Anda di halaman 1dari 15

CLINICAL GOVERNANCE AND CLINICAL AUDIT

MATA KULIAH
CLINICAL GOVERNANCE AND CLINICAL AUDIT

DOSEN
Dr. dr. MELIANA ZAILANI, MARS

DISUSUN OLEH :
Dandy Maslow (1006745991)
Handi Wijaya (1006746060)
Yuyun Umniyatun (1006746382)
Erwin Dharma (1106118874)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM PASCA SARJANA
KAJIAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
UNIVERSITAS INDONESIA
2011

Pendahuluan
Audit klinis didefinisikan sebagai proses peningkatan kualitas yang bertujuan
untuk meningkatkan perawatan pasien dan hasil melalui review sistematik perawatan
terhadap kriteria eksplisit dan pelaksanaan perubahan '(NICE, 2002). Sejak tahap
perkenalannya pada tahun 1989, audit klinis telah dimasukkan kedalam filosofi NHS
dan menjadi komponen kunci dalam prinsip-prinsip clinical governance, yang terkait
dengan patient safety, mutu pelayanan pasien dan pengurangan risiko klinis.
Selanjutnya, audit klinis menjamin pelayanan yang sesuai dengan tujuan, dimana
adanya peningkatan mutu yang berkelanjutan, pelayanan yang meminimalkan bahaya
dan aman. Audit klinis menjadi bagian dari rencana pengembangan NHS, yang
memperkenalkan kerangka kerja kinerja yang berjudul Standards For Better Health.
Kerangka kerja itu mempunyai tujuh area, dengan tiap area mengandung inti dan
pengembangan standar. Pada area kedua, Clinical and Cost Effectiveness, yang
menjelaskan tentang kebutuhan untuk organisasi pelayanan kesehatan untuk menjamin
bahwa para klinisi ikut serta pada audit klinis sehari-hari dan peninjauan pelayanan
klinis.
Pengertian Audit
Pengertian audit seringkali menjadi rancu dengan kata evaluasi dan riset
dan, meskipun tiga kata tersebut dapat digunakan dengan dipertukarkan, mereka
tidaklah berhubungan. Ini sangat penting untuk mengetahui perbedaan antara tiga
terminologi itu. Audit bisa didefinsikan sebagai peninjauan pelayanan yang ada untuk
memonitor dan meningkatkan kinerja yang menekankan pada perbandingan antara
kinerja saat ini dengan standar yang telah ditentukan. Penemuan dari audit biasanya
akan digunakan pada pelayanan yang ada dan disebarluaskan pada tingkat lokal saja.
Kegiatan audit tidak melibatkan perawatan yang baru
Pengertian Audit Medis
Audit Medis adalah proses pengaturan standar eksplisit, mengukur bidang
praktek medis terhadap standar-standar dan menerapkan setiap perubahan yang
diperlukan untuk meningkatkan perawatan pasien. Kombinasi dari audit medis dengan
kompetisi dan proses kontrak diperkenalkan oleh pasar internal akan menyebabkan

peningkatan standar perawatan seluruh rumah sakit(Donaldson & Gray, 1998) dan, pada
tahun 1990, partisipasi dalam audit medis ini termasuk dalam kontrak bagi dokter
rumah sakit. Pada awal 1990-an, menjadi semakin jelas bahwa menjadi masuk akal
untuk mengecualikan profesi lain dari proses audit. Audit Medis berevolusi menjadi
audit klinis yang mengukur keseluruhan pelayanan terhadap pasien dan menjadi suatu
proses dilakukan oleh tim multi-disiplin.
Pengertian Audit Klinis
Terminologi audit klinis dan clinical governance menimbulkan sejumlah respons
yang berbeda, termasuk kebosanan, frustrasi, tidak dapat dimengerti dan jarang
menimbulkan antusiasme. Secara umum, audit klinis dapat dimengerti sebagai
komponen integral dari clinical governance, akan menjadi suatu aktifitas dimana tenaga
klinis akan menemukan bagian menarik, dapat berkembang, dan berguna pada kegiatan
klinisnya setiap hari. Melalui clinical governance, audit klinis akan dapat mencapai
peningkatan yang penting dan dapat diukur dalam pelayanan pasien sebagai hal yang
rutin dilakukan.
Audit klinis dianggap sebagai salah satu pilar clinical governance '(Oyebode et
al, 1999a). Clinical governance akan memiliki dampak yang signifikan pada cara audit
klinis dilakukan dan dikelola dalam pelayanan kesehatan.
Tujuan
Semua penyedia pelayanan kesehatan wajib melaporkan kegiatan audit klinis
sebagai bagian dari

