Anda di halaman 1dari 54

TEORI PENGEMBANGAN WILAYAH

Wilayah adalah Daerah yang memiliki karakteristik yang sama baik secara
alam maupun manusia yang memiliki batas administratif yang jelas sesuai dengan
aturan yang telah ditetapkan dalam undang-undang yang berlaku. Perbedaan Antara
Perencanaan Wilayah Dan Perencanaan Sektoral
1. Perencanaan Wilayah

Lebih menitik beratkan pada ruang (spasial)

Perkembangan wilayah lebih di titik beratkan pada sektor ekonomi

Mengenal wilayah dengan potensi, kendala, dan masalah dari wilayah tersebut

Menggunakan asas desentrlisasi

Bertujuan untuk pembangunan wilayah

Harus ada keterpaduan antar sektoral atau lembaga

2. Perencanaan Sektoral

Perencanaan sektoral lebih menitik beratkan pada aspatial bukan keruangan

Ruang lingkup terdiri atas pertanian, industri, pertambangan, listrik, air,


perdagangan dan jasa , keuangan dan perbankan

Tidak melihat pada wilayah atau karekteristik wilayah diabaikan

Menggunakan asas dekonsentrasi (top down )

Bertujuan untuk pengembangan daerah

Tidak melihat dimensi kepentingan yang sangat penting

A. Teori-Teori Pengembangan Wilayah


Dalam mengembangan suatu wilayah diperlukannya beberapa teori-teori yang
dijadikan sebagai dasar atau acuan dalam pengembangan wilayahnya. Teori
pengembangan wilayah merupakan teori-teori yang menjelaskan bagaimana wilayah
tersebut akan berkembang, faktor-faktor yang membuat wilayah tersebut berkembang,
dan bagaimana proses perkembangannya. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan
sebagai berikut:
1.

Teori Export Base

Teori ini menjelaskan bahwa tumbuh dan berkembangnya suatu wilayah


merupakan fungsi dari tumbuh dan berkembangnya aktivitas export base/basis ekspor.
Aktivitas ekonomi suatu wilayah dilihat dari aktivitas ekonomi dasar (export base)
dan aktivitas ekonomi penunjang (service).
Teori export base yaitu teori ekonomi, pertama kali dikembangkan oleh
Douglas C. North pada tahun 1955. Menurut North, pertumbuhan wilayah jangka
panjang bergantung pada kegiatan industri expornya. Suatu wilayah memiliki sektor
ekspor karena sektor itu menghasilkan keuntungan dalam memproduksi barang dan
jasa, mempunyai sumber daya yang unik untuk memproduksi barang dan jasa,
mempunyai lokasi pemasaran yang unik, dan mempunyai beberapa tipe keuntungan
transportasi. Teori Teori export base mengandung daya tarik intuitif dan
kesederhanaan, seperti halnya dianggap sebagai dasar teori, berdasarkan konsep
beberapa sektor ekonomi eksternal ke dalam wilyah untuk menstimulasikan
perubahan secara cepat perubahan pendapatan wilayah bergantung pada perubahan
permintaan ekspor.
Kekuatan utama dalam pertumbuhan wilayah adalah permintaan eksternal
akan barang dan jasa, yang dihasilkan dan diekspor oleh wilayah tersebut. Permintaan
eksternal ini mempengaruhi pengguanaan modal, tenaga kerja, dan teknologi untuk
menghasilkan komoditas ekspor. Dengan kata lain, permintaan komoditas ekspor
akan membentuk keterkaitan ekonomi, baik kebelakang (kegiatan produksi) maupun
kedepan (sektor pelayanan).

Adapun penekanan teori ini adalah pentingnya keterbukaan wilayah yang


dapat meningkatkan aliran modal dan teknologi yang dibutuhkan untuk kelanjutan
pembangunan wilayah. Teori export base mengandung daya tarik intuitif dan
kesederhanaan. Teori ini memandang bahwa pada dasarnya aktifitas ekonomi dalam
suatu wilayah terbagi menjadi aktifitas basic (suatu aktifitas ekonomi yang cenderung
menjadi aktifitas eksport) dan aktifitas lokal (aktifitas sosio-ekonomi yang melayani
aktifitas basic dianggap sebagai tumbuh-kembangnya suatu wialyah). Termasuk pula
dalam teori ini , bagaimana peran SDA dalam perencanaan wilayah. Kelemahan dari
teori ini adalah hanya mengandalkan pada satu sektor saja. Teori export base adalah:

Teori yang membahas atau membagi wilayah kedalam dua barisan yaitu sektor
basis ( ekspor) dan non basis (pendukung ekspor)

Wilayah akan berkembang bila ekspor atau memiliki sektor basis multiplier
(bangkitan ekonmi yang

ditimbulkan aktivitas sektor basis sebagai

pertumbuhan wilayah)

Sedangkan sektor non basis merupakan pendukung dari sektor basis


Teori export base berasal dari teori lokasi dimana terdapat dua prinsip penting

dalam teori lokasi, yaitu :


1. Minimisasi ongkos (transport)
2. Maksimasi keuntungan
Aglomerasi merupakan keuntungan pemakaian bersama-sama input (bahan
baku) dan prasarana/infrastruktur yang sama. Terbentuknya kota dalam teori lokasi
dikarenakan oleh pemusatan kegiatan ekonomi. Terbentuknya pertumbuhan wilayah
menurut teori lokasi terdiri atas:
a. Wilayah terdiri dari satu wilayah kecil dan sifatnya (pengelompokan
masyarakat) masih bertani.
b. Adanya pengembangan sektor transportasi, ada hubungan masyarakat dengan
masyarakat lainnya (interaksi rasional), ada pengelompokan baru.
c. Perkembangan sektor transportasi antar rasional.

d. Tahap industrialisasi atau aglomerasi industri


e. Eksport-import merupakan comperative adventage (keuntungan dari wilayah )
Gambar 2
Sektor Eksport Base
Intra regional

Inter regional

Suatu wilayah akan berkembang dengan baik, jika wilayah tersebut mempunyai
sektor export base, sebab :
secara ekonomi keuntungannya meningkat
secara spasial akan membentuk nodal-nodal
Teori export base terdiri atas sektor basis dan sektor non basis. Dimana sektor basis
merupakan sektor penunjang yaitu :
1. industri penunjang penyediaan bahan baku
2. industri jasa perdagangan (perbankan, diklat)
3. industri penyedia industri untuk konsumsi lokal (pedagang eceran)

Keterkaitan antara sektor non basis dan basis menggunakan metode multiplier
effect yaitu bangkitan atau pengaruh yang ditimbulkan oleh sektor basis, dan sejauh
mana sektor basis mempengaruhi sektor non basis.

Prinsip export base adalah:


1. Suatu wilayah akan maju atau berkembang, maka wilayah tersebut akan
berorientasi pada eksport/permintaan dari luar (adanya sektor basis)
2. Adanya sektor non basis maka akan ada effect multiplier berlipat ganda,
aktivitas yang timbul dari aktivitas basis
Gambar 3
Effect Multiplier
3
2
1

Sumber : resume mata kuliah perencanaan wilayah

Jenis multiplier terdiri atas:


1. Multiplier lokal yaitu keuntungan yang diperoleh daerah itu sendiri
2. Multiplier non lokal, yaitu keuntungan yang diperoleh bukan oleh daerah itu
sendiri
Wilayah berkembang karena :
1. Proses multiplier (teori economic base)
2. Proses linkage (kleterkaitan) yaitu teori input output
3. Mobilitas sektor produksi dan perdagangan antar wilayah (teori neo klasik)
4. Siklus produksi (teori siklus produksi)
5. Timbulnya wiraswasta lokal (teori lokal ekonomi development)
Kelemahan dari teori export base adalah :
1. Tidak menjelaskan keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnnya,
sebab dalam export base menghitung /melihat perekonomian secara agregat
2. Tidak bisa menghitung effect yang dikeluarkan dari suatu investasi

3. Di satu wilayah, perkembangannya hanya diandalkan pada sektor basis


4. Hanya melihat dari segi demand side
Gambar 4
Proses Multiplier
Pemerintah dari
wilayah lain

Menciptakan aktivitas
produksi baru

Permintaan
tenaga kerja

Pengangguran
yang telah ada
sebelumnya di
daerah tsb

Permintaan input2 lain


(barang, Mesin, dll)

Para tenaga kerja


dari industri lain

Tenaga kerja
dari luar
wilayah

Bulak- balik
(commuters)

Basic

Menimbulkan permintaan
terhadap barang dan jasa

Pelayanan dan
barang2 yang
diproduksikan
secara lokal

Barang dan jasa


dari luar wilayah
lain.

Multiplier local

Sumber : resume mata kuliah perencanaan wilayah

Cara untuk mengetahui suatu sektor masuk dalam basic atau non basic,
menggunakan lingkage system (sistem keterkaitan). Diamana lingkage system yaitu:
bersifat antar daerah, bagaimana keterkaitan antar daerah terjadi, sehingga masingmasing daerah mampu untuk mengambil keuntungan (ekonomi) dari adanya
keterkaitan tersebut.
Penyebab adanya lingkage system adalah dari sumber daya yang diambil dari
tiap daerah terbatas, sehingga setiap wilayah tersebut harus memilih untuk
spesialisasinya pada barang dan jasa yang mempunyai keunggulan tinggi, bila
dibandingkan dengan daerah lain. Barang/jasa yang menjadi unggulan di daerah
tersebut (basis) disebut leading sector.

Linkage system mempelajari tentang aliran-aliran produksi, baik barang/jasa


yang potensial, sehingga lingkage system akan mampu menjawab permasalahan
tentang bagaimana posisi potensial/aktual suatu daerah terhadap interegional,
sehingga dapat memberikan basis/ dasar untuk memunculkan aliran, baik interregional maupun intra-regional dari barang/jasa untuk memperoleh perekonomian
daerah. Metoda yang digunakan dalam linkage adalah LQ (Location Quotiens)
merupakan metoda yang statis dalam membandingkan suatu daerah dengan daerah
yang lebih luas (referensi yang mencakup daerah tersebut).
Yang dibandingkan dalam LQ adalah :
1. Tenaga kerja, industri, atau sektor tertentu
2. Output/produk dari industri/sektor tertentu
asumsi daerah dalam LQ :
1. Wilayah itu sendiri (wilayah yang kecil)
2. Wilayah diluar wilayah tersebut (daerah yang lebih luas)

Keterangan :
Xa

= jumlah tenaga kerja/output yang dihasilkan oleh industri atau sektor

tertentu diwilayah yang lebih kecil


Xa

= jumlah total tenaga kerja/output yang dihasilkan oleh industri atau

sektor tertentu di wilayah yang lebih kecil


Xb

= jumlah tenaga kerja/output yang dihasilkan oleh industri atau sektor

tertentu di wialyah yang lebih besar


Xb

= jumlah total tenaga kerja/output yang dihasilkan oleh industri atau

sektor tertentu di wilayah yang lebih besar


Dimana nilai LQ :
LQ < 1 merupakan sektor non basis, daerah tersebut mempunyai ukuran
spesifikasi lebih kecil (under representatif), bila dibandingkan dengan daerah

referensinya (daerah yang lebih besar pada industri/ sektor x (sektor


penunjang)
LQ

> 1

merupakan sektor basis,

daerah tersebut mempunyai ukuran

spesifikasi lebih besar (over representatif), bila dibandingkan dengan daerah


referensinya (daerah yang lebih besar pada industri/ sektor x (sektor
penunjang)
LQ = 1 memiliki ukuran sama (bukan basis ataupun non basis)

2.

Teori Pentahapan
Pandangan teori tersebut menekankan bahwa suatu wilayah/negara akan

mengalami pertumbuhan secara linier. Teori pentahapan ini dikembangkan oleh


sependuduk ahli ekonomi.
a.

