Anda di halaman 1dari 67

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL G4P3A0H3

USIA KEHAMILAN 33-34 MINGGU


DENGAN ANEMIA RINGAN
DI POLI KEBIDANAN
RSUP DR. M. DJAMIL
PADANG
Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas
Pengalaman Belajar Praktek dan Praktek Klinik Kebidanan

DISUSUN OLEH :

RAFIKA OKTOVA
1121228007

DOSEN PEMBIMBING :

Dr. Hj. Ermawati, Sp.OG (K)

PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KEBIDANAN


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2013
1

LEMBAR PERSETUJUAN

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil


G4P3A0H3 Usia Kehamilan 33-34 Minggu
Dengan Anemia Ringan
Di Poli Kebidanan Rsup Dr. M. Djamil
Padang

Disetujui Tanggal :

Juli 2013

Menyetujui
Pembimbing Praktek

Dr. Hj. Ermawati, Sp.OG (K)

Mengetahui
Ketua Program Studi S2 Kebidanan

Dr.Hj. Yusrawati, SpOG (K)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayah-Nya.sehingga penulis
dapat menyusun Laporan Kasus di Poli Kebidanan RSUP Dr. M.Djamil Padang.
Dalam menyusun laporan ini penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran
dari pembimbing praktek maupun akademik. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1.

Dr. Hj. Yusrawati, SpOG (K), selaku ketua Program Studi S2 Kebidanan Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas Padang

2.

Dr. Hj. Ermawati, SpOG (K), selaku pembimbing Praktek

3.

Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini
Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, maka
kami mengaharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca
umumnya.

Padang, 3 Juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Hal
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................................................2
KATA PENGANTAR..........................................................................................................................3
DAFTAR ISI........................................................................................................................................4
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................................6
1.1.

Latar Belakang.............................................................................................. 6

BAB II TINJAUAN TEORITIS.........................................................................................................8


2.1. Definisi Kehamilan............................................................................................. 8
2.2. Tanda dan Gejala Kehamilan................................................................................. 8
2.3. Perubahan dan Adaptasi Fisiologi pada Masa Kehamilan............................................10
2.3.1. Perubahan Sistem Reproduksi pada Kehamilan Trimester I....................................11
2.3.2. Perubahan Sistem Reproduksi pada Kehamilan Trimester II...................................13
2.3.3. Perubahan Sistem Reproduksi pada Kehamilan Trimester III..................................15
2.3.4. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada Sistem
Perkemihan....................................................................................................... 17
2.3.5. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada Sistem
Pencernaan........................................................................................................ 20
2.3.6. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada Sistem
Muskuloskeletal................................................................................................. 22
2.3.7. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada Sistem
Kardiovaskuler................................................................................................... 23
2.3.8. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada Sistem
Kardiovaskuler................................................................................................... 24
2.4.

Anemia pada Ibu Hamil................................................................................. 31

2.4.1. Defenisi.................................................................................................... 31
2.4.2. Penyebab Anemia pada Ibu Hamil...................................................................32
2.4.3. Gejala Anemia Pada Ibu Hamil.......................................................................35
2.4.4. Derajat Anemia Pada Ibu Hamil Dan Penentuan Kadar Hemoglobin.........................35
2.4.5. Transfer Zat Besi Ke Janin............................................................................ 36
2.4.6. Pengaruh Anemia Terhadap Kehamilan.............................................................36
2.4.7. Klasifikasi Anemia...................................................................................... 38
2.4.8.

Mekanisme terjadinya Anemia pada Ibu Hamil...............................................41

BAB III LAPORAN KASUS............................................................................................................42


A.

Pengkajian Data.............................................................................................. 42
4

B.

Interpretasi Data.............................................................................................. 51

C.

Identifikasi dan Antisipasi Diagnosa Potensial.........................................................53

D.

Tindakan Segera.............................................................................................. 53

E.

Perencanaan................................................................................................... 53

F.

Evaluasi........................................................................................................ 55

BAB IV KAJIAN ASUHAN..............................................................................................................57


BAB V PENUTUP.............................................................................................................................61
5.1. Kesimpulan.................................................................................................... 67
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................................68

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan terkait dengan insidennya yang

tinggi dan komplikasi yang dapat timbul baik pada ibu maupun pada janin. Di dunia 34% ibu
hamil dengan anemia dimana 75% berada di negara sedang berkembang. Di Indonesia,
63,5% ibu hamil dengan anemia (Saifudin, 2009). Ibu hamil dengan anemia sebagian besar
sekitar 62,3 % berupa anemia defisiensi besi (Prawirohardjo, 2010).
Ibu hamil aterm cenderung menderita anemia defisiensi besi karena pada masa
tersebut janin menimbun cadangan besi untuk dirinya dalam rangka persediaan segera setelah
lahir (Sin sin, 2008). Pada ibu hamil dengan anemia terjadi gangguan penyaluran oksigen dan
zat makanan dari ibu ke plasenta dan janin, yang mempengaruhi fungsi plasenta. Fungsi
plasenta yang menurun dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang janin. Anemia pada
ibu hamil dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang janin, abortus, partus lama,
sepsis puerperalis, kematian ibu dan janin meningkatkan risiko berat badan lahir rendah,
asfiksia neonatorum, prematuritas (Cunningham, 2006).
Pertumbuhan janin dipengaruhi oleh ibu, janin, dan plasenta. Plasenta berfungsi untuk
nutritif, oksigenasi, ekskresi. Kapasitas pertumbuhan berat janin dipengaruhi oleh
pertumbuhan plasenta, dan terdapat korelasi kuat antara berat plasenta dengan berat badan
lahir. Selain dampak tumbuh kembang janin, anemia pada ibu hamil juga mengakibatkan
terjadinya gangguan plasenta seperti hipertropi, kalsifikasi, dan infark, sehingga terjadi
gangguan fungsinya. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin dimana berat
plasenta pada ibu hamil dengan anemia adalah lebih tinggi tanpa tergantung dengan jenis

anemianya. Selain itu, anemia pada ibu hamil terdapat hipertrofi plasenta dan villi yang
mempengaruhi berat plasenta.
Berat plasenta mencerminkan fungsi dan perkembangan plasenta itu sendiri dan besar
plasenta juga dapat memprediksi kemungkinan terjadinya hipertensi dikemudian hari. Ibu
hamil dengan anemia sebagai faktor risiko terjadinya pertumbuhan plasenta yang tidak
proporsional. Sebaliknya, berat plasenta yang kecil dapat mengindikasikan adanya
kekurangan asupan gizi ke plasenta sehingga terjadi hipoksia plasenta yang pada akhirnya
mengganggu fungsinya.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil
seperti perbaikan asupan gizi, program pemberian besi, dan pemberian preparat besi jauh
sebelum merencanakan kehamilan. Akan tetapi upaya-upaya tersebut belum memuaskan. Hal
ini berarti bahwa selama beberapa warsa ke depan masih tetap akan berhadapan dengan
anemia pada ibu hamil.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1. Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah dimulainya konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu ) dihitung dari hari pertama sampai terakhir. Oleh karena dalam
tubuh ada sesuatu yaitu individu yang tumbuh dan berkembang untuk menyesuaikan
diri,dengan adanya individu itu tubuh mengadakan perubahan,memberi tempat, kesempatan
dan jaminan untuk tumbuh dan berkembang sampai saatnya dilahirkan (Saifuddin, 2009).
Kehamilan adalah masa yang dimulai dari ovulasi sampai partus. Lamanya kira-kira
280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini
disebut dengan kehamilan mature (cukup bulan), bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut
postmature dan kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan premature
(Prawirohardjo, 2010).

2.2. Tanda dan Gejala Kehamilan


1. Tanda-tanda tidak pasti
a. Tidak Datang Bulan (Amenorrhoe)
Semua wanita hamil akan mengalami amenorrhoe, tetapi amenorrhoe ini terjadi
pula pada keadaan yang lain, misalnya : pergantian lingkungan, gangguan emosi,
penyakit

khronis,

seperti

tuberculosa,

anemia,

gangguan

pekerjaan

ovarium/endocrine secretie, juga dipengaruhi perubahan iklim. Terkadang pada


kehamilan terjadi pengeluaran darah sedikit yang disangka menstruasi. Perdarahan
ini disebabkan karena implantasi dari ovum ke dalam decidua.

b. Perubahan payudara
Setiap wanita hamil akan mengalami perubahan payudara. Tetapi bisa juga
perubahan buah dada disebabkan oleh tumor/cyste
c. Perasaan mual di waktu pagi (morning sickness)
Sebagian wanita hamil kira-kira 50 % atau lebih, menderita perasaan mual di
waktu pagi terutama pada kehamilan pertama kali. Namun keadaan seperti ini bisa
terjadi pada penyakit lain, seperti hepatitis, malaria ulcus ventricule.
d. Sering buang air kemih
Umumnya pada bulan ke dua kehamilan, wanita itu akan sering buang air kemih,
berhubung uterus yang membesar dan akan keuar dari PAP yang menekan
kandung kemih. Keadaan ini tidak menjadi tanda pasti sebab dapat juga
dikarenakan ada gangguan pada kandung kemih yang menyebabkan volume
menjadi lebih kecil dan menimbulkan rangsangan untuk buang air kemih,
misalnya tumor dan penyakit lain.
e. Pergerakan janin yang pertama (Quickening)
Pada kehamilan terjadi antara kehamilan 16-20 minggu. Ini belum menjadi tanda
pasti karena perasaan ini adalah subyektif yang dirasakan ibu sendiri. Wanita yang
sangat menginginkan hamil akan merasakan adanya quickening, walaupun
sebenarnya tidak ada. Dapat pula disebabkan karena gas di dalam pencernaan
f. Membesarnya Perut
Pada kehamilan, perut makin lama makin besar teruitama setelah kehamilan 5
bulan, tetapi membesarnya perut bisa juga disebabkan oleh ascites, ovarial cyste,
tumor.

2. Tanda-tanda kemungkinan
a. Tanda Hegar : Segmen bawah rahim melunak
b. Tanda chadwick : Perubahan warna vulva/vagina menjadi kebiruan
c. Tanda Piscasek : Adanya benjolan asimetris pada uterus. Uterus membesar ke
salah satu jurusan hingga menonjol jelas ke jurusan pembesaran tersebut.
d. Tanda Braxton Hicks : Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda ini khas
untuk uterus dalam masa hamil. Pada keadaan uterus yang membesar tetapi tidak
ada kehamilan,misalnya pada mioma uteri, tanda braxton hicks tidak ditemukan.
e. Suhu basal : jika sesudah ovulasi tetap tinggi terus antar 32,5 sampai 37,8 adalah
salah satu tanda akan bahaya kehamilan. Serimg dipakai dalam pemeriksaan
kemandulan
f. Periksa HCG (Human chorionic gonadotropin)
Dengan tes kehamilan tertentu air kencing pagi hari ini dapat membantu membuat
diagnosis kehamilan sedini-dininya.
3. Tanda-tanda pasti
a. Dapat diraba dan kemudian dikenal bagian-bagian janin
b. Dapat dicatat dan didengar bunyi DJJ (denyut jantung janin)
c. Dapat dirasakan gerakan janin
d. Pada pemeriksaan dengan sinar rontgen tampak kerangka janin
e. Dengan USG dapat diketahui pertumbuhan janin

2.3. Perubahan dan Adaptasi Fisiologi pada Masa Kehamilan


Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh genitalia wanita mengalami perubahan
yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam
10

rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormon somatomatropin, estrogen,


dan progesteron yang menyebabkan perubahan pada :
2.3.1. Perubahan Sistem Reproduksi pada Kehamilan Trimester I
1.

Uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi
hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Uterus mempunyai
kemampuan yang luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat selama kehamilan
dan pulih kembali seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah persalinan.
Pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70 gram dan kapasitas 10 ml
atau kurang. Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang
mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir kehamilan
volume totalnya mencapai 5 liter bahkan dapat mencapai 20 liter atau lebih dengan
berat rata-rata 1100 gram (Prawirohardjo, 2012).
Pada minggu-minggu pertama kehamilan uterus masih seperti bentuk aslinya
seperti alvokad. Perubahan bentuk dan ukuran uterus. Pada usia kehamilan 12 minggu
uterus berukuran kira-kira seperti buah jeruk besar. Uterus tidak lagi tranteversi dan
antefleksi serta menonjol ke luar dari pelvis dan menjadi tegak lurus. Fundus dapat di
palpasi dari abdomen di atas simfasis pubis. Uterus biasanya condong dan berotasi ke
kanan sehingga tepi kiri uterus berada pada posisi anterior, kemungkinan disebabkan
oleh adanya kolon rektosigmoid pada disi kiri pelvis.
Ukuran fundus uteri pada trimester ini :
1. Pada usia kehamilan 1 bulan sebesar telur ayam
2. Pada usia kehamilan 2 bulan sebesar telur angsa
3. Pada usia kehamilan 3 setinggi simpysis pubis

2. Serviks
Serviks manusia merupakan organ yang komplek dan heterogen yang
mengalami perubahan yang luar biasa selama kehamilan dan persalinan. Satu bulan
11

setelah konsepsi serviks akan menjadi lebih lunak dan kebiruan. Serviks bersikap
seperti katub yang bertanggung jawab menjaga janin di dalam uterus sampai akhir
kehamilan dan selama persalinan.
Selama kehamilan, serviks tetap tertutup rapat, melindungi janin dari
kontaminasi eksternal, dan menahan isi uterus. Panjangnya tetap 2,5 cm selama
kehamilan tapi menjadi lebih lunak dan membengkak di bawah pengaruh estradiol
dan progresteron. Peningkatan vaskularitas membuatnya berwarna kebiruan.
3. Vagina (liang senggama)
Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hyperemia terlihat jelas pada
kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan terlihat bewarna
keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwicks. Perubahan ini meliputi penipisan
mukosa dan hilangnya sejumlah jaringan ikat dan hipertrofi dari sel-sel otot polos.
Selama kehamilan, lapisan otot mengalami hipertrofi, dan estrogen
menyebabkan epithelium vagina menjadi lebih tebal dan vascular. Warna ungu pada
vagina kemungkinan disebabkan oleh hyperemia. Perubahan komposisi jaringan ikat
yang mengelilingya meningkatkan elastisitas vagina dan membuatya lebih mudah
mengalami dilatasi ketika bayi lahir. Pada trimester pertama ini terjadi peningkatan
pengeluaran cairan dari vagina yang bening, putih dan tidak berbau dan mulai
merembes keluar.
4. Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru juga
ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di ovarium. Folikel ini akan
berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan
sebagai penghasil progesteron dalam jumlah yang relatif minimal.
5. Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan
memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan
dari

pengaru

hormon

saat

kehamilan,

yaitu

estrogen,

progesteron,

dan

somatromatropin. Selama kehamilan, payudara bertambah besar, tegang, dan berat.

