Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

KESANGGUPAN KARDIOVASKULAR

KELOMPOK E7
Nama
Beby Pricilia Tanesia
Hans Christian
Chintia Septiani
Putri Bunga Cinta Tanamal
Ivander Benedict H
Ayu Natalia
Lutfi Karimah
Yehezkiel Edward

NIM
(102011011)
(102011079)
(102011083)
(102011181)
(102011287)
(102011302)
(102011359)
(102011400)

Tanda Tangan

Keterangan
Ketua
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telephone: (021) 5694-2061 (hunting)
Fax: (021) 563-1731

A. Tujuan

Mengetahui kesanggupan kardiovaskular pada orang.


B. Alat dan Bahan
1.
2.
3.
4.
5.

Sfigmomanometer dan stetoskop.


Ember kecil berisi air es dan thermometer kimia.
Pengukur waktu (arloji atau stopwatch).
Bangku setinggi 19 inci.
Mentronom (frekuensi 120/menit).

C. Cara Kerja
I. Tes Peninggian Tekanan Darah Dengan Pendinginan (Cold-Pressor Test)
1. Suruhlah orang percobaan berbaring terlentang dengan tenang selama 20
menit.
2. Selama menunggu pasanglah manset sfigmomanometer pada lengan kanan
atas orang percobaan.
3. Setelah OP berbaring 20 menit, tetapkanlah tekanan darahnya setiap 5 menit
sampai terdaoat hasil yang sama 3 kali berturut-turut (tekanan basal).
4. Tanpa membuka manset suruhlah OP memasukkan tangan kirinya ke dalam air
es (40C) sampai pergelangan tangan.
5. Pada detik ke-30 dan detik ke-60 pendinginan, tetapkanlah tekanan sistolik
dan diastoliknya.
6. Catatlah hasil pengukuran tekanan darah OP selama pendinginan. Bila pada
pendinginan tekanan sistolik naik lebih besar dari 20 mmHg dan tekanan
diastolik lebih dari 15 mmHg dari tekanan basal, maka OP termasuk golongan
hiperreaktor. Bila kenaikan tekanan darah OP masih di bawah angka-angka
tersebut di atas, maka OP termasuk golongan hiporeaktor.
7. Suruhlah OP segera mengeluarkan tangan kirinya dari es dan tetapkanlah
tekanan sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan
darah basal.
8. Bila terdapat kesukaran pada waktu mengukur tekanan sistolik dan diastolik
pada detik ke-30 dan detik ke-60 pendinginan, percobaan dapat dilakukan dua
kali.
a. Pada percobaan pertama hanya dilakukan penetapan tekanan sistolik
pada detik ke-30 dan detik ke-60 pendinginan.