Rostow
Yang mengatakan bahwa : Pentingnya Investasi dan Inovasi. Menyatakan

bahwa suatu wilayah / negara tumbuh dan berkembang melalui tahapan/fase yang
sama,

yaitu

tradisionalprakondisi

tinggal

landastinggal

landasmenuju

kematangansampai dengan tingkat konsumsi masa tinggi. Misalnya: dari pertanian


di kembangkan industri yang memerlukan investasi dan modal untuk dikembangkan
lagi menjadi perdagangan dan jasa. Dimana faktor investasinya adalah keterampilan
sedangkan modal adalah teknologi dan infrastruktur .
Teori pembangunan ekonomi ini muncul pada awalnya merupakan artikel
yang dimuat dalam Economic Journal (1956), selanjutnya dikembangkan dalam buku
yang berjudul The Stages of Economics, (1960). Teori pembangunan Rostow ini
termasuk dalam teori linier tahapan pertumbuhan ekonomi, yang memandang proses
pembangunan sebagai suatu tahap-tahap yang harus dialami oleh seluruh negara.
Proses pembangunan sebagai suatu urutan tahap-tahap yang harus dilalui oleh seluruh
negara. Industrialisasi merupakan salah satu kunci dari perkembangan

Menurut Walt W. Rostow, pembangunan ekonomi atau transformasi suatu


masyarakat tradisional menjadi suatu masyarakat modern merupakan proses yang
multidimensi. Pembangunan ekonomi bukan saja pada perubahan dalam struktur
ekonomi, tetapi juga dalam hal proses yang menyebabkan:
1) Perubahan reorientasi organisai ekonomi
2) Perubahan masyarakat
3) Perubahan penanaman modal, dari penanam modal tidak produktif ke
penanam modal yang lebih produktif
4) Perubahan cara masyarakat dalam membentuk kedudukan sesependuduk
dalam sistem kekeluargaan menjadi ditentukan oleh kesanggupan melakukan
pekerjaan
5) Perubahan pandangan masyarakat yang pada mulanya berkeyakinan bahwa
kehidupan manusia ditentukan oleh alam
Dalam

dimensi

ekonominya

menurut

Rostow,

semua

masyarakat

dikelompokkan ke dalam salah satu dari lima tahap pertumbuhan, yakni:


a. Masyarakat tradisional (the traditional society)
b. Prasyarat pra-lepas landas (precondition for take-off)
c. Lepas landas (take-off)
d. Tahap menuju kematangan (the drive to maturity)
e. Masyarakat berkonsumsi tinggi (the age of high mass consumption)

Konsep dasar Teori Tahapan Pertumbuhan Rostow:


1. Ada pentahapan pembangunan yang harus dilalui oleh seluruh negara:
a. Masyarakat tradisional (the traditional society) /fungsi produksi yang
terbatas, didasarkan pada teknologi dan ilmu pengetahuan yang sederhana
dan sikap masyarakat primitif, serta berpikir irasional /meliputi
masyarakat yang sedang dalam proses peralihan, yaitu suatu periode yang
sudah mempunyai prasyarat-prasyarat untuk lepas landas.
b.

Prasyarat untuk take-off (Pre conditions for take-off /tinggal landas)

c. Take off /dimotori oleh teknologi industri dan pertanian, pembagunan


prasarana serta tumbuhnya kekuatan politik yang sangat peduli akan
modernisasi dan pertumbuhan ekonomi
d. Tahap menuju kematangan (drive to maturity) /didasari oleh pertumbuhan
industri yang beraneka ragam dan telah terkait dengan pasar internasional.
e. Komsumsi Masal (High Mass Consumption) /pendapatan per kapita yang
tinggi dan persoalaan telah beralih dari pertumbuhan industri ke
kesejahteraan sosial yang lebih tinggi (Walfare State).

2.

Perlu peranan pemerintah pada proses tersebut (perencanaan).

Rostow membagi sektor-sektor ekonomi dalam tiga sektor pertumbuhan:


a) Sektor primer /sektor pertanian
b) Sektor Supplemen /sektor yang tumbuh sebagai pertumbuhan sektor primer
seperti pertambangan dan pengakutan.
c) Sektor tarikan (derived sector)/industri dan perumahan.

b. Douglass North
Menyatakan bahwa suatu wilayah / negara tumbuh dan berkembang
mengikuti pola definitif (tahapan yang jelas, yaitu : subsistansi ekonomi
perdagangan dan spesialisasi lokal perdagangan antar wilayahindustrilisasi
spesialisasi pada industri tersier (jasa).

c. Gunnar Myrdal
Pada pertengahan tahun 1950-an, Gunnar Myrdal (1957) melontarkan thesis
tentang keterbelakangan yang terjadi di negara-negara berkembang. Menurut Myrdal
adanya hubungan ekonomi antara negara maju dengan negara belum maju yang telah
menimbulkan ketimpangan internasional dalam pendapatan per kapita dan
kemiskinan di negara yang belum maju.

Adapun faktor utama yang menyebabkan ketimpangan ini adalah adanya


kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, adanya pasar yang luas dan konsentrasi
modal keuangan di negara maju.
Kemakmuran kumulatif timbul di negara maju dan kemiskinan kumulatif
dialami rakyat di negara miskin. Dengan perkataan lain, hubungan ekonomi antara
negara maju dengan negara miskin menimbulkan efek balik (backwash effect) yang
cenderung membesar terhadap negara miskin. Myrdal (1957) mengemukakan
pemikirannya mengenai prakondisi struktural yang harus dimiliki oleh negara sedang
berkembang dalam melaksanakan proses pembangunan, antara lain adalah sebagai
berikut :
1. Sebagian besar rakyat di negara sedang berkembang berada dalam situasi
kekurangan gizi yang parah dan berada dalam kondisi yang menyedihkan baik
dalam tingkat kesehatan, fasilitas pendidikan, perumahan dan sanitasi
2. Sebagian besar rakyat di negara sedang berkembang berada dalam situasi
kekurangan gizi yang parah dan berada dalam kondisi yang menyedihkan baik
dalam tingkat kesehatan, fasilitas pendidikan, perumahan dan sanitasi.
3. Adanya struktur sosial yang sangat timpang sehingga alokasi sumber-sumber
ekonomi yang produktif sangat banyak untuk keperluan memproduksi barangbarang mewah (conspicuos consumption).
Menurut Myrdal, upaya untuk memberantas kemiskinan di negara yang
belum maju harus dilakukan dengan campur tangan pemerintah terutama dalam
mempengaruhi kekuatan pasar bebas.
Kemudian tentang teori keunggulan komparatif yang digunakan oleh ahli
ekonomi neoklasik tidak dapat dijadikan petunjuk untuk proses alokasi sumbersumber ekonomi. Harus ada perlindungan atas industri-industri rakyat yang belum
berkembang dari persaingan dengan luar negeri.

3.

Teori Neo klasik


Suatu negara/ wilayah berkembang berdasarkan tahapan tahapan mulai dari

tradisional pratradisional sampai pada tahap moderinisasi, dengan pemikiran dasar


bahwa mekanisme pasar berkembang untuk mencapai keseimbangan, ekonomi
merupakan aspek penting dalam pengembangannya dan proses perkembangan
ekonomi dapat diramalkan.
Dalam kaitan dengan negaranegara yang sudah berkembang. Teori
pertumbuhan ekonomi pada pertengahan abad ke-20 pada dasarnya bersumber pada
Karya Tinbergen (1942) dan Harrod (1939) kedua ahli ekonomi ini melihat bahwa
dalam pertumbuhan nasional. Modal (investasi) merupakan bagian dari output
nasional. Akan tetapi mereka mempunyai pandangan yang berbeda terhadap peran
teknologi dalam pertumbuhan nasional. Tinbergen yakin bahwa teknologi dapat
diganti (disubstitusi) oleh buruh/pegawai dan modal (capital), sedangkan Harrod
percaya bahwa buruh dan modal bersifat saling melengkapi satu dengan lainnya
(perfectly complementary to each other).
Ahli ekonomi lainnya, Kaldor (1957, 1961, 1962) mengajukan teori
pertumbuhan ekonomi pada negara-negara yang sudah maju, yang berbeda dari apa
yang dikemukakan oleh Tinbergen dan Harrod. Pada dasarnya model kaldor adalah
kombinasi dari teori Keynes tentang saving, yaitu rate of groth adalah sama dengan
produk rete keuntungan (profit rate) dan kecenderungan untuk menabung profit
tersebut (the propensity to save out of profits), dan teknologi.
Pada tahun 1954 W.A. Lewis memperkenalkan sebuah teori tentang
pembangunan ekonomi pada kotak jumlah labor yang tidak terbatas. Lewis
beragumentasi bahwa baik teori Keynes ataupun teori Neo-klasik tentang
pertumbuhan ekonomi yang ada pada saat itu tidak dapat diterapkan pada negaranegara dengan surplus buruh yang tidak terbatas.
Basis model Lewis adalah bahwa ekonomi nasional negara-negara yang
terbelakang dapat dibagi menjadi dua sektor, yaitu tradisional (agricultire) dan
modern (industrial) sektor. Pertumbuhan dalam sektor-sektor industri dapat

menyerap surplus tenaga kerja dalam sektor pertanian, sampai terjadi suatu
keseimbangan baru (eqilibrium) dengan asumsi bahwa tingkat upah pada sektor
industri lebih tinggi dari pertanian (Lewis, 1958).
Sampai di sini, dapat dikatakan bahwa teori Neo-klasik tentang pertumbuhan
ekonomi, baik untuk negara yang sudah dan sedang berkembang, mencoba
menjelaskan

saling-ketergantungan

antara

komponen-komponen

pertumbuhan

ekonomi, seperti model, tabungan, buruh, teknologi dan pertumbuhan penduduk.


Menurut teori-teori ini, mekanisme pasar (eqilibrium mechanism) bekerja untuk
mengoreksi

ketidakseimbangan

(disequilibirum)

masyarakat

yang

sedang

berkembang adalah faktor penggerak utama bagi pengembangan masyarakat tersebut


(Rimmer dan Forbes, 1982). Dalam hal ini model-model, teknik-teknik dan idealideal yang telah dikembangkan di masyarakat yang telah maju dapat digunakan untuk
masyarakat yang sedang berkembang. Kedua, pertumbuhan ekonomi merupakan
tujuan utama, dan ketiga, pengunaan teknik-teknik statistik dapat memberikan
jawaban (Mc Gee, 1978). Dalam teori neoklasik terdapat:

Terdapat istilah keseimbangan jangka panjang

Campur tangan pemerintah tidak di perlukan, karena seiring dengan


berjalannya waktu pasti akan terjadi keseimbangan antar wilayah
Teori neoklasik merupakan reaksi dari teori klasik dimana pertumbuhan

ekonomi suatu negara tergantung pada kekuatan pasar yaitu : modal (Capital), tenaga
kerja (labour), teknologi dengan rumus :
Yt = Kt + Lt+Tt
Keterangan :
Yt

= tingkat pertumbuhan ekonomi negara tahun t

Kt

= jumlah/stok modal tahun t/tingkat pertumbuhan modal

Lt

= jumlah tenaga kerja tahun t

Tt

= tingkat teknologi tahun t

= tingkat produksi yang dihasilkan dengan penambahan/unit kapital/

kontribusi kapital terhadap output


= tingkat produksi yang dihasilkan dengan penambahan satu unit

tenaga kerja/kontribusi tenaga kerja terhadap output


Asumsi
+ =1
=1-
Yt = Kt x L1-
Perbedaan antara klasik dan neo klasik adalah :
1. Klasik dalam hal rasio, modal dan produksi tetap/berbanding lurus
2. Neo klasik dalam hal rasio, modal dan produksi berubah tergantung berapa
besar kita memberi proporsi modal dan tenaga kerja
Gambar 5
Perbandingan Klasik Dan Neo Klasik
Harord Domar (Klasik)

Cobb Douglas (Neo Klasik)

K
N2

K1

B = MP

K3
K2
K2
K1

L1

L2

L3

L2

L1

Pertumbuhan wilayah (Regional Growth) bisa dilihat dari :

Output PDRB (satuan yang digunakan untuk menggambarkan output)

Output /tenaga kerja

Output/penduduk total

PDRB/nilai tambah dipengaruhi oleh : teknologi (peningkatan teknologi bisa


menekan ongkos produksi), modal (dari dan dalam wilayah itu sendiri atau dari luar
ilayah itu sendiri), dan tenaga kerja. Dalam konteks wilayah, output/PDRB
digambarkan dengan batasan:
Gambar 6
Pertumbuhan Wilayah
Output
(Pertumbuhan Wilayah)

Teknologi

Capital

Dalam
(Investasi
Penduduk dari Dalam)

Tabungan

Luar
(Investasi
Penduduk dari luar)

Tenaga Kerja

Dalam
jumlah
penduduk
yang
mau bekerja/usia
produktif
di
wilayah tersebut

Luar
Perbedaan
upah

Tingkat
untuk
mengembalikan
utang
Pajak, infrastruktur,
pemasaran.

