Anda di halaman 1dari 42

Nama : Neneng Mustikasari

NIM : 31111089
Mata Kuliah : Kapita Selekta Farmasi
Dosen : Dra. Hj. Lilis Tuslinah, M.Si., Apt
Indra, M.Si
Kelas/ Tingkat : B/ 4
Soal no. 1
Jelaskan stategi pengembangan obat secara sintetik serta penanganan limbah yang secara
umumnya dihasilkan dari suatu proses produksi sediaan farmasi.
(termasuk limbah antibiotika, senyawa kimia sebagai reagen dan pelarut non polar)
Jawaban :
STRATEGI PENGEMBANGAN OBAT SECARA SINTETIK
Industri farmasi merupakan salah satu industri farmasi yang mengalokasikan dana
yang cukup besar untuk penelitian dan pengembangan. Dari data IMS Health World Review
tahun 2004, industri farmasi membelanjakan tidak kurang dari US$ 100 Miliar per tahun
untuk penelitian dan pengembangan. Dana terbesar terutama digunakan untuk uji klinik yaitu
sekitar 40%.
Proses penemuan obat baru merupakan langkah yang sangat panjang dan melibatkan
berbagai disiplin ilmu. Secara garis besar, penelitian dan pengembangan suatu obat dibagi
menjadi beberapa tahapan sbb:
1. Sintesis dan screening molekul
2. Studi pada hewan percobaan
3. Studi pada manusia yang sehat (healthy volunteers)
4. Studi pada manusia yang sakit (pasien)
5. Studi pada manusia yang sakit dengan populasi diperbesar
6. Studi lanjutan (post marketing surveillance)

Sintesis dan screening molekul, merupakan tahap awal dari rangkaian penemuan
suatu obat. Pada tahap ini berbagai molekul atau senyawa yang berpotensi sebagai obat
disintesis, dimodifikasi atau bahkan direkayasa untuk mendapatkan senyawa atau molekul
obat yang diinginkan. Oleh karena penelitian obat biasanya ditargetkan untuk suatu daerah
tertapetik yang khas, potensi relatif pada produk saingan dan bentuk sediaan untuk manusia
bisa diketahui. Serupa dengan hal tersebut, ahli kimia medisinal mungkin mendalami
kelemahan molekul tersebut sebagai hasil usaha untuk mensintesis senyawa tersebut.
Ada dua paradigma teknologi baru yang berpengaruh radikal terhadap industri farmasi
yaitu

teknologi

informasi

dan

komunikasi

(Information

and

Communication

Technologies/ICT) dan bioteknologi. Dalam hal R&D, ICT memungkinkan mekanisasi dan
automatisasi penemuan obat dan proses pengembangannya. Dengan Combinatorial
Chemistry dapat dilakuakn sintesis molekul yang lebih masal yang dikontrol oleh robot
komputer. Dengan menggunakan teknologi ini permutasi dan kombinasi building block kimia
dapat dilakukan secra cepat, mencapai ratusan ribu senyawa tiap minggu.
Dengan metode yang lama hanya menghasilkan beberapa ratus senyawa kimia.
Kombinasi dariCombinatorial Chemsitry dan High Throuhput Screening (HTS) dapat
meningkatakan 7 kali lipat dalam pengujian (test) senyawa kimia untuk dikembankan lebih
lanjut sebagai obat penemuan baru. Pada saat yang sama telah dikembangkan program
komputer yang dapat menunjukkan (display) tiga dimensi images of molecule ketika dirotasi
dan juga memberikan representasi dinamik dari potensi reaksi antara obat dengan enzim
tertentu. Selain itu komputer dapat menunjukkan manipulasi dari sites of biochemical
action dan prediksi tentang toksisitas dan khasiat (efficacy) dari struktur kimia termaskud
serta efek biologisnya (baca: Bionformatika Docking).
Selain itu, penelusuran literatur juga harus dilakukan untuk memberikan pengertian
tentang mekanisme pelapukan yang mungkin terjadi dan kondisi-kondisi yang dapat
meningkatkan peruraian obat. Informasi ini dapat menyarankan suatu cara stabilisasi, kunci
uji stabilitas atau senyawa acuan stabilitas. Informasi tentang cara atau metode yang
diusulkan dari pemberian obat, seperti juga melihat kembali literatur tentang formulasi,
bioavaibilitas, dan farmakokinetika dari obat-obat yang serupa, seringkali berguna bila
menentukan bagaimana mengoptimumkan bioavaibilitas suatu kandidat obat baru. Jika suatu
senyawa atau molekul aktif telah dibuktikan secara farmakologis, maka senyawa tersebut
selanjutnya memasuki tahap pengembangan dalam bentuk molekul optimumnya.

Setelah disintesis, suatu senyawa melalui proses screening, yang melibatkan


pengujian awal obat pada sejumlah kecil hewan dari jenis yang berbeda (biasanya 3 jenis
hewan) ditambah uji mikrobiologi untuk menemukan adanya efek senyawa kimia yang
menguntungkan. Meskipun ada faktor lucky (kebetulan) dalam upaya ini, umumnya
pendekatannya cukup terkontrol berdasarkan struktur senyawa yang telah diketahui. Pada
tahap ini sering kali dilakukan pengujian yang melibatkan teratogenitas, mutagenesis dan
karsinogenitas, di samping pemeriksaan LD50, toksisitas akut dan kronik. Uji praklinik
merupakan persyaratan uji untuk calon obat. Dari uji ini diperoleh informasi tentang efikasi
(efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat. Pada mulanya yang
dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada reseptor dengan kultur sel
terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu menguji pada hewan utuh. Hewan
yang baku digunakan adalah galur tertentu dari mencit, tikus, kelinci, marmot, hamster,
anjing atau beberapa uji menggunakan primata. Hewan-hewan ini sangat berjasa bagi
pengembangan obat. Karena hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui apakah
obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau tidak.

Penelitian toksistas merupakan cara potesial untuk mengevaluasi:


a. Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis
b. Kerusakan genetik (genotoksisitas atau mutagensis)
c. Pertumbuhan tumor (onkogenesis atau karsinogenesis)
d. Kejadian cacat waktu lahir (teratogenik)
Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetika obat
meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Semua hasil pengamatan pada
hewan tersebut menetukan apakah calon obat tersebut dapat diteruskan dengan uji pada
manusia atau tidak. Ahli farmakologi bekerja sam dengan ahli teknologi farmasi dalam
pembuatan formula obat, menghasilkan bentuk-bentuk sediaan obat yang akan diuji pada
manusia. Di samping uji pada hewan untuk mengurangi penggunaan hewan percobaan telah
dikembangkan pula berbagai uji in vitro untuk menentukan khasiat obat contonya uji aktivitas
enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji antimikroba pada pembenihan mikroba, uji

antioksidan dengan DPPH, uji antiinflamasi, dll untuk menggantikan uji khasiat pada hewan.
Akan tetapi belum semua uji dapat dilakukan secara in vitro. Uji toksistas sampai saat ini
masih tetap dilakukan pada hewan percobaan, belum ada metode lain yang menjamin hasil
yang dapat menggambarkan toksisitas pada manusia. Di samping itu, uji pada hewan
percobaan ini juga dirancang dengan perhatian khusus pada kemungkinan pengujian obat itu
lebih lanjut pada manusia atau uji klinis. Oleh karenanya, pada uji pra-klnis ini dirancang
dengan pertimbangan:
a. Lamanya pemberian obat itu menurut dugaan kepada manusia
b. Kelompok umur dan kondisi fisik manusia yang dituju dengan pertimbangan khusus untuk
anak-anak, wanita hamil atau orang usia lanjut.
c. Efek obat menurut dugaan pada manusia.
Setelah melewati uji pra klinis, maka senyawa atau molekul kandidat calon obat tersebut
menjadi IND (Investigasional New Drug) atau obat baru dalam penelitian. Setelah calon obat
dinaytakan mempunyai kemanfaatan danaman pada hewan percobaan maka selanjutnya diji
pada manusia (uji klinik). Uji pada manusia Uji klinis pada manusia harus diteliti dulu
kelayakannya oleh komite etik mengikuti Deklarasi Helsinki.
Uji klinik terdiri dari 4 fase yaitu:
Fase I, calon obat diuji pada sukarelawan sehat untuk mengetahui apakah sifat yang diamati
pada hewan percobaan juga terlihat pada manusia. Pada fase ini ditentukan hubungan dosis
dengan efek yang ditimbulkannya dan profil farmakokinetik obat pada manusia.
Fase II, calon obat diuji pada pasien tertentu diamati efikasi pada penyakit yang diobati.
Yang diharapkan dari obat adalah mempunyai efek yang potensial dengan efek samping
rendah atau tidak toksik. Pada fase ini mulai dilakukan pengembangan dan uji stabilitas
bentuk sediaan obat.
Fase III, melibatkan kelompok besar pasien. Di sini obat baru dibandingkan efek dan
keamanannya terhadap obat pembanding yang sudah diketahui. Semula uji klinik banyak
senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat digunakan. Akhirnya obat baru hanya lolos satu

