Anda di halaman 1dari 32

ANAK BERKECERDASAN ISTIMEWA

(GIFTEDNESS) DI TINGKAT SEKOLAH


MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas salah satu dari mata kuliah Bimbingan Dan
Konseling Pupulasi Khusus (PB 317), yang diampu oleh:
Dr. Mamat Supriatna, M.Pd.

Oleh
WINDA AGUSTIN S

0706282

VIVIT PUSPITA DEWI

0901246

CHINTIA GIANA

0901066

GEMA M. SIDIK

0901126

FARRAH RAHMAYANTI

0901499

ARNES MEILENDA

0901468

RIESA R. SIDDIK

0901484

JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2012

ANAK BERKECERDASAN ISTIMEWA (GIFTEDNESS) DI TINGKAT


SEKOLAH
A. DESKRIPSI
Anugerah berupa kecerdasan (gifted) adalah istilah yang dipakai pada
individu yang memiliki kemampuan superior dalam berurusan dengan fakta-fakta,
dan ide-ide
Tidak jarang, kecerdasan yang dimiliki anak dapat memunculkan masalah
dan tantangan beragam. Kecerdasan yang tidak dikembangkan terkadang
memberikan ketidakbahagiaan personal pada individu yang bersangkutan.
Ketidaksesuaian arah dalam membimbing individu yang memiliki kecerdasan
tinggi juga dapat memunculkan ketidakbahagiaan dan masalah, baik bagi individu
maupun lingkungan. Bisa jadi karena tidak dimengerti oleh orang tua, pertanyaanpertanyaan, minat-minat, kreativitas dan perilaku lain dari anak cerdas dapat
menimbulkan kekhawatiran pada orang tua yang bersangkutan. Sekolah juga
merupakan latar yang menjadi perhatian khusus bagi anak cerdas. Guru mungkin
akan kesulitan dalam berhadapan dengan anak cerdas. Murid dengan kelebihan
seperti ini mungkin akan mudah bosan dan tidak senang terhadap kesulitan guru
tersebut. Dalam lingkungan teman sebaya yang bersangkutan juga menjadi fokus
utama atas masalah-masalah yang dihadapi anak cerdas. Dia mungkin lebih
memilih untuk bergabung dengan anak yang lebih tua karena memiliki minat
intelektual yang serupa. Dalam beberapa contoh, dia akan lebih menggunakan
waktu kosongnya untuk membaca dibanding belajar untuk bermain dengan anak
lain.
Beberapa psikolog dan pendidik mendefinisikan anak yang cerdas secara
primer didasari oleh tingkat intelektual yang tinggi. Skor Intelligent quotient (IQ)
dari anak cerdas menurut mereka dapat diklasifikasikan antara 130-140.
Tren modern dalam mengidentifikasi anak cerdas adalah penggunaan
pendekatan yang lebih luas daripada kecenderungan akan hasil yang didapat
semata-mata dari skor tes IQ. Ahli-ahli khusus dalam bidang ini sekarang sudah
mengetahui nilai-nilai lain yang dapat menyebabkan munculnya hal ini. Mereka
menemukan bahwa tingkat intelektual yang ditemukan melalui tes hanya satu

bentuk pada anak cerdas. Pertimbangan juga diberikan pada orang-orang yang
memiliki keterampilan sosial tinggi dan bakat-bakat lainnya yang mungkin
dikuasai olehnya semisal bakat dalam music, seni, mekanik, atau linguistic.
Lebih jauh lagi, mengutip dari pernyataan Joseph S. Renzulli (1979),
giftedness dapat didefinisikan sebagai berikut:
Giftedness consists of an interaction among three basic clusters of
human traits three clusters being above average abilities, high levels of
task commitment, and high levels of creativity. Gifted and talented
children are those processing or capable of developing this composite set
of traits and applying them to any potential valuable area of human
performance. Children who manifest, or who are capable of developing,
an interaction among the three 5 clusters require a wide variety of
educational opportunities and services that are not ordinarily provided
through regular instructional programs.

Kecerdasan istimewaan terdiri atas suatu interaksi di antara tiga kluster


dasar dari sifat manusia ketiga kluster itu di antaranya : kemampuan di atas
rata-rata, tingkat tinggi akan komitmen terhadap tugas, dan tingkat kreativitas
yang tinggi. Anak gifted dan talented adalah yang memiliki atau mampu
mengembangkan seperangkat sifat-sifat ini dan menerapkannya ke dalam bidang
kinerja

manusia

yang

bernilai

secara

potensial.

Anak-anak

yang

memanifestasikan, atau yang mampu mengembangkan, suatu interaksi di antara


tiga kluster menghendaki suatu variasi yang luas kesempatan dan layanan
pendidikan yang tidak diberikan secara biasa melalui program instruksional yang
reguler
Maksud definisi Renzulli, bahwa anak-anak cerdas istimewa akan dapat
berkembang secara optimal, manakala mereka mendapatkan pengalaman yang
cukup dan memadai melalui program pendidikan yang sesuai dengan potensi anak
(Wahab, 2011)
1. Karakteristik anak gifted
Penyelidikan-penyelidikan

dari

bakat-bakat

dan

keterampilan-

keterampilan yang dimiliki individu, memperlihatkan kecenderungan yang kuat


pada orang yang cerdas dalam satu bidang untuk memiliki keterampilan umum
superior. De Haan dan Havighurst sebagai contoh, dalam mengidentifikasi
sekolah-sekolah unggulan pada beberapa bidang bakat, menemukan bahwa pada
sekolah tersebut ditemukan siswa yang cerdas lebih dari lima puluh persen.
Beberapa karakteristik yang lebih umum dari anak cerdas adalah:
a. Mudah dalam belajar: Anak dengan kemampuan intelektual yang superior dapat
mempelajari materi baru jauh lebih cepat daripada anak kemampuan rata-rata. Ia
sering mulai berjalan dan berbicara pada usia dini dan sering belajar membaca
(sering dengan instruksi minimal) sebelum masuk sekolah.
b. Memiliki pemahaman yang luas: Anak cerdas sering menunjukkan minat dalam
berbagai

kegiatan

dan

bidang

pengetahuan.

Daripada

membatasi

kepentingannya dengan bidang yang sempit, ia menunjukkan keinginan untuk


pemahaman yang luas.
c. Ingat apa yang dia telah pelelajari: Kemampuan untuk mengingat informasi
merupakan karakteristik dari orang dengan bakat intelektual yang superior.
Orang ini biasanya dapat mengingat informasi lama setelah itu dilupakan oleh
orang dengan kecerdasan rata-rata.
d. Memiliki rasa ingin tahu yang besar: Bahkan di usia yang sangat dini anak cerdas
atau menampilkan gadis ditandai rasa ingin tahu dalam banyak hal. Dia bertanya
banyak pertanyaan dan dapat menjadi marah jika mereka tidak menjawab

