Anda di halaman 1dari 9

TAKE HOME ASSIGNMENT

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)


MATA KULIAH

GIZI KLINIK

OLEH :

YANTI
BP. 1320332024
DOSEN PENGUJI
Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, M.Sc.PhD

PROGRAM MAGISTER ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014

TAKE HOME UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)


MATA KULIAH GIZI KLINIK
PROF. dr. NUR INDRAWATY LIPOETO, M.Sc.PHD

SOAL
1. Review artikel terlampir berdasarkan latar belakang, metode, hasil dan diskusi
2. Jika seorang ibu datang ke seorang Bidan, usia 19 tahun, apa yang harus
dilakukan bidan tersebut untuk mencegah terjadinya KEK dan factor risiko
kesehatan lainnya pada ibu tersebut.

JAWABAN
1. Review Artikel
Hubungan Antara Pemanfaatan Indeks Asuhan Prenatal yang Adekuat
dan Luaran Kehamilan
Peneliti : Tahereh Tayebi, Shahnaz Turk Zahrani, and Rezaali Mohammadpour

a. Latar Belakang :
- Asuhan Prenatal adalah program yang menggabungkan asuhan medis dan
-

support spikososial sebelum konsepsi.


Asuhan yang tidak adekuat sebelum kehamilan bisa menyebabkan outcome

yang tidak diinginkan, seperti persalinan premature dan BBLR.


Salah satu cara terbaru dan akurat dan indicator yang komprehensif untuk
pengukuran adalah menggunakan indeks pemanfaatan asuhan prenatal adekuat

(Adequacy of Prenatal Care Utilization (APNCU)).


Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keadekuatan asuhan dan hubungan nya dengan

persalinan premature dan BBLR.


b. Metode Penelitian
- Studi penelitian kohort.
2

Subjek penelitian adalah 420 ibu yang dirujuk ke puskesmas Sari di Iran pada

tahun 2010.
Pengumpulan data melalui wawancara dan pengisian kuisioner.
Berdasarkan pemanfaatan asuhan prenatal subjek penelitian dibagi dalam 4

kelompok, yaitu : intensif, adekuat, menengah dan tidak adekuat.


Analisa data menggunakan uji chi-square, ANOVA, Koefisien Korelasi Spearman

dan Risiko Relatif (RR).


c. Hasil Penelitian
- Dari 420 ibu yang diteliti, asuhan prenatal yang tidak adekuat ada 151 kasus
-

(36%), yang merupakan persentase tertinggi.


Ada hubungan signifikan antara pemanfaatan asuhan prenatal yang adekuat

dengan persalinan premature dan angka kejadian BBLR (dengan nilai p < 0,05).
Akibat asuhan yang tidak adekuat , angka kejadian persalinan premature ( RR =
1,36 kali) dan BBLR (RR = 1,08 kali) lebih besar dibandingkan yang dapat

asuhan adekuat atau intensif.


d. Kesimpulan
- Berdasarkan program yang mengurangi rujukan ibu hamil, penelitian ini
membuktikan efikasi keadekuatan asuhan prenatal dalam mengurangi kejadian
kelahiran preterm dan BBLR.
e. Diskusi
- Penelitian ini menunjukkan persentase tertinggi ibu yang diteliti mendapatkan
-

asuhan yang tidak adekuat.


Sejalan dengan penelitian Krueger et al (2000), namun tidak sejalan dengan
penelitian Heaman et al (2008) yang justru persentasenya tertinggi adalah ibu-ibu

yang dapat asuhan yang adekuat (39%).


Temuan ini menunjukkan bahwa walaupun cakupan asuhan prenatal sekitar 94%

di Iran, hanya 31,9% yang melakukan asuhan prenatal adekuat.


Alasan yang mungkin dari beberapa factor , seperti program pengurangan
kunjungan antenatal di Iran yang menyarankan perpanjangan waktu rujukan
(dalam 70 hari), sehingga menyebabkan beberapa ibu lupa dan atau mencari

layanan spesialisasi di pusat kesehatan lainnya, dimana dalam penelitian ini hal
-

tersebut tidak dikaji.


Temuan penelitian

mencerminkan peranan pentingnya dalam luaran kehamilan.


Hasil penelitian merupakan factor bahwa tanggung jawab social ibu dan

ini

juga

mengidentifikasi

variable

maternal

lainnya,

tanggung jawab lainnya dirumah, tanggung jawab terhadap anak-anak,


-

menurunkan perhatian ibu terhadap status kesehatan mereka.


