Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan terkait dengan insidennya yang
tinggi dan komplikasi yang dapat timbul baik pada ibu maupun pada janin. Di dunia 34% ibu
hamil dengan anemia dimana 75% berada di negara sedang berkembang. Di Indonesia,
63,5% ibu hamil dengan anemia (Saifudin, 2009). Ibu hamil dengan anemia sebagian besar
sekitar 62,3 % berupa anemia defisiensi besi (Prawirohardjo, 2010).
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah yang besar
di Negara miskin dan berkembang seperti di Indonesia. Anemia selama kehamilan dapat
menyebabkan perdarahan adalah penyebab yang paling utama dari kematian ibu hamil,
bersalin dan nifas diseluruh dunia. Diperkirakan 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan
setiap tahunnya; paling sedikit 128.000 perempuan mengalami perdarahan sampai meninggal.
Berdasarkan survey demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu
masih tinggi yaitu 228 / 100.000 KH, hal ini erat kaitanya dengan kurang baiknya
penanganan komplikasi obstetrik saat persalinan dan masih rendahnya status kesehatan ibu
(Depkes,2006).
Dalam Millenium Development Goals (MDGs), Indonesia berkomitmen untuk
menurunkan Angka Kematian Ibu pada tahun 2015 menjadi 2/3 dari keadaan tahun 2000,
yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup. selain itu juga terdapat peningkatan deteksi dini pada
kehamilan dan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan
Penyebab tersebut dikenal dengan trias klasik yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%)
dan infeksi (11%). Sedangkan penyebab tidak langsungnya antara lain adalah ibu hamil
menderita kurang energi kronis (37%), anemia (40%), penyebab lainnya (33%).
1

Ibu hamil aterm cenderung menderita anemia defisiensi besi karena pada masa tersebut
janin menimbun cadangan besi untuk dirinya dalam rangka persediaan segera setelah lahir
(Sin sin, 2008). Pada ibu hamil dengan anemia terjadi gangguan penyaluran oksigen dan zat
makanan dari ibu ke plasenta dan janin, yang mempengaruhi fungsi plasenta. Fungsi plasenta
yang menurun dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang janin. Anemia pada ibu
hamil dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang janin, abortus, partus lama, sepsis
puerperalis, kematian ibu dan janin meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, asfiksia
neonatorum, prematuritas (Cunningham, 2006).
Anemia pada ibu hamil ini akan meningkatkan resiko terjadinya kematian ibu
dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Pada ibu hamil dengan Anemia berat
menyebabkan kegagalan jantung atau kematian pada saat atau sehabis melahirkan. Sekitar
20% kematian maternal penyebabnya berkaitan langsung dengan anemia defisiensi besi.
Untuk itu upaya penanggulangan anemia gizi difokuskan kepada sasaran ibu hamil
dengan suplementasi tablet besi folat (200 mg FeSO4 dan 0,25 mg Asam Folat) dengan
memberikan setiap hari 1 tablet selama minimal 90 hari berturut-turut (Profil Kesehatan
Indonesia,2009).

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Kehamilan adalah dimulainya konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu ) dihitung dari hari pertama sampai terakhir. Oleh karena dalam
tubuh ada sesuatu yaitu individu yang tumbuh dan berkembang untuk menyesuaikan
diri,dengan adanya individu itu tubuh mengadakan perubahan,memberi tempat, kesempatan
dan jaminan untuk tumbuh dan berkembang sampai saatnya dilahirkan (Saifuddin, 2009).
Kehamilan adalah masa yang dimulai dari ovulasi sampai partus. Lamanya kira-kira 280
hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut
dengan kehamilan mature (cukup bulan), bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut
postmature dan kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan premature
(Prawirohardjo, 2010).

B. TUJUAN DAN STANDAR PEMERIKSAAN KEHAMILAN


1. Mengenal dan menangani penyakit-penyakit yang mungkin dijumpai dalam
kehamilan, persalinan dan nifas
2. Mengenal dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin
3 Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak
4 Memberikan nasehat-nasehat tentang cara hidup sehat sehari-hari
Standar pemeriksaan minimal menurut WHO yaitu 4 kali selama kehamilan
1. Satu kali pada trimester I (sebelum 14 minggu)
2. Satu kali pada trimester II (antara minggu ke 14-28 minggu)
3. Dua kali pada trimester III (antara minggu ke 28-36 minggu & sesudah minggu ke 36)
Pelayanan dan asuhan standar minimal 14 T
3

1. Timbang berat badan


2. Tekanan darah
3. Tinggi fundus uteri
4. Tetanus toxoid lengkap
5. Tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan
6. Tes penyakit menular seksual (PMS)
7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
8. Terapi kebugaran
9. Tes VDRL ( Venereal Disease reseach laboratory )
10. Tes reduksi urine
11. Tes protein urine
12.Tes Hb (Haemoglobin)
13.Terapi iodium
14.Terapi malaria

C. ANEMIA
Definisi Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa
eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen
dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer. Anemia menurut World Health Organization
(WHO) yang dikutip Stuart Gillespie (1996) diartikan sebagai suatu keadaan dimana kadar
haemoglobin (Hb) lebih rendah dari keadaan normal untuk kelompok yang bersangkutan.
WHO telah menggolongkan penetapan kadar normal hemoglobin dalam berbagai kelompok
seperti di bawah ini:

Tabel
4

Kadar Hemoglobin Normal

Dewasa

Anak

Dewasa Wanita

12 gr%

Wanita hamiL

11 gr%

Laki-laki
6 bulan-6 tahun

14 gr%
11 gr%

6 tahun-14 tahun

12 gr%

D. JENIS-JENIS ANEMIA
1. Anemi ( Mycrocitic hipochrom )
Anemia myrocitic hipocrom adalah anemia dengan ciri ukuran sel darah merah lebih
kecil dari ukuran normal dan berwarna coklat, yang disebabkan kekurangan ion Fe
sebagai komponen hemoglobin. disertai dengan penurunan kuantitatif pada sintesa
hemoglobin. Patofisiologi simpanan zat besi habis, kadar serum menurun,dengan
gejala klinis timbul karena jumlah hemoglobin tidak adekuat untuk mengangkut
oksigen ke jaringan tubuh. Manifestasi klinik pucat, fertigo keletihan, sakit kepala,
depresi, takikardi,dan amenore.
2. Anemia Sel Sabit ( Anemia Haemolitic)
Anemi sel sabit bentuk anemi yang bersifat kronis dan bersifat bawaan dimana
sebagian atau seluruh hemoglobin normal diganti dengan hemoglobin abnormal.
Penyebabnya bermacam-macam yaitu: keturunan (herediter), erythroblastosis,
malaria, autoimun dan karena bahan kimia tertentu.
3. Anemia Megaloblastic
Anemia megaloplastic adalah sekelompok anemia yang ditandai oleh adanya
eritroblas yang besar yang terjadi akibat gangguan maturasi inti sel tersebut yang
dinamakan megaloblas. Anemia megaloblas disebabkan oleh defisiensi B12, asam
folat, gangguan metabolisme vitamin B 12 dan asam folat, gangguan sintesis DNA
5

akibat dari: defisiensi enzim congenital dan didapat setelah pemberian obat sitostatik
tertentu. Patofisiloginya defisiensi asam folat dan vitamin B 12 jelas akan
mengganggu sintesis DNA hingga terjadi ganggua maturasi inti sel dengan akibat
timbulnya sel-sel megaloblas.
4. Anemia Aplastic
Anemia aplastic pertama kali diperkenalkan oleh Enrich pada tahun 1988, Ia
melaporkan seorang wanita muda yang pucat dan panas dengan ulserasi gusi, anemia
berat, dan leucopenia, pasien cepat meninggal. Anemia aplasticdapat disebakan oleh
defisiensi absolute stem cell sum-sum tulang atau accessory-helper cells, hambatan
padadiferensiasi, supresi imun, kelainan struma dan kelainan growth faktor.
Penyebabnya adalah karena faktor genetic atau keturunan. Kelompok ini sering
dinamakan anemia aplastik konstitusional dan sebagian besar dari padanya diturunkan
menurut hukum Mendell.