atau lebih kurang 10.000 seyawa yang disintesis karena risikonya lebih besar dari manfaatnya
atau kemanfaatnnya lebih kecil dari obat yang sudah ada. Keputusan untuk mengakui obat
baru dilakukan oleh badan pengatur nasional di Indonesia oleh BPOM (Badan Pengawas
Obat dan Makanan), di AS adalah FDA (Food and Drug Administration), di Kanada oleh
Health Canada, di Inggris oleh MHRA (Medicine and Healthcare Product Regulatory
Agency), di negara Eropa lain oleh EMEA (European Agency for the Evaluation of Medicinal
Product) dan di Australia oleh TGA (Therapeutics Good Administration). Untuk dapat dinilai
oleh badan tersebut, industri pengusul harus menyerahkan data dokumen uji praklinik dan
klinik yang sesuai dengan indikasi yang diajukan, efikasi dan keamanannya harus sudah
ditentukan dari bentuk produknya (tablet, kapsul, dll) yang telah memenuhi persyaratan
produk melalui kontrol kualitas. Pengembangan obat tidak terbatas pada pembuatan produk
dengan zat baru, tetapi dapat juga dengan memodifikasi bentuk sediaan yang sudah ada atau
meneliti indikasi baru sebagai tambahan dari indikasi yang suda ada. Baik bentuk sediaan
baru maupun tambahan indikasi atau perubahan dosis dalam sediaan harus didaftarkan ke
Badan POM dan dinilai oleh Komisi Nasional Penilai Obat Jadi. Pengembangan ilmu
teknologi farmai dan biofarmasi melahirkan new drug delivery system terutama bentuk
sediaan seperti tablet lepas lambat, sediaan liposom, tablet salut enterik,mikro-enkapsulasi,
dll. Kemajuan dalam teknik rekombinasi DNA, kultur sel dan kultur jaringan telah memicu
kemajuan dalam produksi bahan baku obat seperti produksi insulin dll. (Baca lebih lengkap :
Perkembangan Produk Bioteknologi di Dunia) Setelah calon dapat dibuktikan berkhasiat
sekurang-kurangnya sama dengan obat yang sudah ada dan menunjukkan keamanan bagi si
pemakai maka obat baru diizinkan untuk diproduksi oleh industri sebagai legal drug dan
dipasarkan dengan nama dagang tertentu serta dapat diresepkan oleh dokter.
Fase IV, setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pasca pemasaran (post marketing
surveillance) yang diamati pada pasien dengan berbagai kondisi, berbagai usia dan ras. Studi
ini dilakukan dalam jangka panjang untuk melihat terapetik dan pengalaman jangka panjang
dalam menggunakan obat. Setelah hasil studi IV dievaluasi masih memungkinkan obat ditarik
dari

perdagangan

jika

membahayakan.

Sebagai

contoh

cerivastatin

(suatu

antihiperkolesterolemia yag dapat merusak ginjal), entero-vioform (kliokuinol suatu antidisentri amuba yang pada orang Jepang bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot
mata/SMON disesase), fenil pranol amin/PPA yang sering terdapat pada obat flu harus
diturunkan dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan
tekanan darah dan kontraksi jantung, triglitazon (antidiabetes yang bisa merusak hati), dan

Viox (rofecoxib) yang bisa merusak jantung. Penemuan obat baru chemotheraupetica (New
Chemical Entity/NCE) saat ini cenderung mengalami penurunan karena diberlakukannya
syarat yang sangat ketat untuk dapat diterima, diregistrasi dan diizinkan beredar sebagai obat.
Hal ini berlaku di negara-negara Eropa, AS dan negara maju lainnya. Persyaratan ketat ini
memerlukan penelitian farmakologi dan kemanan yang jauh lebih luas dan dengan sendirinya
memerlukan biaya yang sangat tinggi. Jangka penemuan obat baru sejak awal ditemukan
suatu bahan kimia harus sampai menjadi obat baru yang diizinkan beredar memerlukan waktu
10-12 tahun dan biaya peneltian lebih kurang USD 350-800 juta.

Analisa Industri Farmasi Indonesia


Isu pokok bahan baku obat di Indonesia sejak dahulu kala belum berubah. Sudah
sering dibahas dan dibicarakan, misalnya, sejak Dr. Harjanto Dhanutirto menjadi Menteri
Negara Hortikultura sampai saat ini, dengan kecenderungan menimpakan kesalahan kepada
manajemen pemerintahan Indonesia (ISFI, 1997; Kardono, 2004; Sparinga 2010). Isu pokok
tersebut antara lain, lebih dari 96% impor bahan baku obat Indonesia; sebagian yang
diproduksi di Indonesia di bawah lisensi teknologi luar negeri menggunakan bahan baku
intermediate impor juga belum bisa bersaing, pembinaan industri kimia hulu (Kementrian
Perindustrian) dan hilir (Kementrian Kesehatan) belum ada pada penguasaan teknologi yang
mendorong keterkaitannya dalam klaster industri, lemahnya kelembagaan, sumber daya,
jejaring ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk memperkuat inovasi, dana riset
terbatas, dan regulasi belum kondusif (Sparinga, 2010).
Naskah Akademis Analisa dan Strategi Nasional yang dilakukan oleh Ikatan Sarjana
Farmasi tahun 1997, dan disampaikan kepada Menteri Negara Hortikultura dan Obat, sampai
sekarang secara relatif masih belum banyak mengalami perubahan. Dalam beberapa
pertemuan di dua tahun terakhir yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dan Badan
Koordinasi Penanaman Modal, terlihat pengembangan bahan baku obat di Indonesia belum
banyak mengalami perubahan. Analisa dan Strategi Nasional yang disampaikan oleh ISFI
tersebut dengan beberapa modifikasi disampaikan kembali dalam kesempatan ini, antara lain:
Strength (Kekuatan)
Dari sudut pandang teknik farmasi, teknologi dan kualitas obat-obatan yang
diproduksi di Indonesia sangat baik. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa Good
Manufacturing Practice dengan standar yang tinggi telah diterapkan di Indonesia. Proses
produksi ini, sebagian besar masih padat karya dengan biaya tenaga kerja yang relatif rendah.

Jumlah industri yang besar dan heterogen menyebabkan semua segmen pasar dapat
memenuhi kebutuhan mereka yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Weakness (Kelemahan)
Komponen impor obat masih sangat tinggi, mencakup 90% dari bahan baku yang
digunakan (senyawa aktif dan pendukung) dan sekitar 50% dari bahan kemasan. Produksi
domestik senyawa aktif relatif kecil dan tidak signifikan, harga tidak bersaing dengan harga
bahan yang diimpor. Upaya swasembada substansi dasar sering tersandung pada fakta-fakta,
antara lain: berbagai jenis bahan dasar digunakan oleh industri farmasi (hingga 6.000 jenis),
banyak di antaranya apabila dikembangkan dalam skala produksi tidak layak secara ekonomi,
masalah utama adalah dalam penyediaan bahan dasar untuk bahan baku dari produk lokal.
Hal ini berkaitan dengan industri kimia dasar yang belum berkembang untuk mendukung
dalam memasok bahan antara substansi dasar untuk pembuatan obat. Ketergantungan
intermediate substansi dasar pada tingkat tertentu dapat mengurangi manfaat dari sintesis
lokal. Koordinasi antara industri terkait tidak cukup baik, sebagai contoh, koordinasi antara
industri petrokimia dan industri farmasi. Seringkali industri farmasi menghadapi kesulitan
karena bahan dasar tidak dapat diproduksi secara lokal.
Perlu dicatat bahwa dari sudut pandang lain, swasembada bisa dicapai jika nilai
ekspor bahan dasar sama atau lebih besar dibandingkan dengan yang nilai impor. Dalam
konteks ini, Indonesia tidak perlu untuk menghasilkan semua dari 6.000 jenis yang
disebutkan di atas, seandainya memang memiliki nilai ekspor yang cukup. Jumlah industri
besar (300 industri) dengan nilai pasar yang relatif kecil, sehingga pasar sangat
terfragmentasi sebagai akibat dari skala ekonomi yang rendah, hal tersebut disebabkan oleh
efisiensi rendah dan banyak kapasitas menganggur (idle) (ISFI, 1997).
Industri farmasi pada dasarnya merupakan industri yang knowledge intensive dan
sangat diatur, tetapi aspek regulasi industri farmasi di Indonesia cukup berat. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa kebijakan yang ada disusun lebih berdasarkan pada semangat
mengendalikan daripada mengembangkan, implementasi lambat karena ketidakseimbangan
antara jumlah aparat pemerintah yang melakukan kontrol dan industri swasta yang dilayani.
Rantai lainnya yang merupakan bagian dari aspek pemasaran dan distribusi produk industri
farmasi masih belum seimbang secara kualitatif dan kuantitatif.
Opportunities (Kesempatan)
Populasi Indonesia yang besar dan konsumsi obat per kapita yang rendah
menunjukkan potensi untuk mengembangkan pasar. Peluang ekspor terbuka karena

