Anda di halaman 1dari 48

FRAKTUR femur 1/3 DISTAL

SINISTRA

Kharisma Bimo Cahya Nugroho


01.209.5937
Pembimbing :
Letkol CKM dr. Basuki Widodo, Sp.OT

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan,
epifisial plate, sendi, baik bersifat total maupun parsial.
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma, dimana terdapat
gaya berlebih pada tulang, baik berupa trauma langsung dan
trauma tak langsung.
Femur atau tulang paha adalah tulang terpanjang dari tubuh.
Tulang itu bersendi dengan asetabulum dalam formasi persendian
panggul dan dari sini menjulur medial ke lutut dan membuat
sendi dengan tibia. Tulangnya berupa tulang pipa dan
mempunyai sebuah batang dan dua ujung yaitu ujung atas,
batang femur dan ujung bawah (Pearce, 1990)..
Pada cedera tak langsung salah satu dari fragmen tulang dapat
menembus kulit, cedera langsung dapat menembus atau
merobek kulit di atas fraktur. Jika kulit di atasnya masih utuh,
keadaan ini disebut fraktur tertutup (sederhana). Banyak diantara
fraktur yang disebabkan oleh trauma tumpul, dan resiko
komplikasinya berkaitan langsung dengan luas dan tipe
kerusakan jaringan lunak. Jika tidak dapat menangani dan
merawat fraktur dengan cermat, akan dapat menyebabkan
kecacatan yang berat.

BAB II
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama : Tn.Agus NS
Umur : 49 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : swasta
Alamat : Kalirejo RT 003/ RW 010, Banyusari,
Grabag, Magelang
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Tanggal Masuk RS : 16 Februari 2015
Bangsal : Cempaka

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri pada paha kiri.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pada hari minggu tanggal 15 februari 2015 pukul 22.00 WIB
pasien mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor dengan
sepeda motor. Pasien mengaku terjatuh dan paha kiri pasien
tertindih sepeda motor. Pasien mengeluh nyeri pada paha kiri,
tidak dapat digerakkan dan tidak bisa berjalan. Pasien dalam
keadaan sadar saat peristiwa itu terjadi. Pada tanggal 16
februari 2015 pukul 02.00 WIB pasien datang ke RST dr.
Soedjono. Saat kejadian dan saat masuk RS pasien dalam
keadaan sadar, kepala tidak pusing, tidak mual, tidak muntah,
dada dan perut tidak terbentur. Riwayat benturan kepala
disangkal

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat trauma
: Pasien pernah mengalami fraktur pada bagian collum
femur sinstra
Riwayat operasi
: pemasangan prothesis pada collum femur sinistra
Riwayat alergi
: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat trauma
: disangkal
Riwayat operasi
: disangkal
Riwayat alergi
: disangkal

PEMERIKSAAN
Status Generalis
:
-Keadaan umum : tampak sakit sedang
-Kesadaran
: kompos mentis/ GCS : E4V5M6
-Vital Sign
:
oTekanan darah : 130/80 mmHg
oNadi
: 80 x/menit , isi cukup, reguler
oRespirasi : 20 x/menit
oSuhu
: 3700C
Pemeriksaan Fisik
Kepala : Normocephal, distribusi rambut merata, tidak mudah dicabut.
Mata
: Pupil bulat isokor +/+ 3mm/3mm, konjungtiva anemis (-/-), sclera
ikterik (-/-).
Hidung : Deviasi septum (-).
Leher : Jejas (-), pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-).

Thorax :
Paru
-Inspeksi
: Simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi dada (-/-), jejas (-).
-Palpasi : Pengembangan paru yang tertinggal (-), fremitus taktil (n/n).
-Perkusi : Sonor
Auskultasi : SDV (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-).
Jantung
-Inspeksi
: iktus cordis tampak.
-Palpasi : iktus cordis kuat angkat.
-Perkusi : Tidak terdapat pelebaran batas jantung.
Auskultasi : BJ 1-BJ 2 reguler, murmur (-), gallop (-).
Abdomen :
-Inspeksi
: Cembung, simetris, massa (-), jejas (-), sikatrik (-).
-Auskultasi : Bising usus + (normal).
-Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba besar.
-Perkusi : Timpani.
Ekstremitas :
-Ekstremitas superior : Akral dingin (-/-), sianosis (-/-), oedem (-/-)
capillary refill < 2 detik.
-Ekstremitas inferior : Akral dingin (-/-), sianosis (-/-), oedem (-/+),
capillary refill < 2 detik.

