Anda di halaman 1dari 89

I.

KONSEP DAN ARTI


PENTING KUALITAS
TANAH

1. Pendahuluan

Tanah merupakan sumberdaya yang sangat


berguna bagi keberlanjutan dan
produktifitas usaha pertanian dan ekosistem
alam.

Tanah banyak mengalami kerusakan akibat


berbagai kegiatan termasuk kegiatan
pembangunan pertanian.

Kerusakan tanah ada yang bersifat


sementara, tetapi pada umumnya bersifat
permanen. Upaya perbaikannya sangat
mahal atau bahkan tidak ekonomis untuk
dilakukan terutama kerusakan yang
permanen.

Ini berarti keberlanjutan kehidupan


manusia, flora, dan fauna akan terancam.
Oleh karena itu, konsep kualitas tanah
dikembangkan untuk menguraikan
kegunaan dan kesehatan tanah (Kualitas
tanah)

2. Definisi Kualitas Tanah


Menurut

SSSA, mutu tanah adalah:


kemampuan dari suatu tanah tertentu untuk
berfungsi, dalam lingkup batas ekosistem alam
atau buatan, memelihara atau meningkatkan mutu
air dan udara, dan untuk menyokong kehidupan
dan kesehatan manusia.

Menurut

Doran dkk. bahwa mutu tanah


adalah kemampuan suatu tanah untuk berfungsi,
dalam batas-batas ekositem dan penggunaan
lahan, untuk menyokong produktifitas biologis,
mempertahankan mutu lingkungan, dan
menunjang kesehatan tumbuhan, hewan, dan
manusia.

3. Kualitas Tanah Alami dan Dinamis


Mutu tanah dapat bersifat bawaan atau mutu
alami (intrinsic, inherent), dan dapat pula bersifat
dinamis.
Mutu alami tanah ditentukan oleh kelima faktor
pembentuk tanah dan memiliki atribut-atribut
seperti mineralogi dan distribusi ukuran partikel
primer, bersifat statik dan tidak mudah mengalami
perubahan.
Ada tanah yang memang secara alami memiliki
mutu yang rendah dan adapula yang bermutu
tinggi. Dalam keadaan tertentu pengelolaan usaha
tani dan atau iklim yang buruk misalnya melalui
erosi dan desertifikasi, mengakibatkan merosotnya
mutu alami tanah.

Proses-proses yg berhubungan dengan tataguna dan


tindakan pengelolaan yang dapat menurunkan mutu tanah
Proses

Akibat terhadap atribut/mutu tanah

Pengaruh yang mungkin


terjadi terhadap lingkungan

Erosi

Hilangnya topsoil dan unsusr hara;


berkurangnya kapasitas mengatur
aliran air dan energi

Penumpukan bahan tanah


dan pestisida di tubuh-tubuh
air

Kehilangan bahan
organik

Berkurangnya kesuburan dan


kerusakan struktur tanah;
berkurangnya kapasitas untuk
mengatur aliran energi di tanah

Peningkatan erosi dan


degradasi tanah, peningkatan
gas rumah kaca oleh karena
pelepasan CO2 ke udara

Kerusakan struktur
tanah

Pengurangan porositas dan stabilitas


tanah; pengurangan kapasitas
menahan dan menghantar air

Peningkatan aliran
permukaan dan erosi

Salinisasi

Kelebihan garam terlarut dan


ketidakseimbangan hara; media
tumbuh yang jelek

Penggundulan tanah dan


peningkatan erosi angin

Kontaminasi oleh
bahan kimia

Kehadiran zat beracun; kapasitas


tanah sebagai buffer lingkungan
menjadi terlampaui

Peningkatan gerakan bahan


kimia beracun melalui aliran
permukaan dan/atau pelindian

Mutu tanah alami tidak dapat dinilai secara terpisah


dari faktor-faktor ekstrinsik (luar) seperti iklim (curah
hujan, evaporasi, dan suhu udara), topografi, dan
paramater hidrologis.
Contoh: (1) Faktor topografi (misalnya kemiringan
lereng) dan parameter hidrologis (misalnya tekstur
tanah) sering digunakan untuk mengestimasi indikator
mutu tanah seperti penilaian kemampuan tanah untuk
dilalui kendaraan dan penilaian bahaya kekeringan.
(2) Kandungan liat yang tinggi mungkin akan sangat
berguna bagi daerah semi ringkai karena dapat
menahan air yang banyak, tetapi di daerah basah
(curah hujan tinggi), kandungan liat tinggi
menyebabkan aerasi jelek. Jadi, jelas bahwa tidak ada
suatu kriteria dan nilai optimum mutu tanah intrinsik
yang berlaku secara umum.

Mutu tanah alami biasanya dinilai


berdasarkan data yang diperoleh melalui
upaya jangka panjang pengumpulan data
melalui survai sumberdaya lahan dan
tanah.
Data yang dibutuhkan untuk melakukan
penilaian mutu tanah intrinsik antara lain
data iklim, tekstur, kedalaman tanah,
porositas, retensi unsur hara, dan keadaan
perakaran terutama yang berhubungan
dengan hambatan fisik dan kimia terhadap
pertumbuhan akar tanaman.

Mutu tanah dinamis berhubungan dengan


bagaimana pengguna memperlakukan tanah atau
dengan kata lain, mutu tanah dinamis adalah
mutu tanah sebagai manifestasi kegiatan manusia.
Atribut mutu tanah dinamis mengalami
perubahan dalam jangka waktu yang relatif lebih
singkat daripada yang terjadi pada atribut mutu
tanah intrinsik.
Misalnya, (1) perubahan kandungan bahan organik
tanah terjadi dalam jangka waktu tahun atau
dekade; (2) perubahan pH tanah fraksi labil dari
bahan organik tanah terjadi dalam waktu bulan
atau tahun; (3) perubahan biomassa dan populasi
mikroba, respirasi tanah, laju mineralisasi unsur
hara, dan porositas makro dapat terjadi dalam
waktu jam atau hari.

