Anda di halaman 1dari 197

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

KATA PENGANTAR
Sejalan dengan amanat Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN 2005-2025), perlu disusun suatu
dokumen perencanaan pembangunan lima tahunan (Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional). UU No. 17 Tahun 2007 menegaskan bahwa prioritas RPJMN
2010-2014 adalah memantapkan penataan kembali NKRI, meningkatkan kualitas
sumber daya manusia, membangun kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
dan memperkuat daya saing perekonomian.
Penyusunan background study ini dimaksudkan sebagai salah satu
pendekatan teknokratis dalam mendukung penyusunan RPJMN 2010-2014. Laporan
ini menyajikan informasi tentang perkembangan kinerja pembangunan wilayah Pulau
Sumatera terkait bidang ekonomi, kependudukan dan sosial budaya, infrastruktur
fisik, tata ruang pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, dan politik
pertahanan dan keamanan. Laporan ini juga memuat permasalahan dan isu strategis
yang terjadi di wilayah Pulau Sumatera yang disajikan dalam bentuk matrik. Berbagai
permasalahan dan isu strategi tersebut perlu diatasi melalui suatu kebijakan yang
terencana, konsisten dan terpadu baik dari sisi perencanaan, penganggaran maupun
pelaksanaan. Oleh sebab itu, laporan background study ini juga dilengkapi dengan
rancangan strategi, tujuan dan sasaran, dan arah kebijakan pengembangan wilayah
Pulau Sumatera terutama terkait dengan pembangunan bidang ekonomi, sosial dan
kependudukan, infrastruktur, tata ruang pertanahan, sumberdaya alam dan
lingkungan hidup, dan politik pertahanan dan keamanan.
Background study ini diharapkan dapat menambah referensi yang ada dan
diperlukan dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah, sekaligus dapat
digunakan sebagai masukan bagi penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 secara
teknokratis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan laporan
background study ini. Kami menyadari bahwa laporan background study ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan kritik, saran dan
usulan perbaikan dari semua pihak/pembaca untuk penyempurnaannya.
Jakarta, November 2008
Deputi Bidang Pengembangan Regional
dan Otonomi Daerah

Max H. Pohan

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

BACKGROUND STUDY

PENYUSUNAN RANCANGAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN)
TAHUN 2010 2014
PULAU SUMATERA

PENGARAH
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah

PENANGGUNG JAWAB
Direktur Pengembangan Wilayah

Komentar, saran dan kritik dapat disampaikan ke :

Direktorat Pengembangan Wilayah


Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jl. Taman Suropati No. 2 Jakarta Pusat 10310
Telp/Fax. (021) 3193 4195

ii

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

viii

BAB

BAB

PENDAHULUAN

I-1

1.1

LATAR BELAKANG

I-1

1.2

PENDEKATAN PENEMBANGAN WILAYAH

I-3

1.3

TUJUAN

I-5

1.4

RUANG LINGKUP KEGIATAN

I-6

1.5

KELUARAN

I-6

1.6

KERANGKA KERJA PENYUSUNAN RANCANGAN STRATEGI


PENGEMBANGAN PULAU SUMATERA

I-6

II

KINERJA PEMBANGUNAN WILAYAH SUMATERA

II-8

2.1

KINERJA BIDANG EKONOMI

II-9

2.1.1 Perekonomian Daerah

II-9

2.2

2.3

2.4

2.5

2.1.2 Investasi dan Perdagangan

II-28

2.1.3 Keuangan Daerah

II-32

KINERJA BIDANG KEPENDUDUKAN DAN SOSIAL EKONOMI


MASYARAKAT

II-42

2.2.1 Kependudukan dan Ketenagakerjaan

II-42

2.2.2 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

II-48

BIDANG INFRASTRUKTUR

II-62

2.3.1 Prasarana Transportasi

II-62

2.3.2 Pos dan Telekomunikasi

II-65

2.3.3 Sumber Daya Air dan Irigasi

II-66

2.3.4 Kelistrikan

II-69

BIDANG PENATAAN RUANG

II-76

2.4.1 Pola Pemanfaatan Ruang

II76

2.4.2 Tata Guna Lahan

II-79

BIDANG SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP

II-84

2.5.1 Sumberdaya Alam

II84

2.5.2 Lingkungan Hidup

II-86

iii

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.6

BAB

BIDANG POLITIK, PERTAHANAN DAN KEAMANAN

II-90

2.6.1. Politik

II-90

2.6.2. Keamanan

II-92

III

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

III-95

3.1

Arahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)

III-95

3.2

Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera

III-96

3.3

Strategi Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera

III-99

3.4

Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera

III-100

3.4.1 Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Nasional

III-100

3.4.2 Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Wilayah

III-100

3.4.3 Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Strategi Nasional

III-101

3.4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Lokal

III -101

MATRIK PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU SUMATERA

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN TABEL
APPENDIKS. DASAR-DASAR METODOLOGI

iv

III-102

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.

Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor Per Provinsi di Pulau


Sumatera Tahun 2002-2007 (dalam persen)

II-11

Tabel 2.2.

Tipologi Daerah Wilayah Sumatera Berdasarkan Pertumbuhan


Ekonomi dan PDRB Perkapita Tanpa Migas Tahun 2006

II-19

Tabel 2.3.

Klasifikasi LQ Provinsi-Provinsi di Wilayah Sumatera

II-20

Tabel 2.4.

Hasil Perhitungan Shift Share Provinsi-Provinsi di Wilayah Sumatera

II-23

Tabel 2. 5. Analisis Sektor Kunci Wilayah Sumatera

II-24

Tabel 2.6.

Neraca Perdagangan (Export-Import) Menurut Provinsi di Pulau


Sumatera

II-30

Tabel 2.7.

Nilai TII Antara Sumatera dan Enam Wilayah/Pulau Lain

II-31

Tabel 2.8.

Derajat Desentralisasi Fiskal Wilayah Sumatera

II-34

Tabel 2.9.

Kontribusi Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak terhadap APBD Wilayah
Sumatera

II-35

Tabel 2.10. Pengeluran Aktual Perkapita (PPP); Index Pelayanan Publik Perkapita
(IPPP) APBD Provinsi dan Seluruh APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota
di Sumatera

II-36

Tabel 2.11. Kapasitas Fiskal Daerah-daerah di Sumatera


Tabel 2.12. Tingkat PAD Standar Pulau-Pulau Besar di Indonesia

II-38
II-39

Tabel 2.13. Tax Effort (Upaya Pajak) dan Index Kinerja PAD

II-39

Tabel 2.14. Proporsi DAU terhadap Pendapatan Daerah

II-40

Tabel 2.15. Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur di Pulau Sumatera


Tahun 2002-2005 (persen)

II-44

Tabel 2.16. Tingkat UMP di Wilayah Sumatera Tahun 2002-2007 (Rupiah

II-47

Tabel 2.17. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin (Perkotaan-Perdesaan) di


Pulau Sumatera Tahun 2000 2008 (ribu jiwa)

II-48

Tabel 2.18. Perkembangan Gini Rasio Setiap Provinsi di Pulau Sumatera Tahun
2002-2007

II-49

Tabel 2.19. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Setiap Provinsi di


Pulau Sumatera Tahun 1999-2007

II-56

Tabel 2.20. Hasil Uji Statistik Morans Interaksi Antar Kabupaten Kota

II-58

Tabel 2.21. Perbandingan Jumlah Kilang dan Kapasitas Produksi Antarpulau


Tahun 2006

II-69

Tabel 2.22. Jumlah Konsumsi Bahan Bakar dan Pelumas untuk Pembangkit di
Wilayah Sumatera

II-69

Tabel 2.23. Prakiraan Kebutuhan Beban Daerah Sumatera

II73

Tabel 2.24. Kawasan Lindung Nasional di Wilayah Sumatera

II -78

Tabel 2.25. Peruntukan Tanah menurut Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2007
(hektar)

II- 79

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.26. Penggunaan/Peruntukan Tanah Non Pertanian di Pulau Sumatera


Tahun 2007

II-80

Tabel 2.27. Lahan Tersedia Untuk Perluasan Areal Pertanian di Indonesia (ribu
hektar)

II-81

Tabel 2.28. Perubahan Penggunaan Tanah 2002-2007 Pulau Sumatera (hektar)

II-82

Tabel 2.29. Cadangan Potensi Sumberdaya Energi di Pulau Sumatera

II-85

Tabel 2.30. Luas Lahan Kritis Menurut Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2007

II-86
II-86

Tabel 2.31. Kerusakan Hutan Menurut Jenis Kerusakan Tahun 2005


Tabel 2.32. Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati di
Sumatera

II-87

Tabel 2.33. Wilayah Kritis Kehati Laut di Sumatera

II-89

Tabel 2.34. Banyaknya Desa Menurut Provinsi dan Nama Partai yang Mendapat
Suara Terbanyak untuk DPRD Provinsi Pada Pemilu 2004

II-90

vi

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1.

Kerangka Pikir dan Alur Analisis Penyusunan Perencanaan


Pembangunan Berbasis Ruang

I- 7

Gambar 2.1.

Rata-rata pertumbuhan Ekonomi dengan Migas Menurut Provinsi di


Pulau Sumatera, Tahun 2001-2007 (dalam persen)

II-10

Gambar 2.2.

Pertumbuhan Ekonomi dengan Migas (a) dan Tanpa Migas (b) per
Provinsi di Pulau Sumatera, Tahun 2002 -2007 (dalam persen)

II-10

Gambar 2.3.

Kontribusi Sektor Ekonomi Sumatera Terhadap Pulau dan Terhadap


Perekonomian Nasional

II-12

Gambar 2.4.

Struktur Perekonomian Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2007


(dalam persen)

II-12

Gambar 2.5.

Pola Sebaran Spatial Struktur Ekonomi Provinsi di Pulau Sumatera


Tahun 2007

II-13

Gambar 2.6.

PDRB Perkapita Tanpa Migas (Harga Berlaku) Menurut Provinsi di


Pulau Sumatera Tahun 2002-2007 (ribu rupiah)

II-14

Gambar 2.7.

PDRB Perkapita dengan Migas (Harga Berlaku) Tahun 2002-2007


(Rp. 000)

II-15

Gambar 2.8.

Peta Produk Unggulan Wilayah Sumatera

II-24

Gambar 2.9.

Peta Prioritas Pengembangan Industri di Wilayah Sumatera

II-26

Gambar 2.10.

Nilai Investasi PMA Setiap Provinsi Menurut Provinsi di Wilayah


Sumatera (Juta US$)

II-28

Gambar 2.11.

Nilai Investasi PMDN Setiap Provinsi Menurut Provinsi di Wilayah


Sumatera (Rp. Miliar)

II-29

Gambar 2.12.

Perkembangan Jumlah Penduduk Menurut Provinsi di Pulau Sumatera


Tahun 2005 2007 (ribu jiwa)

II-43

Gambar 2.13.

Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2007


(jiwa/km2)

II-43

Gambar 2.14.

Jumlah Angkatan Kerja Setiap Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 20042008 (jiwa)

II-45

Gambar 2.15.

Jumlah Penduduk Bekerja Setiap Provinsi di Pulau Sumatera Tahun


2004-2008 (jiwa)

II-46

Gambar 2.16.

Jumlah Pengangguran Terbuka Setiap Provinsi di Pulau Sumatera


Tahun 2004-2008 (jiwa)

II-47

Gambar 2.17.

Perkembangan Jumlah (a) dan Presentase (b) Penduduk Miskin Setiap


Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2000-2008 (ribu jiwa)

II-49

Gambar 2.18.

Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah Menurut Provinsi di Pulau


Sumatera Tahun 2004-2006

II-51

Gambar 2.19.

Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Provinsi di Pulau


Sumatera Tahun 1999, 2002, 2005 dan 2006. (tahun)

II-52

Gambar 2.20(a) Perkembangan Angka Melek Huruf (AMH) Menurut Provinsi di Pulau
Sumatera, Tahun 1999, 2002, 2005 dan 2006 (persen)

II-53

Gambar 2.20(b) Perkembangan Angka Kematian Bayi (AKB) Setiap Provinsi di Pulau

II-54

vii

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Sumatera, Tahun 2002/2003 dan 2005 (persen)


Gambar 2.21.

Perkembangan Angka Harapan Hidup (AHH) Setiap Provinsi di Pulau


Sumatera, Tahun 1999, 2002, 2005 dan 2006 (Tahun)

II-54

Gambar 2.22. Perkembangan Balita Menurut Status Gizi Buruk dan Gizi Kurang
Setiap Provinsi di Pulau Sumatera, Tahun 2002, 2003 dan 2005
(persen)

II-55

Gambar 2.23. Tingkat Penggunaan Fasilitas Permukiman

II-56

Gambar 2.24. Jumlah Penduduk Tanpa Air Bersih Menurut Provinsi di Pulau
Sumatera

II-57

Gambar 2.25.

Perbandingan Tingkat Persentase Penduduk Miskin 2004

II-59

Gambar 2.26(a)Perbandingan Tingkat Persentase Penduduk Miskin 2006

II-60

Gambar 2.26(b) Panjang Jalan Menurut Status di Pulau Sumatera Tahun 2005

II-63

Gambar 2.27.

II-64

Tingkat Ketersediaan Prasarana Transportasi Tahun 2005 Menurut


Provinsi di Pulau Sumatera (persen).

Gambar 2.28. Daya Jangkauan Kantor Pos Menurut Provinsi di Pulau Sumatera
Tahun 2003-2005

II-65

Gambar 2.29. Daya Jangkau Telekomunikasi dan Pos Tiap Desa Menurut Provinsi di
Pulau Sumatera Tahun 2005 (persen)

II-66

Gambar 2.30. Rasio Sawah dengan Sistem Pengairan Irigasi Teknis dan Non Teknis,
Tahun 2004 dan 2006 (persen)

II-67

Gambar 2.31.

II-68

Kondisi Fasilitas Perumahan Menurut Provinsi di Pulau Sumatera


Tahun 2000-2005

Gambar 2.32. Perkembangan Jumlah Pelanggan Air Bersih Kelompok Non Niaga,
Tahun 2002-2005

II-68

Gambar 2.33.

II-70

Kapasitas Terpasang dan Terpakai Energi Listrik Berdasarkan Sumber


Pembangkit Wilayah Operasional Sumatera (mega watt)

Gambar 2.34. Elektrifikasi dan Rasio Desa Berlistrik Menurut Provinsi di Pulau
Sumatera Tahun 2007. (persen)

II-70

Gambar 2.35. Penjualan Energi Listrik di Wilayah Sumatera Menurut Sektor


Pelanggan Tahun 2007 (persen)

II-71

Gambar 2.36. Kondisi Eksisting dan Rencana Sistem Transmisi di Wilayah Sumatera

II -74

Gambar 2.37.

II-77

Perbandingan Kawasan Lindung dan Budidaya Antarprovinsi di Pulau


Sumatera

Gambar 2.38. Ketersediaan Lahan untuk Pertanian Menurut Pulau Tahun 2007

II-81

Gambar 2.39. Penggunaan/Peruntukan Tanah non Pertanian Lainnya di Pulau


Sumatera Tahun 2007 (ribu hektar)

II-82

Gambar 2.40. Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Legislatis Per Provinsi di
Wilayah Sumatera Tahun 2004 (persen)

II-91

Gambar 2.41.

Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Presiden Per Provinsi di


Wilayah Sumatera Tahun 2004 (persen)

II-91

Gambar 2.42. Tingkat Rasa Percaya Bila Meninggalkan Rumah dalam Keadaan
Kosong Akan Aman (persen)

II-93

viii

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG

Pembukaan UUD 1945 menyebutkan tujuan nasional yang akan dicapai oleh bangsa
Indonesia, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Amanat UUD 1945 tersebut menegaskan pentingnya upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat
dan kemajuan seluruh wilayah secara merata.
Dalam upaya mencapai tujuan nasional tersebut, bangsa Indonesia menghadapi tiga
arus utama perubahan. Arus perubahan pertama adalah globalisasi yang ditandai oleh arus
perpindahan barang dan jasa, modal, dan informasi secara bebas. Kebebasan itu menyebabkan
batas antara pasar lokal, pasar daerah, pasar dalam negeri dan pasar internasional menjadi
kabur. Globalisasi juga mendorong persaingan antarpelaku ekonomi menjadi sangat ketat
sehingga setiap pelaku ekonomi dituntut untuk bertindak produktif dan efisien. Globalisasi
juga menimbulkan kerentanan dalam bentuk krisis perekonomian global yang berdampak
terhadap ketahanan nasional dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik bangsa.
Arus perubahan kedua adalah pelaksanaan demokrasi dalam seluruh tatanan kehidupan
bangsa. Hakikat demokrasi sesungguhnya yang telah menjadi kesepakatan internasional
adalah penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar rakyat terutama hak-hak
sipil dan politik, dan hak-hak sosial, ekonomi dan budaya. Dengan demikian, seluruh
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan harus berawal dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat. Oleh sebab itu, ukuran keberhasilan dari pelaksanaan demokrasi adalah
meningkatnya kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan.
Arus perubahan ketiga adalah penyelenggaraan otonomi daerah sebagai landasan
pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Otonomi daerah mempunyai dua sisi, yaitu
pendelegasian kewenangan dan pembagian sumber-sumber ekonomi. Pendelegasian
kewenangan berarti memberikan kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk
menyelenggarakan tugas pemerintahan dan tugas pembangunan, terutama dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan pembagian sumber-sumber ekonomi
berarti menyerahkan pengelolaan beberapa sumber-sumber penerimaan kepada pemerintah
daerah. Selain itu, pelaksanaan otonomi daerah merupakan bagian dari pemenuhan hak-hak
dasar rakyat. Dengan kewenangan dan sumberdaya yang lebih besar, pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten/kota berkewajiban untuk memberikan layanan dasar yang mudah,
murah dan bermutu, serta memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
Ketiga perubahan tersebut mendorong perubahan yang bersifat mendasar dalam
struktur dan kehidupan masyarakat baik sosial, ekonomi, budaya maupun politik. Masyarakat
menjadi semakin sadar dan kritis dalam menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan hak
bagi kehidupan yang lebih maju, mandiri, adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat. Oleh
sebab itu, ketiga arus utama perubahan tersebut, dan meningkatnya kesadaran dan sikap kritis
perlu menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan pembangunan terutama dalam
perumusan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan.
Dalam era globalisasi yang ditandai oleh terintegrasinya perekonomian dunia, dan
perubahan tatanan kehidupan yang lebih demokratis, upaya mewujudkan Wawasan Nusantara
dan memperkuat ketahanan nasional baik ketahanan sosial, budaya, ekonomi, politik, serta
pertahanan dan keamanan merupakan prasyarat untuk dapat bersaing dengan bangsa lain.
Peningkatan daya saing dan antisipasi dampak krisis ekonomi global hanya dapat dilakukan

I-1

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

dengan mendorong perbaikan kinerja pembangunan antara lain melalui : (i) peningkatan
produktivitas dan efisiensi yang dihasilkan dari pemupukan tabungan dan investasi, dan
penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tepat; (ii) perubahan sistem dan struktur
produksi secara bertahap menuju pada pengembangan industri dan jasa; (iii) penguatan
perdagangan internasional dengan memusatkan pada keunggulan komparatif, keunggulan
kompetitif dan keunggulan adaptif; (iv) pengembangan sistem ekonomi yang mampu
mendorong alokasi sumber daya dan sumber dana secara efisien dan efektif; (v) peningkatan
mutu sumber daya manusia dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi paling mutakhir; (vi) pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara
lestari, berhati-hati, cermat dan berkelanjutan; (vii) pengembangan sistem hukum yang andal,
efisien, efektif dan adil dalam mengatur seluruh penyelengaraan pemerintahan; (viii) dan
penguatan sistem pertahanan dan keamanan guna menjaga keutuhan wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Upaya meningkatkan daya saing bangsa ditentukan pula oleh peningkatan kinerja
pembangunan wilayah. Kemajuan pembangunan nasional merupakan akumulasi dari
kemajuan pembangunan wilayah. Sejalan dengan itu, upaya untuk meningkatkan kinerja
pembangunan wilayah merupakan salah satu agenda pembangunan yang integral dengan
upaya untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan, meningkatkan kehidupan demokrasi,
mewujudkan supremasi hukum dan pemerintahan yang baik, mempercepat pemulihan
ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta membangun
kesejahteraan rakyat dan ketahanan budaya masyarakat.
Selain itu, peningkatan daya saing ekonomi daerah dalam 20 tahun ke depan akan
ditentukan oleh rekayasa, pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam bidang produksi, informasi, dan komunikasi. Oleh sebab itu, perencanaan
pembangunan wilayah juga perlu mendorong pengembangan pengetahuan dan teknologi
sebagai basis penguatan daya saing daerah. Kemajuan pembangunan wilayah menjadi
penopang utama dalam menghadapi persaingan global terutama dengan terbentuknya
Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Pelaksanaan pembangunan selama ini telah membawa berbagai kemajuan, namun masih
belum memberikan hasil yang optimal terutama dalam mewujudkan kesejahteraan secara
merata kepada seluruh penduduk dan kemajuan yang seimbang bagi semua daerah. Dengan
latar belakang demografi, geografis, infrastruktur dan ekonomi yang tidak sama, serta
kapasitas sumber daya yang berbeda, maka perbedaan kinerja pembangunan daerah akan
menyebabkan kesenjangan antardaerah, timbulnya konflik dan kemungkinan disintegrasi
bangsa. Selain itu, permasalahan yang terjadi di daerah seperti busung lapar, polio, demam
berdarah, muntaber, kekeringan, banjir, pembalakan hutan (illegal logging), pencurian ikan
(illegal fishing), konflik, kelangkaan BBM, kebakaran hutan, serta masalah kemiskinan,
pengangguran, kriminalitas, dan konflik sosial perlu diatasi secara cermat dan terus menerus.
Berbagai kasus tersebut bukan hanya kejadian mendadak dan seketika, tetapi akumulasi dari
berbagai masalah yang belum ditangani secara tuntas. Pemecahan berbagai masalah di daerah
tersebut memerlukan suatu kebijakan yang terencana, konsisten dan terpadu baik dari sisi
perencanaan, penganggaran maupun pelaksanaan.
Pendekatan pembangunan sektoral selama ini yang cenderung terpusat belum
sepenuhnya mampu mendorong pengelolaan sumberdaya secara optimal untuk pembangunan
dan kemajuan daerah. Keterpaduan dan sinergi pembangunan sektoral di suatu wilayah belum
berjalan dengan baik sehingga hasil pembangunan belum dapat mengatasi permasalahan yang
terjadi di daerah dan belum efektif dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah. Oleh
sebab itu, pendekatan pembangunan wilayah sangat penting untuk mendorong pembangunan
sektoral secara sinergis, terpadu, efektif, efisien dan berkelanjutan dalam mempercepat
peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan daerah, serta mengurangi kesenjangan
antardaerah.
Pembangunan wilayah, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan secara
nasional, pada hakikatnya adalah upaya yang terencana untuk meningkatkan kapasitas
pemerintahan daerah yang andal dan profesional dalam memberikan pelayanan kepada

I-2

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

masyarakat, dan mengelola sumberdaya daerah secara berdaya guna dan berhasil guna bagi
kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan wilayah dilaksanakan melalui
pengembangan otonomi daerah dan desentralisasi pengaturan sumber daya administrasi
dengan mempertimbangkan penerapan tata pemerintahan yang baik dan pencapaian kinerja
pemerintah daerah yang efektif dan efisien. Di samping itu, pembangunan wilayah juga
merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat di seluruh daerah sehingga masyarakat
mempunyai pilihan yang luas untuk mengembangkan kehidupan yang lebih maju, mandiri,
makmur, sejahtera, bermutu dan bermartabat. Pembangunan wilayah dilaksanakan secara
sinergis oleh seluruh komponen dan potensi bangsa dengan berlandaskan asas keseimbangan
dan pemerataan antardaerah; kemitraan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha;
komunikasi dan interaksi lintas pelaku secara yang terbuka dan demokratis; manajemen
publik yang efektif dan efisien; serta pengelolaan tata ruang, pertanahan, sumberdaya alam
dan lingkungan hidup yang memenuhi kaidah pembangunan berkelanjutan.
Tantangan untuk mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam suatu wilayah juga
berkaitan dengan perlunya koordinasi kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah
provinsi dan pemerintah kabupaten/kota terutama dalam mencegah pelanggaran tata ruang
dan tata guna lahan, menghindari eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali, dan mencegah
kerusakan ekosistem dan lingkungan hidup yang dapat mengganggu kelangsungan
pembangunan dalam jangka panjang.
Dengan memperhatikan tujuan nasional, arus perubahan dan berbagai tantangan
tersebut, pembangunan berdimensi spasial atau wilayah menjadi penting, relevan dan
mendesak dalam menjamin pembangunan secara merata ke seluruh wilayah. Pendekatan
wilayah menegaskan perlunya pengembangan keunggulan dan daya saing wilayah, dan
sekaligus penguatan keterkaitan antardaerah.
1.2.

PENDEKATAN PENEMBANGAN WILAYAH

Pengembangan wilayah diselenggarakan dengan memperhatikan potensi dan peluang


keunggulan sumber daya darat dan/atau laut di setiap wilayah, serta memperhatikan prinsip
pembangunan berkelanjutan dan daya dukung lingkungan. Tujuan utama pengembangan
wilayah adalah peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat serta
pemerataannya. Pelaksanaan pengembangan wilayah tersebut dilakukan secara terarah dan
terintegrasi dengan semua rencana pembangunan sektor dan bidang. Pengembangan wilayah
menekankan pula keserasian dan keseimbangan antara pembangunan kawasan hulu dan hilir,
antara wilayah daratan dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (wilayah perairan), serta
antara kawasan lindung dan kawasan budidaya
Upaya pengembangan wilayah dimulai dengan pemahaman tentang kondisi, ciri dan
hubungan sebab-akibat (casual effect) dari unsur-unsur pembentuk ruang wilayah seperti
penduduk, sumber daya alam, sumber daya buatan, sosial, ekonomi, budaya, fisik dan
lingkungan. Melalui pemahaman tersebut selanjutnya dirumuskan tujuan, sasaran, dan target
pengembangan wilayah. Pengembangan wilayah didasarkan pada suatu pandangan bahwa
keseluruhan unsur manusia (dan mahluk hidup lainnya) dan kegiatan beserta lingkungan
berada di dalam satu sistem wilayah.
Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat
secara berkelanjutan selain memerlukan intervensi kebijakan yang berpihak pada kearifan
lokal yang berbasis kewilayahan baik sumberdaya lautan maupun daratan, juga memerlukan
strategi pembangunan yang bersifat lintas wilayah dan lintas sektor. Strategi ini diperlukan
agar wilayah tersebut dapat berkembang mencapai tingkat yang diinginkan melalui
optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam secara harmonis melalui pendekatan
komprehensif pada aspek fisik, ekonomi, sosial dan budaya untuk pembangunan
berkelanjutan.
Strategi untuk mencapai tujuan pembangunan yang bersifat lintas wilayah dan lintas
sektor diantarannya melakui penataan ruang (sebagai salah satu alat untuk pengembangan

I-3

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

wilayah) yang dimanfaatkan sebagai leverage agar wilayah berkembang mencapai tujuan yang
ditetapkan. Pengembangan wilayah pulau-pulau besar (Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan,
Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) menjadi landasan koordinasi pembangunan
melalui pelaksanaan prinsip-prinsip sinergi pembangunan dan kemanfaatan bersama
(complementary benefit). Strategi pengembangan wilayah diharapkan dapat menciptakan
sinergi antar wilayah, antar sektor dan antar pelaku, sehingga dapat memberikan hasil-hasil
yang efektif bagi peningkata kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya.
Berbagai pendekatan telah dikembangkan dalam pengembangan wilayah di Indonesia
sesuai dengan dinamika dan kebutuhan setiap masa. Pembagian wilayah yang digunakan
dalam studi ini didasarkan pada wilayah pulau utama termasuk tata ruang darat, dan tata
ruang pesisir dan laut, yaitu: wilayah pulau Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan,
Sulawesi, Jawa-Bali, dan Sumatera. Pembagian wilayah tersebut sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau
(RTRWP) sebagai sebagai salah satu instrumen koordinasi pengembangan wilayah. Penataan
ruang menjadi leverage agar setiap wilayah pulau tersebut berkembang mencapai tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan.
Pengembangan wilayah juga mengacu pada Undang-Undang No. 17/2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, dan Undang-undang
No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang dijabarkan ke dalam Peraturan Pemeirntah
No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 telah mengamanatkan pendekatan wilayah
(regional) sebagai salah satu strategi untuk mencapai tujuan pembangunan, yaitu
mewujudkan Indonesia asri dan lestari dengan memperbaiki pengelolaan pelaksanaan
pembangunan yang lebih seimbang antara pemanfaatan, keberlanjutan, keberadaan, dan
kegunaan sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui pemanfaatan ruang yang serasi
antara penggunaan untuk permukiman, kegiatan sosial ekonomi, dan upaya konservasi.
Salah satu arah pembangunan jangka panjang 2005-2025 dalam rangka mewujudkan
pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan adalah melalui pengembangan wilayah.
Pelaksanaan pengembangan wilayah tersebut dilakukan secara terencana dan terintegrasi
dengan semua rencana pembangunan sektor dan bidang. Rencana pembangunan dijabarkan
dan disinkronkan ke dalam rencana tata ruang yang konsisten, baik materi maupun jangka
waktunya. Penekanan secara khusus terhadap pendekatan regional dalam rencana
pembangunan juga termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) Kedua (2009-2014). Tahapan dan skala prioritas dalam RPJMN Tahap II (20102014) adalah meningkatnya kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan
ruang dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan terkait
dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang.
Pengembangan wilayah Pulau Sumatera, sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia,
sangat penting dalam mendukung peningkatan kinerja pembangunan nasional. Wilayah Pulau
Sumatera memiliki posisi geografis yang relatif strategis di wilayah barat Indonesia dan
berhadapan langsung dengan kawasan Asia Timur yang menjadi salah pusat perekonomian
dunia. Wilayah Pulau Sumatera berada pada posisi strategis nasional karena dari arah
tenggara sampai timur pulau ini dilintasi oleh ALKI yang memanjang mulai dari Laut Natuna,
Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Sunda. Alur laut ini terbuka bagi pelayaran dari Laut
Cina Selatan ke Samudera Hindia dan sebaliknya. Sementara Pulau Sumatera bagian timur
dan utara juga terbuka bagi pelayaran menuju kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Eropa.
Dengan demikian, Wilayah Pulau Sumatera berpotensi besar sebagai pusat pertumbuhan di
kawasan sub-regional ASEAN, Asia Pasifik, dan kawasan internasional lainnya. Selain itu,
wilayah Pulau Sumatera memiliki akses perdagangan paling strategis dibanding pulau besar
lain di Indonesia dengan sumber daya alam cukup lengkap baik pertanian, perkebunan,
perikanan, kehutanan dan pertambangan. Wilayah Pulau Sumatera juga memiliki letak
geografis dan hubungan interaksi paling dekat dengan pulau Jawa sebagai pusat
perekonomian di Indonesia.

I-4

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Berbagai prasarana dan sarana, peluang usaha dan ketersediaan sumberdaya manusia
di wilayah Sumatera tersedia secara cukup memadai. Wilayah Pulau Sumatera diharapkan
menjadi wilayah penopang utama dalam menghadapi persaingan global terutama dengan
terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pengembangan wilayah Pulau Sumatera akan
menghadapi berbagai isu strategis: (1) peningkatan jumlah penduduk perkotaan, (2)
menurunnya daya dukung sumber daya alam dan rusaknya lingkungan ekosistem sebagai
akibat ekploitasi yang berlebihan, (3) konversi lahan yang tidak terkendali tanpa mengikuti
rencana tata ruang, (4) meningkatnya klas menengah yang disertai dengan menguatnya
kesadaran tentang hak-hak dasar, (5) pergeseran cara pandang, nilai dan gaya hidup yang
lebih mengglobal.
Tantangan yang akan dihadapi wilayah Sumatera adalah penyesuaian terhadap
perubahan yang terjadi pada tataran global dengan tetap mengutamakan nilai-nilai keutamaan
lokal. Tantangan ini tidak hanya menyangkut perubahan tatanan politik, sosial, ekonomi,
teknologi informasi, tetapi juga perubahan cara pandang, nilai dan gaya hidup. Tantangan
hanya dapat diatasi dengan terus meningkatkan mutu sumberdaya manusia, mendorong
peningkatan kesejahteraan rakyat antara lain melalui perbaikan jangkauan dan kualitas
layanan publik, penguatan ketahanan budaya, peningkatan kemandirian, pengembangan
ekonomi rakyat, dan peningkatan daya saing.
Upaya menjawab berbagai tantangan akan sangat dipengaruhi oleh berbagai upaya
dalam peningkatan kualitas, proses dan kinerja politik dalam menghormati, melindungi dan
memenuhi hak-hak dasar rakyat; pemantapan ketertiban yang menciptakan rasa aman bagi
rakyat; penegakan hukum secara adil dan tanpa diskmrinasi, serta peningkatan kapasitas dan
integritas aparat dalam memberikan layanan kepada rakyat. Tantangan yang tidak kalah
pentingnya adalah peningkatan dan perluasan jangkauan sarana dan prasarana yang
menghubungkan rakyat di pelosok daerah ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan
pemerintahan; pengembangan wilayah dan penataan ruang secara cermat, disiplin, dan
terpadu dengan memperhatikan tata guna lahan, zonasi, serta pengelolaan sumberdaya alam
dan lingkungan hidup yang menjamin pembangunan berkelanjutan. Rekayasa, pengembangan
dan penyebaran teknologi dalam bidang produksi, informasi, dan komunikasi yang sesuai
dengan perkembangan jaman juga menjadi tantangan wilayah Sumatera. Oleh sebab itu,
pengembangan pengetahuan dan teknologi sebagai basis penguatan daya saing wilayah
Sumatera menjadi kian penting dan mendesak.
Dalam rangka merespon isu kesenjangan dan beberapa isu terkini lainnya,
pengembangan wilayah berbasis Pulau Sumatera memerlukan pengkajian mengenai kondisi,
potensi, permasalahan, isu strategis untuk mendapatakan rumusan strategi pengembangan
pulau yang ideal. Studi ini akan menganalisis berbagai tantangan tersebut dengan
menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dan mengacu pada Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional dan rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau. Berdasarkan hasil
analisis kemudian dirumuskan strategi pengembangan wilayah Sumatera 2010-2014.

1.3.

TUJUAN

Tujuan dari kajian ini adalah untuk menyusun landasan atau kerangka bagi konsep
kebijakan nasional yang menyeluruh dan terpadu mengenai strategi pengembangan pulau
Sumatera.
Adapun sasaran yang hendak dicapai dari kegiatan ini adalah:
1.

Teridentifikasinya permasalahan, peluang, dan potensi pengembangan Pulau


Sumatera;

2. Terpadunya konsep-konsep kebijakan pengembangan wilayah Pulau Sumatera, yang


bersifat sektoral dan kedaerahan;
3. Tersusunnya rumusan dan skenario pengembangan wilayah Pulau Sumatera;

I-5

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

4. Tersusunnya landasan konsep bagi kebijakan nasional pengembangan wilayah Pulau


Sumatera sebagai salah satu bahan masukan dalam penyusunan RPJMN 2010 2014.
1.4.

RUANG LINGKUP KEGIATAN

Ruang lingkup dari kajian penyusunan strategi pengembangan wilayah Pulau


Sumatera adalah :
1.

Identifikasi, dan pengumpulan data dan informasi tentang kondisi sosial


kependudukan, ekonomi, infrastruktur, sumber daya alam dan lingkungan hidup, tata
ruang dan pertanahan, serta politik dan keamanan di wilayah Sumatera;

2. Analisis Kuantitatif dan Kualitatif mengenai permasalahan, potensi daerah dan isu
strategis dalam bidang ekonomi, sosial budaya, hankam dan kelembagaan, SDA-LH,
tata ruang dan pertanahan, dan infrastruktur;
3. Kunjungan lapangan (daerah);
4. Perumusan skenario pengembangan wilayah Pulau Sumatera;
5. Lokakarya dan Workshop.
1.5.

KELUARAN
Keluaran yang diharapkan dari kajian ini adalah:
1.

Struktur dan profil perkembangan wilayah Pulau Sumatera;

2. Struktur potensi, permasalahan, dan peluang pengembangan Pulau Sumatera;


3. Kerangka konseptual pengembangan wilayah Pulau Sumatera; serta
4. Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan wilayah Pulau Sumatera.
1.6.

KERANGKA KERJA PENYUSUNAN RANCANGAN STRATEGI


PENGEMBANGAN PULAU SUMATERA

Pemikiran dan kerangka kerja dalam penyusunan rancangan strategi pengembangan


Pulau Sumatera mengikuti alur seperti yang terdapat dalam Gambar 1.1. Analisis isu strategis
yang dilakukan dalam studi ini berdasarkan berbagai fakta, potensi, dan permasalahan di
bidang ekonomi, sosial budaya dan kependudukan, infrastruktur, tata ruang dan pertanahan,
sumberdaya alam dan lingkungan, serta politik dan hankam.

I-6

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 1.1.
Kerangka Pikir dan Alur Analisis Penyusunan Perencanaan Pembangunan Berbasis Ruang

CAKUPAN ANALISIS:
Ekonomi
Sosbud & Kependudukan
Infrastruktur
Tata Ruang & Pertanahan
Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Politik & Hankam
Pendekatan:
Struktur, Perilaku,
dan Kinerja

Pendekatan:
Eksplorasi Kualitatif
Identifikasi:
Fakta
Potensi
Masalah

PROFIL
Analisis Penilaian Kinerja:
Analisis Kuantitatif

Analisis Penilaian Kinerja


Analisis Kualitatif

PETA:
FAKTA POTENSI MASALAH ISU STRATEGIS

Renstra Sektoral
Renstra Daerah

KEBIJAKAN & STRATEGI:


ISU STRATEGIS UTAMA - SKENARIO ARAH KEBIJAKAN & STRATEGI

Output yang dihasilkan dari pendekatan ini kemudian dianalisis lebih lanjut untuk
menyusun profil yang lebih rinci sebagai basis dalam penyusunan strategi dan kebijakan
pengembangan wilayah dari masing-masing bidang. Analisis yang dilakukan meliputi analisis
kualitatif dan kuantitatif atas kinerja setiap bidang. Berdasarkan pertimbangan arahan
kebijakan penataan ruang dan hasil analisis isu strategis kemudian dirumuskan rancangan
strategi dan arah kebijakan pengembangan wilayah Sumatera.

I-7

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

BAB II.
KINERJA PEMBANGUNAN
WILAYAH SUMATERA
Pembahasan kinerja pembangunan wilayah Sumatera merupakan informasi
berdasarkan pendekatan struktur, perilaku dan kinerja serta pendekatan eksplorasi kualitatif.
Untuk pendekatan eksplorasi kualitatif, didasarkan pada berbagai studi literatur yang ada
seperti kajian model-model ekonomi, hasil evaluasi perguruan tinggi, dan analisis dokumen
pemerintah (kebijakan pemerintah yang telah ada). Ketiga pendekatan tersebut akan
dihasilkan penilaian kinerja dari masing-masing bidang di pulau Sumatera. Penilaian kinerja
tersebut terdiri atas profil kinerja daerah pada masing-masing bidang dan identifikasi fakta,
potensi dan masalah pada bidang-bidang tersebut. Cakupan analisis dalam penilaian kinerja
yang akan dimunculkan dari hasil studi ini yaitu :
(1).

Ekonomi, yang meliputi makro ekonomi daerah PDRB Produksi (pertumbuhan


ekonomi, struktur ekonomi, perkapita), perdagangan (ekspor-impor) dan investasi
(PMA dan PMDN), keuangan daerah, serta kemiskinan dan ketimpangan daerah.

(2).

Kependudukan, Ketenagakerjaan, dan Sosial ekonomi, yang meliputi :


kependudukan (jumlah dan tingkat kepadatan penduduk), angkatan kerja
(pengangguran terbuka dan penduduk yang bekerja), pendidikan, kesehatan,
Perumahan dan lingkungan, Indeks Pempangunan Manusia (IPM).

(3).

Infrastruktur, yang meliputi transportasi, energi dan kelistrikan, serta pelayanan


publik.

(4).

Tata ruang dan pertanahan, yang meliputi pembagian wilayah menurut tipologi
dan struktur tanah serta konversi lahan dan manajemen sumber daya air, peruntukan
wilayah dan zonasi, serta carrying capacity,

(5).

Sumber daya alam dan lingkungan, yang meliputi sumber daya alam dan
lingkungan serta pengelolaannya.

(6).

Politik dan pertahanan keamanan, yang meliputi kelembagaan, politik dan


keamanan;

Untuk mempertajam penilaian kinerja, digunakan beberapa alat analisis kuantitatif


dan kualitatif. Analisis kuantitatif yang digunakan meliputi: (1) analisis model IRIO, (2)
analisis spasial, (3) kutub pertumbuhan; (4) trade intensity index; (5) analisis sektoral (analisis
LC, LQ, dan shift share); (6) analisis keuangan daerah; dan (7) statistika deskriptif. Analisis
statistika deskriptif digunakan untuk menunjukkan kinerja pembangunan yang telah dicapai
masing-masing daerah di pulau Sumatera. Sementara alat analisis lain bersifat analisis
kuantitatif lanjutan untuk menggambarkan indikator-indikator penting ekonomi daerah,
mengidentifikasi sektor-sektor kunci dan unggulan daerah, keterkaitan antar sektor, pusatpusat pertumbuhan di daerah, kinerja perdagangan dan keterkaitan perdagangan antar
daerah. Analisis lanjutan tersebut juga digunanakan untuk mengidentifikasi potensi keuangan
daerah dan efektivitas alokasi belanja daerah. Analisis kuantitatif ini diperkuat dengan studistudi yang telah dilakukan sebelumnya seperti studi strategic development region (SDR) dan
studi knowledge base economy (KBE). Sedangkan analisis kualitatif yang akan dilakukan
dalam studi ini meliputi: analisis kesenjangan kebijakan (gap analisis), analisis perilaku
kelembagaan dan nilai sosial; serta analisis dokumen kebijakan (policy review).
Hasil penilaian kinerja pada setiap bidang, menjadi dasar dalam mendeskripsikan
fakta, potensi, masalah, serta rumusan isu strategis untuk setiap bidang. Deskripsi fakta dan
permasalahan dalam dokumen publikasi ini disajikan secara terpilih, dan memiliki relevansi
dengan deskrpsi isu strategis.
II - 8

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.1. Kinerja Bidang Ekonomi


2.1.1. Perekonomian Daerah
Fakta dan Permasalahan:

1.

Kontribusi terbesar perekonomian Sumatera dari sektor pertanian 28.2%, pertambangan:


24.1%, industri pengolahan: 25,6%. Dengan sektor kunci sumatera industri makanan dan
minuman, industri kelapa sawit, industri dasar besi dan baja dan logam dasar bukan besi dan
industri pulp dan kerta.

Pemanfaatan sektor potensial (kunci) untuk meningkatkan nilai tambah regional belum
uotimalsektor unggulan belum optimal.

Kontribusi PDRB Sumatera thd Nasional (Total PDRB: 20.91; PDRB Non Migas: 18.56):
kontribusi sector pertanian 30 persen terhadap sector sector pertanian nasional, dan sector
industri 45 persen terhadap sector industri Nasional

Kontribusi terbesar PDRB Sumatera berasal dari 3 provinsi, yaitu Provinsi Riau sebesar 25
persen, Sumatera Utara sebesar 22,40 persen, Sumatera Selatan sebesar 13,54 persen) dan
kontribusi terendah dari Provinsi Bengkulu sebesar 1,57 persen. Terjadinya disparitas
pendapatan antaprovinsi sangat tinggi dan cenderung meningkat setiap tahun.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi (2001-2007) provinsi di wilayah sumatera positif, kecuali


NAD dengan laju pertumbuhan negatif. Pertumbuhan tertinggi berada di Provinsi Kepulauan
Riau sebesar 6,7 persen

Sektor kunci untuk pengembangan ekonomi wilayah

Ketimpangan Perkapita di wilayah Sumatera semakin tinggi yang disebabkan dengan


besarnya perkapita di Kepri dan Riau, dan terendah di Lampung

Tipologi daerah Cepat Maju dan Cepat Tumbuh adalah Kep. Riau, dan yang termasuk
tipologi daerah Relatif Tertinggal adalah Sumatera Selata dan Lampung

Produk Domestik Regional Bruto

Perekonomian wilayah Sumatera secara keseluruhan dipengaruhi sektor primer


berbasis sumber daya alam, terutama pertanian dan pertambangan dan penggalian. Jumlah
provinsi yang cukup banyak menyebabkan Pulau Sumatera memiliki cakupan wilayah yang
luas dengan perkembangan perekonomian dan aktivitas ekonomi yang beragam. Secara
geografis Pulau Sumatera dibedakan menjadi Wilayah Pantai Barat Sumatera dan Wilayah
Pantai Timur Sumatera, dimana perkembangan wilayah Pantai Timur Sumatera Sumatera
lebih berkembang dibandingkan wilayah pantai barat Sumatera. Salah satu faktor penyebab
lambatnya perkembangan ekonomi di wilayah pantai barat Sumatera adalah tingkat
ketersediaan infrastruktur sebagai pendukung kegiatan perekonomian di wilayah tersebut
masih terbatas. Berdasarkan keberagaman aktivitas dan perkembangan perekonomian,
wilayah Sumatera dapat dibagi menjadi 3 kluster wilayah, yaitu: Wilayah Utara (Prov.
Sumatera Utara dan NAD), Wilayah Tengah (Prov. Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan
Riau), serta Wilayah Selatan (Prov. Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu dan
Lampung).
a.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di wilayah sumatera dalam kurun waktu


2001-2007 seluruh provinsi memiliki rata-rata angka pertumbuhan positif, kecuali
pertumbuhan ekonomi di Prov. Nanggroe Aceh Darussalam yaitu sebesar -0,8 persen per

II - 9

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

tahun. Rata-rata angka pertumbuhan tertinggi berada di Prov. Kepulauan Riau yaitu sebesar
6,7 persen per tahun dan terendah di Prov. Nanggroe Aceh Darussalam Gambar 2.1.
Gambar 2.1.
Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi dengan Migas Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera, Tahun 2001-2007 (dalam persen)
8.0
6.7

Pertumbuhan (%)

7.0
5.7

5.9

6.0

5.4

5.3

5.0
4.0

5.3

5.0

4.2
3.1

3.0
2001-2007

2.0

Kepri

Kep. Babel

Lampung

Bengkulu

Sumsel

Riau

-0.8

Sumbar

-2.0

Sumut

-1.0

NAD

0.0

Jambi

1.0

Provinsi

Gambar 2.2.
Pertumbuhan Ekonomi dengan migas (a) dan Tanpa Migas (b) per Provinsi
di Pulau Sumatera, Tahun 2002-2007. (dalam persen)

(a)

(b)

24

10

20

9
8
P e rt u m b u h a n ( % )

P e rt u m b u h a n ( % )

16
12
8
4
0
-4

2002

2002

2003

2003

2004

2004

7
6
5
4
3
2
1

-8

-12

2002

Tahun
NAD
Riau
Bengkulu
Bangka-Belitung

Sumut
Jambi
Lampung
Sumatera

Sumbar
Sumsel
Kepulauan Riau

2003

NAD
Riau
Bengkulu
Bangka-Belitung

2004
Sumut
Jambi
Lampung
Sumatera

2005

2006

2007

Tahun
Sumbar
Sumsel
Kepulauan Riau

Sektor-sektor produksi yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi


Nanggroe Aceh Darussalam, laju pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor jasa-jasa 11,07, listrik
gas dan air bersih sebesar 14,06 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 11,58
persen, dan sektor bangunan 11,10 persen. Rata-rata pertumbuhan di Sumatera Utara sebesar 5,4
persen, laju pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar
12,89 persen, dan sektor bangunan sebesar 10,42 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan sebesar 9,7 persen. Rata-rata pertumbuhan di Sumatera Barat sebesar 5,3 persen, laju
pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,10 persen,

II - 10

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

sektor listrik gas, dan air bersih sebesar 7,82 persen, dan sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan sebesar 6,59 persen. Rata-rata pertumbuhan di Riau sebesar 3,1 persen, laju
pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor Jasa-jasa sebesar 5,31 persen, sektor pertanian sebesar
4,0 persen, dan sektor perdagangan hotel dan restoran sebesar 2,90 persen. Rata-rata pertumbuhan
di Riau sebesar 5,9 persen, laju pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor bangunan sebesar
18,85 persen, sektor keuangan dan jasa perusahaan sebesar 12,32 persen, dan sektor listrik, gas dan
air bersih sebesar 10,41 persen. Rata-rata pertumbuhan di Sumatera Selatan sebesar 4,2 persen, laju
pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 11,52 persen,
sektor bangunan sebesar 7,64 persen, dan sektor keuangan dan jasa perusahaan sebesar 7,43 persen.
Rata-rata pertumbuhan di Bengkulu sebesar 5,3 persen, laju pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh
sektor pertambangan dan penggalian sebesar 6,11 persen, sektor jasa sebesar 5,93, dan sektor
perdagangan hotel dan restoran sebesar 5,92 persen.
Rata-rata pertumbuhan di Lampung sebesar 5,0 persen, laju pertumbuhan tertinggi
dihasilkan oleh sektor keuangan dan jasa perusahaan sebesar 20,10 persen, Pengangkutan dan
komunikasi sebesar 7,01 persen, dan pertanian sebesar 5,09 persen. Rata-rata pertumbuhan di
Kepulauan Bangka Belitung sebesar 5,7 persen, laju pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor
perdagangan, hotel dan restoran sebesar 11,42 persen, sektor jasa sebesar 10,47 persen, dan
pertambangan dan penggalian sebesar 9,69 persen. Rata-rata pertumbuhan di Kepulauan Riau
sebesar 6,7 persen, laju pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor listrik, gas , dan air bersih
sebesar 75,56 persen, sektor 101 persen, dan sektor bangunan sebesar 20,14 persen. Rata-rata
pertumbuhan sektor ekonomi menurut provinsi disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1.
Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor Per Provinsi
di Pulau Sumatera, Tahun 2002-2007 (dalam persen)
Provinsi

Sektor
(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

Nanggroe Aceh Darussalam

2.49

-11.19

-12.37

14.06

11.10

Sumatera Utara

3.41

1.78

5.23

3.71

10.42

3.15

10.24

11.58

11.07

6.16

12.89

9.57

Sumatera Barat

5.71

3.07

4.34

7.82

6.38

5.92

7.73

9.10

6.59

4.48

Riau

4.00

-0.19

-8.17

0.22

2.68

2.90

1.92

-1.38

5.31

Jambi

5.82

1.27

3.94

10.41

18.85

7.11

6.32

12.32

4.24

Sumatera Selatan

5.98

0.27

5.23

6.23

7.64

7.25

11.52

7.43

6.39

Bengkulu

5.72

6.11

4.94

5.91

5.16

5.92

5.23

5.66

5.93

Lampung

5.06

-4.39

4.75

4.45

3.78

4.47

7.03

20.10

2.52

Bangka Belitung

4.53

9.69

4.52

3.60

7.24

11.42

7.03

3.40

10.47

Kepulauan Riau

5.85

0.89

-4.85

75.86

20.14

101.31

11.68

8.80

10.07

(1)=Pertanian
(2)=Pertambangan & Penggalian
(3)=Industri Pengolahan
(4)=Listrik, Gas & Air Bersih

(5)=Bangunan
(6)=Perdagangan, Hotel & Restoran
(7)=Pengangkutan & Komunikasi
(8)=Keuangan, Persewaan, & Js. Prsh.

b. Struktur Perekonomian Daerah


Strukur perekonomian Pulau Sumatera didominasi oleh sektor primer yang berbasis
sumberdaya alam khususnya pertanian dan pertambangan. Kontribusi sektor primer terhadap
perekonomian di wilayah Sumatera rata-rata lebih dari 40 persen dan lebih dari 45 persen
sektor pertambangan di Wilayah Sumatera memberikan kontribusi terhadap sektor
II - 11

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

pertambangan nasional, sedangkan untuk sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 33


persen terhadap sektor pertanian nasional.
Gambar 2.3.
Kontribusi Sektor Ekonomi Sumatera
Terhadap Pulau dan Terhadap Perekonomian Nasional

Sumber data : BPS 2007, diolah

Struktur perekonomian Provinsi Lampung dan Bengkulu tahun 2007 sebagian besar
didominasi oleh sektor pertanian, kontribusi sektor pertanian rata-rata memberikan
sumbangan lebih dari 35 persen terhadap pembentukan PDRB. Sementara itu, perekonomian
di Provinsi Riau berbasis pada sektor pertambangan, dimana sektor sektor pertambangan
memberikan kontribusi rata-rata lebih dari 55 persen terhadap pembentukan PDRB. Peranan
sektor pertambangan juga mendominasi sistem perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan,
Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Bangka Belitung, dengan kontribusi masingmasing sebesar 26 persen dan 23 persen.
Gambar 2.4.
Struktur Perekonomian Provinsi di Pulau Sumatera
Tahun 2007 (dalam persen)

80%
60%
40%

KEP. RIAU

LAMPUNG

KEP.
BABEL

BENGKULU

Provinsi
P ERTA NIA N
INDUSTRI P ENGOLA HA N
B A NGUNA N
P ENGA NGKUTA N & KOM UNIKA SI
JA SA -JA SA

SUMSEL

JAMBI

RIAU

SUMBAR

0%

SUMUT

20%

NAD

Kontribusi (%)

100%

P ERTA M B A NGA N & P ENGGA LIA N


LISTRIK, GA S & A IR B ERSIH
P ERDA GA NGA N, HOTEL & RESTORA N
KEUA NGA N, P ERSEWA A N, & JS. P RSH.

II - 12

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Perekonomian Sumatera Utara hingga tahun 2007 masih didominasi oleh tiga sektor
utama, diantaranya yaitu sektor pertanian, industri pengolahan dan perdagangan, hotel dan
restoran dengan kontribusi masing-masing sebesar 22,56 persen, 25,04 persen, dan 19,20
persen. Sementara perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau sektor berperan besar dalam
pembentukan PDRB adalah sektor-sektor sekunder, dimana kontribusi sektor sekunder
tersebut lebih dari 70 persen dan 67 persen diantaranya bersumber dari sektor industri
pengolahan.
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu dan Lampung merupakan daerah-daerah
dengan kontribusi sektor tersier terbesar yakni lebih dari 40 persen dari perekonomian
daerahnya. Sektor perdagangan hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa memberikan
kontribusi yang sangat signifikan terhadap perekonomian daerah.
Gambar 2.5.
Pola Sebaran Spasial Struktur Ekonomi Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2007

Secara spasial terlihat dalam Gambar 2.5. bahwa daerah-daerah di zona tengah dan
utara merupakan daerah-daerah yang menjadi konsentrasi kegiatan industri pengolahan,
terutama pengolahan hasil pertambangan (minyak, gas alam dan batu bara), serta industri
pengolahan hasil pertanian terutama perkebunan. Di zona utara dan tengah ini
memperlihatkan keterkaitan antara kegiatan sektor ekonomi hulu dan hilir, yang tampak dari
struktur ekonominya dimana peran sektor primer (pertanian dan pertambangan) yang cukup
besar pengaruhnya terhadap perekonomian daerah, dan kegiatan sektor sektor sekunder
terutama industri pengolahan yang juga besar. Berbeda dengan daerah-daerah di zona utara
dan tengah, daerah di zona selatan lebih banyak didominasi oleh sektor primer, yakni dari
pertanian (khususnya perkebunan), kemudian diikuti oleh sektor tersier yang terbagi lagi ke

II - 13

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

dalam 4 sub sektor (perdagangan, jasa, keuangan, pengangkutan dan komunikasi) secara
merata.
c.

PDRB Perkapita

PDRB perkapita tanpa migas (harga berlaku) di Wilayah Sumatera dalam kurun
waktu lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan yang signifikan, namun demikian jika
dilihat perbandingan perkapita antarprovinsi menunjukan adanya ketimpangan yang cukup
tinggi. Gambar 2.6, menunjukan ketimpangan yang cukup jauh antara pendapatan perkapita
Kepulauan Riau dengan daerah-daerah lainnya di Sumatera, Provinsi Kepulauan Riau
memiliki PDRB Perkapita tertinggi yaitu mencapai lebih dari Rp. 30 juta per tahun.
Sementara Provinsi Lampung merupakan provinsi dengan PDRB terendah yaitu hanya
berkisar Rp. 6 juta per tahun.
Gambar 2.6.
PDRB Perkapita Tanpa Migas (Harga Berlaku) Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera Tahun 2002-2007 (ribu rupiah)

PDRB Perkapita

35000
30000

2002

25000

2003

20000

2004

15000

2005

10000

2006*

5000
2007**
Kep. Riau

Kep. Babel

Lampung

Bengkulu

Sumsel

Jambi

Riau

Sumbar

Sumut

NAD

Provinsi
Sumber: BPS diolah

Secara umum dilihat dari PDRB Perkapita tanpa migas, provinsi-provinsi di wilayah
Sumatera dapat dikelompokkan manjadi tiga, yaitu provinsi dengan PDRB Perkapita tinggi (di
atas Rp. 20 juta) antara lain Provinsi Kepulauan Riau, kemudian provinsi dengan PDRB
perkapita sedang (antara Rp. 10 juta hingga kurang dari Rp. 20 juta) adalah Provinsi Riau dan
Bangka Belitung, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan NAD, dan provinsi dengan PDRB
perkapita rendah (dibawah Rp.10 juta) diantaranya Provinsi Jambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu, dan Lampung. Secara spasial terlihat bahwa provinsi-provinsi di zona tengah
merupakan daerah-daerah dengan PDRB perkapita yang tinggi. Sementara daerah-daerah di
zona selatan merupakan daerah-daerah dengan PDRB perkapita rendah.
PDRB perkapita dengan migas di wilayah Sumatera dalam kurun waktu enam (20022007) tahun terakhir juga terus mengalami peningkatan secara signifikan dengan
memasukkan unsur migas. Namun demikian ketimpangan PDRB Perkapita antarprovinsi di
wilayah Sumatera semakin tampak besar dan cukup tajam. Provinsi Riau dan Kepulauan Riau
merupakan dua daerah dengan PDRB perkapita dengan migas yang paling besar di wilayah
Sumatera. Pada Gambar 2.7, terlihat ketimpangan yang cukup jauh antara pendapatan
perkapita Riau dan Kepulauan Riau dengan daerah-daerah lainnya di Sumatera, Provinsi
II - 14

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Kepulauan Riau merupakan daerah dengan PDRB Perkapita tertinggi yakni mencapai lebih
dari Rp. 35 juta per tahun. Sementara Provinsi Lampung merupakan provinsi dengan PDRB
terendah yakni hanya berkisar Rp. 6 juta per tahun.

PDRB Perkapita

Gambar 2.7.
PDRB Perkapita dengan Migas (Harga Berlaku)
Tahun 2002-2007 (Rp. 000)
45.000
40.000
35.000

2002
2003

30.000
25.000
20.000
15.000

2004
2005
2006*

10.000
5.000
0
Kep. Riau

Kep. Babel

Lampung

Bengkulu

Sumsel

Jambi

Riau

Sumbar

Sumut

NAD

2007**

Provinsi

Sumber: BPS diolah.

Secara umum dilihat dari PDRB Perkapita dengan migas (harga berlaku), provinsiprovinsi di wilayah Sumatera juga dapat dikelompokkan manjadi tiga, yakni provinsi dengan
PDRB Perkapita tinggi (di atas Rp. 20 juta) yakni Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
Kemudian provinsi dengan PDRB Perkapita sedang (antara Rp. 10 juta hingga kurang dari Rp.
20 juta) adalah Provinsi NAD, Bangka Belitung, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan
Sumatera Selatan dan terakhir provinsi dengan PDRB Perkapita rendah (dibawah Rp. 10 juta)
yakni Jambi, Bengkulu dan Lampung. Secara spasial sama dengan PDRB perkapita tanpa
migas, untuk PDRB Perkapita dengan migas juga memperlihatkan bahwa provinsi-provinsi di
zona tengah merupakan daerah-daerah dengan PDRB Perkapita yang tinggi. Sementara
daerah-daerah di zona selatan merupakan daerah-daerah dengan PDRB Perkapita rendah.
2. Produksi Pertanian.
Fakta dan Permasalahan

Wilayah Sumatera memiliki potensi sumberdaya lahan produktif, yaitu lahan pertanian non
perkebunan seluas 6.499.979 ha dan perkebunan seluas 13.035.512 ha.

Sektor pertanian merupakan sektor utama untuk kehidupan masyarakat di Wilayah


Sumatera, khususnya pertanian tanaman perkebunan;

Luas panen padi sawah: 2.181.427 ha ; produksi: 11.181,712 ton dan luas panen padi ladang:
266.816 ha ; produksi: 677.362 ton

Dalam kurun waktu 2002-2006 perkembangan luas panen padi menurun (padi sawah
berkurang: 21.55% dan padi ladang berkurag: 12.06%), namun untuk produksi padi sawah
meningkat sebesar: 5.62%.

Sentra produksi tanaman pangan (padi sawah dan padi ladang) terdapat di Sumatera Utara

II - 15

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

a.