Status Lokalis
-Look
:deformitas (+), sianosis (-),bengkak (+), jejas (-).
-Feel
:akral dingin (-), nyeri tekan (+), a.dorsalis pedis (+),
krepitasi (-).
- Move
:tidak dapat diangkat dan digerakkan (+), nyeri(+).

ASSESSMENT
Closed Fraktur Femur 1/3 Distal Sinistra

PLANNING DIAGNOSIS
Foto rontgent regio femur sinistra AP/Lateral.

Kesan :
Tampak fraktur os.
femur 1/3 distal
sinistra, fraktur lintang
Fraktur os. Femur 1/3
distal sinistra cum
kontraktione
Terpasang prosthesis
pada collum femur
sinistra

DIAGNOSA KLINIS
Closed Fracture Femur 1/3 Distal Sinistra
PLANNING
Pemasangan bidai/spalk.
Infus RL 20 tpm.
Inj Ketorolac 3 x 30 mg.
Inj kalnex 2 x 500 mg
Inj Cefazoline 3x1 g
Pre medikasi Inj. Lepixime 1gr.
Pro. ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)
Rencana (17/2/2015) operasi, lengkapi laboratorium

Follow Up (16 februari 2015)


Subjektif
Nyeri
daerah kaki
kiri

Objektif
o

Vital sign :
Tekanan darah: 110/80 mmHg
Nadi: 82 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu: 360C
Status Generalis:
Keadaan umum: tampak sakit
sedang
Kesadaran : kompos mentis/
GCS : E4V5M6
Kepala/Leher: dbn
Thorax: dbn
Abdomen : dbn
Status Lokalis:
Look: tampak terpasang bidai
pada kaki kiri (+), deformitas
(+), bengkak (+), sianosis (-),
jejas (-).
Feel: akral dingin (-), nyeri
tekan (+),a.dorsalis pedis teraba
(+), Capillary refills < 2 detik,
krepitasi (-).
Move: tidak dapat diangkat dan
digerakkan (+), nyeri (+).

Assesement

Planning

Closed
Fracture Pemasangan bidai/spalk.
femur 1/3 Distal Infus RL 20 tpm.
Inj Ketorolac 3 x 30 mg.
Sinistra
Inj kalnex 2 x 500 mg
Inj Cefazoline 3x1 g
Pre medikasi Inj. Lepixime
1gr.
Pro. ORIF (Open Reduction
and Internal Fixation)
Rencana
(17/2/2015)
operasi,
lengkapi
laboratorium
o Puasa

Follow up Pre-operasi (17 februari 2015)


Subjektif
Nyeri
daerah kaki
kiri

Objektif
o

Vital sign :
Tekanan darah: 110/80 mmHg
Nadi: 84 x/menit
Respirasi: 20 x/menit
Suhu: 36,50C
Status Generalis:
Keadaan umum: tampak sakit
sedang
Kesadaran : kompos mentis/
GCS : E4V5M6
Kepala/Leher: dbn
Thorax: dbn
Abdomen : dbn
Status Lokalis:
Look: tampak terpasang bidai
pada kaki kiri (+), deformitas
(+), bengkak (+), sianosis (-),
jejas (-).
Feel: akral dingin (-), nyeri
tekan (+),a.dorsalis pedis teraba
(+), Capillary refills < 2 detik,
krepitasi (-).
Move: tidak dapat diangkat dan
digerakkan (+), nyeri (+).

Assesement

Planning

Closed
Fracture Infus RL 20 tpm.
femur 1/3 Distal Inj Ketorolac 3 x 30 mg.
Inj Cefazoline 3x1 g
Sinistra
Pre medikasi Inj. Lepixime
1gr.
o Puasa 6 jam
o Pre op

Laboratorium Pre Op (17 februari 2015)


Px.