12

Dapat teraba noduli-noduli, akibat hipertrofi kelenjar alveoli, bayangan-bayangan


vena lebih membiru. Hiperpigmentasi pada puting susu dan areola payudara.
Perubahan kronologi payudara : pada kehamilan 3 4 minggu, sensasi gatal
dan kesemutan karena peningkatan suplai darah terutama di sekitar putting susu. Dan
pada kehamilan 6 8 minggu, peningkatan ukuran, nyeri ketegangan dan nodular
akibat hipertrofi alveoli, permukaan halus dan kebiruan, vena tampak terlihat tepat di
bawah kulit.
2.3.2. Perubahan Sistem Reproduksi pada Kehamilan Trimester II
1. Uterus
Pada trimester ini uterus akan terlalu besar dalam rongga pelvis dan seiring
perkembangannya, uterus akan menyentuh dinding abdominal dan hampir menyentuh
hati, mendorong usus ke samping dan ke atas. Pada trimester kedua ini kontraksi
dapat dideteksi dengan pemeriksaan bimanual. Perubahan bentuk dan ukuran uterus
a. Usia kehamilan 16 minggu
Janin sudah cukup besar untuk menekan ishmus, menyebabkannya tidak
berlipat sehingga bentuk uterus menjadi bulat. Ishmus dan serviks berkembang
menjadi segmen bawah uterus yang lebih tipis dan terdiri atas otot dan
pembuluh darah yang lebih sedikit dari korpus.
b. Usia kehamilan 20 minggu
Fundus uterus dapat dipalpasi sejajar dengan umbilicus. Sejak usia kehamilan
ini hingga cukup bulan, bentuk uterus menjadi lebih silindris dan fundusnya
bentuk kubah yang lebih tebal dan lebih bulat. Karena uterus semakin
membesar dalam abdomen tuba uterine secara progresif menjadi lebih
ventrikel yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan pada ligament
lebar dan ligamentum gilig.
2. Serviks
Pada awak trimester ini, berkas kolagen kurang kuat terbungkus. Hal ini
terjadi akibat penurunan konsentrasi kolagen secara keseluruhan. Dengan sel-sel otot
polos dan jaringan elastis, serabut kolagen bersatu dengan arah pararel terhadap
13

sesamanya sehingga serviks menjadi lebih lunak tetapi tetap mampu mempertahankan
kehamilan.
3. Vagina
Pada kehamilan trimester kedua ini terjadinya peningkatan cairan vagina
selama kehamilan adalah normal. Cairan biasanya jernih, pada saat ini biasanya agak
kental dan mendekati persalinan agak cair. Yang terpenting adalah tetap menjaga
kebersihan. Hubungi dokter atau tenaga kesehatan lain, jika cairan berbau, terasa
gatal, dan sakit.
4. Payudara
Pada trimester kedua ini, payudara akan semakin membesar dan mengeluarkan
cairan yang kekuningan yang disebut dengan colostrum. Keluarnya cairan dari
payudara itu yaitu colostrums adalah makanan bayi pertama yang kaya akan protein,
colostrum ini akan keluar bila puting dipencet. Areola payudara makin hitam karena
hiperpigmentasi. Glandula Montgomery makin tampak menonjol di permukaan areola
mammae.
2.3.3. Perubahan Sistem Reproduksi pada Kehamilan Trimester III
1. Uterus
Pada akhir kehamilan biasanya kontraksi sangat jarang dan meningkat pada
satu dan dua minggu sebelum persalinan. Peningkatan kontraksi miometrium ini
menyebabkan otot fundus tertarik ke atas. Segmen atas uterus yang berkontraksi
secara aktif menjadi lebih tebal dan memendek serta memberikan tarikan yang lambat
dan stabil terhadap serviks yang relatif terfiksasi yang menyebabkan dimulainya
peregangan dan pematangan serviks yang disebut dengan pembukaan serviks.
Pada usia kehamilan 38 minggu, uterus sejajar dengan sifisternum. Tuba uterin
tampak agak terdorong ke dalam di atas bagian tengah uterus. Frekuensi dan kekuatan
kontraksi otot segmen atas semakin meningkat. Oleh karena itu, segmen bawah uterus
berkembang lebih cepat dan meregang secara radial, yang jika terjadi bersamaan
dengan pembukaan serviks dan pelunakan jaringan dasar pelvis akan menyebabkan
14

presentasi janin memulai penurunannya ke dalam pelvis bagian atas. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya tinggi fundus yang disebut dengan lightening, yang
mengurangi tekanan di dalam pelvis, yang dapat menyebabkan konstipasi, berkemih
dan terkadang meningkatkan rabas vagina
2. Serviks
Akibat bertambah aktivitas uterus selama kehamilan, serviks mengalami
pematangan secara bertahap, dan kanal mengalami dilatasi. Secara teoritis,
pembukaan serviks biasanya terjadi pada primigravida selama 2 minggu terakhir
kehamilan, tapi biasanya tidak terjadi pada multigravida hingga persalinan dimulai.
Namun demikian, secara klinis terdapat berbagai variasi tentang kondisi serviks pada
persalinan.
Pembukaan serviks merupakan mekanisme yang terjadi saat jaringan ikat
serviks yang keras dan panjang secara progresif melunak dan memendek dari atas ke
bawah. Serat otot yang melunak sejajar os serviks internal tertarik ke atas, masuk ke
segmen bawah uterus, dan berada di sekitar bagian presentasi janin dan air ketuban.
Kanal yang tadi berukuran kira-kira 2,5 cm menjadi orifisium dengan bagian tepinya
setipis kertas.
3. Vagina
Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan persiapan
untuk mengalami peregangan pada waktu persalinan dengan meningkatkan ketebalan
mukosa, mengendornya jaringan ikat, dan hipertrofi otot polos. Perubahan ini
mengakibatkan bertambah panjangya dinding vagina. Papilla mukosa juga mengalami
hipertrofi dengan gambaran seperti paku sepatu.
Peningkatan volume sekresi vagina juga terjadi, dimana sekresi akan berwarna
keputihan menebal, dan pH antara 3,5 6 yang merupakan hasil dari peningkatan
produksi asam laktat glokogen yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari
lactobacillus acidopillus.
4. Payudara

15

Di akhir kehamilan kolostrum dapat keluar dari payudara, progesterone


menyebabkan putting lebih menonjol dan dapat digerakkan. Meskipun dapat
dikeluarkan, air susu belum dapat diproduksi karena hormon prolaktin di tekan oleh
prolactin inhibiting hormone. Setelah persalinan kadar progesteron dan esterogen
akan menurun sehingga pengaruh inhibis progresteron terhadap laktalbumin akan
hilang. Peningkatan prolaktin akan merangsang sintesis laktose dan akhirnya akan
meningkatkan produksi air susu. Pada bulan yang sama areola akan lebih besar dan
kehitaman.
2.3.4. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada
Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan adalah sistem yang

berkaitan dengan fungsi eliminasi dan

produksi urine dalam tubuh.Sistem ini juga dianggap penting yang berhubungan dengan
kontrol keseimbangan air dan elektrolit serta tekanan darah. Uterus pada wanita tidak hamil
berada tepat di belakang dan sebagian di atas kandung kemih. Saat Hamil, uterus membesar
mempengaruhi semua bagian saluran kemih pada waktu yang berbeda dan hormon kehamilan
memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan efek mekanis.
Yang termasuk organ sistem perkemihan adalah :
a.
b.
c.
d.

Ginjal
Ureter
Vesika Urinaria
Urethra

Dari keempat organ perkemihan tersebut mengalami perubahan perubahan selama


kehamilan.
1. Ginjal (Ren) dan Perubahannya.
Bentuk seperti kacang panjang,terletak di belakang dari bagian abdomen. Ginjal kiri
terletak setinggi Vertebra lumbal I IV dan Ren kiri terletak setengah badan vertebra
lebih rendah daripada yang kiri karena disebelah kanan ada hepar. Mempunyai 2
16

ekstremitas superior( ada glandula supraren/kelenjar anak ginjal). Dan ekstremitas


inferior. Mempunyai 2 margo lateral dan margo medial(ada hilus renalis) merupakan
tempat keluar masuknya vasa ,saraf ,limfe dan ureter. Pada kehamilan Ginjal
berfungsi untuk mengelola zat-zat sisa dan kelebihan yang dihasilkan akibat
peningkatan volume darah dan curah jantung juga produk metabolisme tetapi juga
menjadi organ utama yang mensekresi produk sisa dari janin. Pada kehamilan
trimester I ginjal mengalami peningkatan pada panjangnya dan merupakan akibat
terbesar dari peningkatan aliran darah ginjal dan volume vaskuler. Dilatasi kaliks dan
pelviks ginjal dan semakin nyata pada Trimester II kehamilan yang bisa
meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Pada Trimester III Biasanya terjadi
hidronefrosis terjadi pada 80 -90% wanita.mungkin disebabkan oleh respons ginjal
oleh progesteron dan peningkatan. Tekanan intraureter superior terhadap tepi pelviks.
Hidronefrosis lebih sering terjadi pada ginjal kanan, dan kemungkinan besar
disebabkan oleh peningkatan distensi urethra kanan.
2. Ureter
Merupakan saluran yang menghubungkan dari ginjal menuju ke vesika Urinaria.
Ureter memanjang dan membentuk kurva tunggal atau ganda yang tampak seperti
sebuah belitan pada pemeriksaan sinar-X. Pada Trimester I Begitu uterus menjadi
organ abdomen, penambahan massanya menekan ureter pada tepian pelviks.
Kompresi ini menyebabkan peningkatan tonus intraureter yang terletak di atas pelvis.
Hal ini yang menyebabkan produksi urin yang meningkat. Juga meningkatkan
diameter lumen ureter, dan hipertonisitas serta hipomotilitas. Karena perubahan ini,
pada Trimester II volume ureter mungkin meningkat 25 kali dibandingkan dengan
keadaan tidak hamil,equivalen dengan peningkatan 300 ml Urine. Dalam kehamilan
ureter kanan dan kiri mengalami pembesaran karena pengaruh progesteron. Akan
tetapi, ureter kanan lebih lebih membesar karena lebih banyak mendapat tekanan

17

dibandingkan dengan ureter kiri. Hal ini disebabkan karena uterus lebih sering
memutar ke arah kanan atau karena orang banyak beraktifitas dengan bagian kanan
tubuh. Pada Trimester III Akibat tekanan pada ureter kanan tersebut, lebih sering
terjadi Hidroureter. Hidroureter terjadi saat uterus mulai keluar dari panggul dan
masuk kedalam abdomen dan menekan ureter saat melewati tepi panggul. Hidroureter
lebih menonjol pada bagian kanan daripada bagian kiri akibat Dekstrorotasiuterus saat
keluar dari panggul.
3. Vesika Urinaria
Merupakan suatu kantong muskulomembran yang berfungsi untuk menampung urine.
Pada kehamilan trimester I tonus kandung kemih menurun sebagai respons otot polos
terhadap efek progesteron. Kapasitas kandung kemih meningkat hingga 1 liter yang
menyebabkan ibu hamil lebih sering kencing. Karena pembesaran uterus selama
trimester II kehamilan, kandung kemih terdorong ke arah anterior dan superior.
Perpindahan ini mengubah letak intravesikuler ureter, yang kemudian menyebabkan
regurgitasi urin ke ureter pada saat berkemih. Pada trimester III permukaan mukosa
menjadi hiperemia dan edema sehingga terjadi peningkatan resiko trauma pada
persalinan. Selanjutnya,jika pada kandung kemih penuh maka akan disalurkan ke
urethra.
4. Urethra
Merupakan saluran terakhir dari saluran kemih.Memiliki panjang 4 cm pada wanita
dan terdiri dari saluran sempit yang berada di dalam lapisan luar dinding vagina
anterior. Urethra bermula dari leher vesika urinaria dan terbuka kedalam vestibulum
vulva sebagai meatus urethra. Selama kehamilan trimester I, urethra sedikit
memanjang dan pada trimester II, uretrhra akan lebih memanjang terutama pada
trimester III, urethra akan lebih memanjang karena Vesika Urinaria tertarik ke atas ke
arah abdomen dan dapat bertambah panjang beberapa centimeter. Pola normal
berkemih pada wanita tidak hamil,pada siang hari, berkebalikan dengan pola pada