Faktor produksi dalam teori neo klasik terdiri dari tenaga kerja dan modal.
Faktor yang mempengaruhi perpindahan modal adalah : biaya produksi, pajak,
fasilitas, infrastruktur, dan kelengkapan wilayah yang meliputi :

Perpindahan arus modal

Perpindahan arus tenaga kerja


Masalah yang timbul adalah : wilayah tidak selamanya sama (ada yang maju

dan ada yang terbelkang , perbedaan tingkat upah (ada yang tinggi dan ada yang

rendah). Pada negara maju, pasti terdapat ketidakmerataan pembangunan pada


daerahnya sebab modal dan tenaga kerja terkonsentrasi pada satu wilayah tertentu
saja. Terdapat proses yang alami. Yaitu ada ketidakmerataan arus modal dan tenaga
kerja, serta pada suatu wilayah akan tercpai kemerataan.
Diversensi pada awal perkembangan wilayah yaitu konversensi wilayah
setelah mencapai tingkat equilibrium pada suatu titik ( tingkat upah tidak akan naik
dan kebijaksanaan pemerintah). Neo klasik sebagai mobilitas faktor produksi dan
perdagangan antar wilayah.

4.

Keynessian Theory (Keseimbangan)

Model negara ditempatkan di wilayah teori pertumbuhan wilayahnya


berbicara mengenai keuntungan aglomerasi, lokasi dan pola migrasi penduduk

Terdapat campur tangan pemerintah

Teori ini lahir pada tahun 1930 untuk menjawab krisis ekonomi dunia .
Gambar 7
Sistem Ekonomi Tertutup
Upah/sewa

Pajak

Pajak

Negara

Perusahaan

Rumah Tangga
Pengeluaran Pemerintah

Gaji

Pengeluaran RT berupa konsumsi

Gambar 8
Sistem Ekonomi Terbuka
Negara

Perusahaan

Import

Import

Rumah Tangga

Import
Ekspor

Luar Negeri

Model keseimbangan yaitu pendapatan = pengeluaran dengan rumus:


Y = C + i + G + (x-m)
Keterangan :

5.

C
= konsumsi
I
= Investasi
G
=
Government
(APBD/APBN)

X
M

= eksport
= import

Commulative Causative (Keynes, Myrdal)


Berbicara tentang interfensi atau interaksi (akan ada gaya dari inti ke

pinggiran) antara wilayah inti dengan wilayah pinggiran


Verdoorn Effect : suatu wilayah yang telah berkembang akan lebih berkembang,
akumulasi dan terus menerus mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Gambar 9
Commulative Causative
Lokasi wilayah
ekspor yang baru

Meningkatkan
populasi dan tenaga
kerja

Memperluas
lokal

Meningkatkan
aglomerasi ekonomi

supply

Pembangunan infrastruktur
Meningkatkan
pelayanan lokal
Meningkatkan tenaga
kerja

Meningkatkan sektor
pelayanan
Memperluas
wilayah
dengan basis keuangan

Sumber : resume mata kuliah perencanaan wilayah

Untuk mengetahui seberapa besar ketimpangan suatu wilayah dapat dihitung


dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

Keterangan :

Vw
Yi
Y
Fi
n

= ketimpangan wilayah
= pendapatan perkapita daerah
= pendapatan perkapita negara
= jumlah penduduk daerah i
= jumlah penduduk nasional

6.

Teori Daerah/Wilayah Inti

Friedmann (1964) menganalisis aspek-aspek tata ruang, lokasi, serta


persoalan-persoalan kebijakan dan perencanaan pengembangan wilayah dalam ruang
lingkup yang lebih general. Pusat-pusat besar pada umumnya berbentuk kota-kota
besar, metropolis atau megapolis, dikategorisasikan sebagai daerah inti, dan daerahdaerah yang relatif statis sisanya merupakan, subsistem-subsistem yang kemajuan
pembangunannya ditentukan oleh lembaga-lembaga di daerah inti dalam arti bahwa
daerah-daerah pinggiran berada dalam suatu hubungan ketergantungan yang
substansial. Daerah inti dan wilayah pinggiran bersama-sama membentuk sistem
spasial yang lengkap.
Pada umumnya daerah-daerah inti melaksanakan fungsi pelayanan terhadap
daerah-daerah sekitarnya. Beberapa daerah inti memperlihatkan fungsi yang khusus,
misalnya sebagai pusat perdagangan atau pusat industri, ibu kota pemerintah, dan
sebagainya.
Hubungan dengan peranan daerah inti dalam pembangunan spasial,
Friedmann mengemukakan lima buah preposisi utama, yaitu sebagai berikut (N.M.
Hansen; 1972, 96-99 dalam Adisasmita; 119):
1. Daerah inti mengatur keterhubungan dan ketergantungan daerah-daerah di
sekitarnya melalui sistem supply, pasar dan daerah administrasi.
2. Daerah inti meneruskan secara sistematis dorongan-dorongan inovasi ke
daerah-daerah di sekitarnya yang terletak dalam wilayah pengaruhnya.
3. Sampai pada suatu titik tertentu pertumbuhan daerah inti cenderung
mempunyai pengaruh positif dalam proses pembangunan sistem spasial, akan
tetapi mungkin pula mempunyai pengaruh negatif jika penyebaran
pembangunan wilayah inti kepada daerah-daerah di sekitarnya tidak berhasil
ditingkatkan, sehingga keterhubungan dan ketergantungan daerah-daerah di
sekitanya terhadap daerah inti menjadi berkurang.

4. Dalam suatu sistem spasial, hirarki daerah-daerah inti ditetapkan berdasar


pada kedudukan fungsionalnya masing-masing meliputi karakteristikkarakteristiknya secara terperinci dan prestasinya.
5. Kemungkinan inovasi akan ditingkatkan ke seluruh daerah sistem spasial
dengan cara mengembangkan pertukaran informasi.
Teori ini memiliki kelemahan yaitu :

Teori ini tidak membahas masalah pemilihan lokasi optimum industri dan
tidakpula menentukan jenis investasi apa yang sebaiknya ditetapkan di pusatpusat urban, oleh karena itu mereka di klasifikasikan sebagai tanpa tata ruang.

Dominannya pusat-pusat urban dapat menimbulkan dampak negatif yaitu


munculnya susunan-susunan ketergantungan dualistik menimbulkan akibatakibat yang mendalam bagi pembangunan nasional.

7.

Model Gravitasi Sebagai Faktor Penting Penentu Lokasi


Model gravitasi adalah model yang paling banyak digunakan untuk melihat

besarnya daya tarik dari suatu potensi yang berada pada suatu lokasi. Model ini sering
di gunakan untuk melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh
dari potensi tersebut. Dalam perencanaan wilayah, model ini sering dijadikan alat
untuk melihat apakah lokasi berbagai fasilitas kepentingan umum telah berada pada
tempat yang benar. Selain itu, apabila kita ingin membangun suatu fasilitas yang baru
maka model ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang optimal. Artinya,
fasilitas itu akan digunakan sesuai dengan kapasitasnya. Model gravitasi berfungsi
ganda, yaitu sebagai teori lokasi dan sebagai alat dalam perencanaan.
Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan
ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang
potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai
macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006:77).

Terkait dengan lokasi maka salah satu faktor yang menentukan apakah suatu
lokasi menarik untuk dikunjungi atau tidak adalah tingkat aksesibilitas. Tingkat
aksesibilitas adalah tingkat kemudahan untuk mencapai suatu lokasi ditinjau dari
lokasi lain di sekitarnya (Tarigan, 2006:78). Menurut Tarigan, tingkat aksesibilitas
dipengaruhi oleh jarak, kondisi prasarana perhubungan, ketersediaan berbagai sarana
penghubung termasuk frekuensinya dan tingkat keamanan serta kenyamanan untuk
melalui jalur tersebut. Dalam analisis kota yang telah ada atau rencana kota, dikenal
standar lokasi (standard for location requirement) atau standar jarak (Jayadinata,
1999:160) seperti terlihat pada Tabel berikut:
Tabel 1
Standar Jarak Dalam Kota
No

Prasarana

Pusat tempat kerjaPusat kota (dengan pasar, dan


sebagainya)Pasar lokal
2
Sekolah Dasar
3
Sekolah Menengah Pertama
4
Sekolah Lanjutan Atas
5
Tempat bermain anak-anak dan taman lokal
6
Tempat olah raga dan pusat lalita (rekreasi)
Taman untuk umum atau cagar (seperti kebun
7
binatang, dan sebagainya
Sumber: Chapin dalam Jayadinata (1999:161)
1

8.

Jarak dari tempat tinggal (berjalan


kaki)
20 sampai 30 menit30 sampai 45
menit km atau 10 menit
km atau 10 menit
1 km atau 20 menit
20 atau 30 menit
km atau 20 menit
1 km atau 20 menit
30 sampai 60 menit

Teori Penempatan Lokasi Pusat Pelayanan Kota


Penempatan lokasi suatu pusat pelayanan kota pada prinsipnya harus

mempertimbangkan aspek keruangan dengan cermat. Hal tersebut berlaku bagi semua
hirarki struktur pusat pelayanan kota, mulai dari tingkat pusat kota, sub pusat kota
atau pusat bagian wilayah kota, sampai kepada pusat lingkungan, penempatan lokasi
yang tepat akan dapat mewujudkan sistem pelayanan kota yang baik dan efisien.
Secara umum, pusat pelayanan tersebut harus ditempatkan pada lokasi yang sentral.

Terdapat beberapa teori yang berkaitan dengan lokasi pusat pelayanan kota,yaitu:

Pendapat Christaller (1933) dalam teori tempat pusat:


Konsumen (penduduk pengguna fasilitas) akan berusaha mencari pusat
pelayanan yang terdekat. Hal ini berarti bahwa pusat pelayanan tersebut harus
ditempatkan pada daerah kosentrasi permukiman penduduk. Setiap pusat
pelayanan akan saling terhubung oleh suatu jaringan heksagonal. Dalam konteks
dunia modern saat ini, pendapat Christaller ini dapat diartikan bahwa lokasi
pusat pelayanan kota harus sedekat mungkin dengan daerah kosentrasi
permukiman penduduk. Sementara itu, jaringan heksagonal dapat diartikan
sebagai jaringan pergerakan yang menghubungkan antara bagian wilayah kota
yang satu dengan yang lainnya. Jadi, pusat pelayanan kota harus berlokasi di
simpul-simpul pertemuan jaringan pergerakan yang satu dengan yang lainnya.
Sehingga pusat pelayanan tersebut dapat dengan mudah dicapai penduduk.

Pendapat Rushton (1979):


Lokasi yang paling optimum untuk sebuah pusat pelayanan kota adalah lokasi
yang paling mudah diakses/dicapai oleh penduduk. Terdapat beberapa kriteria
yang dapat mendefinisikan kaidah most accecible ini, seperti kriteria minimasi
jarak total, kriteria minimasi jarak rata-rata, kriteria minimasi jarak terjauh,
kriteria pembebanan merata, kriteria batas ambang, serta kriteria batas kapasitas.

B. Konsep Pertumbuhan Wilayah


Jenis konsep pertumbuhan wilayah terdiri atas :

Develop from above

Develop from below

LED (Local Economic Development)

1.