Hasil

Satuan

Range

WBC

11,8

103/mm3

3,5-10,0

RBC

4.33

106/mm3

3,80-5,80

HGB

13,3

g/dl

11,0-16,5

HCT

39,4

35,0-50,0

PLT

246

103/mm3

150-390

PCT

0,27

0,100-0,500

CT

BT

1.30

Px.

Hasil

HbsAg

Negative

HIV

negative

Satuan

Range

Laporan Operasi (17 februari 2015)


Pasien dengan posisi miring kiri atas dalam spinal anestesi.
Desinfeksi
Dilakukan insisi femur lapis demi lapis sampai tampak fraktur site.
Dilakukan ORIF dan rekonstruksi.
Jahit lapis demi lapis.
Operasi selesai.
Dokumentasi Saat Operasi (17 februari 2015)

Post-operatif (Orif femur Sinistra)


Infus RL 20-30 tpm
Inj. Ketorolac 3x30mg
Inj. Lepixime 3x1gr
Inj. cefazoline
Zaldiar 2x1 tab
Diit bebas
Foto ulang femur Sinistra AP/Lateral

Follow up Post-operatif hari ke 1 (18


februari 2015)
Subjektif
nyeri di
daerah post
op, pusing
(-), mual (-),
muntah (-),
BAK (+)

Objektif
o Vital sign :
Tekanan darah: 100/60 mmHg
Nadi: 80 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu: 360C
o Status Generalis:
Keadaan umum: tampak sakit
sedang
Kesadaran : kompos mentis/
GCS : E4V5M6
Kepala/Leher: dbn
Thorax: dbn
Abdomen : dbn
o Status Lokalis:
Look
: perban (+),
rembesan darah (+), bengkak
(+) (post op).
Feel
: nyeri tekan
(+),a.dorsalis pedis teraba (+),
hangat (+).
Move
: nyeri jika
digerakkan, gerak sedikit
terbatas.

Assesement

Planning

Post ORIF femur Infus RL 20-30 tpm


Sinistra 1/3 distal hari Inj. Ketorolac 3x30mg
Inj. Lepixime 3x1gr
ke 1
Inj. cefazoline
Zaldiar 2x1 tab
Diit bebas
Foto ulang femur Sinistra
AP/Lateral

Kesan :
Terpasang fixasi plate dan
tak tampak jelas jumlah
screw pada fracture
os.femur sinistra 1/3 distal,
allignment lebih baik.
Tampak terpasang
prosthesis pada collum
femur .

Follow up Post-operatif hari ke 2 (19


februari 2015)
Subjektif
nyeri di
daerah post
op, pusing
(-), mual (-),
muntah (-)

Objektif
o

Vital sign :
Tekanan darah: 110/80 mmHg
Nadi: 80 x/menit
Respirasi: 20 x/menit
Suhu: 360C
Status Generalis:
Keadaan umum: tampak sakit
sedang
Kesadaran : kompos mentis/
GCS : E4V5M6
Kepala/Leher: dbn
Thorax: dbn
Abdomen : dbn
Status Lokalis:
Look: perban (+), rembesan
darah (+), bengkak (+).
Feel: nyeri tekan (+),a.dorsalis
pedis teraba (+), hangat (+).
Move: nyeri jika digerakkan,
gerak sedikit terbatas.

Assesement
Planning
Post ORIF femur o Terapi Infus RL 20 tpm.
Sinistra 1/3 Distal ossoral 2x1
hari ke 2

MP 2 x 1 tab
goflex 2x1 tab
aff dc

Remoblisasi (pakai 2 krek)

Follow up Post-operatif hari ke 3 (20


februari 2015)
Subjektif
nyeri di
daerah post
op, pusing
(-), mual (-),
muntah (-)

Objektif
o

Vital sign :
Tekanan darah: 120/80 mmHg
Nadi: 80 x/menit
Respirasi: 20 x/menit
Suhu: 360C
Status Generalis:
Keadaan umum: tampak sakit
sedang
Kesadaran : kompos mentis/
GCS : E4V5M6
Kepala/Leher: dbn
Thorax: dbn
Abdomen : dbn
Status Lokalis:
Look
: perban (+),
rembesan darah (-), bengkak
(+).
Feel
: nyeri tekan
(+),a.dorsalis pedis teraba (+),
hangat (+).
Move
: nyeri jika
digerakkan, gerak sedikit
terbatas.