Wilayah Sumatera merupakan basis pengembangan tanaman perkebunan, terutama Kelapa


sawit dan Karet dan merupakan kedua terbesar di Indonesia, dan tanaman pangan (padi dan
palawija)

Luasan lahan kritis mencapai di wilayah Sumatera mencapai 54persen dari total lahan dan
selama kurun waktu 2002-2007 terjadinya alih fungsi lahan sebesar 22,46 persen (Pertanian:
31.49 persen dan lahan perkebunan: 18.75 persen)

Peternakan besar dominan di Sumatera: sapi perah (Sumatera Utara), dan kambing
(Lampung), peterernakan unggas meliputi, ayam kampung, ayam kampung, ayam ras
petelur, dan ayam ras pedaging.

Sentra produksi perikanan tangkap (laut dan perairan umum) wilayah sumatera terdapat di
Provinsi Sumatera Utar, sentra produksi perikanan budidaya terdapat di Lampung dan
Sumatera Selatan

Terbatasnya sarana dan prasarana penunjang usaha perikanan, seperti armada


penangkapan, cold storge, jenis alat tangka

Sebagian besar masih merupakan nelayan tradisional dan struktur armada perikanan
didominasi oleh skala kecil

Merebaknya pencurian ikan dan terjadinya over fishing, serta pola penangkapan ikan yang
merusak ekosistem pesisir dan laut.

Tanaman Pangan

Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah pangan. Luas dan produksi tanaman
pangan yang utama adalah padi yang terbagi dalam dua kategori yaitu padi sawah dan padi
ladang. Produksi padi sawah tertinggi pada tahun 2002 terdapat di Provinsi Sumatera Utara
yang dihasilkan dari lahan seluas hampir 700 ribu hektar. Pada tahun 2006 produksi tertinggi
masih terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Akan tetapi, meskipun masih menjadi produsen
tertinggi, dilihat dari jumlah produksi nya, Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan
produksi yang diakibatkan oleh penurunan luas sawah. Penurunan ini besar kemungkinan
dikarenakan faktor konversi lahan menjadi bukan sawah yang terjadi di Provinsi Sumatera
Utara selama kurun waktu 4 tahun. Sedangkan produsen padi sawah terendah di wilayah
Sumatera terdapat di Provinsi Kepulauan Riau. Hal ini dapat dimaklumi karena provinsi ini
memiliki topografi kepulauan yang menyebabkan keterbatasan lahan untuk tanaman padi
sawah.
Untuk jenis padi ladang, di tahun 2002, produsen terbesar adalah Provinsi Sumatera
Utara dengan jumlah produksi sebesar 171, 4ribu ton dan luas lahan seluas hampir 70 ribu
hektar. Akan tetapi pada tahun 2006, terjadi penurunan luas lahan yang mengakibatkan
penurunan jumlah produksi di Provinsi Sumatera Utara sebesar lebih dari 20%. Hal ini
membuat Provinsi Sumatera Selatan menjadi produsen terbesar di wilayah Sumatera, dengan
jumlah produksi sebesar hampir 175 ribu ton. Peningkatan produksi ini didukung oleh
peningkatan luas lahan sebesar +/-5000ha. Sedangkan untuk provinsi dengan produksi
terendah adalah di Provinsi Kepulauan Riau (2006) dan tahun 2002 adalah Provinsi Bangka
Belitung. Gambaran secara lengkap luas area dan produksi tanaman padi di pulau Sumatera di
sajikan pada lampiran 2. tabel 38.
b.

Perkebunan

Untuk tanaman perkebunan yang bersifat dominan di masing-masing provinsi di


wilayah Sumatera dan sekitarnya berbeda-beda. Tanaman perkebunan yang paling dominan
adalah tanaman kelapa sawit. Dalam 3 tahun terakhir telah terjadi ekspansi luasan lahan
kebun kelapa sawit disemua provinsi di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Tingkat produksi
kelapa sawit tertinggi adalah Provinsi Sumatera Utara dengan total produksi sebesar
3,204,763 ton pada tahun 2004, dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 4,659,679 ton pada
tahun 2006. Jika pada tahun 2004 Sumatera Utara merupakan daerah produsen kelapa sawit
terbesar di wilayah Sumatera, maka pada tahun 2006 posisinya sebagai produsen terbesar
digeser oleh Provinsi Riau, dengan produksi di tahun 2006 sebesar 4,659,679 ton. Sedangkan
II - 16

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

tanaman perkebunan dengan total produksi kedua terbesar di wilayah Sumatera dan
sekitarnya, adalah tanaman karet kecuali untuk Provinsi Bengkulu dan Lampung yang
memiliki produksi tanaman kopi lebih besar dibandingkan dengan produksi tanaman karet.
Gambaran secara lengkap produksi tanaman perkebunan di wilayah Sumatera dapat di lihat
pada lampiran 2 tabel 39.
c.

Perikanan dan Kelautan

Untuk produksi perikanan budidaya di wilayah Sumatera dan sekitarnya, provinsi


yang memiliki produksi tertinggi adalah Provinsi Lampung, dengan total produksi sebesar
139.743 ton di tahun 2005. Sedangkan ditahun yang sama, produksi terbesar kedua ditempati
oleh Sumatera Selatan dengan jumlah produksi 81.725 ton, produksi ini meningkat lebih dari
300% setelah di tahun sebelumnya mencatat produksi sebesar 24.735 ton. Sedangkan untuk
tingkat produksi terendah ditempati oleh Provinsi Bangka Belitung dengan mengalami
penurunan produksi sebesar 62 ton, dari 791 ton di tahun 2004 menjadi 719 ton di tahun
2005.
Jenis budidaya perikanan yang terbesar di wilayah Sumatera dan sekitarnya adalah
perikanan budidaya kolam yang terdapat diseluruh wilayah Sumatera dan sekitarnya. Untuk
perikanan budidaya kolam ini, hanya Provinsi NAD, Lampung dan Sumatera Utara yang
memiliki produksi perikanan budidaya kolambukan yang tertinggi. Perikanan budidaya
dengan produksi paling besar pada ketiga provinsi tersebut adalah perikanan budidaya
tambak. Ada satu hal menarik dari produksi perikanan budidaya kolam ini yaitu di Provinsi
Sumatera Selatan. Pada tahun 2004, tercatat produksi perikanan budidaya kolam hanya
sebesar 3.111 ton dan meningkat tajam menjadi 34.768 ton di tahun 2005, dan menjadi
produksi utama di bidang perikanan budidaya.
Sedangkan untuk produksi perikanan tangkap, yang terdiri dari perikanan laut
maupun perikanan umum, untuk wilayah Sumatera dan sekitarnya, produksi terbesar dimiliki
oleh Provinsi Sumatera Utara dengan jumlah produksi sebesar 335.020 ton ditahun 2004 dan
338.007 di tahun 2005. Produksi ini ditunjang oleh daerah Sumatera Utara yang mempunyai
pusat produksi perikanan tangkap di daerah Bagan Siapi-api yang merupakan pusat perikanan
tangkap terbesar di wilayah Sumatera dan sekitarnya.
Jika dilihat dari jumlah masing-masing jenis perikanan tangkap, provinsi yang
memiliki produksi perikanan laut terbesar di wilayah Sumatera dan sekitarnya adalah Provinsi
Sumatera Utara dengan jumlah produksi sebesar 323.794 ton di tahun 2004 dan 326.336 di
tahun 2005. Provinsi yang memiliki produksi perikanan laut terendah adalah Provinsi
Bengkulu dan Sumatera Selatan. Sedangkan untuk jenis perikanan umum, provinsi dengan
produksi tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan dengan jumlah produksi sebesar 84.174
ton di tahun 2004 dan mengalami penurunan di tahun 2005 menjadi 43.188 ton. Produksi
perikanan umum terendah terdapat di Provinsi Bengkulu yang mengalami penurunan 90
persen menjadi 453 ton di tahun 2005, setelah di tahun sebelumnya mencatat produksi 3.785
ton. Gambaran secara lengkap produksi budidaya perikanan di sajikan pada lampiran 2 tabel
40 dan tabel 41.
d.

Peternakan

Untuk sumber pangan lainnya, yaitu perternakan terbagi menjadi dua jenis, yaitu
perternakan besar dan perternakan kecil. Di bawah ini disajikan populasi dari jenis ternak
besar. Ternak besar terdiri dari sapi perah, sapi potong, kerbau, kuda, kambing, dan domba.
Untuk ternak sapi perah, populasi terbesar terdapat di Provinsi Sumatera Utara dengan
jumlah 6.800 ekor di tahun 2006 dan terendah terdapat di Provinsi Bengkulu sedangkan ada
beberapa provinsi yang tidak memiliki seperti NAD, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, dan Bangka
Belitung. Sedangkan untuk ternak sapi potong yang merupakan salah satu pasokan bahan
pangan. Jumlah sapi potong terbesar untuk wilayah Sumatera dan sekitarnya terbesar
terdapat di wilayah Provinsi NAD dengan jumlah 626.400 ekor di tahun 2006, sementara

II - 17

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

populasi terendah untuk ternak sapi potong terdapat di Provinsi Kepulauan Riau dengan
jumlah 10.200 ekor di tahun 2007.
Untuk ternak besar seperti kerbau, jumlah populasi terbesar terdapat di Provinsi NAD
dengan jumlah 340.000 ekor (data tahun 2006). Jenis ternak besar lainnya yang memiliki
populasi cukup tinggi untuk wilayah Sumatera adalah ternak kambing. Provinsi yang tercatat
memiliki populasi ternak kambing terbesar adalah Provinsi Lampung yang memiliki jumlah
930.100 ekor di tahun 2006. Sedangkan di tahun yang sama provinsi yang memiliki populasi
terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau dengan jumlah 22.600 ekor. Sedangkan untuk
domba, provinsi yang memiliki jumlah populasi domba tertinggi adalah Provinsi Sumatera
Utara dengan jumlah 293000 ekor di tahun 2006, sedangkan provinsi yang memiliki populasi
ternak domba terendah di tahun 2006 adalah Provinsi Bangka Belitung dengan jumlah hanya
300 ekor di tahun 2006. Dan terakhir untuk ternak kuda jumlahnya relative kecil untuk setiap
provinsi di wilayah Sumatera dan sekitarnya, untuk tahun 2005 dan 2006.
Sedangkan untuk jenis ternak kecil terdiri dari ayam kampung, ayam petelur, ayam
pedaging, dan itik di wilayah Sumatera dan sekitarnya dijabarkan dalam tabel di bawah ini.
Untuk jenis ternak ayam, baik ayam telur, ayam kampung, maupun pedaging, populasi
terbanyak beradadi Provinsi Sumatera Utara dengan jumlah 21.288.900 ekor ayam kampung,
6.324.500 ekor ayam petelur dan 44.816.000 ekor ayam pedaging, semuanya di tahun 2006.
Sedangkan untuk jenis itik jumlah populasi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dengan jumlah
2.926.900 ekor di tahun 2006.
Jumlah populasi terendah untuk jenis ayam kampung terdapat di Provinsi Kepulauan
Riau dan Bangka Belitung. Akan tetapi jumlah populasi ayam kampung terendah di tahun
berikutnya, yaitu 2006, hanya terdapat di Provinsi Kepulauan Riau. Hal yang sama juga terjadi
pada jenis ternak itik dan ayam pedaging, dimana Kepulauan Riau memiliki populasi terendah
di wilayah Sumatera dan sekitarnya, hanya sebanyak 483.700 ekor (2006) untuk ayam
pedaging dan jumlah ternak itik sebesar 65.000 ekor di tahun 2006. Dan untuk jumlah
populasi ayam petelur, provinsi yang memiliki jumlah populasi terendah adalah Provinsi
Bengkulu sebanyak 39.200 ekor saja. Gambaran populasi ternak dan unggas secara lengkap di
sajikan pada lampiran 2 Tabel 42 dan Tabel 43.

Analisis Perekonomian Daerah


Untuk penilaian kinerja lebih mendalam, perumusan fakta dan permasalahan, serta
isu strategis didukung dengan hasil analisis kuantitatif, yaitu analisis: (i) Kutub Pertumbuhan;
(ii) Trade Intensity Index; (iii) Analisis Sektoral (Analisis LC, LQ, dan Shift Share); (iv) hasil
kajian Inter-Regional Input-Output 1 ; dan (vii) Statistika Deskriptif untuk menunjukkan
kinerja pembangunan yang telah di capai masing-masing daerah di Pulau Jawa.

1. Analisis Kutub Pertumbuhan


Metode untuk penentuan kutub pertumbuhan wilayah dilakukan dengan pendekatan
identifikasi kawasan andalan atau Tipologi Klassen. Tipologi ini digunakan untuk mengetahui
gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah. Tipologi
Klassen pada dasarnya membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu
pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita daerah.
Berdasarkan identifikasi kutub pertumbuhan diperoleh hasil pemetaan tipologi
provinsi-provinsi di Pulau Sumatera sebagai berikut : Daerah Cepat Maju dan Cepat Tumbuh
adalah Provinsi Kepulauan Riau; Daerah Berkembang Cepat yang meliputi Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Provinsi Jambi, Bengkulu; Daerah Relatif Tertinggal meliputi Sumatera
Selatan, Lampung; Daerah Maju Tetapi Tertekan meliputi NAD, Riau dan Provinsi Bangka
Belitung.
1

Pengembangan Model Keterkaitan Regional, Pendekatan Model Ekonometrik-multiregional, Bappenas 2007.

II - 18

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.2
Tipologi Daerah Wilayah Sumatera Berdasarkan Pertumbuhan Ekonomi
Dan PDRB Perkapita Tanpa Migas Tahun 2006
PDRB Perkapita (hargakonstan)

Tinggi (>
wilayah)
Rendah (<
wilayah)

Pertumbuhan ekonomi

Rendah (< wilayah)

Tinggi (> wilayah)

Sumatera Utara
Sumatera Barat
Jambi
Bengkulu

Kepulauan Riau

Sumatera Selatan
Lampung

Naggroe Aceh Darussalam


Riau
Bangka Belitung

Keterangan: batasan rendah dan tinggi adalah nilai wilayah di waktu yang bersangkutan

2. Analisis Daya Saing Sektor Unggulan Daerah


Analisis Location Quotion (LQ) Sektoral
Analisis LQ ini dilakukan dengan menghitung index LQ di seluruh provinsi yang
berada di Wilayah Sumatera. Nilai Index LQ menggambarkan sektor yang menjadi andalan
masing-masing provinsi. Perhitungan dilakukan dalam selang waktu 6 tahun (2000-2005)
dengan mempertimbangkan 9 (sembilan) sektor. Location Quotient masing-masing provinsi
menunjukkan konfigurasi sektor unggulan dan menjadi basis perekonomian di provinsi
tersebut. Di wilayah Sumatera dan sekitarnya, sektor pertanian menjadi sektor unggulan dan
basis perekonomian dengan index LQ terbesar terdapat di Provinsi Lampung dengan nilai
1,96. Urutan kedua diduduki oleh Provinsi Bengkulu dengan nilai index LQ 1,80. Kemudian
berturut-turut diikuti oleh Provinsi Jambi dengan nilai index LQ 1,4; Sumatera Utara dengan
nilai index 1,2; Provinsi Bangka Belitung 1,12; dan terakhir Provinsi Sumatera Barat dengan
nilai index LQ 1,11. Jadi bisa dikatakan bahwa sektor pertanian menjadi sektor unggulan dan
basis pertanian bagi 6 provinsi di wilayah Sumatera.
Pada sektor pertambangan dan penggalian, nilai index LQ lebih dari 1 dimiliki oleh
tiga provinsi yaitu Provinsi Riau, Nanggroe Aceh Darusalam, dan Sumatera Selatan. Index
terbesar LQ terdapat di Provinsi Riau yaitu sebesar 2,59; kemudian Provinsi NAD dengan nilai
index LQ sebesar 1,30; dan terakhir Provinsi Sumatera Selatan dengan nilai index LQ sebesar
1,28. Sektor yang ketiga adalah sektor industri pengolahan. Provinsi yang memiliki index LQ
tertinggi pada sektor industri pengolahan adalah provinsi Kep. Riau dengan nilai sebesar 3,10.
Sektor industri pengolahan juga menjadi unggulan di beberapa provinsi lain dengan nilai
index LQ yang lebih dari 1 antara lain : Provinsi Sumatera Utara dengan besaran 1,18;
kemudian Provinsi Bangka Belitung dengan nilai index LQ sebesar 1,16; dan Provinsi NAD
dengan nilai index LQ sebesar 1,00.
Nilai LQ terbesar untuk sektor listrik, gas dan air bersih terdapat di Provinsi
Sumatera Barat dengan nilai index 2,26; kemudian berturut-urut diikuti oleh Provinsi
Sumatera Utara dengan nilai index LQ sebesar 1,73; Provinsi Jambi dengan nilai index LQ
1,43; serta Provinsi Bangka Belitung dengan nilai index LQ sebesar 1,25. Sektor berikutnya
adalah sektor bangunan atau konstruksi. Provinsi dengan index LQ sektor bangunan atau
konstruksi tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan dengan nilai index 1.5, kemudian diikuti
oleh Provinsi Sumatera Utara dengan rerata nilai index LQ sebesar 1,31; Provinsi Bangka
Belitung dengan nilai index LQ sebesar 1,24; Provinsi Lampung dengan nilai index LQ sebesar
1,15; dan Provinsi Sumatera Barat dengan nilai index LQ sebesar 1,10.

II - 19

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Sektor lainnya yaitu sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan index LQ
terbesar yaitu berada di Provinsi Bengkulu dengan nilai index sebesar 1,54. Sementara
provinsi lain berturut-turut adalah Provinsi Sumatera Utara dengan index LQ sebesar 1,40;
Provinsi Sumatera Barat dengan nilai index LQ sebesar 1,39; Provinsi Jambi sebesar 1,26;
Provinsi Lampung dengan nilai index LQ sebesar 1,20; dan terakhir Provinsi Bangka Belitung
dengan index LQ sebesar 1,19.
Pada sektor pengangkutan dan komunikasi, nilai index LQ terbesar terdapat di
Provinsi Sumatera Barat dengan index LQ rata-rata sebesar 2,34. Sedangkan provinsi lainnya
yang memiliki nilai index LQ lebih dari 1 adalah Provinsi Bengkulu dengan nilai 1,68; Provinsi
Jambi dengan nilai index 1,54; kemudian Provinsi Sumatera Utara dengan nilai index LQ ratarata sebesar 1,42 dan terakhir Provinsi Lampung dengan nilai index LQ sebesar 1,11.
Sektor kedelapan yaitu sektor keuangan,persewaan dan jasa keuangan, provinsi yang
memiliki nilai index LQ terbesar di wilayah Sumatera adalah Provinsi Sumatera Utara dengan
nilai index rata-rata sebesar 1,72. Kemudian diikuti oleh Provinsi Sumatra Barat dengan ratarata nilai index LQ sebesar 1,44; Provinsi Bengkulu dengan nilai index sebesar 1,34; Provinsi
Lampung dengan nilai 1,34; Provinsi Kepulauan Riau dengan nilai index sebesar 1,24; Provinsi
Bangka Belitung dengan nilai index LQ sebesar 1,10; Provinsi Sumatra Selatan sebesar 1,02;
dan Provinsi Jambi dengan nilai index sebesar 1,02.
Sektor yang terakhir yaitu sektor jasajasa, dengan nilai index LQ terbesar dimiliki
oleh Provinsi Sumatera Barat dengan rata-rata index LQ sebesar 2,22. Provinsi lainnya yang
memiliki nilai index LQ dengan besaran lebih dari 1 untuk sektor ini di wilayah Sumatera dan
sekitarnya berturut-turut adalah Provinsi Bengkulu dengan nilai 2,08; Provinsi Jambi dengan
nilai 1,22; Provinsi Sumatera Utara dengan nilai rata-rata 1,19; Provinsi NAD dengan nilai
index sebesar 1,16; dan Provinsi Lampung dengan nilai index sebesar 1,09. Secara ringkas
klasifikasi LQ selama tahun 2000 sampai dengan 2005 di wilayah Sumatera dan sekitarnya
dapat terlihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 2.3.
Klasifikasi LQ Provinsi-Provinsi di Wilayah Sumatera
Sektor

Provinsi (index LQ)

Pertanian

Lampung (1,96), Bengkulu (1,80), Jambi (1,4), Sumatera Utara (1,2), Bangka
Belitung (1,14), Sumatera Barat (1,11)

Pertambangan dan
penggalian

Riau (2,59), NAD (1,30), Sumatera Selatan (1,28)

Industri dan pengolahan

Riau (3,10),Sumatera Utara (1,18), Bangka Belitung (1,16), NAD (1,00)

Listrik, gas, dan air bersih

Sumatra barat (2,26), Sumatera Utara (1,73), Jambi (1,43), Bangka Belitung
(1,25)

Bangunan

Sumatra selatan (1,5), Sumatera Utara (1,31), Bangka Belitung (1,24),


Lampung (1,15), Sumatera Barat (1,10)

Perdagangan, hotel
dan restoran

Bengkulu (1,54), Sumatera Utara (1,40), Sumatera Barat (1,39), Jambi (1,29),
Lampung (1,20), Bangka Belitung (1,19)

Pengangkutan dan
komunikasi
Keuangan,
persewaan, dan jasa
keuangan

Sumatra barat (2,34), Bengkulu (1,68), Jambi (1,54), Sumatera Utara (1,42),
Lampung (1,11)
Sumatra Utara (1,72), Sumatera Barat (1,44), Bengkulu (1,34), Lampung (1,34),
Kep. Riau (1,24), Bangka Belitung (1,10), Sumatera Selatan (1,02), Jambi
(1,02)
Sumatra barat (2,22), Sumatera Utara (2,08), Jambi (1,22), Sumatera Utara
(1,19), NAD (1,16), Lampung (1,09)

Jasa-jasa
Sumber: Hasil Olahan

II - 20

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Berdasarkan klasifikasi nilai LQ provinsi di wilayah Sumatera maka dapat


diidentifikasi bahwa sektor yang menjadi unggulan di Pulau Sumatera adalah sektor keuangan,
persewaan dan jasa keuangan. Hal ini dikarenakan sebagian besar provinsi di Wilayah
Sumatera (8 provinsi) memiliki nilai index LQ yang tinggi (lebih dari 1) pada sektor tersebut.
Sehingga dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan dan memperkuat perekonomian
wilayah Sumatera dan sekitarnya, sektor tersebut harus mendapat perhatian yang serius dari
perencanaan selanjutnya.
Selain sektor keuangan, persewaan dan jasa keuangan, sektor yang menjadi unggulan
di Wilayah Sumatera adalah sektor pertanian; sektor perdagangan, hotel dan restoran; serta
sektor jasa-jasa. Pada sektor-sektor tersebut terdapat sebanyak 6 provinsi yang memiliki nilai
index LQ lebih dari 1.
Analisis Localization Coefficient (LC)
Analisis localization coefficient dilakukan dengan melihat rata-rata nilai masingmasing sektor di suatu provinsi di wilayah Sumatera. Tahun observasi yang diambil adalah
tahun 20002005. Setelah melalui perhitungan maka akan diperoleh hasil analisa sektor per
provinsi di wilayah Sumatera, begitu juga dengan provinsi yang memiliki tingkat konsentrasi
sektoral di wilayah Sumatera.
Sektor yang mempunyai index LC tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
adalah sektor pertambangan dan penggalian, dengan besaran index LC sebesar 0,07.
Sedangkan sektor dengan index LC terendah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah
sektor pertanian dengan nilai sebesar -0,03. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor yang
mempunyai konsentrasi tertinggi di provinsi tersebut adalah sektor pertambangan dan
penggalian karena sektor tersebut merupakan penyokong utama perekonomian Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam.
Sektor perdagangan, hotel dan restoran, merupakan sektor yang mempunyai tingkat
konsentrasi yang paling tinggi di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini terlihat dari index LC sektor
tersebut yang menunjukkan angka tertinggi yaitu 0,053. Sedangkan sektor dengan index LC
terendah di Provinsi Sumatera Utara adalah sektor pertambangan dan penggalian yaitu
sebesar -0,215. Sektor pertambangan dan penggalian di Provinsi Sumatera Utara bukan
merupakan sektor unggulan, hal ini dikarenakan Provinsi Sumatera Utara tidak mempunyai
sumber mineral maupun migas. Sementara sektor perdagangan, hotel dan restoran menjadi
sektor unggulan di provinsi ini karena Sumatera Utara mempunyai beberapa wilayah tujuan
wisata dan juga didukung oleh pelabuhan yang termasuk besar yaitu Pelabuhan Belawan.
Sektor yang mempunyai tingkat konsentrasi tinggi di Provinsi Sumatera Barat adalah
sektor jasa-jasa dengan nilai index LC sebesar 0,094. Sedangkan sektor yang memiliki tingkat
konsentrasi terendah adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan index LC sebesar
-0,194. Angka-angka ini memberikan arti bahwa perekonomian Sumatera Barat masih
disokong oleh sektor jasa-jasa. Rendahnya tingkat konsentrasi sektor pertambangan dan
penggalian di Provinsi Sumatera Barat dikarenakan kurangnya kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi pertambangan, meskipun Provinsi Sumatera Barat mempunyai potensi di sektor
ini.
Sektor yang memiliki tingkat konsentrasi tinggi di Provinsi Riau adalah sektor
pertambangan dan penggalian dengan nilai index LC sebesar 0,365. Sehingga dapat dikatakan
bahwa perekonomian Provinsi Riau hanya bergantung pada sektor pertambangan dan
penggalian yang mempunyai tingkat konsentrasi tinggi. Hal ini berarti juga bahwa jika suatu
ketika potensi pertambangan baik mineral maupun migas telah habis dieksploitasi maka
perekonomian Provinsi Riau akan mengalami penurunan pertumbuhan. Sedangkan secara
umum index LC sektor lain selain sektor pertambangan dan penggalian di provinsi ini bernilai
negatif, yang berarti tidak ada konsentrasi tinggi seperti sektor penggalian dan pertambangan.

II - 21

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Sektor yang memiliki tingkat konsentrasi tinggi di Provinsi Kepulauan Riau adalah
sektor industri pengolahan yang ditunjukkan melalui angka index LC sebesar 0,435.
Sedangkan sektor lain tidak memiliki tingkat konsentrasi sebesar sektor industri pengolahan.
Hal ini menunjukkan bahwa industri pengolahan menjadi salah satu penggerak perekonomian
di Provinsi Kep. Riau yang didukung oleh banyaknya industri yang berada di Provinsi Kep.
Riau terutama di daerah Batam. Sektor yang mempunyai tingkat konsentrasi tinggi di Provinsi
Jambi adalah sektor pertanian dengan nilai index LC sebesar 0,089. Hal ini didukung oleh
luasan lahan pertanian maupun perkebunan di provinsi ini. Sedangkan sektor dengan tingkat
konsentrasi rendah adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai index LC
sebesar-0,09.
Sektor dengan tingkat konsentrasi tinggi di Provinsi Sumatera Selatan adalah sektor
pertambangan dan penggalian dengan nilai index 0,065. Meskipun ada beberapa sektor
lainnya yang memiliki nilai index LC positif seperti sektor konstruksi maupun keuangan dan
persewaan, namun angka index LC nya masih terlalu kecil jika dibandingkan sektor
pertambangan dan penggalian. Hal ini didukung juga oleh ketersediaan sumber cadangan
migas dan tambang mineral lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi Bangka Belitung
memiliki sektor dengan tingkat konsentrasi tinggi yaitu sektor industri pengolahan yang
menunjukkan angka index LC 0,034. Sedangkan sektor dengan tingkat konsentrasi terendah
di provinsi ini adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan index LC sebesar 0,060.
Keterangan ini menunjukkan bahwa di Provinsi Bangka Belitung, industri pengolahan
merupakan salah satu sektor penggerak perekonomian di Provinsi Bangka Belitung.
Provinsi Bengkulu memiliki tingkat konsentrasi tinggi pada sektor pertanian dengan
angka index LC sebesar 0,177. Sektor ini juga didukung oleh luasan lahan pertanian dan
perkebunan. Selain itu, mayoritas masyarakat Bengkulu juga mengandalkan sektor pertanian.
Sektor pertanian dan perkebunan menjadi penyumbang terbesar PDRB provinsi tersebut.
Sedangkan sektor dengan tingkat konsentrasi rendah yaitu sektor pertambangan dan
penggalian dengan nilai index LC 0,198. Hal ini dikarenakan provinsi ini tidak memiliki
pertambangan dan penggalian. Provinsi Lampung memiliki konsentrasi tinggi pada sektor
pertanian dengan nilai index LC sebesar 0,211. Sedangkan sektor yang memiliki tingkat
konsentrasi rendah adalah sektor pertambangan dan penggalian yang ditunjukkan melalui
angka index LC sebesar -0,196. Sektor yang menjadi andalan perekonomian di Provinsi
Lampung adalah sektor pertanian yang ditunjukkan melalui proporsi PDRB sektor pertanian
yang cukup besar.
Secara keseluruhan, di wilayah Sumatera dan sekitarnya, provinsi dengan tingkat
konsentrasi paling tinggi untuk semua sektor adalah provinsi Kep. Riau, dengan index LC
sebesar 0,443. Angka ini menunjukkan provinsi Kep. Riau merupakan provinsi dengan
konsentrasi tinggi untuk setiap sektor. Akan tetapi perlu diingat tingkat konsentrasi sektor ini
bisa menjadi bias mengingat sektor yang terkonsentrasi di Kep. Riau hanyalah sektor
pertambangan dan penggalian sementara sektor lainnya tidak menunjukkan konsentrasi yang
tinggi di provinsi tersebut.
Analisis Shift Share
Dari analisis shift-share wilayah Sumatera dan sekitarnya yang menggunakan dua
tahun pengamatan yaitu tahun 2000 dengan 2005 terlihat di tabel 2.4. Provinsi dengan
pertumbuhan terbesar terdapat di Provinsi Sumatera Utara dengan nilai 18.743.678,83,
sedangkan provinsi yang memiliki growth terendah adalah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dengan mencatatkan angka -4.559.050,84. Sementara nilai regional share
terbesar untuk wilayah Sumatera dan sekitarnya terdapat di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dengan nilai 7.132.396,78. Nilai regional share terendah terdapat di Provinsi
Bengkulu dengan nilai 878.988. Dengan demikian selisih antara pertumbuhan aktual yang
menggunakan pertumbuhan wilayah Sumatera dan sekitarnya dengan pertumbuhan provinsi
terbesar terdapat di Provinsi Sumatera Utara dengan nilai 6.257.155. Sementara nilai terendah
berada di Provinsi Bengkulu dengan nilai 492.277.
II - 22

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Ini menunjukkan bahwa untuk wilayah Sumatera dan sekitarnya, Sumatera Utara
adalah provinsi dengan pertumbuhan paling cepat dan Bengkulu merupakan provinsi dengan
pertumbuhan paling lambat.
Tabel 2.4
Hasil Perhitungan Shift-Share Provinsi-provinsi di Wilayah Sumatera
Provinsi

Growth

Regional Share

Shift

(-4.559.050,84)

7.132.396,78

(11.691.447,62)

Sumatera Utara

18.743.679

12.486.524

6.257.155

Sumatera Barat

6.269.866

4.132.968

2.136.899

Riau

9.706.614

12.562.876

(2.856.262)

Kepulauan Riau

5.138.442

4.557.908

580.534

Jambi

3.050.730

1.727.830

1.322.899

Sumatera Selatan

6.079.635

7.460.376

856.343

Bengkulu

2.121.468

878.988

492.277

Kepulauan Riau

1.371.265

4.197.314

1.882.321

Lampung

8.316.719

1.102.186

1.019.282

NAD

Secara keseluruhan, provinsi dengan nilai proportional shift terbesar adalah Provinsi
Sumatera Utara dengan nilai 6.239.335, sedangkan provinsi dengan nilai proportional shift
terkecil adalah Provinsi Riau -9.677.678,36. Sedangkan nilai differential shift terbesar
terdapat di Provinsi Riau dengan nilai 6.821.415,90 dan provinsi dengan nilai terkecil terdapat
di Provinsi NAD -10.552.828,49. Nilai differential shift yang negatif menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi (keseluruhan 9 sektor) di provinsi tersebut masih lebih rendah
dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera. Sebaliknya, nilai differential
shift suatu provinsi yang bernilai positif menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi provinsi
ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera.
Secara umum nilai differential shift setiap provinsi terhadap growth provinsi masingmasing lebih kecil, menunjukkan pertumbuhan ekonomi di masing-masing provinsi lebih kecil
dibandingkan growth regional.

3. Inter-Regional Input-Output
Berdasarkan analisis IO dapat dilihat sektor-sektor kunci yang memiliki backward
linkages (keterkaitan kebelakang) atau disebut juga derajat kepekaan yang tinggi dan forward
linkages (keterkaitan kedepan) atau daya sebar yang tinggi. Sektor yang mempunyai daya
penyebaran tinggi menunjukkan bahwa sektor tersebut mempunyai daya dorong yang cukup
kuat dibanding sektor lainnya. Sedangkan sektor yang mempunyai derajat kepekaan yang
tinggi menunjukkan bahwa sektor tersebut mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap
sektor lain. Sektor kunci didefinisikan sebagai sektor yang memegang peranan penting dalam
menggerakkan roda perekonomian dan ditentukan berdasarkan index total keterkaitan
kebelakang dan kedepan. Sektor kunci adalah sektor yang memiliki Index Total Keterkaitan ke
belakang dan ke depan lebih besar dari satu.

II - 23

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 2. 8.
Peta Produk Unggulan Wilayah Sumatera

Tabel 2.5.
Analisis Sektor Kunci Wilayah Sumatera
No

Provinsi

Sektor kunci
Peternakan dan hasil-hasilnya, Pengilangan minyak bumi, Industri makanan
minuman, Bangunan, dan Angkutan Darat.

NAD

Sumut

Sumbar

Riau

Jambi

Industri makanan minuman, Industri barang kayu, rotan dan bamboo,


Bangunan

Sumsel

Pengilangan minyak bumi, Listrik, gas dan air bersih, Industri kelapa sawit,
Industri karet dan barang dari karet, Bangunan

Babel

Industri kelapa sawit, Industri dasarbesi dan baja dan logam dasar bukan besi,
Industri barang kayu, rotan dan bamboo, Bangunan

Bengkulu

Lampung

Industri makanan minuman, Industri kelapa sawit , Industri karet dan barang
dari karet, Industri dasar besi dan baja dan logam dasar bukan besi , dan
Bangunan
Perdagangan , Listrik, gas dan air bersih Listrik, gas dan air bersih, Industri
tekstil dan produk tekstil, Industri makanan minuman, Industri kelapa sawit
Angkutan darat dan Angkutan air
Industri pulp dan kertas, Industri mesin listrik dan peralatan listrik, Industri
makanan minuman, Industri kelapa sawit, Industri barang kayu, rotan dan
bambo, Bangunan

Perdagangan, Industri makanan minuman, Industri kelapa sawit, Industri


karet dan barang dari karet, Industri barang kayu, rotan dan bamboo,
Bangunan, Angkutan darat , Angkutan air
Peternakan dan hasil-hasilnya, Perdagangan, Industri makanan minuman,
Industri kelapa sawit, Industri barang kayu, rotan dan bamboo, Hotel dan
restoran

Sumber: hasil analisis tabel IRIO 2005

II - 24

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa Provinsi Jambi memiliki 3 sektor kunci;
Bangka Belitung memiliki 4 sektor; NAD, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan memiliki 5
sektor kunci; Riau dan Lampung memiliki 6 sektor kunci; Sumatra Barat memiliki 7 sektor
kunci; dan Bengkulu adalah provinsi yang memiliki sektor kunci terbanyak yaitu 8. Di samping
itu, perlu dikemukakan bahwa industri makanan dan minuman, sektor bangunan, industri
kelapa sawit, dan industri barang kayu, rotan dan bamboo adalah sektor-sektor kunci yang
mendominasi hampir di setiap provinsi di pulau Sumatera.
Namun demikian, apabila ditinjau secara keseluruhan, maka sektor kunci di pulau
Sumatera adalah industri makanan dan minuman, industri kelapa sawit, industri dasar besi
dan baja dan logam dasar bukan besi dan industri pulp dan kertas. Dengan demikian di Pulau
Sumatera perlu dikembangkan pembangunan sektor-sektor yang menjadi sektor kunci dalam
perekonomian, baik dilihat dari perspektif provinsi maupun pulau, yaitu:
(i)

Industri makanan dan minuman di hampir setiap provinsi kecuali Sumatera


Selatan dan Bangka Belitung;

(ii)

Sektor bangunan di hampir setiap provinsi kecuali Sumatera Barat dan Lampung;

(iii)

Industri kelapa sawit di hampir setiap provinsi kecuali Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan Jambi;

(iv)

Industri barang kayu, rotan dan bamboo di Provinsi Riau, Jambi, Babel, Bengkulu
dan Lampung;

(v)

Industri dasar besi dan baja dan logam dasar bukan besi di Provinsi Sumatera
Utara dan Bangka Belitung; dan

(vi)

Industri pulp dan kertas di Provinsi Riau.

Berdasarkan nilai multiplier masing-masing sektor (analisis MRIO). Sektor


perekonomian yang memiliki nilai multiplier pendapatan terbesar (> 2.00), adalah sebagai
berikut:
1.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam : Industri makanan minuman; Angkutan Udara;


Industri pengolahan hasil laut; Industri karet dan barang dari karet; Industri kelapa sawit;
Industri tekstil dan produk tekstil; Listrik, gas dan air bersih; Angkutan darat; Angkutan
Air; Hotel dan Restoran; Industri barang kayu, rotan dan bambu; Bangunan; Industri
lainnya; dan Industri pulp dan kertas.

2. Provinsi Sumatera Utara : Angkutan Udara; Industri makanan minuman;


lainnya; Industri kelapa sawit; Industri pengolahan hasil laut; Angkutan Air;
karet dan barang dari karet; Hotel dan Restoran; Peternakan dan hasil-hasilnya;
barang dari logam; Angkutan darat; Industri barang kayu, rotan dan bambu;
dasar besi dan baja dan logam dasar bukan besi.

Industri
Industri
Industri
Industri

3. Provinsi Sumatera Barat : Angkutan Udara, Industri barang dari logam, Angkutan Air,
Industri makanan minuman, Industri pulp dan kertas, Listrik, gas dan air bersih,
Industri semen, Hotel dan Restoran, Industri lainnya, Industri karet dan barang dari
karet, Industri pengolahan hasil laut, dan Industri tekstil dan produk tekstil.
4. Provinsi Riau : Industri lainnya, Industri karet dan barang dari karet, Industri kelapa
sawit, Industri pengolahan hasil laut, Industri mesin listrik dan peralatan listrik, Industri
tekstil dan produk tekstil, Angkutan Udara, Industri pulp dan kertas, Angkutan Air, Hotel
dan Restoran, Industri makanan minuman, Industri barang kayu, rotan dan bambu, dan
Industri petrokimia.
5. Provinsi Jambi : Industri makanan minuman, Industri lainnya, Industri pengolahan hasil
laut, Angkutan Udara, Industri tekstil dan produk tekstil, Angkutan Air, Industri kelapa
sawit, Angkutan darat, Industri barang kayu, rotan dan bambu, Industri karet dan barang
dari karet, Bangunan, Industri petrokimia, dan Hotel dan Restoran.

II - 25

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

6. Provinsi Sumatera Selatan : Industri kelapa sawit, Industri pengolahan hasil laut, Industri
lainnya, Angkutan Udara, Industri dasar besi dan baja dan logam dasar bukan besi,
Industri karet dan barang dari karet, Industri makanan minuman, Industri semen,
Angkutan Air, Industri tekstil dan produk tekstil, Industri barang dari logam, Hotel dan
Restoran, Industri barang kayu, dan rotan dan bambu.
7.

Provinsi Bangka Belitung : Industri makanan minuman, Industri pengolahan hasil laut,
Industri dasar besi dan baja dan logam dasar bukan besi, Angkutan Udara, Industri kelapa
sawit, Listrik, gas dan air bersih, Angkutan Air, Industri barang dari logam, Industri alat
angkutan dan perbaikiannya, Industri petrokimia, Industri barang kayu, rotan dan bambu,
Hotel dan Restoran, dan Bangunan.

8. Provinsi Bengkulu : Industri pengolahan hasil laut, Angkutan Udara, Listrik, gas dan air
bersih, Industri lainnya, Industri kelapa sawit, Industri makanan minuman, Industri
barang kayu, rotan dan bambu, Industri tekstil dan produk tekstil, Peternakan dan hasilhasilnya, Angkutan Air, Angkutan darat, Industri pulp dan kertas, Industri karet dan
barang dari karet.
9. Provinsi Lampung : Angkutan Udara, Industri kelapa sawit, Industri makanan minuman,
Industri pengolahan hasil laut, Angkutan Air, Listrik, gas dan air bersih, Industri pulp dan
kertas, Industri barang kayu, rotan dan bambu, Industri lainnya, Hotel dan Restoran,
Industri dasar besi dan baja dan logam dasar bukan besi, Industri karet dan barang dari
karet, dan Industri tekstil dan produk tekstil.
Gambar 2. 9.
Peta Prioritas Pengembangan Industri di Wilayah Sumatera

II - 26

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Sementara itu sektor-sektor yang memberikan penciptaan dampak pendapatan ke luar


provinsi lebih dari 15 persen dari total dampak pendapatannya adalah sebagai berikut:
1.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam : Industri barang kayu, rotan dan bambu
Industri tekstil dan produk tekstil, Industri barang dari logam, Angkutan Udara,
Industri kelapa sawit, Industri pulp dan kertas, Industri alat angkutan dan
perbaikiannya, Bangunan, Industri karet dan barang dari karet, Industri lainnya, dan
Angkutan Air.

2. Provinsi Sumatera Utara : Industri lainnya, Pengilangan minyak bumi, Industri


semen, Industri tekstil dan produk tekstil, Industri barang dari logam, Angkutan
Udara, Listrik, gas dan air bersih, Industri pulp dan kertas, Industri mesin listrik dan
peralatan listrik, Angkutan Air, Bangunan, dan Angkutan darat.
3. Provinsi Sumatera Barat : Industri barang dari logam, Industri pulp dan kertas,
Angkutan Air, Industri makanan minuman, Industri barang kayu, rotan dan bambu,
Industri alat angkutan dan perbaikiannya, Angkutan Udara, dan Industri semen.
4. Provinsi Riau : Industri tekstil dan produk tekstil, Industri mesin listrik dan peralatan
listrik, Angkutan Udara, Industri lainnya, Industri karet dan barang dari karet, Listrik,
gas dan air bersih, Industri petrokimia, Industri alat angkutan dan perbaikiannya,
Angkutan Air, Hotel dan Restoran, Peternakan dan hasil-hasilnya, Industri
pengolahan hasil laut, dan angkutan darat.
5.

Provinsi Jambi : Industri makanan minuman, Industri alat angkutan dan


perbaikiannya, Industri petrokimia, Bangunan, dan Hotel dan Restoran.

6. Provinsi Sumatera Selatan : Industri tekstil dan produk tekstil, Angkutan Air, Industri
lainnya, Industri pulp dan kertas, Angkutan Udara, Industri alat angkutan dan
perbaikiannya, Industri barang dari logam, Industri karet dan barang dari karet,
Peternakan dan hasil-hasilnya, Hotel dan Restoran, Industri dasar besi dan baja dan
logam dasar bukan besi, dan Bangunan.
7.

Provinsi Bangka Belitung : Angkutan Air, Industri pulp dan kertas, Industri karet dan
barang dari karet, Industri tekstil dan produk tekstil, Angkutan Udara, Industri barang
dari logam, Peternakan dan hasil-hasilnya, Hotel dan Restoran, Industri barang kayu,
rotan dan bambu, Industri petrokimia, Bangunan, Industri makanan minuman,
Industri alat angkutan dan perbaikiannya, Jasa-jasa lainnya, Angkutan darat, Listrik,
gas dan air bersih, Perdagangan, dan Padi.

8. Provinsi Bengkulu : Angkutan Udara, Industri tekstil dan produk tekstil, Industri pulp
dan kertas, Industri alat angkutan dan perbaikiannya, Industri lainnya, Angkutan Air,
Industri barang kayu, rotan dan bambu.
Provinsi Lampung : Angkutan Udara, Industri tekstil dan produk tekstil, Industri pulp
dan kertas, Angkutan Air, Industri lainnya, Industri semen, Angkutan darat, Industri alat
angkutan dan perbaikiannya, Peternakan dan hasil-hasilnya, Industri petrokimia, Hotel dan
Restoran, Bangunan, dan Industri karet dan barang dari karet.

II - 27

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.1.2. Investasi dan Perdagangan


Fakta dan Permasalahan:

a.

Hambatan iklim investasi dari kebijakan pemerintah (birokrasi), maupun lingkungan usaha
(Perizinan investasi, peraturan daerah, pungutan liar, dan gangguan keamanan)

Kurangnya dukungan prasarana infrastruktur pendukung investasi

Investasi PMA dan PMDN terkonsentrasi di wilayah Tengah (Riau, Kepri, Sumatera Utara,
dan sedikit di Sumatera Selatan)

Belum berkembanganya institusi kerjasama antar daerah dalam menjaring investasi

Pertumbuhan ekspor rata-rata (2003-2008) sebesar 6,92 persen per tahun, Pertumbuhan
impor sebesar 30,40 persen, dan Neraca perdagangan sebesar 3,14. dengan ekspor terbesar
dari Provinsir Riau dan Kepri sebesar 53,74 persen dan Impor terbesar Lampung 41,25
persen.

Hambatan Perdagangan intra wilayah yang disebabkan oleh birokrasi dan infrastruktur.

Kinerja Perdagangan di wilayah Sumatera masih didominasi oleh Provinsi Kepulauan Riau,
Sumatera Utara, dan Lampung.

Masih lemahnya sistem kerja sama untuk pengembangan sektor/komoditi unggulan daerah

Terbatasnya infarastruktur transportasi darat (kualitas & kuantitats) untuk mendorong


sistem distribusi barang dan meningkatkan perdagangan intra wilayah di pulau Sumatera.

Mitra dagang utama pulau Sumatera adalah Pulau Jawa-Bali dan Pulau Nusa Tenggara

Kapasitas pelayanan Pelabuhan internasional masih perlu ditingkatkan

Investasi

Perkembangan investasi PMA di wilayah Sumatera dari tahun 2002 hingga 2004 terus
mengalami penurunan dengan rata-rata penurunan tiap tahun sebesar 36 persen per tahun,
namun dari tahun 2004 hingga 2005 mengalami peningkatan hingga sebesar 22 persen
(Gambar 2.10). Sedangkan PMDN mengalami perkembangan nilai investasi yang fluktuatif
yaitu melemah pada tahun 2002 ke 2003 sebesar 49 persen, kemudian pada tahun 2004
meningkat tajam hampir 200 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan seterusnya
meningkat hingga tahun 2005 mencapai laju pertumbuhan positif sebesar 20 persen.
Gambar 2.10.
Nilai Investasi PMA Setiap Provinsi Menurut Provinsi di Wilayah Sumatera (Juta US$)
20,000.00
18,000.00

PMA (juta US$)

16,000.00
14,000.00

1 Nanggroe Aceh Darussalam


3 Sumatera Barat
5 Jambi
7 Bengkulu
9 Bangka Belitung
Sumatera

2 Sumatera Utara
4 RIA U
6 Sumatera Selatan
8 Lampung
10 Kepulauan Riau

12,000.00
10,000.00
8,000.00
6,000.00
4,000.00
2,000.00
0.00
2002

2003

2004

2005

2006

2007
Tahun

II - 28

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Zona tengah dan utara Sumatera masih menjadi motor penggerak utama dalam
menarik investasi. Provinsi Riau dan Kepri merupakan daerah yang paling banyak menarik
investasi baik PMA maupun PMDN dengan rata-rata untuk PMA sebesar US$ 633,94 juta per
tahun, dan untuk PMDN sebesar Rp. 2.835,05 milyar per tahun. Selanjutnya Sumatera Utara
juga merupakan daerah yang banyak menarik investor PMDN yakni sebesar rata-rata Rp.
2.535,75 milyar per tahun (Gambar 2.11.), selama kurun waktu empat tahun. Selain wilayah
Riau, Provinsi Sumatera Selatan juga merupakan daerah yang banyak diminati oleh investor
PMA dengan laju nilai investasi rata-rata US$408,8 juta.
Gambar 2.11.
Nilai Investasi PMDN Setiap Provinsi Menurut Provinsi
di Wilayah Sumatera (Rp. miliar)
50000
45000

PMDN (juta US$)

40000
35000

1 Nanggroe Aceh Darussalam


3 Sumatera Barat
5 Jambi
7 Bengkulu
9 Bangka Belitung
Sumatera

2 Sumatera Utara
4 RIA U
6 Sumatera Selatan
8 Lampung
10 Kepulauan Riau

30000
25000
20000
15000
10000
5000
0
2002

2003

2004

2005

2006

2007
Tahun

b.

Perdagangan (Ekspor-Impor)

Perdagangan provinsi di wilayah Sumatera selama 2002-2007 memperlihatkan


kecenderungan peningkatan volume setiap tahunnya. Berdasarkan data ekspor dan impor
masing-masing provinsi di wilayah Sumatera ini, memperlihatkan bahwa terjadi dominasi
daerah-daerah di zona utara dan tengah dalam aktivitas perdagangan antar wilayah.
Provinsi Riau dan Kepri menyumbangkan nilai ekspor terbesar selama kurun waktu 4
tahun dengan rata-rata sebesar 53,74 persen dari total nilai ekspor di wilayah Sumatera. Pada
tahun 2006 nilai ekspor Provinsi Riau dan Kepri mencapai US$14.767,80 juta atau 50,4
persen dari total ekspor wilayah Sumatera yang mencapai US$29.303,33 juta. Daerah kedua
yang mendominasi ekspor di wilayah Sumatera adalah Provinsi Sumatera Utara dengan
kontribusi sebesar 18,85 persen sementara daerah yang paling sedikit menyumbangkan
volume ekspor adalah Bengkulu yang hanya memberikan kontribusi sebesar 0,28 persen dan
diikuti Bangka Belitung sebesar 0,34 persen
Dari sisi impor Provinsi Lampung merupakan daerah pengimpor terbesar dengan
kontribusi sebesar 41,25 persen, selanjutnya diikuti oleh Riau dan Kepri sebesar 31,22 persen
dan Sumatera Utara 20,03 persen. Sedangkan daerah pengimpor terkecil tetap Bengkulu dan
Bangka Belitung yang masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,34 persen dari total nilai
impor wilayah Sumatera pada tahun 2006. Provinsi Lampung menjadi satu-satunya daerah
yang mengalami defisit dalam neraca perdagangan. Hal ini dikarenakan Lampung merupakan
pintu gerbang masuknya barang-barang dari luar terutama dari Pulau Jawa yang kemudian
akan didistribusikan ke wilayah lain di Sumatera bagian selatan dan pantai barat. Data neraca
perdagangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.6.
II - 29

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.6.
Neraca Perdagangan (ExportImport) Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera (Juta US$)
Provinsi

URAIAN
Ekspor

NAD

Sumut

Sumbar

Riau dan Kepri

Jambi

Sumsel

Babel

Bengkulu

Lampung

Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor
Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor
Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor
Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor
Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor
Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor
Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor

2003

2004

2005

2006

2007

1.704,62

1.812,36

2.072,42

2.032,79

1.854,23

JAN-MEI
2008
752,17

51,53

53,00

18,41

36,21

30,65

16,32

1.653,09

1.759,37

2.054,00

1.996,58

1.823,59

735,85

2.687,88

4.239,41

4.563,07

5.523,90

7.082,90

3.962,19

679,81

953,36

1.178,01

1.456,99

2.109,88

1.590,46

2.008,07

3.286,05

3.385,07

4.066,91

4.973,02

2.371,73

377,28

594,96

731,19

1.074,13

1.512,80

1.161,27

31,13

15,65

0,00

36,81

95,86

148,59

346,14

579,31

731,15

1.037,32

1.416,94

1.012,68

9.895,36

10.301,73

13.192,91

14.767,80

18.001,45

9.667,52

825,41

1.116,04

2.627,83

2.271,40

3.118,35

5.929,66

9.069,95

9.185,69

10.565,08

12.496,40

14.883,09

3.737,86

469,30

450,94

418,88

838,79

1.081,20

448,71

82,59

10,41

116,07

162,77

178,89

62,16

386,71

440,53

302,81

676,02

902,31

386,55

903,65

1.156,24

1.241,05

2.390,58

2.717,95

1.473,96

112,37

85,88

192,41

283,96

167,70

72,96

791,28

1.070,36

1.048,65

2.106,61

2.550,25

1.401,00

424,04

663,94

957,32

1.068,69

1.273,94

1.219,91

16,62

18,09

27,72

25,09

21,58

17,08

407,42

645,85

929,60

1.043,60

1.252,36

1.202,83

15,40

37,36

71,60

80,32

84,99

27,70

Impor
Neraca
Perdagangan
Ekspor

0,0002

0,0007

10,91

0,0007

4,11

1,24

15,25

37,36

60,69

79,66

80,88

26,46

739,79

669,69

1.083,76

1.525,66

1.540,55

1.106,60

Impor
Neraca
Perdagangan

951,27

1.338,58

3.473,76

3.001,41

1.388,96

389,00

-211,47

-668,89

-2.390,00

-1.475,75

151,59

717,60

Sumber: Pusdatin Departemen Perdagangan.


Keterangan: Data export-impor Provinsi Riau termasuk di dalamnya export-impor Kepualauan Riau

Analisis Indeks Intensitas Perdagangan


Hasil perhitungan TII mengidentifikasikan urutan atau prioritas kerja sama
perdagangan antara pulau Sumatera dengan wilayah-wilayah lain seperti urutan dalam Tabel
2.7. Wilayah Jawa-Bali adalah mitra dagang utama dengan besaran index 1,34 diikuti oleh
wilayah Nusa Tenggara dengan nilai index 0,60. Wilayah Sulawesi adalah mitra dagang pada
urutan ketiga dengan nilai index 0,42. Adapun ketiga wilayah lainnya yaitu Kalimantan,
Maluku dan Papua secara berturut-turut memiliki index 0,34, 0,30, dan 0,25. Artinya wilayah
Jawa-Bali adalah mitra dagang penting wilayah Sumatera pada tahun 2005.
Urutan pertama atau index terbesar berada di wilayah Jawa-Bali, hal ini dikarenakan
letak wilayah Jawa-Bali yang secara geografis berdekatan dengan wilayah Sumatera. Angka
II - 30

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

index tersebut juga memperlihatkan lalu-lintas barang serta jasa antara pulau Sumatera dan
Jawa-Bali yang memang sangat besar. Hal ini berlawananan dengan nilai TII untuk wilayah
lainnya yang berkisar di Wilayah Timur Indonesia yang cukup rendah akibat letak geografis
yang jauh antara Jawa-Bali dengan wilayah-wilayah di timur Indonesia. Oleh karena itu,
intensitas perdagangan antar wilayah sangat dipengaruhi oleh kemudahan dan kedekatan
jarak pemindahan barang dan jasa (kedekatan geografis). Sedangkan, urutan daerah
terpenting kedua adalah Nusa Tenggara, hal ini mengindikasikan bahwa wilayah Nusa
Tenggara menjadi penyedia kebutuhan pendukung wilayah Sumatera.
Index intensitas perdagangan wilayah Jawa-Bali yang tinggi dan dominan
menunjukkan bahwa wilayah Jawa-Bali merupakan salah satu wilayah pemasok yang mungkin
tidak dapat digantikan oleh wilayah lain. Perbandingan index intensitas perdagangan wilayah
Jawa-Bali dan Papua yang memiliki selisih angka cukup besar jika dibandingkan wilayah
lainnya, mengidentifikasikan bahwa ketergantungan wilayah Papua terhadap Pulau Jawa-Bali
dalam perdagangan terbukti cukup besar.
Apabila dilihat dari perspektif peningkatan kerjasama perdagangan bilateral antar
wilayah atau pulau, wilayah Sumatera dan sekitarnya sudah semestinya memandang Jawa dan
Bali sebagai pemasok maupun pasar yang besar untuk hubungan dua arah perdagangan antar
wilayah. Sehingga Jawa dan Bali harus dipandang strategis dalam pengembangan
perekonomian dari aktivitas perdagangan, baik sebagai tujuan ekspor maupun sebagai wilayah
pengekspor. Oleh karena itu, diperlukan langkahlangkah antisipatif dalam menghadapi
hambatan perdagangan yang mungkin terjadi antara wilayah Sumatera dan Jawa-Bali. Hal ini
dikarenakan perhubungan antara kedua wilayah ini masih menggunakan jalur laut.
Selain itu, dalam kerangka pengembangan potensi kerjasama, keempat wilayah
lainnya, khususnya wilayah dengan kedekatan geografis yang tidak diikuti oleh tingginya
intensitas perdagangan seperti Wilayah Nusa Tenggara perlu diidentifikasi sebagai daerah
berpotensi untuk perluasan kerjasama perdagangan. Potensi perluasan kerjasama
perdagangan dengan didukung oleh faktor kedekatan geografis diyakini memungkinkan
adanya penghematan biaya dan oportunitas dalam pergerakan barang dan jasa. Dalam hal ini,
identifikasi terhadap permasalahan dan hambatan selain geografis yang selama ini timbul
dapat menjadi salah satu isu strategis dalam pengembangan kerjasama perdagangan.
Penggunaan index dalam perencanaan pembangunan sangat relevan khususnya dalam
pengembangan perdagangan bilateral antar dua wilayah dan penyusunan prioritas
pengembangan kerjasama perdagangan bilateral. Berdasarkan data Interregional Input
Output (IRIO) provinsi tahun 2005 yang telah diagregasi menjadi tujuh wilayah pulau atau
kelompok pulau: Sumatera, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan
Papua; maka hasil perhitungan TII untuk Wilayah Sumatera dan mitra dagangnya dapat
dilihat pada tabel 2.7 berikut.
Tabel 2.7
Nilai TII Antara Sumatera dan Enam Wilayah/ Pulau Lain (2005)

Wilayah/ pulau mitra dagang

Nilai TII

Jawa dan bali

1,34

Nusa Tenggara

0,60

Sulawesi

0,42

Kalimantan

0,34

Maluku

0,30

Papua

0,25

II - 31

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2. 1.3. Keuangan Daerah


Fakta dan Permasalahan:

Provinsi dengan penerimaan PAD terbesar di wilayah Sumatera adalah Sumatera Utara Rp. 1,38
triliyun, Provinsi Riau Rp. 877,6 milyar, dan Sumatera Selatan Rp. 619,78 milyar. Penerimaan
PAD terendah Provinsi Bengkulu

Adanya kesenjangan kapasitas fiskal antarprovinsi, yang disebebabkan adanya perbedaan


karakteristik potensi sumberberdaya yang berbeda setiap wilayah. Provinsi dengan kapasitas
fiskal terbesar Provinsi Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan, sedangkan kapasitas fiskal
terendah di Provinsi Bengkulu

Provinsi NAD memiliki defisit terbesar dalam anggaran pembangunan sebesar Rp. 1,64 trilyun,
sedangkan Provinsi Riau, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat memiliki surplus terbesar
dalam anggaran pembangunan daerah

Sumber penerimaan keuangan daerah dalam APBD berasal dari pendapatan asli
daerah (PAD) dan dana perimbangan yang berasal dari pemerintah pusat. Secara umum
sumber penerimaan daerah-daerah di wilayah Sumatera masih mengandalkan (bergantung)
dari dana perimbangan yang berasal dari pemerintah pusat, baik dalam bentuk dana alokasi
umum (DAU) maupun dari dana bagi hasil sumber daya alam. Dalam periode 2002-2006
rata-rata persentase komponen PAD dibandingkan dengan penerimaan daerah-daerah di
Wilayah Sumatera adalah 40,75 persen dengan standar deviasi 14,85 persen. Sedangkan untuk
komponen dana perimbangan pada periode yang sama, rata-rata sebesar 59,25 persen dengan
standar deviasi 14,85 persen.
Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat merupakan dua provinsi yang memiliki
kontribusi PAD terhadap penerimaan daerah lebih besar dibandingkan dengan dana
perimbangan yang berasal dari pemerintah pusat. Dalam kurun waktu 2002-2006 PAD
Sumatera Utara mencapai rata-rata 65 persen dari total penerimaan daerah. Sedangkan PAD
Sumatera Barat untuk tahun 2004-2005 mencapai 57 persen dari penerimaan daerah, namun
pada tahun 2006 mengalami penurunan menjadi 47,5 persen. Provinsi Sumatera Utara
merupakan daerah dengan kontribusi PAD tertinggi yakni mencapai 72,59 persen pada tahun
2005, sementara itu kontribusi PAD terrendah adalah Provinsi NAD pada tahun 2002 yang
hanya mencapai 6,22 persen. Provinsi Sumatera Utara adalah provinsi dengan rata-rata
jumlah nominal PAD terbesar se-Wilayah Sumatera dimana pada tahun 2006 mencapai Rp.
1,38 triliyun. Urutan nominal PAD berikutnya diikuti oleh Provinsi Riau dan Sumatera Selatan
masing-masing sebesar Rp. 877,6 milyar dan Rp. 619,78 milyar. Daerah-daerah tersebut
merupakan daerah dengan kapasitas fiskal terbesar di Wilayah Sumatera. Sedangkan provinsi
dengan rata-rata jumlah penerimaan dan PAD terkecil adalah Provinsi Bengkulu. Dengan
demikian Bengkulu menjadi daerah dengan kapasitas fiskal terkecil.
Sementara dilihat dari perolehan dana perimbangan, Provinsi NAD merupakan
penerima terbesar diikuti oleh Provinsi Riau. Kedua daerah ini menjadi dua daerah penerima
dana perimbangan terbesar karena dua daerah ini merupakan daerah penghasil sumber daya
alam terutama minyak bumi dan gas alam terbesar. Namun demikian dilihat dari
ketergantungan terhadap dana perimbangan Provinsi NAD merupakan provinsi yang memiliki
tingkat ketergantungan yang paling besar. Hal ini terlihat dari kontribusi PAD terhadap
penerimaan daerah yang hanya mencapai rata-rata 10,38 persen sementara daerah penerima
dana perimbangan terkecil di wilayah Sumatera adalah Provinsi Bangka Belitung.
Jika dilihat dari sisi pengeluaran, Provinsi Riau merupakan daerah dengan
pengeluaran terbesar, diikuti oleh Provinsi Sumatera Utara dan NAD. Hal ini sejalan dengan
indikasi besarnya kapasitas fiskal dari sisi penerimaan dalam kurun waktu 2002-2006 dari
daerah-daerah yang bersangkutan. Sejak diperbolehkannya defisit anggaran pada tahun 2002,
hampir semua daerah menerapkan defisit anggaran. Namun sejak tahun 2006 semakin sedikit
daerah yang mengalami defisit anggaran. Pada tahun 2006, dari 10 provinsi di Sumatera,
hanya 4 provinsi menerapkan defisit anggaran. Daerah-daerah tersebut adalah Provinsi

II - 32

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung. Provinsi yang
memiliki defisit terbesar adalah Provinsi NAD sebesar Rp. 1,64 trilyun. Sedangkan daerah
lainnya mengalami surplus, dengan surplus terbesar adalah Provinsi Riau sebesar Rp. 388,4
milyar dan surplus terkecil adalah Provinsi Sumatera Barat sebesar Rp. 29,1 milyar. Gambaran
mengenai keuangan daerah di sajikan pada lampiran 2 Tabel 11.