18

wanita hamil. Wanita yang hamil mengumpulkan cairan (air dan natrium) selama
siang hari dalam bentuk edema dependen akibat tekanan uterus pada pembuluh darah
panggul dan vena kava inferior.dan kemudian mensekresikan cairan tersebut pada
malam hari melalui kedua ginjal ketika wanita berbaring.
2.3.5. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada
Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan adalah Wanita hamil sering mengeluhkan perubahan nafsu
makan,jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, dan toleransinya terhadap makanan
tertentu. Walaupun beberapa perubahan mungkin dipengaruhi oleh faktor sosial budaya,
faktor anatomi dan pengaruh hormon pada saluran pencernaan mengubah fungsi fungsi
yang biasa dijalankan oleh sistem pencernaan. Diantaranya adalah :
1) Mulut
Banyak wanita yang mengalami perubahan dalam pengecapan segera setelah
konsepsi. Keadaan ini mungkin disebabkan pengaruh hormon saliva, dan juga pada
indra penciuman. Saliva menjadi lebih asam selama Kehamilan. Walaupun studi
terdahulu mengatakan adanya peningkatan produksi saliva, Studi lain berpendapat
bahwa keadaan ini hanya suatu persepsi yang disebabkan oleh penurunan kemampuan
menelan selama periode mual muntah. Beberapa wanita tercatat mengalami ptialisme
(hipersaliva) yang terjadi pada siang hari dan berakhir pada saat persalinan. Di bawah
pengaruh estrogen, gusi menjadi lebih berpembuluh, terjadi hiperplasia dan edema.
Penurunan ketebalan Permukaan epitel gusi berkontribusi terhadap peningkatan
frekuensi penyakit gusi selama kehamilan.Pendarahan mungkin terjadi pada saat
menggosok gigi atau mengunyah dan permukaan yang rapuh menyebabkan mudah
terkena radang gusi. Diperkirakaan 50 77% wanita mengalami radang gusi selama
kehamilannya. Insidennya meningkat apabila sedang mengalami masalah gusi

19

lainnya, umur ibu lebih tua dan meningkatnya paritas. Pada kurang dari 2% wanita
hamil, hiperplasia gusi menyebabkan terbentuknya masa yang rapuh, menyerupai
tumor yang disebut epulis. Epulis biasanya sembuh secara spontan setelah
melahirkan, tetepi mungkin perlu diinsisi selama kehamilan, berlangsung jika terjadi
pendarahan yang banyak dan muncul penyakit gusi dan gigi.
2) Esofagus
Tonus pada sfingter esofagus bagian bawah melemah di bawah pengaruh progesteron,
yang menyebabkan relaksasi otot polos. Penurunan tonus ini berkaitan dengan
terjadinya refluks asam dari lambung ke esofagus. Perubahan pada diafragma akan
Lebih berkontribusi menimbulkan masalah dengan mengubah secara akut sudut
esofagus gaster, sehingga makin memperberat Refluks.
3) Lambung
Penyebab dari progesteron dapat menurunkan tonus dan motilitas lambung. Selain itu,
juga menurunkan tonus sfingter pilorus, menyebabkan refluksnya isi cairan basa
duodenum kedalam lambung. Semakin kehamilan berlanjut, tekanan pada lambung
oleh uterus yang membesar dapat menurunkan jumlah makanan yang dikonsumsi
tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman. Penurunan produksi asam dan pepsin juga
mungkin memperlambat pencernaan, walaupun efek kehamilan pada sekresi asam
lambung belum dipahami dengan baik.
4) Usus Besar dan Kecil
Relaksasi otot polos karena pengaruh progesteron menyebabkan penurunan tonus dan
motilitas usus. Penurunan motilitas lebih jauh dipengaruhi oleh penurunan motilitin,
suatu hormon peptida. Penurunan pada tonus menimbulkan perpanjangan waktu
transit, yang akan makin lama seiring dengan berkembangnya kehamilan. Penelitian
telah menunjukkan bahwa peningkatam lama waktu transit pada akhir kehamilan
disebabkan penghambatan kontraksi otot polos pada usus. Perpanjangan waktu transit
dan ditambah dengan adanya hipertrofi vili Duodenum, menyebabkan peningkatan
kapasitas absorpsi. Peningkatan absorpsi zat besi, kalsium, lisin, valin, glisin, prolin,

20

glukosa, natrium, klorida dan air. Pengaruh progesteron pada enzim pentranspor
mungkin menyebabkan penurunan absorpsi niasin, riboflavin, dan vitamin B6.
Penurunan motilitas dan memanjangnya waktu transit di kolon menyebabkan
peningkatan absorbsi air, yang kemudian meningkatkan resiko terjadinya konstipasi.
Peningkatan Flatulens juga ditemukan. Seiring dengan berkembangnya uterus,
apendiks, dan sekum terdorong ke atas dan lateral. Perubahan anatomis ini penting
untuk diingat pada saat ibu mengeluhkan nyeri akut abdomen dan apendisitis.
Hemoroid biasa terjadi selama kehamilan. Disebabkan oleh relaksasi dinding
pembuluh darah sekunder akibat peningkatan progesteron, dan penekanan vena oleh
berat dan ukuran uterus yang makin membesar. Usaha mengejan pada saat defekasi
karena adanya konstipasi juga berperan terhadap munculnya hemoroid.
2.3.6. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada
Sistem Muskuloskeletal
Pada Kehamilan Trimester I belum terjadi lordosis hanya nyeri pada punggung. Pada
trimester II sudah terjadi Lordosis yang diakibatkan kompensasi dari pembesaran uterus ke
posisi anterior, lordosis menggeser pusat daya berat ke belakang ke arah dua tungkai. Sendi
sakroilliaka, sakrokoksigis dan pubis akan meningkat mobilitasnya, yang diperkirakan karena
pengaruh hormonal yaitu pada peningkatan hormon estrogen, progesteron, dan elastin dalam
kehamilan yang dapat mengakibatkan kelemahan jaringan ikat dan ketidakseimbangan
persendian dan menyebabkan perubahan sikap ibu dan pada akhirnya menyebabkan perasaan
tidak enak pada bagian bawah punggung terutama pada trimester III.

Akibat dari perubahan fisik selama kehamilan :


a) Peregangan otot-otot
21

b) Pelunakan ligamen ligamen


Area yang paling dipengaruhi oleh perubahan perubahan tersebut adalah:
a) Tulang belakang (curva lumbar yang berlebihan )
b) Otot - otot abdomal (meregang ke atas uterus)
c) Otot dasar panggul (menahan berat badan dan tekanan uterus)
Bagi ibu hamil,bagian ini merupakan titik titik kelemahan srtuktural dan bagian
bermasalah yang potensial dikarenakan beban dan menekan kehamilan. Oleh karena itu,
masalah postur merupakan hal biasa dalam kehamilan :
a) Bertambahnya beban dan perubahan struktur dalam kehamilan mengubah dimensi
tubuh dan pusat gravitasi.
b) Ibu hamil mempunyai kecenderungan besar membentur bendabenda (dan memar
biru) dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh.
2.3.7. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada
Sistem Kardiovaskuler
Adalah sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. sistem ini juga
menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh. Sistem ini meliputi:
1. Jantung
Jantung merupakan organ muskular berongga yang bentuknya mirip piramid dan
terletak di dalam perikardium di mediastinum. Jantung memiliki tiga permukaan :
facies sternocostalis, diaphragmatica, dan basis cordis. Jantung dibagi oleh septa
vertikal menjadi empat ruang: atrium dextrum, atrium sinistrum, ventriculus dexter, dan
ventriculus sinister. Atrium dextrum terdiri atas rongga utama dan sebuah kantong
kecil, auricula. Bagian atrium di anterior berdinding kasar atau trabekulasi oleh karena
tersusun atas berkas serabut-serabut otot, musculi pectinati, yang berjalan melalui crista

22

terminalis ke auricula dextra. Pada atrium dextrum bermuara vena cava superior dan
inferior, sinus coronarius, dan vena cordis minimae.
2. Sirkulasi Sistemik
Ventrikel kiri memompakan darah masuk ke aorta. Dari aorta darah di salurkan masuk
kedalam aliran yang terpisah secara progresive memasuki arteri sistemik yang
membawa darah tersebut ke organ ke seluruh tubuh kecuali sakus udara (Alveoli ) paruparu yang disuplay oleh sirkulasi pulmonal. Pada jaringan sistemik arteri bercabang
menjadi arteriol yang berdiameter lebih kecil yang akhirnya masuk ke bagian yang
lebar dari kapiler sistemik. Pertukaran nutrisi dan gas terjadi melalui dinding kapiler
yang tipis, darah melepaskan oksygen dan mengambil CO2 pada sebagian besar kasus
darah mengalir hanya melalui satu kapiler dan kemudian masuk ke venule sistemik.
Venule membawa darah yang miskin oksigen. Berjalan dari jaringan dan bergabung
membentuk vena sistemik yang lebih besar dan pada akhirnya darah mengalir kembali
ke atrium kanan.
2.3.8. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kehamilan Trimester I, II, dan III pada Sistem

Kardiovaskuler
Perubahan sistem integument pada kehamilan, salah satu perubahan besar yang
mengalami selama kehamilan adalah cara itu harus meregangkan pada tingkat cepat mustahil.
Sekitar 50 persen hingga 90 persen perempuan tidak mampu menahan peregangan yang
sangat besar ini, dan hal itu menyebabkan terjadi pada kulit di payudara, lengan, paha,
pinggul dan bokong. Ini terjadi ketika kolagen di kulit memisahkan, Mungkin tidak sakit
tetapi akan gatal, dan mungkin gelitik banyak. Wanita berkulit terang akan memiliki garisgaris merah muda, sementara wanita berkulit gelap akan membuat mereka lebih ringan
daripada warna kulit mereka.
Beberapa masalah perubahan kulit yang kerap dialami selama kehamilan, antara lain:
1) Stretch Mark
23

Perubahan kulit yang terjadi pada saat kehamilan disebabkan oleh peningkatan
kadar hormon estrogen dan progesteron, peregangan kulit lantaran tubuh membesar,
atau juga faktor genetik. Pada dasarnya kulit mempunyai kemampuan untuk
berkembang mengikuti kondisi tubuh atau disebut dengan elastisitas kulit. Elastisitas
kulit tersebut dipengarungi oleh keturunan, berat badan, dan faktor usia. Pada ibu
hamil, elastisitas kulit dipaksa mengembang sampai pada level maksimum untuk
mengakomodasi pertumbuhan janin, akibatnya timbul stretch mark.
Stretch mark merupakan tanda parut berupa gurat-gurat putih yang muncul pada
permukaan kulit, berbentuk garis yang berliku seperti anak sungai. Masalah ini muncul
karena peregangan kulit secara cepat, seperti pada kehamilan atau peningkatan berat
badan yang drastis, atau karena pengaruh obat yang mengandung steroid, yang merusak
jaringan yang terdapat di dalamnya sehingga kulit mengalami over stretched dan
kolagennya rusak.
Stretch mark biasanya muncul pada dinding perut, lengan atas, pinggul, paha,
bokong, dan payudara pada tubuh wanita hamil. Stretch mark karena kehamilan
umumnya berwarna merah jambu dan lebar, kemudian berangsur berubah menjadi garis
tipis berwarna putih atau kecoklatan. Bagi mereka yang memiliki jenis kulit kering
kecenderungan akan masalah ini dapat terjadi pada saat kehamilannya. Untuk ibu
hamil stretch mark terjadi pada trimester kedua atau usia kandungan sekitar empat
bulan,
2) Linea Nigra
Pada sebagian besar wanita hamil akan muncul garis vertikal berwarna cokelat
kehitaman di kulit sepanjang bagian tengah perut yang disebut linea nigra karena
melanosit yang menyebabkan warna kulit lebih gelap. Garis ini akan ada selama
kehamilan dan akan menghilang setelah melahirkan.
3) Selulit
Selulit merupakan suatu lapisan lemak di bawah kulit yang terletak di atas otot.
Selulit pada wanita hamil terjadi karena adanya peningkatan kadar hormon estrogen