Assesement
Planning
Post ORIF femur Terapi injeksi ganti oral :
Sinistra 1/3 Distal
ossoral 2x1
hari ke 3

MP 2 x 1 tab
goflex 2x1 tab
remobilisasi

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Regio femur


Femur atau tulang paha
adalah tulang terpanjang
dari tubuh. Tulang itu
bersendi dengan
asetabulum dalam formasi
persendian panggul dan
dari sini menjulur medial
ke lutut dan membuat
sendi dengan tibia.
Tulangnya berupa tulang
pipa dan mempunyai
sebuah batang dan dua
ujung yaitu ujung atas,
batang femur dan ujung
bawah (Pearce, 1990).

Sistem Syaraf

Nervus
Nervus
Nervus
Nervus
Nervus

Femoralis
Obturatorius
Gluteal Superior dan Inferior
Ischiadicus
saphenus

Memasuki bagian paha melalui


bagian
lutut
belakang
dari
ligamentum
inguinale
dan
merupakan lanjutan dari a.iliaca
external. Dan terletak dipertengahan
antara SIAS (Spina Iliaca Anterior
Superior) dan symphisis pubis.
Arteri
femoralis
merupakan
pemasok darah utama bagian
tungkai, berjalan menuju hampir
vertical ke tuberculum adductor
femoralis dan berakhir pada lubang
otot magnus dengan memasuki
spatica poplitea sebagai a.poplitea.

Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah rusaknya atau
terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan
yang umumnya disebabkan adanya ruda paksa yang
timbul secara mendadak. Selain itu fraktur juga dapat
didefinisikan sebagai terputusnya kontinuitas jaringan
tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik
bersifat total maupun parsial yang umumnya disebabkan
tekanan yang berlebihan, sering diikuti oleh kerusakan
jaringan lunak dengan berbagai macam derajat
mengenai pembuluh darah, otot dan persyarafan.
Fraktur femur merupakan terputusnya kontinuitas tulang
dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada
tulang femur. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress
yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya.

Penyebab Fraktur
Kekerasan langsung, menyebabkan patah tulang
pada titik terjadinya kekerasan. Sering bersifat fraktur
terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
Kekerasan tidak langsung, menyebabkan patah
tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya
kekerasan. Bagian yang patah biasanya adalah
bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran
vektorkekerasan.
Kekerasan akibat tarikan otot. Patah tulang akibat
tarikan otot sangat jarang terjadi. Dapat berupa
pemuntiran,penekukan, penekukan dan penekanan,
kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.

Trauma
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan
berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran,
penekukan, pemuntiran, atau penarikan. Bila terkena
langsung, tulang akan patah pada daerah yang terkena,
jaringan lunaknya juga rusak. Bila terkena kekuatan tak
langsung tulang dapat mengalami fraktur pada pada tempat
yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu, kerusakan
jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada.
Fraktur kelelahan atau tekanan
Keadaan ini sering ditemukan pada tibia atau fibula atau
metatarsal, terutama pada atlet, penari, dan calon tentara
yang jalan berbaris dalam jarak jauh.
Fraktur patologik
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal jika tulang itu
lemah (misalnya oleh tumor), atau jika tulang itu sangat rapuh

Banyak diantara fraktur itu disebabkan oleh


trauma tumpul, dan resiko komplikasinya
berkaitan langsung dengan luas dan tipe
kerusakan jaringan lunak. Tscheme (1984)
menekankan pentingnya menilai dan
menetapkan tingkat cedera jaringan lunak :
C0 = kerusakan jaringan lunak sedikit dengan
fraktur biasa
C1 = abrasi dangkal atau kontusio dari dalam
C2 = abrasi dalam, kontusio jaringan lunakdan
pembengkakan, dengan fraktur berat
C3 = kerusakan jaringan lunak yang luas
dengan ancaman sindoma kompartemen

Jenis Fraktur femur

Fraktur
Fraktur
Fraktur
Fraktur
Fraktur
Fraktur
Fraktur
Fraktur
Fraktur

caput femur
collum femur
intertrocahnter
sub trochanter
intra condiler
supra condiler
1/3 proksimal
1/3 medial
1/3 distal