E. PATOFISIOLOGIS ANEMIA
Komponen utama sel darah merah adalah hemoglobin protein (Hb), yang mengangkut
sebagian besar oksigen (O2) dan sebagian kecil fraksi karbon dioksida (CO2) dan
mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intraseluler. Rata-rata orang dewasa
memiliki jumlah sel darah merah kira-kira 5 juta per millimeter kubik, masing-masing sel
darah merah memiliki siklus hidup sekitar 120 hari. Jika jumlah sel darah merah kurang,
maka timbul anemia sehingga pengiriman O2 ke jaringan menurun (Price, S.A, 2005 : 255)
Anemia lebih sering ditemukan pada masa kehamilan karena selama masa kehamilan
keperluan zat-zat gizi bertambah dan adanya perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum
tulang (Price, AS;Lorraine M;Wilson2005). Pertambahan volume darah selama kehamilan
disebut dengan hypervolemia, tetapi bertambahnya sel-sel darah lebih sedikit dibandingkan

dengan bertambahnya plasma darah sehingga terjadi pengenceran darah. Pengenceran darah
dianggap sebagai penyesuaian fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi ibu hamil,
karena pengenceran tersebut meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat
selama masa kehamilan yang disebabkan oleh peningkatan cardiac output akibat
hipervolemia. Kerja jantung akan lebih ringan bila viskositas darah rendah. Oleh karena itu
anemia fisiologis atau pseduanemia hemodilius ini dimulai pada trimester I kehamilan, yaitu
pada minggu ke 12 - 20 dan maksimal terjadi pada umur kehamilan 20 36 minggu. Akibat
dari faktor hemodilius , kadar Hb dalam darah ibu hamil dibawah normal.
Kondisi ini disebabkan oleh faktor hemodilius yang disertai dengan faktor lainnya yang
menyebabkan turunnya cadangan zat besi. Kekurangan zat besi dapat dilihat dari perubahan
sel darah merah dengan berbagai bentuk (mikrositer anisositosis). Gambaran khusus pada
pemeriksaan preparat darah tepi dapat dilihat pada produksi asam lambung yang mungkin
kurang (anhydria), permukaan lidah licin dan kurang bintik bintik, kadar zat besi dalam darah
rendah dengan kemampuan mengikat zat besi meningkat (fe-binding capacity) disertai
dengan kadar zat feritin dalam serum yang rendah. Kondisi zat besi dalam darah juga
berkaitan dengan ada tidaknya kelainan dalam darah seperti talasemia, dan leukimia (kanker
darah). Adanya kelainan lain dalam darah ini dapat menyebabkan kemampuan tubuh dalam
mengabsorbsi zat besi menjadi terganggu bahkan terjadi ketidakmampuan tubuh dalam
memproduksi sel darah secara optimal. Menurut mekanisme patofisiologi, klasifikasi
penyebab anemia pada masa kehamilan dibagi dalam 3 macam yaitu :
1. Menurunnya produksi sel darah merah
a. Faktor nutrisi / metabolik
i. Defisiensi besi
ii. Defisiensi asam folat
iii.Defisiensi B 12
7

b. Gangguan sumsum tulang


2. Meningkatnya destruksi sel darah merah
a. Abnormalitas sel darah merah
b. Abnormalitas ekstrinsik
3. Perdarahan akut dan kronik

F.

PROSES TERJADINYA HEMOGLOBIN


Absorbsi besi terutama terjadi di bagian atas usus halus (Duodenum) dengan bantuan alat

angkut protein khusus yaitu transferin dan feritin. Transferin mukosa yang dikeluarkan ke
dalam empedu berperan sebagai alat angkut protein yang bolak balik membawa besi ke
permukaan sel usus halus untuk diikat oleh transferin reseptor dan kembali ke rongga saluran
cerna untuk mengangkut besi lain. Di dalam sel mukosa besi dapat mengikat apoferitin dan
membentuk feritin sebagai simpanan besi sementara dalam sel sebagian sel transferin darah
membawa besi ke sumsum tulang dan bagian tubuh lain. Di dalam sumsum tulang, zat besi
digunakan untuk membuat hemoglobin yang merupakan bagian dari sel darah merah.
G. PENYEBAB ANEMIA
Beberapa hal yang dapat menjadi kausa dari anemia defisiensi besi diantaranya
1. Kehilangan darah yang bersifat kronis dan patologis:
a. Yang paling sering adalah perdarahan uterus ( menorrhagi, metrorrhagia)
padawanita, perdarahan gastrointestinal diantaranya adalah ulcus pepticum,varices
esophagus, gastritis, hernia hiatus, diverikulitis, karsinoma lambung,karsinoma
sekum, karsinoma kolon,maupun karsinoma rectum, infestasicacing tambang,
angiodisplasia.Konsumsi alkohol atau aspirin yang berlebihan dapat menyebabkan
gastritis,hal ini tanpa disadari terjadi kehilangan darah sedikit-sedikit tapi
berlangsungterus menerus.

b. Yang jarang adalah perdarahan saluran kemih, yang disebabkan tumor, batu
ataupun infeksi kandung kemih.
2. Perdarahan saluran nafas (hemoptoe).
Kebutuhan yang meningkat pada prematuritas, pada masa pertumbuhan [remaja],
kehamilan, wanita menyusui, wanita menstruasi.Pertumbuhan yang sangat cepat
disertai dengan penambahan volume darah yang banyak, tentu akan meningkatkan
kebutuhan besi
3. Malabsorbsi : sering terjadi akibat dari penyakit coeliac, gastritis atropi dan pada
pasien setelah dilakukan gastrektomi.
4. Diet yang buruk/ diet rendah besi Merupakan faktor yang banyak terjadi dinegara
yang sedang berkembang dimana faktor ekonomi yang kurang dan latar belakang
pendidikan yang rendah sehingga pengetahuan mereka sangat terbatas mengenai diet/
asupan yang banyak mengandung zat besi.
Beberapa makanan yang mengandung besi tinggi adalah daging, telur, ikan, hati,kacang
kedelai, kerang, tahu, gandum. Yang dapat membantu penyerapan besi adalah vitamin C,
cuka, kecap. Dan yang dapat menghambat adalah mengkonsumsi banyak serat sayuran,
penyerapan besi teh, kopi, `oregano`.
Faktor nutrisi atau peningkatan kebutuhan besi jarang sebagai penyebab utama. Penyebab
paling sering pada laki-laki adalah perdarahan gastrointestinal, dimana dinegara tropik paling
sering karena infeksi cacing tambang. Pada wanita paling sering karena menormettorhagia.

Penyebab anemia umumnya menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (2008) adalah
sebagai berikut :
1. Kurang gizi (malnutrisi)

2. Kurang zat besi dalam diet / makanan


3. Malabsorbsi
4. Kehilangan darah yang banyak : persalinan yang lalu (multipara), haid, dan lain-lain.
5. Penyakit-penyakit kronik : TBC paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain.
Penyebab anemia menurut Sylvia Anderson Price (2006:260) yaitu:
1. Asupan besi yang tidak cukup
2. Gangguan absorpsi
3. Kehilangan darah menetap, seperti pada perdarahan saluran cerna lambat akibat polip,
hemoroid, gastritis, dan lain-lain.
4. Kehilangan darah sewaktu menstruasi
5. Peningkatan kebutuhan zat besi selama hamil
Penyebab anemia menurut Helen Farrer (2001) yaitu :
1. Asupan zat besi dari makanan yang tidak memadai
2. Absorpsi yang jelek
3. Hiperemesis
4. Kehilangan darah haid yang banyak
5. Kehamilan yang sering dan berkali-kali
6. Kehilangan darah yang sedikit-sedikit tapi terus-menerus, misal pada hemoroid.