dengan memuaskan. Dia adalah waspada dan jeli dan sering menemukan banyak
jawaban atas pertanyaan sendiri.
e. Berpikir dalam hal abstrak: Lambat-learning anak Pelajari terbaik dengan
berurusan dengan data konkret. Sebagai contoh, dalam mempelajari pecahan,
mereka ingin melihat gambar setengah kue atau sepertiga dari beberapa objek
lain. Anak yang cerah, di sisi lain, dapat mendiskusikan hal-hal di tingkat yang
sangat lisan tanpa menggunakan ilustrasi atau materi grafis. Dia mampu
memahami ide-ide yang lebih kompleks dan konsep.
f. Memiliki kosakata banyak: Karena anak cerdas memiliki kemampuan Learning
unggul, ia biasanya berkembang kosakata yang besar pada usia dini. Dia sering
kejutan dewasa dengan memahami dan penggunaan kata-kata kompleks.
g. Memiliki kesulitan menyesuaikan diri: Karena orang dengan bakat intelektual
yang superior sering memiliki ide-ide baru dan kepentingan luas, ia mungkin
merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan yang direncanakan bagi
kecerdasan normal.
h. Suka membaca: Anak cerdas belajar dengan mudah dan memiliki kepentingan
luas. Karena itu, membaca adalah menarik dan mudah. Dia kadang-kadang
menemukan membaca lebih merangsang daripada banyak kegiatan bermain
anak-anak normal lainnya.
i. Berprestasi di sekolah: sehubungan dengan kemampuan intelektualnya yang
hebat, anak yang cerdas biasanya tampil terdepan di kelasnya. Dia menangani
materi baru dengan

mudah dan memiliki sedikit kesulitan di dalam

menyelesaikan tugasnya.
j. Tampak maju secara fisik untuk usianya: kajian penelitian menunjukkan bahwa
anak yang cerdas cenderung diatas rata-rata di dalam postur dan berat badan.
Asumsi bahwa orang yang cerdas itu lemah dan secara fisik kecil telah terbukti
salah.
k. Lebih memilih teman bermain yang lebih tua: karena dia memiliki kemampuan
intelektual yang sangat cerdas, anak yang cerdas sering menemukan bahwa
aktifitas yang menyenangkan untuk anak seumurannya tidak menarik baginya.
Oleh karena itu, pada umumnya dia beralih pada anak yang lebih tua untuk
berdiskusi dan menemukan aktifitas yang disukainya.

l. Memilih teman yang pandai: anak yang cerdas sering memilih untuk
menghabiskan waktu dengan anak yang pandai lainnya, dengan tujuan untuk
merangsang rasa keingintahuannya.
m. Menyamaratakan dengan mudah: seseorang dengan kemampuan yang terbatas
memiliki kesulitan untuk menyamaratakan sebuah situasi dengan situasi yang
sama. Akan tetapi anak yang cerdas memiliki kemampuan yang hebat untuk
menerapkan konsep dan data yang dipelajari dalam sebuah situasi ke situasi yang
baru.
n. Menyukai sekolah: meskipun tidak ada hubungan yang sempurna antara
kemampuan intelektual dan kepuasan di sekolah, anak yang cerdas biasanya
senang di dalam mengerjakan tugas akademiknya. Semenjak dia memiliki
kecedasan intelektual yang lebih dia tidak menghadapinya dengan gagal dan
frustasi, yang terkadang dihadapi oleh anak yang memiliki kemampuan
intelektual yang lebih rendah.
o. Mengatur materi dan ide dengan mudah: anak yang cerdas biasanya mengatur
materi dan ide dengan mudah. Dia tidak hanya melihat sesuatu itu dalam
urutannya, akan tetapi dia melihat sesuatu secara keseluruhan dan dalam sebuah
komponen.
p. Memiliki rasa humor yang sangat baik: banyak orang dengan kecerdasan superior
memiliki rasa humor. Mereka dapat melihat hubungan, saling memahami, dan
tahu bahwa orang lain tertarik didalamnya. Anak yang cerdas sering membentuk
lelucon, dan menertawakan humor orang dewasa, berada pada tingkat imajinasi
yang abstrak.
q. Sangat kreatif: anak cerdas asli cenderung berada di banyak daerah. Dia dapat
menunjukkan keterampilan biasa dalam seni atau musik dan memiliki rasa yang
baik dari irama atau warna. Dia sering menyatakan ide dengan cara yang indah
atau novel.
r. Memahami unsur waktu: konsep waktu mungkin sangat kompleks untuk anak
kecil. Dia tidak bisa membedakan antara seminggu, sebulan atau setahun. Dia
mungkin tidak tahu perbedaan antara abad dan dua minggu. Ketika seorang anak
cerdas, namun ia mampu memahami konsep-konsep ini pada usia lebih dini. Dia
biasanya belajar untuk memberitahu waktu yang cukup singkat dan juga
memahami waktu hari besar.

s. Cakap dalam berbagai hal: karakteristik akhir dari bakat adalah fleksibilitas.
Sebagian besar pemimpin yang menonjol di dunia bisa saja sukses di banyak
pekerjaan. Menteri cerdas bisa saja sama-sama sukses dalam bisnis, industri atau
banyak profesi. Sebagai anak-anak, orang-orang ini biasanya dibuktikan
kemampuan untuk beradaptasi dengan mudah untuk pengaturan baru.
Orang dengan kemampuan unggul mungkin memiliki nilai dari
karakteristik di atas. Evaluasi lebih lanjut adalah tes kecerdasan mungkin itu
melalui prestasi yang sebenarnya.
Menurut Little (Wahab: 2007)

karakteristik anak yang cerdas adalah

sebagai berikut:
Tabel 1
Karakteristik Gifted dan Konsekuensi Perilakunya
Karakteristik
Perilaku Positif
Belajar dengan cepat Mengingat
dan
dan mudah
menguasai fakta-fakta
dasar secara cepat
Membaca
secara Membaca banyak buku
intensif
dan menggunakan
perpustakaan sendiri
Perbendaharaan kata
Mengkomunikasikan
sangat maju
ide-idenya baik sekali

Perilaku Negatif
Mudah bosan, suka
mengganggu anak lain

Tetap menjaga banyak


Informasi

Siap mengingat dan


merespon

Memonopoli diskusi

Rentang perhatiannya
sangat lama

Komitmen
tinggi Bertahan dengan kegiatan
terhadap tugas atau rutin kelas, tidak suka
proyek
diganggau

Memiliki keingintahuan
yang
tinggi,
punya
banyak minat
Bekerja mandiri

Cermat dan jeli dalam


mengamati sesuatu

Suka bertanya, dan


puas
dengan
ideideanya
Menciptakan dan
menemukan di luar
tugas yang diberikan
Mengenal masalah

Menolak tanggung jawab


orang lain
Menimbulkan kemarahan

Terus gampang marah

Menolak kerja dengan


orang lain
Mengoreksi orang dewasa
secara kurang sopan

Karakteristik
Memiliki rasa humor

Perilaku Negatif
Membuat joke yang kejam
atau trick terhadap orang
lain
Memahami
dan Mampu memecahkan
Melakukan
intervensi
mengenal hubungan
problem-problem sosial orang lain
Prestasi
tinggi

Perilaku Positif
Mampu mentertawakan
dirinya sendiri

akademik Mengerjakan
tugas Sombong, tidak sabar
sekolah dengan baik
terhadap lain.

Lancar dlm ekspresi Kuat di bidang verbal


verbal
dan
angka-angka;
mengarahkan
teman
sebaya dengan caracara positif
Individualistik
Memiliki
teman
sedikit; memiliki rasa
keunikan sendiri
Memiliki dorongan diri Menghendaki arah dan
yang kuat
bantuan guru yang
minimal
Sumber: Wahab (2007)

Mengarahkan
teman
sebaya dengan cara-cara
negatif

Bertahan terhadap apa


yang diyakini
Agresif dan menantang
orang lain.

