada


Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Jasa Konstruksi
Pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan
Jaringan Pemanfaatan Air Sulawesi III dan Satuan
Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan
Sumber Air Sulawesi III Tahun Anggaran 2015

2.

Tembusan sanggahan ditujukan kepada :


a. PPK SUNGAI DAN PANTAI I
b. Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air
Sulawesi III
c. Inspektorat Kementerian Pekerjaan Umum Dan
Perumahan Rakyat

3. Sanggahan

banding

ditujukan

kepada

Menteri

Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat


4. Tembusan sanggahan banding ditujukan kepada:
a. PPK SUNGAI DAN PANTAI I
b. Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air
Sulawesi III
c. Inspektorat Kementerian Pekerjaan Umum Dan
Perumahan Rakyat
O. Jaminan
Sanggahan
Banding

1.

Jaminan Sanggah Banding ditujukan kepada


Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Jasa Konstruksi
Pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan
Jaringan Pemanfaatan Air Sulawesi III dan Satuan
Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan
Sumber Air Sulawesi III Tahun Anggaran 2015

2. Besarnya jaminan sanggahan banding:


Rp. 40.000.000,- ( Empat Puluh Juta Rupiah,-)

47

BAB IV
LEMBAR DATA KUALIFIKASI (LDK)
A. Lingkup
Kualifikasi

Nama Pokja ULP :


Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Jasa Konstruksi Pada
Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan
Jaringan Pemanfaatan Air Sulawesi III dan Satuan Kerja
Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air
Sulawesi III Tahun Anggaran 2015
Alamat Pokja ULP :
Jln. Abd. Rahman Saleh No. 230 Palu
Nama Paket Pekerjaan :
PEMBANGUNAN PENGAMANAN PANTAI PARIGI
KABUPATEN PARIGI MOUTONG

B. Persyaratan
Kualifikasi

1. Peserta Kualifikasi badan usaha harus memiliki


surat izin usaha jasa konstruksi;
2. Peserta Kualifikasi Badan Usaha Jasa Konstruksi
Asing harus memiliki bukti Izin Perwakilan Jasa
Konstruksi Asing dan melakukan kerja sama
usaha dengan perusahaan nasional dalam bentuk
kemitraan, subkontrak dan lain-lain, dalam hal
terdapat perusahaan nasional yang memiliki
kemampuan dibidang yang bersangkutan.
3. memiliki pengalaman pengadaan pekerjaan
konstruksi paling kurang 1 (satu) pekerjaan
sebagai Penyedia Barang/Jasa dalam kurun waktu
4 (empat) tahun terakhir, baik di lingkungan
pemerintah
maupun
swasta,
termasuk
pengalaman subkontrak, dikecualikan bagi
Penyedia Barang/Jasa yang baru berdiri kurang
dari 3 (tiga) tahun.
4. Paket pekerjaan konstruksi dengan nilai di atas Rp.
2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah) sampai dengan Rp. 30.000.000.000,00 (tiga
puluh miliar rupiah) dapat dipersyaratan hanya
untuk pelaksanaan konstruksi dengan kualifikasi
Usaha Menengah yang Kemampuan Dasar (KD)
yang sejenis/sesuai subklasifikasi SI001 dengan paket
pekerjaan yang dilelangkan sekurang-kurangnya
sebesar Rp. 4.000.000.000,- (Empat Milyar Rupiah)
5. memiliki kemampuan menyediakan Personil9
yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan
sebagai berikut:
a. Tenaga Ahli

48

1
1

Jabatan dalam
pekerjaan yang
diusulkan
2
3
S1Teknik Sipil 1 Org Kepala Proyek

S1Teknik Sipil 1 Org Pelaksana

No

Tingkat
Pendidikan

Profesi/ Keahlian

Pengalaman
Kerja (tahun)
4
5 Tahun
3 Tahun

5
Ahli Madya Teknik Pantai / Ahli
Madya SDA
Ahli Muda Teknik Pantai/Ahli
Madya SDA

6. memiliki surat keterangan dukungan keuangan


dari bank pemerintah/swasta sebesar Rp.
400.000.000,- ( Empat Ratus Juta Rupiah,-)
7. memiliki kemampuan untuk menyediakan
peralatan
untuk
melaksanakan
pekerjaan
konstruksi ini, yaitu:
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jenis
Exacvator
Dump Truck
Concrete Mikxer
Concrete Vibrator
Water Pump
Theodolith
Waterpass

Kapasitas
HP>150
Dump 4 M3
350 liter
38 mm
3

Jumlah
1
5
3
3
3
1
1

8. memiliki NPWP dan telah memenuhi kewajiban


perpajakan tahun pajak terakhir (SPT Tahunan)
serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 21, PPh
Pasal 23 (bila ada transaksi), PPh Pasal 25/Pasal
29 dan PPN (bagi Pengusaha Kena Pajak) paling
kurang 3 (tiga) bulan terakhir dalam tahun
berjalan. Peserta dapat mengganti persyaratan ini
dengan menyampaikan Surat Keterangan Fiskal
(SKF).
SPT Tahunan yang diminta untuk tahun 2014.
Laporan pajak untuk 3 (tiga) bulan terakhir mulai
bulan Oktober s.d. Desember 2014

49

BAB V
BENTUK DOKUMEN PENAWARAN
A.

BENTUK SURAT PENAWARAN PESERTA BADAN USAHA/KEMITRAAN


(KSO)
CONTOH

[Kop Surat Badan Usaha/Kemitraan (KSO)]


Nomor
:
Lampiran :

................, .................. 20....

Kepada Yth.:
Pokja .................. ULP .................. [Satker/Balai]
[diisi oleh Pokja ULP]
di
......................................................
Perihal

: Penawaran Pekerjaan .................................... [nama pekerjaan diisi


oleh Pokja ULP]

Sehubungan dengan pengumuman pendaftaran dan pengambilan


Dokumen Pengadaan nomor: ................................... tanggal ...................... dan
setelah kami pelajari dengan seksama Dokumen Pengadaan dan Berita Acara
Pemberian Penjelasan [serta adendum Dokumen Pengadaan, apabila ada], dengan
ini kami mengajukan penawaran untuk pekerjaan .................. .................. [diisi
oleh Pokja ULP] sebesar Rp.................. (...............dalam huruf.....................)
termasuk PPN.
Penawaran ini sudah memperhatikan ketentuan dan persyaratan yang
tercantum dalam Dokumen Pengadaan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut
di atas.
Penawaran ini berlaku selama ........ (..........dalam huruf...........)
hari kalender sejak batas akhir pemasukan penawaran.
Sesuai dengan persyaratan, bersama Surat Penawaran ini kami
lampirkan :
1. Jaminan Penawaran;
2. Daftar Kuantitas dan Harga;
3. [Surat Kuasa, apabila ada];
4. [Surat perjanjian kemitraan/Kerja Sama Operasi, apabila bermitra];
5. Dokumen penawaran teknis, terdiri dari :
a. Metoda Pelaksanaan;
b. Jangka Waktu Pelaksanaan;
c. Bagian Pekerjaan yang akan disubkontrakkan; dan
6. rekapitulasi perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN);
7. RK3K;
8. Dokumen isian kualifikasi;

50

Dengan disampaikannya Surat Penawaran ini, maka kami menyatakan


sanggup dan akan tunduk pada semua ketentuan yang tercantum dalam
Dokumen Pengadaan serta Pokja ULP tidak terikat untuk menetapkan
penawaran terendah sebagai pemenang. Apabila dana dalam dokumen
anggaran yang telah disahkan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam
DIPA/DPA Tahun Anggaran, maka Pengadaan Barang/Jasa dapat dibatalkan
dan kami tidak akan menuntut ganti rugi dalam bentuk apapun.
PT/CV/Firma/Kemitraan (KSO) .........................
[pilih yang sesuai dan cantumkan nama]

..........................
Jabatan

51

B.

BENTUK SURAT KUASA


CONTOH-1

[Kop Surat Badan Usaha]


SURAT KUASA
Nomor : ..................
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama
: .................. ..................
Alamat Perusahaan
: .................. ..................
[Direktur
Utama/Pimpinan
Jabatan
: .....................................
Perusahaan] .................. [nama PT/CV/Firma]
dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama perusahaan berdasarkan Akta Pendirian
No. ........ [No. Akta Notaris] tanggal .................. [tanggal penerbitan Akta] Notaris
.................. [nama Notaris penerbit Akta] beserta perubahannya (apabila ada), yang
selanjutnya disebut sebagai Pemberi Kuasa,
memberi kuasa kepada :
Nama : ...................................10
Alamat : ....................................
Jabatan : ....................................
yang selanjutnya disebut sebagai Penerima Kuasa.
Penerima Kuasa mewakili Pemberi Kuasa untuk:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

............. [Menandatangani Surat Penawaran,]


............. [Menandatangani Pakta Integritas,]
............. [Menandatangani Surat Perjanjian,]
............. [Menandatangani Surat Sanggahan,]
............. [Menandatangani Surat Sanggahan Banding.]
............. [Dst. sesuai keperluan]

Surat kuasa ini tidak dapat dilimpahkan lagi kepada orang lain.
.................., .................. 20.....
Penerima Kuasa
..................................
(nama dan jabatan)

Pemberi Kuasa
..................................
(nama dan jabatan)

10

Penerima kuasa dari direktur utama/pimpinan perusahaan yang nama penerima kuasanya
tercantum dalam akta pendirian atau perubahannya atau pejabat yang menurut perjanjian
kerja sama berhak mewakili perusahaan yang bekerja sama.

52

CONTOH-2

[Kop Surat Badan Usaha KSO]


SURAT KUASA
Nomor : ..................
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama
: ....................................
Alamat Perusahaan
: ....................................
Jabatan
: ....................................

[Direktur
Utama/Pimpinan
Perusahaan/Kepala Cabang/wakil kemitraan (KSO)]
.................. [nama PT/CV/Firma]
dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama [perusahaan/kemitraan (KSO)]
berdasarkan [Akta Notaris No. ...... [No. Akta Notaris] tanggal .................. [tanggal
penerbitan Akta] Notaris .................. [nama Notaris penerbit Akta] beserta
perubahannya (apabila ada) atau Perjanjian Kemitraan/Kerja Sama Operasi (KSO)
No ......... tanggal ..................], yang selanjutnya disebut sebagai Pemberi Kuasa,
memberi kuasa kepada:11
Nama : ....................................
Alamat : ....................................
yang selanjutnya disebut sebagai Penerima Kuasa.
Penerima Kuasa mewakili Pemberi Kuasa untuk:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

.............. [Menandatangani Surat Penawaran,]


............. [Menandatangani Pakta Integritas,]
............. [Menandatangani Surat Perjanjian,]
............. [Menandatangani Surat Sanggahan,]
............. [Menandatangani Surat Sanggahan Banding.]
............. [Dst. sesuai keperluan]

Surat kuasa ini tidak dapat dilimpahkan lagi kepada orang lain.
.................., .................. 20....
Penerima Kuasa
....................................
(nama)

Pemberi Kuasa
...................................
(nama dan jabatan)

11

Penerima kuasa dari direktur utama/pimpinan perusahaan yang nama penerima kuasanya
tercantum dalam akta pendirian atau perubahannya.
Dalam hal KSO surat kuasa penandatanganan kontrak dapat diberlakukan apabila perjanjian
KSO sudah disahkan oleh notaris.

53

C.

BENTUK PERJANJIAN KEMITRAAN/KERJA SAMA OPERASI (KSO)


CONTOH
SURAT PERJANJIAN KEMITRAAN/
KERJA SAMA OPERASI (KSO)

Sehubungan dengan pengumuman pelelangan pekerjaan .................................. yang


pembukaan penawarannya akan dilakukan di .................................. pada tanggal
.................... 20....., maka kami:
.................................................................... [nama peserta 1]
.................................................................... [nama peserta 2]
.................................................................... [nama peserta 3]
.................................................................... [dan seterusnya]
bermaksud untuk mengikuti pelelangan dan pelaksanaan kontrak secara bersama-sama
dalam bentuk kemitraan/Kerja Sama Operasi (KSO).
Kami menyetujui dan memutuskan bahwa :
1. Secara bersama-sama :
a. Membentuk kemitraan/KSO dengan nama kemitraan/KSO adalah
..................................
b. Menunjuk .................................. [nama peserta 1] sebagai perusahaan utama
(leading firm) untuk kemitraan/KSO dan mewakili serta bertindak untuk dan
atas nama kemitraan/KSO.
c. Menyetujui apabila ditunjuk sebagai pemenang, wajib bertanggung jawab
baik secara bersama-sama atau masing-masing atas semua kewajiban sesuai
ketentuan dokumen kontrak.
2.

Keikutsertaan modal (sharing) setiap perusahaan dalam kemitraan/KSO adalah :


............................... [nama peserta 1] sebesar ...% (.. persen)
............................... [nama peserta 2] sebesar .. % (.. persen)
............................... [nama peserta 3] sebesar ...% (.. persen)
............................... [dan seterusnya] sebesar ...% (.. persen)

3.

Masing-masing peserta anggota kemitraan/KSO, akan mengambil bagian sesuai


sharing tersebut pada butir 2. dalam hal pengeluaran, keuntungan, dan kerugian
dari kemitraan/KSO.

4.

Pembagian sharing dalam kemitraan/KSO ini tidak akan diubah baik selama masa
penawaran maupun sepanjang masa kontrak, kecuali dengan persetujuan tertulis
terlebih dahulu dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan persetujuan bersama
secara tertulis dari masing-masing anggota kemitraan/KSO.

5.

Terlepas dari sharing yang ditetapkan di atas, masing-masing anggota


kemitraan/KSO akan melakukan pengawasan penuh terhadap semua aspek
pelaksanaan dari perjanjian ini, termasuk hak untuk memeriksa keuangan,
perintah pembelian, tanda terima, daftar peralatan dan tenaga kerja, perjanjian
subkontrak, surat-menyurat, dan lain-lain.

54

6.

Wewenang menandatangani penawaran untuk dan atas nama kemitraan/KSO


diberikan kepada .................................. [nama wakil peserta] dalam kedudukannya
sebagai direktur utama/direktur pelaksana .................................. [nama peserta 1]
berdasarkan persetujuan tertulis (surat kuasa untuk menandatangani penawaran)
dari seluruh anggota kemitraan /KSO.

7.

Perjanjian ini berlaku sejak tanggal ditandatangani.

8.

Perjanjian ini secara otomatis menjadi batal dan tidak berlaku lagi bila pelelangan
tidak dimenangkan oleh perusahaan kemitraan/KSO.

9.

Perjanjian ini dibuat dalam rangkap () yang masing-masing


mempunyai kekuatan hukum yang sama.

DENGAN KESEPAKATAN INI semua anggota kemitraan/KSO membubuhkan tanda


tangan di .. pada hari .. tanggal .. bulan
.., tahun ..

[Peserta 1]

(....)

[Peserta 3]

(....)

[Peserta 2]

(....)

[dst]

(....)

55

CONTOH

[Kop Surat Badan Usaha]


SURAT KUASA12
(untuk menandatangani penawaran atas nama kemitraan)
Nomor : ..................
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama
: .................. ..................
Alamat Perusahaan : .................. ..................
Jabatan
: .....................................
[Direktur
Utama/Pimpinan
Perusahaan] .................. [nama PT/CV/Firma]
dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama perusahaan berdasarkan Akta
Pendirian No. ........ [No. Akta Notaris] tanggal .................. [tanggal penerbitan Akta]
Notaris .................. [nama Notaris penerbit Akta] beserta perubahannya (apabila
ada), yang selanjutnya disebut sebagai Pemberi Kuasa,
memberi kuasa kepada :
Nama
: ....................................
Alamat
: ....................................
Jabatan
: ....................................
yang selanjutnya disebut sebagai Penerima Kuasa.
Penerima Kuasa mewakili Pemberi Kuasa untuk menandatangani Surat
Penawaran atas nama kemitraan.. untuk pekerjaan
Surat kuasa ini tidak dapat dilimpahkan lagi kepada orang lain.
.................., .................. 20.....
Penerima Kuasa
..................................
(nama dan jabatan)

Pemberi Kuasa
..................................
(nama dan jabatan)

12

Surat Kuasa diberikan dari masing-masing penyedia/badan usaha anggota kemitraan kepada
yang mewakili kemitraan

56

D.

BENTUK DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS


Dokumen Penawaran Teknis

[Cantumkan dan jelaskan secara rinci hal-hal berikut. Jika diperlukan, keterangan
dapat dicantumkan dalam lembar tersendiri/tambahan]

1. metoda pelaksanaan pekerjaan [memberikan metoda pelaksanaan yang layak,


realistik dan tahapannya dapat dilaksanakan untuk penyelesaian pekerjaan utama

2.
3.
4.
5.

dan diyakini menggambarkan penguasaan dalam penyelesaian pekerjaan, tahapan


dan cara pelaksanaan yang menggambarkan pelaksanaan pekerjaan dari awal
sampai dengan akhir dan dapat dipertanggung jawabkan secara teknis];
jangka waktu pelaksanaan pekerjaan [tidak melampaui batas waktu
sebagaimana tercantum dalam LDP];
spesifikasi teknis [apabila mengajukan spesifikasi yang berbeda dari yang
ditetapkan];
bagian pekerjaan yang akan disubkontrakkan [sesuai dengan persyaratan
sebagaimana tercantum dalam LDP]; dan
[Hal-hal lain yang dipersyaratkan].

Catatan :
Peralatan dan personil yang disampaikan dalam penawaran hanya untuk 1 (satu) paket
pekerjaan yang dilelangkan, apabila memerlukan peralatan dan personil untuk paket
pekerjaan lain harus dari peralatan (dapat sewa, kontrak, atau lainnya) dan personil
yang berbeda.

57

E.

BENTUK
FORMULIR
REKAPITULASI
KOMPONEN DALAM NEGERI (TKDN)

PERHITUNGAN

NIlai Gabungan Barang dan Jasa


(Rp)

TINGKAT

TKDN

Uraian Pekerjaan
KDN

KLN

Total

Barang
/Jasa

Gabungan

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1A)

(1B)

(1C)

(1D)

(2A)

(2B)

(2C)

(2D)

(3A)

(3B)

(3C)

(3D)

(4A)

(4B)

(4C)

(4D)

(5A)

(5B)

(5C)

(5D)

(6A)

(6B)

(6C)

(6D)

(7A)

(7B)

(7C)

(7D)

B. Sub Total Jasa

(8A)

(8B)

(8C)

(8D)

C. Total Biasa (A+B)

(9A)

(9B)

(9C)

(9D)

(1)
Barang13
I. Material
langsung (Bahan
Baku)
II. Peralatan (Barang
Jadi)
A. Sub Total Barang
Jasa14
III. Manajemen
Proyek dan
Perekayasaan
IV. Alat
Kerja/Fasilitas
Kerja
V. Konstruksi dan
Fabrikasi
VI. Jasa Umum

(9E)

1. Biaya Komponen Dalam Negeri (KDN) adalah biaya Material Langsung


(Bahan Baku), Peralatan (Barang Jadi), Manajemen Proyek dan
Perekayasaan, Alat Kerja/Fasilitas Kerja, Konstruksi dan Fabrikasi, dan Jasa
lainnya dari dalam negeri.

13
14

diambil dari daftar inventarisasi barang yang diterbitkan Kementerian Perindustrian.


dilakukan perhitungan sendiri (self assessment)

58

2. Biaya Komponen Luar Negeri (KLN) adalah biaya Material Langsung


(Bahan Baku), Peralatan (Barang Jadi), Manajemen Proyek dan
Perekayasaan, Alat Kerja/Fasilitas Kerja, Konstruksi dan Fabrikasi, dan Jasa
lainnya dari luar negeri.
3. Formulasi perhitungan :
% TKDN Gabungan
Barang & Jasa (9E)

Biaya Gabungan (9C) Biaya Gabungan LN (9B)


X 100%

=
Biaya Gabungan (9C)

59

F.

BENTUK DAFTAR BARANG YANG DIIMPOR


CONTOH
DAFTAR BARANG YANG DIIMPOR15

NO

NAMA
BARANG/URAIAN

SPESIFIKASI

SATUAN

JUMLAH

HARGA

NEGARA
ASAL

TOTAL HARGA

15

diisi dan dilampirkan dalam penawaran apabila ada barang yang diimpor.

60

G.

BENTUK RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK


(RK3K)
CONTOH
I. BENTUK RK3K USULAN PENAWARAN

.................

RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


KONTRAK (RK3K)

[Logo & Nama


Perusahaan]

[digunakan untuk usulan penawaran]

DAFTAR ISI
A. Kebijakan K3
B. Perencanaan K3
B.1. Identifikasi Bahaya, Sasaran K3 Proyek, Pengendalian Risiko K3, Program
K3, dan Biaya K3
B.2. Pemenuhan Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan Lainnya
C. Pengendalian Operasional K3
A. KEBIJAKAN K3
................................................................................................................................................
[diisi oleh penyedia jasa berupa pernyataan tertulis yang berisi komitmen untuk
menerapkan K3 berdasarkan skala risiko dan peraturan perundang-undangan K3
yang dilaksanakan secara konsisten]
A.1. Perusahaan Penyedia Jasa harus menetapkan Kebijakan K3 pada
kegiatan konstruksi yang dilaksanakan.
A.2. Kebijakan K3 yang ditetapkan harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
1. Mencakup komitmen untuk mencegah kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja serta peningkatan berkelanjutan SMK3;
2. Mencakup komitmen untuk mematuhi peraturan perundangundangan dan persyaratan lain yang terkait dengan K3;
3. Sebagai kerangka untuk menyusun sasaran K3.
B. PERENCANAAN K3
Di dalam membuat rencana K3, PPK memberikan identifikasi awal dan
penyedia jasa harus menyampaikan pengendalian risiko pada saat
penawaran berdasarkan identifikasi awal tersebut.
B.1. Identifikasi Bahaya, Sasaran K3 Proyek, Pengendalian Risiko K3,
Program K3, Dan Biaya
Penyusunan Identifikasi Bahaya, Sasaran K3 Proyek, Pengendalian
Risiko K3, Program K3, dan Biaya K3 sesuai dengan format pada Tabel
1.

61

TABEL 1. IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, PENGENDALIAN RISIKO K3, PROGRAM K3, DAN BIAYA
[digunakan untuk usulan penawaran]
Nama Perusahaan
Kegiatan

NO

URAIAN PEKERJAAN

(1)
1

(2)
Pekerjaan
galian
pada
basement bangunan gedung
dengan kondisi tanah labil

: ..................
: ..................

IDENTIFIKASI BAHAYA

(3)
Tertimbun

halaman : .. / ..

SASARAN K3 PROYEK

(4)
Nihil kecelakaan fatal

PENGENDALIAN RISIKO K3

PROGRAM SUMBER DAYA

BIAYA (Rp)

(5)
1.1 Penggunaan turap

(6)
1. Bahan (Turap, peralatan kerja,
dll)
2. SDM (diisi dengan jumlah
SDM yang diperlukan dan
kualifikasi sesuai dengan yang
dibutuhkan)

(7)
Diisi dengan biaya untuk
pengadaan bahan dan
rekruitmen SDM

1.2 Menyusun instruksi kerja

1. SDM menyusun instruksi kerja


2. Sosialisasi instruksi kerja (.....
kali)

Diisi dengan biaya untuk


penyusunan
instruksi
kerja, pencetakan bahan,
dan sosialisasi dokumen
Diisi dengan kebutuhan
biaya untuk pengadaan
Diisi dengan biaya untuk
instruktur
dan
pencetakan
materi/modul
serta
penyelenggaraan
pelatihan

1.3 Menggunakan rambu


Pengadaan rambu dan barikade
peringatan dan barikade
1.4 Melakukan pelatihan kepada 1. Instruktur
pekerja
2. Materi/modul

Ketentuan Pengisian Tabel 1:


1. Kolom (1), (2) dan (3) diisi oleh PPK di dalam dokumen pengadaan;
2. Kolom (4) sampai dengan (7) diisi oleh Penyedia Jasa pada saat penawaran;

62

B.2. Pemenuhan Perundang-Undangan dan Persyaratan Lainnya


Daftar Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan K3 yang
digunakan sebagai acuan
dalam melaksanakan SMK3 Konstruksi
Bidang PU antara lain sebagai berikut:
1. UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan
SMK3;
3. ............. [diisi Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan K3 lainnya
yang digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan SMK3 Konstruksi
Bidang PU]

PT/CV/Firma/Kemitraan (KSO) .........................


[pilih yang sesuai dan cantumkan nama]

..........................
Jabatan

63

II. BENTUK RK3K PELAKSANAAN PEKERJAAN


Dibuat oleh penyedia jasa pada saat pelaksanaan kontrak, dibahas dan
ditetapkan oleh PPK pada saat rapat persiapan pelaksanaan.

.................

RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


KONTRAK (RK3K)

[Logo & Nama


Perusahaan]

[digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan]

DAFTAR ISI
A. Kebijakan K3
B. Organisasi K3
C. Perencanaan K3
C.1. Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala Prioritas, Pengendalian Risiko
K3, Penanggung Jawab
C.2. Pemenuhan Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan Lainnya
C.3. Sasaran dan Program K3
D. Pengendalian Operasional K3
E. Pemeriksaan dan Evaluasi Kinerja K3
F. Tinjauan Ulang Kinerja K3
A. KEBIJAKAN K3
[Berupa pernyataan tertulis yang berisi komitmen untuk menerapkan K3
berdasarkan skala risiko dan peraturan perundang-undangan K3 yang
dilaksanakan secara konsisten dan harus ditandatangani oleh manajer
proyek/kepala proyek]
A.1. Perusahaan Penyedia Jasa harus menetapkan Kebijakan K3 pada
kegiatan konstruksi yang dilaksanakan.
A.2. kepala proyek/project manager harus mengesahkan Kebijakan K3
A.3. Kebijakan K3 yang ditetapkan harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
1. Mencakup komitmen untuk mencegah kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja serta peningkatan berkelanjutan SMK3;
2. Mencakup komitmen untuk mematuhi peraturan perundangundangan dan persyaratan lain yang terkait dengan K3;
3. Sebagai kerangka untuk menyusun sasaran K3.

64

B. ORGANISASI K3
Contoh:
Penanggung Jawab K3

Emergency/

P3K

Kebakaran

kedaruratan

C. PERENCANAAN K3
Penyedia jasa wajib membuat Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala
Prioritas, Pengendalian Risiko K3, dan Penanggung Jawab untuk diserahkan,
dibahas, dan disetujui PPK pada saat Rapat Persiapan Pelaksanaan
Kontrak/Pre Construction Meeting (PCM) sesuai lingkup pekerjaan yang
akan dilaksanakan.
C.1. Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala Prioritas, Pengendalian Risiko
K3, dan Penanggung Jawab
Penyusunan Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala Prioritas,
Pengendalian Risiko K3, dan Penanggung Jawab sesuai dengan format
pada Tabel 1.

65

TABEL 1. IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, SKALA PRIORITAS, PENGENDALIAN RISIKO K3, DAN PENANGGUNG
JAWAB
Nama Perusahaan
Kegiatan
Lokasi
Tanggal dibuat

: ..................
: ..................
: ..................
: ..................

halaman : .. / ..
PENILAIAN RISIKO

NO
(1)
1

URAIAN PEKERJAAN
(2)
Pekerjaan galian pada
basement bangunan gedung
dengan kondisi tanah labil

IDENTIFIKASI BAHAYA
(3)
Tertimbun

KEKERAPAN

KEPARAHAN

(4)
3

(5)
3

TINGKAT
RISIKO
(6)
9
(Tinggi)

SKALA
PRIORITAS
(7)
1

PENGENDALIAN
RISIKO K3
(8)
1.1. Penggunaan
turap
1.2. Menggunakan
metode
pemancangan
1.3. Menyusun
instruksi kerja
pekerjaan galian
1.4. Menggunakan
rambu peringatan
dan barikade

PENANGGUNG
JAWAB
(Nama Petugas)
(9)
Pengawas
lapangan/
quality engineer

1.5. Melakukan
pelatihan kepada
pekerja
1.6 Pengunaan APD
yang sesuai
Dst.

66

Ketentuan Pengisian Tabel 1:


Kolom (1) : Nomor urut uraian pekerjaan.
Kolom (2) : Diisi seluruh item pekerjaan yang mempunyai risiko K3
yang tertuang di dalam dokumen pelelangan.
Kolom (3) : Diisi dengan identifikasi bahaya yang akan timbul dari
seluruh item pekerjaan yang mempunyai risiko K3.
Kolom (4) : Diisi dengan nilai (angka) kekerapan terjadinya
kecelakaan.
Kolom (5) : Diisi dengan nilai (angka) keparahan.
Kolom (6) : Perhitungan tingkat risiko K3 adalah nilai kekerapan x
keparahan.
Kolom (7) : Penetapan skala prioritas ditetapkan berdasarkan item
pekerjaan yang mempunyai tingkat risiko K3 tinggi,
sedang dan kecil, dengan penjelasan: prioritas 1 (risiko
tinggi), prioritas 2 (risiko sedang), dan prioritas 3 (risiko
kecil). Apabila tingkat risiko dinyatakan tinggi, maka item
pekerjaan tersebut menjadi prioritas utama (peringkat 1)
dalam upaya pengendalian.
Kolom (8) : Diisi bentuk pengendalian risiko K3. Bentuk pengendalian
risiko menggunakan hirarki pengendalian risiko
(Eliminasi, Substitusi, Rekayasa, Administrasi, APD), diisi
oleh Penyedia Jasa pada saat penawaran (belum
memperhitungkan penilaian risiko dan skala prioritas.
Keterangan :
1. Eliminasi adalah mendesain ulang pekerjaan atau
mengganti material/ bahan sehingga bahaya dapat
dihilangkan atau dieliminasi.
Contoh: seorang pekerja harus menghindari bekerja
di ketinggian namun pekerjaan tetap dilakukan
dengan menggunakan alat bantu.
2. Substitusi adalah mengganti dengan metode yang
lebih aman dan/ atau material yang
tingkat
bahayanya lebih rendah.
Contoh: penggunaan tangga diganti dengan alat
angkat mekanik kecil untuk bekerja di ketinggian.
3. Rekayasa teknik adalah melakukan modifikasi
teknologi atau peralatan guna menghindari terjadinya
kecelakaan.
Contoh: menggunakan perlengkapan kerja atau
peralatan lainnya untuk menghindari terjatuh pada
saat bekerja di ketinggian .
4. Administrasi
adalah
pengendalian
melalui
pelaksanaan prosedur untuk bekerja secara aman.
Contoh: pengaturan waktu kerja (rotasi tempat kerja)
untuk mengurangi terpaparnya/ tereksposnya pekerja
terhadap sumber bahaya, larangan menggunakan

67

telepon seluler di tempat tertentu, pemasangan


rambu-rambu keselamatan .
5. APD adalah alat pelindung diri yang memenuhi
standard dan harus dipakai oleh pekerja pada semua
pekerjaan sesuai dengan jenis pekerjaannya.
Contoh: Pemakaian kacamata las dan sarung tangan
kulit pada pekerjaan pengelasan.
Kolom (9) : Diisi penanggung jawab (nama petugas) pengendali risiko
K3.
C.2. Pemenuhan Perundang-Undangan dan Persyaratan Lainnya
Daftar Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan K3 yang
digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan SMK3 Konstruksi Bidang
PU antara lain sebagai berikut :
1. UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 tentang Penerapan
SMK3;
3. ............. [diisi Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan K3 lainnya
yang digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan SMK3 Konstruksi
Bidang PU]
C.3. Sasaran dan Program K3
C.3.1. Sasaran
1. Sasaran Umum:
Nihil Kecelakaan Kerja yang fatal (Zero Fatal Accidents) pada
pekerjaan konstruksi.
2. Sasaran Khusus:
Sasaran khusus adalah sasaran rinci dari setiap pengendalian
risiko yang disusun guna tercapainya Sasaran Umum, contoh
sebagaimana Tabel 2. Penyusunan Sasaran dan Program K3.
C.3.2. Program K3
Program K3 meliputi sumber daya, jangka waktu, indikator pencapaian,
monitoring, dan penanggung jawab, contoh sebagaimana Tabel 2.
Penyusunan Sasaran dan Program K3.

68

TABEL 2. TABEL PENYUSUNAN SASARAN DAN PROGRAM K3


Nama Perusahaan
Kegiatan
Lokasi
Tanggal dibuat

: ..................
: ..................
: ..................
: ..................

SASARAN KHUSUS
NO

URAIAN PEKERJAAN

(1)
1

(2)
Pekerjaan galian
pada basement
bangunan gedung
dengan kondisi tanah
labil

PENGENDALIAN
RISIKO

PROGRAM
SUMBER
DAYA

JANGKA
WAKTU

(5)
Penggunaan
turap
memenuhi
spesifikasi
(ditetapkan
quality
enginering)

(6)
- Bahan
(Turap,
peralatan
kerja, dll yang
terkait)
- SDM sesuai
dengan
kebutuhan

Tersedianya
metode

Sesuai dengan
metode yang
telah ditetapkan

Tersedianya
instruksi kerja

Sesuai dengan
instruksi kerja

URAIAN

TOLOK UKUR

(3)
1.1. Penggunaan
turap

(4)
Seluruh
pekerjaan
galian
dipastikan
memenuhi
prinsip
keselamatan

1.2. Menggunakan
metode
pemancangan

1.3. Menyusun
instruksi kerja
pekerjaan galian

INDIKATOR
PENCAPAIAN

MONITORIN
G

PENANGGUN
G JAWAB

(7)
Sebelum
bekerja harus
sudah lengkap

(8)
Turap
terpasang
sesuai gambar
dan spesifikasi

(9)
Checklist

(10)
Pengawas
/petugas
terkait

Dokumen
(manual
instruction/pe
tunjuk kerja

Sesuai jadwal
pelaksanaan

Tertib
melaksanakan
sesuai metode

Checklist

Quality
Enginering

Dokumen
petunjuk kerja

Sesuai jadwal
pelaksanaan

Tertib
melaksanakan
petunjuk kerja

Checklist

Quality
Enginering

BIAYA (Rp)

(11)

69

SASARAN KHUSUS
NO

URAIAN PEKERJAAN

(1)

(2)

PENGENDALIAN
RISIKO

PROGRAM
SUMBER
DAYA

URAIAN

TOLOK UKUR

(3)
1.4. Menggunakan
rambu peringatan
dan barikade

(4)
Seluruh lokasi
galian diberikan
rambu dan
barikade
standar

(5)
Rambu dan
barikade
standar (Dicari
contor dari jasa
marga, NFPA)

(6)
- Rambu dan
barikade
- SDM sesuai
dengan
kebutuhan

1.5. Melakukan
pelatihan kepada
pekerja

Seluruh pekerja
terkait telah
mengikuti
pelatihan dan
penyuluhan

Lulus tes dan


paham
mengenai
sistem
keselamatan
galian

1.6 Pengunaan
APD yang sesuai

Seluruh pekerja
menggunakan
APD standar

- SNI helm,
masker &
sepatu (Dicari)
- Jumlah
pekerja

JANGKA
WAKTU

INDIKATOR
PENCAPAIAN

MONITORIN
G

PENANGGUN
G JAWAB

(7)
Sebelum
bekerja harus
sudah lengkap

(8)
100% sesuai
standar

(9)
Checklist

(10)
Petugas K3

Instruktur,
program,
materi/modul
, tes
pemahaman,
dan peserta.

Sebelum
bekerja harus
sudah terlatih

100% lulus
dan paham

Evaluasi hasil
penyuluhan/p
elatihan

Petugas K3,
unit
pelatihan/HR
D

Masker,
sepatu
keselamatan,
pelindung
kepala

Sebelum
bekerja harus
sudah lengkap

100% sesuai
standar

Disediakan
petugas yang
melakukan
pengawasan
selama
pekerjaan
galian
berlangsung

Inspektor
K3/petugas
pengawas
pelaksanaan
pekerjaan

BIAYA (Rp)

(11)

70

Ketentuan Pengisian Tabel 2.:


Kolom (1)
: Nomor urut kegiatan.
Kolom (2)
: Diisi seluruh item pekerjaan yang mempunyai risiko K3
yang tertuang di dalam dokumen pelelangan.
Kolom (3)
: Diisi pengendalian risiko merujuk pada Tabel 1. kolom
(8).
Kolom (4)
: Diisi uraian dari sasaran khusus yang ingin dicapai
terhadap pengendalian risiko pada kolom (3).
Kolom (5)
: Tolok ukur merupakan ukuran yang bersifat kualitatif
ataupun kuantitatif terhadap pencapaian sasaran pada
kolom (4)
Kolom (6)
: Diisi sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan
program kerja atas sasaran yang hendak dicapai dari
kolom (5)
Kolom (7)
: Diisi jangka waktu yang ditetapkan untuk melaksanakan
program kerja atas sasaran khusus yang hendak dicapai.
Kolom (8)
: Indikator pencapaian adalah ukuran keberhasilan
pelaksanaan program.
Kolom (9)
: Diisi bentuk-bentuk monitoring yang dilaksanakan dalam
rangka memastikan bahwa pencapaian sasaran dipenuhi
sepanjang waktu pelaksanaan
Kolom (10) : Penanggung jawab pelaksana program
Kolom (11) : Diisi biaya kebutuhan pelaksanaan program
D. Pengendalian Operasional
Pengendalian operasional berupa prosedur kerja/petunjuk kerja, yang harus
mencakup seluruh upaya pengendalian pada Tabel 2., diantaranya :
1. Menunjuk Penanggung Jawab Kegiatan SMK3 yang dituangkan dalam
Struktur Organisasi K3 beserta Uraian Tugas.
2. Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan sesuai pada contoh
Tabel 2.;
3. Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja;
4. Program-program detail pelatihan sesuai pengendalian risiko pada
contoh Tabel 2.;
5. Sistem pertolongan pertama pada kecelakaan;
6. Disesuaikan kebutuhan tingkat pengendalian risiko K3 seperti yang
tertera pada contoh Tabel 1. Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Skala
Prioritas, Pengendalian Risiko K3, dan Penanggung Jawab.
E. Pemeriksaan dan Evaluasi Kinerja K3
Kegiatan pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 dilakukan mengacu pada
kegiatan yang dilaksanakan pada bagian D. (Pengendalian Operasional)
berdasarkan upaya pengendalian pada bagian C (Perencanaan K3) sesuai
dengan uraian Tabel 2. (sasaran dan program K3).

71

F. Tinjauan Ulang K3
Hasil pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 pada bagian E. diklasifikasikan
dengan kategori sesuai dan tidak sesuai tolok ukur sebagaimana ditetapkan
pada tabel 2. Sasaran dan Program K3.
Hal-hal yang tidak sesuai, termasuk bilamana terjadi kecelakaan kerja
dilakukan peninjauan ulang untuk diambil tindakan perbaikan.
Dibuat oleh, [Penanggung Jawab

Lapangan/Team
Leader]
( )
Penyedia Jasa

72

H.

BENTUK RINCIAN/URAIAN HARGA SATUAN PEKERJAAN (HSP)


CONTOH

Jenis pekerjaan
Satuan/Unit
Nomor Pembayaran

No.
(1)
I

Uraian

: ....................
: ....................

Satuan

(2)
(3)
Upah/Tenaga Kerja
Sub jumlah I
II
Bahan/Material
Sub jumlah II
III
Peralatan
Sub jumlah III
Sub jumlah (I+II+III)
IV
Lain-lain
- Biaya umum16
- Keuntungan
Sub Jumlah IV
Jumlah Harga = I+II+III+IV
Harga satuan pekerjaan .......... (dibulatkan)

Kuantitas/
Koefisien
(4)

Harga
Satuan
Dasar
(Rp)
(5)

Harga
(Rp)
(6)

.........

.........

.........
.........
.....% x Sub jumlah (I+II+III)
.....% x Sub jumlah (I+II+III)
.........
.........

Catatan:
Hanya diperlukan untuk klarifikasi kewajaran harga, apabila harga penawaran di
bawah 80% dari HPS

16

Biaya umum termasuk biaya keperluan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

73

I.

BENTUK JAMINAN PENAWARAN DARI BANK


CONTOH

[Kop Bank Penerbit Jaminan]


GARANSI BANK
sebagai
JAMINAN PENAWARAN
No. ....

Yang bertanda tangan dibawah ini: ........


dalam jabatan selaku ........ dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama .......... [nama bank] berkedudukan di
............ [alamat]
untuk selanjutnya disebut:
PENJAMIN
dengan ini menyatakan akan membayar kepada:
Nama
: ........ [Pokja ULP]
Alamat
: ........
selanjutnya disebut:
PENERIMA JAMINAN
sejumlah uang Rp ........
(terbilang ................)
sebagai Jaminan Penawaran dalam mengajukan penawaran untuk pelelangan
pekerjaan .......... dengan bentuk garansi bank, apabila:
Nama
: ........ [peserta pelelangan]
Alamat
: ........
selanjutnya disebut:
YANG DIJAMIN
ternyata sampai batas waktu yang ditentukan, namun tidak melebihi tanggal
batas waktu berlakunya Garansi Bank ini, tidak memenuhi ketentuan yaitu :
a. terlibat Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN);
b. menarik kembali penawaran selama dilaksanakannya pelelangan;
c. tidak bersedia menambah nilai jaminan pelaksanaan dalam hal sebagai calon
pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2 harga penawarannya di
bawah 80% HPS;
d. tidak hadir dalam klarifikasi dan/atau verifikasi kualifikasi dalam hal sebagai
calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2 dengan alasan yang
tidak dapat diterima; atau
e. mengundurkan diri atau gagal tanda tangan kontrak.
sebagaimana ditentukan dalam Dokumen Pengadaan yang diikuti oleh Yang
Dijamin.

74

Garansi Bank ini dikeluarkan dengan ketentuan sebagai berikut :


1. Garansi Bank berlaku selama (.) hari kalender, dan efektif mulai dari tanggal .... [diisi sesuai dengan tanggal
batas akhir pemasukan penawaran]
2. Tuntutan pencairan atau klaim dapat diajukan secara tertulis dengan
melampirkan Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima Jaminan paling
lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah tanggal jatuh tempo Garansi
Bank sebagaimana tercantum dalam butir 1.
3. Penjamin akan membayar kepada Penerima Jaminan sejumlah nilai jaminan
tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja
tanpa syarat (Unconditional) setelah menerima tuntutan pencairan dari
Penerima Jaminan berdasar Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima
Jaminan mengenai pengenaan sanksi akibat Yang Dijamin cidera
janji/lalai/tidak memenuhi kewajibannya.
4. Penjamin melepaskan hak-hak istimewanya untuk menuntut supaya bendabenda yang diikat sebagai jaminan lebih dahulu disita dan dijual untuk
melunasi hutang Yang Dijamin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1831
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
5. Garansi Bank ini tidak dapat dipindahtangankan atau dijadikan jaminan
kepada pihak lain.
6. Segala hal yang mungkin timbul sebagai akibat dari Garansi Bank ini,
masing-masing pihak memilih domisili hukum yang umum dan tetap di
Kantor Pengadilan Negeri .....
Dikeluarkan di
Pada tanggal

: ....
: ....

[Bank]

Materai Rp.6000,00
Untuk keyakinan,
pemegang Garansi Bank
disarankan untuk
mengkonfirmasi Garansi
ini ke ...........[bank]

....
[Nama dan Jabatan]

75

J.

BENTUK JAMINAN PENAWARAN DARI ASURANSI/PERUSAHAAN


PENJAMINAN (Hanya Untuk Badan Usaha Kecil)
CONTOH

[Kop Penerbit Jaminan]


JAMINAN PENAWARAN
Nomor Jaminan : ....

Nilai : ....

1. Dengan ini dinyatakan, bahwa kami : .... [nama],


.... [alamat] sebagai Peserta, selanjutnya disebut TERJAMIN,
dan .... [nama penerbit jaminan], ....
[alamat], sebagai Penjamin, selanjutnya disebut sebagai PENJAMIN,
bertanggung jawab dan dengan tegas terikat pada ....
[nama Pokja ULP],
........ [alamat]
sebagai pelaksana pelelangan pekerjaan .........., selanjutnya disebut
PENERIMA JAMINAN atas uang sejumlah Rp .... (terbilang
.................)
2. Maka kami, TERJAMIN dan PENJAMIN dengan ini mengikatkan diri untuk
melakukan pembayaran jumlah tersebut di atas dengan baik dan benar
bilamana TERJAMIN tidak memenuhi ketentuan yaitu:
a.
b.
c.
d.

menarik kembali penawaran selama dilaksanakannya pelelangan;


tidak bersedia menambah nilai jaminan pelaksanaan dalam hal sebagai
calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2 harga
penawarannya di bawah 80% HPS;
tidak hadir dalam klarifikasi dan/atau verifikasi kualifikasi dalam hal
sebagai calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2
dengan alasan yang tidak dapat diterima; atau
mengundurkan diri atau gagal tanda tangan kontrak.

3. Surat Jaminan ini berlaku selama . (..) hari kalender dan


efektif mulai tanggal [diisi sesuai dengan tanggal batas akhir
pemasukan penawaran]
4. PENJAMIN akan membayar kepada PENERIMA JAMINAN sejumlah nilai
jaminan tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat (Unconditional) setelah menerima tuntutan penagihan
secara tertulis dari PENERIMA JAMINAN berdasar Keputusan PENERIMA
JAMINAN mengenai pengenaan sanksi akibat TERJAMIN cidera
janji/wanprestasi.
5. Menunjuk pada Pasal 1832 KUH Perdata dengan ini ditegaskan kembali
bahwa PENJAMIN melepaskan hak-hak istimewa untuk menuntut supaya

76

harta benda TERJAMIN lebih dahulu disita dan dijual guna dapat melunasi
hutangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1831 KUH Perdata.
6. Tuntutan pencairan terhadap PENJAMIN berdasarkan Jaminan ini harus
sudah diajukan selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
kalender sesudah berakhirnya masa berlaku Jaminan ini.
Dikeluarkan di
pada tanggal ...
TERJAMIN

PENJAMIN
Materai Rp.6000,00

Untuk keyakinan,
pemegang Jaminan
disarankan untuk
mengkonfirmasi Jaminan
ini ke ....[Penerbit Jaminan]

77

K.

BENTUK PAKTA INTEGRITAS

[Contoh Pakta Integritas Badan Usaha Tanpa Kemitraan/KSO]

PAKTA INTEGRITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: [nama wakil sah badan usaha]
Jabatan

Bertindak
untuk
dan atas nama

: PT/CV/Firma/ atau lainnya [pilih yang sesuai


dan cantumkan nama]

dalam rangka pengadaan [isi nama paket] pada .


[isi sesuai dengan nama Pokja ULP] dengan ini menyatakan bahwa:
1. tidak akan melakukan praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN);
2. akan melaporkan kepada APIP [isi sesuai dengan
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi] dan/atau LKPP apabila
mengetahui ada indikasi KKN dalam proses pengadaan ini;
3. akan mengikuti proses pengadaan secara bersih, transparan, dan
profesional untuk memberikan hasil kerja terbaik sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;
4. apabila melanggar hal-hal yang dinyatakan dalam PAKTA INTEGRITAS ini,
bersedia menerima sanksi administratif, menerima sanksi pencantuman
dalam Daftar Hitam, digugat secara perdata dan/atau dilaporkan secara
pidana.
[tempat], . [tanggal] [bulan] 20. [tahun]
[Nama Penyedia]
[tanda tangan] ,
[nama lengkap]

78

[Contoh Pakta Integritas Badan Usaha Dengan Kemitraan/KSO]

PAKTA INTEGRITAS
Kami yang bertanda tangan di bawah ini :
1. Nama
: [nama wakil sah badan usaha]
Jabatan

Bertindak
: PT/CV/Firma/ atau lainnya [pilih yang sesuai
dan cantumkan nama]
untuk dan
atas nama
2. Nama
Jabatan

: [nama wakil sah badan usaha]


:

Bertindak
: PT/CV/Firma/ atau lainnya [pilih yang sesuai
dan cantumkan nama]
untuk dan
atas nama
3. ......[dan seterusnya, diisi sesuai dengan jumlah anggota kemitraan/KSO]

dalam rangka pengadaan [isi nama paket] pada


[isi sesuai dengan nama Pokja ULP] dengan ini menyatakan bahwa:
1. tidak akan melakukan praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN);
2. akan melaporkan kepada APIP [isi sesuai dengan
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi] dan/atau LKPP apabila
mengetahui ada indikasi KKN dalam proses pengadaan ini;
3. akan mengikuti proses pengadaan secara bersih, transparan, dan
profesional untuk memberikan hasil kerja terbaik sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;
4. apabila melanggar hal-hal yang dinyatakan dalam PAKTA INTEGRITAS ini,
bersedia menerima sanksi administratif, menerima sanksi pencantuman
dalam Daftar Hitam, digugat secara perdata dan/atau dilaporkan secara
pidana.
[tempat], .. [tanggal] [bulan] 20. [tahun]
[Nama Penyedia]

[Nama Penyedia]

[Nama Penyedia]

[tanda tangan] ,
[nama lengkap]

[tanda tangan] ,
[nama lengkap]

[tanda tangan] ,
[nama lengkap]

[cantumkan tanda tangan dan nama setiap anggota Kemitraan /KSO]

79

L.

