Anda di halaman 1dari 4

Kasus Kriminal Remaja: Mereka

Membutuhkan Solusi serta Perhatian dari


Kita dan Pemerintah, Bukan Hanya Vonis
Peran Pemerintah seharusnya Memberikan fasilitas bagi remaja dan anak-anak untuk
menghindari pikiran negatif
Sejarah kembali berulang, dan akan selalu terulang hingga akhir nanti
Begitulah kira-kira saat saya membaca kalimat satir dari novel The Chronicles of Narnia, saat
empat sekawan terjebak dalam labirin waktu hingga tersasar ke negeri Narnia. Ketika sang
waktu kembali lagi menemuka mereka dengan Aslan, Sang Singa untuk mengalahkan
pasukan tua penyihir yang selalu membuat onar dengan mencuci otak sebagian remaja dan
anak-anak seusia mereka.
Tidak bosan-bosannya saya memperhatikan prilaku yang terjadi di kalangan remaja serta
anak-anak. Setelah beberapa hari yang lalu, melihat aksi mereka dalam merokok, dan
bonceng mobil di jalan hingga membuat kemacetan. Kini kembali bingung saat tingkah laku
mereka sudah menjurus kriminal yang akut. Meski kali ini bukan menyaksikan langsung
dengan mata kepala sendiri, karena saya melihatnya di harian Kompas, hari ini pertanggal 29
Desember 2011.
Barusan, usai pulang dari kampus, seperti biasa saya membaca koran Kompas hari ini.
Sebenarnya tidak ada yang aneh, karena dari halaman muka (Headlines) hingga akhir, tampak
seperti biasa, yakni mengulas tragedi yang disebabkan oleh aksi liar pihak Kepolisian serta
beberapa peristiwa menjelang malam Tahun Baru. Namun saat saya membaca di halaman 26
- 27, rubrik Metropolitan. Ada tiga berita yang membuat saya dan keluarga terhenyak saat
membacanya. Yaitu tentang Kriminalitas di dalam Angkot: Pelaku Kejahatan keras
merambah kalangan remaja, lalu Kasus Penganiayaan: Tak Dibelikan motor, aniaya anak
tetangga, dan yang terakhir, Kasus Kriminalitas: Pencuri Dihajar warga.
Dari ketiga berita diatas yang saya baca, semua pelakunya rata-rata adalah Remaja!
Dengan usia yang berkisar antara 18 hingga 21 tahun.
Pelaku pemerkosaan penumpang angkot di Depok yang saat ini masih buron, yakni berinisial
MSD, berusia 19 tahun. Bersama tiga pelaku lainnya yang telah tertangkap, YBR (18), DR
(18) dan A (19), ketiganya yang seharusnya sedang giat-giatnya mencari nafkah untuk
membantu keluarga dirumah, kini harus berurusan dengan pihak kepolisian sekaligus menjadi
gunjingan masyarakat luas karena aksi mereka memperkosa seorang Ibu rumah tangga
berinisal R (35).

Sungguh kelakuan seperti itu, bukanlah tindakan yang biasa dilakukan oleh anak berusia
belasan tahun. Namun aksi mereka itu sama sekali tidak mencerminkan kepribadian seorang
remaja, bahkan menjurus kriminal, dan sangat kriminal.
Apakah yang dilakukan mereka itu cermin dari kurangnya pengawasan Orang tua terhadap
mereka?
Atau, bisa jadi faktor di lingkunga, seperti pergaulan sehari-hari dan disekolah tempat mereka
berinteraksi?
Sulit untuk mengartikan semuanya, meskipun itu benar terjadi. Karena Orang tua, sebagai
pihak pertama yang mendidik tingkah laku dalam keseharian, tentunya tidak bisa disalahkan
juga. Karena mereka pun sudah berusaha untuk mendidik dan mengajar sang buah hati, dari
kecil hingga berusia belasan tahun. Dengan wejangan, nasehat dan bimbingan agama,
tentunya Orang tua sangat mengharapkan anaknya untuk berbuat benar dan tidak
menyimpang.
Lalu, apakah lingkungan yang berperan penting terhadap tindakan kriminal mereka, juga
tidak secara keseluruhan. Sebab banyak juga anak remaja yang berasal dari lingkungan
kumuh di kawasan hitam, tetap menjadi orang yang baik dan tidak terpengaruh. Saya
mempunyai seorang kawan dari Sma dahulu, ia lahir dan besar di kawasan Kalijodo yang
terkenal akan tempat judi dan sarang maksiat. Hingga kesehariannya mencari nafkah
sambilan saat pulang kerja pun disana, yakni menggelar warung rokok dan minuman ringan.
Dan, hingga kini alhamdullilah ia telah berkeluarga dan tetap tidak terpengaruh sama sekali
dengan apa yang ada dilingkungan sekitarnya.
Atau, bisa jadi remaja itu karena kurangnya kasih sayang dalam keluarga dan lingkungan,
mungkin menjadi liar saat diluaran. Banyak contoh yang terjadi dalam masyarakat luas,
seorang anak sangat alim dan baik serta penurut. Namun ketika ia sedang berada diluar
pengawasan Orang tuanya di rumah, Ia pun terpengaruh dengan ajakan kawan-kawannya di
jalan, untuk terbujuk rayu dengan tindakan yang menjurus kenakalan.
Dan, yang terakhir adalah, kemungkinan remaja itu sangat diawasi dengan ketat oleh Orang
tuanya. Kemana-mana harus bilang, izin untuk ini-itu karena sikap orang tuanya yang sangat
protektif. Memang sih maksud Orang tua sangatlah baik, yaitu ingin memberikan kasih
sayang yang teramat kepada anaknya. Tetapi, tidak semua anak menerima kondisi seperti itu.
Sewaktu Sma, saya mempunyai beberapa kawan perempuan yang kabur dari rumah, karena
tidak sanggup dengan aturan yang keras dari Orang tuanya. Kawan saya itu bercerita, kalau
pulang sekolah, pukul 01 siang, harus tidur, dan tidak boleh kemana-mana hingga pukul 16
sore hari, kecuali ada les atau pelajaran tambahan. Belum lagi, setiap pacar atau kawan pria
yang datang, selalu dicurigai ingin ini itu dirumah, hingga ia pun merasa malu karena tidak
ada temannya yang mau datang kerumahnya, dan saat kebagian tugas kelompok dirumahnya,
mau tidak mau harus memindahkan kerumah teman yang lainnya.
Hingga karena tidak sabar lagi, akhirnya kawan saya itu memutuskan kabur dari rumah
dengan pakaian seadanya dan memilih untuk kost, hidup mandiri. Lalu, bagaimana
kehidupannya saat diluaran?
Entahlah, yang pasti sangat miris, dan membuat saya serta kawan lainnya hanya bisa
mengelus dada