the Standards for Better Health declaration to the Healthcare

Commission, yang melakukan penilaian terhadap kegiatan audit klinis. Tujuan utama
dari kebijakan ini adalah untuk menjamin semua staf klinis memperoleh pengetahuan
ringkas dan jelas serta memahami audit klinis dan kontribusi secara keseluruhan
terhadap prinsip peningkatan mutu secara berkelanjutan dalam clinical governance pada
penyedia pelayanan kesehatan. Ini juga bertujuan untuk menyediakan struktur
komprehensif untuk mereka yang ingin melakukan audit, untuk menguraikan proses
yang terkait pada audit klinis, untuk mendukung kegiatan audit dan menyediakan
kerangka kerja dari kegiatan audit yang dapat diterima dalam penyedia pelayanan
kesehatan.

Ruang Lingkup Audit klinis


Kebijakan audit klinis ditujukan kepada semua staf klinis dalam rumah sakit.
Secara khusus, hal ini merupakan kebutuhan dari pemerintah yang menyatakan bahwa
seluruh tenaga klinis ikut serta dalam audit klinis sehari-hari. Tenaga klinis yang
dimaksud disini adalah setiap orang yang mempunyai kontak klinis dengan pasien
(dokter, dokter gigi, perawat, apoteker, optometris, praktisi pelayanan gawat darurat,
dan tenaga-tenaga kesehatan yang terkait).
Ini merupakan kegiatan yang sangat disarankan agar audit klinis dituliskan ke
dalam job description tenaga klinis sebagai tanggung jawabnya. Dan sangat disarankan
bahwa audit tahunan seharusnya dituliskan ke dalam setiap Service Level Agreement
(SLA) dan pelayanan yang jelas untuk menjamin pelayanan berlanjut dalam memenuhi
kebutuhan dari pasien dan rumah sakit.
Area yang diaudit ditentukan sebagai berikut:
Policies and Procedures
Service Level Agreements and Contracts
Systems and Processes
Complaints, Significant Events and Concerns
Clinical
Interface
Rumah sakit dan stafnya wajib menggunakan kebijakan ini sebagai sarana untuk
melakukan good practice
Proses Audit
1. Siklus dan tahapan audit
Ada banyak penafsiran dari siklus audit yang terdapat dalam literature. Untuk
tujuan pada kebijakan audit klinis, maka siklus dan tahapan audit yang
digunakan adalah yang tercantum dalam Principles for Best Practice in Audit
klinis yang diterbitkan oleh the National Institute for Health and Clinical
Excellence (NICE) pada tahun 2002.

Gambar 1. Siklus Audit Klinis


Siklus Audit klinis
1. Menetapkan hal apa yang ingin kita capai
Pada tahap ini perlu menetapkan tujuan berdasarkan pedoman atau standard dan
bukti serta memerlukan kesepakatan semua pihak
2. Melakukan self assessment dengan bertanya apakah kita sedang mencapai tujuan
Tahap ini kita akan melakukan sampling kasus yang akan diaudit dan kemudian
melakukan pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner
3. Jika tidak mencapai sesuai tujuan maka akan melakukan self assessment kembali
Kasus-kasus yang masih bermasalah akan dilakukan penanganan lebih lanjut
melalui manajemen perubahan dan fasilitasi
4. Melakukan sesuatu untuk membuat lebih baik
Pada tahap ini, kita benchmarking, perbaikan mutu secara berkelanjutan, serta
perbaikan desain untuk dapat memecahkan masalah
5. Melakukan self assessment dengan bertanya apakah kita telah membuat lebih
baik
Setelah telah melakukan perbaikan, perlu dimonitoring dan melibatkan pasien
untuk memperbaiki system lebih baik lagi