2. Etiologi (Faktor Penyebab)


Peneliti setuju bahwa faktor keturunan memainkan peran yang dominan
dalam bakat. Orang tua cerdas adalah seperti lebih mungkin untuk memiliki anak
cerdas daripada rata-rata atau dibawah rata-rata orang tua. Dalam jangka panjang
studi lebih dari 1.500 individu cerdas, Terman menemukan bahwa rakyatnya juga
memiliki anak-anak yang jauh di atas rata-rata. Namun, tidak ada hubungan
keturunan yang tepat. Beberapa orang tua rata-rata telah dikenal untuk memiliki
anak dengan kecerdasan superior, sementara beberapa orang tua memiliki anak
cerdas dengan hanya kemampuan biasa-biasa saja.
Pengalaman hidup awal dapat mempengaruhi kinerja anak pada tes
kecerdasan. Lingkungan yang merangsang, misalnya, dapat memungkinkan
seseorang untuk mengungkapkan bakatnya. Orang yang memiliki kesempatan
untuk mengembangkan kemampuannya kemungkinan untuk mencetak agak lebih
tinggi pada tes kecerdasan daripada yang lain yang memiliki kemampuan asli
sama tetapi yang memiliki sedikit pendidikan.

B. KONSEP UNDERACHIEVER PADA ANAK GIFTED


1. Pengertian Underachiever Gifted
Underachiever Gifted adalah jika ada ketidaksesuaian antara prestasi
sekolah anak dengan indeks kemampuannya sebagaimana nyata dari tes
intelegensi, prestasi atau kreativitas atau dari data observasi, dimana tingkat
prestasi sekolah nyata lebih rendah daripada tingkat kemampuan anak (Davis and
Rimm dikutip Utami Munandar.1999).
2. Karakteristik Anak Underachiever Gifted
a. Nilai mayoritas rendah pada nilai prestasi atau ulangan
b. Mencapai nilai rata-rata atau dibawah rata-rata kelas dalam keterampilan
dasar seperti membaca, menulis dan berhitung
c. Pekerjaan sehari-hari tidak lengkap atau buruk
d. Memahami dan mengingat konsep hanya jika berminat
e. Kesenjangan antara tingkat kualitatif pekerjaan lisan dan tulisan
f. Menunjukkan kepekaan dalam persepsi terhadap diri sendiri, selalu tinggi
atau terlalu rendah
g. Tidak menyukai pekerjaan praktis atau hapalan
h. Tidak mampu memusatkan perhatian dan berkonsentrasi pada tugas-tugas
i. Mempunyai sikap tak acuh atau negatif terhadap sekolah
j. Menolak upaya guru memotivasi atau menanamkan disiplin perilaku di
kelas
k. Mengalami kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya, kurang dapat
mempertahankan persahabat.
3. Penyebab Underachiever Gifted
Salah satu penyebab utama anak menjadi underachiever ialah cara kita
membimbing anak kita baik di rumah maupun di sekolah. Kita menggunakan

memakai metode one size fits all (atau dalam ukuran baju disebut free size
atau all size). Artinya anak dipaksakan mengikuti sistem yang ada. Misalnya,
guru mengatakan bahwa kurikulum sudah demikian maka anak harus
mengikutinya begitu.
a. Lingkungan sekolah sebagai penyebab underachiever
Sekolah merupakan faktor yang sangat berperan dalam menyebabkan
terjadinya underachiever pada anak. Cara pengajaran, materi-materi yang
diberikan, dan ukuran-ukuran keberhasilan dan kemampuan guru dapat
menjadi penyebab anak mengalami underachiever.
Alberlt Einstein adalah salah satu kasus bagaimana sekolah dapat
menjadikan anak jenius sebagai underachiever. Ketika sekolah dasar, nilainilai Einstein sangatlah buruk hingga ia sempat disebut anak yang bodoh
karena tidak mampu berprestasi dengan baik. Einstein tidak dapat
berprestasi di sekolah karena ia harus mengulang hal-hal yang sudah
diketahuinya, yang menurutnya tidak ada manfaatnya, bukan karena ia tidak
mampu.
Dapat kita bayangkan kerugian seperti apa yang dialami oleh dunia
jika Einstein tidak dapat mengatasi permasalahannya di sekolah. Yang perlu
menjadi catatan di sini adalah Albert Einstein berhasil mengatasi
permasalahan tersebut di atas dengan bantuan orang lain, pamannya, bukan
karena ia mampu mengatasi sendiri permasalahan tersebut. Mungkin saat ini
banyak Einstein-Einstein Indonesia yang gagal mengatasi permasalahan
dengan sekolahnya.
b. Faktor guru
Guru memegang peranan penting dalam prestasi sekolah. Bagaimana
guru dalam memperlakukan anak didiknya akan mempengaruhi prestasi yang
akan dicapai anak. Penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli psikologi

menunjukkan bahwa harapan (expectancy) guru terhadap kemampuan anak


sangat berpengaruh pada penilaian anak mengenai hal tersebut di atas. Kelas
yang diberitahukan bahwa mereka adalah anak-anak pintar dan cerdas
mendapatkan perstasi belajar lebih tinggi dibandingkan kelas yang
dibandingkan kelas yang diberitahukan bahwa kemampuan mereka kurang
(pada kenyataannya, kemampuan mereka tidak berbeda). Sering kali guru
tanpa sadar mengabaikan hal ini.
c. Keluarga dan Lingkungan Rumah
Selain sekolah, lingkungan rumah juga dapat menyebabkan anak
menjadi underachiever. Bagaimana orang-orang terdekat memperlakukan
anak akan mempengaruhi pencapaian anak dalam berprestasi. Keluarga adalah
faktor terpenting yang dapat menyebabkan anak mengalami underachiever.
Misalnya: kurangnya perhatian, dukungan, dan kesiapan orang tua untuk
membantu anaknya dalam belajar di rumah. Harapan orang tua yang
terlampau tinggi terhadap anaknya sehingga sering terjadi pertentangan
pendapat antara orang tua dengan anak. Selain itu, orang tua kurang
menghargai prestasi belajar yang telah dicapai oleh anak. Sikap orang tua
yang demikian kurang memacu anak untuk belajar lebih giat. Anak merasa
prestasi belajar yang telah dicapai kurang dihargai dan anak juga akan merasa
dirinya tidak mampu berprestasi dalam belajar. Keretakan hubungan antara
orang tua (ayah dan ibu), sehingga sering menimbulkan percekcokan dalam
rumah tangga yang pada akhirnya menjurus pada perceraian. Kondisi yang
demikian, menyebabkan anak kurang berkonsentrasi dalam belajar. Anak akan
mengalami underachiever juga terjadi jika suasana rumah gaduh, bising,
sumpek, dan dalam keadaan berantakan.
d. Faktor dalam Diri Individu
1) Persepsi diri

