Anda di halaman 1dari 3

II.

Analisa Kasus
Pasien datang dengan keluhan kejang. Ada beberapa penyakit yang dapat menyebabkan
kejang khususnya pada anak diantaranya adalah kejang demam sederhana, kejang demam
kompleks, epilepsi, SOL.
Pada pasien didapatkan kejang berulang tanpa ditemukan demam. Sehingga kejang
demam dapat disingkirkan. Pasien mengalami kejang tanpa ada gejala penyerta, sehingga
dapat diperkirakan kasus ini di golongkan pada syndrom epilepsi.
Awalnya pada pasien ini diperkirakan mengalami kejang demam, namun setelah terjadi
kejang berulang tanpa adanya disertai demam, diagnosa banding terkuat pada pasien ini
berubah menjadi epilepsi, sehingga dilakukan pemeriksaan penunjang EEG untuk
memperkuat diagnosis sindrom epilepsi pada pasien.
Epilepsi adalah sekumpulan gejala yang menifestasinya lewat serangan epileptik yang
berulang. Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dicirikan oleh terjadinya
serangan (seizure, fit, attack, spell) yang bersifat spontan (unprovoced) dan berkala. Serangan
dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otan yang bersifat mendadak dan sepintas, yang
berasal dari sekelompok besar sel-sel otak, bersifat sinkron dan berirama. Serangan dapat
berupa gangguan motorik, sensorik, kognitif dan psikis. Istilah epilepsi tidak boleh digunakan
untuk serangan yang terjadi hanya sekali saja, serangan yang terjadi selama penyakit akut
berlangsung dan occasional provokes seizures misal kejang atau serangan pada hipoglikemia.
Epilepsi didefinisikan sebagai gangguan kronis yang ditandai adanya bangkitan epileptik
berulang akibat gangguan fungsi otak secara intermiten yang terjadi oleh karena lepas muatan
listrik abnormal neuron-neuron secara paroksimal akibat berbagai etiologi.
Pada pasien didapatkan batuk pilek

1 minggu sebelum masuk rumah sakit,

sehingga pasien di diagnosis penyerta dengan ISPA. Pasien mengalami batuk berdahak dan
ingus putih kental. Pada pemeriksaan fisik paru tidak didapatkan retraksi, rhongki,dan
wheezing.

Terapi UGD:
Pasien masuk Rumah Sakit melalui UGD dan mendapatkan terapi IVFD D5 NS 15
gtt/menit. Pemberian d5 NS sudah tepat karena cairan mengandung glukosa sebagai nutrisi
dan elektrolit sebagai koreksi terhadap resiko komplikasi kejang akibat hipoglikemi dan

