Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejarah perkembangnya arsitektur di Kalimantan Barat berawal dari kedatangan sang
Prabu Jaya, anak dari Brawijaya yang datang dari pulau Jawa, ia ingin menikahi Junjung
Buih. Setelah pernikahan tersebut, banyak raja - raja baru yang sering berpindah tempat dan
suka mengganti nama. Kerajaan pertama yang tertua didirikan adalah kerajaan Tanjungpura
yang berlokasi di Kuala Kandang Kerbau. Kerajaan Tanjungpura kemudian berganti nama
dengan kerajaan Matan. Kalimantan Barat mempunyai beberapa kerajaan yang terpecah dari
Tanjung pura dan tersebar di beberapa daerah pedalaman. Peninggalan kerajaan-kerajaan
tersebut seperti Keraton, Mesjid, Bangunan Musyawarah, rumah tinggal dan sebagainya
masih utuh sampai sekarang.
Secara umum, arsitektur bangunan di Kalimantan Barat pada umumnya terbagi menjadi
tiga bagian, yaitu: bagian kepala (atap), bagian badan (dinding) dan bagian kaki (pondasi).
Perkembangan arsitektur di Kalimantan Barat sangat lambat. Bentuk-bentuk arsitektur
Kalimantan barat banyak dipengaruhi bentuk-bentuk dari luar dan merupakan campuran dari
berbagai arsitektur bangunan Melayu, Cina dan Arab.
Karakteristik pola perilaku masyarakat Kalimantan barat yaitu hidup berdampingan
secara akrab dan karakteristik lingkungan alam di sekitarnya terungkap pada pola
perkampungan yang mengelompok padat memanjang sejajar atau tegak lurus arus sungai
dan ada pula yang menyebar sepanjang jalan serta penggunaan bahan bangunan yang hampir
keseluruhannya terbuat dari bahan kayu.

1.2 Permasalahan
1. Menganalisa hubungan arsitektur rumah tradisional sebagai lingkungan.

1.3 Tujuan Penelitian


1.
2.
3.
4.

Untuk menambah wawasan mengenai arsitektur nusantara, khususnya kalimatan barat


Membuka pemahaman mengenai arsitektur dan lingkungan hidup Kalimantan barat
Mempelajari lebih dalam berbagai karakteristik yang ada di Kalimantan barat
Merangsang daya berpikir analisis mengenai aspek - aspek lingkungan hidup yang ada di

Kalimantan barat
5. Berpikir lebih kritis mengenai hubungan arsitektur dan lingkungan hidup

1.4 Batasan Masalah


1.
2.
3.
4.

Arsitektur rumah betang


Karakteristik sosial suku Kalimantan barat
Hubungan ekologi dengan arsitektur di Kalimantan barat
Dampak pendatang bagi suku asli Kalimantan barat

BAB II
KAJIAN LITERATUR

2.1 Definisi Arsitektur


Secara etimologis, arsitektur berasal dari dua kata Yunani, yakni arkhe dan tekton. Arkhe
berarti kepala, dan tekton berarti tukang, atau pengrajin.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Arsitektur adalah seni dan ilmu merancang
serta membuat konstruksi bangunan yang mencakup metode dan gaya rancangan suatu
konstruksi bangunan.
Sedangkan, menurut pendapat beberapa para ahli

1. Menurut Vitruvius
Bangunan yang baik yaitu, sebuah kesatuan dari kekuatan/kekokohan (firmitas),
keindahan (venustas), dan kegunaan/fungsi (utilitas).
2. Menurut Brinckmann
Arsitektur merupakan kesatuan antara ruang dan bentuk.
3. Menurut Djauhari Sumintardja
Arsitektur merupakan sesuatu yang dibangun manusia untuk kepentingan jasmani
(melindungi diri dari gangguan) dan rohani (kenyamanan, ketenangan, dll).
4. Menurut Benjamin Handler
Arsitek adalah seniman struktur yang menggunakan struktur secara estetis berdasarkan
prinsip-prinsip struktur.
5. Menurut Banhart CL. Dan Jess Stein
Arsitektur adalah seni dalam mendirikan bangunan mengenai segi perencanaan,
konstruksi, dan penyelesaian dekorasinya; sifat atau bentuk bangunan; proses
membangun; bangunan dan kumpulan bangunan.
6. Menurut Van Romondt
Arsitektur adalah ruang tempat hidup manusia dengan bahagia.

7. Menurut JB. Mangunwijaya (1992)


Arsitektur sebagai vastuvidya (wastuwidya) yang berarti ilmu bangunan. Dalam
pengertian wastu terhitung pula tata bumi, tata gedung, tata lalu lintas (dhara, harsya,
yana).
8. Menurut Amos Rappoport (1981)
Arsitektur adalah ruang tempat hidup manusia, yang lebih dari sekedar fisik, tapi juga
menyangkut pranata-pranata budaya dasar (tata atur kehidupan sosial dan budaya
masyarakat)
9. Menurut Francis DK Ching (1979)
Arsitektur membentuk suatu tautan yang mempersatukan ruang, bentuk, teknik dan
fungsi.
Setelah membaca definisi para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa arsitektur
merupakan ilmu, seni maupun teknik merancang sebuah bangunan yang tidak terlepas dari
kehidupan manusia.