Analisis Keuangan Daerah


Beberapa parameter dan formula untuk analisis keuangan daerah ini digunakan untuk
melihat kinerja keuangan daerah. Mengingat ketersediaan data, parameter dan formula yang
digunakan untuk melihat kinerja keuangan daerah di Indonesia antara lain:

Derajat Desentralisasi Fiskal antara pemerintah Pusat dan Daerah


Ukuran kemandirian Fiskal daerah dapat dilihat dari besarnya proporsi pendapatan
daerah yang bersumber dari daerah itu sendiri terhadap total penerimaan daerah. Ada dua
jenis pendapatan yang berasal dari daerah sendiri. Pertama adalah Pendapatan Asli Daerah
(PAD), dan kedua adalah Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak untuk Daerah. Untuk jenis
pendapatan yang kedua ini, merupakan bagian dari penerimaan pemerintah pusat, yang
kemudian dikembalikan lagi kepada pemerintah daerah dalam sekema dana bagi hasil.
Besarnya proporsi kedua pendapatan tersebut terhadap total penerimaan daerah
mencerminkan tingkat kemandirian daerah dalam pembiayaan pembangungan daerah atau
bisa juga dijadikan ukuran derajat desentralisasi fiskal suatu daerah. Semakin besar
presentase PAD terhadap total penerimaan daerah (TPD) maka daerah tersebut dapat
dikatakan mandiri, atau derajat fiskalnya tinggi.
Hasil perhitungan tingkat kemandirian (derajat desentralisasi) Provinsi-provinsi yang
ada di Wilayah Sumatera, pada Tabel 2.8., terlihat bahwa rata-rata tingkat kemandirian
provinsi-provinsi di Wilayah Sumatera cenderung mengalami penurunan dari tahun 2004
hingga 2006. Pada tahun 2004 tingkat kemandirian rata-rata adalah sebesar 38.61 persen,
kemudian pada tahun 2004 turun menjadi sebesar 35.28 persen, dan pada tahun 2006
menjadi 33.62 persen. Sementara jika dilihat dari total APBD seluruh daerah yang ada di
Wilayah Sumatera (Kabupaten/Kota dan Provinsi), tingkat kemandiriannya jauh lebih kecil
yakni 14.86 persen pada tahun 2004, dan berangsur-angsur turun di tahun 2005 dan 2006
menjadi 14.26 persen dan 11.43 persen.
Provinsi Sumatera Utara merupakan daerah di Wilayah Sumatera yang memiliki
derajat desentralisasi fiskal paling besar. Dari tahun 2004 hingga tahun 2006, total
pendapatan daerah dalam APBD Provinsi Sumatera Utara lebih dari 60 persen nya disumbang
oleh PAD. Hal ini menunjukkan tingkat kemandirian daerah ini sangat besar dibandingkan
dengan daerah-daerah lainnya di Wilayah Sumatera. Provinsi NAD dan kabupaten/kota di
Provinsi NAD memiliki tingkat kemandirian paling rendah. Hal ini dapat dimaklumi karena
daerah ini merupakan daerah bekas konflik. Selain itu khusus untuk NAD merupakan daerah
Otonomi Khusus sehingga dalam hubungan keuangan pusat dan daerah memiliki skema yang
berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

II - 33

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.8.
Derajat Desentralisasi Fiskal Wilayah Sumatera
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Provinsi

Kontribusi PAD terhadap Total


Penerimaan Daerah
2004
2004
2005

Nanggroe Aceh Darussalam

8.79

6.88

11.73

Total Prov. NAD

5.66

4.87

6.47

Sumatera Utara

68.69

72.02

65.35

Total Prov. Sumatera Utara

23,97

24,03

16,12

Sumatera Barat

54,84

57,47

46,75

Total Prov. Sumatera Barat

16,74

16,70

12,05

Riau

33,51

28,80

26,95

Total Prov. Riau

12,25

10,74

10,31

Kepulauan Riau

25,38

Total Prov. Kepulauan Riau

11,85

Jambi

45,65

46,06

38,12

Total Prov. Jambi

14,79

18,19

12,62

Sumatera Selatan

45,32

42,56

39,79

Total Prov. Sumatera Selatan

14,22

13,65

11,59

Bengkulu

34,93

43,12

29,68

Total Prov. Bengkulu

19,92

22,77

7,61

Lampung

30,32

31,22

48,80

Total Prov. Lampung

15,26

14,14

12,24

Bangka Belitung

49,92

52,55

37,10

Total Prov. Bangka Belitung

15,30

17,68

14,29

Total Prov. Sumatera

38,61

35,28

33,62

Total Pulau Sumatera

14,86

14,26

11,43

Selain kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah, ukuran lain untuk melihat
derajat desentralisasi fiskal suatu daerah adalah proporsi Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
terhadap total Pendapatan dalam APBD suatu daerah. Semakin besar nilai bagi hasil maka
nilainya maka derajat desentralisasinya juga semakin tinggi. Besar kecilnya bagi hasil pajak
dan bukan pajak yang diterima oleh suatu daerah menunjukkan besarnya potensi ekonomi
yang dimiliki oleh daerah tersebut yang sudah dibudidayakan (ekploitasi).

II - 34

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.9.
Kontribusi Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak terhadap APBD Wilayah Sumatera

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kontribusi BPHPB

Provinsi

No

2004

2005

2006

NAD

50,01

49,68

45,51

Total Prov. NAD

36,62

39,38

27,99

Sumatera Utara

11,61

10,73

10,57

Total Prov. Sumatera Utara

11,60

11,74

8,82

Sumatera Barat

9,07

8,02

7,29

Total Prov. Sumatera Barat

7,77

7,94

5,89

Riau

55,81

63,31

91,80

Total Prov. Riau

58,44

69,10

61,45

Kepulauan Riau

NA

NA

58,90

Total Prov. Kepulauan Riau

NA

NA

63,31

Jambi

17,56

20,04

24,82

Total Prov. Jambi

19,56

21,60

27,55

Sumatera Selatan

32,26

39,20

37,64

Total Prov. Sumatera Selatan

34,25

42,09

37,06

Bengkulu

12,12

6,00

2,36

Total Prov. Bengkulu

16,38

7,53

5,11

Lampung

2,19

17,73

15,60

Total Prov. Lampung

6,32

14,45

12,29

Bangka Belitung

15,07

13,66

11,29

Total Prov. Bangka Belitung

13,30

17,67

11,92

Total Prov. Sumatera

32,21

36,53

25,26

Total Pulau Sumatera

30,06

35,75

30,60

Tabel 2.9. memperlihatkan kontribusi BPHPB terhadap keuangan daerah-daerah di


Wilayah Sumatera. Dilihat dari BPHPB, secara rata-rata provinsi-provinsi di Sumatera
memiliki tingkat desentralisasi berkisar 30 persen (32.21 persen tahun 2004, 36.53 persen
tahun 2005 dan 25.26 persen tahun 2006). Untuk daerah-daerah kabupaten/kota dan
provinsi di Wilayah Sumatera, secara rata-rata tidak jauh berbeda dengan provinsi, juga
berkisar 30 persen setiap tahunnya (Tahun 2004: 30.06 persen; tahun 2005: 35.75 persen dan
tahun 2006: 30.60 persen).
Daerah-daerah penghasil minyak dan gas bumi di Wilayah Sumatera seperti Provinsi
NAD, Riau, Kepulauan Riau dan Sumatera Selatan merupakan daerah-daerah yang keuangan
daerahnya banyak ditopang oleh dana bagi hasil ini. Sementara daerah-daerah yang kurang
memiliki sumber daya alam, seperti Provinsi Bengkulu, Lampung, dan Bangka Belitung,
memiliki derajat desentralisasi yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah
kaya SDA jika ditinjau dari pemasukan bagi hasil pajak dan non pajak.

II - 35

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Analisis Kebutuhan Fiskal (Fiscal Need) dengan Menghitung Indeks


pelayanan Publik Per Kapita (IPPP)

Pemerintah daerah merupakan institusi yang berfungsi untuk menjalankan pelayanan


publik kepada warganya. Oleh karena itu besarnya kebutuhan fiskal daerah tergantung dari
banyaknya warga yang hendak dilayani secara standar. Dengan demikian besarnya kebutuhan
fiskal suatu daerah tergantung dari besarnya jumlah penduduk yang membutuhkan pelayanan
publik. Untuk memperbandingkan besarnya kebutuhan fiskal suatu daerah tertimbang dengan
daerah-daerah lain dalam suatu kawasan maka terdapat standar kebutuhan fiskal daerah.
Dengan melihat jumlah penduduk dan kebutuhan fiskal standar akan dapat dilihat seberapa
besar tingkat kebutuhan fiskal untuk pelayanan publik di suatu daerah. Dari sini kemudian
kita akan dapat melihat seberapa besar pengeluaran publik aktual di setiap daerah.
Beberapa daerah memiliki tingkat pengeluaran pelayanan publik aktual yang cukup
besar, daerah-daeah kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kepulauan Riau dan Riau merupakan
daerah-daerah dengan tingkat pengeluaran publik perkapita (PPP) paling besar. Kalau tinggi
hasilnya, maka kebutuhan fiskal daerah tersebut besar. Dilihat dari IPPP atau indeks
pelayanan publik perkapitanya, Provinsi Riau dan Kepulauan Riau merupakan daerah-daerah
dengan tingkat pelayanan publik paling besar untuk Wilayah Sumatera, dan terlihat adanya
trend yang semakin meningkat setiap tahunnya.
Trend meningkat setiap tahun ini tidak hanya terjadi di daerah-daerah dengan PPP
dan IPPP tinggi saja, tetapi terjadi di hampir semua daerah di Wilayah Sumatera. Ada tiga
daerah yang mengalami fluktuasi nilai PPP dan IPPP yakni Provinsi Bengkulu, Lampung, dan
Jambi.
Tabel 2.10.
Pengeluaran Aktual Perkapita (PPP); Index Pelayanan Publik Perkapita (IPPP) APBD Provinsi
dan Seluruh APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sumatera
Total APBD Kab/Kota dan
APBD PROVINSI
Provinsi
Index
Index
Pengeluaran
Pengeluaran
Provinsi Tahun
Pelayanan
Pelayanan
Aktual
Aktual
Publik
Publik
Perkapita
Perkapita
Perkapita
Perkapita
(PPP)
(PPP)
(IPPP)
(IPPP)
2004
48,17
16,06
113,09
37,70
NAD
2005
53,82
17,36
117,46
37,89
2006
80,39
24,36
147,58
44,72
2004
12,44
4,15
41,83
13,94
Sumut
2005
14,70
4,74
60,89
19,64
2006
238,20
7,22
99,02
30,01
2004
14,42
4,81
75,08
25,03
Sumbar
2005
16,33
5,27
80,97
26,12
2006
28,88
8,75
78,60
23,82
2004
34,69
11,56
85,25
28,42
Riau
2005
53,23
17,17
196,41
63,36
2006
78,10
23,67
209,79
63,57
2004
Kepri
2005
2006
101,51
33,84
162,93
54,31

II - 36

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

APBD PROVINSI
Provinsi Tahun

Jambi

Sumsel

Babel

Bengkulu

Lampung

2004
2005
2006
2004
2005
2006
2004
2005
2006
2004
2005
2006
2004
2005
2006

Pengeluaran
Aktual
Perkapita
(PPP)
22,20
24,39
56,25
16,18
38,35
27,74
32,61
56,45
22,06
23,19
43,79
10,69
12,16
25,25

Index
Pelayanan
Publik
Perkapita
(IPPP)
7,40
7,87
17,05
5,22
11,62
9,25
10,52
17,11
7,35
7,48
13,27
3,56
3,92
7,65

Total APBD Kab/Kota dan


Provinsi
Index
Pengeluaran
Pelayanan
Aktual
Publik
Perkapita
Perkapita
(PPP)
(IPPP)
122,11
40,70
80,33
25,91
86,26
26,14
44,84
14,95
65,78
21,22
99,14
30,04
81,90
27,30
89,53
28,88
165,67
50,20
13,33
4,44
65,56
21,15
81,52
24,70
43,29
14,43
45,38
14,64
47,93
14,52

Keterangan: Prov Kepulauan Riau tahun 2004-2005 digabung dengan Prov Riau, tidak tersedia data APBD
Provinsi, hanya data Kabupaten/Kota

Kapasitas Fiskal (Fiscal Capacity)


Kapasitas Fiskal menunjukkan seberapa besar potensi penerimaan daerah yang
bersumber dari daerah yang bersangkutan. Dengan kata lain dapat dipakai untuk mengukur
seberapa besar potensi penerimaan PAD suatu daerah dibandingkan dengan daerah lainnya
dalam suatu kawasan (Negara, Pulau, Provinsi). Semakin tinggi nilai kapasitas fiskal suatu
daerah berarti berarti potensi penerimaan PADnya semakin besar dan demikian juga
sebaliknya. Secara rata-rata pemerintah daerah provinsi di Wilayah Sumatera memiliki
kapasitas fiskal berkisar antara 9-10 satuan. Sementara Provinsi Kepulauan Riau, Riau dan
Sumatera Utara merupakan daerah-daerah yang secara relatif memiliki kapasitas paling tinggi
di Sumatera.
Kepulauan Riau, menjadi satu-satunya daerah yang memiliki kapastias mendekati 40
persen jauh meninggalkan daerah-daerah lainnya. Hal ini memungkinkan karena Provinsi
Kepulauan Riau memiliki potensi pajak dan retribusi daerah yang tinggi. Di provinsi tersebut
telah berkembang banyak industri, khususnya di Pulau Batam. Penetapan Batam dan daerah
sekitarnya sebagai daerah kawasan khusus, telah mendorong peningkatan kegiatan bisnis di
daerah ini, yang merupakan potensial pembayar pajak. Kehadiran dunia usaha di daerah, akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan multiplier effect lainya, yang pada gilirannya akan
menjadi sumber obyek pungutan daerah yang akan mendatangkan penerimaan PAD yang
tinggi.

II - 37

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.11
Kapasitas Fiskal Daerah-daerah di Sumatera
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kapasitas Fiskal

Daerah

2004

2005

2006

NAD

8,04

7,93

9,22

Total Prov. NAD

8,04

7,93

9,22

Sumatera Utara

10,09

9,94

11,34

Total Prov. Sumatera Utara

10,09

9,94

11,34

Sumatera Barat

8,97

9,06

10,34

Total Prov. Sumatera Barat

8,97

9,06

10,34

Riau

14,92

15,06

9,24

Total Prov. Riau

14,92

15,06

9,24

Kepulauan Riau

36,67

Total Prov. Kepulauan Riau

36,67

Jambi

5,85

5,96

6,77

Total Prov. Jambi

5,85

5,96

6,77

Sumatera Selatan

7,58

7,60

8,74

Total Prov. Sumatera Selatan

7,58

7,60

8,74

Bengkulu

11,66

11,41

6,52

Total Prov. Bengkulu

11,66

11,41

6,52

Lampung

5,63

5,75

6,51

Total Prov. Lampung

5,63

5,75

6,51

Bangka Belitung

5,78

9,00

12,62

Total Prov. Bangka Belitung

5,78

9,00

12,62

Total Prov. Sumatera

9,00

5,72

10,00

Total Pulau Sumatera

9,00

5,72

10,00

Keterangan: Prov Kepulauan Riau tahun 2004-2005 digabung dengan Prov Riau, tidak tersedia
data APBD Provinsi, hanya data Kabupaten/Kota

Upaya Fiskal (Tax Effort)


Pada tahun 2004 dan 2005 Provinsi Papua memiliki standar tingkat PAD paling besar
dibandingkan dengan empat wilayah lainnya. Hal ini berarti secara rata-rata seharusnya pada
tahun yang bersangkutan daerah-daerah di Papua akan lebih mudah menghimpun dana dari
PAD dibandingkan dengan daerah-daerah lainya. Sementara itu untuk wilayah, Jawa dan
Sumatera dari tahun ke tahun memiliki tingkat PAD Standar yang semakin besar. Untuk pulau
Jawa dan Bali Jika pada tahun 2004 sebesar 9,3 milyar, maka pada tahun 2005 dan 2006
meningkat menjadi 9,7 milyar dan 10,2 milyar di tahun 2006. Tingkat PAD standar ini
kemudian akan berpengaruh dari upaya upaya fiskal (upaya untuk menghimpun dana dari
PAD).

II - 38

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.12
Tingkat PAD Standar Pulau-Pulau Besar di Indonesia
Tingkat PAD Standar

Daerah

2004

2005

2006

Sumatera

4.556.601,47

6.139.910,04

7.624.877,44

Jawa dan Bali

9.290.914,01

9.739.024,24

10.158.665,69

Nusa Tenggara

4.455.862,45

4.777.848,04

4.499.845,39

Maluku

1.237.091,88

2.561.134,42

2.631.074,03

Papua

11.214.158,25

11.527.346,94

9.310.501,74

4.885.117,45

5.804.479,19

6.228.615,64

Rata-rata

Dalam kenyataannya standar tingkat PAD suatu daerah, tidak selalu upaya untuk
mengumpulkan PAD suatu daerah menjadi semakin mudah. Tabel dibawah ini
memperlihatkan upaya pajak (tax effort) setiap daerah di Wilayah Sumatera.
Tabel 2.13
Tax Effort (Upaya Pajak) dan Index Kinerja PAD
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Daerah

Tax Effort

Index Kinerja PAD

2004

2005

2006

2004

2005

2006

8,91

11,63

19,65

19,56

18,95

25,77

Total Prov. NAD

12,76

16,97

27,21

27,99

27,64

35,68

Prov. Sumatera Utara

13,83

15,74

16,21

30,34

25,63

21,26

Total Prov. Sumatera Utara

19,32

21,90

20,37

42,41

35,67

26,72

Prov. Sumatera Barat

13,60

15,37

15,99

29,85

25,04

20,97

Total Prov. Sumatera Barat

21,63

24,62

28,07

47,48

40,09

36,82

Prov. Riau

12,34

12,39

26,49

27,09

20,18

34,74

Total Prov. Riau

20,10

21,34

45,17

44,11

34,76

59,24

Prov. NAD

Prov. Riau Kepulauan

9,40

12,33

Total Prov. Kepulauan Riau

19,14

25,10

Prov. Jambi

27,63

31,18

32,81

60,63

50,78

43,02

Total Prov. Jambi

39,82

41,95

45,57

87,40

68,33

59,76

Prov. Sumatera Selatan


Total Prov. Sumatera
Selatan

14,52

16,27

19,07

31,86

26,50

25,01

19,23

22,30

27,96

42,19

36,32

36,67

Prov. Bengkulu

14,28

22,45

24,98

31,34

36,56

32,75

Total Prov. Bengkulu

23,69

32,56

35,11

51,98

53,03

46,05

Prov. Lampung

17,57

19,06

20,82

38,56

31,04

27,31

Total Prov. Lampung

21,20

22,93

26,36

46,52

37,34

34,57

Prov. Bangka Belitung

14,90

15,93

22,60

32,69

25,94

29,64

Total Prov. Bangka Belitung

18,44

22,94

38,79

40,48

37,36

50,87

Total Prov. Sumatera

13,90

19,58

18,79

30,52

31,89

24,64

Total Pulau Sumatera

20,03

24,10

27,76

43,95

39,25

36,41

II - 39

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Secara umum daerah-daerah di wilayah Sumatera mengalami kenaikan tax effort dari
tahun ke tahun seperti yang terjadi di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung,
Sumatera Utara yang meperlihatkan adanya trend meningkat untuk Tax Effor yang semakin
besar, sebaliknya Index Kinerja PADnya justru semakin menurun. Untuk kasus di NAD, trend
peningkatan Tax Effort diikuti dengan peningkatan Index Kinerja PAD. Tampaknya dengan
perbedaan struktur pemerintahan yang khas dari NAD mengakibatkan trend yang berbeda
dengan daerah-daerah lainnya di wilayah Indonesia dan Sumatera pada khususnya.

Ketergantungan Dana dari Pemerintah Pusat


Sisi lain dari kemandirian adalah ketergantungan. Untuk melihat ketergantungan
daerah terhadap dana perimbangan dari pusat adalah dengan melihat proporsi dana
perimbangan terhadap total pendapatan daerah. Dengan demikian kita akan dapat melihat
seberapa besar anggaran dan pendapatan suatu daerah dibiayai dengan dana-dana dari
pemerintah pusat. DAU merupakan block grand dari pemerintah pusat yang pengelolaannya
menjadi kewenangan daerah secara otonom. Proporsi DAU terhadap total pendapatan daerah
memperlihatkan tingkat ketergantungan suatu daerah terhadap pemerintah pusat.
Tabel 2.14.
Proporsi DAU terhadap Pendapatan Daerah
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

% DAU terhadap Pendapatan Daerah


2004
2005
2006
3,4
7,1
11,3
29,5
27,1
40,7
19,2
16,5
23,5
54,1
52,1
66,2
36,1
31,7
45,1
66,4
63,1
71,1
2,9
3,4
57,8
21,6
15,9
24,2
NA
NA
15,7
NA
NA
21,1
35,4
32,5
37,1
54,3
52,0
52,9
20,7
17,5
22,6
44,6
37,4
45,2
52,0
42,9
68,0
53,8
48,9
65,4
65,1
58,9
35,6
70,8
67,0
65,2
34,9
29,7
51,6
64,5
59,2
61,7
18,4
16,2
32,4
43,8
38,3
47,8

PROVINSI
Prov. NAD
Total Prov. NAD
Prov. Sumatera Utara
Total Prov. Sumatera Utara
Prov. Sumatera Barat
Total Prov. Sumatera Barat
Prov. Riau
Total Prov. Riau
Prov. Riau Kepulauan
Total Prov. Kepulauan Riau
Prov. Jambi
Total Prov. Jambi
Prov. Sumatera Selatan
Total Prov. Sumatera Selatan
Prov. Bengkulu
Total Prov. Bengkulu
Prov. Lampung
Total Prov. Lampung
Prov. Bangka Belitung
Total Prov. Bangka Belitung
Total Prov. Sumatera
Total Pulau Sumatera

Keterangan: Prov Kepulauan Riau tahun 2004-2005 digabung dengan


Prov Riau, tidak tersedia data APBD Provinsi, hanya data Kabupaten/Kota

Secara rata-rata tingkat ketergantungan daerah-daerah (kabupaten/kota dan Provinsi)


di Wilayah Sumatera mencapai sekitar 40 persen. Namun untuk daerah provinsi tingkat
ketergantungan APBD terhadap dana dari pusat tidaklah telalu tinggi. Secara umun dari setiap
tahun, Provinsi Sumatera Utara, Jambi, dan Lampung selalu menjadi daerah dengan tingkat
ketergantungan kepada DAU paling besar. Sementara daerah-daerah yang memiliki
ketergantungan rendah diantaranya adalah Provinsi NAD, dan Riau dan Kepulauan Riau.

II - 40

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Isu Strategis Bidang Ekonomi Wilayah Pulau Sumatera


Berdasarkan fakta dan permasalahan tentang kondisi eksisting wilayah Pulau dan
hasil analisis yang telah dilakukan, dapat dirumuskan secara logis isu-isu strategis yang saling
terkait satu sama lain yang menjadi aspek kunci bagi keberhasilan pembangunan wilayah
Sumatera ke depan. Isu-isu strategis ini dipilih berdasarkan dampak penting yang dihasikan
dalam upaya memacu pembangunan dan pengembangan Wilayah Pulau Sumatera, sejalan
dengan arah kebijakan pembangunan di masing-masing provinsi, serta integrasi arah
pembangunan pada lingkup wilayah pulau dan pembangunan nasional. Rumusan Isu strategis
bidang ekonomi untuk Wilayah Pulau Sumatera dapat dilihat pada Boks 1.

Boks 1:
Isu Strategis Bidang Ekonomi :
Ketimpangan pendapatan antarprovinsi, terutama antar wilayah bagian
barat pantai Sumatera dan timur pantai Sumatera
Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan
pengembangan sektor unggulan daerah sebagai pendorong perekonomian
daerah
Rendahnya sistem pelayanan perijinan untuk pengembangan aktivitas
perdagangan komoditas komoditas unggulan export antarprovinsi dan
antarpulau
Masih terbatasnya ketersediaan infrastruktur penunjang kegiatan
perdagangan antarprovinsi dan antar pulau
Belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan,
serta terbatasnya prasarana dan sarana pendukung usaha perikanan
Belum optimalnya pemanfaatan lahan lahan kritis dan terlantar untuk
pengembangan kegiatan produktif pertanian (perkebunan dan peternakan).
Belum optimalnya komoditi unggulan daerah menjadi komoditas ekspor
dan rendahnya pengembangan industri pengolahan berbasis sumberdaya
lokal
Tingginya disparitas pendapatan masyarakat antar wilayah dan jumlah
kemiskinan di perkotaan
Merebaknya pencurian ikan dan meningkatnya kerusakan ekosistem
sumberdaya pesisir dan laut
Belum berkembangnya institusi kerjasama antar daerah dalam menjaring
investasi dan rendahnya investasi untuk pembangunan di wilayah pantai
barat Sumatera

II - 41

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.2. Kinerja Bidang Kependudukan dan


Sosial Ekonomi Masyarakat
2.2.1. Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Fakta dan Permasalahan

Pulau Sumatera menempati urutan kedua setelah Pulau Jawa-Bali untuk jumlah penduduk
(49.246 ribu jiwa), dan berdampak pada tingginya kepadatan penduduk terutama di
Provinsi Lampung dan Sumatera Utara.

Jumlah angkatan kerja tahun 2008 mencapai 22.433.030 jiwa, perkembangan selama kurun
waktu 2004-2008 meningkat sebesar 1,92 persen per tahun atau bertambah 403.492 jiwa
setiap tahunnya

Jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 20.572.669 jiwa dengan peningkatan sebesar 2,4
persen per tahun, tertinggi di Provinsi Sumatera Utara

Jumlah pengangguran terbuka tahun 2008 sebanyak 1.860.361 jiwa atau menurun sebesar
10,46 persen dari tahun 2004, tertinggi di Provinsi Sumatera Utara

Perkembangan pengangguran terbuka rata-rata menurun sebesar 7,24 persen per tahun
(54.320 jiwa per tahun). Jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Sumatera Utara

Jumlah pengangguran terkonsentrasi daerah pusat pertumbuhan (perkotaan), hal ini akan
berdampak terhadap munculnya masalah sosial yang terkait dengan kriminalitas dan
kerawanan sosial di perkotaan.

Masih banyaknya rumah tangga yang belum menggunakan alat penerangan listrik dari
listrik PLN, terutama daerah-daerah terisolir di Provinsi Bengkulu, Riau dan Lampung.

Kondisi Kependudukan
a.

Populasi dan Kepadatan Penduduk

Sensus penduduk Indonesia tahun 2000 mencatat bahwa penduduk Indonesia telah
mencapai lebih dari 200 juta jiwa, atau lebih tepatnya 205,14 juta jiwa. Ini menempatkan
Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Jumlah tersebut terus
berkembang, hingga diproyeksikan mencapai 222,75 juta jiwa di tahun 2006 dengan
pertumbuhan penduduk di tahun yang sama sebesar 1,6 persen. Tingkat populasi penduduk
provinsi di Pulau Sumatera dari tahun 2005-2007 mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Pada tahun 2007 jumlah penduduk tertinggi di Pulau Sumatera adalah di Provinsi Sumatera
Utara sebanyak 12,760 ribu jiwa, selanjutnya diikuti oleh Provinsi Lampung sebanyak 7.511
ribu jiwa, dan Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 6.976 ribu jiwa. Sedangkan jumlah
penduduk terrendah terdapat di Provinsi Bangka Belitung yaitu sebanyak 1.001 ribu jiwa dan
Kepulauan Riau sebanyak 1.394 ribu jiwa. Menurut tingkat kepadatan penduduk pada tahun
2007 seperti terlihat pada Gambar 2.12, tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di
Provinsi Lampung yaitu sebesar 212 jiwa/km2 dan tingkat kepadatan terrendah di Provinsi
Riau yaitu sebesar 54 jiwa /km2.

II - 42

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar. 2.12.
Perkembangan Jumlah Penduduk Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera Tahun 2005-2007 (ribu jiwa)
14,000.0
12,000.0
Penduduk (ribu jiwa)

2005

2006

2007

10,000.0
8,000.0
6,000.0
4,000.0

Prov insi

Kep. Riau

Kep. Babel

Be n g k u l u

Sumsel

J a mb i

Ri au

Sumbar

Sumut

NAD

L a mp u n g

2,000.0

(sumber: Hasil SUPAS 2005 dan Hasil Proyeksi Sensus Penduduk 2000)

250
200
150
100

b.

Kep. Riau

Kep. Babel

Bengk ul

Lampung

Provinsi

Sumsel

J ambi

Riau

Sumbar

Sumut

50
NAD

Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)

Gambar 2.13.
Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera Tahun 2007 (jiwa/km2)

Penduduk Menurut Kelompok Umur

Penduduk Pulau Sumatera bila didekomposisi menurut usia produktifnya, tampak


bahwa seluruh provinsi di Wilayah Sumatera mengalami kenaikan jumlah penduduk usia
produktif, kecuali Provinsi Sumatera Barat dan Riau. Kecenderungan ini ditunjukkan dengan
kenaikan proporsi penduduk usia produktif (penduduk usia 15-64 tahun) untuk kurun waktu
2002-2005. Di tahun 2005, proporsi tersebut berkisar antara 62 hingga 71 persen. Sebaliknya,
penduduk bukan usia produktif memiliki kecenderungan untuk menurun. Fenomena ini
merupakan potensi bagi Wilayah Sumatera karena kenaikan proporsi usia produktif dan
penurunan proporsi usia non-produktif akan menurunkan rasio tingkat ketergantungan
penduduk sehingga memberikan kesempatan bagi rumah tangga untuk memperbanyak
tabungan. Tabungan inilah yang nantinya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi
lebih cepat.

II - 43

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.15.
Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur
di Pulau Sumatera Tahun 2002-2005 (persen)
Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam

Sumatera Utara

Sumatera Barat

Riau

Jambi

Sumatera Selatan

Bengkulu

Lampung

Bangka Belitung

Kepulauan Riau

Kelompok Umur

2002

2003

2004

2005

0-14 tahun (%)

Na

32.58

32.17

Na

15-64 tahun (%)

Na

64.91

64.32

Na

64 tahun > (%)

Na

2.51

3.50

na

0-14 tahun (%)

34.16

33.64

33.74

33.68

15-64 tahun (%)

62.11

62.78

62.61

62.97

64 tahun > (%)

3.73

3.58

3.66

3.35

0-14 tahun (%)

32.69

32.71

32.40

32.16

15-64 tahun (%)

61.89

61.93

61.76

62.57

64 tahun > (%)

5.42

5.36

5.84

5.27

0-14 tahun (%)

32.60

32.59

32.69

32.80

15-64 tahun (%)

65.55

65.19

65.18

64.96

64 tahun > (%)

1.85

2.22

2.13

2.24

0-14 tahun (%)

32.19

31.16

31.00

31.21

15-64 tahun (%)

64.78

65.39

65.97

66.08

64 tahun > (%)

3.03

3.44

3.03

2.70

0-14 tahun (%)

32.18

31.91

31.02

30.24

15-64 tahun (%)

64.36

64.67

65.65

66.45

64 tahun > (%)

3.46

3.42

3.34

3.31

0-14 tahun (%)

33.04

32.58

31.92

31.80

15-64 tahun (%)

63.52

63.52

64.80

65.22

64 tahun > (%)

3.45

3.91

3.29

2.98

0-14 tahun (%)

32.50

31.93

31.21

30.27

15-64 tahun (%)

63.83

64.07

64.60

65.31

64 tahun > (%)

3.67

3.99

4.19

4.32

0-14 tahun (%)

33.24

32.26

30.12

29.44

15-64 tahun (%)

63.27

64.15

66.23

66.87

64 tahun > (%)

3.48

3.59

3.65

3.69

0-14 tahun (%)

na

na

na

27.16

15-64 tahun (%)

na

na

na

70.96

64 tahun > (%)

na

na

na

1.88

Sumber: Provinsi Dalam Angka, diolah dari Survei Penduduk Antar Sensus

Kondisi Ketenagakerjaan

Angkatan Kerja

Jumlah angkatan kerja di Pulau Sumatera dalam kurun tahun lima tahun terakhir
(2004-2008) cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan rata-rata
peningkatan sebesar 1,92 persen pertahun atau bertambah rata-rata sebanyak 403.492 jiwa
per tahun. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2004 sebesar 20.819.061 jiwa dan pada
Februari tahun 2008 mencapai 22.433.030 jiwa atau meningkat sebesar 7,75 persen dari
tahun 2004. Peningkatan jumlah angkatan kerja terbesar selama kurun waktu 2004-2008
II - 44

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 4,48 persen atau 987.113 jiwa dibanding tahun 2007.
perbandingan jumlah angkatan kerja antarprovinsi pada tahun 2008, jumlah angkatan kerja
paling banyak terdapat di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebanyak 5.930.892 jiwa atau 26,44
persen dari seluruh angkatan kerja di Wilayah Sumatera dan terrendah di Provinsi Bangka
Belitung sebanyak 501.386 jiwa atau sebesar 2,24 persen.
Gambar 2.14.
Jumlah Angkatan Kerja Setiap Provinsi di Pulau Sumatera
Tahun 2004-2008 (jiwa)
7,000,000

NAD

Angkatan Kerja (Jiwa)

6,000,000

Sumut
Sumbar

5,000,000

Riau
4,000,000

Jambi

3,000,000

Sumsel
Bengkulu

2,000,000

Lampung
Bangka Belitung

1,000,000

Kepulauan Riau *
0
2004

2005

2006

2007

2008
Tahun

Penduduk yang Bekerja


Jumlah penduduk yang bekerja di Pulau Sumatera dalam kurun tahun lima tahun
terakhir (2004-2008) cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan rata-rata
peningkatan sebesar 2,41 persen pertahun atau bertambah rata-rata sebanyak 457.812 jiwa per
tahun. Jumlah penduduk yang bekerja pada tahun 2004 sebesar 18.741.418 jiwa dan pada
Februari tahun 2008 mencapai sebanyak 20.572.669 jiwa pada tahun 2008 atau meningkat
sebesar 9,77 persen dari tahun 2004. Peningkatan jumlah penduduk yang bekerja terbesar
selama kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 19,56 persen atau
sebanyak 331.416 jiwa dibanding tahun 2007. Perbandingan jumlah penduduk yang bekerja
antarprovinsi pada tahun 2008, jumlah terbesar penduduk yang bekerja terdapat di Provinsi
Sumatera Utara yaitu sebanyak 5.364.414 jiwa atau 26,08 persen dari seluruh penduduk yang
bekerja di Wilayah Sumatera dan terrendah di Provinsi Bangka Belitung sebesar 2,30 persen
dari total penduduk yang bekerja di Wilayah Sumatera.

II - 45

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 2.15.
Jumlah Penduduk Bekerja Setiap Provinsi di Pulau Sumatera
Tahun 2004-2008 (jiwa)
6,000,000
NAD
Penduduk Bekerja (Jiwa)

5,000,000

Sumut
Sumbar

4,000,000

Riau
Jambi

3,000,000

Sumsel
Bengkulu

2,000,000

Lampung
Bangka Belitung

1,000,000

Kepulauan Riau *
0
2004

2005

2006

2007

2008
Tahun

Penggangguran Terbuka

Tingkat pengangguran terbuka di Wilayah Sumatera dalam kurun waktu lima tahun
terakhir (2004 - 2008) cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya, dengan rata-rata
penurunan sebesar 7,24 persen pertahun atau 54.320 jiwa pertahun. Pada tahun 2004 ratarata jumlah pengangguran sebanyak 2.077.643 jiwa dan pada tahun 2008 jumlah
pengangguran sebanyak 1.860.361 jiwa atau menurun sebesar 10,46 persen dari tahun 2004.
Jumlah pengangguran tertinggi pada tahun 2008 terdapat di Provinsi Sumatera Utara yaitu
sebanyak 566.478 jiwa atau 30,45 persen dari total pengangguran di Wilayah Sumatera
sedangkan jumlah pengangguran terrendah terdapat di Provinsi Bangka Belitung sebanyak
29.017 jiwa atau sebesar 1,56 persen dari total pengangguran di Wilayah Sumatera (lihat pada
lampiran 2. Tabel 6).
Dilihat dari PDRB Perkapita Wilayah Sumatera daerah-daerah di zona utara dan
tengah lebih tinggi dibandingkan dengan di zona selatan namun dilihat dari tingkat
pengangguran ternyata daerah-daerah di zona utara dan tengah lebih tinggi dibandingkan
dengan daerah zona selatan. Provinsi Sumatera Utara meskipun memiliki pendapatan
perkapita yang cukup besar dibandingkan provinsi lainnya, namun provinsi tersebut memiliki
jumlah pengangguran yang tinggi, yaitu sebanyak 566.478 jiwa.
Kondisi ini perlu
mendapatkan perhatian serius karena daerah-daerah yang menjadi pusat pertumbuhan dan
kegiatan ekonomi justru memperlihatkan tingkat pengangguran yang jauh lebih besar
dibandingkan daerah yang bukan pusat pertumbuhan ekonomi. Jika hal ini tidak
mendapatkan perhatian dan diatasi secara prioritas, dikhawatirkan kondisi tersebut akan
menimbulkan dampak terhadap permasalahan ekonomi dan sosial di wilayah tersebut
terutama akan munculnya masalah sosial yang terkait dengan kriminalitas dan kerawanan
sosial lainnya.

II - 46

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 2.16.
Jumlah Pengangguran Terbuka Setiap Provinsi di Pulau Sumatera
Tahun 2004-2008 (jiwa)
900,000
NAD

800,000

Sumut
Pengangguran (Jiwa)

700,000

Sumbar

600,000

Riau

500,000

Jambi

400,000

Sumsel
Bengkulu

300,000

Lampung
200,000

Bangka Belitung

100,000

Kepulauan Riau *

0
2004

2005

2006

2007

2008
Tahun

Tingkat Upah Minimum

Perkembangan tingkat upah pekerja dalam kurun waktur tahun 2002-2007, sejalan
dengan peningkatan kebutuhan pekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar daerah-daerah
yang perekonomiannya banyak ditopang oleh kegiatan sektor industri dan pertambangan
memiliki tingkat upah yang lebih besar dibandingkan dengan daerah-daerah yang
perekonomiannya berbasis pertanian. Hal ini terlihat dari besarnya upah minimum provinsi
(UMP) untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Riau yang merupakan UMP
tertinggi dibandingkan dengan daerah lainnya. Sementara di Provinsi Lampung dan Bengkulu
yang berbasis pertanian memiliki UMP paling rendah di antara 10 provinsi lainnya.
Secara geografis daerah-daerah di zona utara dan tengah merupakan daerah dengan
tingkat upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat upah di zona selatan. Hal ini
mengakibatkan tingkat kesejahteraan masyarakat (terutama pekerja) di zona selatan menjadi
lebih rendah dibandingkan dengan daerah di zona utara dan tengah.
Tabel 2.16.
Tingkat UMP di Wilayah Sumatera tahun 2002-2007 (Rupiah)
Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Bangka Belitung
Kepulauan Riau

2002
330.000
464.000
385.000
394.000
304.000
331.500
295.000
310.000
345.000
N.a.

2003
425.000
505.000
435.000
437.500
390.000
403.500
330.000
350.000
379.500
N.a.

Sumber: BPS Indikator Tingkat Hidup Pekerja

II - 47

2004
550.000
537.000
480.000
476.875
425.000
460.000
363.000
377.500
447.923
N.a.

2005
620,000
600,000
540,000
551,500
485,000
503,700
430,000
405,000
560,000
557,000

2006
820,000
737,794
650,000
637,000
563,000
604,000
516,000
505,000
640,000
760,000

2007
850,000
761,000
750,000
710,000
658,000
662,000
644,800
555,000
720,000
805,000

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.2.2. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat


Fakta dan Permasalahan

Jumlah penduduk miskin tahun 2000 sebanyak 7.148 ribu jiwa (5.082 ribu jiwa di perdesaan
dan 2.065 ribu jiwa di perkotaan), pada tahun 2008 sebanyak 7.294 ribu jiwa

Jumlah penduduk miskin di perdesaan dalam kurun waktu 2002-2008 menurun setiap
tahunnya, sebaliknya jumlah penduduk miskin di perkotaan terus meningkat.

Persentase kemiskinan tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 23,53 persen,
Lampung sebesar 20,98 persen, dan Bengkulu sebesar 20,64persen.

Provinsi NAD, Bengkulu, Nias, Sumatera Selatan, dan ujung selatan pulau Sumatera,
merupakan daerah-daerah yang memiliki indeks kedalaman kemiskinan paling parah.
Sementara Provinsi Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung tingkat kedalaman
kemiskinannya relatif lebih baik

Rata-rata Gini Ratio Sumatera sebesar 0.31, gini rasio tertinggi di Provinsi Lampung: 0.38,
dan terrendah di Kepulauan Riau: 0.27. Adanya disparitas tingkat pendapatan antar
golongan di Pulau Sumatera

Tingkat partisipasi sekolah tingkat menengah rendah rata-rata 350 siswa per sekolah.

Rata-rata lama sekolah RLS di Sumatera rata-rata 7,08 tahun, RLS tertinggi di Provinsi
Sumatera Utara (8 tahun) dan terrendah di Provinsi Lampung (6,4)

Angka Melek Huruf (AMH) tahun 1999-2006 meningkat rata-rata 0,69 persen, AMH tertinggi
di Provinsi Sumatera Utara sebesar 95,8 persen dan terrendah Provinsi Lampung sebesar
91,8 persen.

Infrastruktur ruang kelas yang kurang untuk tingkat pendidikan menengah (SMP dan SMA)
dan rendahnya aksesibilitas terhadap sekolah (terutama di tingkat pendidikan menengah),
dan tingginya biaya pendidikan

Rendahnya ketersediaan tenaga kesehatan, khususnya di Provinsi Lampung dan Jambi

Angka Harapan Hidup (AHH) tahun 199-2006 meningkat 1,35tahun per tahun, AHH
tertinggi di Provinsi Riau sebesar 70,8persen dan terrendah di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan Provinsi Bangka Belitung sebesar 68,3 persen.

II - 48

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

a. Kemiskinan dan Distribusi Pendapatan


Jumlah penduduk miskin di wilayah
Sumatera dalam kurun waktu 2000-2008
hampir 69,57 persen berada di perdesaan dan
di perkotaan sebesar 30,43 persen. Pada tahun
2000 jumlah penduduk miskin sebanyak 7.148
ribu jiwa yang tersebar 5.082 ribu jiwa di
perdesaan dan 2.065 ribu jiwa di perkotaan,
pada tahun 2002 bertambah menjadi 8.359
ribu jiwa, pada tahun 2003-2008 jumlah
penduduk miskin menurun hingga mencapai
7.294
ribu
jiwa
pada
tahun
2008.
Perkembangan jumlah penduduk miskin di
perdesaan (Tabel 2.17) tahun 2002-2008
menurun setiap tahunnya, sebaliknya di
perkotaan perkembangan jumlah penduduk
miskin menunjukkan perkembangan yang
cukup fluktuatif, dimana pada tahun 20022004 dan 2006-2008 menurun, namun pada
tahun 2004-2006 mengalami peningkatan.
Gambar 2.17, menunjukkan perkembangan
jumlah dan persentase penduduk miskin setiap
provinsi selama kurun waktu 2002-2008
menunjukkan trend yang menurun.

Tabel 2.17.
Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin
(Perkotaan-Perdesaan) di Pulau Sumatera
Tahun 2000-2008 (ribu jiwa)
Tahun

Perkotaan

Perdesaan

Total

2000

2.065

5.082

7.148

2001

1.303

5.488

6.790

2002

2.478

5.882

8.359

2003

2.334

5.668

8.002

2004

2.209

5.791

8.000

2005

2.702

5.312

8.014

2006

2.911

5.309

8.220

2007

2.748

5.096

7.843

2008

2.568

4.726

7.294

Sumber: BPS 2008

Sedangkan berdasarkan penyebarannya (Gambar 2.17a dan 2.17b), distribusi terbesar


jumlah penduduk miskin terdapat di Provinsi Sumatera Utara, yaitu sebanyak 1.613,8 ribu
jiwa (22,1 persen) yang tersebar 761,7 ribu jiwa di perkotaan dan 852,1 jiwa di perdesaan dan
Provinsi Lampung sebanyak 1.591,6 ribu jiwa (21,8 persen) yang tersebar 1.226 ribu jiwa di
perdesaan dan 365,6 ribu jiwa di Perkotaan. Namun dilihat berdasarkan persentase penduduk
miskin, persentase tingkat kemiskinan tertinggi berada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
yaitu sebesar 23,53 persen (26,3 persen di perdesaan dan 16,67 persen di perkotaan), Provinsi
Lampung sebesar 20,98 persen (22,14 persen di perdesaan dan 17,01 persen di perkotaan, dan
Bengkulu sebesar 20,64 persen (21,95 persen di perkotaan dan 19,93 persen perdesaan).
Gambar 2.17.
Perkembangan Jumlah (a) dan Persentase (b) Penduduk Miskin
Setiap Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2000-2008 (ribu jiwa)
35

30

2.000
Penduduk Miskin (%)

penduduk miskin (ribu jiwa)

2.500

1.500

1.000

500

25

20

15

10

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Tahun

NAD
Riau
Bengkulu
Kepulauan Riau

Sumatra Utara
Jambi
Lampung

Sumatra Barat
Sumatra Selatan
Bangka Belitung

2006

2007

2008

Tahun
NAD
Riau
Bengkulu
Kepulauan Riau

Sumatra Utara
Jambi
Lampung

Sumatra Barat
Sumatra Selatan
Bangka Belitung

Berdasarkan nilai index gini rasio Tabel 2.18, disparitas pendapatan daerah tidak
terlalu besar tetapi memperlihatkan kecenderungan semakin meningkat. Kecenderungan
II - 49

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

disparitas yang semakin meningkat di setiap provinsi di Pulau Sumatera diperlihatkan dari
nilai rata-rata yang semakin meningkat dari tahun 1999 hingga tahun 2007 yaitu 0,25 pada
tahun 1999, menjadi 0,31 pada tahun 2002, dan kemudian turun menjadi 0,27 pada tahun
2007. Provinsi Bangka Belitung memiliki disparitas terrendah di tahun 2007 yakni mencapai
0,22 dan Provinsi Kepulauan Riau adalah provinsi dengan disparitas tertinggi yakni 0,29.
Provinsi Lampung pada tahun 2002 nilai gini rasionya mengalami penurunan dari 0,26 tahun
2003 menjadi 0,29, namun kembali meningkat tajam di tahun 2005 hingga mencapai 0,36,
dan turun kembali pada tahun 2007 menjadi 0,24. Sementara Provinsi Riau di tahun 2005
nilai gini rasionya mengalami penurunan dibandingkan tahun 2002 yakni dari 0,32 kemudian
sedikit menurun menjadi 0,27 pada tahun 2007.
Tabel 2.18.
Perkembangan Gini Rasio Setiap Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2002-2007.
Provinsi
Nanggroe Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Bengkulu
Lampung

2002
0,25
0,27
0,27
0,3

2003
0,28
0,27
0,27
0,3

2004
0,28
0,27
0,29
0,3

0,25
0,28
0,41
0,3
0,26

0,24
0,25
0,24
0,27
0,29

0,24
0,26
0,26
0,29
0,28

2005
0,31
0,32
0,32
0,34
0,31
0,29
0,31
0,31
0,36

2006
0,31
0,29
0,3
0,31
0,35
0,29
0,31
0,27
0,29
0,31

2007*)
0,28
0,27
0,27
0,27
0,29
0,25
0,25
0,22
0,26
0,24

Sumber: BPS 2007; *) olahan tim studi

b. Pendidikan

Rasio Murid terhadap Sekolah

Pendidikan merupakan salah satu parameter keberhasilan pembangunan,


sebagaimana tertuang dalam struktur penyusunan Indeks Pembangunan Manusia yang
ditunjukkan melalui tingkat melek huruf di suatu daerah. Semakin tinggi infrastruktur
pendidikan yang dapat dibangun, maka semakin tinggi pula suatu daerah memiliki
kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dimiliki oleh masyarakatnya.
Dengan demikian, kualitas pembangunan manusianya akan semakin tinggi. Adapun kualitas
dari pendidikan dapat dilihat dari beberapa ukuran, yaitu rasio murid/sekolah, rasio
guru/sekolah, dan rasio murid/guru.
Semakin kecil rasio murid/sekolah menunjukkan bahwa fasilitas sekolah mampu
memberikan pengawasan dan pelayanan pendidikan yang lebih baik kepada masyarakat,
khususnya kepada para murid. Dari level pendidikan dasar sampai menengah (SD, SMP, dan
SMA) tampak bahwa rasio terrendah ada pada tingkat Sekolah Dasar, diikuti SMP, kemudian
SMA. Meskipun begitu, secara umum terjadi penurunan rasio dari tahun 2004 hingga tahun
2006. Perkembangan rasio murid sekolah disajikan pada lampiran 2 tabel 15.
Untuk Pendidikan dasar, yaitu di tingkat SD, rasio tertinggi terdapat di Provinsi
Lampung, sedangkan yang terrendah terdapat di Provinsi Jambi dan Bangka Belitung. Untuk
Pendidikan Menengah yaitu SMP dalam tiga tahun terakhir, tingkat terrendah terdapat di
Provinsi Jambi, dan bahkan menunjukkan penurunan yang kontinyu. Sedangkan untuk
tingkat SMA, angka tertinggi terdapat di Provinsi Sumatera Barat, sedangkan untuk
pendidikan kejuruan atau SMK dan setara, angka tertinggi terdapat di Provinsi Riau dan
terrendah terdapat di Provinsi Lampung, dengan tingkat pertumbuhan yang variatif di setiap
provinsi di Pulau Sumatera.

Rasio Guru terhadap Sekolah

Guru merupakan penopang utama dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.


Semakin kecil rasio guru per sekolah maka semakin rendah pula kualitas pendidikan serta
efektivitas kegiatan belajar mengajar di kelas. Dari tiga level pendidikan tersebut, tingkat

II - 50

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Sekolah Dasar memiliki rasio guru per sekolah terrendah di seluruh wilayah, diikuti oleh
tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas memiliki rasio guru per
sekolah tertinggi di seluruh wilayah. Hal ini menunjukkan masih rendahnya pembangunan
infrastruktur pendidikan pada tingkat sekolah dasar. Secara keseluruhan tidak terjadi
peningkatan yang signifikan di setiap provinsi (dapat di lihat pada lampiran 2 Tabel 16).

Rasio Murid Terhadap Guru

Dari sisi rasio murid terhadap guru, terdapat perkembangan yang berarti untuk
beberapa daerah dan level, yang ditandai dengan semakin rendahnya rasio tersebut dari tahun
ke tahun. Untuk level SMP, SMA, dan SM kejuruan, setiap provinsi mengalami penurunan
rasio dalam kurun waktu 2004-2006. Akan tetapi, hal yang sama tidak diikuti oleh tingkat SD,
hampir semua provinsi di Pulau Sumatera mengalami pertambahan rasio. Artinya, kenaikan
partisipasi penduduk untuk bersekolah di tingkat SD tidak diimbangi oleh pertambahan
tenaga pengajar yang seimbang. Fenomena ini harus dicermati dengan serius mengingat
pemenuhan pendidikan dasar merupakan bagian dari program wajib belajar 9 tahun yang
telah dicanangkan oleh pemerintah pusat, yang dicapai melalui infrastruktur pendukung yang
memadai di sektor pendidikan (disajikan pada lampiran 2 Ttabel 17).

Tingkat Partisipasi Sekolah

Gambar 2.18, menyajikan informasi mengenai perkembangan rasio tingkat partisipasi


sekolah murid usia 7-12 tahun dan 13-15 tahun sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 di setiap
provinsi di Pulau Sumatera. Informasi tersebut merepresentasikan persentase penduduk pada
tingkat umur tersebut yang mengenyam pendidikan. Lebih jauh lagi, ukuran ini dapat
digunakan sebagai parameter aksesibilitas infrastruktur pendidikan. Secara umum, terjadi
peningkatan partisipasi sekolah di seluruh Wialayah Sumatera. Hal ini menunjukkan
terjadinya peningkatan aksesibilitas pendidikan seluruh provinsi.
Pada tahun 2004 dan 2006, Provinsi NAD memiliki rasio tingkat partisipasi sekolah
tertinggi untuk kedua kategori rentang usia. Sementara, Provinsi Bangka Belitung memiliki
rasio tingkat partisipasi sekolah terrendah untuk kedua kategori rentang usia di waktu yang
sama. Sedangkan Provinsi yang menunjukkan trend positif dalam tiga tahun terakhir (2004
2006) adalah Provinsi Riau. Secara keseluruhan, rasio tingkat partisipasi sekolah untuk
kategori rentang usia 7-12 tahun menunjukkan persentase yang lebih tinggi dari kelompok usia
13-15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa aksesibilitas pendidikan dasar untuk kelompok usia
7-12 tahun lebih tinggi dari aksesibilitas pendidikan menengah pertama untuk kelompok usia
13-15 tahun. Salah satu penyebab dari fenomena tersebut adalah semakin besarnya biaya
pendidikan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi diikuti oleh ketidakmampuan orang
tua dalam memenuhinya.
Gambar 2.18.
Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera Tahun 2004-2006.
120

NAD
Sumatra Utara

100

Sumatra Barat
80
Riau
60

Jambi

40

Sumatera
Selatan
Bengkulu

20
Lampung
0

Babel
2004

2005
7-12 Tahun

2006

2004

2005
13-15 Tahun

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, BPS 2004-2006

II - 51

2006
Kepri

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Rata-rata Lama Bersekolah

Salah satu indikator pendidikan untuk melihat baik atau buruknya tingkat pendidikan
di suatu wilayah dapat ditentukan dengan rata-rata lama sekolah yang ditempuh oleh
masyarakat di wilayah tersebut. Gambar 2.19, menunjukkan kondisi perkembangan angka
rata-rata lama sekolah di wilayah Sumatera, perkembangan rata-rata lama sekolah untuk
provinsi-provinsi di wilayah Sumatera menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun (19992006). Hal ini dapat dilihat dari terjadinya kenaikan rata-rata lama sekolah secara bertahap
sejak tahun 1999 hingga tahun 2006. Pada Tahun 1999, rata-rata lama sekolah di wilayah
Sumatera adalah 7,08 tahun dengan rata-rata lama sekolah tertinggi berada di Provinsi
Sumatera Utara sebesar 8 tahun, sementara wilayah yang memiliki tingkat pendidikan
terrendah di tahun yang sama adalah Provinsi Lampung dengan rata-rata lama sekolah 6,4
tahun. Dengan semakin meningkatnya program wajib belajar sembilan tahun yang
dicanangkan oleh pemerintah mendorong terhadap meningkatnya angka rata-rata lama
sekolah disetiap wilayah, sebesar 20 persen. Pertumbuhan serta perbaikan tingkat pendidikan
selama kurun waktu 1999-2006 di Wilayah Sumatera juga turut berdampak pada semakin
baiknya kualitas pendidikan sumber daya manusia di Jawa dan Bali.

Gambar 2.19.
Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera Tahun 1999, 2002, 2005 dan 2006. (tahun)
10

RLS (Tahun)

8
6
4
2

Kep. Riau

Kep. Babel

Lampung

Bengkulu

Sumsel

Jambi

Riau

Sumbar

Sumut

NAD

Provinsi
1999

2002

2005

2006

Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan Daerah, BPS 2006

Angka Melek Huruf ( AMH)

Angka Melek Huruf merupakan salah satu indikator untuk mengetahui kualitas
sumberdaya manusia suatu bangsa yang tertuang dalam IPM. Selain itu, angka melek huruf
juga menunjukkan keberhasilan pendidikan yang berujung pada terwujudnya masyarakat yang
cerdas serta semakin rendahnya persentase masyarakat buta huruf. Secara keseluruhan,
terjadi peningkatan persentase angka melek huruf di Wilayah Sumatera sejak tahun 1999
hingga tahun 2006, rata-rata meningkat sebesar 0,69 persen. Hal ini menunjukkan
keberhasilan pembangunan infrastruktur pendidikan di Sumatera dalam meningkatkan
kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut. Provinsi yang memiliki angka melek huruf
terrendah di tahun 1999 adalah Provinsi Lampung yaitu sebesar 91,8 persen (Gambar 2.20),
sementara provinsi yang memiliki angka melek huruf tertinggi pada tahun yang sama adalah

II - 52

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 95,8 persen. Namun dilihat dari perkembangannya
selama kurun waktu 1999-2006, tingkat perkembangan angka melek huruf di setiap provinsi
rata-rata mengalami perbaikan, hal ini terlihat dari angka melek huruf pada tahun 2006 ratarata di Wilayah Sumatera sebesar 95,9 persen jauh jika dibandingkan dengan rata-rata angka
melek huruf tahun 1999 yaitu sebesar 93,84 persen dan 7 dari 1o provinsi memiliki angka
melek huruf di atas rata (seperti: Provinsi NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi,
Sumatera Selatan, dan Kep. Riau). Sementara untuk Provinsi Bengkulu, Lampung dan Bangka
Belitung berada dibawah rata-rata, namun dibandingkan terhadap tahun 1999 angka melek
huruf ketiga provinsi tersebut meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya kualitas
pendidikan di wilayah Sumatera selama kurun waktu 1999-2006 sangat ditunjang dengan
penyeleggaraan program-program pendidikan yang cukup baik dan dukungan
penyelenggaraan pembangunan infrastruktur pendidikan yang lebih memadai.

Gambar 2.20.
Perkembangan Angka Melek Huruf (AMH) Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera, Tahun 1999,2002,2005 dan 2006. (persen)
100
98

AMH (%)

96
94
92
90

Kep. Riau

Kep. Babel

Lampung

Bengkulu

Sumsel

Jambi

Riau

Sumbar

Sumut

NAD

88

Provinsi
1999

2002

2005

2006

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Indonesia, BPS, Bappenas UNDP 2007

c. Kesehatan

Fasilitas Kesehatan

Di bidang kesehatan, tampaknya fasilitas yang dimilliki oleh Wilayah Sumatera


semakin bertambah. Dari tiga parameter fasilitas kesehatan, hampir seluruh provinsi
mengalami kecenderungan pertambahan fasilitas. Untuk kategori rumah sakit, setiap provinsi
mengalami kenaikan meskipun tidak terlalu tinggi kecuali Provinsi Bengkulu, Bangka Belitung
dan Sumatera Barat yang tidak mengalami perubahan dalam kurun 2002-2006. Demikian
pula halnya dengan puskesmas yang terus mengalami pertambahan fasilitas, kecuali Provinsi
Bengkulu, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau yang justru mengalami penurunan di tahun
2005. Adapun untuk puskesmas pembantu, terdapat penurunan untuk Provinsi NAD,
Bengkulu dan Bangka Belitung (dapat dilihat pada lampiran 2 Tabel 18).