b. Suruhlah OP segera mengeluarkan tangan kirinya dari es dan


tetapkanlah tekanan sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai
kembali ke tekanan darah basal.
c. Setelah tekanan darah kembali ke tekanan basal, lakukanlah percobaan
yang kedua untuk menetapkan tekanan diastolik pada detik ke-30 dan
detik ke-60 pendinginan.
II. Percobaan Naik Turun Bangku (Harvard Step Test)
1. Suruhlah orang percobaan berdiri menghadap bangku setinggi 19 inci sambil
mendengarkan detakan sebuah metronom dengan frekuensi 120 kali per menit.
2. Suruhlah orang percobaan menempatkan salah satu kakinya di bangku, tepat
pada suatu detakan metronom.
3. Pada detakan berikutnya (dianggap sebagai detakan kedua) kaki lainnya
dinaikkan ke bangku sehingga orang percobaan berdiri tegak di atas bangku.
4. Pada detakan ketiga, kaki yang pertama kali naik diturunkan.
5. Pada detakan keempat, kaki yang masih di atas bangku diturunkan pula
sehingga orang percobaan berdiri tegak lagi di depan bangku.
6. Siklus tersebut diulang terus-menerus sampai OP tidak kuat lagi tetapi tidak
lebih dari 5 menit. Catatlah berapa lama percobaan tersebut dilakukan dengan
menggunakan sebuah stopwatch.
7. Segera setelah OP disuruh duduk, hitunglah dan catatlah frekuensi denyut
nadinya selama 30 detik sebanyak 3 kali masing-masing dari 0 30, dari 1
130, dan 2 230.
8. Hitunglah indeks kesanggupan orang percobaan serta berikan penilaiannya
menurut 2 cara berikut ini:
a. Cara lambat: indeks kesanggupan badan = (lama naik turun dalam
detik x 100) / (2 x jumlah ketiga harga denyut nadi tiap 30).
Penilaiannya:
i. Kurang dari 55
= kesanggupan kurang.
ii. 55 64
= kesanggupan sedang.
iii. 65 79
= kesanggupan cukup.
iv. 80 89
= kesanggupan baik.
v. lebih dari 90
= kesanggupan amat baik.
b. Cara cepat: indeks kesanggupan badan = (lama naik-turun dalam detik
x 100) / (5,5 x harga denyut nadi selama 30 pertama).
c. Dengan daftar, petunjuk-petunjuk:
i. Carilah baris yang berhubungan dengan lamanya percobaan.
ii. Carilah lajur yang berhubungan dengan banyaknya denyut nadi
selama 30 pertama.

iii. Indeks kesanggupan badan terdapat dipersilangan baris dan


lajur.
Penilaiannya:
i.
ii.
iii.

Kurang dari 50
50 80
lebih dari 80

= kurang
= sedang
= baik

D. Hasil Pemeriksaan/Percobaan
I. Percobaan Pertama
1. Orang percobaan: Ayu Natalia
2. Tekanan darah setelah berbaring 20 menit (dihitung tiap 5 menit):
a. Tekanan darah 1
: 100/60 mmHg.
b. Tekanan darah II
: 90/50 mmHg.
c. Tekanan darah III
: 100/60 mmHg.
Kesimpulan : Tekanan basal = 100/60 mmHg.
3. Tekanan darah setelah tangan dimasukkan ke dalam air es:
a. Pada 30 detik : 100/70 mmHg.
b. Pada 60 detik : 100/60 mmHg.
4. Hasil naik tidak sampai 15 mmHg hiporeaktor.
II. Percobaan Kedua
1. Orang percobaan: Chintia Septiani
2. Lama naik-turun bangku: 140.
3. Frekuensi denyut nadi setelah naik-turun bangku:
a. 30
: 47 kali.
b. 60
: 40 kali.
c. 90
: 36 kali.
4. Perhitungan cara lambat: (100 x 100) / (2 x 123) = 40,65. Kesanggupan <55 =
kesanggupan kurang.
5. Perhitungan cara cepat: (100 x 100) / (5,5 x 47) = 38.68. Kesanggupan < 55 =
kesanggupan kurang.
Pembahasan
I. Percobaan I
Terdapat banyak faktor yang dapat memperngaruhi tekanan darah. Beberapa
hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:1