2.2. Tinjauan Mengenai Ekologi Lingkungan Hidup di Kalimantan Barat


Arti dari ekologi yaitu, adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan
lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos "habitat" dan logos "ilmu".
Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun
interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen
penyusunnya, yaitu faktor abiotik (suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi) dan biotik
(makhluk hidup). Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk
hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu
sistem yang menunjukkan kesatuan.
Penebangan ilegal adalah masalah yang lebih besar di Indonesia, dimana diperkirakan 7075 persen dari kayu dipanen secara ilegal, merugikan pemerintah hingga ratusan juta atau bahkan
miliar di pajak pemasukan yang hilang. Kalimantan Selatan diperkirakan akan kehilangan
pendapatan sebesar 100 juta per tahun dalam bentuk penghasilan karena lebih dari separuh dari
produksi kayu dilakukan secara ilegal.
4

Terjadinya penyalahgunaan lahan dengan cara menebang pohon-pohon di area hutan


secara ilegal serta menggantinya menjadi area industry telah membuat masyarakat kecil dan
satwa-satwa mendapat gangguan ekologi.Menurut WWF, penebangan kayu ilegal di Indonesia
dimotori oleh beberapa factor.
Kapasitas perusahaan pemotongan kayu di Indonesia dan Malaysia yang berlebihan.
Keduanya memiliki fasilitas untuk mengolah kayu dalam jumlah besar walau produksi kayu
sendiri telah menurun sejak masa-masa tenang di tahun 1990an. WWF melaporkan bahwa kedua
negara tersebut memiliki kemampuan untuk mengolah 58,2 juta meter kubik kayu setiap
tahunnya, sedangkan produksi hutan secara legal hanya mampu mensuplai sekitar 25,4 juta meter
kubik.
Sisa kapasitasnya digunakan oleh kayu yang ditebang secara ilegal. Kurangnya
kepedulian lokal mengenai penebangan liar. WWF mencatat bahwa kebanyakan orang di Borneo
tidak begitu khawatir dengan penebangan liar.
Bahkan, kelangkaan pekerjaan berarti bahwa rata-rata orang akan senang bekerja di
sektor kehutanan, tak peduli dijalankan secara legal ataupun tidak.Korupsi dan kepentingan
politis lokal.Penebangan, legal maupun ilegal, menciptakan pekerjaan dan menstimulasi kegiatan
perekonomian lokal untuk jangka pendek, sesuatu yang hampir tak akan ditolak oleh politikus
manapun. Lebih jauh, petugas yang ulet bisa menikmati kehidupan berkecukupan dengan
memenuhi kantong mereka dengan keuntungan dari kayu-kayu ilegal. Budaya korupsi ini
ditanamkan sejak masa pemerintahan Suharto dan masih mengakar hingga saat ini.

2.3 Tinjauan Mengenai Karakteristik Kebudayaan di Kalimantan Barat


Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang terdapat di Pulau Kalimantan.
Kalimantan Barat memiliki sebuah suku asli yang bernama suku Dayak. Nama Dayak
merupakan sebuah nama eksonim yaitu nama yang diberikan bukan dari masyarakat itu sendiri.
Kata Dayak berasal dari kata Daya yang artinya adalah hulu untuk menandakan suatu
masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman atau perhuluan Kalimantan.

Menurut J.U Lontaan, 1975 dalam bukunya berjudul Hukum Adat dan Adat Istiadat
Kalimantan Barat menyebutkan bahwa suku dayak terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku
kecil yang memiliki adat istiadat dan budaya yang mirip.
Kepercayaan agama yang dianut oleh penduduk suku Dayak adalah Islam dan sebagian
menganut agama kristen dan dinamisme. Contohnya adalah Puyang Gana (penguasa tanah), Raja
Juata (penguasa air), Kama Baba (penguasa darat), dan lain-lain. Masyarakat yang masih
memegang teguh kepercayaan asli mereka umumnya tinggal di bagian yang lebih ke pedalaman.
Suku asli Kalimantan barat yaitu suku dayak juga memiliki beberapa upacara adat yang
dilaksanakan secara berkala, contohnya adalah upacara Gawai Dayak yang rutin digelar di
Pontianak, Kalimantan Barat.

2.4 Tinjauan Mengenai Dampak dari Pendatang atau Etnis Lainnya.


Karakter dari suku dayak terhadap alam adalah bersahabat, dan tidak ekploistatif,
memiliki karakter yang waspada, tidak mampu berpura-pura dan apa adanya. Terhadap orang
asing, orang dayak tidak begitu saja percaya tidak mudah menerima hal baru, sebelum benarbenar meyakininya. Akan tetapi, apabila kepercayaan telah tumbuh, mereka akan sangat
bersahabat dan terbuka. Orang dayak. Bagi mereka, baik adalah baik dan tidak kenal kebaikan
bertopeng.
Karena banyaknya pendatang baru yang tinggal dan menetap di Kalimantan barat
sehingga secara tidak langsung identitas asli masyarakat dayak menjadi berubah ubah seriring
berkembangnya zaman, hal ini terjadi karena para pendatang yang menyebarkan kepercayaan
mereka ke daerah pedalaman sehingga terjadilah asimilasi (perkawinan). Para penduduk yang
menyebut diri mereka suku Melayu ini akhirnya mengangkat seorang tokoh pemimpin yang
diberi gelar Penembahan untuk mengatur suatu daerah.