Beberapa contoh tambahan berbagai proses di


dalam tanah dan jangka waktu kejadiaanya.
Jangka panjang
(102103 tahun)
Dekomposisi humus
Podzolisasi (Pemindahan
Al, fe dan BO scr kimia
sehingga Si tertinggal dan
konsentrasinya naik)
Gleying (reduksi fe pd
kondisi anaerobic sehingga
tanah berwrn abu-abu))
Laterizasi (Proses pelapuk
mineral yg mengandung Al
dan fe akibatnya tanah jadi
merah)
Solodizasi (pencucian Na
dan garam2 dari kompleks
pertukaran)

Jangka menengah
(1-102 tahun)
Pembentukan liat
Pengrusakan liat
Transformasi liat
Erosi
Salinisasi

Jangka pendek
(menit-1 tahun)
Evaporasi
Pelindian karbonat
Transport panas
Difusi gas
Pertukaran ion
Mineralisasi
Immobilisasi
Pemadatan tanah
Perbaikan aerasi
Desalinisasi

4. Fungsi Ekologis Tanah.

Ukuran bagi mutu tanah hanya bisa tepat


jika sifat-sifat yang dinilai dikalibrasi atau
dihubungkan dengan fungsi tertentu yang
diperankan oleh tanah.

Dengan kata lain, tanah yang berkualitas


tinggi adalah tanah yang menjamin
terpeliharanya fungsi-fungsi tanah

Fungsi-fungsi tanah adalah sebagai berikut


(Carter et al., 1997; Brady and Weil, 2002):
1. Tempat tumbuh tanaman. Sebagai tempat
tumbuh, tanah menyediakan tempat
menambatkan akar, mengatur pertukaran
udara (CO2 dari dan O2 ke daerah perakaran),
mengatur suhu di daerah perakaran,
mencegah tanaman dari keracunan oleh toxin
yang dihasilkan oleh tanaman/tumbuhan dan
organisme tanah, menjadi tempat
pembentukan zat perangsang pertumbuhan
yang dihasilkan oleh organisme tanah,
menyediakan unsur hara bagi tanaman, dan
mempertahankan struktur yang stabil
sehingga lebih tahan terhadap erosi.

2. Pengatur ketersediaan dan mutu air


permukaan dan tanah. Pada saat hujan
sebagian air akan mengalir sebagai aliran
permukaan, tetapi ada pula yang merembes
(infiltrasi dan perkolasi) kedalam lapisan tanah
sebelum mencapai air tanah atau muncul
kembali di air permukaan. Ketika merembes,
zat pencemar yang mungkin terdapat di dalam
air dapat terjerap oleh partikel tanah (bahan
mineral dan organik tanah). Dapat juga terjadi
zat pencemar yang terlarut di dalam tanah
akan terangkut dengan aliran permukaan dan
atau air yang merembes dan terbawa ke air
tanah

3. Pendaur unsur hara. Sisa mahluk hidup


yang berada di dalam dan permukaan tanah
akan mengalami dekomposisi oleh organisme
tanah dan menyediakan unsur hara bagi
tanaman. Unsur hara ini disimpan di tubuh
tanaman yang kemudian akan didaur ulang
ke dalam tanah melalui dekomposisi.
4. Tempat hidup organisme tanah dan
cadangan genetik. Tanah merupakan suaka
bagi berjuta-juta organisme yang memiliki
berbagai fungsi biologis; baik yang
menguntungkan maupun yang merugikan
bagi lingkungan hidup.

5. Tempat mendirikan bangunan. Untuk


dapat meletakkan bangunan tanah harus
mempunyai tingkat keteguhan yang tinggi
dan tingkat mengkerut dan mengembang
rendah.
6. Pengatur dan filter bagi peredaran zat
pencemar. Dalam hal ini tanah dapat
berfungsi sebagai penyimpan dan sekaligus
sebagai sumber zat pencemar (sink and
source of pollutants).

5. Konsep Kesehatan Tanah

Ada hubungan tidak langsung antara


kesehatan tanah dengan kesehatan hewan
dan manusia melalui mutu tanaman.
Kesehatan tanah terutama berhubungan
dengan organisme pengganggu tanaman
(OPT), dan kemampuan tanah untuk pulih
kembali (resilience) dari suatu gangguan
(misalnya cekaman kekeringan
keseimbangan dan ketersediaan unsur hara
tanaman, bebas tidaknya tanah dari
gangguan OPT).

Dalam banyak publikasi ilmiah, mutu tanah


dan kesehatan tanah sering digunakan
secara bergantian. Akan tetapi, di mata
petani, terutama petani di negara-negara
berkembang, istilah kesehatan tanah lebih
disukai daripada mutu tanah.
Hal ini disebabkan karena menurut para
petani tersebut, kesehatan tanah
berhubungan dengan sifat fisik, kimia, dan
biologi dari topsoil, kesehatan tanaman,
ternak, dan manusia, serta sifat-sifat air
pengairan.

Dengan demikian, kesehatan tanah dapat


didefinisikan sebagai kapasitas yang
kontinyu dari suatu tanah untuk
berfungsi sebagai suatu sistem hidup
yang vital, dalam suatu batas
ekosistem dan penggunaan lahan
tertentu, untuk melanjutkan
produktifitas biologi, mempertahankan
mutu udara dan air, dan menunjang
kesehatan tanaman, hewan, dan
manusia.

6. Mutu Tanah dan Keberlanjutan Lahan


Usahatani
Kesehatan tanah lebih dilihat dari segi mutu
tanah dalam hubungannya dengan
keberlanjutan usaha pertanian (agriculture
sustainability) daripada mutu tanah alami.
Dengan kata lain, kesehatan tanah
berhubungan dengan kegiatan manusia
dalam mempengaruhi mutu tanah atau
identik dengan mutu tanah dinamis.

Akan tetapi, dalam situasi tertentu, mutu


tanah dan kesehatan tanah akan berbeda

Contoh, tanah dengan mutu jelek dari segi


pertumbuhan tanaman, misalnya tanah pasir, boleh
jadi sangat sehat bagi kehidupan organisme tanah
tertentu. Jadi, akan sangat merugikan apabila secara
alami (inherent), suatu tanah dikategorikan sebagai
bermutu rendah padahal tanah tersebut dapat
menjadi sangat sehat bagi kehidupan organisme
tanah dan tumbuhan tertentu.
Mutu tanah merupakan kunci dari pertanian
berkelanjutan (sustainable agriculture). Pertanian
berkelanjutan didefinisikan sebagai sistem
pertanian yang sehat secara ekonomi,
memenuhi kebutuhan masyarakat akan
makanan bergizi, dan pada saat yang sama
melindungi sumberdaya alam dan
meningkatkan mutu lingkungan untuk
kepentingan generasi yang akan datang.

Jadi secara garis besar, keberlanjutan usaha


pertanian merujuk pada produktifitas dan aspek
sosial, ekonomi, dan lingkungan dari sistemsistem penggunaan lahan, yang meliputi:
Mempertahankan atau meningkatkan
produktifitas usahatani.
Menghindari atau meminimalkan pengaruh jelek
terhadap sumberdaya alam dan lingkungannya.
Memaksimalkan keuntungan sosial netto (net
social benefit) dari usahatani.
Mengusahakan fleksibilitas sistem usahatani
untuk mengendalikan kerugian yang
ditimbulkan oleh iklim dan pasar.