Gambar 2. Tahapan Audit Klinis


Tahapan dalam audit klinis
1. Mempersiapkan audit
Menetapkan masalah yang akan diaudit
2. Menetapkan criteria
Menetapkan indicator criteria dan kinerja dari audit. Penetapan standar
berdasarkan peer group (kelompok staf medis terkait) dan atau dengan ikatan
profesi setempat. Ada dua level criteria yaitu must do yang merupakan absolute
minimum criteria dan should do yang merupakan tambahan criteria yang
merupakan hasil penelitian yang berbasis bukti.
3. Mengukur kinerja
Mengukur pencapaian kinerja dari masalah

yang

diaudit

dengan

membandingkan dengan indicator criteria dan kinerja


4. Membuat peningkatan
Peer group melakukan tindakan perbaikan untuk peningkatan mutu pelayanan
melalui perbaikan prosedur pelayanan, pelaksanaan pelatihan , dan lain-lain
5. Mempertahankan peningkatan
Melakukan pemeliharaan tindakan perbaikan yang sudah dilakukan dengan
melakukan pengawasan secara berkala.
Tipe-Tipe Audit

Ada berbagai macam tipe dari audit yang dapat diambil. Semua tipe audit
mempunyai siklus dan metode yang sama. Tetapi, criteria yang dipilih ditentukan
dengan tipe audit yang diambil.
1. Audit Sistem
2. Audit Kebijakan dan Prosedur
3. Audit Kesepakatan Tingkat dan Kontrak Pelayanan
4. Audit Keluhan, Insiden atau Perhatian serius yang tidak baik
5. Audit klinis
6. Interface Audit
1. Audit Sistem umumnya dimulai dengan proses pemetaan dan dapat dilakukan
sebagai bagian dari latihan perampingan ini. Mereka memungkinkan penyelidikan
efektivitas dari suatu sistem tertentu dan mendorong proses probing dari waktu,
sumber daya keuangan dan personil untuk memungkinkan merampingkan proses
dan penghapusan limbah. Hasil audit ini biasanya membantu untuk mengidentifikasi
di mana kebijakan yang spesifik dan dokumen prosedural diperlukan.
2. Audit Kebijakan dan Prosedur ini melibatkan kebijakan dengan menggunakan
atau dokumen prosedur sebagai kriteria. cara umum untuk prosedur audit yang baik
untuk mengamati seseorang melakukan prosedur dan membandingkannya dengan
Standar Operasional Prosedur (SOP), ATAU dengan meminta auditee untuk
menjelaskan prosedur dan kemudian membandingkan penjelasan ke dokumen
prosedural. Semua SOP harus diaudit terhadap untuk kepatuhan dan jenis audit
dapat membantu untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dalam PCT tersebut.
Tugas diperlukan untuk terus dengan bisnis sehari-hari harus diidentifikasi melalui
pemetaan proses dan SOP harus ditulis untuk mencerminkan 'praktek terbaik'.
Proses pemetaan juga akan membantu untuk mengidentifikasi bidang kebutuhan
sumber daya meningkat dan oleh karena itu daerah yang mungkin perlu
'dirampingkan' - prosedur 5S dapat dilakukan untuk melakukan hal ini.
3. Audit Kesepakatan Tingkat dan Kontrak Pelayanan. Jenis audit menggunakan
Layanan Level Perjanjian atau Kontrak sebagai pemandu dengan kriteria untuk audit
terhadap. Jenis menyelidiki audit kepatuhan terhadap suatu kesepakatan yang
mengikat yang dapat mengakibatkan denda keuangan bagi mereka yang noncompliant. Keberhasilan audit namun tergantung pada kualitas SLA.
4. Audit Keluhan, Insiden atau Perhatian serius yang tidak baik, ini timbul secara
langsung dari keluhan atau serangkaian keprihatinan dan mengikuti format yang