H. PATOGENESIS ANEMIA
Berdasarkan patogenesisnya, anemia digolongkan dalam 3 kelompok (Wintrobe at all,
2009) yaitu:
1. Anemia karena kehilangan darah
Anemia karena kehilangan darah akibat perdarahan yaitu terlalu banyaknya sesl-sel
darah merah yang hilang dari tubuh seseorang, akibat dari kecelakaan dimana

10

perdarahan mendadak dan banyak jumlahnya, yang disebut perdarahan ekternal.


Perdarahan dapat pula disebabkan karena racun, obat-obatan atau racun binatang yang
menyebabkan penekanan terhadap pembuatan sel-sel darah merah. Selain itu ada pula
perdarahan kronis yang terjadi sedikit demi sedikit tetapi terus menerus. Perdarahan
ini disebabkan oleh kanker pada saluran pencernaan, peptic ulser, wasir yang dapat
menyebabkan anemia.
2. Anemia karena pengrusakan sel-sel darah merah
Anemia karena pengrusakan sel-sel darah merah dapat terjadi karena bibit penyakit
atau parasit yang masuk kedalam tubuh, seperti malaria atau cacing tambang, hal ini
dapat menyebabkan anemia hemolitik. Bila sel-sel darah merah rusak dalam tubuh,
zat besi yang ada di dalam tidak hilang tetapi dapat digunakan kembali untuk
membentuk sel-sel darah merah yang baru dan pemberian zat besi pada anemia jenis
ini kurang bermaanfaat. Sedangkan asam folat dirusak dan tidak dapat digunakan lagi
oleh karena itu pemberian asam folat sangat diperlukan untuk pengobatan anemia
hemolitik ini.
3. Anemia karena gangguan pada produksi sel-sel darah merah
Sum-sum tulang mengganti sel darah yang tua dengan sel darah merah yang baru
sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah yang hilang, sehingga jumlah sel
darah merah yang dipertahankan selalu cukup banyak di dalam darah, dan untuk
mempertahakannya diperlukan cukup banyak zat gizi. Apabila tidak tersedia zar gizi
dalam jumlah yang cukup akan terjadi gangguan pembentukan sel darah merah baru.
Anemia karena gangguan pada produksi sel-sel darah merah, dapat timbul karena,
kurangnya zat gizi penting seperti zat besi, asam folat, asam pantotenat, vitamin B12,
protein kobalt, dan tiamin, yang kekurangannya biasa disebut anemia gizi. Selain itu
juga kekurangan eritrosit, infiltrasi sum-sum tulang, kelainan endokrin dan penyakit

11

ginjal kronis dan sirosis hati. Menurut Husaini (2008) anemia gizi yang disebabkan
kekurangan zat besi sangat umum dijumpai di Indonesia.

I.

ABSORSI Fe DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA


Proses yang komplek terjadi ketika zat besi diabsorbsi mulai dari masuknya makanan

hingga akhirnya masuk kedalam plasma. Besi yang masuk kedalam tubuh biasanya dalam
bentuk ferri (Fe3+). Besi dalam bentuk ini sulit untuk diserap tubuh, karena sulit larut dalam
air jadi harus dubah terlebih dahulu dalam bentuk ferro (Fe2+), sehingga diserap oleh sel-sel
epitil mukosa usus dan akhirnya diteruskan kedalam plasma (Chalton dan Bothwell, 2003).
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi zat besi di dalam tubuh adalah:
Vitamin C adalah faktor yang mempermudah penyerapan zat besi, karena I dengan
pemberian vitamin C absorbsi zat besi lebih ditingkatkan. Zat besi diangkut melalui
dinding usus dalam senyawa dengan asam amino atau vitamin C yang terkandung
dalam buah-buahan dan sayur-sayuran. Selai vitamin C, protein juga merupakan
senyawa yang mempermudah penyerapan zat besi (Husaini 2008).
2. Faktor Penghambat Absorbsi Zat Besi
Zat besi yang bersenyawa dengan asam folat dan asam fitat membentuk senyawa yang
tidak mudah larut dalam air sehingga sulit untuk diabsorbsi. Asam folat dan asam
fitrat banyak terdapat dalam bahan makanan tumbuh-tumbuhan misalnya serealia.
3. Faktor Host
Faktor Host adalah faktor-faktor yang terdapat dalam tubuh manusia sendiri yang ikut
menentukan absorbsi besi. Ada tiga faktor penting yang turut menentukan absorbsi
besi yaitu jumlah zat besi yang disimpan dalam tubuh, keaktifan sum-sum tulang dan
kondisi pencernaan. Apabila simpanan zat besi dan sumsum tulang sedang aktif
membentuk sel-sel darah merah, maka badan akan menyesuaikan dengan membuat

12

semua kegiatan pencernaan dan absorbsi menjadi efisien, sehingga lebih banyak zat
besi yang dapat diserap. Hal ini terjadi pada anak yang sedang dalam pertumbuhan
dan pada ibu hamil. Wanita hamil absorbsi besi mencapai 20%, dimungkinkan
denganadanya isyarat dari sumsum tulang kepada sel mukosa usus untuk
meningkatkan kemampuan penyerapan zat besi karena sumsum tulang sedang
membutuhkannya Husaini 2008).

J.

ANEMIA PADA KEHAMILAN


Selama kehamilan, volume plasma darah meningkat sebesar 30-50 %, sedangkan massa

sel darah merah meningkat 18-25 %, maka terdapat peningkatan relatif dalam volume plasma
dibandingkan dengan massa sel darah merah. Konsentrasi hematokrit dan hemoglobin
menurun. Istilah anemia fisiologis pada kehamilan diterapkan pada penurunan hematokrit ini.
Kadar besi serum sedikit menurun tetapi tetap dalam rentang normal, sementara kemampuan
pengikatan besi keseluruhan meningkat sekitar 15 %. Pengenceran darah dianggap sebagai
penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertamatama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa
hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat, kerja jantung lebih ringan
apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah
tidak naik. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan banyaknya unsur besi yang hilang lebih
sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental.

1. Fisiologi Ibu Hamil


Kehamilan akan menyebabkan meningkatnya daya metabolisme energi. Dua proses
anabolic fundamental yang bebas satu sama lain terjadi selama kehamilan, dimana

13

proses pertama adalah pertumbuhan serta pematangan janin dan plasenta yang
selanjutnya menjadi bayi, dengan berat badan waktu lahir kira-kira 3,4 kg. Sebagai
akibat dari proses anabolic tersebut kebutuhan zat besi umumnya meningkat selama
kehamilan. Kehamilan yang normal akan terjadi perubahan terutama yang
berhubungan dengan darah, sistim kardiovaskuler, sistim pencernaan, jaringan lemak
dan saluran urogenitalis sehingga pada kehamilan terjadi perubahan fisiologis yang
sangat besar pada tubuh ibu hamil. Perubahan yang terjadi pada darah akan
menyebabkan turunnya kadar Hb yang sering dikenal sebagai anemia fisiologis
kehamilan (Berger, 2008).
Perubahan fisiologis pada kehamilan ini dapat mengakibatkan perbedaan nilai-nilai
hematologik antara wanita hamil dengan wanita yang tidak hamil. Darah bertambah
banyak dalam kehamilan, yang sering disebut hidremia atau hipervolemia, namun
pertambahan sel plasma tidak diimbangi dengan pertambahan sel darah merah
sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut:
plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19% (Hanifa, 2007).
Anemia yang didiagnosa pada awal kehamilan (trimester I dan II kehamilan)
berhubungan dengan peningkatan resiko BBLR dan prematuritas, sementara anemia
yang terjadi pada kehamian trimester III bukan merupakan faktor resiko terhadap
outcome kehamilan yang buruk. Oleh sebab itu winita dengan kadar Hb yang rendah
pada awal kehamilan trimester III kehamilan mengalami anemia fisiologis.).