2.5 Tinjaun Mengenai Rumah Tradisional Kalimatan Barat


Rumah adat Kalimantan Barat adalah Rumah Betang yaitu sebuah rumah yang
memanjang dengan bentuk panggung yang bersekat - sekat serta terbuat dari material kayu
dengan tinggi 5 - 8 meter. Panjang bangunannya dapat mencapai 180 meter dan lebar 6 meter.
Dengan ukuran yang luas ini, rumah ini dapat memiliki ruangan sebanyak 50 ruangan.
6

BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Hubungan Manusia dan Lingkungan Hidup
3.1.1 Hubungan Masyarakat Dayak dengan Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup tempat tinggal manusia bersama dengan segala yang ada di sekitarnya
yang memungkinkan manusia itu hidup, beraktivitas dan berketurunan. Lingkungan hidup dalam
bahasa Dayak, disebut Paayo(wilayah tempat mencari rejeki kehidupan) dan paansar(tempat
kehidupan bersama, atau kampung). Dalam wilayah ini manusia Dayak hidup bersama dengan
unsur-unsur non- manusia yang diatur oleh adat (religi, norma, aturan, etika) dan diperjelas oleh
mitos-mitos yang diwarisi dari para leluhur mereka.
Suku dayak memiliki kearifan budaya lokal dalam pengelolaan lingkungan hidup yang
sudah diterapkan semenjak jaman nenek moyang dahulu kala sekarang. Salah satunya dengan
tradisi upacara ritual sebelum berladang,karena masyarakat dayak sangat bergantung pada
lingkungan di sekitar mereka, dimana hutan merupakan lingkungan fisik yang ditemukan di
daerah perbukitan menjadi sumber kehidupan mereka untuk dijadikan ladang. Suku dayak sangat
ahli dalam menentukan kualitas tanah yang baik.
Dari aspek - aspek lainya juga masyarakat dayak sangat kental dengan Hukum-hukum
adat, tradisi dan praktek-praktek yang menggambarkan keterikatan atas tanah dan tanggung
jawab untuk melestarikan wilayah tradisional untuk kebutuhan generasi selanjutnya

3.1.2 Pengaruh Kebudayaan Terhadap Perilaku Manusia


Kebudayaan merupakan salah satu hal penting yang secara langsung dapat
mempengaruhi kepribadian individu, dikarenakan individu itu tinggal di sebuah lingkungan yang
memiliki kebudayaan tertentu. Tingkah laku individu tersebut diatur sesuai dengan pola-pola
nilai dan norma yang ada di dalam kelompok masyarakat tersebut, sehingga kebudayaan bersifat
mendasar yang dijadikan pedoman dalam hidup individu itu sendiri.

Contoh penerapan kebudayan dalam kehidupan Suku Dayak yaitu pada bagian rumahnya
(Rumah Panjang atau Rumah Betang). Rumah Panjang adalah gambaran sosial kehidupan
masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Rumah panjang juga merupakan pusat kehidupan dari
masyarakat Dayak.
Pada umumnya, kebudayaan Suku Dayak harus tinggal bersama dengan satu keluarga
besar, sehingga rumah panjang dirancang untuk satu keluarga tersebut. Selain itu, Suku Dayak
memiliki sifat kebudayaan kekeluargaan yang sangat erat. Oleh karena itu, ruang keluarga dalam
rumah betang sangat dekat dari letak kamar yang ada.

3.1.3 Pengaruh Masyarakat Pendatang Pada Lingkungan Hidup Suku Dayak.


Berawal dari datang suku melayu yang berasal dari semenanjung malaka yang secara tidak
langsung mendesak suku dayak asli berangsur angsur semakin masuk ke pedalaman. Sehingga
yang wilayah yang kosong yang ditempati oleh suku dayak sebelumnya, mulai ditempati dan
menetap oleh suku melayu. Suku melayu merupakan suku yang memeluk agama islam yang
hidup dengan cara hidup mereka sendiri dan kebudayaan serta kepercayaan yang dibawa dari
tanah asalnya.
Mereka tidak mau mengikuti kebudayaan masyarakat penduduk asli yaitu suku dayak.
Secara tidak disadari banyak masyarakat dayak yang terpengaruh dengan cara hidup kamu
pendatang dan mulai memeluk agama islam atau dikenal denganmasok melayu atau turun
melayu. Suku melayu identik dengan kemajuan sosial. Beberapa factor yang mempengaruhi
lainnya yaitu :
1.
2.
3.
4.

Pola perubahan yang menuju modern


Pola perubahan mata pencaharian
Pola kearifan terhadap lingkungan mulai bergeser dapat menyebabkan konflik
Pola perilaku yang menjadi indiviidualis

3.2 Arsitektur Kalimantan Barat dan Lingkungannya

3.2.1 Arsitektur Rumah Betang

Berikut ini adalah beberapa ciri arsitektur Rumah Panjang


1. Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan barat terletak di hulu sungai
2. Rumah Betang yang mencapai panjang 30 - 150 meter dan lebar hingga 10 - 30 meter
3. Dibangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian 3 5 meter dari tanah untuk
menghindari datangnya banjir pada musim penghujan, dan menghindari hal-hal yang
meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang
tiba-tiba, binatang buas
4. Setiap keluarga menempati bilik yang di sekat-sekat yang ditempati satu kelurga
kecil, dan umumnya rumah betang ditempati oleh keluarga besar secara turun
temurun
5. di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin yang
dapat bertahan hingga ratusan tahun serta anti rayap.

6. Salah satu kebiasaan suku Dayak adalah memelihara hewan, seperti anjing, burung,
kucing, babi, atau sapi. Selain karena ingin merawat anjing, suku Dayak juga sangat
membutuhkan peran anjing sebagai 'teman' yang setia pada saat berburu di hutan.