24

dan progesteron secara drastis sehingga menghasilkan lebih banyak lemak yang
disimpan untuk melindungi janin. Pada selulit tampak permukaan kulit bergelombang
seperti kulit jeruk dan umumnya terjadi di bagian paha, bokong, perut, pinggul, betis,
dan lengan.
Belum ada terapi yang diklaim dapat mengatasi selulit 100%. Namun, selulit
dapat dicegah atau diminimalisasi dengan berolahraga ringan secara teratur, terutama
untuk membakar lemak di bagian-bagian tubuh tertentu. Makan makanan dengan gizi
lengkap dan seimbang, terutama mengurangi makanan berlemak. Penggunaan lotion
secara teratur sejak dini, terutama pada masa kehamilan awal, dan penggunaan lotion
sebaiknya dibarengi dengan efek pijatan untuk membantu memperlancar peredaran
darah dan menghancurkan lemak. Selulit pun ada dua jenis, ringan dan berat.Pada
kondisi ringan, selulit tidak terlihat. Baru jika bagian tertentu itu dicubit akan terlihat.
Sementara pada jenis yang berat meski tidak dicubit, kehadiran selulit sudah terlihat.
4) Rasa Gatal
Rasa gatal sering dialami oleh wanita hamil, terutama pada bagian perut, pusar,
dan payudara. Rasa gatal timbul karena beberapa sebab, yakni peregangan kulit yang
menyebabkan kulit menjadi lebih kering, iritasi yang muncul pada lipatan-lipatan
tubuh, seperti lipatan di bawah payudara, perut, selangkangan, dan ketiak. Rasa gatal
dapat pula muncul karena perubahan hormon estrogen dan progestin sehingga terjadi
penumpukan bilirubin dan asam empedu ringan dalam tubuh. Hindari garukan pada
kulit yang dapat menyebabkan cedera. Selain menimbulkan infeksi, akan menyebabkan
pula adanya garis kehitaman pada kulit. Rasa gatal ini dapat terjadi pada trimester
pertama, kedua, maupun selama kehamilan.
5) Jerawat
Masalah jerawat ketika kehamilan terjadi disebabkan karena adanya faktor
hormonal. Kulit muka menjadi lebih berminyak sehingga dapat menimbulkan jerawat.
Menjaga kebersihan kulit dan diet makanan yang seimbang serta sehat, terutama

25

mempertinggi makanan yang mengandung protein dan vitamin C akan membantu Anda
untuk mengatasinya.
6) Varises
Varises bisa terjadi lantaran hamil. Pada ibu hamil, aliran darah dari tubuh bagian
atas biasanya lebih deras daripada aliran darah sebaliknya, lantaran beban tubuh yang
bertambah pada bagian atas tubuh. Akibatnya, darah memenuhi pembuluh dan
membuat pembuluh darah pada tubuh bagian bawah menonjol dan berkelok-kelok.
Pada ibu hamil, varises bisa dicegah dengan meninggikan posisi kaki dengan
mengganjal dengan bantal ketika beristirahat. Bisa juga menggunakan stocking khusus
yang dikenakan pada paha. Stocking berfungsi memperlambat aliran darah dari bagian
atas tubuh, sehingga menyeimbangkan aliran darah dari tubuh bagian atas ke bawah
dan sebaliknya.
7) Areola mammae dan puting susu
Areola mammae daerah yang warnanya hitam di sekitar puting susu, pada
kehamilan warnanya akan lebuh hitam, daerah sekitar yang baisanya tidak berwarna,
sekarang berwarna hitam (secundair areola mammae). Puting susu juga menghitam dan
membesar lebih menonjol. Payudara secara bertahap mengalami pembesaran karena
peningkatan pertumbuhan jaringan alveolar dan suply darah. Pada awal kehamilan
keluar cairan jernih (kolostrum). Pigmen di sekitar puting (areola) tumbuh lebih gelap.
8) Linea alba
Garis hitam yang terbentang dari atas symphisis sampai pusat. Warna lebih hitam
kecuali akan timbul garis baru yang terbentang di tengah-tengah atas pusat ke atas
(linea nigra). Pada bagian badan ini kecusli ada hiperpigmentasi adapula yang mirip
garis-garis pada kulit (striae gravidarum).
9) Hiperpigmentasi
Lebih dari 90% wanita hamil mengalami hiperpigmentasi, atau perubahan
pigmen, dengan derajat yang berbeda-beda. Hiperpigmentasi inilah yang menyebabkan
melasma, atau yang sering disebut juga topeng kehamilan. Yaitu lapisan kehitaman
yang biasanya menghampiri bagian pipi, dahi dan hidung. Selain wajah, bagian tubuh
yang lain ada juga yang tidak terhindar dari hiperpigmentasi.

Mulai dari areola


26

mammae, ketiak, genitalia, paha, dan pusar. Tahi lalat, atau vlek lain yang sebelumnya
sudah ada kemungkinan besar juga akan bertambah hitam. Hiperpigmentasi akan
terlihat lebih nyata pada wanita yang pada dasarnya berkulit gelap.
Hal yang sama umumnya juga terjadi pada wanita yang sebelumnya
menggunakan kontrasepsi hormonal. Penyebabnya diduga karena adanya peningkatan
jumlah melanosit dan peningkatan kerentanan terhadap stimulus hormon Melanocyte
Stimulating Hormone (MSH), estrogen dan progesteron.
Terlalu lama berada di bawah paparan sinar matahari juga dapat memperburuk
keadaan, oleh karena itu sebaiknya calon ibu tetap menggunakan tabir surya. Hampir
semua jenis krim tabir surya relatif aman digunakan oleh ibu hamil dan pilihlah yang
spektrum perlindungannya luas (anti UV-A dan UV-B).
Hiperpigmentasi ini umumnya akan hilang dengan sendirinya, maksimal satu
tahun pasca persalinan. Memang ada juga yang tidak bisa hilang, biasanya karena
menggunakan kontrasepsi hormonal. Beberapa wanita juga akan mendapatkan
pigmentasi yang merupakan kondisi yang disebabkan oleh produksi berlebihan
melanotropin. Dapat menemukannya terjadi di pipi, hidung dan dahi. Ini mungkin
muncul secara tak terduga selama 4 atau 5 bulan kehamilan.
Sejak bulan ke-3 hingga kehamilan cukup bulan, beberapa tingkat perubahan
warna kulit menjadi gelap terjadi pada 90% wanita hamil pada kulit dinding perut akan
terjadi perubahan warna menjadi kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan
mengenai daerah payudara dan paha, perubahan ini dikenal dengan nama striae
gravidarum. Pada multipara selain striae kemerahan ini seringkali ditemukan garis
berwarna perak berkilau yang merupakan sikatrik dari striae sebelumnya. Striae
gravidarum di bagi menjadi 2 :
- Striae livida
Garis-garis yang berwarna biru pada kuit (pada primigravida). Striae terjadi
karena ada hormon yang berlebihan dan ada pembesaran atau peregangan pada
jaringan yang menimbulkan perdarahan pada kapiler halus di bawah kulit warna

27

biru. Peregangan kulit ini dapat sembuh dan menimbulkan bekas seperti parut
yang berwarna putih, jadi garis yang warnanya biru menjadi putih, karena sudah
-

mengalami peregangan.
Striae albicans
Pada multigravida biasanya terdapat pada buah dada, perut dan paha. Striae ini
kadang-kadang menimbulkan perasaan gatal pada penderita.
Hiperpigmentasi lebih nyata terlihat pada wanita berkulit gelap dan lebih terlihat
di area seperti areola,perineum,dan umbilikus dan juga diarea yang cenderung
mengalami gesekan seperti aksila pada paha bagian dalam.Pada banyak
perempuan kulit digaris pertengahan perutnya akan berubah menjadi hitam
kecoklatan yang disebut denga linea nigra.kadang kadang akan muncul dalam
ukuran yang bervariasi pada wajah dan leher yang disebut dnegan chloasma atau
melasma gravidarum.selain itu,pada aerola dan daerah genital juga akan terlihat
pigmentasi yang berlebihan.pigmentasi yang berlebihan itu biasanya akan hilang
atau sangat jauh berkurang setelah persalinan.kontrasepsi oral juga bisa
menyebabkan hiperpigmentasi yang sama.
Perubahan ini dihasilkan dari cadangan melanin pada daerah epidermal dan
dermal yang penyebab pastinya belum diketahui.adanya peningkatan kadar serum
melanocyte stimulating hormone pada akhir bulan kedua masih sangat diragukan
sebagai penyebabnya.estrogen dan progesterone diketahui mempunyai peran dan
melanigenesis dan diduga bisa menjadi faktor pendorongnya.
Perubahan integumen selama hamil disebabkan oleh perubahan keseimbangan

hormon dan peregangan mekanis


Perubahan yang umum timbul: peningkatan ketebalan kulit dan lemak
subdermal, hiperpigmentasi, pertumbuhan rambut dan kuku, percepatan
aktivitas kelenjar keringat dan kelenjar sebasea, peningkatan sirkulasi dan

aktivitas vasomotor
Jaringan elastis kulit mudah pecah, menyebabkan stria gravidarum, atau tanda
regangan. Respon alergi kulit meningkat. Pigmentasi timbul akibat
28

peningkatan hormon hipofisis anterior melanotropin selama masa hamil,

contoh pigmentasi pada wajah (kloasma)


Striae gravidarum atau tanda regangan terlihat di bawah abdomen disebabkan
kerja adenokortikosteroid.

2.4.

Anemia pada Ibu Hamil


2.4.1. Defenisi
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11
gr% pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II ( Depkes RI,
2009). Menurut Varney (2006), anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau
menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organorgan vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah
jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl.
Hemoglobin (Hb) yaitu komponen sel darah merah yang berfungsi menyalurkan
oksigen ke seluruh tubuh, jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen. Oksigen
diperlukan tubuh untuk bahan bakar proses metabolisme. Zat besi merupakan bahan baku
pembuat sel darah merah. Ibu hamil mempunyai tingkat metabolisme yang tinggi misalnya
untuk membuat jaringan tubuh janin, membentuknya menjadi organ dan juga untuk
memproduksi energi agar ibu hamil bisa tetap beraktifitas normal sehari hari.
Fungsi Hb merupakan komponen utama eritrosit yang berfungsi membawa oksigen
dan karbondioksida. Warna merah pada darah disebabkan oleh kandungan Hb yang
merupakan susunan protein yang komplek yang terdiri dari protein, globulin dan satu
senyawa yang bukan protein yang disebut heme. Heme tersusun dari suatu senyawa lingkar
yang bernama porfirin yang bagian pusatnya ditempati oleh logam besi (Fe). Jadi heme
adalah senyawa-senyawa porfirin-besi sedangkan hemoglobin adalah senyawa kompleks
antara globin dengan heme.
29

Anemia Defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya
pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah. Jika
simpanan zat besi dalam tubuh seseorang sudah sangat rendah berarti orang tersebut
mendekati anemia walaupun belum ditemukan gejala-gejala fisiologis. Simpanan zat besi
yang sangat rendah lambat laun tidak akan cukup untuk membentuk sel-sel darah merah di
dalam sumsum tulang sehingga kadar hemoglobin terus menurun di bawah batas normal,
keadaan inilah yang disebut anemia gizi besi. Anemia defisiensi besi adalah anemia yang
disebabkan oleh berkurangnya cadangan besi tubuh. Keadaan ini ditandai dengan
menurunnya saturasi transferin, berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum
tulang. Secara morfologis keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom
disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hemoglobin.
Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia. Wanita usia subur sering
mengalami anemia, karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan
besi sewaktu hamil. Anemia defisiensi zat besi (kejadian 62,30%) adalah anemia dalam
kehamilan yang paling sering terjadi dalam kehamilan akibat kekurangan zat besi.
Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan,
gangguan reabsorbsi, dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi. Anemia Megaloblastik
(kejadian 29,00%), dalam kehamilan adalah anemia yang disebabkan karena defisiensi asam
folat. Anemia Hipoplastik (kejadian 8, 0%) pada wanita hamil adalah anemia yang
disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah merah. Dimana
etiologinya belum diketahui dengan pasti kecuali sepsis, sinar rontgen, racun dan obatobatan. Anemia Hemolitik (kejadian 0,70%), yaitu anemia yang disebabkan karena
penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat, yaitu penyakit malaria.

30

2.4.2. Penyebab Anemia pada Ibu Hamil


Penyebab anemia umunya adalah kurang gizi, kurang zat besi, kehilangan darah saat
persalinan yang lalu, dan penyakit penyakit kronik. Dalam kehamilan penurunan kadar
hemoglobin yang dijumpai selama kehamilan disebabkan oleh karena dalam kehamilan
keperluan zat makanan bertambah dan terjadinya perubahan-perubahan dalam darah :
penambahan volume plasma yang relatif lebih besar daripada penambahan massa hemoglobin
dan volume sel darah merah. Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut
hidremia atau hipervolemia. Namun bertambahnya sel-sel darah adalah kurang jika
dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Di mana
pertambahan tersebut adalah sebagai berikut : plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin
19%. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan
dan bermanfaat bagi wanita hamil tersebut. Pengenceran ini meringankan beban jantung yang
harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hipervolemia tersebut,
keluaran jantung (cardiac output) juga meningkat. Kerja jantung ini lebih ringan apabila
viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik.
Selama hamil volume darah meningkat 50 % dari 4 ke 6 L, volume plasma meningkat
sedikit menyebabkan penurunan konsentrasi Hb dan nilai hematokrit. Penurunan ini lebih
kecil pada ibu hamil yang mengkonsumsi zat besi. Kenaikan volume darah berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan perfusi dari uteroplasenta. Ketidakseimbangan antara kecepatan
penambahan plasma dan penambahan eritrosit ke dalam sirkulasi ibu biasanya memuncak
pada trimester kedua.
Pola makan adalah pola konsumsi makan sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan
gizi setiap individu untuk hidup sehat dan produktif. Untuk dapat mencapai keseimbangan
gizi maka setiap orang harus menkonsumsi minimal 1 jenis bahan makanan dari tiap
golongan bahan makanan yaitu Karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, buah dan
31

susu. Seringnya ibu hamil mengkonsumsi makanan yang mengandung zat yang menghambat
penyerapan zat besi seperti teh, kopi, kalsium. Wanita hamil cenderung terkena anemia pada
triwulan III karena pada masa ini janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri
sebagai persediaan bulan pertama setelah lahir.
Faktor umur merupakan faktor risiko kejadian anemia pada ibu hamil. Umur seorang
ibu berkaitan dengan alat alat reproduksi wanita. Umur reproduksi yang sehat dan aman
adalah umur 20 35 tahun. Kehamilan diusia < 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat
menyebabkan anemia karena pada kehamilan diusia < 20 tahun secara biologis belum optimal
emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami
keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat
zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan pada usia > 35 tahun terkait dengan kemunduran
dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini.
Hasil penelitian didapatkan bahwa umur ibu pada saat hamil sangat berpengaruh terhadap
kajadian anemia.
Ibu hamil yang kurang patuh mengkonsumsi tablet Fe mempunyai risiko 2,429 kali
lebih besar untuk mengalami anemia dibanding yang patuh konsumsi tablet Fe. Kepatuhan
menkonsumsi tablet Fe diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara
mengkonsumsi tablet Fe, frekuensi konsumsi perhari. Suplementasi besi atau pemberian
tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menanggulangi anemia,
khususnya anemia kekurangan besi. Suplementasi besi merupakan cara efektif karena
kandungan besinya yang dilengkapi asam folat yang sekaligus dapat mencegah anemia
karena kekurangan asam folat (Depkes, 2009).
Jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia. Hal ini
dikarenakan kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat gizi belum
32

optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandung ( Wiknjosastro,
2012). Jarak kelahiran mempunyai risiko 1,146 kali lebih besar terhadap kejadian anemia.