BENTUK FORMULIR ISIAN KUALIFIKASI


FORMULIR ISIAN KUALIFIKASI
UNTUK BADAN USAHA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama

: [nama wakil sah badan usaha]

Jabatan

: ..[diisi sesuai jabatan dalam akta pendirian


perusahaan dan perubahannya]

Bertindak
untuk
dan atas nama

: PT/CV/Firma/Koperasi [pilih yang sesuai dan


cantumkan nama badan usaha]

Alamat

No. Telepon

No. Fax

: ...............

E-mail

...............

: ...............

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa:


1. saya secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak
berdasarkan
Akte Notaris
[sesuai akta
pendirian/perubahannya/surat kuasa, disebutkan secara jelas nomor dan
tanggal akta pendirian/perubahan/surat kuasa. Jika kemitraan/KSO maka
dicantumkan tambahan Surat Perjanjian Kemitraan/KSO];
2. saya bukan sebagai pegawai Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/
Institusi [bagi pegawai Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi
yang sedang cuti diluar tanggungan Kementerian/Lembaga/Pemerintah
Daerah/Institusi ditulis sebagai berikut : Saya merupakan pegawai
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi yang sedang cuti diluar
tanggungan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi ];
3. saya tidak sedang menjalani sanksi pidana;
4. saya tidak sedang dan tidak akan terlibat pertentangan kepentingan
dengan para pihak yang terkait, langsung maupun tidak langsung dalam
proses pengadaan ini;
5. badan usaha yang saya wakili tidak masuk dalam Daftar Hitam, tidak
dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, dan kegiatan usahanya tidak
sedang dihentikan;
6. salah satu dan/atau semua pengurus badan usaha yang saya wakili tidak
masuk dalam Daftar Hitam;
7. data-data saya/badan usaha yang saya wakili adalah sebagai berikut:

80

A. Data Administrasi
1.

Nama
(PT/CV/Firma/
:
atau lainnya)

2. Status

3. Alamat Kantor yang


mendaftar
(Pusat/Cabang)

Pusat

Cabang

No. Telepon

No. Fax

E-mail

4. Alamat Kantor Pusat

No. Telepon

No. Fax

E-mail

B. Izin Usaha
1. Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi
2. Masa berlaku izin usaha
3. Instansi pemberi izin usaha

: a. Nomor.
b. Tanggal
:
:

C. Sertifikat Badan Usaha

2. Masa berlaku

: a. Nomor
b. Tanggal
:

3. Instansi pemberi

1. Sertifikat Badan Usaha

D. Izin Lainnya (apabila dipersyaratkan, yang sesuai dengan pekerjaan yang


dilelangkan)

5. Masa berlaku izin

: c. Nomor
d. Tanggal
:

6. Instansi pemberi izin

4. Surat Izin .........

81

E. Landasan Hukum Pendirian Badan Usaha


1. Akta Pendirian PT/CV/Firma/ atau lainnya
a. Nomor Akta
:
b. Tanggal
:
c. Nama Notaris
:
2. Akta Perubahan Terakhir
a. Nomor Akta
:
b. Tanggal
:
c. Nama Notaris
:
F. Pengelola Badan Usaha
1. Komisaris/Pengawas untuk Perseroan Terbatas (PT)
No.

Nama

No. KTP

Jabatan dalam Badan Usaha

2. Direksi/Pengurus Badan Usaha


No.

Nama

No. KTP

Jabatan dalam Badan Usaha

G. Data Keuangan
1. Susunan Kepemilikan Saham (untuk PT)/Susunan Pesero (untuk
CV/Firma)
No.
Nama
No. KTP
Persentase

2. Pajak
a. Nomor Pokok Wajib Pajak
:
b. Bukti Laporan Pajak Tahun
terakhir (SPT Tahunan)
: No. Tanggal
c. Bukti Laporan Bulanan
(tiga bulan terakhir):
1) PPh Pasal 21
: No. Tanggal
2) PPh Pasal 23 (bila ada
transaksi
: No. Tanggal
3) PPh Pasal 25/Pasal 29
: No. Tanggal
4) PPN
: No. Tanggal
d. Surat Keterangan Fiskal*)
: No. Tanggal
*) apabila digunakan oleh penyedia sebagai pengganti huruf b dan c

82

H. Data Personil Inti (Tenaga ahli/teknis badan usaha)

No

Nama

Tgl/bln/thn
lahir

Tingkat
Pendidikan
4

Jabatan
dalam
pekerjaan
(posisi)
5

Pengalaman
Kerja
(tahun) 17

Profesi/
keahlian

Tahun
Sertifikat/
Ijazah

I. Data Peralatan
No.

Jenis
Peralatan

Jumlah

Kapasitas
atau output
pada saat
ini
4

Merk
dan
tipe

Tahun
pembuatan

Kondisi
(%)

Lokasi
Sekarang

Status Kepemilikan
(Millik/Sewa/Lainnya)

J. Data Pengalaman Perusahaan (nilai paket tertinggi pengalaman sesuai


klasifikasi/subklasifikasi yang dipersyaratkan dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir)

No.

Pemberi Tugas /
Pejabat Pembuat
Komitmen

Nama
Paket
Pekerjaan

Klasifikasi/Sub
klasifikasi
Pekerjaan

Lokasi

Tanggal Selesai
Menurut

Kontrak

Nama

Alamat
dan
Telepon

Nomor
dan
Tanggal

Nilai
(Rp)

Kontrak

BA
Serah
Terima
(PHO)

10

K. Data Pengalaman Perusahaan dalam 5 tahun terakhir (digunakan untuk


penilaian SKP = 6 atau SKP = 1,2 N bagi paket pekerjaan non kecil)
Pemberi Tugas /
Pejabat Pembuat
Komitmen
Nama Paket
Pekerjaan

No.

Lokasi

Kontrak/Subkontrak

Tanggal Selesai
Menurut

Nama

Alamat
dan
Telepon

Nomor
dan
Tanggal

Nilai
(Rp)

Kontrak

BA Serah
Terima
(PHO)

17

pengalaman dihitung per tahun tanpa memperhatikan lamanya pelaksanaan konstruksi


(dihitung berdasarkan Tahun Anggaran)

83

L. Data Pekerjaan yang Sedang Dilaksanakan


SKP = KP - jumlah paket yang sedang dikerjakan)

(untuk

Pemberi Tugas/Pejabat
Pembuat Komitmen
No.

Nama Paket
Pekerjaan

perhitungan

Kontrak

Nama

Alamat
/Telepon

Nomor dan
Tanggal

Nilai
(Rp)

Rencana
tanggal
kontrak
berakhir

Lokasi

M. Modal Kerja
Surat dukungan keuangan dari Bank:
Nomor
Tanggal
Nama Bank
Nilai

:
:
:
: Rp . ( .... dalam huruf..)

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan penuh rasa
tanggung jawab. Jika dikemudian hari ditemui bahwa data/dokumen yang saya
sampaikan tidak benar dan/atau ada pemalsuan, maka saya dan badan usaha
yang saya wakili bersedia dikenakan sanksi berupa sanksi administratif, sanksi
pencantuman dalam Daftar Hitam, gugatan secara perdata, dan/atau pelaporan
secara pidana kepada pihak berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
[tempat], .. [tanggal] [bulan] 20. [tahun]

PT/CV/Firma/ atau lainnya


[pilih yang sesuai dan cantumkan nama]
[rekatkan meterai Rp 6.000,dan tanda tangan]

(nama lengkap wakil sah badan usaha )

[jabatan pada badan usaha]

84

BAB VI
PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR KUALIFIKASI

A. Data Administrasi
1. Diisi dengan nama badan usaha peserta.
2. Pilih status badan usaha (Pusat/Cabang).
3. Diisi dengan alamat, nomor telepon, nomor fax dan e-mail badan
usaha yang didaftar sebagai peserta.
4. Diisi dengan alamat, nomor telepon, nomor fax dan e-mail kantor
pusat yang dapat dihubungi, apabila peserta berstatus kantor cabang.
B. Izin Usaha
1. Diisi dengan jenis surat izin usaha, nomor dan tanggal penerbitannya.
2. Diisi dengan masa berlaku izin usaha.
3. Diisi dengan nama instansi penerbit surat izin usaha.
C. Sertifikat Badan Usaha
1. Diisi nomor dan tanggal penerbitan.
2. Diisi dengan masa berlaku.
3. Diisi dengan nama instansi penerbit.
D. Izin Lainnya (apabila dipersyaratkan, yang sesuai dengan pekerjaan yang
dilelangkan)
1. Diisi dengan jenis surat izin, nomor dan tanggal penerbitannya.
2. Diisi dengan masa berlaku izin.
3. Diisi dengan nama instansi penerbit surat izin.
E.

Landasan Hukum Pendirian Badan Usaha


1. Diisi dengan nomor, tanggal dan nama notaris penerbit akta pendirian
badan usaha.
2. Diisi dengan nomor, tanggal dan nama notaris penerbit akta perubahan
terakhir badan usaha, apabila ada.

F.

Pengelola Badan Usaha (Pengawas/Pengurus)


1. Diisi dengan nama, nomor KTP dan jabatan dalam badan usaha, apabila
berbentuk Perseroan Terbatas.
2. Diisi dengan nama, nomor KTP dan jabatan dalam badan usaha.

G. Data Keuangan
1. Diisi dengan nama, nomor KTP dan persentase kepemilikan
saham/pesero.
2. Pajak:
a. Diisi dengan NPWP badan usaha.
b. Diisi dengan nomor dan tanggal bukti laporan pajak tahun terakhir
berupa SPT Tahunan.
c. Diisi dengan nomor dan tanggal bukti laporan bulanan (tiga bulan
terakhir):
1) PPh pasal 21;

85

2) PPh pasal 23 (bila ada transaksi);


3) PPh pasal 25/pasal 29;
4) PPN.
Persyaratan pemenuhan kewajiban pajak tahun terakhir dengan
penyampaian SPT Tahunan dan SPT Masa dapat diganti oleh peserta
dengan penyampaian Surat Keterangan Fiskal (SKF) yang dikeluarkan
oleh Kantor Pelayanan Pajak.
H. Data Personil Inti
Diisi dengan nama, tanggal/ bulan/ tahun lahir, tingkat pendidikan (SLTP/
SLTA/ S1/ S2/ S3), jabatan dalam pekerjaan yang pernah dilaksanakan,
lama pengalaman kerja, profesi/ keahlian sesuai dengan Surat Keterangan
Ahli/ Surat Keterangan Terampil dan tahun penerbitan sertifikat/ ijazah
dari setiap tenaga ahli/teknis sesuai dengan yang diperlukan untuk
pekerjaan yang dilelangkan.
I.

Data Peralatan
Diisi dengan jenis, jumlah, kapasitas atau output yang dapat dicapai pada
saat ini, merek dan tipe, tahun pembuatan, kondisi (dalam persentase),
lokasi keberadaan saat ini dan status kepemilikan/ dukungan sewa (dapat
diisi sebagai milik sendiri/ sewa beli/ sewa/ kontrak atau lainnya yang
tidak sedang digunakan dalam pelaksanaan) dari masing-masing fasilitas/
peralatan/ perlengkapan sesuai dengan yang diperlukan untuk pekerjaan
utama yang dilelangkan sesuai ketentuan Dokumen Pengadaan. Pokja
apabila diperlukan dapat membuktikan keberadaan alat dan bukti status
kepemilikan harus dapat ditunjukkan pada waktu Pembuktian Kualifikasi.

J.

Data Pengalaman Perusahaan


Diisi dengan nama paket-paket pekerjaan yang dipilih mulai dari nilai
paket tertinggi, Klasifikasi/Sub klasifikasi pekerjaan yang dipersyaratkan,
lokasi tempat pelaksanaan pekerjaan, nama dan alamat/telepon dari
pemberi tugas/Pejabat Pembuat Komitmen, nomor/tanggal dan nilai
kontrak, tanggal selesai paket pekerjaan menurut kontrak, dan tanggal
Berita Acara serah terima (PHO), untuk masing-masing paket pekerjaan
selama 10 (sepuluh) tahun terakhir.

K. Data Pengalaman Perusahaan dalam 5 tahun terakhir


Diisi dengan nama paket-paket pekerjaan, lokasi tempat pelaksanaan
pekerjaan, nama dan alamat/telepon dari pemberi tugas/Pejabat Pembuat
Komitmen, nomor/tanggal dan nilai kontrak, tanggal selesai paket
pekerjaan menurut kontrak, dan tanggal Berita Acara serah terima (PHO),
untuk masing-masing paket pekerjaan selama 5 (lima) tahun terakhir.
L.

Data Pekerjaan Yang Sedang Dilaksanakan


Diisi dengan nama paket pekerjaan, lokasi tempat pelaksanaan pekerjaan,
nama dan alamat/telepon dari pemberi tugas/Pejabat Pembuat Komitmen,
nomor/tanggal dan nilai kontrak, dan rencana tanggal kontrak berakhir.

86

M. Modal Kerja
Diisi dengan nomor, tanggal, dan nama bank yang mengeluarkan surat
dukungan keuangan serta nilai dukungan paling kurang 10% (sepuluh
perseratus) dari nilai total HPS.
N. Kemitraan/KSO
Untuk peserta yang berbentuk kemitraan/KSO masing-masing anggota
kemitraan/KSO wajib mengisi formulir isian kualifikasi untuk masingmasing kualifikasi badan usahanya.

87

BAB VII
TATA CARA EVALUASI KUALIFIKASI
A.

Dokumen Kualifikasi yang akan dievaluasi harus memenuhi persyaratan


sebagai berikut :
1. formulir isian kualifikasi ditandatangani oleh:
a. direktur utama/pimpinan perusahaan;
b. penerima kuasa dari direktur utama/pimpinan perusahaan yang
nama penerima kuasanya tercantum dalam akta pendirian atau
perubahannya;
c. kepala cabang perusahaan yang diangkat oleh kantor pusat yang
dibuktikan dengan dokumen otentik pada saat pembuktian
kualifikasi; atau
d. pejabat yang menurut perjanjian kerja sama berhak mewakili
perusahaan yang bekerja sama.
2. memiliki izin usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
seperti Izin Usaha Jasa Konstruksi;
3. menyampaikan pernyataan/pengakuan tertulis bahwa perusahaan
yang bersangkutan dan manajemennya tidak dalam pengawasan
pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan
dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan,
tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana;
4. salah satu dan/atau semua pengurus dan badan usahanya tidak
masuk dalam Daftar Hitam;
5. memiliki NPWP dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun
pajak terakhir (SPT Tahunan) serta memiliki laporan bulanan
PPh Pasal 21, PPh Pasal 23 (bila ada transaksi), PPh Pasal 25/Pasal 29
dan PPN (bagi Pengusaha Kena Pajak) paling kurang 3 (tiga) bulan
terakhir dalam tahun berjalan.
Peserta dapat mengganti laporan perpajakan tersebut dengan Surat
Keterangan Fiskal (SKF);
6. memperoleh paling sedikit 1 (satu) pekerjaan sebagai penyedia dalam
kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir, baik di lingkungan
pemerintah maupun swasta termasuk pengalaman subkontrak,
kecuali bagi Penyedia Usaha Kecil yang baru berdiri kurang dari
3 (tiga) tahun;
7. Memiliki kemampuan pada klasifikasi/sub klasifikasi pekerjaan yang
sesuai/sejenis untuk badan usaha non kecil;
8. memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan serta
personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan;

88

9. menyampaikan/mengisi daftar perolehan pekerjaan yang sedang


dikerjakan;
10. memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank
pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan pekerjaan konstruksi
paling kurang 10% (sepuluh perseratus) dari nilai total HPS. Dalam
hal kemitraan yang menyampaikan surat dukungan keuangan hanya
lead firm;
11. untuk usaha non-kecil (paket di atas Rp 2.500.000.000,00) memiliki
Kemampuan Dasar (KD) pada sub klasifikasi pekerjaan yang sejenis/
kompleksitas yang setara, dengan ketentuan :
a. KD
= 3 NPt
NPt
= Nilai pengalaman tertinggi pada sub klasifikasi
pekerjaan yang sesuai dalam 10 (sepuluh) tahun
terakhir;
b. dalam hal kemitraan/KSO yang diperhitungkan adalah KD dari
perusahaan yang mewakili kemitraan/KSO;
c. KD sekurang-kurangnya sama dengan nilai total HPS;
d. pengalaman perusahaan dinilai dari sub klasifikasi pekerjaan,
nilai kontrak dan status peserta pada saat menyelesaikan kontrak
sebelumnya;
e. nilai pengalaman pekerjaan dapat dikonversi menjadi nilai
pekerjaan sekarang (present value) menggunakan perhitungan
sebagai berikut:
NPs
Npo

=
=

Nilai pekerjaan sekarang


Nilai pekerjaan keseluruhan termasuk eskalasi
(apabila ada) saat serah terima pertama
Io
= Indeks dari Biro Pusat Statistik (BPS) pada bulan
serah terima pertama
Is
= Indeks dari BPS pada bulan penilaian prakualifikasi
(apabila belum ada, dapat dihitung dengan regresi
linier berdasarkan indeks bulan-bulan sebelumnya)
Indeks BPS yang dipakai adalah indeks yang merupakan
komponen terbesar dari pekerjaan;
12. mempunyai Sisa Kemampuan Paket (SKP), dengan ketentuan :
a. SKP
= KP jumlah paket yang sedang dikerjakan
KP
= Kemampuan menangani paket pekerjaan
untuk usaha kecil KP = 5
untuk usaha non kecil KP = 6 atau KP = 1,2 N
N
= Jumlah paket pekerjaan terbanyak yang dapat
ditangani pada saat bersamaan selama kurun waktu
5 (lima) tahun terakhir;
b. dalam hal kemitraan/KSO, yang diperhitungkan adalah SKP dari
masing-masing perusahaan yang bermitra/KSO;
c. untuk paket pekerjaan non kecil perhitungan SKP dipilih yang
nilainya terbesar dari cara sesuai butir a.

89

13. dalam hal peserta akan melakukan kemitraan/KSO :


a. peserta
wajib
mempunyai
perjanjian
Kerja
Sama
Operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan/KSO dan
perusahaan yang mewakili kemitraan/KSO tersebut;
b. evaluasi persyaratan pada angka 1 sampai dengan angka 7, dan 9,
dan 13 dilakukan untuk setiap perusahaan yang melakukan
kemitraan/KSO. Khusus untuk angka 8 evaluasi persyaratan
digabungkan sebagai evaluasi kemitraan/KSO, sedangkan
dukungan keuangan (angka 10) hanya atas nama
kemitraan/KSO;
B.

Evaluasi kualifikasi dilakukan dengan menggunakan metode penilaian


sistem gugur. Pokja ULP memeriksa dan membandingkan persyaratan dan
data isian peserta dalam Dokumen Isian Kualifikasi dalam hal :
1. kelengkapan Dokumen Isian Kualifikasi; dan
2. pemenuhan persyaratan kualifikasi.

C.

Formulir Isian Kualifikasi yang tidak dibubuhi materai tidak digugurkan,


peserta diminta untuk membubuhi materai senilai Rp.12.000,00
(dua belas ribu rupiah).

D.

Apabila ditemukan hal-hal dan/atau data yang kurang jelas maka Pokja
ULP dapat meminta peserta untuk menyampaikan klarifikasi secara tertulis
namun tidak boleh mengubah substansi formulir isian kualifikasi termasuk
dapat melakukan peninjauan lapangan pada pihak-pihak/instansi terkait.

E.

Pakta Integritas telah diisi dan ditandatangani oleh peserta sebelum


pemasukan penawaran.

F.

Evaluasi kualifikasi (pascakualifikasi) sudah merupakan kompetisi, maka


data yang kurang tidak dapat dilengkapi.

90

BAB VIII
BENTUK RANCANGAN KONTRAK
CONTOH 1 PENYEDIA TUNGGAL

SURAT PERJANJIAN
Paket Pekerjaan Konstruksi:
............................................
Nomor : ........................
SURAT PERJANJIAN ini berikut semua lampirannya adalah kontrak kerja
konstruksi harga satuan, yang selanjutnya disebut Kontrak dibuat dan
ditandatangani di ........................ pada hari ...................... tanggal . bulan
...................... tahun ...................... [tanggal, bulan dan tahun diisi dengan
huruf], berdasarkan Surat Penetapan Pemenang No. tanggal . dan
Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) No . tanggal ., antara:
Nama
: ...................... [nama PPK]
NIP
: ...................... [NIP PPK]
Jabatan
: PPK............... [sesuai SK Pengangkatan]
Berkedudukan di
: ...................... [alamat PPK]
yang bertindak untuk dan atas nama ....................... [nama satuan kerja PPK]
selanjutnya disebut PPK, dengan:
Nama
Jabatan
Berkedudukan di
Akta Notaris
Nomor
Tanggal
Notaris

: ...................... [nama wakil penyedia]


:....................... [sesuai akta notaris]
: ...................... [alamat penyedia]
:...................... [sesuai akta notaris]
:...................... [tanggal penerbitan akta]
: ...................... [nama Notaris penerbit akta]

yang bertindak untuk dan atas nama ...................... [nama Badan Usaha]
selanjutnya disebut Penyedia
Dan dengan memperhatikan :
1. Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 Tentang jasa Konstruksi;
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Buku III tentang perikatan);
3. Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 59
Tahun 2010;
4. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah yang terakhir diubah dengan Peraturan Presiden No. 70 Tahun
2012 beserta petunjuk teknisnya;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor
14/PRT/M/2013 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Dan Perumahan Rakyat Nomor 07/PRT/M/2011 tentang Standar dan
Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Konstruksi.
91

PARA PIHAK MENERANGKAN TERLEBIH DAHULU BAHWA:


(a) telah diadakan proses pemilihan penyedia yang telah sesuai dengan
Dokumen Pemilihan;
(b) PPK telah menunjuk Penyedia menjadi pihak dalam kontrak ini melalui
suatu Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) untuk melaksanakan
Pekerjaan .............. sebagaimana diterangkan dalam Syarat-Syarat Umum
Kontrak yang merupakan satu kesatuan dalam Kontrak ini selanjutnya
disebut Pekerjaan Konstruksi;
(c) Penyedia telah menyatakan kepada PPK, memiliki keahlian profesional,
personil, dan sumber daya teknis, serta telah menyetujui untuk
melaksanakan Pekerjaan Konstruksi sesuai dengan persyaratan dan
ketentuan dalam Kontrak ini;
(d) PPK dan Penyedia menyatakan memiliki kewenangan
menandatangani Kontrak ini, dan mengikat pihak yang diwakili;

untuk

(e) PPK dan Penyedia mengakui dan menyatakan bahwa sehubungan dengan
penandatanganan Kontrak ini masing-masing pihak :
1) telah dan senantiasa diberikan kesempatan untuk didampingi oleh
advokat;
2) menandatangani Kontrak ini setelah meneliti secara patut;
3) telah membaca dan memahami secara penuh ketentuan Kontrak ini;
4) telah mendapatkan kesempatan yang memadai untuk memeriksa dan
mengkonfirmasikan semua ketentuan dalam Kontrak ini beserta semua
fakta dan kondisi yang terkait.
Maka oleh karena itu, PPK dan Penyedia dengan ini bersepakat dan menyetujui
hal-hal sebagai berikut :
Pasal 1
ISTILAH DAN UNGKAPAN
Peristilahan dan ungkapan dalam Surat Perjanjian ini memiliki arti dan makna
yang sama seperti yang tercantum dalam lampiran Surat Perjanjian ini;
Pasal 2
RUANG LINGKUP PEKERJAAN
Ruang lingkup utama pekerjaan terdiri atas:
1. ................
2. ................
3. Dst.

92

Pasal 3
NILAI KONTRAK DAN PEMBAYARAN
(1) Nilai Kontrak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diperoleh
berdasarkan total harga penawaran terkoreksi sebagaimana tercantum
dalam Daftar Kuantitas dan Harga adalah sebesar Rp......................
(.........dalam huruf ............. rupiah).
(2) Pembayaran untuk kontrak ini dilakukan ke rekening nomor: ............. atas
nama penyedia : ...............;
[Catatan: untuk kontrak tahun jamak agar dicantumkan rincian pendanaan untuk
masing-masing Tahun Anggarannya]
Pasal 4
DOKUMEN KONTRAK
(1) Dokumen-dokumen berikut merupakan satu kesatuan dan bagian yang
tidak terpisahkan dari Kontrak ini :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

adendum Surat Perjanjian (apabila ada);


pokok perjanjian;
surat penawaran berikut daftar kuantitas dan harga;
syarat-syarat khusus Kontrak;
syarat-syarat umum Kontrak;
spesifikasi khusus;
spesifikasi umum;
gambar-gambar; dan
dokumen lainnya seperti: jaminan-jaminan, SPPBJ, BAHP, BAPP.

(2) Dokumen Kontrak dibuat untuk saling menjelaskan satu sama lain, dan jika
terjadi pertentangan antara ketentuan dalam suatu dokumen dengan
ketentuan dalam dokumen yang lain maka yang berlaku adalah ketentuan
dalam dokumen yang lebih tinggi berdasarkan urutan hirarki sebagaimana
dimaksud pada ayat (1);
Pasal 5
HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK
Hak dan kewajiban timbal-balik PPK dan Penyedia dinyatakan dalam Kontrak
yang meliputi khususnya :
a.

PPK mempunyai hak dan kewajiban untuk :


1) mengawasi dan memeriksa pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia;
2) meminta laporan-laporan secara periodik mengenai pelaksanaan
pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia;
3) memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang dibutuhkan
oleh Penyedia untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai
ketentuan Kontrak;
4) membayar pekerjaan sesuai dengan harga yang tercantum dalam
Kontrak yang telah ditetapkan kepada Penyedia;

93

b.

Penyedia mempunyai hak dan kewajiban untuk :


1) menerima pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan
harga yang telah ditentukan dalam Kontrak;
2) meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk sarana dan prasarana dari PPK
untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan Kontrak;
3) melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara periodik kepada PPK;
4) melaporkan pelaksanaan penggunaan produksi dalam negeri/TKDN
secara periodik kepada PPK;
5) melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Kontrak;
6) melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan secara cermat, akurat
dan penuh tanggung jawab dengan menyediakan tenaga kerja, bahanbahan, peralatan,
angkutan
ke atau dari lapangan, dan segala
pekerjaan permanen maupun sementara yang diperlukan untuk
pelaksanaan, penyelesaian dan perbaikan pekerjaan yang dirinci dalam
Kontrak;
7) memberikan
keterangan-keterangan
yang
diperlukan
untuk
pemeriksaan pelaksanaan yang dilakukan PPK;
8) menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal penyerahan
pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Kontrak;
9) mengambil langkah-langkah yang cukup memadai seperti menerapkan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk melindungi
lingkungan tempat kerja, serta membatasi perusakan dan gangguan
kepada masyarakat maupun miliknya akibat kegiatan Penyedia.
[Catatan: Hak dan Kewajiban kontraktor disesuaikan dengan lingkup pekerjaan
yang harus dilaksanakan sesuai kontrak]

Pasal 6
MASA KONTRAK
(1) Masa kontrak adalah jangka waktu berlakunya Kontrak ini terhitung sejak
tanggal penandatanganan kontrak sampai dengan masa pemeliharaan
berakhir;
(2) Masa pelaksanaan kontrak ini mulai berlaku efektif terhitung sejak tanggal
yang ditetapkan dalam Syarat-Syarat Khusus Kontrak dan penyelesaian
keseluruhan pekerjaan selama ......... (.......dalam huruf......) hari kalender;
(3) Masa pemeliharaan ditentukan dalam syarat-syarat khusus kontrak,
dihitung sejak tanggal penyerahan pertama pekerjaan sampai dengan
tanggal penyerahan akhir pekerjaan selama ......... (.......dalam huruf......) hari
kalender.
Dengan demikian PPK dan Penyedia telah bersepakat untuk menandatangani
Kontrak ini pada tanggal tersebut di atas dan melaksanakan Kontrak sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di Republik Indonesia dan
dibuat dalam 2 (dua) rangkap, masing-masing dibubuhi dengan materai,
mempunyai kekuatan hukum yang sama dan mengikat bagi para pihak,
rangkap yang lain dapat diperbanyak sesuai kebutuhan tanpa dibubuhi materai.

94

Untuk dan atas nama ......................


Penyedia

Untuk dan atas nama ......................


PPK

[tanda tangan dan cap (jika salinan asli ini [tanda tangan dan cap (jika salinan asli ini
untuk Penyedia maka rekatkan materai Rp
6.000,- )]

untuk satuan kerja PPK maka rekatkan


materai Rp 6.000,- )]

[nama lengkap]
[jabatan]

[nama lengkap]
[jabatan]

95

CONTOH 2 PENYEDIA BERMITRA/KSO

SURAT PERJANJIAN
Paket Pekerjaan Konstruksi:
..........................
Nomor : ........................
SURAT PERJANJIAN ini berikut semua lampirannya adalah kontrak kerja
konstruksi harga satuan, yang selanjutnya disebut Kontrak dibuat dan
ditandatangani di ...................... pada hari ...................... tanggal . bulan
...................... tahun ...................... [tanggal, bulan dan tahun diisi dengan huruf],
berdasarkan Surat Penetapan Pemenang No. tanggal . dan Surat
Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) No . tanggal ., antara :
Nama
NIP
Jabatan
Berkedudukan di

: ...................... [nama PPK]


: ...................... [NIP PPK]
: PPK............... [sesuai SK Pengangkatan]
: ...................... [alamat PPK]

yang bertindak untuk dan atas nama ....................... [nama satuan kerja PPK]
selanjutnya disebut PPK, dengan kemitraan/KSO yang beranggotakan sebagai
berikut :
1. ...................... [nama Penyedia 1];
2. ...................... [nama Penyedia 2];
..... dst
yang masing-masing anggotanya bertanggung jawab secara pribadi dan
tanggung renteng atas semua kewajiban terhadap PPK berdasarkan Kontrak ini
dan telah menunjuk ...................... [nama anggota kemitraan yang ditunjuk sebagai
wakil kemitraan/KSO] untuk bertindak atas nama Kemitraan yang berkedudukan
di ...................... [alamat Penyedia wakil kemitraan], berdasarkan surat Perjanjian
kemitraan/KSO No. ...................... tanggal ...................... selanjutnya disebut
Penyedia.
Dan dengan memperhatikan :
1. Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 Tentang jasa Konstruksi;
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Buku III tentang perikatan);
3. Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi. Sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 59
Tahun 2010;
4. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah yang terakhir diubah dengan Peraturan Presiden No. 70 Tahun
2012 beserta petunjuk teknisnya ;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan
Rakyat Nomor : ..............

96

PARA PIHAK MENERANGKAN TERLEBIH DAHULU BAHWA:


(a) telah diadakan proses pemilihan penyedia yang telah sesuai dengan
Dokumen Pemilihan;
(b) PPK telah menunjuk Penyedia menjadi pihak dalam kontrak ini melalui
suatu Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) untuk melaksanakan
Pekerjaan .............. sebagaimana diterangkan dalam Syarat-Syarat Umum
Kontrak yang merupakan satu kesatuan dalam Kontrak ini selanjutnya
disebut Pekerjaan Konstruksi;
(c) Penyedia telah menyatakan kepada PPK, memiliki keahlian profesional,
personil, dan sumber daya teknis, serta telah menyetujui untuk
melaksanakan Pekerjaan Konstruksi sesuai dengan persyaratan dan
ketentuan dalam Kontrak ini;
(d) PPK dan Penyedia menyatakan memiliki kewenangan
menandatangani Kontrak ini, dan mengikat pihak yang diwakili;

untuk

(e) PPK dan Penyedia mengakui dan menyatakan bahwa sehubungan dengan
penandatanganan Kontrak ini masing-masing pihak :
1) telah dan senantiasa diberikan kesempatan untuk didampingi oleh
advokat;
2) menandatangani Kontrak ini setelah meneliti secara patut;
3) telah membaca dan memahami secara penuh ketentuan Kontrak ini;
4) telah mendapatkan kesempatan yang memadai untuk memeriksa dan
mengkonfirmasikan semua ketentuan dalam Kontrak ini beserta semua
fakta dan kondisi yang terkait.
Maka oleh karena itu, PPK dan Penyedia dengan ini bersepakat dan menyetujui
hal-hal sebagai berikut :
Pasal 1
ISTILAH DAN UNGKAPAN
Peristilahan dan ungkapan dalam Surat Perjanjian ini memiliki arti dan makna
yang sama seperti yang tercantum dalam lampiran Surat Perjanjian ini;
Pasal 2
RUANG LINGKUP PEKERJAAN
Ruang lingkup utama pekerjaan terdiri atas :
1. ................
2. ................
Dst.
Pasal 3
NILAI KONTRAK DAN PEMBAYARAN
(1) Nilai Kontrak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diperoleh
berdasarkan total harga penawaran terkoreksi sebagaimana tercantum
dalam Daftar Kuantitas dan Harga adalah sebesar Rp......................
(.........dalam huruf ............. rupiah).

97

(2) Pembayaran untuk kontrak ini dilakukan ke rekening nomor : ............. atas
nama penyedia : ...............;
[Catatan: untuk kontrak tahun jamak agar dicantumkan rincian pendanaan untuk
masing-masing Tahun Anggarannya]
Pasal 4
DOKUMEN KONTRAK
(1) Dokumen-dokumen berikut merupakan satu-kesatuan dan bagian yang
tidak terpisahkan dari Kontrak ini :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

adendum Surat Perjanjian [apabila ada];


pokok perjanjian;
surat penawaran berikut daftar kuantitas dan harga;
syarat-syarat khusus Kontrak;
syarat-syarat umum Kontrak;
spesifikasi khusus;
spesifikasi umum;
gambar-gambar; dan
dokumen lainnya seperti: jaminan-jaminan, SPPBJ, BAHP, BAPP.

(2) Dokumen Kontrak dibuat untuk saling menjelaskan satu sama lain, dan jika
terjadi pertentangan antara ketentuan dalam suatu dokumen dengan
ketentuan dalam dokumen yang lain maka yang berlaku adalah ketentuan
dalam dokumen yang lebih tinggi berdasarkan urutan hirarki sebagaimana
dimaksud pada ayat (1);
Pasal 5
HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK
Hak dan kewajiban timbal-balik PPK dan Penyedia dinyatakan dalam Kontrak
yang meliputi khususnya :
a. PPK mempunyai hak dan kewajiban untuk :
1) mengawasi dan memeriksa pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia;
2) meminta laporan-laporan secara periodik mengenai pelaksanaan
pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia;
3) memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh
Penyedia untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan
Kontrak;
4) membayar pekerjaan sesuai dengan harga yang tercantum dalam
Kontrak yang telah ditetapkan kepada Penyedia;
b.

Penyedia mempunyai hak dan kewajiban untuk :


1) menerima pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan
harga yang telah ditentukan dalam Kontrak;
2) meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk sarana dan prasarana dari PPK
untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan Kontrak;
3) melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara periodik kepada PPK;
4) melaporkan pelaksanaan penggunaan produksi dalam negeri/TKDN
secara periodik kepada PPK;

98

5) melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal


pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Kontrak;
6) melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan secara cermat, akurat dan
penuh tanggung jawab dengan menyediakan tenaga kerja, bahanbahan, peralatan, angkutan ke atau dari lapangan, dan segala
pekerjaan permanen maupun sementara yang diperlukan untuk
pelaksanaan, penyelesaian dan perbaikan pekerjaan yang dirinci dalam
Kontrak;
7) memberikan
keterangan-keterangan
yang
diperlukan
untuk
pemeriksaan pelaksanaan yang dilakukan PPK;
8) menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal penyerahan
pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Kontrak;
9) mengambil langkah-langkah yang cukup memadai seperti menerapkan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk melindungi
lingkungan tempat kerja, serta membatasi perusakan dan gangguan
kepada masyarakat maupun miliknya akibat kegiatan Penyedia.
[Catatan: Hak dan Kewajiban kontraktor disesuaikan dengan lingkup pekerjaan
yang harus dilaksanakan sesuai kontrak]

Pasal 6
MASA KONTRAK
(1) Masa kontrak adalah jangka waktu berlakunya Kontrak ini terhitung sejak
tanggal penandatanganan kontrak sampai dengan masa pemeliharaan
berakhir;
(2) Masa pelaksanaan kontrak ini mulai berlaku efektif terhitung sejak tanggal
yang ditetapkan dalam Syarat-Syarat Khusus Kontrak dan penyelesaian
keseluruhan pekerjaan selama ......... (.......dalam huruf......) hari kalender;
(3) Masa pemeliharaan ditentukan dalam syarat-syarat khusus kontrak,
dihitung sejak tanggal penyerahan pertama pekerjaan sampai dengan
tanggal penyerahan akhir pekerjaan selama ........ (.......dalam huruf......) hari
kalender.

Dengan demikian, PPK dan Penyedia telah bersepakat untuk menandatangani


Kontrak ini pada tanggal tersebut di atas dan melaksanakan Kontrak sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di Republik Indonesia dan
dibuat dalam 2 (dua) rangkap, masing-masing dibubuhi dengan materai,
mempunyai kekuatan hukum yang sama dan mengikat bagi para pihak,
rangkap yang lain dapat diperbanyak sesuai kebutuhan tanpa dibubuhi
materai..

99

Untuk dan atas nama ......................


Penyedia/Kemitraan (KSO)

Untuk dan atas nama....................


PPK

[tanda tangan dan cap (jika salinan asli ini


untuk Penyedia maka rekatkan materai Rp
6.000,- )]

[tanda tangan dan cap (jika salinan asli ini


untuk satuan kerja PPK maka rekatkan
materai Rp 6.000,- )]

[nama lengkap]
[jabatan]

[nama lengkap]
[jabatan]

100

BAB IX
SYARAT-SYARAT UMUM KONTRAK
A. Ketentuan Umum
1. Definisi

Istilah-istilah yang digunakan dalam Syarat-Syarat


Umum Kontrak selanjutnya disebut SSUK harus
mempunyai arti atau tafsiran seperti yang dimaksudkan
sebagai berikut :
1.1

1.2

1.3

1.4

1.5

1.6

1.7

Pekerjaan Konstruksi adalah seluruh pekerjaan


yang
berhubungan
dengan
pelaksanaan
konstruksi bangunan atau pembuatan wujud fisik
lainnya.
Kontrak Harga Satuan adalah kontrak pengadaan
barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan
dalam batas waktu tertentu, berdasarkan harga
satuan yang pasti dan tetap untuk setiap
satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis
tertentu, yang volume pekerjaannya masih bersifat
perkiraan sementara, sedangkan pembayarannya
didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas
volume pekerjaan yang benar-benar telah
dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa.
Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA
adalah
pejabat
pemegang
kewenangan
penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga/
Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang
disamakan pada Institusi Pengguna APBN/APBD.
Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya
disebut KPA adalah pejabat yang ditetapkan oleh
PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan
oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD.
Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya
disebut PPK adalah pejabat yang bertanggung
jawab atas pelaksanaan Pengadaan Pekerjaan
Konstruksi.
Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan adalah
panitia/pejabat yang ditetapkan oleh KPA yang
bertugas memeriksa dan menerima hasil
pekerjaan.
Aparat Pengawas Intern Pemerintah atau
pengawas intern pada Institusi lain yang
selanjutnya disebut APIP adalah aparat yang
melakukan pengawasan melalui audit, reviu,
evaluasi, pemantauan dan kegiatan pengawasan
lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi
organisasi.

101

1.8

Penyedia adalah badan usaha yang menyediakan/


melaksanakan Pekerjaan Konstruksi.

1.9

Subpenyedia adalah penyedia yang mengadakan


perjanjian kerja dengan penyedia penanggung
jawab kontrak, untuk melaksanakan sebagian
pekerjaan (subkontrak).

1.10

Kemitraan/KSO adalah kerja sama usaha antar


penyedia baik penyedia nasional maupun
penyedia asing, yang masing-masing pihak
mempunyai hak, kewajiban dan tanggung jawab
yang jelas berdasarkan perjanjian tertulis.

1.11

Surat Jaminan yang selanjutnya disebut Jaminan,


adalah jaminan tertulis yang bersifat mudah
dicairkan dan tidak bersyarat (unconditional),
yang dikeluarkan oleh Bank Umum/Perusahaan
Penjaminan/
Perusahaan
Asuransi
yang
diserahkan oleh penyedia kepada PPK/Pokja ULP
untuk
menjamin
terpenuhinya
kewajiban
penyedia.

1.12

Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang selanjutnya


disebut Kontrak adalah perjanjian tertulis antara
PPK dengan penyedia yang mencakup SyaratSyarat Umum Kontrak (SSUK) ini dan SyaratSyarat Khusus Kontrak (SSKK) serta dokumen lain
yang merupakan bagian dari kontrak.

1.13 Nilai Kontrak adalah total harga pelaksanaan


pekerjaan yang tercantum dalam Kontrak.
1.14 Hari adalah hari kalender.
1.15

Direksi lapangan adalah tim pendukung yang


dibentuk/ditetapkan oleh PPK (dapat dijabat oleh
PPK atau pejabat lain dan diberitahukan secara
tertulis kepada Penyedia), terdiri dari 1 (satu)
orang atau lebih, yang ditentukan dalam syaratsyarat khusus kontrak untuk mengelola
administrasi
kontrak
dan
mengendalikan
pelaksanaan pekerjaan.

1.16 Direksi teknis adalah tim pendukung yang


ditunjuk/ditetapkan oleh PPK yang bertugas untuk
mengawasi pelaksanaan pekerjaan.
1.17 Daftar kuantitas dan Harga adalah daftar
kuantitas yang telah diisi harga satuan dan jumlah
biaya keseluruhannya yang merupakan bagian
dari penawaran.
1.18

Harga Perkiraan Sendiri (HPS) adalah perhitungan


perkiraan biaya pekerjaan yang disusun oleh PPK,
dikalkulasikan secara keahlian berdasarkan data
102

yang
dapat
dipertanggungjawabkan
serta
digunakan oleh Pokja ULP untuk menilai
kewajaran penawaran termasuk rinciannya.
1.19

Pekerjaan Utama adalah jenis pekerjaan yang


secara langsung menunjang terwujudnya dan
berfungsinya
suatu
konstruksi
sesuai
peruntukannya yang ditetapkan sebagaimana
tercantum dalam LDP.

1.20 Mata
Pembayaran
Utama
adalah
Mata
pembayaran yang pokok dan penting yang nilai
bobot kumulatifnya minimal 80% (delapan puluh
per seratus) dari seluruh nilai pekerjaan, dihitung
mulai dari mata pembayaran yang nilai bobotnya
terbesar yang ditetapkan oleh Pokja ULP dalam
Dokumen Pengadaan.
1.21 Harga Satuan Pekerjaan (HSP) adalah harga
satuan jenis pekerjaan tertentu per satu satuan
tertentu.
1.22 Metoda
Pelaksanaan
Pekerjaan
adalah
metode/cara kerja yang layak, realistik dan dapat
dilaksanakan untuk menyelesaikan seluruh
pekerjaan
dan
diyakini
menggambarkan
penguasaan dalam penyelesaian pekerjaan dengan
tahap pelaksanaan yang sistimatis dari awal
sampai akhir dan dapat dipertanggung jawabkan
secara teknis berdasarkan sumber daya yang
dimiliki penawar.
1.23

Personil Inti adalah tenaga ahli atau tenaga teknis


yang akan ditempatkan secara penuh sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan sebagaimana
tercantum dalam penawaran serta posisinya
dalam manajemen pelaksanaan pekerjaan sesuai
dengan organisasi pelaksanaan yang diajukan
untuk melaksanakan pekerjaan.

1.24

Bagian Pekerjaan yang Disubkontrakkan adalah


pekerjaan spesialis atau bagian pekerjaan bukan
pekerjaan utama yang ditetapkan sebagaimana
tercantum
dalam
penawaran,
yang
pelaksanaannya diserahkan kepada penyedia lain
dan disetujui terlebih dahulu oleh PPK.

1.25

SPMK adalah Surat Perintah Mulai Kerja yang


diterbitkan oleh PPK kepada penyedia barang/jasa
untuk memulai melaksanakan pekerjaan

1.26

Masa Kontrak adalah jangka waktu berlakunya


Kontrak
ini
terhitung
sejak
tanggal
penandatanganan kontrak sampai dengan masa

103

pemeliharaan berakhir.
1.27

Masa Pelaksanaan (jangka waktu pelaksanaan)


adalah jangka waktu untuk melaksanakan
pekerjaan dihitung berdasarkan SPMK sampai
dengan serah terima pertama pekerjaan.

1.28

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan adalah kerangka


waktu yang sudah terinci berdasarkan masa
pelaksanaan, setelah dilaksanakan pemeriksaan
lapangan bersama dan disepakati dalam rapat
persiapan pelaksanaan Kontrak.

1.29 Tanggal Mulai Kerja adalah tanggal yang


dinyatakan pada Surat Perintah Mulai Kerja
(SPMK) yang diterbitkan oleh PPK untuk memulai
melaksanakan pekerjaan.

2. Penerapan

1.30

Tanggal Penyelesaian Pekerjaan adalah tanggal


penyerahan pertama pekerjaan selesai (Provisional
Hand Over/PHO), dinyatakan dalam Berita Acara
penyerahan pertama pekerjaan yang diterbitkan
oleh Pejabat/Panitia Penerima Hasil Pekerjaan.

1.31

Masa Pemeliharaan adalah kurun waktu kontrak


yang ditentukan dalam syarat-syarat khusus
kontrak, dihitung sejak tanggal penyerahan
pertama pekerjaan sampai dengan tanggal
penyerahan akhir pekerjaan.

1.32

Kegagalan Konstruksi adalah adalah keadaan hasil


pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi
pekerjaan sebagaimana disepakati dalam kontrak
baik sebagian maupun keseluruhan sebagai akibat
kesalahan pengguna atau penyedia dalam periode
pelaksanaan kontrak.

1.33

Kegagalan Bangunan adalah keadaan bangunan,


yang setelah diserahterimakan oleh penyedia
kepada PPK dan terlebih dahulu diperiksa serta
diterima oleh Panitia/Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan, menjadi tidak berfungsi, baik secara
keseluruhan maupun sebagian dan/atau tidak
sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam
kontrak, dari segi teknis, manfaat, keselamatan
dan kesehatan kerja, dan/atau keselamatan umum
sebagai akibat kesalahan Penyedia atau Pengguna
Jasa.

SSUK diterapkan secara luas dalam pelaksanaan


Pekerjaan Konstruksi ini tetapi tidak dapat bertentangan
dengan ketentuan-ketentuan dalam Dokumen Kontrak
yang lebih tinggi berdasarkan urutan hirarki dalam Surat
Perjanjian.

104

3. Bahasa dan
Hukum

4. Larangan
Korupsi, Kolusi
dan Nepotisme
(KKN),
Penyalahgunaan
Wewenang serta
Penipuan

3.1

Bahasa kontrak harus dalam Bahasa Indonesia


kecuali dalam rangka pinjaman/hibah luar
negeri
menggunakan
Bahasa Indonesia dan
bahasa nasional pemberi pinjaman/hibah tersebut
dan/atau bahasa Inggris.

3.2

Hukum yang digunakan adalah hukum yang


berlaku di Indonesia.

