Anda di halaman 1dari 8

A.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum
Penentuan kadar boraks pada sampel bakso dengan titrasi asam basa.
2. Waktu Praktikum
Senin, 15 juni 2015
3. Tempat Praktikum
Lantai III, Laboratorium Kimia Dasar, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.
B. LANDASAN TEORI
Makanan adalah komponen utama yang sangat berperan penting dalam kehidupan umat
manusia. Tak satupun manusia dapat bertahan tanpa makanan sehari saja, sehingga dalam hal ini
makanan adalah penentu dari segala akivitas manusia. Makanan sering diistilahkan sebagai
segala sesuatu yang dapat dimakan atau dikonsumsi oleh manusia dan tidak mendatangkan
bahaya bagi orang yang mengkonsumsinya. Makanan biasa juga diistilahkan sebagai sesuatu
yang mengandung unsur atau zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dan mendatangkan manfaat
bagi orang yang mengkonsumsinya (Sediaoetomo, 2000:48).
Pada umumnya bahan makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air,
karbohidrat, protein, vitamin, lemak, enzim, pigmen dan lain-lain. Kandungan jenis bahan
tersebut bergantung pada sifat alamiah dari bahan makanan tersebut. Adakalanya makanan yang
tersedia tidak mempunyai bentuk yang menarik meskipun kandung gizinya tinggi, dengan arti
lain kualitas dari suatu produk makanan sangat ditentukan oleh tingkat kesukaan konsumen
terhadap makanan tersebut. Kualitas makanan adalah keseluruhan sifat-sifat dari makanan
tersebut yang berpengaruh terhadap penerimaan dari konsumen. Atribut kualitas makanan adalah
pertama, yaitu sifat indrawi/organoleptik yaitu sifat-sifat yang dapat dinilai dengan panca indra
seperti sifat penampakan (bentuk, ukuran, warna), atau rasa (asam, asin, manis, pahit dan flavor)
tekstur yaitu sifat yang dinilai dari indra peraba. Kedua, nilai gizi yaitu karbohidrat, protein,
vitamin, mineal, lemak dan serat. Ketiga, keamanan makanan yang dikonsumsi yaitu terbebas
dari bahan-bahan pencemar atau racun yang bersifat mikrobiologis dan kimiawi (Afrianti, 2008:
104).
Makanan yang dijajakan sekarang ini tidak terlepas dari zat atau bahan yang mengandung
unsur berbahaya dan pengawet yang dalam jumlah banyak menyebabkan kerusakan pada
jaringan tubuh. Jika suatu bahan makanan mengandung bahan yang sifatnya berbahaya bagi
kesehatan, maka makanan tersebut dikategorikan sebagai bahan makanan yang tidak layak
dikonsumsi. Makanan yang tidak layak dikonsumsi misalnya, makanan yang mengandung logam

berat (Pb, Cd, Hg, Ra, dsb), mengandung mikroorganisme yang berbahaya bagi tubuh,
mengandung bahan pengawet (Boraks, formalin, alkohol, dsb), serta makanan yang mengandung
zat pewarna berbahaya (Rhodamin B, Methanyl yellow atau Amaranth) (Effendy, 2004:76).
Boraks adalah senyawa berbentuk kristal putih tidak berbau dan stabil pada suhu
ruangan. Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetraborat (NaB4O7 10 H2O).
Jika larut dalam air akan menjadi hidroksida dan asam borat (H 3BO3). Boraks atau asam boraks
biasanya digunakan untuk bahan pembuat deterjen dan antiseptic. Mengkonsumsi makanan yang
mengandung boraks tidak berakibat buruk secara langsung, tetapi boraks akan menumpuk sedikit
demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Larangan penggunaan
boraks juga diperkuat dengan adanya Permenkes RI No 235/Menkes/VI/1984 tentang bahan
tambahan makanan, bahwa Natrium Tetraborate yang lebih dikenal dengan nama Boraks
digolongkan dalam bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan, tetapi pada
kenyatannya masih banyak bentuk penyalahgunaan dari zat tersebut (Subiyakto, 1991:89).
Boraks dinyatakan dapat mengganggu keseahatan bila digunakan dalam makanan,
misalnya mie, bakso kerupuk. Efek negatif yang ditimbulkan dapat berjalan lama meskipun yang
digunakan dalam jumlah sedikit. Jika tertelan boraks dapat mengakibatkan efek pada susunan
syaraf pusat, ginjal dan hati. Konsentrasi tertinggi dicapai selama ekskresi. Ginjal merupakan
organ paling mengalami kerusakan dibandingkan dengan organ lain. Dosis fatal untuk dewasa
15-20 g dan untuk anak-anak 3-6 g (Simpus, 2005).
Bakso merupakan produk dari daging, baik daging sapi, ayam ikan maupun udang. Bakso
dibuat dari daging giling dengan bahan tambahan utama garam dapur (NaCl), tepung tapioka,
danbumbu berbentuk bulat seperti kelereng dengan berat 25-30 gr per butir, banyak orang
menyukai bakso dari anak-anak sampai orang dewasa, bakso juga biasa digunakan dalam
campuran beragam masakan lainnya, sebut saja misalnya nasi goreng, mie goreng, capcay, dan
aneka sop (Widyaningsih, 2006 :292-293).
Hasil uji kualitatif boraks dengan uji nyala menggunakan pereaksi asam sulfat pekat dan
metanol, menunjukkan semua sampel yang di uji negatif mengandung boraks. Demikian pula dengan
uji warna yang menggunakan larutan kurkumin dan kertas whatman dengan pereaksi asam klorida
dan uap amoniak, tidak terjadi perubahan warna yang menandakan tidak mengandung boraks. Jika
mengandung boraks, warna yang terbentuk masing-masing pengujian terbentuk warna hijau
(Tumbel,2010).

Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa 80% dari
sampel yang diperiksa ternyata mengandung boraks. Kadar boraks yang ditemukan berkisar
antara 0,08-0,29% dari berbagai lokasi yang diteliti. Pereaksi kurkumin lebih sensitif daripada
asam sulfat pekat untuk mendeteksi boraks. Metode sentrifugasi memberikan hasil yang tidak
lebih baik daripada metode pengabuan namun lebih cepat dan dengan alat yang lebih sederhana.
Diperlukan penelitian dan analisis khusus untuk menentukan apakah metode sentrifugasi sama
baiknya dengan metode pengabuan yang sudah standar digunakan, sehingga metode sentrifugasi
dapat menjadi pengganti metode pengabuan (Silalahi,dkk,2010).
Beberapa uji kuantitatif untuk boraks yaitu : metode titrimetri (titrasi asam basa dan
titrasi dengan penambahan manitol) dan metode spektroskopi emisi. Penetapan kadar boraks
dalam pangan dengan metode titrimetri, yaitu dengan titrasi menggunakan larutan standar NaOH
dengan penambahan manitol akan menghasilkan warna merah muda yang mantap pada titik
akhir titrasi. Penetapan kadar boraks berdasarkan titrasi asam basa dengan menggunakan larutan
standar HCl 0,5N (Cahyadi, 2008).
C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
1. Alat-alat Praktikum
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
2.

Spatula
Gelas arloji
Timbangan analitik
Sendok
Gelas kimia 250 mL
Erlenmeyer 250 mL
Statif
Klem
Biuret 25 mL
Pipet tetes
Gelas ukur 25 mL
Kertas saring
Bahan-bahan praktikum
a. Larutan NaOH 0,1 N
b. Akuades
c. HCl pekat
d. Indikator PP
e. Manitol
f. Sampel Bakso
D. SKEMA KERJA
a. Penentuan kadar boraks

18gr sampel

Dihaluskan
Direndam dengan akuades sambil diaduk selama 1 jam
Disaring

Endapan

Filtrat

Diambil 25 mL
+2 tetes HCl pekat
+0,2 gr manitol
+2 tetes indikator pp
Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
(Diulangi langkah diatas untuk sampel B dan Sampel C)
b. Titrasi Blanko
25 mL akuades
+2 tetes
HasilHCl pekat
+0,2
gr manitol
(V NaOH)
+2 tetes indikator pp
Dititrasi dengan NaOH 0,1 N

E. HASIL PENGAMATAN
NO
1

Hasil
(V NaOH)

PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN
Penentuan kadar boraks pada
sampel bakso dengan titrasi
asam basa
18 gr sampel dihaluskan
diaduk kemudian

Baksonya menjadi halus


Warna
larutannya

direndam dengan

menjadi keruh
Filtrat yang diperoleh

aquades selama 1 jam

menjadi

lebih

jernih

dengan

disaring

ditamabah 2 tetes HCl

ditambah 0,2 gram

manitol
ditambah 2 tetes

indikator PP
dititrasi dengan larutan

panas

Warna larutan tetap

Setelah dititrasi warna


larutan

menjadi

pink

bening

Titrasi blanko
25 ml aquades ditambah

HCl pekat

Warna larutan bening


,dan timbul rasa panas
pada

dinding

Ditambah

0,2

gram

Erlenmeyer
Manitol larut

manitol
Ditambah

tetes

Warna

indikator PP
Dititrasi dengan NaOH
0,1N

laritan

10,1 Ml
9,7 mL
12,1 mL
9,7 mL

tetap

bening

Warna larutan menjadi


pink bening

Table volume titrasi


Blanko
Sampel bakso A
Sampel bakso B
Sampel bakso C

pada

tabung reaksi
Manitol larut

NaOH 0,1N

ada

endapan.
Warna larutan tetap,dan
timbul

pekat

tidak

F. ANALISIS DATA
Persamaan reaksi
H Cl pekat (aq )+ H 2 O(l ) HCl encer (aq) + H 2 O(l)
Na2B4O7(aq)+ 2HCl(aq)+5H2O(l)
C6H14O6(aq)+ H3BO3(aq)
H+(aq) + NaOH(aq)

4H3BO3(aq)+2NaCl(aq)
B(OH)4(CH)6(aq)+H+(aq)
Na+ (aq) +

+ H 2 O(l)

H 2 O(l )

DAFTAR PUSTAKA
Afrianti, leni herliani.2008. Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta : Alfabeta.
Cahyadi W. 2008. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta:
.Penerbit Bumi Aksara Jakarta.
Efendi,S.,2004. Penggunaan Bahan Tambahan Makanan. Jakarta :Alfabeta.
Sediaoetomo, A. D. 2000. Ilmu Gizi. Jilid I. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Silalahi,dkk.2010. Pemeriksaan Boraks di dalam Bakso di Medan. Sumatra : Universitas


Sumatera Utara.
Simpus. 2005. Bahaya Boraks. Pengantar Teknologi Pangan. Intisari Pustaka Utama;
Jakarta.
Subiyakto, M.G., 1991, Bakso Boraks dan Bleng. PT . Gramedia; Jakarta.
Tumbel,Maria. 2010. Qualitative Analysis of Borax in Wet Noodles Which Circulating in
Makassar City. Makassar : UNM Makassar.
Widianingsih DT, Murtini ES. 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada Produk .pangan.
Trubus Agriarana.; Surabaya.

LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS TERAPAN
Analisis Kandungan Boraks Dalam Bakso Digomong Mataram Dengan Metode Titrasi
Asam Basa

NAMA KELOMPOK
APRIANA SYAFITRI (G1C012002)
LILI NURMALASARI(G1C012019)

PRODI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MATARAM
2015