Ekosistem alam dicirikan oleh keseimbangan


yang mencegah ekspor unsur hara dari sistem.
Sedangkan ekosistem pertanian
(agroekosistem) diwarnai oleh pengelolaan
input untuk meningkatkan daur ulang unsur
hara dan mengurangi peran sistem buffer
tanah alami.
Dengan demikian, sistem pertanian cenderung
melakukan pengrusakan terhadap sistem
kompleks yang tertata baik (ekosistem alam)
dan menghasilkan molekul-molekul kecil yang
tidak diinginkan seperti oksida-oksida N yang
mencemari udara.

Ekosistem Buatan :

Oleh karena itu, untuk mencapai pertanian


yang berkelanjutan:
1. Perlu diusahakan agar ekosistem pertanian
mencapai steady state (keadaan tetap
seimbang);
2. Mempertahankan kapasitas untuk
mengatur diri sendiri (misalnya dengan
mempertahankan potensi biologi);
3. Menghambat proses-proses disipatif
(penguraian) yang menghasilkan molekulmolekul kecil berbahaya bagi kesehatan
lingkungan dan manusia.

Istilah kualitas sebetulnya hanya berlaku bagi


ekosistem pertanian dan bukan bagi ekosistem alam
karena tidak ada ekosistem alam yang baik dan yang
jelek. Walaupun memang, sampai tingkatan tertentu,
ekosistem alam sangat dipengaruhi oleh prosesproses anthropogenic (bersumber manusia) misalnya
perubahan iklim dan atau keanekaragaman hayati
yang disebabkan oleh ulah manusia.
Umumnya, cara untuk menilai keberlanjutan usaha
pertanian (agricultural sustainability) yaitu dengan
menentukan indikator-indikator yang mencerminkan
atribut atau serangkaian atribut keberlanjutan.
Indikator-indikator tersebut dipakai sebagai alat
peringatan akan adanya perubahan dan dipakai juga
untuk membandingkan praktek usahatani yang
berbeda

Indikator-indikator kunci (yang sebagian berkaitan


dengan fungsi tanah) bagi keberlanjutan usaha
pertanian, ditetapkan untuk dapat menjelaskan:
perubahan jangka panjang dari pendapatan netto
yang riil dari usahatani,
perubahan mutu lahan (tanah, air, dan udara)
untuk menunjang produksi sesuai dengan
keadaan iklim dan kemampuan lahan,
perubahan ketrampilan manajerial petani dalam
hal keuangan, praktek usahatani, perlindungan
lingkungan,
perubahan mutu makanan, dan
perubahan hidrologi yang ditimbulkan oleh usaha
pertanian.

7. Evaluasi Mutu Tanah

Urut-urutan Kerangka kerja untuk menilai mutu


tanah sbb: fungsi, proses, atribut atau sifat,
indikator atribut, dan metodologi.
Fungsi berhubungan dengan apa yang
dikerjakan oleh tanah atau fungsi tanah yang
bagaimana yang dikehendaki oleh manusia.
Setiap fungsi tanah dicirikan oleh proses
tertentu yang mendukung fungsi tanah.
Atribut menjelaskan sifat kritis tanah yang
terlibat dalam proses yang mendasari satu
fungsi. Atribut atau sifat yang baik adalah yang
dapat digunakan untuk mengukur perubahan
dalam proses.

Dalam banyak hal, atribut sangat sulit untuk diukur,


oleh karena itu perlu adanya indikator atribut
atau pedotransfer (sifat yang berhubungan) yg
dapat digunakan sebagai alat ukur tidak langsung
atau praktis bagi suatu atribut mutu tanah (untuk
alternatif pendugaan).
Indikator yang baik adalah yang dapat diukur dan
dapat dibuktikan kembali kebenaran hasil
pengukurannya, sensitif (tapi tidak terlalu sensitif)
terhadap perubahan pengelolaan tanah, dan
memiliki sampling error yang relatif kecil.
Pemilihan indikator hendaknya disesuaikan dengan
ketersediaan metode, meliputi kemudahan
pengulangan,dan fasilitas, ketepatan, serta
kecepatan pengukuran.

Contoh kerangka kerja penilaian mutu tanah


Proses
Kapasitas
menerima,
menahan, dan
melepas air

Atribut/sifat

Kapasitas

menerima,

menahan, dan
melepas energi

Infiltrasi
Kapasitas
menahan air
Permeabilitas

Indikator atribut

Bahan organik
Bahan organik
labil
Ukuran partikel
primer

Laju infiltrasi,
sorptifitas
Kurva desorpsi
Konduktifitas
hidrolik

C organik

Biomassa
mikroba,karbohid
rat, bahan
organik makro
Liat

Metode
pengukuran
atribut
Tension
permeameter
Tension plate,
pressure plate
Permeameter
Pengabuan
kering
Fumigasi
chloroform,
hidrolisi asam,
dispersi/pengaya
kan
Hidrometer/pipet

Banyak sekali sifat (atribut) tanah yang dapat


digunakan untuk menilai mutu tanah untuk tujuan
keberlanjutan usahatani dan mutu lingkungan.
Akan sangat tidak ekonomis dan tidak praktis untuk
menilai semua sifat tanah yang ada dalam rangka
mengevaluasi mutu tanah.
Tapi juga tidak menguntungkan bila hanya memilih
beberapa sifat tanah saja karena akan mengorbankan
validnya kesimpulan mengenai mutu tanah. Lagipula
faktor tunggal tidak akan memberikan gambaran
representatif mengenai mutu tanah.
Oleh karena itu kita perlu menentukan sejumlah sifat
tanah yang sangat menentukan/penting (sifat-sifat
kunci) dalam hubungannya dengan fungsi tanah yang
spesifik.