2. Penyebab dan Dampak Anemia pada Ibu Hamil dan Janin


a. Penyebab Anemia Besi

14

Terjadinya anemia besi pada ibu hamil disebabkan oleh banyaknya faktor, yaitu
faktor langsung, tidak langsung dan mendasar. Secara langsung anemia disebabkan
oleh seringnya mengkonsumsi zat penghambat absorbsi Fe, kurangnya
mengkonsumsi promoter absorbsi non hem Fe serta ada infeksi parasit. Faktor
yang penting secara mendasar anemi pada ibu hamil disebabkan oleh rendahnya
pendidikan dan pengetahuan ibu, serta faktor ekonomi yang masih rendah
(Purnawan, 1998). Menurut Julien Perise yang dikutip oleh Syarif (2008)
menyebutkan anemi gizi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal
sebagai berikut : faktor internal meliputi antara lain umur, jarak kehamilan, jumlah
anak, status kesehatan dan lain-lain, sedangkan faktor eksternal meliputi yaitu :
pendapatan, besarnya keluarga, pendidikan, pengetahuan, dan faktor lingkungan
lainnya.
b. Dampak Anemia Pada Ibu Hamil
Anemia dalam kehamilan yang tidak diterapi, dapat mengakibatkan pengaruh
buruk pada ibu, persalinan dan janin. Pengaruh buruk antara lain : timbulnya gejala
umum anemia yaitu lemah, letih, lesu, lelah dan lalai, perdarahan, preeklamsia
/eklamsia, abortus, kematian ibu, hipoksia akibat anemia (dapat menyebabkan syok
dan kematian pada persalinan sulit).
c. Dampak Anemia Besi Pada Janin
Kadar Hb yang rendah maupun tinggi banyak dihubungkan dengan outcome
kehamilan, ibu dengan kadar Hb < 10 gr / dl mempunyai resiko bayi berat lahir
rendah (BBLR), kelahiran dini dan kematian perinatal yang meningkat, namun
kadar Hb > 11 gr /dl juga meningkat resiko outcome kehamilan berupa komplikasi
dalam persalinan seperti preeklamsia dan eklamsi, abortus, kematian janin dalam

15

rahim, kematian neonatal, prematuritas, cacat bawaan dan berat bayi yang
dilahirkan cenderung rendah (Hanifa, 2007)

K. TRANSFER ZAT BESI KE JANIN


Transfer zat besi dari ibu ke janin di dukung oleh peningkatan substansial dalam
penyerapan zat besi ibu selama kehamilan dan diatur oleh plasenta. Serum fertin meningkat
pada umur kehamilan 12 25 minggu, Kebanyakan zat besi ditransfer ke janin setelah umur
kehamilan 30 minggu yang sesuai dengan waktu puncak efisiensi penyerapan zat besi ibu.
Serum transferin membawa zat besi dari sirkulasi ibu untuk transferin reseptor yang terletak
pada permukaan apikal dan sinsitiotropoblas plasenta, holotransferin adalah endocytosied ;
besi dilepaskan dan apotransferin dikembalikan ke sirkulasi ibu. Zat besi kemudian bebas
mengikat fertin dalam sel sel plasenta yang akan dipindahkan ke apotransferrin yang masuk
dari sisi plasenta dan keluar sebagai holotransferrin ke dalam sirkulasi janin. Plasenta sebagai
transfortasi zat besi dari ibu ke janin. Ketika status gizi ibu yang kurang, jumlah reseptor
transferrin plasenta meningkat sehingga zat besi lebih banyak diambil oleh plasenta dan
ditransfortasi untuk janin serta zat besi yang berlebihan untuk janin dapat dicegah oleh
sintesis plasenta fertin.
L. DAMPAK ANEMIA PADA KEHAMILAN
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam
kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit-penyulit yang dapat
timbul akibat anemia adalah:
1. Hamil muda (trimester I)
a. Abortus
b. Missed abortion
c. Kelainan kongenital
16

2. Trimester II
a. Persalinan prematur
b. Perdarahan antepartum
c. Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim
d. Asfiksia intrauterin sampai kematian
e. BBLR
f. Gestosis dan mudah terkena infeksi
g. IQ rendah
h. Dekompensasi kordis (mengakibatkan kematian ibu)
3. Inpartu
a. Gangguan his primer dan sekunder
b. Persalinan dengan tindakan
c. Ibu cepat lelah
4. Pasca partum
a. Atonia uteri menyebabkan perdarahan
b. Retensio plasenta
c. Perlukaan sukar sembuh
d. Mudah terjadi febris puerperalis
e. Gangguan involusi uteri
f. Kematian ibu tinggi (perdarahan, infeksi puerperalis, gestosis)

BAB III

17

TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian Data
Tanggal Pengkajian : 12 Juli 2013

pukul 10.00 WIB

MR

: 83.41.61

Tempat Pengkajian : Poli Kebidanan RSUP M. Djamil Padang


1.

Data subyektif
a. Biodata
Istri

Suami

Nama

Ny. Melya Putri

Tn. Suratman

Umur

24 tahun

30 tahun

Agama

Islam

Islam

Suku/ Bangsa

Minang/ Indonesia

Minang/ Indonesia

Pekerjaan

IRT

Wiraswasta

Alamat

Jln. Pasir Parupuk No. 167 Parupuk Tabing

b. Keluhan utama
Ibu mengatakan nyeru bekas operasi, sering pusing dan cepat lelah serta ibu
datang untuk memeriksakan kehamilannya di Poli Kebidanan RSUP M. Djamil.
c. Riwayat kesehatan
1)

Riwayat kesehatan yang lalu


Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular dengan gejala batuk
lama lebih dari 4 bulan yang tak sembuh-sembuh, batuk berdarah (TBC);
mata/ sklera mata/ kuku/ seluruh tubuh kuning, perut sebelah kanan sakit bila
ditekan, BB turun dengan cepat (Hepatitis); keputihan encer seperti nanah,
lendir vagina banyak dan berbusa (PHS); diare lebih dari 3 bulan, BB turun
drastis dalam waktu satu bulan, mudah terserang penyakit (HIV/AIDS);
keputihan yang berwarna, berbau tidak enak, dan gatal pada vulva (IMS); saat
kencing terasa sakit pada saluran kencing (ISK); Nyeri pada kelenjar limfe
18

yang membesar, dapat disertai pneumonia, terdapat gelembung-gelembung di


daerah alat kelamin (TORCH). Ibu juga mengatakan tidak pernah menderita
penyakit menurun dengan gejala seperti sering makan, sering minum, sering
kencing (DM); darah sukar membeku bila terluka (Hemofilia); jantung
berdebar-debar, mudah lelah, berkeringat pada malam hari terutama telapak
tangan (jantung); tekanan darah tinggi (hipertensi). Ibu juga tidak pernah
memderita penyakit menahun dengan gejala seperti sesak nafas, mengi (asma),
sering pusing, mudah lelah, dan wajah pucat (Anemia).
2)

Riwayat kesehatan sekarang


Ibu mengatakan saat ini tidak menderita penyakit menular dengan gejala
batuk lama lebih dari 4 bulan yang tak sembuh-sembuh, batuk berdarah
(TBC); mata/ sklera mata/ kuku/ seluruh tubuh kuning, perut sebelah kanan
sakit bila ditekan, BB turun dengan cepat (Hepatitis); keputihan encer seperti
nanah, lendir vagina banyak dan berbusa (PHS); diare lebih dari 3 bulan, BB
turun drastis dalam waktu satu bulan, mudah terserang penyakit (HIV/AIDS);
keputihan yang berwarna, berbau tidak enak, dan gatal pada vulva (IMS); saat
kencing terasa sakit pada saluran kencing (ISK); Nyeri pada kelenjar limfe
yang membesar, dapat disertai pneumonia, terdapat gelembung-gelembung di
daerah alat kelamin (TORCH). Ibu juga mengatakan tidak pernah menderita
penyakit menurun dengan gejala seperti sering makan, sering minum, sering
kencing (DM); darah sukar membeku bila terluka (Hemofilia); jantung
berdebar-debar, mudah lelah, berkeringat pada malam hari terutama telapak
tangan (jantung); tekanan darah tinggi (hipertensi). Ibu juga tidak pernah
menderita penyakit menahun dengan gejala seperti sesak nafas, mengi (asma),
sering pusing, mudah lelah, dan wajah pucat (Anemia).
19

