Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Kehamilan lewat waktu juga biasa disebut serotinus atau post
term pregnancy, yaitu kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 42
minggu atau 294 hari. Beberapa penulis menghitung waktu 42 minggu
setelah haid terakhir, ada pula yang mengambil 43 minggu. Post term,
pro longed, post dates, dan post mature merupakan istilah yang lazim
digunakan untuk kehamilan yang waktunya melebihi batas waktu normal
(42 minggu).
Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42
minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007).
Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan
adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari
setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak
menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan
dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007).
Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai
42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir
menurut

rumus

Naegele

dengan

siklus

haid

rata-rata

28

hari

(Prawirohardjo, 2008).
B. Etiologi
Menjelang

persalinan

terdapat

penurunan

progesteron,

peningkatan oksitosin tubuh, dan reseptor terhadap oksitosin sehingga


otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat
waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan,
karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim. (Manuaba.
1998).
Tidak timbulnya his karena kurangnya air ketuban, insufisiensi
plasenta, dan kerentanan akan stres (Mansjoer, Arif. 2001).
Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan,
2008) faktor penyebab kehamilan postterm adalah :
1. Pengaruh Progesteron
Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan

dipercaya

merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam


memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan

sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan


dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya
pengaruh progesteron.
2. Teori Oksitosin
Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan
postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara
fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan
dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang
pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor
penyebabnya.
3. Teori Kortisol/ACTH janin
Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai pemberi tanda untuk
dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tibatiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi
plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar
sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya
produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anansefalus,
hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada
janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik
sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.
4. Saraf Uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan
membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada
tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat
pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai
penyebabnya.
5. Heriditer
Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami
kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan
lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip
Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu mengalami
kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar
kemungkinan anak perempuannya mengalami kehamilan postterm.
C. Patofisiologi
Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu
dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu. Hal ini dapat

dibuktikan dengan penurunan estriol dan plasental laktogen. Rendahnya


fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin
dengan resiko 3 kali. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah
plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran
akibat tidak timbul his sehingga pemasakan nutrisi

CO2/O2

dan O2 menurun

menuju janin di samping adanya spasme arteri spiralis menyebabkan


janin resiko asfiksia
sirkulasi

darah

sampai kematian dalam rahim. Makin menurun

menuju

sirkulasi

plasenta

dapat

mengakibatkan

pertumbuhan janin makin lambat dan penurunan berat disebut dismatur,


sebagian janin bertambah besar sehingga memerlukan tindakan operasi
persalinan, terjadi perubahan metabolisme janin, jumlah air ketuban
berkurang dan makin kental menyebabkan perubahan abnormal jantung
janin, (Manuaba, G.B.I, 2011).
Pada janin dapat mengakibatkan sindrom postmaturitas yaitu kulit
keriput dan telapak tangan terkelupas, tubuh panjang dan kurus, vernic
caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang, tali pusat
selaput

ketuban

berwarna

kehijauan.

Fungsi

plasenta

mencapai

puncaknya pada kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus


mengalami penurunan. Pada kehamilan postterm dapat terjadi penurunan
fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin. Bila keadaan
plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat tumbuh
terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat
menyebabkan distosia bahu.

D. Komplikasi
1. Terhadap Ibu
Persalinan postterm dapat menyebabkan distosis karena aksi uterus
tidak terkoordinir, janin besar, moulding kepala kurang. Maka akan
sering dijumpai seperti partus lama, kesalahan letak, inersia uteri,
distosia bahu, robekan luas jalan lahir, dan perdarahan postpartum.
Hal

ini

akan

menaikkan

angka

mordibitas

dan

mortalitas

(Prawirohardjo, 2006).
a. Trauma langsung persalinan pada jalan lahir seperti robekan luas,
fistula rekto-vasiko vaginal, ruptura perineum tingkat lanjut.

b. Infeksi karena terbukanya jalan lahir secara luas senghingga


mudah terjadi kontaminasi bacterial.
c. Perdarahan: Trauma langsung jalan lahir, atonia uteri, retentio
plasenta.
2. Terhadap Janin
Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup
memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai
risiko

asfiksia,

hipoksia,

hipovolemia,

asidosis,

hipoglikemia,

hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim.


a. Asfiksia karena terlalu lama terjepit
b. Truma akibat tindakan oprasi yang di lakukan pervaginam dengan
bentuk trias komplikasi: Infeksi, asfiksia, trauma langsung dan
perdarahan
E. Manifestasi Klinik
Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) :
1. Stadium I: Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan
maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas.