Gbr1. Denah, Tampak dan Potongan

12

10

Gbr2.
Program Ruang

Gbr3. Ruang Utilitas

11

12

Unsur unsur karakteristik rumah betang, yaitu :


1. Orientasi
Bagian hulu rumah mengarah ke tempat sang surya terbit, dan bagian hilir
mengarah ke terbenamnya matahari. filosofi suku Dayak menjalani hidup dimulai dari
sang terbit dan pulang ke rumah menuju sang tenggelam. Selain rumah sebagai jantung
kehidupan, Kalimantan identik dengan sungai.
Tidak seperti halnya masyarakat Jakarta yang mempergunakan sungai sebagai
halaman belakang, suku Dayak mengarahkan orientasi tata ruang menuju sungai. Sungai
sebagai halaman depan. Maka, yang terlihat adalah sungai bersih berarus deras, dan
memiliki fungsi ekonomi, sosial, bahkan budaya.Secara sederhananya.

Gbr4. Orientasi bangunan

13

2. Kolom
Memiliki tiang-tiang berukuran besar sebagai struktur utama rumah, berfungsi
sebagai pengikat dinding bangunan agar tidak goyah. Rumah betang terdiri dari 4 tiang
yang disebut tiang agung dan tiap-tiap tiang mempunyai nama seperti tiang Bakas
disebelah kanan pintu masuk,tiang Busu disebelah kiri pintu masuk,tiang Penyambut
sederet dengan tiang Bakas,tiang Perambai sederet dengan tiang Busu.Keempat tiang ini
berada pada ruang tengah bagunan
Filosofi suku dayak, keempat tiang tersebut melambangkan turunnya manusia
pertama yang diturunkan oleh Ranying Hatala Langit.Tiang itu sendiri berdiameter 40
cm-80 cm dan terbuat dari kayu ulin(kayu besi) karena kuat dan tahan lama sehingga
cocok untuk konstruksi utama bangunan Tetapi sekarang terjadi penyerdehanaan karena
ketersediaan bahan
3. Lantai
Menggunakan papan kayu ukuran 6 x 30 cm atau keramik,maupun karpet.
4. Tangga
terbuat dari kayu bulat dan di buat beruas-ruas untuk tempat kaki memanjat namun
seiringnya waktu tangga tersebut sudah dibuat
seperti tangga yang sudah ada sekarang yang
lebih praktis dan ergonomis. Aturan dalam
pembuatan tangganya seperti harus ganjil dan
untuk railing tangga pun juga harus ganjil 1 atau
3. Hitungan ganjil agar saat memasuki rumah
dalam hitungan genap agar terhindar dari
malapetaka.
filosofi suku Dayak, manusia di bagi menjadi 3 tingkatan usia yaitu anak-anak, remaja,
dan dewasa dimana masing-masing mempunyai jangkauan yang berbeda

14

5. Dinding
Dinding Rumah Betang terdiri dari dua lapis yaitu bagian dalam dengan kayu ulin dan
bagian luar menggunakan kulit kayu.
6. Pintu dan Jendela
Pintu, berada di tengah-tengah bangunan, lalu diletakkan pada sisi panjang
bangunan , dan pintu harus berada di depan
Los (ruang kosong). Ukuran pintu merujuk
pada penggunaan ukuran tubuh

wanita

dengan cara wanita duduk bersandar dan kaki


diselonjorkan maka didapat bukaan pintu
sedangkan untuk tinggi, wanita berdiri dan
sbelah tangan nya menggapai keatas. Shg
tidak ada ukuran baku untuk pintu.
Jendela, berada pada bagian sisi
bagunan saja, dimana 1 bilik hanya mempunyai satu jendela dan setiap ruangan di
haruskan mempunyai jendela sebagai lubang cahaya dan pertukaran. Ukuran 60 cm x 90
cm. Cara penentuan jendela ini menggunakan ukuran tubuh wanita dengan merapatkan
siku dan jadilah untuk bukaannya dan untuk tingginya setinggi dagu wanita saat berdiri,
sedangkan

jaman

sekarang ukuran bukaan adalah

sepersepuluh dari luas

ruangan dan

lantai

untuk ukuran keatas

maksimal 1,92 m. Bahan jendela nya


terdiri dari kayu untuk lapisan dalam
dan bagian lapisan luar menggunakan
kulit kayu sedangkan sekarang sudah
ada yang menggunakan kaca karena
semakin maju jaman sehingga banyak
pilihan. Model jendela, dibuat polos
tapi mulai ditambahkn ukiran memberi status sosial.

15

7. Atap
Bagian atap Rumah betang biasanya di ekspos tanpa adanya plafond,dan berguna untuk
sistem cross ventilation dan pengcahayaan. Pada kerangka atap yang tinggi juga
memungkinkan sirkulasi udara yang baik, penutup atap menggunakan sirap kayu.
8. Ornamen
Ornamen sendiri biasanya terdapat pada lisplang atap, di atas ambang daun pintu, dan di
daun pintu ataupun jendela, biasanya terdiri dari
motif burung enggan, ular ,balangga, dan motif
tumbuh-tumbuhan.

Ornamen-ornamen

tersebut

semata-mata untuk perlindungan terhadap roh-roh


jahat. Seperti :
1. Ukiran

Asun Bulan,

terdapat dua

orang bersalaman dengan makna

Ornament suku dayak

orang rumah harus ramah terhadap tamu. ( atas ambang pintu)


2. Ukiran Tambarirang Maning Singkap Langit, ukiran menyerupai anjing
yang melambangkan Tatun Hatuen (Raja Palasit), agar
mengganggu penghuni ( atas ambang pintu)
3. Patung berbentuk manusia yang ada pada

railing

Hantu

tidak

tangga, merupakan

simbol penjaga Rumah Betang,agar roh-roh jahat tidak masuk ke rumah.