globalisasi dan pasar terbuka serta pelaksanaan praktek manufaktur yang baik di Indonesia.
Sudah adanya kecenderungan untuk mengembangkan sistem kesehatan yang tepat dalam hal
distribusi dokter yang diperlukan termasuk spesialis. Adanya integrasi MDGs sebagai bagian
dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani penyelesaian terkait dengan
isu-isu yang sangat mendasar tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia,
perdamaian, keamanan, dan pembangunan.
Threat (Ancaman)
Persaingan Global yang terjadi di dunia telah memengaruhi banyak hal, termasuk
menurunnya daya saing dan daya beli masyarakat dan industri Indonesia termasuk dalam
membeli obat atau dalam penyediaan obat. Kondisi ini merupakan ancaman untuk
kelangsungan hidup industri farmasi nasional, khususnya untuk pasar lokal. Salah satu
dampak globalisasi adalah ratifikasi ACFTA, GATT, termasuk TRIPs, Hukum Paten,
mobilitas sumber daya yang sangat tinggi dan persaingan bebas. Bagi industri farmasi PMDN
dan beberapa industri farmasi tertentu, investasi asing yang digunakan mengandalkan produk
mereka dengan menyalin strategi produk baru, yang masih dalam paten, kondisi semacam ini
dapat dianggap sebagai ancaman. Hukum Paten dapat menjadi kesempatan bagi industri
farmasi investasi dalam negeri untuk meningkatkan kinerja, tetapi industri ini belum siap,
terutama dalam dukungan riset mereka. Juga dengan masih ditemukannya obat palsu yang
beredar di pasaran yang menyebabkan harga obat lebih sukar untuk dikendalikan.
Strategi Nasional dalam Mengembangkan Industri Farmasi di Indonesia
Penelitian

dan

pengembangan

ditentukan

untuk

mempertahankan

dan

mengembangkan industri farmasi, dan kemudian menyediakan kebutuhan obat bagi


masyarakat dengan harga terjangkau. Pemerintah perlu menyediakan dana untuk rencana
pengembangan indusri obat generik, alam dan obat (ISFI, 1997). Iuran dana (seed funding)
untuk riset bagi industri itu sendiri bisa dikembangkan dan hasil penelitian dikembalikan ke
industri.
Strategi Jangka Panjang
Dalam produksi domestik substansi dasar obat pengembangan bahan baku obat, telah
dilakukan pemeriksaan terhadap berbagai jenis bahan dasar yang dibutuhkan oleh industri
farmasi dan persyaratan yang relatif kecil terutama bagi kebutuhan lokal mereka. Oleh karena
itu, pembenahan ekonomi untuk memproduksi bahan dasar lokal mencapai skala ekonomi
yang jelas menjadi sangat sulit.

Namun, dari sudut pandang sosial politik, kemampuan untuk kemandirian di bidang
industri obat bahan dasar tentu akan meningkatkan stamina bangsa terutama dalam krisis
seperti saat ini. Perintis produksi bahan baku lokal perlu didorong dengan memperhatikan
pemilihan jenis bahan dasar dengan menggunakan kriteria yang berspektrum kebutuhan
cukup lebar sehingga mempunyai kemampuan untuk investasi serta bahan dasar tersebut
dapat dipasarkan, setidaknya regional, sehingga diperoleh deviden dari ekspor bahan dasar
dan dapat memenuhi kebutuhan impor bahan dasar lainnya yang belum dapat diproduksi
secara lokal.
Bahan awal dari bahan dasar tersebut mudah diperoleh dan ditemukan dalam jumlah
besar di Indonesia. Pemilihan bahan dasar yang dapat diproduksi melalui proses fermentasi
atau bioteknologi dengan investasi lebih murah dengan ketergantungan pada produk antara
industri hulu relatif kecil. Meskipun kesadaran akan pentingnya Hak atas Kekayaan
Intelektual di Indonesia yang sudah cukup tinggi, tetapi untuk itu penanganan suatu produk
farmasi untuk paten harus lebih kreatif. Misalnya, menciptakan produk obat dengan
kombinasi baru, suatu sistem drug delivery baru atau obat dengan bioavailability yang lebih
baik.
Disamping itu, perlu dipertahankan suasana kondusif agar secara bertahap industri
farmasi Indonesia mampu menjaga orisinalitas mereka dengan melakukan penelitian di hulu.
Dengan melakukan kerjasama dengan industri multinasional dalam proyek global dapat
menjaga hal tersebut (ISFI, 1997, Kardono, 2004).
Perlu diketahui bahwa meskipun anggaran riset di Indonesia jauh lebih kecil dari
negara maju atau jauh lebih kecil dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan
Thailand, namun efektivitas paten yang dihasilkan sangat baik. Hasil analisa WPO (Word
Patent Office), Geneva, para peneliti Indonesia relatif sangat efisien dalam kaitannya antara
paten dengan dana riset. Dengan dana penelitian sangat kecil per tahun (tidak lebih dari 10
ribu US $), para peneliti Indonesia sudah mampu menghasilkan satu paten, meskipun masih
paten nasional, belum internasional (Aiman, 2010).
Meskipun pengembangan bahan baku obat dari bahan alam secara global mengalami
penurunan, tetapi pengembangan bahan baku obat dari bahan alam Indonesia mempunyai
prospek yang baik.

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal.

Pemanfaatan dan pengembangannya masih terus dilakukan dan bahkan dikombinasi atau
banyak dipengaruhi oleh pengembangan di negara besar lainnya, seperti Cina dan India.
Saat ini di Indonesia, obat tradisional dikembangkan secara fitofarmaka, tetapi
pengembangannya sangat lambat. Dalam bidang ini, standarisasi diperlukan untuk uji

keamanan dan efektivitas jamu.


Upaya holistik perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Hal ini tidak hanya dalam medium dan infrastruktur, tetapi juga sumber daya
manusianya. Jumlah dokter perlu ditingkatkan untuk mencapai rasio yang ideal di Indonesia,
yaitu sekitar 1:1.300. Sistem distribusi obat perlu diperbaiki, sehingga pengembangan obatobatan dapat mencapai orang-orang di pedesaan. Kebijakan industri kimia terpadu, sehingga
industri yang satu dapat membantu industri yang lain. Sebagai contoh, bahan kimia dari
industri hulu mendukung industri hilir, termasuk industri farmasi.
Dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah, dengan jumlah penduduk
lebih dari 230 juta, industri jamu lebih memanfaatkan sumberdaya lokal dan pasar domestik.
Namun, sampai saat ini penggunaan jamu dalam sistem kesehatan nasional belum menjadi
sistem pelayanan kesehatan formal, masih bersifat toleran. Dan tahun 2009-2010 ini,
Kementrian Kesehatan mencangankan Program Saintifikasi Jamu, yang ditujukan untuk lebih
meningkatkan pemanfaatan jamu bagi pelayanan kesehatan. Pendekatannya memanfaatkan
jamu untuk pelayanan kesehatan terlebih dahulu, sambil memperkuat dukungan ilmiahnya.
Hal tersebut merupakan paradigma baru untuk saintifikasi jamu dengan pengembangan
berbasis pelayanan kesehatan, tetapi karena masih bersifat penelitian, perkembangannya
kemungkinan akan lambat. Dengan berlakunya ACFTA (ASEAN-China Free Trade
Agreement), Indonesia perlu khawatir terhadap perlindungan industri jamu Indonesia, dan
memberikan bantuan supaya industri jamu Indonesia mampu bersaing dengan produk China
atau produk negara-negara ASEAN lainnya, untuk menjaga pamornya di negeri sendiri
(Kardono, 2009).
Langkah-langkah Pengembangan dan Penemuan Bahan Baku Obat yang Sesuai Untuk
Indonesia
Dalam Workshop Pengembangan Bahan Obat Berbasis Sumber Daya Lokal,
Kemenristek, 21 April 2010, Dr. Boen Setyawan, mengusulkan Pengembangan Bahan Baku
Obat di Indonesia dibagi menjadi lima kelompok, yaitu, (1) inventarisasi sumber daya
Indonesia yang potensial untuk pengembangan bahan baku obat (baik terrestrial maupun
marine: mikroba, jamu, tumbuhan obat dan sumber daya laut), (2) pengembangan bahan baku
obat berbasis bahan alam (isolasi, elusidasi struktur kimia, modifikasi struktur, scalling up
dan lain-lain, uji efektivitas, keamanan, farmakologi dan lain-lain), (3) pengembangan bahan
baku obat melalui sintesa kimia, (4) pengembangan bahan baku obat melalui bioteknologi
dan biomolekuler (mengingat saat ini 67% bahan baku obat yang dikembangkan berasal dari

bidang ini), dan (5) teknologi sel punca, untuk antisipasi ke depan secara jangka panjang.
Penelitian pengembangan bahan baku obat di Indonesia didominasi oleh kegiatan
pengembangan dari bahan alam (termasuk jamu), sekitar 60% dari seluruh kegiatan
pengembangan bahan baku obat di Indonesia (Kardono, 2003; Sparinga, 2010).
Untuk menemukan dan mengembangkan bahan baku obat, perlu ditempuh jalan yang
panjang dan biaya yang mahal. Pada saat ini, jarang ada perusahaan global yang melakukan
hal tersebut secara sendiri-sendiri, biasanya mereka melakukannya dalam suatu kerangka
kerjasama. Sedangkan un tuk Indonesia, perlu dibuat strategi untuk menempuh kemitraan
global, untuk melakukannya, harus ditentukan terlebih dahulu langkah mana yang harus
dilakukan untuk memulai kemitraan.
Dalam pengembangan dan penemuan obat baru, ada empat langkah utama, yaitu (1)
dari bahan alam dengan melakukan skrining (penapisan) untuk mencari komponen bioaktif;
(2) modifikasi struktur dari bahan obat yang sudah digunakan untuk meningkatkan aktivitas
atau mencari aktivitas baru; (3) dari bahan kimia sintesa dan pemodelan hewan percobaan
dengan melakukan penapisan skrining bahan-bahan kimia terhadap penyakit (menggunakan
pemodelan hewan percobaan) dan

(4) dari pendekatan modern desain obat dengan

mendesain obat berbasis mekanisme fisiologi (Kardono, 2004).