II - 53

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Sumber Daya Kesehatan

Untuk tenaga pendukung pelayanan kesehatan sendiri, terdapat perbedaan


perkembangan jumlahnya antara tahun 2003 dengan tahun 2005. Secara umum jumlah
tenaga kesehatan yang ada di Wilayah Sumatera mengalami penurunan jumlah yang cukup
signifikan. Penurunan ini terlihat di Provinsi NAD, yaitu kurang lebih 70 persen. Hal ini
dikarenakan NAD mengalami bencana gempa yang sangat besar dan membawa korban besar.
Provinsi yang masih memiliki tenaga kesehatan cukup tinggi di tahun 2005 terdapat di
Provinsi Sumatera Utara, bahkan di provinsi ini mengalami kenaikan dari segi tenaga non
medis. Sedangkan secara umum, hanya tenaga keterapian yang mengalami peningkatan di
seluruh provinsi. Sedangkan tenaga medis lainnya mengalami penurunan dalam hal jumlah
(disajikan pada lampiran 2 Tabel 19).

Angka Harapan Hidup (AHH) dan Angka Kematian Bayi (AKB)

Derajat kesehatan penduduk di Pulau Sumatera berdasarkan indikator AKB dan AHH,
Gambar 2.20, menunjukkan perkembangan AKB provinsi-provinsi di Sumatera dalam dua
titik tahun (2003 dan 2005) menunjukkan adanya perbaikan, dimana persentase AKB pada
tahun 2005 semakin menurun. Perbandingan antarprovinsi di Sumatera menunjukkan
bahwa pada tahun 2002/2003 AKB tertinggi berada di Provinsi Lampung sebesar 55 kematian
per 1.000 kelahiran hidup, dan terrendah di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 30
kematian/1.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2005 AKB tertinggi berada di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 39 kematian/1.000 kelahiran hidup dan AKB
terendah berada di Provinsi Sumatera Utara sebesar 27 kematian/1.000 kelahiran hidup.
Gambar 2.20.
Perkembangan Angka Kematian Bayi (AKB) Setiap Provinsi
di Pulau Sumatera, Tahun 2002/2003 dan 2005 (persen)
60

40
30
20

2002-2003

2005

II - 54

KEP.
BABEL

LAMPUNG

BENGKULU

SUMSEL

JAMBI

RIAU

SUMBAR

SUMUT

10
NAD

AKB (%)

50

Provinsi

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 2.21.
Perkembangan Angka Harapan Hidup (AHH) Setiap Provinsi
di Pulau Sumatera, Tahun 1999,2002,2005 dan 2006

(Tahun)
72
70
A H H (T ah u n )

68
66
64
62

K e p . R ia u

Kep. Babel

Lam pung

B e n g k u lu

Sum s el

J am bi

R ia u

Sum bar

Sum ut

60
N AD

Keberadaan
fasilitas
dan
tenaga kesehatan seperti yang telah
dijabarkan di atas, menjadi salah satu
kunci penting dalam meningkatkan
harapan
hidup
penduduk.
Meningkatnya jumlah fasilitas dan
tenaga pelayanan kesehatan di
beberapa
Provinsi
Sumatera
diharapkan
dapat
meningkatkan
tingkat harapan hidup penduduknya.
Meskipun jumlah tenaga kesehatan di
Pulau
Sumatera
mengalami
penurunan akan tetapi angka harapan
hidup di setiap provinsi selama kurun
waktu
1999-2006
mengalami
peningkatan setiap tahunnya (Gambar
2.21), hal ini ditunjukkan dengan
rata-rata angka harapan hidup
Wilayah Sumatera pada tahun 2006
sebesar 68,91 tahun lebih tinggi
dibandingkan AHH tahun 1999 (64,87
tahun) atau rata-rata meningkat
sebesar 1,35 tahun per tahun.

Provinsi
1999

2002

2005

2006

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Indonesia BPS, Bappenas


UNDP, 2005

Pada tahun 2006, provinsi dengan AHH tertinggi terdapat di Provinsi Riau yaitu
sebesar 70,8 tahun, sedangkan angka harapan hidup terrendah terdapat di Provinsi Bangka
Belitung dan Nanggroe Aceh Darussalam dengan angka harapan hidup sebesar 68,3 tahun.

Status Gizi Balita

Indikator kesehatan lainnya yang menggambarkan kondisi kesehatan di wilayah


Sumatera adalah persentase balita dengan status gizi. Dimana status gizi dikategorikan
kedalam satus balita dengan gizi buruk, gizi kurang, gizi normal dan gizi lebih. Gambar 2.22,
menggambarkan kondisi balita dengan status gizi buruk dalam kurun waktu 2003-2005
menurun, kecuali di Provinsi Riau, Bangka Belitung, dan Sumatera Barat meningkat.
Sebaliknya untuk kondisi balita dengan status gizi kurang hampir di semua provinsi
meningkat, kecuali di provinsi Sumatera Utara menurun. Persentase gizi buruk tertinggi pada
tahun 2005 terdapat di Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara masing-masing sebesar
10,81 persen dan 10,45 persen, sedangkan untuk status gizi buruk persentase tertinggi
terdapat di Provinsi Sumatera Barat yaitu sebesar 19,63 persen.
Gambar 2.22.
Perkembangan Balita Menurut Status Gizi buruk dan Gizi Kurang Setiap Provinsi
di Pulau Sumatera, Tahun 2002, 2003 dan 2005 (persen)
12.00

2002

2003

22.00

2005

2002
Gizi Kurang (%)

14.00

10.00
8.00
6.00
4.00
2.00
-

2003

2005

20.00
18.00

16.00
14.00

12.00
10.00

P r o v i n si

II - 55

Provinsi

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

d. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Indeks pembangunan manusia (Human Development Index), sebagai ukuran kualitas
hidup manusia, di kawasan Sumatera, memperlihatkan adanya peningkatan pada beberapa
provinsi dalam kurun waktu 1996-2005. Nilai tersebut berkisar antara 68.0 (Sumatera
Selatan) hingga 70.6 (Riau) di tahun 1996 dan meningkat menjadi 68.8 (Lampung) hingga
73.6 (Riau). Dalam kurun waktu tersebut, seluruh daerah di Pulau Sumatera mengalami
kenaikan. Penurunan nilai indeks di setiap provinsi secara signifikan terjadi pada tahun 1999
sebagai akibat dari krisis moneter yang menurunkan daya beli masyarakat. Akan tetapi,
recovery terhadap krisis terus terjadi yang dicerminkan oleh meningkatnya indeks tersebut
secara persisten sehingga menghasilkan indeks yang lebih besar dibandingkan masa sebelum
krisis.
Tabel 2.19.
Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Setiap Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 1999-2007
Provinsi

1999

2002

2004

2005

2006

2007

65,3

66,0

68,7

69,0

69,4

69,70

SUMUT

66,6

68,8

71,4

72,0

72,5

73,11

SUMBAR

65,8

67,5

70,5

71,2

71,6

72,31

RIAU

67,3

69,1

72,2

73,6

73,8

75,24

KEPRI

70,8

72,2

72,8

74,24

NAD

JAMBI

65,4

67,1

70,1

71,0

71,3

72,22

SUMSEL

63,9

66,0

69,6

70,2

71,1

71,71

BABEL

65,4

69,6

70,7

71,2

72,33

BENGKULU

64,8

66,2

69,9

71,1

71,3

72,53

LAMPUNG

63,0

65,8

68,4

68,8

69,4

69,81

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2007

e. Perumahan dan Lingkungan


Berikut ini grafik yang menunjukkan mengenai kualitas lingkungan pemukiman
dilihat dari Penggunaan Fasilitas Pemukiman, yang terdiri dari Penggunaan Air bersih,
Penduduk Teraliri PAM, Penggunaan Jamban, dan Penggunaan Listrik.
Gambar 2.23.
Tingkat Penggunaan Fasilitas Permukiman
Tingkat Penggunaan Fasilitas Pemukiman
100%

80%

60%

40%

74.56%

77.64%

Penggunaan Jamban

Penggunaan Listrik

45.66%
41.75%

20%

0%
Penggunaan Air Bersih

Penduduk teraliri PAM

II - 56

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Jumlah Penduduk Tanpa Akses Air Bersih

Dalam sektor pembangunan infrastruktur perumahan dan lingkungan, Wilayah


Sumatera mengalami perbaikan selama kurun waktu 1995-2002. Hal ini dibuktikan dengan
menurunnya persentase jumlah masyarakat tanpa air bersih di setiap provinsi. Pada tahun
1995, masyarakat yang tidak memiliki akses air bersih berkisar antara 50-70 persen, adapun
persentase tertinggi terdapat di Provinsi Riau sebesar 73,4 persen. Selama delapan tahun,
pembangunan infrastruktur yang ada mampu memangkas keterbatasan akses terhadap air
bersih hingga pada kisaran 40-59 persen. Dalam hal ini, Provinsi Sumatera Utara sebagai
provinsi dengan persentase penduduk tanpa akses air bersih terrendah sebesar 41,8 persen
dan Provinsi Riau masih menjadi provinsi dengan persentase tertinggi sebesar 58,9 persen.
Gambar 2.24.
Jumlah Penduduk Tanpa Air Bersih Menurut Provinsi di Pulau Sumatera

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Indonesia BPS, Bappenas UNDP, 2002

f.

Bahan Bakar untuk Penerangan

Berdasarkan data yang ada, sarana penerangan (aliran listrik) belum menjangkau
seluruh kawasan Sumatera. Dari seluruh penerangan yang ada, PLN tetap menjadi provider
utama energi listrik yang mampu melayani lebih dari 60 persen di Wilayah Sumatera. Bahkan
untuk penerangan, Pulau Sumatera masih memakai penerangan non listrik. Hal ini terlihat di
tahun 2004-2006, setiap provinsi masih memiliki kisaran 10-20 persen penerangan memakai
sumber non listrik. Provinsi yang masih banyak memakai penerangan non listrik terdapat di
Provinsi Bengkulu. Sedangkan coverage area listrik PLN di tahun 2006, tertinggi terdapat di
Provinsi Sumatera Utara dengan cakupan hampir 90 persen sedangkan coverage terkecil
dipegang oleh Provinsi Riau dengan besaran 57 persen. Dari segi perkembangannya, listrik
PLN adalah sumber penerangan yang tersebesar yakni berkisar antara 81,57 persen (di
Provinsi NAD) dan terrendah di Provinsi Lampung sebesar 64 persen. Sumber penerangan
lainnya adalah Listrik Non PLN dan Non Listrik dimana Provinsi Lampung adalah wilayah
yang paling banyak penduduknya berpenerangan non listrik (selengkapnya dapat di lihat pada
lampiran 2 Tabel 20).

II - 57

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Analisis Spasial
Untuk melihat keterkaiatan antar wilayah dalam beberapa aspek digunakan pengujian
beberapa variabel yang diduga memiliki keterkaitan atar wilayah dalam satu provinsi.
Terdapat 6 variabel yang akan dilihat keterkaitan antar wilayahnya, yaitu Persentase
Penduduk Miskin, Indeks Kedalaman Kemiskinan, Angka Melek huruf penduduk usia 15
tahun ke atas, Angka partisipasi Sekolah 7-12 tahun, Angka pertisipasi sekolah 13-15 tahun,
dan terakhir adalah persentase penolong persalinan pertama oleh tenaga kesehatan.
Tabel 2.20 dibawah menunjukkan hasil uji statistik Morans I terhadap variabel terikat dan
variabel bebas yang digunakan dalam model. Interaksi antar kota/kabupaten yang digunakan
adalah simple contiguity (fisrt order contiguity-rook).
Tabel 2.20.
Hasil Uji Statistik Morans Interaksi Antar Kabupaten Kota
2004
Variabel

Moran's I

Randomisasi

2006
Spatial
Lag

Moran's I

Persentase
0,3209
***
***
0,4103
penduduk miskin
Indeks
Kedalaman
0,3829
***
***
0,3471
Kemiskinan
Angka melek
0,0327
0,0228
huruf 15+
Angka partisipasi
sekolah 7-12
0,1062
**
-0,0298
tahun
Angka partisipasi
sekolah 13-15
0,0980
*
0,0488
tahun
Persentase
penolong
persalinan
0,3115
***
***
0,3115
pertama oleh
tenaga kesehatan
Keterangan: ***, **, * menunjukkan signifikan pada alfa 1, 5 dan 10 persen

Randomisasi

Spatial Lag

***

***

***

***

***

***

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa pada tahun 2004, ke-enam yang hendak
diteliti memiliki memiliki nilai Morans I yang positif dan kecuali variabel angka melek huruf
+15 tahun, semuanya signifikan. Hal ini berarti bahwa terdapat autokorelasi spasial positif.
Artinya, nilai-nilai yang relatif sama cenderung mengelompok (clustering); nilai tinggi
berkelompok dengan nilai tinggi dan nilai rendah berkelompok dengan nilai rendah.
Untuk memperkuat pengujian ada tidaknya keterkaitan spasial antar wilayah (dalam
hal ini kabupaten/kota) di Wilayah Sumatera, digunakan model spatial lag. Setelah pada
pengujian pertama diperoleh hasil bahwa seluruh variabel bernilai positif, dan ternyata setelah
diuji dengan model spatial lag, variabel prosentase penduduk miskin, indeks kedalaman
kemiskinan, dan variabel persentase penolong persalinan pertama oleh tenaga medis yang
signifikan. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa terdapat indikasi yang kuat secara
spatial antara untuk ketiga indikator tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa, terdapat kecenderungan terjadinya wilayah-wilayah
kabupaten/kota yang memiliki persentase penduduk miskin tinggi berkelompok (berdekatan)
dengan daerah-daerah yang sama. Demikian juga dengan daerah-daerah dengan Indeks
Kedalaman Kemiskinan yang sama dan serta wilayah-wilayah yang memiliki persentase
penolong persalinan pertama oleh tenaga kesehatan tinggi cenderung berkelompok. Indikasi

II - 58

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

lain yang terlihat adalah bahwa besarnya penduduk miskin di suatu daerah, indeks kedalaman
kemiskinan suatu daerah, dan besarnya persentase penolong pertama di suatu wilayah,
dipengaruhi oleh keberadaan variabel-variabel yang bersangkutan di daerah sekitarnya
(daerah tetangganya).
Gambar 2.25 menunjukkan perbandingan besaran Indeks Kedalaman Kemiskinan
antar kabupaten/kota di Sumatera pada tahun 2004. Semakin gelap warnanya, semakin tinggi
Indeks Kedalaman Kemiskinan (semakin parah tingkat kemikinan penduduknya) di
kabupaten/kota tersebut. Terlihat bahwa daerah-daerah seperti NAD, Bengkulu, Nias,
Sumatera Selatan, dan ujung selatan Pulau Sumatera, merupakan daerah-daerah yang
memiliki indeks kedalaman kemiskinan paling parah. Sementara daerah-daerah seperti
wilayah Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung tingkat kedalaman kemiskinannya relatif lebih
baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.
Hampir sama yang terjadi dengan tahun 2004, di tahun 2006, variavel yang tidak
signifikan juga hanya persentase penduduk miskin. Sementara nilai Morans I untuk variabel
Angka Partisipasi Sekolah 7-12 tahun negatif walaupun signifikan. Sedangkan kelima variabel
lainnya memiliki nilai Morans I yang positif dan signifikan, sehingga bisa dikatakan terdapat
autokorelasi spasial positif. Artinya, nilai-nilai yang relatif sama cenderung mengelompok
(clustering). Dari pengujian model spatial lag, ternyata juga ada tiga variabel yang signifikan
yakni sama dengan tahun 2004 (Index Kedalaman Kemiskinan, Namun, dan variabel
Persentase Penolong Persalinan Pertama oleh tenaga Kesehatan).
Masih sama seperti kondisi tahun 2004, ketiga variabel diatas merupakan variabelvariabel yang memiliki indikasi kuat adanya keterkaitan spasial untuk keenam variabel
tersebut. Artinya wilayah-wilayah yang memiliki Indeks Kedalaman Kemiskinan tinggi masih
cenderung berkelompok. Sedikit berbeda dengan hasil tahun 2004, di tahun 2006 Variabel
Prosentase Penduduk Miskin merupakan variabel yang paling besar memiliki keterkaitan,
menggantikan variabel Indeks Kealaman Kemiskinan yang di tahun sebelumnya paling tinggi.
Dari pengujian ini juga memperlihatkan bahwa kondisi Kedalaman Kemiskinan, Tingkat
Kemiskinan, dan persentase penolong persalinan pertama oleh tenaga kesehatan di suatu
wilayah juga masih dipengaruhi oleh kondisi indikator-indikator tersebut di wilayah
tetangganya.
Gambar berikut menunjukkan perbandingan persentase penduduk miskin di wilayah
Sumatera pada tahun 2006. Semakin gelap warnanya, semakin tinggi pula persentase
penduduk miskin di kabupaten/kota tersebut.

II - 59

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 2.25.
Perbandingan Tingkat Persentase Penduduk Miskin 2004

KOTA SABA NG

KOTA BAND AA CEH


KAB. AC EHB ESAR

KOTA LHOK SEUM AW E


KAB. BI REUE N
KAB. PI DI E

KAB. AC EHU TARA

KAB. AC EHJ A YA
KAB. BEN ER MER IAH
KAB. AC EHT IM UR
KAB. AC EHT ENGA H

KOTA LANG SA

KAB. AC EHB ARAT

KAB. AC EHT AMI ANG


KAB. NA GAN RAYA
KAB. NA TUNA
KAB. GA YO LUES
KAB. AC EHB ARAT DAYA
KAB. LANG KAT
KOTA MED AN
KOTA BI NJAI
KAB. DE IL S ERDA NG
KAB. SER DANG BE DAG AI

KAB. AC EHT ENGG ARA


KAB. AC EHS ELATAN

KAB. KAR O
KOTA TANJU NG BALAI

KOTA PEM ATANG SI ANTA R


KAB. DA IRI

KAB. ASA HAN

KAB. SI MALU NGU N

KAB. SI MEU LUE


KAB. PAK PAK BHAR AT
KAB. AC EHS ING KIL
KAB. SAM OSI R
KAB. TO BAS AMO SIR
KAB. LABU HAN BATU

KAB. HU MBAN G HASU NDUTA N


KAB. TAPA NULI UT ARA
KAB. TAPA NULI TEN GAH
KOTA SI BOLGA

KAB. RO KAN HI LIR

KAB. TAPA NULI SE LATAN

KOTA DUM AI

KOTA PADA NG SID EMP UAN


KAB. NI AS

KAB. BEN GKALI S


KAB. KEP ULAUAN R IAU
KOTA BATAM
KAB. RO KAN HULU

KOTA TANJU NG PIN ANG

KAB. M ANDAI LIN G NATAL

KAB. NI AS SELATAN

KAB. SI AK

KAB. KAR IM UN

KOTA PEKA NB ARU


KAB. PAS AMAN
KAB. KAM PAR
KAB. PAS AMAN BA RAT
KAB. PELA LAW AN

KAB. LI MA PULUH KO TO

KAB. LI NGG A
KAB. AG AM KOTA PAYA KUMB UH
KAB. I NDRA GIR I HI L
IR
KAB. KU ANTAN SI NGI NG I

KAB. TAN AH DATAR


KOTA PARI AM AN

KAB. I NDRA GIR I HULU

KOTA SAW AH LUNT O


KAB. SAW AH LUNTO S
/ I JUNJUN G

KAB. PAD ANG PAR IAM AN


KOTA PADA NG
KAB. SO LOK
KAB. TAN JU NG JABUN G BARAT

KAB. DH ARM ASR AYA


KAB. TEBO

KAB. TAN JU NG J ABUN G TIM UR

KAB. KEP ULAUAN M ENTAW AI


KAB. SO LOK SELATAN
KAB. M UARO JAM BI
KAB. BU NGO

KOTA JAMB I

KAB. BATA NG HAR I

KAB. PES S
I I R SELATAN
KAB. BAN GKA BAR AT
KAB. BAN GKA
KAB. KER INC I

KAB. M ERANG IN
KOTA PANG KAL PIN ANG
KAB. SAR OLAN GUN
KAB. BAN GKA TENG AH
KAB. M USI BAN YUASI N
KAB. BAN GKA SELAT AN
KAB. M USI RAW AS

KAB. BAN YUASI N

KAB. M UKOM UKO

KAB. BELI TUN G


KAB. BELI TUN GTI MU R
KOTA PALEM BANG
KAB. LEBO NG

Keterangan :

KAB. OG AN KOM ERI NG IL I R

KOTA LUBU KLI NGG AU


KAB. BEN GKU LUU TARA
KAB. OG AN L
IIR

KAB. RE A
J NG LEBON G
KAB. M UARA ENI M
KAB. KEP AHI ANG

3.32 - 10.2 1
10.2 1 - 17.09
17.09 - 23 .9 8
23.98 - 3 0.86
30.86 - 37.75

KOTA BENG KULU

KAB. LAHA T
KAB. OG AN KOM ERI NG ULU TI MUR

KAB. SELU MA
KOTA PAG AR ALAM

KAB. TULA NG BAW ANG

KAB. OG AN KOM ERI NG ULU

KAB. BEN GKU LUSE LATAN


KAB. W AY KANAN
KAB. KAU R
KAB. OG AN KOM ERI NG ULU SELAT AN
KAB. LAM PUNG TE NGAH
KAB. LAM PUNG U TARA
KOTA MET RO
KAB. LAM PUNG TI MU R
KAB. LAM PUNG BA RAT
KAB. TAN GGA MUS
KAB. LAM PUNG SE LATAN

Gambar 2.26.
Perbandingan Tingkat Persentase Penduduk Miskin 2006

KOTA SABA NG

KOTA BAND AA CEH


KAB. AC EHB ESAR

KAB. PI DI E

KOTA LHOK SEUM AW E


KAB. BI REUE N
KAB. AC EHU TARA

KAB. AC EHJA YA
KAB. BEN ER MER IAH
KAB. AC EHT IM UR
KOTA LANG SA

KAB. AC EHB ARAT


KAB. AC EHT ENGA H

KAB. AC EHT AMI ANG

KAB. NA GAN RAYA

KAB. NA TUNA
KAB. GA YO LUES
KAB. AC EHB ARAT DAYA
KAB. LANG KAT

KOTA MED AN
KOTA BI NJAI
KAB. DE L
I S ERDA NG
KAB. SER DANG BE DAG AI
KOTA TEBI NG TI NGG I

KAB. AC EHT ENGG ARA


KAB. AC EHS ELATAN

KAB. KAR O
KOTA PEM ATANG SI ANTA RKOTA TANJU NG BALAI
KAB. ASA HAN
KAB. SI MALU NGU N
KAB. DA IRI

KAB. SI MEU LUE

KAB. PAK PAK BHAR AT


KAB. AC EHS ING KIL
KAB. SAM OSI R
KAB. TO BAS AMO SIR
KAB. HU MBAN G HASU NDUTA N
KAB. LABU HAN BATU

KAB. TAPA NULI UT ARA


KAB. TAPA NULI TEN GAH
KOTA SI BOLGA
KAB. RO KAN HI LIR

KOTA DUM AI

KAB. TAPA NULI SE LATAN

KOTA PADA NG SID EMP UAN


KAB. NI AS

KAB. BEN GKALI S


KAB. KEP ULAUAN R IAU
KOTA BATAM
KOTA TANJU NG PIN ANG
KAB. M ANDAI LIN G NATAL

KAB. RO KAN HULU

KAB. NI AS SELATAN

KAB. KAR IM UN

KAB. SI AK
KOTA PEKA NB ARU
KAB. PAS AMAN
KAB. KAM PAR
KAB. PAS AMAN BA RAT
KAB. PELA LAW AN

KAB. LI MA PULUH KO TO

KAB. LI NGG A
KAB. AG AM KOTA PAYA KUMB UH
KAB. I NDRA GIR I HI ILR
KAB. TAN AH DATAR

KAB. KU ANTAN SI NGI NG I

KAB. I NDRA GIR I HULU

KAB. PAD ANG PAR IAM AN


KAB. SAW AH LUNTO /SI JUNJUN G
KOTA PARI AM AN
KOTA SAW AH LUNT O
KOTA PADA NG
KAB. SO LOK
KAB. TAN U
J NG JABUN G BARAT
KAB. DH ARM ASR AYA
KAB. TEBO

KAB. TAN U
J NG JABUN G TIM UR

KAB. KEP ULAUAN M ENTAW AI


KAB. SO LOK SELATAN
KAB. M UARO JAM BI
KOTA JAMB I

KAB. BU NGO
KAB. BATA NG HAR I

KAB. BAN GKA BAR AT


KAB. PES ISI R SELATAN

KAB. BAN GKA


KAB. KER INC I

KAB. M ERANG IN
KOTA PANG KAL PIN ANG

KAB. SAR OLAN GUN

KAB. BAN GKA TENG AH


KAB. M USI BAN YUASI N

Keterangan :
1.94 - 9.26
9.26 - 16.58
16.58 - 23.91
23.91 - 31.23
31.23 - 38.55

KAB. BAN GKA SELAT AN

KAB. BAN YUASI N

KAB. M USI RAW AS

KAB. M UKOM UKO

KAB. BELI TUN G


KAB. BELI TUN GTI MU R
KOTA PALEM BANG
KAB. LEBO NG

KAB. OG AN KOM ERI NG ILI R

KOTA LUBU KLI NGG AU

KAB. OG AN L
IIR

KAB. BEN GKU LUU TARA


KAB. RE JA NG LEBON G

KOTA PRAB UMU LIH


KAB. M UARA ENI M

KAB. KEP AHI ANG


KOTA BENG KULU

KAB. LAHA T

KAB. SELU MA

KOTA PAG AR ALAM


KAB. OG AN KOM ERI NG ULU TI MUR
KAB. TULA NG BAW ANG
KAB. OG AN KOM ERI NG ULU

KAB. BEN GKU LUSE LATAN

KAB. KAU R
KAB. W AY KANAN
KAB. OG AN KOM ERI NG ULU SELAT AN
KAB. LAM PUNG TE NGAH
KAB. LAM PUNG U TARA

KAB. LAM PUNG BA RAT

KOTA MET RO
KAB. LAM PUNG TI MU R

KOTA BAND AR LAMP UNG


KAB. TAN GGA MUS
KAB. LAM PUNG SE LATAN

II - 60

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Isu Strategis Bidang Kependudukan dan Sosial Ekonomi


Masyarakat
Berdasarkan fakta dan permasalahan tentang kondisi eksisiting wilayah Pulau dan
hasil analisis yang telah dilakukan, dapat dirumuskan secara logis isu-isu strategis yang saling
terkait satu sama lain yang menjadi aspek kunci bagi keberhasilan pembangunan wilayah
Sumatera ke depan. Isu-isu strategis ini dipilih berdasarkan dampak penting yang dihasikan
dalam upaya memacu pembangunan dan pengembangan wilayah Pulau, sejalan dengan arah
kebijakan pembangunan di masing-masing provinsi, serta integrasi arah pembangunan pada
lingkup wilayah Pulau dan pembangunan nasional. Rumusan Isu strategis bidang
kependudukan dan sosial ekonomi masyarakat untuk wilayah Pulau Sumatera dapat dilihat
pada Boks 2.

Boks 2:
Isu Strategis Bidang kependudukan dan sosial ekonomi
masyarakat:

Distribusi penduduk antarprovinsi dan antar daerah (perkotaan dan


perdesaan) di Wilayah Sumatera belum merata

Tingginya jumlah pengangguran terbuka dan penduduk miskin di


Wilayah Sumatera peringkat ke 2 setelah Pulau Jawa-Bali.

NAD, Bengkulu, Nias, Sumatera Selatan, dan ujung selatan pulau


Sumatera, merupakan daerah-daerah yang memiliki indeks kedalaman
kemiskinan paling parah.
Adanya kesenjangan dalam penyediaan fasilitas
pelayanan untuk
pendidikan dan kesehatan antarprovinsi di Wilayah Sumatera

Masih kurangnya sarana dan prasarana pendukung pendidikan dasar,


khususnya pada daerah perbatasan, kepulauan, dan terpencil

Terbatasnya jumlah sarana dan prasarana dasar kesehatan untuk


masyarakat (tenaga medis, puskesmas pembantu, dll)

Terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap jaringan air dan


terbatasnya jaringan listrik PLN untuk pelanggan rumah tangga

Rendahnya kapasitas pelayanan dan terbatasnya pasokan energi listrij


untuk kebutuhan sektor rumah tangga, khususnya di Provinsi Bengkulu
dan Lampung

II - 61

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.3. Bidang Infrastruktur


Fakta dan Permasalahan

Sistem transportasi di Pulau Sumatera didukung dengan sistem transportasi darat, laut, udara,
dan sungai;

Kondisi jalan jalan Nasional: 78,52 persen beraspal, 21,48 persen belum beraspal; jalan Provinsi:
65 persen beraspal, 35 persen belum beraspal, dan jalan Kabupaten: 46 persen beraspal, 54
persen belum beraspal;

Terbatasnya pengembangan akses perhubungan untuk daerah kepulauan dan pulau terluar di
bagian barat wilayah Sumatera, serta masih adanya desa terisolir yang belum terjangkau oleh
sarana transportasi darat

Adanya Pengurangan Jumlah pelabuhan yang diusahan pada tahun 2006 dari 33 menjadi 19
buah pelabuhan

Pembebanan berlebih (overloading) masih terjadi terutama pada lintas Timur Sumatera;

Prasarana perhubungan udara tersedia bandar udara 17 buah, yang terdiri dari bandar udara
International 3 buah dan Bandar Udara Sekunder 14 buah

Parsarana perhubungan laut tersedia Pelabuhan Hub Internasional 3 buah dan Pelabuhan
Internasional 2 buah

Untuk penyediaan kebutuhan listrik di Wilayah Sumatera tersedia 4 unit pembangkit listrik
utama dengan kapasitas 4.278 MW, terbesar masih menggunakan Pembangkit listrik Tenaga
Uap.

Kapasitas Produksi Listrik di Wilayah Sumatera sebesar 3.601 Mega Watt dengan total penjualan
listrik sebesar 13.042 MW

Produksi energi listrik tahun 2005 sebesar 14.093 MW menurun dibandingkan produksi tahun
2003 (14.187 MW)

Memiliki potensi cadangan gas sebesar lebih dari 100 TSCF, dan fasilitas untuk pengembangan
migas: Kilang Minyak ada 4 buah, 8 depot darat, Terdapat 5 area.

Masih belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangkit energi listrik, Pulau
Sumatera memiliki cadangan sumber daya alam (seperti: batu bara, migas) yang cukup besar
untuk pembangkit energi listrik yang berlokasi di Provinsi Sumatera Selatan, Lampung dan
Kepulauan Riau.

Jenis fasilitas telekomunikasi yang tersedia untuk mengakses informasi di Wilayah Sumatera
tersedia kantor pos, telpon umum, telpon genggam, dan internet.

Pelayanan wilpos yang belum mampu menjangkau daerah-daerah yang terisolir, terutama di
beberapa provinsi seperti Provinsi NAD daya jangkau telekomunikasi paling rendah hanya
mencapai 10,15 persen wilayah desa

Kecenderungan menurunnya jangkauan pelayanan sarana/media pos, disebabkan meningkatnya


penggunaan sarana komunikasi lain, seperti: internet, telepon tetap dan telepon genggam.

2.3.1. Prasarana Transportasi


Berbagai instalasi dan kemudahan dasar berupa infrastruktur sangat diperlukan
dalam kegiatan ekonomi dan aktivitas kemasyarakatan lainnya (produksi, distribusi,
perdagangan) dan kelancaran pergerakan orang, barang, dan jasa dari satu daerah ke daerah
atau ke negara lain. Untuk itu keberadaan prasarana dan sistem transportasi, komunikasi, dan
listrik menjadi sangat penting dalam mendukung kemajuan suatu daerah.
Untuk kelancaran kegiatan usaha perlu didukung oleh ketersediaan fasillitas atau
infrastruktur fisik seperti jalan raya, kereta api, pelabuhan laut dan udara, sarana komunikasi
II - 62

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

(telepon), dan sumber energi atau penerangan (listrik). Selain ketersediaan infrastruktur fisik,
kelancaran arus pergerakan faktor-faktor produksi dalam kegiatan usaha juga harus didukung
oleh infrastruktur dengan kualitas yang baik. Kualitas infrastuktur selain memperlihatkan
kondisi fisiknya yang siap dan layak untuk digunakan, juga menunjukkan kemudahan akses
terhadap infrastruktur pendukung tersebut.
Aksesibilitas antar daerah di Pulau Sumatera dapat dilalui melalui jalan darat. Ada tiga
tipe (kelas jalan) yakni jalan negara, jalan provinsi, dan jalan kabupaten. Dari data yang
tersedia menunjukkan bahwa 78,52 persen jalan negara sudah beraspal, dan sisanya belum
beraspal. Sementara untuk jalan provinsi, baru 65 persen yang beraspal, dan jalan kabupaten
hanya 46 persen yang beraspal. Kondisi permukaan jalan daerah di wilayah pantai barat Pulau
Sumatera (Sumatera Barat dan Bengkulu) relatif lebih baik dibandingkan dengan kondisi jalan
daerah di wilayah Pantai Timur Pulau Sumatera.
Pengelolaan jalan negara yang menghubungkan antarprovinsi (baik pengadaan/
pembangunan, maupun perawatannya) menjadi kewajiban pemerintah pusat. Masih ada
sekitar 31 persen jalan negara yang belum beraspal. Kondisi jalan negara yang berada di
Provinsi Riau dan Sumatera Utara terlihat paling buruk diidentifikasi dari presentase jalan
beraspal yang masih dibawah 60 persen dari keseluruhan jalan negara yang ada di kedua
provinsi tersebut. Pada tahun 2006 di Provinsi NAD presentase jalan negara yang beraspal
mengalami penurunan hingga mencapai 11.25 persen. Kondisi ini kemungkinan disebabkan
kerusakan yang parah untuk jalan negara akibat tsunami (disajikan pada lampiran 2 Tabel
23).
Sementara jalan provinsi pengelolaannya menjadi tanggung jawab pemerintah
provinsi, kondisinya lebih buruk dibandingkan dengan jalan negara. Dua provinsi yang paling
baik kondisinya adalah Provinsi Sumatera Barat dan Bengkulu yang mencapai lebih dari 80
persen permukaan jalannya sudah beraspal. Sementara kondisi permukaan jalan provinsi yang
paling buruk adalah di Provinsi Lampung (baru 38 persen yang beraspal) dan disusul Provinsi
Riau (54 persen beraspal).
Untuk jalan kabupaten, secara keseluruhan terlihat bahwa sebagian besar belum
beraspal. Jalan kabupaten di Provinsi Bangka Belitung dan Sumatera Barat, relative paling
baik dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kedua daerah ini
cukup menaruh perhatian yang baik terhadap aksesbilitas antardaerah dalam kabupaten kota
di daerah-daerah ini.
Aksesibilitas dan kelancaran pergerakan barang dan manusia, selain dipengaruhi oleh
ketersediaan jalan darat, juga dipengaruhi oleh kualitas jalan darat. Dilihat dari tingkat
kerusakan jalan darat, Wilayah Sumatera memiliki tingkat kerusakan yang cukup parah. Dari
tiga kategori jalan darat, secara rata-rata tingkat kerusakan jalan di Sumatera paling banyak
terjadi untuk status jalan kabupaten diikuti oleh jalan provinsi, dan terakhir jalan negara.
Tingkat kerusakan jalan darat dengan status jalan negara paling banyak terjadi di
Provinsi NAD pada tahun 2006 yakni mencapai 48,91 persen. Sedangkan untuk jalan provinsi,
di Provinsi Sumatera Utara terjadi kerusakan paling parah sepanjang tahun 2006 yakni
mencapai 62,72 persen, diikuti oleh Provinsi Lampung yang mencapai 49,13 persen.
Sementara untuk jalan kabupaten paling parah kerusakannya terjadi di Provinsi Riau
mencapai 54,94 persen diikuti oleh Provinsi Jambi sebesar 52,04 persen.

II - 63

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 2.26.

Panjang Jalan Menurut Status di Pulau Sumatera Tahun 2005

Aksesibilitas daerah-daerah di Pulau Sumatera cukup mudah untuk dijangkau dengan


perjalanan darat. Secara rata-rata hampir 90 persen desa di daerah di Pulau Sumatera dapat
diakses melalui jalan darat, 2,3 persen bisa diakses melalui transportasi air, dan 8,3 persen
lainnya bisa dilalui dengan transportasi air dan darat. Untuk Provinsi Riau hanya 66,5 persen
bisa dilalui dengan perjalanan darat, sementara sekitar 8 persen wilayahnya hanya bisa
dilewati dengan perjalanan air (sungai dan laut), dan sisanya 25 persen bisa dilewati dengan
perjalanan darat dan air. Hal ini dikarenakan wilayah Riau merupakan kepulauan yang terdiri
dari daratan dan wilayah perairan yang terdiri dari pulau-pulau kecil (Provinsi Kepulauan
Riau) dapat di lihat pada lampiran 2 Tabel 24.
Secara keseluruhan akses darat yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat di Pulau
Sumatera pada tahun 2005 mencapai rata-rata 88,34 persen (Gambar 2.27.) Sama halnya
dengan jenis aksesibilitas, Provinsi Riau juga merupakan wilayah yang agak sulit dijangkau
dengan kendaraan roda empat dibanding provinsi lain, yaitu hanya sebesar 71,8 persen.
Provinsi Bangka Belitung, merupakan daerah yang paling mudah diakses dengan kendaraan
roda empat, yakni mencakup 97,5 persen dari wilayahnya.
Gambar 2.27.
Tingkat Ketersediaan Prasarana Transportasi Tahun 2005
Menurut Provinsi di Pulau Sumatera (persen)
Tingkat Ketersediaan Prasarana Transportasi Tahun 2005 (%)
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
NAD*
Jalan Darat
Transportasi Air

Sumut**

Sumbar

Riau

Jambi

Sumsel

Bengkulu Lampung

Babel

Dapat dilalui Kendaraan Roda 4 Sepanjang Tahun


Transportasi Darat dan Air

Keterangan:

* Tidak termasuk 8 desa yang hancur karena tsunami


** Tidak termasuk kabupaten Nias dan Nias Selatan
Sumber: Statistik Potensi Desa Indonesia hanya 90,73 persen desa yang didata dengan Podes SE 2006

II - 64

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Dilihat dari ketersediaan prasarana transportasi, seluruh provinsi di Pulau Sumatera


dapat diakses melalui laut dengan ketersediaan pelabuhan laut di seluruh ibukota provinsi.
Selain diakses dari laut, seluruh provinsi di Sumatera juga dapat diakses melalui udara.
Provinsi Riau dan Sumatera Utara merupakan wilayah yang paling mudah diakses melalui laut
karena di wilayah kedua provinsi ini paling banyak tersedia pelabuhan laut. Provinsi Riau yang
terdiri dari banyak pulau, juga merupakan daerah yang paling banyak memiliki pelabuhan
udara. Sementara dilihat dari status pelabuhan udara, Sumatera Utara, Riau dan Sumatera
Barat memiliki pelabuhan udara bertaraf Internasional, hal ini berarti bahwa kedua daerah ini
paling terbuka terhadap dunia Internasional. Provinsi Riau yang berbatasan langsung dengan
negara-negara tetangga juga menjadikan daerah ini pintu gerbang utama bagi perdagangan
Internasional menuju ke wilayah lain di Pulau Sumatera.
Untuk transportasi darat, di Pulau Sumatera juga telah dikembangkan jalur kereta api,
terutama daerah-daerah di pantai timur Sumatera hingga ke Lampung. Namun demikian,
sistem transportasi kereta api di Wilayah Sumatera ini masih belum cukup berkembang
dibandingkan dengan di Pulau Jawa (dapat di lihat pada lampiran 2 Tabel 25).

2.3.2. Pos dan Telekomunikasi


Interaksi antar wilayah juga dapat terjadi melalui media/sarana pos. Berdasarkan
pembagian wilayah jangkauannya, pelayanan pos di Wilayah Sumatera dibagi menjadi tiga
wilayah yakni Wilayah 1 yang meliputi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera
Utara; Wilayah 2 meliputi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau; dan Wilayah 3 meliputi
Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Jambi dan Bengkulu.
Gambar 2.28.
Daya Jangkauan Kantor Pos Menurut Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2003-2005

Daya Jangkau Kantor Pos


50%
40%
31%

31%

30%
20%

24%
14%

14%

15%

14%

14%

13%

10%
0%
Tahun 2003
Wilpos 1

Tahun 2004
Wilpos 2

Tahun 2005
Wilpos 3

Sumber: Statistik Perhubungan; Wilpos 1: NAD dan Sumatera Utara; Wilpos 2:


Sumatera Barat, Riau dan Kepri; Wilpos 3: Sumatera Selatan, Bangka Belitung,
Lampung, Jambi, Bengkulu

Daya jangkau Kantor Pos di wilayah 1 memiliki jangkauan yang paling baik yakni
mencapai 0,31 Km2, sementara untuk wilayah lain sekitar 0,14 Km2. Namun demikian, dapat
dilihat bahwa semakin lama daya jangkaunya semakin berkurang. Jika pada tahun 2003 di
Wilayah 1 daya jangkaunya 0,31 Km2 dan 0,14 Km2 untuk wilayah 2 dan 3, maka pada tahun
2005 untuk wilayah 1 turun menjadi 0,24 Km2 dan untuk wilayah 2 dan 3 menjadi 0,14 Km2
dan 0,13 Km2. Kecenderungan menurunnya jangkauan pelayanan sarana/media pos

II - 65

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

diakibatkan oleh meningkatnya penggunaan sarana komunikasi yang lain, seperti internet,
telepon tetap maupun telepon genggam.
Berdasarkan survei potensi desa tahun 2005, diketahui bahwa 100 persen desa di
Sumatera memiliki lebih dari satu jenis sarana telekomunikasi. Selain Kantor Pos, sarana
telekomunikasi yang tersedia di desa-desa di Pulau Sumatera diantaranya adalah TUK, Wartel,
dan Warnet. Berdasarkan daya jangkau telekomunikasi yang ada di desa-desa di wilayah
Sumatera, Provinsi NAD merupakan provinsi dengan daya jangkau yang paling rendah yakni
hanya mencapai 10,15 persen, sedangkan Provinsi Sumatera Barat memiliki daya jangkau
telekomunikasi paling baik yakni mencapai 77,47 persen diikuti oleh Provinsi Lampung yang
mencapai 62,62 persen wilayah desa. Sumatera Barat merupakan satu-satunya provinsi yang
memiliki daya jangkau paling baik untuk telekomunikasi maupun pos. Sementara Provinsi
NAD merupakan provinsi yang memiliki daya jangkau telekomunikasi dan Pos yang paling
buruk untuk Wilayah Sumatera. Kondisi telekomunikasi dan pos yang buruk di Provinsi NAD
ini disebabkan oleh konflik yang pernah terjadi dan dampak kerusakan berbagai sarana daerah
akibat bencana tsunami yang terjadi pada tahun 2004 yang lalu.
Gambar 2.29.
Daya Jangkau Telekomunikasi dan Pos Tiap Desa Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera Tahun 2005 (persen)

Daya Jangkau Telekomunikasi dan Pos Tiap Desa (%)

90

77.5

75

62.6

60
47.1

40.3

45

45.5

41.8
30.9

22.6

30

19.8

10.2 13.5

29.7
15.7

21.0
17.7

31.0

15.6 18.1

15
0
NAD

Sumut

Sumbar

Riau

Jambi

Telekomunikasi

Sumsel

Babel

Bengkulu Lampung

Pos

Sumber: Statistik Potensi Desa Indonesia


Telekomunikasi terdiri dari TUK, wartel dan warnet
Data > 100 persen menunjukkan bahwa desa memiliki lebih dari 1 jenis telekomunikasi

2.3.3.

Sumberdaya Air dan Irigasi

Sarana irigasi merupakan faktor penting untuk mendukung produktivitas sektor


pertanian. Oleh karena itu ketersediaan dan daya jangkau sarana irigasi menjadi sangat
penting. Gambar 2.27, memperlihatkan perkembanganan daya jangkau irigasi baik teknis
maupun non teknis terhadap sawah yang berada di Pulau Sumatera. Berdasarkan ketersediaan
sarana irigasi, seluruh provinsi di Pulau Sumatera telah memiliki sarana irigasi teknis maupun
non teknis dan setiap tahun selalu mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Provinsi
Bangka Belitung, merupakan provinsi yang daya jangkau jaringan irigasinya paling rendah
untuk Wilayah Sumatera. Pada tahun 2006, daya jangkaunya baru mencapai 46,87 persen
untuk irigasi teknis, dan 37,06 persen untuk irigasi non teknis.

II - 66

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Secara rata-rata pada tahun 2002, sawah di Pulau Sumatera yang teraliri irigasi teknis
hanya mencapai 28,07 persen, namun pada tahun 2004 turun menjadi 19,85 persen.
Fenomena tersebut dikarenakan terjadi penambahan lahan sawah baru yang belum diikuti
dengan pembangunan jaringan irigasi teknis. Namun pada tahun 2006, persentase sawah
yang telah berhasil dialiri irigasi teknis meningkat menjadi 88,39 persen.
Pengembangan pertanian sawah di Pulau Sumatera juga didukung oleh irigasi non
teknis yang pada tahun 2002 telah dapat mengaliri 31,95 persen lahan sawah yang ada di
pulau ini. Pada tahun 2004 berkembang menjadi 62,17 persen dan tahun 2006 telah mencapai
84,31 persen dari keseluruhan sawah yang ada di wilayah ini.
Gambar 2.30.
Rasio Sawah dengan Sistem Pengairan Irigasi Teknis dan Non Teknis,
Tahun 2004 dan 2006 (persen)

Rasio Sawah Teraliri Irigasi Teknis dan Non Teknis (%)

100
80
60
40
20
0

Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th Th
2002 2004 2006 2002 2004 2006 2002 2004 2006 2002 2004 2006 2002 2004 2006 2002 2004 2006 2002 2004 2006 2002 2004 2006 2002 2004 2006
NAD

Sumut

Sumbar

Riau

Jambi

Teknis

Sumsel

Babel

Bengkulu

Lampung

Non Teknis

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2006

Dibawah ini disajikan, persentase rumah tangga baik miskin ataupun tidak miskin
yang menggunakan air bersih di Wilayah Sumatera dan sekitarnya. Untuk sarana permukiman
penduduk, ada beberapa jenis sarana sanitasi yng digunakan, termasuk di dalamnya adalah air
bersih, jamban, penerangan listrik dan lantai terluas tanah. Data yang digunakan adalah data
tahun 2004.
Untuk jenis air bersih, persentase tertinggi rumah tangga yang menggunakan air
bersih terdapat di Provinsi Sumatera Utara, dengan proporsi 55,84 persen. Sedangkan
persentase terrendah rumah tangga yang menggunakan air bersih terdapat di Provinsi Riau
dengan besaran 32,26 persen. Sedangkan persentase tertinggi penggunaan jamban terdapat di
Provinsi Riau yang mencapai besaran 89,73 persen. Provinsi yang terrendah persentasenya
dalam hal penggunaan jamban adalah Provinsi Bangka Belitung dengan besaran 62,21 persen
dari jumlah rumah tangga.
Persentase tertinggi rumah tangga yang menggunakan listrik untuk penerangan di
Wilayah Sumatera terdapat di Provinsi NAD dengan besaran 88,76 persen, sedangkan
persentase terrendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 69,50 persen.

II - 67

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Indikator kualitas sanitasi yang terakhir adalah jenis lantai terluas yang masih berupa
tanah. Persentase tertinggi penduduk yang rumah tinggalnya masih berlantai tanah terdapat
di Provinsi Lampung yaitu sebesar 24,66 persen. Sedangkan persentase terendah terdapat di
Provinsi Sumatera Barat yaitu sebesar + 3 persen.
Secara umum, persentase rumah tangga yang menggunakan keempat jenis sanitasi
sudah cukup besar. Hanya saja penggunaan air bersih perlu mendapatkan perhatian, karena
penggunaan untuk sumber air ini hampir seluruhnya dibawah 50 persen, sehingga perlu
ditingkatkan lagi pengadaan sumur ataupun sumber-sumber air selain yang sudah ada.
Gambar 2.31.
Kondisi Fasilitas Perumahan Menurut Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2000-2005

Kondisi Fasilitas Perumahan Tahun 2005


(%)

90
75
60
45
30
15
0
NAD

Sumut

Air Bersih

Sumbar

Riau

Jambi

Jamban Bersama/Sendiri

Sumsel

Babel

Penerangan Listrik

Bengkulu Lampung

Lantai Terluas Tanah

Di Wilayah Sumatera dan sekitarnya, pelanggan air bersih di seluruh provinsi


mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Meskipun di beberapa provinsi jumlah pelanggan
masih mengalami fluktuasi. Jumlah pelanggan terbesar di tahun 2005 adalah Provinsi
Sumatera Utara dengan jumlah 488.832 KK. Sedangkan jumlah pelanggan terrendah di tahun
2005 terdapat di Provinsi Bangka Belitung dengan jumlah 12.355 KK.
Jumlah pelanggan di setiap provinsi untuk tahun 2005 mengalami peningkatan dari
tahun-tahun sebelumnya. Untuk lebih jelasnya jumlah pelanggan bisa dilihat dari gambar
dibawah ini:
Gambar 2.32.
Perkembangan Jumlah Pelanggan Air Bersih Kelompok Non Niaga, Tahun 2002-2005
Perkembangan Jumlah Pelanggan Air Bersih Kelompok Non Niaga
500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
NAD

Sumut
Sumbar
Th 2002

Riau
Th 2003

Kepri

Sumber: Statistik Air Bersih BPS

II - 68

Jambi
Th 2004

Sumsel

Babel
Th 2005

Bengkulu

Lampung

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Sedangkan efektivitas produksi air bersih, yang mengindikasikan serapan jumlah air
bersih di suatu daerah atau provinsi. Pada tahun 2005, persentase terbesar terdapat di
Provinsi Sumatera Selatan dengan besaran 93,13 persen. Sedangkan untuk provinsi yang
efektivitasnya terrendah adalah Provinsi Bengkulu dengan besaran 56,86 persen.
Secara rata-rata dalam jangka waktu lima tahun, efektifitas tertinggi terdapat di
Provinsi Sumatera Selatan dengan presentase 93,1 persen. Ini berarti bahwa selama lima
tahun, dari 2002 sampai 2005, Provinsi Sumatera Selatan memakai air bersih lebih besar
dibandingkan provinsi lainnya diWilayah Sumatera dan sekitarnya.

2.3.4. Kelistrikan
Kinerja pelayanan infrastruktur untuk sektor energi dapat diidentifikasi melalui
ketersediaan dan produksi BBM. Wilayah Sumatera memiliki 4 buah kilang minyak dengan
kapasitas produksi 301 MBSD. Jumlah kilang ini perlu ditingkatkan secara jumlah maupun
kapasitas produksinya. Hal ini dikarenakan konsumsi untuk Pulau Sumatera masih belum
tercukupi dengan adanya 4 kilang ini.
Tabel 2.21.
Perbandingan Jumlah Kilang dan Kapasitas Produksi Antarpulau Tahun 2006
Wilayah Operasional/Pulau
Sumatera
Jawa
Bali-NTB-NTT
Maluku
Papua

Jumlah Kilang

Kapasitas Produksi (MBSD)

4
4
1

301
577
10

Sumber: Pertamina

Sehubungan dengan pembahasan diatas, berikut ini disajikan datadata tentang


konsumsi dari masing-masing jenis bahan bakar pada tahun 2003 dan 2005. Dalam dua
rentang waktu diatas, terlihat bahwa terjadi penurunan konsumsi dari masing-masing jenis
bahan bakar sedangkan untuk jenis bahan bakar gas alam konsumsi per tahun tetap yaitu
sebesar 25 MSCF.
Tabel 2.22.
Jumlah Konsumsi Bahan Bakar dan Pelumas untuk Pembangkit di Wilayah Sumatera
Bahan Bakar

Satuan

2003

2005

Solar

Juta Liter

1429

1011

Minyak Diesel

Juta Liter

22

13

Residu

Juta Liter

431

384

Gas Alam

Juta MSCF

25

25

Batubara

000 Ton

1408

1282

Panas Bumi

000 MWh

Sumber: Neraca Energi Indonesia, BPS

Untuk sektor kelistrikan, secara umum Wilayah Sumatera dan sekitarnya terjadi
peningkatan produksi energi listrik untuk masing-masing jenis pembangkit. Di tahun 2003
produksi terbesar energi listrik dihasilkan dari pembangkit listrik jenis PLTGU yaitu sebesar
4.243 MW ditahun 2003 dan meningkat menjadi 4.719 MW di tahun 2005. Sedangkan
produksi terrendah dari jenis pembangkit PLTG dengan produksi sebesar 841 MW menjadi
1.037 MW (Gambar 2.33). Jika dilihat dari elektrifikasi masing-masing provinsi, rasio
elektrifikasi untuk provinsi di Sumatera sebagian besar berada di atas rata-rata rasio

II - 69

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

elektrifikasi nasional mencapai 54,24persen, kecuali untuk Provinsi Jambi, Sumatera Selatan,
dan Lampung. Rasio elektrifikasi tertinggi di Pulau Sumatera adalah di Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam dan Kepulauan Bangka Belitung masing-masing sebesar 74,91 persen dan
72,45 persen, dan elektrifikasi terendah di Provinsi Lampung yaitu sebesar 47,66 persen.
Sedangkan untuk rasio desa berlistrik hampir seluruh provinsi berada di atas rata-rata
nasional kecuali Provinsi SumateraUtara, rasio elektrifikasi tertinggi adalah di Provinsi
Sumatera Barat dan Lampung sebesar 100 persen, dan terrendah di Provinsi Sumatera Utara
sebesar 83,6 persen (Gambar 2.34).
Gambar 2.33.
Kapasitas Terpasang dan Terpakai Energi Listrik Berdasarkan Sumber
Pembangkit Wilayah Operasional Sumatera (mega watt)
Kapasitas Terpasang dan Terpakai Energi Listrik Berdasarkan Sumber
Pembangkit Wilayah Operasional Sumatera (Mega Watt)

5000
4500
4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
Terpasang

Produksi

Terpasang

Tahun 2003
PLTA

Produksi

Tahun 2005

PLTU

PLTG

PLTD

PLTP

PLTGU

Gambar 2.34.
Elektrifikasi dan Rasio Desa Berlistrik Menurut Provinsi
di Pulau Sumatera Tahun 2007. (persen)
120.00

90.00
80.00

100.00

70.00

80.00

60.00
50.00

60.00

40.00

40.00

30.00
20.00

20.00

10.00
Kep Riau

Kep. Babel

Lampung

Bengkulu

Sumsel

Jambi

Riau

Sumbar

Sumut

0.00
NAD

0.00

RASIO ELEKTRIFIKASI (%)

RASIO DESA BERLISTRIK (%)

Rata-rata Elektrif ikasi Nasional

Rata-rata Rasio Desa Berlistrik

II - 70

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Jumlah kapasitas terpasang di Wilayah Sumatera dan sekitarnya mencapai 3.452


sambungan di tahun 2003, dan ini dilayani oleh total produksi listrik sebesar 14.187 MW.
Sedangkan pada tahun 2005 diperoleh data kapasitas terpasang mencapai 3.601 sambungan
yang dilayani oleh jumlah total produksi yang ada di Wilayah Sumatera dan sekitarnya yaitu
sebesar 14.093 MW pada tahun 2005, pada tahun 2007 penjualan energi listri meningkat
menjadi 19.988 MW. Penjualan listrik tertinggi di Wilayah Sumatera, terdapat di kelompok
pelanggan rumah tangga sebesar 39,98 persen, industri 39,15 persen, bisnis sebesar 14,57
persen, sektor publik sebesar 3,88 persen dan sosial sebesar 2,42 persen (Gambar 2.35).
Gambar 2.35.
Penjualan Energi Listrik di Wilayah Sumatera Menurut Sektor Pelanggan.
Tahun 2007 (persen)

Publik
3.88%

Sosial
2.42%
Rumah
Tangga
39.98%

Industri
39.15%

Bisnis
14.57%

Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik


Kebutuhan tenaga listrik akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan
ekonomi daerah dan pertumbuhan penduduk. Semakin meningkatnya ekonomi pada suatu
daerah maka konsumsi tenaga listrik juga akan semakin meningkat. Kondisi ini tentunya
harus diantisipasi sedini mungkin agar penyediaan tenaga listrik dapat tersedia dalam jumlah
yang cukup dan harga yang memadai.
Untuk memperkirakan kebutuhan listrik dimasa mendatang sampai dengan tahun
2014, didasarkan pada hasil perhitungan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional Tahun
2008 s.d. 2027 (Kepmen Energi dan sumber daya mineral nomor : 2682 k/21/mem/2008).
Kebutuhan energi masing-masing provinsi di Pulau Sumatera adalah sebagai berikut:

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Asumsi pertumbuhan penduduk


di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2008-2027 diperkirakan tumbuh ratarata 1,0 persen per tahun sedangkan pertumbuhan ekonomi untuk periode yang sama
diproyeksikan sebesar 5,1 persen per tahun. Berdasarkan asums tersebut maka rasio
elektrifikasi diharapkan akan mencapai 100 persen pada tahun 2020. Permintaan
energi listrik untuk periode 2008-2014 diperkirakan tumbuh rata-rata sebesar 9
persen per tahun sehingga pada tahun 2014 kebutuhan tenaga listrik diharapkan

II - 71

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

mencapai 2.176 GWH. Sebagian besar kelistrikan di Provinsi Nanggroe Aceh


Darussalam sudah terintegrasi dengan Provinsi Sumatera Utara.

Provinsi Sumatera Utara, Asumsi pertumbuhan penduduk di Provinsi Sumatera


Utara tahun 2008-2027 diperkirakan rata-rata sebesar 1,0 persen per tahun
sedangkan pertumbuhan ekonomi untuk periode yang sama diproyeksikan sebesar 6,7
persen per tahun. Berdasarkan asums tersebut maka rasio elektrifikasi diharapkan
akan menjadi 100 persen pada tahun 2020. Permintaan energi listrik untuk periode
2008-2014 diperkirakan tumbuh rata-rata sebesar 7,3 persen per tahun sehingga pada
tahun 2014 kebutuhan tenaga listrik diharapkan mencapai 9.441 GWh. Sebagian
besar pemenuhan kebutuhan tenaga listrik untuk Provinsi Sumatera Utara dan
Nanggroe Aceh Darussalam dipenuhi oleh sistem Sumatera Bagian Utara.

Provinsi Sumatera Barat, Asumsi pertumbuhan penduduk tahun 2008-2027


diperkirakan rata-rata sebesar 0,7 persen per tahun sedangkan pertumbuhan ekonomi
untuk periode yang sama diproyeksikan sebesar 5,1 persen per tahun. Berdasarkan
asumsi tersebut maka rasio elektrifikasi diharapkan akan menjadi 100 persen pada
tahun 2020. Permintaan energi listrik untuk periode 2008-2014 diperkirakan tumbuh
rata-rata sebesar 7,2 persen per tahun sehingga pada tahun 2014 kebutuhan tenaga
listrik diharapkan mencapai 3.108 GWH. Pemenuhan kebutuhan Listrik untuk
Provinsi Sumatera Barat saat ini dipasok dari sistem interkoneksi Sumatera Bagian
Selatan.

Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, Asumsi pertumbuhan penduduk tahun


2008-2027 diperkirakan rata-rata sebesar 1,98 persen per tahun sedangkan
pertumbuhan ekonomi untuk periode yang sama diproyeksikan sebesar 6,2 persen per
tahun. Berdasarkan asums tersebut maka rasio elektrifikasi diharapkan akan menjadi
100 persen pada tahun 2025. Permintaan energi listrik untuk periode 2008-2014
diperkirakan tumbuh rata-rata sebesar 7,4 persen per tahun sehingga pada tahun 2014
kebutuhan tenaga listrik diharapkan mencapai 3.306 GWH .

Kelistrikan S2JB (Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu), Asumsi


pertumbuhan penduduk tahun 2008-2027 diperkirakan rata-rata sebesar 1,2 persen
per tahun sedangkan pertumbuhan ekonomi untuk periode yang sama diproyeksikan
sebesar 5,7 persen per tahun. Pertumbuhan rata-rata kebutuhan tenaga listrik
mencapai 8,2 persen per tahun. Berdasarkan asumsi tersebut maka rasio elektrifikasi
diharapkan akan menjadi 95 persen pada tahun 2025. Permintaan energi listrik untuk
periode 2008-2014 diperkirakan tumbuh rata-rata sebesar 8,2 persen per tahun
sehingga pada tahun 2014 kebutuhan tenaga listrik diperkirakan mencapai 4.347
GWH.

Provinsi Lampung, Variabel-variabel yang akan mempengaruhi permintaan tenaga


listrik di Provinsi Lampung pada masa mendatang adalah proyeksi pertumbuhan
penduduk untuk tahun 2008-2027 sebesar 0,9 persen per tahun dan pertumbuhan
ekonomi sebesar 6,2 persen per tahun. Permintaan energi listrik untuk periode 20082014 diperkirakan akan tumbuh rata-rata sebesar 10,3 persen per tahun atau pada
tahun 2014 kebutuhan tenaga listrik mencapai 2.649 GWH. Proyeksi perkembangan
rasio elektrifikasi pada tahun 2025 mencapai 100 persen, Sistem kelistrikan di
Provinsi Lampung disuplai oleh sistem kelistrikan Sumatera Bagian Selatan dan
beberapa tahun kedepan sistem Sumatera diharapkan dapat terinterkoneksi pada
tegangan 275 kV.

