Anda di halaman 1dari 19

BAB I

LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama Penderita

: Tn. S

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Nomor RM

: 110489

Umur

: 35 tahun

Alamat

: Takalar

Tanggal Pemeriksaan

: 18/03/2015

Nama RS

: RSI FAISAL

Anamnesis

: Autoanamnesis

ANAMNESIS
Keluhan Utama

BAB kronik

Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang dengan keluhan BAB kronik disertai lendir sejak 2 bulan
terakhir. Awalnya pasien mengalami diare selama 2 minggu dengan
frekuensi 8 10x/ hari, kemudian tinja berubah menjadi lebih padat seperti
kotoran kambing dan kemudian diare kembali. Keadaan ini terjadi selama 2

bulan terakhir.
Nyeri perut kadang-kadang.
Kadang Mual, muntah tidak ada.
Nyeri kepala tidak ada.
Batuk dan sesak tidak ada.
Nyeri dada tidak ada.
BAK kesan biasa.
Riwayat penurunan Berat badan dalam 2 bulan terakhir
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat keluhan yang sama sebelumya tidak ada.
Riwayat pengobatan pasien minum obat lodia dan metronidazole namun
tidak ada perbaikan.
1

Riwayat dirawat di RS.Takalar dengan diagnosis karsinoma rektum yang

kemudian di rujuk ke RS di makassar.


Riwayat hipertensi tidak ada
Riwayat diabetes melitus tidak ada
Riwayat alergi tidak ada
Riwayat operasi sebelumnya tidak ada

Riwayat penyakit keluarga


Riwayat keluarga menderita keluhan yang sama tidak ada.
Riwayat Kebiasaan
Pasien jarang makan sayur dan buah
Pasien tidak pernah berolahraga
Pasien juga memiliki kebiasaan merokok, sejak remaja dan berhenti sejak 2
tahun terakir.
Kebiasaan minum alkohol disangkal oleh pasien.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi
: 80x/menit
Suhu
: 36,5o C
Pernapasan : 20x/menit
BB
: 55 Kg
Status generalis
Kepala
Rambut
Mata
Telinga
Hidung

: Hitam, ikal, sukar dicabut


: Pupil isokor, reflek cahaya (+/+), konjungtiva anemis
(-/-), sklera ikterik (-/-)
: Dalam Batas Normal
: Dalam Batas Normal
2

Mulut
Leher
Thorax

: Dalam Batas Normal


: KGB dan Tiroid tidak teraba membesar
Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Gerak dinding thorax simetris


: Vocal fremitus simetris
: Sonor pada seluruh lapang paru
: Suara nafas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Ictus cordis tidak terlihat


: Ictus cordis tidak teraba
: batas kanan : ICS V linea parasternal dextra
batas kiri
: ICS V linea midclavikularis sinistra
batas atas : ICS II linea parasternal sinistra
: S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi
: datar, ikut gerak napas
Auskultasi
: Bising usus (+)
Palpasi
: Soepel, Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi
: Timpani
Status Lokalis Regio Anal
Inspeksi
: Tidak tampak kelainan
Palpasi
: Tidak tampak kelainan
Rectal Toucher

Tonus sfingter ani


Mukosa rectum
Sarung tangan

: Normotoni
: Teraba massa 4 cm dari acl
: Feses (+), lendir (+), darah (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan
Hematology
Hemoglobin
Hematrokit
Leukosit
Trombosit
Golongan Darah
B dengan rh (+)
Faal Ginjal
Ureum

Hasil

Satuan

Nilai normal

14,7
43,9
8300
305.000

g/dl
%
/mm3
/mm3

13-18
40-50
4000-10000
150000-350000

15

mg/dl

15-45
3

Kreatinin
Faal Hati/Jantung
SGOT (ASAT)
SGPT (ALAT)

0,67

mg/dl

0,7-1,2

27
32

u/L/37
u/L/37

10-38
9-40

Foto thorax PA

Corakan bronkovaskuler paru kanan dan kiri baik


Jantung: bentuk, ukuran dan letak normal
Sinus dan diafragma biasa
Tulang-tulang dinding dada intake

Kesan: normal
Foto BNO colon in loop

Kontras dimasukkan melalui anus


Tampak kontras mengisi rektum sampai kolon sigmoid
Tampak filling defect sepanjang 4 cm pada rektum 1/3 middle yang
meyempitkan lumen rektum pada level tersebut.