Fraktur intra kapsuler : yaitu terjadi


dalam tulang sendi panggul dan kapsula
Melalui kapital fraktur
Hanya dibawah kepala femur
Melalui leher dari femur

Fraktur ektra kapsuler


Terjadi di luar sendi dan kapsul melalui
trokanter femur yang lebih besar atau yang
lebih kecil pada daerah intertrokanter
Terjadi di bagian distal menuju leher femur
tetapi tidak lebih drai 2 inchi di bawah
trokanter terkecil

Selain tipe di atas ada lebih dari 150 klasifikasi


fraktur, diantaranya 5 yang utama adalah :
Incomplete : fraktur yang hanya melibatkan bagian
potongan menyilang tulang satu sisi patah yang lain
biasanya hanya bengkok
Complete : garis fraktur melibatkan seluruh potongan
menyilang dari tulang dan fragmen tulang biasanya berupa
tempat
Tertutup (simple) : fraktur tidak meluas melewati kulit
Terbuka (complete) : fragmen tulang meluas melewati otot
dan kulit dimana potensial untuk terjadi infeksi
Patologis : fraktur trejadi pada penyakit tulang (seperti
kanker, osteoporosis

Patofisiologi

Manifestasi Klinik
Deformitas
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari
tempatnya, perubahan keseimbangan dan kontur terjadi seperti :
Rotasi pemendekan tulang
Penekanan tulang

Bengkak
Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravasasi darah dalam
jaringan yang berdekatan dengan fraktur
Echimosis
Ekstravasasi darah di dalam jaringan subkutan
Sasme otot involunter dekat fraktur
Tenderness/keempukan
Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot, berpindahnya tulang dari
tempatnya, dan kerusakan di daerah berdekatan
Kehilangan sensasi (mati rasa, terjadi akibat rusaknya persarafan)
Pergerakan abnormal
Shock hipovolemik akibat perdarahan
Krepitasi

Diagnosis
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIK
Look
Feel
Move

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sinar X
Pencitraan Khusus (CT, MRI)

Tahap Penyembuhan Luka


Tahap Pembentukan Hematom
Dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area
fraktur. Supali darah meningkat, terbentuklah hematom yang berkembang menjadi
jaringan granulasi sampai hari kelima.
Tahap Proliferasi
Dalam waktu sekitar 5 hari, hematom akan mengalami organisasi. Terbentuk
benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk
revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang menghasilkan kolagen dan
proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat
fibrus dan tulang rawan
Tahap Pembentukan Kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi
lain sampai celah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan
jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar
fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus.
Osifikasi
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang
melalui proses penulangan endokondrial. Mineral terus menerus ditimbun sampai
tulang benar-benar bersatu. Proses ini memerlukan waktu 3-4 bulan.
Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodelling (6-12 bulan)
Tahap akhir dari perbaikan patah tulang. Dengan aktifitas osteoclas dan osteoblas,
kalus mengalami pembentukan tulang sesuai aslinya.

Penatalaksanaan Fraktur
Non Operatif
Reduksi. Adalah terapi fraktur dengan cara
menggantungkan kaki dengan tarika atau
traksi
Imobilisasi . Imobilisasi dengan
menggunakan bidai. Bidai dapat dirubah
dengan gips dalam 7-10 hari, atau
dibiarkan selama 3-4 minggu
Pemeriksaan dalam masa penyembuhan.
Dalam penyembuhan, pasien harus di
evaluasi dengan pemeriksaan rontgen tiap
6 atau 8 minggu.

Operatif

Adapun jenis-jenis operasi yang


dilakukan pada fraktur diantaranya
adalah :
Open reduction with internal fixation
(ORIF)

Fiksasi eksternal
Standar
Ring fixators
Intramedullary nailing

Amputasi

Komplikasi
Infeksi

Infeksi dapat terjadi karena penolakan tubuh terhadap implant berupa


internal fixasi yang dipasang pada tubuh pasien. Infeksi juga dapat
terjadi karena luka yang tidak steril
Delayed union

Adalah suatu kondisi dimana terjadi penyambungan tulang tetapi


terhambat yang disebabkan oleh adanya infeksi dan tidak tercukupinya
peredaran darah ke fragmen
Non union