Provinsi Bangka Belitung, Diasumsikan untuk kurun waktu dua puluh tahun
mendatang diperkirakan pertumbuhan penduduk di Provinsi Bangka Belitung ratarata sebesar 1 persen per tahun dan pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 7,5
persen per tahun. Berdasarkan asumsi tersebut maka rasio elektrifikasi diharapkan
akan menjadi 100 persen pada tahun 2020. Pertumbuhan permintaan energi listrik
untuk periode 2008-2014 diperkirakan akan tumbuh rata-rata sebesar 5,8 persen per

II - 72

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

tahun sehingga pada tahun 2014 kebutuhan tenaga listrik diperkirakan mencapai 449
GWH.

Batam, Perkembangan kebutuhan tenaga listrik di Batam didasarkan atas rencana


pengembangan kawasan, pertumbuhan ekonomi regional/Singapura/Malaysia, dan
interkoneksi kelistrikan BatamBintan. Asumsi pertumbuhan penduduk tahun 20082027 diperkirakan rata-rata sebesar 4,5 persen per tahun sedangkan pertumbuhan
ekonomi untuk periode yang sama diproyeksikan sebesar 6,1 persen per tahun.
Berdasarkan asums tersebut maka rasio elektrifikasi diharapkan akan menjadi 100
persen pada tahun 2015. Pertumbuhan rata-rata kebutuhan tenaga listrik periode
2008-2027 diperkirakan mencapai rata-rata 9,3 persen per tahun sehingga pada
tahun 2014 kebutuhan tenaga listrik diharapkan mencapai 2.214 GWH.
Tabel 2.23.
Prakiraan Kebutuhan Beban Daerah Sumatera
URAIAN

Satuan

Tahun
2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

Kebutuhan
Aceh

GWH

1.098

1.230

1.378

1.546

1.733

1.942

2.176

Sumatera Utara

GWH

6.090

6.532

7.008

7.543

8.124

8.756

9.441

Riau

GWH

2.055

2.227

2.412

2.614

2.831

3.062

3.306

311

333

358

378

400

424

449

1.207

1.347

1.494

1.661

1.836

2.020

2.214

GWH

2.014

2.168

2.332

2.510

2.698

2.897

3.108

S2JB

GWH

2.906

3.099

3.305

3.535

3.783

4.053

4.347

Lampung

GWH

1.705

1.814

1.935

2.083

2.249

2.437

2.649

Total Kebutuhan

GWH

Bangka Belitung
Sumbar

Pertumbuhan
Susut & Losses
(T&D)
Susut Pemakaian
Sendiri
Total Susut & Losses
Faktor Beban

15.869

17.071

18.371

19.830

21.419

23.147

25.026

7,6

7,6

7,9

8,1

8,1

11,5

11,4

11,3

11,2

11,1

11

10,9

13,5

13,4

13,3

13,2

13,1

13

12,9

62

62

62

62

62

62

62

18.011

19.359

20.814

22.448

24.225

26.156

28.255

MW

3.316

3.564

3.832

4.133

4.460

4.816

5.202

MW

2.842

2.785

2.729

2.675

2.621

2.569

2.518

MW

4.643

4.990

5.365

5.786

6.244

6.742

7.283

40%

40%

40%

40%

40%

40%

40%

MW

1.801

2.205

2.636

3.111

3.623

4.173

4.766

MW

341

404

431

476

512

550

592

Produksi

GWH

Beban Puncak
Kapasitas Existing *)
Kapasitas
Dibutuhkan **)
RESERVE MARGIN
DAYA TAMBAHAN
DAYA TAMBAHAN
TAHUNAN

*) Kapasitas pembangkit tenaga listrik yang dibangun s.d. 2007


**) Kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik yang dibutuhkan

Saat ini sistem Sumatera telah terinterkoneksi pada saluran transmisi tegangan tinggi
150 kV dan diharapkan kedepan dapat diinterkoneksikan pada tegangan 275 kV. Dengan
asumsi reserve margin sebesar 40 persen terhadap beban puncak mulai tahun 2008-2014,
maka dalam kurun waktu tersebut diperlukan tambahan kapasitas pembangkit baru sebesar
5.202 MW. Upaya pengembangan penyaluran terinterkonesi antara Sistem Jawa- Madura-Bali
dengan Sistem Sumatera dapat dilakukan kedepannya setelah dilakukan kajian secara
mendalam dengan memperhatikan beberapa aspek, antara lain aspek teknis, ekonomis dan

II - 73

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

sosial. Diharapkan dengan terinterkoneksinya kedua sistem tersebut dapat meningkatkan


pertumbuhan ekonomi kedua pulau besar tersebut.
Gambar 2.36.
Kondisi Eksisting dan Rencana Sistem Transmisi di Wilayah Sumatera

II - 74

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Isu Strategis Bidang Infrastruktur


Berdasarkan fakta dan permasalahan tentang kondisi eksisiting wilayah Pulau dan
hasil analisis yang telah dilakukan, dapat dirumuskan secara logis isu-isu strategis yang saling
terkait satu sama lain yang menjadi aspek kunci bagi keberhasilan pembangunan wilayah
Sumatera ke depan. Isu-isu strategis ini dipilih berdasarkan dampak penting yang dihasikan
dalam upaya memacu pembangunan dan pengembangan wilayah Pulau, sejalan dengan arah
kebijakan pembangunan di masing-masing provinsi, serta integrasi arah pembangunan pada
lingkup wilayah Pulau dan pembangunan nasional. Rumusan Isu strategis untuk bidang
infrastruktur di wilayah Pulau Sumatera dapat dilihat pada Boks 3.

Boks 3:
Isu Strategis Bidang Infrastruktur di Wilayah Sumatera:
Ketimpangan pembangunan infrastruktur transportasi antarprovinsi dan
tingginya tingkat kerusakan jalan di Jalur Lintas Sumatera
Belum optimalnya pelayanan sistem transportasi untuk daerah kepualauan
terisolir dan perbatasan
Tingginya kebutuhan investasi dalam mendukungpembangunan,
pemeliharaan dan peningkatan jaringan transportasi darat, laut, udara dan
sungai.
Belum optimalnya sistem pelayanan transportasi laut dan udara untuk
mendukung sistem transortasi antar pulau-pulau kecil, dan pulau terluar
yang merupakan wilayah hinterland Sumatera
Rendahnya penyediaan sarana air bersih dan sarana sanitasi permukiman
di daerah perkotaan- perdesaan, daerah terisolir, dan daerah perbatasan
Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya pembangkit energi listrik
sebagai penyedia kebutuhan listrik untuk rumah tangga dan
pengembangan berbagai industri pengolahan
Berkurangnya cadangan Minyak Dan Gas Bumi dan meurunnya produksi
Minyak Dan Gas Bumi, serta terbatasnya pengembangan Infrastruktur
Minyak Dan Gas Bumi di wilayah Sumatera

II - 75

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.4. Bidang Penataan Ruang


Fakta dan Permasalahan:

Dari 133 wilayah administratif pemerintahan, 38 persen diantaranya belum memiliki RTRW, 12
persen masih dalam proses legalisasi, dan 50 persen sudah memiliki RTRW yang sudah
ditetapkan dalam peraturan daerah.

Kedudukan Sumatera dalam RTRWN memiliki 9 lokasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang
didukung oleh 56 lokasi Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan 4 lokasi PKSN

Arahan pengembangan infrastruktur di Wilayah Sumatera, diantaranya: (i) Rencana


Pengembangan Jalan Tol: Sumut, Sumbar, Riau, Sumsel, Lampung; (ii) Pengembangan
Pelabuhan Internasional: Pelabuhan Internasional 8 Lokasi, Pelabuhan Nasional 19 Lokasi, (iii)
Pengembangan Bandar Udara: Skala Primer 2 Lokasi, Skala Sekunder 3 Lokasi, Skala Tersier 9
Lokasi

Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya di Wilayah Sumatera, diantaranya: (i)
Rencana Kawasan Lindung Nasional 88 Lokasi; (ii) Rencana Kawasan Andalan Darat 31 Lokasi;
(iii) Rencana Kawasan Andalan Laut 12 Lokasi

Terjadinya perubahan penggunaan lahan Pertanian (hutan, perkebunan dan sawah) ke non
pertanian tahun 2002-2007sebesar 8.924.020 hektar sebesar 22,46 persen.

Semakin berkurangnya kawasan lindung dengan penggunaan lahan sebagai hutan akibat
meluasnya kegiatan budidaya, khususnya pada lahan potensi untuk pengembangan perkebunan
(Seperti: Provinsi Riau dan Sumatera Utara).

Semakin meningkatnya kebutuhan ruang untuk kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan
yang berdampak pada konversi lahan di kawasan lindung dan kawasan produksi pangan

Konflik pemanfaatan ruang, contoh kasus pemanfaatan lahan hutan vs tambang (Provinsi
Bangka Belitung)

Tingginya konflik Pertanahan (status kepemilikan) antara penduduk pribumi dengan pendatang;
sengketa tanah (tanah adat, tanah hutan, dan tanah perkebunan).

Neraca Penggunaan Tanah di Wilayah Sumatera: (i) Kawasan Lindung: 21,17 persen, terbagi atas
Kawasan Hutan: 15,21 persen dan Non Hutan 5,96 persen; (ii) Kawasan Budidaya: 77,93 persen,
terbagi atas Kawasan Hutan 35,40 persen, Non Hutan 42,54 persen

Pembagian kawasan di Pulau Sumatera terdiri dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
yang terletak di 9 lokasi, kemudian Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yang terletak di
4 lokasi, serta Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang terletak di 56 lokasi. Sedangkan Pusat
Kegiatan Lokal (PKL) ditetapkan oleh Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi. Namun
demikian, dari 133 wilayah administratif pemerintahan di Pulau Sumatera, 38 persen
diantaranya belum memiliki RTRW, 12 persen masih dalam proses legalisasi, dan sisanya (50
persen) sudah memiliki RTRW yang sudah ditetapkan dalam peraturan daerah.

2.4.1.

Pola Pemanfaatan Ruang

Pola pemanfaatan ruang dalam pembahasan ini menitikberatkan pada Kawasan


Lindung, Kawasan Budidaya, dan Kawasan Tertentu lainnya. Kawasan lindung merupakan
kawasan yang memberikan perlindungan bagi pengelolaan sumber daya pesisir; kawasan yang
memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya (kawasan hutan lindung, bergambut,
resapan air, imbuhan air tanah, kawasan lindung sumber air, mangrove); kawasan yang
memberikan perlindungan setempat (sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar
danau, waduk dan mata air); kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;
kawasan rawan bencana alam; kawasan lindung sumber air.

II - 76

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Dari lahan yang tersedia di suatu kawasan, tidak semuanya bisa atau boleh
dimanfaatkan untuk aktifitas ekonomi produktif. Sebagian wilayah atau lahan harus
dimanfaatkan untuk tujuan konservasi dan harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan
lingkungan.
Gambar 2.37.
Perbandingan Kawasan Lindung dan Budidaya antarprovinsi
Di Pulau Sumatera

Perbandingan Kawasan Lindung dan Budidaya di Sumatera (%)


100
90

93
82

79

76
67

60

40

39

30

10

30
18

22

21

78

77

63

60

50

20

83

36
17

22

16

5
Su
m
se
l

82

70

Ba
be
l

80

21

Lindung

La
m
pu
ng
Su
m
at
er
a

Be
ng
ku
lu

Ja
m
bi

Su
m
ba
r

Ke
pr
i

Ri
au

Su
m
ut

NA
D

Budidaya

Untuk itu sebagian lahan harus dijaga kelestariaannya keseimbangan ekosisten.


Dengan demikian dikenal kawasan lindung dan kawasan budidaya. Untuk Wilayah Sumatera,
dari luas lahan yang tersedia seluas 47,339,730 ha, atau sebesar 77,9 persen diantaranya
ditetapkan sebagai kawasan lindung, dan sisanya sebagai kawasan budidaya. Kawasan lindung
tersebut terdiri dari kawasan hutan lindung, dan kawasan lindung non hutan (dapat di lihat
pada lampiran 2 Tabel 35).
Provinsi Sumatera Selatan merupakan provinsi yang memiliki proporsi kawasan
lindung paling besar yakni mencapai 93 persen dari luas wilayahnya, artinya hanya sekitar 6
persen dari wilayah Sumatera Selatan yang menjadi kawasan budidaya. Sementara itu Provinsi
Bengkulu, merupakan daerah yang memiliki proporsi kawasan budidaya terbesar yakni
sebesar 68 persen dari kawasannya digunakan untuk budidaya. Secara keseluruhan di setiap
provinsi yang ada di Sumatera telah ditetapkan sebagai daerah lindung oleh pemerintah pusat.
Terdapat beberapa jenis kawasan lindung yang telah ditetapkan. Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam merupakan provinsi di Sumatera yang paling luas wilayahnya dipergunakan untuk
kawasan lindung. Tabel di bawah ini memperlihatkan luas kawasan lindung berdasarkan
peruntukan lindungnya.

II - 77

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.24.
Kawasan Lindung Nasional Di Wilayah Sumatera
Lokasi/Provinsi
Bengkulu

Nama Kawasan Lindung


CA. Dusun Besar

Luas (Ha)
1,777

THR Raja Lelo

1,122

CA. Kel. Hutan Bakau Pantai Timur

6,500

Jambi

TN. Berbak
TN. Bukit Dua Belas

60,500

Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat

TN. Kerinci Seblat *

1,368,000

Jambi-Riau

TN. Bukit Tiga Puluh

Lampung

Lampung dan Bengkulu

127,698

CA. Pulau Anak Krakatau

13,735

Cagar Alam Laut Bukit Barisan

21,600

Cagar Alam Laut P. Anak Krakatau

11,200

THR Wan Abdul Rahman

22,244

TN. Way Kambas *

130,000

TN. Bukit Barisan Selatan

365,000

CA. Hutan Pinus Jhantoi


SM. Rawa Singkil
Taman Laut P. Weh
Nanggroe Aceh Darussalam

162,700

8,000
102,500
3,900

TW. P. Banyak

277,500

TWL Kepulauan Banyak

227,500

TWL. Pulau Weh

3,900

THR Cut Nyak Dien

6,220

Nanggroe Aceh Darussalam Sumut

TN. Gunung Leuser

1,094,692

Riau

SM. Danau Besar/Danau Bawah

25,000

Melalui peraturan pemerintah, kawasan-kawasan yang ada di setiap wilayah telah


ditetapkan peruntukannya. Hal tersebut selain sebagai mekanisme pengaturan peruntukan
dan penggunaan tanah juga untuk menjaga kepastian hukum terhadap pelaksanaan
perencanaan penggunaan lahan, semestinya setiap bentuk perencanaan penggunaan lahan
diatur dalam peraturan pemerintah. Namun sayang belum semua peruntukan lahan telah
ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah. Di Wilayah Sumatera dari 16.176.121 hektar
lahan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung, baru 60 persen diantaranya yang sudah
ditetapkan sesuai Peraturan Pemerintah, dan yang sudah ditetapkan dengan PP namun
peruntukannya tidak sesuai mencapai 22.9 persen (10.852.574 hektar).
Sumatera Utara dan Lampung merupakan dua provinsi yang paling banyak terjadi
pelanggaran peruntukan lahan sebagaimana sudah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah,
yakni pelanggarannya mencapai 47.9 persen dan 42.1 persen. Sementara daerah yang paling
sedikit terjadi pelanggaran adalah Provinsi Bangka Belitung (4,26 persen) dan Sumatera Barat
(8.86 persen). Sebagaimana diketehui sebelumnya bahwa dua daerah ini merupakan wilayah
konsentrasi penduduk, dengan proporsi peruntukan lahan diluar pertanian paling besar
dibandingkan provinsi-provinsi lain di Wilayah Sumatera. Data selengkapnya dapat dilihat
pada Lampiran 2 Tabel 35 mengenai: Ketersediaan Lahan Lindung Berdasarkan Kesesuaian
Peranturan Pemerintah dan Fungsi Kawasan di Pulau Sumatera Tahun 2007.
Di tingkat daerah, peruntukan dan penggunaan lahan diatur dalam RTRW yang
ditetapkan berdasarkan peraturan daerah, yang bisa diubah setiap lima tahun sekali. RTRW
yang dibuat oleh pemerintah daerah ini harus mendapat persetujuan dari pemerintah pusat.
Tujuannya adalah untuk mensinergikan antara RTRW di tingkat Nasional, Pulau, Provinsi,
dan Kabupaten/Kota. Di wilayah Sumatera, Provinsi Kepulauan Riau merupakan satu-satunya
provinsi yang belum memiliki RTRW. Dari 133 wilayah administratif pemerintahan, 38 persen
diantaranya belum memiliki RTRW, 12 persen masih dalam proses legalisasi, dan sisanya (50
II - 78

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

persen) sudah memiliki RTRW yang sudah ditetapkan dalam peraturan daerah. Tingginya
daerah-daerah yang belum memiliki RTRW ini tentunya akan berpengaruh terhadap legalitas
dan kepastian hukum segala aktifitas yang memanfaatkan lahan.

2.4.2.

Tata Guna Lahan

Berdasarkan peruntukan lahan di Pulau Sumatera, persentase peruntukan paling


tinggi adalah kawasan lindung (hutan) yang diikuti untuk pertanian (sawah, lahan kering, dan
perkebunan), kemudian diikuti oleh peruntukan kegiatan pemukiman dan industri.
Karakteristik Wilayah Sumatera terdiri dari dua kelompok, yakni daerah-daerah yang
berupa daratan dan daerah kepulauan. Provinsi yang memiliki wilayah daratan (lahan) terluas
adalah Provinsi Riau (8,975,785 Ha). Sedangkan provinsi dengan luas wilayah daratan yang
terrendah adalah Provinsi Bengkulu (1,978,870 Ha). Kepulauan Riau merupakan daerah
dengan wilayah daratan tersempit dengan luas wilayah daratan sebesar 480,375 Ha.
Peruntukan lahan untuk pertanian di Wilayah Sumatera terbesar adalah untuk lahan
pertanian perkebunan, pertanian lahan kering, dan pertanian sawah (Tabel 2.25). Luas lahan
sawah sebesar 2.267.448,69 hektar, pertuntukan lahan sawah terluas terdapat di Provinsi
Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam dengan luas masing-masing 751.467 hektar
dan 354.832 hektar. Peruntukan lahan pertanian tanah kering seluas 4.232.530,32 hektar,
terluas terdapat di Provinsi Lampung, Jambi, dan Sumatera Utara dengan luas masing-masing
921.955 hektar, 789.409 hektar, dan 685.227 hektar. Lahan perkebunan seluas 13.035.512
hektar, luas perkebunan terbesar terdapat di Provinsi Sumatera Selatan, Riau, dan Sumatera
Utara dengan luas masing-masing sebesar 3.049.314 hektar, 2.949.340 hektar, dan 2.747.208
hektar.
Secara umum, wilayah daratan di Pulau Sumatera memiliki intensitas pemanfaatan
lahan rata-rata hampir 50 persen. Daerah-daerah yang selama ini dikenal menjadi konsentrasi
penduduk, seperti Provinsi Lampung, Sumatera Utara, Bengkulu dan Sumatera Selatan,
intensitas pemanfaatan lahannya paling tinggi. Tingginya intensitas pemanfaatan lahan
keempat provinsi tersebut dikarenakan daerah tersebut telah lama mengalami perkembangan.
Tabel 2.25.
Peruntukan Tanah menurut Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2007. (hektar)
Provinsi

NonPertanian

Pertanian
Tanah
Kering

Sawah

Perkebunan

Hutan

Lain-Lain

Jumlah

Intensitas
(%)

Nanggroe Aceh
Darussalam

56,130

337,917

345,946

460,085

4,187,155

349,327

5,736,560

20.92

Sumatera Utara

129,952

751,467

685,227

2,376,852

2,747,208

477,364

7,168,070

55.01

Riau

88,643

67,981

448,452

2,949,340

5,063,771

357,598

8,975,785

39.60

Kepulauan Riau

421

2,784

118,747

349,630

8,793

480,375

25.39

Sumatera Barat

47,905

297,200

430,143

629,722

2,637,076

187,684

4,229,730

33.22

Jambi

33,789

87,262

789,409

1,670,058

1,947,039

572,444

5,100,000

50.60

Bengkulu

40,772

71,042

147,800

764,876

907,944

46,436

1,978,870

51.77

Bangka Belitung

41,016

63,171

155,898

1,378,882

28,095

1,667,060

15.60

Sumatera
Selatan

92,654

354,832

397,645

3,049,314

4,297,999

509,297

8,701,740

44.75

Lampung

148,765

299,747

921,955

860,620

914,308

156,144

3,301,540

67.58

2,267,448.69 4,232,530.32
13,035,512 24,431,011.54
680,047
Sumber: Pengaturan & Penataan Pertanahan 2007 BPN-RI

2,693,182

47,339,730

42.70

Sumatera

II - 79

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Provinsi Lampung merupakan daerah yang memiliki intensitas pemanfaatan lahan


paling tinggi dibandingkan 10 provinsi yang ada di Pulau Sumatera yaitu sebesar 67,58 persen.
Sedangkan intensitas pemakaian lahan paling rendah adalah Provinsi Bangka Belitung yang
hanya mencapai 15,6 persen. Provinsi yang memiliki persentase intensitas pemakaian lahan
terendah selain Bangka Belitung adalah Provinsi NAD (20 persen). Rendahnya intensitas
pemakaian lahan disebabkan oleh kurang berkembangnya aktivitas perekonomian sehingga
belum banyak menyebabkan masifnya pemanfaatan lahan.
Pemanfaatan dan ketersediaan lahan non pertanian dapat dibagi menjadi tiga
kategori, yakni untuk pemukiman, industri dan pertambangan. Provinsi Lampung memiliki
luas pemanfaatan lahan untuk peruntukan selain pertanian yang paling besar dibandingkan
daerah lainnya. Pemakaian lahan untuk kegiatan non pertanian di Provinsi Lampung adalah
untuk pemukiman. Pemanfaatan lahan industri yang paling besar terdapat di wilayah
Bengkulu, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Riau. Sedangkan luasan pemanfaatan lahan
pertambangan yang paling besar terletak di Provinsi Riau.
Tabel 2.26.
Penggunaan/Peruntukan Tanah Non Pertanian di Pulau Sumatera Tahun 2007
No

Provinsi

1.

N. Aceh Darussalam

2.

Sumatera Utara

3.

Riau

Non-Pertanian
Permukiman

Industri

53,986

Pertambangan

2,144

56,130

129,952

129,952

70,972

Kepulauan Riau

421

Sumatera Barat

47,727

Jambi

33,789

Total

485

17,186

88,643
421

178

47,905
33,789

Bengkulu

39,518

Bangka Belitung

41,016

41,016

Sumatera Selatan

92,654

92,654

10

Lampung
Pulau Sumatera

1,254

40,772

148,765

148,765

658,800

4,061

17,186

680,046

Sumber: Pengaturan & Penataan Pertanahan 2007 BPN-RI

Berdasarkan Tabel 2.26 di atas dapat dilihat bahwa Provinsi Lampung dan Sumatera
Utara merupakan dua daerah yang paling besar memanfaatkan ruang untuk aktifitas non
pertanian, yakni untuk pemukiman. Sedangkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri
hanya terdapat di empat wilayah yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera
Barat, dan Bengkulu.
Lahan pertanian dapat dikelompokkan menjadi empat jenis yakni, pertanian sawah
(basah), pertanian kering (Tanaman Semusim dan Kebun), Perkebunan, dan Hutan.
Ketersediaan dan pemanfaatan lahan pertanian di Pulau Sumatera paling besar masih untuk
kehutanan, kemudian secara intensif dimanfaatkan pula untuk lahan perkebunan yang
besarnya mencapai 13 ribu hektar lebih. Untuk pertanian pangan, sawah di Pulau Sumatera
paling besar di Provinsi Sumatera Utara, Lampung dan Jambi. Provinsi Kepulauan Riau dan
Bangka Belitung, sebagai wilayah dengan karakteristik kepulauan tidak cukup memiliki lahan
sawah dan pertanian kering semusim. Peruntukan lahan di daerah ini hanya tersedia untuk
pertanian kebun.
Provinsi Sumatera Selatan memiliki luas wilayah terbesar untuk lahan pertanian non
pangan kemudian diikuti oleh Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data ketersediaan lahan,
Provinsi Lampung memiliki komposisi paling merata baik untuk pertanian pangan maupun
non pangan. Pemanfaatan lahan pertanian Pulau Sumatera di masa yang akan datang sangat

II - 80

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

potensial untuk menggantikan kegiatan pertanian di Pulau Jawa, yang semakin sempit
ketersediaan lahan pertanian (disajikan pada lampiran 2 tabel 32).
Gambar 2.38.
Ketersediaan Lahan untuk Pertanian Menurut Pulau tahun 2007
Ketersediaan Lahan Untuk Pertanian (Hektar) tahun 2007
14.000
12.000
10.000
8.000
6.000
4.000
2.000
0
Sumatera

Jawa-Bali

Nusa
Kalimantan Sulawesi
Tenggara

Lahan Basah Semusim

Lahan Kering Semusim

Maluku

Papua

Lahan Kering Tahunan

Sumber: Pengaturan & Penataan Pertanahan 2007 BPN-RI

Pulau Sumatera menduduki peringkat kedua terbesar setelah Pulau Kalimantan dalam
hal ketersediaan lahan pertanian dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Total luas
lahan pertanian di Pulau Sumatera adalah seluas 26.117.811 hektar yang terdiri dari lahan
basah semusim, lahan kering semusim, dan lahan kering tahunan, dimana lahan kering
tahunan mencapai hampir 50 persen dari keseluruhan lahan pertanian di wilayah ini. Hal ini
mengindikasikan bahwa daerah di Sumatera lebih cocok untuk pertanian tanaman yang
membutuhkan lahan kering, seperti perkebunan dan palawija.
Untuk masa yang akan datang Wilayah Sumatera juga masih memiliki prospek yang
bagus untuk pengembangan sektor pertanian. Hal ini tampak dari data lahan yang tersedia
untuk perluasan areal pertanian yang ada di wilayah ini. Saat ini masih ada lebih dari 5 juta
hektar lahan di Sumatera yang berpotensi dikembangkan untuk pertanian tapi hingga saat ini
belum dikembangkan. Dari luas lahan yang berpotensi untuk dikembangkan untuk perluasan
pertanian di Sumatera, yang paling besar adalah lahan kering tahunan mencapai 70 persen
(3.336.785 hektar) dari lahan yang tersedia. Selain itu di Wilayah Sumatera juga masih
terdapat lahan basah semusim, yang membutuhkan penanganan khusus karena 354.854
diantaranya merupakan lahan rawa (Tabel 2.27).
Tabel 2.27.
Lahan Tersedia Untuk Perluasan Areal Pertanian Di Indonesia (ribu hektar)

Pulau

Luas Lahan Basah Semusim


(Ha)
Rawa

Sumatera
Jawa-Bali
Nusa Tenggara
Kalimantan
Sulawesi
Maluku
Papua
Total

355
0
0
730
0
0
1.893
2.978

Non
Rawa
606
28
35
666
423
246
3.294
5.298

Lahan Kering
Semusim (Ha)

Total
961
28
35
1.396
423
246
5.187
8.276

Sumber: Pengaturan & Penataan Pertanahan 2007 BPN-RI

II - 81

1.312
41
138
3.639
215
50
1.689
7.084

Lahan
Kering
Tahunan
(Ha)
3.227
159
610
7.272
601
651
2.790
15.310

TOTAL
(Ha)
5.499
228
783
12.307
1.240
947
9.666
30.670

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Selain untuk kegiatan pertanian dan non pertanian (pemukiman dan industri), di
wilayah sumatera juga masih tersedia cukup luas untuk penggunaan lainnya, yakni masih
berupa padang, perairan darat, dan tanah terbuka. Wilayah berupa padang memiliki proporsi
terbesar dibandingkan dua kelompok yang lainnya. Provinsi Jambi merupakan daerah paling
luas untuk jenis lahan berupa padang yakni mencapai 518,960 ha. Dari ke 10 provinsi yang ada
di Sumatera, Provinsi Kepulauan Riau, Jambi, dan Bangka belitung, tidak tersedia lahan
terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perekonomian produktif.
Gambar 2.39.
Penggunaan/Peruntukan Tanah non Pertanian Lainnya
di Pulau Sumatera Tahun 2007 (ribu hektar)
Penggunaan/Peruntukan Tanah Non Pertanian Lainnya di Pulau Sumatera
Tahun 2007 (Ribu Hektar)
300
250
200
150
100
50

Padang

Perairan Darat

La
m
pu
ng

Su
m
se
l

B
ab
el

B
en
gk
ul
u

Ja
m
bi

Su
m
ba
r

K
ep
ri

R
ia
u

Su
m
ut

N
A
D

Tanah Terbuka

Pada tahun 2006 penggunaan lahan intensif di Pulau Sumatera paling banyak
digunakan untuk perkebunan, kemudian diikuti oleh pertanian tanah kering. Total lahan
perkebunan di wilayah Sumatera mencapai lebih 50 persen (12.230.267 hektar lebih) dari
keseluruhan lahan non hutan yang ada (20.903.476 hektar non hutan).
Seiring dengan perkembangan perekonomian daerah dengan aktifitas di berbagai
sektor yang mebutuhkan lahan banyak, telah mendorong peralihan peruntukan lahan. Lahan
yang semula ditetapkan dan berupa pertanian kemudian berubah menjadi wilayah
pemukiman atau industri dan sebagainya. Dalam kurun waktu lima tahun, sejak tahun 2002
hingga tahun 2007, alih lahan keseluruhan di Wilayah Sumatera mencapai sekitar 22.46
persen. Dari keseluruhan lahan yang mengalami alih fungsi, lahan sawah merupakan yang
paling banyak mengalami alih fungsi dari sawah ke peruntukkan lainnya, seperti berubah
untuk dijadikan pemukiman, industri, atau perkebunan dan sebagainya.
Sementara laju perubahan lahan perkebunan juga cukup signifikan mengalami
perubahan peruntukan yakni mencapai 18,75 persen. Pada tahun 2002 luas lahan untuk hutan
sebesar 30.197.289.54 hektar, dan pada tahun 2007 dalam kurun waktu lima tahun telah
berkurang sebesar 18,75 persen (Tabel 2.28).
Tabel 2.28.
Perubahan Penggunaan Tanah 2002 2007 Pulau Sumatera (Hektar)
Jenis Lahan

2002

2007

Hutan

30,197,289.54

24,431,011.54

5,766,278

19.1

Perkebunan

15,479,190.19

13,035,512

2,443,678

18.75

Sawah

2,981,512.43

2,267,449

714,064

31.49

48,659,994.15

39,735,979.10

8,924,020.06

22.46

Total

Sumber: Pengaturan & Penataan Pertanahan 2007 BPN-RI

II - 82

Perubahan

% Perubahan

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Isu Strategis Bidang Penataan Ruang


Berdasarkan fakta dan permasalahan tentang kondisi eksisiting wilayah Pulau dan
hasil analisis yang telah dilakukan, dapat dirumuskan secara logis isu-isu strategis yang saling
terkait satu sama lain yang menjadi aspek kunci bagi keberhasilan pembangunan wilayah
Sumatera ke depan. Isu-isu strategis ini dipilih berdasarkan dampak penting yang dihasikan
dalam upaya memacu pembangunan dan pengembangan wilayah Pulau, sejalan dengan arah
kebijakan pembangunan di masing-masing provinsi, serta integrasi arah pembangunan pada
lingkup wilayah Pulau dan pembangunan nasional. Rumusan Isu strategis bidang penataan
ruang wilayah Sumatera dapat dilihat pada Boks 4.

Boks 4:
Isu Strategis Bidang Penataan Ruang:

Terdapat benturan dan ketidaksesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah


(RTRW) antar tingkat pemerintahan, maupun antar daerah
Konflik pemanfaatan ruang baik pada kasus pemanfaatan hutan dan
sektor non kehutanan maupun pada kawasan perbatasan lintas wilayah
provinsi/kabupaten/kota.
Belum optimalnya fungsi PKN, PKW, dan PKSN antarprovinsi dalam
menunjang perkembangan wilayah di setiap provinsi dan wilayah Pulau
Sumatera
Belum optimalnya kelembagaan tata ruang dan peran serta stakeholders
dalam proses penataan ruang
Konversi lahan hutan dan pertanian ke non pertanian cukup tinggi, kurun
waktu 2002-2007 mencapai 22 persen.
Konflik pertanahan terkait dengan status penguasaan dan kepemilikan
tanah, dan sengketa dari pemanfaatan lahan tidur dan tanah terlantar
(BPN 2003)

II - 83

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.5. Bidang Sumber Daya Alam Dan


Lingkungan Hidup
Fakta dan Permasalahan:

Wilayah Sumatera memiliki potensi cadangan sumber energi sumberdaya energi Batu bara:
104.820 juta ton, Gas alam 93 TSCF, Minyak bumi sebesar 5.669 MMS TB, panas bumi sebayak 84
lokasi (13.419 MWe), dan Air sebesar 5.490 MW

Kondisi neraca sumberdaya air, ketersediaan 480.958 Juta m3 (25 persen dari Total Nasional),
terdiri dari 384.774,4 (musim Hujan) dan 96.193,6 Juta m3 (musim kemarau)

Luas Daerah berpengairan Sungai: 80,992.80 ha dengan debit maksimum 7,855.75 m3/detik dan
minimal 558.30 m3/detik

Terjadi alih fungsi hutan yang sangat cepat 2002-2007 mencapai 19.1 persen

Luas lahan kritis di sumetera mencapai 25.898.972 hektar atau sekitar 33,29 persen dari luas
lahan kritis di Indonesia. Luas lahan kritis terbesar di Provinsi Riau seluas 7.116.530 hektar dan
terkecil Kep. Bangka Belitung seluas 672.214 hektar.

Tingginya tingkat deforestasi akibat ilegal loging, ladang berpindah, dan perambahan hutan,
yaitu: mencapai 5.1persen di tahun 2007 untuk seluruh kawasan (Jambi: 20.82 persen, Bengkulu:
46.5 persen, Riau: 15.03 persen).

kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati akibat Konversi habitat alami, pencemaran,
dan Rendahnya kesadaran dan pemahaman tentang keanekaragaman hayati (khususnya
Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung dan Kepulauan Riau)

Kerusakan lahan hutan dan pertanian akibat kebakaran Hutan dan lahan setiap tahun
mengakibatkan polusi yang tinggi hingga ke negara tetangga

Meningkatnya pencemaran/polusi akibat emisi dalam dua tahun (2004-2006) meningkat ratarata sebesar 30 persen, dan masih banyaknya desa yang mengalami pencemaran air (1337 desa),
tanah ( 247 desa), polusi udara dan bau (1185 desa), berkurangnya Ruang Hijau Terbuka (449
desa), dan bising/suara: 737 desa

2.5.1. Sumber Daya Alam


a.

Pertambangan dan Energi

Wilayah Sumatera dan sekitarnya merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber
daya pertambangan maupun migas cukup tinggi dan terbesar secara nasional. Di bawah ini
disajikan data potensi cadangan sumberdaya energi tahun 2007. Tabel 2.29 menunjukan
wilayah Sumatera memiliki potensi pertambangan batu bara terbesar yaitu mencapai 104.820
juta ton, potensi batu bara terbesar di wilayah Sumatera terdapat di Provinsi Sumatera
Selatan yaitu sebesar 47.085 juta ton dan terendah di Provinsi Sumatera Utara sebesar 53,94
juta ton.
Kekayaan sumber daya lainnya adalah gas alam. Cadangan terbesar gas alam dan
minyak bumi terbesar terdapat di Provinsi Kep. Riau dan Riau dengan cadangan sebesar 61
TSCF gas alam dan 4.482 MMS TB. Sedangkan untuk potensi panas bumi di wilayah Sumatera
dan sekitarnya dilihat dari jumlah lokasi. Lokasi terbanyak terdapat di wilayah Provinsi NAD
dengan 17 lokasi yang diketahui. Panas bumi ini bisa digunanakan untuk sumber penghasil
energi listrik. Diseluruh wilayah Sumatera terdapat sekitar 84 lokasi yang memungkinkan
adanya sumber daya panas bumi. Sumber energi lainnya yang bisa digunanakan untuk sumber
energi listrik adalah air. Potensi sumber daya air di wilayah Sumatera dan sekitarnya bisa
digunanakan untuk menghasilkan energi listrik sebesar 5.490 mega watt. Sumber daya air ini
terbesar terdapat di Provinsi NAD, dengan potensi sebesar 2.626 mw.
II - 84

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.29.
Cadangan Potensi Sumberdaya Energi di Pulau Sumatera
Provinsi

Batu
Bara1)
(juta ton)

NAD

(TSCF)

450.15

Sumatera Utara

53.94

Sumatera Barat

732.16

Riau dan Kep. Riau

Minyak
Bumi2)
(MMS TB)

Gas Alam 2)

3.71

1,767.54

(Mwe)

17

1,232

128.68
-

7.96

4,155.67

3,345
1,656

25

Batam

Bangka Belitung

75

Bengkulu
Sumatera Selatan

(MW)
2,626
12
949

2,069.07

1,047

370

198.65

1,273

1,000

917.36

1,911

13

2,855

524

5,669.14

84.00

13,419

5,490

47,085.08

Lampung

52,463.54

Sumatera

326.15

16
16

Kep. Natuna

Jambi

53.06

Air3)

(lokasi)

141.28

1.32
-

Panas Bumi1)

26.68
-

104,820.13

92.73

Sumber: DESDM 2007/2008

b.

Kehutanan

Hutan merupakan sumber daya hayati yang sangat berguna untuk mendukung
keberlanjutan kehidupan manusia di sekitarnya. Sumatera merupakan salah satu pulau yang
memiliki luas hutan yang besar dan memiliki juga beberapa wilayah konservasi. Sumber daya
kehutanan di wilayah Sumatera dan sekitarnya, terbagi di dalam beberapa kawasan hutan
(dapat lihat di lampiran 2 tabel 44).
Untuk kawasan hutan lindung, luasan wilayah Sumatera dan sekitarnya termasuk
besar jika dibandingkan dengan luas total hutan lindung seluruh Indonesia yaitu dengan
proporsi 19,3 persen. Wilayah hutan lindung terbesar terdapat di Provinsi NAD, dengan luasan
1.844.500 ha. Sedangkan provinsi yang mempunyai luasan hutan lindung terendah adalah
Provinsi Bangka Belitung dengan luas 156.730 ha. Untuk luasan hutan produksi, provinsi
dengan luas hutan produksi terbesar adalah Provinsi Riau dengan jumlah 1.971.553 ha, dan
terendah terdapat di Provinsi Lampung dengan luasan33.358 ha. Total luas hutan produksi di
wilayah Sumatera dan sekitarnya mencapai 3.908.224 ha atau sekitar 17,37 persen dari total
luas hutan produksi di Indonesia, hutan produksi ini merupakan hutan penghasil sumber daya
selain kayu seperti getah-getahan, akar-akaran dan lainnya. Sedangkan hutan produksi
terbatas, luas wilayah terbesar terdapat di Provinsi Sumatera Selatan, dan hutan produksi
yang dapat dikonversi menjadi hutan lainnya ataupun lahan penggunaan lainnya terluas
terdapat di provinsi 4.770.085 ha.

c.

Daerah Aliran Sungai

Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau dengan beberapa sungai yang cukup
besar seperti Sungai Musi di Provinsi Sumatera Selatan, sungai Kampar di Provinsi Riau, dan
sungai Batanghari di Provinsi Jambi. Sungai besar ini mengairi beberapa kawasan di pulau
Sumatera dan bahkan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya. Sungai
dengan luas daerah pengaliran sungai terbesar adalah sungai Batanghari yang terdapat di
Provinsi Jambi dengan luas pengaliran mencapai 24.128 km2 dengan debit maksimum
mencapai 3.804 m3/detik. Dengan memperhatikan luas daerah pengaliran per sungai
menunjukkan seberapa luas daerah yang bisa diairi oleh tiap sungai tersebut, dan mungkin
akan menjadi sumber daya air bagi masyarakat sekitar yang tinggal di wilayah DAS (disajikan
pada lampiran 2 tabel 47).

II - 85

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.5.2.
a.

Lingkungan Hidup

Kerusakan Lahan dan Hutan

Seperti yang telah dijelaskan diatas, hutan terbagi menjadi kawasan-kawasan dan
tatagunanya, masing-masing provinsi di wilayah Sumatera dan sekitarnya juga mempunyai
luasan lahan kritis di wilayah daratan. Luas lahan kritis di wilayah sumatera sebesar
25.898.972 hektar atau sekitar 33,29 persen dari luas lahan kritis di Indonesia. Luas lahan
kritis di Sumatera terluas terdapat Provinsi Riau seluas 7.116.530 hektar, Sumatera Utara
seluas 5.218.628 hektar, Sumatera Selatan seluas 4.405.757 hektar dan terkecil di Provinsi
Kep. Bangka Belitung seluas 672.214 hektar (Tabel 2.30).
Tabel 2.30.
Luas Lahan Kritis Menurut Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2007. (Hektar)
Luas
(Ha)
(%)
1,668,264.59
5,218,628.97
1,470,670.38
7,116,530.88
2,205,575.08
4,405,757.38
1,417,883.59
1,723,447.69
672,214.21
25,898,972.77

Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Bangka Belitung
P. Sumatera

6.44
20.15
5.68
27.48
8.52
17.01
5.47
6.65
2.60
100.00

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2006/2007

Lahan kritis seperti yang telah dijabarkan diatas, disebabkan oleh aktivitas manusia
seperti perambahan hutan, peladangan berpindah, penebangan liar, dan sebagainya. Di bawah
ini disajikan beberapa data untuk jenis kerusakan hutan yang terjadi di wilayah Sumatera dan
sekitarnya. Untuk jenis penyebab kerusakan perambahan hutan, luas hutan terbesar yang
rusak akibat kegiatan ini terdapat di Provinsi Sumatera Utara dengan luas 2.807,4 ha,
sedangkan untuk jenis kerusakan akibat peladang berpindah, lahan yang rusak mencapai
2.460 ha. Akan tetapi perusakan hutan akibat penebangan liar terberat terdapat di Provinsi
Jambi dengan kayu yang diambil mencapai 45.353,3 ha.
Tabel 2.31.
Kerusakan Hutan Menurut Jenis Kerusakan Tahun 2005
Provinsi

Perambahan
hutan (ha)

Perladangan
berpindah
(ha)

NAD
Sumatera Utara

2.807,4

2.460

Sumatera Barat

Penebangan
liar (m3)

Luas areal
hutan (ha)

24,3

3.549.000

732,6

3.742.000

6.889

2.600.000

Jambi

500

5,5

45.353,3

2.179.000

Bengkulu

9,2

33,6

921.000

58.699,4

3.906.000

Riau & Kerpi


Sumatera Selatan
Lampung

724,5

671,5

242,9

4.416.000

623

1.009.000

Bangka belutung

658.000

Sumber: BPS, Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 2007

II - 86

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Ada beberapa kawasan yang merupakan konservasi daratan. Untuk luasan lahan ini
disajikan dalam tabel di bawah ini. Untuk konservasi jenis cagar alam, luasan terbesar
terdapat di wilayah Provinsi Sumatera Barat dengan pertumbuhan luasan lahan cagar alam
yang mencapai hampir 7 kali lipat setelah di tahun 2002 hanya mencatat akan luas 52.540 ha
menjadi 361.506 ha. Hal ini dapat dimaklumi karena dalam wilayah Sumatera Barat terdapat
beberapa kawasan cagar alam.
Sedangkan untuk provinsi yang memiliki luas kawasan cagar alam terendah adalah
Provinsi Sumatera Selatan. Untuk jenis konservasi suakamarga satwa, luasan yang terluas
terdapat di wilayah Provinsi Riau, dengan luas 370.387 ha di tahun 2005. Luasan lahan ini
meningkat lebih dari 2 kali lipat dari tahun 2002 dengan luasan 177.192 ha. Sedangkan untuk
luasan taman wisata, di wilayah Sumatera dan sekitarnya tercatat beberapa provinsi yang
mempunyai kawasan ini. Di tahun 2005, hanya 3 provinsi di wilayah Sumatera dan sekitarnya
yang tidak mempunyai taman wisata, yaitu Provinsi NAD, Bangka Belitung dan Lampung.
Untuk pemulihan hutan yang telah kritis, diperlukan tindakan pemulihan lahan yang
terdiri dari beberapa kegiatan seperti reboisasi, rehabilitasi lahan, dan rehabilitasi hutan
bakau. Di tahun 2005, kegiatan pemulihan hutan reboisasi lahan yang kritis terbesar ada di
Provinsi Sumatera Barat dengan luasan yang telah direboisasi sebesar 3756 ha di tahun 2005,
sedangkan di tahun 2002, reboisasi lahan terbesar dilakukan oleh Provinsi NAD dengan
luasan 1.710 Ha. Kegiatan lain dari pemulihan lahan yaitu rehabilitasi lahan, terbesar
dilakukan oleh Provinsi Riau untuk tahun 2002 dengan luasan 8682 ha.
Sedangkan di tahun 2005, provinsi yang giat melakukan kegiatan rehabilitasi lahan
adalah Provinsi Sumatera Barat dengan luasan lahan yang telah direhabilitasi sebesar 7321 ha.
Rehabilitasi lainnya yang sangat penting adalah rehabilitasi kawasan hutan bakau. Kawasan
ini sangat penting untuk mendapatkan rehabilitasi karena untuk menghindari abrasi dari air
laut. Kawasan hutan bakau juga bisa menjadi sumber daya yang penting seperti perikanan
maupun biota laut lainnya. Provinsi yang melakukan kegiatan rehabilitasi hutan bakaudi
tahun 2002 adalah Provinsi NAD dengan luasan lahan yang direhabilitasi sebesar 340ha.
Untuk tahun 2005 provinsi yang melakukan rehabilitasi adalah Provinsi Riau dengan luasan
200 ha.
Tabel 2.32.
Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati di Sumatera
NAD
Pulau Weh*
Ulu Masin
Jambo (Seulawah)
Danau Laut Tawar
Baleq+
Geureudong
Rawa Tripa
Leuser
Soraya
Trumon-Singkil
Lae Raso
Pulau Simeulue
Sumatera Barat
Pulau Nias*
Tana Massa*
Gunung Talakmau+
Malampah Alahan Panjang
Gunung Singgalang
Lubuk Selasih+
Kerinci Seblat+
Pasir Ganting*
Rawa Lunang
Hutan Siberut Utara

Sumatera Utara
Karang Gading Langkat Timur Laut*
Hutan Raya Bukit
Tuntungan*
Pesisir Timur Pantai Sumatera Utara
Danau Toba
Sicike-cike*
Sindiangkat
Rawa Tapus
Batang Toru
Angkola
Maeno
Batang Gadis
Riau
Hutan Rawa Gambut Baumun Rokan
Siak Kecil
Hutan Rawa Gambut Siak Kampar
Kerumutan
Japura*
Tesso Nilo
Baturidjal
Bukit Baling
Bukit Tigapuluh

II - 87

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Siberut
Pulau Sipora+
Pagai Utara
Pagai Selatan

Jambi
Pesisir Pantai Jambi
Sungai Batang Hari*
Berbak
Sipurak
Bukit Bahar Tajau
Hutan Meranti
Merang
Bengkulu dan Lampung
Bengkulu
Tahura Bengkulu
Bikit Kaba*
Kepahiang*
Pulau Enggano+

Riau Kepulauan
Pesisir Riau Tengara
Bintan Utara
Kelulauan Lingga*
Pulau Natura
Bukit Pnajang-Bukit
Bukit Bakar Bukit Gajah*
Sumatera Selatan
Sungai Sembilang
Tanjung KoyanDaratan Banjir Ogan Komering Lebak
Gumai Pasemah*
Pagar Alam+
Dirgahayu Rimba
Gunung Sagu
Kemumu*
Lampung
Bukit Barisan Selatan
Rawa Tulang Bawang*
Way Kambas
Bikang
Toboali
Pulau Belitung*

Sumber: CEPF, 2006


Catatan: + Daerah Alliance for Zero Extinction,
* Calon Daerah Prioritas untuk Konservasi keanekaragaman Hayati

b.

Polusi Udara

Sementara fenomena penurunan kualitas lingkungan semakin mengemuka dengan


adanya isu climate change yang diakibatkan oleh aktivitas manusia di seluruh dunia. Salah
satu akibat penurunan kualitas lingkungan adalah bersumber dari jumlah emisi yang
dihasilkan oleh kendaraan bermotor meliputi hidro karbon (Hc), hidro genoksigen (NO x ),
carbon monoksida (CO), sulfur oksida (SO x ), debu dan lainnya. Jenis emisi ini memberikan
kontribusi terhadap calimate change (disajikan pada lampiran 2 table 48).
Dari semua jenis polutan udara yang ada di wilayah Sumatera dan sekitarnya,
komponen karbon monoksida merupakan jenis polutan terbesar yang melingkupi udara
Sumatera dan sekitarnya. Polusi dari karbon monoksida terbesar terdapat di wilayah Sumatera
Utara. Jumlah polutan karbon monoksida ini semakin meningkat dari sebelumnya 1.340.246
ton di tahun 2004, menjadi 1.793.886 ton di tahun 2006, hal ini menunjukkan peningkatan
penggunaan kerndaraan bermotor. Begitu juga dengan polutan lainnya, di wilayah sumatara
dan sekitarnya jumlah polutan dari jenis hidro karbon, nitrogen oksida dan sulfur oksida.
Secara umum, terlihat dari tabel diatas polutan dari emisi kendaraan bermotor diseluruh
provinsi yang ada di wilayah Sumatera dan sekitarnya mengalami peningkatan. Namun
komponen yang terbesar diseluruh provinsi adalah komponen karbon monoksida yang
merupakan emisi terbesar dari kendaraan bermotor.

c.

Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati merupakah sumber daya alam yang mengandung potensi bila
dikelola dengan baik. Keanekaragaman tersebut mencakup wilayah pesisir, taman laut,
maupun kepulauan. Namun demikian sejalan dengan perkembangan peradaban manusia yang
laju pembangunan seringkali mengakibatkan kerusakan keanekaragaman hayati. Kerusakan
tersebut mengakibatkan merosotnya ekosistem yang pada akhirnya mengganggu
keseimbangan lingkungan. Beberapa wilayah di Sumatera telah mengalami kerusakan
lingkungan terkait dengan keanekaragaman hayati adalah Sumatera Barat, Bengkulu,
Lampung dan Kepulauan Riau. Kerusakan keanekaragaman hayati di wilayah Sumatera dan
penyebabnya terlihat pada tabel di bawah ini.
II - 88

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 2.33.
Wilayah Kritis Kehati Laut di Sumatera
Krisis
Kemerosotan dan penyusutan
ekosistem terumbu karang
Kemerosotan dan penyusutan
ekosistem magrove
Pencemaran perairan pesisir yang
kemudian menyebabkan kematian
karang dan biota laut lain
Penambangan pasir skala besar di
pulau kesil kemudian menyebabkan
penyusutan dan pelenyapan pulau

Wilayah
Sumatera Barat,
Bengkulu, Lampung,
Kepulauan Riau

Penyebab
Teknologi (pemanfaatan) yang
merusak
Pemanfaatan berlebihan
Konversi habitat alami
Pencemaran
Tekanan populasi, kemiskinan dan
keserakahan
Rendahnya kesadaran dan
pemahaman tentang
keanekaragaman hayati.

Sumber: Bappenas 2004

Isu Strategis Bidang Sumber Daya Alam Dan


Lingkungan Hidup
Berdasarkan fakta dan permasalahan tentang kondisi eksisiting wilayah Pulau dan
hasil analisis yang telah dilakukan, dapat dirumuskan secara logis isu-isu strategis yang saling
terkait satu sama lain yang menjadi aspek kunci bagi keberhasilan pembangunan wilayah
Sumatera ke depan. Isu-isu strategis ini dipilih berdasarkan dampak penting yang dihasikan
dalam upaya memacu pembangunan dan pengembangan wilayah Pulau, sejalan dengan arah
kebijakan pembangunan di masing-masing provinsi, serta integrasi arah pembangunan pada
lingkup wilayah Pulau dan pembangunan nasional. Rumusan Isu strategis untuk bidang
sumber daya alam dan lingkungan hidup di wilayah Pulau Sumatera dapat dilihat pada Boks
5.

Boks 5:
Isu Strategis Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan di
Wilayah Sumatera:

Belum optimalnya pengelolaan Sumberdaya energi dan pengembangan


infrastruktur (khusunya minyak dan gas bumi) dalam upaya pemenuhan
kebutuhan sektor (industri rumah tangga, bisnis, dan publik)
Kecenderungan akan terjadinya krisis air akibat peningkatan
permintaan/kebutuhan akan air.
Semakin tingginya alih fungsi lahan pertanian dan pertanian produktif ke
penggunaan non pertanian, serta luasnya lahan kritis yang mengancam
keseimbangan lingkungan
Gangguan lingkungan hidup akibat meningkatnya pencemaran air, tanah
dan udara khusunya di daerah Perkotaan
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun
Tingginya laju deforestasi dan degradasi sumberdaya lahan, serta
terancamnya kelestarian keanekaragaman hayati akibat aktivitas
manusia.

II - 89

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.6. Bidang Politik, Pertahanan, dan


Keamanan
Fakta dan Permasalahan:

Situasi keamanan di wilayah perbatasan (Selat Malaka) yang belum stabil dari kriminalitas
perairan

Prasarana pertahanan yang belum memadai untuk menjaga wilayah perbatasan laut (kapal
patroli keamanan)

Indeks Persepsi Korupsi (IPK) berkisar antara 4.43 hingga 5.66 (IPK Nasional 4.57). Nilai IPK
tertinggi di Sumatra tercatat di Tanah Datar dan terrendah di Pekan Baru.

Tingkat korupsi yang relatif rendah (dibandingkan dengan rata-rata nasional) ada di Banda
Aceh, Medan, Solok, Tanah Datar, Padang dan Palembang. Sedangkan Batam dan Pekan Baru
memiliki tingkat korupsi yang relatif tinggi.

Maraknya kegiatan illegal logging dan perambahan pada kawasan hutan khususnya di Provinsi
Riau, Sumatra Utara, dan Sumatera Selatan

Banyaknya jumlah desa yang mengalami perkelahian massal, perkelahian antar kelompok
warga, warga dengan aparat keamanan, perkelahian antar suku, dan kejahatan narkoba

Situasi keamanan di wilayah perbatasan (Selat Malaka) yang belum stabil dari kriminalitas di
wilayah perairan

Prasarana pertahanan yang belum memadai untuk menjaga wilayah perbatasan laut (kapal
patroli keamanan)

2.6.1.

Politik

Pada saat pemilu tahun 2004 di Wilayah Sumatera, penguasaan suara atau pilihan
terbesar masyarakat jatuh pada partai golkar dengan basis massa pemilih terbesar terdapat di
Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan untuk partai dengan jumlah desa pemilih terendah
adalah PKB, hal ini dikarenakan sebagian besar massa PKB terdapat di Pulau Jawa. Sedangkan
partai yang berbasis agama di wilayah Sumatera dengan desa pemilih terbesar adalah PPP,
dan untuk partai yang berbasis nasionalis adalah Partai Golkar. Provinsi Kepulauan Riau
belum termasuk ke dalam perhitungan karena masih tergabung dalam Provinsi Riau.
Tabel 2.34.
Banyaknya Desa Menurut Provinsi dan Nama Partai yang Mendapat Suara Terbanyak
untuk DPRD Provinsi Pada Pemilu 2004
PDIP

GOLKAR

PPP

PKB

PAN

Demokrat

PKS

NAD

Provinsi

201

1204

977

150

1249

668

356

Sumatera Utara

1199

2403

168

49

106

220

137

Sumatera Barat

22

473

46

155

21

94

Riau

156

1097

65

32

78

48

42

Jambi

76

571

103

38

246

60

12

Sumatera Selatan

843

1144

66

45

112

272

37

Bengkulu

179

679

21

17

51

70

39

Lampung

699

925

43

68

57

186

58

Bangka Belitung

105

119

3480

8615

1495

407

2058

1553

781

Total
Sumber: Podes 2005.

II - 90

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Dari penjabaran tabel diatas, untuk Wilayah Sumatera pada saat Pemilu tahun 2004,
penguasaan suara atau pilihan terbesar masyarakat jatuh pada Partai Golkar dengan basis
massa pemilih terbesar terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan untuk partai dengan
jumlah desa pemilih terendah adalah PKB, hal ini dikarenakan sebagian besar massa PKB
terdapat di Pulau Jawa. Sedangkan partai yang berbasis agama di wilayah Sumatera dengan
desa pemilih terbesar adalah PPP, dan untuk partai yang berbasis nasionalis adalah partai
Golkar. Dari tabel diatas, Provinsi Kepulauan Riau belum termasuk kedalam perhitungan
karena masih tergabung dalam Provinsi Riau.
Gambar 2.40.

Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Legislatis Per Provinsi


di Wilayah Sumatera Tahun 2004. (persen)
Tingkat Partisipasi Politik DalamPemilu Legislatif 2004 (%)
100
90
80
70

82,1
77,3

60

70,4

71,9

50

75,7

76,0

76,1

68,9

64,0

40
30
20
10
0
Sumut

Jambi

Bengkulu

Jabar

Jateng

Jatim

Kaltim

Sulsel

Gorontalo

Sumber: Statistik Politik dan Keamanan 2006

Grafik di atas merupakan sampling dari penjabaran tingkat partisipasi pemilih pada
saat pemilu legislatif 2004. Untuk wilayah Sumatera diwakili oleh tiga provinsi yaitu Sumatera
Utara dengan 70.42 persen pemilih, Jambi dengan 71.93 persen pemilih, Bengkulu 68.89
persen. Jika dibandingkan dengan provinsi sampling lainnya, tingkat partisipasi ini di masingmasing provinsi untuk wilayah Sumatera dan sekitarnya termasuk rendah.
Tingkat partisipasi yang rendah juga terjadi saat pemilihan presiden di tiga provinsi di
wilayah Sumatera yang menjadi sampel, jika dibandingkan provinsi lainnya yang mewakili
masing-masing pulau, meskipun jika dibandingkan pada saat pemilu legislatif, tingkat
partisipasi di tiga provinsi tersebut meningkat. Hal ini terlihat dari grafik di bawah ini.
Rendahnya partisipasi pemilih di ketiga provinsi sampling ini menunjukkan rendahnya
kesadaran politik dari masing-masing daerah tersebut. Hal ini mungkin saja terjadi karena
adanya beberapa hal seperti akses ke tempat pemilihan yang sulit dan tidak adanya wakil calon
dari Wilayah Sumatera dan sekitarnya.
Gambar 2.41.

Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Presiden Per Provinsi


di Wilayah Sumatera Tahun 2004. (persen)
Tingkat Partisipasi Politik DalamPemilu Presiden tahun 2004 (%)
100
90

90,1

80

82,7

70
60

73,4

77,8

80,1

78,9

Jateng

Jatim

81,6
74,9

69,8

50
40
30
20
10
0
Sumut

Jambi

Bengkulu

Jabar

Sumber: Statistik Politik dan Keamanan 2006

II - 91

Kaltim

Sulsel

Gorontalo

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

2.6.2. Keamanan.
a.

Konflik Sosial

Dari segi keamanan sipil, telah terjadi beberapa konflik horisontal yang melibatkan
beberapa kelompok dalam masyarakat seperti antar warga, antar pelajar dan warga dengan
aparat keamanan. Untuk konflik antar warga, secara kuantitatif, provinsi yang mengalami
konflik antar warga dengan desa terbanyak terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Sementara
dilihat dari rata-rata pulau, yang tertinggi di Wilayah Sumatera adalah Provinsi Bangka
Belitung. Untuk konflik perkelahian antara warga dan aparat keamanan, secara nominal masih
dipegang oleh Provinsi Sumatera Utara, sedangkan dilihat dari prosentase rata rata provinsi
terhadap pulau, terdapat di Provinsi Sumatera Barat. Untuk jenis konflik perkelahian pelajar,
prosentase tertinggi terdapat di provinsi Sumatera Barat. Dan untuk konflik antar suku,
persentase desa yang mengalami perkelahian antar suku tertinggi terdapat di Provinsi Riau,
serta untuk konflik lainnya, persentase tertinggi juga terdapat di Provinsi Riau (disajikan pada
lampiran 2 Tabel 49).
Sehubungan dengan penjelasan diatas, perlu kita lihat juga dampak dari konflik yang
mengarah pada perkelahian massal. Tercatat jumlah perkelahian massal yang terjadi di
Wilayah Sumatera dan sekitarnya, beserta kerugian yang dialami. Persentase terbesar jika
dibandingkan dengan rata-rata pulau untuk terjadinya perkelahian massal terdapat di Provinsi
Sumatera Barat. Sedangkan dari segi kerugian yang dialami akibat perkelahian massal, baik
kerugian materi maupun korban jiwa terdapat, tertinggi terdapat di Provinsi Sumatera Utara
dengan total kerugian sebesar Rp. 5.541.806,- (dapat di lihat pada lampiran 2 Tabel 50).

b.