1. Tekanan arteri rerata bergantung pada curah jantung dan resistensi perifer
total.
2. Curah jantung bergantung pada kecepatan jantung dan isi sekuncup.
3. Kecepatan jantung bergantung pada keseimbangan relatif aktivitas
parasimpatis yang menurunkan kecepatan jantung, dan aktivitas simpatis yang
meningkatkan kecepatan jantung,
4. Isi sekuncup meningkat sebagai respons terhadap aktivitas simpatis (kontrol
ekstrinsik).
5. Isi sekuncup juga meningkat jika aliran balik vena meningkat (kontrol
intrinsik).
6. Aliran balik vena ditingkatkan oleh vasokontriksi vena yang diinduksi oleh
saraf simpatis, pompa otot rangka, pompa pernapasan, dan penghisapan
jantung.
7. Penentu lain tekanan darah adalah bergantung pada jari-jari semua arteriol
serta kekentalan darah yang ditentukan oleh jumlah sel darah merah. Faktor
jari-jari arteriol mempengaruhi lebih banyak dan lebih penting.
8. Jari-jari arteriol dipengaruhi oleh kontrol metabolik lokal (intrinsik) yang
menyamakan aliran darah dengan kebutuhan metabolik.
9. Jari-jari arteriol juga dipengaruhi oleh aktivitas simpatis, suatu mekanisme
ekstrinsik yang menyebabkan vasokonstriksi arteriol untuk meningkatkan
resistensi perifer total dan tekanan darah arteri rerata.
Selain faktor-faktor di atas, masih ada beberapa refleks yang dapat mengatur
tekanan darah, dan beberapa di antaranya adalah refleks baroreseptor, yang berfungsi
utama dalam mengatur tekanan darah jika terjadi penurunan atau peningkatan untuk
berusaha mengembalikan tekanan darah tersebut ke batas normal. Selain itu yang juga
penting adalah kontrol hipotalamus terhadap arteriol kulit untuk tujuan pengaturan
suhu lebih didahulukan dari pada kontrol dari pusat kardiovaskular. Akibatnya,
tekanan darah dapat turun ketika pembuluh-pembuluh kulit melebar, darah lebih
banyak mengalir melalui pembuluh dan perpindahan panas ke lingkungan akan lebih
banyak, disebut sebagai vasodilatasi, terjadi ketika suhu cukup tinggi. Jika pada suhu
yang rendah, untuk menghalangi panas banyak dikeluarkan dari arteri, akan terjadi
penyempitan pembuluh darah, supaya darah lebih sedikit mengalir, sehingga panas
bisa lebih ditahan di dalam darah, yang disebut sebagai vasokonstriksi. Jika
perubahan terhadap suhu ini sangat cepat (hiperreaktor), dapat diduga bahwa orang
tersebut mengalami hipertensi, dan jika perubahan terhadap suhu cukup lambat
(hiporeaktor), maka orang tersebut diduga sebagai hipotensi.1,2

II. Percobaan II
Ketika melakukan olah raga, tentu curah jantung akan meningkat, yaitu
volume darah yang dipompa oleh masing-masing ventrikel per menit (bukan jumlah
total darah yang dipompa oleh jantung). Selama suatu periode waktu, volume darah
yang mengalir melalui sirkulasi paru sama dengan volume yang mengalir melalui
sirkulasi sistemik. Karena ini, curah jantung dari masing-masing ventrikel normalnya
sama, meskipun dari denyut per denyut dapat terjadi variasi ringan.1
Dua penentu curah jantung adalah kecepatan jantung berdenyut dan isi
sekuncup (volume darah yang dipompa per denyut). Jika isi sekuncup adalah 70 ml
per denyut, akan menghasilkan curah jantung rerata 4900 ml per menit. Namun,
selama berolah raga atau adanya peningkatan aktivitas, curah jantung ini dapat
meningkat 20 hingga 25 liter per menit. Curah jantung ini diatur oleh berbagai faktor,
tentu bergantung pada kecepatan jantung dan isi sekuncup.1
Kecepatan jantung ditentukan terutama oleh pengaruh otonom nodus SA, yang
merupakan pemacu normal jantung karena memiliki laju depolarisasi spontan yang
tinggi. Jantung dipersarafi oleh kedua divisi sistem saraf otonom yang dapat
memodifikasi kecepatan (serta kekuatan) kontraksi. Mari kita lihat efek yang spesifik
yang ditimbulkan oleh perangsangan parasimpatis, di antaranya adalah:1
1. Sistem parasimpatis memperngaruhi nodus SA untuk mengurangi kecepatan
jantung berdetak. Asetilkolin yang dibebaskan meningkatkan permeabilitas
nodus SA terhadap K dengan memperlambat penutupan saluran K. akibatnya,
kecepatan pembentukan potensial aksi spontan berkurang melalui efek ganda:
(1) meningkatnya permeabilitas K menyebabkan hiperpolarisasi membran
nodus SA karena semakin banyak ion positif yang keluar dibandingkan saat
normal, menyebabkan keadaan di intrasel menjadi semakin negatif dan lebih
jauh dari firing level, (2) peningkatan permeabilitas K juga sekaligus melawan
penurunan otomatis permeabilitas K yang berguna untuk pengembangan
potensial pacemaker. Efek penurunan ini menurunkan frekuensi depolarisasi
spontan, memperlama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ambang,
sehingga menurunkan frekuensi jantung.