4. Anyaman rotan yang bermotif batang garing pada tiang agung yang
melambangkan kesejahteraan
Selain ada maksud didalam ukirannya tetapi ada juga yang hanya sebagai ornamen
seperti :
1. Ukiran Naga Pasai ,perlambangn Bawi Jata atau

Dewa Penguasa Alam

Bawah pada daun jendela dan pintu


2. Ukiran Lamantek, perlambangan kesehatan

16

9. Program ruang
1. Sado'/Simpangk adalah pelantaran tingkat bawah
yang biasanya merupakan jalur lalu lalang
penghuni rumah Betang, sebagai tempat untuk
melakukan aktivitas umum seperti menganyam,
menumbuk padi, berdiskusi adat secara massal,
dan lain sebagainya.
2. Padongk yaitu ruang keluarga, letaknya lebih
dalam dan tinggi dari pada sado'. Ruangan ini
tidak luas, berkisar 4 x 6 meter. Padongk lebih
umum dimanfaatkan oleh pemilik Rumah Betang
sebagai ruang kumpul keluarga, ngobrol, makan
minum, menerima tamu dan aktivitas yang lebih
personal.
3. Bilik adalah ruang tidur.. zaman dahulu, satu bilik bisa dipakai oleh 3-5 anggota
keluarga. Tidur dalam satu ruangan dan hanya
dibatasi oleh kelambu. Kelambu utama untuk ayah
dan ibu, kelambu kedua dan ketiga untuk anakanak. tentu kelambu anak laki-laki dan perempuan
akan dipisahkan.
4. Dapur, Ruang ini terbuka dan memiliki view yang
langsung dengan ruang padongk, berukuran 1 x 2
m dan hanya untuk menempatkan tungku perapian
untuk memasak. Di atas perapian biasanya ada
tempara untuk menyimpan persediaan kayu bakar.
Dapur di rumah Betang amat sederhana dan hanya
berfungsi untuk kegiatan masak memasak saja.

17

5. Pante, lantai yang berada didepan bagian luar atap yeng menjorok ke luar,
berfunggsi

sebagai

tempat

antara

lain:

menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan


upacara adat lainya. Lantai pante berasal dari
bahan bambu, belahan batang pinang, kayu
bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari
batang papan.
6. Jungkar, ruangan tambahan dibagian belakang
bilik keluarga yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau ada kalanya
bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang.
Jungkar ini terkadang ditempatkan di tangga masuk atau keluar bagi satu
keluarga, agar tidak mengganggu tamu yang sedang bertandang. Jungkar yang
atapnya menyambung pada atap rumah panjang dibuatkan tingakat ( ventilasi
pada atap yang terbuka dengan ditopang/disanggah kayu ) yang sewaktu hujan
atau malam hari dapat ditutup kembali.

3.2.2 Hubungan Rumah Panjang dengan Lingkungan dan Manusia


1. Hubungan rumah Betang/Panjang dengan masyarakat Dayak
Masyarakat Dayak memiliki naluri untuk selalu hidup bersama secara
berdampingan dengan alam dan warga masyarakat lainnya. Mereka gemar hidup damai
dalam komunitas yang harmonis sehingga berusaha terus bertahan dengan pola
kehidupan rumah Betang/Panjang. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu
untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan bersama.
Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap
bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam
lingkungan masyarakatnya.

18

Rumah panjang menggambarkan keakraban hubungan dalam keluarga dan pada


masyarakat. Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah Betang/Panjang bagian hulunya
haruslah searah dengan Matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah Matahari terbenam,
sebagai simbol kerja-keras untuk bertahan hidup mulai dari Matahari tumbuh dan pulang
ke rumah di Matahari padam.
Sistem komunal dalam rumah betang ditunjukkan dengan sistem kepemilikan
bersama dalam pengelolaan rumah maupun tanah tempat rumah betang berdiri. Semua
keluarga yang mendiami rumah Betang/Panjang secara bersama menguasai pula semua
tanah diwilayah rumah betang. Hak pengelolaan wilayah rumah betang merupakan hak
sekunder, sedangkan hak primer atau hak pengelolaan rumah juga dipegang oleh setiap
keluarga atau kelompok keluarga kecil yang memiliki ikatan kekerabatan. Komunalisme
tersebut merupakan bukti adanya kesatuan yang kokoh dalam masyarakat Dayak.
2. Hubungan Rumah Betang/Panjang dengan Lingkungan Sekitar Masyarakat Dayak
Suku Dayak pada umumnya berdomisili di daerah hulu sungai. Kondisi ekologis
ini berpengaruh pada bentuk rumah Betang yang pada umumnya berbentuk panggung
dengan ketinggian tiga hingga lima meter dari tanah. Bangunan rumah Betang yang
berbentuk demikian berfungsi untuk menghindari banjir pada musim hujan yang kerap
melanda daerah hulu sungai di Kalimantan.
Rumah Betang/Panjang diangkat sekitar 2-3 meter dari permukaan tanah untuk
menghindari ancaman binatang buas dan sekaligus sebagai pertahanan dari ancaman
musuh. Tangga untuk akses masuk dibuat bisa ditarik ke dalam rumah.
Pola pemukiman rumah Betang/Panjang erat hubungannya dengan sumbersumber makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, seperti lahan untuk berladang,
sungai yang banyak ikan, dan hutan-hutan yang dihuni binatang buruan.