Konsep Development From Above (Top Down),


Berorientasi pada kota besar, berasal dari teori neo klasik (Capital Factor)

mobilitas faktor. Jenis-jenis teori ini terdiri atas :


1. Intermediate City
2. Sistem Kota-kota
3. Backwash Effect (Penyedotan sumber daya dari desa ke kota)
4. Growth Pole , didasari oleh adanya unbalance growth.
Balance adalah cenderung membagi investasi yang sama pada setiap daerah.
Unbalance growth difokuskan pada daerah-daerah yang memiliki linkage yang besar
karena perkembangannya berbeda-beda maka investasi diarahkan pada satu titik saja.
Primate city (kota yang sangat besar) memiliki masalah yaitu kota menjadi tidak
efisien lagi, sehingga penduduk mencari rumah di pinggiran kota dan akan
membutuhkan ongkos transport yang besar untuk menuju tempat kerja serta waktu
yang relatif lama.
Penyelesaian dengan membuat intermediate city (kota kecil dan kota menengah
atau kota baru). Fungsi intermediate city yaitu agar sebaran aktivitas primate city
dapat menyebar ke intermediate city dan konsep/sistem perkotaan terpadu.
Gambar 10
Primate City
Primate City

Kota Jenjang I
Kota Jenjang II

Aktivitas yang dikembangkan adalah ekonomi, sosial dan budaya, dan lain
sebagainya. Akan tetapi tidak mudah memindahkan aktivitas tersebut. Oleh karena itu
dapat melalui insentif dan disinsentif,

kebijakan yang tepat serta rencana yang

komperhensif. Ide dasar intermediate city adalah menciptakan kota terpadu dan

menciptakan keterkaitan antar kota sesuai dengan fungsinya masing-masing (tercipta


sistem koleksi dan distribusi) menghasilkan sistem perkotaan yang mencakup sistem
transportasi, termasuk didalamnya jaringan jalan regional.
Ciri utama dari Growth Pole adalah :
a. Konsep Leading Industries (perusahaan skala besar) tercipta linkage yang
sangat kuat dan efektifitas tinggi.
b. Polarisasi yaitu terciptanya aglomerasi dan memperkecil suatu sektor yang
memiliki keterkaitan dengan banyak sektor untuk mengefisiensikan prasarana.
c. Spreed Effect yaitu terjadinya perkembangan ke daerah pinggiran karena
polarisasi tidak efisiensi lagi, misalnya penyebaran penduduk ke pinggiran
kota.
Dalam growth pole pertumbuhan yang terjadi dalam suatu wilayah hanya
terjadi di titik titik tertentu . kutub-kutub pertumbuhan dengan asumsi :
a. Perkembangan wilayah tidak terjadi pada setiap tempat, hanya terjadi pada
titik-titik tertentu.
b. Wilayah berkembang karena adanya sistem transportasi
c. Perkembangan antar titik-titik tersebut tidak sama, tegantung teknologi,
komunikasi dan transportasi.
Faktor pendorong mobilitas yaitu transportasi karena perkembangannya
berbeda, maka investasi diarahkan pada satu titik saja.
Kritik yang timbul dari top down : tidak memperhatikan keunikan antar
daerah, cenderung tidak dapat mendorong partisipasi masyarakat, masyarakat
seringkali hanya dapat menerima, dan cenderung mengakibatkan polarisasi
dibandingkan spreed effect.

2.

Konsep Development from below (Bottom Up)


Muncul dari pendekatan development from below, sangat memperhatikan

keunikan

antar

daerah

(sumber

daya

manusia,

sumber

daya

alam,

institusi/kelembagaan, budaya dan ekonomi), masyarakat ikut berpartisipasid alam


proses perencanaan. Prosesnya adalah sebagai berikut:
1. Masalah akses masyarakat terhadap tanah (harus ada pembahasan kepemilikan
tanah)
2. Pendekatan basic need, ada interaksi pemeritnah untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat yang ada di daearah pinggiran
3. Menentukan nilai tambah komoditi pertanian
4. Pemilihan teknologi, mencari bentuk-bentuk teknologi yang sesuai dengan
keunikan tiap daerah, dan bsia digunakan oleh masyarakat.
5. Infrastruktur pedesaan (jaringan jalan, listrik, dll)
6. Sektor unggulan yang akan dikembangkan
7. Keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses
pembangunan
Development from below terdiri atas konsep agropolitan yang merupakan
respon atas kegagalan dari industrialisasi konsepnya mengembangkan sektor-sektor
pertanian dengan mengembangkan konsep daya lahan dan adanya partisipasi dari
masyarakat. dengan ciri agropolitan dengan ciri agropolitan yaitu : ekpor bahan baku,
investasi dari luar negeri dan pinjaman dari luar negeri (subtitusi import) serta
investasi sektor pertanian. Pada tahun 1970-an terdapat kebijakan orientasi ekspor,
beberapa karakteristik yang dikembangkan adalah impor teknologi, low cost labour,
capital insentif, high production standard. Indikasi dari dualisme adalah:

Urbanisasi di kota-kota

Konsentrasi populasi di beberapa tempat (spasial)

Ketidakmerataan pendapatan, pengangguran tinggi dan kemiskinan

Ketergantungan dari luar negeri

3.

Konsep LED (Local Economic Development)


Konsep pengembangan Local Economic Development (LED), merupakan

konsep pengembangan wilayah yaitu pembuatan Networking (jaringan) antara aktor


(Stakeholder) yang ada di pusat (Centre) dengan aktor yang ada di pinggiran atau
pedesaan (Hinterland).
Adapun untuk definisi Pembangunan Ekonomi Lokal (Local Economic
Development) lain dari para pakar/ahli sebagai berikut:

Menurut World Bank :


Pembangunan Ekonomi Lokal adalah proses dimana pemerintah lokal dan
organsisasi masyarakat terlibat untuk mendorong, merangsang, memelihara,
aktivitas usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan

Menurut International Labour Organization (ILO):


Pembangunan Ekonomi Lokal adalah proses partisipatif yang mendorong
kemitraan antara dunia usaha dan pemerintah dan masyarakat pada wilayah
tertentu, yang memungkinkan kerjasama dalam perancangan dan pelaksanaan
strategi pembangunan secara umum, dengan menggunakan sumber daya local
dan keuntungan kompetitif dalam konteks global, dengan tujuan akhir
menciptakan lapangan pekerjaan yang layak dan merangsang kegiatan ekonomi.

Menurut A. H. J. Helming :
Pembangunan Ekonomi Lokal adalah suatu proses dimana kemitraan yang
mapan antara pemerintah daerah, kelompok berbasis masyarakat, dan dunia
usaha mengelola sumber daya yang ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan
dan merangsang (pertumbuhan) ekonomi pada suatu wilayah tertentu.
Menekankan pada kontrol lokal, dan penggunaan potensi sumber daya manusia,
kelembagaan dan sumber daya fisik.

Menurut Bank Dunia, ILO, Blakely & Bradshaw


Pembangunan Ekonomi Lokal adalah usaha mengoptimalkan sumber daya lokal
yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat lokal dan organisasi
masyarakat untuk mengembangkan ekonomi pada suatu wilayah.

Dari sisi masyarakat, Pengembangan Ekonomi Lokal diartikan sebagai upaya


untuk membebaskan masyarakat dari semua keterbatasan yang menghambat
usahanya guna membangun kesejahteraannya. Kesejahteraan tersebut dapat diartikan
secara khusus sebagai jaminan keselamatan bagi adat istiadat dan agamanya, bagi
usahanya, dan bagi harga dirinya sebagai mausia. Semua jaminan tersebut tidak dapat
diperoleh dari luar sistem masyarakat karena tidak berkelanjutan, dan oleh karena itu
harus diupayakan dari sistem masarakat itu sendiri yang kerap kali disebut
kemandirian.
Dengan

demikian,

pembangunan

ekonomi

lokal

merupakan

upaya

pemberdayaan masyarakat ekonomi dalam suatu wilayah dengan bertumpukan


kepada kekuatan lokal, baik itu kekuatan nilai lokasi, sumber daya alam, sumber daya
manusia, teknologi, kemampuan manajemen kelembagaan (capacity of institutions)
maupun asset pengalaman (Haeruman, 2001).
Adapun definisi Pembangunan Ekonomi Lokal tersebut memfokuskan
kepada:
Peningkatan kandungan lokal
Pelibatan stakeholders secara substansial dalam suatu kemitraan strategis
Peningkatan ketahanan dan kemandirian ekonomi
Pembangunan bekeberlanjutan
Pemanfaatan hasil pembangunan oleh sebagian besar masyarakat lokal
Pengembangan usaha kecil dan menengah
Pertumbuhan ekonomi yang dicapai secara inklusif
Penguatan kapasitas dan peningkatan kualitas sumber daya manusia
Pengurangan kesenjangan antar golongan masyarakat, antar sektor dan antar
daerah
Pengurangan dampak negatif dari kegiatan ekonomi terhadap lingkungan.

Dalam konteks mikro, Local Development Economic merupakan kritik


terhadap pendekatan growth pole dan ide dasarnya yaitu pemberdayaan masyarakat
(pengembangan wirausaha pada masyarakat lokal).

Inti dari teori ini adalah

bagaimana cara menumbuhkan wiraswasta lokal, menumbuhkan/pendayagunaan


lembaga-lembaga pada tingkat lokal dan institusi lokal, yang harus diberdayakan
adalah :

lembaga keuangan (dapat memberikan kredit/pinjaman pada masyarakat


lokal)

lembaga pelatihan /balai pelatihan (memebrikan keterampilan-keterampilan


yang potensial untuk membangun daerah tersebut)

penelitian (hasil dari penelitian harus dikoordinasikan dengan lembaga


lainnya)

lembaga pemasaran

Gambar 11
Ilustrasi Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal

Industri
Quality Control

Proses Produksi
Hasil Panen

Petani Komoditas

Hasil Produsi

Market

Keterangan:
Penghasil Bahan Baku
Pengumpul Bahan Baku serta
Sentra Produksi Lokal
Kota Kecil/Pusat Kegiatan Lokal
Kota Sedang/Besar (market)
Jalan & Dukungan Sapras
Batas Kws Lindung, budidaya,
dll

Tabel 2
Kelebihan Dan Kelemahan Pengertian Local Economic Development
No.

Pembuat Definisi

Fokus

Kelebihan

Kelemahan

1.

The World Bank

Meningkatkan daya saing Berorientasi bukan hanya Tidak dijelaskan:


Pertumbuhan ekonomi
kepada
tujuan
yaitu aspek kelokalannya
yang berkelanjutan
pertumbuhan
ekonomi Kelayakan
lapangan
kerja
Meningkatkan kualitas
dan kesempatan kerja
bagaimana proses pelibatan
pertumbuhan
akan tetapi juga kepada
stakeholder tersebut apakah
ekonomiBerorientasi
proses
harus
partisipatif
atau
kepada pemerataan
tidak.aspek lokasi dimana PEL
tersebut
dilaksanakan
atau
terjadi.

2.

Blakely dan
Bradshaw

Menciptakan lapangan
pekerjaan

Berorientasi bukan hanya


kepada tujuan akan tetapi
juga kepada proses

3.

ILO

Proses harus partisipatif


Lokasi PEL pada wilayah
tertentu
Menciptakan lapangan
pekerjaan yang layak
Merangsang kegiatan
ekonomi

4.

A. H. J. Helming

Kemitraan antar
stakeholder
Kontrol lokal
Merangsang
pertumbuhan ekonomi
dan lapangan pekerjaan

Berorientasi kepada
output dan proses.
Pelibatan stakeholder
harus partisipastif
Sifat kelokalan
ditunjukkan dari
penggunaan sumber daya
lokalAspek lokasi
ditunjukkan bahwa PEL
dilakukan pada wilayah
tertentu.
Berorientasi kepada
output dan proses.
Aspek lokasi ditunjukkan
bahwa PEL dilakukan
pada wilayah tertentu.
Sifat kelokalan
ditunjukkan dari
penggunaan sumber daya
lokal

Tidak dijelaskan:
Kelayakan lapangan kerja
keberlanjutan dari penciptaan
lapangan pekerjaan tersebut.
Aspek
pemerataan
aspek
kelokalannya bagaimana proses
pelibatan stakeholder tersebut
apakah harus partisipatif atau
tidak
Tidak menjelaskan aspek lokasi
Tidak menjelaskan keberlanjutan
pembangunan
aspek pemerataan
aspek lokasi dimana PEL
tersebut dilaksanakan atau
terjadi.

Tidak mencantumkan
keberlanjutan pembangunan
Tidak menjelaskan aspek
pemerataan bagaimana proses
pelibatan stakeholder tersebut
apakah harus partisipatif atau
tidak
Kelayakan lapangan kerja
tersebut

4.