3)

Pengobatan yang sedang/ pernah dialami


Ibu mengatakan tidak sedang / tidak pernah menjalani pengobatan tertentu,
Ibu mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit.

d. Riwayat kesehatan keluarga


Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada riwayat keturunan kembar yaitu
dari keluarga ibu, tidak ada yang menderita cacat bawaan.
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular
Riwayat kebidanan
1) Haid
Ibu mengatakan pertama kali haid saat usia 12 tahun, siklus 28 30 hari,
teratur, lamanya 5 hari. Warna darah haid merah segar, hari pertama
biasanya agak bergumpal dan selanjutnya encer. Pada hari 1 sampai hari ke 3
ganti pembalut 2 3 kali sehari. Selanjutnya hanya ganti 2 kali. Saat haid
tidak mengeluh nyeri, tidak pusing.
HPHT

: 15-10-2012

TP

: 22-07-2013

2) Keluarga berencana
Ibu mengatakan pernah menggunakan Kontrasepsi jenis suntik KB 3 bulan
dan belum merencanakan akan memilih KB apa setelah persalinan nanti.

3) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

20

Ibu mengatakan bahwa ini merupakan kehamilan yang kedua, dan yang
pertama dengan operasi SC, perempuan BB: 3000 gr, PB : 47 cm, usia saat
ini 2,5 tahun
e. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Nutrisi
Sebelum hamil : Ibu makan 3 kali sehari, komposisi nasi, sayur (bayam,
kacang panjang, wortel, kol, sawi, kangkung, dll), lauk
(tahu, tempe, telur, ikan), buah (papaya, jeruk, pisang, dll)
dan air putih 5 6 gelas sehari.
Selama hamil

: Ibu makan 3 kali sehari komposisi nasi, sayur (bayam,


kacang panjang, wortel, kol, sawi, kangkung, dll), lauk
(tahu, tempe, telur, ikan), buah (papaya, jeruk, pisang, dll)
dan air putih 6 8 gelas sehari.
Ibu juga minum susu untuk bumil 1 kali sehari. Cara
menyeduh sudah benar yaitu air panas dicampur air
dingin kemudian susu baru dimasukkan lalu di aduk.

2) Eliminasi
Sebelum hamil : BAB 1 kali sehari pada pagi hari bangun tidur, konsistensi
lunak, warna kuning trengguli, tidak ada keluhan.
BAK 5 6 kali sehari , tidak ada keluhan, warna kuning
jernih.
Selama hamil

: BAB 1 kali sehari pada pagi hari bangun tidur, konsistensi


lunak, warna kuning , tidak ada keluhan.
21

BAK 5-6 kali pada siang dan Malam hari, warna kuning
jernih dan tidak ada keluahan
Istirahat
Sebelum hamil : Ibu tidur sekitar 8 jam sehari. Yaitu pada malam hari
mulai pukul 21.00 05.00 WIB dan siang hari sekitar
12.00 13.00 WIB. Tidak ada keluhan.
Selama hamil

: Ibu tidur malam mulai pukul 21.00 05.00. Ibu tidur


siang mulai pukul 14.00-15.25 WIB

Aktifitas dan olahraga


Sebelum hamil : Ibu tidak pernah melakukan olahraga fisik apapun,
kegitan ibu sehari-hari dirumah adalah memasak, bersihbersih

rumah,

menyapu,

mengepel,

mencuci

dan

pekerjaan rumah tangga lainnya.


Selama hamil

: Setiap pagi ibu melakukan jalan santai selama + 30 menit.


Ibu tetap melakukan pekerjaan rumah tangga seperti
sewaktu sebelum hamil.

Personal hygiene
Sebelum hamil : Mandi 2 kali sehari pagi dan sore hari, gosok gigi 2 kali
sehari

setiap

mandi.

Keramas

2x

seminggu,

membersihkan genetalia setiap selesai BAK dengan air


bersih dari depan ke belakang, dan setelah BAB dengan
air bersih dari belakang ke depan. Memotong kuku 1
minggu sekali.

22

Selama hamil

: Mandi 2 kali sehari (pagi, malam), gosok gigi 2 kali


sehari seperti sebelum hamil, keramas 3 hari sekali,
membersihkan genetalia setiap selesai BAK dengan air
bersih dari depan ke belakang, dan setelah BAB dengan
air bersih dari belakang ke depan. Memotong kuku 1
minggu sekali

3) Rekreasi
Sebelum hamil : Ibu jarang pergi untuk rekreasi. Hanya pada hari libur saja
ibu pergi ke tempat orang tua di desa sebelah. Di rumah
ibu biasa nonton TV atau main ke rumah tetangga.
Selama hamil

: Ibu lebih sering pergi ke rumah orang tua selama hamil,


jalan-jalan ke pasar. Di rumah biasa nonton TV atau ikut
ngobrol ke rumah tetangga.

4) Kehidupan sexual
Sebelum hamil : Frekuensi hubungan seksual 3 kali dalam seminggu.
Selama hamil

: Frekuensi berkurang menjadi 2 kali dalam seminggu.

f. Riwayat ketergantungan Obat


Sebelum dan selama hamil ibu tidak tergantung pada jenis obat-obatan tertentu,
tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, tidak minum kopi, dan tidak minumminuman keras. Ibu tidak merokok tetapi suami meokok.

23

g. Latar Belakang Sosial Budaya


Ibu mengatakan dalam keluarga ibu tidak ada kebiasaan periksa dan pijat perut
ke dukun, minum jamu-jamuan, minum ramuan, dan pantang terhadap makanan
tertentu.
h. Psikososial dan Spiritual
Ibu, suami, dan keluarga sangat bahagia dengan kehamilan ini. Karena
kehamilan ini yang pertama
2. Data Obyektif
a. KU ibu baik, kesadaran komposmentis, sikap tubuh agak lordosis, cara
berjalan normal
b. Tanda-tanda Vital
T : 110/70 mmHg
S : 37 C
N : 82 x/menit
R : 22 x/menit
c. TB : 135 cm
BB sebelum hamil : - kg
BB sekarang : 50 kg
Lila : - cm
d. Pemeriksaan khusus
1) TFU Mc Donald : 28 cm
TBJ (Johnson-Tausack) : 3000 gr
24

2) Abdomen
Perut Nampak membuncit sesuai kehamilan, preterm, 35-36 mgg, Linea
nigra hiperpigmentasi, Striea (+), skatrik (+)
LI

: TFU teraba pertengahan PX dan pusat, teraba kosong.

L II: Teraba massa besar lunak, noduler, sebelah kanan. Teraba massa
bulat keras, melenting sebelah kiri.
L III : Teraba kosong
L IV : ( - )
Auskultasi
DJJ + , kuat, teratur, 134 - 142 x/menit, punctum maksimum sejajar pusat
B. Interpretasi Data
No

Diagnosa/
Data Dasar
Masalah/Kebutuhan

1.