kekurangan elektrolit. Jumlah cairan yang diberikan pada pasien tidak tepat. Kebutuhan
cairan pada pasien dengan berat badan 6,5 kg adalah 650 cc/hari, yaitu 9 gtt/menit (makro).
Terapi Ruangan :
Pada pasien ini diberikan diazepam IV 2 mg diberikan ketika kejang, obat ini diberikan
karena diagnosis awal pada pasien ini adalah kejang demam, namun setelah terjadi kejang
tanpa adanya pencetus demam, pemakaian diazepam kurang tepat, sehingga harus digantikan
asam valproat karena asam valproat sesuai terhadap jenis serangan kejang umum tonikklonik. Dosis inisial asam valproat adalah 15-20mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-4 pemberian,
disusul dosis rumatan 30-60mg/kgBB/hari. Pada pasien ini diberikan 150 mg/hari dibagi
dalam 3 kali pemberian sehingga menjadi 3x50mg.
Ampisilin adalah antibiotika golongan penisilin semi sintetik, dipakai secara per oral
dan parenteral, aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif dengan spektrum antibakteri.
Antibiotik pada kasus ini diberikan sebagai profilaksis terhadap ISPA pada pasien. Namun,
pada isaac score pada pasien ini tidak memenuhi untuk diberikan antibiotik. Nilai isaac score
pada pasien ini 1.
Ranitidine diberikan 1/3 amp/8 jam kurang tepat, dikarenakan ranitidin adalah suatu
antagonis histamin pada reseptor H2 yang menghambat kerja histamin secara kompetitif pada
reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung, sehingga mencgah terjadinya stress
ulcer. Pada pasien ini tidak ditemukan stress ulcer atau faktor pencetus stress ulser dari obat.
Sehingga sebaiknya tidak diberikan bila tidak ada keluhan dan gejala stress ulser.
Salbutamol merupakan suatu obat agonis beta-2 adrenergik yang selektif. Pada bronkus
salbutamol akan menimbulkan relaksasi otot polos bronkus secara langsung. Salbutamol
merupakan obat bronkodilator untuk menghilangkan gejala sesak napas pada penderita asma
bronkial, bronkitis asmatis dan emfisema pulmonum. Pada pasien ini tidak memiliki indikasi
untuk diberikan salbutamol nebulizer karena pada pasien tidak sesak, ditemukan penemuan
otot bantu nafas atau retraksi, dan whezing sebagai tanda adanya penyempitan bronkus.
Pasien juga diberikan nebulizer larutan salin hipertonik sudah tepat. NaCl 0,9%
termasuk salin hipertonik juga digunakan sebagai salah satu cara untuk provokasi bronkus,
karena diduga salin hipertonik dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas secara tidak
langsung melalui stimulasi aktifitas eosinofil. Didapatkan peningkatan aktifitas eosinofil
melalui pengukuran eosinophilic cationic protein (ECP) serum terutama pada anak yang
memiliki atopi. Namun, pada studi penggunaan untuk nebulizer adalah NaCl 3% sebagai

terapi tambahan salbutamol nebulizer dengan tujuan untuk mendapatkan peningkatan efek
pengeluaran mukus tanpa menimbulkan efek provokasi bronkus.
Pemberian ambroxol syrup pada kasus ini sudah tepat, karena ambroxol adalah
agen sekretolitik digunakan dalam pengobatan penyakit pernapasan yang terkait
dengan lendir kental atau berlebihan. Ini adalah bahan aktif dari Mucosolvan,
Lasolvan atau Mucoangin. Zat ini adalah obat mukoactif dengan beberapa properti
termasuk tindakan sekretolitik dan sekretomotorik yang memulihkan mekanisme
pembersihan fisiologis saluran pernapasan yang memainkan peran penting dalam
mekanisme alami tubuh pertahanan.pada pasien ini dosis yang diberikan 3x cth
(7,5mg), dosis ini tidak sesuai dengan dosis seharusnya, dosis yang seharusnya 1,5
mg/kgbb/hari dibagi 3 dosis, dan sediaan ambroxsol syrup adalah 15mg/ 5ml. Pada pasien ini
seharusnya diberikan 3,25mg per pemberian. Dan dosis yang mendekati adalah 3x cth
(3,75mg)
Selain terapi diatas, seharusnya pasien diberikan diet tinggi protein dan koreksi kalori
seimbang karena perawatan dapat menyebabkan semakin turunnya berat badan sehingga
memperburuk status gizi kurang pasien.
Prognosis quo ad vitam, quo ad functionam, dan quo ad sanationam pada pasien ini
adalah dubia. Prognosis pada penyakit epilepsi itu sendiri bergantung kepada jenis serangan,
usia saat serangan pertama terjadi, saat dimulai pengobatan, ada tidaknya kelainan neurologik
atau mental, dan faktor etiologik. Prognosis terbaik adalah untuk serangan umum primer
seperti kejang tonik klonik dan serangan petit mal, sedangkan serangan parsial dengan
simtomatologi kompleks kurang baik prognosisnya. Juga serangan epilepsi yang pertama
terjadi pada usia bayi dan usia dibawah tiga tahun prognosisnya relatif buruk.