Tidak tercapainya prestasi sekolah yang baik juga sangat ditentukan


oleh karakteristik anak. Salah satunya adalah penilaian anak terhadap
kemampuan yang dimilikinya. Penilaian anak terhadap kemampuannya
berpengaruh banyak terhadap pencapaian prestasi sekolah. Anak yang merasa
dirinya mampu akan berusaha untuk mendapatkan prestasi sekolah yang baik
sesuai dengan penilaian terhadap kemampuan yang dimilikinya. Sebaliknya,
anak yang menilai dirinya sebagai anak yang tidak mampu atau anakyang
bodoh akan menganggap nilai-nilai kurang yang didapatkannya sebagai hal
yang sepatutnya dia dapatkan.
2) Hasrat berprestasi
Faktor lain dalam diri anak yang menentukan prestasi yang akan
dicapainya adalah faktor keinginan untuk berprestasi (need for achievement)
itu sendiri. Ada anak yang memilii dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk
berprestasi, tetapi ada pula yang kurang memiliki dorongan tersebut.
Keinginan untuk berprestasi adalah hasil dari pengalaman-pengalaman anak
dalam mengerjakan sesuatu. Anak yang sering gagal dalam mengerjakan
sesuatu akan mengalami frustasi dan tidak mengharapkan hasil yang baik dan
tindakan-tindakan yang dilakukaknnya.
3) Lokus kontrol
Bagaimana anak menilai penyebab prestasi yang dimilikinya dapat
menyebabkan tercapainya preatsi yang tinggi. Anak dapat menilai bahwa
penyebab terjadinya prestasi tersebut karena faktor usaha yang dilakukannya
atau karena faktor-faktor di luar yang tidak dapat dikontrolnya.
Anak yang menilai bahwa penyebab terjadinya prestasi karena faktor
usaha tersebut anak yang memiliki lokus kontrol (locus of control) internal,
dan jika sebaliknya disebut memiliki lokus kontrol eksternal. Anak yang
memiliki lokus kontrol internal akan menilai bahwa angka 4 yang didapatnya
dalam pelajaran matematika adalah karena ia kurang belajar, sedangkan

mereka yang memiliki lokus kontrol eksternal akan mengatakan karena guru
yang sentimen pada dirinya.
4) Pola belajar
Pola belajar anak sangat mempengaruhi pencapaian prestasi anak. Ada
anak yang terbiasa belajar secara teratur walaupun besok harinya tidak ada tes
atau ujian, tetapi ad apula anak yang hanya belajar jika ada ujian.
C. ILUSTRASI
1. Ilustrasi dari buku
Identifikasi: pria kulit putih, usia 6 tahun.
Deskripsi Masalah: anak cerdas ini sudah diketahui setelah ia terdaftar di
kelas pertama. Kemampuan membacanya sama dengan anak pada kelas empat
dan ia menunjukkan pengetahuan yang tidak biasa dalam banyak mata pelajaran.
Dia lebih suka berbicara dengan beberapa guru di sekolah tentang sains dan
matematika.
Dia dirujuk ke psikolog sekolah yang menemukan bahwa kecerdasan
intelektual anak adalah sekitar 150. Sejarah pribadi dan keluarga: ayah anak
adalah seorang pendeta yang sukses dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Ada
satu saudara, adik laki-laki usia dua tahun. Kedua orang tua lulus kuliah dan sang
ibu pernah mengajar di sekolah selama dua tahun sebelum ia menikah.
Anak itu menunjukan kemampuan yang tidak biasa pada usia yang sangat
muda. Ia lebih suka mainan yang bersifat ilmiah ketika ia masih sangat muda dan
dia terlibat dalam percakapan orang dewasa pada usia tiga tahun. Dia belajar
membaca tanpa bantuan khusus ketika ia berusia empat tahun. Dia memiliki
kesehatan yang baik dan tubuhnya lebih besar dari pada kebanyakan anak
seusianya.
2. Ilustrasi yang terjadi di Indonesia
Masalah mengenai anak cerdas ini didapat pada salah satu Sekolah Dasar
Islam di kota Cimahi. Ditemukan bahwa ada satu peserta didik yang memiliki

masalah dalam motivasi belajar yakni peserta didik berinisial RS yang berada
pada kelas 2.
Pada psikogram yang dimiliki oleh guru BK, didapatkan bahwa RS memiliki
IQ 133 (terlampir). Meski IQ yang dimiliki oleh RS masuk pada tingkatan yang
dapat dikategorikan gifted. Dari hasil wawancara yang dilakukan pada guru BK
tersebut, ditemukan bahwa RS memiliki motivasi belajar yang rendah. Secara
akademik, RS kesulitan dalam mencapai KKM (Ketercapaian Kelulusan
Minimum) yang ditentukan sekolah. Ini terlihat dalam nilai rapot yang
diperlihatkan oleh guru BK. Menurut guru BK pada sekolah tersebut, hal ini
difaktori oleh beberapa hal, yakni:
a. Standar materi pelajaran masih disusun untuk menaungi peserta didik yang
memiliki tingkat intelegensi rata-rata, sehingga peserta didik bernama RS
kurang terfasilitasi.
b. Persepsi RS pada kemampuan belajar yang dimilikinya rendah. RS merasa
pelajaran yang diberikan oleh guru tidak dapat diselesaikan
c. Peran orang tua kurang, karena kedua orang tua RS bekerja sepanjang hari
sehingga kurang adanya penangananan langsung yang dilakukan orang tua
pada RS.
D. PENANGANAN
1. Penanganan untuk ilustrasi dari buku
Untuk memiliki konselor yang kompeten untuk bekerja menangani anak
cerdas dan melakukan konseling keluarga yang memiliki anak cerdas,
prinsip-prinsip berikut mesti diikuti:
a. Anak cerdas memiliki kebutuhan yang unik yang telah divalidasi oleh
penelitian, berbeda dengan populasi pada umumnya (Bridges, 1973;
Freehill,1961; Gowan & Demos,1964; Hildberth,1966; Impellizerri, Farell,
& Melvile, 1976; Stewart, 1972)
b. Kebutuhan unik ini akan dapat ditangani saat pihak sekolah dan keluarga
berkolaborasi (Gold,1965)
c. Konselor sekolah dapat menambah perluasan dari keunikannya dan
potensi dari anak cerdas (Hildrenth,1966)

d. Konseling yang sukses akan mendorong keluarga dan anak untuk


menerima kesamaan dan perbedaan dari teman sebayanya (Stewart,1972;
Gowan & Torrance,1971)
Anak cerdas dan orang dewasa memiliki kebutuhan emosional dasar
yang sama dengan yang lain. Mereka membutuhkan rumah yang ditandai
dengan cinta dan keamanan dan kesempatan untuk mengembangkan
kemandirian mereka. hidup mereka harus diisi dengan kehadiran Tuhan.
Anak-anak dengan kemampuan khusus juga mungkin memiliki
beberapa persyaratan khusus. Orang tua harus memahami karakteristik anak
mereka dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan individualnya. Anak cerdas
membutuhkan