Konsep Pengembangan Wilayah Dari Sudut Pandang Agropolitan Dan


Selective Spatial Closure

Latar

Belakang

Strategi

Pengembangan

Wilayah

dalam

perspektif

Development from Below


Pendekatan konsep pengembangan wilayah yang berbasis pada kekuatan
ekonomi dan sumber daya lokal, merupakan suatu respon terhadap pendekatan yang
bersifat top-down. Mekanisme pola ketergantungan (dependency) serta struktur
hubungan produksi dan distribusi yang berbeda antara core dan periphery, yang
sangat kontras dengan pemikiran sistem integrasi pusat-pusat dalam suatu lingkup
sistem jaringan, tidak memungkinkan terjadinya proses penjalaran atau yang
dikenal dengan trickling down effects.
Berkaitan dengan dependency serta distorsi yang terjadi antara wilayah core dan
periphery (kesenjangan wilayah), Myrdall (1957), Hirschman (1958), dan
Friedmann (1966), mengatakan bahwa ekonomi wilayah yang terintregasi dan
terkait dengan basis ekonomi dunia yang tidak seimbang akan menimbulkan dua
kecenderungan fenomena. Pertama, aktivitas pembangunan yang mengarah pada
gejala polarisasi atau backwash effect. Dan kedua, leakage atas pemanfaatan sumber
daya vital suatu wilayah untuk kepentingan metropolis (core atau leading region)
maupun negara lain.
Permasalahan juga ditekankan pada kesulitan untuk menstimulate keterkaitan
ekonomi antara industri-industri di pusat dengan daerah belakangnya, serta
ketimpangan opurtunitas yang dimiliki dalam segi skala ekonomi, potensi perubahan
struktur sumber daya manusia dan teknologi oleh core dan periphery. Sehingga gejala
yang umum terjadi adalah mobilitas kapital, tenaga kerja dan sumber daya
terakumulasi di kutub-kutub pertumbuhan ( growth pole ) sementara akibat pengaruh
leakages eksternal maupun internal yang terjadi, wilayah periphery makin tertinggal.

Bertolak dari konsepsi pemikiran bahwa leakages atas proses produksi lokal
akan meminimisasi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut, teori Development From
Below mensyaratkan adanya suatu tahapan dalam internalisasi sumber daya untuk
menghasilkan produk bagi pemenuhan konsumsi masyarakat lokal, misalnya melalui
cara pengembangan industri padat karya skala kecil. Atau secara ekstrem dapat
dikatakan melakukan perubahan di dalam institusi dan keterkaitan hubungan struktur
ekonomi. Hal

ini didukung pendapat Hirschman (1957), bahwa pengembangan

wilayah atas suatu periphery hanya dapat dilakukan dengan melindunginya dari
pengaruh polarisasi wilayah. Ditinjau dari sudut pandang ekonomi wilayah, usaha
internalisasi yang dilakukan dalam bentuk komponen elemen-elemen produksi
(sumber daya maupun investasi) dimaksudkan untuk memaksimalkan efek mulitiplier
lokal terhadap sektor-sektor perekonomian wilayah melalui kontrol backwash effects
yang terjadi dengan bertumpu pada karakter dasar wilayah tersebut.

Konsep Pemikiran Development from Below


Proses internalisasi potensi lokal wilayah merupakan awal bagaimana suatu

wilayah dapat berkembang. Menurut perspektif teori ini, terdapat berbagai strategi
pendekatan pengembangan wilayah, yaitu
fungsional,

pendekatan pengembangan territorial,

dan pendekatan agropolitan. Secara umum pendekatan- pendekatan

tersebut memfokuskan pada upaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap


wilayah pusat.
Perbandingan pendekatan pengembangan wilayah berdasarkan konsep Development
from Below :
1. Hubungan (linkage) dengan Wilayah Lain
Pengembangan territorial memiliki keterkaitan terbesar terhadap wilayah lain,
dalam hal ini wilayah yang secara fungsional hirarkhinya lebih tinggi dari wilayah
tersebut, sehingga setiap perubahan yang terjadi di wilayah luar akan turut
mempengaruhi

perkembangan

internal

region.

Sedangkan

pendekatan

pengembangan Agropolitan meniadakan sama sekali linkage dengan region lain.

Dalam hal ini berarti wilayah tersebut berkembang secara independen tanpa
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh region lain.
2. Kemungkinan Wilayah Penerapan
Pengembangan territorial dan fungsional tidak mensyaratkan secara tegas potensi
tertentu yang harus dimiliki oleh suatu wilayah. Sementara itu pendekatan
pengembangan agropolitan secara tegas mensyarakatkan potensi sumber daya
alam yang tinggi, terutama bagi negara-negara yang tertinggal pembangunannya
(negara dunia ketiga).
3. Perhatian atas Aspek Penunjang
Teritorial dan fungsional terlampau fokus kepada upaya mengembangkan wilayah
tanpa mempersiapkan infrastruktur lain yang mendukung sektor tertentu yang
akan dikembangkan. Agropolitan mempersiapkan secara matang aspek-aspek lain
yang akan menunjang sektor yang dikembangkan. Misalnya untuk suatu distrik
agropolitan yang berbasis sektor pertanian, maka akan ditunjang pula dengan
sektor industri yang menghasilkan alat-alat pertanian, perdagangan yaitu
perdagangan yang memasarkan hasil-hasil industri dan pertanian itu; dan sektor
jasa lainnya yang secara keseluruhan menunjang berkembanganya sektor
pertanian.
4. Sistem Manajemen
Dalam pengembangan teritorial, keterkaitan antara pusat dan pinggiran
dimanifestasikan dengan sistem birokrasi desentralisasi dan dekonsentrasi yang
masih memungkinkan adanya interaksi kontrol-pertanggungjawaban antara pusat
dengan daerah. Sementara itu agropolitan distrik mempunyai wewenang penuh
untuk mengontrol pemanfaatan

sumber daya alamnya. Pada bagian lain,

pendekatan pengembangan fungsional lebih mengalami proses birokrasi yang


kompleks.
5. Tuntutan Adanya Leading Core
Pada konsepsi pengembangan agropolitan tidak dituntut adanya leading core,
dalam artian jika semua wilayah memiliki homogenitas dalam struktur

perekonomian, konsepsi ini dapat dikembangkan. Namun, dalam pengembangan


teritorial dan fungsional, mekanisme pengembangan wilayah dapat terjadi jika
sudah terdapat leading core dalam sistem perwilayahannya.

Agropolitan dan Selecive Spatial Closure Sebagai Konsep Pengembangan


Wilayah
Agropolitan District Growth merupakan suatu kebijakan tertutup dalam

strategi pengembangan wilayah. Pada dasarnya konsep pengembangan wilayah


Agropolitan (Friedmann dan Douglass, 1976) berawal dari tingkat perkembangan
yang berbeda dan keterkaitan yang tidak simetris yang mengarah pada terjadinya
leakage sehingga menyebabkan terjadinya distorsi antara rural dan urban.
Pengembangan rural yang berkelanjutan dengan basis pemenuhan kebutuhan dasar
merupakan salah satu saran dari pendekatan Agropolitan.
Oleh karena itu dibentuk unit- unit rural- urban yang independen di dalam satu
Agropolitan District. Hubungan rural- urban dalam district tersebut didasarkan
pada keterkaitan yang saling menguntungkan, serta kesamaan peran dalam interaksi
skala territorial yang terkecil. Persepsi ini didukung oleh Taylor (1979) yang
mengatakan bahwa dalam konteks ini ukuran kota yang kecil akan mengurangi
terjadinya leakage dari wilayah agraris yang muncul akibat adanya keterkaitan antar
wilayah. Karakteristik- karakteristik dari unit- unit Agropolitan (prasyarat) yang
dapat dijadikan sebagai dasar asumsi pengembangan teori ini adalah :
1. Ukuran wilayah yang relatif kecil
2. Lokasi; terletak di hinterland negara- negara dunia ketiga
3. Kedaan sosial-budaya, politik, dan ekonomi relatif identik secara keruangan.
4. Tingkat kemandirian tinggi yang didasarkan pada partisipasi aktif masyarakat
serta kerjasama di tingkat lokal termasuk di dalamnya pemenuhan kebutuhan
dan pengambilan keputusan oleh masyarakat lokal.
5. Diversifikasi lapangan pekerjaan baik pertanian maupun non-pertanian dengan
penekanan pada pertumbuhan industrialisasi rural area

6. Adanya fungsi industri di wilayah urban-rural yang terkait pada sumber daya
dan struktur ekonomi lokal
7. Adanya teknologi yang mengacu pada pemanfaatan sumber daya lokal.
8. Jumlah penduduk berkisar antara 50.000 150.000
9. Pembatasan jarak antar unit yang memungkinkan terjadinya kecenderungan
commuting.
Upaya menghindari ketergantungan (berupa impor faktor produksi ataupun
barang-barang kebutuhan dasar basic needs) antara periphery dengan core region
diwujudkan melalui tindakan atau strategi pengembangan dalam menutup peluang
terjadinya interaksi dengan hal-hal sbb :
Adanya pengendalian ketat terhadap pemanfaatan sumber daya alam. Hal ini
dilakukan dengan memberikan kesempatan sebesar-besarnya terhadap sektor
yang dapat meningkatkan kualitas lokal secara kontinyu, dan menjadi basis
ekonomi yang permanen, yang dimungkinkan untuk sektor yang memanfaatkan
sumber daya yang dapat diperbarui (renewable resources). Bentuk perhatian
lebihnya adalah dengan menyediakan fasilitas training bagi tenaga kerjanya,
pemberian subsidi, dan akses perkreditan. Sementara itu bagi sektor lainnya akan
dikembangkan ke arah yang mendukung sektor utama di atas.
Meminimasi hubungan fisik antara core region dan periphery region. Dalam hal
ini berarti pembangunan jaringan infrastruktur yang menghubungkan kedua
region tersebut tidak diperhatikan dan titik berat pembangunan infrastruktur
jaringan jalan difokuskan di dalam wilayah itu sendiri.
Adanya kebersediaan pelaku ekonomi, dalam hal ini pemilik modal untuk selalu
menginvestasikan modalnya di wilayah sendiri meskipun rate of return wilayah
lain nilainya lebih besar.
Adanya populasi

yang homogen, mengingat

fondasi

dari

agropolitan

development adalah kebudayaan asli masyarakat setempat maka wilayah tersebut


mungkin akan menerapkan kebijakan ketat atas arus migrasi masuk.

Pembangunan infrastruktur lain dan pengembangan sektor lain yang menunjang


pertumbuhan sektor utama. Dengan syarat, keterkaitan antar sektor- sektor
tersebut berada pada satu wilayah agropolitan district.
Pengembangan perencanaan pengembangan wilayah Agropolitan diarahkan pada
strategi yang pada dasarnya bertujuan untuk mencapai kondisi tertentu dan
keuntungan dari penutupan wilayah, yaitu:
1. Menginternalkan efek multiplier dan pengaruh- pengaruh eksternal melalui
penekanan pada keterkaitan lokal dan fungsi yang saling melengkapi antara
pertanian dan industri sehingga akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
2. Kebijaksanaan penyamarataan kepemilikan aset produktif diantaranya, lahan,
modal, dan public goods, serta kebijaksanaan redistribusi pendapatan.
Regional leakage dan Bottom-Up Strategies: Menuju Strategi Selective
Spatial Closure. Konsepsi pengembangan wilayah selective spatial closure ( Stohr
dan Todtling, Some Anti-Thesis to Current Regional Development Doctrine,1979)
merupakan aplikasi pendekatan yang bersifat teritorial dan fungsional dari
Development From Below yang secara essensial didasarkan pada pemanfaatan
sumber daya wilayah yang terintegrasi pada skala keruangan yang berbeda dan
merupakan aplikasi bentuk pengembangan yang ditujukan umumnya pada wilayah
yang terbelakang ( periphery ) akibat implementasi serta pengaruh dari polarisasi
wilayah ( Lo dan Salih, 1981). Inti dari konsep, yang pada dasarnya harus
disesuaikan dengan latar belakang dan kondisi wilayah tersebut,
kontrol aliran faktor produksi

adalah adanya

atau kontrol hubungan eksternal yang bersifat

merugikan terhadap pengembangan wilayah. Pengembangan yang berbasiskan


teritorial ini, tetap akan memenuhi eksternal demand dan memanfaatkan sumber daya
ekternal (dari luar wilayahnya), dengan pertimbangan bahwa tingkat pemenuhan dan
pemanfaatan tersebut tidak mengurangi tingkat utilitas dari kebutuhan dasar
masyarakat lokal serta mobilisasi sumber daya wilayah yang tersedia.