Dalam penelitian dan pengembangan bahan baku obat, beberapa tahap biasanya
dilakukan. Mulai dari tahap kegiatan awal (primary stage), pre-klinis, dan klinis. Dalam
tahap kegiatan awal (primary stage), dimulai dengan kajian pustaka mengenai apa yang akan
dikembangkan, pasar dan sebagainya, penentuan target yang dituju, pengembangan senyawa
pengarah melalui desain obat baru dan sintesa serta penapisan bahan alam bioaktif, evaluasi
aktivitas biologi dan farmakologi dasar, penentuan metode evaluasi, dan pemilihan kandidat
obat baru.
Bagian penting dalam primary stage ini adalah bagaimana mempelajari hubungan
antara struktur obat dengan aktivitasnya (structure activity relationship/SAR) sehingga
pencarian senyawa aktif baru menjadi lebih terarah. Kegiatan SAR tersebut telah
memunculkan ilmu baru yaitu kimia medisinal dan farmakologi molekular.
Tahap pre-klinis terutama ditujukan untuk kajian kemanjuran (efficacy) dan
keamanannya (safety). Kegiatannya meliputi farmakologi, evaluasi sifat-sifat fisiko kimia,
penentuan toksisitas akut dan sub-akut, penentuan farmakokinetik (adsorpsi, distribusi,
metabolisme, ekskresi/ADME), farmasetika dan pengembangan proses produksi skala besar
(mass production). Uji pre-klinis merupakan persyaratan uji untuk calon obat, dari uji ini

diperoleh informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas
calon obat.
Setelah calon obat dinyatakan mempunyai kemanfaatan dan aman pada hewan
percobaan, maka selanjutnya diuji pada manusia (uji klinik), yang mempunyai empat tahapan
yang harus dilewati. Sebelum dilakukan pengujian pada manusia, harus diteliti terlebih
dahulu kelayakannya oleh komite etik yang didasarkan pada Deklarasi Helsinki. Jelaslah,
untuk bisa memasarkan bahan baku obat baru, jalan sangat panjang harus ditempuh.
Beberapa bidang ilmu perlu dikembangkan dan ditekuni untuk pengembangan obat baru di
Indonesia.
Pertama, adalah Biology Related Drug Discovery. Pengembangan bahan baku obat
dari genomik menuju proteomik yang meliputi ekspresi protein, sistem ekspresi, kristalisasi
protein, penentuan struktur tiga dimensi dari protein, dan penentuan active site protein dan
mekanisme kerja bahan baku obat pada protein.
Kedua adalah Chemistry Related Drug Discovery and Development, dengan kegiatan
inti bidang kimia medisinal. Langkah ini dimulai dari lead discovery, lead optimation,
chemical process development dan chemical synthesis & scaling up. Lead discovery meliputi
kegiatan medicinal chemistry, combinatorial chemistry, computational chemistry, natural
products isolation dan biocatalysis. Lead optimization meliputi kegiatan medicinal chemistry,
analytical chemistry dan separation chemistry dan biocatalysis. Chemical process
developement berkaitan dengan kegiatan analytical chemistry, proces research &
development, dan biocatalysis. Sedangkan chemical syntesis dan scaling up mencakup
kegiatan analytical chemistry, process research & development, serta current GMP synthesis.
Kimia Medisinal atau Kimia Farmasetikal adalah disiplin ilmu yang berada pada
persimpangan antara ilmu kimia dan farmakologi yang terlibat dalam proses merancang,
mensintesis dan mengembangkan obat-obatan farmasi. Kimia medisinal terlibat dalam proses
identifikasi, sintesis dan pengembangan senyawa kimia baru yang cocok untuk terapi.
Disiplin ini juga mencakup studi tentang obat yang sudah ada, sifat biologisnya, dan
hubungan secara kuantitatif antara struktur-aktivitas (quantitative structure-activity
relationship, QSAR). Kimia Farmasetikal difokuskan pada aspek kualitas obat dan bertujuan
untuk menjamin fungsi produk obat-obatan. Kimia Medisinal adalah ilmu multi disiplin yang
menggabungkan

kimia

organik

dengan

biokimia,

kimia

komputasi,

farmakologi,

pharmacognosy, biologi molekular, statistik, dan kimia fisik.


Dalam process of drug discovery (proses penemuan obat), langkah pertama penemuan
obat melibatkan proses identifikasi senyawa aktif baru, sering disebut "hit", yang biasanya

ditemukan melalui proses skrining dari banyak senyawa untuk mencari sifat biologis yang
diingini. Terdapat sejumlah pendekatan identifikasi terhadap hit, kebanyakan teknik yang
berhasil dipengaruhi oleh intuisi kimia dan biologi yang dikembangkan melalui pelatihan
kimia-biologis yang ketat. Sumber-sumber lain dari hits bisa berasal dari sumber-sumber
alam, seperti tanaman, hewan, atau jamur. Hit dapat juga berasal dari pustaka-pustaka kimia,
seperti yang diperoleh melalui kimia kombinatorial atau koleksi lama senyawa kimia yang
diuji secara terus menerus terhadap target fisiologis senyawa yang bersangkutan.
Langkah berikutnya, dalam proses penemuan obat, melibatkan proses modifikasi
kimia lebih lanjut untuk meningkatkan sifat-sifat biologis dan physiochemical dari calon
senyawa. Modifikasi kimia dapat meningkatkan sifat kemampuan dan ikatan geometri
(pharmacophore) afinitas dan farmakokinetiknya, bahkan reaktivitas dan stabilitas selama
degradasi metabolik senyawa tersebut.
Sejumlah metode telah memberikan kontribusi dalam memprediksi proses metabolik
secara kuantitatif. Hubungan kuantitatif struktur-aktivitas (QSAR) dari gugus farmakofor
memainkan peranan penting dalam menemukan senyawa penuntut (lead compound), yang
memperlihatkan potensi, selektivitas, farmakokinetik dan toksisitas yang terbaik. QSAR yang
terutama melibatkan kimia fisik dan tools docking molekular (CoMFA dan CoMSIA), yang
mengarah ke data hasil tabulasi serta persamaan pertama dan kedua. Ada banyak teori,
analisis yang paling relevan adalah analisis Hnsch yang melibatkan parameter elektronik
Hammett, parameter sterik dan parameter logP (lipofilisitas). Langkah terakhir adalah
Chemical Synthesis & Scale-up, yang menekankan Research & Development Process serta
Good Manufacturing Practice untuk sintesis, untuk mempersiapkan senyawa penuntun (lead
compound) terpilih, yang sesuai untuk digunakan dalam uji klinis.
Langkah ini melibatkan proses optimalisasi rute sintetik untuk produksi secara besar
(masal), dan persiapan formulasi obat yang sesuai. Setelah langkah ini dilewati,
pengembangan berikutnya adalah riset klinis, yang meliputi pre-clinical testing menggunakan
hewan percobaan, dan empat fase clinical trial. Fase I, di mana calon obat diuji pada
sukarelawan sehat. Pada fase ini ditentukan hubungan dosis dengan efek yang
ditimbulkannya dan profil farmakokinetik obat tersebut pada manusia. Fase II, fase di mana
calon obat diuji pada pasien tertentu, diamati efikasi terhadap penyakit yang diobati. Yang
diharapkan dari obat adalah mempunyai efek yang potensial dengan efek samping tidak
ada/rendah atau tidak bersifat toksik. Fase III yang melibatkan kelompok besar pasien, pada
fase ini obat baru dibandingkan efek dan keamanannya terhadap obat pembanding yang
sudah diketahui.

Selama dalam proses uji klinik, banyak senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat
digunakan. Hanya 1 dari 10.000 senyawa hasil sintesis yang diperbolehkan untuk digunakan,
mengingat efek samping dan risikonya lebih besar daripada manfaatnya atau efek manfaatnya
lebih kecil dibandingkan dengan obat yang sudah ada. Keputusan untuk mengakui suatu obat
baru dapat dipergunakan dilakukan oleh badan pengatur nasional, untuk Indonesia oleh
Badan Pengawas Obat dan Makanan. Fase terakhir adalah Fase IV, yaitu fase di mana setelah
obat dipasarkan, masih tetap dilakukan studi pasca pemasaran (post marketing surveillance)
yang diamati pada pasien dengan berbagai kondisi, usia dan ras. Studi ini dilakukan dalam
jangka waktu lama untuk melihat nilai terapeutik dan efek jangka panjang dalam penggunaan
obat tersebut. Setelah hasil studi fase IV dievaluasi masih ada kemungkinan obat ditarik dari
perdagangan jika ternyata masih memiliki efek yang membahayakan.
Perlunya Kemitraan Global
Indonesia perlu belajar dari Singapura. Dalam mengembangkan bahan baku obat,
Singapura mengundang pakar-pakar internasional, dan mengundang industri multinasional
untuk bekerjasama, yang sebagian investasinya berasal dari Singapura. Salah satu institusi
riset yang lahir seperti ini adalah Merlion Pharma, yang mengembangkan bahan baku obat
dari sumber daya alam, dan berawal dari Glaxo. Awalnya mengembangkan secara bersama,
kemudian Singapura mengembangkan sendiri dengan komitmen yang sangat kuat. Negara
yang sudah maju saja perlu kemitraan global, demikian juga seharusnya Indonesia.
Secara klasik, masing-masing individu peneliti mengembangkan ilmunya antara lain
berdasarkan referensi hasil penelitian berbasis hasil peneliti lain melalui jurnal, pertemuanpertemuan ilmiah, konferensi, pengembangan kapasitas peneliti, sarana prasarana yang
mendukungnya. Namun, perlu dicatat bahwa perubahan ilmu mewajibkan adanya kemitraan
global, seberti mapping genomik global, yang memerlukan masukan atau input dari banyak
ilmuwan di dunia secara koheren, sehingga menciptakan peluang baru yang saling
menjembatani, sehingga para peneliti bisa saling mendengarkan, saling tukar pengalaman,
dan saling bisa memprediksi kebutuhan ke depan.
Jelaslah bahwa kemitraan global seperti ini strategis, melihat ke depan, membina
jaringan baik instansi maupun individu ilmuwannya, sehingga bisa menciptakan program
riset bersama, berkoordinasi dan saling berbagi dalam pendanaannya. Kerjasama seperti ini
akan memberi keuntungan atau mengurangi hambatan untuk implementasi hasil riset (Marks,
2007). Adanya kerjasama antar institusi global akan mempermudah kunjungan atau
penukaran ilmuwan, mendukung diseminasi ilmu transnasional, pengembangan kapasitas