lingkungan

yang

menstimulus

jika

mereka

ingin

mengembangkan potensi mereka sepenuhnya. Orang tua harus menyediakan


permainan menarik dan pengalaman yang akan menantang mereka. Mereka
juga perlu literatur dan kesempatan pendidikan yang memadai.
Di sekolah ada tiga metode yang paling umum untuk memenuhi
kebutuhan pendidikan anak secara intelektual unggul adalah (1) percepatan
(2) pengayaan, dan (3) kelas khusus.
Akselerasi melibatkan pemindahan anak lebih dahulu di sekolah.
Penempatan kelas kemudian lebih didasarkan pada usia mental dari usia
kronologis. Karena anak cerdas memiliki kemampuan mental yang sama
dengan anak-anak lebih tua dari dirinya, ia mungkin ditempatkan dalam kelas
lebih maju.
Beberapa sekolah membuat ketentuan khusus untuk memperkaya
kurikulum siswa cerdas. Mereka menyediakan anak dengan kesempatan
untuk melakukan mata pelajaran khusus dalam sastra, matematika, sains dan
mata pelajaran lain. Saat anak tersebut tidak di tempatkan dengan anak yang
sama dengan umur kronologisnya, ia akan lebih mampu untuk belajar secara
akademik yang mana lebih cocok dengan kapasitas mentalnya.
Di beberapa sekolah di sediakan kelas khusus. Hal ini memungkinkan
siswa untuk menghabiskan sebagian besar hari di kelas reguler, namun

menghabiskan waktu dengan siswa cerdas lain dengan bekerja pada tugastugas seperti matematika atau sains.
Dalam merencanakan untuk siswa cerdas, penting bahwa perbedaan
individu harus turut dipertimbangkan. Program akademik yang cocok untuk
beberapa siswa cerdas mungkin tidak sesuai untuk orang lain. Pengaturan
yang mungkin terbukti bermanfaat untuk beberapa hal dapat menyebabkan
orang lain menjadi gugup dan tidak bahagia. Seorang konselor dapat
membantu orang tua untuk melihat secara sederhana karena seorang anak
cerdas tidak berarti bahwa ia harus memiliki program 'khusus" untuk anak
tersebut. Seorang anak dengan kecerdasan luar biasa tinggi suka memainkan
dan menciptakan serta menghabiskan jam-nya seperti anak lainnya. Dia tidak
boleh didorong akademis di luar batas wajar. Seorang wanita muda, misalnya,
mengomentari pengalamannya di sekolah menengah pertama dan atas.
"Karena aku cerdas mereka mendorong saya dari satu kelas ke yang lain dan
selalu menempatkan saya dalam kelompok dengan anak-anak unggul. Saya
sering menemukan diri saya bekerja dengan laki-laki dan perempuan yang
lebih tua dari saya dan dalam kepentingannya saya tidak tertarik untuk
berbagi sama sekali. Bagi saya

sekolah itu membosankan. Saya

menghadapinya hampir setiap hari dengan sikap bahwa saya harus bersaing
dengan seseorang. Di SMA saya mulai khawatir tentang nilai saya karena
saya tahu bahwa saya harus membuat rata-rata nilai tertentu untuk dapat
diterima dalam beberapa Universitas Namun saya bersaing dengan anak-anak
cerdas lainnya dan kami semua merasa sulit untuk membuat nilai yang
diperlukan untuk masuk perguruan tinggi Singkatnya, saya kira Anda akan
mengatakan bahwa saya merasa tertekan dan dimanfaatkan.
Konselor dapat memberikan kontribusi yang tidak biasa dilakukan
untuk anak-anak cerdas dengan berbicara pada orang tua mereka tentang
kebutuhan emosional dasar semua anak dan mendorong orang tua untuk
melihat bahwa anak mereka mengembangkan emosi maupun akademik.
Faktor spiritual juga, perlu ditekankan dalam konseling orang tua.
Semua bakat itu berasal dari Tuhan dan harus digunakan untuk kehormatan

dan kemuliaan-Nya.Sehingga orang-orang muda cerdas harus tumbuh dengan


keinginan untuk menghormati Tuhan dalam segala hal yang mereka lakukan.
Sedang konselor memiliki kesempatan unik untuk membantu orang tua untuk
memahami tanggung jawab terhadap anak yang cerdas.

2. Penanganan untuk ilustrasi di Indonesia


Penanganan pada masalah yang terjadi pada RS, telah diupayakan oleh
guru BK. Teknik yang dilakukan lebih condong pada penggunaan metode
behavioral, melalui teknik reinforcement.
Persepsi RS, yang memandang dirinya tidak bisa menyelesaikan soal-soal
yang diberikan oleh guru, membuat guru BK mesti terus mendukung RS agar
bisa mengoptimalkan potensinya. Untuk itu, guru BK menggunakan teknik
reinforcement, ini dicontohkan oleh guru BK pada suatu kasus saat RS sedang
kesulitan dalam mengerjakan soal di salah satu mata pelajaran. Guru BK saat
itu membantu wali kelas untuk menangani masalah yang ada pada RS. Ketika
itu, wali kelas bekerja sama dengan guru BK membuat suatu sistem
penghargaan dimana jika ada peserta didik yang dapat menyelesaikan tugas
diizinkan untuk pulang lebih awal.
Saat itu, RS menjadi orang terakhir yang ada di kelas. Dalam situasi
seperti ini, guru BK mendekati RS secara personal. Guru BK tetap
memberikan dukungan meski RS sudah putus asa dalam menyelesaikan tugas.
Melalui dukungan yang diberikan guru BK pada RS, serta penghargaan
berupa izin pulang, RS dapat menyelesaikan tugas tersebut. Reinforcement
yang diberikan tidak bersifat menekan, namun lebih bersifat memotivasi RS
secara halus. RS terus dipantau, baik oleh guru BK maupun wali kelas.
Penanganan yang berkesinambungan ini diharapkan dapat meningkatkan
motif berprestasi pada RS.

a. Intervensi
Reis, Sally M. & McCoach, D. Betsy (2000) dalam Wahab (2005)
menyatakan bahwa penanganan underachiever gifted pada dasarnya dapat
dilakukan dengan dua intervensi yaitu intervensi konseling dan edukatif.
1) Intervensi Konseling
Intervensi konseling berkonsentrasi untuk mengubah dinamika personal
dan keluarga yang membantu anak cerdas yang mengidap underachiever.
Intervensi konseling dapat meliputi konseling individual, kelompok dan
keluarga. Beberapa upaya dini untuk memperbaiki prestasi akademik
underachiever gifted melalui

perlakuan

konseling

tidak menunjukkan

keberhasilan (Baymur & Patterson, 1965; Broedel, Ohlsen, Profit, &


Southard, 1965). Hal ini dapat dipahami, karena dalam sebagian situasi
konseling, tujuan konselor tidaklah memaksa underachiever giftedmenjadi
seorang underachiever giftedyang sukses, tetapi lebih diorientasikan untuk
membantu mereka membuat keputusan apakah sukses merupakan suatau
tujuan yang dikehendaki, jika ya maka perlu membantu perubahan
kebiasaan dan kognisinya.
Weiner (1992) menetapkan bahwa ada empat intervensi yang berbeda
terhadap empat kelompok underachiever gifted yang berbeda; yaitu (1)
menguatkan sistem reward yang kurang, (2) menghilangkan handicap
kognitif dan emosional, (3) mengatasi kesenjangan pendidikan, dan (4)
memodifikasi kecenderungan pasif dan agresif. Konselor dan terapis dapat
membantu underachiever giftedmenguatkan sistem reward yang
memodifikasi
menghilangkan

kecenderungan
gangguan

perilaku

emosional;