sama seperti Root Analisis Penyebab. Mereka sangat spesifik terhadap keluhan atau
keprihatinan dan sering menghasut audit yang lebih luas atau dapat menghasut
sistem atau, kebijakan / audit prosedural.
5. Audit klinis, ini prihatin dengan luas klinis atau penyakit tertentu dan umumnya
melibatkan penyelidikan kepatuhan terhadap standar klinis lokal, nasional atau
internasional yang disepakati (NICE, SIGN dll). Mereka dapat juga Namun,
mencakup salah satu jenis audit seperti yang dinyatakan sebelumnya (audit
Kebijakan.dll) dan karena itu kriteria yang dipilih akan tergantung pada apakah atau
tidak jenis audit lain yang terlibat. Komisi Kesehatan memiliki Clinical Audit
Program Nasional mengandung audit yang mereka komisi dan termasuk audit dalam
bidang berikut: Kanker, Jantung, Anak-anak dan bersalin, jangka panjang, kondisi
kesehatan mental, Orang-orang Lanjut Usia, hasilnya pada Pasien
6. Interface Audit, audit terutama didefinisikan sebagai audit yang mencakup
keduanya profesional perawatan primer dan sekunder / departemen. Masehi & RDM
bertanggung jawab untuk memastikan ada hubungan didirikan dengan Klinis
Efektifitas / personil Audit dalam Trust lokal. Interface audit juga dapat
didefinisikan sebagai orang audit yang dilakukan oleh audit internal 'atau DATAC.
CE & RDM akan bertanggung jawab untuk memastikan audit bahwa dengan
'organisasi' didokumentasikan dalam program audit standar dan akan berusaha untuk
melakukan audit bersama ini 'organisasi' mana yang tepat.

Struktur pelaporan audit dan dukungan audit


Segala tahapan audit yang sudah selesai (tahapan satu sampai empat) dan reaudit harus dilaporkan ke komite clinical governance dan termasuk hasil audit kunci dan
daftar kegiatan pengembangan yang telah diidentifkasi sebagai hasil audit.
Clinical

Effectiveness

and

Research

Development

Manager

akan

mengorganisasi audit yang dimasukkan ke dalam agenda pertemuan komite clinical


governance. Komite clinical governance akan membuat keputusan agar audit
dipresenatsikan ke komite penjaminan dan tata kelola. Hasil audit yang spesifik pada

satu area akan dilporkan ke kelompok yang berwenang. Departemen audit seharusnya
dilaporkan kepada pertemuan direktorat atau departemen yang terkait.
Tata cara kegiatan
Indikator dari tata cara kegiatan untuk melaksanakan audit klinis mengikuti tata
cara berikut ini yang diambil dari buku berjudul A Code of Good Practice for Audit
klinis Professionals. Ada delapan indicator dasar dari tata cara kegiatan tersebut yaitu:

Tanggung jawab dan akuntabilitas


Professional audit akan mengambil tanggung jawab dan akuntabilitas untuk

penilaian dan aksi mereka


Menghargai para tenaga kerja
Professional audit akan menghargai hak setiap pekerja yang terlibat di dalam

audit
Mempertahankan kesempatan yang sama
Professional audit akan menghargai martabat dan keunikan setiap orang yang

terlibat dalam audit


Kepercayaan dan integritas
Professional audit akan selalu mencari untuk memberikan data yang akurat,
terpercaya berdasarkan objektifitas professional, menjaga integritas dalam audit

klinis
Kerahasiaan
Professional audit akan menjaga kerahasiaan ketika melakukan audit klinis
Kerjasama
Professional audit akan bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang mempunyai
tanggung jawab dalam mengevaluasi, memonitor atau meningkatkan mutu

dalam pelayanan pasien.