Kesan: tumor rektum 1/3 middle


MCT scan abdomen tanpa kontras

Tampak penebalan dari dinding rektum bagian distal yang menyempitkan


lumen dan menyebabkan dilatasi dari rektum bagian proksimal. Loop loop

usus lainnya dalam batas normal.


Hepar : bentuk dan ukuran normal, densitas parenkim homogennya normal

tidak tampak nodul. Bile duck dan vaskuler normal


GB : bentuk dan ukuran normal, dinding tipis, tidak tampak densitas batu.
Lien : ukuran normal, densitas parenkim homogen normal, tidak tampak

nodul.
Pankreas : ukuran dan densitas normal. Tak tampak nodul atau massa
Ren : ukuran dan densitas normal, pelvocaliceal sistem tidak dilatasi, tidak

tampak densitas batu atau obstruksi.


Vesica urinaria : dinding normal, tidak tampak densitas batu atau massa
Prostat : densitas dalam batas normal
4

Tidak tampak pembesaran kelenjer

Kesan : Tumor rektum


DIAGNOSIS BANDING

Karsinoma rektum 1/3 distal

DIAGNOSIS KERJA

Karsinoma rektum 1/3 middle

RENCANA PENGOBATAN
Rencana operasi (Laparotomy LAR + colostomy)
Infus NaCl 0,9% 20 tpm
PROGNOSIS

Ad vitam: dubia ad bonam


Ad fungsionam: dubia ad malam
Ad sanactionam: dubia ad malam

RESUME
Seorang laki-laki umur 35 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan diare
kronis disertai lendir, dialami sejak 2 bulan yang lalu sebelum masuk rumah
sakit. Awalnya pasien mengalami diare selama 2 minggu dengan frekuensi 810x/hari kemudian feses berubah menjadi lebih padat seperti kotoran kambing dan
kemudian diare kembali. Keadaan ini terjadi selama 2 bulan terakhir. Pasien
mengeluh nyeri abdomen yang hilang timbul. Pasien kadang merasa nausea.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan, kesadaran pasien composmentis, sakit
sedang. Tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan Rectal Toucher teraba
massa ukuran 4 cm dari acl posisi supine. Pada pemeriksaan Foto BNO colon in
loop di dapatkan tumor rektum 1/3 middle. Pada pemeriksaan CT-Scan didapatkan
kesan tumor rektum.

DISKUSI
5

Insiden kejadian kanker kolorektal pada pria dan wanita hampir sama.
Negara dengan insiden tertinggi adalah Amerika, Kanada, Australia dan New
Zealand. Di Amerika, selisih insiden kanker kolorektal pada pria sedikit lebih
banyak dibandingkan wanita, sesuai table dibawah ini:1
Tabel 1. Insiden lokasi kanker pada pria di Amerika

Tabel2. Insiden lokasi kanker pada wanita di Amerika

Dari tabel di atas berdasarkan jenis lokasi kanker, insiden pada pria lebih
banyak dari wanita. Resiko terkena kanker kolorektal juga meningkat seiring
bertambahnya usia. Pada usia 40 tahun, resiko terkena kanker kolorektal
meningkat secara progresif. Sedangkan usia 50 tahun resiko kanker kolorektal
meningkat drastis. Lebih dari 90% penderita kanker kolorektal berusia 50 tahun
6

atau lebih. Insiden tersebut kemudian meningkat hingga 50 kali pada usia 60
hingga 79 tahun dibandingkan yang berusia dibawah 40 tahun. Saat ini, jumlah
kanker kolorektal semakin meningkat pada usia yang lebih muda.1
Di Amerika, kanker kolorektal merupakan salah satu kanker yang sering
didiagnosis pada pria dan wanita usia 20 hingga 49 tahun. Tabel di bawah ini
menunjukkan perbandingan antara pria dan wanita di Amerika yang di diagnosis
kanker kolorektal pada interval waktu tertentu berdasarkan usia saat ini. 1
Tabel 3. Persentase pembentukan kanker kolorektal pada pria di Amerika setelah
10, 20, hingga 30 tahun kemudian berdasarkan umur sekarang 1