Mengutip dari harian Kompas, Sehari-hari para tersangka dan buron ini bekerja sebagai
sopir tembak angkot di Jakarta. Mereka adalah anak-anak jalanan. Ungkap Kepala Subdit
Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar (AKBP)
Helmy Santika.
Mereka anak-anak jalanan yang dibayar murah para sopir angkot resmi, karena senang anakanak jalanan itu pun tidak lagi mendapat sebutan penganggur, tetapi pekerja.
Duuh
Ini yang membuat kita semakin miris dan ironis sekali.
Saat saya, Adik, Ayah dan Ibu serta keluarga lain yang membicarakannya menjadi trenyuh.
Apalagi di televisi ada running text yang memberitakan tentang tertangkapnya mereka,
hingga kami semua pun bingung untuk berkata lagi.
Tentunya tidak etis dengan melimpahkan semua kesalahan kepada remaja itu, walaupun
memang benar mereka sangat bersalah karena melakukan aksi nekat yang sama sekali tidak
terpuji.
Namun tentunya, kita sebagai bagian dari mereka hendaknya memberikan solusi dan langkah
nyata yang terbaik untuk masa depan mereka juga, khususnya agar tidak terjadi hal seperti ini
lagi. Tidak etis rasanya apabila kita selalu memvonis kesalahan mereka, tanpa adanya solusi
untuk mencegah mereka agar tidak berbuat menyimpang.
Sebagai contoh, banyak anak remaja yang berprestasi namun akhirnya meredup karena
Pemerintah sebagai pelaksana Undang-undang yang menyatakan anak terlantar dipelihara
negara, namun di lapangan nyatanya berkebalikan dengan apa yang digembar-gemborkan itu.
Contoh, Eryanto seorang remaja berbakat dalam sepak bola, dan pernah menjadi kapten
Milan Junior Terbaik. Namun setelah satu tahun kemudian malah menyedihkan kehidupannya
dan kembali menjadi seorang penggembala
Seharusnya Pemerintah memberikan lapangan pekerjaan, fasilitas umum seperti lapangan
bola, taman bermain dan fasilitas lainnya untuk remaja dan anak-anak. Sebab kalau mereka
disibukkan dengan hal yang positif, maka energi yang keluar dari mereka pun berbuah positif
juga.
Untuk itu, kita sebagai Orang Tua mereka juga seharusnya turut memberikan solusi dan
perhatian yang lebih. Tidak hanya sekadar memvonis mereka, sebab siapa yang ingin
ditakdirkan menjadi seorang kriminal?
Berikut ini, beberapa tulisan mengenai kelakuan anak-anak yang terjadi disekitar kita.
- Waspadai Tingkah Laku Anak Saat Berada di Jalan Raya
- Peran Orang Tua Dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
- Waspadai Anak Kita dari Tindak Kejahatan Geng Remaja
- Tawuran Pelajar Kembali Marak, Bagaimana Solusinya?

- Waspadai Pemersasan Bertopeng Pengamen di Metromini


Sebelumnya, saya menuliskan postingan tentang tingkah laku remaja dan anak-anak, bukan
karena saya adalah seorang Pemerhati, ataupun seorang yang latah dan sok-sokan dewasa.
Namun karena saya sering berada diantara mereka, dan di lingkungan saya sendiri banyak
terjadi seperti apa yang saya tulis sendiri. Jadi, sebisa mungkin saya mencoba untuk
memberikan pencegahan, walau hanya sedikit, setidaknya lebih baik dibandingkan tidak
sama sekali. Sebab, kalau bukan kita yang membimbing mereka, harus siapa lagi?