Kriminalitas

Terdapat beberapa jenis kejahatan yang terjadi di suatu desa di masing-masing


provinsi di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Untuk kejahatan jenis pencurian, provinsi yang
dengan jumlah desa yang mengalami kejahatan jenis ini terdapat di Provinsi Sumatera Utara,
akan tetapi untuk tingkat persentase desa terhadap persentase pulau yang tertinggi terdapat di
Provinsi Lampung sebesar 59,23 persen. Untuk jenis kejahatan perampokan secara kuantitas
terdapat di Provinsi Sumatera Utara, sedangkan dilihat dari persentase provinsi terhadap
pulau, tertinggi terdapat di Provinsi Riau dengan tingkat 17 persen. Kejahatan jenis lainnya
yaitu penjarahan, tertinggi secara kuantitas terdapat di Provinsi NAD, sedangkan untuk
persentase tertinggi terhadap persentase pulau, terdapat di Provinsi Riau.
Untuk kejahatan jenis tindak kekerasan seperti penganiayaan persentase tertinggi
terhadap persentase pulau terdapat di Provinsi Sumatera Barat, kemudian untuk jenis
kejahatan pembunuhan persentase tertinggi terhadap persentase pulau terdapat di Provinsi
Riau, dan terakhir untuk kejahatan perkosaan persentase tertinggi terdapat di Provinsi
Sumatera Barat dengan 5,05 persen. Jenis kejahatan lainnya seperti pembakaran, terdapat di
Provinsi NAD dengan 3,33 persen. Untuk jenis kejahatan narkoba yang menjadi fokus
prioritas nasional, provinsi yang desanya mengalami kejahatan narkoba adalah NAD, namun
jika dilihat dari persentase desa di satu provinsi terhadap pulau terdapat di Provinsi Sumatera
Barat (lihat pada lampiran 2 Tabel 51).
Dari hasil Survei mengenai tingkat kepercayaan responden untuk meninggalkan
rumah dalam keadaan kosong, memperlihatkan bahwa responden di Pulau Jawa dan
Kalimantan memiliki tingkat kepercayaan tertinggi untuk meninggalkan rumah dalam
keadaan kosong.

II - 92

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Gambar 2.42.
Tingkat Rasa Percaya Bila Meninggalkan Rumah
dalam Keadaan Kosong Akan Aman. (persen)

Tingkat Rasa Percaya Bila Meninggalkan Rumah dalam


Keadaan Kosong akan Aman (%)

Sulawesi dan NTT


Kalimantan

16,92
8,08 0,62

91,30

Jawa

91,30

Sumatera

75,60
0%

8,08

75,00

10%

20%

30%

Percaya

40%

50%

8,08 0,62
18,08
60%

Kurang Percaya

70%

80%

6,32

90% 100%

Tidak Percaya

Sumber: Studi Kerawanan Sosial 2006, BPS

Sedangkan respoden di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara memiliki


tingkat kepercayaan cukup rendah yaitu hanya sekitar 75 persen. Terdapat dua faktor yang
sangat mungkin menyebabkan perbedaan tingkat kepercayaan antar pulau ini, yaitu pertama:
tingkat kejahatan, dan kedua: ketersediaan sarana dan aparat keamanan. Tingkat kepercayaan
yang tinggi di Pulau Kalimantan, berdasarkan statistik yang ada, lebih disebabkan rendahnya
tingkat kejahatan dibandingkan ketersediaan sarana dan aparat keamanan. Sedangkan tingkat
kepercayaan yang rendah di Pulau Sumatera, meskipun sarana dan aparat keamanan yang
relatif lebih memadai dibandingkan Pulau Kalimantan namun tingkat kejahatan secara relatif
jauh lebih tinggi di pulau ini. Hal yang berbeda terjadi di Pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara,
nilai kepercayaan yang rendah kemungkinan lebih disebabkan kepada ketersediaan sarana dan
aparat keamanan dibandingkan tingkat kejahatan. Hal ini diperkuat dengan lebih rendahnya
tingkat tindak kejahatan di Pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara.

II - 93

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Isu Strategis Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan


Berdasarkan fakta dan permasalahan tentang kondisi eksisiting wilayah pulau dan
hasil analisis yang telah dilakukan, dapat dirumuskan secara logis isu-isu strategis yang saling
terkait satu sama lain yang menjadi aspek kunci bagi keberhasilan pembangunan Wilayah
Sumatera ke depan. Isu-isu strategis ini dipilih berdasarkan dampak penting yang dihasikan
dalam upaya memacu pembangunan dan pengembangan wilayah pulau, sejalan dengan arah
kebijakan pembangunan di masing-masing provinsi, serta integrasi arah pembangunan pada
lingkup wilayah pulau dan pembangunan nasional. Rumusan isu strategis untuk bidang
politik, pertahanan, dan keamanan di wilayah Pulau Sumatera dapat dilihat pada Boks 6.

Boks 6:
Isu Strategis Bidang Politik, Pertahanan, dan Keamanan di
Wilayah Sumatera:

Kurang optimalnya peran aparat keamanan dalam mengurangi


gangguan keamanan dan kriminalitas berat (narkoba, illegal logging,
kejahatan pada kawasan hutan, dan perkelahian warga)
Lemahnya mekanisme monitoring dan evaluasi pemerintah pusat
terhadap produk hukum, sehingga terjadinya dis-harmonisasi peraturan
perundangan antar level
Belum optimalnya mekanisme monitoring dan evaluasi terhadap
pelaksanaan
pemekaran
daerah.
Pemerintahan
(pusat
dan
provinsi/kab/kota), dan antar sektor
Belum optimalnya kelembagaan intermediasi untuk menampung aspirasi
dan partisipasi masyarakat di NAD dan wilayah pedalaman
Kurang kuatnya keamanan wilayah perbatasan, termasuk sarana
pertahanannya
Belum optimalnya alutsista untuk mendukung pengamanan wilayah
perbatasan selat dan pengamanan pulau terluar

II - 94

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

BAB III
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
Strategi dan arah kebijakan pengembangan wilayah Sumatera disusun dengan
mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) guna mewujudkan penataan ruang wilayah
termasuk perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang secara serasi,
seimbang, harmonis, terpadu, produktif, aman, nyaman dan berkelanjutan. Selain itu,
penyusunan strategi dan arah kebijakan pengembangan Wilayah Sumatera memperhitungkan
isu strategis yang harus dihadapi penduduk dan pemerintah Wilayah Sumatera dalam 5 tahun
mendatang baik dari segi ekonomi, sosial dan kependudukan, infrastruktur, sumber daya alam
dan lingkungan, serta politik, hukum dan keamanan. Penyusunan strategi juga dilakukan
dengan memperhatikan keterkaitan antara pengembangan Pusat Kegiatan Nasional (PKN),
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Sementara,
Pusat Kegiatan Lokal (PKL) menjadi pendukung dari pengembangan PKN, PKW dan PKSN.

3.1

Arahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJPN) 20102014

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 menyebutkan


bahwa prioritas RPJMN 2010-2014 adalah memantapkan penataan kembali NKRI,
meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, membangun kemampuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dan memperkuat daya saing perekonomian. Selain itu, RPJMN 2010-2014
diarahkan untuk mendukung antara lain: (1) terwujudnya kehidupan bangsa yang lebih
demokratis ditandai dengan membaiknya pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah; (2)
meningkatnya kualitas pelayanan publik yang lebih murah, cepat, transparan dan akuntabel
yang ditandai dengan terpenuhinya Standar Pelayanan Minimun (SPM) di semua tingkatan
pemerintahan; (3) meningkatnya kesejahteraan rakyat terus meningkat ditunjukkan oleh
membaiknya berbagai indikator pembangunan, menurunnya kesenjangan kesejahteraan
antarindividu, antarkelompok masyarakat dan antardaerah, dipercepatnya pengembangan
pusat-pusat pertumbuhan potensial di luar Jawa; (4) mantapnya kelembagaan dan kapasitas
antisipatif serta penanggulangan bencana di setiap tingkatan pemerintahan; (5) meningkatnya
kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan
mengintegrasikannya ke dalam doumen perencanaan pembangunan terkait dan penegakan
peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang.
Dalam RPJMN 2010-2014, strategi pengembangan wilayah diarahkan untuk (1)
mendorong pengembangan dan pemerataan pembangunan wilayah secara terpadu sebagai
satu kesatuan kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya dengan memperhatikan potensi,
karakteristik dan daya dukung lingkungannya; (2) menciptakan keseimbangan pemanfaatan
ruang antara kawasan berfungsi lindung dan budidaya dalam satu ekosistem pulau dan
perairannya; (3) menciptakan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah darat, laut, pesisir,

III - 95

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

dan pulau-pulau kecil dalam satu kesatuan wilayah kepulauan; (4) meningkatkan efektivitas
dan efisiensi pelaksanaan pembangunan lintas sektor dan lintas wilayah yang konsisten
dengan kebijakan nasional yang memayunginya; (5) memulihkan daya dukung lingkungan
untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar dan menjamin keberlanjutan
pembangunan; (6) menciptakan kesatuan dan keutuhan wilayah darat, laut dan udara sebagai
bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3.2

Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera

Tujuan pengembangan wilayah Pulau Sumatera dalam kurun waktu 2010-2014 antara
lain adalah
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Meningkatkan standar hidup masyarakat Sumatera


Meningkatkan produksi dan produktivitas sektor pertanian, perkebunan,
perikanan dan pertambangan di Sumatera
Mengembangkan jaringan dan meningkatnya transportasi di Wilayah Sumatera
Mengembangkan Sumatera Bagian Selatan sebagai lumbung pangan dan
lumbung energi
Mengembangkan Sumatera Bagian Tengah dan Sumatera Bagian Utara sebagai
pusat perkebunan dan agribisnis
Mewujudkan keseimbangan pembangunan Wilayah Sumatera Bagian Utara dan
Sumatera Bagian Selatan, dan pesisir pantai.

Sasaran pengembangan Wilayah Sumatera dalam kurun waktu 2010-2014 adalah


sebagai berikut:
(1)
Meningkatnya standar hidup masyarakat Sumatera
a. Meningkatnya pendapatan per kapita di Pulau Sumatera.
i. Pendapatan perkapita Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam meningkat
dari Rp.7,972.22 ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.8,882.23 ribu pada
tahun 2014.
ii. Pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara meningkat dari
Rp.8,425.00 ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.9,374.50 ribu pada
tahun 2014.
iii. Pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Barat meningkat dari
Rp.7.926,09 ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.9,343.21 ribu pada
tahun 2014.
iv. Pendapatan perkapita Provinsi Riau meningkat dari Rp.21,137.34 ribu
pada tahun 2010 menjadi Rp. 28,137.51 ribu pada tahun 2014.
v. Pendapatan perkapita Provinsi Jambi meningkat dari Rp.5,853.36 ribu
pada tahun 2010 menjadi Rp.6,843.80 ribu pada tahun 2014.
vi. Pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Selatan meningkat dari
Rp.8,292.60 ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.8,886.26 ribu pada
tahun 2014.
vii. Pendapatan perkapita Provinsi Bengkulu meningkat dari Rp.4,752.32
ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.5,370.53 ribu pada tahun 2014.
viii. Pendapatan perkapita Provinsi Lampung meningkat dari Rp.4,809.39
ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.5,277.32 ribu pada tahun 2014.

III - 96

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

ix. Pendapatan perkapita Provinsi Bangka Belitung meningkat dari


Rp.8,680.22 ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.8,991.85 ribu pada
tahun 2014.
x. Pendapatan perkapita Provinsi Kepulauan Riau meningkat dari
Rp.26,270.96 ribu pada tahun 2010 menjadi Rp.28,178.43 ribu pada
tahun 2014.
b. Tercapainya pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 5,53 persen per tahun
di pulau Sumatera dalam kurun waktu 2010-2014.
i. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar
6,42 persen pada tahun 2010 menjadi sebesar 5,81 persen pada tahun
2014.
ii. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara sebesar 6,29 persen
pada tahun 2010 menjadi sebesar 6,51 persen pada tahun 2014.
iii. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat sebesar 5,60 persen
pada tahun 2010 menjadi sebesar 6,75 persen pada tahun 2014.
iv. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau sebesar 3,84 persen pada tahun
2010 menjadi sebesar 5,42 persen pada tahun 2014.
v. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi sebesar 4,21 persen pada tahun
2010 menjadi sebesar 7,86 persen pada tahun 2014.
vi. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan sebesar 6,34 persen
pada tahun 2010 menjadi seebsar 6,49 persen pada tahun 2014.
vii. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu sebesar 5,43 persen pada
tahun 2010 menjadi sebesar 6,22 persen pada tahun 2014.
viii. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung sebesar 4,53 persen pada
tahun 2010 menjadi sebesar 4,34 persen pada tahun 2014.
ix. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bangka Belitung sebesar 4,35 persen
pada tahun 2010 menjadi sebesar 4,73 persen pada tahun 2014.
x. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau sebesar 7,07 persen
pada tahun 2010 menjadi sebesar 7,59 persen pada tahun 2014.
c. Tingkat kemiskinan di Pulau Sumatera.
i. Tingkat kemiskinan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 22,79
persen pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 21,46 persen pada
tahun 2014.
ii. Tingkat kemiskinan Provinsi Sumatera Utara sebesar 13,03 persen
pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 10,71 persen pada tahun 2014.
iii. Tingkat kemiskinan Provinsi Sumatera Barat sebesar 10,77 persen pada
tahun 2010 turun menjadi sebesar 10,32 persen pada tahun 2014.
iv. Tingkat kemiskinan Provinsi Riau sebesar 10,49 persen pada tahun
2010 turun menjadi sebesar 5,93 persen pada tahun 2014.
v. Tingkat kemiskinan Provinsi Jambi sebesar 9,39 persen pada tahun
2010 turun menjadi sebesar 5,03 persen pada tahun 2014.
vi. Tingkat kemiskinan Provinsi Sumatera Selatan sebesar 17,26 persen
pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 13,32 persen pada tahun 2014.
vii. Tingkat kemiskinan Provinsi Bengkulu sebesar 21,72 persen pada tahun
2010 turun menjadi sebesar 18,28 persen pada tahun 2014.
viii. Tingkat kemiskinan Provinsi Lampung sebesar 21,33 persen pada
tahun 2010 turun menjadi sebesar 15,18 persen pada tahun 2014.

III - 97

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

ix. Tingkat kemiskinan miskin Provinsi Bangka Belitung sebesar 9,13


persen pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 5,92 persen pada tahun
2014.
x. Tingkat kemiskinan miskin Provinsi Kepulauan Riau sebesar 9,13
persen pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 5,57 persen pada tahun
2014.
d. Menurunnya angka pengangguran di Pulau Sumatera.
i. Angka pengangguran Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 7,81
persen pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 6,03 persen pada tahun
2014.
ii. Angka pengangguran Provinsi Sumatera Utara sebesar 10,89 persen
pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 11,90 persen pada tahun 2014.
iii. Angka pengangguran Provinsi Sumatera Barat sebesar 8,86 persen pada
tahun 2010 turun menjadi sebesar 7,88 persen pada tahun 2014.
iv. Angka pengangguran Provinsi Riau sebesar 6,14 persen pada tahun 2010
turun menjadi sebesar 7,87 persen pada tahun 2014.
v. Angka pengangguran Provinsi Jambi sebesar 4,46 persen pada tahun
2010 turun menjadi sebesar 3,29 persen pada tahun 2014.
vi. Angka pengangguran Provinsi Sumatera Selatan sebesar 8,29 persen
pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 8,20 persen pada tahun 2014.
vii. Angka pengangguran Provinsi Bengkulu sebesar 2,74 persen pada tahun
2010 turun menjadi sebesar 1,64 persen pada tahun 2014.
viii. Angka pengangguran Provinsi Lampung sebesar 5,67 persen pada tahun
2010 turun menjadi sebesar 4,94 persen pada tahun 2014.
ix. Angka pengangguran Provinsi Bangka Belitung sebesar 3,90 persen pada
tahun 2010 turun menjadi sebesar 2,54 persen pada tahun 2014.
x. Angka pengangguran Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52 persen pada
tahun 2010 turun menjadi sebesar 1,14 persen pada tahun 2014.
e. Meningkatnya angka rata-rata lama sekolah di Pulau Sumatera.
i. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
sebesar 8,90 tahun pada tahun 2010 meningkat menjadi 9,30 tahun
pada tahun 2014.
ii. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Sumatera Utara sebesar 8,88
tahun pada tahun 2010 meningkat menjadi 9,16 tahun pada tahun 2014.
iii. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Sumatera Barat sebesar 8,28
tahun pada tahun 2010 meningkat menjadi 8,56 pada tahun 2014.
iv. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Riau sebesar 8,44 tahun pada
tahun 2010 meningkat menjadi 8,48 tahun pada tahun 2014.
v. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Jambi sebesar 7,84 tahun pada
tahun 2010 meningkat menjadi 8,08 tahun pada tahun 2014.
vi. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Sumatera Selatan sebesar 7,84
tahun pada tahun 2010 meningkat menjadi 8,08 tahun pada tahun 2014.
vii. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Bengkulu sebesar 8,08 tahun
pada tahun 2010 meningkat menjadi 8,16 tahun pada tahun 2014.
viii. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Lampung sebesar 7,86 tahun pada
tahun 2010 meningkat menjadi 8,42 tahun pada tahun 2014.

III - 98

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ix. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Bangka Belitung sebesar 8,10
tahun pada tahun 2010 meningkat menjadi 9,30 tahun pada tahun 2014.
x. Angka rata-rata lama sekolah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 9,60
tahun pada tahun 2010 meningkat menjadi 10,80 pada tahun 2014.
f. Menurunnya angka kematian bayi di Pulau Sumatera
i.
Angka kematian bayi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar
34,86 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 29,91
per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2014.
ii.
Angka kematian bayi di Provinsi Sumatera Utara sebesar 23,47 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 18,61 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2014.
iii.
Angka kematian bayi di Provinsi Sumatera Barat sebesar 27,31 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 20,81 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2014.
iv.
Angka kematian bayi di Provinsi Riau sebesar 24,47 per 1000 kelahiran
hidup pada tahun 2010 turun menjadi 19,61 per 1000 kelahiran hidup
pada tahun 2014.
v.
Angka kematian bayi di Provinsi Jambi sebesar 28,46 per 1000 kelahiran
hidup pada tahun 2010 turun menjadi 23,60 per 1000 kelahiran hidup
pada tahun 2014.
vi.
Angka kematian bayi di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 26,88 per
1000 kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 21,21 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2014.
vii.
Angka kematian bayi di Provinsi Bengkulu sebesar 28,88 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 23,21 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2014.
viii.
Angka kematian bayi di Provinsi Lampung sebesar 24,47 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 19,61 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2014.
ix.
Angka kematian bayi di Provinsi Bangka Belitung sebesar 28,46 per
1000 kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 23,60 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2014.
x.
Angka kematian bayi di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 24,47 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2010 turun menjadi 19,61 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2014.
Meningkatnya produksi dan produktivitas sektor pertanian, perkebunan,
perikanan dan pertambangan di Sumatera
Berkembangnya jaringan dan meningkatnya transportasi di Wilayah Sumatera
Berkembangnya Sumatera Bagian Selatan sebagai lumbung pangan dan
lumbung energi.
Berkembangnya Sumatera persen Bagian Tengah dan Sumatera Bagian Utara
sebagai pusat perkebunan dan agribisnis.
Terwujudnya keseimbangan pembangunan Wilayah Sumatera Bagian Utara dan
Sumatera Bagian Selatan, dan pesisir pantai.

III - 99

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

3.3

Strategi Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera


Dengan memperhatikan rancangan Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera, maka
kebijakan pengembangan Wilayah Sumatera diarahkan untuk: (1) memantapkan interaksi
antar-kawasan pesisir timur, kawasan tengah, dan kawasan; (2) pesisir Barat Sumatera
melalui pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut, dan transportasi udara lintas
Sumatera yang handal; (3) mendorong berfungsinya pusat-pusat permukiman perkotaan
sebagai pusat pelayanan jasa koleksi dan distribusi di Pulau Sumatera; (4) mengembangkan
akses bagi daerah terisolir dan pulau-pulau kecil di pesisir barat dan timur Sumatera sebagai
sentra produksi perikanan, pariwisata, minyak dan gas bumi ke pusat kegiatan industri
pengolahan serta pusat pemasaran lintas pulau dan lintas negara; (5) mempertahankan
kawasan lindung sekurang-kurangnya 40 persen dari luas Pulau Sumatera dalam rangka
mengurangi resiko dampak bencana lingkungan yang dapat mengancam keselamatan
masyarakat dan asset-asset sosial-ekonominya yang berbentuk prasarana, pusat permukiman
maupun kawasan budidaya; (6) mengembangkan komoditas unggulan wilayah yang memiliki
daya saing tinggi melalui kerjasama lintas sektor dan lintas wilayah provinsi dalam
pengelolaan dan pemasarannya dalam rangka mendorong kemandirian akses ke pasar global
dengan mengurangi ketergantungan pada negara-negara tetangga; (7) menghindari konflik
pemanfaatan ruang pada kawasan perbatasan lintas wilayah meliputi lintas wilayah provinsi,
lintas wilayah kabupaten dan kota; (8) mempertahankan dan melestarikan budaya lokal dari
pengaruh negatif globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia; (9) memantapkan keterkaitan
antara kawasan andalan, kawasan budidaya lainnya, berikut kota-kota pusat-pusat kegiatan
didalamnya dengan kawasan-kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan antar pulau di wilayah
nasional, serta dengan pusat-pusat pertumbuhan di kawasan sub-regional ASEAN, Asia Pasifik
dan kawasan internasional lainnya.
3.4.

Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera

Pengembangan sistem pusat permukiman di Wilayah Sumatera ditekankan pada


terbentuknya fungsi dan hirarki pusat permukiman sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional yang meliputi Pusat Kegiatan Nasional, Pusat Kegiatan Wilayah, Pusat Kegiatan
Lokal dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional di kawasan perbatasan negara.
3.4.1

Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Nasional


Pengembangan PKN di Pulau Sumatera diarahkan untuk: (1) mendorong
pengembangan kota Lhokseumawe, Dumai dan Batam di wilayah timur dan Kota Padang di
wilayah barat sebagai pusat pelayanan primer; (2) mengendalikan pengembangan kawasan
perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang, Bandar Lampung dsk, dan Palembang dsk, sebagai
pusat pelayanan primer yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya; (3) mendorong
pengembangan Kota Pekanbaru dan Jambi sebagai pusat pelayanan sekunder.
3.4.2

Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Wilayah


Pengembangan PKW di Pulau Sumatera diarahkan untuk: (1) Mendorong
pengembangan kota-kota Takengon, Banda Aceh, Sidikalang, Tebingtinggi, Pematang Siantar,
Balige, Rantau Prapat, Kisaran, Padang Sidempuan, Pariaman, Bagan Siapiapi, Bangkinang,
Bengkalis, Tembilahan, Siak Sri Indrapura, Rengat, Tanjung Balai Karimun, Pasir Pangarayan,
Tanjung Pinang, Taluk Kuantan, Terempa, Daik Lingga, Dabo/Singkep, Muara Bulian,
Sarolangun, Muara Bungo, Kuala Tungkal, Muara Enim, Lahat, Kayuagung, Sekayu,

III - 100

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Pangkalpinang, Muntok, Tanjung Pandan, Manggar, Manna, Muko Muko, Baturaja,


Prabumulih, Metro, Kalianda, Menggala, Kota Agung, dan Kotabumi; (2) Mengendalikan
pengembangan kota-kota Sabang, Meulaboh, Langsa, Sibolga, Gunung Sitoli, Muarasiberut,
Sawahlunto, Bukittinggi, Lubuk Linggau, Bengkulu dan Liwa sebagai pusat pelayanan
sekunder sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
3.4.3

Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional


Pengembangan PKSN di kawasan perbatasan negara diarahkan untuk mendorong
pengembangan Kota Sabang, Medan, Tanjung Balai, Dumai, Batam, Ranai, dan Tanjung
Pinang.
3.4.4

Arah Kebijakan Pengembangan Pusat Kegiatan Lokal


PKL di Pulau Sumatera ditetapkan melalui peraturan daerah provinsi berdasarkan
usulan Pemerintah Kabupaten/Kota dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam RTRWN,
dan pengembangan kota-kota PKL merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
pengembangan sistem pusat permukiman di Pulau Sumatera.

III - 101

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

MATRIKS PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU SUMATERA


Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
Tujuan
: Meningkatkan efisiensi dan produktivitas (daya saing nasional)
Sasaran : Meningkatnya produksi, produktivitas, mutu, dan penerimaan ekspor
Arah
: Pemantapan pusat pertumbuhan baru, serta pengembangan dan perluasan pusat pertumbuhan yang ada yaitu KAPET, KPBPB dan
KEK
Fokus
: Penyediaan prasarana, penataan kelembagaan dan sistem informasi, manajemen SDA+LH
Lokasi
1. Nanggroe
Aceh
Darussalam
(Lhokseumawe,
Sabang)
2. Sumatera
Utara
(Kawasan
Perkotaan
Medan-BinjaiDeli SerdangKaro
(Mebidangro)
3. Sumatera
Barat
(Padang)
4. Riau
(Pekanbaru,
Dumai)

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama
1.
2.
3.
4.
5.

Pertambangan
Industri Pengolahan
Pertanian
Pariwisata
Perkebunan

Bidang
Ekonomi

Tujuan

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

Mempercepat
pertumbuhan
ekonomi untuk
mengatasi
kesenjangan
antarwilayah di
Pulau Sumatera.

Tercapainya
pertumbuhan
ekonomi pulau
mencapai 5.5%6%

Pertumbuhan
Produk Domestik
Regional Bruto

Kerjasama perdagangan
dan investasi dengan
negara-negara tetangga
(Thailand, Malaysia,
India).
Pengembangan
pelabuhan hub
international di Banda
Aceh dan Medan.

Percepatan
pertumbuhan
ekonomi dengan
mengoptimalkan
industri
pengolahan dan
produksi yang
berorientasi ekspor
dengan
memperhatikan
laju alih fungsi
lahan yang dapat
membahayakan
lingkungan.
Meningkatkan
kinerja ekport

Peningkatan
produksi dan
ekspor berbasis
pertanian
perkebunan,
pangan, dan
perikanan di
wilayah selatan
Sumatera.
Meningkatnya
pertumbuhan
ekspor berbasis
SDA (Migas) di
wilayah Tengah
sebesar 5% per
tahun.

Kontribusi industri
pengolahan
Pertumbuhan
ekspor

Revitalisasi kelembagaan
pusat-pusat pertumbuhan
yang memiliki lokasi
strategis, antara lain
Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) dan
Kawasan Andalan.
Pembangunan sumber
energi listrik pendukung
industri yang terkoneksi
dengan jaringan listrik
sumatera lainnya.
Perbaikan birokrasi
kepabeanan ekspor-impor
ke wilyah Asean lainya
(Thailand, Malaysia,

III - 102

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

5. Kep. Riau
(Batam)

6. Jambi
(Jambi)

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Program dan Kegiatan

Indikator

Vietnam dan India).

berbasis komuditi
unggulan daerah di
setiap kawasan
pulau sumatera
yang mendukung
ketahanan pangan.

Meningkatnya
pertumbuhan
ekspor industri
pengolahan
perkebunan dan
perikanan di
wilayah utara
sebesar 5%

Mengurangi tingkat
pengangguran.

Menurunkan
tingkat
pengangguran di
dalam 5 tahun
(2010-2014)
dibawah 6 %.

Tingkat
pengangguran

Peningkatan kualitas dan


produktivitas tenaga
kerja.
Pengembangan Lembaga
Tenaga Kerja berbasis
agro industri.
Pengembangan Pusat
Pendidikan Tinggi dan
Menengah yang berbasis
teknologi pengolahan
energi SDA dan
Pengolahan Teknologi
pertanian.

Menciptakan iklim
investasi yang
kondusif untuk
mendorong
pertumbuhan
investasi dan
pemerataan
investasi di seluruh
wilayah Sumatera.

Meningkatnya
Pertumbuhan
investasi di
wilayah
Sumatera

Pertumbuhan
investasi (PMDN
dan PMA)

Pembangunan
infrastruktur pendukung
investasi (Jalan,
Pelabuhan Udara dan
Laut) di wilayah
sumatera bagian selatan.
Penetapan kawasan
ekonomi khusus dengan
insentif di bidang
perpajakan dan birokrasi
perizinan.

Mengurangi
ketimpangan
pembangunan desa
dan kota agar
terjadi
keseimbangan dan

Berkurangnya
kawasan
tertinggal,
terutama
perdesaan yang
masih terisolir

Kemiskinan rural
urban
Jumlah kawasan
tertinggal

7. Sumatera
Selatan
(Palembang)
8. Lampung
(Bandar
Lampung)

III - 103

Pembangunan
infrastruktur jalan, laut,
dan sarana transportasi
sungai dan
penyeberangan secara
terintegrasi dalam satu

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan
pemerataan
pembangunan desa
kota.

Infrastruktur

Meningkatkan
aksesabilitas
wilayah yang
belum dan sedang
berkembang
melalui dukungan
pelayanan
transportasi yang
sesuai dengan
kebutuhan
transportasi darat.

Sasaran
dan pulau-pulau
kecil dan terluar,
serta kelancaran
akses desa-kota
dan pulau kecil
dengan
hinterlandnya.
Meningkatnya
kebutuhan
prasarana jalan
yang memenuhi
standar
keselamatan dan
keamanan jalan
dalam
menunjang
sektor riil dalam
kondisi
kemampuan
sumber daya
yang masih
terbatas.

Penurunan
presentase desadesa yang tidak
dapat diakses
dengan jalan
darat di wilayah
Sumatera.

III - 104

Indikator

Program dan Kegiatan


sistem jeringan
transportasi.

Panjang jalan
Panjang rel kereta
api.
Kualitas jalan

Panjang jalan
Panjang rel kereta
api.
Kualitas jalan

Pembangunan dan
pemeliharaan jaringan
jalan Lintas Timur,
Tengah, dan Barat serta
Feeder Road antara
jaringan ke tiga lintas
tersebut.
Menata kerjasama antar
daerah untuk
pembangunan jalan lintas
barat, tengah, timur dan
feeder road se Wilayah
Sumatera.
Pengembangan Kereta
Api Wilayah Sumatera
untuk membuka akses
jaringan kereta api dari
Nanggroe Aceh
Darussalam sampai ke
Lampung, dan
keterhubungan jaringan
kereta api di setiap
provinsi yang ada.
Pembangunan sarana
transportasi
perkeretapian yang
menghubungkan antar
propinsi di wilayah
selatan, mencakup
pembangunan jalur kereta
api Jambi Bengkulu
serta jalur kereta api

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan

III - 105

Sasaran

Indikator

Keterhubungan
pantai barat dan
pantai timur di
wilayah Tengah
(Sumatera Barat
dan Riau)

Panjang jalan
Panjang rel kereta
api.
Kualitas jalan
Jumlah pelabuhan
laut

Peningkatan
kualitas jalan
hingga mencapai
95% mantap dan
keterhubungan
jalur kereta api
antar provinsi di
wilayah utara.

Panjang jalan
Panjang rel kereta
api.
Kualitas jalan
Jumlah pelabuhan
laut

Program dan Kegiatan


Bengkulu Padang.
Pembangunan Jembatan
Selat Sunda dan
pengembangan
infrastruktur transportasi
lainnya seperti Bandara
dan Pelabuhan yang
terkait dengan
pembebasan lahan dan
tata ruang.
Pengembangan Jalan Tol
Sumsel dan Lampung
Pembukaan dan
pembangunan prasarana
jalan yang lebih intesif
yang menghubungkan di
pantai barat dan pantai
timur Sumatera.
Perbaikan jaringan jalan
di wilayah pantai Barat
Sumatera (Bengkulu
Sumbar Sumut).
Pembangunan jalan tol
antar pusat pertumbuhan
di Sumatera.
Pembangunan jalur kereta
api Padang Bengkulu.
Pembangunan jaringan
jalan di wilayah pantai
Barat Sumatera (Pantai
Barat Sumut dan Pantai
Barat NAD).
Pembangunan jalur kereta
api di wilayah Aceh dan
Sumatera utara.
Rencana Pengembangan
Jalan Tol Sumut.
Peningkatan
Pemeliharaan Jalan dan

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan

Menciptakan
integrasi
perekonomian
antar pulau dan
antar wilayah
untuk memacu
pertumbuhan
ekonomi wilayah

Sasaran

Terbangunnya
jalar-jalur
penyeberangan
antar pulaupulau kecil
disekitar pulau
sumatera dengan
hinterlandnya.
Terbangunnya
sistem jaringan
dan pelayanan
transportasi
secara terpadu
(darat, laut dan
udara) yang
menghubungkan
sentra-sentra
industri dan
produksi pangan
dan pusat-pusat
pemukiman
penduduk.

Program dan Kegiatan

Indikator

Jumlah pelabuhan
laut

III - 106

Jembatan di Wilayah
NAD dan beberapa bagian
Sumatera Utara
Pembangunan jaringan
prasarana pelabuhan laut
sebagai bagian dari sistem
jaringan transportasi laut.
Kandidat Pelabuhan Hub
Internasional terintegrasi
dengan kegiatan
processing/industrial
zone di sekitarnya.
Pelabuhan Internasional
untuk perdagangan ke
Luar Negeri.
Terlaksananya keamanan
kapal dan fasiltas
pelabuhan (Implementasi
ISPS-Code).
Pembangunan simpul
jaringan dan
penyebrangan lintas antar
provinsi dan lintas pulau.
Pembangunan simpul
jaringan dan keselamatan
serta kualitas dan
kuantitas sistem jaringan
ASDP.
Pembangunan Jembatan
Selat Sunda dan
pengembangan
infrastruktur transportasi
lainnya yang terpadu
antara Bandara dan
Pelabuhan.
Peningkatan pelayanan
penyeberangan antara
Babel-Sumsel.
Peningkatan sarana

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan

Menciptakan
sistem transportasi
udara yang
memperlancar
akses antar wilayah
dan antar negara.

Sasaran

Bertambahnya
jalur
penerbangan
baru baik
perintis maupun
nasional di
wilayah yang
sulit dijangkau
dengan
transportasi
darat dan laut.

Program dan Kegiatan

Indikator

Jumlah pelabuhan
udara
Kualitas pelabuhan
udara

Mempercepat
pembangunan
infrastruktur listrik
melalui
peningkatan peran
serta swasta.

III - 107

Terkoneksinya
jaringan listrik di
antar wilayah
(provinsi) di
Sumatera

Kapasitas listrik
terpasang.
RT yang
menggunakan
listrik

penyeberangan MerakBakaheini.
Pengembangan jaringan
penerbangan dan bandar
udara pusat penyebaran
dengan skala pelayanan
sekunder
Pengembangan Bandar
udara pusat penyebaran
dengan skala pelayanan
primer.
Bandar udara pusat
penyebaran dengan skala
pelayanan primer
Bandar udara pusat
penyebaran dengan skala
pelayanan sekunder

Peningkatan keamanan
infrastruktur jaringan
listrik antar wilayah.
Meningkatkan sarana
pembangkit listrik
berbasis Batubara, Gas
dan Panas Bumi
Penurunan Susut Teknis
Jaringan dan Rehabilitasi
Jaringan Lama dan
Perbaikan SAIDI & SAIFI
Pembangunan Jaringan
Interkoneksi dan
Pembangkit Listrik di
Sumatera Bagian Utara
dengan jalur wilayah lain.
Penambahan
infrastruktur listrik yang
menghubungkan antar
wilayah Sumatera

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Sumber Daya
Alam dan
Lingkungan
Hidup

Tujuan

Sasaran

Indikator

Meningkatkan
produktifitas
pertanian guna
terwujudnya
ketahanan pangan
wilayah dan
nasional.

Meningkatnya
jangkauan
pelayanan irigasi
teknis dan semi
teknis.
Meningkatnya
produktifitas
pertanian
pangan dan
meningkatnya
nilai tambah
produk
pertanian.

Panjang irigasi
Jenis irigasi

Optimalisasi
pengelolaan
sumber daya energi
untuk pemenuhan
kebutuhan industri
dan rumah tangga.

Meningkatnya
explorasi sumber
cadangan energi
secara arif.

Kontribusi sektor
Sumberdaya alam.
Pertumbuhan
sektor sumberdaya
alam

Menjaga
keseimbangan
antara
pemanfaatan,
keberadaan, dan
kegunaan sumber
daya alam dan
lingkungan hidup;
serta
memanfaatkan

Turunnya angka
konversi lahan
hingga 10%
Konservasi lahan
kritis menjadi
lahan produktif
sampai dengan
30%

Tingkat konversi
lahan

III 108

Program dan Kegiatan


Pembangunan waduk
yang multifungsi, yaitu
untuk pengairan sawah
dan pembangkit tenaga
listrik.
Pembangunan
infrastruktur irigasi
seperti bendungan dan
saluran primer-sekunder
serta program
peningkatan sarana irigasi
yang mampu
meningkatkan produksi di
wilayah Utara.
Pembangunan
infrastruktur minyak dan
gas bumi.
Pencarian sumbersumber cadangan minyak
dan gas baru.
Optimalisasi penggunaan
mineral, panas bumi dan
air tanah untuk
sumberdaya energi.
Optimalisasi penyediaan
bahan baku mineral dan
energi bagi kepentingan
industri dalam negeri dan
tujuan ekspor.
Mendorong dan
mempercepat
terbentuknya payung
hukum bagi carbon trade.
Peningkatan penghijauan
dan reboisasi pada lahan
kritis dan hutan gundul.
Peningkatan penegakan
hukum atas pelanggaran
terhadap penggrusakan

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan
ruang yang serasi
antara penggunaan
untuk
permukiman,
kegiatan sosial
ekonomi dan upaya
konservasi.
Meningkatkan
produksi sektor
pertanian dan
peningkatan nilai
tambah hasil
produksi pertanian
Otimalisasi
pengelolaan
sumberdaya air
untuk menjamin
ketersediaan
sumber air bagi
kehidupan, serta
menjaga
ketersediaan air
untuk mengaliri
persawahan dan
kebutuhan rumah
tangga dan industri
dan keserasian
lingkungan hidup
Menjaga
keberlanjutan
sumberdaya hutan
sebagai upaya
untuk menjaga
keseimbangan
lingkungan dan
kebermanfaatan
bagi masyarakat
sekitar.

III - 109

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan


hutan dan dari ilegal
logging, perambahan
hutan berpindah dan
kebakaran.
Peningkatan
penatagunaan hutan
berdasarkan status hutan.
Peningkatan produksi
pada komoditi unggulan
yang mampu
meningkatkan ekspor.

Meningkatnya
produksi
pertanian, serta
meningkatnya
nilai tambah
komuditi
pertanian.
Tercukupinya
kebutuhan air
untuk pertanian.
Meningkatnya
jumlah rumah
tangga yang
mendapatkan
akses air bersih.
Keseimbangan
ekosistem air.

Kontribusi sektor
pertanian.
Pertumbuhan
sektor pertanian

Akses RT terhadap
air bersih

Peningkatan rehabilitasi
hutan untuk
mempertahankan
sumber-sumber air.
Penyediaan sistem
informasi sumberdaya air.
Pengaturan dan
perlindungan prasarana
dan sarana pengairan.

Keberlanjutan
hutan dan
keseimbangan
lingkungan serta
meningkatnya
manfaat hutan
bagi masyarakat.
Turunnya laju
deforestasi
hingga dibawah

Presentase jumlah
hutan terhadap
luas wilayah

Mendorong
pengembangan
pembangunan kehutanan
yang berbasis iptek
Optimalisasi hasil hutan
untuk menunjang
ekonomi nasional pada
umumnya.
Pemeliharaan keindahan
alam dalam bentuk cagar

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Program dan Kegiatan

Indikator

3%

Optimalisasi
pemanfaatan
sumberdaya
perikanan dan
kelautan.

Meningkatnya
tingkat
pendapatan
masyarakat
nelayan dan
pesisir, serta
meningkatnya
produksi
perikanan laut
dan nilai tambah
dari hasil laut

Peningkatan
pendapatan
Jumlah produksi
perikanan

Meningkatkan
pemanfaatan
sumber daya alam

III - 110

Menurunnya
polusi emisi di
wilayah

Tingkat emisi
polusi

alam, suaka margasatwa,


taman perburuan dan
taman wisata serta
sebagai laboratorium
untuk iptek, pendidikan
dan pariwisata.
Pengembangan
kemampuan penerapan
teknologi dan
keterampilan aparat dan
masyarakat.
Pengembangan sistem
informasi perikanan dan
kelautan.
Peningkatan pengawasan
dan pengendalian
terhadap pemanfaatan
sumberdaya perikanan
dan kelautan.
Penegakan hukum
perairan laut serta
penyelesaian sengketa
perbatasan laut.
Peningkatan teknologi
industri pengolahan
perikanan tangkapan
maupun produksi
budidaya dengan
pengembangan riset dan
teknologi perikanan dan
kelautan.
Peningkatan penataan
wilayah laut melalui
penyusunan dan
penetapan RTRWL
Sumatera.
Mengurangi kejadian
kebakaran hutan yang
berdapak pada

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan
dan lingkungan
yang
berkesinambungan untuk
mendukung
kualitas kehidupan,
serta memberikan
keindahan dan
kenyamanan
kehidupan.

Sasaran

Indikator

Sumatera untuk
masing-masing
sumber polusi
hingga 10%.

Program dan Kegiatan

Bidang
Kependuduka
n, Sosial dan
Budaya

Memperluas
pelayanan
pendidikan bagi
masyarakat dan
perbaikan
manejemen
pendidikan.

Memperluas
layanan kesehatan
bagi masyarakat
untuk
meningkatkan
angka harapan
hidup, menekan

III - 111

Meningkatnya
APK untuk
pendidikan dasar
dan menengah
atas.
Meningkatnya
APS terutama di
daerah-daerah
terpencil.
Meningkatnya
rasio guru dan
jumlah
SD/SMP/SMA.
Meningkatnya
angka usia
harapan hidup
penduduk.
Turunnya angka
kematian bayi
dan ibu

Angka partisipasi
sekolah

Angka harapan
hidup

pencemaran hingga ke
negara tetangga.
Peningkatan penanganan
kebakaran hutan.
Mendorong pemanfaatan
energi yang ramah
lingkungan dan
terbaharukan.
Mempertahankan
kawasan lindung
sekurang-kurangnya 40%
dari luas Pulau Sumatera.
Mendorong dan
mempercepat
terbentuknya payung
hukum bagi carbon trade.
Peningkatan penghijauan
dan reboisasi pada lahan
kritis dan hutan gundul.
Penataan pengelolaan
pendidikan: konsentrasi
keilmuan dan
keterampilan.
Penambahan jumlah guru
didaerah yang rasionya
masih tinggi.
Penambahan ruang kelas
tetap dilakukan baik
melalui program APBD
maupun APBN.

Peningkatan mutu
layanan kesehatan melalui
peningkatan kualitas dan
kuantitas tenaga pelayan
kesehatan.
Penambahan jumlah
tenaga medis, seperti

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan
angka kematian
bayi dan angka
kematian ibu
melahirkan serta,
prevalensi gizi
buruk pada balita.
Meningkatkan
pelayanan sosial
bagi masyarakat
pedesaan dan
daerah terpencil
untuk
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat
pedesaan dan
daerah terpencil.

Bidang Politik,
Hukum,
Pertahanan,
Keamanan
dan
Kelembagaan

Sasaran

Indikator

melahirkan.
Turunnya angka
gizi buruk pada
balita.

dokter, perarawat dan


paramedis.

Menurunnya
angka
kemiskinan
hingga dibawah
10% pada tahun
2014.

Tingkat
kemiskinan

Penguatan
kapasitas legislatif
dan parpol untuk
terciptanya pola
hubungan yang
konstruktif antara
eksekutif dan
legislatif.

Terwujudnya
pola hubungan
yang konstruktif
antara eksekutif
dan legislatif
dalam
menjalankan
pemerintahan.

Indeks politik

Mendorong

Optimalisasi

Tingkat partisipasi

III - 112

Program dan Kegiatan

Pengkaryaan potensi
sosial kesejahteraan sosial
(PSKS) dalam
pembangunan
kesejahteraan sosial.
Penanganan masalah
kesejahteraan
sosial/PMKS berbasis
sosio-ekonomi keruangan.
Penciptaan lapangan kerja
melalui perbaikan iklim
investasi.
Memperkuat fungsi
pengawasan dan inisiatif
legislatif dan pola
hubungan yang
konstruktif antara
eksekutif fengan legislatif.
Peningakatan peran
pemerintah dan LSM
dalam peningkatan
kapasitas legislatif dan
parpol.
Perlu memperkuat fungsi
check and balance antara
eksekutif dan legislatif.
Perlu memanfaatkan
situasi politik yang
kondusif untuk akselerasi
pembangunan dan
peningkatan partisipasi
masyarakat.
Melakukan evaluasi

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan
partisipasi
perempuan dalam
politik lokal dan
mengoptimalkan
aspirasi dan
partisipasi
masyarakat
pedesaan.

Evaluasi
pemekaran daerah
dan kontrol
terhadap
pemekaran daerah.

Sasaran
aspirasi dan
pertisipasi
masyarakat desa,
serta
meningkatnya
partisipasi
perempuan
dalam politik
lokal.

Terciptanya
efektifitas dan
efisiensi kinerja
pemerintahan.

Indikator

Program dan Kegiatan

perempuan

Jumlah pemekaran
wilayah

Meningkatkan
kapasitas
pengelolaan
pemerintah daerah
menuju
kemandirian fiskal
dan pelayanan
publik berkualitas
Meningkatkan
kemampuan SDM
dan birokrasi

III - 113

terhadap implementasi
ketentuan kuota Caleg
Perempuan oleh Parpol.
Pengembangan forumforum politik perempuan
dan saluran aspirasi
politik perempuan.
Pengembangan
kelembagaan intermediasi
untuk menampung
aspirasi dan partisipasi
perempuan.
Mengembangkan kajian
dan standar kelayakan
pemekaran daerah baru.
Evaluasi pemekaran
daerah dan kontrol
terhadap pemekaran
daerah.
Melakukan evaluasi
kemampuan fiskal dan
kemandirian
pembangunan daerah
terhadap daerah
pemekaran baru.
Moratorium pemekaran
daerah baru yang
diusulkan daerah.
Mempertahankan pola
dana transfer khusus pada
daerah otonomi khusus
(Aceh) dengan
pengurangan secara
bertahap.

Terciptanya
kemandirian
fiskal dan
meningkatnya
kualitas
pelayanan
publik.

Jumlah DAU dan


DAK

Meningkatnya
kemampuan
SDM birokrasi

Presentase tingkat
pendidikan
aparatur

Penerapan pemetaan
peraturan (Regulatory
Mapping) dan penilaian

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan
pemerintah daerah
dalam pelayanan
publik untuk
menciptakan iklim
usaha yang
kondisif.
Menciptakan
harmonisasi
kebijakan pusatdaerah yang
mendukung
pembangunan
daerah.

III - 114

Sasaran
pelayanan publik
daerah.

Terciptanya
harmonisasi
kebijakan pusatdaerah.

Indikator
pemerintahan

Jumlah peraturan
daerah

Program dan Kegiatan


dampak peraturan
(Regulatory Impact
Assessment).

Pembentukan desk
khusus koordinasi
pemerintah pusatpropinsi-daerah.
Mendorong harmonisasi
peraturan pusat dan
daerah melalui proses
review bersama
peraturan.
Harmonisasi Peraturan
Pusat dan Daerah dan
antar sektor.
Peningkatan koordinasi
antar departemen sektoral
di pemerintah pusat.
Pengembangan peraturan
dan perundangan untuk
reformasi birokrasi dan
pelayanan publik.
Peningkatan kapasitas
aparat pemerintah dalam
menerapkan SPM.
Pengembangan
pengawasan internal
pemerintahan.
Pembangunan Unit
Pelayanan Investasi
Terpadu.
Pemerintah dapat
mengawasi dalam hal
administratif (sesuai UU
No.32/2004 Pasal 139

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis Pelayanan/
Sektor dan Komoditas Utama

Bidang

Tujuan

Meningkatkan
kemampuan aparat
keamanan dalam
pencegahan dan
penurunan
kriminalitas berat.
Meningkatkan
partisipasi
masyarakat dalam
pencegahan dan
penanggulangan
gangguan
keamanan.

III - 115

Sasaran

Meningkatnya
kemampuan
polri dalam
penanganan
kemanan
Terbentuknya
kemitraan polisi
masyarakat
dalam
penanganan
keamanan.

Indikator

Jumlah personel
aparat keamanan
Indeks keamanan

Program dan Kegiatan


Ayat 1) sementara publik
dapat mengawasi dalam
hal substantif.
Sosialisasi dan
implementasi pola
kemitraan polisi
masyarakat.
Peningkatan kapasitas
institusi dan personel
Polri dalam penanganan
keamanan.
Pengembangan early
warning system untuk
pencegahan konflik.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)


Tujuan
: Mengembangkan pusat pengolahan, jasa, dan simpul transportasi wilayah
Sasaran
: Meningkatnya produksi dan arus perdagangan antardaerah
Arah
: Pengembangan dan perluasan jaringan pusat pengolahan, jasa, dan simpul transportasi
Fokus
: Penataan kelembagaan, jaringan prasarana transportasi dan sistem informasi, manajemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Hidup

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

1. Nanggroe
Aceh
Darussalam
(Langsa,
Banda Aceh,
Takengon,
Meulaboh)

1. Pertanian
2. Perkebunan
3. Perikanan
Laut
4. Kehutanan
5. Pertambangan

2. Sumatera
Utara
(Tebing
Tinggi,
Sidikalang,
Pematang
Siantar,
Balige, Rantau
Prapat,
Kisaran,
Sibolga,
Padang,
Sidempuan,
Gunung Sitoli)

Bidang

Ekonomi

Tujuan

Sasaran

Mempercepat
pertumbuhan
ekonomi untuk
mengatasi
kesenjangan
antarwilayah di
Pulau Sumatera.

Tercapainya
pertumbuhan
ekonomi pulau
mencapai 5.5%6%
Pengembangan
Industri
berbasis SDA
terbaharukan
(Perkebunan)
sebesar 10
persen dan
mempertahank
an kontribusi
jasa dan
industri
berbasis migas
sebesar 30
persen.
Meningkatkan
kontribusi
sektor
pertanian dan
agro industri di

III - 116

Indikator

Program dan Kegiatan

Pertumbuhan
Produk
Domestik
Regional
Bruto

Percepatan aksebilitas
antar wilayah untuk
mendukung percepatan
ekonomi regional.
Pengembangan industri
berbasis agro industri dan
perikanan.
Optimalisasi pengelolaan
SDA Mineral dan
pertambangan di wilayah
Pantai Timur Sumatera
untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi.
Pengembangan agro
industri dan perikanan di
wilayah sumatera bagian
selatan dan pantai barat.
Pengembangan pelabuhan
dan optimalisasi pelabuhan
yang sudah ada di wilayah
pantai barat.
Kerjasama antar daerah
dalam wilayah pulau

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

3. Sumatera
Barat
(Pariaman,
Bukit Tinggi,
Muara
Siberut,
Sawah Lunto)
4. Riau
(Bangkinang,
Siak Sri
indrapura,
Bengkalis,
Bagan SiapiApi,
Tembilahan,
Rengat, Pasir
Pangarayan,
Taluk
Kuantan)
5. Kep. Riau
(Tanjung
Pinang,
Tanjung Balai
Karimun,
Tanempa,
Daik

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

wilayah selatan
sekitar 30
persen.

Program dan Kegiatan

sumatera dan dengan pulau


lain terutama Jawa dan
Kepri.

Percepatan
pertumbuhan
ekonomi dengan
mengoptimalkan
industri
pengolahan dan
produksi yang
berorientasi
ekspor dengan
memperhatikan
laju alih fungsi
lahan yang dapat
membahayakan
lingkungan.
Meningkatkan
kinerja ekport
berbasis
komuditi
unggulan daerah
di setiap kawasan
pulau sumatera
yang mendukung
ketahanan
pangan.

Peningkatan
produksi dan
ekspor berbasis
pertanian
perkebunan,
pangan, dan
perikanan di
wilayah selatan.
Meningkatnya
pertumbuhan
ekspor berbasis
SDA (Migas) di
wilayah Tengah
sebesar 5% per
tahun.
Meningkatnya
pertumbuhan
ekspor industri
pengolahan
perkebunan dan
perikanan di
wilayah utara
sebesar 5%

Kontribusi
industri
pengolahan
Pertumbuha
n ekspor

Optimalisasi industri
pengolahan, meliputi
tekstil, pakaian, kerajinan,
mesin dan peralatan listrik
Pengembangan industri
berbasis SDA Mineral dan
industri lanjutan
pengolahan hasil pertanian.
Pengembangan Industri
agroindustri perkebunan
(kelapa sawit dan karet),
serta industri perikanan.
Perbaikan dan
pengembangan
infrastruktur pendukung
yang memperlancar
transportasi dari sentra
produksi ke pasar .
Pengembangan Industri
agroindustri perkebunan
(kelapa sawit dan karet),
serta industri perikanan.

Mengurangi
tingkat

Menurunkan
tingkat

Tingkat
penganggura

Pengembangan pusat
pendidikan berbasis

III - 117

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Lingga, Dabo,
Singkep)

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

pengangguran.

pengangguran di
dalam 5 tahun
(2009-2014)
dibawah 6 %.

6. Jambi
(Muara Bulian,
Muara Bungo,
Sarolangun,
Kuala
Tungkal)
7. Sumatera
Selatan
(Muara Enim,
Lahat, Lubuk
Linggau,
Sekayu, Kayu
Agung,
Baturaja,
Prabumulih)
8. Bengkulu
(Bengkulu,
Manna,

III - 118

Indikator

Program dan Kegiatan

agroindustri di Sumatera
Mendorong tumbuhnya
UKM berbasis
agroindustri.
Perluasan dan
pengembangan
kesempatan kerja sektor
industri berbasis SDA.
Perbaikan kualitas tenaga
kerja melalui pendidikan
kejuruan yang siap kerja di
wilayah sumatera.
Perluasan dan
pengembangan
kesempatan kerja sektor
industri berbasis SDA.
Pengembangan Balai
Latihan Tenaga Kerja
berbasis agro industri.
Menciptakan lapangan
pekerjaan dengan
mendorong tumbuhnya
sektor perikanan dan
perkebunan rakyat.
Perbaikan kualitas tenaga
kerja melalui pendidikan
kejuruan yang siap kerja di
wilayah sumatera.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

MukoMuko)
9. Kep. Bangka
Belitung
(Pangkal
Pinang,
Tanjung
Pandan,
Muntok,
Manggar)

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

Meningkatnya
Pertumbuhan
investasi di
wilayah
Sumatera Bagian
Selatan

Pertumbuha
n investasi
(PMDN dan
PMA)

Penguatan Iklim investasi


melalui perbaikan
birokrasi perizinan dan
perbaikan kondisi
lingkungan berusaha.
Pemangkasan biaya-biaya
tidak resmi yang
membebani pelaku usaha.
Menjadikan Riau sebagai
etalase promosi investasi
wilayah tengah.
Intermediasi konflik
antara masyarakat dan
pelaku usaha.
Kejelasan peruntukan
lahan usaha dan untuk
peruntukan lainnya.
Penguatan Iklim investasi
melalui perbaikan
birokrasi perizinan dan
perbaikan kondisi
lingkungan berusaha.
Kerjasama antar daerah
dalam pemetaan potensi
investasi dan promosi
investasi wilayah.
Perbaikan birokrasi
perizinan di wilayah
sumatera utara dan Aceh.
Mempermudah akses
lahan untuk kegiatan
usaha di wilayah Sumatera
Utara dan Aceh.

Tujuan

Menciptakan
iklim investasi
yang kondusif
untuk
mendorong
pertumbuhan
investasi dan
pemerataan
investasi di
seluruh wilayah
Sumatera.

10. Lampung
(Metro,
Kalianda, Kota
Agung,
Menggala,
Kotabumi,
Liwa)

III - 119

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

Memantapkan dan
menjamin keamanan
untuk melakukan usaha di
Wilayah Utara Sumatera

Mengurangi
ketimpangan
pembangunan
desa dan kota
agar terjadi
keseimbangan
dan pemerataan
pembangunan
desa kota.

Infrastrukt
ur

Meningkatkan
aksesabilitas
wilayah yang
belum dan
sedang
berkembang
melalui
dukungan
pelayanan
transportasi yang
sesuai dengan
kebutuhan

Berkurangnya
kawasan
tertinggal,
terutama
perdesaan yang
masih terisolir
dan pulau-pulau
kecil dan terluar,
serta kelancaran
akses desa-kota
dan pulau kecil
dengan
hinterlandnya.
Meningkatnya
kebutuhan
prasarana jalan
yang memenuhi
standar
keselamatan dan
keamanan jalan
dalam
menunjang
sektor riil dalam
kondisi
kemampuan

III - 120

Kemiskinan
rural urban
Jumlah
kawasan
tertinggal

Panjang jalan
Panjang rel
kereta api.
Kualitas
jalan

Mendorong pemanfaatan
transportasi publik untuk
mendukung kebutuhan
pergerakan orang dan
barang/jasa/logistik dari
desa ke kota.
Pembukaan akses desadesa sebagai pusat
produksi komoditi
unggulan daerah.
Menciptakan keterkaitan
kegiatan ekonomi antara
desa dan kota.
Peningkatan Pembangunan
dan pemeliharaan jalan dan
jembatan serta peningkatan
kualitas jalan dan
pengaspalan jalan.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

transportasi
darat.
Menciptakan
integrasi
perekonomian
antar pulau dan
antar wilayah
untuk memacu
pertumbuhan
ekonomi wilayah

sumber daya
yang masih
terbatas.
Terbangunnya
jalar-jalur
penyeberangan
antar pulaupulau kecil
disekitar pulau
sumatera dengan
hinterlandnya.
Terbangunnya
sistem jaringan
dan pelayanan
transportasi
secara terpadu
(darat, laut dan
udara) yang
menghubungkan
sentra-sentra
industri dan
produksi pangan
dan pusat-pusat
pemukiman
penduduk.

III - 121

Indikator

Jumlah
pelabuhan
laut

Program dan Kegiatan

Pengembangan jaringan
transportasi sungai untuk
pelayanan angkutan lintas
antar kabupaten/kota
dalam provinsi pada lintaslintas yang sulit
dikembangkan dengan
jaringan jalan pada sungaisungai: Musi, Batanghari,
dan Indragiri.
Pengembangan jaringan
transportasi sungai dan
penyeberangan untuk
pelayanan angkutan lintas
antar kabupaten/kota
dalam provinsi diarahkan
menjadi tulang punggung
sistem transportasi serta
untuk membuka daerah
yang terisolir.
Mengembangkan sarana
penyeberangan antar pulau
kecil di Kepri dan di pantai
Sumatera barat dengan
hinterlannya.
Pengembangan
penerbangan perintis antar
pulau kecil dan
hinterlandnya.
Optimalisasi sarana

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

Mempercepat
pembangunan
infrastruktur
listrik melalui
peningkatan
peran serta
swasta.

Terkoneksinya
jaringan listrik di
antar wilayah
(propinsi) di
Sumatera Bagian
Utara dan
Selatan.

Kapasitas
listrik
terpasang.
RT yang
menggunaka
n listrik

III - 122

penyeberangan pulaupulau kecil di wilayah


pantai barat Sumatera
Utara dan NAD dengan
hinterlannya.
Pengembangan jalur
penerbangan perintis
antara pulau kecil di
Sumatera Utara bagian
Barat dan NAD dan
hinterland.
Menciptakan regulasi yang
dapat mendorong
partisipasi swasta dalam
pendanaan untuk
pengembangan dan
perluasan infrastruktur
tenaga listrik (pembangkit,
transmisi dan distribusi
tenaga listrik).
Pemanfaatan energi
batubara dan migas dan
mendorong pihak swasta
dalam investasi
pembangkit listrik di
wilayah sumatera bagian
tengah.
Pembangunan
infrastruktur jaringan
listrik yang terkoneksi
antara wilayah tengah
(Riau) dengan jalur wilayah

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Meningkatkan
kualitas
lingkungan
dengan
meningkatkan
pelayanan
infrastruktur
dasar
pemukiman di
daerah-daerah
yang relatif
berkembang.

Terpenuhinya
kebutuhan air
bersih, listrik,
sanitasi, dan
pemukiman serta
drainase sesuai
dengan
pertumbuhan
kebutuhan.

Indikator

Jumlah
pemukiman.
Jumlah RT
yang
menggunaka
n air bersih
Jumlah
pembuangan
sampah
Jenis
pembuangan
sampah

Program dan Kegiatan

Optimalisasi
pengelolaan
sumber daya
energi untuk
pemenuhan
kebutuhan

Meningkatnya
explorasi sumber
cadangan energi
secara arif.