2. Pengaruh parasimpatis terhadap nodus AV adalah mengurangi eksitabilitas


nodus AV, memperlama transmisi impuls ke ventrikel yang lebih lama
dibandingkan AV delay biasanya. Efek ini terjadi karena peningkatan
permeabilitas K yang membuat membran terhiperpolarisasi sehingga menunda
inisiasi eksitasi dari nodus AV.
3. Stimulasi parasimpatis pada sel kontraktil atrium memperpendek potensial
aksi, mengurangi arus masuk lambat dari Ca (memperpendek fase plateau).
Hasilnya, kontraksi atrium melemah.
4. Sistem parasimpatis memiliki efek yang kecil terhadap kontraksi ventrikel,
karena jarangnya persarafan simpatis terhadap ventrikel jantung.
Berbeda dengan parasimpatis, pada sistem simpatis, di mana mengontrol
jantung dalam keadaan emergensi atau saat berlatih, saat di mana dibutuhkan aliran
darah yang lebih banyak, akan meningkatan frekuensi jantung melalui efeknye
terhadap pacemaker jantung. Berikut adalah hal-hal yang harus dilihat:1
1. Efek utama dari perangsangan simpatis adalah terhadap nodus SA untuk
mempercepat depolarisasi sehingga lebih cepat mencapai ambang. Hal ini
terjadi dengan mengurangi permeabilitas K yaitu dengan mempercepat
inaktivasi saluran K.
2. Stimulasi simpatis dari nodus AV juga menurunkan AV delay dengan
mempercepat kecepatan penghantaran, dilakukan dengan meningkatkan
pemasukan lambat Ca.
3. Perangsangan simpatis juga mempercepat penyebaran potensial aksi yang
melalui sistem penghantar khusus. Baik sel kontraktil atrium dan ventrikel
memiliki banyak persarafan simpatis, sehingga persarafan simpatis akan
memperkuat kontraksi jantung sehingga akan berdetak lebih kuat dan
memompa darah ke luar lebih banyak. Efek ini terjadi kerena meningkatnya
permeabilitas Ca yang meningkatkan influks Ca.
Karenanya, efek keseluruhan stimulasi simpatis pada jantung adalah
meningkatkan efektivitas jantung sebagai pompa dengan meningkatkan kecepatan
jantung, mengurangi penundaan antara kontraksi atrium dan ventrikel, mengurangi
waktu hantaran ke seluruh jantung, dan meningkatkan kekuatan kontraksi; yaitu,
stimulasi simpatis menyebabkan jantung ngebut.Meskipun persarafan otonom
merupakan cara utama untuk mengatur kecepatan jantung, namun faktor lain juga
berperan. Faktor lain yang terpenting adalah epinefrin, suatu hormon pada stimulasi