pasif
pendidik

dan

kurang,

agresif,

dapat

dan

membantu

underachiever giftedmengatasi kesenjangan pendidikan dan menghilangkan


atau mengkompensasi gangguan kognitif.
underachiever gifted yang tak termotivasi mungkin melihat tidak ada
alasan

untuk menjadi siswa yang lebih baik. Ketika bekerja dengan

underachiever giftedbertipe ini, seorang konselor seharusnya menemukan


cara-cara untuk mengimplementasikan sistem reward yang akan mendorong

usaha skolastik siswa dan mengukuhkan kesuksesan akademik. Orang tua


dari underachiever gifted bertipe ini mungkin memperoleh manfaat dari
strategi terapetik yang mendorongnya untuk berbicara secara positif
tentang pendidikan, menunjukkan suatu minat terhadap kegiatan belajar
anaknya, dan mengharagai pencapaian anaknya.
2) Intervensi Edukatif
Interversi edukatif bagi underachiever gifted yang sangat terkenal
dapat diwujudkan dengan sistem kelas khusus yang part time dan full
time bagi underachiever gifted (e.g.Butler-Por, 1987; Fehrenbach, 1993;
Supplee, 1990; Whitmore, 1980).
berjuang

untuk menciptakan

suatu

Dalam kelas-kelas
lingkungan

ini,

guru-guru

yang nyaman

untuk

pencapaian prestasi siswa dengan merubah organisasi kelas tradisional.


Biasanya, rasio siswa:guru yang lebih kecil, guru dapat menciptakan tipetipe aktivitas mengajar dan belajar yang kurang konvensional, guru-guru
memberikan kepada siswa beberapa pilihan dan kebebasan di dalam
melayih pengendaliannya terhadap iklimnya, serta siswa didorong untuk
menggunakan strategi belajar yang berbeda.
Studi Emerick mengindikasikan bahwa suatu tipe intervensi yang efektif
adalah didasarkan pada kekuatan dan minat siswa (Renzulli, 1977; Renzulli
& Reis, 1985, 1997). Dalam studinya yang mutakhir, peneliti menggunakan
self- selected Type III dari Proyek Pengayaan sebagai suatu intervensi
sistematik untuk

siswa

anak cerdas yang mengidap underachiever.

Pendekatan secara spesifik mentargetkan kekuaran dan minat siswa


sehingga membantu mengatasi gejala berprestasi kurang bidang akademik.
(Baum, Renzulli, & Hebert, 1995b). Dalam suatu studi kualitatif teknik
intervensi ini, lima gambaran utama dari proses pengayaan Tipe III yang
berkontribusi

terhadap

keberhasilan

intervensi.

Faktor-faktor

ini

di

antaranya sebagai berikut: hubungan dengan guru, penggunaan strategi


self-regulation, kesempatan untuk meneliti topik-topik yang terkait dengan
anak cerdas yang mengidap underachiever, kesempatan untuk bekerja

berdasarkan bidang yang diminiati dalam suatu gaya belajar yang disukai, dan
adanya waktu berinteraksi dengan kelompok sebaya.
b. Strategi dalam Mengatasi Underachiever gifted
1) Strategi Sekolah
Whitmore (1980) dalam Wahab (2005) menjelaskan ada tiga tipe
strategi yang dipandang efektif untuk mengatasi anak cerdas yang mengidap
underachiever, yaitu di antaranya:
(a) Strategi supportif. Teknik dan desain kelas yang memungkinkan
siswa merasa menjadi bagian dari keluarga, bukan pabrik, yang
mencakup metode, yaitu: mengendalikan pertemuan kelas untuk
mendiskusikan kepedulian siswa; merancang kegiatan kurikulum
berdasarkan

kebutuhan dan minat anak; dan memungkinkan siswa

untuk menghentikan tugas-tugas tentang berbagai mata pelajaran


yang telah mampu mereka tunjukkan kompetensinya.
(b) Strategi intrinsik. Strategi ini mengakomodasi ide bahwa konsep
diri siswa sebagai pembelajar sangat terkait dengan keinginannya
yang kuat untuk berprestasi secara akademik. Dengan demikian,
sebuah kelas yang mengundang sikap positif adalah memungkinkan
kita untuk mendorong mereka berprestasi. Dalam kelas tipe ini, guru
mendorong untuk berusaha, bukan hanya sekedar sukses; mereka
menghargai masukan siswa dalam membuat aturan kelas dan wujud
tanggung

jawabnya;

serta

mereka memungkinkan siswa

untuk

mengevaluasi karyanya sendiri sebelum menerima suatu penilaian


dari guru.
(c) Strategi remedial. Guru yang efektif dalam mengatasi perilaku
underachiever mengenal bahwa siswa adalah tidak sempurna bahwa
setiap anak memiliki kekuatan dan kelemahan baik berkanaan dengan
kebutuhan sosial, emosional, maupun intelektual. Dengan strategi
remedial, siswa diberikan kesempatan untuk mempercepat dalam
bidang-bidang yang menjadi kekuatannya dan minatnya, sementara
itu

kesempatan

diberikan untuk

bidang-bidang

spesifik

yang

dirasakan ada kesulitan belajar. Remediasi ini dilakukan dalam


suatu lingkungan yang aman, suatu lingkungan yang kesalahankesalahan terjadi dianggap menjadi bagian dari belajar setiap orang,
termasuk guru.

2) Strategi Keluarga
Ada beberapa strategi

untuk

mencegah

dan

mengatasi

anak

underachiever (wahab, 2005), yaitu:


(a) Strategi supportif. Anak-anak cerdas istimewa hidup dalam iklim
yang saling menghargai, tidak berkuasa, fleksibel, dan bertanya.
Mereka memerlukan aturan
dukungan

dan

dorongan

dan
yang

pedoman

yang

reasonable,

kuat, umpan balik positif yang

konsisten, dan bantuan untuk menerima beberapa keterbatasan, baik


berkenaan dengan mereka sendiri atau orang lain (Rimm, 1986).
(b) Strategi instrinsik. Apakah anak-anak cerdas istimewa menggunakan
kemampuannnya yang luar biasa dengan cara-cara yang konstruktif
sebagian tergantung pada kepercayaan diri dan konsep dirinya.
Menurut Halsted (1988), anak cerdas istimewa intelektual tidak akan
bahagia

dan

merasa

sempurna

sampai

dia

menggunakan

kemampuannya sampai pada tingkat yang optimal. Karena


orangtua

dan

guru

melihat

dan

memahami

itu

perkembangan

intelektual, sehingga dapat memberikan bantuan yang sesuai.