Yang menjadi kesulitan adalah


mengidentifikasi sifat-sifat tanah yg
mencerminkan kemampuan tanah utk
mendukung pertumbuhan tanaman, karena
terkadang sifat-sifat tanah tsb tdk scr
langsung mendukung pertumbuhan tanaman
Contoh: bahan organik penting dlm bidang
pertanian tetapi produktivitas tanah adalah
hasil dari berbagai variabel dimana bahan
organik adalah salah satunya.
Yg kedua: banyak sifat fisik yg pengaruhnya
tidak langsung pd tanaman, misalnya
Kerapatan Isi

Berikut adalah daftar yang memuat


karakteristik fisik, kimia, dan biologi dari
tanah yg umumnya dievaluasi dlm rangka
menyimpulkan mutu tanah
Karakteristik Fisik

1. Aerasi
2. Stabilitas
agregat
3. Kerapatan isi
4. Warna
5. Konsistensi
6. Kedalaman ke
lapisan padat/
keras

Karakteristik Kimia

Karakteristik biologi

1. Persen kejenuhan
basa
2. Kapasitas tukar
kation
3. Kapasitas tukar
anion
4. Mineralogi liat
5. Zat pencemar
(keberadaan,
ketersediaan, kadar,
mobilitas)

1. Bahan organik
2. Biomassa jasad
3. Potensi
mineralisasi N
4.Respirasi tanah
5.Enzim

Karakteristik Fisik

Karakteristik Kimia

Karakteristik biologi

7. Konduktifitas air
8. Laju difusi O2
9. Distribusi ukuran
partikel (tekstur)
10. Porositas
(konektifitas,
distribusi ukuran
pori, total)
11. Kekuatan tanah
12. Struktur
13. Suhu
14. Kapasitas mengikat
air

6. Salinitas
7. Sodisitas
8. Laju daur unsur hara
9. Reaksi tanah (pH)
10. Unsur hara (total,
tersedia

6. Rasio C/N dari


biomassa
7. Sidikjari komunitas
biologi
8. Analisis asam lemak
9. Analisis asam
nukleat

Namun karakteristik yang berada dalam


daftar ini ada yang mudah tetapi ada pula
yang sulit untuk diukur dan memerlukan
peralatan yang rumit.

Oleh karena itu, diperlukan satu set data


minimum (MDS) yang lebih representatif
dari segi kemudahan mengukur dan cakupan

MDS terdiri dari sejumlah kecil sifat-sifat


tanah yg dapat digunakan untuk menguji scr
praktis satu atau beberapa proses tanah yg
penting utk fungsi tertentu dari tanah.

Daftar jenis data minimum untuk menilai mutu tanah (Modifikasi


dari Singer and Ewing, 1999; dan Carter et al.,1997).

Atribut
1. Tanah
Ketersediaan unsur
hara
Penjerapan unsur
hara
Bahan organik
Tekstur
Kepadatan tanah
dan Porositas
Struktur (bentuk,
stabilitas)
Kekuatan
Kedalaman efektif
akar
Reaksi
Salinitas
Sodisitas
Air tersedia
2. Hasil tanaman

Indikator

Ekstraktan tanah
Pertukaran kation
Org. C
Cara rasa
Kerapatan isi
Porositas,
Kepadatan
Kemampuan
ditembus
(penetrability)
pH
Daya hantar listrik
Rasio jerapan Na
Titik layu permanen
dan Kapasitas
lapang

Berat buah, biji

Variabel pedotransfer

Akumulasi dalam
tanaman
Tipe liat+ org. C
Liat+Debu
Liat, org.C
Ukuran partikel,
org.C
Keraptan isi, air
Keraptan isi
Pertmbhan tan.
Kekuatan tanah
Pertbhan tan.

Metode

Analisis tanah
Displacement
Pengabuan
Analisis tekstur
Core method (ring)
Keraptan isi,
penyaringan basah
Penetrometer
Pengamatan akar
Elektrode
Conductivity meter
Ektraksi pasta jenuh
Kurva desorpsi

Penimbangan

MDS dari Bahan Organik Tanah Untuk ProsesProses Tanah Yang Berbeda
Proses
Stabilitas Struktur
Tanah
Penyimpanan
Nutrisi

Aktivitas Biologi

MDS
Total C Organik
Biomassa mikrobia
Karbohidrat
Total N organik
Biomassa N mikrobia dan N yg
dapat dimineralisasi
Fraksi-fraksi ringan dan bahanbahan makro organik
Biomassa mikrobia
Enzim
C dan N yg dapat
dimineralisasi

Perkiraan perubahan mutu tanah. Ada dua


pendekatan dalam pengukuran terhadap perubahan
mutu tanah, pendekatan pengukuran komparatif dan
pendekatan pengukuran dinamis.
Pengukuran komparatif biasanya mencakup hanya satu
pembandingan antara satu sistem terhadap sistem yang
lain. Pendekatan ini dapat mengukur perubahan mutu
tanah yang terjadi selama kurun waktu tertentu (dengan
syarat data awal tersedia), akan tetapi pendekatan ini
hanya memberikan sedikit sekali informasi mengenai
perkembangan/trend perubahan yang terjadi.
Pendekatan dinamis dapat melakukan pengukuran
perubahan secara kontinyu sehingga dapat menyediakan
informasi mengenai trend perubahan.
Pendekatan yang lain adalah: mempelajari bank data
tanah dan tanaman dari percobaan jangka panjang di
masa lalu.

8.

Mutu Tanah untuk Pengelolaan Lahan yang Baik

Tujuan akhir dari seorang pengelola lahan adalah


untuk mempertahankan atau meningkatkan mutu
sumberdaya tanah.
Jadi, mutu tanah tergantung pada
pengelola/petani (mutu tanah dinamis).
Monitoring mutu tanah tidak serta merta merubah
kondisi tanah, tetapi hanya berperan sebagai
indikator jika perubahan pengelolaan diperlukan.
Hasil monitoring hanya akan berguna jika
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
menetukan kebijakan untuk memperbaiki
kekurangan atau untuk meningkatkan mutu
tanah.

Pengelola tanah membutuhkan sistem


pengelolaan lahan dan tanah yang
terencana dengan baik dan prosedur
pengawasan mutu untuk menjamin bahwa
segala proses yang bermanfaat bagi mutu
tanah dan yang responsif terhadap
pengelolaan beroperasi secara optimum.

Oleh karena itu, pengawasan mutu tanah


dalam pengelolaan tanah harus meliputi
monitoring dan pengaturan.

Aspek pengaturan berhubungan dengan penerapan


secara kontinyu dari perbaikan pengelolaan dan
input yang menjamin bahwa mutu tanah tidak
merosot. Misalnya, melalui monitoring ditemukan
bahwa kandungan bahan organik sangat rendah
sehingga tanah tanah tidak mampu menahan erosi.

Aspek pengaturan mengenai hal ini dapat berupa:


(1) menilai apakah sistem pengelolaan tanah dapat
menyediakan bahan organik dalam jumlah yang
cukup dalam rangka menghambat laju pengurangan
bahan organik tanah, dan (2) menilai apakah
strategi pengelolaan memungkinkan pemanfaatan
secara maksimum bahan organik yang ada.