3.3

Apabila sumber dana berasal dari pinjaman/hibah


luar negeri, menggunakan hukum yang berlaku di
Indonesia atau hukum yang berlaku di negara
pemberi pinjaman/hibah (tergantung kesepakatan
antara Pemerintah dan negara
pemberi
pinjaman/hibah), pilihan hukum yang digunakan
agar dicantumkan dalam Syarat-syarat Khusus
Kontrak yang selanjutnya disebut SSKK.

4.1

Berdasarkan
etika
pengadaan
pemerintah, dilarang untuk:

barang/jasa

a. menawarkan, menerima atau menjanjikan


untuk memberi atau menerima hadiah atau
imbalan berupa apa saja atau melakukan
tindakan lainnya untuk mempengaruhi
siapapun yang diketahui atau patut dapat
diduga berkaitan dengan pengadaan ini;
b. mendorong terjadinya persaingan tidak sehat;
c. membuat dan/atau menyampaikan secara
tidak benar dokumen dan/atau keterangan
lain yang disyaratkan untuk penyusunan dan
pelaksanaan Kontrak ini.
4.2

Penyedia menjamin bahwa yang bersangkutan


(termasuk semua anggota Kemitraan/KSO apabila
berbentuk Kemitraan/KSO) dan Sub penyedianya
(jika ada) tidak pernah dan tidak akan melakukan
tindakan yang dilarang di atas.

4.3

Penyedia yang menurut penilaian PPK terbukti


melakukan larangan-larangan di atas dapat
dikenakan sanksi-sanksi administratif oleh PPK
sebagai berikut:
a. Pemutusan Kontrak;
b. Jaminan
Pelaksanaan
dicairkan
dan
disetorkan sebagaimana ditetapkan dalam
SSKK;
c. Sisa uang muka harus dilunasi oleh Penyedia;
dan/atau
d. Sanksi pengenaan daftar hitam.
[catatan: Sanksi pengenaan daftar

hitam,

105

diterbitkan oleh KPA atas usulan PPK.


KPA mengirimkan dokumen penetapan sanksi
daftar hitam kepada:
1) Penyedia yang dikenakan Daftar Hitam; dan
2) Kepala LKPP]

5. Asal Material/
Bahan

6. Korespondensi

4.4

Pengenaan sanksi administratif di atas dilaporkan


oleh
PPK/KPA
kepada
Menteri/Kepala
Lembaga/Kepala Daerah/ Pimpinan Institusi.

4.5

PPK yang terlibat dalam KKN dan penipuan


dikenakan
sanksi
berdasarkan
ketentuan
peraturan perundang-undangan.

5.1

Penyedia
harus
menyampaikan
asal
material/bahan yang terdiri dari rincian
komponen dalam negeri dan komponen impor.

5.2

Asal
material/bahan
merupakan
tempat
material/bahan diperoleh, antara lain tempat
material/bahan
ditambang,
tumbuh,
atau
diproduksi.

6.1

Semua korespondensi dapat berbentuk surat,


e-mail dan/atau faksimili dengan alamat tujuan
para pihak yang tercantum dalam SSKK.

6.2

Semua
pemberitahuan,
permohonan,
atau
persetujuan berdasarkan Kontrak ini harus dibuat
secara tertulis dalam Bahasa Indonesia, dan
dianggap telah diberitahukan jika telah
disampaikan secara langsung kepada wakil sah
Para Pihak dalam SSUK, atau jika disampaikan
melalui surat tercatat dan/atau faksimili ditujukan
ke alamat yang tercantum dalam SSKK.

7. Wakil Sah Para


Pihak

Setiap tindakan yang disyaratkan atau diperbolehkan


untuk dilakukan, dan setiap dokumen yang disyaratkan
atau diperbolehkan untuk dibuat berdasarkan Kontrak
ini oleh PPK atau Penyedia hanya dapat dilakukan atau
dibuat oleh pejabat yang disebutkan dalam SSKK.

8. Pembukuan

Penyedia diharapkan untuk melakukan pencatatan


keuangan yang akurat dan sistematis sehubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan ini berdasarkan standar
akuntansi yang berlaku.

9. Perpajakan

Penyedia, Subpenyedia (jika ada), dan Personil yang


bersangkutan berkewajiban untuk membayar semua
pajak, bea, retribusi, dan pungutan lain yang dibebankan
oleh peraturan perpajakan atas pelaksanaan Kontrak ini.
Semua pengeluaran perpajakan ini dianggap telah
termasuk dalam Nilai Kontrak.

10. Pengalihan

10.1 Penyedia dilarang untuk mengalihkan sebagian

106

dan/atau
Subkontrak

atau seluruh Kontrak ini. Pengalihan seluruh


Kontrak hanya diperbolehkan dalam hal
pergantian nama Penyedia, baik sebagai akibat
peleburan (merger) maupun akibat lainnya.
10.2 Penyedia dilarang untuk mensubkontrakkan
sebagian/seluruh pekerjaan utama dalam Kontrak
ini.
10.3 Subkontrak sebagian pekerjaan utama hanya
diperbolehkan kepada Penyedia spesialis setelah
mendapat persetujuan tertulis dari PPK. Penyedia
tetap bertanggung jawab atas bagian pekerjaan
yang disubkontrakkan.
10.4

Jika ketentuan di atas dilanggar maka Kontrak


diputuskan dan Penyedia dikenakan sanksi
sebagaimana diatur dalam SSKK.

11. Pengabaian

Jika terjadi pengabaian oleh satu Pihak terhadap


pelanggaran ketentuan tertentu Kontrak oleh Pihak yang
lain maka pengabaian tersebut tidak menjadi pengabaian
yang terus-menerus selama Masa Kontrak atau seketika
menjadi pengabaian terhadap pelanggaran ketentuan
yang lain. Pengabaian hanya dapat mengikat jika dapat
dibuktikan secara tertulis dan ditandatangani oleh Wakil
Sah Pihak yang melakukan pengabaian.

12. Penyedia Mandiri

Penyedia berdasarkan Kontrak ini bertanggung jawab


penuh terhadap personil dan subpenyedianya (jika ada)
serta pekerjaan yang dilakukan oleh mereka.

13. Kemitraan/ KSO

Kemitraan/KSO memberi kuasa kepada salah satu


anggota yang disebut dalam Surat Perjanjian untuk
bertindak atas nama Kemitraan/KSO dalam pelaksanaan
hak dan kewajiban terhadap PPK berdasarkan Kontrak
ini.

14. Pengawasan
Pelaksanaan
Pekerjaan

14.1

Selama berlangsungnya pelaksanaan pekerjaan,


PPK jika dipandang perlu dapat mengangkat
Pengawas Pekerjaan (Direksi Pekerjaan/Direksi
Teknis) yang berasal dari personil PPK atau
konsultan
pengawas.
Pengawas
Pekerjaan
berkewajiban untuk mengawasi pelaksanaan
pekerjaan.

14.2 Dalam melaksanakan kewajibannya, Pengawas


Pekerjaan selalu bertindak untuk kepentingan
PPK. Jika tercantum dalam SSKK, Pengawas
Pekerjaan dapat bertindak sebagai Wakil Sah PPK.
15. Persetujuan Atau
Pernyataan Tidak
Berkeberatan
Dari Pengawas

15.1

Semua gambar yang digunakan melaksanakan


pekerjaan sesuai kontrak, untuk pekerjaan
permanen maupun pekerjaan sementara harus
mendapatkan
persetujuan
dari
Pengawas

107

Pekerjaan

Pekerjaan.
15.2

Jika dalam pelaksanaan pekerjaan ini diperlukan


terlebih dahulu ada pekerjaan sementara yang
tidak tercantum dalam daftar kuantitas dan harga
di dalam kontrak maka penyedia berkewajiban
untuk menyerahkan spesifikasi dan gambar
usulan pekerjaan sementara tersebut untuk
mendapatkan pernyataan tidak berkeberatan
(no objection) untuk dilaksanakan dari Pengawas
Pekerjaan.
Pernyataan tidak berkeberatan atas rencana
pekerjaan sementara ini tidak melepaskan
penyedia dari tanggung jawabnya sesuai kontrak.

16. Perintah

Penyedia berkewajiban untuk melaksanakan semua


perintah Pengawas Pekerjaan yang sesuai dengan
kewenangan Pengawas Pekerjaan dalam Kontrak ini.

17. Penemuanpenemuan

Penyedia wajib memberitahukan kepada PPK dan kepada


pihak yang berwenang semua penemuan benda/barang
yang mempunyai nilai sejarah atau penemuan kekayaan
di lokasi pekerjaan yang menurut peraturan perundangundangan dikuasai oleh negara.

18. Akses ke Lokasi


Kerja

18.1

Penyedia berkewajiban untuk menjamin akses


PPK, Wakil Sah PPK, Pengawas Pekerjaan dan/atau
pihak yang mendapat izin dari PPK ke lokasi kerja
dan lokasi lainnya dimana pekerjaan ini sedang
atau akan dilaksanakan.

18.2 Penyedia harus dianggap telah menerima


kelayakan dan ketersediaan jalur akses menuju
lapangan. Penyedia harus berupaya menjaga
setiap jalan atau jembatan dari kerusakan akibat
penggunaan/lalu lintas penyedia atau akibat
personil penyedia. Kecuali ditentukan lain maka:
a. Penyedia harus bertanggung jawab atas
pemeliharaan yang mungkin diperlukan akibat
pengunaan jalur akses.
b. Penyedia harus menyediakan rambu atau
petunjuk
sepanjang jalur
akses,
dan
mendapatkan perizinan yang mungkin
disyaratkan oleh otoritas terkait untuk
penggunaan jalur, rambu, dan petunjuk.
c. Biaya karena ketidak layakan atau tidak
tersedianya jalur akses untuk digunakan oleh
penyedia, harus ditanggung penyedia.
d. PPK tidak bertanggung jawab atas klaim yang
mungkin timbul akibat penggunaan jalur

108

akses.
18.3

PPK tidak bertanggung jawab atas klaim yang


mungkin timbul selain penggunaan jalur akses
tersebut.

B. Pelaksanaan, Penyelesaian, Adendum dan Pemutusan Kontrak


19. Masa
Pelaksanaan
(Jangka Waktu
Pelaksanaan)
Pekerjaan

19.1 Kontrak ini berlaku efektif pada tanggal


penandatanganan Surat Perjanjian oleh Para Pihak
atau yang ditetapkan dalam SSKK.
19.2

Waktu pelaksanaan kontrak adalah jangka waktu


yang ditentukan dalam syarat-syarat khusus
kontrak dihitung sejak tanggal mulai kerja yang
tercantum dalam SPMK.

19.3

Penyedia harus menyelesaikan pekerjaan sesuai


dengan masa pelaksanaan yang ditentukan dalam
SSKK.

19.4 Apabila penyedia berpendapat tidak dapat


menyelesaikan pekerjaan sesuai masa pelaksanaan
karena keadaan diluar pengendaliannya yang
dapat dibuktikan demikian, dan penyedia telah
melaporkan kejadian tersebut kepada PPK, dengan
disertai bukti-bukti yang dapat disetujui PPK,
maka PPK dapat melakukan penjadwalan kembali
pelaksanaan tugas penyedia dengan membuat
adendum kontrak.
19.5

Jadwal pelaksanaan pekerjaan disepakati bersama


dalam rapat persiapan pelaksanaan kontrak,
jadwal pelaksanaan pekerjaan tidak boleh
melebihi dari masa pelaksanaan.

B.1 Pelaksanaan Pekerjaan


20. Penyerahan
Lokasi Kerja

20.1

PPK berkewajiban untuk menyerahkan lokasi kerja


sesuai dengan kebutuhan penyedia yang
tercantum dalam rencana kerja yang telah
disepakati oleh para pihak untuk melaksanakan
pekerjaan tanpa ada hambatan kepada penyedia
sebelum SPMK diterbitkan. Penyerahan dilakukan
setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan
lapangan bersama. Hasil pemeriksaan dan
penyerahan dituangkan dalam berita acara
penyerahan lokasi kerja.

20.2 Jika dalam pemeriksaan lapangan bersama


ditemukan hal-hal yang dapat mengakibatkan
perubahan isi Kontrak maka perubahan tersebut
harus dituangkan dalam adendum Kontrak.
20.3

Jika PPK tidak dapat menyerahkan lokasi kerja


sesuai kebutuhan penyedia yang tercantum dalam

109

rencana kerja (sesuai angka 20.1) untuk


melaksanakan pekerjaan dan terbukti merupakan
suatu hambatan, maka kondisi ini ditetapkan
sebagai Peristiwa Kompensasi.
21. Surat Perintah
Mulai Kerja
(SPMK)

21.1 PPK menerbitkan SPMK selambat-lambatnya


14 (empat belas) hari sejak tanggal penandatanganan kontrak.
21.2 Dalam SPMK dicantumkan saat paling lambat
dimulainya pelaksanaan kontrak oleh penyedia.

22. Program Mutu

22.1 Penyedia berkewajiban untuk menyerahkan


program mutu pada rapat persiapan pelaksanaan
kontrak untuk disetujui oleh PPK.
22.2 Program mutu disusun paling sedikit berisi:
a. informasi mengenai pekerjaan yang akan
dilaksanakan;
b. organisasi kerja penyedia;
c. jadwal pelaksanaan pekerjaan;
d. prosedur pelaksanaan pekerjaan;
e. prosedur instruksi kerja; dan
f. pelaksana kerja.
22.3 Program mutu dapat direvisi sesuai dengan
kondisi lokasi pekerjaan.
22.4 Penyedia berkewajiban untuk memutakhirkan
program mutu jika terjadi adendum Kontrak dan
Peristiwa Kompensasi.

23. Rencana
Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
Konstruksi
(RK3K)

22.5

Pemutakhiran program mutu harus menunjukkan


perkembangan kemajuan setiap pekerjaan dan
dampaknya terhadap penjadwalan sisa pekerjaan,
termasuk perubahan terhadap urutan pekerjaan.
Pemutakhiran program mutu harus mendapatkan
persetujuan PPK.

22.6

Persetujuan PPK terhadap program mutu tidak


mengubah kewajiban kontraktual penyedia.

23.1

Penyedia berkewajiban untuk menyerahkan RK3K


pada rapat persiapan pelaksanaan kontrak untuk
disetujui oleh PPK.

23.2 RK3K disusun paling sedikit berisi:


a.
b.
c.
d.

Kebijakan K3 Proyek;
Organisasi K3;
Perencanaan K3;
Pengendalian dan Program K3;

110

e. Pemeriksaan dan Evaluasi Kinerja K3;


f. Tinjauan Ulang Kinerja K3.
23.3

RK3K dapat direvisi sesuai dengan kondisi lokasi


pekerjaan.

23.4 Penyedia berkewajiban untuk memutakhirkan


RK3K jika terjadi addendum kontrak dan peristiwa
kompensasi.
23.5 Pemutakhiran
RK3K
persetujuan PPK.
23.6
24. Rapat Persiapan
Pelaksanaan
Kontrak

harus

mendapatkan

Persetujuan PPK terhadap RK3K tidak mengubah


kewajiban kontraktual penyedia.

24.1 Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak


diterbitkannya SPMK dan sebelum pelaksanaan
pekerjaan, PPK bersama dengan penyedia, unsur
perencanaan, dan unsur pengawasan, harus
sudah
menyelenggarakan
rapat
persiapan
pelaksanaan kontrak.
24.2

Beberapa hal yang dibahas dan disepakati dalam


rapat persiapan pelaksanaan kontrak meliputi :
a. program mutu;
b. rencana K3 Kontrak;
c. organisasi kerja;
d. tata cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan;
e. jadwal pelaksanaan pekerjaan, yang diikuti
uraian
tentang
metode
kerja
yang
memperhatikan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja;
f. jadwal pengadaan bahan/material, mobilisasi
peralatan dan personil;
g. penyusunan
rencana
dan
pemeriksaan lokasi pekerjaan.

25. Mobilisasi

pelaksanaan

25.1 Mobilisasi paling lambat harus sudah mulai


dilaksanakan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
sejak diterbitkan SPMK.
25.2 Mobilisasi dilakukan sesuai dengan lingkup
pekerjaan, yaitu :
a. mendatangkan peralatan-peralatan terkait
yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan;
b. mempersiapkan fasilitas seperti kantor, rumah,
gedung laboratorium, bengkel, gudang, dan
sebagainya; dan/atau

111

c. mendatangkan personil-personil.
25.3
26. Pemeriksaan
Bersama

Mobilisasi peralatan dan personil dapat dilakukan


secara bertahap sesuai dengan kebutuhan.

26.1 Pada tahap awal pelaksanaan Kontrak, PPK


bersama-sama dengan penyedia melakukan
pemeriksaan lokasi pekerjaan dengan melakukan
pengukuran dan pemeriksaan detail kondisi lokasi
pekerjaan untuk setiap rencana mata pembayaran
(Mutual Check 0%).
26.2 Untuk pemeriksaan bersama ini, KPA dapat
membentuk Panitia Peneliti Pelaksanaan Kontrak
atas usul PPK.
26.3

Hasil pemeriksaan bersama dituangkan dalam


Berita Acara. Apabila dalam pemeriksaan bersama
mengakibatkan perubahan isi Kontrak, maka
harus dituangkan dalam adendum Kontrak (Berita
Acara Mutual Check 0%).

26.4 Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa


Personil dan/atau Peralatan ternyata belum
memenuhi persyaratan Kontrak maka penyedia
tetap dapat melanjutkan pekerjaan dengan syarat
Personil dan/atau Peralatan yang belum
memenuhi syarat harus segera diganti dalam
jangka waktu yang disepakati bersama.
27. Penggunaan
Produksi Dalam
Negeri

27.1 Penggunaan produk dalam negeri dilakukan


sesuai besaran komponen dalam negeri pada
setiap Barang/Jasa yang ditunjukkan dengan nilai
Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada
saat penawaran.
27.2 Penyedia wajib membuat laporan penggunaan
produksi dalam negeri secara periodik.
27.3

Apabila di dalam penggunaan produksi dalam


negeri berbeda dengan yang ditunjukkan dengan
nilai TKDN pada saat penawaran akan dikenakan
sanksi sesuai Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 yang terakhir diubah dengan Peraturan
Presiden No. 70 Tahun 2012 beserta petunjuk
teknisnya, dan ditetapkan dalam SSKK.

B.2 Pengendalian Waktu


28. Waktu
Penyelesaian
Pekerjaan

28.1

Kecuali Kontrak diputuskan lebih awal, penyedia


berkewajiban untuk memulai pelaksanaan
pekerjaan pada Tanggal Mulai Kerja, dan
melaksanakan pekerjaan sesuai dengan program
mutu, serta menyelesaikan pekerjaan selambat-

112

lambatnya pada Tanggal


ditetapkan dalam SPMK.

Penyelesaian

yang

28.2 Jika pekerjaan tidak selesai pada Tanggal


Penyelesaian bukan akibat Keadaan Kahar atau
Peristiwa Kompensasi atau karena kesalahan atau
kelalaian penyedia maka penyedia dikenakan
denda.
28.3 Jika
keterlambatan
tersebut
semata-mata
disebabkan oleh Peristiwa Kompensasi maka PPK
dikenakan kewajiban pembayaran ganti rugi.
Denda atau ganti rugi tidak dikenakan jika
Tanggal Penyelesaian disepakati oleh Para Pihak
untuk diperpanjang.
28.4
29. Perpanjangan
Waktu

Tanggal Penyelesaian yang dimaksud dalam Pasal


ini adalah tanggal penyelesaian seluruh pekerjaan.

29.1 Jika terjadi Peristiwa Kompensasi sehingga


penyelesaian pekerjaan akan melampaui Tanggal
Penyelesaian maka penyedia berhak untuk
meminta perpanjangan Tanggal Penyelesaian
berdasarkan data penunjang. PPK berdasarkan
pertimbangan
Pengawas
Pekerjaan
memperpanjang Tanggal Penyelesaian Pekerjaan
secara tertulis. Perpanjangan Tanggal Penyelesaian
harus dilakukan melalui Adendum Kontrak.
29.2 PPK
berdasarkan
pertimbangan
Pengawas
Pekerjaan harus telah menetapkan ada tidaknya
perpanjangan dan untuk berapa lama, dalam
jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari setelah
penyedia meminta perpanjangan. Jika penyedia
lalai untuk memberikan peringatan dini atas
keterlambatan atau tidak dapat bekerja sama
untuk
mencegah
keterlambatan
sesegera
mungkin, maka keterlambatan seperti ini tidak
dapat dijadikan alasan untuk memperpanjang
Tanggal Penyelesaian.

30. Penundaan oleh


Pengawas
Pekerjaan

Pengawas Pekerjaan dapat memerintahkan secara tertulis


penyedia untuk menunda pelaksanaan pekerjaan. Setiap
perintah penundaan ini harus segera ditembuskan
kepada PPK.

31. Rapat
Pemantauan

31.1 Pengawas Pekerjaan atau penyedia dapat


menyelenggarakan rapat pemantauan, dan
meminta satu sama lain untuk menghadiri rapat
tersebut. Rapat pemantauan diselenggarakan
untuk membahas perkembangan pekerjaan dan
perencanaaan atas sisa pekerjaan serta untuk
menindaklanjuti peringatan dini.
31.2 Hasil rapat pemantauan akan dituangkan oleh
113

Pengawas Pekerjaan dalam berita acara rapat, dan


rekamannya diserahkan kepada PPK dan pihakpihak yang menghadiri rapat.
31.3 Mengenai hal-hal dalam rapat yang perlu
diputuskan,
Pengawas
Pekerjaan
dapat
memutuskan baik dalam rapat atau setelah rapat
melalui pernyataan tertulis kepada semua pihak
yang menghadiri rapat.
32. Peringatan Dini

32.1 Penyedia berkewajiban untuk memperingatkan


sedini mungkin Pengawas Pekerjaan atas peristiwa
atau kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi
mutu pekerjaan, menaikkan Nilai Kontrak atau
menunda penyelesaian pekerjaan. Pengawas
Pekerjaan dapat memerintahkan penyedia untuk
menyampaikan secara tertulis perkiraan dampak
peristiwa atau kondisi tersebut di atas terhadap
Nilai Kontrak dan Tanggal Penyelesaian.
Pernyataan perkiraan ini harus sesegera mungkin
disampaikan oleh penyedia.
32.2 Penyedia berkewajiban untuk bekerja sama
dengan Pengawas Pekerjaan untuk mencegah atau
mengurangi dampak peristiwa atau kondisi
tersebut.

B.3 Penyelesaian Kontrak


33. Serah Terima
Pekerjaan

33.1 Setelah
pekerjaan
selesai
100%
(seratus
perseratus), penyedia mengajukan permintaan
secara tertulis kepada PPK untuk penyerahan
pekerjaan.
33.2 Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan, PPK
menugaskan Panitia Penerima Hasil Pekerjaan.
Apabila memerlukan keahlian teknis khusus dapat
dibantu oleh tim/tenaga ahli untuk membantu
pelaksanaan tugas Panitia Penerima Hasil
Pekerjaan.
33.3 Panitia Penerima Hasil Pekerjaan melakukan
penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah
diselesaikan oleh penyedia. Apabila terdapat
kekurangan-kekurangan dan/atau cacat hasil
pekerjaan,
penyedia
wajib
memperbaiki/menyelesaikannya, atas perintah
PPK.
33.4 PPK menerima penyerahan pertama pekerjaan
setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan Kontrak sejak tanggal
berita acara penyerahan pekerjaan dan telah
diterima oleh Panitia Penerima Hasil Pekerjaan.

114

33.5

Pembayaran dilakukan sebesar 95% (sembilan


puluh lima perseratus) dari nilai kontrak,
sedangkan yang 5% (lima perseratus) merupakan
retensi selama masa pemeliharaan, atau
pembayaran dilakukan sebesar 100% (seratus
perseratus) dari nilai kontrak dan penyedia harus
menyerahkan Jaminan Pemeliharaan sebesar 5%
(lima perseratus) dari nilai kontrak.

33.6

Penyedia wajib memelihara hasil pekerjaan selama


masa pemeliharaan sehingga kondisi tetap seperti
pada saat penyerahan pertama pekerjaan.

33.7

Setelah masa pemeliharaan berakhir, penyedia


mengajukan permintaan secara tertulis kepada
PPK untuk penyerahan akhir pekerjaan.

33.8 PPK menerima penyerahan akhir pekerjaan


setelah
penyedia
melaksanakan
semua
kewajibannya selama masa pemeliharaan dengan
baik. PPK wajib melakukan pembayaran sisa nilai
kontrak yang belum dibayar atau mengembalikan
Jaminan Pemeliharaan.
33.9

Apabila penyedia tidak melaksanakan kewajiban


pemeliharaan sebagaimana mestinya, maka PPK
berhak menggunakan uang retensi untuk
membiayai
perbaikan/pemeliharaan
atau
mencairkan Jaminan Pemeliharaan.

33.10 Serah terima pekerjaan dapat dilakukan perbagian


pekerjaan (secara parsial) yang ketentuannya
ditetapkan dalam SSKK.
33.11 Dalam hal dilakukan serah terima pekerjaan
secara parsial, maka cara pembayaran dan
kewajiban pemeliharaan tersebut di atas
disesuaikan.
33.12 Kewajiban pemeliharaan diperhitungkan setelah
penyerahan
bagian
pekerjaan
tersebut
dilaksanakan pertama kali.
33.13 Umur konstruksi bangunan hasil dari pelaksanaan
pekerjaan ditetapkan dalam SSKK.
34. Pengambilalihan

PPK akan mengambil alih lokasi dan hasil pekerjaan


dalam jangka waktu tertentu setelah dikeluarkan surat
keterangan selesai/pengakhiran pekerjaan.

35. Pedoman
Pengoperasian
dan Perawatan/
Pemeliharaan

35.1 Penyedia diwajibkan memberikan petunjuk


kepada PPK tentang pedoman pengoperasian dan
perawatan/pemeliharaan sesuai dengan SSKK.
35.2 Apabila penyedia tidak memberikan pedoman
pengoperasian dan perawatan/pemeliharaan, PPK

115

berhak menahan uang retensi atau Jaminan


Pemeliharaan.
B.4 Adendum
36. Perubahan
Kontrak

36.1

Kontrak hanya dapat diubah melalui adendum


kontrak.

36.2

Perubahan Kontrak dapat dilaksanakan apabila


disetujui oleh para pihak, meliputi:
a. perubahan pekerjaan disebabkan oleh sesuatu
hal yang dilakukan oleh para pihak dalam
kontrak sehingga mengubah lingkup pekerjaan
dalam kontrak;
b. perubahan harga kontrak akibat
perubahan pekerjaan dan/atau
perubahan pelaksanaan pekerjaan.

adanya
karena

c. perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan


akibat adanya perubahan pekerjaan
d. Perubahan harga kontrak akibat adanya
penyesuaian harga (eskalasi/de-eskalasi).
36.3 Untuk kepentingan perubahan kontrak, PPK
menugaskan Panitia Peneliti Pelaksanaan Kontrak.
37. Perubahan
Lingkup
Pekerjaan

37.1

Apabila terdapat perbedaan yang signifikan antara


kondisi lokasi pekerjaan pada saat pelaksanaan
dengan gambar dan spesifikasi yang ditentukan
dalam Dokumen Kontrak, maka PPK bersama
penyedia dapat melakukan perubahan kontrak
yang meliputi antara lain:
a. menambah
atau
mengurangi
volume
pekerjaan yang tercantum dalam kontrak;
b. menambah atau mengurangi jenis pekerjaan;
c. mengubah spesifikasi teknis dan gambar
pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lokasi
pekerjaan; dan/atau
d. melaksanakan pekerjaan tambah yang belum
tercantum dalam kontrak yang diperlukan
untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan sesuai
lingkup kontrak awal.

37.2 Pekerjaan tambah harus mempertimbangkan


tersedianya anggaran dan paling tinggi 10%
(sepuluh perseratus) dari nilai kontrak awal.
37.3

Perintah perubahan pekerjaan dibuat oleh PPK


secara tertulis kepada penyedia kemudian
dilanjutkan dengan negosiasi teknis dan harga
dengan tetap mengacu pada ketentuan yang

116

tercantum dalam kontrak awal.


37.4

38. Perubahan
Kuantitas dan
Harga

39. Perubahan
Jadwal
Pelaksanaan
Pekerjaan

Hasil negosiasi tersebut dituangkan dalam Berita


Acara sebagai dasar penyusunan adendum
kontrak.

38.1 Harga satuan dalam daftar kuantitas dan harga


digunakan untuk membayar prestasi pekerjaan.
38.2

Apabila kuantitas mata pembayaran utama yang


akan dilaksanakan berubah lebih dari 10%
(sepuluh perseratus) dari kuantitas awal, maka
pembayaran
volume
selanjutnya
dengan
menggunakan harga satuan yang disesuaikan
dengan negosiasi.

38.3

Apabila dari hasil evaluasi penawaran terdapat


harga satuan timpang, maka harga satuan
timpang tersebut hanya berlaku untuk kuantitas
pekerjaan yang tercantum dalam Dokumen
Pengadaan. Untuk kuantitas pekerjaan tambahan
digunakan harga satuan berdasarkan hasil
negosiasi.
Apabila ada daftar item pekerjaan yang masuk
kategori
harga
satuan
timpang,
maka
dicantumkan dalam lampiran A SSKK.

38.4

Apabila diperlukan mata pembayaran baru, maka


penyedia jasa harus menyerahkan rincian harga
satuannya kepada PPK. Penentuan harga satuan
mata pembayaran baru dilakukan dengan
negosiasi.

39.1

Perpanjangan waktu pelaksanaan dapat diberikan


oleh PPK atas pertimbangan yang layak dan wajar
untuk hal-hal sebagai berikut :
a. pekerjaan tambah;
b. perubahan disain;
c. keterlambatan yang disebabkan oleh PPK;
d. masalah yang timbul di luar kendali penyedia;
dan/atau
e. keadaan kahar.

39.2

Waktu penyelesaian pekerjaan dapat diperpanjang


sekurang-kurangnya
sama
dengan
waktu
terhentinya kontrak akibat keadaan kahar atau
waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan pada 39.1.

39.3 PPK dapat menyetujui perpanjangan waktu


pelaksanaan atas kontrak setelah melakukan
penelitian terhadap usulan tertulis yang diajukan

117

oleh penyedia.
39.4 PPK
dapat
menugaskan
Panitia
Peneliti
Pelaksanaan Kontrak untuk meneliti kelayakan
usulan perpanjangan waktu pelaksanaan.
39.5 Persetujuan perpanjangan waktu pelaksanaan
dituangkan dalam adendum kontrak.
40. Penyesuaian
Harga
(Eskalasi/Deeskalasi)

40.1 Ketentuan penggunaan rumusan Penyesuaian


Harga (Price Adjustment) adalah sebagai berikut:
a) Harga yang tercantum dalam kontrak dapat
berubah akibat adanya penyesuaian harga
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
b) Penyesuaian harga diberlakukan pada Kontrak
Tahun Jamak yang masa pelaksanaannya lebih
dari 12 (dua belas) bulan dan diberlakukan
mulai bulan ke-13 (tiga belas) sejak
pelaksanaan pekerjaan.
c) Penyesuaian harga berlaku bagi seluruh
kegiatan/mata pembayaran, kecuali mata
pembayaran Lump Sum serta pekerjaan
dengan Harga Satuan timpang.
d) Penyesuaian Harga Satuan berlaku bagi
seluruh komponen harga satuan (upah, bahan,
peralatan, dan bahan bakar), tidak termasuk
komponen keuntungan dan biaya operasional
sebagaimana tercantum dalam penawaran.
e) Penyesuaian Harga Satuan diberlakukan sesuai
dengan jadwal pelaksanaan yang tercantum
dalam kontrak awal/adendum kontrak.
f) Penyesuaian Harga Satuan bagi komponen
pekerjaan yang berasal dari luar negeri,
menggunakan indeks penyesuaian harga dari
negara asal barang tersebut.
g) Jenis pekerjaan baru dengan Harga Satuan
baru sebagai akibat adanya adendum kontrak
dapat diberikan penyesuaian harga mulai
bulan ke-13 (tiga belas) sejak adendum
kontrak tersebut ditandatangani.
h) Jenis
pekerjaan
yang
terlambat
pelaksanaannya disebabkan oleh kesalahan
Penyedia diberlakukan penyesuaian harga
berdasarkan indeks harga terendah antara
indeks harga jadwal awal dengan indeks harga
jadwal pelaksanaan pekerjaan.
i) Jenis
pekerjaan
yang
lebih
cepat
pelaksanaannya diberlakukan penyesuaian

118

harga berdasarkan indeks harga pada saat


pelaksanaan.
40.2 Ketentuan lebih lanjut sebagaimana diatur dalam
SSKK.
B.5 Keadaan Kahar
41. Keadaan Kahar

41.1 suatu keadaan yang terjadi diluar kehendak para


pihak dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya,
sehingga kewajiban yang ditentukan dalam
Kontrak menjadi tidak dapat dipenuhi.
41.2 Yang digolongkan Keadaan Kahar meliputi :
a. bencana alam;
b. bencana non alam;
c. bencana sosial;
d. pemogokan;
e. kebakaran; dan/atau
f. gangguan industri lainnya sebagaimana
dinyatakan melalui keputusan bersama
Menteri Keuangan dan menteri teknis terkait.
41.3

Apabila terjadi Keadaan Kahar, maka penyedia


memberitahukan kepada PPK paling lambat
14 (empat belas) hari sejak terjadinya Keadaan
Kahar, dengan menyertakan pernyataan Keadaan
Kahar dari pejabat yang berwenang.

41.4

Jangka waktu yang ditetapkan dalam Kontrak


untuk pemenuhan kewajiban Pihak yang tertimpa
Keadaan Kahar harus diperpanjang sekurangkurangnya
sama
dengan
jangka
waktu
terhentinya Kontrak akibat Keadaan Kahar.

41.5 Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan akibat


Keadaan Kahar yang dilaporkan paling lambat
14 (empat belas) hari sejak terjadinya Keadaan
Kahar, tidak dikenakan sanksi.
41.6

Pada saat terjadinya Keadaan Kahar, Kontrak ini


akan dihentikan sementara hingga Keadaan Kahar
berakhir dengan ketentuan, Penyedia berhak
untuk menerima pembayaran sesuai dengan
prestasi atau kemajuan pelaksanaan pekerjaan
yang telah dicapai. Jika selama masa Keadaan
Kahar PPK memerintahkan secara tertulis kepada
Penyedia untuk meneruskan pekerjaan sedapat
mungkin maka Penyedia berhak untuk menerima
pembayaran sebagaimana ditentukan dalam
Kontrak dan mendapat penggantian biaya yang

119

wajar sesuai dengan yang telah dikeluarkan untuk


bekerja dalam situasi demikian. Penggantian biaya
ini harus diatur dalam suatu adendum Kontrak.
B.6 Penghentian dan Pemutusan Kontrak
42. Penghentian dan
Pemutusan
Kontrak

42.1 Penghentian kontrak dapat dilakukan karena


pekerjaan sudah selesai atau terjadi Keadaan
Kahar.
42.2

Dalam hal kontrak dihentikan, maka PPK wajib


membayar kepada penyedia sesuai dengan prestasi
pekerjaan yang telah dicapai, termasuk:
a. biaya langsung pengadaan Bahan dan
Perlengkapan untuk pekerjaan ini. Bahan dan
Perlengkapan ini harus diserahkan oleh
Penyedia kepada PPK, dan selanjutnya menjadi
hak milik PPK;
b. biaya
langsung
pembongkaran
dan
demobilisasi Hasil Pekerjaan Sementara dan
Peralatan;
c. biaya langsung demobilisasi Personil.

42.3

Pemutusan kontrak dapat dilakukan oleh pihak


penyedia atau pihak PPK.

42.4

Mengesampingkan Pasal 1266 dan 1267 Kitab


Undang-Undang Hukum Perdata, pemutusan
Kontrak melalui pemberitahuan tertulis dapat
dilakukan apabila :
a. penyedia
lalai/cidera
janji
dalam
melaksanakan
kewajibannya
dan
tidak
memperbaiki kelalaiannya dalam jangka
waktu yang telah ditetapkan;
b. penyedia
tanpa
persetujuan
Pengawas
Pekerjaan,
tidak
memulai
pelaksanaan
pekerjaan;
c. penyedia menghentikan pekerjaan selama 28
(dua puluh delapan) hari dan penghentian ini
tidak tercantum dalam program mutu serta
tanpa persetujuan Pengawas Pekerjaan;
d. penyedia berada dalam keadaan pailit;
e. penyedia selama Masa Kontrak gagal
memperbaiki Cacat Mutu dalam jangka waktu
yang ditetapkan oleh PPK;
f. penyedia tidak mempertahankan keberlakuan
Jaminan Pelaksanaan;

120

g. denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan


akibat kesalahan penyedia sudah melampaui
5% (lima perseratus) dari nilai Kontrak dan
PPK menilai bahwa Penyedia tidak akan
sanggup menyelesaikan sisa pekerjaan;
h. Pengawas Pekerjaan memerintahkan penyedia
untuk menunda pelaksanaan atau kelanjutan
pekerjaan, dan perintah tersebut tidak ditarik
selama 28 (dua puluh delapan) hari;
i. PPK tidak menerbitkan SPP untuk pembayaran
tagihan angsuran sesuai dengan yang
disepakati sebagaimana tercantum dalam
SSKK;
j. penyedia terbukti melakukan KKN, kecurangan
dan/atau pemalsuan dalam proses Pengadaan
yang
diputuskan
oleh
instansi
yang
berwenang; dan/atau
k. pengaduan tentang penyimpangan prosedur,
dugaan KKN dan/atau pelanggaran persaingan
sehat
dalam
pelaksanaan
pengadaan
dinyatakan benar oleh instansi yang
berwenang.
42.5 Dalam hal pemutusan Kontrak pada masa
pelaksanaan
dilakukan
karena
kesalahan
penyedia, maka:
a. Jaminan Pelaksanaan dicairkan;
b. Sisa Uang Muka harus dilunasi oleh penyedia
atau Jaminan Uang Muka dicairkan;
c. Penyedia
membayar
denda
(apabila
pelaksanaan pekerjaannya terlambat); dan
d. Penyedia dimasukkan ke dalam Daftar Hitam.
42.6 Dalam hal pemutusan Kontrak pada masa
pemeliharaan dilakukan karena kesalahan
penyedia, maka:
a. Jaminan
Pemeliharaan
dicairkan untuk
membiayai perbaikan/pemeliharaan; dan
b. Penyedia dimasukkan ke dalam Daftar Hitam.
42.7

Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan karena


PPK terlibat penyimpangan prosedur, melakukan
KKN dan/atau pelanggaran persaingan usaha di
dalam pelaksanaan pengadaan yang sudah
diputuskan oleh instansi berwenang, maka PPK
dikenakan
sanksi
berdasarkan
peraturan
perundang-undangan.

121

43. Keterlambatan
Pelaksanaan
Pekerjaan dan
Kontrak Kritis

43.1 Apabila
penyedia
terlambat
melaksanakan
pekerjaan sesuai jadwal, maka PPK harus
memberikan peringatan secara tertulis atau
dikenakan ketentuan tentang kontrak kritis.
43.2 Kontrak dinyatakan kritis apabila:
a. Dalam periode I (rencana fisik pelaksanaan 0%
70% dari kontrak), realisasi fisik pelaksanaan
terlambat lebih besar 10% dari rencana;
b. Dalam periode II (rencana fisik pelaksanaan
70% - 100% dari kontrak), realisasi fisik
pelaksanaan terlambat lebih besar 5% dari
rencana;
c. Rencana fisik pelaksanaan 70% - 100% dari
kontrak, realisasi fisik pelaksanaan terlambat
kurang dari 5% dari rencana dan akan
melampaui tahun anggaran berjalan.
43.3 Penanganan kontrak kritis.
a. Dalam hal keterlambatan pada 43.1 dan
penanganan kontrak pada 43.2, penanganan
kontrak kritis dilakukan dengan Rapat
pembuktian (show cause meeting/SCM)
1) Pada saat kontrak dinyatakan kritis direksi
pekerjaan menerbitkan surat peringatan
kepada
penyedia
dan
selanjutnya
menyelenggarakan SCM.
2) Dalam SCM direksi pekerjaan, direksi
teknis dan penyedia membahas dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang
harus dicapai oleh penyedia dalam
periode waktu tertentu (uji coba pertama)
yang dituangkan dalam berita acara SCM
tingkat Tahap I
3) Apabila penyedia gagal pada uji coba
pertama, maka harus diselenggarakan
SCM Tahap II yang membahas dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang
harus dicapai oleh penyedia dalam
periode waktu tertentu (uji coba kedua)
yang dituangkan dalam berita acara SCM
Tahap II
4) Apabila penyedia gagal pada uji coba
kedua, maka harus diselenggarakan SCM
Tahap
III
yang
membahas
dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang
harus dicapai oleh penyedia dalam
periode waktu tertentu (uji coba ketiga)
122

yang dituangkan dalam berita acara SCM.


Tahap III
5) Pada setiap uji coba yang gagal, PPK harus
menerbitkan surat peringatan kepada
penyedia atas keterlambatan realisasi fisik
pelaksanaan pekerjaan.
b. Dalam hal terjadi keterlambatan dan akan
melampaui tahun anggaran berjalan akibat
kesalahan Penyedia Pekerjaan Konstruksi,
sebelum dilakukan pemutusan kontrak
Penyedia Pekerjaan Konstruksi dapat diberi
kesempatan menyelesaikan pekerjaan sampai
dengan 50 (lima puluh) hari kalender sejak
masa berakhirnya pelaksanaan pekerjaan
dengan diberlakukan denda sebesar 1/1000
(satu perseribu) dari nilai Kontrak atau nilai
bagian Kontrak apabila ditetapkan serah
terima pekerjaan secara parsial untuk setiap
hari
keterlambatan.
Kesempatan
menyelesaikan pekerjaan selama 50 (lima
puluh) hari tersebut dapat melampaui tahun
anggaran berjalan.
c. Dalam hal penyelesaian pekerjaan akibat
keterlambatan melampaui tahun anggaran
berjalan,
diterbitkan
adendum
untuk
mencantumkan sumber dana tahun anggaran
berikutnya atas sisa pekerjaan yang akan
diselesaikan dan memperpanjang masa berlaku
jaminan pelaksanaan.
d. Dalam hal keterlambatan pada 42.2 a atau
42.2 b, setelah dilakukan penanganan kontrak
kritis sesuai 42.3 a, PPK dapat langsung
memutuskan kontrak secara sepihak dengan
mengesampingkan Pasal 1266 Kitab UndangUndang Hukum Perdata.
PPK dapat memutuskan
sepihak, apabila:

Kontrak

secara

1) kebutuhan barang/jasa tidak dapat


ditunda melebihi batas berakhirnya
kontrak;
2) berdasarkan penelitian PPK, Penyedia
Barang/Jasa
tidak
akan
mampu
menyelesaikan keseluruhan pekerjaan
walaupun diberikan kesempatan sampai
dengan 50 (lima puluh) hari kalender
sejak masa berakhirnya pelaksanaan
pekerjaan
untuk
menyelesaikan

123

pekerjaan; dan/atau
3) setelah
diberikan
kesempatan
menyelesaikan pekerjaan sampai dengan
50 (lima puluh) hari kalender sejak masa
berakhirnya
pelaksanaan
pekerjaan,
Penyedia
Barang/Jasa
tidak
dapat
menyelesaikan pekerjaan.
44. Peninggalan

Semua Bahan, Perlengkapan, Peralatan, Hasil Pekerjaan


Sementara yang masih berada di lokasi kerja setelah
pemutusan Kontrak akibat kelalaian atau kesalahan
penyedia, dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh PPK
tanpa kewajiban perawatan/pemeliharaan. Pengambilan
kembali semua peninggalan tersebut oleh penyedia
hanya dapat dilakukan setelah mempertimbangkan
kepentingan PPK.

C. Hak dan Kewajiban Para Pihak


45. Hak dan
Kewajiban Para
Pihak

Hak-hak yang dimiliki serta kewajiban-kewajiban yang


harus dilaksanakan oleh PPK dan penyedia dalam
melaksanakan kontrak, meliputi :
45.1 Hak dan kewajiban PPK :
a. mengawasi dan memeriksa pekerjaan yang
dilaksanakan oleh penyedia;
b. meminta laporan-laporan secara periodik
mengenai pelaksanaan
pekerjaan
yang
dilakukan oleh penyedia;
c. membayar pekerjaan sesuai dengan harga
yang tercantum dalam kontrak yang telah
ditetapkan kepada penyedia; dan
d. memberikan fasilitas berupa sarana dan
prasarana yang dibutuhkan oleh penyedia
untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan
sesuai ketentuan kontrak.
45.2 Hak dan kewajiban penyedia :
a. menerima pembayaran untuk pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan harga yang telah
ditentukan dalam kontrak;
b. berhak meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk
sarana dan prasarana dari PPK untuk
kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai
ketentuan kontrak;
c. melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara

124

periodik kepada PPK;


d. melaporkan
pelaksanaan
penggunaan
produksi dalam negeri/TKDN secara periodik
kepada PPK;
e. melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan
sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan
yang telah ditetapkan dalam kontrak;
f. melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan
secara cermat, akurat dan penuh tanggung
jawab dengan menyediakan tenaga kerja,
bahan-bahan, peralatan, angkutan ke atau
dari lapangan, dan segala pekerjaan permanen
maupun sementara yang diperlukan untuk
pelaksanaan, penyelesaian dan perbaikan
pekerjaan yang dirinci dalam kontrak;
g. memberikan
keterangan-keterangan
yang
diperlukan untuk pemeriksaan pelaksanaan
yang dilakukan PPK;
h. menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan
jadwal penyerahan pekerjaan yang telah
ditetapkan dalam kontrak; dan
i. mengambil langkah-langkah yang memadai
dalam rangka memberi perlindungan kepada
setiap orang yang berada di tempat kerja
maupun masyarakat dan lingkungan sekitar
yang berhubungan dengan pemindahan bahan
baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi
dan proses produksi.

[Catatan: Hak dan Kewajiban kontraktor


disesuaikan dengan lingkup pekerjaan yang harus
dilaksanakan sesuai kontrak]
46. Penggunaan
DokumenDokumen
Kontrak dan
Informasi

Penyedia tidak diperkenankan menggunakan dan


menginformasikan dokumen kontrak atau dokumen
lainnya yang berhubungan dengan kontrak untuk
kepentingan pihak lain, misalnya spesifikasi teknis
dan/atau gambar-gambar, kecuali dengan izin tertulis
dari PPK sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

47. Hak Kekayaan


Intelektual

Penyedia wajib melindungi PPK dari segala tuntutan atau


klaim dari pihak ketiga yang disebabkan penggunaan
atau atas pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)
oleh penyedia.