G2P1A0H1, UK 34-

S : Ibu mengatakan hamil keduat, usia kehamilan 8

35 minggu, tunggal,

bulan, ibu mulai merasakan pergerakan anak pada

hidup, intrauterine,

bulan ke 4 kehamilan. Ibu mengatakan sering

letak lintang, ku ibu

kencing / BAK dimalam hari,

dan janin baik ibu

2012

dengan anemia
ringan.
Masalah : ibu merasa
nyeri pada bekas
operasi dan cepat

TP

HPHT : 15-10-

: 22-07-2013

O- KU ibu baik, kesadaran composmentis


-

Perut Ibu membesar sesuai usia kehamilan


Pembesaran melintang
TTV

lelah dan pandangan


berkunang-kunang ,

T :110/70mmHg

Rr : 22x/menit

Kebutuhan :

N : 82x/menit

S : 37 0C

25

Informasikan

TB : 135 cm

kebutuhan ibu dan

BB sebelum hamil : - kg

beri dukungan moral

BB sekarang : 50 kg
Lila : - cm

Hb : 8,7 gr %

- Abdomen : pembesaran perut sesuai usia kehamilan


( preterm), pembesaran melintang , perut tidak
mengkilat, ada striae (+), terdapat linea nigra (+),
ada luka bekas operasi
Palpasi :
- LI : TFU teraba pertengahan pusat dan PX, teraba
kosong.
- LII: Teraba massa besar lunak, noduler sebelah
kanan. Teraba massa keras melenting sebelah kiri
- LIII: Teraba kosong
- L IV : Auskultasi
DJJ +, kuat, teratur 134-142x/menit, punctum
maksimum sejajar pusat

26

C. Identifikasi dan Antisipasi Diagnosa Potensial


Anemia Berat
D. Tindakan Segera
a.Asam folik 15 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
E. Perencanaan
1.

Jelaskan hasil pemeriksaan kepada Ibu

2.

Jelaskan pada tentang rasa lelah dan pandangan


berkunang-kunang yang dialami ibu bahwa ibu mengalami anemia ringan

3.

Jelaskan pada Ibu tentang kebutuhan dasar Ibu Hamil


Nutrisi

- Aktivitas

Eliminasi

- Rekreasi

Istirahat

- Kehidupan seksual

Personal hygiene
4.

Beritahu Ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan

5.

Berikan tablet tambah darah dan kalsium serta vit.C

6.

Anjurkan ibu untuk melakukan USG

7.

Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang dan datang bila


ada keluhan.

E. Pelaksanaan
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada Ibu

Keadaan ibu dan janin baik


27

Ibu hamil 34-35 minggu

Kehamilan Ibu tunggal, dalam rahim, letak lintang

2. Menjelaskan kepada ibu tentang rasa lelah dan pandangan berkunang-kunang dan
bagaimana penanganannya
Rasa lelah dan pandangan berkunang-kunang disebabkan oleh :

Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan

kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan


Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut

Hidremia atau Hipervolemia.


Bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya
plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut
adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin

19%. apa diatasi dengan :


Penjelasan mengenai sebab terjadinya
memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero
bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb
sebanyak 1 gr%/ bulan.
menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat
untuk profilaksis anemia
3. Menjelaskan pada Ibu tentang kebutuhan dasar Ibu Hamil

Ibu harus makan makanan bergizi (nasi, sayur, lauk, buah, susu), porsi
cukup, tidak terlalu banyak karena penambahan BB pada TM III tidak boleh lebih
dari 5 kg, nasinya dikurangi dibandingkan TM II, diet tinggi protein, sayur, dan
buah.

Mennganjurkan ibu untuk mengkomsumsi makanan yang banyak mengandung zat


besi

28

Tidur yang dibutuhkan Ibu hamil sekitar 10-11 jam, yaitu total tidur siang dan
malam
Menjelaskan pada ibu tentang bahaya anemia selama kehamilan, persalinan dan
nifas
Memotivasi Ibu untuk terus melanjutkan rutinitas jalan pagi
4. Memberitahu Ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, yaitu :
Perdarahan pervaginam
Sakit kepala lebih dari biasa
Gangguan penglihatan tiba-tiba
Pembengkaan pada wajah / tangan
Nyeri abdomen / epigastrik
Janin tidak bergerak sebanyak biasanya
5. Memberikan tablet tambah darah dan kalsium, menganjurkan untuk minum tablet
tambah darah bersama dengan tomat / jeruk supaya penyerapan Fe dalam tubuh lebih
maksimal karena ibu selama hamil pernah mengalami anemia dengan Hb 8,7 gr%,
Hemotokrit : 27 %.
6. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG
7. Meminta Ibu untuk kontrol ulang hari lagi

F. Evaluasi
1. Ibu sudah mengerti dengan penjelasan tentang :
Hasil pemeriksaan
Kebutuhan dasar Ibu hamil
Keluhan yang sering muncul pada TM III, dan cara mengatasi
29

Tanda bahaya kehamilan


2. Ibu sudah mengetahui tentang bagaimana menangani ketidaknyamanan yang
dialaminya
3. Ibu sudah mengetahui dan mampu menjelaskan kembali tentang kebutuhan dasar Ibu
Hamil, serta Tanda bahaya kehamilan
4. Sudah diberikan terapi
5. Ibu setuju melakukan pemeriksaan USG
6. Ibu setuju untuk melakukan kunjungan ulang 3 hari lagi

1.

Interpretasi Data

a.

Diagnosa Kebidanan
Tanggal 12 Juli 2013 Pukul 10.00 WIB
Ny. M G1 P0 A0 umur 24 tahun umur kehamilan 33-34 minggu, janin tunggal, hidup,
intra uteri, letak melintang, bagian terbawah janin belum masuk panggul dengan anemia
ringan.
Data Dasar
Data subyektif :
1) Ibu mengatakan ini merupakan kehamilannya yang kedua.
2) Ibu mengatakan saat ini berumur 24 tahun
3) Ibu mengatakan hari pertama haid terakir tanggal 15 Oktober 2012
4) Ibu mengatakan belum pernah keguguran, riwayat operasi secsio Cesaria anak I
5) Ibu mengeluh sering pusing, mata berkunang-kunang, lemah dan lesu.
Data obyektif :
1) Keadaan umum ibu : Baik
2) Kesadaran : Composmentis
3) Tekanan darah : 100/70 mmHg
4) Nadi : 80 x/menit
30

5) Suhu : 37 C
6) Respirasi : 22 x/menit
7) TB : 135 cm
8) BB sekarang : 50 kg
9) LILA : - cm
10)HPL : 22 Juli 2013
11)Leopod I : TFU : Teraba pertengahan Pusat dan PX, teraba kosong
Leopold II : Teraba massa besar lunak, noduler, sebelah kanan. Teraba massa bulat,
keras, melenting sebelah kiri.
Leopold III : Teraba kosong
Leopold IV : (-).
TBJ : 3000 gram
DJJ Punctum maximum : Sejajar pusat ibu
Frekwensi : 134- 142 x/menit Teratur/tidak : Teratur
12)HB : 8,7 gr%
b. Masalah
Ibu mengatakan cemas dengan kehamilanya karena sering pusing, mudah mengantuk,
dan cepat lelah.
c. Kebutuhan
1) Beri ibu dukungan moril
2) Beri informasi tentang keadaan kehamilannya (anemia)
3) Beri tahu ibu tentang tablet Fe

4) Beri informasi tentang kebutuhan gizi ibu hamil

31

3.

Diagnosa Potensial
Potensial terjadi anemia Berat

4.

Tindakan Segera
a. Asam folik 15 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari

5.

Rencana Tindakan
Tanggal 10 Juli 2013 Pukul 10.00 WIB
a. Beri informasi tentang hasil pemeriksaan.
b. Beri penkes kepada ibu tentang tablet penambah darah.
c. Beri informasi kepada ibu tentang gizi ibu hamil.
d. Beri dukungan moral.
e. Beritahu ibu untuk istirahat yang cukup.
f. Beri terapi :
a.Asam folik 15 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
g. Lakukan pemeriksaan Hb setiap satu minggu sekali.
h. Beritahu ibu bahwa untuk melakukan control ulang untuk mengecek Hb .