masing-masing ilmuwan dan institusi, saling tukar pengalaman dan mengembangkan best
practice dan benchmark sistem pengembangan atau prosedur, benchmark komunitas ilmiah,
pembagian dana untuk pengembangan infrastruktur, sehingga peneliti mampu mengerjakan
riset lebih efisien dengan prediksi ke depan lebih baik dan penilaian yang lebih tepat.
Adapun strategi pengembangan Bahan Baku Obat dari Kemenkes RI tahun 2013
yaitu:

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI FARMASI


Peningkatan kebutuhan akan obat di Indonesia telah menyebabkan peningkatan
jumlah dan kegiatan industri farmasi. Peningkatan jumlah dan kegiatan industri farmasi ini
tentu saja akan mempengaruhi kehidupan lingkungan yang bersinggungan langsung maupun
berdekatan dengan lokasi industri farmasi tersebut. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara
1988 disebutkan bahwa: Dalam pembangunan industri harus selalu diusahakan untuk
memelihara kelestarian lingkungan dan mencegah pencemaran serta perusakan lingkungan
hidup dan pemborosan penggunaan sumber alam. Dalam Undang-undang No. 4 Tahun. 1982
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab III, Pasal 5, Ayat (2)
ditegaskan bahwa: Setiap orang berkewajiban memelihara lingkungan hidup dan mencegah
serta menanggulangi kerusakan dan pencemarannya. Ketentuan ini masih banyak dilanggar
oleh kalangan industri.
Industri farmasi adalah industri yang menghasilkan produk yang memiliki nilai
terapetik

bagi

manusia

dan

/atau

hewan.

Produk-produk

tersebut

antara

lain:

1. Senyawa kimia dan produk botani yang digunakan dalam pengobatan,


2. Sediaan farmasi (tablet, kapsul, sirup, injeksi, salep, krim, infus, dll.),
3.Produk diagnostik in vitro dan in vivo,
4. Produk biologi seperti vaksin dan sera.
Proses dan kegiatan yang dilakukan industri farmasi sangat beragam, tergantung dari
produk yang dihasilkan. Masing-masing industri farmasi tersebut menghasilkan limbah yang
berlainan dengan karakteristik yang berlainan pula. Limbah dapat diartikan sebagai produk
sampingan yang dihasilkan dari suatu aktivitas produksi. Berikut adalah karakteristik dan
limbah yang dihasilkan dari masing-masing industri farmasi:
Jenis

Industri

Farmasi

Karakteristik

Limbah

Limbah

Industri Farmasi Sintesis Kimia Jenis, komposisi dan jumlah limbah sangat kompleks dan
beragam tergantung pada reaksi kimia dan pemurnian yang terlibat dalam proses.
Limbahnya mengandung senyawa organik dan anorganik yang toksik, kandungan BOD dan
COD tinggi.
1) Senyawa asam, basa, garam dan katalis (logam Serat, sianida, dll)
2) Pelarut organik yang digunakan dalam pe-murnian
3) Deterjen yang digunakan dalam pencucian alat-alat

Industri Farmasi Ekstraksi Bahan Alam Limbah bahan padat tinggi (ampas).
Kadar BOD dan COD bisa rendah, tetapi kandungan pelarut organiknya tinggi.
1) Ampas bahan alam yang digunakan pelarut-pelarut.
2) Uap pelarut
3) Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan serta tumpahan
Industri Farmasi Fermentasi Nilai BOD dan COD limbah tinggi.
1)
2)
3)
4)
5)

Medium fermentasi
Sel dan misel dalam bentuk padat
Pelarut organik untuk ekstraksi
Senyawa kimia dan pelarut pada pemurnian / kristalisasi
Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan

serta

tumpahan

Industri Farmasi Formulasi Sediaan Farmasi Limbah relatif sama dengan limbah
domestik / rumah tangga.
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Produk yang gagal dan terbuang


Tumpahan bahan-bahan
Debu (pencampuran dan pencetakan tablet)
Air buangan dari pencucian alat dan sterilisasi
Buangan dari laboratorium
Bahan kemasan yang tidak terpakai

Riset dan pengembangan


1) Limbahnya mengandung senyawa organik dan anorganik
2) Bahan kimia, pelarut yang digunakan, bangkai hewan, jaringan, dan air buangan
cucian peralatan, alat laboratorium, dll.
Limbah industri farmasi dapat berupa senyawa kimia toksik maupun non toksik, baik
dalam bentuk padat, cair, maupun uap. Namun kebanyakan limbah industri farmasi
digolongkan sebagai limbah berbahaya dan beracun serta membutuhkan pengolahan lebih
lanjut untuk menghindari resiko pencemaran lingkungan.

SKEMA INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH


Konsep sistem
1 Lumpur primer 12

post-thickener
2 septic sludge 13 HUBER Sludge Gallow
3 Lumpur sekunder 14
ROTAMAT Screw Press RoS 3 - sludge dewatering...mengurangi kandungan air dalam
lumpur dari pencucian tanaman dalam proses industri
4 ROTAMAT Sludge Screening Plant Ro 3.1 - septage receiving
15 Belt Filter Press HUBER Bogenpress BS - sludge thickening
5 Screenings
16
ROTAMAT Screw Conveyor Ro 8 + Dosing Screw with Tank RoSF 7
Terdapat keranjang kawat baji berbentuk silinder T
Air mengalir melewati keranjang sementara padatan tertarik di keranjang sambil berputar.
Selanjutnya penghilangan air dari lumpur kemudian berpindah pada Screw Press dengan
penambahan tekanan.
6 pre-thickener 17 KULT Middle Temperature Dryer BT+ - fungsinya adalah untuk
mengeringkan lumpur dan kotoran air pembuangan
7 STRAINPRESS Sludgecleaner SP - sludge screening
18 Quenscher
8
ROTAMAT Disc Thickener RoS 2S - sludge thickening. Memisahkan bagian flokulasi
lumpur dengan filtrat. Plat buffle, memindahkan dari reaktor flokulasi melewati jari-jari
radius.
Fleksibilitas mendukung lumpur terpisah. Membuka alur sehingga dengan mudah air
mengalir melewati lapisan filter.meningkatkan proses penyaringan. Cakra Filter terus
memerus berputar secara kontinu.alat prngerik mendorong lumpur dari cakra dan filter dicuci
kembali dengan batang penyemprot.
19 Biofilter

9 HUBER Sludge Squeezer HSS - sludge desintegration. Menghomogenkan kotoran lumpur,


menggunakan alat mekanik, sehingga dapat memisahkan bagian yang padat dengan yang cair
kemudian dialirkan
20 incinieration sludge2energy - thermal utilisation
10 anaerobic digester 21 power/heat cogen.

11. gas holder


22 polymere station
Industri farmasi adalah salah satu penyumbang limbah terbesar dalam lingkungan
terutama berkaitan dengan limbah cair. Hal ini dikarenakan industri farmasi dalam proses
produksinya menggunakan berbagai macam pereaksi kimia. Kegiatan utama industri farmasi
adalah mengolah bahan baku menjadi produk berupa obat atau bahan baku obat, namun
akibat pengolahan ini terbentuk pula limbah. Adanya limbah industri farmasi, terutama
limbah cairnya akan berkaitan erat dengan masalah pencemaran lingkungan; khususnya
pencemaran badan air yang disebabkan oleh limbah cair yang dibuang tanpa proses
pengolahan terlebih dahulu. Berkaitan dengan kegiatan yang berjalan di industri farmasi,
sebaiknya limbah industri farmasi diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan.
Dengan demikian diperlukan adanya fasilitas atau instalasi pengolahan limbah sehingga pada
saat ke lingkungan limbah industri tersebut telah memenuhi kriteria baku mutu yang telah
ditetapkan.
Di samping komponen yang umum terdapat dalam limbah industri, dalam limbah
industri farmasi akan terdapat senyawa obat yang terlibat dalam proses. Setelah masuk ke
lingkungan atau di tempat pengolahan limbah, obat akan mengalami hal sebagai berikut :
1) Mengalami biodegradasi sempurna
2)Mengalami biodegradasi sebagian atau menjadi senyawa lain (metabolit)
3)Tahan lama terhadap penguraian (persisten)
Dalam proses pengolahan limbah industri farmasi, diperlukan suatu instalasi pengolah
limbah sehingga saat dibuang ke lingkungan, limbah tersebut telah memenuhi standar baku
mutu yang telah ditetapkan. Pengolahan limbah dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Pemilihan teknologi pengolahan limbah yang tepat dapat didasarkan pada:

1. Karakteristik limbah, misalnya kandungan senyawa organik (BOD dan COD), bahan padat
tersuspensi, derajat degradabilitas, komponen toksisnya dan jumlah limbah yang dibuang per
harinya.
2. Mutu baku lingkungan terutama perairan tempat pembuangan limbahnya dan mutu baku
limbah yang berlaku.
3. Biaya operasional pengolahan.
4. Lahan yang harus disediakan.