48. Penanggungan
dan Risiko

48.1 Penyedia berkewajiban untuk melindungi,


membebaskan, dan menanggung tanpa batas PPK

125

beserta instansinya terhadap semua bentuk


tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, kehilangan,
kerugian, denda, gugatan atau tuntutan hukum,
proses pemeriksaan hukum, dan biaya yang
dikenakan terhadap PPK beserta instansinya
(kecuali kerugian yang mendasari tuntutan
tersebut disebabkan kesalahan atau kelalaian berat
PPK) sehubungan dengan klaim yang timbul dari
hal-hal berikut terhitung sejak Tanggal Mulai
Kerja sampai dengan tanggal penandatanganan
berita acara penyerahan akhir :
a. kehilangan atau kerusakan peralatan dan harta
benda penyedia, Subpenyedia (jika ada), dan
Personil;
b. cidera tubuh, sakit atau kematian Personil;
c. kehilangan atau kerusakan harta benda, dan
cidera tubuh, sakit atau kematian pihak ketiga;
48.2 Terhitung sejak Tanggal Mulai Kerja sampai
dengan tanggal penandatanganan berita acara
penyerahan awal, semua risiko kehilangan atau
kerusakan Hasil Pekerjaan ini, Bahan dan
Perlengkapan merupakan risiko penyedia, kecuali
kerugian atau kerusakan tersebut diakibatkan oleh
kesalahan atau kelalaian PPK.
48.3 Pertanggungan asuransi yang dimiliki oleh
penyedia
tidak
membatasi
kewajiban
penanggungan dalam Pasal ini.
48.4 Kehilangan atau kerusakan terhadap Hasil
Pekerjaan atau Bahan yang menyatu dengan Hasil
Pekerjaan selama Tanggal Mulai Kerja dan batas
akhir Masa Pemeliharaan harus diganti atau
diperbaiki oleh penyedia atas tanggungannya
sendiri jika kehilangan atau kerusakan tersebut
terjadi akibat tindakan atau kelalaian penyedia.
49. Perlindungan
Tenaga Kerja

49.1 Penyedia dan Subpenyedia berkewajiban atas


biaya sendiri untuk mengikutsertakan Personilnya
pada program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(Jamsostek) sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
49.2 Penyedia berkewajiban untuk mematuhi dan
memerintahkan Personilnya untuk mematuhi
peraturan keselamatan kerja. Pada waktu
pelaksanaan
pekerjaan,
penyedia
beserta
Personilnya dianggap telah membaca dan
memahami peraturan keselamatan kerja tersebut.
49.3 Penyedia berkewajiban atas biaya sendiri untuk

126

menyediakan kepada setiap Personilnya (termasuk


Personil Subpenyedia, jika ada) perlengkapan
keselamatan kerja yang sesuai dan memadai.
49.4 Tanpa mengurangi kewajiban penyedia untuk
melaporkan kecelakaan berdasarkan hukum yang
berlaku, penyedia wajib melaporkan kepada PPK
mengenai setiap kecelakaan yang timbul
sehubungan dengan pelaksanaan Kontrak ini
dalam waktu 24 (dua puluh empat) jam setelah
kejadian.
50. Pemeliharaan
Lingkungan

51. Asuransi

Penyedia berkewajiban untuk mengambil langkahlangkah yang memadai untuk melindungi lingkungan
baik di dalam maupun di luar tempat kerja dan
membatasi gangguan lingkungan terhadap pihak ketiga
dan harta bendanya sehubungan dengan pelaksanaan
Kontrak ini.
51.1 Penyedia wajib menyediakan asuransi sejak SPMK
sampai dengan tanggal selesainya pemeliharaan
untuk :
a. semua barang dan peralatan yang mempunyai
risiko
tinggi
terjadinya
kecelakaan,
pelaksanaan pekerjaan, serta pekerja untuk
pelaksanaan pekerjaan, atas segala risiko
terhadap kecelakaan, kerusakan, kehilangan,
serta risiko lain yang tidak dapat diduga;
b. pihak ketiga sebagai akibat kecelakaan di
tempat kerjanya; dan
c. perlindungan terhadap kegagalan bangunan.
51.2 Besarnya asuransi sudah diperhitungkan dalam
penawaran dan termasuk dalam nilai kontrak.

52. Tindakan
Penyedia yang
Mensyaratkan
Persetujuan PPK
atau Pengawas
Pekerjaan

52.1

Penyedia berkewajiban untuk mendapatkan lebih


dahulu persetujuan tertulis PPK sebelum
melakukan tindakan-tindakan berikut:
a. mensubkontrakkan sebagian pekerjaan dalam
Lampiran A SSKK;
b. menunjuk Personil Inti yang namanya tidak
tercantum dalam Lampiran A SSKK;
c. mengubah atau memutakhirkan program
mutu;
d. tindakan lain yang diatur dalam SSKK.

52.2

Penyedia berkewajiban untuk mendapatkan lebih


dahulu persetujuan tertulis Pengawas Pekerjaan
sebelum melakukan tindakan-tindakan berikut:

127

a. menggunakan spesifikasi dan gambar dalam


Pasal 15 SSUK;
b. mengubah syarat dan ketentuan polis asuransi;
c. mengubah Personil Inti dan/atau Peralatan;
d. tindakan lain yang diatur dalam SSKK.
53. Laporan Hasil
Pekerjaan

53.1 Pemeriksaan
pekerjaan
dilakukan
selama
pelaksanaan kontrak untuk menetapkan volume
pekerjaan atau kegiatan yang telah dilaksanakan
guna pembayaran hasil pekerjaan. Hasil
pemeriksaan pekerjaan dituangkan dalam laporan
kemajuan hasil pekerjaan.
53.2

Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan


pelaksanaan pekerjaan, seluruh aktivitas kegiatan
pekerjaan di lokasi pekerjaan dicatat dalam buku
harian sebagai bahan laporan harian pekerjaan
yang berisi rencana dan realisasi pekerjaan
harian.

53.3 Laporan harian berisi:


a. jenis dan kuantitas bahan yang berada di lokasi
pekerjaan;
b. penempatan tenaga kerja untuk tiap macam
tugasnya;
c. jenis, jumlah dan kondisi peralatan;
d. jenis
dan
kuantitas
pekerjaan
yang
dilaksanakan;
e. keadaan cuaca termasuk hujan, banjir dan
peristiwa alam lainnya yang berpengaruh
terhadap kelancaran pekerjaan; dan
f. catatan-catatan lain yang berkenaan dengan
pelaksanaan.
53.4 Laporan harian dibuat oleh penyedia, apabila
diperlukan diperiksa oleh konsultan, dan disetujui
oleh wakil PPK.
53.5 Laporan mingguan terdiri dari rangkuman
laporan harian dan berisi hasil kemajuan fisik
pekerjaan dalam periode satu minggu, serta halhal penting yang perlu ditonjolkan.
53.6

Laporan bulanan terdiri dari rangkuman laporan


mingguan dan berisi hasil kemajuan fisik
pekerjaan dalam periode satu bulan, serta hal-hal
penting yang perlu ditonjolkan.

53.7

Untuk merekam kegiatan pelaksanaan pekerjaan


konstruksi, PPK dan penyedia membuat foto-foto
dokumentasi dan video pelaksanaan pekerjaan di
128

lokasi pekerjaan sesuai kebutuhan.


54. Kepemilikan
Dokumen

Semua rancangan, gambar, spesifikasi, desain, laporan,


dan dokumen-dokumen lain serta piranti lunak yang
dipersiapkan oleh penyedia berdasarkan Kontrak ini
sepenuhnya merupakan hak milik PPK. Penyedia paling
lambat pada waktu pemutusan atau akhir Masa Kontrak
berkewajiban untuk menyerahkan semua dokumen dan
piranti lunak tersebut beserta daftar rinciannya kepada
PPK. Penyedia dapat menyimpan 1 (satu) buah salinan
tiap dokumen dan piranti lunak tersebut. Pembatasan
(jika ada) mengenai penggunaan dokumen dan piranti
lunak tersebut di atas di kemudian hari diatur dalam
SSKK.

55. Kerjasama Antara 55.1 Penyedia yang mempunyai harga Kontrak di atas
Penyedia dan Sub
Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar
Penyedia
rupiah) wajib bekerja sama dengan penyedia
Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Koperasi Kecil,
yaitu dengan
mensubkontrakkan
sebagian
pekerjaan yang bukan pekerjaan utama.
55.2

Bagian pekerjaan yang disubkontrakkan tersebut


harus diatur dalam Kontrak dan disetujui terlebih
dahulu oleh PPK.

55.3

Penyedia tetap bertanggung jawab atas bagian


pekerjaan yang disubkontrakkan tersebut.

55.4 Ketentuan-ketentuan dalam subkontrak harus


mengacu kepada Kontrak serta menganut prinsip
kesetaraan.
56. Usaha Mikro,
Usaha Kecil dan
Koperasi Kecil

56.1

Apabila penyedia yang ditunjuk sebagai pelaksana


konstruksi adalah penyedia Usaha Mikro, Usaha
Kecil dan Koperasi Kecil, maka pekerjaan tersebut
harus dilaksanakan sendiri oleh penyedia yang
ditunjuk
dan
dilarang
diserahkan
atau
disubkontrakkan kepada pihak lain.

56.2

Apabila penyedia yang ditunjuk sebagai pelaksana


konstruksi adalah penyedia bukan Usaha Mikro,
Usaha Kecil dan koperasi kecil, maka:
a. penyedia wajib bekerja sama dengan penyedia
Usaha Mikro, Usaha Kecil dan koperasi kecil,
antara
lain
dengan mensubkontrakkan
sebagian pekerjaannya;
b. dalam melaksanakan kewajiban di atas
penyedia terpilih tetap bertanggungjawab
penuh atas keseluruhan pekerjaan tersebut;
c. bentuk

kerjasama

tersebut

hanya

untuk

129

sebagian pekerjaan yang bukan pekerjaan


utama; dan
d. membuat
laporan
periodik
pelaksanaan ketetapan di atas.
56.3

mengenai

Apabila ketentuan tersebut di atas dilanggar, maka


penyedia dikenakan sanksi yang diatur dalam
SSKK.

57. Penyedia Lain

Penyedia berkewajiban untuk bekerjasama dan


menggunakan lokasi kerja termasuk jalan akses bersamasama dengan penyedia yang lain (jika ada) dan pihakpihak lainnya yang berkepentingan atas lokasi kerja. Jika
dipandang perlu, PPK dapat memberikan jadwal kerja
penyedia yang lain di lokasi kerja.

58. Keselamatan dan


Kesehatan Kerja

Penyedia bertanggung jawab atas keselamatan dan


kesehatan semua pihak di lokasi kerja. Penyedia setiap
saat harus mengambil langkah-langkah yang patut
diambil untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para
personilnya. Penyedia harus memastikan bahwa staf
kesehatan, fasilitas pertolongan pertama pada kecelakaan,
dan layanan ambulance dapat disediakan setiap saat di
lapangan bagi personil penyedia termasuk subpenyedia
maupun personil PPK dan telah dibuat perencanaan yang
sesuai dengan semua persyaratan kesehatan dan
kebersihan untuk mencegah timbulnya wabah penyakit.
Penyedia harus menunjuk petugas keselamatan kerja yang
bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan
mencegah terjadinya kecelakaan. Petugas yang
bersangkutan
harus
memenuhi
aturan
dan
persyaratan K3. Petugas K3 dipersyaratkan berdasarkan
tingkat risiko pekerjaan: diperlukan Ahli K3 untuk
pekerjaan berisiko tinggi dan diperlukan Petugas K3
untuk pekerjaan berisiko sedang atau kecil sebagaimana
ditetapkan dalam SSKK.

59. Pembayaran
Denda

Penyedia berkewajiban untuk membayar sanksi finansial


berupa Denda sebagai akibat wanprestasi atau cidera
janji terhadap kewajiban-kewajiban penyedia dalam
Kontrak ini. PPK mengenakan Denda dengan memotong
angsuran pembayaran prestasi pekerjaan penyedia.
Pembayaran Denda tidak mengurangi tanggung jawab
kontraktual penyedia.

60. Jaminan

60.1 Penggunaan jaminan:


a. Paket
pekerjaan
sampai
dengan
Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus
juta rupiah) menggunakan surat jaminan yang
dikeluarkan oleh Bank Umum/ Perusahaan
Penjaminan/ Perusahaan Asuransi; atau
b. Paket pekerjaan di atas Rp 2.500.000.000,00
130

(dua miliar lima ratus juta rupiah)


menggunakan surat jaminan yang dikeluarkan
oleh Bank Umum.
60.2 Jaminan Pelaksanaan diberikan kepada PPK
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja
setelah diterbitkannya Surat Penunjukan Penyedia
Barang/Jasa
(SPPBJ)
sebelum
dilakukan
penandatanganan kontrak dengan besaran/nilai:
a. 5% (lima perseratus) dari nilai kontrak; atau
b. 5% (lima perseratus) dari nilai total Harga
Perkiraan Sendiri (HPS) bagi penawaran yang
lebih kecil dari 80% (delapan puluh
perseratus) HPS.
60.3

Masa berlakunya Jaminan Pelaksanaan sekurangkurangnya sejak tanggal penanda-tanganan


kontrak sampai dengan serah terima pertama
pekerjaan (Provisional Hand Over/PHO).

60.4 Jaminan Pelaksanaan


dikembalikan setelah
pekerjaan dinyatakan selesai 100% (seratus
perseratus) dan diganti dengan Jaminan
Pemeliharaan atau dengan menahan uang retensi
sebesar 5% (lima perseratus) dari nilai kontrak;
60.5

Jaminan Uang Muka diberikan kepada PPK dalam


rangka pengambilan uang muka sekurangkurangnya sama dengan besarnya uang muka;

60.6

Nilai Jaminan Uang Muka dapat dikurangi secara


proporsional sesuai dengan pencapaian prestasi
pekerjaan;

60.7

Masa berlakunya Jaminan Uang Muka sekurangkurangnya sejak tanggal persetujuan pemberian
uang muka sampai dengan tanggal penyerahan
pertama pekerjaan (PHO).

60.8 Jaminan Pemeliharaan diberikan kepada PPK


setelah pekerjaan dinyatakan selesai 100%
(seratus perseratus).
60.9 Pengembalian Jaminan Pemeliharan dilakukan
paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah
masa pemeliharaan selesai dan pekerjaan diterima
dengan baik sesuai dengan ketentuan kontrak;
60.10 Masa
berlakunya
Jaminan
Pemeliharaan
sekurang-kurangnya sejak tanggal serah terima
pertama pekerjaan (PHO) sampai dengan tanggal
penyerahan akhir pekerjaan (Final Hand
Over/FHO);

131

D. Personil Inti dan/atau Peralatan Penyedia


61. Personil Inti
dan/atau
Peralatan

61.1

Personil inti dan/atau peralatan yang ditempatkan


harus sesuai dengan yang tercantum dalam
Dokumen Penawaran.

61.2

Penggantian personil inti dan/atau peralatan tidak


boleh dilakukan kecuali atas persetujuan tertulis
PPK.

61.3

Penggantian personil inti dilakukan oleh penyedia


dengan mengajukan permohonan terlebih dahulu
kepada PPK dengan melampirkan riwayat
hidup/pengalaman kerja personil inti yang
diusulkan beserta alasan penggantian.

61.4 PPK
dapat
menilai
dan
menyetujui
penempatan/penggantian personil inti dan/atau
peralatan menurut kualifikasi yang dibutuhkan.
61.5 Jika PPK menilai bahwa personil inti :
a. tidak mampu atau tidak dapat melakukan
pekerjaan dengan baik;
b. berkelakuan tidak baik; atau
c. mengabaikan
tugasnya,

pekerjaan

yang

menjadi

maka penyedia berkewajiban untuk menyediakan


pengganti dan menjamin personil inti tersebut
meninggalkan lokasi kerja dalam waktu 7 (tujuh)
hari sejak diminta oleh PPK.
61.6

Jika penggantian personil inti dan/atau peralatan


perlu dilakukan, maka penyedia berkewajiban
untuk menyediakan pengganti dengan kualifikasi
yang setara atau lebih baik dari personil inti
dan/atau peralatan yang digantikan tanpa biaya
tambahan apapun.

61.7 Personil inti berkewajiban untuk


menjaga
kerahasiaan pekerjaannya. Jika diperlukan oleh
PPK, Personil
inti
dapat
sewaktu-waktu
disyaratkan untuk menjaga kerahasiaan pekerjaan
di bawah sumpah.
E.

Kewajiban PPK

132

62. Fasilitas

PPK dapat memberikan fasilitas berupa sarana dan


prasarana atau kemudahan lainnya (jika ada) yang
tercantum dalam SSKK untuk kelancaran pelaksanan
pekerjaan ini.

63. Peristiwa
Kompensasi

63.1 Peristiwa Kompensasi


kepada penyedia yaitu :

yang

dapat

diberikan

a. PPK
mengubah
jadwal
yang
mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan;

dapat

b. keterlambatan pembayaran kepada penyedia;


c. PPK tidak memberikan gambar-gambar,
spesifikasi dan/atau instruksi sesuai jadwal
yang dibutuhkan;
d. penyedia belum bisa masuk ke lokasi sesuai
jadwal dalam kontrak;
e. PPK menginstruksikan kepada pihak penyedia
untuk melakukan pengujian tambahan yang
setelah dilaksanakan pengujian ternyata tidak
ditemukan
kerusakan/
kegagalan/
penyimpangan;
f. PPK memerintahkan penundaan pelaksanaan
pekerjaan;
g. PPK memerintahkan untuk mengatasi kondisi
tertentu yang tidak dapat diduga sebelumnya
dan disebabkan oleh PPK;
h. ketentuan lain dalam SSKK.
63.2 Jika
Peristiwa
Kompensasi
mengakibatkan
pengeluaran tambahan dan/atau keterlambatan
penyelesaian pekerjaan maka PPK berkewajiban
untuk membayar ganti rugi dan/atau memberikan
perpanjangan waktu penyelesaian pekerjaan.
63.3 Ganti rugi hanya dapat dibayarkan jika
berdasarkan data penunjang dan perhitungan
kompensasi yang diajukan oleh penyedia kepada
PPK, dapat dibuktikan kerugian nyata akibat
Peristiwa Kompensasi.
63.4 Perpanjangan waktu penyelesaian pekerjaan
hanya dapat diberikan jika berdasarkan data
penunjang dan perhitungan kompensasi yang
diajukan oleh penyedia kepada PPK, dapat
dibuktikan perlunya tambahan waktu akibat
Peristiwa Kompensasi.
63.5

Penyedia tidak berhak atas ganti rugi dan/atau


perpanjangan waktu penyelesaian pekerjaan jika

133

penyedia gagal atau lalai untuk memberikan


peringatan dini dalam mengantisipasi atau
mengatasi dampak Peristiwa Kompensasi.
F.

Pembayaran Kepada Penyedia

64. Harga Kontrak

64.1 PPK membayar kepada penyedia atas pelaksanaan


pekerjaan dalam kontrak sebesar harga kontrak.
64.2 Harga
kontrak
telah
memperhitungkan
keuntungan, beban pajak dan biaya overhead
termasuk penyelenggaraan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) dan semua pajak, bea,
retribusi, dan pungutan lain serta biaya asuransi
yang harus dibayar oleh penyedia untuk
pelaksanaan paket pekerjaan konstruksi.
64.3 Rincian harga kontrak sesuai dengan rincian yang
tercantum dalam daftar kuantitas dan harga.

65. Pembayaran

65.1 Uang muka


a. uang muka dibayar untuk membiayai
mobilisasi peralatan, personil, pembayaran
uang
tanda
jadi
kepada
pemasok
bahan/material dan persiapan teknis lain;
b. untuk usaha kecil, uang muka dapat diberikan
paling tinggi 30% (tiga puluh perseratus) dari
nilai Kontrak Pengadaan Barang/Jasa;
c. untuk usaha non kecil, uang muka dapat
diberikan paling tinggi 20% (dua puluh
perseratus) dari nilai Kontrak Pengadaan
Barang/Jasa;
d. untuk Kontrak Tahun Jamak, uang muka dapat
diberikan:
1) 20% (dua puluh perseratus) dari Kontrak
tahun pertama; atau
2) 15% (lima belas perseratus) dari nilai
Kontrak.
e. Besaran uang muka ditentukan dalam SSKK
dan dibayar setelah penyedia menyerahkan
Jaminan Uang Muka senilai uang muka yang
diterima;
f. penyedia harus mengajukan permohonan
pengambilan uang muka secara tertulis kepada
PPK disertai dengan rencana penggunaan uang
muka untuk melaksanakan pekerjaan sesuai
Kontrak;
g. PPK harus mengajukan surat permintaan

134

pembayaran untuk permohonan tersebut pada


huruf c, paling lambat 7 (tujuh) hari kerja
setelah Jaminan Uang Muka diterima;
h. Jaminan Uang Muka diterbitkan oleh bank
umum,
perusahaan
penjaminan,
atau
Perusahaan Asuransi Umum yang memiliki
izin untuk
menjual
produk
jaminan
(suretyship) yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan;
i. pengembalian
uang
muka
harus
diperhitungkan
berangsur-angsur
secara
proporsional pada setiap pembayaran prestasi
pekerjaan dan paling lambat harus lunas pada
saat pekerjaan mencapai prestasi 100%
(seratus perseratus).
65.2 Prestasi pekerjaan
a. pembayaran prestasi hasil pekerjaan yang
disepakati dilakukan oleh PPK, dengan
ketentuan :
1) Penyedia telah mengajukan tagihan
disertai laporan kemajuan hasil pekerjaan;
2) Pembayaran dilakukan dengan sistem
bulanan, sistem termin atau pembayaran
secara sekaligus, sesuai ketentuan dalam
SSKK;
3) Pembayaran dilakukan senilai pekerjaan
yang telah terpasang, termasuk peralatan
dan/ atau bahan yang menjadi bagian
permanen dari hasil pekerjaan yang akan
diserahterimakan,
sesuai
dengan
ketentuan yang tercantum di dalam SSKK.
Peralatan dan/atau bahan yang menjadi
bagian dari hasil pekerjaan adalah:
a) Peralatan dan/atau bahan yang
merupakan bagian dari pekerjaan
utama namun belum dilakukan uji
fungsi
(commisioning) harus
memenuhi
persyaratan
sebagai
berikut:
(1) Berada
di
lokasi
pekerjaan
sebagaimana
tercantum
dalam
Kontrak dan perubahannya;
(2) Memiliki sertifikat uji mutu dari
pabrikan/produsen;
(3) Bersertifikat
garansi
dari
produsen/agen resmi yang ditunjuk

135

oleh produsen;
(4) Disetujui oleh PPK sesuai dengan
capaian fisik yang diterima;
(5) Dilarang dipindahkan dari area
lokasi
pekerjaan
dan/atau
dipindahtangankan
oleh
pihak
manapun; dan
(6) Keamanan penyimpanan dan risiko
kerusakan
sebelum
diserahterimakan
secara
satu
kesatuan
fungsi
merupakan
tanggung
jawab
Penyedia
Barang/Jasa.
b) Sertifikat uji mutu dan sertifikat
garansi tidak diperlukan dalam hal
peralatan
dan/atau
bahan
dibuat/dirakit
oleh
Penyedia
Barang/Jasa;
Besaran yang akan dibayarkan dari
material on site (berkisar antara 50%
sampai dengan 70%). Besaran nilai
pembayaran dicantumkan di dalam SSKK;
4) Pembayaran harus memperhitungkan
angsuran uang muka, peralatan dan/atau
bahan yang menjadi bagian permanen
dari
hasil
pekerjaan
yang
akan
diserahterimakan (material on site) yang
sudah dibayar sebelumnya, denda (apabila
ada), pajak dan/atau uang retensi;
5) Untuk kontrak yang mempunyai sub
kontrak, permintaan pembayaran harus
dilengkapi bukti pembayaran kepada
seluruh sub penyedia sesuai dengan
prestasi pekerjaan. Pembayaran kepada
sub penyedia dilakukan sesuai prestasi
pekerjaan yang selesai dilaksanakan oleh
sub penyedia tanpa harus menunggu
pembayaran terlebih dahulu dari PPK.
b. pembayaran terakhir hanya dilakukan setelah
pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus)
dan Berita Acara Penyerahan Pertama
Pekerjaan diterbitkan;
c. PPK dalam kurun waktu 7 (tujuh) hari kerja
setelah pengajuan permintaan pembayaran
dari penyedia harus sudah mengajukan surat
permintaan pembayaran kepada Pejabat
Penandatangan Surat Perintah Membayar

136

(PPSPM);
d. apabila
terdapat ketidaksesuaian dalam
perhitungan angsuran, tidak akan menjadi
alasan untuk menunda pembayaran. PPK dapat
meminta penyedia untuk menyampaikan
perhitungan prestasi sementara dengan
mengesampingkan hal-hal yang sedang
menjadi perselisihan.
65.3 Denda dan ganti rugi
a. denda merupakan sanksi finansial yang
dikenakan kepada penyedia;
b. ganti rugi merupakan sanksi finansial yang
dikenakan kepada PPK karena terjadinya
cidera janji/wanprestasi;
c. besarnya denda yang dikenakan kepada
penyedia atas keterlambatan penyelesaian
pekerjaan untuk setiap hari keterlambatan
adalah :
1) 1/1000 (satu perseribu) dari sisa harga
bagian kontrak yang belum dikerjakan
(sebelum PPN), apabila bagian pekerjaan
yang sudah dilaksanakan dapat berfungsi;
atau
2) 1/1000 (satu perseribu) dari harga
kontrak (sebelum PPN), apabila bagian
pekerjaan yang sudah dilaksanakan belum
berfungsi;
sesuai yang ditetapkan dalam SSKK;
d. besarnya ganti rugi yang dibayar oleh PPK atas
keterlambatan pembayaran adalah sebesar
bunga dari nilai tagihan yang terlambat
dibayar, berdasarkan tingkat suku bunga yang
berlaku pada saat itu menurut ketetapan Bank
Indonesia, atau dapat diberikan kompensasi;
e. pembayaran denda dan/atau ganti rugi
diperhitungkan dalam pembayaran prestasi
pekerjaan;
f. ganti rugi dan kompensasi kepada peserta
dituangkan dalam adendum kontrak;
g. pembayaran ganti rugi dan kompensasi
dilakukan oleh PPK, apabila penyedia telah
mengajukan tagihan disertai perhitungan dan
data-data.
66. Hari Kerja

66.1 Semua pekerja dibayar selama hari kerja dan


datanya disimpan oleh penyedia. Daftar
pembayaran ditandatangani oleh masing-masing

137

pekerja dan dapat diperiksa oleh PPK.

67. Perhitungan
Akhir

66.2

Penyedia harus membayar upah hari kerja kepada


tenaga
kerjanya
setelah
formulir
upah
ditandatangani.

66.3

Jam kerja dan waktu cuti untuk pekerja harus


dilampirkan.

67.1

Pembayaran angsuran prestasi pekerjaan terakhir


dilakukan berdasarkan setelah pekerjaan selesai
100% (seratus perseratus) dan berita acara
penyerahan awal telah ditandatangani oleh kedua
belah Pihak berdasarkan Berita Acara Pekerjaan
Selesai dari Panitia Penerima Hasil Pekerjaan
(PPHP).

67.2 Sebelum
pembayaran
terakhir
dilakukan,
penyedia berkewajiban untuk menyerahkan
kepada Pengawas Pekerjaan rincian perhitungan
nilai tagihan terakhir yang jatuh tempo. PPK
berdasarkan hasil penelitian tagihan oleh
Pengawas
Pekerjaan
berkewajiban
untuk
menerbitkan SPP untuk pembayaran tagihan
angsuran terakhir selambat-lambatnya 7 (tujuh)
hari kerja terhitung sejak tagihan dan
kelengkapan dokumen penunjang diterima oleh
Pengawas Pekerjaan.
68. Penangguhan

68.1 PPK dapat menangguhkan pembayaran setiap


angsuran prestasi pekerjaan jika penyedia gagal
atau lalai memenuhi kewajiban kontraktualnya,
termasuk penyerahan setiap Hasil Pekerjaan sesuai
dengan waktu yang telah ditetapkan.
68.2 PPK secara tertulis memberitahukan kepada
penyedia tentang penangguhan hak pembayaran,
disertai alasan-alasan yang jelas mengenai
penangguhan
tersebut.
Penyedia
diberi
kesempatan untuk memperbaiki dalam jangka
waktu tertentu.
68.3 Pembayaran
yang
ditangguhkan
harus
disesuaikan dengan proporsi kegagalan atau
kelalaian penyedia.
68.4 Jika dipandang perlu oleh PPK, penangguhan
pembayaran akibat keterlambatan penyerahan
pekerjaan dapat dilakukan bersamaan dengan
pengenaan denda kepada penyedia.

G. Pengawasan Mutu
69. Pengawasan dan
Pemeriksaan

PPK
berwenang
melakukan
pengawasan
dan
pemeriksaan terhadap pelaksanaan pekerjaan yang

138

dilaksanakan oleh penyedia. Apabila diperlukan, PPK


dapat memerintahkan kepada pihak ketiga untuk
melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas semua
pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh penyedia.
70. Penilaian
Pekerjaan
Sementara oleh
PPK
71. Cacat Mutu

70.1

PPK dalam masa pelaksanaan pekerjaan dapat


melakukan penilaian sementara atas hasil
pekerjaan yang dilakukan oleh penyedia.
70.2 Penilaian atas hasil pekerjaan dilakukan terhadap
mutu dan kemajuan fisik pekerjaan
PPK atau Pengawas Pekerjaan akan memeriksa setiap
Hasil Pekerjaan dan memberitahukan penyedia secara
tertulis atas setiap Cacat Mutu yang ditemukan. PPK atau
Pengawas Pekerjaan dapat memerintahkan penyedia
untuk menemukan dan mengungkapkan Cacat Mutu,
serta menguji Hasil Pekerjaan yang dianggap oleh PPK
atau Pengawas Pekerjaan mengandung Cacat Mutu.
Penyedia bertanggung jawab atas perbaikan Cacat Mutu
selama Masa Kontrak dan Masa Pemeliharaan.

72. Pengujian

Jika PPK atau Pengawas Pekerjaan memerintahkan


penyedia untuk melakukan pengujian Cacat Mutu yang
tidak tercantum dalam Spesifikasi Teknis dan Gambar,
dan hasil uji coba menunjukkan adanya Cacat Mutu
maka penyedia berkewajiban untuk menanggung biaya
pengujian tersebut. Jika tidak ditemukan adanya Cacat
Mutu maka uji coba tersebut dianggap sebagai Peristiwa
Kompensasi.

73. Perbaikan Cacat


Mutu

73.1 PPK
atau
Pengawas
Pekerjaan
akan
menyampaikan pemberitahuan Cacat Mutu
kepada penyedia segera setelah ditemukan Cacat
Mutu tersebut. Penyedia bertanggung jawab atas
cacat mutu selama Masa Pelaksanaan dan Masa
Pemeliharaan.
73.2

Terhadap pemberitahuan Cacat Mutu tersebut,


penyedia berkewajiban untuk memperbaiki Cacat
Mutu dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam
pemberitahuan.

73.3

Jika penyedia tidak memperbaiki Cacat Mutu


dalam jangka waktu yang ditentukan maka PPK,
berdasarkan pertimbangan Pengawas Pekerjaan,
berhak untuk secara langsung atau melalui pihak
ketiga yang ditunjuk oleh PPK melakukan
perbaikan tersebut. Penyedia segera setelah
menerima permintaan penggantian biaya/klaim
dari PPK secara tertulis berkewajiban untuk
mengganti biaya perbaikan tersebut. PPK dapat
memperoleh penggantian biaya dengan memotong
pembayaran atas tagihan penyedia yang jatuh

139

tempo (jika ada) atau uang retensi atau pencairan


Surat Jaminan Pemeliharaan atau jika tidak ada
maka biaya penggantian akan diperhitungkan
sebagai utang penyedia kepada PPK yang telah
jatuh tempo.
73.4 PPK dapat mengenakan Denda Keterlambatan
untuk setiap keterlambatan perbaikan Cacat
Mutu, dan mengenakan sanksi daftar hitam
kepada penyedia jika tidak melaksanakan
perbaikan
Cacat
Mutu.
Besaran
denda
keterlambatan akibat cacat mutu ini ditentukan
dalam SSKK.
74. Kegagalan
Konstruksi dan
Kegagalan
Bangunan

74.1 Apabila terjadi kegagalan konstruksi pada


pelaksanaan pekerjaan, maka PPK dan/atau
penyedia bertanggung jawab atas kegagalan
konstruksi sesuai dengan kesalahan masingmasing.
74.2

Apabila terjadi kegagalan bangunan maka PPK


dan/atau penyedia terhitung sejak tanggal
penandatanganan berita acara penyerahan akhir
bertanggung jawab atas kegagalan bangunan
sesuai dengan kesalahan masing-masing selama
umur konstruksi yang tercantum dalam SSKK
tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun, dan
dalam SSKK pada umur konstruksi agar
dicantumkan lama pertanggungan terhadap
kegagalan bangunan yang ditetapkan apabila
rencana umur konstruksi kurang dari 10
(sepuluh) tahun.

74.3 Penyedia
berkewajiban
untuk
melindungi,
membebaskan, dan menanggung tanpa batas PPK
beserta instansinya terhadap semua bentuk
tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, kehilangan,
kerugian, denda, gugatan atau tuntutan hukum,
proses pemeriksaan hukum, dan biaya yang
dikenakan terhadap PPK beserta instansinya
(kecuali kerugian yang mendasari tuntutan
tersebut disebabkan kesalahan atau kelalaian PPK)
sehubungan dengan klaim kehilangan atau
kerusakan harta benda, dan cidera tubuh, sakit
atau kematian pihak ketiga yang timbul dari
kegagalan
konstruksi
dan/atau
kegagalan
bangunan.
74.4 Pertanggungan asuransi yang dimiliki oleh
penyedia
tidak
membatasi
kewajiban
penanggungan penyedia dalam Pasal ini.
74.5 PPK

maupun

Penyedia

berkewajiban

untuk

140

menyimpan dan memelihara semua dokumen


yang digunakan dan terkait dengan pelaksanaan
ini selama umur konstruksi yang tercantum dalam
SSKK tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun.
H. Penyelesaian Perselisihan
75. Penyelesaian
Perselisihan

75.1 Para Pihak berkewajiban untuk berupaya


sungguh-sungguh menyelesaikan secara damai
semua perselisihan yang timbul dari atau
berhubungan
dengan
Kontrak
ini
atau
interpretasinya selama atau setelah pelaksanaan
pekerjaan ini.
75.2

76. Itikad Baik

Penyelesaian perselisihan atau sengketa antara


para pihak dalam Kontrak dapat dilakukan
melalui musyawarah, arbitrase, mediasi, konsiliasi
atau pengadilan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Penyelesaian
perselisihan atau sengketa yang dipilih ditetapkan
dalam SSKK.

76.1 Para pihak bertindak berdasarkan asas saling


percaya yang disesuaikan dengan hak-hak yang
terdapat dalam kontrak.
76.2

Para pihak setuju untuk melaksanakan perjanjian


dengan jujur tanpa menonjolkan kepentingan
masing-masing pihak. Apabila selama kontrak,
salah satu pihak merasa dirugikan, maka
diupayakan tindakan yang terbaik untuk
mengatasi keadaan tersebut.

141

BAB X
SYARAT-SYARAT KHUSUS KONTRAK (SSKK)
A. Korespondensi

Alamat Para Pihak sebagai berikut:


Satuan Kerja PPK:
Nama:
....................
Alamat:
....................
Website:
....................
E-mail:
....................
Faksimili:
....................
Penyedia:
Nama:
Alamat:
E-mail:
Faksimili:

B. Wakil Sah Para


Pihak

....................
....................
....................
....................

Wakil Sah Para Pihak sebagai berikut:


Untuk PPK:

....................

Untuk Penyedia:

....................

C. Jenis Kontrak

Merupakan kontrak harga satuan

D. Tanggal Berlaku
Kontrak

Kontrak mulai berlaku sejak: ................. s.d. ..................


[termasuk masa pemeliharaan]

E.

Masa
Pelaksanaan

Masa Pelaksanaan selama: .................... [diisi jumlah hari


kalender] terhitung sejak tanggal mulai kerja yang
tercantum dalam SPMK.

F.

Masa
Pemeliharaan

Masa Pemeliharaan berlaku selama: .................... [diisi


jumlah hari kalender] terhitung sejak tanggal
penyerahan pertama (PHO) pekerjaan; atau
Masa Pemeliharaan berlaku selama: .................... [diisi
jumlah hari kalender] terhitung sejak tanggal
penyerahan pertama (PHO) bagian pekerjaan yang
sudah bisa berfungsi apabila ada serah terima parsial.

G. Perbaikan Cacat
Mutu

Denda keterlambatan akibat cacat mutu untuk setiap


hari keterlambatan adalah sebesar 1/1000 (satu
perseribu) dari biaya perbaikan cacat mutu. Jangka
waktu perbaikan cacat mutu sesuai dengan perkiraan
waktu yang diperlukan untuk perbaikan dan ditetapkan
oleh PPK.

142

H. Umur Konstruksi

a. Bangunan Hasil Pekerjaan memiliki umur


konstruksi: . (.........dalam huruf...........) tahun
sejak tanggal penanda-tanganan Berita Acara
penyerahan akhir.

Catatan: ketentuan umur konstruksi ini diisi apabila


perencanaan
konstruksi
yang
ditetapkan
diperkirakan hanya dapat mencapai umur kurang
dari 10 (sepuluh) tahun.
b. Pertanggungan terhadap kegagalan bangunan
ditetapkan selama ......... (.............) tahun sejak
tanggal penyerahan akhir.
I.

Pedoman
Pengoperasian
dan Perawatan/
Pemeliharaan

Gambar As built dan/atau pedoman pengoperasian


dan perawatan/pemeliharaan harus diserahkan
selambat-lambatnya: .(......dalam huruf.........) hari
kalender/bulan/tahun setelah tanggal penandatanganan Berita Acara penyerahan awal.

J.

Pembayaran
Tagihan

Batas akhir waktu yang disepakati untuk penerbitan


SPP oleh PPK untuk pembayaran tagihan angsuran
adalah ...........(......dalam huruf.........) hari kalender
terhitung sejak tagihan dan kelengkapan dokumen
penunjang yang tidak diperselisihkan diterima oleh
PPK.

K. Pencairan
Jaminan

Jaminan dicairkan dan disetorkan pada .....................


[diisi nama kantor Kas Negara]

L.

Tindakan lain oleh Penyedia yang


persetujuan PPK adalah: ....................

Tindakan
Penyedia yang
Mensyaratkan
Persetujuan PPK
atau Pengawas
Pekerjaan

memerlukan

Tindakan lain oleh Penyedia yang memerlukan


persetujuan Pengawas Pekerjaan adalah: ....................

M. Kepemilikan
Dokumen

Penyedia
diperbolehkan
menggunakan
salinan
dokumen dan piranti lunak yang dihasilkan dari
Pekerjaan Konstruksi ini dengan pembatasan sebagai
berikut: ....................

N. Fasilitas

PPK akan memberikan fasilitas berupa :


....................

143

O. Peristiwa
Kompensasi

Termasuk peristiwa kompensasi yang dapat diberikan


ganti rugi adalah.....................

P.

Kontrak Pengadaan Pekerjaan Konstruksi ini dibiayai


dari .................... [diisi dengan memilih APBN]

Sumber
Pembiayaan

Q. Pembayaran
Uang Muka

Uang
muka
diberikan
sebesar
(.....dalam huruf........) dari Nilai Kontrak

R. Keselamatan dan
Kesehatan Kerja

Personil K3 yang dipersyaratkan:.............. [diisi Petugas


K3 untuk risiko sedang]

S.

Pembayaran prestasi pekerjaan dilakukan dengan cara:


.......... [diisi dengan memilih Termin]

Pembayaran
Prestasi
Pekerjaan

.....%

Dokumen penunjang yang disyaratkan untuk


mengajukan tagihan pembayaran prestasi pekerjaan:
....................
Penentuan dan besaran pembayaran untuk item
peralatan dan/atau bahan yang menjadi bagian
permanen dari pekerjaan utama (material on site),
ditetapkan sebagai berikut:
1. ....[diisi item peralatan/bahan].... dibayar .......% dari
harga Kontrak
2. ....[diisi item peralatan/bahan].... dibayar .......% dari
harga Kontrak
3. ................... dst
[contoh peralatan: eskalator, lift, pompa air stationer, turbin,
peralatan elektromekanik; contoh bahan fabrikasi: sheet pile,
geosintetik, konduktor, tower, insulator; contoh bahan jadi:
beton pracetak]
T. Serah Terima
sebagian
pekerjaan

Dalam kontrak ini diberlakukan serah terima pekerjaan


sebagian atau secara parsial untuk bagian sebagai
berikut:
1. ...................
2. ...................
3. Dst..
[diisi bagian pekerjaan yang berfungsi dan segera
dimanfaatkan (apabila ada)]

U. Penyesuaian
Harga
(Eskalasi/Deeskalasi)

Penyesuaian harga .. [dipilih: diberikan/


tidak diberikan] dalam hal diberikan maka rumusannya
sebagai berikut:
Hn = Ho (a+b.Bn/Bo+c.Cn/Co+d.Dn/Do+.....)
Hn = Harga Satuan pada saat pekerjaan dilaksanakan;

144

Ho = Harga Satuan pada saat harga penawaran;


a

= Koefisien tetap yang terdiri atas keuntungan dan overhead;


Dalam hal penawaran tidak mencantumkan besaran
komponen keuntungan dan overhead maka a = 0,15.

b, c, d= Koefisien komponen kontrak seperti tenaga kerja, bahan,


alat kerja, dsb;
Penjumlahan a+b+c+d+....dst adalah 1,00.
Bn, Cn, Dn= Indeks harga komponen pada saat pekerjaan
dilaksanakan (mulai bulan ke-13 setelah
penandatanganan kontrak).
Bo, Co, Do= Indeks harga komponen pada bulan ke-12 setelah
penanda-tanganan kontrak.
Rumusan tersebut diatas memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Penetapan koefisien bahan, tenaga kerja, alat kerja, bahan bakar, dan
sebagainya ditetapkan seperti contoh sebagai berikut:
Pekerjaan
Timbunan
Galian
Galian dengan alat
Beton
Beton bertulang

Koefisien Komponen

a.
0,15
0,15
0,15
0,15
0,15

b.
.
.
.
.
.

c.
.
.
.
.
.

d.
.
.
.
.
.

a+b+c+d
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00

b) Indeks harga yang digunakan bersumber dari penerbitan BPS.


c) Dalam hal indeks harga tidak dimuat dalam penerbitan BPS,
digunakan indeks harga yang dikeluarkan oleh instansi teknis.
d) Rumusan penyesuaian nilai kontrak ditetapkan sebagai berikut:
Pn = (Hn1xV1)+(Hn2xV2)+(Hn3xV3)+.... dst
Pn = Nilai Kontrak setelah dilakukan penyesuaian Harga Satuan;
Hn = Harga Satuan baru setiap jenis komponen pekerjaan setelah
dilakukan penyesuaian harga menggunakan rumusan
penyesuaian Harga Satuan;
V = Volume setiap jenis komponen pekerjaan yang dilaksanakan.
e) Pembayaran penyesuaian harga dilakukan oleh PPK, apabila penyedia
telah mengajukan tagihan disertai perhitungan dan data-data;
f) Penyedia dapat mengajukan secara berkala selambat-lambatnya setiap
6 (enam) bulan.

V. Denda

1. Untuk pekerjaan ini besar denda keterlambatan


untuk setiap hari keterlambatan adalah 1/1000
(satu perseribu) dari ................... [total nilai kontrak
secara parsial]
2. Sanksi finansial terhadap realisasi pelaksanaan
yang tidak sesuai dengan nilai TKDN Penawaran
dikenakan berdasarkan perbedaan antara nilai
TKDN Penawaran dengan nilai TKDN realisasi
pelaksanaan dikalikan dengan Harga Penawaran,
dengan perbedaan nilai TKDN maksimal sebesar
15% (lima belas persen).

145

W. Usaha Mikro,
Usaha Kecil dan
Koperasi Kecil

Sanksi kepada penyedia apabila melanggar ketentuan


mengenai subkontrak :
a. Apabila sebagai pelaksana konstruksi, Penyedia
Usaha Mikro, Usaha Kecil dan koperasi kecil
mensubkontrakkan
pekerjaan,
maka
akan
dikenakan denda ..
b. Apabila sebagai pelaksana konstruksi, Penyedia
bukan Usaha Mikro, Usaha Kecil dan koperasi kecil
yang tidak mensubkontrakkan pekerjaan, maka
akan dikenakan denda ..
c. Apabila sebagai pelaksana konstruksi, Penyedia
bukan Usaha Mikro, Usaha Kecil dan koperasi kecil
yang mensubkontrakkan pekerjaan utama, maka
akan dikenakan denda

X. Penyelesaian
Perselisihan
/Sengketa

Dalam hal terjadi perselisihan/sengketa diantara para


pihak, para pihak terlebih dahulu menyelesaikan
perselisihan tersebut melalui musyawarah untuk
mufakat.
Dalam hal musyawarah untuk mufakat tidak tercapai,
maka
para
pihak
sepakat
menyelesaikan
perselisihan/sengketa melalui .......... [arbitrase]

146

Lampiran A Syarat-Syarat Khusus Kontrak


Daftar Harga Satuan Timpang, Subpenyedia, Personil Inti, dan Peralatan
- Daftar jenis/item pekerjaan yang masuk kategori harga satuan timpang
[dicantumkan apabila ada]
- Subpenyedia yang ditunjuk: [cantumkan nama Subpenyedia (jika ada) berikut
uraian personilnya seperti uraian detil tanggung jawab kerja, minimum kualifikasi,
dan jumlah orang bulan]
- Personil Inti yang ditugaskan: [cantumkan nama, uraian detil tanggung jawab
kerja, minimum kualifikasi, dan jumlah orang bulan]
- Peralatan khusus yang digunakan: [cantumkan jenis peralatan khusus yang
disyaratkan untuk pelaksanaan pekerjaan]

147

BAB XI
SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR
Perhatian:
Pokja ULP menguraikan spesifikasi teknis dan gambar yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan yang dilelangkan sebagai bagian dari dokumen pengadaan ini.