Kompetensi dan pemeliharaan kemampuan
Professional audit akan berlaku untuk

memastika

pemeliharaan

dan

pembaharuan secara berkelanjutan dari kemampuan dan pengetahuan dalam

audit yang terkait aktifitas


Menjaga standar pelayanan
Professional audit akan berlaku untuk menginformasikan orang yang
bertanggung jawab pada setiap area permasalahan yang diidentifikasi ketika
melakukan audit klinis

Tugas dan Tanggung jawab


1. Chief Excecutive

Chief excecutive mempunyai tanggung jawab pada pengarahan strategis dan


manajemen operasional dari rumah sakit, termasuk memastikan kebijakan audit
klinis mengikuti segala ketentuan hukum, statute dan pedoman good practice
2. Trust Board
Trust board mempunyai tanggung jawab untuk menetapkan konteks strategis
dalam kebijakan audit klinis dan prosedur terkait yang dikembangkan dan
menetapkan skema dari tata kelola untuk peninjauan formal dan persetujuan dari
kebijakan ini
3. Komite Clinical Governance
Komite clinical governance bertanggung jawab untuk pengesahan dan validasi
dari program audit rumah sakit, penerimaan laporan audit yang telah selesai dan
memprioritaskan segala audit.
4. Direktur Medis
Direktur medis bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, mengembangkan
dan mengimplementasikan kebijakan audit. Direktur medis juga bertanggung
jawab untuk memastikan bahwa kebutuhan pelatihan dan pendidikan yang
dibutuhkan untuk melakukan kebijakan audit klinis diidentifikasi dan digali,
atau dibangun ke dalam proses perencanaan pelayanan
5. Kepala Clinical Governance and Effectiveness
Implementasi, drafting dan pembaharuan dari kebijakan audit klinis (dan segala
dokumentasi yang mendukung) adalah tanggung jawab utama dari manajer
clinical effectiveness, riset dan pengembangan, yang diawasi oleh kepala clinical
governance dan effectiveness. Fasilitator audit klinis akan mempunyai tanggung
jawab untuk memastikan kebijakan audit klinis dimasukkan ke dalam kegiatan
sehari-hari.
6. Seluruh Staf rumah sakit
Seluruh staf rumah sakit, baik itu yang purna dan paruh waktu, bertanggung
jawab untuk:
Mematuhi segala kebijakan yang relevan. Kegagalan untuk mematuhi dengan
kebijakan rumah sakit akan berakibat pada tindakan berupa sanksi
Bekerja sama dalam pengembangan dan pelaksanaan kebijakan audit klinis
dan sebagai bagian dari tanggung jawab dan kewajiban mereka sehari-hari
Mematuhi kebijakan dan dokumen pendukung
Mengidentifikasi kebutuhan untuk perubahan dalam kebijakan sebagai hasil
menjadi lebih waspada dalam perubahan dalam kegiatan, perubahan
kebutuhan statuta, merevisi standar klinis atau profesi dan arahan
lokal/nasional, dan memberi nasihat para manajer lini

Mengidentifikasi kebutuhan pada penghargaan kebijakan dan prosedur dan


membawa mereka kepada perhatian para manajer lini
Menghadir sesi pelatihan ketika disediakan
Mengintegrasikan audit klinis
Di masa lalu, banyak layanan dilakukan audit klinis secara terpisah dari
kegiatan-kegiatan terkait lainnya seperti Pengembangan Profesi Berkelanjutan (CPD),
praktek dan penelitian berbasis bukti. Clinical governance bertujuan untuk memastikan
'program kegiatan peningkatan kualitas yang komprehensif ' dan membawa bersamasama, di bawah satu kerangka, berbagai inisiatif yang sebelumnya telah dikelola secara
terpisah.
Tabel 1 menunjukkan hubungan integral antara audit klinis dan komponen lain dari
clinical governance. Komite clinical governance akan memimpin semua kegiatan ini.