III - 123

Kontribusi
sektor
Sumberdaya
alam.
Pertumbuha
n sektor

lain.
Pembangunan perumahan
dan permukiman
sederhana yang sehat.
Pengembangan pelayanan
Air Minum dan Air Limbah
serta pengembangan
pelayanan persampahan
dan drainase.
Pengembangan
infrastruktur pemukiman,
dan perbaikan lingkungan
pemukiman terutama
untuk air minum,
lingkungan pemukiman
dan drainase di wilayah
Selatan.
Pembangunan sarana
pengolahan air bersih di
wilayah Riau dan
Kepulauan Riau.
Pembangunan perumahan
dan permukiman dengan
ketersediaan infrastruktur
dasar air minum, limbah,
sampah dan drainase yang
memadai, di wilayah Utara.
Peningkatan pelayanan
masyarakat dalam
informasi dan akses
masyarakat terhadap
sumberdaya energi dan
mineral, panas bumi dan

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

industri dan
rumah tangga.
Menjaga
keseimbangan
antara
pemanfaatan,
keberadaan, dan
kegunaan sumber
daya alam dan
lingkungan
hidup; serta
memanfaatkan
ruang yang serasi
antara
penggunaan
untuk
permukiman,
kegiatan sosial
ekonomi dan
upaya konservasi.

Meningkatkan
produksi sektor
pertanian dan
peningkatan nilai
tambah hasil
produksi
pertanian

Turunnya angka
konversi lahan
hingga 10%
Konservasi lahan
kritis menjadi
lahan produktif
sampai dengan
30%

Meningkatnya
produksi
pertanian, serta
meningkatnya
nilai tambah
komuditi
pertanian.

III - 124

Indikator

sumberdaya
alam
Tingkat
konversi
lahan

Kontribusi
sektor
pertanian.
Pertumbuha
n sektor
pertanian

Program dan Kegiatan

air tanah.
Meningkatkan kapasitas
adaptasi
kota/kabupaten/kawasan
dengan mengutamakan
kearifan lokal.
Mendorong perwujudan
30% dari luas DAS untuk
hutan lindung dan kawasan
konservasi dalam rangka
pengendalian fungsi
ekosistem.
Mendorong perwujudan
40% dari Luas Wilayah
untuk kawasan hutang
lindung untuk
pengendalian Ekosistem.
Intensifikasi pertanian dan
Pengelolaan lahan secara
arif.
Peningkatan penghijauan
dan reboisasi pada lahan
kritis dan hutan gundul.
Peningkatan luas areal
perkebunan dengan
penambahan areal
perkebunan dan
peningkatan produktifitas
lahan.
Peningkatan luas areal
tanaman pangan dan
peningkatan produktifitas

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Otimalisasi
pengelolaan
sumberdaya air
untuk menjamin
ketersediaan
sumber air bagi
kehidupan, serta
menjaga
ketersediaan air
untuk mengaliri
persawahan dan
kebutuhan
rumah tangga
dan industri dan
keserasian
lingkungan hidup

Tercukupinya
kebutuhan air
untuk pertanian.
Meningkatnya
jumlah rumah
tangga yang
mendapatkan
akses air bersih.
Keseimbangan
ekosistem air.

III - 125

Indikator

Akses RT
terhadap air
bersih

Program dan Kegiatan

lahan.
Peningkatan industri
pengolahan hasil pertanian
untuk meningkatkan nilai
tambah sektor pertanian.
Peningkatan konservasi
lahan, daerah tangkapan
air, dan sumberdaya air.
Peningkatan rehabilitasi
hutan untuk
mempertahankan sumbersumber air.
Peningkatan kemampuan
manajemen pengelolaan
air.
Peningkatan efisiensi
pemanfaatan air melaluai
penghematan dan
pemanfaatan sesuai
peruntukan.
Penggalian sumber-sumber
air di lahan-lahan kering.
Penyediaan sistem
informasi sumberdaya air.
Pengaturan dan
perlindungan prasarana
dan sarana pengairan.
Pengaturan kelembagaan
pengelola sumberdaya air.
Pengaturan tata air,
mencegah dan membatasi
banjir/erosi serta
memelihara kesuburan

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Sumber
Daya Alam
dan
Lingkunga
n Hidup

Tujuan

Sasaran

Indikator

Menjaga
keberlanjutan
sumberdaya
hutan sebagai
upaya untuk
menjaga
keseimbangan
lingkungan dan
kebermanfaatan
bagi masyarakat
sekitar.

Keberlanjutan
hutan dan
keseimbangan
lingkungan serta
meningkatnya
manfaat hutan
bagi masyarakat.
Turunnya laju
deforestasi
hingga dibawah
3%

Presentase
jumlah
hutan
terhadap
luas wilayah

Optimalisasi
pemanfaatan
sumberdaya
perikanan dan

Meningkatnya
tingkat
pendapatan
masyarakat

Peningkatan
pendapatan
Jumlah
produksi

III - 126

Program dan Kegiatan

tanah.
Meningkatkan kawasan
irigasi pada lahan-lahan
pertanian.
Pembangunan irigasi untuk
kebutuhan perkebunan di
wilayah Tengah.
Peningkatan keterlibatan
masyarakat di sekitar hutan
dalam proses kebijakan
publik dengan
pengembangan hutan
kemasyarakatan dan usaha
perhutanan rakyat.
Pengurangan penduduk
miskin di sekitar hutan
secara konsisten dan terus
menerus.
Penanganan penebangan
liar dan kebakaran hutan.
Restrukturisasi dan
rehabilitasi lahan
kehutanan.
Penatagunaan hutan dan
pengendalian alih fungsi
dan status kawasan hutan.
Pengembangan hasil hutan
non-kayu dan jasa
lingkungannya.
Pemberdayaan masyarakat
nelayan dan pembudidaya
ikan melalui
pengembangan usaha

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

kelautan.

nelayan dan
pesisir, serta
meningkatnya
produksi
perikanan laut
dan nilai tambah
dari hasil laut

Meningkatkan
pemanfaatan
sumber daya
alam dan
lingkungan yang
berkesinambungan untuk
mendukung
kualitas
kehidupan, serta
memberikan
keindahan dan
kenyamanan
kehidupan.

Menurunnya
polusi emisi di
wilayah
Sumatera untuk
masing-masing
sumber polusi
hingga 10%.

III - 127

Indikator

perikanan

Tingkat emisi
polusi

Program dan Kegiatan

perikanan.
Peningkatan mutu hasil
perikanan dan
pengembangan prasarana
perikanan dan kelautan.
Pengembangan industri
pengolahan perikanan.
Mengurangi kejadian
kebakaran hutan yang
berdapak pada pencemaran
hingga ke negara tetangga.
Mewujudkan 30% dari luas
wilayah kota untuk ruang
terbuka hijau dalam rangka
pengendalian iklim mikro,
serta pengalokasian lahan
parkir air dan resapan.
Mengarahkan
pembentukan struktur dan
pola ruang kawasan
perkotaan yang lebih
efisien (menghindari
terjadinya urban/suburban sprawling).
Peningkatan penanganan
kebakaran hutan.
Mempertahankan kawasan
lindung sekurangkurangnya 40% dari luas
Pulau Sumatera.
Peningkatan penghijauan
dan reboisasi pada lahan

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

Mengendalikan
pertumbuhan
penduduk dan
penyebaran
jumlah penduduk
antar wilayah.

Menekan laju
pertumbuhan
penduduk hingga
2%.

Tingkat laju
pertumbuha
n penduduk

Memperluas
pelayanan
pendidikan bagi
masyarakat dan
perbaikan
manejemen
pendidikan.

Meningkatnya
APK untuk
pendidikan dasar
dan menengah
atas.
Meningkatnya
APS terutama di
daerah-daerah
terpencil.
Meningkatnya
jumlah guru yang

Angka
partisipasi
sekolah

III - 128

Program dan Kegiatan

kritis dan hutan gundul.


Pengendalian penduduk
melalui program Keluarga
Berencana (penggunaan
alat kontrasepsi).
Peningkatan kesempatan
kerja di daerah-daerah
tertinggal melalui
peningkatan aktivitas
ekonomi.
Mengendalikan terjadinya
urbanisasi masif (termasuk
industrialisasi) dan migrasi
dari kawasan perdesaan ke
kawasan perkotaan.
Mengurangi tingkat
kepadatan penduduk
terutama di Sumatera
Utara, Sumatera Barat dan
Lampung, melalui
optimalisasi program
transmigrasi.
Peningkatan layanan
pendidikan, terutama bagi
masyarakat di daerah
terpencil, kepulauan dan
perbatasan.
Minimalisasi kesenjangan
antara sekolah swasta dan
negeri.
Penambahan jumlah guru
didaerah yang rasionya
masih tinggi.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

melayani sekolah
menengan dan
dasar.
Memperluas
layanan
kesehatan bagi
masyarakat
untuk
meningkatkan
angka harapan
hidup, menekan
angka kematian
bayi dan angka
kematian ibu
melahirkan serta,
prevalensi gizi
buruk pada
balita.

Meningkatnya
angka usia
harapan hidup
penduduk.
Turunnya angka
kematian bayi
dan ibu
melahirkan.
Turunnya angka
gizi buruk pada
balita.

Angka
harapan
hidup

Meningkatkan
kualitas
lingkungan
perumahan
masyarakat.
Memanfaatkan
ruang yang serasi
antara

Meningkatnya
persentase
rumah tangga
pengguna air
bersih hingga
90%.
Meningkatnya
persentase

Jumlah RT
yang
mengakses
air bersih

III - 129

Program dan Kegiatan

Penambahan ruang kelas


tetap dilakukan baik
melalui program APBD
maupun APBN.
Perluasan layanan
kesehatan, terutama bagi
masyarakat di daerah
terpencil, kepulauan dan
perbatasan melalui
peningkatan aksesibilitas
daerah-daerah tersebut.
Peningkatan mutu layanan
kesehatan melalui
peningkatan kualitas dan
kuantitas tenaga pelayan
kesehatan.
Peningkatan kesehatan
lingkungan, terutama di
daerah endemik.
Penambahan jumlah tenaga
medis, seperti dokter,
perarawat dan paramedis.
Penambahan fasilitas
kesehatan seperti
puskesmas pembantu.
Peningkatan akses air
bersih dan sanitasi dengan
pendekatan komunal.
Peningkatan pendidikan
tentang pentingnya air
bersih dan sanitasi.
Peningkatan pemanfaatan
sumber energi alternatif

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Bidang
Kependud
ukan,
Sosial dan
Budaya

Tujuan

Sasaran

penggunaan
untuk
permukiman,
kegiatan sosial
ekonomi dan
upaya konservasi.
Mengendalikan
pertumbuhan
kota-kota besar
yang rawan
terhadap krisis
energi, krisis air,
dan krisis
sanitasi
lingkungan.
Meningkatkan
pelayanan sosial
bagi masyarakat
pedesaan dan
daerah terpencil
untuk
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat
pedesaan dan
daerah terpencil.

Indikator

rumah tangga
berpenerangan
listrik hingga
95%.
Meningkatnya
persentase
rumah tangga
pengguna
jamban hingga
70%.

Program dan Kegiatan

Menurunnya
angka
kemiskinan
hingga dibawah
10% pada tahun
2014.

III - 130

Tingkat
Kemiskinan

yang ramah lingkungan dan


berbasis SDA lokal.
Efisiensi dalam
pemanfaatan sumber
energi listrik.
Pengelolaan Sampah secara
terpadu dan mengarah
pada peningkatan nilai
tambah.
Mendorong terwujudnya
kawasan hijau 30% dari
wilayah kota.
Penataan kawasan kumuh
di perkotaan.

Penyediaan SDM
Kesejahteraan Sosial di
tingkat Kecamatan/desa.
Pengkaryaan potensi sosial
kesejahteraan sosial (PSKS)
dalam pembangunan
kesejahteraan sosial.
Penanganan masalah
kesejahteraan sosial/PMKS
berbasis sosio-ekonomi
keruangan.
Pembinaan dan
pemberdayaan masyarakat
adat terpencil/KAT dan
lembaga adat untuk
berpartisipasi dalam
pembangunan.
Penguatan institusi-

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

Mempercepat
stabilitas politik
di NAD paca
MoU.

Terciptanya
stabilitas politik
di NAD.

Indeks
politik
Indeks
keamanan

Bidang

Meningkatkan

Terciptanya

III - 131

Jumlah DAU,

institusi adat dalam


penyelesaian konflik antar
etnis.
Akomodasi nilai-nilai lokal
dan lembaga-lembaga adat
dalam proses
pembangunan.
Koordinasi kebijakan
Publik dengan hukum adat.
Pengembangan Usaha Kecil
Menengah.
Penciptaan lapangan kerja
melalui perbaikan iklim
investasi.
Memelihara stabilitas
politik pada pemerintahan
hasil Pilkada baru di NAD.
Penguatan dan fasilitasi
kelembagaan lokal untuk
pemberdayaan masyarakat.
Mengembangkan pola
partisipatif pemberdayaan
masyarakat dalam
penyusunan program
pengembangan ekonomi
lokal.
Pengembangan
kelembagaan intermediasi
untuk menampung aspirasi
dan partisipasi masyarakat
di NAD dan wilayah
pedalaman.
Peningkatan kapasitas

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Politik,
Hukum,
Pertahana
n,
Keamanan
dan
Kelembaga
an

Tujuan

Sasaran

kapasitas
pengelolaan
pemerintah
daerah menuju
kemandirian
fiskal dan
pelayanan publik
berkualitas

kemandirian
fiskal dan
meningkatnya
kualitas
pelayanan publik.

Indikator

Program dan Kegiatan

DAK,
Pendapatan
Daerah

aparat pemerintah daerah


dalam pengelolaan potensi
daerah.
Peningkatan kapasitas
pemerintah daerah dalam
mengelola potensi daerah
untuk meningkatkan PAD
dengan prioritas target
daerah yang memiliki
kapasitas fiskal rendah.
Peningkatan kapasitas
pengelolaan fiskal dan
efisiensi anggaran daerah.
Mempertahankan pola
dana transfer khusus pada
daerah otonomi khusus
(Aceh) dengan
pengurangan secara
bertahap.
Reformasi birokrasi dan
pelayanan Public.
Standar Pelayanan
Minimum (SPM) pelayanan
publik daerah.
Memperluas
pengembangan lembaga
dan sistem perijinan
terpadu satu pintu (PTSP)
di daerah-daerah.
Membentuk desk
pemantauan peraturan
daerah dan harmonisasi
peraturan provinsi-

Meningkatkan
kemampuan
SDM dan
birokrasi
pemerintah
daerah dalam
pelayanan publik
untuk
menciptakan
iklim usaha yang
kondisif.

Meningkatnya
kemampuan
SDM birokrasi
pelayanan publik
daerah.

III - 132

Presentase
tingkat
pendidikan
aparatur
pemerintaha
n

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Menciptakan
harmonisasi
kebijakan pusatdaerah yang
mendukung
pembangunan
daerah.

Terciptanya
harmonisasi
kebijakan pusatdaerah.

III - 133

Indikator

Jumlah
peraturan
daerah

Program dan Kegiatan

kabupaten.
Penerapan pemetaan
peraturan (Regulatory
Mapping) dan penilaian
dampak peraturan
(Regulatory Impact
Assessment).
Pembentukan desk khusus
koordinasi pemerintahan
pusat-provinsi-daerah.
Mendorong harmonisasi
peraturan pusat dan daerah
melalui proses review
bersama peraturan.
Harmonisasi Peraturan
Pusat dan Daerah dan antar
sektor.
Penguatan fungsi
koordinasi Pemerintah
Provinsi.
Peningkatan koordinasi
antar departemen sektoral
di pemerintah pusat.
Pengembangan peraturan
dan perundangan untuk
reformasi birokrasi dan
pelayanan publik.
Peningkatan kapasitas
aparat pemerintah dalam
menerapkan SPM.
Pengembangan
pengawasan internal
pemerintahan.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Meningkatkan
kemampuan
aparat keamanan
dalam
pencegahan dan
penurunan
kriminalitas
berat.
Meningkatkan
partisipasi
masyarakat
dalam
pencegahan dan
penanggulangan
gangguan
keamanan.

Meningkatnya
kemampuan polri
dalam
penanganan
kemanan
Terbentuknya
kemitraan polisi
masyarakat
dalam
penanganan
keamanan.

III - 134

Indikator

Jumlah
personel
aparat
keamanan
Indeks
keamanan

Program dan Kegiatan

Pembangunan Unit
Pelayanan Investasi
Terpadu.
Peningkatan partisipasi
organisasi pengusaha dan
organisasi masyarakat sipil
lainnya dalam memantau
dan mengevaluasi Perda.
Pemerintah dapat
mengawasi dalam hal
administratif (sesuai UU
No.32/2004 Pasal 139 Ayat
1) sementara publik dapat
mengawasi dalam hal
substantif.
Memperbanyak saluran
pengaduan dan pelaporan
tindak kriminalitas bagi
masyarakat.
Peningkatan kemampuan
dan prasarana aparat
penegak hukum dalam
penanganan gangguan
keamanan.
Pemberdayaan masyarakat
sebagai mitra aparat
keamanan dalam
mengurangi angka
kriminalitas.
Pengembangan early
warning system untuk
pencegahan konflik.
Penguatan aparat

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komoditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

keamanan dalam
mengurangi gangguan
keamanan dan kriminalitas
berat (narkoba, illegal
logging, kejahatan pada
kawasan hutan).

APPENDIKS: MATRIKS WILAYAH PERTUMBUHAN, TUJUAN SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN PULAU SUMATERA
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN)
Tujuan
: Mengamankan kawasan yang memiliki nilai strategis politik, pertahanan, keamanan dan keselamatan
Sasaran : Terpeliharanya suasana aman dan terjaganya keutuhan wilayah NKRI
Arah
: Pengembangan daerah tertinggal, daerah perbatasan, pulau terluar dan daerah rawan bencana
Fokus
: Penyediaan prasarana transportasi, penataan kelembagaan dan sistem informasi, manajemen SDA+LH
III - 135

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

1. Nanggroe
Aceh
Darussalam
(Sabang)
2. Sumatera
Utara
(Medan,
Tanjung
Balai)

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komo-ditas
Utama
1. Pertambangan
2. Industri
Pengolahan
3. Pertanian
4. Pariwisata
5. Perkebunan

Bidang

Sumber Daya
Alam dan
Lingkungan
Hidup

3. Riau
(Dumai)
4. Kep. Riau
(Batam,
Ranai,
Tanjung
Pinang)

5. Jambi
(Jambi)
6. Sumatera
Selatan
(Palembang)

Bidang
Politik,
Hukum,
Pertahanan,
Keamanan
dan
Kelembagaan

Tujuan

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

Meningkatkan
mitigasi
bencana alam
sesuai dengan
kondisi geologi
wilayah dalam
rangka
mencegah
dampak
kerusakan
lingkungan
hidup dan
meminimalkan
dampak
bencana.

Terkendalinya
perkembanga
n perkotaan
di daerah
rawan
bencana.
Meningkatnya
sistem
peringatan
dini terhadap
bencana alam.

Jumlah kota
rawan bencana

Meningkatkan
kemampuan
aparat
keamanan
dalam
pencegahan dan
penurunan
kriminalitas
berat.
Meningkatkan
partisipasi
masyarakat
dalam
pencegahan dan
penanggulangan
gangguan

Meningkatnya
kemampuan
polri dalam
penanganan
kemanan
Terbentuknya
kemitraan
polisi
masyarakat
dalam
penanganan
keamanan.

Jumlah
personel aparat
keamanan
Indeks
keamanan

Pengembangan rencana
tata ruang mengacu
secara berhierarki dari
nasional
(pulau/kepulauan dan
strategis nasional),
provinsi, hingga
kabupaten/kota sebagai
payung kebijakan spasial
semua sektor.
Pengembangan
kelembagaan dan
peningkatan kapasitas di
setiap tingkatan
pemerintahan dalam
penanggulangan
bencana.
Sosialisasi dan
implementasi pola
kemitraan polisi
masyarakat.
Peningkatan kapasitas
institusi dan personel
Polri dalam penanganan
keamanan.
Pengembangan early
warning system untuk
pencegahan konflik.

III - 136

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komo-ditas
Utama

Bidang

Tujuan

Sasaran

Indikator

Program dan Kegiatan

Terciptanya
stabilitas
keamanan di
Selat Malaka.

Jumlah
personel aparat
keamanan
Indeks
keamanan

Memperkuat kerjasama
antar negara (Indonesia,
Malaysia, Singapura,
Jepang) untuk
pengamanan perbatasan
laut di Selata Malaka.
Meningkatkan koordinasi
lintas instansi dalam
pengamanan wilayah
selat Malaka.
Peningkatan sarana dan
personel untuk
pengamanan wilayah
perbatasan jalur
perdagangan.
Peningkatan dan
pemeliharaan alutsista
untuk mendukung
pengamanan wilayah
perbatasan Selat Malaka.
Penguatan keamanan
wilayah perbatasan,
termasuk peningkatan

keamanan.
7. Lampung
(Bandar
Lampung)

Menciptakan
stabilitas
keamanan
wilayah
perbatasan
untuk
mendukung
jalur
perdagangan di
wilayah
perbatasan.

III - 137

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lokasi

Jenis
Pelayanan/
Sektor dan
Komo-ditas
Utama

Bidang

Tujuan

Menjadikan
kawasan
perbatasan
sebagai beranda
depan dalam
sistem
pertahanan dan
tata ruang
wilayah.

Sasaran

Kawasan
perbatasan
sebagai
beranda
depan NKRI.

III - 138

Indikator

Indeks
pertahanan
dan keamanan

Program dan Kegiatan

sarana pertahanannya.
Peningkatan dan
pemeliharaan alutsista
untuk mendukung
pengamanan wilayah
perbatasan Selat Malaka.
Pengembangan
perbatasan sebagai
beranda depan NKRI.
Peningkatan pengawasan
dan penjagaan pintupintu perlintasan ke
negara-negara tetangga.
Menjadikan pulau-pulau
kecil terluar sebagai
etalase.
Pemasangan tanda
wilayah NKRI di pulaupulau terluar.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Affendi. 2002. Suatu Pemikiran Dalam Memerangi kemiskinan Pada
Pengelolaan Sumber Daya Alam Ke Arah Pembangunan Ekonomi
Berkelanjutan di Indonesia. Makalah disampaikan pada Workshop
PKMUNDP

tentang

Meningkatkan

Kebersamaan

dan

Profesionalisme Dalam Mendukung Program PKM. Jogyakarta.


Bps.2004. Provinsi NAD Dalam Angka 2004-2005.
Bps.2004. Provinsi Sumatra Utara Barat Angka 2004-2005
Bps.2004. Provinsi Sumatra Barat Dalam Angka 2004-2005.
Bps.2004. Provinsi Riau Barat Angka 2004-2005
Bps.2004. Provinsi Kep. Riau Dalam Angka 2004-2005.
Bps.2004. Provinsi Jambi Angka 2004-2005
Bps.2004. Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2004-2005.
Bps.2004. Provinsi Sumatra Selatan Angka 2004-2005
Bps.2004. Provinsi Lampung Dalam Angka 2004-2005.
Bps.2004. Provinsi Bangka Belitung Angka 2004-2005
Bappenas. 2006. Penyusunan Sistem Informasi Pengembangan Wilayah
Terpadu.
Data Digital Podes 2003 Sensus Pertanian . Badan Pusat Statistik Indonesia
Dwipayana, AAGN Ari, S.Eko. 2003. Membangun Good Governance di Desa.
Institute for Researchand Empowerment (IRE). Yogyakarta.
FAO. 2004. Decentralization and Rural Property Taxation. Sustainable
Development Department.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Murty, S. 2000. Regional Disparities: Need and Measures for Balances


Development (pp.3-16). Paperin Regional Planning and Sustainable
Development. Kanishka Publishers, Distributors. New Delhi.
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi-Provinsi Di Indonesia 2000-2004.
Badan Pusat Statistik Indonesia
Prasetiantono, Tony. 2007. Analisis ekonomi. htpp: \\www.kompas.com.
Suruji, Andi. 2006. Terlepasnya Sektor Riil dari Indikator Makro. htpp:
\\www.kompas.com.
Saparini. 2007. Rentannya Perekonomian Indonesia. Kompas.
Statistik Indonesia 2004, Badan Pusat Statistik Indonesia
Statistik Indonesia 2005-2006, Badan Pusat statistik Indonesia
Saefulhakim, Sunsun.1997. Modul Permodelan Analisis Kewilayahan.
Laboratorium Pengembangan Sumber Daya Lahan, IPB. Bogor
Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Alih
Bahasa Drs. Han Munandar, M.A. Penerbit Erlangga: Jakarta

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

LAMPIRAN TABEL :
Tabel 6 Neraca Perdagangan (ExportImport) Provinsi di Wilayah Sumatera (Juta US$)
Provinsi

URAIAN

2003

Ekspor
1.704,62
Impor
51,53
Neraca Perdagangan
1.653,09
Ekspor
2.687,88
Sumut
Impor
679,81
Neraca Perdagangan
2.008,07
Ekspor
377,28
Sumbar
Impor
31,13
Neraca Perdagangan
346,14
Ekspor
9.895,36
Riau dan Kepri
Impor
825,41
Neraca Perdagangan
9.069,95
Ekspor
469,30
Jambi
Impor
82,59
Neraca Perdagangan
386,71
Ekspor
903,65
Sumsel
Impor
112,37
Neraca Perdagangan
791,28
Ekspor
424,04
Babel
Impor
16,62
Neraca Perdagangan
407,42
Ekspor
15,40
Bengkulu
Impor
0,0002
Neraca Perdagangan
15,25
Ekspor
739,79
Lampung
Impor
951,27
Neraca Perdagangan
-211,47
Sumber: Pusdatin Departemen Perdagangan.
NAD

2004

2005

2006

2007

1.812,36
53,00
1.759,37
4.239,41
953,36
3.286,05
594,96
15,65
579,31
10.301,73
1.116,04
9.185,69
450,94
10,41
440,53
1.156,24
85,88
1.070,36
663,94
18,09
645,85
37,36
0,0007
37,36
669,69
1.338,58
-668,89

2.072,42
18,41
2.054,00
4.563,07
1.178,01
3.385,07
731,19
0,00
731,15
13.192,91
2.627,83
10.565,08
418,88
116,07
302,81
1.241,05
192,41
1.048,65
957,32
27,72
929,60
71,60
10,91
60,69
1.083,76
3.473,76
-2.390,00

2.032,79
36,21
1.996,58
5.523,90
1.456,99
4.066,91
1.074,13
36,81
1.037,32
14.767,80
2.271,40
12.496,40
838,79
162,77
676,02
2.390,58
283,96
2.106,61
1.068,69
25,09
1.043,60
80,32
0,0007
79,66
1.525,66
3.001,41
-1.475,75

1.854,23
30,65
1.823,59
7.082,90
2.109,88
4.973,02
1.512,80
95,86
1.416,94
18.001,45
3.118,35
14.883,09
1.081,20
178,89
902,31
2.717,95
167,70
2.550,25
1.273,94
21,58
1.252,36
84,99
4,11
80,88
1.540,55
1.388,96
151,59

Keterangan: Data export-impor Provinsi Riau termasuk di dalamnya export-impor Kepualauan Riau

JAN-MEI
2008
752,17
16,32
735,85
3.962,19
1.590,46
2.371,73
1.161,27
148,59
1.012,68
9.667,52
5.929,66
3.737,86
448,71
62,16
386,55
1.473,96
72,96
1.401,00
1.219,91
17,08
1.202,83
27,70
1,24
26,46
1.106,60
389,00
717,60

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 11 Perkembangan Keuangan Daerah Per Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2002 2006 (Juta Rupiah)
Provinsi

Tahun

2002
2003
NAD
2004
2005
2006
2002
2003
Sumut
2004
2005
2006
2002
2003
Sumbar
2004
2005
2006
2002
2003
Riau
2004
2005
2006
2002
2003
Jambi
2004
2005
2006
2002
2003
Sumsel
2004
2005
2006
2002
2003
Bengkulu
2004
2005
2006
2002
2003
Lampung
2004
2005
2006
Kepri
2006
2002
2003
Babel
2004
2005
2006
Sumber: Buku APBD Provinsi

PENERIMAAN
PAD
Perimbangan
92,796.19
1,398,059.90
198,432.40
1,205,286.14
205,503.06
3,338,233.40
262,119.99
2,169,014.55
9,491,271.76
660,247.35
614,459.38
385,684.97
908,262.19
484,991.62
1,143,128.73
512,975.46
1,372,982.70
518,391.30
1,377,138.22
738,653.00
213,284.55
235,578.03
216,538.19
298,104.88
375,074.87
308,832.75
448,279.02
310,066.31
527,357.00
457,792.10
504,384.58
1,028,330.22
658,548.32
1,150,896.01
710,384.05
1,244,806.25
769,561.70
1,783,743.46
877,529.66
1,811,458.00
149,648.65
232,946.04
225,323.15
287,144.58
287,637.72
333,981.29
344,880.74
393,688.55
480,442.04
312,844.34
289,634.63
438,391.04
428,080.43
499,943.00
493,173.95
575,979.89
590,860.84
786,818.76
619,278.61
983,582.84
45,510.35
173,554.65
69,012.30
237,553.10
103,611.49
230,118.00
122,165.59
254,143.75
398,183.60
114,838.30
237,011.65
328,183.70
306,859.13
393,449.02
410,682.09
410,775.13
549,657.85
496,245.33
485,015.18
581,759.00
586,125.68
4,352,576.15
71,780.12
203,543.20
114,461.63
209,951.01
188,304.37
246,999.99
175,330.29
296,197.51

Pengeluaran
Total
1,384,492.25
1,963,266.44
4,494,289.79
2,169,779.96
7,924,811.45
1,026,440.77
1,352,066.95
1,501,539.02
1,830,574.33
2,268,990.57
452,408.17
355,199.52
652,865.04
745,548.64
1,014,238.40
1,714,855.31
1,913,837.07
1,970,452.94
2,437,724.83
3,188,585.30
363,492.23
489,371.96
581,432.85
642,833.02
964,330.51
692,159.76
852,352.11
1,140,787.40
1,097,417.95
1,580,361.45
193,109.42
308,656.44
340,116.14
359,352.74
399,413.00
541,622.06
643,859.20
751,108.75
865,194.61
1,002,755.67
3,369,098.93
241,501.86
280,959.23
340,243.53
512,921.76

(Defisit)/
Surplus
(294,702.87)
(696,861.89)
(163,783.79)
2,275,987.65
(162,560.15)
(75,797.66)
153,199.35
3,127.39
(27,564.86)
(34,476.00)
29,089.30
(147,645.97)
(234,037.33)
388,443.65
(48,711.16)
(105,987.77)
144,744.13
52,881.24
(290,752.64)
(22,500.00)
(12,694.94)
(17,805.06)
(115,046.29)
(71,616.70)
(180,636.99)
(64,018.51)
1,575,512.92
42,858.98
(46,699.01)
(96,484.83)
41,393.96

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 16 Perkembangan Rasio Guru/Sekolah Menurut Tingkat Pendidikan Per Provinsi di Pulau Sumatera 2004 - 2006

2004

10

Sumatra
Utara
9

2005

2006

10

10

10

2004

22

20

32

22

17

23

18

18

18

Na

2005

26

22

29

21

18

25

18

21

18

19

2006

28

23

31

24

20

28

18

24

22

19

2004

28

24

37

29

22

24

25

27

26

Na

2005

25

25

35

25

23

25

27

29

23

23

2006

28

25

40

24

23

26

26

26

23

25

2004

35

26

41

32

31

33

36

27

21

Na

2005

35

27

39

33

28

36

32

32

27

28

32
28
43
34
2006
Sumber: Diolah dari Departemen Pendidikan Nasional, dalam Statistik Indonesia 2007

29

44

32

34

31

33

Tingkat Pendidikan
Sekolah Dasar atau Setara

SMP atau setara

SMA atau setara

SM Kejuruan atau setara

Tahun

NA D

Sumatra
Barat
9

Riau

Jambi

10

Sumatra
Selatan
9

Bengkulu

Lampung

Babel

Kepri

10

10

Na

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 17 Perkembangan Rasio Murid /Guru Menurut Tingkat Pendidikan Per Provinsi di Pulau Sumatera 2004 2006
Tingkat Pendidikan

19

Sumatra
Utara
20

Sumatra
Barat
18

Riau

Jambi

20

18

Sumatra
Selatan
20

2005

18

22

19

21

20

2006

20

22

19

21

2004

13

18

12

2005

12

16

2006

12

2004

Bengkulu

Lampung

Babel

Kepri

18

23

19

Na

23

19

24

19

21

22

20

21

25

18

18

15

17

14

17

17

18

Na

13

14

14

12

15

14

17

15

15

12

13

12

12

15

13

15

13

12

17

13

13

13

16

16

11

12

Na

2005

13

16

14

14

12

15

16

12

12

15

2006

12

15

12

14

13

14

14

13

13

10

2004

11

13

14

12

14

10

12

16

Na

2005

11

12

13

11

11

10

10

12

12

2006
10
11
8
13
Sumber: Diolah dari Departemen Pendidikan Nasional, dalam Statistik Indonesia 2007

10

11

11

Sekolah Dasar atau


Setara

SMP atau setara

SMA atau setara

SM Kejuruan atau setara

Tahun

NA D

2004

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 18 Perkembanga Jumlah Fasilitas Kesehatan Per Provinsi di Pulau Sumatera tahun 2002 2004 (orang)
Provinsi

Jenis Rumah Sakit


2002
2003
2004
2005
Rumah Sakit
26
26
28
28
Puskesmas
230
240
240
266
NAD
Puskesmas Pembantu
821
824
739
733
Jumlah Penduduk
3989879
4213821
4075599
Na
Rumah Sakit
119
122
122
123
Puskesmas
411
388
423
426
Sumatera Utara
Puskesmas Pembantu
1789
1578
1883
1784
Jumlah Penduduk
11849200 11856907 12068731 11688987
Rumah Sakit
40
40
40
40
204
206
210
214
Sumatera Barat Puskesmas
Puskesmas Pembantu
825
834
815
843
Jumlah Penduduk
4254751
4456816
4528242
4555810
Rumah Sakit
31
33
34
37
Puskesmas
167
142
146
150
Riau
Puskesmas Pembantu
704
642
651
652
Jumlah Penduduk
5386863
5557880
5679643
4563406
Rumah Sakit
14
15
15
15
Puskesmas
Na
45
47
135
Jambi
Puskesmas Pembantu
Na
211
217
575
Jumlah Penduduk
2455983
2568598
2619553
2627216
Rumah Sakit
27
29
30
31
Puskesmas
130
127
132
242
Sumatera Selatan
Puskesmas Pembantu
628
634
588
914
Jumlah Penduduk
7174893
6486015
6596057
6767645
Rumah Sakit
7
7
7
7
Puskesmas
214
235
250
113
Bengkulu
Puskesmas Pembantu
853
891
903
481
Jumlah Penduduk
1633516
1517181
1541551
1546286
Rumah Sakit
19
19
19
22
Puskesmas
112
112
113
224
Lampung
Puskesmas Pembantu
479
478
487
710
Jumlah Penduduk
6780451
6928822
7028388
7104572
Rumah Sakit
5
5
5
5
Puskesmas
211
219
222
47
Babel
Puskesmas Pembantu
688
704
704
145
Jumlah Penduduk
925237
976031
1012655
1042828
Rumah Sakit
0
Puskesmas
45
45
61
41
Kepri
Puskesmas Pembantu
140
139
143
180
Jumlah Penduduk
Na
na
na
1273011
Catt: * terdiri dari RS Pemerintah, RS Swasta dan RS Tentara
- Provinsi Kepri di gabungkan saja ke Provinsi Riau, termasuk data rumah sakit.
- Tidak ada data untuk Provinsi NAD dan jumlah provinsi Sumut tidak termasuk Kab Nias dan Nias
Selatan
Sumber: Profil Kesehatan Indonesia Departemen Kesehatan 2002-2005

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 19 Sumber Daya Manusia Kesehatan Per Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2003 2005 (orang)

Provinsi

Tahun

Medis

Keperawatan

Kefarmasian

Gizi

2003
985
8.434
355
257
2005
396
1.478
124
60
2003
3126
15.567
1027
571
Sumut
2005
1.795
6.940
617
298
2003
1173
5416
490
217
Sumbar
2005
830
3.087
339
124
2003
1229
4.456
356
174
Riau
2005
589
2.637
280
80
2003
894
2.630
226
135
Jambi
2005
204
845
95
454
2003
1261
5954
367
257
Sumsel
2005
658
2.598
211
110
2003
502
21.976
88
81
Bengkulu
2005
113
630
52
41
2003
968
12.306
107
88
Lampung
2005
304
1.733
97
79
2003
195
578
50
41
Babel
2005
70
363
30
14
Sumber: Profil Kesehatan Indonesia Departemen Kesehatan 2003 dan 2005
NAD

Kesehatan
Masya-rakat
868
86
1014
150
779
135
616
69
1165
54
1102
97
517
51
253
69
166
11

Ketera-pian
Fisik
29
36
81
103
36
56
31
46
10
14
22
52
7
14
13
36
3
4

Keteknisan
Medis
371
182
679
633
352
268
233
248
176
92
351
194
81
59
162
202
21
29

Jumlah
Tenaga
Kesehatan
11.299
2.362
22.065
10.536
8.463
4.837
7.095
3.949
5.236
1.349
9.314
3.911
3.252
960
3.897
2.520
1.054
521

Jumlah
Tenaga Non
Kesehatan
615
665
1.435
4.662
736
1.778
430
1.725
320
437
698
2.230
232
222
341
1.316
77
257

Jumlah SDM
Kesehatan

Jumlah
Penduduk

11.914
3.027
23.500
15.158
9.199
6.615
7.525
5.674
5.556
1.786
10.012
6.141
3.484
1.182
4.238
3.836
1.131
778

4.213.821
na
11.856.907
11.688.987
4.456.816
4.555.810
5.557.880
4.563.406
2.568.598
2.627.216
6.486.015
6.767.645
1.517.181
1.546.286
6.928.822
7.104.572
976.031
1.042.828

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 20 Presentasi Rumah Tangga yang Menggunakan Penerangan Listrik PLN, Bahan Bakar Untuk Penerangan,
Listrik non PLN & Non Listrik tahun 2004 2006 (persen)
Provinsi

Jenis Penerangan

NAD

Sumatera Utara

Sumatera Barat

Riau

Jambi

Sumatera Selatan

Bengkulu

Lampung

Babel

Kepri

2004

2006

Listrik PLN

87.45

81.57

Listrik non PLN

1.31

2.78

Non Listrik *

11.24

15.66

Listrik PLN

86.78

89.54

Listrik non PLN

1.23

1.46

Non Listrik *

11.99

9.01

Listrik PLN

78.78

81.19

Listrik non PLN

1.51

2.68

Non Listrik *

19.71

16.14

Listrik PLN

60.24

57.95

Listrik non PLN

18.50

21.95

Non Listrik *

21.25

20.09

Listrik PLN

58.36

65.49

Listrik non PLN

13.79

13.74

Non Listrik *

27.84

20.77

Listrik PLN

63.43

67.01

Listrik non PLN

6.07

10.19

Non Listrik *

30.50

22.8

Listrik PLN

68.70

66.37

Listrik non PLN

2.55

7.34

Non Listrik *

28.76

26.29

Listrik PLN

54.59

64.10

Listrik non PLN

6.84

8.57

Non Listrik *

38.56

27.34

Listrik PLN

71.85

70.38

Listrik non PLN

16.74

20.87

Non Listrik *

11.41

8.75

Listrik PLN

Na

79.31

Listrik non PLN

Na

10.54

Na
10.15
Non Listrik *
* mencakup petromaks, lampu sentir, pelita, obor, lainnya
Sumber: Statistik Indonesia BPS, 2007

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 22 Perkembangan Rasio Panjang Jalan Rusak terhadap Total Jalan Menurut Status Jalan Per Provinsi di
Pulau Sumatera Tahun 2003 2006 (persen)
Provinsi
NAD

Tahun
2003
2004
2005
2006
Sumatra Utara
2003
2004
2005
2006
Sumatra Barat
2003
2004
2005
2006
Riau
2003
2004
2005
2006
Jambi
2003
2004
2005
2006
Sumatra
2003
Selatan
2004
2005
2006
Bengkulu
2003
2004
2005
2006
Lampung
2003
2004
2005
2006
Bangka
2003
Belitung
2004
2005
2006
Sumber: Statistik Perhubungan

Jalan Negara
0
12.28
21.47
48.91
32.31
17.87
17.64
17.64
0
5.08
2.58
2.58
0
33.84
4.35
4.35
4.27
11.83
0.12
0.12
18.76
21.09
14.88
14.88
0
0
4.89
5.02
30.93
9.96
11.16
11.14
NA
12.43
11.86
11.86

Jalan Provinsi
50.46
9.69
53.94
53.94
16.88
13.62
48.13
62.75
0
6.98
31.48
31.48
6.65
0
51.17
51.17
19.27
8.59
15.87
15.86
12.21
16.90
2.78
3.33
7.24
0
29.18
24.47
45.71
18.64
49.13
49.13
NA
10.96
24.46
24.41

Jalan Kabupaten
26.71
20.01
21.14
28.93
50.56
38.55
49.03
46.04
40.20
34.62
40.03
52.04
56.00
33.17
8.14
54.94
55.13
83.08
47.62
52.78
18.30
10.68
13.56
49.69
30.76
34.62
41.97
37.63
37.88
42.33
38.52
37.91
NA
41.60
34.56
7.91

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 24Tingkat Ketersediaan Prasarana Transportasi Per Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2005 ( persen )
Provinsi

Darat

NAD*
Sumatera Utara**
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Bangka Belitung

95.39
96.15
93.34
66.51
84.53
81.79
98.20
95.16
93.15

Dapat dilalui kendaraan roda


4 sepanjang tahun
90.99
88.44
93.78
71.82
86.48
80.74
94.12
91.19
97.51

Air

Darat dan air

0.77
0.51
2.00
8.03
2.02
5.26
0.08
0.91
1.25

3.84
3.34
4.66
25.46
13.44
12.96
1.72
3.93
5.61

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 25 Perkembangan Jumlah Pelabuhan Laut, Udara dan Stasiun Kereta Per Provinsi di Pulau Sumatera Tahun
2003 - 2006
Provinsi

Tahun

Pelabuhan
yang
disusahakan
5
5
5
4
6
6
6
1
3
3
3
1
10
10
8
6
3
3
3
2
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1
1
3
3
2
2

Pelabuhan
yang tidak
disusahakan
7
7
7
3
15
15
15
3
3
3
3
3
22
22
6
5
2
2
2
2
1
1
1
1
1
2
2
2
5
5
5
4
2
2
2
2

2003
2004
NAD
2005
2006
2003
Sumatra
2004
Utara
2005
2006
2003
Sumatra
2004
Barat
2005
2006
2003
2004
Riau
2005
2006
2003
2004
Jambi
2005
2006
2003
Sumatra
2004
Selatan
2005
2006
2003
2004
Bengkulu
2005
2006
2003
2004
Lampung
2005
2006
2003
Bangka
2004
Belitung
2005
2006
2003
Kepulauan
2004
Riau
2005
2
2006
Sumber: Statistik Perhubungan
Notes: Data Terminal dan ASDP belum ada

Bandar
udara
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
6
6
6
6
1
1
1
1
3
3
3
3
1
1
1
1
1
1
1
1
-

16
9

Stasiun

26
26
26
26
11
11
11
11
11

30
30
30
30

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 32 Ketersediaan Lahan Untuk Pertanian Di Indonesia menurut pulau besar tahun 2007 (hektar)
Luas (Hektar)
Lahan Kering
Lahan Kering
Semusim
Tahunan

Pulau

Lahan Basah
Semusim

Sumatera

5.187.909

7.747.637

13.182.265

26.117.811

Jawa-Bali

4.493.484

2.071.694

2.935.191

9.500.369

Nusa Tenggara

353.081

1.121.934

1.470.198

2.945.213

Kalimantan

5.416.543

8.953.235

13.668.043

28.037.821

Sulawesi

1.930.187

790.983

3.787.147

6.508.317

Maluku

629.927

218.539

2.758.310

3.606.776

Papua

7.410.407

4.184.873

5.758.480

17.353,760

Total

25.421.538

25.088.895

43.559.634

94.070.067

TOTAL

Sumber: Pengaturan & Penataan Pertanahan 2007 BPN-RI

Tabel 38 Perkembangan Luas Areal (ha) dan Produksi (ha) tanaman Pangan Padi Per Provinsi di Pulau
Sumatera tahun 2002 dan 2006
Provinsi
N. Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Jambi
Bengkulu
Riau
Kepri
Sumatera Selatan
Lampung
Babel

Th
2002
2006
2002
2006
2002
2006
2002
2006
2002
2006
2002
2006
2002
2006
2002
2006
2002
2006
2002
2006

Padi Sawah
Padi Ladang
Luas Panen (ha)
Produksi (ton) Luas Panen (ha) Produksi (ton)
311.062
1.305.402
4.069
8.763
315.324
1.335.354
3.082
6.843
695.907
2.981.889
69.254
171.416
652.227
2.852.162
52.488
136.681
415.867
1.855.659
8.386
20.175
405.023
1.850.718
12.821
38.762
138.323
501.125
27.406
59.882
115.127
481.183
25.486
63.414
88.778
337.880
20.741
41.938
85.275
346.040
15.716
32.684
108.944
356.719
20.081
39.925
118.785
396.141
21.153
46.124
109
318
7
14
494.945
1.760.078
66.779
139.771
574.080
2.272.513
71.574
174.918
396.545
1.755.553
78.916
195.556
429.578
1.957.828
64.172
170.488
1.124
3.615
3.373
6.702
2.571
8.910
3.170
7.434
Sumber: BPS, Statistik Indonesia, 2007

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 39 Perkembangan Luas Areal (ha) Dan Produksi (HA) Tanaman Perkebunan Dominan Tahun 2004-2006
Provinsi

Produksi

Karet
2004
2006
90,724
93,228
58,320
89,379
304,650 349,769
223,591 220,634
140,574 145,504
69,457
86,555
543,783 514,469
305,644 415,906
41,409

Luas
Produksi
Luas
Sumatera Utara
Produksi
Luas
Sumatera Barat
Produksi
Luas
Riau
Produksi
Luas
Kepulauan Riau
Produksi
Luas
567,042
Jambi
Produksi
236,317
Luas
42,629
Sumatera Selatan
Produksi
75,728
Luas
35,395
Bangka Belitung
Produksi
15,699
Luas
Bengkulu
Produksi
Luas
67,802
Lampung
Produksi
28,105
Sumber: BPS, Statistik Indonesia, 2007
NAD

Kopi
2004
2006
97,816 100,327
37,382
37,498
53,969
78,962
43,804
49,452
57,145
21,641
87,057
29,219
10,849
10,816
5,425
3,793

Kelapa
2004
2006
108,564 107,851
74,369
65,318
109,341 122,345
87,439
99,424
87,638
89,313
75,046
78,678
550,052 551,613
572,624 554,590
37,788

Kelapa Sawit
2004
2006
82,356
86,065
536,367
559,553
229,512
363,095
3,204,763 4,486,479
279,849
139,472
686,356
291,448
1,340,936 1,530,150
3,386,801 4,659,679
219

622,414
255,702
67,938
76,369
10,266
3,916
85,691

24,372
5,555

24,557
7,764

109
45

43
14
124,510

128,352
127,726
2,299
510
14,048
7,189

118,495
120,187
0
0
6,617
14,245
11,386

365,304
795,848
411,546
1,231,538
2,507
2,121

68,361
29,776

329,849
142,635

164,006
141,305

135,259
114,617

135,291
104,674

422,940
1,009,448
499,981
1,043,251
6,617
14,245
93,727

Tabel 40 Perkembangan Produksi (Ton) dan Nilai Produksi Perikanan Hasil Budi Daya Per Provinsi di Pulau
Sumatera tahun 2004-2005
Budi daya
Tambak Kolam Karamba
Jumlah
Provinsi
Tahun
laut (ton)
(ton)
(ton)
(ton)
(ton)
2004
21.376
9.138
1.761
35.525
N. Aceh Darussalam
2005
12.336
8.733
342
24.434
2004
496
18.737 14.240
252
41.640
Sumatera Utara
2005
548
18.730 14.243
234
44.393
2004
120
4 20.288
9.103
37.414
Sumatera Barat
2005
126
5 14.174
9.558
32.146
2004
1.579
4.907
2.950
10.205
Jambi
2005
1.304
5.531
3.627
11.419
2004
804
4.055
730
7.152
Bengkulu
2005
1.438
4.427
17.401
7.514
2004
7.488
6.161 19.895
2.064
35.622
Riau
2005
26
741 24.769
987
26.686
2004
Kepri
2005
4.856
178
5.034
2004
19.822
3.111
730
24.735
Sumatera Selatan
2005
21.516 34.768
17.401
81.725
2004
1.399
71.950 13.996
286
89.284
Lampung
2005
821
123.571 13.417
406
139.743
2004
31
323
359
58
791
Babel
2005
24
152
536
719
Sumber: DKP, Statistik Perikanan, 2007

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 41 Perkembangan Produksi Perikanan Tangkap Menurut Provinsi dan Sub Sektor (Ton) Per Provinsi di
Pulau Sumatera Tahun 2004 dan 2005
Provinsi

Tahun

Perikanan laut

2004
2005
2004
Sumatera Utara
2005
2004
Sumatera Barat
2005
2004
Jambi
2005
2004
Bengkulu
2005
2004
Riau
2005
2004
Kepri
2005
Sumatera Selatan
2004
2005
Lampung
2004
2005
Babel
2004
2005
Sumber: DKP, Statistik Perikanan, 2006
N. Aceh Darussalam

102.555
81.163
323.794
326.336
102.368
108.912
47.078
43.121
27.615
38.75
308.304
97.782
181.118
54.041
27.831
146.863
137.728
144.006
119.845

Perikanan
umum
1.54
1.319
11.226
11.671
7.678
8
5.134
5.554
3.785
453
14.714
24.694
84.174
43.188
8.22
8.1
-

Jumlah
104.095
82.482
335.02
338.007
110.046
116.912
52.212
48.675
31.4
39.203
323.018
122.476
181.118
138.215
71.019
155.083
145.828
144.006
119.845

Tabel 42 Perkembangan Populasi Ternak Besar Per Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 20042006 (Ribu Ekor)
Provinsi
N. Aceh Darussalam

Tahun

Sapi
perah

2005
2006
Sumatera Utara
2005
2006
Sumatera Barat
2005
2006
Jambi
2005
2006
Bengkulu
2005
2006
Riau
2005
2006
Kepri
2005
2006
Sumatera Selatan
2005
2006
Lampung
2005
2006
Babel
2005
2006
Sumber: BPS, Statistik Indonesia, 2007

0
0
6,5
6,8
0,7
0,8
0,1
0,2
0,3
0,4
0,1
0,1
-

Sapi
potong
625,1
626,4
288,9
289,3
419,5
428,2
113,7
124,6
83,2
84,9
102,4
109,1
10
10,2
449,5
556,8
417,1
418,2
4,6
5,9

Kerbau
338,3
340
259,7
261,3
201,4
211
72,9
83,9
48,5
49
47,8
52,2
0,3
0,3
90,3
103,6
49,2
49,3
0,8
0,9

Kuda
2,7
2,8
4,4
4,4
4,6
4,7
0,5
0,5
0,1
0,1
0
0
1,5
1,7
0,2
0,2
-

Kambing
565,8
572,9
640,5
644,7
210,5
250,1
125
140,7
106,4
110,6
256,3
266,6
21,6
22,6
462,5
558,9
927,7
930,1
4,7
7

Domba
124,5
125,3
271,3
293
6,1
7,1
45,3
51
6,7
6,7
2,5
3,7
60,2
67,2
75,6
75,7
0,2
0,3

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 43 Perkembangan Populasi Ternak Kecil per Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 20042006 (Ribu Ekor)
Ayam
kampung
NAD
2005
18.720,1
2006
18.907,3
Sumatera Utara
2005
21.280,4
2006
21.288,9
Sumatera Barat
2005
5.725,5
2006
5.954,5
Jambi
2005
3.477,9
2006
3.866,4
Bengkulu
2005
2.543,5
2006
2.797,9
Riau
2005
5.738,8
2006
5.740,6
Kepri
2005
922,6
2006
932,8
Sumatera Selatan
2005
12.728
2006
22.429
Lampung
2005
13.941
2006
13.971,5
Babel
2005
903,7
2006
1.039,3
Sumber: BPS, Statistik Indonesia, 2007
Provinsi

Tahun

Ayam petelur
94,2
98,7
6.190,2
6.324,5
5.608,5
5.721,8
460,3
690,4
32,2
39,2
236,3
371,3
212,6
238,1
4.860
6.710
1.661,2
1.665,8
262,7
275,9

Ayam
pedaging
1.057,4
1.072,6
35.368,5
44.816,0
11.357,8
11.750
9.694,4
10.663,9
1.591,3
1.941,4
27.441
28.131
469,6
483,7
14.920
18.928
21.747,2
21.801,6
4.639,7
9.232,9

Itik
2.910,4
2.926,9
1.994,6
2.006,8
985,4
1.141,2
468,9
493,3
160,6
180,6
339,3
340,4
60,8
65
2.029
2.642
628,9
630,5
35,4
40,8

Tabel 44 Luas Kawasan Hutan dan Tataguna Hutan (Ha) Per Provinsi di Pulau Sumatera Tahun 2005 (hektar)
Hutan
Hutan
Hut. Produksi
Hut. Produksi
Lindung
produksi
terbatas
dpt dikonversi
NAD
1.844.500
37.300
601.280
Sumatera Utara
1.297.330
879.270
1.035.690
52.760
Sumatera Barat
910.533
246.533
246.383
407.849
Jambi
191.130
340.700
971.490
Bengkulu
252.042
182.210
34.965
Riau
397.150
1.971.553
1.866.132
4.770.085
Kepri
Sumatera Selatan
760.523
217.320
2.293.083
431.445
Lampung
317.615
33.358
191.732
Bangka Belitung
156.730
466.090
Indonesia
31.760.359
22.495.000
37.150.530
22.795.965
Catatan: untuk Kepulauan Riau, jumlah luas hutan masih tergabung dengan Riau
Sumber: Statistik Badan Planologi Kehutanan.
Provinsi

Total hutan
(ha)
3.549.000
3.742.000
2.600.000
2.179.000
921.000
3.906.000
4.416.000
1.009.000
658.000
126.129

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 47 Luas Daerah Pengaliran dan Debit Beberapa Sungai yang Pengalirannya Lebih Dari 1000 km2 di Pulau
Sumatera Tahun 2005
Luas daerah
pengaliran sungai
(km2)
Sumatera Utara
S. Gambus
1.012,5
S.Bingei
1.621,3
S. Langkat
3.808
S. Asahan
1.046
Riau
S. Rokan
6.152
S. Siak
1.716
S. Batang Kampar
7431
S. Batang Kuantan
8.473
Jambi
S. Batanghari
24.128
Sumatera Selatan
S. Musi
20.848
Lampung
S. Way Semanga
1.413
S. Way Seputih
1.648
S. Way Sekampung
1.696
Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2006/2007
Provinsi

Sungai

Debit (m3/detik)
Maksimum

Minimum

112,26
80,49
242
597
177
873
1.024
3.804
494
191
261

0,13
8,55
114
27
7
13
27
7
1.63
5,9
173
1
11,72

Tabel 50 Banyaknya Desa yang Mengalami Kejadian Perkelahian Masal dan Jumlah Korban dan Kerugian
Material Menurut Provinsi (2005)
Desa yang
Mengalami
Provinsi
Perkelahian Masal
Jumlah
%
NAD
22
0.46%
Sumut
91
2.13%
Sumbar
48
5.91%
Riau
61
4.02%
Jambi
33
2.98%
Sumsel
26
1.03%
Bengkulu
17
1.61%
Lampung
23
1.13%
Babel
12
4.71%
Total
333
1.81%
Sumber: Podes 2005.

Jumlah Korban
Meninggal
0
24
5
14
3
5
2
11
0
64

Luka-luka
28
131
98
86
74
67
10
38
19
551

Kerugian
Material
(Rp)
29.742
5.541.806
2.113.390
1.700.700
554.804
5.171.500
59.500
15.053
89.050
15.275.545

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel 50 Banyaknya Desa yang Masyarakatnya Terkena Tindak Kejahatan yang Terjadi Setahun Terakhir Menurut Provinsi dan Jenis Kejahatan di Pulau Sumatera
Tahun 2005
Provinsi
NAD
Sumatera
Utara
Sumatera
Barat
Riau
Jambi
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Lampung
Bangka
Belitung
Total
Sumber: Podes 2005

Jenis
Kejahatan
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen

Pencurian
1039
21.62%
1644
38.39%
418
51.48%
760
50.07%
534
48.28%
1388
55.10%
490
46.40%
1206
59.23%
135
52.94%
7614
41.41%

Perampokan
63
1.31%
272
6.35%
32
3.94%
258
17.00%
77
6.96%
235
9.33%
36
3.41%
103
5.06%
19
7.45%
1095
5.95%

Penjarahan
116
2.41%
46
1.07%
10
1.23%
42
2.77%
13
1.18%
29
1.15%
6
0.57%
24
1.18%
0
0.00%
286
1.56%

Penganiayaan
297
6.18%
181
4.23%
58
7.14%
101
6.65%
26
2.35%
113
4.49%
16
1.52%
73
3.59%
39
15.29%
904
4.92%

Pembakaran
160
3.33%
38
0.89%
22
2.71%
45
2.96%
7
0.63%
18
0.71%
8
0.76%
8
0.39%
8
3.14%
314
1.71%

Perkosaan

Narkoba

23
0.48%
93
2.17%
41
5.05%
56
3.69%
24
2.17%
47
1.87%
16
1.52%
43
2.11%
8
3.14%
351
1.91%

328
6.83%
50
1.17%
95
11.70%
164
10.80%
66
5.97%
107
4.25%
10
0.95%
69
3.39%
25
9.80%
914
4.97%

Pembunuhan
129
2.68%
108
2.52%
35
4.31%
77
5.07%
34
3.07%
101
4.01%
17
1.61%
59
2.90%
11
4.31%
571
3.11%

Lainnya
39
0.81%
81
1.89%
25
3.08%
46
3.03%
10
0.90%
39
1.55%
5
0.47%
38
1.87%
15
5.88%
298
1.62%

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

DASAR DASAR METODOLOGI


Metodologi yang dikembangkan dalam studi ini terbagi atas 2 (dua) bagian, yaitu
analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis Kuantitatif dalam studi ini
meliputi: (i) Analisis Model IRIO, (ii) Analisis Spasial, (iii) Kutub Pertumbuhan; (iv)
Trade Intensity Index; (v) Analisis Sektoral (Analisis LC, LQ, dan Shift Share); (vi)
Analisis Keuangan Daerah; dan (vii) Statistika Deskriptif. Sedangkan Analisis
Kualitatif yang akan dilakukan dalam studi ini meliputi: (i) Focus Group Disscussion
(FGD); (ii) Wawancara Mendalam; dan (iii) Analisis Dokumen Kebijakan (Policy
Review) meliputi analisis dokumen dan kebijakan pemerintah serta analisis hasil
penelitian. Selanjutnya untuk lebih detailnya akan dijelaskan masing-masing
pendekatan tersebut.

App.1 Analisis Kuantitatif


App.1.1 Analisis Model Interregional Input-Output
Dasar-Dasar Model Input-Output
Dalam sebuah perekonomian, umumnya sebuah negara, perusahaanperusahaan yang ada dapat dikelompokkan ke dalam sekumpulan sektor (industri),
yang berjumlah n, berdasarkan karakteristik barang dan jasa yang diproduksinya.
Sektor-sektor ini dapat ditata hingga membentuk sebuah matriks yang dikenal
sebagai Tabel Input-Output berikut:
Sektor

Sektor Pembeli

Penjual
1
2
.....
1
x 11
x 12
2
x 21
x 22
.....
.....
.....
n
x n1
Nilai Tambah v 1
Impor
mi
Total
X1
Masukan
Gambar 1. Tabel Input-Output

.....