19

Dalam pedoman arsitektur tradisional Dayak terdapat faktor-faktor penentu


seperti hal-hal yang berhubungan dengan dasar pemilihan lokasi, penataan site plan,
perencanaan bangunan, dimensi, proporsi, simbol-simbol, dan detailnya, demikian juga
pada pemakaian dan penempatan materialnya. Arsitektur tradisional Dayak menempatkan
suasana dan pengarahan dengan bentuk-bentuk ruang yang dapat menjaga keseimbangan
manusia dengan alam lingkungannya.
Suku Dayak memiliki adat istiadat yakni menyatu dengan alam. Adat istiadat
tersebut mengajak masyarakatnya untuk menjaga alam dan menghormatinya. Mereka
menganggap alam adalah segala-galanya. Mereka bisa hidup dan memenuhi segala
kebutuhannya karena sudah disediakan oleh alam. Dengan alasan itulah mereka tidak
pernah punya nafsu sama sekali untuk berbuat sesuatu yang merusak alam yang menjadi
sumber penghidupannya.
Kebersahajaan dalam memanfaatkan alam dan lingkungannya tersebut itulah yang
turut menjaga kelestarian alam. Mereka beranggapan dengan menjaga lingkungan, maka
lingkungan pun akan menjaga mereka dengan menyediakan berbagai kebutuhan hidup
sehari-hari.

3.2.3 Rumah Panjang Sebagai Arsitek Biologis


Arsitektur biologis adalah arsitektur kemanusiaan yang memperhatikan kesehatan
manusia. Karena arsitektur ini berhubungan dengan kesehatan manusia, maka yang perlu
diketahui adalah terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia yang harus
dipertimbangkan dalam mendesain sesuatu. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat
mempengaruhi arsitektur biologis, yaitu :
1. Iklim
Iklim merupakan susunan keadaan atmosfer dan cuaca dalam jangka waktu dan daerah
tertentu. Iklim biasanya digolongkan menjadi dua, yaitu iklim makro dan iklim mikro.
a. Iklim Makro
Iklim makro merupakan iklim suatu negara, benua, atau daerah tertentu menurut sifat
pokoknya, seperti letak geografis, tinggi di atas permukaan laut, pesisir laut, arah angin,
dan lain-lain. Iklim makro ini menyebabkan beberapa tempat dapat digolongkan menjadi
20

daerah iklim tropis lembap (hujan, kelembapan, dan suhu tinggi), daerah iklim tropis kering
(hujan dan kelembapan sedikit serta perbedaan suhu siang-malam tinggi), atau daerah iklim
pegunungan (suhu sedang dan perbedaan suhu siang-malam lebih tinggi).
b. Iklim Mikro
Iklim mikro merupakan iklim di lapisan udara dekat permukaan bumi (tinggi 2m).
Gerak udara lebih kecil karena permukaan bumi yang kasar dan perbedaan suuhu lebih
besar. Jadi, apabila pada suati permukaan datar kita letakkan sebuah batu, maka di daerah
tersebut sudah terjadi perubahan iklim antara daerah yang panas dengan daerah yang sejuk.
Perlu diketahui, suhu tubuh yang harus dipertahankan untuk kesehatan manusia adalah
37C sehingga bangunan tempat tinggal manusia janganlah membuat suhu tubuh seseorang
meningkat.
2. Angin dan Gerakan Udara
Pada daerah beriklim tropis, panas, kelembapan udara serta suhu relatif tinggi. Angin
sedikit bertiup sehingga

orientasi bangunan terhadap

arah gerak angin harus

diperhatikan.

bangunan ditempatkan di

antara lintasan matahari dan

tegak lurus dengan arah

angin.

sebaikanya pada orientasi


Selain orientasi, untuk

timur-barat.
mencegah temperatur panas

pada

suatu

bangunan, sebaiknya ukuran

bukaan juga diperhatikan.


Angin bergerak dari

daerah bertekanan tinggi ke

ruangan

Letak

Orientasi
gedung

daerah bertekanan rendah. Oleh karena itu, bukaan tempat masuknya angin sebaiknya dibuat
berukuran lebih kecil daripada bukaan tempat keluarnya angin karena hal ini mempengaruhi
kecepatan aliran udara yang masuk ke dalam ruangan.

21

3. Cahaya Matahari
Cahaya adalah bagian penting bagi kehidupan manusia, terutama untuk mengenali lingkungan
dan menjalankan aktivitasnya. Pengertian cahaya dapat diumpamakan sebagai sebuah gua
gelap dengan lubang kecil tempat masuk cahaya. Semakin gelap permukaan gua, semakin
kecil lubang masuknya cahaya. Namun, semakin besar lubang masuknya cahaya akan
memberikan efek silau, tetapi hal ini dapat dikurangi dengan mengecat dinding gua dengan
warna terang.
a. Cahaya dari Bukaan Atap dan Dinding
Pencahayaan pada ruang dalam
bangunan

dapat berasal dari atas (lubang

atap) dan

dari samping (lubang dinding).

Cahaya

dari samping (jendela) sering

tidak

optimal

karena

jangkauan.
bukaan,

keterbatasan

Semakin

dalam

ruangan

dari

daerah

terjauh

menjadi

lebih gelap sehingga penyebaran

sinar

matahari tidak merata. Untuk

mengatasi

hal

sebaiknya

berasal dari dua arah.

dari

tersebut,

akan

membuat

ruangan

tersebut

maka

bukaan

b. Perlindungan Terhadap Silau Matahari


Intensitas cahaya matahari yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya silau.
Silau

dapat

menyebabkan

ketidaknyamanan visual dan bisa


melelahkan

mata..