Proses pengolahan air limbah serta urutan prosesnya :


a. Pretreatment : saringan kasar, pemisah pasir, bak penampung dan homogenizer
aliran/pencemar,

pemisah

lemak

dan

minyak

b. Primary treatment : proses netralisasi, koagulasi, flotasi, sedimentasi, dan filtrasi


c. Secondary treatment : untuk menurunkan organik terlarut, misalnya sistem lumpur
aktif

lagoon

anaerobik,

aerated

lagoon,

stabilisasi,

trackling

filter

d. Tertiary treatment : klarifikasi dalam bentuk koagulasi dan sedimentasi, filtrasi,


adsorpsi karbon aktif, penukar ion, membran osmosis, desinfektasi, dan filtrasi
membran
e. Pengolahan lumpur : misalnya dalam bentuk digestion atau wet combustion,
pemekatan

atau

flotasi

lumpur,

sentrifugasi,

drying

bed

dan

lagooning

f. Pembuangan lumpur : dalam bentuk pembakaran, insinerasi, sanitary landfill serta


pembuangan

ke

laut

g. Pembuangan effluent (hasil pengolahan) misalnya ke sungai, danau, laut, ke dalam


tanah, injeksi ke sumur dalam, penguapan dan pembakaran.
Untuk meminimalisasi limbah dapat dilakukan dengan cara mengurangi sumber
penghasil limbah (source reduction) dan daur ulang (recycling and reuse) Pengurangan
Sumber Limbah Daur Ulang
1. Penggantian/substitusi bahan baku untuk mengurangi jumlah, volume dan toksisitas
limbah.
2. Limbah yang dikeluarkan digunakan kembali (re-use), di daur ulang (recycling), atau
diambil kembali (recovery)

3. Modifikasi proses, bertujuan untuk efisiensi proses yang potensial mengeluarkan limbah
dan sekaligus mengganti dan memutakhirkan proses yang ramah lingkungan
4. Dalam hal ini limbah dihilangkan cemarannya dan diperoleh bahan yang relatif berharga
5. Good Operating Practices, dapat membantu mengurangi limbah dan kehilangan bahan
yang tumpah, tercecer, dan bocor. Meliputi materials handling, waste management and
plan management
Untuk menangani limbah industri farmasi, dibutuhkan suatu metode pembuangan yang tepat.
Metode

pembuangan

tersebut

antara

1. Pengembalian ke donatur atau pabrik pembuat


2.Landfill
(mengubur)
terencana
dan
Sanitary

landfill

lain
sangat

adalah:
terencana

Cara ini untuk mencegah terjadinya kebocoran zat kimia ke lingkungan. Landfill yang
benar terdiri dari lubang kosong yang jauh dari badan air dan lokasinya berada di atas
permukaan air. Limbah yang dihasilkan setiap hari dipadatkan dan ditutup dengan lapisan
tanah untuk mempertahankan kondisi saniter. Imobilisasi limbah; encapsulation (penyegelan
limbah dan inertization). Enkapsulasi yaitu menjadikan limbah farmasi ke dalam bentuk
padat dalam drum, plastik, atau baja. Sedangkan inertisasi adalah bentuk lain dari
enkapsulasi dengan pelepasan materi, kertas, kardus, dan plastik kemasan dari limbah
farmasi.
1. Saluran pembuangan air kotor
2. Pembakaran dalam kontainer terbuka untuk limbah farmasi dalam jumlah sedikit
3. Insinerasi suhu sedang
4. Insinerasi suhu tinggi
5. Penguraian kimia
Berikut tabel mengenai metode pembuangan limbah industry farmasi :
Metode
pembuangan
Tipe
perbekalan
farmasi

keterangan

Pengembalian ke donatur atau perusahaan, pengiriman lintas negara untuk pembuangan.


Semua sisa perbekalan farmasi, terutama antineoplastik Biasanya tidak praktis (prosedur
lintas Negara biasanya menghabiskan waktu). Insinerasi suhu tinggi. Dengan suhu jauh di
atas 1200 C Limbah padat, semi padat, bubuk, antineoplastik, zat yang diawasi Mahal,
terutama untuk incinerator dengan tujuan khusus. Pemanfaatan pabrik yang adamungkin
lebih praktis.
Insinerasi suhu sedang dengan incinerator bilik ganda pada suhu minimum 850C.
Jika tidak ada incinerator suhu tinggi, limbah padat, semi padat, bubuk, zat yang diawasi.

Antineoplastik paling baik dibakar pada suhu tinggi Imobilisasi Encapsulation (penyegelan)
limbah Limbah padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang diawasi.
Inertization Limbah padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang diawasi.
Landfill
Sanitary landfill sangat terencana Limbah padat, semi padat, dan bubuk tak diolah dalam
jumlah terbatas.Pembuangan limbah farmasi dianjurkan melalui imobilisasi. Plastik PVC.
Landfill terencana Limbah padat, semi padat,dan bubuk. Sebaiknya setelah imobilisasi.
Plastik PVC
Tempat pembuangan terbuka tak terencana dan tak terkendali Sebagai pilihan terakhir
limbah padat, semi padat, tak diolah (harus segera ditutupi dengan limbah perkotaan). Lebih
baik dilakukan imobilisasi limbah padat, semipadat, bubuk. Tidak untuk mengolah zat yang
diawasi.
Saluran pembuangan air limbah cairan enecr, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil
disinfektan. Tidak dianjurkan untuk antineoplastik berikut disinfektan dan antiseptic tak
diencerkan.
Badan air berarus deras cairan encer, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil
disinfektan. Tidak dianjurkan untuk antineoplastik berikut disinfektan dan antiseptic tak
diencerkan.
Pembakaran dalam container terbuka Sebagai pilihan terakhir: kemasan, kertas,
kardus.

Tidak

sesuai

untuk

plastic

PVC

atau

perbekalan

farmasi.

Penguraian kimia Tidak dianjurkan kecuali tenaga ahli kimia dan bahan kimianya tersedia.
Tidak praktis untuk jumlah diatas 50 kg.
Dalam pembuangan limbah industri farmasi, diperlukan suatu pemilahan. Tujuan
pemilahan adalah memisahkan limbah farmasi ke dalam kategori-kategori yang memerlukan
metode pembuangan berbeda. Metode pembuangan secara aman yang direkomendasikan
akan bergantung terutama pada label dosis sediaan farmasi dalam obat-obatan.
Pengelolaan Limbah Cair
Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dikembangkan sangat
beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan
membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan tersebut
dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah

satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor
finansial.
1.

Pengolahan Primer (Primary Treatment)

Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara
fisika.
a.

Penyaringan (Screening)

Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji
saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara yang efisien
dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
b.

Pengolahan Awal (Pretreatment)

Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif
besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan
memperlambat aliran limbah sehingga partikel partikel pasir jatuh ke dasar tangki
sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.
c.

Pengendapan

Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak
pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling
banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di tangki pengendapan,
limbah cair didiamkan agar partikel partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat
mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang
kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain
metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).
d. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak.
Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan
gelembung- gelembung udara berukuran kecil ( 30 120 mikron). Gelembung udara
tersebut akan membawa partikel partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah
sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses
pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer
tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga
mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen

penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu
disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.
2.

Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)

Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan
melibatkan

mikroorganisme

yang

dapat

mengurai/

mendegradasi

bahan

organik.

Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.


Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan
metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .
a.

Metode Trickling Filter

Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat
dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik,
dengan dengan ketebalan 1 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan
media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan
organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah
merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung
dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk
memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang
terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan
dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih
diperlukan
b.

Metode Activated Sludge

Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan
didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi
berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian
gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam
mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk
mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan
kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui
proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.
c.

Metode Treatment ponds/ Lagoons

Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah
namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam
kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis
menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses
penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga
diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses
pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah
dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.
3.

Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)

Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat
tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.
Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat
yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan
sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik
terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan
ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier
yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter,
microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan,
dan osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini
disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung
tinggi sehingga tidak ekonomis.
4.

Desinfeksi (Desinfection)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi


mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara
kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam
menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :
a.

Daya racun zat

b. Waktu kontak yang diperlukan


c.

Efektivitas zat

d. Kadar dosis yang digunakan


e. Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
f.

Tahan terhadap air

g.

Biayanya murah

Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi),
penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (O).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah
selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke
lingkungan.
5.

Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)

Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan
menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara
langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah
biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian
disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill),
dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).
Pengelolaan Limbah Padat
1. Penimbunan Terbuka
Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode penimbunan
terbuka (open dumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode penimbunan terbuka, . Di
lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kuman penyebab penyakit dapat berkembang
biak. Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara
sekitar dan menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar. Cairan yang tercampur
dengansampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air.

2.