Pengendalian tersebut berkaitan dengan adanya fenomena ketergantungan


(dependensi) antara wilayah periphery dengan core, maupun bentuk dependency yang
berakar dari hierarki sistem perekonomian dunia. Ketergantungan ini terwujudkan
dengan adanya

beberapa sektor impor maupun ekspor yang secara langsung

mempengaruhi laju pertumbuhan wilayah tersebut. Konkritnya, semakin banyak


sektor impor maka semakin besar ketergantungan wilayah periphery terhadap wilayah
core ataupun terhadap ruang lingkup linkage skala ekonomi yang lebih luas.
Sedangkan kinerja sektor ekspor yang berlebihan berpengaruh secara langsung pada
ketersediaan sumber daya bagi pemenuhan kebutuhan lokal, dan hal ini dapat
dikatakan sebagai suatu bentuk dari backwash effect akibat pengaruh pola
dependency ekonomi.
Selective spatial closure berusaha memilah dengan mempertimbangkan tingkat
kemampuan atau kontribusi masing-masing sektor tersebut terhadap perkembangan
wilayah itu (periphery). Dalam artian, meskipun sektor yang terpilih untuk
dikembangkan tersebut memiliki kecenderungan untuk meningkatkan terjadinya
proporsi leakages ( dengan pertimbangan tidak besar pengaruhnya terhadap mobilitas
lokal sumber daya wilayah ), tetapi secara fungsional memiliki pengaruh yang lebih
besar terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah dan membangkitkan efek mulitiplier
lokal karena keterkaitannya yang tinggi, sektor tersebut dapat dimungkinkan menjadi
sektor utama yang menumpu perkembangan wilayah. Seleksi lainnya dilakukan
dengan cara melihat potensi lokal yang mungkin dikembangkan dalam hal ini dengan
menilai kemungkinan pemanfaatan faktor produksi lokal yang dapat mensubstitusi
faktor produksi yang semula menjadi input bagi salah satu sektor di periphery dan
input itu berasal dari luar (core region).
Pada perspektif dependensi,

ketergantungan wilayah periphery terhadap

wilayah core dapat dihilangkan dengan memutuskan sama sekali hubungan antar
kedua wilayah tersebut. Artinya jika suatu wilayah periphery ingin berkembang,
wilayah tersebut harus memutuskan semua hubungan dengan wilayah core.

Perspektif ini berbeda dengan selective spatial closure, dimana pada perspektif ini
terjadi pemilihan hubungan, input maupun output faktor produksi.
Sebagai gambaran aplikasi konsep selective spatial closure, misalnya suatu
wilayah periphery memiliki tiga sektor pengembangan, yaitu pertanian, tekstil, dan
sepatu. Ketiga sektor tersebut memiliki hubungan dengan wilayah core. Dalam
perspektif dependensi, jika wilayah periphery ingin berkembang, maka wilayah
tersebut harus memutuskan hubungan terhadap wilayah core. Namun, teori selective
spatial closure memilah- milah sektor yang paling besar memberi kontribusi dan
dapat membangkitkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut, misalnya sektor
tekstil; dengan keterkaitan sektor tersebut terhadap industri hulu dan hilir maka
sektor ini menjadi sektor utama pengembangan wilayah tersebut, walaupun terjadi
leakage dengan wilayah core.
Proses seleksi lainnya diilustrasikan melalui adanya suatu pre-condition.
Misalnya, sektor tekstil yang menjadi andalan perkembangan wilayah namun input
produksinya berupa kapital intensif yang berasal dari core region. Tindakan
pemutusan hubungan dengan wilayah pusat dapat dilakukan apabila terdapat faktor
produksi yang mensubstitusi input produksi, misalnya kapital intensif disubstitusi
dengan labor intensif apabila wilayah ini mempunyai tenaga kerja yang murah.
Proses seleksi di atas kemudian ditindaklanjuti dengan membandingkan tingkat
kemampuan masing-masing sektor untuk men-generate perkembangan wilayah.
Pada dasarnya, implementasi program di dalam kebijaksanaan selective
spatial closure didasarkan atas upaya meningkatkan taraf tingkat self sufficiency
suatu wilayah, dengan memandang peran dan posisinya di dalam kontelasi serta
hierarki sistem perwilayahan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan
adanya perkembangan ataupun perubahan bentuk pada sistem fiskal dan transfer
sumber daya (Lo dan Salih, 1981), dengan fokus utama dimana wilayah tersebut
dapat menerima beberapa pengaruh dorongan pertumbuhan dari basis ekspor melalui
filter strategi small open model economy guna menghindari ketergantungan
terhadap sistem perekonomian nasional maupun internasional (Fei dan Ranis, 1973).

Integrasi

keruangan

nasional

kerap

dinilai

sebagai

suatu

langkah

pengembangan yang positif. Namun dari sudut pandang penganut paham selective
spatial closure, hal ini akan men-create bentuk-bentuk linkages proses produksi
yang pada akhirnya akan merugikan wilayah yang terisap. Karena itu langkah awal
yang perlu dipersiapkan di dalam membentuk pondasi wilayah yang kuat adalah
perbaikan struktur keterkaitan hubungan perekonomian, yang dilandasi interrelasi
yang seimbang antara core dan periphery serta perbaikan struktur perekonomian
wilayahnya.
Hubungan struktural dalam lingkup internasional secara langsung maupun
tidak akan mempengaruhi pemilihan kebijakan di wilayah yang lingkupnya lebih
kecil. (Lo dan Salih, Blaikie). Dengan berdasarkan pemahaman tersebut berarti
perbaikan struktur internal wilayah (dalam skala nasional) untuk mencapai tingkat
self-sufficient tidak akan efektif jika tidak disertai dengan perbaikan hubungan
eksternalnya dalam lingkup perekonomian internasional.
Langkah strategi pengembangan selanjutnya terletak pada faktor struktur
kelembagaan, yang mengarah pada tuntutan azas desentralisasi dimana fungsi
pengambilan keputusan lokal sangat essensial sifatnya. Tiga prasyarat keberhasilan
strategi pengembangan selective spatial closure menurut Boisier, adalah :
1. Pembentukan kelembagaan baru; hal ini mensyaratkan adanya sumber daya
manusia yang baru yang belum tentu ada di wilayah periphery sehingga jika
pelaksanaan

pembentukan

institusi

ini

berhasil,

diperlukan

pendekatan

metodologi dan teori baru yang diperoleh melalui penambahan kuantitas sumber
dayanya dan pelatihan tertentu.
2. Pemahaman yang meluas di tengah msyarakat setempat, mengenai tujuan dari
setiap aktivitas pembangunan, guna terciptanya tingkat kreativitas yang ditinggi
di tengah masyarakat. Untuk itu biasanya diperlukan suatu proyek perangsang
kreativitas dari pemerintah yang masih bernuansa top-down.
3. Membangkitkan hasil nyata dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal ini
sebenarnya cukup berat untuk dipenuhi sebab strategi ini memerlukan

transformasi struktural yang besar, seperti land reform, yang seringkali


menimbulkan efek terhambatnya proses produksi.

Beberapa Kritik Terhadap Konsep Agropolitan dan Selective Spatial Closure

Kritik dan Evaluasi Perspektif Agropolitan


Secara umum, konsep pengembangan agropolitan dinilai terlalu utopian. Hal ini
terlihat dalam asumsi- asumsi yang mendasarinya. Berikut ini dijabarkan beberapa
kritik terhadap asumsi- asumsi tersebut :
Salah satu asumsi konsep pengembangan Agropolitan adalah keberadaan
penduduk yang homogen/ identik. Aplikasinya berarti wilayah tersebut berhak
memilah- milah penduduk yang tinggal di region tersebut. Dalam lingkup yang
sesungguhnya, proses pemilahan itu sulit, bahkan hampir tidak mungkin, untuk
dapat diwujudkan.
Kritik lainnya adalah adanya asumsi bahwa terdapat kebersediaan individu
(pelaku investasi) wilayah lokal untuk selalu menginvestasikan modalnya di lokal
wilayah tersebut. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam pengembangan wilayah
yang sesungguhnya, dimana setiap investor akan mempertimbangkan aspek skala
ekonomi yaitu menempatkan investasi di wilayah yang memiliki rate of return
lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, dalam hal ini berarti tidak selalu wilayah
lokal yang menjadi pilihan investasi jika wilayah lokal tersebut tidak memiliki
rate of return yang menunjang perhitungan aspek skala ekonomi.
Kritik lain diajukan oleh sependuduk ahli, Forkenbrock, yang berpendapat
bahwa wilayah Agropolitan akan sulit berkembang karena tingkat aksesibilitas
yang

rendah.

Wilayah

Agropolitan

pada

konsepnya

memang

tidak

mengembangkan infrastruktur ekternal, hal ini akan mengurangi tingkat


aksesibilitasnya terhadap wilayah lain, sehingga wilayah ini akan sulit
berkembang.

Adanya asumsi kontrol terhadap sumber daya, yaitu sumber daya yang memiliki
kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan wilayah akan difasilitasi dengan
berbagai insentif sedangkan sebaliknya, sumber daya yang lain dibiarkan tidak
berkembang. Sedangkan dalam pertimbangan pemilihan investasi ditinjau
keterkaitan antar sektor, dalam hal ini berarti sependuduk investor akan
menanamkan modalnya dengan melihat keterkaitan dengan sumber daya lain
yang mungkin terdapat di wilayah lain. Jika demikian berarti telah terjadi leakage,
sedangkan hal ini tidak diperbolehkan dalam konsep pengembangan wilayah
Agropolitan.
Terkait dengan teori dependensi, timbul argumen bahwa proses internalisasi,
peningkatan akses menuju pengembangan sumber daya, dan keuntungan tidak
mungkin dapat dicapai dalam kondisi terjadinya proses polarisasi dalam skala
nasional dan internasional.
Argumentasi kedua, maksimasi keuntungan spread effect tidak mungkin dapat
dicapai seluruhnya hanya dengan melalui kegiatan ekonomi lokal dikarenakan
adanya keterbatasan kekuatan dan daya saing ekonomi lokal tersebut.
Beberapa kendala yang timbul dalam implementasi kebijakan perkembangan
wilayah Agropolitan diantaranya : (Lo dan Salih, 1981)
1. Adanya penetrasi kekuatan internasional dan antar wilayah terhadap ekonomi
wilayah yang melemahkan posisi dan daya saing dari produsen lokal.
2. Tidak adanya keinginan untuk mendesentralisasikan proses pengambilan
keputusan di tingkat pemerintah lokal.
3. Keterbatasan kualitas sumber daya pengambil keputusan di tingkat lokal.
4. Tidak adanya keseimbangan aset dan distribusi pendapatan
5. Adanya berbagai kelas dalam masyarakat lokal yang kemudian mengacu pada
perbedaan akses secara sosial dan politik.

Kritik dan Evaluasi Perspektif Selective Spatial Closure


Selective Spatial Closure

pada pendekatan tertentu serupa dengan konsep

Agropolitan. Hal yang membedakan dan menjadi karakteristik perspektif ini bahwa
wilayah masih membuka diri untuk melayani permintaan luar serta di dalam
memanfaatkan sumber daya dari luar (small open economy). Kritik yang muncul
sehubungan dengan hal tersebut adalah :
1. Berkaitan dengan teori dependensi bahwa suatu wilayah, dalam konstelasinya
yang lebih luas jika sudah membuka diri terhadap sistem perekonomian dunia
luar pada kenyataannya akan sulit untuk melepaskan diri dari pola keterkaitan
tersebut, sehingga tahapan proses penyeleksian sebenarnya tidak rasional karena
wilayah lokal akan terus bergantung pada wilayah lain yang tingkat
pertumbuhannya relatif lebih cepat. Satu- satunya kemungkinan untuk
melepaskan diri adalah dengan memutuskan hubungan dengan wilayah luar.
2. Proses small open economy akan membuka kemungkinan berpindahnya sumber
daya manusia lokal ke wilayah lain yang tingkat pertumbuhannya lebih cepat, hal
ini dikarenakan adanya daya tarik yang lebih tinggi (tingkat upah, penyediaan
fasilitas, dll), sehingga pengembangan ekonomi lokal tidak dapat dicapai karena
kurangnya sumber daya lokal

yang merupakan prasyarat berlangsungnya

selective spatial closure.