Untuk

menghindari terjadinya silau, maka

c.

dibuatlah

selasar di samping bangunan, atap

tritisan,

dan pemberian sirip pada jendela.


Pencemaran Cahaya
Pencemaran
cahaya

artinya

perubahan malam gelap dengan

22

cahaya. Kelebihan cahaya pada waktu malam mengakibatkan kematian jutaan serangga,
mengganggu orientasi burung yang berpindah dan juga mempengaruhi kesehatan
manusia karena hormon melatonin yang menjamin pelepasan lelah dalam keadaan tidur
diatur melalui kegelapan. Jika tempat tidur diterangi dengan lampu maka kenyenyakan
tidur dapat terganggu.
4. Bunyi
Bunyi dapat didengar melalui telinga manusia. Daun telinga berfungsi sebagai corong
untuk mengumpulkan getaran bunyi. Getaran bunyi yang masuk daun telinga lalu masuk ke
gendang telinga kemudia bergetar. Getaran ini menggetarkan tulang-tulang pendengaran lalu
menggetarkan rumah siput (koklea) dan juga cairan limfa di dalamnya. Getaran terhadap
cairan limfa merangsang ujung-ujung saraf lalu menyampaikan bunyi ke otak.
a. Kepekaan Telinga Terhadap Rangsang
Batasan rasa sakit pada telinga manusia terletak pada 130 dB contohnya adalah pesawat
terbang di bandara yang sedang lepas landas atau mendarat atau juga petasan yang
digunakan untuk memeriahkan suasana pesta. Pada tingkat kebisingan lebih lanjut, yaitu
180 dB dapat menyebabkan kematian akibat kejutan. Kebisingan secara terus-menerus
dapat mengubah watak seseorang sehingga menimbulkan stress, depresi, tekanan darah
tinggi serta pekak labang (agak tuli).
b. Frekuensi Bunyi
Bunyi adalah sensai akibat getaran suatu benda yang diterima telinga. Ada dua macam
sifat bunyi, yaitu :
- Bunyi yang diinginkan, seperti pembicaraan atau mendengarkan musik
- Bunyi yang tidak diinginkan, seperti bising lalu lintas atau bising akibat keramaian
lingkungan sekitar.
c. Macam Bunyi
Secara umum bunyi dapat dihasilkan atau ditransmisikan lewat udara dan lewat struktur
bangunan. Bunyi udara adalah bunyi yang perambatannya melalui media udara dan dapat
dihasilkan dari bunyi yang dikehendaki ataupun dari bunyi yang tidak diinginkan. Bunyi
struktur adalah bunyi yang perambatannya melaui media struktur bangunan sebagai akibat
dari benturan dengan benda lain, seperti dinding yang dipalu, injakan pada lantai, mesin
pada lantai, dan lain-lain.

23

Rumah Panjang sebagai Arsitektur Biologis


Rumah panjang merupakan rumah tradisional Suku Dayak yang terletak di Kalimantan Barat. Di
bagian ini, kami akan membahas Rumah panjang apakah termaksud arsitektur biologis atau
tidak. Berikut adalah analisis kami :
1) Iklim
Kondisi alam , yaitu iklim di Kalimantan Barat termaksud iklim tropik basah dengan
kelembapan 80%-90%. Karena wilayah Kalimantan Barat termaksud ke dalam wilayah
tropik

basah

hujan,

kelembapan udara, dan suhu

tinggi

menyebabkan

kondisi

alam di sekitar menjadi

panas ketika siang hari. Panas ini

tentunya dapat mengganggu

aktivitas

dibiarkan. Oleh karena itu,

material

dengan

penghuni
bangunan

apabila
yang

membangun Rumah Panjang ini


2) Cahaya Matahari
Karena iklim daerah Kalimantan

digunakan

untuk

adalah kayu karena kayu

Barat yang panas, maka hal

ini mempengaruhi dalam bentuk bangunan. Untuk menghindari panas matahari langsung
masuk ke dalam ruangan maka penutup atap bangunan Rumah Panjang menggunakan sirap
yang dapat mengurangi panas matahari masuk ke dalam ruangan. Material bangunan
menggunakan kayu serta menggunakan atap tritisan yang menghalangi cahaya matahari
langsung masuk ke dalam ruangan melalui jendela.

3) Angin dan Gerakan Udara


Orientasi bangunan Rumah Panjang adalah timur-barat karena menyimbolkan kerja keras
untuk bertahan hidup mulai dari matahari tumbuh dan pulang ke rumah di matahari padam.
Karena orientasi timur-barat, maka bukaan jendela banyak terdapat di daerah utara dan
selatan. Model rumah panjang ini yang memanjang mentebabkan bukaannya pun juga
24

banyak sehingga sirkulasi udara nya


baik.

Bentuk

panggung

bangunan

juga

yang

menyebabkan

sirkulasi udara tidak hanya dari atas


tetapi juga dari bawah.
4)

Bising
Kebisingan di Rumah panjang ini
juga tidak terlalu terasa karena
daerahnya yang di kelilingi hutan
tidak seperti di perkotaan yang kebisingannya sangat terasa.