Tabel 4. Persentase pembentukan kanker kolorektal pada wanita di Amerika


setelah 10, 20, hingga 30 tahun kemudian berdasarkan umur sekarang1

Kanker kolorektal awalnya bersifat asimptomatik. Kanker tersebut


kemudian membesar sehingga menyebabkan perdarahan rektum disertai altered
bowel habit (konstipasi atau diare). Diare terjadi karena adanya obstruksi parsial
yang disebabkan oleh massa kanker yang juga mengakibatkan perubahan bentuk
feses, nyeri defekasi yang semakin meningkat, serta perasaan tidak tuntas atau
fullness setelah defekasi. Gejala lanjut karsinoma rektum yaitu tenesmus atau
perasaan untuk defekasi tetapi tidak mampu mengosongkan rektum karena massa
yang semakin membesar. Gejala lanjut yang lain dapat berupa dysuria, hematuria,
atau gejala berkemih lainnya bila terjadi invasi lokal pada organ yang berdekatan
seperti prostat dan vesica urinaria. Gejala anemia (kelelahan, sesak napas) dapat
timbul pada kasus dimana perdarahan rektum telah berlangsung lama.2
Faktor lingkungan berperan penting membantu pembentukan kanker
kolorektal. Diet makanan tinggi lemak memicu pembentukan karsinogen,
sementara makanan rendah serat dapat menyebabkan konstipasi sehingga
karsinogen semakin lama bereaksi di epitel usus. Merokok juga dapat
meningkatkan resiko kanker kolorektal. Selain faktor lingkungan, resiko terkena
kanker kolorektal juga meningkat pada orang yang memiliki kerabat terdekat
dengan riwayat yang sama. Penelitian tentang familial form dari kanker kolorektal
terutama autosomal dominan dari familial adenomatous polyposis (FAP) dan
hereditary non-polyposis colon cancer (HNPCC) telah membantu peneliti untuk
menjelaskan patogenesis molekul kanker kolorektal. 2,3
Pada kanker kolorektal yang bersifat genetik, satu alel yang bermutasi
diwariskan sehingga hanya diperlukan mutasi tunggal kedua dalam gen untuk
mengubah fungsi sel. FAP disebabkan oleh mutasi adenomatous polyposis coli
(APC) gen yang sering bermutasi bahkan pada kanker kolorektal nonfamilial.
Pasien dengan FAP membentuk ratusan polip kemudian menjadi kanker pada
umur 20-an tahun di hampir semua kasus. Hal ini terjadi karena setiap colonocyte
sudah membawa satu mutasi gen APC sehingga karsinogen karena lingkungan
(merokok serta makanan tinggi lemak dan rendah serat) hanya perlu bermutasi
dan menonaktifkan salinan gen tunggal yang tersisa untuk menghasilkan polip
yang kemudian dapat berkembang menjadi kanker . 2,3
8

Tes fungsi hati sebaiknya dilakukan pada pasien kanker rektum.