A. Uraian Spesifikasi Teknis


Uraian spesifikasi teknis disusun berdasarkan spesifikasi teknis yang
ditetapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sesuai jenis pekerjaan
yang akan dilelangkan, dengan ketentuan :
1. Tidak mengarah kepada merk/produk tertentu, tidak menutup
kemungkinan digunakannya produksi dalam negeri;
2. Semaksimal mungkin diupayakan menggunakan standar nasional (SNI);
3. Metoda pelaksanaan harus logis, realistik dan dapat dilaksanakan;
4. Jangka waktu pelaksanaan harus sesuai dengan metoda pelaksanaan;
5. Mencantumkan macam, jenis, kapasitas dan jumlah peralatan utama
minimal yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan;
6. Mencantumkan syarat-syarat
pelaksanaan pekerjaan;

bahan

yang

dipergunakan

dalam

7. Mencantumkan syarat-syarat pengujian bahan dan hasil produk;


8. Mencantumkan kriteria kinerja produk (output performance) yang
diinginkan;
9. Mencantumkan tata cara pengukuran dan tata cara pembayaran.
10. Spesifikasi Bahan Bangunan Konstruksi :
a. Pokja ULP harus mengidentifikasi bahaya setiap jenis bahan
bangunan konstruksi yang akan digunakan untuk pekerjaan
permanen maupun untuk pekerjaan sementara atau penunjang, dan
menetapkan spesifikasi teknis setiap jenis bahan yang boleh
digunakan;
b. Setiap jenis bahan bangunan konstruksi yang digunakan sedapat
mungkin dipilih yang paling kecil bahaya dan risikonya, dan diberi
penjelasan cara penggunaan yang benar dan selamat;
c. Setiap jenis bahan bangunan konstruksi yang tergolong sebagai
bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti cat, thinner, gas
acetylene, BBM, BBG, bahan peledak, dll, harus diberi penjelasan
bahayanya, cara pengangkutan, penyimpanan, penggunaan,
pengendalian risiko dan cara pembuangan limbahnya sesuai dengan
prosedur dan/atau peraturan perundangan yang berlaku;

148

d. Informasi tentang penanganan B3 dapat diperoleh dari Lembar Data


Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet) yang diterbitkan
oleh pabrik pembuatnya, atau dari sumber-sumber yang
berkompeten dan/ atau berwenang.
11. Spesifikasi Peralatan Konstruksi dan Peralatan Bangunan :
a. Pokja ULP harus mengidentifikasi bahaya setiap jenis alat dan
perkakas yang akan digunakan untuk pelaksanaan konstruksi,
maupun peralatan permanen kelengkapan bangunan konstruksi dan
menetapkan spesifikasi teknis setiap jenis alat yang harus digunakan
tersebut;
b. Setiap jenis alat dan perkakas yang digunakan sedapat mungkin
dipilih yang paling kecil bahaya dan risikonya serta lebih mudah
penggunaan dan perawatannya, dan diberi penjelasan singkat cara
penggunaan dan pemeliharaannya;
c. Alat dan perkakas yang digunakan harus dipastikan telah diberi
sistem perlindungan atau kelengkapan pengaman untuk mencegah
paparan (expose) bahaya secara langsung terhadap tubuh pekerja;
d. Informasi tentang jenis, cara penggunaan/ pemeliharaan/
pengamanannya alat dan perkakas dapat diperoleh dari manual
produk dari pabrik pembuatnya, ataupun dari pedoman/peraturan
pihak yang kompeten.
12. Spesifikasi Proses/Kegiatan:
a. Pokja ULP dan/atau Ahli K3/Petugas K3 harus mengidentifikasi
bahaya dari setiap jenis proses atau tahapan kegiatan pekerjaan
konstruksi, dan menetapkan spesifikasi proses/kegiatan yang harus
dilakukan oleh penyedia;
b. Setiap jenis proses/kegiatan sedapat mungkin dipilih yang paling
kecil bahaya dan risikonya, dan diberi penjelasan prosedur kerja
yang lebih aman dan selamat;
c. Setiap proses/kegiatan harus dilengkapi dengan prosedur kerja,
sistem perlindungan terhadap pekerja, perlengkapan pengaman, dan
rambu-rambu peringatan dan kewajiban pekerja menggunakan alat
pelindung diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya pada proses
tersebut;
d. Setiap jenis proses/kegiatan pekerjaan yang baru, atau pada keadaan
yang berbeda, harus lebih dulu dilakukan analisis bahaya dan
risikonya (Job Safety Analysis) dan harus dilakukan tindakan
pengendaliannya;
e. Setiap proses/kegiatan yang berbahaya harus melalui prosedur izin
kerja lebih dulu dari penanggung-jawab proses dan Ahli K3
Konstruksi;

149

f. Setiap proses dan kegiatan pekerjaan hanya boleh dilakukan oleh


tenaga kerja dan/atau operator yang telah terlatih dan telah
mempunyai
kompetensi
untuk
melaksanakan
jenis
pekerjaan/tugasnya, termasuk kompetensi melaksanakan prosedur
keselamatan dan kesehatan kerja yang sesuai pada jenis
pekerjaan/tugasnya tersebut.
13. Spesifikasi Metode Konstruksi/ Metode Pelaksanaan/Metode Kerja
a. Identifikasi bahaya harus dilakukan terhadap setiap metode
konstruksi/ metode pelaksanaan pekerjaan, dan persyaratan teknis
untuk mencegah terjadinya kegagalan konstruksi dan kecelakaan
kerja;
b. Metode kerja harus disusun secara logis, realistik dan dapat
dilaksanakan dengan menggunakan peralatan, perkakas, material
dan konstruksi sementara, yang sesuai dengan kondisi
lokasi/tanah/cuaca, dan dapat dikerjakan oleh pekerja dan oprator
yang terlatih;
c. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi penyedia dalam menyusun
dan menggunakan metoda kerja dapat meliputi penggunaan alat
utama dan alat bantu, perkakas, material dan konstruksi sementara
dengan urutan kerja yang sistematis, guna mempermudah pekerja
dan operator bekerja dan dapat melindungi pekerja, alat dan
material dari bahaya dan risiko kegagalan konstruksi dan kecelakaan
kerja;
d. Setiap metode kerja/konstruksi yang diusulkan penyedia, harus
diidentifikasi bahayanya, diuji efektifitas pelaksanaannya dan
efisiensi biayanya. Jika semua faktor kondisi lokasi/tanah/cuaca,
alat, perkakas, material, urutan kerja dan kompetensi
pekerja/operator telah ditinjau dan dianalisis, serta dipastikan dapat
menjamin keselamatan, kesehatan dan keamanan konstruksi dan
pekerja/operator, maka metode kerja dapat disetujui, setelah
dilengkapi dengan gambar dan prosedur kerja yang sistematis
dan/atau mudah dipahami oleh pekerja/operator;
e. Setiap tahapan pelaksanaan konstruksi utama yang mempunyai
potensi bahaya harus dilengkapi dengan metode kerja, yang selamat
dan aman. Misalnya untuk pekerjaan di ketinggian, mutlak harus
digunakan perancah, lantai kerja (platform), papan tepi, tangga
kerja, pagar pelindung tepi, serta alat pelindung diri (APD) yang
sesuai antara lain helm dan sabuk keselamatan agar pekerja
terlindung dari bahaya jatuh. Untuk pekerjaan saluran galian tanah
berpasir yang mudah longsor dengan kedalaman 1,5 meter atau
lebih, mutlak harus menggunakan turap dan tangga akses bagi
pekerja untuk naik/turun;
f. Setiap metoda kerja harus melalui analisis dan perhitungan yang
diperlukan berdasarkan data teknis yang dapat dipertanggungjawabkan, baik dari standar yang berlaku, atau melalui penyelidikan
teknis dan analisis laboratorium maupun pendapat ahli terkait yang
independen.

150

14. Spesifikasi Jabatan Kerja Konstruksi


a. Setiap kegiatan/pekerjaan perancangan, perencanaan, perhitungan
dan gambar-gambar konstruksi, penetapan spesifikasi dan prosedur
teknis serta metode pelaksanaan/ konstruksi/kerja harus dilakukan
oleh tenaga ahli yang mempunyai kompetensi yang dipersyaratkan,
baik pekerjaan arsitektur, struktur/sipil, mekanikal, elektrikal,
plumbing dan penataan lingkungan maupun interior dan jenis
pekerjaan lain yang terkait;
b. Setiap tenaga ahli tersebut pada butir a. di atas harus mempunyai
kemampuan untuk melakukan proses manajemen risiko (identifikasi
bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko) yang terkait
dengan disiplin ilmu dan pengalaman profesionalnya, dan dapat
memastikan bahwa semua potensi bahaya dan risiko yang terkait
pada bentuk rancangan, spesifikasi teknis dan metode
kerja/konstruksi tersebut telah diidentifikasi dan telah dikendalikan
pada tingkat yang dapat diterima sesuai dengan standar teknik dan
standar K3 yang berlaku;
c. Setiap
kegiatan/pekerjaan
pelaksanaan,
pemasangan,
pembongkaran,
pemindahan,
pengangkutan,
pengangkatan,
penyimpanan,
perletakan,
pengambilan,
pembuangan,
pembongkaran dsb, harus dilakukan oleh tenaga ahli dan tenaga
terampil yang berkompeten berdasarkan gambar gambar, spesifikasi
teknis, manual, pedoman dan standar serta rujukan yang benar dan
sah atau telah disetujui oleh tenaga ahli yang terkait;
d. Setiap tenaga ahli dan tenaga terampil di bidang K3 di atas harus
mempunyai kemampuan melakukan analisis keselamatan pekerjaan
(job safety analysis) setiap sebelum memulai pekerjaannya, untuk
memastikan bahwa potensi bahaya dan risiko telah diidentifikasi dan
diberikan tindakan pencegahan terhadap kecelakaan kerja dan/atau
penyakit di tempat kerja;
e. Setiap identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko,
sebelum diterapkan harus ditinjau dan dievaluasi keandalan dan
ketepatannya oleh Petugas/Ahli K3 Konstruksi;
f. Dalam melaksanakan identifikasi bahaya harus dilaksanakan oleh
Petugas/Ahli K3 Konstruksi/berkonsultansi dengan Ahli K3
Konstruksi.
B. Keterangan Gambar
Gambar-gambar untuk pelaksanaan pekerjaan harus ditetapkan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen (PPK) secara terinci, lengkap dan jelas, antara lain :
1. Peta Lokasi
2. Lay out
3. Potongan memanjang
4. Potongan melintang
5. Detail-detail konstruksi

151

BAB XII
DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA

Keterangan
1.

Daftar Kuantitas dan Harga harus dibaca sesuai dengan Instruksi Kepada
Peserta (IKP), Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) dan Syarat-Syarat
Khusus Kontrak (SSKK), Spesifikasi Teknis dan Gambar.

2.

Pembayaran terhadap prestasi pekerjaan dilakukan berdasarkan


kuantitas pekerjaan aktual yang dimintakan dan dikerjakan sebagaimana
diukur oleh Penyedia dan diverifikasi oleh Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK), serta dinilai sesuai dengan harga yang tercantum dalam Daftar
Kuantitas dan Harga.

3.

Harga dalam Daftar Kuantitas dan Harga harus diisi lengkap yang telah
mencakup semua biaya pekerjaan, personil, pengawasan, bahan-bahan,
perawatan, pajak, keuntungan, overhead (termasuk biaya K3) dan yang
diatur dalam Kontrak.

4.

Harga harus dicantumkan untuk setiap mata pembayaran. Jika Penyedia


lalai untuk mencantumkan harga untuk suatu pekerjaan maka pekerjaan
tersebut dianggap telah termasuk dalam harga mata pembayaran lain
dalam Daftar Kuantitas dan Harga.

5.

Semua biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi ketentuan Kontrak


harus dianggap telah termasuk dalam setiap mata pembayaran, dan jika
mata pembayaran terkait tidak ada maka biaya dimaksud harus dianggap
telah termasuk dalam harga mata pembayaran yang lain.

6.

Pokja ULP akan melakukan koreksi aritmatik


penghitungan dengan ketentuan sebagai berikut :

atas

kesalahan

a. jika terdapat perbedaan antara penulisan nilai dalam angka dan


huruf pada Surat Penawaran maka yang dicatat nilai dalam huruf;
b. jika terjadi kesalahan hasil pengalian antara volume (perkalian antara
satuan dengan kuantitas) dengan harga satuan pekerjaan maka
dilakukan pembetulan, dengan ketentuan volume pekerjaan sesuai
dengan yang tercantum dalam Dokumen Pengadaan dan harga
satuan tidak boleh diubah; dan
c. jika terjadi jenis pekerjaan tidak ditulis dengan lengkap maka akan
dilakukan klarifikasi dan penilaian untuk dilanjutkan atau tidak
dilanjutkan pada evaluasi penawaran.

152

Daftar 1: Mata Pembayaran Umum18

No.

Uraian Pekerjaan

Satuan
Ukuran

Kuantitas

CONTOH

Harga
Satuan

Total
Harga
19

Total Daftar 1
(pindahkan nilai total ke Daftar Rekapitulasi)

18

Mata Pembayaran Umum memuat rincian komponen pekerjaan yang bersifat umum.
Semua jenis harga yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga merupakan harga
sebelum PPN (Pajak Pertambahan Nilai).

19

153

Daftar 2: Mata Pembayaran Pekerjaan Utama: ....................20


CONTOH

No.

Uraian Pekerjaan

Satuan
Ukuran

Kuantitas

Harga
Satuan

Total
Harga
21

Total Daftar 2
(pindahkan nilai total ke Daftar Rekapitulasi)

20
21

Cantumkan Mata Pembayaran Pekerjaan Utama yang menjadi pokok dari paket Pekerjaan
Konstruksi ini di antara bagian-bagian pekerjaan lain.
Semua jenis harga yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga merupakan harga
sebelum PPN (Pajak Pertambahan Nilai).

154

Daftar 3: Mata Pembayaran ..................... 22

No.

Uraian Pekerjaan

Satuan
Ukuran

Kuantitas

CONTOH

Harga
Satuan

Total
Harga
23

Total Daftar 3
(pindahkan nilai total ke Daftar Rekapitulasi)

22
23

Cantumkan Mata Pembayaran Jenis Pekerjaan selain yang sudah diuraikan dalam Mata
Pembayaran Pekerjaan Utama jika terdapat lebih dari satu jenis pekerjaan.
Semua jenis harga yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga merupakan harga
sebelum PPN (Pajak Pertambahan Nilai).

155

Daftar Rekapitulasi

Mata Pembayaran
Daftar No. 1: Mata Pembayaran Umum
Daftar No. 2: Mata Pembayaran Pekerjaan Utama
Daftar No. 3: Mata Pembayaran ...................
dll.
Jumlah (Daftar 1+2+3+.........)
PPN 10%
TOTAL NILAI

CONTOH

Harga

156

BAB XIII
BENTUK DOKUMEN LAIN
A. BENTUK SURAT PENUNJUKAN PENYEDIA BARANG/JASA (SPPBJ)

[kop surat satuan kerja Pejabat Pembuat Komitmen ]


Nomor
: ....................
Lampiran : ....................

...................., . .................... 20....

Kepada Yth.:
....................
di ....................
Perihal

: Penunjukan Penyedia untuk Pelaksanaan Paket Pekerjaan ....................


.................... .................... .................... .................... .................... ................

Dengan ini kami beritahukan bahwa penawaran Saudara nomor .................... tanggal
.................... perihal .................... dengan penawaran terkoreksi sebesar Rp....................
(.........dalam huruf...........) telah ditetapkan oleh Pokja ULP/Menteri/Kepala
Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi berdasarkan surat penetapan nomor
.................... tanggal .................... dan kami menyatakan menerima hasil penetapan
tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) ini Saudara
diharuskan untuk menyerahkan Jaminan Pelaksanaan dan menandatangani Surat
Perjanjian paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterbitkannya SPPBJ.
Penunjukan ini diberikan berdasarkan hasil evaluasi terhadap penawaran Saudara
tersebut diatas, apabila Saudara tidak bersedia menerima penunjukan ini akan
dikenakan sanksi sesuai ketentuan dalam Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010
tentang Pengadaan Barang/Jasa yang terakhir diubah dengan Peraturan Presiden No.
70 Tahun 2012 beserta petunjuk teknisnya.
Satuan Kerja ....................
Pejabat Pembuat Komitmen
....................

[nama lengkap]
[jabatan]
NIP. ....................
Tembusan Yth. :
Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/ Pimpinan Institusi
APIP ............... [Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi]
Unit Eselon 1
Unit Eselon 2. /Kepala Satuan kerja..
.................... [Pokja ULP]
......... dst

157

B. BENTUK SURAT PERINTAH MULAI KERJA (SPMK)

[kop surat satuan kerja Pejabat Pembuat Komitmen]


SURAT PERINTAH MULAI KERJA (SPMK)
Nomor : ....................
Paket Pekerjaan : ....................

Yang bertanda tangan di bawah ini :


........................................ [nama Pejabat Pembuat Komitmen]
........................................ [jabatan Pejabat Pembuat Komitmen]
........................................ [alamat satuan kerja Pejabat Pembuat Komitmen]
selanjutnya disebut sebagai Pejabat Pembuat Komitmen;
berdasarkan Surat Perjanjian ....................
...................., bersama ini memerintahkan :

nomor

....................

tanggal

........................................ [nama Penyedia Pekerjaan Konstruksi]


........................................ [alamat Penyedia Pekerjaan Konstruksi]
yang dalam hal ini diwakili oleh : ....................
selanjutnya disebut sebagai Penyedia;
untuk segera memulai pelaksanaan pekerjaan dengan memperhatikan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Lingkup pekerjaan : ....................;
2. Tanggal mulai kerja : .................... [hari/bulan/tahun];
3. Syarat-syarat pekerjaan: sesuai dengan persyaratan dan ketentuan Kontrak;
4. Waktu penyelesaian : selama (.........dalam huruf...........) hari kalender
dan pekerjaan harus sudah selesai pada tanggal ....................
[hari/bulan/tahun];

158

5. Denda : Terhadap setiap hari keterlambatan penyelesaian pekerjaan


Penyedia akan dikenakan Denda Keterlambatan sebesar ........ [1/1000 (satu
per seribu) dari Nilai Kontrak atau bagian tertentu dari Nilai Kontrak sebelum PPN
sesuai dengan Syarat-Syarat Umum Kontrak].
...................., . .................... 20.....
Untuk dan atas nama ....................
Pejabat Pembuat Komitmen

[tanda tangan]
[nama lengkap]
[jabatan]
NIP: ....................
Menerima dan menyetujui:
Untuk dan atas nama ....................
[tanda tangan]
[nama lengkap wakil sah badan usaha]
[jabatan]

159

C. BENTUK SURAT JAMINAN


Jaminan Sanggahan Banding dari Bank

[Kop Bank Penerbit Jaminan]


GARANSI BANK
sebagai
JAMINAN SANGGAHAN BANDING
No. ........................................
Yang bertanda tangan dibawah ini : ........................................................................
dalam jabatan selaku ....................................................... dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama .................................................. [nama bank] berkedudukan
di ....................................................... [alamat]
untuk selanjutnya disebut:

PENJAMIN

dengan ini menyatakan akan membayar kepada:


Nama
: ....................................................... [Pokja ULP]
Alamat
: .......................................................
selanjutnya disebut:

PENERIMA JAMINAN

sejumlah uang Rp .......................................................


(terbilang
.........................................................................................................)
sebagai Jaminan Sanggahan Banding dalam mengajukan sanggahan banding
hasil pelelangan pekerjaan .......... dengan bentuk garansi bank, apabila:
Nama
: ....................................................... [peserta pelelangan]
Alamat
: .......................................................
selanjutnya disebut:

YANG DIJAMIN

ternyata Sanggahan Banding yang diajukan tidak benar.


Garansi Bank ini dikeluarkan dengan ketentuan sebagai berikut :
1.
Garansi Bank berlaku selama .................. (........dalam huruf..........) hari
kalender, dari tanggal .................. s.d. .................. (masa laku jaminan
sanggahan banding 15 (lima belas) hari kerja sejak pengajuan sanggahan
banding)
2.
Tuntutan pencairan atau klaim dapat diajukan secara tertulis dengan
melampirkan Surat Pernyataan Sanggahan Banding tidak benar dari
Penerima Jaminan paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah
tanggal jatuh tempo Garansi Bank sebagaimana tercantum dalam butir 1.
3.
Penjamin akan membayar kepada Penerima Jaminan sejumlah nilai
jaminan tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat setelah menerima tuntutan pencairan dari Penerima
Jaminan berdasar Surat Pernyataan Sanggahan Banding tidak benar dari

160

4.

5.
6.

Penerima Jaminan dan pengenaan sanksi akibat Sanggahan Banding yang


diajukan Yang Dijamin tidak benar.
Penjamin melepaskan hak-hak istimewanya untuk menuntut supaya
benda-benda yang diikat sebagai jaminan lebih dahulu disita dan dijual
untuk melunasi hutang Yang Dijamin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
1831 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Garansi Bank ini tidak dapat dipindahtangankan atau dijadikan jaminan
kepada pihak lain.
Segala hal yang mungkin timbul sebagai akibat dari Garansi Bank ini,
masing-masing pihak memilih domisili hukum yang umum dan tetap di
Kantor Pengadilan Negeri ...................
Dikeluarkan di
Pada tanggal

: ..................
: ..................

[Bank]

Materai Rp.6000,00
......................................
[Nama dan Jabatan]
Untuk keyakinan,
pemegang Garansi Bank
disarankan untuk
mengkonfirmasi Garansi ini
ke .[bank]

161

Jaminan Sanggahan Banding dari Asuransi/Perusahaan Penjaminan


(Hanya Untuk Badan Usaha Kecil)

[Kop Penerbit Jaminan]


JAMINAN SANGGAHAN BANDING
Nomor Jaminan :

Nilai :

1. Dengan ini dinyatakan, bahwa kami: [nama],


[alamat] sebagai Peserta, selanjutnya disebut TERJAMIN,
dan [nama penerbit jaminan],
[alamat] sebagai Penjamin, selanjutnya disebut sebagai PENJAMIN,
bertanggung jawab dan dengan tegas terikat pada
[nama Pokja ULP],
[alamat] sebagai Pelaksana
Pelelangan, selanjutnya disebut PENERIMA JAMINAN atas uang sejumlah
Rp (terbilang )
2. Maka kami, TERJAMIN dan PENJAMIN dengan ini mengikatkan diri untuk
melakukan pembayaran jumlah tersebut di atas dengan baik dan benar
berkaitan dengan sanggahan banding terhadap hasil pelelangan pekerjaan
................. yang diselenggarakan oleh PENERIMA JAMINAN.
3. Surat Jaminan ini berlaku selama . (dalam huruf) hari
kalender dan efektif mulai dari tanggal sampai dengan
tanggal [masa laku jaminan sanggahan banding 15 (lima
belas)hari kerja sejak pengajuan sanggahan banding]
4. Jaminan ini dicairkan apabila:
Sanggahan Banding yang diajukan TERJAMIN dinyatakan tidak benar.
5. PENJAMIN akan membayar kepada PENERIMA JAMINAN sejumlah nilai
jaminan tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat setelah menerima tuntutan pencairan secara tertulis dari
PENERIMA JAMINAN berdasar Keputusan PENERIMA JAMINAN mengenai
pengenaan sanksi akibat Sanggahan Banding yang diajukan TERJAMIN
tidak benar.
6. Menunjuk pada Pasal 1832 KUH Perdata dengan ini ditegaskan kembali
bahwa PENJAMIN melepaskan hak-hak istimewa untuk menuntut supaya
harta benda TERJAMIN lebih dahulu disita dan dijual guna dapat melunasi
hutangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1831 KUH Perdata.
7. Tuntutan pencairan terhadap PENJAMIN berdasarkan Jaminan ini harus
sudah diajukan selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
kalender sesudah berakhirnya masa berlaku Jaminan ini.
Dikeluarkan di
pada tanggal ...
TERJAMIN

PENJAMIN
Materai Rp.6000,00

......................................

......................................

162

Jaminan Pelaksanaan dari Bank

[Kop Bank Penerbit Jaminan]


GARANSI BANK
sebagai
JAMINAN PELAKSANAAN
No. ........................................
Yang bertanda tangan dibawah ini : ...................................................................
dalam jabatan selaku ................................................. dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama ............................................... [nama bank] berkedudukan di
................................................. [alamat]
untuk selanjutnya disebut:

PENJAMIN

dengan ini menyatakan akan membayar kepada :


Nama
: ................................................. [nama PPK]
Alamat
: .................................................
selanjutnya disebut:

PENERIMA JAMINAN

sejumlah uang Rp .................................................


(terbilang ..............................................dalam huruf..................................................)
sebagai Jaminan Pelaksanaan untuk pekerjaan ............ dalam bentuk garansi
bank, apabila:
Nama
: ................................................. [nama penyedia]
Alamat
: .................................................
selanjutnya disebut :

YANG DIJAMIN

ternyata sampai batas waktu yang ditentukan, namun tidak melebihi tanggal
batas waktu berlakunya Garansi Bank ini, lalai/tidak memenuhi kewajibannya
kepada Penerima Jaminan berupa :
a. Yang dijamin tidak menyelesaikan pekerjaan tersebut pada waktunya dengan
baik dan benar sesuai dengan ketentuan dalam Kontrak;
b. Pemutusan kontrak akibat kesalahan Yang Dijamin.
sebagaimana ditentukan dalam Dokumen Pemilihan yang diikuti oleh Yang
Dijamin.
Garansi Bank ini dikeluarkan dengan ketentuan sebagai berikut :
1.
Garansi Bank berlaku selama ................. (........dalam huruf.........)
hari kalender, dari tanggal .................................. s.d. ..................................
2.
Tuntutan pencairan atau klaim dapat diajukan secara tertulis dengan
melampirkan Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima Jaminan paling
lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah tanggal jatuh tempo
Garansi Bank sebagaimana tercantum dalam butir 1.

163

3.

4.

5.
6.

Penjamin akan membayar kepada Penerima Jaminan sejumlah nilai


jaminan tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat setelah menerima tuntutan pencairan dari Penerima
Jaminan berdasar Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima Jaminan
mengenai pengenaan sanksi akibat Yang Dijamin cidera janji/lalai/tidak
memenuhi kewajibannya.
Penjamin melepaskan hak-hak istimewanya untuk menuntut supaya
benda-benda yang diikat sebagai jaminan lebih dahulu disita dan dijual
untuk melunasi hutang Yang Dijamin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
1831 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Garansi Bank ini tidak dapat dipindahtangankan atau dijadikan jaminan
kepada pihak lain.
Segala hal yang mungkin timbul sebagai akibat dari Garansi Bank ini,
masing-masing pihak memilih domisili hukum yang umum dan tetap di
Kantor Pengadilan Negeri .....................
Dikeluarkan di
Pada tanggal

Untuk keyakinan,
pemegang Garansi Bank
disarankan untuk
mengkonfirmasi Garansi
ini ke ..[bank]

: .....................
: .....................

[Bank]

Materai Rp.6000,00
......................................
[Nama dan Jabatan]

164

Jaminan Pelaksanaan dari Asuransi/Perusahaan Penjaminan


( Hanya Untuk Badan Usaha Kecil )

[Kop Penerbit Jaminan]


JAMINAN PELAKSANAAN
Nomor Jaminan : ...................................

Nilai : ...................................

1. Dengan ini dinyatakan, bahwa kami : ................................... [nama],


................................... [alamat] sebagai Penyedia, selanjutnya disebut
TERJAMIN, dan
................................... [nama penerbit jaminan],
................................... [alamat] sebagai Penjamin, selanjutnya disebut sebagai
PENJAMIN, bertanggung jawab dan dengan tegas terikat pada
................................... [nama PPK], ...................................... [alamat] sebagai
Pemilik Pekerjaan, selanjutnya disebut PENERIMA JAMINAN atas uang
sejumlah Rp ................................... (terbilang ...................................)
2. Maka kami, TERJAMIN dan PENJAMIN dengan ini mengikatkan diri untuk
melakukan pembayaran jumlah tersebut di atas dengan baik dan benar
bilamana TERJAMIN tidak memenuhi kewajiban dalam melaksanakan
pekerjaan ................. yang telah dipercayakan kepadanya atas dasar Surat
Penunjukan
Pemenang Barang/Jasa (SPPBJ) dari PENERIMA JAMINAN
No. ................................... tanggal ...................................
3. Surat Jaminan ini berlaku selama .. (dalam huruf) hari
kalender dan efektif mulai dari tanggal sampai dengan tanggal

4. Jaminan ini dicairkan apabila :


a. TERJAMIN tidak menyelesaikan pekerjaan tersebut pada waktunya
dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan dalam Kontrak;
b. Pemutusan kontrak akibat kesalahan TERJAMIN.
5. PENJAMIN akan membayar kepada PENERIMA JAMINAN sejumlah nilai
jaminan tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat setelah menerima tuntutan pencairan secara tertulis dari
PENERIMA JAMINAN berdasar Keputusan PENERIMA JAMINAN mengenai
pengenaan sanksi akibat TERJAMIN cidera janji.
6. Menunjuk pada Pasal 1832 KUH Perdata dengan ini ditegaskan kembali
bahwa PENJAMIN melepaskan hak-hak istimewa untuk menuntut supaya

165

harta benda TERJAMIN lebih dahulu disita dan dijual guna dapat melunasi
hutangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1831 KUH Perdata.
7. Tuntutan pencairan terhadap PENJAMIN berdasarkan Jaminan ini harus
sudah diajukan selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
kalender sesudah berakhirnya masa berlaku Jaminan ini.
Dikeluarkan di
pada tanggal
TERJAMIN

PENJAMIN
Materai Rp.6000,00

Untuk keyakinan,
pemegang Jaminan
disarankan untuk
mengkonfirmasi Jaminan
ini ke [Penerbit

166

Jaminan Uang Muka dari Bank

[Kop Bank Penerbit Jaminan]


GARANSI BANK
sebagai
JAMINAN UANG MUKA
No. ........................................

Yang bertanda tangan dibawah ini : ..........................................................................


dalam jabatan selaku ........................................................ dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama ........................................ [nama bank] berkedudukan di
........................................ [alamat]
untuk selanjutnya disebut :

PENJAMIN

dengan ini menyatakan akan membayar kepada :


Nama
: ........................................ [nama PPK]
Alamat
: ........................................
selanjutnya disebut :

PENERIMA JAMINAN

sejumlah uang Rp ................................................................................


(terbilang ................................................................................ ...................................)
sebagai Jaminan Uang Muka untuk pekerjaan ........... dalam bentuk garansi
bank, apabila :
Nama
: ........................................ [nama penyedia]
Alamat
: ........................................ selanjutnya
disebut:

YANG DIJAMIN

ternyata sampai batas waktu yang ditentukan, namun tidak melebihi tanggal
batas waktu berlakunya Garansi Bank ini, lalai/tidak memenuhi kewajibannya
kepada Penerima Jaminan berupa :
Yang Dijamin tidak memenuhi kewajibannya melakukan pembayaran kembali
Uang Muka yang sudah diterima Yang Dijamin kepada Penerima Jaminan
sebagaimana ditentukan dalam Dokumen Kontrak.
Garansi Bank ini dikeluarkan dengan ketentuan sebagai berikut :
1.
Garansi Bank berlaku selama . (.dalam huruf....)
hari kalender, dari tanggal . s.d. .
2.
Tuntutan pencairan atau klaim dapat diajukan secara tertulis dengan
melampirkan Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima Jaminan paling
lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah tanggal jatuh tempo
Garansi Bank sebagaimana tercantum dalam butir 1.

167

3.

4.

5.
6.

Penjamin akan membayar kepada Penerima Jaminan sejumlah nilai


jaminan tersebut di atas atau sisa Uang Muka yang belum dikembalikan
Yang Dijamin dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja
tanpa syarat setelah menerima tuntutan pencairan dari Penerima Jaminan
berdasar Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima Jaminan mengenai
pengenaan sanksi akibat Yang Dijamin cidera janji/lalai/tidak memenuhi
kewajibannya.
Penjamin melepaskan hak-hak istimewanya untuk menuntut supaya
benda-benda yang diikat sebagai jaminan lebih dahulu disita dan dijual
untuk melunasi hutang Yang Dijamin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
1831 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Garansi Bank ini tidak dapat dipindahtangankan atau dijadikan jaminan
kepada pihak lain.
Segala hal yang mungkin timbul sebagai akibat dari Garansi Bank ini,
masing-masing pihak memilih domisili hukum yang umum dan tetap di
Kantor Pengadilan Negeri ..
Dikeluarkan di
Pada tanggal

: .
: .

[Bank]

Materai Rp.6000,00
......................................
[Nama dan Jabatan]
Untuk keyakinan,
pemegang Garansi Bank
disarankan untuk
mengkonfirmasi Garansi
ini ke ..[bank]

168

Jaminan Uang Muka dari Asuransi/Perusahaan Penjaminan


( Hanya Untuk Badan Usaha Kecil )

[Kop Penerbit Jaminan]


JAMINAN UANG MUKA
Nomor Jaminan : ........................................

Nilai : ..................................

1. Dengan ini dinyatakan, bahwa kami : ........................................ [nama],


........................................ [alamat] sebagai Penyedia, selanjutnya disebut
TERJAMIN, dan
........................................ [nama penerbit jaminan],
........................................ [alamat] sebagai Penjamin, selanjutnya disebut
sebagai PENJAMIN, bertanggung jawab dan dengan tegas terikat pada
...................................... [nama PPK], ........................................ [alamat] sebagai
Pemilik Pekerjaan, selanjutnya disebut PENERIMA JAMINAN atas uang
sejumlah
Rp
..................................................................
(terbilang
................................. )
2. Maka kami, TERJAMIN dan PENJAMIN dengan ini mengikatkan diri untuk
melakukan pembayaran jumlah tersebut di atas dengan baik dan benar
bilamana TERJAMIN tidak memenuhi kewajiban dalam melaksanakan
pekerjaan .................. yang telah dipercayakan kepadanya atas dasar Surat
Penunjukan Pemenang Barang/Jasa (SPPBJ) dari PENERIMA JAMINAN No.
................... tanggal .................................
3. Surat Jaminan ini berlaku selama .. (............dalam huruf.................)
hari kalender dan efektif mulai dari tanggal ................... sampai dengan
tanggal ........................................
4. Jaminan ini dicairkan apabila :
TERJAMIN tidak memenuhi kewajibannya melakukan pembayaran kembali
kepada PENERIMA JAMINAN senilai Uang Muka yang wajib dibayar
menurut Dokumen Kontrak.
5. PENJAMIN akan membayar kepada PENERIMA JAMINAN sejumlah nilai
jaminan tersebut di atas atau sisa Uang Muka yang belum dikembalikan
TERJAMIN dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja tanpa
syarat setelah menerima tuntutan pencairan secara tertulis dari PENERIMA
JAMINAN berdasar Keputusan PENERIMA JAMINAN mengenai pengenaan
sanksi akibat TERJAMIN cidera janji.
6. Menunjuk pada Pasal 1832 KUH Perdata dengan ini ditegaskan kembali
bahwa PENJAMIN melepaskan hak-hak istimewa untuk menuntut supaya

169

harta benda TERJAMIN lebih dahulu disita dan dijual guna dapat melunasi
hutangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1831 KUH Perdata.
7. Tuntutan pencairan terhadap PENJAMIN berdasarkan Jaminan ini harus
sudah diajukan selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
kalender sesudah berakhirnya masa berlaku Jaminan ini.
Dikeluarkan di ..........................
pada tanggal .............................
TERJAMIN

PENJAMIN
Materai Rp.6000,00

......................................

......................................

Untuk keyakinan, pemegang


Jaminan disarankan untuk
mengkonfirmasi Jaminan ini
ke [Penerbit Jaminan]

170

Jaminan Pemeliharaan dari Bank

[Kop Bank Penerbit Jaminan]


GARANSI BANK
sebagai
JAMINAN PEMELIHARAAN
No. ........................................

Yang bertanda tangan dibawah ini : ..........................................................................


dalam jabatan selaku ................................................. dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama ........................................ [nama bank] berkedudukan di
........................................ [alamat]
untuk selanjutnya disebu t:

PENJAMIN

dengan ini menyatakan akan membayar kepada:


Nama
: ........................................ [nama PPK]
Alamat
: ........................................
selanjutnya disebut:

PENERIMA JAMINAN

sejumlah uang Rp ................................................................................


(terbilang
.........................................................................................................)
sebagai Jaminan Pemeliharaan untuk pekerjaan ................ dalam bentuk garansi
bank, apabila:
Nama
: ........................................ [nama penyedia]
Alamat
: ........................................ selanjutnya
disebut :

YANG DIJAMIN

ternyata sampai batas waktu yang ditentukan, namun tidak melebihi tanggal
batas waktu berlakunya Garansi Bank ini, lalai/tidak memenuhi kewajibannya
kepada Penerima Jaminan berupa :
Yang Dijamin tidak memenuhi kewajibannya melakukan pemeliharaan
sebagaimana ditentukan dalam Dokumen Kontrak.
Garansi Bank ini dikeluarkan dengan ketentuan sebagai berikut :
1.
Garansi Bank berlaku selama .. (dalam huruf) hari kalender, dari tanggal ........................................ s.d. ........................................
2.
Tuntutan pencairan atau klaim dapat diajukan secara tertulis dengan
melampirkan Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima Jaminan paling
lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah tanggal jatuh tempo
Garansi Bank sebagaimana tercantum dalam butir 1.

171

3.

4.

5.
6.

Penjamin akan membayar kepada Penerima Jaminan sejumlah nilai


jaminan tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat setelah menerima tuntutan pencairan dari Penerima
Jaminan berdasar Surat Pernyataan Wanprestasi dari Penerima Jaminan
mengenai pengenaan sanksi akibat Yang Dijamin cidera janji/lalai/tidak
memenuhi kewajibannya.
Penjamin melepaskan hak-hak istimewanya untuk menuntut supaya
benda-benda yang diikat sebagai jaminan lebih dahulu disita dan dijual
untuk melunasi hutang Yang Dijamin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
1831 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Garansi Bank ini tidak dapat dipindahtangankan atau dijadikan jaminan
kepada pihak lain.
Segala hal yang mungkin timbul sebagai akibat dari Garansi Bank ini,
masing-masing pihak memilih domisili hukum yang umum dan tetap di
Kantor Pengadilan Negeri ..................
Dikeluarkan di
Pada tanggal

: ..........................
: ..........................

[Bank]

Materai Rp.6000,00
......................................
[Nama dan Jabatan]
Untuk keyakinan,
pemegang Garansi Bank
disarankan untuk
mengkonfirmasi Garansi
ini ke .[bank]

172

Jaminan Pemeliharaan dari Asuransi/Perusahaan Penjaminan


( Hanya Untuk Badan Usaha Kecil )

[Kop Penerbit Jaminan]


JAMINAN PEMELIHARAAN
Nomor Jaminan : ........................................

Nilai : ..............................

1. Dengan ini dinyatakan, bahwa kami : ........................................ [nama],


........................................ [alamat] sebagai Penyedia, selanjutnya disebut
TERJAMIN, dan
........................................ [nama penerbit jaminan],
........................................ [alamat] sebagai Penjamin, selanjutnya disebut
sebagai PENJAMIN, bertanggung jawab dan dengan tegas terikat pada
........................................ [nama PPK], ........................................ [alamat] sebagai
Pemilik Pekerjaan, selanjutnya disebut PENERIMA JAMINAN atas uang
sejumlah Rp ...................................................(terbilang .....................................)
2. Maka kami, TERJAMIN dan PENJAMIN dengan ini mengikatkan diri untuk
melakukan pembayaran jumlah tersebut di atas dengan baik dan benar
bilamana TERJAMIN tidak memenuhi kewajiban dalam melaksanakan
pekerjaan ....................... yang telah dipercayakan kepadanya atas dasar
Surat Penunjukan
Pemenang Barang/Jasa (SPPBJ) dari PENERIMA
JAMINAN No. ......................... tanggal .............................
3. Surat Jaminan ini berlaku selama .. (........dalam huruf.........)
hari kalender dan efektif mulai dari tanggal ......................... sampai dengan
tanggal ..........................
4. Jaminan ini dicairkan apabila :
TERJAMIN tidak memenuhi kewajibannya melakukan pemeliharaan
sebagaimana ditentukan dalam Dokumen Kontrak.
5. PENJAMIN akan membayar kepada PENERIMA JAMINAN sejumlah nilai
jaminan tersebut di atas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari
kerja tanpa syarat setelah menerima tuntutan pencairan secara tertulis dari
PENERIMA JAMINAN berdasar Keputusan PENERIMA JAMINAN mengenai
pengenaan sanksi akibat TERJAMIN cidera janji.
6. Menunjuk pada Pasal 1832 KUH Perdata dengan ini ditegaskan kembali
bahwa PENJAMIN melepaskan hak-hak istimewa untuk menuntut supaya
harta benda TERJAMIN lebih dahulu disita dan dijual guna dapat melunasi
hutangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1831 KUH Perdata.

173

7. Tuntutan pencairan terhadap PENJAMIN berdasarkan Jaminan ini harus


sudah diajukan selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
kalender sesudah berakhirnya masa berlaku Jaminan ini.
Dikeluarkan di ..........................
pada tanggal .............................
TERJAMIN

PENJAMIN
Materai Rp.6000,00

......................................

......................................

Untuk keyakinan, pemegang


Jaminan disarankan untuk
mengkonfirmasi Jaminan ini
ke .[Penerbit Jaminan]

174

D. BENTUK SURAT KETERANGAN DUKUNGAN KEUANGAN DARI BANK

[Kop Bank Penerbit Dukungan Keuangan]


SURAT KETERANGAN DUKUNGAN KEUANGAN
No. ........................................
Yang bertanda tangan dibawah ini : ........................................................................
dalam jabatan selaku ....................................................... dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama .................................................. [nama bank] berkedudukan
di ....................................................... [alamat]
Dalam
rangka
memenuhi
persyaratan
kualifikasi
pengadaan
pekerjaan................................... pada ......................................
dengan ini menerangkan kesediaan memberikan dukungan keuangan kepada :
Nama Perusahaan
Alamat
Nomor Rekening
Nama Penanggung Jawab

: .......................................................
: .......................................................
: .......................................................
: .......................................................

Apabila Perusahaan tersebut diatas dinyatakan lulus dan ditetapkan sebagai


Pemenang, maka Bank .................. bersedia mendukung pelaksanaan pekerjaan
dengan dana paling kurang Rp. .................. (terbilang ..................).
Demikian Surat Keterangan
dipergunakan semestinya.

Dukungan

Keuangan

Dikeluarkan di
Pada tanggal

diberikan

untuk

: ..................
: ..................

[Bank]

Materai Rp.6000,00
......................................
[Nama dan Jabatan]

Untuk keyakinan,
pemegang Dukungan
Keuangan Dari Bank
disarankan untuk
mengkonfirmasi ke
.[bank]

175

E. PENGUMUMAN [PELELANGAN UMUM/PEMILIHAN LANGSUNG] DENGAN


PASCAKUALIFIKASI
E.1

Pengumuman pelelangan umum/pemilihan langsung secara elektronik


mengikuti petunjuk/pedoman sistem pengadaan secara elektronik pada
website Kementerian/ Lembaga/ Pemerintah Daerah/ Institusi
bersangkutan.
E.2 Pengumuman pelelangan umum/pemilihan langsung secara elektronik di
lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum diatur dengan mekanisme
sesuai yang tercantum di dalam portal LPSE PU full e-procurement dengan
langkah-langkah antara lain:
1. No Pengumuman :

[Sesuai yang tercantum dalam portal LPSE full e-procurement]


2. Nama Pokja

[Sesuai yang tercantum dalam portal LPSE full e-procurement]


3. Paket Pekerjaan

[Sesuai yang tercantum dalam portal LPSE full e-procurement]


4. Persyaratan Peserta

[Sesuai yang tercantum dalam portal LPSE full e-procurement]


5. Pelaksanaan Pengadaan

[Sesuai yang tercantum dalam portal LPSE full e-procurement]


6. Jadwal Pelaksanaan Pengadaan *)

[Sesuai yang tercantum dalam portal LPSE full e-procurement]

176

A. BENTUK SURAT PERNYATAAN TIDAK MENUNTUT


LAMPIRAN
KOP PERUSAHAAN

SURAT PERNYATAAN TIDAK MENUNTUT


Nomor : ...............................................................
Saya yang Bertanda tangan dibawah ini :
Nama Pimpinan
: ......................................................................
Jabatan
: .......................................................................
Nama Perusahaan
:.........................................................................
Alamat
: ........................................................................

Dengan ini menyatakan bahwa :


Dengan ini kami menyatakan tidak akan menuntut ganti rugi dalam bentuk apapun
apabila dibelakang hari terhadap pihak penyedia jasa jika Paket Pekerjaan : PEMBANGUNAN

PENGAMAN PANTAI PARIGI KAB. PARIGI MOUTONG dibatalkan karena anggaran tidak ada.
Kami siap menanggung seluruh resiko dan biaya yang telah kami keluarkan terhadap paket
pekerjaan tersebut.
Demikian Surat Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dapat dipergunakan
sebagaimana mestinya.

...........,.........................
PT/CV............................

MATERAI

Nama Jelas
Jabatan

177

DAFTAR ISI
BAB I.................................................................................................................................................. 1
UMUM .............................................................................................................................................. 1
BAB II ................................................................................................................................................ 5
INSTRUKSI KEPADA PESERTA (IKP).................................................................................................. 5
A. UMUM ........................................................................................................................................ 5
1.
LINGKUP PEKERJAAN .....................................................................................................................5
2.
SUMBER DANA .............................................................................................................................5
3.
PESERTA .......................................................................................................................................5
4.
LARANGAN KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME (KKN), PENYALAHGUNAAN WEWENANG SERTA
PENIPUAN.....................................................................................................................................6
5.
LARANGAN PERTENTANGAN KEPENTINGAN .....................................................................................7
6.
PENDAYAGUNAAN PRODUKSI DALAM N EGERI ................................................................................8
7.
SATU PENAWARAN TIAP PESERTA ...................................................................................................8
B. DOKUMEN PENGADAAN ........................................................................................................... 9
8.
PENGAMBILAN DOKUMEN PENGADAAN .........................................................................................9
9.
ISI DOKUMEN PENGADAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI ......................................................................9
10. BAHASA DOKUMEN PENGADAAN ................................................................................................ 10
11. PEMBERIAN PENJELASAN ............................................................................................................. 10
12. PERUBAHAN DOKUMEN PENGADAAN .......................................................................................... 12
13. TAMBAHAN WAKTU PEMASUKAN DOKUMEN PENAWARAN .......................................................... 12
C. PENYIAPAN DOKUMEN PENAWARAN ....................................................................................12
14. BIAYA DALAM PENYIAPAN PENAWARAN ...................................................................................... 12
15. BAHASA PENAWARAN ................................................................................................................ 12
16. DOKUMEN PENAWARAN ............................................................................................................ 13
17. HARGA PENAWARAN .................................................................................................................. 13
18. MATA UANG PENAWARAN DAN CARA PEMBAYARAN ................................................................... 14
19. MASA BERLAKU PENAWARAN ..................................................................................................... 14
20. BENTUK DOKUMEN PENAWARAN ............................................................................................... 14
21. PAKTA INTEGRITAS ..................................................................................................................... 14
22. PENGISIAN DOKUMEN ISIAN KUALIFIKASI .................................................................................... 14
23. JAMINAN PENAWARAN ............................................................................................................... 15
D. DOKUMEN PENAWARAN.........................................................................................................16
24. PEMASUKAN DAN CARA PENYAMPAIAN DOKUMEN PENAWARAN .................................................. 16
25. BATAS AKHIR PEMASUKAN PENAWARAN ..................................................................................... 17
E. PEMBUKAAN DAN EVALUASI PENAWARAN ...........................................................................17
26. PEMBUKAAN PENAWARAN .......................................................................................................... 17
27. KLARIFIKASI DAN KONFIRMASI PENAWARAN ............................................................................... 18
28. HAK MENOLAK ATAU MENERIMA PENAWARAN ........................................................................... 19
29. EVALUASI PENAWARAN .............................................................................................................. 19
30. EVALUASI KUALIFIKASI ............................................................................................................... 31
31. PEMBUKTIAN KUALIFIKASI .......................................................................................................... 31
F. PENETAPAN PEMENANG ..........................................................................................................32
32. PENETAPAN PEMENANG .............................................................................................................. 32
33. PENGUMUMAN PEMENANG ........................................................................................................ 34
34. SANGGAHAN ............................................................................................................................. 34
35. SANGGAHAN BANDING .............................................................................................................. 35
G. PENUNJUKAN PEMENANG PENGADAAN ................................................................................36
36. PENUNJUKAN PENYEDIA BARANG/JASA ....................................................................................... 36
37. KERAHASIAAN PROSES ................................................................................................................ 37
H. PELELANGAN GAGAL................................................................................................................38
38. PELELANGAN GAGAL .................................................................................................................. 38
I. SURAT JAMINAN PELAKSANAAN .............................................................................................39
39. SURAT JAMINAN PELAKSANAAN .................................................................................................. 39
J. PENANDATANGANAN KONTRAK ............................................................................................40

40.