2. Stadium II: keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan


kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.
3. Stadium III: Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin
serta pada jaringan tali pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai
keadaan cairan ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium
(kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman,
begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya
langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.
Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah:
a. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram).
b. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur.
c. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang.
d. Verniks kaseosa di badan berkurang.
e. Kuku-kuku panjang.
f. Rambut kepala agak tebal.
g. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel
F. Penatalaksanaan
1. Di Bidan Praktek Mandiri:
a. Melakukan konsultasi dengan dokter
b. Menganjurkan untuk melakukan persalinan di rumah sakit.
c. Merujuk pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan
yang adekuat.
2. Di Rumah Sakit:

Kehamilan lewat waktu memerlukan pertolongan induksi persalinan


atau

persalinan

anjuran.

Persalinan

induksi

tidak

banyak

menimbulkan penyulit bayi, asalkan dilakukan di rumah sakit dengan


fasilitas yang cukup.
Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan
metode:
a. Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon)
Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon
5 unit dalam 500 cc glukosa 5%, banyak digunakan.
Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai
dengan 8 tetes, dengan maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan
tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai
kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi
maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan
sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi
persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam atau
lakukan opersai seksio sesarea.
b. Memecahkan ketuban
Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk
mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar
4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan
berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim
dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang
mengandung 5 unit oksitosin.
c. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin
Telah diketahui bahwa kontrasi otot rahim terutama dirangsang
oleh prostaglandin. Pemakaian sebagai induksi persalinan dapat
dalam

bentuk

infus

intravena

(Nalador)

dan

pervaginam

(prostaglandin vagina suppositoria) (Manuaba, 1998).


Menurut

Arief

Mansjoer

(2001)

Penatalaksanaan

kehamilan lewat waktu bila keadaan janin baik dapat dilakukan


dengan cara:
1) Tunda pengakhiran kehamilan selama 1 inggu dengan menilai
gerakan janin dan tes tanpa tekanan 3 hari kemudian, Bila hasil
positif, segera lakukan seksio sesarea.
2) Induksi Persalinan.

Menurut

Sarwono

Prawirohardjo

(2008)

sebelum

mengambil langkah, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam


pengelolaan kehamilan postterm adalah sebagai berikut.
1) Menentukan apakah kehamilan memeang telah berlangsung
lewat bulan atau bukan. Dengan demikian, penatalaksanaan
ditujukan pada dua variasi dari postterm ini.
2) Identifikasi kondisi janin dan keadaan yang membahayakan
janin.
3) Periksa

kematangan

serviks

dengan

skor

bishop.

Kematangan serviks ini memegang peranan penting dalam


pengelolaan

kehamilan

postterm.

Sebagian

besar

kepustakaan sepakat bahwa induksi persalinan dapat segera


dilaksanakan baik pada usia 41 maupun 42 minggu bilamana
serviks telah matang.
Dalam buku Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi, Skor
Bishop adalah suatu cara untuk menilai kematangan serviks dan
responnya terhadap suatu induksi persalinan, karena telah
diketahui bahwa serviks dengan skor bishop rendah (serviks
belum matang) memberikan angka kegagalan yang lebih tinggi
dibanding serviks yang matang. Lima kondisi yang dinilai dari
serviks adalah:
1)
2)
3)
4)
5)

Pembukaan (Dilatation)
Pendataran (Effacement)
Penurunan Kepala janin (Station)
Konsistensi (Consistency)
Posisi ostium uteri (Position)

TABEL SKOR BISHOP


SKOR
Pembukaan
Pendataran
Stasion
Konsistensi

0
0
0-30%
-3
Keras

1
1-2
40-50%
-2
Sedang

2
3-4
60-70%
-1
Lunak

3
5-6
80%
+1 +2
Amat

SKOR
Pembukaan
Pendataran
Stasion
Konsistensi

Posisi seviks

Posterior

Tengah

Anterior

lunak
Anterior

Posisi os

10

CARA PEMAKAIAN
Tambah 1 angka untuk
Pre-eklampsia

Kurangi 1 angka untuk


Postdate

Setiap normal partus

Nullipara
Ketuban negatif/lama

BILA KEMUNGKINAN
TOTAL SKOR
BERHASIL
50-60%
90%
100%

0-4
5-9
10-13

GAGAL
40-50%
10%
0%

Yang disebut induksi persalinan persalinan berhasil dalam obstetri


modern ialah: bayi lahir pervaginam dengan skor APGAR baik (>6),
termasuk yang harus dibantu dengan ekstraksi forseps ataupun vakum
(Chrisdiono,2004).
Bila serviks telah matang (dengan nilai bishop >5) dilakukan induksi
persalinan dan dilakukan pengawasan intrapartum terhadap jalannya
persalinan dan keadaan janin. Induksi pada serviks yang telah matang
akan menurunkan resiko kegagalan ataupun persalinan tindakan
(Sarwono, 2008).

11