Pierce dan Larson menekankan bahwa pengelolaan


lahan yang berkelanjutan hendaknya meliputi:
Evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman
tertentu,
Penentuan minimum data set
Penetapan batas mutu tanah,
Identifikasi input yang sangat menentukan atribut
mutu tanah (misalnya: jumlah residu menentukan
kandungan bahan organik),
Penerapan teknik mutu tanah untuk memonitor
sistem, dan
Modifikasi cara pengelolaan untuk
mempertahankan pengawasan mutu tanah.

II. ATRIBUT KUALITAS


TANAH

1. Atribut Fisik

A. Kapasitas dan KekuatanTanah

Kapasitas tanah berhubungan dengan


kemampuan tanah untuk menyimpan dan
melewatkan bahan cair, larutan, gas, dan panas.

Kapasitas ditentukan oleh sifat dan jumlah ruang


pori antar dan inter partikel tanah. Di dalam ruang
pori-lah segala proses biologi, kimia, dan fisik
terjadi; sedangkan matriks tanah hanya berperan
sebagai struktur fisik dan stabilitas agregat.

Porositas tanah () didefinisikan sebagai


bagian volume pori tanah (Vv) dibagi
volume total tanah (Vt) yang meliputi
volume bagian padat (Vs), volume air (Vw),
dan volume udara tanah (Va):

= Vv/Vt
= (Va+Vw)/(Vs+Vw+Va)

Besarnya sangat tergantung pada


distribusi partikel primer (tektur tanah),
serta jumlah, sifat, dan distribusi ukuran
partikel sekunder (struktur tanah)

Semakin besar porositas tanah, semakin


tinggi kemampuannya untuk menyimpan
bahan cair, larutan, gas, dan panas.

Komponen transmisi dari kapasitas tanah


sangat ditentukan oleh morfologi,
kontinuitas, dan ketersambungan pori yang
satu dengan pori yang lainnya.

Kemampuan intrinsik dari tanah untuk


melewatkan larutan seperti air dan udara,
disebut permeabilitas tanah (k ).

Parameter k yang tergantung hanya pada sifat


fisik pori tanah dan tidak bergantung pada larutan
yang mengalir, sering dirumuskan sebagai
k = Cr2
C = konstanta proporsionalitas (tanpa satuan)
r = rerata radius pori.

Faktor C meliputi semua faktor selain radius pori,


telah disatukan dalam besaran C seperti distribusi
ukuran pori, kekasaran pori, bentuk pori, serta
turgorsitas dan kontinuitas pori. Semakin besar
nilai k, semakin besar kemampuan pori untuk
melewatkan larutan.

Tanah yang terdiri dari berbagai ukuran pori


akan mampu melewatkan larutan lebih cepat
dari pada tanah yang mempunyai pori yang
seragam ukurannya.
Tanah yang didominir oleh pori mikro seperti
tanah liat berstruktur jelek akan memiliki
permeabilitas rendah yang berakibat pada
drainase dan aerasi jelek.
Sebaliknya, tanah dengan didominir oleh pori
makro, akan mempunyai permeabilitas tinggi
dan berakibat pada drainase yang sangat
cepat dan cepat mengalami kekeringan.

Tanah yang mempunyai pori makro dan


mikro berimbang , akan memiliki
keseimbangan antara jumlah air dan udara
yang ditahan sehingga tanaman tidak akan
kekurangan air dan udara sekaligus.
Porositas dan permeabilitas merupakan dua
sifat fisik yang memungkinkan tanah untuk
diisi kembali dengan bahan cair, larutan, gas,
dan panas.
Semakin besar porositas dan permeabilitas
tanah, semakin tinggi kemampuan tanah
untuk disisi kembali dengan bahan-bahan di
atas.

Tanah yang kering yang sangat porous dan permeable


akan mampu menerima dengan cepat air hujan atau
air irigasi dalam jumlah yang banyak.
Sebaliknya tanah dengan porositas tinggi tapi
permeabilitas rendah, akan menerima air dalam
jumlah yang besar tetapi dengan kecepatan yang
rendah (akibatnya kelebihan air akan hilang melalui
aliran permukaan).

Porositas dan permeabilitas juga memungkinkan


tanah untuk melepaskan bahan cair, larutan, gas, dan
panas. Akan tetapi laju kehilangan bahan-bahan ini
sangat tergantung pada concumptive demand
(penyerapan) tanaman, mikroorganisme dan atmosfir.

Kekuatan tanah.
Di bidang pertanian kekuatan tanah
berhubungan dengan kemampuan tanah untuk:
Mempertahankan diri dari kerusakan struktur
akibat penghancuran (pulverization dan
remoulding) selama pengolahan tanah dan
pemadatan tanah
oleh lalu lintas alat-alat pertanian, dan oleh
hempasan langsung butir hujan dan irigasi
terhadap agregat tanah, dan
Melawan penetrasi akar tanaman dan
organisme pembor tanah.

Tanah dengan kekuatan yang baik harus


tahan terhadap kerusakan struktur akibat
pengolahan dan lalulintas dan mampu
menopang tanaman selama musim tanam,
pada saat yg sama harus mampu menjadi
media perkecambahan yg baik, bagus utk
perkembangan akar dan mendukung
aktivitas organisme tanah.

Komponen utama kekuatan tanah meliputi


kekuatan gesek (shear strength), kekuatan
tekan (compressive strength), dan kekuatan
tensil.

Kekuatan gesek diartikan sebagai


kemampuan tanah untuk melawan
pergerakan lateral tanah;
Kekuatan tekan sebagai kemampuan
tanah untuk melawan pemadatan
(penurunan jumlah pori) karena kekuatan
yang menekan ke dalam,
Kekuatan tensil adalah kemampuan tanah
untuk melawan ekspansi (penambahan
porositas) akibat kekuatan yang menekan
ke arah luar.

Ketiga kekuatan tanah di atas sangat bergantung


pada:
Paking dan ketahanan friksi antar partikel tanah,
Gaya tarik listrik (kohesi) antar partikel liat,
Adanya agen pengikat organik dan mineral,
Adhesi internal antara partikel tanah dengan
adanya air.

Secara umum dapat dikatakan bahwa, tanah yang


memiliki kekuatan yang bagus adalah tanah yang
mempunyai sebaran ukuran partikel dan pori yang
merata (tanah lempung berstruktur).