2.4.3. Gejala Anemia Pada Ibu Hamil


Ibu hamil dengan keluhan lemah, pucat, mudah pingsan, dengan tekanan darah dalam
batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi besi. Dan secara klinis dapat dilihat tubuh
yang pucat dan tampak lemah (malnutrisi). Guna memastikan seorang ibu menderita anemia
atau tidak, maka dikerjakan pemeriksaan kadar Hemoglobin dan pemeriksaan darah tepi.
Pemeriksaan Hemoglobin dengan spektrofotometri merupakan standar. Proses kekurangan
zat besi sampai menjadi anemia melalui beberapa tahap: awalnya terjadi penurunan simpanan
cadangan zat besi dalam bentuk fertin di hati, saat konsumsi zat besi dari makanan tidak
cukup, fertin inilah yang diambil. Daya serap zat besi dari makanan sangat rendah, Zat besi
pada pangan hewan lebih tinggi penyerapannya yaitu 20 30 % sedangkan dari sumber
nabati 1-6 %. Bila terjadi anemia, kerja jantung akan dipacu lebih cepat untuk memenuhi
kebutuhan O2 ke semua organ tubuh, akibatnya penderita sering berdebar dan jantung cepat
lelah. Gejala lain adalah lemas, cepat lelah, letih, mata berkunang kunang, mengantuk,
selaput lendir , kelopak mata, dan kuku pucat.
2.4.4. Derajat Anemia Pada Ibu Hamil Dan Penentuan Kadar Hemoglobin
Ibu hamil dikatakan anemia bila kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari
11,00 gr%. Menururt Word Health Organzsation (WHO) anemia pada ibu hamil adalah
kondisi ibu dengan kadar Hb < 11 % . Anemia pada ibu hamil di Indonesia sangat bervariasi,
yaitu: Tidak anemia : Hb >11 gr%, Anemia ringan : Hb 9-10.9 gr%, Anemia sedang : Hb 78.9 gr%, Anemia berat : Hb < 7 gr%.

33

Pengukuran Hb yang disarankan oleh WHO ialah dengan cara cyanmet, namun cara
oxyhaemoglobin dapat pula dipakai asal distandarisir terhadap cara cyanmet. Sampai saat ini
baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit masih menggunakan alat Sahli. Dan pemeriksaan
darah dilakukan tiap trimester dan minimal dua kali selama hamil yaitu pada trimester I dan
trimester III ( Depkes, 2009).
2.4.5. Transfer Zat Besi Ke Janin
Transfer zat besi dari ibu ke janin di dukung oleh peningkatan substansial dalam
penyerapan zat besi ibu selama kehamilan dan diatur oleh plasenta. Serum fertin meningkat
pada umur kehamilan 12 25 minggu, Kebanyakan zat besi ditransfer ke janin setelah umur
kehamilan 30 minggu yang sesuai dengan waktu puncak efisiensi penyerapan zat besi ibu.
Serum transferin membawa zat besi dari sirkulasi ibu untuk transferin reseptor yang terletak
pada permukaan apikal dan sinsitiotropoblas plasenta, holotransferin adalah endocytosied ;
besi dilepaskan dan apotransferin dikembalikan ke sirkulasi ibu. Zat besi kemudian bebas
mengikat fertin dalam sel sel plasenta yang akan dipindahkan ke apotransferrin yang masuk
dari sisi plasenta dan keluar sebagai holotransferrin ke dalam sirkulasi janin. Plasenta sebagai
transfortasi zat besi dari ibu ke janin. Ketika status gizi ibu yang kurang, jumlah reseptor
transferrin plasenta meningkat sehingga zat besi lebih banyak diambil oleh plasenta dan
ditransfortasi untuk janin serta zat besi yang berlebihan untuk janin dapat dicegah oleh
sintesis plasenta fertin.
2.4.6. Pengaruh Anemia Terhadap Kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam
kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat
timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiran prematurus, persalinan yang
lama akibat kelelahan otot uterus di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca
melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat
34

bersalin maupun pasca bersalin serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan
dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu
pada persalinan.

Pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal: berat badan kurang,
plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa intranatal dapat terjadi
tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal, shock, dan masa pascanatal dapat
terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi pada neonatus : premature,
apgar scor rendah, gawat janin. Bahaya pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat
menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan
janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi,
dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu.
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan, dapat menyebabkan gangguan his
primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi
karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif. Anemia
kehamilan dapat menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga akan mempengaruhi ibu
saat mengedan untuk melahirkan bayi.
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan, gangguan his-kekuatan mengejan, kala
I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar. Kala II berlangsung lama sehingga
dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, Kala III dapat diikuti
retensio plasenta dan perdarahan post partum akibat atonia uteri, kala IV dspat terjadi
perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri. Pada kala nifas terjadi subinvulosio uteri
yang menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran
ASI berkurang, dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas dan
mudah terjadi infeksi mammae.

35

Pertumbuhan plasenta dan janin terganggu disebabkan karena terjadinya penurunan


Hb yang diakibatkan karena selama hamil volume darah 50% meningkat 4 ke 6 L, volume
plasma meningkat sedikit yang menyebabkan penurunan konsentrasi Hb dan nilai hematokrit.
Penurunan ini akan lebih kecil pada ibu hamil yang mengkonsumsi zat besi. Kenaikan volume

darah berfungsi untuk memenuhi kebutuhan perfusi dari plasenta dan untuk penyediaan
cadangan saat kehilangan darah waktu melahirkan. Selama kehamilan rahim, plasenta dan
janin memerlukan aliran darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan
berat badan bayi lahir yang rendah, yaitu sebesar 38,85%, merupakan penyebab kematian
bayi. Sedangkan penyebab lainnya yang cukup banyak terjadi adalah kejadian kurangnya
oksigen dalam rahim (hipoksia intrauterus) dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur
pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir (asfiksia lahir), yaitu 27,97%. Hal ini
menunjukkan bahwa 66,82% kematian perinatal dipengaruhi pada kondisi ibu saat
melahirkan. Jika dilihat dari golongan sebab sakit, kasus obstetri terbanyak pada tahun 2005
adalah disebabkan penyulit kehamilan, persalinan dan masa nifas lainnya yaitu 56,09%.
2.4.7. Klasifikasi Anemia
Berdasarkan penyebab terjadinya anemia, secara umum anemia dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
a. Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi
tubuh, sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang yang pada akhirnya
pembentukan hemoglobin berkurang. Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh
rendahnya masukan besi, gangguan absorpsi serta kehilangan besi akibat perdarahan
menahun. Anemia jenis ini merupakan anemia yang paling sering terjadi.

36

Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi, sehingga cadangan besi makin


menurun. Apabila cadangan kosong, maka keadaan ini disebut iron depleted state. Jika
kekurangan besi berlanjut terus maka penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga
dapat menimbulkan anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada
beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut dan faring serta
berbagai gejala lainnya Gejala yang khas pada anemia jenis ini adalah kuku menjadi rapuh
dan menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok, gejala seperti ini disebut koilorika. Selain
itu, anemia jenis ini juga mengakibatkan permukaan lidah menjadi licin, adanya peradangan
pada sudut mulut dan nyeri pada saat menelan. Selain gejala khas tersebut pada anemia
defisiensi besi juga terjadi gejala umum anemia seperti lesu, cepat lelah serta mata
berkunang-kunang.
b. Anemia Hipoplastik
Anemia hipoplastik disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat selsel darah baru. Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat
(sepsis), keracunan dan sinar rontgen atau radiasi. Mekanisme terjadinya anemia jenis ini
adalah karena kerusakan sel induk dan kerusakan mekanisme imunologis. Anemia jenis ini
biasanya ditandai dengan gejala perdarahan seperti petikie dan ekimosis (perdarahan kulit),
perdarahan mukosa dapat berupa epistaksis, perdarahan sub konjungtiva, perdarahan gusi,
hematemesis melena dan pada wanita dapat berupa menorhagia. Perdarahan organ dalam
lebih jarang dijumpai, tetapi jika terjadi perdarahan pada otak sering bersifat fatal.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah gagal jantung akibat anemia berat dan kematian akibat
infeksi yang disertai perdarahan.
c. Anemia Megaloblastik

37

Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan defisiensi vitamin B12 dan
asam folat. Anemia jenis ini ditandai dengan adanya sel megaloblast dalam sumsum tulang
belakang. Sel megaloblast adalah sel prekursor eritrosit dengan bentuk sel yang besar.
Timbulnya megaloblast adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena terjadi
gangguan sintesis DNA sel-sel eritoblast akibat defiensi asam folat dan vitamin B12 dimana
vitamin B12 dan asam folat berfungsi dalam pembentukan DNA inti sel dan secara khusus
untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan myelin. Akibat gangguan sintesis DNA pada
inti eritoblast ini maka maturasi inti lebih lambat, sehingga kromatin lebih longgar dan sel
menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat. Sel eritoblast dengan ukuran yang
lebih besar serta susunan kromatin yang lebih longgar disebut sebagai sel megaloblast. Sel
megaloblast ini fungsinya tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang
sehingga terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek yang berujung
pada terjadinya anemia.
Kekurangan asam folat berkaitan dengan berat lahir rendah, ablasio plasenta dan
Neural Tube Defect (NTD). NTD yang terjadi bisa berupa anensefali, spina bifida (kelainan
tulang belakang yang tidak menutup), meningo-ensefalokel (tidak menutupnya tulang
kepala). Kelainan-kelainan tersebut disebabkan karena gagalnya tabung saraf tulang belakang
untuk tertutup.
Anemia defisiensi vitamin B12 dan asam folat mempunyai gejala yang sama seperti
terjadinya ikterus ringan dan lidah berwarna merah. Tetapi pada defisiensi vitamin B12
disertai dengan gejala neurologik seperti mati rasa.
d. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan oleh proses hemolisis. Hemolisis adalah penghancuran
atau pemecahan sel darah merah sebelum waktunya. Hemolisis berbeda dengan proses
penuaan yaitu pemecahan eritrosit karena memang sudah cukup umurnya. Pada dasarnya

38

anemia hemolitik dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu anemia hemolitik karena
faktor di dalam eritrosit sendiri (intrakorpuskular) yang sebagian besar bersifat herediter dan
anemia hemolitik karena faktor di luar eritrosit (ekstrakorpuskular) yang sebagian besar
bersifat didapatkan seperti malaria dan transfusi darah.
Proses hemolisis akan mengakibatkan penurunan kadar hemoglobin yang akan
mengakibatkan anemia. Hemolisis dapat terjadi perlahan-lahan, sehingga dapat diatasi oleh
mekanisme kompensasi tubuh tetapi dapat juga terjadi tiba-tiba sehingga segera menurunkan
kadar hemoglobin.
Seperti pada anemia lainnya pada penderita anemia hemolitik juga mengalami lesu,
cepat lelah serta mata berkunang-kunang. Pada anemia hemolitik yang disebabkan oleh faktor
genetik gejala klinik yang timbul berupa ikterus, splenomegali, kelainan tulang dan ulkus
pada kaki.
2.4.8.

Mekanisme terjadinya Anemia pada Ibu Hamil


Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan

akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Kebutuhan ibu selama kehamilan
adalah 800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk janin dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit
ibu. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3 mg besi/hari.
Volume darah ibu bertambah lebih kurang 50% yang menyebabkan konsentrasi sel
darah merah mengalami penurunan. Keadaan ini tidak normal bila konsentrasi turun terlalu
rendah yang menyebabkan Hb sampai <11 gr%. Meningkatnya volume darah berarti
meningkat pula jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah
sebagai kompensasi tubuh untuk menormalkan konsentrasi hemoglobin.
Pada kehamilan, fetus menggunakan sel darah merah ibu untuk pertumbuhan dan
perkembangan terutama pada tiga bulan terakhir kehamilan. Bila ibu telah mempunyai

39

banyak cadangan zat besi dalam sumsum tulang sebelum hamil maka pada waktu kehamilan
dapat digunakan untuk kebutuhan bayinya.
Akan tetapi bila pembentukan sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya
plasma sehingga terjadi pengenceran darah yang menyebabkan konsentrasi atau kadar
hemoglobin tidak dapat mencapai normal sehingga akan terjadi anemia. Keadaan ini dapat
terjadi mulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan
umur 32 sampai 36 minggu.