Merupakan kegagalan suatu fraktur untuk menyatu setelah 5 bulan,


mungkin disebabkan oleh faktor seperti usia, kesehatan umum dan
pergerakan pada tempat tidur
Avasculer necrosis

Adalah kerusakan tulang yang diakibatkan adanya defisiensi suplai darah


Mal union

Terjadi penyambungan tulang tetapi menyambung dengan tidak benar


seperti adanya angulasi, pemendekan, deformitas atau kecacatan
Trauma saraf terutama pada nervus peroneal komunis
Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki

Gangguan ini biasanya disebabkan karena adanya adhesi pada otot-otot


tungkai bawah

Prognosis
Prognosis fraktur tergantung pada jenis fraktur, usia
penderita, letak, derajat keparahan, cepat dan tidaknya
penanganan. Prognosis pada pasca operasi fraktur femur
tergantung pada jenis dan bentuk fraktur, bagaimana
operasinya dan peran dari fisioterapi.
Prognosis dikatakan baik jika penderita secepat mungkin
dibawa ke rumah sakit sesaat setelah terjadi trauma,
kemudian jenis fraktur yang diderita ringan, bentuk dan
jenis perpatahan simple, kondisi umum pasien baik, usia
pasien relative muda, tidak terdapat infeksi pada fraktur
dan peredaran darah lancar.
Setelah operasi dengan pemberian internal fiksasi berupa
plate and screw, diperlukan terapi latihan untuk
mengembalikan aktifitas fungsionalnya. Pemberian terapi
latihan yang tepat akan memberikan prognosis yang baik.

Rata-rata masa penyembuhan


fraktur
: Masa Penyembuhan Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan
Lokasi
Fraktur
1.Pergelangan tangan 3-4 minggu

7.Kaki

3-4 minggu

2.Fibula

4-6 minggu

8.Metatarsal

5-6 minggu

3.Tibia

4-6 minggu

9.Metakarpal

3-4 minggu

4.Pergelangan Kaki

5-8 minggu

10.Hairline

2-4 minggu

5.Tulang Rusuk

4-5 minggu

11.Jari Tangan

2-3 minggu

6.Jones Fracture

3-5 minggu

12.Jari Kaki

2-4 minggu

DAFTAR PUSTAKA

Adams, C.J, 1992, Outline of Fracture Including Joint Injury; Tenth edition, Churchill
Livingstone.
Appley, A. Graham, Louis Solomon, 1995; Terjemahan Ortopedi, dan Fraktur Sistem-Appley;
Edisi Ketujuh, Widya Medika, Jakarta.
Basmajian, John, 1978; Therapeutic Exercise; Third Edition, The William and Wilkins, London.
Chusid, JG, 1993; Neuro Anatomi Korelatif dan Neurologi fungsional. Edisi Empat, Gajah
Mada University Press, Yogyakarta.
De Wolf, A.N, 1994; Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh. Cetakan Kedua, Hauten Zeventen.
Data RSO Dr. Soeharso Surakarta, 2005; Jurnal Penderita Fraktur femur; RSO Dr. Soeharso
Surakarta.
Garrison, S.J, 1996; Dasar-dasar Terapi Latihan dan Rehabilitasi Fisik; Terjemahan
Hipocrates, Jakarta.
Kisner, Carolyn and Lynn Callby, 1996; Therapeutic Exercise Fondation and Techniques:
Third Edition, Fa. Davis Company, Philadelphia.
Mahyudin, Lestari, 2010. Fraktur Diafisis Tibia. (http://www. Belibis17.tk. Diakses pada 7
September 2014.
Norkin, C.C, Juice and White, 1995; Measurement of Joint Motion a Guide to Goniometry;
Second Edition, F.A Davis Company, Philadelphia.
Norkin and White, 1995; Measurement of Joint Motion a Guide to Goniometry; Second
Edition, F.A Davis Company, Philadelphia.
Rasjad, Chairuddin, 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar. Bintang Lamumpatue.
Sjamsuhidayat R, Jong W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi II. Jakarta: EGC.
Skinner, Harry B, 2006. Current Diagnosis & Treatment In Orthopedics. USA: The McGrawHill Companies.
Snell, Richard. S, 1998. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Bagian 2. Edisi 3.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.