Interaksi Atribut-Atribut Kapasitas


Tanah Dan Kekuatan Tanah

Atribut-atribut kapasitas dan kekuatan


tanah berinteraksi secara komplek

Peningkatan satu atribut dapat


menyebabkan penurunan atribut yang lain

Contoh:Peningkatan kemampuan tanah


mengikat air menyebabkan penurunan
kemampuan tanah menyimpan udara

Contoh lain:
Peningkatan permeabilitas meningkatkan
kemampuan tanah utk menyediakan
kembali air di daerah perakaran tetapi dapat
juga menyebabkan kehilangan cepat air dan
unsur hara terlarut dari perakaran krn
cepatnya drainase
Menurunkan kekuatan tanah akan
meningkatkan pertumbuhan akar tetapi
dapat merusak struktur dan merangsang
pemadatan yg akhirnya menurunkan
kemampuan tanah utk menyimpan dan
menyalurkan air

Parameter kritis kekuatan tanah.


Untuk tujuan penilaian mutu tanah fisik
yang berhubungan dengan kekuatan tanah,
ada beberapa parameter kritis yang harus
diperhatikan antara lain yang menyangkut
sifat-sifat dasar (preconsolidation stress,
kohesi dan friksi, sifat status kritis), dan
sifat empiris (ketahanan core penetration,
tes plate bearing, ring shear/vane shear,
dan batas plastis)

Parameter pilihan kekuatan tanah, fungsi/nilai kritis,


dan penjelasan penggunaannya.
Parameter

Fungsi/nilai kritis

Keterangan

Sifat-sifat Dasar:
Preconsolidation stress

Batas untuk menahan pemadatan


>100kPa
batas kekuatan untuk menahan
kerusakan oleh gesekan
Tanggapan deformasi terhadap
tekanan gesekan dan pemadatan

Mudah diukur dan sangat


berguna
Digunakan dalam pembuatan
model pengolahan tanah
Digunakan dalam pembuatan
model pengolahan dan
pemadatan tanah

Resistensi core penetration

Batas pertumbuhan akar/<2MPa

Mudah diukur dan populer

Tes plate bearing

Batas untuk dapat dilewati kendaraan Berhubungan dengan


(trafficability limits)
pengkerutan di bawah ban/ bekas
ban

Ring shear/vane shear

Batas untuk menahan kerusakan


oleh gaya gesekan

Digunakan dalam studi


pemadatan dan pengolahan
tanah

Batas plastis

Batas pemadatan dan kemampuan


diolah

Sangat luas digunakan

Kohesi dan friksi


Sifat status kritis

Sifat-sifat empiris:

B. Air Tanah

Air yang diperlukan oleh tumbuhan yang sebagian


besar berasal dari tanah disebut air tanah.
Suplai air dalam jumlah, kecepatan dan mutu
yang memadai, penting bagi tanaman untuk
memberikan hasil maksimum dan menjamin
kehadiran berbagai organisme penting di daerah
akar.
Peran air tanah bagi tanaman :
1) untuk memenuhi kebutuhan transpirasi,
2) fotosintesa (pembentukan karbohidrat),
3) menyusun tubuh tumbuhan
4) mengangkut hara yang diserap akar tanaman
dan mengangkut hasil fotosintesa.

Sedang di dalam tanah, air berfungsi utk:


1) melarutkan unsur hara,
2) mengangkut unsur hara ke permukaan
akar,
3) mencuci garam-garam beracun yang
berlebihan,
4) mempermudah pengolahan tanah,
5) mengendalikan perubahan suhu dan
6) menghambat pertumbuhan gulma pada
sistem sawah.

Kondisi negatif bila jumlah air tanah terlalu


banyak:
1) mengurangi aerasi tanah dan
2) menyebabkan pelindian unsur hara dari
zona perakaran,

Tanah dengan kualitas fisik yang bagus harus


mampu menyimpan air yang cukup dan
menyalurkannya bagi pertumbuhan tanaman dan
organisme tanah, serta cepat mengatus
kelebihan air dan unsur beracun.

Hal ini dipengaruhi oleh hubungan antara


kemampuan menyimpan dan melepaskan air.

Ada 3 macam keberadaan air di dlm tanah:


1) Field Capacity (FC)
2) Permanent Wilting Point (PWP)
3) Available Water Capacity (AWC)

AWC = FC PWP

Nilai AWC dikontrol oleh: Porositas tanah, Struktur,


tekstur, bahan organik tanah, dan mineralogi liat
Tanaman menunjukan gejala stress air bila nilai
AWC mendekati nilai PWP
Oleh karenanya bila nilai AWC tinggal 50 %
tanaman harus diberikan air

Jumlah air tanah sangat tergantung dari proses


infiltrasi air ke dalam tanah
Infiltrasi yg kurang bagus: suplai air bagi
tanaman dan mikroorganisme berkurang,
memicu run off dan erosi tanah
Jumlah air tanah juga tergantung dari kecepatan
drainase
Drainase yg berlebihan menyebabkan:
kehilangan air dan nutrisi dari akar, menurunkan
tingkat ketersediaannya, meningkatkan
pencemaran air oleh unsur kimia dan pestisida
Drainase yg lambat menyebabkan: aerasi jelek
(water logging) di daerah akar.

Tanaman tumbuh baik bila kandungan air sedikit


di bawah kapasitas lapang (FC) karena aerasi
juga dalam keadaan baik.
Kandungan air mendekati PWP tanaman
menunjukan gejala penghambatan
pertumbuhan
Di daerah beriklim lembab: air irigasi yg
diberikan mencapai nilai FC atau sedikit di
bawahnya karena jika lebih dari itu mengganggu
aerasi dan memicu kehilangan nutrisi
Di daerah beriklim kering: air irigasi yg diberikan
sebaiknya melebihi FC agar dapat mencuci
garam yg tertimbun akibat penguapan yg tinggi

Transmisi Air
Salah satu parameter transmisi air
(pergerakan air) tanah adalah konduktifitas
hidrolik jenuh (Ks)
Ks menunjukkan permeabilitas tanah
terhadap air pada kandungan air jenuh
Ks Juga parameter utama tanah yg
menyatakan laju pengeringan air berlebihan
dari daerah perakaran
Ks lebih berhubungan dengan pertanian
pada tanah-tanah di daerah beriklim
lembab

Jika tanah mempunyai nilai Ks optimal


artinya: infiltrasi dan distribusi air baik,
pengeringan air berlebihan cepat tetapi
tdk sampai mengurangi air tersedia
Nilai Ks di bawah optimal artinya aerasi
jelek
Nilai Ks di atas optimal artinya AWC kurang
tersedia

Konduktivitas hidrolik tanah jenuh dan


penggunaan lahan optimum
Nilai Ks
(ms-1)