3. Dalam tataran konsep

pengembangan selective spatial

closure

proses

pengendalian input- output dan proses substitusi faktor produksi digambarkan


sangat mudah. Dalam tataran praktisnya, terdapat faktor lain yang dapat
menghambat

proses

pengendalian

tersebut,

misalnya

adanya

intervensi

pemerintah berupa kontrol terhadap faktor produksi atau penentuan alokasi faktor
produksi.
4. Wilayah dikondisikan dengan situasi tertentu sehingga kondisi pasar persaingan
sempurna, dalam hal ini antara local market dan national and international
market diabaikan, dengan demikian berarti mekanisme pasar tidak berjalan.

Konsep Agropolitan
Agropolitan dapat didefinisikan sebagai kota pertanian atau kota di daerah

lahan pertanian atau pertanian di daerah kota. Sedang yang dimaksud dengan
agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya
sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela
kegiatan pembangunan pertanian (Agribisnis) diwilayah sekitarnya. Kota agropolitan
berada dalan kawasan sentra produksi pertanian (selanjutnya kawasan tersebut
disebut sebagai kawasan Agropolitan. Kota pertanian dapat merupakan Kota
Menengah, Kota Kecil, Kota Kecamatan, Kota Perdesaan atau kota nagari berfungsi
sebagi pusat pertumbuhan ekonomi yang mendorong pertumbuhan pembangunan
pedesaan dan desa-desa hinterland di wilayah sekitarnya. Kawasan agropolitan yang
telah berkembang memliki ciri-ciri sebagai berikut .:

Mayoritas masyarakatnya memperoleh pendapat dari kegiatan agribisnis

Didominasi oleh kegiatan pertanian, termasuk didalamnya usaha industry


(pengolahan) pertanian, perdagangan hasil-hasil pertanian, perdagangan
agrobisnis hulu(sarana pertanian dan permodalan), agrowisata dan jasa
pelayanan.

Relasi antara kota dan daerah-daerah hinterlandnya bersifat interpendensi


yang harmonis dan saling membutuhkan. Kawasan pertanian mengembangkan
usaha budidaya(on farm) dan produk olahan skala rumah tangga(off farm) dan
kota menyediakan penyediaan sarana pertanian, modal, teknologi, informasi
pengolahan hasildan pemasaran hasil produksi pertanian.

Pola kehidupan masyarakatnya sama dengan kehidupan kota karena prasarana


dan sarana yang dimilikinya tidak berbeda dengan di kota. Batasan kawasan
agropolitan ditentukan oleh skala ekonomi dan ruang lingkup ekonomi bukan
oleh batasan administratif. Penetapan kawasan agropolitan hendaknya
dirancang secara lokal dengan memperhatikan realitas perkembangan
agrobisnis yang ada disetiap daerah.

Persyaratan Kawasan Agropolitan


Wilayah yang akan dikembangkan menjadi kawasan agropolitan harus

memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Memiliki sumberdaya lahan dengan agroklimat yang sesuai untuk


mengembangkan komoditi unggulan.

Memiliki

prasarana

dan

sarana

yang

memadai

untuk

mendukung

pengembangan sistem dan usaha agribisnis yaitu:


o Pasar (pasar untuk hasil pertanian, sarana pertanian, pasar jasa
pelayanan, dan gudang
o

Lembaga keuangan (perbankan dan non perbankan)

o Kelembagaan petani (kelompok tani, koperasi dan asosiasi) yang


berfungsi sebagai Sentra Pembelajaran dan Pengembangan Agribisnis
(SPPA)
o Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang berfungsi sebagai Klinik
Konsultasi Agribisnis (KKA)
o Pengkajian teknologi agribisnis
o Prasarana transportasi, irigasi dan semua yang mendukung usaha
pertanian

Memiliki prasarana dan sarana umum yang memadai

Memiliki prasarana dan sarana kesejahteraan sosial (kesehatan, pendidikan,


rekreasi dan sebagainya)

Kelestarian lingkungan hidup (sumber daya alam, sosial budaya dan


keharmonisan relasi kota dan desa)

Konsep Struktur Tata Ruang Agropolitan


Secara umum struktur hirarki sistem kota-kota agropolitan dapat digambarkan

sebagai berikut :
Orde yang paling tinggi (kota tani utama) dalam lingkup wilayah agropolitan skala
besar sebagai :

Kota perdagangan yang berorientasi ekspor ke luar daerah

Pusat berbagai kegiatan final manufacturing industri pertanian (packing),stok


pergudangan dan perdagangan bursa komoditas.

Pusat berbagai kegiatan tertier agro-bisnis, jasa perdagangan, asuransi


pertanian, perbankan dan keuangan.

Pusat berbagai pelayanan (general agro-industry services) Orde kedua (pusat


distrik agropolitan) yang berfungsi sebagai :
o Pusat perdagangan wilayah yang ditandai dengan adanya pasar-pasar
grosir dan pergudangan komoditas sejenis
o Pusat kegiatan agro-industri berupa pengolahan barang pertanian jadi
dan setengah jadi serta kegiatan agro-bisnis.
o Pusat pelayanan agro-industri khusus (special agro-industry services),
pendidikan, pelatihan dan pemuliaan tanaman unggulan. Orde ketiga
(pusat satuan kawasan pertanian)

Pusat perdagangan lokal yang ditandai dengan adanya pasar harian

Pusat koleksi komoditas pertanian yang dihasilkan sebagai bahan mentah


industry

Pusat penelitian, pembibitan dan percontohan komoditas

Pusat pemenuhan pelayanan kebutuhan permukiman pertanian

Koperasi dan informasi pasar barang perdagangan


Dilihat dari sektor transportasi, adanya konsep agropolitan dapat memberikan

arahan pengembangan pembangunan jaringan jalan sesuai hirarki perkotaan, dimulai


dari pedesaan menuju kota kecil dihubungkan oleh jalan lokal. Kota kecil ini dapat

berfungsi sebagai pengumpul hasil pertanian dari pedesaan, merupakan kota orde
ketiga dalam sistem kota-kota agropolitan.
Berikutnya adalah dari kota kecil menuju kota menengah, dihubungkan oleh
jalan kolektor. Di sini kota menengah sudah berfungsi sebagai pusat grosir, yang
mengumpulkan hasil pertanian bersumber dari kota kecil, serta menjadi pusat
pelayanan kegiatan agro industri. Terakhir dari kota menengah menuju kota besar
yang dihubungkan oleh jaringan jalan arteri. Sebagai kota orde tertinggi barang yang
diangkut dari kota-kota menengah semakin banyak, sehingga dibutuhkan prasarana
jalan dan jenis kendaraan yang lebih besar. Oleh karena itu penyediaan jaringan jalan
arteri sangat diperlukan. Dengan hirarki kota dan hirarki jalan yang jelas, akan dapat
mengurangi risiko kerusakan jalan akibat penggunaan jalan yang tidak sesuai ukuran
kendaraan maupun volume kendaraan.

5.

Konsep Growth Pole

Sejarah Konsep Growth Pole


Menurut Miyoshi (1997) sejarah konsep growth pole dapat dibagi dalam

beberapa tahap. Tahap pertama adalah kelahiran konsep growth pole, tahap kedua
penerapan konsep growth pole secara geografis, tahap ketiga konsep growth pole
sebagai penyebab ketidakseimbangan wilayah, dan tahap keempat, menuju perbaikan
konsep growth pole. Di Indonesia konsep growth pole juga memberikan dampak,
akan diulas pada bagian akhir sub bab ini.
Konsep growth pole atau dikenal sebagai konsep kutub pertumbuhan
dibangun oleh Perroux pada tahun 1955. Konsep ini bersumber dari faktor-faktor
aglomerasi dan teori-teori lokasi terdahulu (Glasson-Sitohang, 1977 : 153). Konsep
ini mempunyai dasar dari ekonomi makro, oleh karenanya dasar utama adalah
konsentrasi pertumbuhan ekonomi pada ruang tertentu (yang sebelumnya
digambarkan oleh Perroux pada ruang abstrak). Model struktur ruang yang muncul
sebelumnya adalah teori tempat sentral (central place theory). Model ini banyak

dikritik, dan konsep growth pole merupakan jawaban atas kritik terhadap teori tempat
sentral tersebut. Dalam praktek konsep growth pole cenderung lebih jauh daripada
dasar teoritiknya sendiri. Disebabkan karena adanya beberapa ketidakselarasan kecil
dalam karya Perroux semula, maka telah terjadi banyak kekaburan dalam literatur
yang muncul kemudian. Dalam perkembangannya terdapat banyak definisi sebanyak
pengarang yang menulis teori ini.

Konsep growth pole berkembang pesat dan

digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan (disebut strategi growth pole) baik
pada negara-negara sedang berkembang pada tahun 1960an maupun negara maju,
yang menerapkan dan mendiskusikannya dengan serius pada tahun 1970an. (Miyoshi
1997 : 2)
Pada tahap kedua, penekanan konsep growth pole adalah pada penerapan
konsep growth pole dalam perencanaan wilayah yang dibahas dalam berbagai
artikel. Ahli-ahli ekonomi yang banyak membahas tentang growth pole dan
mengaitkannya dengan perencanaan wilayah antara lain Boudeville dan Hirschman
dan lain-lain. Menurut Boudeville (Miyoshi 1997 : 4) definisi growth pole adalah
satu set perluasan industri-industri yang berlokasi di suatu wilayah urban dan
menyebabkan pembangunan kegiatan ekonomi lebih jauh melalui pengaruh zonanya.
Friedmann (1966) menyatakan bahwa pola pembangunan wilayah di Amerika
seyogyanya diterapkan pada semua negara sedang berkembang. Ini berarti konsep
growth pole juga diikuti oleh banyak negara berkembang di dunia pada masa tersebut.
Gore (1984) menyimpulkan bahwa ahli ekonomi wilayah pada tahun 1960an
berkaitan dengan konsep growth pole mempunyai pandangan yang sama , antara lain
pertumbuhan terjadi secara bertahap, mereka percaya strategi growth pole dapat
mencapai berbagai tujuan kebijakan wilayah dan hubungan antar wilayah secara
empiris dapat dibuktikan kebenarannya.
Pada tahap ketiga, beberapa ahli ekonomi wilayah menjelaskan bahwa konsep
growth pole menjadi penyebab ketidakseimbangan wilayah. Seperti Stohr dan
Todtling (1977) menyusun suatu studi kasus dan menyimpulkan bahwa strategi
growth pole tidak dapat membawa pembangunan ke wilayah belakangnya

(hinterland). Strategi ini mungkin sukses dalam mengurangi disparitas interregional,


tetapi spread effect terhadap wilayah sekitarnya sangat lemah, bahkan menyebabkan
terjadinya disparitas intra-regional. Pendapat Stohr dan Todtling didukung oleh
Polenske (1988) yang menjelaskan dua pemikiran pada teoris growth pole yang
menyatakan bahwa dominasi perusahaan-perusahaan tertentu adalah faktor positif
dalam proses pembangunan, karena dibutuhkan untuk menolong sejumlah besar
penduduk, maka para teoris dependency menyatakan bahwa dominasi membawa
pengambilalihan produk surplus di suatu wilayah tidak digunakan oleh penduduk
setempat, tetapi untuk para kapitalis.
Pada tahap keempat, setelah banyak kritik dilontarkan terhadap konsep
growth pole, maka beberapa ahli ekonomi wilayah melakukan berbagai perbaikan dan
dukungan tedrhadap konsep ini. Richardson dan Richardson (1974) menyatakan
bahwa kekecewaan terhadap kebijakan pusat pertumbuhan (growth pole) pada banyak
negara bukan merupakan bukti bahwa prinsip polarisasi salah, hal ini karena adanya
optimisme yang berlebihan dan waktu yang singkat dalam menerapkan konsep ini.
Bahkan Higgins (1988) menyatakan bahwa strategi growth pole bukan kesalahan
teori Perroux, tetapi kesalahan suatu versi yang memutarbalikkan penerapan teori ini
melalui disiplin ilmu para ilmuwan tersebut.

