Anda di halaman 1dari 5

Notulensi Seminar Tata Kelola Energi

Indonesia Menjawab Krisis Energi

Seminar menghadirkan 4 pembicara :


1. Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim, M.Sc (Anggota Dewan Energi
Nasional dan Mantan Direksi PLN)
2. Dr. Agung Wicaksono, M.Sc., MBA (Anggota Tim Tata Kelola
Reformasi Migas dan UP3KN Kementrian ESDM)
3. Ir. Alfi Rusin, MM (Ketua IATMI dan General Manager PT PHE)
4. Prof. Dr. Ir. Widodo Wahyu Purwanto, DEA. (Dosen FTUI)
Dimoderatori oleh : Adrian Danar W., ST (Mahasiswa S2 FTUI)
Notulensi :

Pada tahun 2030, berdasarkan draft energi yang telah disusun,

energi utama Indonesia ialah Batubara ,


UU no 24 tentang MIGAS.
Target 7% energi menjadi komponen fundamental negara
Apakah harga BBM tetap bisa rendah? Walaupun harga minyak
fluktuatif. Sementara LPG yang digunakan masyarakat, harga

cenderung naik
1. Dr. Ir. Daniel
kebijakan energi terkait tata kelola migas
SUMMARY:
ekspor energi lebih besar dari pada konsumsi domestik
ekspor energi murah (gas, coal), impor energi mahal (crude

oil)
pengeluaran subsidi > belanja infrastruktur th.2013
net importir migas tak masalah jika ekonomi kuat dan subsidi

minim
energi = sumber energi + infrastruktur (teknologi)
superload? Belum krisis tapi bisa suatu hari krisis besar.

Kita baru mengkonsumsi 0,05 ton energi. (sedikit)

Bila ingin beralih ke energi, negara harus move on to

industrial, dengan tidak mengabaikan agricultural


Laju produksi migas, sementara laju eksplorasi kita masih

kurang
Energy flow: (data di ppt th.2011)
Energi sumber devisa. Seharusnya bisa diandalkan

perekonomian negara.
1 ton oil ekivalen 1100 liter
Sampai saat ini income mostly dialokasikan untuk subsidi,
sedikit income dialokasikan untuk eksplorasi. Namun, setelah
ada production sharing akan ada biaya utk eksplorasi and

production lifting
Kita tidak memiliki cadangan penyangga. Kalau ada perang
kita akan krisis BBM. Pertamina hanya memiliki 20-21 hari,

sedangkan negara maju bisa sampai 120 hari


Tidak perlu menggenjot lifting. Karena? Karena laju lifting

tidak sustainable.
Substitusi sebanyak-banyaknya BBM dengan gas
Audit BP migas hanya untuk kalangan tertentu. Konsumsi
minyak 50juta kiloliter.

Topik 2 : Reformasi Tata Kelola Migas

Produksi minyak selalu turun, while konsumsi meningkat.


Peaknya 2003 konsumsi melebihi produksi. Sebelum
2003,Defisit dari neraca perdangan bbm masih bisa
terrecover. Th 2013, minyak mentah dan BBM totally defisit.

Maka kita harus impor.


Mafia = para pemburu rente yang memiliki kedekatan dan
pengaruh terhadap para pejabat tinggi pengambil keputusan
yang berdampak pada tidak optimalnya produksi migas,
inefisiensi, and supply chain gas. Diperkuat karena lemahnya

birokrasi dan regulasi yang berlaku.


Korupsi low trust, lame duck bureaucracy, low opprtunities
IDD (Indonesia Deepwater Development) Chevron
mengalihkan investasinya, karena tidak adanya keputusan
final dari pemerintah (surat dilempar tangan terus menerus).