.....

n
x 1n

x nn
vn
mn
Xn

Konsums
i
Akhir
f1

Total
Produksi
X1

fn

Xn

Angka-angka di dalam Tabel Input-Output menunjukkan hubungan dagang


antar sektor yang berada dalam perekonomian negara tersebut. Setiap baris
menunjukkan secara rinci jumlah penjualan dari sebuah sektor, yang tertera pada

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

kolom penjual, ke berbagai sektor, yang tertulis di bawah label pembeli. Karena
sebuah sektor tidak menjual barangnya kepada semua sektor yang ada, maka umum
dijumpai angka nol dalam sebuah baris di dalam Tabel Input-Output. Adapun kolom
dalam Tabel Input-Output mencatat berbagai pembelian yang dilakukan sebuah
sektor terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai sektor yang ada di
dalam negara tersebut. Jika angka-angka yang berada pada kolom suatu sektor juga
banyak dijumpai angka nol, hal ini karena sebuah sektor tidak selalu membeli barang
dan jasa dari seluruh sektor yang ada di perekonomian negara tersebut. Sebagai
contoh: sektor industri baja akan membeli sangat sedikit bahan baku, atau tidak sama
sekali, dari sektor pertanian, kehutanan atau perikanan. Hubungan dagang antar
sektor ini yang umum dikenal sebagai aliran inter-industri yang terjadi di dalam
sebuah perekonomian di suatu negara dalam satu periode, yang umumnya satu tahun.
Selain transaksi antar sektor, ada lagi beberapa transaksi yang dicatat dalam
sebuah Tabel Input-Output. Perusahaan-perusahaan di dalam suatu sektor menjual
hasil produknya ke konsumen (rumah-tangga), pemerintah, dan perusahaan di luar
negeri; ditambah lagi sebagian hasil produksi juga dijadikan bagian dari investasi oleh
sektor lainnya.
Penjualan-penjualan yang baru saja disebutkan ini dapat
dikelompokkan ke dalam satu neraca yang disebut konsumsi akhir. Dalam hal
pembelian, selain barang dan jasa dari berbagai sektor, perusahaan juga
membutuhkan jasa tenaga kerja dan memberikan kompensasi pada pemilik
modal/kapital. Pembayaran jasa kepada tenaga kerja dan pemilik modal disebut
pembayaran untuk nilai tambah. Selain itu perusahaan juga membeli barang dan
jasa dari luar negeri; dengan kata lain, perusahaan mengimpor barang dan jasa.
Transaksi impor barang dan jasa ini dicatat pada baris impor. Dengan demikian,
lengkaplah transaksi-transaksi perdagangan dari berbagai sektor yang ada di dalam
suatu negara. Dari Tabel Input-Output pada Gambar 1 dapat dibuat dua persamaan
neraca yang berimbang:
n

Baris:

ij

fi Xi

i 1,...,n

(1)

j 1

Kolom:

v j m j X j j 1,..., n

ij

(2)

i 1

dimana x ij adalah aliran barang atau jasa dari sektor i ke sektor j; f i adalah total
konsumsi akhir; v j adalah nilai tambah dan m j adalah impor. Definisi neraca yang
berimbang adalah jumlah produksi (keluaran) sama dengan jumlah masukan.
Aliran inter-industri dapat ditransformasi menjadi koefisien-koefisien dengan
mengasumsikan bahwa jumlah berbagai pembelian adalah tetap untuk sebuah tingkat
total keluaran (dengan kata lain, tidak ada economies of scale) dan tidak ada
kemungkinan substitusi antara sebuah bahan baku masukan dan bahan baku
masukan lainnya (dengan kata lain, bahan baku masukan dibeli dalam proporsi yang
tetap). Koefisien-koefisien ini adalah:
aij xij / X j
(3)
atau

xij aij X j

(4)

Dengan memasukan persamaan (4) ke dalam persamaan (1) didapat:


n

ij

X j fi Xi

i 1,..., n

j 1

Dalam notasi matriks persamaan (5) dapat ditulis sebagai berikut:

(5)

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

AX f X
dimana aij Anxn ; f i f nx1 ; and X i X nx1

(6)

Dengan memanipulasi persamaan (6) didapat hubungan dasar dari Tabel InputOutput:
I A1 f X
(7)

dimana I A dinamakan sebagai matriks inverse Leontief (matriks multiplier


masukan). Matriks ini mengandung informasi penting tentang bagaimana kenaikan
produksi dari suatu sektor (industri) akan menyebabkan berkembangnya sektorsektor lainnya. Karena setiap sektor memiliki pola (pembeilian dan penjualan
dengan sektor lain) yang berbeda-beda, maka dampak dari perubahan produksi suatu
sektor terhadap total produksi sektor-sektor lainnya berbeda-beda. Matrik inverse
Leontief merangkum seluruh dampak dari perubahan produksi suatu sektor terhadap
total produksi sektor-sektor lainnya ke dal koefisien-koefisien yang disebut sebagai
1
multiplier. Multiplier ini adalah angka-angka yang terlihat di dalam matriks I A .
Tabel Input-Output untuk tingkat negara ini dapat pula diterapkan untuk
tingkat wilayah (regional) dalam suatu negara. Hanya saja, pada tingkat wilayah,
angka-angka multipliernya cenderung lebih kecil dibanding dengan angka-angka
multiplier untuk tingkat negara. Hal ini disebabkan karena, dalam banyak kasus,
perekonomian wilayah tidak selengkap perekonomian negara. Sehingga sektor-sektor
di suatu wilayah harus membeli bahan baku dari sektor-sektor yang berada di wilayah
lain (dalam negara yang sama). Demikian pula sektor-sektor di suatu wilayah sering
kali harus menjual hasil produksinya ke sektor-sektor di wilayah lainnya (dalam
negara yang sama).
Untuk mengetahui perdagangan antar wilayah, yang
menunjukkan keterkaitan antara wilayah satu dan lainnya di dalam suatu negara,
perlu dikembangkan lingkup transaksi seperti yang terlihat di Gambar 2. Untuk
sementara transaksi wilayah yang akan dianalisa hanya transaksi antara dua wilayah
di dalam suatu negara; dengan kata lain, suatu negara hanya dibagi atas dua wilayah
(sebagai contoh, suatu wilayah yang merupakan fokus analisa dan daerah lainnya di
dalam negara tersebut). Baris pada Gambar 2 ini menunjukkan penjualan pada
sektor-sektor di wilayah yang sama dan penjualan pada sektor-sektor di wilayah
lainnya. Demikian juga dalam hal pembelian, sebuah sektor membeli bahan baku
dari sektor-sektor yang berada di wilayah yang sama dan sektor-sektor yang berada di
wilayah lainnya. Variabel dalam matriks aliran inter-industri dituliskan sebagai
berikut:
aijrs i , j 1,..., n; r , s 1,2
(8)
1

Sektor

Sektor Pembeli

Penjual

Wilayah 1

W
I
L
1

1
2
....
....
....
n

x11 11
x11 21

x11 12

x11 n1

Kons
.
Akhi
r

Produ
ksi

x12 1n

f1 1
f1 2

X1 1
X1 2

x12 n

f1 n

X1 n

Wilayah 2
.
.

.
.

x11 1n

x12 11

x12 12

x11 n

x12 n1

..

..

Total

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

W
I
L
2

1
2
....
....
....
n

x21 11
x21 21

x22 11

x21 n1

x21 n

x22 n1

x22 n

f2 1

X2 1

f2 n

X2 n

Nilai
v1 1
v1 n
v2 1
Tambah
Impor
m1 1
m 1 n m2 1
1
1
Total
X1
X2
X1 n X2 1
Masukan
Gambar 2 Tabel Inter-Regional Input-Output

v2 n
m2 n
m2 n

Jika aij11 A11 ; aij22 A22 ; aij12 A12 and aij21 A21 , maka matriks aliran inter-industri
dapat dinyatakan dalam matriks blok sebagai berikut:

A
A 11
A21

A12
A22

(9)

dimana A11 and A22 adalah matriks aliran inter-industri di dalam suatu wilayah dan
A12 and A21 adalah matriks aliran inter-industri dari satu wilayah ke wilayah yang lain.
Jika konsumsi akhir dan total produksi juga dipisahkan ke dalam pembagian interregional yang serupa dengan aliran inter-industri, maka persamaan (6) dapat ditulis
dalam bentuk sebagai berikut:

A11
A
21

A12 X 1 f 1 X 1

A22 X 2 f 2 X 2

(10)

dan hubungan dasar input-output pada persamaan (7) ditulis sebagai berikut:

B11
B
21

B12 f1 X 1

B22 f 2 X 2

Dalam hal ini, elemen Bij B I A

menunjukkan perbedaan kontribusi

terhadap dampak multiplier secara keseluruhan.

(11)

B11 I A11 A12 I A22 A21


1

(12)

Dalam kasus satu wilayah, B11 I A11 ; dengan demikian, apa lagi yang
direpresentasikan pada variabel-variabel lain di persamaan (12)? Pada dasarnya,
variabel-variabel tersebut menunjukkan berbagai aliran sebagai berikut. Ketika
sebuah sektor di wilayah 1 berkembang sebagai akibat kenaikan jumlah konsumsi
akhir, perkembangan sektor ini akan menyebabkan bertambahnya bahan baku
masukan yang diproduksi di wilayah 2. Hal ini ditunjukkan oleh adanya variabel A21
pada persamaan (12). Tambahan permintaan terhadap barang yang dihasilkan di
wilayah 2 menyebabkan peningkatan berganda dari aktivitas ekonomi di wilayah 2.
1
Hal ini ditunjukkan oleh persamaan I A22 A21 . Akhirnya, peningkatan aktivitas
ekonomi di wilayah 2 akan menimbulkan tambahan permintaan di wilayah 1, yang
1

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

direpresentasikan dengan persamaan A12 I A22 A21 . Persamaan yang baru saja
dituliskan ini yang disebut dampak umpan balik inter-regional (interregional
feedback effect).
Besarnya dampak umpan balik inter-regional berbeda-beda tergantung pada
jenis sektor dan wilayahnya. Menganalisa dampak umpan balik ini merupakan salah
satu teknik untuk melihat karakteristik struktur ekonomi suatu wilayah dan
keterkaitan antara wilayah satu dan lainnya. Teknik-teknik lainnya akan dijelaskan
dalam bagian tulisan di bawah ini. Pertama-tama akan dijelaskan berbagai teknik
untuk membandingkan struktur ekonomi wilayah satu dan wilayah lainnya. Kedua
akan diuraikan berbagai teknik untuk menjelaskan mengenai keterkaitan ekonomi
(perdagangan) antar wilayah.
1

Struktur Ekonomi Antar Wilayah


Bagian ini akan diarahkan untuk menjelaskan konsep yang digunakan untuk
menganalisa perbedaan struktur ekonomi suatu wilayah dengan wilayah lainnya.
Untuk itu akan digunakan berbagai indeks yang merepresentasikan struktur ekonomi
suatu wilayah. Mengamati persamaan dan perbedaan struktur ekonomi antar wilayah
adalah hal yang teramat penting. Dengan diketahuinya persamaan dan perbedaan
struktur ekonomi satu wilayah dengan wilayah lainnya dapat diketahui pula apakah
kebijakan yang tepat untuk satu wilayah akan tepat pula untuk wilayah lainnya.
Indeks Hirschman-Rasmussen
Satu alat ukur yang relatif populer untuk mengamati perbedaan struktur
ekonomi suatu wilayah dengan wilayah lainnya adalah dengan mengklasifikasikan
sektor-sektor ke dalam sektor kunci dan sektor non-kunci.
Konsep dasar
pengklasifikasian sektor-sektor ke dalam sektor kunci dan non-kunci adalah
perhitungan keterkaitan ke belakang (backward linkages) dan keterkaitan ke depan
(forward linkages) yang dikembangkan oleh Rasmussen (1956) dan Hirschman
(1958). Pada dasarnya suatu sektor diklasifikasikan ke dalam sektor kunci jika
besarnya dampak dari berkembangnya sektor itu terhadap perekonomian wilayah
(negara) di atas rata-rata besarnya dampak dari berkembang sektor-sektor lain
terhadap perekonomian wilayah (negara) tersebut. Ada dua indeks yang berkembang
dan umum digunakan:
(1) Tingkat penyebaran dari keterkaitan ke belakang, BL j , sebagai berikut:

BL j

1 n
bij
n i 1

1
B j
n

1
n2

ij

i 1 j 1

(13)

1
1
V B j
V
2
n
n

dan
(2) Tingkat sensitivitas dari ke terkaitan ke depan, FLi , sebagai berikut:

1 n
1 n n
b
ij n2
bij
n j 1
i 1 j 1
1
1 1
Bi
V Bi V
n
n2
n

FLi

(14)

Sebelum melangkah lebih lanjut dalam menggunakan ke dua indeks di atas,

akan diterangkan terlebih dahulu cara mendapatkan bij . Perhatikan persamaan (3)

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

untuk mendapatkan aij . Dari Gambar 1, dapat pula didapat koefisien yang serupa
dengan aij , yaitu:
atau

aij xij / X i

(15)

xij aij X i

(16)

Dengan mensubsitusi persamaan (16) ke dalam persamaan (2) didapat:


n

ij

X i v j m j X j j 1,..., n

(17)

i 1

Dalam notasi matriks:

X ' A V M X '

(18)

Adapun bij B (1 A) 1 , seringkali disebut sebagai matrik multiplier produksi


(output multiplier matrix). Perhatikan, keterkaitan ke depan sering kali juga dihitung
dengan menggunakan rumus:

FLi

1 n
bij
n j 1

1
n2

ij

i 1 j 1

(19)

1
1
1
Bi
V Bi V
2
n
n
n

1
Dalam kenyataannya (1 A) relatif hampir sama dengan (1 A) 1 ; dengan

kata lain bij bij dan Bi Bi . Kembali ke persamaan (3.13) dan (3.14) atau (3.19).
Jika BL j > 1 menunjukkan bahwa satu unit kenaikan dari konsumsi akhir sektor j
akan menyebabkan kenaikan aktivitas ekonomi di atas rata-rata kenaikan aktivitas
ekonomi akibat kenaikan konsumsi akhir sektor-sektor lainnya. Demikian juga FLi >
1. FLi > 1 menunjukkan bahwa kenaikan satu unit produksi sektor i akan
menyebabkan kenaikan aktivitas ekonomi di atas rata-rata kenaikan aktivitas
ekonomi yang disebabkan kenaikan satu unit produksi sektor lainnya. Dari hasil
perhitungan BL j dan FLi dilakukan pengklasifikasian sektor sebagai berikut:

(i)

sektor kunci, jika BL j > 1 dan FLi > 1

(ii)

sektor berorientasi ke depan, FLi > 1 namun BL j < 1

(iii)

sektor berorientasi ke belakang, BL j > 1 namun FLi < 1

(iv)

sektor non-kunci, jika BL j < 1 dan FLi < 1.

Keterkaitan Antar Wilayah

Indeks Konsentrasi Perdagangan Antar Wilayah


Arus aktivitas perdagangan antar wilayah akan diamati dalam dua hal, yaitu:
per sektor dan per wilayah. Indeks yang pertama memberikan informasi mengenai
sektor yang mendominasi perdagangan antar wilayah.
Indeks yang kedua
memberikan informasi mengenai intensitas perdagangan antar wilayah. Perhitungan
indeks-indeks perdagangan dimulai dengan menghitung indeks impor antar wilayah
per sektor dan indeks ekspor antar wilayah per sektor, sebagai berikut:

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

(1)

Indeks impor wilayah s per sektor

IM rsj

1 n rs
bij
n i 1

1
Brsj
n
(2)

1
n2

rs
ij

i 1 j 1

for r s

(20)

for r s

(21)

1
1
V Brsj
V
2
n
n

Indeks export wilayah r per sektor

1 n rs 1 n n rs
bij n2
bij
n j 1
i 1 j 1
rs 1
1
1
Birs
V

B
V
i
n
n2
n

EX irs

Dari hasil perhitungan IM rsj dan EX irs dilakukan pengklasifikasian sektor sebagai
berikut:
(i)

sektor perdagangan kunci antara r dan s, jika IM rsj > 1 dan IE rsj > 1

(ii)

sektor berorientasi ekspor dari r ke s, EX irs > 1 namun IM rsj < 1

(iii)

sektor berorientasi impor dari r ke s, IM rsj > 1 namun EX irs < 1

(iv)

sektor perdagangan non-kunci, jika IM rsj < 1 dan EX irs < 1.

Untuk menganalisa intensitas perdagangan antar wilayah dilakukan perhitungan


sebagai berikut:
(1) Indeks impor wilayah s

IM
(2)

rs
j

1 S n rs
bij
sn s 1 j 1

S
n
1
bijrs

sn(r 1) r s s 1 j 1

(22)

R n
1
bijrs
rn( s 1) s r r 1 j 1

(23)

Indeks export wilayah r

EX irs

1 R n rs
bij
rn r 1 j 1

App.1.2 Analisis Spasial

Matriks Contiguity Spasial

Pengukuran keterkaitan spasial atau lebih tepatnya spasial autokorelasi, yang


dikembangkan oleh Moran (1948) dan Geary (1954), berbasis pada contiguity biner di
antara unit-unit spasial (daerah-daerah). Berdasarkan basis ini, struktur dasar dari
hubungan ketetanggaan dalam suatu wilayah ditunjukkan dengan nilai 0 dan 1.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Misalnya, jika dua unit spasial (dua daerah) berbatasan langsung, kedua unit spasial
tersebut dianggap memiliki hubungan ketetanggan sehingga diberi notasi 1.
Sedangkan notasi 0 (nol) diberikan jika tidak terdapat hubungan ketetanggaan antara
dua unit spasial.
Dalam mendefinisikan hubungan ketetanggaan ini mensyaratkan adanya sebuah peta
sehingga batas-batas unit spasial bisa terlihat jelas. Batas-batas ini menjadi penting
terutama jika unit-unit spasial tidak tersusun secara teratur. Struktur spasial secara
formal dinyatakan dalam matriks contiguity atau keterhubungan. Dalam matriks ini,
semua unit spasial diurutkan dalam baris dan kolom. Dalam setiap baris, kolomkolom yang berisi notasi 1 menunjukkan adanya hubungan ketetanggaan antara unitunit spasial.
Contoh:
Unit
Spasial/Daerah

Dalam contoh di atas, unit spasial atau daerah A memiliki hubungan ketetanggan
dengan unit spasial B dan E. Kemudian, unit spasial B memiliki hubungan
ketetanggaan dengan unit spasial A dan C. Demikian seterusnya hingga unit spasial E
yang memiliki hubungan ketetanggaan dengan tiga unit spasial lain, yaitu A, C dan D.
Dengan konvensi, tidak satu pun unit spasial yang memiliki hubungan ketetanggaan
dengan dirinya sendiri sehingga diagonal utama matriks ini selalau berisikan notasi 0.
Hubungan ketetanggaan dapat didefinisikan dengan berbagai cara. Salah satu cara
yang paling sederhana adalah simple contiguity. Yaitu, apakah kedua daerah saling
berbatasan langsung atau tidak. Misalnya, unit spasial atau daerah A berbatasan
langsung (secara geografis) dengan unit spasial B dan E. Dengan demikian unit
spasial A dapat dikatakan memiliki hubungan ketetanggan dengan unit spasial B dan
E.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Hubungan ketetanggan juga bisa didefinisikan dengan jarak. Sebagaimana dinyatakan


dalam hukum pertama geografi; segala sesuatu terkait dengan sesuatu lainnya, tapi
keterkaitannya semakin tinggi jika jaraknya semakin dekat (Tobler 1969). Jika
hubungan ketetanggaan di sini didefinisikan sebagai kondisi yang terjadi apabila jarak
antara dua unit spasial tidak melebih radius 50 kilometer. Maka, unit spasial A
mungkin tidak hanya memiliki hubungan ketetanggaan dengan unit spasial D dan E,
tetapi juga dengan unit spasial C asalkan masih terletak di dalam radius yang telah
ditetapkan.
Prinsip jarak yang dijelaskan di atas tidak hanya berlaku secara fisik. Jarak juga bisa
didefinisikan

sebagai

hubungan

ekonomi

antardaerah.

Artinya,

hubungan

ketetanggaan tidak hanya tergantung pada jarak fisik, tetapi juga ada yang disebut
jarak ekonomi. Misalnya, ada tidaknya perdagangan atau migrasi tenaga kerja dari
satu unit spasial ke unit spasial lainnya.

Matriks Pembobot Spasial

Konsep sederhana mengenai contiguity biner kemudian dikembangkan oleh Cliff dan
Ord (1973, 1981) untuk untuk mengukur interaksi yang berpotensi terjadi antar dua
unit spasial. Struktur interaksi antar dua unit spasial ini dapat didefinisikan dengan
matriks pembobot W, yang juga dikenal dengan matriks pembobot Cliff-Ord.
Matriks pembobot W merupakan matriks bujur sangkar berdimensi n (jumlah daerah
dalam observasi) yang elemennya wij . wij menunjukkan besarnya interaksi antara
daerah i dan j. Satu konvensi yang selalu digunakan adalah bahwa nilai diagonal
matriks W adalah nol.
Dalam mengukur w ij, Cliff dan Ord menggunakan kombinasi dari ukuran jarak
absolut dan jarak relatif, yang mempertimbangkan jarak dari unit-unit spasial lain
yang memiliki hubungan ketetanggaan dengan unit spasial acuan. Pemikiran Cliff dan

, di mana d

Ord ini dapat dituliskan sebagai berikut wij d ij


jarak absolut antara unit spasial i dan j,

ij

ij

ij

menunjukkan

menunjukkan proporsi jarak absolut unit

spasial i dan j terhadap total jarak seluruh unit spasial lainnya ke j, serta a dan b
merupakan parameter.
Dacey (1968) mengusulkan hal serupa, di mana pembobotan dilakukan dengan
mengakomodasi area relatif dari unit-unit spasial wij d ij . i . ij , di mana d ij

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

merupakan faktor contiguity biner,

menunjukkan proporsi dari unit spasial i

terhadap area total dari unit-unit spasial, serta ij sebagai ukuran perbatasan.
Kedua pembobotan di atas mengacu pada jarak fisik dari unit-unit spasial dalam
pemetaan. Anselin (1980, 1984a) menyarankan bahwa struktur dari keterkaitan
spasial dalam matriks pembobot spasial harus dipilih secara hati-hati dan terkait
dengan

konsep

umum

teori

interaksi

spasial.

Matriks

pembobot

harus

merepresentasikan hubungan langsung dalam struktur keterkaitan.


Lebih lanjutnya, elemen matriks pembobot dapat di-row standardize-kan untuk
mendapatkan spatial-lag variable. Spatial-lag variable tersebut berisikan rata-rata
spasial dari variabel yang diobservasi di daerah tetangga (sesuai dengan kriteria
interaksi). Ukuran yang dipakai untuk menentukan ada tidaknya asosiasi spasial
adalah statistik Morans I 1 (Moran 1948) dengan rumus:
N

w
i 1 j 1

ij

( x i x )( x j x )

(x
j 1

x )2

Di mana,

xi , x j adalah observasi untu daerah i, j


x adalah rata-rata dari x

wij adalah elemen matriks pembobot W


Dalam analisis spasial, hipotesis nol (Ho) yang hendak diuji adalah:
spatial randomness, artinya nilai-nilai yang diobservasi memiliki pola
random (tidak ada pengelompokan/clustering) dalam unit kabupaten/kota.
nilai yang diobservasi pada suatu kabupaten/kota tidak tergantung pada nilai
kabupaten/kota tetangganya.
Sedangkan, hipotesis alternatifnya (Ha) adalah:
autokorelasi spasial positif, artinya nilai-nilai yang relatif sama cenderung
mengelompok (clustering); nilai tinggi berkelompok dengan nilai tinggi.
1

Interpretasi statistik Morans I dapat diketahui dengan menggunakan prinsip


permutasi dan randomisasi (Cliff dan Ord 1973).

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

autokorelasi spasial negatif, artinya nilai-nilai yang berbeda cenderung


mengelompok (clustering): nilai tinggi berkelompok dengan nilai rendah.

Data Spasial

Analisis spasial yang dilakukakan dalam studi ini didasarkan pada hubungan
ketetanggan secara geografis. Artinya, suatu daerah dianggap memiliki hubungan
ketetanggaan dengan daerah lain jika batas wilayah mereka saling bersinggungan.
Analisis ini menggunakan data setiap daerah (kabupaten/kota) yang telah
dihubungkan dengan peta regional (dalam bentuk file *.shp).
Data yang diperlukan mencakup bidang:
Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi

Pendapatan per kapita

Sosial dan Kependudukan


-

Penduduk berumur di atas 10 tahun yang buta tidak buta huruf

Rata-rata lama bersekolah

Angka harapan hidup

Penduduk tanpa akses terhadap fasilitas kesehatan

Kepadatan penduduk

Angkatan kerja

Pembangunan manusia (HDI)

Politik dan Pertahanan Keamanan


-

Tingkat partisipasi politik

Tingkat kriminalitas

App.1.3 Kutub Pertumbuhan


Ide kutub pertumbuhan (Growth Poles) pertama kali diperkenalkan oleh
Francois Perroux (1949). Namun konsep kutub pertumbuhan Perroux adalah kutub
pertumbuhan dalam tataran industri. Hirschman (1958) dan Myrdal (1964)
menggunakan konsep ini dalam tataran regional. Polarisasion theory oleh Myrdal
(1964) menyatakan bahwa kutub pertumbuhan terdistribusi tidak merata dalam
ruang geografis (wilayah ekonomi). Myrdal dalam hal ini, mengasumsikan bahwa
kutub pertumbuhan akan menarik faktor produksi sehingga akan memperlemah
daerah tertinggal (back-wash-effect). Sumber daya manusia dan modal akan bergerak
ke pusat, dimana faktor produksi menghasilkan return yang lebih tinggi. Tetapi jika
agglomerasi ini telah mencapai optimum maka efek persebaran dari core ke
periphery akan terjadi (spread effect). Jika Myrdal (1964) menggunakan term
backwash dan spread untuk merujuk kepada dampak suatu kutub pertumbuhan pada
daerah sekitarnya maka Hirschman menggunakan term polarization dan trikcling
down untuk kedua dampak tersebut.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Identifikasi Suatu Kutub Pertumbuhan

Salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi kutub


pertumbuhan adalah metode kluster. Kubis et al (2007) menggunakan suatu metode
kluster sederhana sebagai berikut:
Tabel Classification of growth
Region with growth

above average

below average

Growth

Classification

< 5 % quantile
5%-10% quantile
10%-25% quantile
25-50% quantile

growh pole
strong growth
growth
weak growth

positive
negative

substandard growth
negative growth

Perlu diketahui, pertumbuhan yang digunakan Kubis et al (2007) adalah


pertumbuhan dari nilai tambah kotor per kapita (gross value added per capita) dari
tahun 1999-2004.
Kawasan Andalan
Secara umum, suatu daerah dapat diklasifikasi berdasarkan kinerja
perekonomiannya. Selain klasifikasi menggunakan konsep kutub pertumbuhan, salah
satu konsep yang muncul dalam studi empiris di Indonesia adalah konsep kawasan
andalan. Konsep kawasan andalan ini didukung oleh teori pertumbuhan ekonomi,
teori basis ekonomi, dan teori pusat pertumbuhan (Kuncoro, 1993; Syafrizal 1997;
Aswandi dan Kuncoro, 2003).
Identifikasi Kawasan Andalan
Alat analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi kawasan andalan adalah
apa yang disebut dengan Tipologi Klassen. Tipologi ini digunakan untuk mengetahui
gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah.
Tipologi Klassen pada dasarnya membagi daerah berdasarkan dua indikator utama,
yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita daerah.
Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal
dan rata-rata pendapatan per kapita sebagai sumbu horizontal, maka akan diperoleh
pemetaan tipologi daerah atas empat kuadran. Daerah pada Kuadran I yaitu
Daerah Cepat Maju dan Cepat-Tumbuh (high growth and high income), daerah
pada Kuadran II yaitu Daerah Maju tetapi Tertekan (high income but low
growth), daerah pada Kuadran III yaitu Daerah Relatif Tertinggal (low growth
and low income)., dan daerah pada Kuadran IV yaitu Daerah Berkembang
Cepat (high growth but low income) Perhatikan tabel berikut.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Tabel Tipologi Daerah


Berdasarkan Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB per Kapita

(>
Rendah
(< Tinggi
Nasional/Wilayah) Nasional/Wilayah)

Pertumbuhan

Pertumbuhan Ekonomi
Rendah
(
< Tinggi
(
Nasional/Wilayah)
Nasional/Wilayah)

Kuadran II

Kuadran I

Kuadran III

Kuadran IV

>

PDRB Per Kapita


Keterangan: Batasan rendah dan tinggi adalah nilai nasional di waktu yang
bersangkutan
App.1.4 Trade Intensity Index
Intensitas perdagangan bilateral antara dua pihak dalam hal ini negara dapat
diukur dengan sebuah indeks yang mengukur andil relatif perdagangan bilateral dua
negara terhadap nilai perdagangannya di dunia. Indeks yang dimaksud adalah Indeks
Intensitas Perdagangan (IIP) atau the Trade Intensity Index (I).
IIP pertama kali diperkenalkan oleh Kojima (1964) 2 dengan definisi
perbandingan andil relatif ekspor negara i ke negara j terhadap andil relatif total
impor negara j terhadap total impor bersih dunia. Dalam notasi, IIP ( I i , j ) dinyatakan
dengan 3 :

X i, j
Xi
Mj

Ii, j

(24)

MW M i
dimana:
2

TulisantersebutdipublikasikandalamTheHitotsubashiJournalofEconomics.

DefinisidiambildariHoekmanet.al(2003).

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

X i , j -ekspor negara i ke negara j


X i -total ekspor negara i
M i , M j -total impor negara i dan j
M W -total impor dunia
Dengan indeks ini kita dapat mengukur seberapa pentingnya tingkat
perdagangan antara dua negara secara relatif terhadap nilai perdagangannya di pasar
dunia. Nilai IIP lebih besar daripada satu menunjukkan perdagangan bilateral antara
dua negara adalah sama pentingnya dengan perdagangan mereka dengan pasar dunia.
Sehingga besarnya nilai I i , j mencerminkan intensitas perdagangan bilateral antara
dua negara.
Indeks intensitas perdagangan ini dapat diaplikasikan pada konteks
kewilayahan (kelompok pulau-pulau besar) dalam kajian ini. Yaitu dengan mengganti
perdagangan antar negara dengan perdagangan antar kelompok dalam lingkup
perdagangan nasional. Dengan kata lain, IIP akan mengukur secara relatif seberapa
penting perdagangan satu pulau dengan pulau tertentu dibandingkan
perdagangannya di tingkat nasional.
Apabila nilai IIP lebih besar satu berarti perdagangan antara pulau i dan pulau
j adalah cukup penting atau telah terjadi intensitas perdagangan yang cukup tinggi
antara dua pulau diukur secara relatif terhadap intensitas perdagangan pulau j di
tingkat nasional. Sebaliknya nilai IIP kurang dari satu berarti intensitas
perdangangan pulai i dan j relatif kurang penting atau kurang intens dibandingkan
perdagangan pulau j dengan pasar nasional.
Modifikasi notasi IIP dari persamaan (24) di atas untuk konteks intensitas
perdagangan antar pulau adalah:

xi , j
ii , j

xi
mj

(25)

mN mi
dimana:
xi , j -ekspor pulau i ke pulau j

xi -total ekspor pulau i


mi , m j -total impor pulau i dan j 4
mN -total impor nasional
Lebih lanjut, berbeda dengan konteks perdagangan internasional nilai
perdagangan yang dilakukan antar pulau diukur dengan nilai pasar yang sama. Dalam
hal ini adalah nilai rupiah. Sedangkan pada perdagangan intenasional nilai komoditas
ekspor maupun impor diukur dengan nilai relatif pertukaran komoditas atau Term of
Trade (ToT).

dimana total impor pulau j sama dengan total ekspor nasional ke pulau j

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

App.1.5Analisis Sektoral
Untuk dapat menyusun sektor unggulan maupun peluang investasi di suatu
daerah ke depan, terlebih dahulu perlu dilakukan identifikasi sektor manakah yang
akan menjadi sektor perekonomian utama. Proses identifikasi tersebut akan
dilakukan berdasarkan penelaahan terhadap perkembangan karakteristik utama
sektor perekonomian di daerah selama ini. Beberapa model basis ekonomi juga dapat
digunakan, antara lain dengan menghitung indeks Location Quotient (LQ), indeks
Localization Coefficient (LC) dan analisis Shift-Share.
Localization Coefficient (LC)
Localization Coefficient (LC) digunakan untuk mengukur besarnya
konsentrasi suatu sektor untuk setiap daerah. Diperoleh dengan mencari selisih
antara distribusi PDRB suatu sektor di suatu daerah (misalnya kabupaten) dengan
distribusi sektor yang sama di tingkat daerah yang lebih luas/ nasional (misal provinsi
jika daerah yang lebih kecilnya adalah kabupaten). Kemudian dijumlahkan angka
yang tandanya sama (sama-sama positif atau sama-sama negatif), lalu dibagi dengan
bilangan seratus. Semakin besar koefisien berarti konsentrasi sektor itu semakin
besar di daerah tersebut.
Metode ini digunakan untuk mengukur besarnya konsentrasi suatu sektor
untuk setiap daerah. Diperoleh dengan mencari selisih antara distribusi PDRB suatu
sektor di suatu daerah (misalnya kabupaten) dengan distribusi sektor yang sama di
tingkat daerah yang lebih luas/ nasional (misal provinsi jika daerah yang lebih
kecilnya adalah kabupaten). Kemudian dijumlahkan angka yang tandanya sama
(sama-sama positif atau sama-sama negatif), lalu dibagi dengan bilangan seratus.
Semakin besar koefisien berarti konsentrasi sektor itu semakin besar di daerah
tersebut.
Tabel Contoh Perhitungan Localization Coefficient

Loca
tion
Quot
ient
(LQ)

A(%)

B(%)

C(%)

D(%)

1. E i r /E

20

30

35

15

2. E i r /E

15

20

30

35

5
0,2

10

-20

LC =

Dalam menganalisis kondisi perekonomian di daerah, termasuk dalam


menentukan komoditas unggulan di masing-masing daerah, digunakan berbagai
perangkat analisis sebagai kriteria. Analisis karakteristik perekonomian dari suatu

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

daerah bisa didasarkan pada perkembangan Indikator Angka Location Quotient (LQ).
Keunggulan indikator ini terletak kepada kemampuannya untuk mampu
menunjukkan tingkat keunggulan relatif dari suatu sektor di suatu daerah terhadap
sektor tersebut di daerah-daerah lainnya dalam suatu negara. Angka LQ umumnya
digunakan untuk menentukan sektor basis suatu daerah. Angka LQ ini berkisar antara
0 sampai dengan positif tak berhingga. Angka LQ yang kurang dari 1 menunjukkan
bahwa sektor yang bersangkutan tidak lagi memiliki keunggulan relatif. Bila Angka
LQ sama dengan 1, maka sektor yang bersangkutan memiliki keunggulan relatif yang
sama dengan rata-rata semua daerah. Sedangkan Angka LQ yang lebih besar dari 1
menunjukkan bahwa sektor yang bersangkutan memiliki keunggulan relatif yang
lebih tinggi dari rata-rata. LQ merupakan indikator awal untuk menentukan posisi
surplus/defisit suatu daerah dalam hal konsumsi/produksi tertentu. Angka LQ>1
untuk sektor tertentu menunjukkan keadaan surplus, yaitu proporsi sektor yang
bersangkutan melebihi proporsi sektor yang sama di nasional, atau menunjukkan
keunggulan komparatif sektor tersebut, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian
sektor-sektor yang mempunyai LQ>1 dapat dikatakan sebagai sektor basis, sedangkan
sektor yang mempunyai LQ<1 dinyatakan sebagai sektor non basis.

Ei r
LQi r

Ei n

Er
En

di mana E = employment (dapat juga menggunakan PDRB), i = sektor, n = nasional,


dan r = regional/ daerah. Jika nilai LQ i r > 1, artinya proporsi sektor i di daerah lebih
besar dari proporsi sektor yang sama di tingkat nasional. Oleh karena itu jika ingin
mengembangkan suatu sektor, maka lebih dulu diprioritaskan sektor yang memiliki
LQ > 1, sebab sektor tersebut memiliki aktivitas yang tinggi/ potensial. Namun
demikian LQ mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya bahwa terdapat pola
pengeluaran dan selera yang berbeda di setiap daerah, adanya perbedaan tingkat
pendapatan rumah tangga antar daerah, dan adanya perbedaan produktivitas antar
daerah.
Shift-Share
Analisis Shift-Share adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisis
data statistik regional, baik berupa pendapatan per kapita, output, tenaga kerja
maupun data lainnya. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengamati struktur
perekonomian daerah dan perubahannya secara deskriptif, dengan cara menekankan
bagian-bagian dari pertumbuhan sektor atau industri di daerah, dan memproyeksikan
kegiatan ekonomi di daerah tersebut dengan data yang terbatas. Dalam analisis ini,
pertumbuhan kegiatan di suatu daerah pada dasarnya ditentukan oleh tiga hal, yaitu:

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

1. National Share/National Growth Effect, yaitu pertumbuhan daerah


dibandingkan dengan pertumbuhan nasional. Jika daerah tumbuh seperti
rata-rata nasional, maka peranannya terhadap nasional akan tetap.
2. Proportional Shift/Sectoral Mix Effect/Composition Shift, yaitu perbedaan
antara pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan nasional
sektoral dan pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan
nasional total. Daerah dapat tumbuh lebih cepat/lambat dari rata-rata
nasional jika mempunyai sektor/ industri yang tumbuh lebih cepat/lambat
dari nasional. Dengan demikian, perbedaan laju pertumbuhan dengan
nasional disebabkan oleh komposisi sektoral yang berbeda (komponen mix).
3. Differential Shift/Regional Share/Competitive Effect, yaitu perbedaan antara
pertumbuhan daerah secara aktual dengan pertumbuhan daerah jika
menggunakan pertumbuhan sektoral untuk nasional. Daerah dapat saja
mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan dengan daerah lain, karena
lingkungannya mendorong suatu sektor tertentu untuk tumbuh lebih cepat.
Lingkungan disini dapat berarti lahan, tenaga kerja, maupun keahlian tertentu.
Pada metode shift-share akan dilihat bagaimana keadaan pertumbuhan di
daerah dengan membandingkan pertumbuhan nasional. Digunakan dua titik tahun
sebagai data untuk mengetahui pergeseran-pergeseran yang telah terjadi antara kedua
tahun tersebut. Pada tahap pertama dilakukan perhitungan pertumbuhan daerah,
kemudian national share, industrial mixed, dan regional share.

Ei

( t 1)

E N ( t 1 ) E i N ( t 1 ) E N ( t 1 )
N

N
N
E
E (t )
(
)
t
E

i (t )
National Share

Industrial Mix

E R ( t 1) E i N ( t 1)

N
E R (t )
E i (t )

r
E i (t )

Regional Share

Regional share ingin melihat jika daerah tumbuh seperti nasional, untuk
membandingkan pertumbuhan aktual daerah. Sedangkan pergeseran (shift) untuk
mengetahui apakah daerah mengembangkan sektor yang tumbuh secara cepat di
tingkat nasional ataukah tidak (shift proportional). Kemudian juga untuk mengetahui
selisih pertumbuhan secara sektoral antara daerah dengan nasional (shift differential).

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

App.1.6 Analisis Keuangan Daerah


Analisis kinerja Keuangan daerah didasarkan pada konsep yang dikemukakan oleh
Musgrave dan Musgrave, yaitu: 5 Kebutuhan Fiskal; Kapasitas Fiskal dan Upaya Fiskal.
1. Kebutuhan Fiskal / Fiscal Need, yang dirumuskan dengan:
NJ = ns Zj
Dimana:
Nj = Kebutuhan fiscal juridiksi j;
Ns = Biaya Penyediaan tingkat pelayanan setiap satuan Z; dan
Zj = Populasi Target

2. Kapasitas Fiskal / Fiscal Capacity, yang dirumuskan dengan:


Cj = ts Bj
Dimana:
Cj = Kapasitas Fiskal jurisdiksi j;
ts = tariff fiscal standar; dan
Bj = Basis fiskal di j
3. Upaya Fiskal / Fiscal Tax Effort, yang dirumuskan dengan:

Ej

tjBj tj

tsBj ts

Dimana:
Tj = tariff fiskal
Ts = fiskal standar
Ej = upaya fiskal
Namun untuk kasus daerah-daerah di Indonesia untuk menghitung masing-masing
ukuran tadi sulit untuk mendapatkan data yang dapat digunakan. Untuk itu dapat

RichardA.MusgravedanFeggyB.Musgrave,PublicFinanceinTheoryandPractice,
Edisike3,McGrawHillInternationalBookCo.,Tokyo,180,hal.546551

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

dipakai beberapa data keuangan daerah dan perekonomian daerah sebagai proxy. 6
Mengingat ketersediaan data, maka parameter dan formula berikut dapat digunakan
untuk melihat kinerja Keuangan Daerah di Indonesia:
1. Derajat Desentralisasi Fiskal antara pemerintah Pusat dan daerah.
Ukuran kemandirian Fiskal daerah dapat dilihat dari besarnya proporsi
pendapatan daerah yang bersumber dari daerah itu sendiri terhadap total
penerimaan daerah. Ada dua dua jenis pendapatan yang berasal dari daerah
sendiri. Pertama adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan kedua adalah Bagi
Hasil Pajak dan Bukan Pajak untuk Daerah. Untuk jenis pendapatan yang kedua
ini, merupakan bagian dari penerimaan pemerintah pusat, yang kemudian
dikembalikan lagi kepada pemerintah daerah dalam sekema dana bagi hasil.
Besarnya proporsi kedua pendapatan tersebut terhadap total penerimaan daerah
mencerminkan tingkat kemandirian daerah dalam pembiayaan pembangungan
daerah atau bisa juga dijadikan ukuran derajat desentralisasi fiskal suatu daerah.
Semakin besar presentase PAD terhadap total penerimaan daerah (TPD) maka
daerah tersebut dapat dikatakan mandiri, atau derajat fiskalnya tinggi.
Indikator ini digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian daerah terhadap
pemerintah pusat. Ukuran-ukuran yang digunakan adalah sebagai berikut:
(a)

PAD
TPD

Dimana: PAD = Pendapatan Asli Daerah


TPD = Total Penerimaan Daerah
(b)

BHPBP
TDP

Dimana: BHPP = Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Untuk Daerah
TDP = Total Penerimaan Daerah
(c)

SB
TPD

Dimana:

SB = Sumbangan Daerah
TPD = Total Penerimaan Daerah

TPD PAD BHPBP SB


Jika hasilnya tinggi, derajat desentralisasinya besar (mandiri).
6

RouhatyNurHikmah,AnalisisStrukturPenerimaanDaerahdanPosisiFiskal
KotamadyadanKabupatendiDIY19961997,Tesistidakdipublikasikan,1999.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Selain kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah, ukuran lain untuk
melihat derajat desentralisasi fiskal suatu daerah adalah proporsi Bagi Hasil Pajak
dan Bukan Pajak terhadap total Pendapatan dalam APBD suatu daerah. Semakin
besar nilai bagi hasil maka nilainya maka derajat desentralisasinya juga semakin
tinggi. Besar kecilnya bagi hasil pajak dan bukan pajak yang diterima oleh suatu
daerah menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dimilik oleh daerah tersebut
yang sudah dibudidayakan (ekploitasi).
Sisi lain dari kemandirian adalah ketergantungan. Untuk melihat ketergantungan
daerah terhadap dana perimbangan dari pusat adalah dengan melihat proporsi
dana perimbangan terhadap total pendapatan daerah. Dengan demikian kita akan
dapat melihat seberapa besar anggaran dan pendapatan suatu daerah dibiayai
dengan dana-dana dari pemerintah pusat yang salah satunya adalah DAU. DAU
merupakan block grand dari pemerintah pusat yang pengelolaannya menjadi
kewenangan daerah secara otonom. Proporsi DAU terhadap total pendapatan
daerah memperlihatkan tingkat ketergantungan suatu daerah terhadap
pemerintah pusat.
2. Kebutuhan Fiskal (Fiscal Need) dicari dengan menghitung Indeks
Pelayanan Publik per Kalpita (IPP).
Pemerintah daerah merupakan institusi yang berfungsi untuk menjalankan
pelayanan publik kepada warganya. Oleh karena itu besarnya kebutuhan fiskal
daerah tergantung dari banyaknya warga yang hendak dilayani secara standar.
Dengan demikian besarnya kebutuhan fiskal suatu daerah tergantung dari
besarnya jumlah penduduk yang membutuhkan pelayanan publik.
Untuk memperbandingkan besarnya kebutuhan fiskal suatu daerah tertimbang
dengan daerah-daerah lain dalam suatu kawasan maka terdapat standar
kebutuhan fiskal daerah. Dengan melihat jumlah penduduk dan kebutuhan fiskal
standar akan dapat dilihat seberapa besar tingkat kebutuhan fiskal untuk
pelayanan publik di suatu daerah. Dari sini kemudian kita akan dapat melihat
seberapa besar pengeluaran publik aktual di setiap daerah.

IPP

PPP
SKF

Dimana: PPP = Pengeluaran Aktual Per Kapita untuk Jasa-jasa Publik


SKF = Standar Kebutuhan Fiskal Daerah

PPP

Jumlah Pengeluaran Rutin dan Pembangunan Perkapita Masing - masing Daerah


SKF

Dimana:
PPP = Pengeluaran Aktual Per Kapita untuk Jasa-jasa Publik
SKF = Standar Kebutuhan Fiskal Daerah

SKF

Jumlah Pengeluaran Daerah / Jumlah Penduduk


KabupatenKota

Kalau tinggi hasilnya, maka kebutuhan fiskal daerah tersebut besar.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

3. Kapasitas Fiskal (Fiscal Capacity - Cj)


Kapasitas Fiskal menunjukkan seberapa besar potensi penerimaan daerah yang
bersumber dari daerah yang bersangkutan. Dengan kata lain dapat dipakai untuk
mengukur seberapa besar potensi penerimaan PAD suatu daerah dibandingkan
dengan daerah lainnya dalam suatu kawasan (Negara, Pulau, Propinsi). Semakin
tinggi nilai Kapasitas Fiskal suatu daerah berarti berarti potensi penerimaan PAD
nya semakin besar dan demikian juga sebaliknya.
Cj dicari dengan formula sebagai berikut:
Cj =

PDRB / Penduduk
KFs
KFs = Kapasitas Fiskal Standar

KFs =

PDRB / Penduduk
Kabupaten / Kota

Kalau hasilnya tinggi berarti kapasitasnya tinggi.


4. Upaya Fiskal (Tax Effort)
Upaya Fiskal (Tax Effort) dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
UPPADj =

PADj
Kapasitas atau Potensi PAD
atau

UPPADj =

PADj
PDRBj TanpaMigas

Selanjutnya dihitung Tingkat PAD Standar (TPADs) yaitu:


TPADs =

PAD / PDRB

Kabupaten dan Kota

Sedangkan Indeks Kinerja PAD:


IKPAD =

UUPAD
x100
TPADs

Semakin tinggi hasilnya, makin besar upaya pajaknya. Ini juga menunjukkan
posisi fiskal daerah. Dalam kenyataannya standar tingkat PAD suatu daerah, tidak
selalu mengakibatkan upaya mengumpulkan PAD menjadi semakin mudah.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Cara lain menentukan posisi fiskal daerah adalah dengan mencari koefisien
elastisitas PAD terhadap PDRB. Semakin elastis PAD statu daerah, maka struktur
PAD daerah tersebut semakin baik. Formula yang dipakai untuk menghitung
elastisitas PAD terhadap PDRB hdala sebagai berikut: Elastisitas PAD terhadap
PDRB e

TR Y

Y TR

e = elastisitas
Y = PDRB

= Perubahan
TR = Penerimaan Pajak
Atau dari
PAD = 1 X i B2 e U i
dengan X i = PDRB,
Diperoleh
ln PAD = ln 1 + 2 ln PDRB + U i ;
2 = elastisitas; e = 2.718
App.1.7 Statistika Deskriptif
Analisis statistika deskriptif yang akan dikembangkan dalam studi ini adalah
perhitungan beberapa ukuran statistik seperti rata-rata, varians atau standar deviasi,
nilai maksimum dan minimum, analisis tabel silang, gambar, tabel dan grafik dari
informasi yang diperoleh melalui survei lapangan, kajian data sekunder maupun data
lainnya, sehingga gambaran mengenai kondisi dan kinerja wilayah dan antar wilayah
secara umum dapat terekam dengan baik.
App.2 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif dilakukan untuk menganalisis aspek-aspek yang tidak
terukur (unmeasurable) atau tidak dapat dikuantifikasi dalam suatu sistem/kondisi.
Aspek/variabel tersebut dianalisis pengaruhnya terhadap perubahan yang terjadi
pada sistem/kondisi tersebut mapun sejauhmana perubahan pada aspek-aspek yang
tidak terukur tersebut akibat perubahan yang terjadi pada hal-hal yang terukur.
Analisis yang terkait dengan aspek sosial, budaya, dinamika masyarakat,
pemerintahan dan politik biasanya melibatkan variabel-variabel yang tidak dapat
diukur dengan angka atau tidak dapat dikuantifikasi. Namun perubahan-perubahan
pada aspek-aspek tersebut juga berpengaruh terhadap kondisi ekonomi, fisik,
sumberdaya alam dan variabel lain yang terukur.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

App.2.1 Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok Terarah)


Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk memperoleh gambaran
mengenai permasalahan, kondisi, kinerja dan isu-isu strategis di setiap wilayah yang
tidak dapat tergali dari analisis kualitatif yang dilakukan serta untuk memperoleh
masukan dan persepsi dari para stakeholders yang ada. FGD ini juga dilakukan untuk
mendapatkan masukan tentang arah pengembangan wilayah dan dukungan yang
diperlukan untuk pengembangan tersebut. Diskusi akan difokuskan pada aspek-aspek
non kuantitatif khususnya bidang sosial-budaya, pemerintahan dan kebijakan
pemerintah dan aspek politik. FGD juga akan difokuskan untuk mendapatkan
masukan lain (insight information) dan klarifikasi terhadap hasil analisis kuantitatif.
FGD melibatkan kelompok untuk menjawab pertanyaan secara bersama-sama.
Walaupun masih memungkinkan bagi setiap individu untuk memberikan jawabannya
sendiri, hal tersebut terjadi dalam konteks kelompok. Menurut Ward et al. (1991)
dalam Bailey (1994), FGD yang merupakan diskusi kelompok yang dipandu,
dirancang untuk memberikan informasi mengenai topik tertentu dari populasi
tertentu. Kelompok tersebut secara umum cukup homogen, walaupun rancangannya
dapat memerlukan subpopulasi yang berbeda dalam populasi (misalnya satu
kelompok laki-laki dan satu kelompok perempuan).
Dalam studi ini, FGD dilakukan dengan melibatkan beberapa pemangku
kepentingan (stakeholder). Sesuai dengan tujuan, FGD yang akan dilakukan akan
melibatkan stakeholder yang berasal dari pemerintah dan non pemerintah.
Stakeholder dari pemerintah yang akan dilibatkan dalam diskusi berasal dari Badan
Perencanan Pembanganan Daerah (Bappeda Provinsi), Asisten Bidang Pemerintahan
dan Asisten Bidang Pembangunan. Sementara dari luar pemerintahan, stakeholder
yang akan dilibatkan meliputi pakar dari perguruan tinggi, LSM dan lembaga
penelitian di daerah. Dari sisi keahlian, peserta FGD diharapkan juga mewakili
keahlian pada beberapa bidang yang menjadi fokus diskusi yaitu sosiologi-antropologi,
politik dan hukum, pemerintahan, ekonomi dan lingkungan.
Pelaksanaan FGD dipandu oleh seorang fasilitator yang terlatih dan
berpengalaman dalam memfasilitasi jalannya diskusi. Sesuai fungsinya, fasilitator
akan memandu lalulintas diskusi dengan mengantarkan bberapa pertanyaan dan
pernyataan pemandu (leading question) terkait isu di daerah maupun hasil analisis
kuantitatif. Fasilitator bertanggungjawab untuk menghidupkan jalannya diskusi dan
menjadikan semua peserta terlibat aktif memberikan pendapat. Diskusi akan
dilakukan dengan kombinasi alat bantu metaplan dan penapat spontan yang akan
didokumentasikan oleh note taker. Format diskusi bersifat spontan, dan seluruh
peserta didorong untuk mendiskusikan pendapat dan perasaannya dengan bebas
untuk topik-topik yang didiskusikan. Adapun kekuatan dan kelemahan dari FGD ini
adalah:
Kekuatan
Data dapat diperoleh dengan cepat

Biaya yang dikeluarkan relatif murah

Memberikan data kualitatif mengenai keyakinan, sikap dan perilaku

Memberikan cakupan yang lebih mendalam dan lebih rinci dibandingkan yang
biasa didapat dari survei

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Lebih memberikan fleksibilitas dan kesempatan untuk menggali informasi


dibandingkan dengan survei

Kelemahan
Tidak menghasilkan data kuantitatif, sehingga tidak dapat digunakan untuk
analisis statistik ataupun untuk meta-analisis

Hasilnya kemungkinan tidak dapat digeneralisasikan untuk populasi yang lebih


luas

Jumlah orang yang diwawancarai sedikit

Lebih banyak yang tidak merespon dibandingkan survei karena tidak seluruh
peserta FGD menjawab

Kurangnya privacy, sehingga peserta FGD yang tidak menjawab pertanyaan yang
sensitif akan cenderung menjawab secara normatif, atau akan bias oleh pendapat
peserta lain

Coding dan analisis data akan lebih sulit dibandingkan survei, karena data FGD
berisikan banyak pencatatan

Berdasarkan hasil dari analisis kualitatif ini kemudian diangkat menjadi isuisu strategis dan permasalahan daerah untuk kebutuhan perencanaan pembangunan
ke depan. Secara ringkas, output dan proses yang dilalui dalam analisis kualitatif pada
studi ini disajikan dalam matriks berikut ini:
Output
Aspek Sosial-Budaya-Agama
Kelembagaan lokal yang berpengaruh terhadap prilaku masyarakat dalam pembangunan
Pengaruh kelembagaan lokal terhadap prilaku masyarakat
Nilai-nilai yang mempengaruhi kehidupan masyarakat
Ikatan sosial dan norma dalam masyarakat dan kaitannya dengan pembangunan
Pengaruh nilai lokal terhadap prilaku masyarakat dan partisipasinya dalam pembangunan
Stratifikasi sosial dalam masyarakat
Suku dominan dan persaingan antar suku/kelompok masyarakat besar
Pengaruh stratifikasi sosial terhadap keputusan ekonomi individu/rumah tangga dalam
masyarakat
Peran organisasi keagamaan dalam pembangunan daerah dan pemberdayaan masyarakat
Kerjasama kelembagaan lokal/organisasi keagamaan dengan pihak luar/LSM/donor
Aspek Politik dan Keamanan
Pengalaman dan potensi konflik politik (resiko politik lokal)
Peran lembaga lokal dan luar dalam penguatan demokrasi dan masyarakat sipil
Aspek Pemerintahan
Bentuk-bentuk inisiatif yang muncul dalam good goverment
Inisiatif pemerintah provinsi dalam menyebarluaskan best practice dan inovasi good
goverment.
Variasi kemajuan daerah dalam menjalankan otonomi dan faktor penyebabnya.

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

App.2.2 Wawancara Mendalam


Wawancara mendalam dilakukan untuk menggaliu informasi lebih rinci dan
tidak dapat tergali dari data-data sekunder yang ada. Wawancara mendalam juga
dimaksudkan untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut terhadap fenomena yang
terdapat dalam data sekunder maupun informasi untuk aspek-aspek kualitatif yang
tidak dapat tersajikan secara kuantitatif melalui data. Dalam studi ini, wawancara
mendalam akan difokuskan lebih dulu unuk pennggalian aspek-aspek kualitatif
tertutama untuk isu-isu sosial, budaya, kemasyarakatan, pemerintahan dan politik
lokal.
Wawancara mendalam akan dilakukan terhadap beberapa narasumber
informasi yang berasal dari kalangan pemerintah dan non pemerintah. Narasumber
dari kalangan pemerintah berasal dari institusi perencanaan daerah dan instansi
teknis yang relevan. Sementara narasumber dari luar pemerintah terutama berasal
dari pakar yang berasal dari perguruan tinggi, lembaga penelitian maupun lembaga
swadaya masyarakat.
Wawancara mendalam akan dilakukan dengan menggunakan bantuan
intrumen dalam bentuk panduan pertanyaan mendalam (guideline questionaire)
yang akan menjai acuan dalam menggali informasi melalui wawancara. Berbeda
dengan instrumen kuesioner yang biasa digunakan dalam survei, guideline questioner
hanya memuat beberapa point pertanyaan penting dan arah penggalian informasi
yang akan dieksplorasi melalui wawancara. Peneliti yang melakukan wawancara dapat
mengembangkan poin pertanyaan tersebut, melakukan pendalaman dan eksplorasi
lebih dalam atas informasi yang digali. Oleh karena itu dalam wawancara mendalam
sangat disarankan dilakukan langsung oleh peneliti yang melakukan riset (tidak
menggunakann surveyor/enumerator) sehingga lebih mengetahui informasi yang
akan digali disesuaikan dengan tujuan penelitian yang dilakukan.
Berdasarkan hasil dari analisis kualitatif ini kemudian diangkat menjadi isuisu strategis dan permasalahan daerah untuk kebutuhan perencanaan pembangunan
ke depan. Secara ringkas, output dan proses yang dilalui dalam analisis kualitatif pada
studi ini disajikan dalam matriks berikut ini:
Output
Aspek Sosial-Budaya-Agama
Pola-pola keterlibatan masyarakat dalam pembangunan
Struktur kelembagaan lokal dalam masyarakat
Jangkauan pengaruh kelembagaan lokal dalam prilaku masyarakat
Interaksi kelembagaan lokal dengan modal dari luar
Perubahan/pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat dan pengaruhnya terhadap
partisipasi dalam pembangunan.
Perbedaan kemajuan masyarakat antar kelompok/ suku dan sumber
penyebabnya
Kondisi kehidupan antar umat beragama
Perbedaan kemajuan antar kelompok agama
Aktivitas organisasi keagamaan dan jangkauan pengaruhnya
Aspek Politik dan Keamanan
Tingkat dan bentuk kesadaran politik masyarakat
Sikap terhadap kebijakan pemerintah dan advokasi yang dilakukan
Aktivitas partasi politik di tingkat lokal
Penegakan hukum atas konflik lokal dan keamanan masyarakat

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

Aspek Pemerintahan
Best practice dalam pelayanan publik dan dampaknya terhadap pembangunan
daerah.
Best practice dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dan dampaknya
terhadap pembangunan daerah
Best practice dalam pengelolaan anggaran dan partisipasi masyarakat dan
dampaknya terhadap pembangunan daerah

App.2.3 Analisis Dokumen Kebijakan (Policy Review)


Policy review dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis arah kebijakan
dan program pembangunan yang dibuat oleh pemerintah yang dimuat dalam
dokumen perencanaan dan kebijakan pembangunan. Policy review juga bertujuan
untuk mengetahui tingkat pencapaian dari perencanaan dan program-program
pembangunan yang dibuat oleh pemerintah. Melalui policy review dapat diketahui
arah dan prioritas pembangunan yang dibuat oleh pemerintah termasuk alokasi
anggaran untuk masing-masing program. Review dilakukan terhadap dokumendokumen perencanaan dan kebijakan seperti Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Umum Tata Ruang Daerah (RUTRD), Rencana
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan laporan-laporan pelaksanaan rencana
pembangunan maupun pertanggungjawaban Kepala Daerah.
Adapun hasil policy review kemudian dibandingkan dengan hasil analisis data
sekunder dan hasil FGD terutama terkait dengan kondisi aktual dan masalah yang
dihadapi dalam pembangunan. Proses ini sering diistilahkan dengan analisis
kesenjangan kebijakan/program (gap analysis) untuk mengetahui kebutuhan
pembangunan yang belum terselesaikan.
Berdasarkan hasil dari analisis kualitatif ini kemudian diangkat menjadi isuisu strategis dan permasalahan daerah untuk kebutuhan perencanaan pembangunan
ke depan. Secara ringkas, output dan proses yang dilalui dalam analisis kualitatif pada
studi ini disajikan dalam matriks berikut ini:
Output
Arah kebijakan ekonomi daerah dan pengembangan sektoral
Arah kebijakan pembangunan sosial dan kesejahteraan rakyat, lingkungan,
infrastruktur, politik dan hukum
Kondisi pencapaian program-program pembangunan daerah dan kendala yang
dihadapi.
Analisis SWOT kebijakan pembangunan daerah
Analisis gap kebijakan dan program pembangunan daerah

Background Study Penyusunan Rancangan RPJMN 2010-2014 Pulau Sumatera

BACKGROUND STUDY

PENYUSUNAN RANCANGAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN)
TAHUN 2010 2014
PULAU SUMATERA
TIM PENYUSUN
Tim Penyusun Rekomendasi Kebijakan (TPRK)
Ir. Arifin Rudiyanto M.Sc, Ph.D; Ir. Bambang Prihartono, MSCE; Ir. Budi Hidayat, M.Eng Sc;
Dr. Ir. Yahya Rahmana Hidayat, M.Sc; Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH; Dr. Taufik Hanafi, MUP;
Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA. Ph.D; Uke Muhammad Hussein S.Si, MPP;
Septaliana Dewi Prananingtyas, SE

Focus Group Discussion:


Drs. Petrus Sumarsono, MA; Erwin Dimas, SE, DEA; Ir. Roni Dwi Susanto, M.Si;
Ir. Medrilzam, M.Prof. Econ; Ir. Josaphat Rizal Primana, M.Sc; R. Wijaya Kusumawardhana, ST, MMIB
Amalia A. Widyasanti, ST., M.Si., M.Eng., Ph.D

Pendukung:
Anna Astuti; Eni Arni

Tenaga Ahli:
Dr. Jhoni Hartono; Ubaidillah, SP, MSE; Yayan Supriyani; Harso Yuli Antena, SP;
Ida Chodijah, SP; Ig. Sigit Murwito, MSE; Moch. Rum Ali, SE; Boedi Rheza, SE

Tim Editor:
Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D; Awan Setiawan, SE, ME, MM; Anang Budi Gunawan, SE;
Yudianto, ST, MT, MPP; Fidelia Silvana, SP. M.Int.Econ & F; Ika Retna Wulandary, ST;
Ir. Wawan Heryawan; Nana Mulyana, SP; Tri Supriyana, ST; Setya Rusdianto, S.Si;
Selenia Ediyani P., ST; Donny Yanuar

Komentar, saran dan kritik dapat disampaikan ke :


Direktorat Pengembangan Wilayah
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jl. Taman Suropati No. 2 Jakarta Pusat 10310
Telp/Fax. (021) 3193 4195