6.

Implementasi/Pelaksanaan
Tanggal 12 Juli 2013 Pukul 10.00 WIB
a. Pukul 10.10 WIB memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
kehamilan. Tekanan Darah : 100/70 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu: 37 C, HB: 8,7gr%
b. Pukul 10.20 WIB memberi informasi tentang tablet Fe, guna zat besi untuk penambah
darah dan mencegah timbulnya anemia yang bila terjadi akan membahayakan jiwa ibu

32

dan menghambat pertumbuhan janin, dosis untuk ibu hamil yaitu 60 mg / hari, jadi
dosis tablet zat besi selama hamil adalah 90 mg tablet selama hamil.
c. Pukul 10.35 WIB memberikan informasi tentang kebutuhan gizi ibu hamil,contoh
menu gizi ibu menyusui seperti nasi, sayur bayam, tahu atau tempe, telur, buah jeruk
atau pepaya.
d. Pukul 10.50 WIB memberikan dukungan moral, memotivasi ibu untuk tetap semangat
dan tidak putus asa dengan keadaan kehamilanya saat ini.
e. Pukul 12.55 WIB memberi oleh Chief Residen terapi pada ibu:
f. Pukul 13.00 WIB menganjurkan ibu untuk istirahat tidur siang yang cukup 2-3 jam.
g. Pukul 13.05 WIB memberitahu ibu bahwa akan dilakukan kunjungan rumah satu
minggu lagi dan pemeriksaan Hb.
7.

Evaluasi
Tanggal 12 Juli 2013 Pukul 13.10 WIB
a. Hasil pemeriksaan
1) Keadaan umum : baik
2) Kesadaran : composmentis
3) Tekanan darah : 100/70 mmhg
4) Nadi : 80 x/menit
5) Suhu : 37 c
6) Respirasi : 22 x/menit
7) Hb : 8,7 gr%
Ibu mengerti tentang keadaan kehamilannya dengan anemia.
b. Ibu sudah mengerti tentang tablet besi dan dapat menjelaskan kembali informasi tablet
besi.
c. Ibu dapat menjelaskan kembali tentang kebutuhan nutrisi untuk ibu hamil.

33

d. Ibu bersedia minum obat dari Chief Residen sesuai anjuran dan cara minumnya yaitu :
e. Ibu mengerti dan bersedia istirahat yang cukup.
f. Ibu bersedia untuk dilakukan kunjungan rumah 1 minggu lagi

BAB IV
KAJIAN / ANALISA ASUHAN KEBIDANAN

34

A. Berdasarkan data subjektif dan data objektif yang diperoleh pada kasus ibu Ny. M
didapatkan data bahwa ibu mengatakan badannya terasa nyeri bekas operasi SC, pusing,
lemas nafsu makan berkurang, dan pada pemeriksaan fisik conjungtiva mata pucat, keadaan
umum ibu baik, TD : 100/70 mmHg, S : 37C, R : 22 x/menit, N : 80 x/menit dan Hb : 8,7 gr
%.
Setiap ibu hamil dengan anemia memiliki risiko untuk terjadi perdarahan postpartum.
Salah

satu

penyebab

perdarahan

postpartum

adalah

karena

atonia

uteri,

yaitu

ketidakmampuan uterus untuk mengadakan kontraksi sebagaimana mestinya. Pada anemia


jumlah efektif sel darah merah berkurang. Hal ini mempengaruhi jumlah kadar haemoglobin
dalam darah. Kurangnya kadar haemoglobin menyebabkan jumlah oksigen yang diikat dalam
darah juga sedikit, sehingga mengurangi jumlah pengiriman oksigen ke organ-organ vital
(Anderson, 2004).Anemia dalam kehamilan dapat berpengaruh buruk terutama saat
kehamilan,persalinan dan nifas. Prevalensi anemia yang tinggi berakibat negatif seperti: 1)
gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak, 2) kekurangan
Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang ditransfer ke sel tubuh maupun
otak. Sehingga dapat memberikan efek yang buruk baik pada ibu maupun bayi yang
dilahirkan (Manuaba,2008)
Sedangkan pada pengkajian data ibu hamil dengan anemia sedang secara teori didapatkan
tanda atau gejala yaitu sering pusing, cepat lelah, mata berkunang-kunang, mudah mengantuk
(Manuaba, 2007).

Upaya Pencegahan atau preventif dan Penanggulangan Anemia Zat Besi Pada Ibu
Hamil
Memberikan pendidikan kesehatan atau KIE kepada ibu hamil berupa :

35

1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami, terutama makanan sumber hewani
(hem iron) yang mudah diserap seperti hati, daging, ikan, ayam. Selain itu perlu
ditingkatkan juga, makanan yang banyak mengandung Vitamin C yang bermanfaat untuk
meningkatkan penyerapan zat besi misalnya : jambu, jeruk, tomat dan Vitamin A (buahbuahan dan sayuran) untuk membantu penyerapan zat besi dan membantu proses
pembentukan Hb.
2. Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan zat besi, asam folat, vitamin A dan asam
amino esensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran.
Penambahan zat besi ini umumnya dilakukan pada bahan makanan hasil produksi
industri pangan. Produk makanan fortifikasi yang lazim adalah tepung gandum serta roti
makanan yang terbuat dari jagung dan bubur jagung serta beberapa produk susu
3. Suplementasi besi-folat secara rutin selama jangka waktu tertentu, bertujuan untuk
meningkatkan kadar Hb secara cepat. Dengan demikian suplementasi zat besi hanya
merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan kurang zat besi yang perlu
diikuti dengan cara lainnya.
4. Berdasarkan pelayanan/asuhan standar minimal Antenatal Care (ANC) yaitu pemberian
Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan. Tablet zat besi diberikan pada ibu
hamil sesuai dengan dosis dan cara yang ditentukan yaitu :
a. Dosis pencegahan
Diberikan pada kelompok sasaran tanpa pemeriksaan Hb. Dosisnya yaitu 1 tablet (60
mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat) berturut-turut selama minimal 90 hari
masa kehamilan mulai pemberian pada waktu pertama kali ibu memeriksa
kehamilannya (K1).
b. Dosis Pengobatan
Diberikan pada sasaran (Hb <ambang batas) yaitu bila kadar Hb < 10,5 gr%
pemberian menjadi 3 tablet sehari selama 90 hari kehamilannya.
Suplementasi tablet zat besi adalah pemberian zat besi folat yang berbentuk tablet.
Tiap tablet 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat, yang diberikan oleh
pemerintah pada ibu hamil untuk mengatasi masalah anemia gizi besi. Pemberian

