Anda di halaman 1dari 8

No.

ID dan NamaPeserta :
No. ID dan NamaWahana:
Topik: Appendisitis Akut
Tanggal (kasus) : 5 September 2013
Nama Pasien :Tn. B.T
Tanggal presentasi : 22 Oktober 2013

/ dr. Andre Maharadja


/ UGD RSUD Dok II Jayapura
No. RM :
Pendamping: dr. Guy Yana Emma
Come dan dr. Ade S Cahyani

Tempat presentasi: RSUD Dok II Jayapura


Obyek presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Diagnostik
Manajemen
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
1. Subyektif:

Penyegaran
Masalah
Dewasa

Tinjauan pustaka
Istimewa
Lansia
Bumil

Deskripsi: Pasien laki-laki usia 28 tahun datang dengan keluhan nyeri perut bawah kanan sejak
dua hari sebelum masuk rumah sakit. Pada awalnya nyeri dirasakan di ulu hati, kemudian
berpindah diperut kanan bawah lalu nyeri dirasakan diseluruh bagian perut. Nyeri dirasakan
terus-menerus dan tidak menjalar, nyeri semakin memberat sejak 1 hari sebelum masuk rumah
sakit. Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan, mual, muntah (1x, isi makanan dan lendir
keputihan) dan perut terasa kembung. Pasien mengalami demam sejak 1 hari sebelum masuk
rumah sakit, demam dirasakan terus-menerus sepanjang hari.
Pasien tidak BAB selama 2 hari , tidak flatus, BAK normal. Pola makan pasien tidak teratur dan
jarang mengkonsumsi makanan berserat.
Tujuan: memberikan menegakkan diagnosis apendisitis akut dan melakukan terapi yang tepat
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
bahasan:
Cara

pustaka
Diskusi

Presentasi dan

membahas:
diskusi
Nama Klinik : UGD RSUD Dok II Jayapura
Data Pasien: Nama: Tn. B.T
Data utama untuk vahan diskusi:
2. Deskripsi/ Gambaran Klinis

E-mail

Pos

No.Registrasi:

Pasien laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan nyeri perut bawah kanan sejak dua hari
sebelum masuk rumah sakit. Pada awalnya nyeri dirasakan di ulu hati, kemudian berpindah
diperut kanan bawah lalu nyeri dirasakan diseluruh bagian perut. Nyeri dirasakan terus-menerus
dan tidak menjalar, nyeri semakin memberat sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien
juga mengeluh tidak nafsu makan, mual, muntah (1x, isi makanan dan lendir keputihan) dan
perut terasa kembung. Pasien mengalami demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit,
1

demam dirasakan terus-menerus sepanjang hari.


Pasien tidak BAB selama 2 hari , tidak flatus, BAK normal. Pola makan pasien tidak teratur dan
jarang mengkonsumsi makanan berserat.
1. Riwayat pengobatan: pasien belum pernah memeriksakan ke dokter sebelumnya
2. Riwayat kesehatan/penyakit: Riwayat apendisitis sebelumnya tidak diketahui, riwayat
dyspepsia ada
3. Riwayat keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita penyakit sama dengan pasien
4. Riwayat pekerjaan: Mahasiswa
5. Lain-lain:
Daftar Pustaka:
a. Syamsuhidayat, R dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2004
b.

Sabiston. Textbook of Surgery : The Biological Basis of Modern Surgical Practice. Edisi
16.USA: W.B Saunders companies.2002

c.

Schwartz. Principles of Surgery. Edisi Ketujuh.USA:The Mcgraw-Hill companies.2005

d.

R. Schrock MD, Theodore. Ilmu Bedah. Edisi Ketujuh. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC.1995
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis Apendisitis Akut
2. Pemberian Terapi yang tepat