Memberikan suatu

lingkungan pendidikan dini dan sesuai dapat

menstimulasi suatu rasa cinta sejak dini terhadap belajar. Sebaliknya


anak muda yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dengan
mudahnya akan menjadi redam, jika lingkungan pendidikan tidak
menstimulasi; penempatan kelas dan pendekatan mengajar yang
tidak tepat; anak mengalami guru yang tidak efektif; atau tugas
yang secara konsisten terlalu sulit atau mudah.
(c) Praise versus encouragement. Penekanan yang berlebahan terhadap
prestasi atau hasil belajar daripada usaha, keterlibatan, dan dorongan
untuk belajar

tentang

topik

yang

menjadi

minatnya

adalah

merupakan suatu perangkap orangtua secara umum. Garis antara


tekanan (pressure) dan dorongan (encouragement) adalah halus,
tetapi penting. Tekanan untuk tampil yang menekankan hasil seperti
memenangkan piala dan mendapatkan A. Untuk anak yang berhasil
memenuhi kemauan orangtua
penghargaan

yang

sangat

seperti

tinggi.

itu anakmendapatkan

Dorongan

(encouragement)

menekankan pada usaha, proses yang digunakan untuk mencapai,


langkah yang diambil untuk mencapai tujuan, dan perbaikan.
Langkah

ini meninggalkan penilaian kepada anak. Underachiever

gifteddiduga merupakan individu yang discouraged yang memerlukan


dorongan, tetapi cenderung menolak penghargaan yang artifisial atau
tidak tulus. (Kaufmann, 1987).
(d) Strategi remedial. Dinkmeyer and Losoncy (1980) memperhatikan
orangtua menolak discouraging anak-anaknya dengan dominasi,
inensitivikasi,

mendiamkan,

atau

intimidasi.

Komentar

yang

discouraging, misalnya: Jika kamu anak yang cerdas istimewa,


mengapa kamu dapat D untuk bidang studi .......? atau Saya telah
memberikan kamu sesuatu, mengapa kamu demikian .......? tidak
akan pernah efektif. Kompetisi yang berlangsung secara konstan
mungkin

mengarahkan

ke

underachievement, terutama

ketika

seorang merasa apakah seperti seorang pemenang atau yang kalah.


Kursus tentang keterampilan belajar, kursus tentang pengelolaan
waktu, atau tutorial khusus mungkin tidak akan efektif jika siswa
itu yang sudah lama mengalami gejala berprestasi kurang. Sebaliknya
tutorial khusus mungkin sangat membantu bagi underachiever
gifted yang mengalami kesulitan akademik dalam waktu pendek.
Umumnya, tutorial khusus bagi seorang underachiever gifted sangat
membantu ketika seorang orang tutor dipilih secara berhati-hati
untuk

menyesuaikan

dengan

gaya

belajar

siswa.

Kursus

keterampilan belajar yang bersifat luas atau tutor-tutor yang tidak

memahami underachiever giftedcenderung lebih bersifat kurang baik


daripada baiknya.

3) Strategi Kolaboratif
Pada kenyataannya bahwa terjadinya underachiever gifted tidak bisa
dilepaskan dari faktor keluarga dan sekolah secara terkait, sehingga
upaya menanganinya perlu adanya kolaborasi antara keduanya. Rimm
(Wahab, 2005) menemukan bahwa penanganan sindrom Underachiever
yang

melibatkan kolaborasi

antara

sekolah

dan

keluarga

dalam

implementasi melalui enam langkah, yaitu :


(a) Assessmen
(b) Komunikasi
(c) Mengubah Harapan
(d) Identifikasi Model Peran
(e) Koreksi kekurangan
(f) Modifikasi pengukuhan.

c. Penanganan yang Dapat Dilakukan


Penanganan yang dapat dilakukan oleh guru BK, menurut kelompok ini,
terbagi kepada dua strategi, yakni preventif dan kuratif. Berikut akan lebih
dipaparkan mengenai kedua strategi tersebut.
1) Penanganan Preventif
Menurut kelompok ini, penanganan preventif yang dapat dilakukan untuk
menanganani anak underachiever gifted melalui teknik sosiodrama. Dibawah
ini akan dijelaskan mengenai teknik sosiodrama dan satuan layanan yang
dapat digunakan.
a) Konsep sosiodrama
Sosiodrama terdiri dari dua suku kata sosio yang artinya masyarakat,
dan drama yang artinya keadaan seseorang atau peristiwa yang dialami
orang, sifat dan tingkah lakunya, hubungan seseorang, hubungan seseorang

dengan orang lain dan sebagainya. Metode sosiodrama adalah suatu metode
mengajar dimana guru memberikan kesempatan kepada murid untuk
melakukan kegiatan memainkan peran tertentu seperti yang terdapat dalam
kehidupan masyarakat sosial.
Sosiodrama

adalah

suatu

cara

mengajar

dengan

jalan

mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial.

Dari

pengertian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa sosiodrama adalah bentuk


metode mengajar dengan mendramakan atau memainkan peran tingkah laku di
dalam hubungan sosial.
Langkah-langkah dan Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam
Pelaksanaan Sosiodrama.
Langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama:
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Menentukan secara pasti situasi masalah.


Menentukan pelaku dan pemeran.
Permainan sosiodrama atau peragaan situasi.
Menghentikan peragaaan setelah mencapai klimaks.
Menganalisa dan membahas permainan peran.
Mengadakan evaluasi.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan sosiodrama:


(1) Masalah yang dijadikan tema-tema hendaknya dialami oleh sebagian
besar siswa.
(2) Penentuan pemeran hendaknya secara sukarela dan motivasi diri
sendiri.
(3) Jangan terlalu banyak menyutradai, biarkan murid mengembangkan
kreatifitas dan spontanitas mereka.
(4) Diskusi diarahkan kepada penyelesaian akhir (tujuan), bukan terhadap
baik atau buruknya lakon seorang murid.
(5) Kesimpulan diskusi dapat dirumuskan oleh guru.
(6) Sosoidrama bukanlah sandiwara atau drama biasa, melainkan peranan
situasi sosial yang ekspresif dan hanya dimainkan satu babak saja.

b) Strategi bimbingan dengan menggunakan sosiodrama


1. Rasionalisasi
Program bimbingan dan konseling (BK) merupakan bagian yang
terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu,
upaya guru pembimbing maupun berbagai aspek yang terlingkup dalam
program merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh kegiatan yang
diarahkan

kepada

pencapaian

tujuan

pendidikan

di

lembaga

yang

bersangkutan.
Sebagai bagian yang terpadu, program bimbingan dan konseling
diarahkan kepada upaya yang memfasilitasi siswa untuk mengenal dan
menerima dirinya sendiri serta lingkungannya secara positif dan dinamis, dan
mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab, mengembangkan serta
mewujudkan diri secara efektif dan produktif, sesuai dengan peranan yang
diinginkan di masa depan, serta menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik
agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas
perkembangannya.
Kadang-kadang banyak peristiwa psikologis atau sosial yang sukar bila
dijelaskan dengan kata-kata belaka. Maka perlu didramatisasikan, atau siswa
dipartisipasikan untuk berperanan dalam peristiwa sosial itu. Dalam hal ini
perlu menggunakan metode sosiodrama yaitu siswa dapat mendramatisasikan
tingkah laku, atau ungkapan gerak-gerik wajah seseorang dalam hubungan
sosial antar manusia.

SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Sekolah

Alamat

Tahun

: 2011/2012

Bidang Bimbingan

Pribadi-Sosial

Kompetensi

Pengembangan Pribadi

Sub.Kompetensi

Menampilkan prilaku yang mereflksikan keragaman diri


dalam lingkungan akademik.