PENANDA-TANGANAN KONTRAK ................................................................................................ 40

BAB III .............................................................................................................................................43


LEMBAR DATA PEMILIHAN (LDP) .................................................................................................43
A.
LINGKUP PEKERJAAN .................................................................................................................. 43
B.
SUMBER DANA .......................................................................................................................... 43
C.
PENDAYAGUNAAN PRODUKSI DALAM N EGERI ............................................................................. 43
D.
PEMBERIAN PENJELASAN DOKUMEN PENGADAAN DAN PENINJAUAN LAPANGAN ............................ 44
E.
DOKUMEN PENAWARAN ............................................................................................................ 44
F.
MATA UANG PENAWARAN DAN CARA PEMBAYARAN ................................................................... 46
G.
MASA BERLAKUNYA PENAWARAN ............................................................................................... 46
H.
JAMINAN PENAWARAN ............................................................................................................... 46
I.
PENYAMPAIAN DOKUMEN PENAWARAN ...................................................................................... 46
J.
BATAS AKHIR WAKTU PEMASUKAN PENAWARAN ........................................................................ 46
K.
PEMBUKAAN PENAWARAN .......................................................................................................... 46
L.
AMBANG BATAS ........................................................................................................................ 46
M. SANGGAHAN, DAN SANGGAHAN BANDING ................................................................................. 47
N.
JAMINAN SANGGAHAN BANDING ................................................................................................ 47
BAB IV .............................................................................................................................................48
LEMBAR DATA KUALIFIKASI (LDK) ...............................................................................................48
A.
LINGKUP KUALIFIKASI ................................................................................................................ 48
B.
PERSYARATAN KUALIFIKASI ......................................................................................................... 48
BAB V ..............................................................................................................................................50
BENTUK DOKUMEN PENAWARAN................................................................................................50
A.
BENTUK SURAT PENAWARAN PESERTA BADAN USAHA/KEMITRAAN (KSO) ............... 50
B.
BENTUK SURAT KUASA......................................................................................................... 52
C.
BENTUK PERJANJIAN KEMITRAAN/KERJA SAMA OPERASI (KSO) ................................... 54
D.
BENTUK DOKUMEN PENAWARAN TEKNIS........................................................................ 57
E.
BENTUK FORMULIR REKAPITULASI PERHITUNGAN TINGKAT KOMPONEN DALAM
NEGERI (TKDN) ..................................................................................................................... 58
F.
BENTUK DAFTAR BARANG YANG DIIMPOR ...................................................................... 60
G.
BENTUK RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (RK3K) .......... 61
H.
BENTUK RINCIAN/URAIAN HARGA SATUAN PEKERJAAN (HSP) ..................................... 73
I.
BENTUK JAMINAN PENAWARAN DARI BANK ................................................................... 74
J.
BENTUK JAMINAN PENAWARAN DARI ASURANSI/PERUSAHAAN PENJAMINAN ( HANYA
UNTUK BADAN USAHA KECIL )................................................................................................... 76
K.
BENTUK PAKTA INTEGRITAS................................................................................................ 78
L.
BENTUK FORMULIR ISIAN KUALIFIKASI............................................................................. 80
BAB VI .............................................................................................................................................85
PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR KUALIFIKASI ..........................................................................85
A.
DATA ADMINISTRASI ................................................................................................................. 85
B.
IZIN USAHA............................................................................................................................... 85
C.
SERTIFIKAT BADAN USAHA ......................................................................................................... 85
D.
IZIN LAINNYA (APABILA DIPERSYARATKAN, YANG SESUAI DENGAN PEKERJAAN YANG DILELANGKAN) 85
E.
LANDASAN HUKUM PENDIRIAN BADAN USAHA ........................................................................... 85
F.
PENGELOLA BADAN USAHA (PENGAWAS/PENGURUS) ................................................................. 85
G.
DATA KEUANGAN ...................................................................................................................... 85
H.
DATA PERSONIL INTI .................................................................................................................. 86
I.
DATA PERALATAN ...................................................................................................................... 86
J.
DATA PENGALAMAN PERUSAHAAN.............................................................................................. 86
K.
DATA PENGALAMAN PERUSAHAAN DALAM 5 TAHUN TERAKHIR .................................................... 86
L.
DATA PEKERJAAN YANG SEDANG DILAKSANAKAN ........................................................................ 86
M. MODAL KERJA ........................................................................................................................... 87
N.
KEMITRAAN/KSO ..................................................................................................................... 87

ii

BAB VII ............................................................................................................................................88


TATA CARA EVALUASI KUALIFIKASI .............................................................................................88
BAB VIII...........................................................................................................................................91
BENTUK RANCANGAN KONTRAK .................................................................................................91
BAB IX .......................................................................................................................................... 101
SYARAT-SYARAT UMUM KONTRAK .......................................................................................... 101
A. KETENTUAN UMUM.............................................................................................................. 101
1.
DEFINISI .................................................................................................................................. 101
2.
PENERAPAN ............................................................................................................................. 104
3.
BAHASA DAN HUKUM .............................................................................................................. 105
4.
LARANGAN KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME (KKN), PENYALAHGUNAAN WEWENANG SERTA
PENIPUAN ................................................................................................................................ 105
5.
ASAL MATERIAL/ BAHAN ......................................................................................................... 106
6.
KORESPONDENSI ...................................................................................................................... 106
7.
WAKIL SAH PARA PIHAK .......................................................................................................... 106
8.
PEMBUKUAN ........................................................................................................................... 106
9.
PERPAJAKAN ............................................................................................................................ 106
10. PENGALIHAN DAN/ ATAU SUBKONTRAK ..................................................................................... 106
11. PENGABAIAN ........................................................................................................................... 107
12. PENYEDIA MANDIRI ................................................................................................................. 107
13. KEMITRAAN/ KSO .................................................................................................................. 107
14. PENGAWASAN PELAKSANAAN PEKERJAAN .................................................................................. 107
15. PERSETUJUAN ATAU PERNYATAAN TIDAK BERKEBERATAN DARI PENGAWAS PEKERJAAN ................ 107
16. PERINTAH ................................................................................................................................ 108
17. PENEMUAN-PENEMUAN ........................................................................................................... 108
18. AKSES KE LOKASI KERJA ............................................................................................................ 108
B. PELAKSANAAN, PENYELESAIAN, ADENDUM DAN PEMUTUSAN KONTRAK ...................... 109
19. MASA PELAKSANAAN (JANGKA WAKTU PELAKSANAAN) PEKERJAAN ............................................ 109
B.1 PELAKSANAAN PEKERJAAN ................................................................................................... 109
20. PENYERAHAN LOKASI KERJA ..................................................................................................... 109
21. SURAT PERINTAH MULAI KERJA (SPMK)................................................................................... 110
22. PROGRAM MUTU..................................................................................................................... 110
23. RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONSTRUKSI (RK3K) ..................................... 110
24. RAPAT PERSIAPAN PELAKSANAAN KONTRAK ............................................................................... 111
25. MOBILISASI ............................................................................................................................. 111
26. PEMERIKSAAN BERSAMA ........................................................................................................... 112
27. PENGGUNAAN PRODUKSI DALAM NEGERI ................................................................................. 112
B.2 PENGENDALIAN WAKTU ...................................................................................................... 112
28. WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN ........................................................................................... 112
29. PERPANJANGAN WAKTU ........................................................................................................... 113
30. PENUNDAAN OLEH PENGAWAS PEKERJAAN ................................................................................ 113
31. RAPAT PEMANTAUAN ............................................................................................................... 113
32. PERINGATAN DINI.................................................................................................................... 114
B.3 PENYELESAIAN KONTRAK ..................................................................................................... 114
33. SERAH TERIMA PEKERJAAN ........................................................................................................ 114
34. PENGAMBILALIHAN .................................................................................................................. 115
35. PEDOMAN PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN/ PEMELIHARAAN ................................................. 115
B.4 ADENDUM ............................................................................................................................. 116
36. PERUBAHAN KONTRAK ............................................................................................................. 116
37. PERUBAHAN LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................. 116
38. PERUBAHAN KUANTITAS DAN HARGA ....................................................................................... 117
39. PERUBAHAN JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN ........................................................................ 117
40. PENYESUAIAN HARGA (ESKALASI/D E- ESKALASI)........................................................................ 118

iii

B.5 KEADAAN KAHAR .................................................................................................................. 119


41. KEADAAN KAHAR .................................................................................................................... 119
B.6 PENGHENTIAN DAN PEMUTUSAN KONTRAK...................................................................... 120
42. PENGHENTIAN DAN PEMUTUSAN KONTRAK ............................................................................... 120
43. KETERLAMBATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN DAN KONTRAK KRITIS ............................................. 122
44. PENINGGALAN ......................................................................................................................... 124
C. HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK ..................................................................................... 124
45. HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK .......................................................................................... 124
46. PENGGUNAAN DOKUMEN-DOKUMEN KONTRAK DAN INFORMASI .............................................. 125
47. HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL .................................................................................................. 125
48. PENANGGUNGAN DAN RISIKO................................................................................................... 125
49. PERLINDUNGAN TENAGA KERJA ................................................................................................ 126
50. PEMELIHARAAN LINGKUNGAN .................................................................................................. 127
51. ASURANSI ................................................................................................................................ 127
52. TINDAKAN PENYEDIA YANG MENSYARATKAN PERSETUJUAN PPK ATAU PENGAWAS PEKERJAAN .... 127
53. LAPORAN HASIL PEKERJAAN ...................................................................................................... 128
54. KEPEMILIKAN DOKUMEN ......................................................................................................... 129
55. KERJASAMA ANTARA PENYEDIA DAN SUB PENYEDIA................................................................... 129
56. USAHA MIKRO, USAHA KECIL DAN KOPERASI KECIL .................................................................. 129
57. PENYEDIA LAIN ........................................................................................................................ 130
58. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ..................................................................................... 130
59. PEMBAYARAN DENDA .............................................................................................................. 130
60. JAMINAN ................................................................................................................................. 130
D. PERSONIL INTI DAN/ATAU PERALATAN PENYEDIA ............................................................ 132
61. PERSONIL INTI DAN/ATAU PERALATAN ...................................................................................... 132
E. KEWAJIBAN PPK..................................................................................................................... 132
62. FASILITAS ................................................................................................................................ 133
63. PERISTIWA KOMPENSASI........................................................................................................... 133
F. PEMBAYARAN KEPADA PENYEDIA ....................................................................................... 134
64. HARGA KONTRAK .................................................................................................................... 134
65. PEMBAYARAN .......................................................................................................................... 134
66. HARI KERJA ............................................................................................................................. 137
67. PERHITUNGAN AKHIR ............................................................................................................... 138
68. PENANGGUHAN ....................................................................................................................... 138
G. PENGAWASAN MUTU ........................................................................................................... 138
69. PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN ............................................................................................ 138
70. PENILAIAN PEKERJAAN SEMENTARA OLEH PPK ........................................................................... 139
71. CACAT MUTU ......................................................................................................................... 139
72. PENGUJIAN .............................................................................................................................. 139
73. PERBAIKAN CACAT MUTU ........................................................................................................ 139
74. KEGAGALAN KONSTRUKSI DAN KEGAGALAN BANGUNAN............................................................ 140
H. PENYELESAIAN PERSELISIHAN .............................................................................................. 141
75. PENYELESAIAN PERSELISIHAN .................................................................................................... 141
76. ITIKAD BAIK ............................................................................................................................ 141
SYARAT-SYARAT KHUSUS KONTRAK (SSKK) ............................................................................. 142
A.
KORESPONDENSI ...................................................................................................................... 142
B.
WAKIL SAH PARA PIHAK .......................................................................................................... 142
C.
JENIS KONTRAK........................................................................................................................ 142
D.
TANGGAL BERLAKU KONTRAK .................................................................................................. 142
E.
MASA PELAKSANAAN ............................................................................................................... 142
F.
MASA PEMELIHARAAN ............................................................................................................. 142
G.
PERBAIKAN CACAT MUTU ........................................................................................................ 142
H.
UMUR KONSTRUKSI ................................................................................................................. 143
I.
PEDOMAN PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN/......................................................................... 143
J.
PEMBAYARAN TAGIHAN ........................................................................................................... 143
K.
PENCAIRAN JAMINAN ............................................................................................................... 143
L.
TINDAKAN PENYEDIA YANG MENSYARATKAN PERSETUJUAN PPK ATAU PENGAWAS PEKERJAAN .... 143
M. KEPEMILIKAN DOKUMEN ......................................................................................................... 143

iv

N.
O.
P.
Q.
R.
S.
T.
U.
V.
W.
X.

FASILITAS ................................................................................................................................ 143


PERISTIWA KOMPENSASI........................................................................................................... 144
SUMBER PEMBIAYAAN .............................................................................................................. 144
PEMBAYARAN UANG MUKA ..................................................................................................... 144
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ..................................................................................... 144
PEMBAYARAN PRESTASI PEKERJAAN ........................................................................................... 144
SERAH TERIMA SEBAGIAN PEKERJAAN ......................................................................................... 144
PENYESUAIAN HARGA (ESKALASI/DE- ESKALASI)........................................................................ 144
DENDA ................................................................................................................................... 145
USAHA MIKRO, USAHA KECIL DAN KOPERASI KECIL .................................................................. 146
PENYELESAIAN PERSELISIHAN /SENGKETA .................................................................................. 146

BAB XI .......................................................................................................................................... 148


SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR ............................................................................................ 148
A.
URAIAN SPESIFIKASI TEKNIS ...................................................................................................... 148
B.
KETERANGAN GAMBAR ............................................................................................................ 151
BAB XII ......................................................................................................................................... 152
DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA ............................................................................................. 152
BAB XIII ........................................................................................................................................ 157
BENTUK DOKUMEN LAIN ........................................................................................................... 157
A.
BENTUK SURAT PENUNJUKAN PENYEDIA BARANG/JASA (SPPBJ) ................................ 157
B.
BENTUK SURAT PERINTAH MULAI KERJA (SPMK) ........................................................... 158
C.
BENTUK SURAT JAMINAN .................................................................................................. 160
D.
BENTUK SURAT KETERANGAN DUKUNGAN KEUANGAN DARI BANK ......................... 175
E.
PENGUMUMAN [PELELANGAN UMUM/PEMILIHAN LANGSUNG] DENGAN
PASCAKUALIFIKASI ............................................................................................................. 176

BILL OF QUANTITY (BOQ)


SATUAN KERJA
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
PEKERJAAN
LOKASI
TAHUN ANGGARAN

: SNVT PELAKSANAAN JARINGAN SUMBER AIR SULAWESI III


: SUNGAI DAN PANTAI - I
: PEMBANGUNAN TANGGUL PENGAMAN PANTAI PARIGI
: KABUPATEN PARIGI MOUTONG
: 2015

No.

URAIAN PEKERJAAN

I.

SATUAN VOLUME
3

PEKERJAAN PERSIAPAN
1 Mobilisasi dan Demobilisasi
2 Dewatering

LS
LS

1.00
1.00

1 Galian Tanah Biasa (Tenaga Mekanik)

M3

1,820.40

2 Timbunan Tanah Didatangkan Jarak Angkut (1000 M - 2000 M)

M3

1,672.97

unit
Buah
Kg
m3
buah

610.22
410
5,154.46
139.48
41.97

6 Penulangan Besi& pasang angker


7 Pekerjaan Beton K-225
8 Pekerjaan Batu kali 1 : 4

Kg
M3
M3

182.14
386.44
2,087.25

9 Bekisting

1,487.08

II.

HARGA SATUAN
(Rp )
5

JUMLAH HARGA
(Rp )
6

PEKERJAAN TANAH

III.

PEKERJAAN REVETMENT
1
2
3
4
5

Pasangan Batu kosong > 0,50 m Untuk Kaki Tembok


Pengadaan dan pemasangan Buis Beton 1,00X 1,00
Pembesian
Pekerjaan Cor Beton Rabat k175
Drain Hole 2"

BILL OF QUANTITY (BOQ)


SNVT
PPK
PEKERJAAN
LOKASI
TAHUN ANGGARAN

:
:
:
:
:

SNVT PELAKSANAAN JARINGAN SUMBER AIR SULAWESI III


SUNGAI DAN PANTAI - I
PEMBANGUNAN TANGGUL PENGAMAN PANTAI PARIGI
KABUPATEN PARIGI MOUTONG
2015

N0.

URAIAN PEKERJAAN

I.

PEKERJAAN PERSIAPAN

II.

PEKERJAAN TANAH

III.

PEKERJAAN REVETMENT

A. JUMLAH
B. PPN
C. TOTAL
D. DIBULATKAN
TERBILANG :

JUMLAH
HARGA
( Rp ).
3

( 10 % X A )
(A + B )

PALU,..........................................
CV/PT.............................................

.
DIREKTUR/DIREKTRIS

II. SPESIFIKASI KHUSUS


A. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI
A.1. UMUM
A.1.1 Mobilisasi
Mobilisasi peralatan, bahan maupun tenaga kerja kelokasi proyek.
Pelaksanaan harus sudah bisa memperhitungkan semua biaya yang
diperlukan dalam rangkaian kegiatan untuk mendatangkan peralatan dan
mengembalikannya nanti bila pekerjaan telah selesai. Untuk mobilisasi
excavator diangkut menggunakan mobil tronton dari sampai dilokasi proyek.
Untuk SDM, serta peralatan lainnya diangkut menggunakan Dump Truk.
A.1.2 Mobilisasi Personil
Penyedia Jasa harus melakukan mobilisasi personil sesuai dengan ketentuan
sebagai berikut :
Mobilisasi Personil Penyedia Jasa yang memenuhi jaminan kualifikasi
(sertifikasi) menurut cakupan pekerjaannya (pembangunan, pemeliharaan
berkala, atau pemeliharaan rutin)
Mobilisasi semua staf Penyedia Jasa dan pekerja yang diperlukan dalam
pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan dalam Kontrak
A.1.3 Mobilisasi Fasilitas dan Peralatan
Penyedia Jasa harus memobilisasi fasilitas dan peralatan sesuai dengan
ketentuan sebagai berikut :
Jika diperlukan, maka menyediakan sebidang lahan yang diperlukan untuk
basecamp/ kantor direksipelaksanaan pekerjaan di sekitar lokasi proyek,
Kantor Direksi dalam paket kontrak ini adalah suatu bangunan untuk
keperluan Direksi dilapangan, dilengkapi dengan fasilitas penerangan yang
cukup dan air bersih (bila diperlukan). Kantor Direksi dilengkapi dengan datadata tentang pekerjaan /proyek, seperti : buku tamu, buku laporan harian
dan lain-lain. Untuk menunjang kelancaran pekerjaan Direksi maka kontraktor
harus mengadakan barang dan perlengkapan kantor yang akan dipergunakan
oleh Direksi dan barang perlengkapan tersebut akan dipergunakan oleh
Direksi selama masa kontrak, akan menjadi milik proyek setelah selesai
pekerjaan. Penempatan dan pembuatan base camp dilakukan sekaligus serta
pembuatan kantor lapangan didekat lokasi pekerjaan.

Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar peralatan yang


tercantum dalam Penawaran, dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan di
mana peralatan tersebut akan digunakan menurut Kontrak ini.

A.1.4 Demobilisasi
Kegiatan Demobilisasi berupa pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa
pada saat akhir Kontrak termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan
perlengkapan dari tanah milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat
kerja menjadi kondisi seperti semula sebelum pekerjaan dimulai.

B. DEWATERING

B.1. UMUM
B.1.1 Dewatering
Dewatering adalah proses penurunan muka air tanah selama Konstruksi
berlangsung selain itu juga diperuntukkan pencegahan kelongsoran akibat
adanya aliran tanah pada galian atau bisa dipaparkan sebagai proses
pemisahan antara cairan dengan padatan.
B.1.2 Proses Dewatering
Proses dewatering tidak dapat dilakukan sekaligus, tetapi harus secara
bertahap, yaitu dengan jalan :
1.Thickening, Yaitu merupakan proses pemisahan antara padatan dengan
cairan yang mendasarkan atas kecepatan mengendap partikel atau mineral
tersebut dalam suatu pulp sehingga solid factor yang dicapai sama dengan
satu (% solid = 50%)
2. Filtrasi, Adalah merupakan proses pemisahan antara padatan dengan
cairan jalan
menyaring (dengan filter) sehingga didapat solid factor sama dengan empat
(% solid = 100%).
3. Drying, Adalah proses penghilangan air dari padatan dengan jalan
pemanasan,
sehingga padatan itu betul-betul bebas dari cairan atau kering (% solid =
100%).

C. GALIAN TANAH BIASA

C.1.

GALIAN TANAH

C.1.1. Galian tanah biasa


Galian tanah dengan alat adalah pekerjaan galian dengan material hasil galian
berupa tanah pada umumnya, yang dengan mudah dapat dilakukan dengan
Excavator.
Seluruh galian dikerjakan sesuai dengan garis-garis dan bidang-bidang yang
ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar
kerja atau sesuai dengan yang diarahkan / ditunjukkan oleh Direksi. Galian tanah
biasa dimaksudkan untuk daerah yang bahan hasil galiannya terdiri dari tanah, pasir
dan kerikil.
Bila ada galian yang perlu disempurnakan seharusnya diinformasikan ke Direksi
untuk ditinjau. Tidak ada galian yang langsung / ditutupi dengan tanah / beton
tanpa diperiksa terlebih dahulu oleh Direksi. seluruh proses pekerjaan menjadi
tanggung-jawab Penyedia Jasa.
Kemiringan yang rusak atau berubah, karena kesalahan pelaksanaan harus
diperbaiki oleh dan atas biaya Penyedia Jasa. Apabila pada saat pelaksanaan
penggalian terdapat batu-batu besar dengan diameter lebih besar dari 1.00 m yang
tidak dapat disingkirkan dengan alat Excavator, maka pembayaran volume ini akan
termasuk kedalam pembayaran item Galian Batu atas sepengetahuan Direksi
pekerjaan.Pengukuran untuk pembayaran pada galian tanah biasa akan dibuat
dalam meter kubik dimana tanah galian dari permukaan kupasan sampai yang
sesuai ditunjukan dalam garis-garis bidang yang sesuai dalam gambar. Pembayaran
untuk galian tanah biasa dibuat dalam meter kubik untuk item dalam BoQ.
Selama proses penggalian tanah agar secara langsung dipisahkan dan ditumpuk
pada suatu tempat yang disetujui Direksi, material yang layak/bisa dipakai untuk
timbunan dan material yang tidak layak. Material yang layak selanjutnya akan
dipakai untuk timbunan tanah biasa dan timbunan kembali, sedangkan material yang
tidak layak selanjutnya akan dibuang keluar bantaran sungai atau kesuatu tempat
yang disetujui oleh direksi. Penyedia Jasa harus menguasai medan kerja sehingga
penumpukan material yang bisa dipakai untuk timbunan ditempatkan pada lokasi
yang sedekat-dekatnya dengan lokasi yang memerlukan timbunan dan bisa langsung
ditebar pada bagian yang akan ditimbun.
Harga satuan termasuk upah buruh, bahan dan peralatan yang diperlukan untuk
penggalian, perapihan dan kemiringan talud temasuk usaha pencegahan bahaya
longsor, pembuatan tanggul kecil pada bahu galian dan timbunan kecil apabila
dianggap perlu oleh Direksi.

C.1.2.Pekerjaan Galian Tanah Yang Tidak Akan Ditimbun Kembali


Semua pekerjaan galian tanah yang tidak akan ditimbun kembali akan dilaksanakan
sesuai pasal ini, harus dilaksanakan hingga mencapai elevasi dengan tingkatan dan
dimensi yang ditunjukan dalam gambar-gambar atau ditentukan oleh Direksi.
Selama dalam pekerjaan ini mungkin akan dijumpai dan diperlukan untuk merubah
kemiringan (slope) atau dimensi dari penggalian dari yang ditentukan.
Setiap penambahan atau pengurangan dari volume pekerjaan galian tanah sebagai
akibat dari perubahan-perubahan tersebut akan diperhitungkan sesuai petunjuk dan
persetujuan Direksi. Semua tindakan pencegahan yang perlu dilakukan guna
melindungi material yang ada dibawah galian dalam keadaan yang memungkinkan,
kerusakan pada pekerjaan yang disebabkan oleh Penyedia Jasa dalam melaksanakan
pekerjaan, termasuk hancurnya material dibawah batas penggalian yang diperlukan,
harus diperbaiki atas biayaPenyedia Jasa. Galian yang melebihi dari ketentuan baik
yang dilakukan sengaja maupun akibat kelalaian Penyedia Jasa tidak akan
diperhitungkan dalam pembayaran. Penyedia Jasa harus mengisi kembali dengan
material yang sesuai dan dilaksanakan atas biaya Penyedia Jasa.
C.1.3.Luasnya Penggalian
Luasnya penggalian harus sekecil mungkin menurut Direksi. Penggalian dimulai dari
muka tanah dengan harus mengambil lebar yang cukup sesuai gambar atau
ditentukan lain oleh Direksi. Tidak ada galian yang langsung/ditutupi dengan tanah/
beton tanpa diperiksa terlebih dahulu oleh Direksi. Seluruh proses pekerjaan menjadi
tanggung-jawab Penyedia Jasa. Kemiringan yang rusak atau berubah, karena
kesalahan pelaksanaan harus diperbaiki oleh dan atas biaya Penyedia Jasa. Selama
proses penggalian tanah agar secara langsung dipisahkan dan ditumpuk pada suatu
tempat yang disetujui Direksi, material yang layak/bisa dipakai untuk timbunan dan
material yang tidak layak. Material yang layak selanjutnya akan dipakai untuk
timbunan tanah biasa dan timbunan kembali, sedangkan material yang tidak layak
selanjutnya akan dibuang keluar atau kesuatu tempat yang tidak akan mengganggu
areal pekerjaan dan dirapihkan.
Penyedia Jasa harus menguasai medan kerja sehingga penumpukan material yang
bisa dipakai untuk timbunan ditempatkan pada lokasi yang sedekat-dekatnya
dengan lokasi yang memerlukan timbunan dan bisa langsung ditebar pada bagian
yang akan ditimbun. Semua galian untuk pondasi bangunan / struktur akan
dilaksanakan dalam kondisi kering (dimana dalam kondisi kering akan dibangun
seperti dalam Sub-bag 1.6.1 Pekerjaan Pengeringan). Tidak ada tambahan biaya
terhadap harga satuan tender dalam BoQ untuk galian yang disebabkan material
menjadi basah.
Galian akan dibuat sepenuhnya sesuai dengan ukuran yang diperlukan dan akan
diselesaikan terhadap garis dan ketinggian yang ditentukan kecuali terdapat batu
menonjol sendiri akan diijinkan untuk melebar dalam garis yang telah ditentukan
tidak lebih dari 20 (dua puluh) sentimeter dimana permukaan tidak dilindungi
dengan beton. Jika permukaan dilindungi dengan beton secara umum harus rata

seperti ditentukan oleh Direksi. Kecuali seperti secara rinci ditunjukkan dalam
gambar atau sebaliknya yang diarahkan oleh Direksi, keperluan pengukuran untuk
pembayaran galian terbuka terhadap kemiringan seperti disebutkan dibawah ini:

Dimana diperlukan dan diinstruksikan oleh Direksi, Penyedia Jasa akan menggali
saluran terbuka / parit untuk mengalihkan air mengalir keluar dari galian terbuka.
Biaya keseluruhan dari pekerjaan ini akan ditanggung oleh Penyedia Jasa kecuali
dimana saluran tersebut adalah merupakan bagian dari pekerjaan permanen yang
mana pembayaran untuk galian akan dihitung dari harga satuan tender dalam BoQ.
Penggalian tanah untuk bangunan termasuk pekerjaan galian dari semua tanah,
kerikil, dan batuan kasar. Penggalian untuk bangunan harus dilaksanakan dengan
cara yang paling aman hingga mencapai elevasi yang disetujui Direksi. Kecuali
ditunjukkan dengan jelas pada gambar atau telah ditetapkan oleh Direksi.
C.1.4. Pembuangan Sisa Galian Yang Tidak Terpakai
Material sisa galian yang tidak bisa dipergunakan untuk timbunan akan dibuang
disuatu tempat yang disetujui oleh pemilik sesuai yang ditunjukan dalam gambar
atau Direksi. Penyedia Jasa harus merapihkan dan mengatur ketinggian serta
meratakannya dengan rapi dan tinggi maksimum 3.00 m. Lokasi pembuangan harus
mendapat persetujuan Direksi dan mendapat ijin pemilik tanah.
Biaya pengangkutan pembuangan material galian ke tempat pembuangan dan untuk
perawatan dari lokasi pembuangan yang ditentukan disini harus sudah terangkum
dalam harga satuan per meter kubik untuk pekerjaan galian.
C.1.5.PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam spesifikasi teknis pekerjaan
Timbunan tanah harus memuat :
a) Penerimaan bahan
1) Pengujian contoh harus harus dilakukan untuk setiap lapisan tanah yang
berbeda.
2) Bahan yang diterima sudah diklasifikasikan kedalam galian tanah biasa

b) Pemerikasaan mutu bahan


1) Untuk pekerjaan lereng tanah harus dilakukan pemeriksaan sudut geser
dalam, dan kohesi tanah besrta informasi mengenahi sumber mata air
dan ketinggian muka air tanah.
C.1.6.PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
Pengukuran dan pembayaran yang perlu diperhatikan dalam spesifikasi teknis
pekerjaan galian tanah harus memuat :

D. TIMBUNAN TANAH
Timbunan tanah adalah proses penimbunan tanah baik secara manual atau secara
mekanis.
Timbunan tanahadalah timbunan yang terdiri dari bahan tanah yang disetujui oleh
Direksi Pekerjaan sebagai bahan yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam
pekerjaan.

D.1. PEKERJAAN TIMBUNAN TANAH


Penyedia Jasa akan mengerjakan beberapa macam material timbunan dan
penutupan kembali di lokasi yang ditunjukkan oleh gambar atau ditempat lain
seperti arahan Direksi. Kualitas dari material harus mendapatkan ijin dari Direksi dan
tidak termasuk bahan organik atau bahan lain yang tidak diijinkan.
Penyedia Jasa harus semaksimal mungkin menggunakan material hasil galian
sebagai bahan untuk timbunan sejauh secara kualitas memenuhi syarat. Tidak
diizinkan adanya semak, akar, rumput atau material tidak memenuhi syarat lain
yang akan dipakai sebagai bahan timbunan. Kelayakan dari setiap bagian pondasi
untuk penempatan material timbunan dan semua material yang digunakan dalam
konstruksi timbunan adalah sesuai dengan spesifikasi teknik.
D.1.2. Jenis Pekerjaan Timbunan
Sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi di lapangan maka kegiatan timbunan tanah
yang akan diberlakukan dalam pekerjaan ini terdiri dari :
Timbunan tanah kembali dan
Timbunan tanah setempat
1) Timbunan tanah kembali
Yang dimaksud dengan pekerjaan timbunan tanah kembali dari hasil galian adalah
kegiatan penimbunan baik untuk tanggul maupun untuk di belakang bangunan
dengan mempergunakan bahan timbunan dari hasil galian yang secara spesifikasi
teknis bahan tersebut dapat dipertangung jawabkan. Pelaksanaan harus dilakukan
secara hati-hati dengan menggunakan alat yang diijinkan oleh Direksi.
Penimbunan dilaksanakan secara lapis perlapis dengan ketebalan hampar sesuai
dengan spesifikasi alat yang digunakan. Bila material tanah hasil galian bangunan
tidak cukup maka Kotraktor dibolehkan menggunakan material timbunan dari luar
(borrow area) atas ijin Direksi.

2) Timbunan Tanah Setempat


Bahan timbunan dari hasil penggalian tanah setempat berupa bahan hasil galian
dari dasar sungai yang dipadatkan, pemadatan dilakukan lapis demi lapis dan
dibentuk sesuai dengan propil rencana. Permukaan tanggul diratakan/dirapikan
dan disesuaikan seperti gambar rencana.
D.1.1.2PELAKSANAAN PEKERJAAN
D.1.2Pekerjaaan Persiapan
Dari gambar rencana (dokumen kontrak), maka dapat diketahui volume dan lokasi
timbunan.
D.1.2.1Pelaksanaan Penimbunan
Permukaan tanah pada lokasi rencana pembuatan tanggul harus dibersihkan dan
dikupas atau digali hingga mencapai kedalaman yang ditunjukan dalam gambar.
Permukaan tanah yang telah dikupas atau digali tersebut, sebelum pekerjaan
timbunan untuk tanggul saluran maupun tanggul banjir harus dibuat alur-alur
terbuka sedalam 20.00 cm dengan jarak antara alur lebih kurang 1.00 meter.
Sebelum mulai menimbun, permukaan tanahnya digaruk sampai kedalaman yang
lebih besar dari retak-retak tanah yang ada dan paling tidak sampai kedalaman 0.15
m, dan kadar air tanah yang digaruk harus dijaga, baik secara pengeringan alami
atau pembasahan dengan alat semprot.
Kalau pelaksanaan pemadatan terhenti, permukaan dari timbunan harus digaruk
kembali dan kadar airnya diperiksa kembali sebelum pekerjaan timbunan atau
pemadatan dilanjutkan. Sebelum pekerjaan penimbunan dilakukan, semua lubanglubang dan bekas-bekas yang terjadi pada permukaan tanah, harus diratakan. Untuk
semua pekerjaan tanggul harus dibangun hingga mencapai garis elevasi yang
ditunjukan pada gambar atau yang ditentukan oleh Direksi. Tanah timbunan untuk
tanggul harus bersih dari tunggul-tunggul pohon, akar, rumput, humus-humus dan
unsur lain yang bisa membusuk.
Penyedia Jasa harus memperhitungkan tambahan pengisian pemadatan sendiri, dan
penurunan dari tanggul, baik disebutkan atau tidak, maka tinggi, lebar dan ukuran
yang ditunjuk dalam gambar-gambar, harus dilebihkan (freeboard), sehingga setelah
penurunan selesai dan tanggul dirapihkan maka akan tercapai dimensi/ukuran sesuai
dengan gambar.
Secara berurutan material harus ditempatkan agar supaya menghasilkan distribusi
material yang baik sesuai dengan yang disetujui oleh Direksi dan dimana diperlukan

untuk mencapai tujuan ini Direksi akan menunjuk lokasi di area timbunan dimana
material akan ditempatkan. Penimbunan harus dilakukan lapis perlapis dengan
ketebalan maksimum hamparan material sebelum dipadatkan adalah 30 cm.
Penghamparan dan pemadatan material pada sisi kemiringan luar atau dalam
supaya dilebihkan minimal 30 cm dari garis rencana agar pada saat setelah
perapihan didapat kepadatan yang sama diseluruh bidang rencana. Bila dianggap
perlu, Direksi bisa meminta pada Penyedia Jasa untuk melasanakan pemadatan
khusus di tempat-tempat tertentu tanpa mengubah harga satuan.
Hasil akhir pekerjaan timbunan diatas tanah asli harus rapat air dan tidak boleh ada
rembesan pada tanah timbunan yang dianggap membahayakan oleh Direksi, maka
Penyedia Jasa wajib memperbaikinya tanpa ada biaya penggantian. Ketika masingmasing lapisan material telah dikondisikan untuk kadar air yang diperlukan,
kepadatan kering lapangan yang dihasilkan minimal 90 % (sembilan puluh persen)
dari kepadatan kering maksimum laboratorium. Setiap lapis dari material timbunan
harus memenuhi kadar air untuk pemadatan yang dibutuhkan dengan menggunakan
alat vibrator roller dengan berat lebih dari 9(sembilan) ton atau alat pemadat lain
yang telah disetujui. Ini akan dapat dipenuhi dengan dilewati alat pemadat kira-kira
6 (enam) lintasan setiap lapis (sama dengan lebar kepadatan yang dibutuhkan).

Pembayaran pekerjaan timbunan sudah termasuk penggalian di tempat asal


material, pengangkutan, penghamparan, penyiraman (bila perlu), pemadatan dan
tes kepadatan dihitung (bila perlu) dalam meter kubik timbunan terlaksana sesuai
garis rencana atau sesuai perintah Direksi.
Penyedia Jasa harus merawat timbunan yang telah disetujui hingga akhir
penyelesaian dan penerimaan dari pekerjaan. Penyedia Jasa harus
bertanggungjawab terhadap erosi dari permukaan timbunan dan setiap material
timbunan yang hilang akibat erosi harus diganti oleh biaya Penyedia Jasa.
D.1.2.2Kontrol Pengendalian Pengujian untuk Pekerjaan Timbunan

Penyedia Jasa akan bertanggungjawab penuh terhadap pengendalian mutu dari


pekerjaan yang dilaksanakan. Direksi akan melakukan pemeriksaan dan meneliti
semua pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia Jasa. Direksi akan dan berhak
untuk menolak semua atau sebagian dari pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia
Jasa jika pekerjaan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ditetapkan dalam
spesifikasi teknik. Dalam kasus demikian Penyedia Jasa akan membongkar dan
mengerjakan ulang dari pekerjaan yang tidak memenuhi dengan biaya sendiri.

D.1.2.3Pekerjaan timbunan dengan menggunakan alat berat


Di dalam praktek tidak mudah menetapkan berapa banyak air yang diperlukan pada
saat pemadatan, kecuali pelaksana yang sudah berpengalaman sekali. Tetapi untuk
pedoman kasar, adalah sebagai berikut :
a. Bila selama pemadatan timbul debu, berarti kadar air kurang;
b. Bila selama pemadatan, tanah keluar airnya (becek) berarti kadar airnya terlalu
tinggi.
Hal-hal yang berpengaruh terhadap kepadatan adalah :
a. Tebal lapisan tanah lepas, yang akan dipadatkan;
b. Berat dan energi alat pemadat;
c. Banyaknya lintasan pemadatan;
d. Kadar air.
Urutan pelaksanaan, sebagai berikut :
a) Percobaan Pemadatan
Hamparkan tanah lepas setebal yang kita kehendaki, diatas permukaan yang
telah dipadatkan seperlunya (biasanya dalam spesifikasi teknik ditetapkan
tidak boleh lebih dari 30 cm)
Semprotkan air, bila dirasakan hamparan tanah kadar airnya masih kurang
(tetapi lebih baik agak kurang daripada kelebihan)
Kemudian dipadatkan dengan alat pemadat Vibro Roller atau Sheep Foot
Roller dan dicoba misalnya dengan 6 lintasan. Sesudah itu diambil sampel
tanah dandiukur kepadatannya (berat volume keringnya). Bila ternyata masih
kurangpadat, maka lintasan pemadatan ditambah lagi, misalnya ditambah
dualintasan. Bila tingkat kepadatannya telah dicapai, maka cara-cara
tersebutdipakai sebagai pedoman selanjutnya.
b) Pemadatan Timbunan
Dasar tanah yang akan ditimbun, dipadatkan seperlunya, sesuai
persyaratannya.
Tanah timbunan yang diambil dari quarry atau lokasi galian, dibawa dengan
Dump Truck, ditumpahkan di lokasi tempat timbunan yang telah
dipersiapkan. Jarak tumpukan diatur sedemikian, sehingga bila dihampar
dengan ketebalan 30 cm seluruh permukaan dapat tertimbun.
Tumpahan tanah dari Dump Truck digusur/diratakan dengan Bulldozer atau
Grader untuk mencapai ketebalan hamparan kurang lebih 30 cm. Perhatikan
kadar airnya secara visual .
Bila musim hujan, sebaiknya hamparan tanah dibatasi seperlunya saja, dan
dilindungi/ditutupi dengan terpal. Bila hujan cukup deras, pekerjaan harus
dihentikan.

Lapisan pertama tersebut sebaiknya melebihi lebar kaki timbunan kurang


lebih 50 cm, dikanan dan dikiri. Kemudian setelah kadar air dinilai cukup,
langsung dipadatkan dengan Vibro Roller atau Sheep Foot Roller dengan
lintasan sebanyak percobaan pemadatan yang telah dilakukan .
Bidang pemadatan harus overlapping kurang lebih 15 cm, agar seluruh
permukaan terpadatkan. Lapisan pertama yang telah selesai dipadatkan,
diambil sampelnya setiap jarak 50 meter (atau sesuai spesifikasi), dan
diperiksa kepadatannya .
Bila kepadatannya telah memenuhi syarat, maka lapisan berikutnya baru
diperbolehkan untuk dihampar .
Pemadatan lapisan pertama dan kedua dilakukan diantara dua profil yang ada
(daerah profil dilewati dulu) Sesudah dua lapisan selesai dan dapat dipakai
sebagai pedoman, maka profil dapat dibongkar untuk ditimbun mengikuti
lapisan-lapisan yang telah selesai .
Timbunan dan pemadatan harus dilakukan lapis demi lapis. Untuk menjamin
mutu timbunan (yang berbentuk tanggul) penimbunan diteruskan sampai
separuh kedalaman saluran (untuk saluran yang tidak lebar)
Sisa kepala tanggul (di kanan-kiri) ditimbun dari hasil galian profil saluran,
dan juga dipadatkan lapis demi lapis. Dalam proses pembentukan tanggul
harus dipedomani lagi dengan profil saluran.
Agar diingat bahwa apabila lebar tanggul kurang dari rencana (desain),
penambahan akan sulit, tidak boleh langsung ditambal dari samping.
Tambahan/pelebaran tanggul yang sudah jadi harus lapis demi lapis dari
bawah dan dengan sambungan bertangga.

D.2.1PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam spesifikasi teknis pekerjaan
Timbunan tanah harus memuat :
c) Penerimaan bahan
3) Jumlah data pendukung hasil pengujian yang diperlukan untuk persetujuan
awal mutu bahan akan ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan, tetapi
bagaimanapun juga harus mencakup seluruh pengujian yang disyaratkan
dalam dengan paling sedikit tiga contoh yang mewakili setiap sumber bahan
yang diusulkan, yang dipilih mewakili rentang mutu bahan yang mungkin
terdapat pada sumber bahan.
4) Setelah persetujuan mutu bahan timbunan yang diusulkan, Direksi Pekerjaan
dapat memintakan pengujian mutu bahan ulang lagi agar perubahan bahan
atau sumber bahannya dapat diamati.
d) Percobaan Pemadatan di lapangan
Penyedia Jasa harus bertanggungjawab dalam memilih metode dan peralatan
untuk mencapai tingkat kepadatan yang disyaratkan. Jika Penyedia Jasa tidak

sanggup mencapai kepadatan yang disyaratkan, prosedur pemadatan berikut


ini harus diikuti :
Percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan variasi jumlah lintasan
peralatan pemadat dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai
sehingga dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan. Hasil percobaan lapangan ini
selanjutnya dapat digunakan Penyedia Jasa untuk menetapkan pola lintasan
pemadatan, jumlah lintasan, jenis alat pemadat dan kadar air untuk seluruh
pemadatan berikutnya.
D.2.2PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
a) Pengukuran
1) Timbunan harus diukur sebagai jumlah kubik meter bahan terpadatkan yang
dilaksanakan, diselesaikan di tempat dan diterima. Volume yang diukur harus
berdasarkan gambar penampang melintang profil tanah asli yang disetujui
atau profil galian sebelum setiap timbunan ditempatkan dan sesuai dengan
garis, kelandaian dan elevasi pekerjaan timbunan akhir yang disyaratkan dan
diterima. Metode perhitungan volume bahan haruslah metode luas bidang
ujung, dengan menggunakan penampang melintang pekerjaan yang
berselang jarak tidak lebih dari 25 m.
2) Timbunan yang ditempatkan di luar garis dan penampang melintang yang
disetujui, termasuk setiap timbunan tambahan yang diperlukan sebagai akibat
penggalian bertangga pada atau penguncian ke dalam lereng lama, atau
sebagai akibat dari penurunan pondasi, tidak akan dimasukkan kedalam
volume yang diukur untuk pembayaran kecuali bila : Timbunan tambahan
yang diperlukan untuk memperbaiki pekerjaan yang tidak stabil atau gagal
jika Penyedia Jasa tidak dianggap bertanggung-jawab.
3) Timbunan yang digunakan dimana saja di luar batas Kontrak pekerjaan, atau
untuk mengubur bahan sisa atau yang tidak terpakai, atau untuk menutup
sumber bahan, tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran timbunan.
b) Pembayaran
Kuantitas timbunan yang diukur seperti diuraikan di atas, dalam jarak angkut
berapapun yang diperlukan, harus dibayar untuk per satuan pengukuran dari
masing-masing harga yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga
untuk Mata Pembayaran terdaftar di bawah, dimana harga tersebut harus
sudah merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan, pemasokan,
penghamparan, pemadatan, penyelesaian akhir dan pengujian bahan (bila
diperlukan), seluruh biaya lain yang perlu atau biaya untuk penyelesaian yang
sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang diuraikan dalam Bagian ini.

E. PASANGAN BATU KOSONG


E.1.

UMUM

Ketentuan ketentuan dalam pasal ini berlaku baik untuk pekerjaan pasangan batu
kosong yang digunakan dalam pasal lain sesuai dengan gambar ataupun yang
ditentukan dalam pasal-pasal ini atau spesifikasi teknik lainnya atau bilamana atas
persetujuan Direksi harus dipergunakan pada pelaksanaan.
Pasangan batu kosong adalah suatu konstruksi yang disusun dengan bahan
material yang berupa batu kosong yang berfungsi untuk melindungi bahaya gerusan.
Ketentuan dan persyaratan umum yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan
pasangan batu kosong adalah :
E.1.1 Persyaratan Bahan
1) Pasangan Batu
a) Batu
i. Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari
jenis yang diketahui awet. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk
menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.
ii. Batu yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu kali yang
dipecah salah satu sisinya tidak rapuh tidak keropos, tidak berpori.
iii. Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan
saling mengunci bila dipasang bersama-sama.
iv. Untuk batu dari hasil galian, harus dibersihkan dari lapisan tanah yang
menyelimuti agar permukaan batu bersih.
v. Berat jenis batu yang digunakan tidak boleh kurang dari 2,5 t/m3 dengan
ukuran batu berkisar antara diameter 15-30 cm. Batu bulat atau batu kali
hanya boleh digunakan setelah salah satu sisinya dipecah atau sesuai
persetujuan Direksi Pekerjaan dan digunakan bersama-sama dengan batu
belah.
vi. Terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, batu harus memiliki
ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari satu
setengah kali tebalnya dan panjang yang tidak kurang dari satu setengah
kali lebarnya.
b) Pasir
i. Pasir yang dimaksud disini lebih diutamakan pasir alam yang diambil dari
sungai atau sumber lain yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
ii. Tempat penimbunan penyimpanan harus bersih dari sampah organik,
sampah kimia, bebas dari banjir serta tidak terkontaminasi dengan bahan
lainnya, seperti air laut/garam dan lain-lainnya yang akan menurunkan
mutu pasangan batu.

E.1.2 Persyaratan Kerja


1) Pasangan Batu
a) Pengajuan Kesiapan Kerja
Penyedia Jasa harus mengirimkan contoh dari semua bahan yang akan
digunakan dan dilengkapi dengan data pengujian yang memenuhi seluruh
sifat bahan sesuai dengan pasal ini. Pekerjaan pasangan batu tidak boleh
dimulai sebelum ada persetujuan Direksi Pekerjaan.
b) Kondisi Tempat Kerja
Kondisi tempat kerja harus senantiasa kering dan menjamin fasilitas sanitasi
cukup tersedia untuk pekerja.
2) Pasangan Batu Kosong
Pengajuan Kesiapan Kerja
a) Dua contoh batu untuk pasangan batu kosong (rip rap) dengan lampiran hasil
pengujian seperti yang disyaratkan di atas.
b) Kondisi Tempat Kerja
Ketentuan yang disyaratkan dalam Persyaratan Pelaksanan Bagian Pekerjaan
Timbunan dari Spesifikasi ini tentang menjaga tempat kerja agar senantiasa
kering dan menjamin fasilitas sanitasi yang memadai tersedia di lapangan
untuk para pekerja, harus juga berlaku untuk pekerjaan pasangan batu
dengan mortar
E.1.3 Pelaksanaan Pekerjaan
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan pasangan batu kosong adalah
:
1) Persiapan
Galian harus memenuhi ketentuan dari Bagian Pekerjaan Galian, termasuk kunci
pada tumit yang diperlukan untuk pasangan batu kosong. Landasan harus
dipasang sesuai dengan ketentuan. Seluruh permukaan yang disiapkan harus
disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum penempatan pasangan batu kosong.
2) Penempatan Pasangan Batu Kosong
a) Pasangan batu kosong harus dibuat pada pondasi yang kuat dan pada garis
dan arah yang tercantum dalam gambar atau sesuai petunjuk Direksi
Pekerjaan.
b) Lubang-lubang pada pondasi harus diisi oleh bahan yang baik dan dipadatkan
lapis per lapis setebal 15 cm. Bila pondasinya telah disetujui oleh Direksi
Pekerjaan, maka lapisan dasar berupa lapisan saringan pasir setebal 7,5 cm
dan lapis saringan kerikil diatasnya setebal 12,5 cm atau seperti tercantum
dalam gambar, harus dibuat.
c) Bahan saringan pasir dan kerikil harus menurut Spesifikasi Teknik. Lapisan
dasar harus diletakkan dengan tebal yang sama dan cukup rata, meskipun
demikian menjadi pondasi yang kuat untuk pemasangan batu belah dan batu
pecah.
d) Batu belah dan batu pecah yang dipakai dalam pasangan batu kosong harus
diletakkan pada lapisan dasar dengan cara sedemikian rupa sehingga

pasangan batu kosong yang selesai dikerjakan menjadi stabil dan tidak akan
longsor.
e) Rongga besar yang terbuka diantara batu pecah harus dihindari. Harus
diusahakan agar semua batu belah dapat dijamin dan dipasang dengan baik
pada bidang yang datar. Batu belah harus diletakkan demikian rupa sehingga
tidak menonjol diatas garis yang dicantumkan dalam gambar atau menurut
petunjuk Direksi Pekerjaan. Semua celah dalam pasangan batu kosong harus
diisi (dikunci) dengan batu pecah yang baik. Banyaknya batu pecah yang
dipakai tidak boleh melebihi volume yang dibutuhkan untuk mengisi rongga
diantara batu belah.
f) Lapisan ijuk diatas pondasi dapat dipakai sebagai lapisan dasar sesuai dengan
persyaratan atau menurut petunjuk Direksi Pekerjaan.
g) Lapisan penutup harus dibuat pada bagian atas pasangan batu kosong
dengan kemiringan yang layak sehingga dapat memperkuat lapisan atas
pasangan batu kosong. Lapisan penutup harus terdiri dari batu pelat pilihan
yang lebar diletakkan pada jalur dan arah yang sesuai dengan gambar atau
menurut petunjuk Direksi Pekerjaan.
4) Penimbunan Kembali
Seperti ketentuan dari Pekerjaan Bagian Timbunan.
5) Penempatan Pasangan Batu Kosong yang Diisi Adukan
a) Seluruh permukaan batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai jenuh
sebelum ditempatkan. Beton harus diletakkan di atas batu yang telah
dipasang sebelumnya selanjutnya batu yang baru akan diletakkan di atasnya.
Batu harus ditanamkan secara kokoh pada lereng dan dipadatkan sehingga
bersinggungan dengan batu-batu yang berdekatan sampai membentuk
ketebalan pasangan batu kosong yang diperlukan.
b) Celah-celah antar batu dapat diisi sebagian dengan batu baji atau batu-batu
kecil, sedemikian hingga sisa dari rongga-rongga tersebut harus diisi dengan
beton sampai padat dan rapi dengan ketebalan tidak lebih dari 10 mm dari
permukaan batu-batu tersebut.
c) Lubang sulingan (weep holes) harus dibuat sesuai dengan yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.
d) Pekerjaan ini harus dilengkapi peneduh dan dilembabi selama tidak kurang
dari 3 hari setelah selesai dikerjakan.
E.2.

PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan pekerjaan pasangan batu harus memuat
:
1) Penerimaan Bahan
Bahan yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan
mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang
telah diterima harus sesuai dengan ketentuan persyaratan bahan di atas.

E.2.1 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


E.2.2 Pengukuran
Kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah jumlah meter kubik dari
pasangan batu kosong lengkap di tempat dan diterima. Dimensi yang digunakan
untuk menghitung kuantitas ini haruslah dimensi nominal dari masingmasing
keranjang bronjong atau pasangan batu kosong seperti yang diuraikan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
E.2.3 Pembayaran
Kuantitas, ditentukan sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar dengan Harga
Kontrak per satuan dari pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di
bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan
pemasangan semua bahan, untuk galian yang diperlukan dan penyiapan seluruh
formasi atau pondasi, untuk pembuatan lubang sulingan dan sambungan konstruksi,
untuk pemompaan air, untuk penimbunan kembali sampai elevasi tanah asli dan
pekerjaan akhir dan untuk semua pekerjaan lainnya atau biaya lain yang diperlukan
atau lazim untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang
diuraikan dalam
Bagian ini.

G. PEMBESIAN

F. BUIS BETON
Pekerjaan Buis Beton adalah pekerjaan beton dengan diameter buis sepanjang 1
meter dengan tinggi 1 meter.

G. PEMBESIAN
G.1

UMUM
Jenis tulangan yang dipergunakan dalam pekerjaan ini, kecuali ditentukan lain
dalam Gambar atau diperintahkan lain oleh Direksi, adalah Besi Ulir mutu
U_32. Tulangan besi harus memenuhi standar SKSNI T-15-1991-03 atau
standar lain yang setara atau yang lebih tinggi yang disetujui oleh pihak
Direksi, dan harus memenuhi ketentuan di bawah ini, bilamana tidak
ditentukan secara khusus dalam gambar :

Diameter rata-rata dari tulangan yang dipilih dari setiap contoh kiriman
dengan ukuran yang sama tidak boleh lebih besar atau lebih kecil dari 2 (dua)
% dari diameter yang ditentukan. Tulangan-tulangan harus bebas dari sisik,
minyak, kotoran dan kerusakan-kerusakan struktur.
Untuk tiap pengiriman batang baja lunak yang diserahkan ke tempat
pekerjaan, Kontraktor harus menyediakan Sertifikat Pengujian dari besi
tulangan kepada Direksi atau dari laboratorium yang disetujui oleh Direksi.
Untuk tiap kiriman tulang anyaman baja yang dikirim ke tempat pekerjaan,
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi satu kutipan yang diakui dari
catatan-catatan pemeriksaan dan pengujiannya yang berhubungan dengan
pemuatan-pemuatan dari mana kiriman itu dibuat.
Kontraktor harus menyediakan contoh tulangan dari gudang di lapangan, jika
dibutuhkan oleh Direksi. Batang-batang baja yang telah bengkok, tidak boleh
diluruskan atau dibengkokkan lagi untuk dipakai dipekerjakan tanpa
persetujuan Direksi. Tulangan baja harus disimpan jauh dari tanah yang
diganjal untuk mencegah perubahan bentuknya.
G.1.1 Penempatan Tulangan
Tulangan harus dipasang dan dikuatkan dalam posisi yang tepat sesuai
gambar dan tidak berubah pada posisinya di dalam cetakan, tidak bergeser
selama proses penggetaran, pengisian dan penumbukan beton.
Semua ujung yang bebas dari tulangan bulat yang licin harus dibuat kait
sebagaimana ditunjukan dalam gambar atau menurut petunjuk Direksi
Pekerjaan. Kontraktor harus menyediakan semua ganjal pengatur jarak yang

diperlukan atas biayannya sendiri untuk memelihara tulangan beton dalam


posisi yang tepat. Setiap pengikat, sambungan, atau sambungan sengkang
tulangan harus kencang sehingga tulangan-tulangan benar-benar kokoh.
Sebelah dalam bagian-bagian yang melengkung harus bersentuhan langsung
dengan tulangan-tulangan disekitar mana akan tercapai kekuatan yang baik.
Tulangan-tulangan harus diikat bersama-sama dengan menggunakan kawat
baja hitam, dan pengikat harus dililit kuat-kuat dengan tang. Ujung kawat ikat
yang bebas harus dilipat kedalam.
Jika tulangan beton telah dipasang dan telah siap untuk dilakukan
pengecoran, maka harus diperiksa dulu oleh Direksi Pekerjaan dan tidak boleh
dilakukan pengecoran sampai tulangan beton disetujuinya. Kontraktor harus
melaporkan kepada Direksi Pekerjaan selambat-lambatnya 24 (dua puluh
empat) jam sebelumnya, untuk meminta dilakukan pemeriksaan atas
penulangan yang telah disiapkan.
G.1.2 Penyiapan Gambar Tulangan Beton
Kontraktor harus menyiapkan semua gambar detail tulangan beton berdasarkan
gambar-gambar yang diberikan oleh Direksi. Gambar-gambar tulangan beton ini
harus meliputi gambar penempatan tulang, gambar pembengkokan tulangan,
daftar besi dan gambar-gambar penulangan lainnya yang mungkin diperlukan
untuk memudahkan pembuatan dan pemasangan besi tulangan. Semua gambar
penulangan yang direncanakan oleh Kontrator harus diajukan kepada Direksi
Pekerjaan untuk mendapat persetujuan.

G.1.2 Sambungan Tulangan Beton


Jika dianggap perlu untuk menyambung batang tulangan pada titik-titik lain
dari pada yang diperlihatkan dalam gambar, posisi dan metode
penyambungan harus ditetapkan berdasarkan perhitungan kekuatan dan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Dalam hal sambungan lewatan, panjang
lewatan harus memenuhi ketentuan gambar atau tabel di bawah ini :

Batang tulangan harus diikat pada beberapa tempat di atas sambungan


lewatan dengan menggunakan kawat besi pengikat dengan diameter 0.9
milimeter atau pengikat yang cocok. Untuk sambungan lewatan, diperlukan
kait pada batang tulangan polos dan kait tidak diperlukan pada batang
tulangan yang berulir.

G.1.3 Daftar Bengkokan


Kontraktor harus memahami sendiri semua penjelasan yang diberikan dalam
gambar dan spesifikasi, kebutuhan akan tulangan yang tepat untuk dipakai
dalam pekerjaan. Daftar bengkokan yang mungkin diberikan oleh Direksi
kepada Kontraktor harus diperiksa dan diteliti.
Tulangan baja harus dipotong dari batang yang lurus, yang bebas dari
belitan dan bengkokan atau kerusakan lainya dan dibengkokkan dalam
keadaan dingin oleh tukang yang berpengalaman. Batang dengan garis
tengah 20 mm atau lebih harus dibengkokkan dengan mesin pembengkok
yang direncanakan untuk itu dan disetujui oleh Direksi.
Ukuran pembengkok harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia NI-2,
PBI 1971 kecuali jika ditentukan lain, atau diperintahkan oleh Direksi.
Bentuk-bentuk tulangan baja harus dipotong sesuai dengan gambar, tidak
boleh menyambung tulang tanpa persetujuan Direksi.
G.1.4 Pemasangan
Kontraktor harus menempatkan dan memasang tulangan baja dengan tepat
pada tempat kedudukan yang ditunjukkan dalam gambar dan harus ada
jaminan bahwa tulangan itu akan tetap pada kedudukannya pada waktu
pengecoran beton. Pengelasan tempel dengan adanya persetujuan Direksi
lebih dahulu dapat diijinkan untuk menyambung tulangan-tulangan yang
saling tegak lurus, tetapi cara pengelasan lain tidak akan dibolehkan.
Penggunaan ganjal, alat perenggang dan kawat harus mendapat
persetujuan dari Direksi. Perenggang dari beton harus dibuat dari beton
dengan mutu yang sama seperti mutu beton yang akan dicor. Perenggang
tulangan dari besi beton dan kawat harus sepadan dengan bahan
tulangannya. Selimut beton yang ditentukan harus terpelihara.
G.1.5 Pengukuran Dan Pembayaran
Pengukuran untuk pembayaran dan penempatan tulangan dibuat dalam
perencanaan berat jadi / terpasang sesuai dengan gambar atau atas petunjuk
Direksi. Satuan berat jadi, kecuali ditentukan lain selama pelaksanaan, maka
standard berat besi adalah sebagai berikut :

Besi stagger, besi penstabil plastic cone, kawat pengikat, paku atau bahan lainnya
yang digunakan untuk menyambung pada pelaksanaan pembesian yang merupakan
bagian dari metode pelaksanaan tidak diukur untuk dibayar, sesuai dengan gambar
atau petunjuk dari Direksi.

I. PEKERJAAN DRAIN HOLE


I.1.

Umum
Semua pipa yang digunakan untuk lubang lubang drainase harus dari
jenis dan kualitas terbaik. Semua perlengkapan yang dibuat harus
berdasarkan rekomendasi dari pihak yang memiliki reputasi baik. Semua
material yang ditunjukkan dalam gambar harus disediakan oleh kontraktor
dengan jenis dan kualitas dan mendapatkan persetujuan dari Direksi.

I.1.1 Material
Pipa Polyvinil-Chloride ( PVC ) dan sambungan fitting harus memenuhi
persyaratan dalam ASTM Designation D2729.
Material tersebut harus bebas goresan, retak gelembung atau cacat lainnya.
Pipa pipa harus dengan ketebalan sebagai berikut :
a) Pipa diameter 5 cm tebal pipa 2,00 mm
b) Pipa diameter 8 cm tebal pipa 3,00 mm
c) Pipa diameter 10 cm tebal pipa 3,50 mm
Lubang lubang drainase harus dibuat sebagaimana ditunjukkan dalam
gambar atau sesuai dengan perintah Direksi.
Pipa PVC atau lubang drainasedengan diameter 50 mm, harus didalam
dinding penahan maupun abutment sebanyak satu ( 1 ) buah setiap dua ( 2 )
m luas dinding yang akan ditunjukkan oleh Direksi. Pipa PVC dengan
panjang secukupnya ditanam dalam bangunan dengan ujung pada sisi
tanahnyan ditutup ijuk dan didalamnya diisi dengan kerikil berukuran
maksimal 10 mm.
I.1.2 PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan drain hole harus
memuat :
1) Penerimaan bahan
Bahan Pipa dll yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan
bahan dengan mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa
bahan-bahan yang telah diterima harus sesuai dengan ketentuan persyaratan
bahan pada Pekerjaan Bekisting.
2) Pengawasan
Direksi pekerja harus menempatkan seorang personal khusus yang
mempunyai keahlian untuk melakukan pengawasan pekerjaan sesuai dengan
persyaratan kerja.

I.1.3. Pengukuran dan Pembayaran


a.
b.

Pengukuran
Pengukuran untuk pembayaran lubang lubang drainase harus didasrkan
pada panjang yang diperoleh dari gambar / atau atas perintah Direksi.
Pembayaran
Pembayaran untuk pekerjaan lubang lubang drainase harus didasarkan
pada harga satuan setiap meter panjang
( m ), yang terdapat dalam
Daftar Kuantitas dan Harga. Dan harus dianggap sudah termasuk penutup
ijuk dan isian kerikil dan semua kompensasi untuk penyediaan tenaga kerja,
material, perlengkapan peralatan, prasarana, alat kerja dan sebagainya.
Untuk menghasilkan pekerjaan, yang lengkap, memenuhi syarat dan dengan
teknik pelaksanaan terbaik dan sepenuhnya sesuai dengan semua ketentuan
dalam spesifikasi.

J. PENULANGAN BESI DAN PASANG ANGKER


Pekerjaan Angker menggunakan besi dengan diameter 12 mm.

K. PEKERJAAN BETON K 225


K.1

UMUM
Pasal ini berlaku untuk semua pekerjaan beton termasuk materialnya untuk
bangunan-bangunan yang strukturnya terdiri dari beton masa ( mass concrete
) maupun beton yang bertulang yang harus dilaksanakan Kontraktor sesuai
dengan kewajibannya.
Semua pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan uraian dibawah ini, dan
atau yang ditunjukkan dalam gambar maupun yang diperintahkan oleh
Direksi. Kegiatan pekerjaan beton harus dilaksanakan dengan kehadiran
Direksi atau wakilnya.

K.1.1 PERSYARATAN BAHAN


1) Bangunan Beton
a) Semen
(1) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen portland
yang memenuhi SNI 15-2049-1994 kecuali jenis IA, IIA, IIIA dan IV. Apabila
menggunakan bahan tambahan yang dapat menghasilkan gelembung udara,
maka gelembung udara yang dihasilkan tidak boleh lebih dari 5 %, dan harus
mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
(2) Dalam satu campuran, hanya satu merk semen portland yang boleh digunakan,
kecuali disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Jika di dalam satu proyek digunakan
lebih dari satu merk semen, maka Penyedia Jasa harus mengajukan kembali
rancangan campuran beton sesuai dengan merk semen yang digunakan.
b) Air
Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya harus
bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa,
gula atau organis. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi ketentuan
dalam SNI 03-6817-2002 Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan. Jika
timbul keraguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air seperti di atas
tidak dapat dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan
mortar semen dan pasir dengan memakai air yang diusulkan dan dengan
memakai air suling. Air yang diusulkan dapat digunakan jika kuat tekan mortar
dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan
mortar dengan air suling pada periode perawatan yang sama.
c) Agregat
(1) Ketentuan Agradasi Agregat
Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang diberikan,
tetapi bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi tersebut harus diuji dan
harus memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan.
Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran agregat terbesar
tidak lebih dari jarak bersih minimum antara baja tulangan atau antara

baja tulangan dengan acuan, atau celah-celah lainnya di mana beton harus
dicor.
(2) Sifat-sifat Agregat
Agregat yang digunakan harus bersih, keras, kuat yang diperoleh dari
pemecahan batu atau koral, atau dari pengayakan dan pencucian (jika perlu)
kerikil dan pasir sungai.
Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh
pengujian SNI 03-2816-1992 dan harus memenuhi sifat-sifat lainnya bila
contoh-contoh diambil dan diuji sesuai dengan prosedur yang berhubungan.
d) Bahan Tambah
Bahan tambah yang digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kinerja beton
dapat berupa bahan kimia atau bahan limbah yang berupa serbuk halus sebagai
bahan pengisi pori dalam campuran beton.
(1) Bahan Kimia
Bahan tambah yang berupa bahan kimia ditambahkan dalam campuran beton
dalam jumlah tidak lebih dari 5% berat semen selama proses pengadukan atau
selama pelaksanaan pengadukan tambahan dalam pengecoran beton. Bahan
tambah yang digunakan harus sesuai dengan standar spesifikasi yang
ditentukan dalam SNI 03-2495-1991. Bahan tambah dapat diklasifikasikan
sesuai dengan penggunaannya sebagai berikut :
(a) Tipe A - bahan pengurang kadar air
Tipe A berfungsi untuk mengurangi air dalam campuran, dan
pengunaannya bertujuan untuk mengurangi water-cement rasio dalam
campuran sesuai dengan workability yang diinginkan, atau untuk
meningkatkan workability ada angka water-cement rasio yang telah
ditetapkan.
(b) Tipe B - bahan untuk memperlambat waktu pengikatan
Tipe B berfungsi untuk memperlambat waktu pengikatan pasta semen,
sehingga akan memperlambat pengerasan dari beton. Bahan tambah jenis
ini digunakan jika iklim di tempat pengecoran terlalu panas, dimana waktu
pengikatan pasta semen dalam keadaan normal menjadi sangat pendek
dikarenakan suhu yang tinggi.
(c) Tipe C - bahan untuk mempercepat waktu pengikatan
Tipe C berfungsi untuk mempercepat waktu pengikatan pasta semen, yang
akan mempercepat pengerasan dari beton sehingga mempercepat
kekuatan beton, dan dapat digunakan dalam pabrik pembuatan beton
precast (dimana perlu pelepasan bekisting secepatnya), atau pekerjaan
perbaikan yang sangat penting.
(d) Tipe D - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan
Tipe D - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan memperlambat
waktu pengikatan Bahan tambah ini untuk menambah workability, dimana
beton mempunyai kekuatan tinggi dapat dibuat workabel tanpa
mengurangi density, ketahanan dan kekuatannya. Perlambatan waktu
pengikatan sangat berguna untuk waktu pengangkutan adukan beton yang
lama ke tempat pengecoran, pengecoran dalam kondisai yang sangat
panas dan menghindari cold joint.

(e) Tipe E - campuran bahan pengurang kadar air dan bahan mempercepat
waktu pengikatan.
Bahan tambah ini untuk menambah workability dan memberikan kekuatan
awal yang tinggi, atau memberikan kekuatan awal yang lebih tinggi pada
workability yang sama. Bahan tambah ini digunakan pada precast karena
memungkinkan pelepasan bekisting lebih awal dan dipakai untuk pekerjaan
perbaikan dimana kekuatan awal sangat diperlukan.
(f) Tipe F - bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka tinggi atau
superplasticizer.
Tipe F atau Superplasticizer adalah bahan tambah yang mengurangi air
dalam campuran dengan cukup banyak dan sangat berbeda dengan Tipe A,
D atau E. Penggunaan bahan ini digunakan membuat beton alir (flow
concrete) untuk menjangkau tempat yang tak terjangkau oleh pengetar
dan beton pompa (pumping concrete) pada jenis bangunan yang rumit.
(g) Tipe G - campuran bahan pengurang kadar air dengan tingkat angka tinggi
atau superplasticizer dan bahan memperlambat waktu pengikatan.
Bahan tambah ini merupakan campuran dari Tipe F dan Tipe B, tetapi
slump loss-nya lebih kecil bila dibandingkan dengan beton yang
menggunakan superplasticizer.
(2) Mineral
Bahan tambah yang berupa mineral atau bahan limbah seperti Fly Ash,
Pozzolan, silica fume yang ditambahkan ke dalam campuran beton. Bahan
tambah yang digunakan harus sesuai dengan standar spesifikasi yang
ditentukan dalam SNI 03-2460-1991.
K.1.2 PERSYARATAN KERJA
1) Pengajuan Kesiapan Kerja
a) Penyedia Jasa harus mengirimkan contoh dari semua bahan yang akan
digunakan dan dilengkapi dengan data pengujian yang memenuhi seluruh sifat
bahan sesuai dengan Pasal ini.
b) Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran untuk masing-masing
mutu beton yang akan digunakan, 30 hari sebelum pekerjaan pengecoran
beton dimulai.
c) Penyedia Jasa harus menyerahkan secara tertulis seluruh hasil pengujian
pengendalian mutu sesuai dengan ketentuan kepada Direksi Pekerjaan
sehingga data tersebut selalu tersedia apabila diperlukan.
d) Pengujian kuat tekan beton yang harus dilaksanakan pada umur 3 hari, 7 hari,
14 hari, dan 28 hari setelah tanggal pencampuran, dan pengujian Hammer test
periodik setiap bulan terhadap pekerjaan yang selesai dilaksanakan.
e) Penyedia Jasa harus mengirimkan gambar detail dan perhitungan terinci untuk
seluruh perancah yang akan digunakan, dan harus memperoleh persetujuan
dari Direksi Pekerjaan sebelum setiap pekerjaan perancah dimulai.
f) Penyedia Jasa harus memberitahu Direksi Pekerjaan secara tertulis mengenai
rencana pelaksanaan pencampuran atau pengecoran setiap jenis beton untuk
mendapatkan persetujuannya paling sedikit 24 jam sebelum tanggal
pelaksanaan, seperti yang disyaratkan disertai dengan metode pengecoran,

kapasitas peralatan yang digunakan, tanggung jawab personil dan jadwal


pelaksanaannya
2) Penyimpanan dan Perlindungan Bahan
a) Untuk penyimpanan semen, Penyedia Jasa harus menyediakan tempat yang
terlindung dari perubahan cuaca dan diletakkan di atas lantai kayu dengan
ketinggian tidak kurang dari 30 cm dari permukaan tanah serta ditutup dengan
lembaran plastik (polyethylene) selama penyimpanan dan tidak lebih dari 3
bulan sejak disimpan dalam tempat penyimpanan di lokasi pekerjaan. Semen
tidak boleh ditumpuk melebihi melebihi 8 sak ke arah atas.
b) Penyedia Jasa harus menjaga kondisi tempat kerja terutama tempat
penyimpanan agregat, agar terlindung dan tidak langsung terkena sinar
matahari dan hujan sepanjang waktu pengecoran.
c) Penyimpanan agregat harus dilakukan sedemikian rupa sehingga jenis agregat
atau ukuran yang berbeda tidak tercampur.
3) Kondisi Tempat Kerja
Setiap pelaksanaan pengecoran beton harus terlindung dari sinar matahari secara
langsung. Sebagai tambahan, Penyedia Jasa tidak boleh melakukan pengecoran jika:
Tingkat penguapan melampaui 1,0 mm/jam.
Selama turun hujan atau bila udara penuh debu atau tercemar.
4) Pencampuran dan Penakaran
a) Rancangan Campuran
Proporsi bahan dan berat penakaran harus ditentukan sesuai dengan SNI 032834-2000.
b) Campuran Percobaan
Penyedia Jasa harus membuat dan menguji campuran percobaan dengan
rancangan campuran serta bahan yang diusulkan sesuai dengan SNI 03-28342000, dengan disaksikan oleh Direksi Pekerjaan, yang menggunakan jenis
instalasi dan peralatan sebagaimana yang akan digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan.
5) Permukaan Tampak
a) Semua permukaan beton yang telah selesai harus terlihat padat bersih dan
tidak keropos.
b) Semua permukaan yang tampak harus rata atau bulat.
c) Pekerjaan plesteran pada permukaan beton tidak diijinkan dan setiap beton
yang kelihatan cacat harus dibongkar hingga kedalaman tertentu dan diganti
atau diperbaiki dengan cara seperti yang diinginkan oleh Direksi Pekerjaan
atas biaya Penyedia Jasa.
K.1.3 PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis
pekerjaan beton, dan bekisting harus memuat :
Pekerjaan Beton
1) Pembetonan
a) Penyiapan tempat kerja

(1) Penyedia Jasa harus membongkar bangunan lama yang akan diganti
dengan beton yang baru atau yang harus dibongkar untuk dapat
memungkinkan pelaksanaan pekerjaan beton yang baru. Pembongkaran
tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dalam dari
Spesifikasi ini.
(2) Penyedia Jasa harus menggali atau menimbun kembali pondasi atau
formasi untuk pekerjaan beton sesuai dengan garis yang ditunjukkan
dalam Gambar Kerja atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan sesuai dengan ketentuan dalam Spesifikasi ini, dan harus
membersihkan serta menggaru tempat di sekeliling pekerjaan beton yang
cukup luas sehingga dapat menjamin dicapainya seluruh sudut pekerjaan.
Jika diperlukan harus disediakan jalan kerja yang stabil untuk menjamin
dapat diperiksanya seluruh sudut pekerjaan dengan mudah dan aman.
(3) Seluruh dasar pondasi, pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus
dijaga agar senantiasa kering. Beton tidak boleh dicor di atas tanah yang
berlumpur, bersampah atau di dalam air. Apabila beton akan dicor di dalam
air, maka harus dilakukan dengan cara dan peralatan khusus untuk
menutup kebocoran seperti pada dasar sumuran atau cofferdam dan atas
persetujuan Direksi Pekerjaan.
(4) Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda
lain yang harus berada di dalam beton (seperti pipa atau selongsong)
harus sudah dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat
pengecoran.
(5) Bila disyaratkan atau diperlukan oleh Direksi Pekerjaan, maka bahan lantai
kerja untuk pekerjaan beton harus dihampar sesuai dengan ketentuan dari
Spesifikasi ini.
(6) Direksi Pekerjaan akan memeriksa seluruh galian yang disiapkan untuk
pondasi sebelum menyetujui pemasangan acuan, baja tulangan atau
pengecoran beton. Penyedia Jasa dapat diminta untuk melaksanakan
pengujian penetrasi kedalaman tanah keras, pengujian kepadatan atau
penyelidikan lainnya untuk memastikan cukup tidaknya daya dukung tanah
di bawah pondasi.
(7) Jika dijumpai kondisi tanah dasar pondasi yang tidak memenuhi ketentuan,
maka Penyedia Jasa dapat diperintahkan untuk mengubah dimensi atau
kedalaman pondasi dan/atau menggali dan mengganti bahan di tempat
yang lunak, memadatkan tanah pondasi atau melakukan tindakan
stabilisasi lainnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
(8) Penyedia Jasa harus memastikan lokasi pengecoran bebas dari resiko
terkena air hujan dengan memasang tenda seperlunya. Direksi Pekerjaan
berhak menunda pengecoran sebelum tenda terpasang dengan benar.
Penyedia Jasa juga harus memastikan lokasi pengecoran bebas dari resiko
terkena air pasang atau muka air tanah dengan penanganan seperlunya.
a) Cetakan Beton
(1) Jika disetujui oleh Direksi Pekerjaan, maka acuan dari tanah harus
dibentuk dari galian, dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus dipangkas
secara manual sesuai dimensi yang diperlukan. Seluruh kotoran tanah
yang lepas harus dibuang sebelum pengecoran beton.

(2) Cetakan harus digunakan, dimana perlu untuk membatasi dan


membentuk beton sesuai dengan keinginan. Cetakan dapat dibuat dari
kayu, besi atau bahan lainnya yang cukup kuat sesuai dengan ukuran
ukuran yang ada di dalam gambar.
(3) Cetakan harus diperkuat dan ditopang agar mampu menahan berat
sendiri adukan beton, penggetaran beton, beban konstruksi, angin dan
tekanan lainnya dengan tidak berubah bentuk.
(4) Penyedia Jasa harus menyerahkan satu set yang lengkap, gambar
cetakan sesuai dengan ketentuan diatas, untuk mendapatkan persetujuan
Direksi Pekerjaan, sebelum memulai pekerjaan, walaupun demikian
penyerahan tersebut kepada Direksi Pekerjaan untuk disetujui, tidak
mengurangi tanggung jawab Kontraktor bagi keberhasilannya.
(5) Permukaan cetakan beton yang berhubungan dengan beton harus bebas
dari sampah, paku, aluralur, belahan, atau cacatcacat lainnya. Mengisi
celahcelah sambungan cetakan beton harus berhatihati dan
dilaksanakan sedemikian rupa agar sanggup mengembang dibawah
pengaruh kelembaban beton tanpa menimbulkan perubahan bentuk
cetakan, celah celah harus diisi secukupnya untuk mencegah hilangnya
air semen. Bagaimanapun penggunaan kertas dengan tegas dilarang.
(6) Pembuatan lubang bagian dalam cetakan untuk pemeriksaan,
pembuangan air dapat dilakukan untuk itu cetakan dapat dibuat
sedemikian rupa hingga dapat dengan mudah ditutup sebelum
pengecoran dimulai.
(7) Sebelum pengecoran beton semua bautbaut harus dipasang pada
posisinya, semua yang diperlukan dan alatalat lain untuk menutup
lubang harus dipasang pada cetakan. Tidak diperbolehkan membuat
lubang didalam beton tanpa persetujuan Direksi Pekerjaan.
(8) Penggunaan kawat yang diikat untuk menyangga cetakan tidak diijinkan
dilakukan pada dinding beton yang akan tampak.
(9) Lubangbekas ikatan kawat harus ditutup dengan beton setelah cetakan
dibongkar.
(10) Jika batangan logam digunakan untuk menyangga cetakan ujungnya
tidak boleh kurang dari 3 cm dari permukaan beton yang terbentuk.
Semua permukaan cetakan yang menempel dengan beton harus dilumasi
dengan oli untuk memastikan bahwa cetakan dapat dibuka dengan
mudah.
(11) Pelumas harus diterapkan pada cetakan sebelum tulangan dipasang
dan harus berhatihati mencegah pelumas jangan sampai mengenai besi
tulangan. Sebelum pengecoran dan pembesian semua celahcelah
cetakan yang telah diisi dengan dempul harus dibersihkan dan
dikeringkan. Bila cetakan beton dibuat dan siap untuk pengecoran maka
harus diperiksa oleh Direksi Pekerjaan. Tidak diperkenankan mengecor
bila cetakan belum disetujui Direksi Pekerjaan.
(12) Penyedia Jasa harus memberitahukan kepada Direksi Pekerjaan
sekurang kurangnya 24 (dua puluh empat) jam sebelum cetakan siap
untuk diperiksa.

c) Pencampuran Beton
(1) Perbandingan Campuran
i. Beton harus mengandung semen, agregat bergradasi baik, air dan
bahan additive bila diperlukan, dicampurkan bersama sama dan
digunakan untuk menghasilkan kekuatan yang diharapkan.
ii. Beton diklasifikasikan berdasarkan tekanan pada 7 hari dan umur 28
hari dengan ukuran maksimum agregat dan dibuat mengikuti tabel di
bawah ini :
Tabel 1 Klasifikasi Beton berdasarkan Besarnya Tekanan

Tabel 2 Klasifikasi Jenis Beton

iii. Proporsi campuran untuk masingmasing klas beton diatas akan


diberikan oleh Direksi, berdasarkan hasilhasil test percobaan
campuran yang dikerjakan Penyedia Jasa.
iv. Penyedia Jasa dapat merubah proporsi dari waktu ke waktu untuk
mendapatkan kepadatan maksimum dari beton, kemudahan
pengerjaan, kekentalan dan kekuatan dengan faktor air semen yang
sekecil mungkin dengan persetujuan Direksi tidak ada tambahan biaya
atas perubahan tersebut.
v. Kandungan air di dalam beton akan diatur oleh Direksi, dalam batas
yang ditetapkan untuk mendapatkan faktor air semen pada beton
dengan kekentalan yang benar. Tidak diperkenankan penambahan air
untuk mengatasi mengerasnya beton sebelum ditempatkan.
Keseragaman kekentalan beton pada setiap adukan adalah perlu.

Slump dari pada adukan beton harus mengikuti tabel di bawah ini,
setelah beton diendapkan.
Tabel 3 Nilai Slump Beton

(2) Penakaran
i. Penyedia Jasa harus menyediakan alat penakar yang disetujui Direksi
Pekerjaan dan harus memelihara serta mengoperasikan peralatan
seperti yang diperlukan agar secara tepat mengontrol dan menentukan
jumlah dari masingmasing bahan yang dicampurkan, sesuai dengan
petunjuk Direksi Pekerjaan.
ii. Peralatan harus mampu memproduksi beton sebanyak 1 (satu) hingga
5 (lima) meter kubik atau lebih per jam secara keseluruhan dengan
mencampurkan agregat, semen, bahan additive (bila perlu), dan air
menjadi suatu campuran yang merata tanpa pemisahanpemisahan.
Juga mampu mengimbangi perubahanperubahan kadar air dari
agregat, serta merubah berat materialmaterial yang ikut tercakup.
iii. Jumlah masingmasing bahan yang membentuk beton tersebut dapat
ditentukan dengan timbangan kecuali jumlah air yang diukur dengan
takaran. Meskipun demikian material beton dapat juga diukur secara
volume, bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
iv. Penyedia Jasa juga harus menyediakan penguji berat yang standar dan
peralatan lain yang diperlukan untuk mengecek operasi dan tiap tiap
skala pengukuran pengaduk tersebut, serta melakukan pengujian
periodik terhadap perubahan harga pengukuran dalam pekerjaan
pekerjaan adukan.
(3) Mesin Pengaduk Beton
i. Material beton harus dimasukkan dalam pengaduk yang berpenakar
dalam waktu yang tidak lebih dari satu setengah menit, kecuali
sejumlah air yang diperlukan sudah ada dalam alat pengaduk tersebut.
ii. Seluruh air pencampur harus diberikan sebelum seperempat waktu
pencampuran terlampaui. Waktu pencampuran adukan yang
volumenya lebih besar dari 0,75 m3 harus ditambah seperempat menit
pada setiap penambahan 0,5 m3.

iii. Alat pencampur beton tidak boleh dibebani volume yang melebihi
kapasitas maksimum, atau dioperasikan melebihi kecepatan yang
dianjurkan pabrik pembuatnya. Alat tersebut dapat menghasilkan beton
dengan kekentalan dan warna yang merata secara menerus dan
disetujui Direksi Pekerjaan.
iv. Semua peralatan pencampur harus selalu dibersihkan sebelum
melakukan pekerjaan. Pencampuran pertama setelah pembersihan,
tidak boleh digunakan dalam pekerjaan. Blades penumbuk yang ada
dalam alat pencampur perlu diganti bila telah aus menjadi 2 cm.
(4) Truk Pencampur
i. Material beton juga dicampur di dalam truk pencampur. Drumdrum
yang ada pada truk pencampur harus berputar dengan kecepatan yang
dianjurkan oleh Pabrik.
ii. Operasi pencampuran dapat dimulai dalam waktu 30 menit setelah
bahanbahan pencampur tersebut berada di dalam pencampur, setelah
itu beton dapat diangkut menuju tempat pekerjaan dan satu jam
setelah penambahan air pengecoran harus selesai.
iii. Pada saat cuaca panas atau pada kondisi adukan beton yang cepat
mengeras, waktu pencampuran harus kurang dari 1 jam, sesuai
dengan petunjuk Direksi Pekerjaan.
(5) Mencampur Beton dengan Tenaga Manusia
i. Pekerjaan mencampur beton dengan manual tidak diijinkan kecuali jika
situasi tidak memungkinkan untuk menggunakan mesin pencampur
setelah mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan.
ii. Dalam keadaan seperti itu, beton harus diaduk dengan tangan, sedekat
mungkin ke lokasi dimana beton akan ditempatkan. Harus dilakukan
dibak pengaduk yang bersih dan kedap air. Jika bak dibuat dari kayu,
maka selasela kayu harus ditutup agar tidak ada kehilangan air dari
adukan.
iii. Semua agregat dan semen harus diadukaduk dalam keadaan kering
sekurangkurangnya
3
kali.
Kemudian
air
ditambahkan
berangsurangsur dipuncak adukan, selanjutnya agregat kembali diaduk
dalam keadaan basah, sekurangkurangnya 3 (tiga) kali sebelum
adukan diangkat ketempat pengecoran.
2) Pengecoran
a) Pelaksanaan Pengecoran
i. Penyedia Jasa harus memberitahukan Direksi Pekerjaan secara tertulis
paling sedikit 24 jam sebelum memulai pengecoran beton, atau
meneruskan pengecoran beton jika pengecoran beton telah ditunda lebih
dari 6 jam (finalsetting). Pemberitahuan harus meliputi lokasi, kondisi
pekerjaan, mutu beton dan tanggal serta waktu pencampuran beton.
Direksi Pekerjaan akan memberi tanda terima atas pemberitahuan tersebut
dan akan memeriksa acuan, tulangan dan mengeluarkan persetujuan
tertulis untuk memulai pelaksanaan pekerjaan seperti yang direncanakan.
Penyedia Jasa tidak boleh melaksanakan pengecoran beton tanpa
persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan.

ii.

iii.
iv.
v.

vi.
vii.

viii.

ix.

x.

xi.

xii.

xiii.
xiv.

Walaupun persetujuan untuk memulai pengecoran sudah diterbitkan,


pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan jika Direksi Pekerjaan atau
wakilnya tidak hadir untuk menyaksikan operasi pencampuran dan
pengecoran secara keseluruhan.
Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan
air atau diolesi pelumas di sisi dalamnya yang tidak meninggalkan bekas.
Pengecoran beton harus dibuat sedemikian rupa hingga penempatan dan
penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran.
Adukan beton dicor lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu, berurutan
mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan
dibawahnya, adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan alat
penggetar (vibrator).
Tidak diperkenankan melakukan pengecoran bila persiapan besi tulangan
dan bagian bagian yang ditanam, cetakan dan perancah belum diperiksa
dan disetujui Direksi Pekerjaan secara tertulis.
Dalam pengecoran beton bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi
pemisahan butiran. Apabila bentuk tulangan pada dasar cetakan cukup
rapat, dicor terlebih dahulu lapisan selimut beton setebal 3 cm, dengan
spesi yang sama dengan yang dibutuhkan oleh beton diatasnya.
Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang
ditentukan oleh Direksi, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua
pengecoran harus selesai dalam waktu 60 menit telah keluar dari mesin
pengaduk, kecuali jika ditentukan lain oleh Direksi.
Beton jangan dicor di dalam atau pada aliran kecuali jika ditentukan atau
disetujui sebelumnya. Air yang mengumpul selama pengecoran harus
segera dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicor
selama lebih dari 30 menit, kecuali jika ada konstruksi sambungan yang
akan ditentukan kemudian.
Jika pelaksanaan pengecoran dihentikan, lokasi sambungan harus
ditempatkan pada posisi yang benar secara vertikal maupun horizontal,
dengan permukaan dibuat kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan
dan membentuk ikatan sambungan beton berikutnya, seperti yang
diinginkan oleh Direksi Pekerjaan .
Sebelum pengecoran berakhir, permukaan beton harus dibuat kasar atau
disambungkan untuk menyingkap agregat. Permukaan beton harus tetap
lembab dan dilindungi dengan mortel semen (perbandingan berat) 1 : 2
setebal 1 cm.
Beton harus dicor pada posisi dan urutan urutan seperti yang ditunjukkan
dalam gambar, atau atas petunjuk Direksi Pekerjaan. Beton yang dicor
ditempatkan langsung pada cetakannya sedemikian rupa untuk
menghindari pemisahan butiran dan penggeseran tulangan beton, acuan,
atau bagian bagian yang tertanam, serta membentuk lapisan lapisan
yang tidak lebih tebal dari 40 cm padat.
Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai sambungan ditentukan
pada gambar atau menurut petunjuk Direksi Pekerjaan.
Beton tidak boleh diangkut dengan peluncur atau dijatuhkan kereta dorong
lebih tinggi dari 1,5 m kecuali jika diijinkan oleh Direksi Pekerjaan untuk

xv.

menjatuhkan ketempat penampungan sementara dan kemudian diambil


lagi dengan sekop sebelum dicorkan.
Pengecoran beton tumbuk/lantai kerja dikerjakan pada urutan sebelumnya
atau mengikuti petunjuk Direksi dan harus dikerjakan secara menerus
sampai dengan selesai. Bila perlu Penyedia Jasa harus bekerja lembur
untuk mencapai target tersebut.

b) Pemadatan
i. Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari
luar acuan yang telah disetujui. Jika diperlukan dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan
alat yang cocok untuk menjamin kepadatan yang tepat dan memadai. Alat
penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari
satu titik ke titik lain di dalam acuan.
ii. Pemadatan harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan semua
sudut, di antara dan sekitar besi tulangan benar-benar terisi tanpa
menggeser tulangan sehingga setiap rongga dan gelembung udara terisi.
iii. Lama penggetaran harus dibatasi, agar tidak terjadi segregasi pada hasil
pemadatan yang diperlukan.
iv. Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan
sekurangkurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg,
dan boleh diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran
yang merata.
v. Posisi alat penggetar mekanis yang digunakan untuk memadatkan beton di
dalam acuan harus vertikal sedemikian hingga dapat melakukan
penetrasisampai kedalaman 10 cm dari dasar beton yang baru dicor
sehingga menghasilkan kepadatan yang menyeluruh pada bagian tersebut.
Apabila alat penggetar tersebut akan digunakan pada posisi yang lain
maka, alat tersebut harus ditarik secara perlahan dan dimasukkan kembali
pada posisi lain dengan jarak tidak lebih dari 45 cm. Alat penggetar tidak
boleh berada pada suatu titik lebih dari 15 detik atau permukaan beton
sudah mengkilap.
vi. Jumlah minimum alat penggetar mekanis
vii. Apabila kecepatan pengecoran 20 m3/jam, maka harus digunakan alat
penggetar yang mempunyai dimensi lebih besar dari 7,5 cm.
viii. Dalam segala hal, pemadatan beton harus sudah selesai sebelum terjadi
waktu ikat awal (initial setting).
3) Sambungan Pelaksanaan (Construction Joint)
a) Jadwal pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap jenis
bangunan yang diusulkan beserta lokasi sambungan pelaksanaan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar Rencana untuk disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Sambungan pelaksanaan tidak boleh ditempatkan pada pertemuan
elemenelemen bangunan kecuali ditentukan demikian.
b) Sambungan pelaksanaan pada tembok sayap tidak diijinkan. Semua
sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan
pada umumnya harus diletakkan pada titik dengan gaya geser minimum.

c) Jika sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus melewati


sambungan sedemikian rupa sehingga membuat bangunan tetap monolit.
d) Pada sambungan pelaksanaan harus disediakan lidah alur dengan ke dalaman
paling sedikit 4 cm untuk dinding, pelat serta antara dasar pondasi dan
dinding. Untuk pelaksanaan pengecoran pelat yang terletak di atas
permukaan dengan cara manual, sambungan konstruksi harus diletakkan
sedemikian rupa sehingga pelat-pelat mempunyai luas maksimum 40 m2.
e) Penyedia Jasa harus menyediakan pekerja dan bahan-bahan yang diperlukan
untuk kemungkinan adanya sambungan pelaksanaan tambahan jika
pekerjaan terpaksa mendadak harus dihentikan akibat hujan atau terhentinya
pemasokan beton atau penghentian pekerjaan oleh Direksi Pekerjaan.
f) Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, bonding agent yang dapat digunakan
untuk pelekatan pada sambungan pelaksanaan dan cara pelaksanaannya
harus sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.
g) Pada lingkungan air asin atau korosif, sambungan pelaksanaan tidak
diperkenankan berada pada 75 cm di bawah muka air terendah atau 75 cm di
atas muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
4) Pengerjaan Akhir
a) Pembongkaran Cetakan
Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang tipis
dan bangunan yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton
tanpa mengabaikan perawatan. Acuan yang ditopang oleh perancah di bawah
pelat, balok, gelegar, atau bangunan busur, tidak boleh dibongkar hingga
pengujian kuat tekan beton menunjukkan paling sedikit 85 % dari kekuatan
rancangan beton.
Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk
pekerjaan yang diberi hiasan, tiang sandaran, tembok pengarah (parapet),
dan permukaan vertikal yang terekspos harus dibongkar dalam waktu
palingsedikit 9 jam setelah pengecoran dan tidak lebih dari 30 jam,
tergantung pada keadaan cuaca dan tanpa mengabaikan perawatan.
b) Permukaan (Pengerjaan Akhir Biasa)
Kecuali diperintahkan lain, permukaan beton harus dikerjakan segera setelah
pembongkaran acuan. Seluruh perangkat kawat atau logam yang telah
digunakan untuk memegang acuan, dan acuan yang melewati badan beton,
harus dibuang atau dipotong kembali paling sedikit 2,5 cm di bawah
permukaan beton. Tonjolan mortar dan ketidakrataan lainnya yang
disebabkan oleh sambungan cetakan harus dibersihkan.
Direksi Pekerjaan harus memeriksa permukaan beton segera setelah
pembongkaran acuan dan dapat memerintahkan penambalan atas kekurang
sempurnaan minor yang tidak akan mempengaruhi bangunan atau fungsi lain
dari pekerjaan beton. Penambalan harus meliputi pengisian lubang-lubang
kecil dan lekukan dengan adukan semen.
Jika Direksi Pekerjaan menyetujui pengisian lubang besar akibat keropos,
pekerjaan harus dipahat sampai ke bagian yang utuh (sound), membentuk
permukaan yang tegak lurus terhadap permukaan beton. Lubang harus
dibasahi dengan air dan adukan pasta (semen dan air, tanpa pasir) harus
dioleskan pada permukaan lubang. Selanjutnya lubang harus diisi dengan

c)

adukan yang kental yang terdiri dari satu bagian semen dan dua bagian pasir
dan dipadatkan. Adukan tersebut harus dibuat dan didiamkan sekira 30 menit
sebelum dipakai agar dicapai penyusutan awal, kecuali digunakan jenis semen
tidak susut (non shrinkage cement).
Permukaan (Pekerjaan Akhir Khusus)
Permukaan yang terekspos harus diselesaikan dengan pekerjaan akhir berikut
ini, atau seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan :
Bagian atas pelat, kerb, dan permukaan horisontal lainnya sebagaimana yang
diperintahkan Direksi Pekerjaan, harus digaru dengan mistar bersudut untuk
memberikan bentuk serta ketinggian yang diperlukan segera setelah
pengecoran beton dan harus diselesaikan secara manual sampai rata dengan
menggerakkan perata kayu secara memanjang dan melintang, atau dengan
cara lain yang sesuai sebelum beton mulai mengeras.
Perataan permukaan horisontal tidak boleh menjadi licin, seperti untuk
trotoar, harus sedikit kasar tetapi merata dengan penyapuan, atau cara lain
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, sebelum beton mulai
mengeras.
Permukaan yang tidak horisontal yang telah ditambal atau yang masih belum
rata harus digosok dengan batu gurinda yang agak kasar (medium), dengan
menempatkan sedikit adukan semen pada permukaannya. Adukan harus
terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur sesuai dengan proporsi yang
digunakan untuk pengerjaan akhir beton. Penggosokan harus dilaksanakan
sampai seluruh tanda bekas acuan, ketidakrataan, tonjolan hilang, dan
seluruh rongga terisi, serta diperoleh permukaan yang rata. Pasta yang
dihasilkan dari penggosokan ini harus dibiarkan tertinggal di tempat.

d) Perawatan Beton
(1) Perawatan dengan Pembasahan
i. Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan
dini, temperatur yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton
harus dijaga agar kehilangan kadar air yang terjadi seminimal
mungkin dan diperoleh temperatur yang relatif tetap dalam waktu
yang ditentukanuntuk menjamin hidrasi yang sebagaimana mestinya
pada semen dan pengerasan beton.
ii. Pekerjaan perawatan harus segera dimulai setelah beton mulai
mengeras (sebelum terjadi retak susut basah) dengan
menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air. Lembaran
bahan penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling
sedikit 7 hari. Semua bahan perawatan atau lembaran bahan
penyerap air harus menempel pada permukaan yang dirawat.
iii. Jika acuan kayu tidak dibongkar maka acuan tersebut harus
dipertahankan dalam kondisi basah sampai acuan dibongkar, untuk
mencegah terbukanya sambungan-sambungan dan pengeringan
beton.
iv. Permukaan beton yang digunakan langsung sebagai lapis aus harus
dirawat setelah permukaannya mulai mengeras (sebelum terjadi
retak susut basah) dengan ditutupi oleh lapisan pasir lembab setebal
5 cm paling sedikit selama 21 hari.

v.

Beton semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang tinggi,


harus dibasahi sampai kuat tekannya mencapai 70 % dari kekuatan
rancangan beton berumur 28 hari.