simpatis disekresikan ke dalam darah dari medula adrenal dan bekerja pada jantung
dengan cara serupa seperti norepinefrin untuk meningkatkan kecepatan jantung.1
Faktor lain selain kecepatan jantung adalah isi sekuncup, dalam menentukan
curah jantung. Dua jenis kontrol yang mempengaruhi isi sekuncup adalah control
intrinsik dan ekstrinsik. Control intrinsik isi sekuncup, yang merujuk kepada
kemampuan inheren jantung untuk mengubah-ubah isi sekuncup, bergantung pada
korelasi langsung antara volume diastolik akhir dan isi sekuncup. Dengan
meningkatnya darah yang kembali ke jantung, jantung akan memompa ke luar lebih
banyak darah. Kontrol intrinsik ini bergantung pada hubungan panjang tegangan otot
jantung. Kontrol ekstrinsik merupakan control melalui faktor-faktor yang berasal dari
luar jantung, yang terpenting adalah kerja saraf simpatis dan epinefrin yang dapat
meningkatkan kontraktilitas jantung. Dengan kata lain jantung akan berkontraksi lebih
kuat dan memeras lebih banyak darah yang dikandungnya sehingga penyemprotan
darah menjadi lebih tuntas.1
Perhatikanlah bahwa stimulasi simpatis dapat meningkatkan curah jantung
dengan meningkatkan baik kecepatan jantung maupun isi sekuncup. Aktivitas
simpatis ke jantung meningkat, sebagai contoh, selama olah raga ketika otot-otot
rangka membutuhkan peningkatan penyaluran darah kaya oksigen untuk menunjang
tingkat konsumsi ATP mereka yang tinggi.1
Havard Step Test
Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi
ataumendiagnosa penyakit kardiovaskuler. Tes ini juga baik digunakan dalam
penilaian kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari kerja berat. Semakin cepat
jantung berdaptasi (kembali normal), semakin baik kebugaran tubuh. Tes Harvard
merupakan tes ketahanan terhadap kardiovaskuler.Tes ini menghitung kemampuan
untuk berolahraga secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa lelah.1
Subjek (orang yang melakukan tes) melangkah naik dan turun pada papan
setinggi 45 cm. Jumlah langkah yaitu 30 langkah permenit dalam 5 menit atau sampai
subjek kelelahan. Kelelahan adalah ketikaa saat subjek tidak mampu lagi
mempertahankan langkahnya dalam 15 detik. Subjek didudukkan dan merupakan
akhir dari tes, dan denyut jantungnya kemudiandihitung dalam 1 sampai 1,5, 2 sampai
2,5, dan 3 sampai 3,5 menit.1
8

Kelebihan Tes Harvard antara lain;peralatannya sederhana,mudah untuk


dilakukan, dapat dikelola sendiri. Kekurangan Tes Harvard antara lain : tingkat stres
tinggi, tidak dapat dilakukan untuk anak-anak, dipengaruhi oleh variasi maksimum
detak jantung (HR).1

Pembahasan Hasil Percobaan


Ketika setelah melakukan kerja, tentu aktivitas meningkat, otot-otot
membutuhkan lebih banyak oksigen untuk dapat menghasilkan ATP lebih banyak,
sehingga jantung harus meningkatkan curah jantungnya untuk mengkompensasi
kekurangan oksigen yang mungkin saja terjadi. Hal ini terjadi oleh aktivasi saraf
simpatis yang meningkat saat aktivitas meningkat seperti saat berolah raga ataupun
melakukan kerja berat. Dengan demikian denyut nadi akan bertambah tinggi untuk
memompakan darah lebih banyak. Ketika aktivitas sudah berkurang, stimulasi
simpatis akan menurun, sehingga kerja jantung juga menurun, dan akhirnya terjadi
penurunan frekuensi denyut nadi. Jika saat terjadi peningkatan aktivitas jantung
bekerja terlalu keras hingga terjadi peningkatan frekuensi denyut nadi yang sangat
tinggi, itu artinya kesanggupan jantung untuk mengkompensasi kebutuhan oksigen
yang meningkat kurang baik. Namun jika denyut jantung meningkat tidak terlalu
pesat,

itu

tandanya

jantung

memiliki

kesanggupan

yang

baik

untuk

mengkompensasikan kebutuhkan oksigen yang meningkat.

F. Daftar Pustaka

1. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC;
2011.
2. Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. Biologi. Edisi ke-5. Jilid ke-3. Jakarta:
Penerbit Gramedia; 2004.