Peningkatan alkali fosfatase menunjukkan adanya indikasi metastasis hati.
Peningkatan Carcinoembryonic antigen (CEA), dan glikoprotein pada membran
sel meningkat pada 70% penderita kanker rektum. Bila level CEA kembali normal
setelah operasi (complete resection) dan meningkat kembali saat di follow-up
mengindikasikan terjadinya reccurence dari tumor. 4
Barium enema juga merupakan pemeriksaan radiologi terbaik untuk
mendiagnosis kanker rektum. Kanker tampak sebagai massa intraluminal dengan
lesi berbentuk apple core. Endoskopi juga diperlukan untuk mengetahui lesi
distal. Endoskopi dan barium enema saling melengkapi dalam pemeriksaan
karsinoma rektum. 4
Foto thorax dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya metastase paru. CT
scan dan MRI juga berguna untuk mendeteksi metastase liver dan kelenjar limfe,
tetapi pemeriksaan endorectal ultrasonography lebih akurat dalam mendeteksi
dalamnya penyebaran tumor dan pembesaran pararectal lymph node. 4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pendahuluan
Karsinoma kolon dan rektum memiliki gejala yang hampir sama, tetapi
karsinoma rektum lebih kompleks karena disertai peningkatan resiko kekambuhan
lokal. Hal tersebut berhubungan dengan anatomi rektum yang lebih rumit serta
berdekatan dengan sfingter dan otot panggul. Penanganan karsinoma rektum juga
telah berkembang pesat sehingga kekambuhan lokal semakin berkurang. Staging
pre operasi yang akurat juga berperan penting dalam pengobatan misalnya untuk
mengetahui pasien yang ditangani dengan terapi neoadjuvant atau memerlukan
operasi.5,6
Anatomi
Rektum terletak di anterior sakrum dan coxygeus panjangnya sekitar 1015cm. Rectosigmoid junction terletak pada bagian akhir mesocolon sigmoid.
Bagian sepertiga proksimal hampir seluruhnya dibungkus oleh peritoneum. Di
setengah bagian distal rektum adalah ektraperitoneral. 7
Vaskularisasi rektum berasal dari cabang arteri mesenterika inferior dan
cabang dari arteri iliaka interna. Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus
hemorriodalis internus dan berjalan ke kranial ke vena mesenterika inferior dan
seterusnya melalui vena lienalis ke vena porta. Dinding rektum terdiri dari 5
lapisan, yaitu mukosa yang tersusun oleh epitel kolumner, mukosa muskularis,
submukosa, muscularis propria dan serosa. 8
Defenisi
Karsinoma rektum adalah kanker yang terbentuk dijaringan rektum
(beberapa inci terakhir dari usus besar paling dekat dengan anus). Jaringan ini
mengalami gangguan proliferasi sel yang tidak terkendali. Karsinoma rektum

10

merupakan tumor ganas yang berupa massa polipoid besar, yang tumbuh ke dalam
lumen dan dapat cepat meluas ke sekitar anus sebagai cincin anular. 8,9
Epidemiologi
Di USA karsinoma kolorektal merupakan kanker gastrointestinal yang
paling sering terjadi dan nomor dua sebagai penyebab kematian di negara
berkembang. Tahun 2006, diperkirakan ada 150.000 kasus baru kanker kolorektal
di USA dan 55.000 kasus dilaporkan akan mengalami kematian. Insiden laki-laki
dan perempuan dan angka pertahanan hidupnya hampir sama. Perbedaan yang
paling penting dari prognosis telah dipantau pada sekelompok ras yang berbeda di
Amerika Serikat. Perbedaan-perbedaan ini menetap sampai menentukan staging
dalam mendiagnosis. 10
Insiden di Amerika Serikat menunjukkan kasus kanker rektal yang baru
sebanyak 42.000 dan kematian akibat kanker rektal sebanyak 15.000 kasus.
Insidennya meningkat setelah usia 50 tahun, ditemukan dalam 7 dekade terakhir
tetapi 5-10% pasien-pasien lebih muda dari 50 tahun.5
Insiden karsinoma kolon dan rektum di Indonesia cukup tinggi demikian
juga angka kematiannya. Insiden pada pria sebanding dengan wanita dan lebih
banyak pada orang muda. Sekitar 75 % ditemukan di rektosigmoid. 10
Etiologi dan Patogenesis
Karsinoma rektum yaitu pertumbuhan jaringan baru diantara kolon dan
anus. Jaringan ini menebal dan membentuk polip. Polip dengan ukuran 5 mm atau
lebih kecil adalah polip tipe hiperplastik. Polip tersebut merupakan adenoma yang
berupa lesi awal dari karsinoma rektum.10
Diet termasuk faktor lingkungan yang mempengaruhi insiden karsinoma
rektum. Diet di negara barat yang tinggi lemak serta daging merah yang rendah
serat mempengaruhi timbulnya karsinoma rektum. Sementara sayuran, vitamin,
elemen tertentu seperti selenium, dan obat non-steroid anti-inflammatory drugs
(NSAID), seperti sulindac menjadi faktor protective. Merokok juga meningkatkan
risiko terjadinya karsinoma rektum. Diet tinggi lemak dapat memicu pembentukan
11