K.1.4 PENGENDALIAN MUTU


Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis
pekerjaan beton, dan bekisting harus memuat :
1) Penerimaan bahan
Bahan yang diterima (air, semen, agregat dan bahan tambah bila diperlukan) harus
diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan mengecek/memeriksa bukti
tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang telah diterima harus sesuai
dengan ketentuan persyaratan bahan pada Pekerjaan Beton, dan Bekisting.
2) Pengawasan
Direksi pekerja harus menempatkan seorang personal khusus yang mempunyai
keahlian untuk melakukan pengawasan pekerjaan sesuai dengan persyaratan kerja.
3) Perencanaan Campuran
a) Ketentuan Sifat-sifat Campuran
(1) Campuran beton yang tidak memenuhi ketentuan kelecakan (misalnya
dinyatakan dengan nilai slump) seperti yang diusulkan tidak boleh
digunakan pada pekerjaan, terkecuali bila Direksi Pekerjaan dalam
beberapa hal menyetujui penggunaannya secara terbatas. Kelecakan
(workability) dan tekstur campuran harus sedemikian rupa sehingga
beton dapat dicor pada pekerjaan tanpa membentuk rongga, celah,
gelembung udara atau gelembung air, dan sedemikian rupa sehingga
pada saat pembongkaran acuan diperoleh permukaan yang rata, halus
dan padat.
(2) Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat
tekan yang disyaratkan, atau yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan, bila
pengambilan contoh, perawatan dan pengujian sesuai dengan SNI 031974-1990, SNI 03-4810-1998, SNI 03-2493-1991, SNI 03-2458-1991.
(3) Jika pengujian beton umur 7 hari menghasilkan kuat tekan beton di
bawah kekuatan yang disyaratkan, maka Penyedia Jasa tidak
diperkenankan mengecor beton lebih lanjut, sampai penyebab dari hasil
yang rendah tersebut diketahui dengan pasti dan diambil tindakantindakan yang menjamin bahwa produksi beton berikutnya memenuhi
ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi. Kuat tekan beton umur 28
hari yang tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dipandang
sebagai pekerjaan yang tidak dapat diterima dan pekerjaan tersebut
harus diperbaiki sebagaimana disyaratkan di atas. Kekuatan beton
dianggap lebih kecil dari yang disyaratkan jika hasil pengujian
serangkaian benda uji dari suatu bagian pekerjaan yang dilaksanakan
lebih kecil dari kuat tekan beton karakteristik yang diperoleh dari rumus
yang diuraikan.
(4) Direksi Pekerjaan dapat pula menghentikan pekerjaan dan/atau
memerintahkan Penyedia Jasa untuk mengambil tindakan perbaikan

dalam meningkatkan mutu campuran atas dasar hasil pengujian kuat


tekan beton umur 3 hari. Dalam keadaan demikian, Penyedia Jasa harus
segera menghentikan pengecoran beton yang diragukan tetapi dapat
memilih menunggu sampai hasil pengujian kuat tekan beton umur 7 hari
diperoleh, sebelum menerapkan tindakan perbaikan, pada waktu tersebut
Direksi Pekerjaan akan menelaah kedua hasil pengujian umur 3 hari dan
7 hari, dan dapat segera memerintahkan tindakan perbaikan yang
dipandang perlu.
(5) Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi ketentuan dapat
mencakup pembongkaran dan penggantian seluruh beton. Tindakan
tersebut tidak boleh berdasarkan pada hasil pengujian kuat tekan beton
umur 3 harisaja, kecuali bila Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan sepakat
dengan perbaikan tersebut.
b) Penyesuaian Campuran
(1) Penyesuaian Sifat Mudah Dikerjakan (Kelecakan atau Workability)
Jika sifat kelecakan pada beton dengan proporsi yang semula dirancang
sulit diperoleh, maka Penyedia Jasa boleh melakukan perubahan
rancangan agregat, dengan syarat dalam hal apapun kadar semen yang
semula dirancang tidak berubah, juga rasio air/semen yang telah
ditentukan berdasarkan pengujian yang menghasilkan kuat tekan yang
memenuhi tidak dinaikkan. Pengadukan kembali beton yang telah
dicampur dengan cara menambah air atau oleh cara lain tidak diijinkan.
Bahan tambahan untuk meningkatkan sifat kelecakan hanya diijinkan bila
telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
(2) Penyesuaian Kekuatan
Jika beton tidak mencapai kekuatan yang disyaratkan, maka kadar semen
dapat ditingkatkan atau dapat digunakan bahan tambahan dengan syarat
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
(3) Penyesuaian Untuk Bahan-bahan Baru
Perubahan sumber atau karakteristik bahan tidak boleh dilakukan tanpa
pemberitahuan tertulis kepada Direksi Pekerjaan. Bahan baru tidak boleh
digunakan sampai Direksi Pekerjaan menerima bahan tersebut secara
tertulis dan menetapkan proporsi baru berdasarkan atas hasil pengujian
campuran percobaan baru yang dilakukan oleh Penyedia Jasa.
(4) Bahan Tambahan (admixture)
Bila perlu menggunakan bahan tambahan, maka Penyedia Jasa harus
mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Jenis dan takaran bahan
tambahan yang akan digunakan untuk tujuan tertentu harus dibuktikan
kebenarannya melalui pengujian campuran di laboratorium. Ketentuan
mengenai bahan tambahan ini harus mengacu pada SNI 03-2495-1991.
Bila akan digunakan bahan tambahan berupa butiran yang sangat halus,
sebagian besar berupa mineral yang bersifat cementious seperti abu
terbang (fly ash), mikrosilika (silicafume), atau abu slag besi (iron furnace
slag), yang umumnya ditambahkan pada semen sebagai bahan utama
beton, maka penggunaan bahan tersebut harus berdasarkan hasil
pengujian laboratorium yang menyatakan bahwa hasil kuat tekan yang
dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang diinginkan pada Gambar
Rencana dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Dalam hal penggunaan

bahan tambahan dalam campuran beton, maka bahan tersebut


ditambahkan pada saat pengadukan beton. Bahan tambahan ini hanya
boleh digunakan untuk meningkatkan kinerja beton segar (fresh
concrete).
Penggunaan bahan tambahan ini dilakukan dalam hal-hal sebagai berikut:
Meningkatkan kinerja kelecakan adukan beton tanpa menambah air;
Mengurangi penggunaan air dalam campuran beton tanpa mengurangi
kelecakan;
Mempercepat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton;
Memperlambat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton;
Meningkatkan kinerja kemudahan pemompaan beton;
Mengurangi kecepatan terjadinya slump loss;
Mengurangi susut beton atau memberikan sedikit pengembangan
volume beton (ekspansi);
Mengurangi terjadinya bleeding;
Mengurangi terjadinya segregasi. Untuk tujuan peningkatan kinerja
beton sesudah mengeras, bahan tambahan campuran beton bisa
digunakan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut:
Meningkatkan kekuatan beton (secara tidak langsung)
Meningkatkan kekuatan pada beton muda
Mengurangi atau memperlambat panas hidrasi pada proses pengerasan
beton, terutama untuk beton dengan kekuatan awal yang tinggi.
Meningkatkan kinerja pengecoran beton di dalam air atau di laut
Meningkatkan keawetan jangka panjang beton
Meningkatkan kekedapan beton (mengurangi permeabilitas beton)
Mengendalikan ekspansi beton akibat reaksi alkali agregat
Meningkatkan daya lekat antara beton baru dan beton lama
Meningkatkan daya lekat antara beton dan baja tulangan
Meningkatkan ketahanan beton terhadap abrasi dan tumbukan
Walaupun demikian, penggunaan aditif dan admixture perlu dilakukan
secara hati-hati dan dengan takaran yang tepat sesuai manual
penggunaannya, serta dengan proses pengadukan yang baik, agar
pengaruh penambahannya pada kinerja beton bisa dicapai secara merata
pada semua bagian beton. Dalam hal ini perlu dimengerti bahwa dosis
yang berlebih akan dapat mengakibatkan menurunnya kinerja beton, atau
dalam hal yang lebih parah, dapat menimbulkan kerusakan pada beton.
c) Pelaksanaan Pencampuran
(1) Penakaran Agregat
i. Seluruh komponen bahan beton harus ditakar menurut berat, untuk
mutu beton fc < 20 MPa diijinkan ditakar menurut volume sesuai SNI
03-3976-1995. Bila digunakan semen kemasan dalam zak, kuantitas
penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang
digunakan adalah setara dengan satu satuan atau kebulatan dari
jumlah zak semen. Agregat harus ditimbang beratnya secara terpisah.
Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat
pencampur.

ii.

Penakaran agregat harus dilakukan dalam kondisi jenuh kering


permukaan (SSD-saturated surface dry). Apabila hal tersebut tidak
dilakukan maka harus dilakukan koreksi penakaran sesuai dengan
kondisi agregat di lapangan. Untuk mendapatkan kondisi agregat yang
jenuh kering permukaan dapat dilakukan dengan cara menyemprot
tumpukan agregat dengan air secara berkala paling sedikit 12 jam
sebelum penakaran untuk menjamin kondisi jenuh kering permukaan.
iii. Penyedia Jasa harus dapat menunjukkan sertifikat kalibrasi yang masih
berlaku untuk seluruh peralatan yang digunakan untuk keperluan
penakaran bahan-bahan beton termasuk saringan agregat pada
perangkat ready mix.
(2) Pencampuran
i. Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis
dari jenis dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin
distribusi yang merata dari seluruh bahan.
ii. Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat
ukur yang akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang
digunakan dalam setiap penakaran.
iii. Cara pencampuran bahan beton dilakukan sebagai berikut, pertama
masukkan sebagian air, kemudian seluruh agregat sehingga mencapai
kondisi yang cukup basah, dan selanjutnya masukkan seluruh semen
yangsudah ditakar hingga tercampur dengan agregat secara merata.
Terakhir masukkan sisa air untuk menyempurnakan campuran.
iv. Waktu pencampuran harus diukur mulai pada saat air dimasukkan ke
dalam campuran bahan kering. Seluruh sisa air yang diperlukan harus
sudah dimasukkan sekira seperempat waktu pencampuran tercapai.
Waktu pencampuran untuk mesin berkapasitas m3 atau kurang
harus sekira 1,5 menit; untuk mesin yang lebih besar waktu harus
ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5 m3.
v. Bila tidak mungkin menggunakan mesin pencampur, Direksi Pekerjaan
dapat menyetujui pencampuran beton dengan cara manual dan harus
dilakukan sedekat mungkin dengan tempat pengecoran. Penggunaan
pencampuran beton dengan cara manual harus dibatasi hanya pada
beton non-bangunanal.
(3) Pengujian Campuran
i. Pengujian Untuk Kelecakan (Workability)
Satu pengujian "slump", atau lebih sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan, harus dilaksanakan pada setiap pencampuran
beton yang dihasilkan, dan pengujian harus dianggap belum dikerjakan
kecuali disaksikan oleh Direksi Pekerjaan atau wakilnya. Nilai slump
pada setiap campuran tidak boleh berada diluar rentang nilai slump (
2 cm) yang disyaratkan .
ii.

Pengujian Kuat Tekan


Penyedia Jasa harus membuat sejumlah set benda uji (3 buah benda
uji per set) untuk pengujian kuat tekan berdasarkan jumlah beton yang
dicorkan untuk setiap kuat tekan beton dan untuk setiap jenis
komponen bangunan yang dicor terpisah pada tiap hari pengecoran.

Untuk keperluan pengujian kuat tekan beton, Penyedia Jasa harus


menyediakan benda uji beton berupa silinder dengan diameter 150 mm
dan tinggi 300 mm, dan harus dirawat sesuai dengan SNI 03-48101998. Benda uji tersebut harus dicetak bersamaan dan diambil dari
contoh yang sama dengan benda uji silinder yang akan dirawat di
laboratorium.
Jumlah set benda uji yang dibuat berdasarkan jumlah kuantitas
pengecoran atau komponen bangunan yang dicor secara terpisah dan
diambil jumlah terbanyak diantara keduanya.
Pengambilan benda uji untuk pengecoran yang didapat dari
pencampuran secara manual, setiap 10 meter kubik beton harus dibuat
1 set benda uji dan untuk setiap komponen bangunan yang dicor
terpisah minimal diambil 3 set benda uji.
Jumlah benda uji yang harus dibuat untuk pengecoran hasil produksi
ready mix, diambil pada setiap pengiriman (1 set untuk setiap truk).
1set = 3 buah benda uji.
Setiap set pengujian minimum tersebut harus diuji untuk kuat tekan
beton umur 28 hari.
Apabila dalam pengujian kuat tekan benda uji tersebut terdapat
perbedaan nilai kuat tekan yang > 5% antara dua buah benda uji
dalam set tersebut, maka benda uji ketiga dalam set tersebut harus
diuji kuat tekannya. Hasil kuat tekan yang digunakan dalam
perhitungan statistik adalah hasil dari 2 buah benda uji yang
berdekatan nilainya. viii. Kekuatan beton diterima dengan memuaskan
bila fc karakteristik dari bendauji lebih besar atau sama dengan fc
rencana. fc karakteristik dihitungdengan rumus sebagai berikut : fc=
fcm k.S , di mana S menyatakan nilai deviasi standar dari hasil
ujitekan, dan k adalah konstanta yang tergantung pada jumlah hasil
kuat tekandari benda uji (k=1,64 untuk jumlah hasil kuat tekan benda
uji lebih besar atau sama dengan dari 30).

dimana,
fc = Kuat tekan beton karakteristik
fci = Kuat tekan beton yang diuji
fcm = Kuat tekan beton rata-rata

Nilai hasil uji tekan satupun tidak boleh mempunyai nilai di bawah 0,85
fc.
Jika salah satu dari kedua syarat tersebut di atas tidak dipenuhi, maka
harus diambil langkah untuk meningkatkan rata-rata dari hasil uji kuat
tekan berikutnya, dan langkah-langkah lain untuk memastikan bahwa
kapasitas daya dukung dari bangunan tidak membahayakan.

Jika dari hasil perhitungan dengan kuat tekan menunjukkan bahwa


kapasitas daya dukung bangunan berkurang, maka diperlukan suatu uji
bor (core drilling) pada daerah yang diragukan berdasarkan aturan
pengujian yang berlaku. Dalam hal ini harus diambil paling tidak 3
(tiga) buah benda uji bor inti pada daerah yang tidak membahayakan
bangunan untuk setiap hasil uji tekan yang meragukan atau terindikasi
bermutu rendah seperti disebutkan di atas.
Beton di dalam daerah yang diwakili oleh hasil uji bor inti bisa dianggap
secara bangunan antara lain cukup baik bila rata-rata kuat tekan dari
ketiga benda uji bor inti tersebut tidak kurang dari 0,85 fc, dan tidak
satupun dari benda uji bor inti yang mempunyai kekuatan kurang dari
0,75 fc. Dalam hal ini, perbedaan umur beton saat pengujian kuat
tekan benda uji bor inti terhadap umur beton yang disyaratkan untuk
penetapan kuat tekan beton (yaitu 28 hari, atau lebih bila disyaratkan),
perlu diperhitungkan dan dilakukan koreksi dalam menetapkan kuat
tekan beton yang dihasilkan.

(3) Pengujian Tambahan


Penyedia Jasa harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan
untuk menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton
akhir, sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pengujian
tambahan tersebut meliputi :
i. Pengujian yang tidak merusak menggunakan alat seperti Impact
Echo, Ultrasonic Penetration Velocity atau perangkat penguji lainnya
(hasil pengujian tidak boleh digunakan sebagai dasar penerimaan);
ii. Pengujian pembebanan bangunan atau bagian bangunan yang
dipertanyakan;
iii. Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton;
iv. Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.
(4) Perbaikan Atas Pekerjaan Beton Yang Tidak Memenuhi Ketentuan.
i. Perbaikan atas pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria
toleransi yang disyaratkan,atau yang tidak memiliki permukaan akhir
yang memenuhi ketentuan,atau yang tidak memenuhi sifat-sifat
campuran yang disyaratkan, harus mengikuti petunjuk yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan antara lain;
ii. Perubahan proporsi campuran beton untuk sisa pekerjaan yang belum
dikerjakan;
iii. Penanganan pada bagian bangunan yang hasil pengujiannya gagal;
iv. Perkuatan, pembongkaran atau penggantian sebagian atau
menyeluruh pada bagian pekerjaan yang memerlukan penanganan
khusus.
v. Jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal mutu pekerjaan beton
atau adanya keraguan dari data pengujian yang ada, Direksi
Pekerjaan dapat meminta Penyedia Jasa melakukan pengujian
tambahan yang diperlukan untuk menjamin bahwa mutu pekerjaan
yang telah dilaksanakan dapat dinilai dengan adil dengan meminta
pihak ketiga untuk melaksanakannya.

vi.

Perbaikan atas pekerjaan beton yang retak atau bergeser sesuai


dengan ketentuan dari Spesifikasi ini. Penyedia Jasa harus
mengajukan detail rencana perbaikan untuk mendapatkan
persetujuan Direksi Pekerjaan sebelum memulai pekerjaan.

K.1.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Pengukuran dan pembayaran yang perlu diperhatikan dalam pedoman
spesifikasi teknis pekerjaan beton harus memuat :
K.1.5.1 Pengukuran
1) Pekerjaan Beton
a) Cara Pengukuran
(1) Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan beton yang
digunakan dan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar
Kerja atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Tidak ada pengurangan
yang akan dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa dengan garis
tengah kurang dari 20 cm atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti
"water stop", baja tulangan, selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan
(weephole).
(2) Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang akan dilakukan untuk
acuan, perancah untuk balok dan lantai pemompaan, penyelesaian akhir
permukaan, penyediaan pipa sulingan, pekerjaan pelengkap lainnya\ untuk
penyelesaian pekerjaan beton, dan biaya dari pekerjaan tersebut telah
dianggap termasuk dalam harga penawaran untuk Pekerjaan Beton.
(3) Kuantitas bahan untuk lantai kerja, bahan drainase porous, baja tulangan dan
mata pembayaran lainnya yang berhubungan dengan bangunan yang telah
selesai dan diterima akan diukur untuk dibayarkan seperti disyaratkan pada
Bagian lain dalam Spesifikasi ini.
(4) Beton yang telah dicor dan diterima harus diukur dan dibayar sebagai beton
bangunan atau beton tidak bertulang. Beton Bangunan harus beton yang
disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai fc=20 MPa (K- 250)
atau lebih tinggi dan Beton Tak Bertulang harus beton yang disyaratkan atau
disetujui untuk fc=15 MPa (K-175) atau fc=10 Mpa (K- 125). Jika beton
dengan mutu (kekuatan) yang lebih tinggi diperkenankanmaka volumenya
harus diukur sebagai beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih rendah.
b) Pengukuran Untuk Pekerjaan Beton Yang Diperbaiki
(1) Jika pekerjaan telah diperbaiki, kuantitas yang akan diukur untuk pembayaran
harus sejumlah yang harus dibayar bila mana pekerjaan semula telah
memenuhi ketentuan.
(2) Tidak ada pembayaran tambahan akan dilakukan untuk tiap peningkatan kadar
semen atau setiap bahan tambah (admixture), juga tidak untuk tiap pengujian
atau pekerjaan tambahan atau bahan pelengkap lainnya yang diperlukan untuk
mencapai mutu yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.

K.1.5.2 Dasar Pembayaran


Kuantitas yang diterima dari berbagai mutu beton yang ditentukan
sebagaimana yang disyaratkan di atas setelah diadakan tes mutu karakteristik
dengan menggunakan Hammer Test yang dilaksanakan oleh Instansi
berwenang (Laboartorium Beton) dan di tanda tangani oleh Kepala Seksi
Pengujian dan Laboratorium.
Untuk mata pembayaran dan menggunakan satuan pengukuran yang
ditunjukkan dibawah dan dalam daftar kuantitas.
Apabila ternyata dari hasil laboratorium mutu beton tidak tercapai sesuai mutu
yang dipersyaratkan maka penyedia jasa harus membongkar/mengganti
dengan mutu beton yang dipersayaratkan.
Harga dan pembayaran harus merupakan kompensasi penuh untuk seluruh
penyediaan dan pemasangan seluruh bahan yang tidak dibayar dalam Mata
Pembayaran lain, termasuk "water stop", lubang sulingan, acuan, perancah
untuk pencampuran, pengecoran, pekerjaan akhir dan perawatan beton, dan
untuk semua biaya lainnya yang perlu dan lazim untuk penyelesaian pekerjaan
yang sebagaimana mestinya, yang diuraikan dalam Bagian ini.

L. PEKERJAAN BATU KALI


Ketentuan ketentuan dalam pasal ini berlaku baik untuk pekerjaan pasangan batu
kali yang digunakan dalam pasal lain sesuai dengan gambar ataupun yang
ditentukan dalam pasal-pasal ini atau spesifikasi teknik lainnya atau bilamana atas
persetujuan Direksi harus dipergunakan pada pelaksanaan.
Ketentuan dan persyaratan umum yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan
pasangan batu kali :
Toleransi
1) Pasangan Batu Kali (Batu dengan Mortar) dan Adukan Semen.
a) Sisi muka masing-masing batu dari permukaan pasangan batu dengan mortar
tidak boleh melebihi 1 cm dari profil permukaan rata-rata pasangan batu
dengan mortar di sekitarnya.
b) Untuk pelapisan selokan dan saluran air, profil permukaan rata-rata selokan
dan saluran air yang dibentuk dari pasangan batu dengan mortar tidak boleh
berbeda lebih dari 2 cm dari profil permukaan lantai saluran yang ditentukan
atau disetujui, juga tidak bergeser lebih dari 5 cm dari profil penampang
melintang yang ditentukan atau disetujui.
c) Tebal minimum setiap pekerjaan pasangan batu dengan mortar 10 cm.
d) Profil akhir untuk struktur kecil yang tidak memikul beban seperti lubang
penangkap dan lantai golak tidak boleh bergeser lebih dari 2 cm dari profil
yang ditentukan atau disetujui.
Persyaratan Bahan
1) Batu
i. Batu harus terdiri atas batu alam atau batu dari sumber bahan yang tidak
terbelah, yang utuh (sound), keras, awet, padat, tahan terhadap udara dan
air, dan cocok dalam segala hal untuk fungsi yang dimaksud.
ii. Mutu dan ukuran batu harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum
digunakan. Batu untuk pelapisan selokan dan saluran air sedapat mungkin
harus berbentuk persegi.
iii. Mutu batu harus sesuai dengan bahan batu pada Bagian Pekerjaan
Pasangan Batu Kosong dari spesifikasi ini.
iv. Kecuali ditentukan lain oleh Gambar atau Spesifikasi, maka semua batu
yang digunakan untuk pasangan batu dengan mortar harus mempunyai
dimensi lebih besar dari 10 cm.
2) Mortar
Mortar harus merupakan adukan semen yang memenuhi ketentuan Bagian
Adukan Semen dari Spesifikasi ini.
Adukan Semen
Semen harus memenuhi ketentuan dalam SNI 15-2049-1994
Agregat halus harus memenuhi ketentuan dalam AASHTO M45-04

Kapur tohor harus memenuhi ketentuan dalam jumlah residu, letupan dan
lekukan (popping & pitting), dan penahan air sisa untuk kapur jenis N dalam
ASTM C207
Air
Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya
harus bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam,
asam, basa, gula atau organis. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus
memenuhi ketentuan dalam SNI 03-6817-2002 Air yang diketahui dapat
diminum dapat digunakan. Jika timbul keragu-raguan atas mutu air yang
diusulkan dan pengujian air seperti di atas tidak dapat dilakukan, maka harus
diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar semen dan pasir dengan
memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air suling. Air yang
diusulkan dapat digunakan jika kuat tekan mortar dengan air tersebut pada
umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 % kuat tekan mortar dengan air suling
pada periode perawatan yang sama.
Persyaratan Kerja
1) Pasangan Batu dengan Mortar
a) Pengajuan Kesiapan Kerja
Sebelum mulai menggunakan setiap bahan batu yang diusulkan untuk
pekerjaan pasangan batu dengan mortar, Penyedia Jasa harus mengajukan
kepada Direksi Pekerjaan dua contoh batu yang mewakili, masing-masing
seberat 50 kg. Satu dari contoh batu akan disimpan oleh Direksi Pekerjaan
untuk rujukan selama periode Kontrak. Hanya batu yang disetujui oleh Direksi
Pekerjaan akan digunakan dalam pekerjaan.
Pekerjaan pasangan batu dengan mortar tidak boleh dimulai sebelum Direksi
Pekerjaan menyetujui formasi yang telah disiapkan untuk pelapisan.
b) Kondisi Tempat Kerja
Ketentuan yang disyaratkan dalam Persyaratan Pelaksanan Bagian Pekerjaan
Timbunan dari Spesifikasi ini tentang menjaga tempat kerja agar senantiasa
kering dan menjamin fasilitas sanitasi yang memadai tersedia di lapangan untuk
para pekerja, harus juga berlaku untuk pekerjaan pasangan batu dengan mortar
4) Adukan Semen
Dalam pengajuan kesiapan kerja Penyedia Jasa harus mengirimkan contoh dari
semua bahan yang akan digunakan dan dilengkapi dengan data pengujian yang
memenuhi seluruh sifat bahan sesuai dengan bagian ini.
Pelaksanaan Pekerjaan
Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan pasangan batu
adalah :
1) Pengaturan Lokasi Pembuatan Adukan
a) Lokasi pembuatan adukan perlu diatur sedemikian rupa agar dapat menjamin
kelancaran pekerjaan. Memudahkan bagi pengawas dan menjamin
tercapainya mutu adukan yang baik dan terlindung.

b) Pengadukan dilakukan sedekat mungkin dengan lokasi konsrtruksi yang akan


dibangun. Pasir dan semen disiapkan terpisah ditempat kering (lebih tinggi
dari tanah sekitarnya).
c) Kotak pengaduk dipasang ditempat datar dilokasi yang memudahkan bagi
petugas pengaduk dan pengangkutan adukan ke lokasi bangunan.
d) Drum air ditempatkan didekat kotak pengaduk kotak kotak takaran
disiapkan secukupnya dilokasi timbunan pasir dan semen. Gerobak
pengangkutan adukan dan ember disiapkan dekat kotak adukan kearah
konstruksi yang akan dibangun.
2) Persiapan Pondasi (Pasangan Batu)
a) Pondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan syarat
untuk Bagian Galian Spesifikasi ini.
b) Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar pondasi
untuk struktur dinding penahan harus tegak lurus, atau bertangga yang juga
tegak lurus terhadap muka dari dinding. Untuk struktur lain, dasar pondasi
harus mendatar atau bertangga yang juga horisontal.
c) Lapis landasan yang rembes air (permeable) dan kantung penyaring harus
disediakan jika disyaratkan sesuai dengan ketentuan.
d) Jika ditunjukkan dalam Gambar, atau yang diminta lain oleh Direksi
Pekerjaan, suatu pondasi beton mungkin diperlukan. Beton yang digunakan
harus memenuhi ketentuan dari Bagian Beton dari Spesifikasi ini.
3) Pelaksanaan Pemasangan Batu
a) Lakukan dan periksa persiapan yang meliputi penyediaan batu, pasir dan air
dilokasi kerja, kelengkapan peralatan dan alat bantu seperti kotak
penampung adukan, penampung air, plastik pelindung hujan, tukang batu
dan buruh pembantu, tenaga dan sarana pengangkutan adukan.
b) Ratakan lantai dasar bangunan, pasang profil sesuai gambar design
bangunan. Dalam kotak dan hamparkan serta ratakan pasir setebal 5 - 10 cm
sebagai lantai kerja.
c) Periksa dimensi dan elevasi profil dengan alat ukur (oleh juru ukur) dan minta
persetujuan Direksi bila telah selesai gambar kontrak.
d) Sebelum dipasang, batu harus dibersihkan dari lumpur atau tanah yang
melekat serta basahi dengan air agar ikatan dengan adukan menjadi kuat.
e) Pemasangan lapis batu pertama, diawali dengan menghamparkan adukan
setebal 3 - 5 cm, kemudian menyusun batu diatas hamparan dengan jarak 2
3 cm (tidak bersinggungan) pukul atau ketok-ketok batu tersebut agar
terikat kuat dengan adukan.
f) Isi rongga diantara batu-batu dengan adukan sampai penuh/mampat dengan
menggunakan sendok adukan.
g) Bila memerlukan suling-suling resapan sesuai design/kontrak (pada dinding
penahan, sayap bendung dan sebagainya). Suling dari pipa paralon yang
dibungkus ijuk diujung pipa bagian dalam dipasang bersamaan dengan
pasangan batu.
h) Letak suling resapan merupakan barisan dalam arah horizontal dengan jarak
tertentu sesuai gambar kontrak. Baris pipa suling berikutnya (diatasnya)
dipasang berselang-seling arah vertikal.

i) Apabila hujan atau setelah selesai, pasangan diitutup plastik agar pasangan
yang masih baru tersebut tidak rusak karena air hujan.
4) Pelaksanaan Kotak Adukan
a) Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai merata
dan dalam waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan air
mendekati titik jenuh. Landasan yang akan menerima setiap batu juga harus
dibasahi dan selanjutnya landasan dari adukan harus disebar pada sisi batu
yang bersebelahan dengan batu yang akan dipasang.
b) Adukan dibuat dengan perbandingan 1 bagian semen dan 4 bagian pasir (1
Pc : 4 Ps)
c) Masukkan dan ratakan 2 takar pasir dalam kotak pengaduk, disusul 1 takar
semen dan 2 takar pasir berikutnya.
d) Adukan campuran kering (tanpa air) dengan cangkul sampai rata (homogen) .
e) Tuangkan air sedikt demi sedikit sambil diaduk terus sampai diperoleh adukan
homogen. Adukan sudah baik apabila sudah terlihat lengket dan tidak terurai
saat dituang serta tidak ada yang tersisa diplat cangkul saat dituang tidak
terlalu kering, sehingga mudah digunakan.
f) Pembuatan adukan harus mengimbangi kecepatan pelaksanaan pasangan
batu. Tidak terlambat dan tidak boleh di buat terlalu banyak, adukan harus
sudah dipasang paling lama 1 jam setelah selesai diaduk.
g) Tebal dari landasan adukan harus pada rentang antara 2 cm sampai 5 cm dan
merupakan kebutuhan minimum untuk menjamin bahwa seluruh rongga
antara batu yang dipasang terisi penuh.
h) Banyaknya adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu waktu
haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang pada adukan baru yang
belum mengeras.
i) Jika batu menjadi longgar atau lepas setelah adukan mencapai pengerasan
awal, maka batu tersebut harus dibongkar, dan adukannya dibersihkan dan
batu tersebut dipasang lagi dengan adukan yang baru.
5) Pelaksanaan Plesteran
a) Bagian-bagian tertentu dari pasangan batu sesuai gambar design/kontrak
harus di plester. Plesteran dibuat dari campuran 1 bagian semen dan tiga
bagian pasir yang disaring atau sesuai dengan ketentuan dalam gambar
kontrak.
b) Tebal plesteran dibuat 2 - 3 cm dari permukaan batu, sebelum plesteran
dipasang diantara batu-batu harus dikorek sampai kedalaman 1 - 2 cm
dibawah permukaan batu. Kemudian permukaan pasangan dibersihkan dan
disiram air agar terjadi ikatan yang kuat antara pasangan dan plesteran.
6) Pelaksanaan Siaran
a) Bagian permukaan pasangan batu yang terlihat, sesuai kontrak atau petunjuk
Direksi harus disiar.
b) Siaran dibuat dari campuran 1 bagian semen dan 2 bagian pasir yang disaring
atau sesuai dengan ketentuan dalam gambar.
c) Sebelum siaran dipasang adukan pasangan diantara batubatu halus dikorek
sampai kedalaman 1-2 cm dibawah permukaan batu untuk jenis siar rata dan

siar timbul, dan 2-3 cm untuk jenis siar tenggelam, kemudian pasangan
dibersihkan dan disiram air agar terjadi ikatan yang kuat antara pasangan
siaran.
Pasangan Batu dengan Mortar
1) Metode Pekerjaan
a) Metoda pekerjaan saluran pasangan batu dengan mortar yang dilaksanakan
setiap satuan waktu harus dibatasi sesuai dengan tingkat kecepatan
pemasangan yang menjamin agar seluruh pekerjaan pasangan batu hanya
dipasang dengan adukan yang baru.
b) Jika pasangan batu dengan mortar digunakan pada lereng sebagai pelapisan
selokan, maka pembentukan penampang selokan pada tahap awal harus
dibuat seolah-olah seperti tidak akan ada pasangan batu dengan mortar.
Pemangkasan tahap akhir hingga batas-batas yang ditentukan harus
dilaksanakan sesaat sebelum pemasangan pasangan batu dengan mortar.
2) Penyiapan Formasi atau Pondasi
a) Formasi untuk pelapisan pasangan batu dengan mortar harus disiapkan
sesuai dengan ketentuan.
b) Pondasi atau galian parit untuk tumit (cut off wall) dari pasangan batu
dengan mortar atau untuk struktur harus disiapkan sesuai dengan ketentuan
Bagian Galian.
c) Landasan tembus air dan kantung saringan (filter pocket) harus disediakan
jika disyaratkan, sesuai dengan ketentuan.
3) Penyiapan Batu
a) Batu harus dibersihkan dari bahan yang merugikan, yang dapat mengurangi
kelekatan dengan adukan.
b) Sebelum pemasangan, batu harus dibasahi seluruh permukaannya dan
diberikan waktu yang cukup untuk proses penyerapan air sampai jenuh.
4) Pemasangan Lapisan Batu
a) Suatu landasan dari adukan semen paling sedikit setebal 3 cm harus dipasang
pada formasi yang telah disiapkan. Landasan adukan ini harus dikerjakan
sedikit demi sedikit sedemikian rupa sehingga permukaan batu akan tertanam
pada adukan sebelum mengeras.
b) Batu harus ditanam dengan kuat di atas landasan adukan semen sedemikian
rupa sehingga satu batu berdekatan dengan lainnya sampai mendapatkan
tebal pelapisan yang diperlukan di mana tebal ini akan diukur tegak lurus
terhadap lereng. Rongga yang terdapat di antara satu batu dengan lainnya
harus diisi adukan dan adukan ini harus dikerjakan sampai hampir sama rata
dengan permukaan lapisan tetapi tidak sampai menutupi permukaan lapisan.
c) Pekerjaan harus dimulai dari dasar lereng menuju ke atas, dan permukaan
harus segera diselesaikan setelah pengerasan awal dari adukan dengan cara
menyapunya dengan sapu yang kaku.
d) Permukaan yang telah selesai dikerjakan harus dirawat seperti yang
disyaratkan untuk Pekerjaan Beton dalam Pengerjaan Akhir dari Bagian Beton
dari Spesifikasi ini.
e) Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan
dirapikanuntuk memperoleh bidang antar muka yang rapat dan halus dengan

pasanganbatu dengan mortar sehingga akan memberikan drainase yang


lancar dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan pasangan batu dengan
mortar.
f) Pemasangan batu kali harus dilaksanakan dengan cara pemasangan
adukanmortar kemudian diikuti dengan batu sedemikian sehingga semua batu
akanterlapisi dengan adukan mortar. Dalam hal apapun pelaksanaan
pemasanganbatu tidak boleh dilakukan dengan cara menumpuk batu terlebih
dahulu batukemudian dituangkan adukan mortar ke atasnya.
5) Pelaksanaan Pasangan Batu Dengan Mortar Untuk Pekerjaan Struktur
a) Tumit (cut off wall) dan struktur lainnya yang dibuat dalam galian parit di
mana terdapat kestabilan akibat daya lekat tanah atau akibat disediakannya
cetakan, harus dilaksanakan dengan mengisi galian atau cetakan dengan
adukan setebal 60 % dari ukuran maksimum batu yang digunakan dan
kemudian dengan segera memasang batu di atas adukan yang belum
mengeras. Selanjutnya adukan harus segera ditambahkan dan proses
tersebut diulangi sampai cetakan tersebut terisi penuh. Adukan berikutnya
harus segera ditambahkan lagi sampai ke bagian puncak sehingga
memperoleh permukaan atas yang rata.
b) Jika bentuk batu sedemikian rupa sehingga dapat saling mengunci dengan
kuat, dan jika digunakan adukan yang liat, pekerjaan pasangan batu dengan
mortar untuk struktur dapat pula dibuat tanpa cetakan, sebagaimana yang
diuraikan untuk Pasangan Batu dalam Bagian Pasangan Batu dari Spesifikasi
ini.
c) Permukaan pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk struktur yang
terekspos harus diselesaikan dan dirawat seperti yang disyaratkan di atas
untuk pelapisan batu.
d) Penimbunan kembali di sekeliling struktur yang telah selesai dirawat harus
ditimbun sesuai dengan ketentuan Bagian Timbunan.
Adukan Semen
1) Pencampuran
a) Seluruh bahan kecuali air harus dicampur, baik dalam kotak yang rapat atau
dalam alat pencampur adukan yang disetujui, sampai campuran menunjukkan
warna yang merata, kemudian air ditambahkan dan pencampuran dilanjutkan
lima sampai sepuluh menit. Jumlah air harus sedemikian sehingga
menghasilkan adukan dengan konsistensi (kekentalan) yang diperlukan tetapi
tidak boleh melebihi 70 % dari berat semen yang digunakan.
b) Adukan semen dicampur hanya dalam kuantitas yang diperlukan untuk
penggunaan langsung. Jika diperlukan, adukan semen boleh diaduk kembali
dengan air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan awal. Pengadukan
kembali setelah waktu tersebut tidak diperbolehkan.
c) Adukan semen yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah air ditambahkan
harus dibuang.

2) Pemasangan
a) Permukaan yang akan menerima adukan semen harus dibersihkan dari
minyakatau lempung atau bahan terkontaminasi lainnya dan telah dibasahi
sampaimerata sebelum adukan semen ditempatkan. Air yang tergenang
padapermukaan harus dikeringkan sebelum penempatan adukan semen.
b) Jika digunakan sebagai lapis permukaan, adukan semen harus
ditempatkanpada permukaan yang bersih dan lembab dengan jumlah yang
cukup sehingga menghasilkan tebal adukan minimum 1,5 cm dan harus
dibentuk menjadi permukaan yang halus dan rata.
PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan pekerjaan pasangan batu kali harus
memuat :
1) Penerimaan Bahan
Bahan yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan bahan dengan
mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa bahan-bahan yang
telah diterima sesuai dengan ketentuan persyaratan bahan di atas.
2) Perbaikan Terhadap Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
a) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar yang tidak memenuhi toleransi yang
disyaratkan dalam persyaratan bahan di atas dari Spesifikasi ini harus
diperbaiki oleh Penyedia Jasa dengan biaya sendiri dan dengan cara yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
b) Jika kestabilan dan keutuhan dari pekerjaan yang telah diselesaikan
terganggu atau rusak, yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan diakibatkan
oleh kelalaian Penyedia Jasa, maka Penyedia Jasa harus mengganti dengan
biayanya sendiri untuk setiap pekerjaan yang terganggu atau rusak. Penyedia
Jasa tidak bertanggungjawab atas kerusakan yang timbul berasal dari alam
seperti angin topan atau pergeseran lapisan tanah yang tidak dapat
dihindarkan, dengan syarat pekerjaan yang rusak tersebut telah diterima dan
dinyatakan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan telah selesai.
3) Pemeliharaan Pekerjaan Yang Telah Diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Penyedia Jasa untuk melaksanakan perbaikan
terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana
disyaratkan di atas, Penyedia Jasa juga harus bertanggungjawab atas
pemeliharaan rutin dari semua pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk
drainase yang telah selesai dan diterima selama sisa Periode Kontrak termasuk
Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus dilaksanakan
dan harus dibayar terpisah.
Adukan Semen
1) Adukan Semen
Adukan yang digunakan untuk pekerjaan akhir atau perbaikan kerusakan pada
pekerjaan beton, sesuai dengan Pasal yang bersangkutan dari Spesifikasi ini,
harus terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur dalam proporsi yang sama
dalam beton yang sedang dikerjakan atau diperbaiki. Adukan yang disiapkan
harus memiliki kuat tekan yang memenuhi ketentuan yang disyaratkan untuk
beton dimana adukan semen dipakai.

2) Adukan Semen untuk Pasangan


Kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, adukan semen untuk pasangan
harus mempunyai kuat tekan paling sedikit 50 kg/cm2 pada umur 28 hari. Dalam
adukan semen tersebut kapur tohor dapat ditambahkan sebanyak 10% berat
semen.
PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
Pengukuran
1) Pasangan Batu dengan Mortar
a) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar harus diukur untuk pembayaran
dalam meter kubik sebagai volume nominal pekerjaan yang selesai dan
diterima.
b) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk pelapisan pada selokan dan
saluran air, atau pelapisan pada permukaan lainnya, volume nominal harus
ditentukan dari luas permukaan terekspos dari pekerjaan yang telah selesai
dikerjakan dan tebal nominal lapisan untuk pelapisan. Untuk keperluan
pembayaran, tebal nominal lapisan harus diambil yang terkecil dari berikut ini
:
i. Tebal yang ditentukan seperti yang ditunjukkan pada Gambar atau
diperintahkan Direksi Pekerjaan;
ii. Tebal aktual rata-rata yang dipasang seperti yang ditentukan dalam
pengukuran lapangan.
c) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar yang digunakan bukan untuk
pelapisan, volume nominal untuk pembayaran harus dihitung sebagai volume
teoritis yang ditetapkan dari garis dan penampang yang ditentukan atau
disetujui.
4) Adukan Semen
Adukan semen tidak akan diukur untuk pembayaran yang terpisah. Pekerjaan ini
harus dianggap sebagai pelengkap terhadap berbagai jenis pekerjaan yang
diuraikan dalam Spesifikasi ini.
Pembayaran
Kuantitas, ditentukan sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar dengan Harga
Kontrak per satuan dari pengukuran untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di
bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan
pemasangan semua bahan, untuk galian yang diperlukan dan penyiapan seluruh
formasi atau pondasi, untuk pembuatan lubang sulingan dan sambungan konstruksi,
untuk pemompaan air, untuk penimbunan kembali sampai elevasi tanah asli dan
pekerjaan akhir dan untuk semua pekerjaan lainnya atau biaya lain yang diperlukan
atau lazim untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan yang
diuraikan dalam
Bagian ini.

M. PEKERJAAN BEKISTING
M.1. UMUM
Pekerjaan bekisting harus termasuk penyediaan, pemasangan dan
pembongkaran bekisting untuk pekerjaan beton dengan kekuatan yang
cukup, lengkap dengan semua pengikat-pengikat yang diperlukan dan
menyokong sebagainya sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan dibawah
ini.
M.1.1 BAHAN
Semua material yang dipergunakan untuk acuan beton harus sesuai dengan
kebutuhan dan Spesifikasi. Balok kayu harus lurus, bebas dari cacat, dan
mempunyai permukaan yang halus dan seragam dalam lebar dan tebal
sebelum di pakai sebagai acuan.
Sesuai dengan spesifikasi dari permukaan beton, Acuan yang digunakan yaitu
:
1) Acuan (Bekisting Non-Expose), F1
Bahan yang dipakai sebagai acuan dapat dari papan kayu klas III setebal 2
(dua) sentimeter, diperkuat dengan rangka balok kayu 5/7 dan balok-balok
penopang acuan. Acuan ini dipasang untuk permukaan beton yang tertutup,
tidak nampak dari luar.
Acuan harus dipasang dengan sempurna, sesuai dengan bentuk-bentuk dan
ukuran yang benar seperti ditunjukkan dalam Gambar. Cara pendukungan
yang akan menghasilkan lubang-lubang atau tali-tali kawat yang membentang
pada seluruh lebar dari permukaan beton tidak dibenarkan. Acuan dibuat
pada permukaan beton dengan kemiringan lebih curam dari 1 : 3.
Acuan untuk permukaan beton harus sedemikian rupa untuk mencegah
hilangnya bahan-bahan dari beton dan bisa menghasilkan permukaan beton
yang padat. Jika dibutuhkan oleh Direksi acuan untuk permukaan beton yang
kelihatan harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan permukaan yang
halus tanpa adanya garis atau kelihatan terputus.
Tiap kali sebelum pembetonan dimulai, acuan harus diperiksa dengan teliti
dan dibersihkan. Pembetonan hanya boleh dimulai apabila Direksi sudah
memeriksa dan memberi persetujuan terhadap acuan yang telah dipasang.
Untuk pembetonan di cuaca panas atau kering, Kontraktor harus membuat
rencana acuan yang mudah dibuka sehingga permukaan-permukaan beton
dapat terlihat untuk dimulai perawatan sesegera mungkin.

M.1.2 PEMASANGAN
Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehinngga tanda/bekas sambungan
dari permukaan beton berada pada satu garis lurus secara horisontal dan
vertikal dan sambungan antara permukaan harus halus. Semua sudut atau
tepi dari beton terbuka permanen harus seperti ditunjukkan dalam Gambar
atau sesuai arahan Direksi.
Sebelum pengecoran, semua acuan harus dalam keadaan kaku, rapat, harus
bersih secara menyeluruh dan segala serbuk gergaji, gumpalan adukan
kering, bahan lain dan genangan air harus di buang diantara acuan.
Permukaan dari acuan beton harus diberi oli atau bahanlain yang disetujui
oleh Direksi. Pemberian oli pada permukaan acuan harus sebelum
pemasangan besi tulangan. Acuan yang telah dibiarkan dalam periode yang
lama dan telah mengering dapat diterima apabila permukaannya dipandang
masih cukup baik dan atas persetujuan Direksi.
Acuan dimana untuk permukaan menerus di tempatkan secara berurutan
harus dilakukan dengan hati hati untuk mencegah kemiringan permukaan.
Acuan dengan bahan dari multipleks untuk beton expose maksimum dipakai 2
(dua) kali pemakaian, dan acuan dari bahan papan kayu untuk beton non
expose dapat dipakai untuk 3 (tiga) kali pemakaian.
Penguat dalam (internal ties) yang dipasang untuk menahan acuan harus
cukup kuat menahan beban terhadap gaya horizontal dari adonan beton yang
dituang dalam acuan, biasanya dari besi 12 mm.
M.1.3 PEMBONGKARAN
Acuan hanya boleh dibuka dengan seijin Direksi. Harus diberi perhatian yang
besar pada waktu pembukaan acuan untuk menghindari kegoncangan atau
pembalikan tegangan beton. Dalam hal Direksi berpendapat bahwa usul
Kontraktor untuk membuka acuan belum disetujui berdasarkan perhitungan
cuaca atau dengan alasan lainnya, maka Kontraktor tidak boleh menuntut
kerugian atas penundaan tersebut.
Acuan beton tidak diijinkan untuk dibongkar hingga beton betul betul
mengeras dan kekuatannya telah cukup untuk menerima beban dengan
aman, bersamaan dengan beban konstruksi lain di atasnya.
Pembongkaran acuan harus hati hati agar terhindar dari rusaknya beton,
dan kerusakan beton harus diperbaiki sesuai dengan ketentuan di atas.
Periode Minimum yang Diijinkan untuk Pembongkaran Acuan

M.1.3 TOLERANSI
Penyelesaian permukaan beton harus dikerjakan oleh pekerja yang
berpengalaman. Permukaan yang tidak rata dapat di klasifikasikan sebagai
permukaan kasar atau bertahap. Pembentukan yang disebabkan oleh
pemindahan atau salah meletakkan acuan atau bagian acuan atau oleh simpul
tali yang lepas atau jika tidak acuan yang cacat akan diperlakukan sebagai
ketidakaturan kasar, dana akan dilakukan pengujian dengan diukur secara
langsung.
Semua ketidak teraturan akan dipertimbangkan sebagai ketidakteraturan
bertahap dan akan diuji dengan menggunakan alat yang terdiri dari suatu tepi
yang lurus atau sejenisnya untuk permukaan lengkung. Panjang dari alat
penguji adalah 1.50 meter untuk pengujian dari permukaan acuan dan 3.0
meter untuk pengujian permukaan yang tidak dibentuk. Setiap permukaan
beton harus difinishing, dimana setiap rongga/lobang yang ada harus segera
diisi dengan material semen begitu acuan dibuka.
M.1.4 PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan bekisting harus
memuat :
3) Penerimaan bahan
Bahan Kayu dll yang diterima harus diperiksa oleh pengawas penerimaan
bahan dengan mengecek/memeriksa bukti tertulis yang menunjukkan bahwa
bahan-bahan yang telah diterima harus sesuai dengan ketentuan persyaratan
bahan pada Pekerjaan Bekisting.
4) Pengawasan
Direksi pekerja harus menempatkan seorang personal khusus yang
mempunyai keahlian untuk melakukan pengawasan pekerjaan sesuai dengan
persyaratan kerja.

M.1.5 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


Pengukuran
Bekisting akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan yang digunakan
dan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar Kerja
atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Pembayaran
Pembayaran dilakukan berdasarkan volume bekisting yang telah di ukur
terpasang dalam satuan meter kubik.