BAB III
LAPORAN KASUS

A. Pengkajian Data
Tanggal Pengkajian : 01 Juli 2013 pukul 11.15 WIB

MR

: 33.55.72

Tempat Pengkajian : Poli Kebidanan RSUP M. Djamil Padang


1.

Data subyektif
a. Biodata
Istri

Suami

Nama

Ny. NA

Tn. A

Umur

40 tahun

43 tahun

Agama

Islam

Islam

Suku/ Bangsa

Minang/ Indonesia

Minang/ Indonesia

Pekerjaan

IRT

Wiraswasta

Alamat

Seberang Padang

b. Keluhan utama
Ibu mengatakan sering pusing sejak 2 hari yang lalu, badan lemas, cepat lelah,
badan pegal-pegal, nafsu makan berkurang dan ibu datang untuk memeriksakan
kehamilannya
40

c. Riwayat kesehatan
1)

Riwayat kesehatan yang lalu


Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular dengan gejala
batuk lama lebih dari 4 bulan yang tak sembuh-sembuh, batuk berdarah
(TBC); mata/ sklera mata/ kuku/ seluruh tubuh kuning, perut sebelah kanan
sakit bila ditekan, BB turun dengan cepat (Hepatitis); keputihan encer seperti
nanah, lendir vagina banyak dan berbusa (PHS); diare lebih dari 3 bulan, BB
turun drastis dalam waktu satu bulan, mudah terserang penyakit (HIV/AIDS);
keputihan yang berwarna, berbau tidak enak, dan gatal pada vulva (IMS); saat
kencing terasa sakit pada saluran kencing (ISK); Nyeri pada kelenjar limfe
yang membesar, dapat disertai pneumonia, terdapat gelembung-gelembung di
daerah alat kelamin (TORCH). Ibu juga mengatakan tidak pernah menderita
penyakit menurun dengan gejala seperti sering makan, sering minum, sering
kencing (DM); darah sukar membeku bila terluka (Hemofilia); jantung
berdebar-debar, mudah lelah, berkeringat pada malam hari terutama telapak
tangan (jantung); tekanan darah tinggi (hipertensi). Ibu juga tidak pernah
memderita penyakit menahun dengan gejala seperti sesak nafas, mengi (asma),
sering pusing, mudah lelah, dan wajah pucat (Anemia).

2)

Riwayat kesehatan sekarang


Ibu mengatakan saat ini tidak menderita penyakit menular dengan gejala
batuk lama lebih dari 4 bulan yang tak sembuh-sembuh, batuk berdarah
(TBC); mata/ sklera mata/ kuku/ seluruh tubuh kuning, perut sebelah kanan
sakit bila ditekan, BB turun dengan cepat (Hepatitis); keputihan encer seperti
nanah, lendir vagina banyak dan berbusa (PHS); diare lebih dari 3 bulan, BB
turun drastis dalam waktu satu bulan, mudah terserang penyakit (HIV/AIDS);
41

keputihan yang berwarna, berbau tidak enak, dan gatal pada vulva (IMS); saat
kencing terasa sakit pada saluran kencing (ISK); Nyeri pada kelenjar limfe
yang membesar, dapat disertai pneumonia, terdapat gelembung-gelembung di
daerah alat kelamin (TORCH). Ibu juga mengatakan tidak pernah menderita
penyakit menurun dengan gejala seperti sering makan, sering minum, sering
kencing (DM); darah sukar membeku bila terluka (Hemofilia); jantung
berdebar-debar, mudah lelah, berkeringat pada malam hari terutama telapak
tangan (jantung); tekanan darah tinggi (hipertensi). Ibu juga tidak pernah
menderita penyakit menahun dengan gejala seperti sesak nafas, mengi (asma),
sering pusing, mudah lelah, dan wajah pucat (Anemia).
3)

Pengobatan yang sedang/ pernah dialami


Ibu mengatakan tidak sedang / tidak pernah menjalani pengobatan tertentu,
Ibu mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit.

d. Riwayat kesehatan keluarga


Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada riwayat keturunan kembar, tidak
ada yang menderita cacat bawaan.
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular
dengan gejala batuk lama lebih dari 4 bulan yang tak sembuh-sembuh, batuk
berdarah (TBC); mata/ sklera mata/ kuku/ seluruh tubuh kuning, perut sebelah
kanan sakit bila ditekan, BB turun dengan cepat (Hepatitis); keputihan encer
seperti nanah, lendir vagina banyak dan berbusa (PHS); diare lebih dari 3 bulan,
BB turun drastis dalam waktu satu bulan, mudah terserang penyakit (HIV/AIDS);
keputihan yang berwarna, berbau tidak enak, dan gatal pada vulva (IMS); saat
kencing terasa sakit pada saluran kencing (ISK); Nyeri pada kelenjar limfe yang
42

membesar, dapat disertai pneumonia, terdapat gelembung-gelembung di daerah


alat kelamin (TORCH). Ibu juga mengatakan tidak pernah menderita penyakit
menurun dengan gejala seperti sering makan, sering minum, sering kencing (DM);
darah sukar membeku bila terluka (Hemofilia); jantung berdebar-debar, mudah
lelah, berkeringat pada malam hari terutama telapak tangan (jantung); tekanan
darah tinggi (hipertensi). Ibu juga tidak pernah memderita penyakit menahun
dengan gejala seperti sesak nafas, mengi (asma), sering pusing, mudah lelah, dan
wajah pucat (Anemia).
e. Riwayat kebidanan
1) Haid
Ibu mengatakan pertama kali haid saat usia 14 tahun, siklus 28 30 hari,
teratur, lamanya 7 hari. Warna darah haid merah segar, hari pertama
biasanya agak bergumpal dan selanjutnya encer. Pada hari 1 sampai hari ke 3
ganti pembalut 2 3 kali sehari. Selanjutnya hanya ganti 2 kali. Saat haid
tidak mengeluh nyeri, tidak pusing.
HPHT

: 09-11-2012

TP

: 16-8-2013

2) Keluarga berencana
Ibu mengatakan pernah menggunakan KB suntik 3 bulan dan belum
merencanakan akan memilih KB apa setelah persalinan nanti.
3) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Ibu mengatakan bahwa ini merupakan kehamilan yang ke empat. Anak
pertama lahir laki-laki, BB 2800 gr, PB 48 cm, SC di RSUP M. Djamil
karena KPD tahun 2003. Anak kedua lahir laki-laki, BB 2800 gr, PB 49 cm,

43

V.E di RSUP M. Djamil tahun 2006. Anak ketiga lahir laki-laki, BB 3400 gr,
PB 49 cm, SC, di RSUP M. Djamil tahun 2010.
f. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Nutrisi
Sebelum hamil : Ibu makan 3 kali sehari, komposisi nasi, sayur (bayam,
kacang panjang, wortel, kol, sawi, kangkung, dll), lauk
(tahu, tempe, telur, ikan), buah (papaya, jeruk, pisang, dll)
dan air putih 5 6 gelas sehari.
Selama hamil

: Ibu makan 2 kali sehari komposisi nasi, sayur (bayam,


kacang panjang, wortel, kol, sawi, kangkung, dll), lauk
(tahu, tempe, telur, ikan), buah (papaya, jeruk, pisang, dll)
dan air putih 6 8 gelas sehari.
Ibu juga minum susu untuk bumil 1 kali sehari. Cara
menyeduh sudah benar yaitu air panas dicampur air
dingin kemudian susu baru dimasukkan lalu di aduk (tapi
dalam 2 minggu ini nafsu makan ibu berkurang dan tidak
mau minum susu)

2) Eliminasi
Sebelum hamil : BAB 1 kali sehari pada pagi hari bangun tidur, konsistensi
lunak, warna kuning trengguli, tidak ada keluhan.
BAK 5 6 kali sehari , tidak ada keluhan, warna kuning
jernih.

44

Selama hamil

: BAB 1 kali sehari pada pagi hari bangun tidur, konsistensi


lunak, warna kuning trengguli, tidak ada keluhan.
BAK lebih sering sejak memasuki kehamilan 7 bulan
yaitu 6 7 kali pada siang hari. Malam hari 2-3x, warna
kuning jernih dan tidak ada keluhan.

3) Istirahat
Sebelum hamil : Ibu tidur sekitar 8 jam sehari. Yaitu pada malam hari
mulai pukul 21.00 05.00WIB dan siang hari sekitar
12.00 13.00 WIB. Tidak ada keluhan.
Selama hamil

: Ibu tidur malam mulai pukul 21.00 05.00. Ibu merasa


terganggu karena sering kencing, dan setelah kencing ibu
langsung bisa tidur kembali. Ibu tidur siang mulai pukul
14.30-15.45 WIB (tapi dalam 2 minggu terakhir tidak bisa
tidur siang).

4) Aktifitas dan olahraga


Sebelum hamil : Ibu tidak pernah melakukan olahraga fisik apapun,
kegitan ibu sehari-hari dirumah adalah memasak, bersihbersih

rumah,

menyapu,

mengepel,

mencuci

dan

pekerjaan rumah tangga lainnya.


Selama hamil

: Setiap pagi ibu melakukan jalan santai selama + 30 menit.


Ibu tetap melakukan pekerjaan rumah tangga seperti
sewaktu sebelum hamil.

5) Personal hygiene
45

Sebelum hamil : Mandi 2 kali sehari pagi dan sore hari, gosok gigi 2 kali
sehari

setiap

mandi.

Keramas

2x

seminggu,

membersihkan genetalia setiap selesai BAK dengan air


bersih dari depan ke belakang, dan setelah BAB dengan
air bersih dari belakang ke depan. Memotong kuku 1
minggu sekali.
Selama hamil

: Mandi 2 kali sehari (pagi, malam), gosok gigi 2 kali


sehari seperti sebelum hamil, keramas 3 hari sekali,
membersihkan genetalia setiap selesai BAK dengan air
bersih dari depan ke belakang, dan setelah BAB dengan
air bersih dari belakang ke depan. Memotong kuku 1
minggu sekali

6) Rekreasi
Sebelum hamil : Ibu jarang pergi untuk rekreasi. Hanya pada hari libur saja
ibu pergi ke tempat orang tua di desa sebelah. Di rumah
ibu biasa nonton TV atau main ke rumah tetangga.
Selama hamil

: Ibu lebih sering pergi ke rumah orang tua selama hamil,


jalan-jalan ke pasar. Di rumah biasa nonton TV atau ikut
ngobrol ke rumah tetangga.

7) Kehidupan sexual
Sebelum hamil : Frekuensi hubungan seksual 3 kali dalam seminggu.
Selama hamil

: Frekuensi berkurang menjadi 2 kali dalam seminggu.

g. Riwayat ketergantungan Obat


46

Sebelum dan selama hamil ibu tidak tergantung pada jenis obat-obatan tertentu,
tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, tidak minum kopi, dan tidak minumminuman keras. Ibu tidak merokok tetapi suami merokok.

h. Latar Belakang Sosial Budaya


Ibu mengatakan dalam keluarga ibu tidak ada kebiasaan periksa dan pijat perut
ke dukun, minum jamu-jamuan, minum ramuan, dan pantang terhadap makanan
tertentu.
i. Psikososial dan Spiritual
Ibu, suami, dan keluarga sangat bahagia dengan kehamilan ini. Ibu selalu berdoa
agar diberi kesehatan pada diri dan janinnya. Ibu juga berdoa agar persalinannya
nanti mudah dan lancar.
2. Data Obyektif
a. KU ibu baik, kesadaran komposmentis, sikap tubuh agak lordosis, cara
berjalan normal
b. Tanda-tanda Vital
T : 120/80 mmHg
S : 36,3C
N : 80 x/menit
R : 20 x/menit
c. Conjungtiva mata : pucat
47

d. TB : 149 cm
BB sebelum hamil : 42 kg
BB sekarang : 50 kg
Lila : 24 cm

e. Pemeriksaan khusus
1) TFU Mc Donald : 29 cm
TBJ (Johnson-Tausack) : (29-13)x155 =2480 gr
2) Palpasi
LI

: TFU pertengahan pusat Px. Pada fundus teraba bagian yang


besar, lunak dan tidak melenting (kepala)

L II: Pada dinding perut sebelah kanan teraba bagian yang keras, dan
memanjang seperti papan (PUKA). Pada dinding perut sebelah kiri
teraba bagian kecil janin
L III : Pada perut bagian terbawah teraba bagian yang bundar, keras dan
melenting (kepala), belum masuk PAP
Auskultasi
DJJ + , kuat, teratur 145 x/menit, punctum maksimum 1 jari kanan bawah
pusat
3) Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium Klinik rawat jalan RSUP Dr. M.
Djamil)
Hemoglobin : 10,7 gr/dL nilai rujukan 12.00-14.00
48

B. Interpretasi Data
No

Diagnosa/
Masalah/Kebutuhan

Data Dasar

49

1.