karsinogen dan makanan rendah serat dapat menyebabkan konstipasi. Hal ini
dapat menyebabkan kontak langsung yang lebih lama antara karsinogen dengan
epitel.3,11
Radang usus kronis, seperti colitis ulseratif juga meningkatkan resiko
karsinoma rektum yang meningkatkan pergantian sel epitel sehingga memicu
mutasi genetik. Resiko karsinoma rektum meningkat pada orang-orang yang
memiliki satu atau lebih kerabat dengan riwayat yang sama. Penelitian tentang
bentuk karsinoma rektum yang diwariskan, terutama autosomal dominan dari
familial adenomatous polyposis (FAP) dan hereditary non-poliposis colon cancer
(HNPCC), telah menjelaskan patogenesis molekul karsinoma rektum berdasarkan
'two-hit' dan multiple gen theory tentang fungsi tumor gen supresor. 3
Sel epitel mengalami perubahan progresif dari normal melalui peningkatan
displasia sel menjadi karsinoma. Perubahan sel disebabkan oleh perubahan
genetik. Beberapa di antaranya diwariskan dan yang lain diperoleh melalui efek
karsinogen. Mutasi alel tunggal tidak cukup untuk mengubah fungsi sel sehingga
untuk setiap gen, kedua alel harus bermutasi. Pada sindrom karsinoma rektum
genetik, satu alel mutan telah diwariskan sehingga hanya diperlukan mutasi
tunggal kedua.dalam gen tersebut untuk menghasilkan kanker. Banyak gen harus
bermutasi, jadi dibutuhkan bertahun-tahun untuk menghasilkan mutasi yang
cukup. 3
Sebagai contoh, FAP disebabkan oleh mutasi pada gen adenomatosa
poliposis coli (APC). Pasien dengan FAP membentuk ratusan polip dan menjadi
kanker pada umur 20-an di hampir semua kasus. Hal ini terjadi karena setiap
colonocyte sudah membawa satu gen APC yang bermutasi sehingga karsinogen
dari faktor lingkungan hanya perlu membuat sisa alel bermutasi

untuk

menghasilkan polip yang berkembang menjadi kanker. 3,11


HNPCC tidak melibatkan tahap pembentukan polip. HNPCC berhubungan
dengan mutasi gen akibat terjadi kesalahan dalam menyalin DNA selama mitosis.
Pasien kehilangan kemampuan untuk memperbaiki kesalahan genetik. Sehingga
terjadi akumulasi mutasi pada gen pemicu neoplasia (ACP, p53 dan k-ras). 3,11

12

Manifestasi klinis dan klasifikasi


Gejala klinik 7,12

Pasien-pasien dengan kanker kolorektal dini bersifat asimptomatik. Gejala


yang muncul tidak spesifik.

Manifestasi klinik sering dihubungkan dengan ukuran dan lokasi tumor.


45% dari karsinoma kolorektal terjadi pada kolon proksimal (Caecum
sampai Flexura splenika). Gejala dan tanda yang paling umum pada
neoplasma bagian proximal yaitu nyeri daerah abdominal, penurunan BB,
dan perdarahan. 55% dari kanker kolorektal yang biasa terjadi pada bagian
kolon distal (Kolon descendens sampai rektum), dan gejala-gejalanya itu
termasuk mengecilnya lumen usus yang menyebabkan ukuran feses
menjadi kecil dan hematokesia.

Perdarahan rektum.

Tumor-tumor yang besar itu menyebabkan gejala-gejala seperti obstruksi


pada usus. Pasien datang dengan lemas mengarah ke anemia akibat
kehilangan darah yang kronik, kehilangan BB atau kehilangan nafsu
makan.

Bakteremia oleh streptococcus bofis dan Clostridium septicum menjadi


penyebab yang mendasari keganasan pada kolon 10-25% kasus.

Klasifikasi

Lokasi ; Proksimal, middle dan distal

Staging ;
Stage 0 Kanker hanya berada pada bagian paling dalam dari

perbatasan rektum.

Stage I Kanker telah tumbuh pada lapisan otot rektum.

Stage II Kanker telah tumbuh kedalam atau melewati bagian terluar

dari lapisan rektum.

13

Stage III Kanker telah menyebar ke satu atau lebih ke area nodus

limfe.

Stage IV Kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti hati,

paru-paru dan tulang.