Sanitary Landfill

Pada metode sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi iapisan lempung
dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke tanah. Pada landfill yang lebih
modern lagi, biasanya dibuat sistem Iapisan ganda (plastik lempung plastik lempung)
dan pipa-pipa saluran untuk mengumpulkan cairan serta gas metan yang terbentuk dari proses
pembusukan sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.

3.

Insinerasi

Insinerasi adalah pembakaran sampah/limbah padat menggunakan suatu alat yang disebut
insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah berkurang sangat banyak
(bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses insinerasi menghasilkan panas yang dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau untuk pemanas ruangan.
4.

Pembuatan kompos padat dan cair

Metode ini adalah dengan mengolah sampah organic seperti sayuran, daun-daun kering,
kotoran hewan melalui proses penguraian oleh mikroorganisme tertentu. Pembuatan kompos
adalah salah satu cara terbaik dalam penanganan sampah organic. Berdasarkan bentuknya
kompos ada yang berbentuk padat dan cair. Pembuatannya dapat dilakukan dengan
menggunakan kultur mikroorganisme, yakni menggunakan kompos yang sudah jadi dan bisa
didapatkan di pasaran seperti EMA efectif microorganism 4.EMA merupakan kultur
campuran mikroorganisme yang dapat meningkatkan degaradasi limbah atau sampah organic.
5.

Daur Ulang

Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan
tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna,
mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi
polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses
pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang
terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan
produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan
bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, and Recycle).

Material-material yang dapat didaur ulang dan prosesnya diantaranya adalah:


a.

Bahan bangunan

Material bangunan bekas yang telah dikumpulkan dihancurkan dengan mesin penghancur,
kadang-kadang bersamaan dengan aspal, batu bata, tanah, dan batu. Hasil yang lebih kasar
bisa dipakai menjadi pelapis jalan semacam aspal dan hasil yang lebih halus bisa dipakai
untuk membuat bahan bangunan baru semacam bata.

b.

Baterai

Banyaknya variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang bahan ini relatif sulit.
Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap jenis memiliki perhatian khusus dalam
pemrosesannya. Misalnya, baterai jenis lama masih mengandung merkuri dan kadmium,
harus ditangani secara lebih serius demi mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatan
manusia. Baterai mobil umumnya jauh lebih mudah dan lebih murah untuk didaur ulang.
c.

Barang Elektronik

Barang elektronik yang populer seperti komputer dan handphone umumnya tidak didaur
ulang karena belum jelas perhitungan manfaat ekonominya. Material yang dapat didaur ulang
dari barang elektronik misalnya adalah logam yang terdapat pada barang elektronik tersebut
(emas, besi, baja, silikon, dll) ataupun bagian-bagian yang masih dapat dipakai (microchip,
processor, kabel, resistor, plastik, dll). Namun tujuan utama dari proses daur ulang, yaitu
kelestarian lingkungan, sudah jelas dapat menjadi tujuan diterapkannya proses daur ulang
pada bahan ini meski manfaat ekonominya masih belum jelas.
d. Logam
Besi dan baja adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang di dunia. Termasuk salah
satu yang termudah karena mereka dapat dipisahkan dari sampah lainnya dengan magnet.
Daur ulang meliputi proses logam pada umumnya; peleburan dan pencetakan kembali. Hasil
yang didapat tidak mengurangi kualitas logam tersebut. Contoh lainnya adalah alumunium,
yang merupakan bahan daur ulang paling efisien di dunia. Namun pada umumnya, semua
jenis logam dapat didaur ulang tanpa mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan logam
sebagai bahan yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.
e.
1)

Bahan Lainnya
Kaca dapat juga didaur ulang. Kaca yang didapat dari botol dan lain sebagainya

dibersihkan dair bahan kontaminan, lalu dilelehkan bersama-sama dengan material kaca baru.
Dapat juga dipakai sebagai bahan bangunan dan jalan. Sudah ada Glassphalt, yaitu bahan
pelapis jalan dengan menggunakan 30% material kaca daur ulang.
2)

Kertas juga dapat didaur ulang dengan mencampurkan kertas bekas yang telah

dijadikan pulp dengan material kertas baru. Namun kertas akan selalu mengalami penurunan
kualitas jika terus didaur ulang. Hal ini menjadikan kertas harus didaur ulang dengan
mencampurkannya dengan material baru, atau mendaur ulangnya menjadi bahan yang
berkualitas lebih rendah.
3)

Plastik dapat didaur ulang sama halnya seperti mendaur ulang logam. Hanya saja,

terdapat berbagai jenis plastik di dunia ini. Saat ini di berbagai produk plastik terdapat kode

mengenai jenis plastik yang membentuk material tersebut sehingga mempermudah untuk
mendaur ulang. Suatu kode di kemasan yang berbentuk segitiga 3R dengan kode angka di
tengah-tengahnya adalah contohnya. Suatu angka tertentu menunjukkan jenis plastik tertentu,
dan kadang-kadang diikuti dengan singkatan, misalnya LDPE untuk Low Density Poly
Etilene, PS untuk Polistirena, dan lain-lain, sehingga mempermudah proses daur ulang.
Pengelolaan Limbah Gas
Pengolah limbah gas secara teknis dilakukan dengan menambahkan alat bantu yang dapat
mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara sebenarnya dapat berasal dari limbah
berupa gas atau materi partikulat yang terbawah bersama gas tersebut. Berikut akan
dijelaskan beberapa cara menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan materi partikulat
yang terbawah bersamanya.
1.

Mengontrol Emisi Gas Buang


Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan

hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode. Gas sulfur oksida
dapat dihilangkan dari udara hasil pembakaran bahan bakar dengan cara desulfurisasi
menggunakan filter basah (wet scrubber).
Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan berikutnya, yaitu
mengenai metode menghilangkan materi partikulat, karena filter basah juga digunakan untuk
menghilangkan materi partikulat.

Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dengan

cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas karbon monoksida dan hidrokarbon dari
hasil pembakaran kendaraan bermotor dapat dikurangi dengan cara memasang alat pengubah
katalitik (catalytic converter) untuk menyempurnakan pembakaran.
Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang jugadapat dikurangi kegiatan
pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan sumber bahan bakar alternatif yang lebih
sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan polutan.
2.

Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan

a.

Filter Udara

Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong atau stack, agar tidak ikut
terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih yang saja yang keluar dari cerobong.
Filter udara yang dipasang ini harus secara tetap diamati (dikontrol), kalau sudah jenuh
(sudah penuh dengan abu/ debu) harus segera diganti dengan yang baru.

Jenis filter udara yang digunakan tergantung pada sifat gas buangan yang keluar dari proses
industri, apakah berdebu banyak, apakah bersifat asam, atau bersifat alkalis dan lain
sebagainya
b.

Pengendap Siklon

Pengendap Siklon atau Cyclone Separators adalah pengedap debu / abu yang ikut dalam gas
buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah
pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara / gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui
tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh ke bawah.
Ukuran partikel / debu / abu yang bisa diendapkan oleh siklon adalah antara 5 u 40 u.
Makin besar ukuran debu makin cepat partikel tersebut diendapkan
c.

Filter Basah

Nama lain dari filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors. Prinsip kerja filter basah
adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alt,
sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat. Pada saat udara yang berdebu kontak
dengan air, maka debu akan ikut semprotkan air turun ke bawah.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dapat juga prinsip kerja pengendap siklon dan filter
basah digabungkan menjadi satu. Penggabungan kedua macam prinsip kerja tersebut
menghasilkan suatu alat penangkap debu yang dinamakan.
d. Pegendap Sistem Gravitasi
Alat pengendap ini hanya digunakan untuk membersihkan udara kotor yang ukuran
partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 u atau lebih. Cara kerja alat ini sederhana sekali,
yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dibuat sedemikian rupa
sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba (speed drop), zarah akan
jatuh terkumpul di bawah akibat gaya beratnya sendiri (gravitasi). Kecepatan pengendapan
tergantung pada dimensi alatnya.

e.

Pengendap Elektrostatik

Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah
(volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini dapat
membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif bersih.
Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan
antara 25 100 kv. Alat pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi
muatan positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar

dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya perbedaan tegangan yang cukup besar akan
menimbulkan corona discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara
kotor seolah olah mengalami ionisasi. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara
bersih menjadi ion positif dan masing-masing akan menuju ke elektroda yang sesuai. Kotoran
yang menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan
berada di tengah-tengah silinder dan kemudian terhembus keluar.
Pengelolaan Limbah B3
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) tidak dapat begitu saja ditimbun, dibakar atau
dibuang ke lingkungan , karena mengandung bahan yang dapat membahayakan manusia dan
makhluk hidup lain. Limbah ini memerlukan cara penanganan yang lebih khusus dibanding
limbah yang bukan B3. Limbah B3 perlu diolah, baik secara fisik, biologi, maupun kimia
sehingga menjadi tidak berbahaya atau berkurang daya racunnya. Setelah diolah limbah B3
masih memerlukan metode pembuangan yang khusus untuk mencegah resiko terjadi
pencemaran. Beberapa metode penanganan limbah B3 yang umumnya diterapkan adalah
sebagai berikut:
1.