G4P3A0H3, UK 33-

S : Ibu mengatakan hamil keempat, usia kehamilan 8

34 minggu, tunggal,

bulan, ibu mulai merasakan pergerakan anak pada

hidup, intrauterine,

bulan ke 4 kehamilan. Ibu mengatakan sering

puka, preskep, ku ibu

pusing sejak 2 hari yang lalu, badan lemas, cepat

dan janin baik, ibu

lelah, badan pegal-pegal dan nafsu makan

dengan anemia ringan

berkurang

Masalah : ibu cemas

HPHT : 09-11-2012

karena badannya

TP : 16-08-2013

terasa pegal-pegal,
lemas dan pusing

O- KU ibu baik, kesadaran composmentis dan ibu


anemia ringan

Kebutuhan :
Informasikan
kebutuhan ibu dan
beri dukungan moral

Perut Ibu membesar sesuai usia kehamilan


Pembesaran membujur
TTV

T :120/80mmHg

Rr : 20x/menit

N : 80x/menit

S : 36,3 0C

TB : 149 cm
BB sebelum hamil : 42 kg
BB sekarang : 50 kg
Lila : 24 cm

Conjungtiva : pucat

- Abdomen : pembesaran perut sesuai usia kehamilan,


pembesaran membujur, perut tidak mengkilat, ada
striae lividae, terdapat linea nigra, ada luka bekas
operasi
50

Palpasi :
- LI : TFU pertengahan pusat-px(29cm), pada fundus
teraba bagian yang lunak, kurang bundar, kurang
melenting
- LII: Pada dinding perut sebelah kanan teraba bagian
keras memanjang seperti papan. Pada dinding
perut sbelah kiri teraba bagian kecil janin
- LIII: Pada perut bawah teraba bagian keras, bundar,
melenting (kepala belum masuk PAP)
Auskultasi
DJJ + , kuat, teratur 145 x/menit, punctum
maksimum 1 jari kanan bawah pusat
-

Pemeriksaan

Penunjang

(Laboratorium Klinik rawat jalan RSUP Dr. M.


Djamil)
Hemoglobin : 10,7 gr/dL nilai rujukan 12.00-14.00

C. Identifikasi dan Antisipasi Diagnosa Potensial


Potensial terjadi anemia sedang dan anemia berat persalinan lama, terjadi infeksi,
perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD), terjadi sub invulosi uteri yang
menimbulkan perdarahan antepartum, pengeluaran ASI berkurang.
D. Tindakan Segera
Kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk pemberian terapi dan pemeriksaan USG

51

E. Perencanaan
1.

Jelaskan hasil pemeriksaan kepada Ibu

2.

Jelaskan pada ibu dampak anemia

3.

Jelaskan pada Ibu tentang kebutuhan dasar Ibu Hamil


-

Nutrisi

Eliminasi

- Rekreasi

Istirahat

- kehidupan seksual

Personal hygiene

4.

- Aktivitas

Jelaskan pada Ibu tentang keluhan-keluhan yang sering


muncul pada kehamilan TM III dan cara mengatasinya

5.

Beritahu Ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan

6.

Berikan tablet tambah darah dan kalsium

7.

Anjurkan ibu untuk melakukan USG

8.

Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang

E. Pelaksanaan
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada Ibu
-

Keadaan ibu dan janin baik

Ibu hamil 33-34 minggu

Kehamilan Ibu tunggal, dalam rahim, letak normal

Ibu mengalami anemia atau kurang darah ringan

2. Menjelaskan kepada ibu tentang dampak anemia yaitu berpotensial terjadinya


persalinan lama, terjadi infeksi, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD),
terjadi sub invulosi uteri yang menimbulkan perdarahan antepartum, pengeluaran ASI
berkurang
3. Menjelaskan pada Ibu tentang kebutuhan dasar Ibu Hamil
52

Ibu harus makan makanan bergizi (nasi, sayur, lauk, buah, susu), porsi
cukup, tidak terlalu banyak karena penambahan BB pada TM III tidak boleh lebih
dari 5 kg, nasinya dikurangi dibandingkan TM II, diet tinggi protein, sayur, dan
buah.

Sering pipis adalah hal yang wajar. Meminta Ibu untuk mempertahankan
keteraturan BAK dengan minum banyak, diet tinggi serat, dan tidak menahan
BAK

Tidur yang dibutuhkan Ibu hamil sekitar 10-11 jam, yaitu total tidur siang dan
malam

Celana dalam hendaknya yang longgar, selalu ganti selagi terasa basah, pakai bra
yang menopang, cebok setelah BAK dan BAB dari depan ke belakang

Semakin tua usia kehamilan hendaknya Ibu mengurangi sedikit demi sedikit
aktivitasnya.

Memotivasi Ibu untuk terus melanjutkan rutinitas jalan pagi

4. Menjelaskan pada Ibu tentang keluhan-keluhan yang sering muncul pada kehamilan
TM III dan cara mengatasinya
-

Keputihan diatasi dengan sering ganti celana dalam, hindari CD dari


nilon

Sembelit diatasi dengan intake cairan, serat dalam diet, istirahat cukup, senam
hamil, BAB segera setelah ada dorongan, jalan-jalan

Sering kencing diatasi dengan mengurangi minum 2-3 jam sebelum tidur, tidak
menahan BAK, menghindari minuman diuretic (teh, kopi, minuman bersoda).

Nyeri pinggang, mengajari Ibu tentang body mekanik dan menganjurkan untuk
tidak memakai sepatu atau sendal hak tinggi.

5. Memberitahu Ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, yaitu :


53

Perdarahan pervaginam

Sakit kepala lebih dari biasa

Gangguan penglihatan tiba-tiba

Pembengkaan pada wajah / tangan

Nyeri abdomen / epigastrik

Janin tidak bergerak sebanyak biasanya

6. Memberikan tablet tambah darah dan kalsium, menganjurkan untuk minum tablet
tambah darah bersama dengan tomat / jeruk supaya penyerapan Fe dalam tubuh lebih
maksimal.
7. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG
8. Meminta Ibu untuk kontrol ulang 1 minggu lagi
F. Evaluasi
1. Ibu sudah mengerti dengan penjelasan tentang :
-

Hasil pemeriksaan

Kebutuhan dasar Ibu hamil

Keluhan yang sering muncul pada TM III, dan cara mengatasi

Tanda bahaya kehamilan

2. Ibu sudah mengetahui tentang dampak anemia


3. Ibu sudah mengetahui dan mampu menjelaskan kembali tentang kebutuhan dasar Ibu
Hamil, keluhan yang sering muncul pada TM III dan cara mengatasi, serta Tanda
bahaya kehamilan
4. Sudah diberikan terapi
5. Ibu setuju melakukan pemeriksaan USG
6. Ibu setuju untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu lagi

54

BAB IV
KAJIAN ASUHAN
Berdasarkan data subjektif dan data objektif yang diperoleh pada kasus ibu Ny.
NA didapatkan data bahwa ibu mengatakan badannya terasa pegal-pegal, pusing, lemas
nafsu makan berkurang, dan pada pemeriksaan fisik conjungtiva mata pucat, keadaan
umum ibu baik, TD : 120/80 mmHg, S : 36,3C, R : 20 x/menit, N : 80 x/menit dan Hb :
10,7 gr%.
Menurut Depkes RI (2009), anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan
kadar hemoglobin < 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin < 10,5 gr%
55

pada trimester II. Menururt Word Health Organization (WHO) anemia pada ibu hamil
adalah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11 % . Anemia pada ibu hamil di Indonesia sangat
bervariasi dan dikatakan Anemia ringan : Hb 9-10.9 gr%. Dan menurut Manuaba (2007),
tanda dan gejala anemia adalah cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, nafsu
makan menurun dan mual-mual. Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami ibu Ny. NA
menunjukkan antara teori dan kasus sama.
Perubahan pola makan yang dialami oleh ibu Ny. NA selama 2 minggu terakhir
ini adalah kurangnya selera makan ibu. Dimana pola makan yang salah pada ibu hamil
membawa dampak terhadap terjadinya gangguan gizi antara lain anemia. Menunjukkan
bahwa semakin kurang baik pola makan, akan semakin tinggi angka kejadian anemia
pada ibu hamil. Kurangnya selera makan ibu dipicu oleh karena gangguan psikologis ibu
yaitu ibu merasa sangat takut dan cemas dalam menghadapi persalinan yang semakin
dekat. Karena ini merupakan kehamilan yang ke empat dan mempunyai riwayat SC 2
kali.
Selama kehamilan ini ibu Ny.NA melakukan kunjungan ANC di Puskesmas
Pancung Soal Pesisir Selatan secara teratur yaitu 3x pada trimester I, 4x trimester II dan
3x trimester III. Dan pada setiap kali kunjungan petugas kesehatan di puskesmas ibu
selalu mendapatkan informasi atau konseling atau penyuluhan sesuai dengan kebutuhan
ibu, yaitu :
a. Trimester pertama sebelum minggu ke 14
Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil.
Mendeteksi masalah dan menanganinya
Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan
zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan
Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi
Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan
sebagainya
b. Trimester kedua sebelum minggu ke 28

56

Sama seperti diatas, ditambah kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (tanya


ibu tentang gejala gejala preeklamsia, pantau tekanan darah, evaluasi edema,
periksa untuk apakah ada kehamilan ganda.
c. Trimester ketiga antara minggu 28-36
Sama seperti diatas, dtambah palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada
kehamilan ganda.
d. Trimester ketiga setelah 36 minggu
Sama seperti diatas, ditambah deteksi letak bayi yang tidak normal, atau kondisi lain
yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.
Pada kunjungan terakhir di puskesmas ibu dianjurkan untuk dirujuk ke
RSUP.Dr.M.Djamil mengingat riwayat persalinan ibu yang lalu adalah SC 2x sekaligus
menganjurkan ibu untuk melakukan sterilisasi atau Kontap. Namun hal ini kurang
dimengerti oleh ibu dan suami. Dimana ibu menginginkan persalinan secara normal saja,
ibu dan suami menginginkan kehamilan berikutnya untuk mendapatkan anak perempuan
karena anak-anak mereka berjenis kelamin laki-laki semua. Hal ini juga dipengaruhi oleh
budaya minang, bahwa anak perempuan merupakan penerus keturunan keluarga
(matrilinear).
Ibu mengatakan bahwa ini merupakan kehamilan yang ke empat. Anak pertama
lahir laki-laki, BB 2800 gr, PB 48 cm, SC di RSUP M. Djamil karena KPD tahun 2003.
Anak kedua lahir laki-laki, BB 2800 gr, PB 49 cm, V.E di RSUP M. Djamil tahun 2006.
Anak ketiga lahir laki-laki, BB 3400 gr, PB 49 cm, SC, di RSUP M. Djamil tahun 2010.
Upaya Pencegahan atau preventif dan Penanggulangan Anemia Zat Besi Pada Ibu
Hamil
Memberikan pendidikan kesehatan atau KIE kepada ibu hamil berupa :
1.

Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami, terutama


makanan sumber hewani (hem iron) yang mudah diserap seperti hati, daging, ikan, ayam.
Selain itu perlu ditingkatkan juga, makanan yang banyak mengandung Vitamin C yang
bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi misalnya : jambu, jeruk, tomat dan
57

Vitamin A (buah-buahan dan sayuran) untuk membantu penyerapan zat besi dan
membantu proses pembentukan Hb.
2.
Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan zat besi, asam
folat, vitamin A dan asam amino esensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas
oleh kelompok sasaran. Penambahan zat besi ini umumnya dilakukan pada bahan
makanan hasil produksi industri pangan. Produk makanan fortifikasi yang lazim adalah
tepung gandum serta roti makanan yang terbuat dari jagung dan bubur jagung serta
beberapa produk susu
3.

Suplementasi besi-folat secara rutin selama jangka waktu


tertentu, bertujuan untuk meningkatkan kadar Hb secara cepat. Dengan demikian
suplementasi zat besi hanya merupakan salah satu upaya pencegahan dan

penanggulangan kurang zat besi yang perlu diikuti dengan cara lainnya.
4.
Berdasarkan pelayanan/asuhan standar minimal Antenatal Care
(ANC) yaitu pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan. Tablet zat
besi diberikan pada ibu hamil sesuai dengan dosis dan cara yang ditentukan yaitu :
a. Dosis pencegahan
Diberikan pada kelompok sasaran tanpa pemeriksaan Hb. Dosisnya yaitu 1 tablet (60
mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat) berturut-turut selama minimal 90 hari
masa kehamilan mulai pemberian pada waktu pertama kali ibu memeriksa
kehamilannya (K1).
b. Dosis Pengobatan
Diberikan pada sasaran (Hb <ambang batas) yaitu bila kadar Hb < 11gr% pemberian
menjadi 3 tablet sehari selama 90 hari kehamilannya.
Suplementasi tablet zat besi adalah pemberian zat besi folat yang berbentuk tablet.
Tiap tablet 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat, yang diberikan oleh
pemerintah pada ibu hamil untuk mengatasi masalah anemia gizi besi. Pemberian
suplementasi zat besi menguntungkan karena dapat memperbaiki status Hb dalam
tubuh dalam waktu relatif singkat. Sampai sekarang cara ini masih merupakan salah
satu cara yang dilakukan pada ibu hamil dan kelompok yang beresiko tingi lainnya.

58

Di Indonesia tablet besi yang digunakan Ferrous Sulfat senyawa ini tergolong murah
dan dapat diabsorbsi sampai 20%.
Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil
dan nifas karena pada masa kehamilan dan nifas kebutuhan meningkat. Tablet besi
sebaiknya tidak di minum bersama teh atau kopi, karena mengganggu penyerapan.