Klasifikasi modifikasi Dukes

Diagnosis
Gejala-gejala yang muncul berdasarkan lokasi dari kanker. Gejala-gejala
spesifik seperti altered bowel habit (konstipasi atau diare), perdarahan saluran
cerna. Gejala nonspesifik termasuk kehilangan BB, malaise dan lemas. Gambaran
akut atau perforasi biasanya jarang. Karsinoma rektum biasanya didiagnosa
dengan pemeriksaan colok dubur. Pemeriksaan abdomen dapat dilakukan untuk
menilai massa abdomen, hepatomegali atau benjolan-benjolan daerah inguinal.
Pemeriksaan pernafasan untuk menilai tanda-tanda metastase paru. Keadaan
umum juga harus dievaluasi. 11
1. Pemeriksaan penunjang 12,13
14

Barium enema
X-rays memudahkan dokter untuk melihat kedalam rektum. Ini
merupakan cara lain untuk menemukan polip, tumor, atau perubahan
lain dalam saluran pencernaan pasien. Terlihat di x-ray yang
menunjukkan gambaran "apple core" yang berarti adanya tumor yang
menutupi rektum.
Kolonoskopi
Kolonoskopi merupakan suatu pilihan tes untuk menegakkan diagnosis
apabila di curigai kanker kolorektal. Itu bisa dilakukan dengan inspeksi
visual pada mukosa kolon dan kemampuan untuk melakukan biopsi
pada jaringan. Kolonoskopi sempurna tidak dapat tercapai apabila
terjadi obstruksi sebelum operasi.
CT-Scan
CT-Scan abdomen dilakukan untuk menilai stadium.
Biopsi
Jika sebuah tes menunjukkan kemungkinan adanya suatu tumor maka
langkah selanjutnya adalah biopsi. Selama kolonoskopi, dokter akan
mengambil polip dan mendaptkan sampel jaringan dari beberapa
bagian di rektum yang dicurigai. Penelitian dari ahli menunjukkan
bahwa jaringan yang dilihat dibawah mikroskop menunjukkan kanker
atau tidak . Terlihat perubahan warna dan tampak perubahan sel berupa
sel-sel kanker.
Endoscopic ultrasonography (EUS)
Pada kanker rektum EUS dilakukan untuk mengevaluasi kedalaman
invasi tumor dan status regional dari nodus limfe. EUS mendeteksi
metastasis nodus limfe regional secara akurat dibandingkan CT-Scan.
Carcinoembrionic antigen (CEA)
Merupakan penanda tumor untuk karsinoma kolorektal tetapi memiliki
sensitivitas dan spesifisitas yang rendah, yang terbatas penggunaannya

15

dalam mendiagnosis dan skrining. Peningkatan serum CEA sebelum


operasi mempengaruhi prognosis kanker kolorektal. Pasien-pasien
dengan stadium tiga memiliki rata-rata rekurensi yaitu 13 bulan jika
level CEA sebelum operasi lebih dari 5 ng/ml dan 28 bulan jika kurang
dari 5 ng/ml. CEA digunakan terutama untuk memonitor angka
rekurensi kanker kolorektal setelah dilakukan reseksi pembedahan.
Diagnosis banding 1

Kanker pada anus, berdasarkan lokasi paling sering adalah carcinoma cell
squamous

Adenokarsinoma dari tumor primer lainnya : kanker prostat, kanker


ovarium dan kanker endometrium. Tumor (adenokarsinoma) memerlukan
histologi dan imunohistokimia untuk mendiagnosa banding.

Tumor-tumor

anorektal

yang

jarang

seperti

karsinoid,

limfoma,

GastroIntestinal Stroma Tumor (GIST), melanoma, massa presakral seperti


kordroma, teratoma dan lain-lain.

Polip premaligna ; secara garis beras vili-vili polip dapat menjadi lebih
besar dan menjadi area yang lebih luas.

Kondisi jinak ; Prolapsus rektum atau intusepsi, sindrom ulserasi rektum


soliter, endometriosis.

Terapi
a. Terapi nonoperatif1
Indikasi:
Komorbiditas atau metastase liver > 50%
Small cell cancer dengan prognosis buruk.
Kontrol gejala tumor lokal dengan neoadjuvant Chemoradiation:

Radiasi jangka pendek 2500 cGY selama 1 minggu.