Kerangka kerja terpadu yang baru untuk kualitas kegiatan perbaikan akan
memungkinkan komunikasi yang lebih baik dan bekerja antara inisiatif yang
berbeda,menambahkan nilai untuk masing-masing. Sekarang akan lebih mudah bagi
prioritas organisasi seperti pelaksanaan Kerangka Layanan Nasional (NSFs), yang akan
diintegrasikan ke dalam inisiatif masing-masing, sehingga memastikan bahwa

semua mekanisme dukungan yang berbeda berbagi tujuan yang sama dan memfasilitasi
kerja tim dan sharing kemampuan. Jadi, misalnya:
(A) program pengembangan profesional yang berkelanjutan dapat digunakan untuk
menginformasikan dokter tentang NSFs dan memberikan kesempatan untuk diskusi dan
umpan balik tentang pelaksanaan mereka;
(B) sumber daya manusia departemen akan perlu mempertimbangkan implikasi staffing
dari pertemuan NSF standar;
(C) departemen informasi akan perlu memastikan bahwa sistem mereka memberikan
informasi dibutuhkan oleh dokter, manajer dan pengguna layanan untuk memastikan
pelaksanaan NSF;
(D) audit klinis akan digunakan untuk mengukur sejauh yang standar NSF telah
dilaksanakan.
Hambatan
Banyak hal yang mungkin menciptakan hambatan untuk pengembangan lebih
lanjut audit klinis, termasuk budaya organisasi, prioritas yang rendah dan kurangnya
dukungan.
1. Budaya Organisasi
Meskipun retorika 'tidak menyalahkan budaya' yang muncul di seluruh dokumen
kebijakan clinical governance, banyak dokter dan manajer merasa bahwa budaya
menyalahkan di rumah sakit lebih kuat dari sebelumnya. Ada kekhawatiran nyata bahwa
partisipasi dalam audit klinis akan mengakibatkan hukuman karena berkinerja buruk
(Buetow & Roland, 1999) dan mungkin bahkan mengakibatkan dalam litigasi
(Beresford & Evans, 1999). Sampai rumah sakit menjadi sebuah organisasi di mana ia
benar-benar aman untuk mengungkapkan kesalahan dan pelajaran yang dipelajari dari
mereka, tujuan audit klinis tidak akan tercapai.
2. Prioritas rendah
Audit klinis secara tradisional memiliki prioritas yang rendah dalam rumah sakit
dibandingkan dengan, misalnya, penelitian. Individu telah dianggap sebagai membuang
waktu, tidak berguna dan membosankan (Buetow & Roland, 1999) dan penghargaan
partisipasi dalam penelitian (misalnya jurnal makalah, waktu yang dialokasikan) telah
tidak tersedia untuk audit. Kepala eksekutif dan trust board telah mengambil

ketertarikan yang sangat kecil dalam audit klinis dan itu jarang dimasukkan dalam
prioritas organisasi (Berger, 1998). Topik untuk audit telah telah diidentifikasi sebagian
besar atas dasar preferensi klinis dan kepentingan pribadi ketimbang prioritas organisasi
prioritas (McErlain-Burns & Thomson, 1999). Prioritas rendah ini telah diperburuk oleh
sejumlah besar perubahan organisasi pada rumah sakit selama 10 tahun terakhir dan
merger saat ini sedang berlangsung antara sejumlah pelayanan kesehatan jiwa.
3. Kurangnya dukungan
Rendahnya prioritas yang diberikan untuk audit klinis oleh organisasi dan individu telah
menyebabkan kurangnya dukungan praktis. Hal ini terwujud dalam kurangnya system
dukungan informasi, kurangnya waktu dan kurangnya pelatihan dialokasikan dalam
metode audit. Ini semua harus ditangani oleh komite clinical governance untuk
memastikan audit yang menjadi komponen integral dari clinical governance(James,
1999).
PEMBAHASAN

Audit klinis bukanlah konsep baru - menunjukkan bukti audit yang dilakukan
pada awal 1518. Namun, tidak sampai 1989 bahwa pemerintah secara resmi
diperkenalkan sebagai sebuah inisiatif untuk meningkatkan perawatan pasien (awalnya
disebut audit medis). Departemen Kesehatan White Paper berjudul 'Bekerja untuk
Pasien' menyatakan keharusan bagi dokter untuk berpartisipasi dalam audit klinis,
meskipun secara uni-profesional. Dalam hal ini, audit klinis memastikan sebuah
pelayanan

'sesuai

untuk

tujuan'

dimana

adanya

peningkatan

kualitas

yang

berkesinambungan, bahwa layanan berdasarkan keselamatan dan keamanan pasien.