Diantara factor-faktor lain yang menurunkan kualitas asuhan antara lain
penundaan kunjungan awal, kurangnya pengetahuan terhadap kehamilan dan
waktu kunjungan awal mungkin kurang dalam memberikan asuhan dan konseling

sebelum kehamilan.
Asuhan Prenatal merupakan komponen kritis dalam pelayanan kesehatan untuk

ibu hamil dan kunci untuk kehamilan dan bayi yang sehat.
Asuhan prenatal dini penting karena banyak perkembangan penting terjadi pada
trimester awal, skrining bias mengidentifikasi ibu dan janin dari risiko komplikasi
dan pemberi asuhan bisa memberikan pendidikan kesehatan untuk menyiapkan

ibu selama masa kehamilan.


Ibu yang memperoreh asuhan prenatal secara konsisten menunjukkan outcome
yang lebih baik dibandingkan ibu yang tidak mendapatkan asuhan prenatal.

2. Jika seorang ibu datang ke seorang Bidan, umur 19 tahun, apa yang harus
dilakukan bidan tersebut untuk mencegah terjadinya KEK dan factor risiko
kesehatan lainnya pada ibu tersebut.
Jawaban :
Kalau dianalisa kasus di atas, ada dua kemungkinan kondisi ibu tersebut. Apakah
ibu tersebut hamil atau tidak ? Hal tersebut harus dipastikan terlebih dahulu. Bila tidak
4

hamil, perlu diketahui bahwa usia ibu

19 tahun termasuk resiko tinggi bila ibu

mengalami kehamilan. Bidan mungkin bisa menyarankan atau konseling pada ibu
tersebut untuk menunda kehamilan hingga ibu mencapai usia reproduksi sehat yaitu 20
35 tahun. Selain itu bila ibu merencanakan kehamilan, status gizi dan status
psikososial ibu harus dipersiapkan untuk menjalani kehamilan untuk menghindari risiko
ibu mengalami malnutrisi, KEK dalam kehamilan.
Bila ibu datang dalam keadaan sudah hamil, perlu disadari ibu bahwa hamil usia
19 tahun termasuk resiko tinggi dalam kehamilan. Hamil dalam usia yang terlalu muda
(< 20 tahun) ibu akan mengalami kompetisi dengan janinnya sendiri, antara harus
memenuhi kebutuhan energinya yang masih tinggi untuk pertumbuhan dan mensuplai
energy untuk pertumbuhan dan perkembangan janinnya.
Pada kehamilan, terjadi perubahan metabolism basal tubuh, dimana basal
metabolic rate meningkat 15 % dari sebelum hamil. BMR dipengaruhi salah satunya
oleh umur. Makin muda umur, makin tinggi BMR nya, sehingga butuh lebih banyak
kalori.
Bila pada rentang usia ini terjadi kehamilan, BMR meningkat karena kehamilan
dan juga karena usia masih muda dan jika asupan energy tidak adekuat atau status gizi
ibu tersebut kurang baik, maka ibu tersebut beresiko mengalami malnutrisi dalam
kehamilan dan beresiko mengalami KEK. Efek yang diimbulkan berupa anemia,
pertumbuhan janin terhambat (PJT), perdarahan antenatal dan postnatal, prematuritas,
BBLR, komplikasi lain dalam proses persalinan dan mudah mengalami infeksi. Efek
jangka panjang lainnya, anak yang lahir dari ibu yang malnutrisi kemungkinan
mengalami masalah kesehatan di kemudian hari.

Untuk itu, seorang bidan dalam upaya mencegah ibu tersebut mengalami KEK
dan factor risiko kesehatan lainnya perlu memastikan status kesehatan ibu hamil dalam
kondisi baik selama kehamilan untuk menjamin kesehatan ibu dan tumbuh kembang
janin berlangsung baik.
Untuk mencegah KEK, harus dipastikan dulu status gizi ibu tersebut dalam
keadaan baik/ tidak. Anamnesa dapat dilakukan bidan untuk mencari tahu factor-faktor
resiko yang bisa menyebabkan ibu mengalami masalah gizi dalam kehamilan. Misalnya
latar belakang pendidikan ibu, status perkawinan ibu, status social ekonomi, status
psikososial dan kultural, beban kerja perhari, pola istirahat dan tidur, kondisi lingkungan
rumah ibu, dan gaya hidup (konsumsi alcohol, rokok, obat-obatan, jamu)
Untuk status gizi, anamnesa yang dilakukan meliputi:

Pola makan sehari-hari


Menu yang ada dalam diet
Jumlah asupan kalori per hari
Cara mengelola dan mengolah makanan
Keyakinan, kebiasaan dan pantangan terhadap makanan tertentu
Dll
Data tersebut di atas dapat dilakukan dengan wawancara dengan metode food

recall atau food record yang bertujuan untuk mengindentifikasi kebutuhan ibu akan
nutrisi dan identifikasi ibu yang beresiko dan membutuhkan konsultasi khusus atau
kebutuhan khusus untuk masalah nutrisi.
Bidan juga dapat melakukan pemeriksaan status gizi dengan mengukur indeks
antropometri, gejala klinis, dan pemeriksaan laboratorium.
a. Antropometri
Ukur BB dan TB

Ibu harus dipastikan pertambahan BB selama hamilnya normal dan


dibandingkan dengan BB sebelum hamil yang datanya di dapat mll
anamnesa. TB juga diukur mengingat ibu masih ada kemungkinan
mengalami pertumbuhan dan untuk mengukur IMT serta memperkirakan

kebutuhan kalori perhari


Ukur LILA
Pengukuran LILA adalaah salah satu cara mengetahui seorang ibu hamil
resiko KEK atau tidak. Ibu hamil diketahui menderita KEK dilihat dari
pengukuran LILA, adapun ambang batas LILA WUS (ibu hamil) dengan
resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari
23,5 cm atau di bagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai
resiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lebih rendah
(BBLR). BBLR mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan
pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.

b. Gejala Klinis
Pemeriksaan gejala klinis dilakukan untuk melihat tanda-tanda klinis kekurangan
energy dan malnutrisi. Gejala-gejala defisiensi mikronutrien seperti fe dan asam
folat yang menyebabkan anemia bila diketahui lebih dini dapat mencegah ibu
mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan dan memberi kualitas hidup yang
lebih baik bagi anak yang akan dilahirkan.
c. Pemeriksaan laboratorium
Bidan dapat melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana seperti memeriksa
kadar Hb untuk deteksi awal anemia. Apabila ibu hamil beresiko tinggi untuk
mengalami KEK, dapat dilakukan kolaborasi untuk pemeriksaan status gizi yang
lebih baik oleh ahli gizi untuk mencegah lebih dini ibu mengalami KEK.

Setelah di dapat data-data tersebut. Bidan diharapkan mampu menetapkan


perencanaan asuhan antenatal yang adekuat untuk pemenuhan nutrisi ibu selama
kehamilan. Rencana asuhan yang dapat diterapkan bidan antara lain :

Informasi, edukasi dan konseling bagi ibu tentang pentingnya nutrisi selama
kehamilan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, untuk kesehatan ibu
selama kehamilan dan menyediakan cadangan nutrisi bagi bayi di awal-awal

kehidupannya
Mengenalkan factor risiko bila ibu mengalami malnutrisi dalam kehamilan dan cara-

cara pencegahannya.
Memastikan pertambahan berat badan ibu berlangsung normal selama kehamilan
Mendeteksi secara dini gejala malnutrisi, anemia dan KEK serta tanda bahaya

lainnya dalam kehamilan


Memastikan diet berkualitas tinggi, pola asupan makanan seimbang, memenuhi

kebutuhan makronutrien dan mikronutrien selama kehamilan


Mengajarkan ibu pengelolaan dan pengolahan makanan yang baik untuk menjaga

kandungan nutrisi tidak hilang akibat cara pengolahan yang salah


Memastikan ibu mengurangi atau tidak mengkonsumsi kafein, nikotin, alkohol dan

obat-obatan terlarang selama kehamilan


Mendorong ibu memiliki persepsi positif terhadap kehamilan, melibatkan dukungan

suami dan keluarga dalam pemenuhan nutrisi ibu selama kehamilan


Pemberian suplemen tambahan, fe, asalm folat, kalsium untuk mencukupi

kebutukan mikronutrien ibu dalam kehamilan.


Memantau dan mengevaluasi status gizi dan kebutuhan nutrisi ibu di tiap trimester
kehamilan dan memastikan ibu dalam kondisi optimal menjelang persalinan guna
menghindari komplikasi persalinan dan nifas terkait factor nutrisi.
Dengan demikian, dengan mempersiapkan fisik, mental dan status gizi ibu dalam

kondisi optimal sebelum kehamilan dan selama kehamilan melalui antenatal care yang
8

berkualitas serta pemantauan ekstra terhadap perkembangan kehamilan akan dapat


mencegah ibu mengalami malnutrisi selama kehamilan dan menghindari risiko KEK dan
risiko kesehatan lainnya walaupun usia ibu merupakan resiko tinggi untuk hamil.