Tanah yg berhubungan
dgn Ks

Penggunaan lahan
scr optimum

< 10-7

Tekstur halus, tekstur sedang Drainase lambat sehingga


tetapi agregasi jelek,
lebih baik menggunakan
perubahan warna pada
tanaman berakar dangkal.
subsoil di daerah lembab
Pembatasan drainase
diperlukan pada lahan
sawah

10-7 10-4

Utamanya tanah berpasir


dan tanah berlempung, juga
tanah liat yg berstruktur
stabil

Tanah yg cocok bagi


banyak tanaman

> 10-4

Tanah bertekstur sangat


kasar

Konduktivitas tinggi
biasanya berhubungan dgn
retensi air yg jelek.
Tanaman yg digunakan yg
berakar dalam dan toleran
thd kekeringan

Parameter air tanah pilihan, nilai kritisnya


dan beberapa keterangan penggunaannya

Parameter

Batas atau fungsi kritis

Keterangan

FC

Batas irigasi, porositas


terdrainase, batas aerasi

PWP, AWC

Digunakan terutama dalam


pengelolaan air di daerah
lembab
Tidak penting bagi transmisi
air

Suplai air bagi tanaman,


penjadwalan irigasi, model
neraca air tanah
kesesuaian lahan, pengaturan mudah dipengaruhi oleh
jarak pipa drainase
pengelolaan tanah

Ks
KFC

Irigasi dengan intensitas


rendah

Rerata ukuran Kemampuan mengantar air


pori

Memungkinkan penilaian dan


pengelolaan yang lebih baik
akan kehilangan air dan
agrochemicals
Parameter baru dalam
meniliai transmisi air

C. Aerase Tanah
Aerasi merujuk pada kemampuan tanah untuk
menahan, mengalirkan gas-gas yang umum
terdapat di dalam tanah seperti O2 dan CO2.
Penyerapan O2 dan pelepasan CO2 secara terus
menerus merupakan kebutuhan mendasar
tanaman untuk tumbuh dan berproduksi.
O2 juga sangat dibutuhkan oleh organisme
yang hidup di daerah perakaran untuk
kehidupannya dan untuk dekomposisi bahan
organik.

Kehadiran CO2 yang berlebihan di daerah


perakaran dari kebanyakan tanaman, akan
sangat merugikan pertumbuhan akar tanaman
dan penyerapan unsur hara dan air.
Kekurangan O2 juga berakibat pada
dekomposisi anaerob yang menghasilkan gas
methan dan ethylene dan senyawa presipitasi
Mn dan Fe yang berisfat racun bagi tanaman
dan mikroorganisme.
Oleh karena itu, tanah harus diusahakan agar
mampu menjamin penyimpanan O2 di daerah
perakaran dan pelepasan gas beracun seperti
methane ke luar sistem perakaran.

Volume udara di dalam tanah adalah:


a = -

= Porositas
= Kandungan air

Udara tanah adalah porsi porositas yg tidak


ditempati oleh air
Oleh karena itu a dipengaruhi oleh
porositas tanah dan kandungan air
Penurunan nilai a akibat penurunan nilai
dan peningkatan

Field Air Capacity (FAC) adalah fraksi


volume udara di dalam tanah pada
kandungan air kapasitas lapang.
FAC tergantung pada tekstur dan struktur
tanah
Tanah berpasir FAC nya :> 25 %
Tanah-tanah lempung FAC nya: 15 20 %
Tanah-tanah liat FAC nya: ,10 %

Transfer (Adveksi) dan difusi adalah 2


mekanisme pada pergerakan gas dalam
tanah
Adveksi adalah Aliran massa udara ke dalam
dan keluar tanah, disebabkan oleh
perubahan total tekanan udara antar udara
tanah dan atmosfir, infiltrasi dan drainase
air, naik turunnya muka air tanah,
pengambilan air tanah oleh tanaman
Difusi gas: pergerakan komponen-komponen
gas didalam tanah akibat gradient
konsentrasi komponen-komponen gas

Perubahan total tekanan udara akibat dari


perubahan suhu udara dan tekanan barometer
dan akibat dari tiupan angin di atas permukaan
tanah
Peningkatan kandungan air tanah akibat
infiltrasi curah hujan dan irigasi atau naiknya
muka air tanah, menyebabkan aliran adveksi
udara tanah ke dalam dan keluar tanah
Penurunan kandungan air tanah akibat drainase
air tanah, pengambilan air oleh tanaman atau
turunnya muka air menyebabkan aliran adveksi
udara atmosfir masuk ke dalam tanah

Karena gradient tekanan udara di dalam


tanah umumnya kecil, permeabilitas ruang
pori untuk udara k (a) adalah parameter
dominan yg mempengaruhi adveksi

k (a) tergantung pd jumlah, distribusi


ukuran dan interkoneksi dari pori-pori tanah
yg berisi udara

Difusi gas di dalam tanah akibat respirasi


biologi tanah menyebabkan konsentrasi
gas-gas dalam tanah berbeda dgn yg
diatmosfir.

Contoh: O2 difusi ke dalam tanah karena O2


digunakan oleh akar tanaman dan
mikroorganisme tanah sehingga konsentrasi
O2 di dlam tanah turun di bawah
konsentrasi O2 atmosfir

CO2 difusi keluar dari tanah karena CO2 yg


di keluarkan akar dan mikroorganisme
meningkatkan konsentrasi CO2 di dalam
tanah melebihi di atmosfir

Indikator yang umumnya diusulkan untuk


menilai status aerasi tanah adalah: porositas
yang terisi udara, permeabilitas udara,
komposisi udara tanah, respirasi tanah, dan
tingkat difusi oksigen
Porositas terisi udara atau kandungan udara
volumetrik umumnya diukur pada keadaan
kapasitas air lapang. Batas bawah porositas
terisi udara adalah 0,1 (10% volume tanah
terisi udara) bagi perakaran yang paling dalam
dari sebagian besar tanaman. Indikator
langsung aerasi tanah ini tidak merupakan
indikator terbaik karena tidak
mempertimbangkan dinamika aerasi tanah
seperti adveksi & difusi.

Permeabilitas udara biasanya digunakan pula sbg


pengukur langsung aerasi. Ukuran ini
menyediakan informasi mengenai ukuran efektif
dari kontinuitas pori terisi udara. Inipun bukan
ukuran yang baik karena tdk mempertimbangkan
daya tampung dan difusi udara.

Komposisi udara, terutama perimbangan antara


O2 dan CO2, merupakan indikator tidak langsung
bagi aerasi tanah. Besaran ini dapat diukur
langsung di lapang ataupun secara tidak
langsung dengan mengukur potensi redox.
Namun umumnya yang diukur adalah kandungan
oksigen. Kebanyakan akar tanaman akan berhenti
bertumbuh pada konsentrasi O2 <10 g m-3.