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


3. Subyektif:
Pasien laki-laki usia 28 tahun datang dengan keluhan nyeri perut bawah kanan sejak dua
hari sebelum masuk rumah sakit. Pada awalnya nyeri dirasakan di ulu hati, kemudian
berpindah diperut kanan bawah lalu nyeri dirasakan diseluruh bagian perut. Nyeri
dirasakan terus-menerus dan tidak menjalar, nyeri semakin memberat sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan, mual, muntah (1x,
isi makanan dan lendir keputihan) dan perut terasa kembung. Pasien mengalami demam
sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, demam dirasakan terus-menerus sepanjang hari.
Pasien tidak BAB selama 2 hari , tidak flatus, BAK normal. Pola makan pasien tidak
teratur dan jarang mengkonsumsi makanan berserat.
4. Obyektif:
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh, GCS E4M6V5, Pasien tampak lemah. KU :
Tampak Sakit Sedang/ Gizi Cukup/ Compos mentis, Tanda Vital : TD = 120/80 mmHg; P
= 20x/menit; N = 80x/menit; S= 38,1C. Pemeriksaan Fisis:
Pemeriksaan generalis :
Kepala : rambut berwarna hitam merata
Mata : Anemis -/-, Ikterus -/Cor : BJ I/II murni reguler, Bising (-)
Pulmo : Bunyi Pernapasan vesikuler, Bunyi Tambahan; Rhonki -/-, Wheezing -/Abdomen : lihat status lokalis.
Ekstremitas : akral hangat +/+, CRT < 2
Status lokalis (Abdomen)
Inspeksi

: Bentuk simetris, sedikit membuncit.

Auskultasi

: Bising usus (+) menurun

Palpasi

: Nyeri tekan (+) di seluruh lapang abdomen terutama kuadran kanan bawah
(Mc.Burney sign), Nyeri lepas (+) Psoas sign (+). Obturator sign (+),
Rovsing sign (+), defans muskular (+) di kuadran kanan bawah.

Perkusi : Bunyi timpani


Rectal toucher
3

Tonus sphinter ani baik, ampula tidak prolaps, mukosa licin, nyeri tekan (+) jam 9-12,
massa (-). Pada handscoon feses (+), darah (-).
5. Assesment:
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis pasien ini adalah Akut Abdomen e.c.
susp. Apendisitis akut.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien merupakan seorang pria, usia 28 tahun
mengeluh nyeri perut bawah kanan sejak 2 hari (SMRS). Pada awalnya nyeri dirasakan di ulu
hati, kemudian berpindah diperut kanan bawah lalu nyeri dirasakan diseluruh bagian perut.
Nyeri dirasakan terus-menerus dan tidak menjalar, nyeri semakin memberat sejak 1 hari SMRS.
Disertai gejala anoreksia, vomitus, obstipasi dan meteorismus.
Gejala utama pada apendisitis akut adalah nyeri abdomen. Pada mulanya terjadi nyeri
visceral, yaitu nyeri yang sifatnya hilang timbul seperti kolik yang dirasakan di daerah umbilikus
dengan sifat nyeri ringan sampai berat. Hal tersebut timbul oleh karena apendiks dan usus halus
mempunyai persarafan yang sama, maka nyeri visceral itu akan dirasakan mula-mula di daerah
epigastrium dan periumbilikal Secara klasik, nyeri di daerah epigastrium akan terjadi beberapa
jam (4-6 jam) seterusnya akan menetap di kuadran kanan bawah dan pada keadaan tersebut
sudah terjadi nyeri somatik yang berarti sudah terjadi rangsangan pada peritoneum parietale
dengan sifat nyeri yang lebih tajam, terlokalisir serta nyeri akan lebih hebat bila batuk ataupun
berjalan kaki.

Hampir tujuh puluh lima persen penderita disertai dengan vomitus akibat aktivasi N.vagus,
4

namun jarang berlanjut menjadi berat dan kebanyakan vomitus hanya sekali atau dua kali.
Penderita apendisitis akut juga mengeluh obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan
beberapa penderita mengalami diare, hal tersebut timbul biasanya pada letak apendiks pelvikal
yang merangsang daerah rektum. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu
antara 37,50 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi perforasi.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Nyeri tekan (+) di seluruh lapang abdomen terutama
kuadran kanan bawah (Mc.Burney sign), Nyeri lepas (+) Psoas sign (+). Obturator sign (+),
Rovsing sign (+), defans muskular (+) di kuadran kanan bawah.
Pada auskultasi didapatkan bising usus (+) menurun. Pada pemeriksaan rectal toucher
didapatkan nyeri tekan (+) jam 9-12.
Hal ini sesuai pada tanda klinis apendisitis akut. Biasanya penderita berjalan membungkuk
sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung (+) bila terjadi perforasi, penonjolan perut
kanan bawah terlihat pada appendikuler abses.
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc Burney. Nyeri
lepas (+) karena rangsangan peritoneum, Rebound tenderness (nyeri lepas tekan ) adalah rasa
nyeri yang hebat (dapat dengan melihat mimik wajah) di abdomen kanan bawah saat tekanan
secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam di
titik Mc Burney.
Defans musculer (+) karena rangsangan M.Rektus abdominis. Defance muscular adalah nyeri
tekan kuadran kanan bawah abdomen yang menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietal.
Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah, apabila kita melakukan
penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang
dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.
Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan yang terjadi
pada apendiks.
Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut difleksikan kemudian
dirotasikan kearah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan apendiks
terletak pada daerah hipogastrium
Auskultasi tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis, tetapi kalau
sudah terjadi peritonitis maka bunyi peristaltik usus atau tidak terdengar sama sekali. Rectal
5

Toucher/Colok dubur , nyeri tekan pada jam 9-12.