Audit klinis memiliki siklus audit dan tahapan audit. Dalam modul ini yang akan
digunakan adalah yang dinyatakan 'Prinsip untuk Best Practice dalam Clinical Audit,
diterbitkan oleh Institut Kesehatan Nasional dan Klinis Excellence (NICE) pada tahun
2002.
Audit klinis harus dilaksanakan oleh semua staf klinis yang bekerja di rumah
sakit dan harus rutin dilakukan dalam rangka mengevaluasi dan mengontrol mutu
pelayanan yang diberikan oleh suatu rumah sakit. Pada audit klinis, kita melakukan self

assessment terhadap tujuan yang ingin dicapai dan melibatkan pasien untuk
memperbaiki system yang ada agar menjadi lebih baik lagi.
Terdapat beberapa macam

jenis audit yang dapat dilakukan. Kriteria yang

dipilih untuk dilakukan audit akan mempengaruhi tipe atau jenis audit yang akan
dilakukan. Meskipun tipe audit berbeda-beda, akan tetapi semua tipe audit mempunyai
siklus dan metode yang sama.
Meningat pentingnya audit klinis dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
dan merupakan bagian dari elemen clinical governance, maka seluruh staf rumah sakit
wajib bekerja sama dalam pengembangan dan pelaksanaan kebijakan audit klinis dan
sebagai bagian dari tanggung jawab dan kewajiban mereka sehari-hari

LESSON LEARNED

Audit klinis merupakan metode utama yang digunakan untuk memonitor mutu
klinis (hal yang sama pada kegiatan audit monitor keuangan). Audit klinis mrupakan
salah satu komponen dalam prinsip-prinsip clinical governance, yang terkait dengan
patient safety, mutu pelayanan pasien dan pengurangan risiko klinis. Clinical
governance seharusnya mempunyai efek untuk meningkatkan status audit klinis dalam
rumah sakit. Bukti dari ini seharusnya pada tingkat dewan rumah sakit, pendanaan yang
layak untuk tim pendukung audit klinis dan ketersediaan dari waktu yang terbatas
sehingga para tenaga klinis dapat berpartisipasi dalam audit klinis.
Tujuan utama dari audit klinis adalah untuk menjamin semua staf

klinis

memperoleh pengetahuan ringkas dan jelas dan memahami audit klinis dan keseleruhan
kontribusinya terhadap prinsip peningkatan mutu secara berkelanjutan dalam clinical
governance pada penyedia pelayanan kesehatan. Staf klinis adalah semua orang yang
bekerja di rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien
Audit klinis bukan bertujuan untuk menghakimi, apalagi menyalahkan pelaku
kesehatan, tetapi audit klinis bertujuan dan berorientasi ke arah pengembangan mutu
dan kualitas dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
Setiap rumah sakit seharusnya melaksanakan audit medis karena audit klinis ini
merupakan salah satu komponen keenam pilar dari clinical governance. Audit klinis

melibatkan seluruh staf klinis dan seluruh orang yang bekerja di rumah sakit dalam
rangka menjaga dan meingkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Meskipun audit klinis
ini sangat penting dilaksanakan di seluruh rumah sakit, akan tetapi pada kenyatanaannya
belum seluruh rumah sakit ini melaksanakan audit medis. hal ini disebabkan karena
adanya hambatana dalam pelaksanaan audit medis itu sendiri, seperti budaya organisasi
yang menyalahkan sehingga yang cenderung khawatir akan memperoleh hukuman
karena kinerja yang buruk, belum menempatkan audit klinis sebagai suatu hal yang
harus dilakukan sehingga tidak banyak dukungan dalam pelaksanaan audit medis ini
padahal pelaksanaan audit medis ini memerlukan dukungan dari seluruh staf yang ada di
rumah sakit.