Radiasi 5040 cGY selama 6 minggu.

16

b. Terapi operatif
Terapi kuratif pada karsinoma rektum adalah tindak bedah. Tujuan utama
tindak bedah ialah memperlancar saluran pencerrnaan, baik bersifat kuratif
maupun nonkuratif. Kemoterapi dan radiasi bersifat paliatif dan tidak memberikan
manfaat kuratif.3
Pada

tumor

rektum

sepertiga

tengah

dilakukan

reseksi

dengan

mempertahankan sfingter anus, sedangkan pada tumor sepertiga distal dilakukan


amputasi rektum melalui resesksi abdominoperineal Quenu-Miles. Pada operasi
ini anus turut dikeluarkan. Reseksi anterior rendah pada rektum dilakukan melalui
laparotomi dengan menggunakan alat stapler untuk membuat anastomosis
kolorektal atau koloanal rendah. 4
Prognosis8
Stadium karsinoma kolorektum berperan penting untuk prognosis.
Prognosis setelah reseksi tergantung dari stadium lesi. Berdasarkan klasifikasi
Duke, kelangsungan hidup dalam 5 tahun ke depan yaitu 90% pada Duke A, 6080% pada Duke B, 20-50% pada Duke C, dan Duke D yakni 5%.
Dari 50% pasien yang mengalami kekambuhan, dapat berupa kekambuhan
lokal, jauh maupun keduanya. Kekambuhan lokal lebih sering terjadi. Penyakit
kambuh pada 5-30% pasien, biasanya pada 2 tahun pertama setelah operasi.
Faktor faktor yang mempengaruhi terbentuknya rekurensi termasuk kemampuan
ahli bedah, stadium tumor, lokasi, dan kemapuan untuk memperoleh batas - batas
negatif tumor.
Prognosis kanker kolorektal dipengaruhi oleh penyakit yang mendasari
seperti diabetes, colitis ulseratif, penyakit gangguan hati, penyakit kronik yang
diderita lebih dari 10 tahun.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Haggar FA, Boushey RP, Colorectal cancer epidemiology: Incidence,
Mortality, survival and risk factors in Clinic colon and rectal surgery .
Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov.
2. Yarbro CH, Wujcik D, Gobel BH. Clinical manifestation section in Cancer
nursing principles and practice. Jones and Bartlett publisher international.
London. 2011. p 1239.
3. Keshav S, Cancer colon and rectal in The gastrointestinal system at a
glance. Blackwell. London. 2010. P 84-5
4. Debas HT. carcinoma of the rectum in Gastrointestinal Surgery. Springer.
USA. 2011. p 300
5. Kaiser AM, Colorectal cancer in Colorectal Surgery. McGraw-Hill
Medical. United States. 2009. P. 265-70.
6. Chern H, Wong WD. Clinical staging:endoscopic techniques in Rectal
cancer. Human Press:LLC . 2010.p1.
7. National Cancer Institute. Rectal Cancer Treatment. Available from:
http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/rectal/HealthProfession
al/page4/2014.
8. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Usus halus, appendiks, kolon, dan
anorektum. Dalam Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2011. p
768-76
9. Approach to Rectal Cancer in International Journal of Surgical Oncology

Volume

2012.

Hindawi.

(2012),

p.9

Avaible

from:

http://www.hindawi.com/journals/ijso/2012/247107/
10.
Guido T B, Eric R R, Molecular Abnormalities in colon rectal

cancer in the molecular basis of cancer. 3rd. Elsevier. Saunders. UK. 2012.
p.409
11.

McArdle O, OMahony D, Colorectal Cancer in Oncology an

illustrated Colour Text. Elsivier. Churchill living stone. New York. 2008.
P.324-25
18

12.

Azrak MF, Yang VW. Colorectal neoplasm in Essential of

Gastroenterology Chapter 10. Wiley-Blackwell. 2012. p132-39


Sabiton DC, Keganasan kolorektal dalam Buku ajar bedah

13.

(Essentials of surgery). Edisi 2. Jakarta. 2010 : EGC. p 34-47

19