Tujuan

1. Membantu siswa untuk meningkatkan motivasi belajar.


2. Membantu siswa untuk memahami apa itu motivasi
belajar.

Materi
Peserta
Waktu

45 menit

Semester

Genap

Tempat Pelaksanaan

Ruangan Kelas

Teknik

Sosiodrama

Alat dan Media

Papan Tulis dan Spidol


Proses Kegiatan

a. Eksperientasi

Tahap Awal
a. Konselor mengucapkan salam dan berdoa
b. Konselor menjelaskan tujuan kegiatan dan kontrak
kerja.
Tahap Inti
a. Konselor bertanya pada siswa tentang fenomena apa
saja yang terjadi pada kehidupan,dan dilihat dari sudut
pandang motivasi belajar.
b. Setelah siswa menyebutkan kejadian kejadian yang

terjadi

dari

sudut

pandang

motivasi,

konselor

menuliskannya di papan tulis.


c. Konselor meminta siswa untuk menyebutkan siapa
saja

nama

tokoh

yang

akan

diperankan

dan

menuliskannya di papan tulis.


d. Setelah

selesai

menuliskan

tokoh

tokoh

yang

disebutkan oleh siswa, konselor meminta siswa untuk


mengajukan

diri

untuk

berperan

dalam

proses

pemeranan.
e. Setalah siswa mengajukan diri dan maju ke depan
kelas. Konselor mengarahkan proses pemeranan yang
akan dilaksanakan dan siswa yang tidak maju ke depan
kelas sebagai pengamat.

Tahap Akhir
a.

Konselor

meminta

siswa untuk memberi komentar terhadap proses


sosiodrama yang telah dilaksanakan.
b.

Konselor

meminta

siswa untuk menyimpulkan dari kegiatan sosiodrama


yang telah dilaksanakan.
c.

Konselor

meminta

siswa untuk tidak ribut dan menutup pertemuan dan


b. Evaluasi

memberikan salam.
Konselor menanyakan perasaan siswa mengenai salah satu
peran

yang

telah

diperankan

oleh

temannya

dan

menanyakan kepada siswa mengenai kesimpulan yang


didapat dari simulasi yang telah dilakukan.
Konselor menanyakan apa yang di dapat oleh siswa setelah
mengikuti proses sosidrama tersebut dan memnanyakan apa

yang akan dilakukan oleh siswa setelah mengikuti


sosidrama ini.

2) Penanganan Kuratif
Teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar anak
underachiever gifted salah satunya adalah melalui teknik behavioristik. Dari
berbagai intervensi, strategi, serta penanganan, baik dari pakar, maupun yang
telah dilakukan oleh guru BK yang bersangkutan. Penggunaan reinforcement
(sistem reward dan punishment) menjadi salah satu metode yang dinilai efektif
oleh kelompok kami untuk menangani RS.
a) Rasionalisasi
Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh
faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan
reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola
perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan
yang diterima dalam situasi hidupnya. Tingkah laku dipelajari ketika individu
berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar : (a)
pembiasaan klasik; (b) pembiasaan operan; (c) peniruan. Dalam meningkatkan
motivasi belajar khususnya pada anak underachiever gifted, tujuan serta
kompetensi yang hendak dicapai dalam konseling behavioral dapat
dirumuskan secara spesifik.
Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan
ketidakpuasan yang diperolehnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak
sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan
memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.
Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku
yang tampak dan spesifik, (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan
tujuan konseling, (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai
dengan masalah klien, dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan
konseling.

b) Teknik konseling behavioral untuk menangani anak underachiever


gifted
Proses konseling dalam konseling behavioral adalah proses belajar,
konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Konselor aktif :
-

Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor

dapat membantu pemecahannya atu tidak


Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan
konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam

konseling
Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasilhasilnya.

(1) Pengalaman Konseli dalam Konseling


Hal unik dalam konseling Behavioristik adalah adanya peran konseli yang
ditentukan dengan baik dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi
konseli dalam proses konseling. Keterlibatan konseli dalam proses konseling
dalam kenyataannya menjadi lebih aktif, dan tidak hanya sebagai penerima
teknik-teknik yang pasif. Konseli didorong untuk bereksperimen dengan
tingkah laku yang baru, sebagai pengganti tingkah laku yang salah suai.

(2) Deskripsi langkah-langkah konseling :


Dalam melakukan konseling behavioral secara individual, langkahlangkah dibawah ini, dapat digunakan untuk menangani masalah RS. Berikut
langkah-langkah yang dapat digunakan dikutip dari Sudrajat (2008):
-

Assesment, langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika


perkembangan

klien

(untuk

mengungkapkan

kesuksesan

dan

kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal,


tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya) Konselor mendorong
klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada
waktu itu. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau
teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin
-

diubah.
Goal setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor
dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam
konseling. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi
klien; (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki
sebagai hasil konseling; (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang
telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar
dimiliki dan diinginkan klien; (b) apakah tujuan itu realistik; (c)
kemungkinan manfaatnya; dan (d)kemungkinan kerugiannya; (e) Konselor
dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan
menetapkan teknik yang akan dilaksanakan, mempertimbangkan kembali

tujuan yang akan dicapai, atau melakukan referal.


Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik
konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan

yang menjadi tujuan konseling.


Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah
kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil

sesuai dengan tujuan konseling.


Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk
memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.
Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon

yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap


perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan
konseling) akan dapat dibentuk.

DAFTAR PUSTAKA

_____.(2011). Anak

Pandai Tapi tidak berprestasi.

[Online]. Tersedia:

http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/17/anak-pandai-tapi-tidakberprestasi-underachiever/ [29 Febuari 2012].


Hanafiah.
2011.
Metode
Sosiodrama.
[Online].
Tersedia
http://berawaldarihati.blogspot.com/2011/04/metode-sosiodrama.html [8
Desember 2011]

Munandar

Utami

(1999).

Underachiever

Gifted.

[Online].

Tersedia:

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=faktor+penyebab+anak+gifted
&source=web&cd=4&ved=0CC4QFjAD&url=http%3A%2F%2Fbenyahy
a.student.umm.ac.id%2Fdownload-as-doc%2Fstuden
t_blog_article_191 .doc&e i=-8 1NT5auJoT3rQfgpYmXDw&usg=AFQ
jCNFSeXag Ee3JFpK5NAzUWn2reneE6w&cad=rja. [ 29 Febuari 2012].
Narramore, Clyde M. (1966). Encyclopedia of Psychological Problems.
Zondervan Pub. House.
Prayitno. (1988). Orientasi Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Dept. Pendidikan
dan Kebudayaan
Rahma,

Siti. (2005).

Anak

Gifted. [Online]. Tersedia:

rahmahzelectry.

blogspot.com/2011/03/anak-gifted.html. [10 Februari 2012].


Sudrajat, Akhmad. (2008). Teknik Konseling Behavioral. [Online]. Tersedia:
akhmadsudrajat.wordpress.com. [07 maret 2012]
Wahab, Rochmat. (2007). Mengenal Anak Cerdas istimewa Akademik Dan Upaya
Mengidentifikasinya.

[Online].

Tersedia:

http://staff.uny.ac.id/

system/files/prof-dr-rochmat-wahab-mpd-ma/mengenal-anak-cerdas
istimewa-akademik-dan-mengidentifikasikannya.pdf. [10 Februari 2012].
Wahab, Rochmat. (2007). Counseling The Academically Gifted Children [Online].
Tersedia:

http://staff.uny.ac.id/system/files/prof-dr-rochmat-wahab-mpd-

ma/mengenal-anak-cerdas
mengidentifikasikannya.pdf. [10 Februari 2012].

istimewa-akademik-dan-