Oleh karena itu, diperlukan adanya transparasi dan


penyederhanaan proses bisnis. Juga mengembalikan

meritokrasi (?)
Pengalihan subsidi untuk pengalihan infrastruktur (subsidi

bbm cabut 300T, infrastruktur 270T)


RON 88 (premium) menjadi celah bagi mafia-mafia. Karena
yang pakai di dunia hanya Indonesia dan sedikit sehingga
yang mengelola indonesia sendiri (peluang untuk curang
besar). Kalau RON 92 banyak terbuka di pasar, sehingga yang
mengelola terdiri dari banyak negara (ada formula utk

mendapat tuan harga nya).


Petral = trader di singapur. ISC di Indonesia. Trader boleh
hanya pengadaannya harus ditarik ke Indonesia (tidak harus

di singapur).
REKOMENDASI: ease the bureaucracy!, revisi UU migas. Juni

akan mulai pembahasan di DPR.


Tata kelola gas: punya agregator. Yang menentukan harga gas.

Topik 3: Rekomendasi IATMI untuk Industri hulu migas dalam rangka


memperkuat ketahanan energi Nasional

Plan IATMI untuk dua tahun kedepan : 1. Memperkuat internal


tenaga kerja Indonesia dengan membuat sertifikasi internasional,

dan 2. Masuk ke dalam reformasi tata kelola migas.


Usulan IATMI : tata kelola migas yang efisien dan transparan,
peningkatan pemahaman tentang cost recovery, pergeseran
paradigma dari fiscal revenue menjadi multiplier effects, kepastian
kebijakan pemerintah terhadap pengelolaan wilayah kerja kontrak

bagi hasil (PSC) Migas yang akan berkahir.


Sinergi antara pemangku kepentingan di sektor hulu migas,
diantaranya mencoba menghilangkan rumitnya perizinan,
lambatnya proses pengadaan, hambatan di daerah operasi, akuisis

lahan, tumpang tindih aturan pusat & daerah, masalah perpajakan.


Pemerintah jangan menjadi operator, bussiness man jangan jadi
penentu kebijakan.

Model kontrak migas yang menguntungkan negara sekaligus cukup

menarik bagi investor.


Jangan terlalu fokus terhadap peluang hasil, tapi lihat dari dampak

semua, contohnya infrastruktur


Jika pengelolaan oleh perusahaan negara, govt akan menerina: PSC
Sharing, Tax, dan Devident.

Selain PSC, ada sistem lain spt No Access(tidak boleh dikelola asing), Limited

Access(boleh tapi terbatas) dan Concession(adanya hak khusus).


Pertamina hanya menguasai 21% wilayah kerja migas yang ada di Indonesia (SumberL

Presentasi KPK di PHE).


Usulan tertulis IATMI ke Pemerintah :
o Membangun perusahaan milik negara untuk menjadi kuat dengan cara
memberikan prioritas atas penguasaan wilayah kerja migas.

Pemerintah diusahakan membuat public consultant.

Topik 4 : Status, Tantangan BBM/kilang dan Ketahanan Energi

Kebijakan energi berat di target dan potensi energi tetapi

miskin di how to achieve the target dan evaluasinya.


Ketahanan energi, kedaulatan energi banyak dibahas tetapi tidak
pernah dikuantifikasi indikatornya Three Blind men and a

elephant.
Kita kurang indutriawan-pengusaha.
Selama era pemerintahan sekarang ini, belum ada pembuatan

kilang minyak.
Kilang minyak dan industri petrokimia belum terintgrasi dalam

satu daerah sehingga uang yang harus dikeluarkan tinggi.


Net gas importer akan terjadi dalam waktu dekat 2019-2023.
Belum ada inter-connected infrastruktur untuk geothermal antar

pulau, jadi hanya bisa mengakomodir daerah tersebut .


Saran :
o Membangun dua kilang minyak baru dengan kapsitas min
600.000 bph
o Perluas infrastruktur pasokan bahan bakar buat nambah
kapasitas stock
o Melakukan aksi nyata dalam meningkatkan bauran bbn dan
bbg untuksektro transportasi
o Jangan hanya jadi korban hub perdagangan BBM & lng
SINGAPURA

o SDM, industriawan lebih penting dibanding hanya sekedar


sumber daya oli & gas.