Dan beberapa literatur membedakan pencegahan atau preventif anemia pada ibu hamil
yaitu :
1. Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu
penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Promosi kesehatan, pendidikan
kesehatan dan perlindungan kesehatan adalah tiga aspek utama di dalam pencegahan
primer.29 Dalam hal ini pencegahan primer ditujukan kepada ibu hamil yang belum
anemia. Tujuan pencegahan ini untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru
penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko.
Pencegahan primer meliputi:
a. Edukasi (Penyuluhan)
Petugas kesehatan dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan
nutrition education berupa dorongan agar ibu hamil mengkonsumsi bahan
makanan yang tinggi Fe dan konsumsi tablet besi atau tablet tambah darah
minimal selama 90 hari. Edukasi tidak hanya diberikan pada saat ibu hamil,
tetapi ketika belum hamil. Penanggulangannya, dimulai jauh sebelum
peristiwa melahirkan. Selain itu, petugas kesehatan juga dapat berperan
sebagai konselor atau sebagai sumber berkonsultasi bagi ibu hamil mengenai
cara mencegah anemia pada kehamilan. Suplementasi Fe adalah salah satu
strategi untuk meningkatkan intake Fe yang berhasil hanya jika individu
mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor yang mendukung rendahnya

59

tingkat kepatuhan tersebut, salah satunya adalah efek samping yang tidak
nyaman dari mengkonsumsi Fe adalah melalui pendidikan tentang pentingnya
suplementasi Fe dan efek samping akibat minum Fe.
b. Suplementasi Fe (Tablet Besi)
Anemia defisiensi besi dicegah dengan memelihara keseimbangan antara
asupan Fe dan kehilangan Fe. Jumlah Fe yang dibutuhkan untuk memelihara
keseimbangan ini bervariasi antara satu wanita dengan yang lainnya
tergantung pada riwayat reproduksi. Jika kebutuhan Fe tidak cukup terpenuhi
dari diet makanan, dapat ditambah dengan suplemen Fe terutama bagi wanita
hamil dan masa nifas.24 Suplemen besi dosis rendah (30mg/hari) sudah mulai
diberikan sejak kunjungan pertama ibu hamil.
c. Fortifikasi Makanan dengan Zat Besi
Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses secara
terpusat merupakan inti pengawasan anemia di berbagai Negara. Fortifikasi
makanan merupakan cara terampuh dalam pencegahan defisiensi besi. Produk
makanan fortifikasi yang lazim adalah tepung gandum serta roti makanan yang
terbuat dari jagung dan bubur jagung serta beberapa produk susu.
2. Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan diantaranya
adalah :
a. Skrining diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok wanita yang harus
diobati dalam mengurangi morbiditas anemia. Bagi wanita hamil harus
dilakukan skrining pada kunjungan I dan rutin pada setiap trimester.24
Skrining dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi
apakah ibu hamil anemia atau tidak, jika anemia, apakah ibu hamil masuk
dalam anemia ringan, sedang, atau berat. Selain itu, juga dilakukan
pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung seperti tekanan
darah, nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga,

60

tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan yang sesuai dengan hasil


tersebut. Jika anemia berat ( Hb < 9 g/dl) dan Hct <27%) harus dirujuk kepada
dokter ahli yang berpengalaman untuk mendapat pertolongan medis.
b. Pemberian terapi dan Tablet Fe
Jika ibu hamil terkena anemia, maka dapat ditangani dengan memberikan
terapi oral dan parenteral berupa Fe dan memberikan rujukan kepada ibu
hamil ke rumah sakit untuk diberikan transfusi (jika anemia berat)
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan
menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera atau ketidakmampuan sudah terjadi
dan menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini pencegahan tersier ditujukan kepada ibu
hamil yang mengalami anemia yang cukup parah dilakukan untuk mencegah
perkembangan penyakit ke arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup
klien seperti untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan,
keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang dan memperpanjang
hidup. Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu :
a. Memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin
b.

Mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat pada ibu
hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan tetap
mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah persalinan.

Ibu Ny. NA adalah G4P3A0H3 dengan usia kehamilan 33-34 minggu (kehamilan
trimester III). Pada kehamilan trimester III kebutuhan akan berbagai zat gizi termasuk zat
besi akan terus meningkat sampai pada akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester
III diperlukan untuk janin, plasenta dan penambahan volume darah ibu dan payudara.
Sehingga pada kehamilan trimester III ibu akan mengalami anemia.

61

Menurut penelitian Yacoob et al, 2011 tentang Effect of routione iron suplementation
with or without folic acid on anemia during pregnancy menyatakan bahwa suplemen zat
besi memiliki manfaat sangat signifikans dalam mengurangi kejadian anemia pada kehamilan
atau dikenal dengan istilah defisiensi zat besi. Zat besi yang dikombinasikan dengan asam
folat juga memberikan dampak yang menguntungkan dalam mengurangi kejadian anemia
pada wanita hamil terutama di negara-negara berkembang karena selama hamil dibutuhkan
banyak nutrisi baik bagi ibu dan janinnya.
Dan hal yang sama juga diteliti oleh Osungbade, et al, 2012 tentang Preventive
treatments of iron deficiency anaemia in pregnancy menyatakan bahwa :
a. Kekurangan zat besi masih menjadi penyebab paling tinggi dari anemia pada kehamilan
di negara-negara berkembang. Sehingga memberikan kontribusi yang tinggi juga dengan
resiko BBLR, prematur dan morbiditas pada ibu. Dan salah satu cara pencegahan
defisiensi zat besi dengan memberikan suplemen zat besi dan fortifikasi makanan yang
mengandung zat besi merupakan prospek yang bagus dalam meningkatkan kesehatan ibu
dan anaknya. Dan advokasi yang berkelanjutan dalam menanggulangi defisiensi
mikronutrien pada tingkat nasional dan internasional merupakan salah satu kebijakan
untuk pencapaian MDGs ke 4 dan 5.
b. Pencegahan pilihan pengobatan berdasarkan evidence-based, yaitu :
Pemberian suplemen besi
Pemberian suplemen besi pada wanita hamil sangat dianjurkan terutama di negaranegara berkembang, dimana terjadi masalah dengan kebutuhan nutrien. Selama
kehamilan kebutuhan zat besi tidak sama. Pada trimester I, kebutuhan menurun
setipa hari karena tidak adanya menstruasi, dengan demikian menghemat sekitar
0,56 mg zat besi perhari atau 160 mg untuk kehamilan. Pada trimester II, volume
darah meningkat sebesar 45% dengan peningkatan volume plasma dari 50% dan
62

massa sel eritrosit meningkat sebesar 35%. Pada timester III kebutuhan zat besi
meningkat untuk kebutuhan janin yang diperkirakan sekitar 270 mg pada 3 kg
janin. Oleh sebab itu, rata-rata dosis harian zat besi 4-6 mg pada tirmester II dan
III.
Fortifikasi pangan dengan zat besi.
Fortifikasi zat besi dengan penambahan asam folat merupakan pencegahan anemia
dengan defisiensi zar besi pada kehamilan di negara-negara berkembang. Untuk
tujuan ini, maka berbagai makanan seperti tepung sereal (jagung atau gandum),
garam, minuman, susu, gula, mie, beras dan kecap telah diperkaya dengan zat besi
dan digunakan dengan sukses sebagai suplemen mikronutrien untuk meningkatkan
simpanan zat besi sehingga meningkatkan kadar hemoglobin.
Menurut penelitian Masharova, et al tentang Anaemias In Pregnancy: Diagnosis And
Prevention menyatakan bahwa :
a. Dampak anemia pada kehamilan, yaitu :
- Meningkatkan kemungkinan retardasi pertumbuhan janin
- Kelahiran prematur
- Perdarahan
b. Pencegahan anemia pada kehamilan :
- Kunjungan ANC yang teratur minimal 4 x selama kehamilan yaitu 1x pada
-

trimseter I, 1x trimester II dan 2x trimester III.


Pendidikan tentang kebutuhan gizi, persiapan untuk menyusui
Penyediaan pelayanan kesehatan yang memadai bagi ibu dan anak
Akses tentang informasi dan pelayanan KB

Menurut Manfaat Nwach, et al, 2010 tentang Anaemia in pregnancy: associations


with parity, abortions and child spacing in primary healthcare clinic attendees in Trinidad
and Tobago menyatakan bahwa :

63

a.

Wanita anemia selama kehamilan 3,2 kali lebih besar pada paritas >3 daripada
ibu nullipara. Sebelum kelahiran akan mengurangi simpanan zat besi karena ada

kebutuhan untuk janin dan perdarahan pada kelahiran serta masa nifas.
b.
Pada wanita hamil usia 30-34 tahun lebih besar kemungkinan anemia
dibandingkan dengan usia 20-24 tahun.
c.
Menganjurkan ibu ber KB pada paritas tinggi untuk mengurangi atau
mencegah terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan

64

Dalam melakukan pengkajian terhadap ibu hamil dengan anemia ringan dilaksanakan
dengan pengumpulan data subjektif yang diperoleh dari hasil wawancara dari pasien
mengatakan badannya terasa lemas, pusing dan pegal-pegal dan data objektif diperoleh dari
pemeriksaan fisik conjungtiva mata ibu pucat dan data penunjang yang diperoleh dari hasil
pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan hemoglobin (Hb) 10,7 gr%.
Upaya pencegahan atau preventif anemiia zat besi pada ibu hamil dengan cara
memberikan pendidikan kesehatan atau KIE kepada ibu hamil berupa :
1.

Memberikan nutrition education


berupa dorongan agar ibu hamil mengkonsumsi bahan makanan yang tinggi Fe dan
konsumsi tablet besi atau tablet tambah darah minimal selama 90 hari yang merupakan
standar pelayanan minimal ANC. Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami,
terutama makanan sumber hewani (hem iron) yang mudah diserap seperti hati, daging,
ikan, ayam.

2.

Fortifikasi bahan makanan yaitu


menambahkan zat besi, asam folat, vitamin A dan asam amino esensial pada bahan
makanan seperti tepung gandum serta roti makanan yang terbuat dari jagung dan bubur
jagung serta beberapa produk susu.

3.

Melakukan kunjungan ANC yang


teratur minimal 4 x selama kehamilan yaitu 1x pada trimseter I, 1x trimester II dan 2x
trimester III.

4.

Menganjurkan ibu ber KB pada


paritas tinggi untuk mengurangi atau mencegah terjadinya komplikasi selama kehamilan
dan persalinan. Karena wanita anemia selama kehamilan 3,2 kali lebih besar pada paritas
>3 daripada ibu nullipara. Dan pada wanita hamil usia 30-34 tahun lebih besar
kemungkinan anemia dibandingkan dengan usia 20-24 tahun.

65

DAFTAR PUSTAKA
Abrahams, Peter, 2013, Panduan Kesehatan dalam Kehamilan, Karisma Publishing Group,
Tangerang Selatan
Benson, Ralph C, 2009, Buku Saku Obstetri & Ginekologi Edisi 9, Alih Bahasa dr. Susiani
Wijaya, EGC, Jakarta
Cunningham, Gary F, et al, 2006, Obstetri Williams Edisi 21, EGC, Jakarta
Cunningham, Gary F., et al, 2010, Williams Obstetrics 23rd edition. Mc Graw Hill, EGC,
Jakarta
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Depkes RI., 2009. Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta : Depkes RI
Fraser, Diane M, et al, 2009, Buku Ajar Bidan Myles, EGC, Jakarta
Krantz KE, 2003, Anatomy of The Female Reproduction System in Current Obstetric &
Gynecologic & Treathment Ed 9 McGraw-Hill Co
Khalafallah, et al, 2012, Iron Deficiency Anemia in Pregnancy and Postpartum, Hindawi
Publishing Corporation Journal of Pregnancy
Mochtar, R. (1998). Sinopsis Obstetri jilid I. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Moeloek FA, Hudono ST. Penyakit dan Kelainan Alat Kandungan. Dalam: Wiknjosastro H,
Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. 2005
Mansjoer, A, 2002, Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga, Cetakan Jilid I
Manuaba, 2002, Pengantar Kuliah Obstetri, Jakarta, EGC
Manuaba, 2007. Gawat Darurat Obstetri Ginekologi dan Obstetri Ginekologi Sosial untuk
Profesi Bidan, Jakarta, EGC
Ngui, et al, 2012, Association between anemia, Iron Deficiency anaemia, Neglected Parasitc
Infections and Sosioeconomic Factor in Rural Children of West Malaysia,
www.plosntds.org

66

Osungbade, et al, 2012, Preventive Treatments of Iron Deficiency Anemia in Pregnancy,


Hindawi Publishing Corporation Journal of Pregnancy,
Prawirohardjo, 2010, Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta
Stoppard, Mirriam, 2009, Ensiklopedia Kehamilan dan Kelahiran, Penerbit Erlangga, Jakarta
Saifuddin, Abdul, B, 2009, Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Varney, H. (2008). Buku ajar asuhan kebidanan, Ed. 4, Vol. 1. Jakarta: EGC
Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, 2008,
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Ilmu Kandungan. Edisi kedua.

Widjaja S, 2002, Anatomi Alat-Alat Rongga Panggul, Jakarta: Balai Pustaka Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Yakoob, et al, 2011, Effect of Routine Iron Supplementation with or Without Folic Acid on
Anemia During Pregnancy, http://www.biomedcentral.com

67