36

suplementasi zat besi menguntungkan karena dapat memperbaiki status Hb dalam


tubuh dalam waktu relatif singkat. Sampai sekarang cara ini masih merupakan salah
satu cara yang dilakukan pada ibu hamil dan kelompok yang beresiko tingi lainnya.
Di Indonesia tablet besi yang digunakan Ferrous Sulfat senyawa ini tergolong murah
dan dapat diabsorbsi sampai 20%.
Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil
dan nifas karena pada masa kehamilan dan nifas kebutuhan meningkat. Tablet besi
sebaiknya tidak di minum bersama teh atau kopi, karena mengganggu penyerapan.
Dan beberapa literatur membedakan pencegahan atau preventif anemia pada ibu hamil
yaitu :
1. Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu
penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Promosi kesehatan, pendidikan
kesehatan dan perlindungan kesehatan adalah tiga aspek utama di dalam pencegahan
primer.29 Dalam hal ini pencegahan primer ditujukan kepada ibu hamil yang belum
anemia. Tujuan pencegahan ini untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru
penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko.
Pencegahan primer meliputi:
a. Edukasi (Penyuluhan)
Petugas kesehatan dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan
nutrition education berupa dorongan agar ibu hamil mengkonsumsi bahan
makanan yang tinggi Fe dan konsumsi tablet besi atau tablet tambah darah
minimal selama 90 hari. Edukasi tidak hanya diberikan pada saat ibu hamil,
tetapi ketika belum hamil. Penanggulangannya, dimulai jauh sebelum
peristiwa melahirkan. Selain itu, petugas kesehatan juga dapat berperan
sebagai konselor atau sebagai sumber berkonsultasi bagi ibu hamil mengenai
cara mencegah anemia pada kehamilan. Suplementasi Fe adalah salah satu
strategi untuk meningkatkan intake Fe yang berhasil hanya jika individu
37

mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor yang mendukung rendahnya


tingkat kepatuhan tersebut, salah satunya adalah efek samping yang tidak
nyaman dari mengkonsumsi Fe adalah melalui pendidikan tentang pentingnya
suplementasi Fe dan efek samping akibat minum Fe.
b.Suplementasi Fe (Tablet Besi)
Anemia defisiensi besi dicegah dengan memelihara keseimbangan antara
asupan Fe dan kehilangan Fe. Jumlah Fe yang dibutuhkan untuk memelihara
keseimbangan ini bervariasi antara satu wanita dengan yang lainnya
tergantung pada riwayat reproduksi. Jika kebutuhan Fe tidak cukup terpenuhi
dari diet makanan, dapat ditambah dengan suplemen Fe terutama bagi wanita
hamil dan masa nifas.24 Suplemen besi dosis rendah (30mg/hari) sudah mulai
diberikan sejak kunjungan pertama ibu hamil.
c. Fortifikasi Makanan dengan Zat Besi
Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses secara
terpusat merupakan inti pengawasan anemia di berbagai Negara. Fortifikasi
makanan merupakan cara terampuh dalam pencegahan defisiensi besi. Produk
makanan fortifikasi yang lazim adalah tepung gandum serta roti makanan yang
terbuat dari jagung dan bubur jagung serta beberapa produk susu.
2. Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan diantaranya
adalah :
a. Skrining diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok wanita yang harus diobati
dalam mengurangi morbiditas anemia. Bagi wanita hamil harus dilakukan
skrining pada kunjungan I dan rutin pada setiap trimester. Skrining dilakukan
dengan pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi apakah ibu hamil
anemia atau tidak, jika anemia, apakah ibu hamil masuk dalam anemia ringan,
sedang, atau berat. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan
gejala yang mendukung seperti tekanan darah, nadi dan melakukan anamnesa
berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga, tenaga kesehatan dapat memberikan

38

tindakan yang sesuai dengan hasil tersebut. Jika anemia berat ( Hb < 9 g/dl)
dan Hct <27%) harus dirujuk kepada dokter ahli yang berpengalaman untuk
mendapat pertolongan medis.
b.Pemberian terapi dan Tablet Fe
Jika ibu hamil terkena anemia, maka dapat ditangani dengan memberikan
terapi oral dan parenteral berupa Fe dan memberikan rujukan kepada ibu
hamil ke rumah sakit untuk diberikan transfusi (jika anemia berat)
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan
menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera atau ketidakmampuan sudah terjadi
dan menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini pencegahan tersier ditujukan kepada ibu
hamil yang mengalami anemia yang cukup parah dilakukan untuk mencegah
perkembangan penyakit ke arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup
klien seperti untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan,
keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang dan memperpanjang
hidup. Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu :
a. Memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin
b. Mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat pada ibu
hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan tetap
mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah persalinan.

39

BAB V
PENUTUP

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lebih dari ibu hamil mengalami defisiensi
besi dan lebih dari 1/3 mengalami anemia. Pemberian suplemen besi setara 60 mg elemen besi
dan 0,25 mg asam folat per hari selama 13 minggu dapat menurunkan angka amenia serta
meningkatkan status besi ibu hamil, tetapi 1/3 dari mereka masih menderita defisiensi besi dan
9% masih anemia. Oleh kerena itu, adalah sangat penting memberikan asupan besi sejak
masa pre-maternal supaya cadangan besi pada saat hamil cukup memadai agar ibu hamil
tidak mengalami anemia selama kehamilan.

40

DAFTAR PUSTAKA

Abrahams, Peter, 2013, Panduan Kesehatan dalam Kehamilan, Karisma Publishing Group,
Tangerang Selatan
Benson, Ralph C, 2009, Buku Saku Obstetri & Ginekologi Edisi 9, Alih Bahasa dr. Susiani
Wijaya, EGC, Jakarta
Cunningham, Gary F, et al, 2006, Obstetri Williams Edisi 21, EGC, Jakarta
Cunningham, Gary F., et al, 2010, Williams Obstetrics 23rd edition. Mc Graw Hill, EGC,
Jakarta
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Farrer, Helen. (2001). Perawatan Maternitas. Jakarta : EGC
Fraser, Diane M, et al, 2009, Buku Ajar Bidan Myles, EGC, Jakarta
Krantz KE, 2003, Anatomy of The Female Reproduction System in Current Obstetric &
Gynecologic & Treathment Ed 9 McGraw-Hill
41

Mansjoer A, dkk, 2008, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Acsulapius


Manuaba IBG, 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Jakarta : EGC
Price, S.A. (2006). Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Varney H, 2006, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Jakarta : EGC
Walsh Linda V, 2007, Buku Ajar Kebidanan Komunitas, Jakarta : EGC

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PADA NY. M G2P1A0H1


DENGAN ANEMIA RINGAN DI POLI KEBIDANAN
RSUP DR. M. DJAMIL
PADANG

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas


Pengalaman Belajar Praktek dan Praktek Klinik Kebidanan

DISUSUN OLEH :
SUSI HARTATI
42

1121228004

DOSEN PEMBIMBING :

Dr. H. ARIADI, Sp.OG (K)

PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KEBIDANAN


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG 2013
LEMBAR PERSETUJUAN

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Ny. M G2P1A0H1 Usia Kehamilan 34-35 Minggu
Di Poli Kebidanan RSUP Dr. M. Djamil
Padang
Disetujui Tanggal : 12 Juli 2013

Mahasiswi

SUSI HARTATI
BP: 1121228004

43

Menyetujui :

Mengetahui
Ketua Program Studi S2 Kebidanan

Pembimbing Praktek

Dr.Hj. YUSRAWATI, SpOG (K)

Dr. H. ARIADI, Sp.OG (K)

44

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayah-Nya.sehingga penulis
dapat menyusun Laporan Kasus di Poli Kebidanan RSUP Dr. M.Djamil Padang.
Dalam menyusun laporan ini penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran dari
pembimbing praktek maupun akademik. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.

Dr. Hj. Yusrawati, SpOG (K), selaku ketua Program Studi S2 Ilmu Kebidanan Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas Padang

2.

Dr. H. Ariadi, SpOG (K), selaku pembimbing Praktek

3.

Chief Residen di Poli Kebidanan RSUP dr. Djamil Padang

4.

Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini
Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, maka kami
mengaharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Padang, Juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN . i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI .iii
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang .1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
A. Pengertian ... 3
B. Tujuan dan Standar Pemeriksaan .3
C. Anemia .4
D. Jenis-jenis Anemia .. 5
E. Patofisiologi Anemia ....6
F. Proses Terjadinya Hemoglobin 8
G. Penyebab Anemia .8
H. Patogenesis Anemia ..10
I. Absorsi dan Faktor yang Mempengaruhi .12
J. Anemia pada Kehamilan ...13
K. Transfer Zat Besi ke Janin ....16
L. Dampak Anemia Pada Kehamilan ....16
BAB III TINJAUAN KASUS .18
BAB IV KAJIAN / ANALISA ASUHAN KEBIDANAN ...35
BAB V PENUTUP 41
DAFTAR PUSTAKA .46
LAMPIRAN