3.3 Peranan Ekologi dalam Arsitektur Rumah Panjang


3.3.1 Pengelolaan Ekologi pada Arsitektur Rumah Panjang
Suku dayak adalah suku terbesar di Kalimantan Barat. Orang dayak membangun tempat
tinggal mereka sendiri dan diberinama rumah Panjang. Rumah panjang adalah sebuah simbol
pendukung dari suku dayak di Kalimantan Barat. Bentuk dan fasat rumah panjang bukan hanya
berasal dari lingkungan sekitarnya. Sebuah rumah yang dapat memenuhi puluhan kepala
keluarga, baik itu generasi tua atau pun generasi muda. Hal tersebut dianggap mempunyai
semangat solidaritas, kebersamaan yang tinggi.
Selama 5 dekade terakhir, ekosistem hutan di Kalimantan telah berkurang sangat drastis.
Dari tahun 1949 hingga 2009 lalu, luas lahan hutan di Kalimantan telah berkurang sekitar 20%.
Penunjukkan Kawasan Hutan (SK Menhut No. SK 435/MENHUT-II/2009). Statistik ini
membuktikan lebih dari sekedar cerita tentang perubahan ekosistem hutan. Luasnya perubahan
hutan akibat pertambahan populasi sehingga perlu di buka lahan tinggal yang baru. Pohonpohon di tebang untuk membangun rumah tinggal.
Seiring dengan bertambahnya jumlah populasi kebutungan pangan bertambah para petani
membuka lahan baru untuk memproduksi bahan pangan lebih banyak demi mencukupi

25

kebutuhan hidup para keluarga. Akibat pembukaan lahan hutan yang baru secara luas tanpa
diadakan reboisasi kembali, ekosistem hewan dan tumbuhan menjadi terganggu.
Semua hewan dan tumbuhan yang terdapat dalam suatu ekosistem termasuk lingkungan
biotik. Menurut peranannya, komponen ini terbagi atas 3 golongan, yaitu produsen, konsumen
dan dekomposer(pengurai).
Produsen yang berarti penghasil, produsen merupakan organisme yang mampu
menghasilkan zat makanan sendiri. Melalui fotosintesis.yang termasuk dalam kelompok ini
adalah tumbuhan hijau atau tumbuhan yang mempunyai klorofil. Konsumen yang berarti
pemakai. Organisme yang tidak dapat menghasilkan zat makanan sendiri tetapi menggunakan zat
makanan yang dibuat oleh organisme lain.
Dekomposer atau pengurai yang berperan menguraikan bahan organik yang berasal dari
organisme yang telah mati ataupun pembuangan hasil dari sisa pencernaan. Jika tumbuhan atau
produsen tidak mencukupi komsumen, hal tersebut dapat mengganggu seluruh oraganisasi rantai
makanan. Akibatnya sang konsumen bermatian karena tidak mendapatkan makanan untuk
bertahan hidup.

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Arsitektur Kalimantan barat yaitu rumah panjang memiliki beragam filosofi yang
menjadikan dasar yang kuat dalam setiap detail detail yang ada pada bangunan. Selain
itu masyarakat dayak sangat menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitar mereka,

26

dapat dikatakan bahwa rumah panjang merupakan rumah yang mengadaptasi pada
lingkungan

mereka,

baik

secara

material

bangunan

hingga

tradisi

ataupun

kepercayaannya.

27

DAFTAR PUSTAKA
kakurakatub.blogspot.com/2010/11/seni-arsitektur-dayak.html
http://mahakam24.blogspot.com/2013/11/betang-rumah-adat-suku-dayak.html
http://travel.detik.com/read/2013/11/28/175000/2381942/1025/rumah-betang-penjaga-tradisisuku-dayak
http://dayakmenggugat.blogspot.com/2010/04/arsitektur-rumah-betang.html
http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20110606/rumah-betang.html
Rumah Panjang. http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Panjang. Diakses pada 13 September
2014
Rumah Betang. http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Betang. Diakses pada 13 September 2014
Budaya. http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya. Diakses pada 13 September 2014
Kehidupan. http://id.wikipedia.org/wiki/Kehidupan. Diakses pada 13 September 2014
http://bagas-sarosa-gunadarma.blogspot.com/2012/11/pengaruh-perkembangankebudayaan.html. Diakses pada 13 September 2014
27

http://dhozkiii.wordpress.com/2012/03/18/pengaruh-kebudayaan-bagi-kehidupan-sehari-hari/.
Diakses pada 13 September 2014
http://www.slideshare.net/RahmadaniD/6-pengaruh-kebudayaan-terhadap-kepribadian.

Diakses

pada 13 September 2014


http://www.academia.edu/3992935/Pengaruh_Budaya_Terhdap_Lingkungan_Pemerintahan_di_I
ndonesia. Diakses pada 13 September 2014
http://esty.staff.uns.ac.id/pengaruh-budaya-terhadap-perilaku-konsumen/. Diakses

pada 13

September 2014
Suku Dayak sebagai Inti Kebudayaan Kalimantan Tengah.

28

http://www.anneahira.com/kebudayaan-kalimantan-tengah.htm. Diakses pada 13 September


2014
http://anniswihastin.blogspot.com/2013/10/kebudayaan-suku-dayak-dalam-menjaga.html
http://forumbedayong.weebly.com/3/post/2012/07/hubungan-erat-lingkungan-dan-budayaterkait-hak-masyarakat-adat.html
http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/08/suku-dayak-baik-hati-dan-tidak-sombong369598.html
http://www.nila-riwut.com/id/dayaknese-people-from-time-to-time/34-lain-lain/129-dayaktribes-attitude-toward-guests-and-visitors?showall=1
Frikz, Heinz. Seri eko arsitektur 1
Friks, Heinz. Seri eko arsitektur 2
Somarwoetto, otto. Pemanfaatan ekologi di lingkungan hidup

29

Beri Nilai