Respirasi (laju konsumsi O2 dan produksi


CO2) sudah jelas berhubungan dengan
aerasi tanah, walaupun secara tidak
langsung.

Laju difusi oksigen sangat tergantung


pada jenis tanaman. Akan tetapi, bagi
kebanyakan tanaman untuk bertumbuh
dengan baik, laju difusi O2 paling tidak
sebesar 12g m-2 detik-1.

Beberapa parameter aerasi tanah, nilai


kritis/pembatas, dan keterangan penggunaannya.
Parameter

Fungsi/pembatas

Keterangan

Porositas pori terisi udara


(a)

Aerasi yang baik


mensyaratkan a>0,1

Parameter udara statik,


tidak memperhitungkan
adveksi atau difusi

Permeabilitas udara, k(a)

Indikator tidak langsung


aerasi tanah

Tidak mempertimbangkan
difusi dan daya tampung

Konsentrasi oksigen

Aerasi yang baik


membutuhkan >10 g m-3

Parameter statik tapi bisa


meliputi juga efek gabungan
antara daya tampung udara,
adveksi, dan difusi

Laju respirasi tanah

Indikator tidak langsung


Distribusinya di dalam profil
karena sebagian tergantung tanah sulit diukur karena
pada jumlah O2 dan CO2
kesulitan peralatan

Laju difusi Oksigen, (ODR)

Rata-rata kebutuhan akar


tanaman >12mg. m-2 .s-1

Sangat tergantung pada


jenis tanaman, suhu tanah

D. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan kombinasi dan
pengaturan dalam ruang dari partikel primer
membentuk partikel sekunder tanah yang dikenal
dengan nama agregat atau ped, clod dan lain-lain.
Struktur tanah sangat mempengaruhi ukuran,
bentuk, tortuositas, kekasaran,pengaturan, dan
kontinuitas pori makro dan mikro diantara dan di
dalam partikel. Oleh sebab itu, struktur tanah
sangat mempengaruhi banyak sifat fisik, kimia, dan
biologi tanah.
Dari segi sifat fisik, peran utama struktur tanah
adalah bagaimana struktur mempengaruhi dan
mengontrol penyimpanan dan aliran air, aerasi dan
kekuatan tanah.

1. Gambaran Struktur Tanah


Struktur tanah dibagi ke dalam 3 kategori: Single grain,
massive dan teragregasi.
Single grain terdiri terutama dari partikel-partikel primer
yg tidak bergabung atau terikat. Biasanya terdapat
pada tanah-tanah berpasir
Struktur masive terjadi ketika partikel-partikel primer scr
acak di tekan (compress) membentuk blok-blok
kohesif yg besar, seperti yg biasa terjadi di tanahtanah liat yg padat.
Struktur agregat merupakan suatu campuran partikelpartikel primer dan sekunder tanah yg terikat satu
sama lain oleh berbagai macam agen pengikat organik
dan atau anorganik. Struktur tipe ini paling baik untuk
pertanian. Pembentukan struktur tipe ini melibatkan
berbagai proses kimia, fisika dan biologi tanah

Struktur teragregasi dapat dibedakan lagi


berdasarkan proses terbentuknya: Proses
pedogenik alamiah dan proses akibat aktivitas
pertanian
Berdasarkan proses pedogenik alamiah struktur
dibedakan atas tipe: Platy, Blocky,
columnar/prismatic dan granular/spherical
Ke 4 tipe ini sering digunakan untuk
menggambarkan profil tanah dan biasanya
mengindikasikan proses-proses pembentukan
tanah yg dominan yg terjadi dalam profil tanah
Agregat yg terbentuk oleh aktivitas pertanian
dikelompokkan atas dasar ukuran dan stabilitas
agregat, karena keduanya adalah parameter
agregat yg paling sensitif pada tanah-tanah
pertanian.

2. Pembentukan Struktur Tanah


Pada tanah-tanah pertanian pembentukan agregat
tergantung pada faktor abiotik dan biotik.
Faktor abiotik berhubungan dengan kandungan liat
tanah dan kapasitas proses Pembentukan
struktrur scr alamiah (Pengembangan dan
pengerutan, pembekuan dan pencairan,
pembasahan dan pengeringan)
Faktor biotik mempengaruhi proses pembentukan
agregat melalui pembentukan agregat berukuran
kecil sampai berukuran besar: Struktur liat mikro
(diameter < 2 m), mikroagregat (2 250 m)
dan makroagregat (>250 m).

Struktur liat mikro terdiri terutama dari


kompleks liat-bahan organik, terbentuk dan
terstabilisasi oleh humus dan ion-ion
anorganik (spt Ca)
Mikroagregat terbentuk dan terstabilisasi
oleh bahan-bahan mikrobia seperti
polysakarida, fragment hifa, sel-sel atau
koloni bakteri
Makroagregat terbentuk terutama oleh
pertumbuhan akar tanaman dan aktivitas
jamur tanah dan fauna tanah. Stabilitas
Agregat ini bersifat sementara.

3. Parameter kritis struktur tanah.


Dalam menilai kualitas fisik tanah yang
berhubungan dengan struktur tanah,
terdapat parameter kritis yang harus
dipertimbangkan yg berhubungan dengan
bentuk struktur tanah (pemadatan
relatif, volume dan kontinuitas pori makro),
resiliensi struktur tanah (indeks
pemulsaan sendiri, self-mulching index),
stabilitas struktur tanah (agregat kering
>0,84 mm, agregat stabil air > 250 m,
agregat stabil air 1-2 mm)

Beberapa parameter pilihan struktur tanah, atribut/proses


terkait dan penjelasan penggunaannya
Parameter

Proses yang
dipengaruhi

Keterangan

Bentuk struktur:
Pemadatan relatif

Aerasi

Volume pori makro

Aerasi dan permeabilitas

kontinuitas pori makro

Permeabilitas

Berhubungan dengan hasil


biji-bijian
Indikator tidak langsung
aerasi
Pengukur tidak langsung dari
kesinambungan pori makro

Resiliensi struktur tanah:


Indeks pemulsaan sendiri

Infiltrasi dan kemampuan Melibatkan liat 2:1 dalam


diolah
agregasi

Stabilitas struktur:
Agregat kering >0,84 mm

Erosi angin

Agregat stabil air > 250 m Erosi air dan crusting


Agregat stabil air 1-2 mm

Erosi air dan crusting

Mudah diukur dan


penggunaannya luas
Indikator stabilitas struktur
tanah bagi pengelolaan
tanaman
Stabilitas dalam mechanical
stress