Konsep Growth Pole


Perroux

berpendapat

spasial,sebagaimana

halnya

bahwa
dengan

fakta

dasar

perkembangan

dari

industri

perkembangan
adalah

bahwa

pertumbuhan tidak terjadi di sembarang tempat dan juga tidak terjadi secara
serentak; pertumbuhan itu terjadi pada titik-titik atau kutub-kutub perkembangan,
dengan intensitas yang berubah-ubah; perkembangan ini menyebar sepanjang
saluransaluran yang beraneka ragam dan dengan efek yang beraneka-ragam terhadap
keseluruhan perekonomian. (Glasson Sitohang, 1977 : 153).
Perroux

juga

mengindikasikan

bahwa

pembangunan

harus

disebabkan/ditimbulkan oleh suatu konsentrasi (aglomerasi) tertentu bagi kegiatan

ekonomi dalam suatu ruang yang abstrak. (Miyoshi, 1997 : 3). Boudeville
mendefinisikan kutub pertumbuhan (growth pole) sebagai sekelompok industri yang
mengalami ekspansi yang berlokasi di suatu daerah perkotaan dan mendorong
perkembangan kegiatan ekonomi lebih lanjut ke seluruh daerah pengaruhnya.
(Glasson Sitohang, 1977 : 108). Ia juga membangun konsep growth pole sebagai
suatu model perencanaan yang bersifat operasional, yang menerangkan suatu kondisi
dimana pertumbuhan akan tercipta pada wilayah yang menimbulkan adanya kutub
(polarized region). Menurut Glasson (Glasson Sitohang, 1977 : 155) konsepkonsep ekonomi dasar dan perkembangan geografik berkaitan dengan teori growth
pole, didefinisikan sebagai berikut :

Konsep

leading

industries

dan

perusahaan-perusahaan

propulsip,

menyatakan pada pusat kutub pertumbuhan terdapat perusahaan-perusahan


propulsip yang besar, yang termasuk dalam leading industries yang
mendominasi unit-unit ekonomi lainnya.

Konsep polarisasi, menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leading


industries mendorong polarisasi dari unit-unit ekonomi lainnya ke dalam
kutub pertumbuhan.

Konsep spread effect atau trickling down effect menyatakan bahwa pada
waktunya, kualitas propulsip dinamik dari kutub pertumbuhan akan
memencar keluar dan memasuki ruang di sekitarnya.

6.

Konsep Central Place Theori


Konsep ini dikembangkan oleh Christaller yang mengungkapkan bahwa

dengan adanya investasi industri yang terdapat di wilayah pusat kota. dia melakukan
studi di Jerman mengenai hirarki pusat pelayanan kegiatan jasa pada tujuh tingkat
hirarki pelayanan, mulai dari desa kecil hingga kota metropolitan. Hasil dari studi ini
merupakan suatu kemajuan yang berarti bagi teori lokasi, dan bagi teori penyediaan
pusat pelayanan penduduk dimana teori ini mengungkapkan suatu titik pada suatu

kota yang memiliki peran sebagai pusat dari segala kegiatan kota. teori ini
mengungkapkan beberapa asumsi dasar tentang wilayah yaitu (Tarigan, 2005 : 79):
a. wilayah tersebut datar dan juga memiliki sumber daya alam yang merata
b. pergerakkan dimungkinkan dapat dilakukan kesegala arah
c. penduduk tersebar secara merata diseluruh wilayah dan mempunyai daya beli
yang sama
d. konsumen bertindak rasional (minimasi jarak dan minimasi biaya)
Untuk menggambarkan wilayah-wilayah yang saling bersambungan atau
saling meluaskan, Christaller memakai bentuk heksagon, lingkaran-lingkaran yang
mencerminkan wilayah-wilayah pemasaran yang saling tumpah tindih kemudian
dibelah dua dengan garis lurus. Maksudnya agar penduduk dapat berbelanja dapat
memilih tempat (kota) yang paling dekat dengan lokasi tempat tinggalnya. Dalam
teorinya , Christaller mengemukakan tiga jenis struktur heksagonal yaitu:
a. didaerah yang pusatnya ada sebuah tempat yang dikelilingi oleh enam tempat
terletak disudut-sudutnya, semuanya masing-masing sepertiganya termasuk
daerah. Jadi keseluruhannya ada 1 + 6 x 1/3 = 3. Struktur ini sesuai dengan
apa yang disebut , Christaller sebagai asas K=3.
b. Didaerah yang pusatnya ada sebuah tempat yang dikelilingi oleh enam
tempat,tetapi tidak terletak disudut-sudutnya. Setiap beban tempat ini
sepenuhnya termasuk daerah sendiri yang sepenuhnya lagi termasuk daerah
tetangga. Jadi X adalah 1 + 6 x 1/2 =4, ini disebut sebagai asas pengangkutan
K=4.
c. Didaerah

yang

sama,

tetapi

didalamnya

ada

tujuh

tempat.

Nilai

K = 6 + 1 x 1 =7, nilai ini disebut asas pemerintahan (K=7).


Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pembentukkan sistem
tata ruang yang jelas ke dalam tingkat hirarki pusat-pusat, merupakan suatu
keharusan mutlak dalam wilayah bersangkutan dapat berkembang dengan cepat.
Ketidak jelasan tata ruang, terutama di wilayah yang relatif terbelakang merupakan
penyebab ketimpangan laju pertumbuhan ekonomi. Keadaan ini dapat mendorong

pertumbuhan yang tidak mengarah kepada penciptaan sistem ekonomi regional secara
terpadu, terdiri atas kota pasar yang menghubungkan pusat-pusat perdesaan dan
perkotaan.

7.

Konsep Integral Fungsional Ruang


Konsep ini beranggapan bahwa sistem terpadu bergantung pada pusat

pertumbuhan yang mempunyai fungsi yang berbeda, mempunyai peranan penting


dalam memfasilitasi pengembangan penyebaran wilayah. Hal ini didasarkan bahwa di
beberapa negara berkembang pasangan utama pertumbuhan ekonomi adalah sektor
pertanian bukan sektor industri. Elemen penting dalam pengkomersilan sektor
pertanian adalah sistem permukiman yang terpadu serta berkesinambungan yang baik,
dimana lokasi-lokasi yang berhubungan dengan kepentingan umum dapat dijangkau
secara efektif dan efisien, sehingga penduduk desa mempunyai akses yang kuat.
Johnson berpendapat, bahwa penempatan pusat kota secarta sistematik tidak
menjamin keberhasilan komersialisasi sektor pertanian tetapi lebih mendukung
terhadap penyatuang ruang secara menyeluruh pada tempat-tempat yang terkait
dengan proses industri. Brian Berry mengungkapkan bahwa pada ekonomi pasar,
sistem penyatuan pusat-pusat kota biasanya muncul dan sering dengan pertumbuhan
ekonomi karena hal ini sangat diperlukan tetapi bukan merupakan keadaan yang
suffisien bagi tercapainya pemerataan pembangunan (Terjemahan Buku Applied
Methods Of Regional Analisis Oleh Rondinelli, 1985 :4).
Fisher dan Rushton menyatakan berdasarkan atas penelitian mereka di
indonesia dan india bahwa pembangunan sistem terpadu dari pelaksanaan
perdagangan dan produksi sangat menguntungkan bagi pemerintah yang berusaha
untuk meningkatkan pembangunan wilayah serta penduduk wilayah tersebut. Seperti
halnya uraian dibawah ini tentang pentingnya hirarki terpadu pusat-pusat pelayanan,
yaitu:

a. Pelayanan

yang

nyaman

dan

efisien

(adalah

menggunakan

dan

mengefisienkan untuk para pembeli karena itu digunakan untuk kepuasan dari
beberapa kebutuhan yang berbeda dalam tingkat yang sama disebuah desa).
b. Mengurangi jumlah kendaraan (hal itu mengurangi jumlah transportasi yang
dibutuhkan untuk menghubungkan desa dengan fasilitas karena dari jumlah
tingkat angkutan yang memadai antara lokasi pusat pelayanan mereka dan
tingkat pelayanannya penting dimana transportasi umum harus memadai).
c. Mengurangi panjang jalan yang harus diperbaiki ( hal ini mengurangi jarak
yang dibutuhkan dalam pengembangan sebelum semua desa dihubungkan
dengan tempat yang memiliki fasilitas untuk akses yang mereka butuhkan).
d. Ongkos murah (mengurangi harga dalam penyediaan layanan untuk fasilitas
mereka karena harga ini dapat dibagi kedalam beberapa fasilitas untuk akses
yang dialikasikan di tempat yang sama).
e. Lebih mudah memonitor kegiatan yang terpusat di tempat-tempat tertentu
(memberikan kesempatan yang lebih ekonomis dan efektif dalam memonitor
aktifitas yang diregulasikan dalam pasar dan pusat pelayanan).
f. Informasi menjadi lebih lengkap (memfasilitasi perubahan informasi dan
dipilih anggota diantara aktifitas yang memadai)
g. Pembangunan lebih difokuskan pada tempat-tempat tertentu yang mendukung
terhadap peningkatan pertumbuhan ekonominya (hal ini memfokuskan usaha
pada perkembangan region dalam beberapa tempat dengan lokasi yang
strategis sumberdaya dan ini meningkatkan kemungkinan dibeberapa wilayah
secara spontan penambahan aktifitas umum untuk kebutuhan wilayah mereka
sendiri).
Hal lain (Bromley) yang perlu dicatat juga dari sistem integrasi penggabungan
untuk pengembangan regional adalah bahwa daerah pusat adalah sebuah elemen
dalam fungsi rural dan ekonomi regional, berbagai bentuk yang dispesialisasikan dari
produksi dan konsumsi. Bentuk fasilitas dari interaksi dan perubahan. Roy dan Partial

mencatat bahwa dalam analisis mereka tentang daerah pusat di india bahwa
pengembangan jasa dan pengembangan area jasa di sekitar mereka.
Desentralisasi memusat investasi dalam penggabungan dengan ukuran
berbeda dan karakteristik yang integrasi fungsional mencatat bahwa:
a. Membuka skala ekonomi spilover dan efek yang menyebar tertiggal disekitar
daerah pedesaan.
b. Membantu mengorganisasikan ekonomi diwilayah pedesaan mengenai supply,
pemasaran, administrasi dan sistem jasa pengiriman. Hal itu memungkinkan
peningkatan dan mengubah kesempatan pekerjaan.
c. Bantuan dan kreatifitas yang menarik dan inovasi perpendudukan dan
enterpreneur dan nilainya, sikap dan perilaku mencerminkan dapat membuat
lingkungan yang kondusif untuk inovasi yang lebih baik.
d. Penyediaan

kembali

dari

sistem

investasi

dapat

digunakan

untuk

pengembangan yang akan datang dan untuk membuat perbandingan


keuntungan suatu lokasi dan kesempatan yang lebih baik untuk pertumbuhan
yang akan datang mengenai efek penyebabnya.
e. Membuat penekanan dan permintaan untuk memperluas layanan baru fasilitas
infrastruktur termasuk membuat sebuah aliran yang terus-menerus dari
pertumbuhan dan ekspansi.
f. Membuat fisik dan lingkungan ekonomi menjadi penggabungan dan
meningkatkan sistem akses ke daerah pusat.
g. Menarik sistem ekonomi dan aktivitas sosial dan komoditi baru.

8.

Konsep Pendekatan Desentralisasi Wilayah


Dengan didasarkan pada asumsi bahwa pusat pertumbuhan kota adalah parasit

yang disebabkan karena mereka mengeksploitasi potensi desa, sehingga para


penanam modal tidak langsungmenanamkan modalnya di daerah penghasil tetapi
lebih terpusat pada pusat kota. akan tetapi kemudian ada yang berpendapat bahwa
kota kecil bukan merupakan parasit, sebab banyak hal-hal yang bermanfaat yang
berfungsi bagi pengembangan wilayah yang juga dihasilkan diwilayah tersebut.
Ketika urbanisasi terjadi, terpusatnya penduduk di kota didasarkan pada
prinsip pertukaran interaksi, maka secara teori, otonomi, penutupan wilayah dan
pembatasan wilayah sulit dilaksanakan. Preston berpendapat bahwa pengaruh negatif
di desa sangat kecil sekali sehingga memungkinkan ditawarkannya kesempatan
ekonomi terbaru bagi masyarakat. hal yang paling penting yang berpengaruh terhadap
pengembangan sektor pertanian adalah adanya kontak pribadi diantara para petani
tersebut. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa penduduk desa dapat bersaing secara
sehat dengan penduduk kota dan jaringan antara kota dan desa merupakan suatu
kesempatan utama bagi pendapatan penduduk desa. Richardson berpendapat bahwa
kota

kecil

merupakan

penopang

perekonomian

daerah

sangatlah

besar,

sebabkemajuan sangat tergantung pada fungsi desa. Desa dapat berfungsi dengan baik
jika kebijaksanaan terhadap desa diformulasikan dan di implementasikan secara tepat.