Metode pengolahan secara kimia, fisik dan biologi

Proses pengolahan limbah B3 dapat dilakukan secara kimia, fisik, atau biologi. Proses
pengolahan limbah B3 secara kimia atau fisik yang umumnya dilakukan adalah stabilisasi/
solidifikasi . stabilisasi/solidifikasi adalah proses pengubahan bentuk fisik dan sifat kimia
dengan menambahkan bahan peningkat atau senyawa pereaksi tertentu untuk memperkecil
atau membatasi pelarutan, pergerakan, atau penyebaran daya racun limbah, sebelum dibuang.
Contoh bahan yang dapat digunakan untuk proses stabilisasi/solidifikasi adalah semen, kapur
(CaOH2), dan bahan termoplastik.
Metode insinerasi (pembakaran) dapat diterapkan untuk memperkecil volume B3 namun saat
melakukan pembakaran perlu dilakukan pengontrolan ketat agar gas beracun hasil
pembakaran tidak mencemari udara.
Proses pengolahan limbah B3 secara biologi yang telah cukup berkembang saat ini dikenal
dengan istilah bioremediasi dan viktoremediasi. Bioremediasi adalah penggunaan bakteri dan
mikroorganisme lain untuk mendegradasi/ mengurai limbah B3, sedangkan Vitoremediasi
adalah penggunaan tumbuhan untuk mengabsorbsi dan mengakumulasi bahan-bahan beracun
dari tanah. Kedua proses ini sangat bermanfaat dalam mengatasi pencemaran oleh limbah B3
dan biaya yang diperlukan lebih muran dibandingkan dengan metode Kimia atau Fisik.
Namun, proses ini juga masih memiliki kelemahan. Proses Bioremediasi dan Vitoremediasi

merupakan proses alami sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk
membersihkan limbah B3, terutama dalam skala besar. Selain itu, karena menggunakan
makhluk hidup, proses ini dikhawatirkan dapat membawa senyawa-senyawa beracun ke
dalam rantai makanan di ekosistem.
2. Metode Pembuangan Limbah B3
a. Sumur dalam/ Sumur Injeksi (deep well injection)
Salah satu cara membuang limbah B3 agar tidak membahayakan manusia adalah dengan cara
memompakan limbah tersebut melalui pipa kelapisan batuan yang dalam, di bawah lapisanlapisan air tanah dangkal maupun air tanah dalam. Secara teori, limbah B3 ini akan
terperangkap dilapisan itu sehingga tidak akan mencemari tanah maupun air. Namun,
sebenarnya tetap ada kemungkinan terjadinya kebocoran atau korosi pipa atau pecahnya
lapisan batuan akibat gempa sehingga limbah merembes kelapisan tanah.
b. Kolam penyimpanan (surface impoundments)
Limbah B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang memang dibuat untuk limbah B3.
Kolam-kolam ini dilapisi lapisan pelindung yang dapat mencegah perembesan limbah. Ketika
air limbah menguap, senyawa B3 akan terkosentrasi dan mengendap di dasar. Kelemahan
metode ini adalah memakan lahan karena limbah akan semakin tertimbun dalam kolam, ada
kemungkinan kebocoran lapisan pelindung, dan ikut menguapnya senyawa B3 bersama air
limbah sehingga mencemari udara.
Landfill untuk limbah B3 (secure landfils)
Limbah B3 dapat ditimbun pada landfill, namun harus pengamanan tinggi. Pada metode
pembuangan secure landfills, limbah B3 ditempatkan dalam drum atau tong-tong, kemudian
dikubur dalam landfill yang didesain khusus untuk mencegah pencemaran limbah B3.
Landffill ini harus dilengkapi peralatan moditoring yang lengkap untuk mengontrol kondisi
limbah B3 dan harus selalu dipantau. Metode ini jika diterapkan dengan benar dapat menjadi
cara penanganan limbah B3 yang efektif. Namun, metode secure landfill merupakan metode
yang memliki biaya operasi tinggi, masih ada kemungkinan terjadi kebocoran, dan tidak
memberikan solusi jangka panjang karena limbah akan semakin menumpuk.
Prioritas utama proses pemilahan adalah memisahkan perbekalan Farmasi yang
dikelompokkan sebagai zat yang diawasi (mis. narkotika), obat antineoplastik (sitotoksik
antikanker), dan semua produk non-farmasi lain yang berbahaya dan mungkin tercampur
dalam perbekalan farmasi. Semuanya harus disimpan di ruang khusus yang terpisah dan
aman

sebelum

pembuangan

masing-masing

secara

aman.

Sisa perbekalan farmasi yang tak diinginkan lebih lanjut harus dipilah ke dalam beberapa
kategori berdasarkan kandungan dosisnya (kapsul, bubuk, larutan, suppositoria, sirup,
tablet).

Jenis limbah beta laktam dapat berupa limbah cair, padat, udara, dan suara. Limbah
cair berasal dari gedung produksi beta laktam berupa pencucian alat/mesin. Limbah padat
berupa wadah bekas bahan baku antibiotik beta laktam, bahan baku beta laktam yang rusak,
tong plastik, buangan proses produksi, dan produk jadi antibiotik beta laktam yang rusak.
Limbah udara berupa debu produksi antibiotik beta laktam. Limbah suara berasal dari mesin
produksi, genset, mesin sistem penunjang (AHU).
Pengelolaan Limbah Beta Laktam adalah sebagai berikut:
a. Limbah Cair
Limbah cair yang berasal dari gedung beta laktam dialirkan ke bak/kolam perusakan
cincin beta laktam dengan menggunakan larutan NaOH, setelah itu dialirkan/digabung
dengan limbah cair non beta laktam di bak penampungan, dan seterusnya diolah bersama.
b. Limbah Padat
Limbah padat yang berupa wadah yang mengandung bahan antibiotik beta laktam
dicuci dan dibilas bersih dengan air bersih di ruang pencucian di dalam gedung beta laktam.
Air pencucian tersebut merupakan limbah cair dari gedung beta laktam yang dialirkan ke bak
perusak cincin beta laktam, sedangkan wadah yang telah dicuci dan dibilas bersih tersebut
dikeluarkan dari gedung beta laktam dan ditangani limbahnya seperti pada pengelolaan
limbah padat non beta laktam.
c. Limbah Udara
Limbah udara berupa debu produksi disedot dan dikumpulkan oleh dust collector.

d. Limbah Suara
Limbah suara ini berasal dari mesin produksi, genset, mesin sistem penunjang
(AHU, mesin boiler). Cara pengendalian limbah suara ini dapat diatasi dengan
menggunakan ear insert oleh pekerja. Tolak ukur yang digunakan untuk pemantauan limbah
suara adalah angka kebisingan dan getaran di dalam dan di luar area pabrik yang diukur
sesuai dengan angka kebisingan maksimum 65 dB dan getaran maksimum 7,5 Hz.
Prinsip utama dalam pengolahan limbah beta laktam adalah pemecahan cicncin beta
laktam. Beberapa cara pemecahan cicncin beta laktam dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut (Encyclopedia of Chemical Technology, 1952) :
1.

Hidrolisa dengan menaikkan pH sampai 10-12 (bisa dengan NaOH)

2.

Hidrolisa dengan penambahan asam

3.

Hidrolisa dengan penambahan mercuri chloride


Penggunaan cara dengan hidrolisa dengan pH sampai 10-12 menjadi salah satu

alternative sebagian besar perusahaan karena dianggap lebih aman bagi peralatan unit
pengolahan dan juga aman bai lingkungan serta mudah dalam penangannya. Jika hidrolisa
dengan asam dikhawatirkan dapat merusak peralatan unit pengelohan karena sifat asam yang
dapat mengakibatkan korosif, dan jika dengan mercuri chloride dikhawatirkan mercurynya
tidak ramah atau tidak aman bagi lingkungan.
Hasil dari tangki hidrolisa dialirkan ke tangki netralisasi untuk menetralisasi basa
sesudah hidrolisa dengan NaOH dengan penambahan HCl sehingga pH yang dihasilkan
adalah sesuai dengan ketentuan pH normal yaitu 6-9. Setela proses netralisasi maka
dilanjutkan dengan proses proses pengendapan. Untuk mengadsorbsi zat organik dan cicin
beta laktam yang mungkin masih ada pada air limbah, serta untuk menghilangkan
kemungkinan terdapatnya kandungan logam berat, pada unit pengolahan beta laktam
dilengkapi dengan bak filtrasi. Hasil olahan dari unit pengolahan limbah beta laktam
kemudian dapat diukur dengan HPLC (hig Performance Liqiud Cromatography).

Gambar 1. skema pengolahan limbah

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2009. Pengolahan Limbah Industri Farmasi. [tersedia online]


http://download.fa.itb.ac.id/filenyaHAndout%20Kuliah/Farmasi
%2Lingkungan/Limbah%20Industri%2Farmasi.pdf. Diakses 10 Juni 2015.

Salmiyatun. 2003. Pembuangan Limbah Perbekalan Farmasi. Yogyakarta: EGC.


ISFI (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia). 1997. Strategi Pengembangan Bahan Baku Obat
Indonesia, Naskah Akademis Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, disampaikan
kepada Menteri Negara Hortikultura dan Obat
Pharmaceutical

Industries.

2001.

Workshop

on

Developments

in

Drugs

and

Pharmaceutical Technology, Indian Institute of Technology. Hyderabad: India.


K.S. Leonardus B. 2014. Kemitraan Global dalam Penelitian dan Pengembangan Bahan
Baku Obat untuk Mencapai Tujuan Milenium Indonesia. PUSPIPTEK: Serpong.
Asmara, Erlangga. 2011. Pengelolaan Limbah Industri. [tersedia online] http://erlanggati.blogspot.com/2012/11/pengelolaan-limbah-industri.html. Diakses 11 Juni 2015.