Patogenesis

Pemeriksaan radiologi yang dapat membantu diagnosis adalah USG, pada kondisi perforasi
gambarannya dapat berupa lesi tubuler dengan air-fluid level di regio iliaca dextra.
Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan leukositosis moderat (10.000-20.000/ L). Jika
leukosit lebih tinggi biasanya dicurigai telah terjadi perforasi. Pada pemeriksaan urinalisa dapat
ditemukan hematuria dan piuria pada 25 % pasien. Beberapa diagnosis banding appendicitis
akut yang perlu dipikirkan, antara lain: Kelainan bidang gastroinestinal seperti divertikulitis
menunjukkan gejala yang hampir sama dengan apendisitis tetapi lokasi nyeri lebih ke medial.
Karena kedua kelainan ini membutuhkan tindakan operasi, maka perbedaannya bukanlah hal
penting.
Kolitis ditandai dengan feses bercampur darah, nyeri tajam pada perut bagian bawah, demam
dan tenesmus.Obstruksi usus biasanya nyeri timbul perlahan-lahan di daerah epigastrium. Pada
pemeriksaan fisis akan menunjukkan distensi abdomen dan timpani, terdengar metalic sound
pada auskultasi. Kelainan bidang urologi seperti batu ureter atau batu ginjal kanan. Adanya riwayat
kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. Eritrosituria
sering ditemukan. Foto polos abdomen atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut.

6. Plan:
Diagnosis:
Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan maka pasien didiagnosis
6

dengan Apendisitis Akut.


Penatalaksanaan Awal di Unit Gawat Darurat
- IVFD RL 500cc 20 tpm
- Injeksi Ceftriaxone 2 gr/ 24 jam/iv
- Injeksi Ranitidine 1 ampule/ 8 jam/iv
- Lab. Darah Rutin
- Foto BNO 3 posisi
- USG Abdomen
- Konsul dokter ahli bedah
Pada apendisitis akut, abses, dan perforasi diperlukan tindakan operasi apendiktomi cito.
Tindakan ini dapat dilakukan melalui laparotomi atau laparoskopi. Sebelum dilakukan
tindakan pembedahan, pasien dianjurkan untuk tirah baring dan diberikan antibiotik
sistemik spektrum luas untuk mengurangi insidens infeksi pada luka post operasi.
Komplikasi apendisitisyang dapat terjadi adalah Perforasi. Keterlambatan penanganan
merupakan alasan penting terjadinya perforasi. Perforasi appendix akan mengakibatkan
peritonitis purulenta yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat meliputi
seluruh perut dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler
di seluruh perut, peristaltik usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik.
Pada pasien ini kemungkinan sudah terjadi perforasi dan peritonitis lokal. Hal ini
ditandai dengan adanya nyeri perut yang sangat hebat di seluruh lapang abdomen serta
peningkatan suhu tubuh terus-menerus. Pada tanda klinis didapatkan defans muscular
lokal di kuadran kanan bawah serta bising usus menurun.
Komplikasi yang lain yaitu peritonitis generalisata dan terbentuknya massa
periapendikular. Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat
terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.
Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari apendisitis. Bila bahan yang
menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya
peritonitis generalisata. Dengan begitu, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul
ileus paralitik, usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang
ke dalam lumen usus menyebabkan dehidrasi, gangguan sirkulasi, oligouria, dan
mungkin syok. Gejala : demam, lekositosis, nyeri abdomen, muntah, Abdomen tegang,
kaku, nyeri tekan, dan bunyi usus menghilang.
Pendidikan:
7

Kita menjelaskan prognosis daripasien, serta komplikasi yang mungkin terjadi.


Konsultasi:
Dijelaskan adanya indikasi operasi dan konsultasi dengan spesialis bedah untuk penanganan
lebih lanjut.
Rujukan:
Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit dengan
sarana dan prasarana yang lebih memadai.

Jayapura, 22 Oktober 2013


Peserta

Pendamping

dr. Andre Maharadja

dr. Guy Yana Emma Come/


dr. Ade S Cahyani