Anda di halaman 1dari 26

Referat

Tumor Buli-Buli

Pembimbing :
dr.Seto H. Sp.U
Disusun Oleh :
Stella Kusumawardhani
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah
RS. Bhakti Yudha Depok
Periode 03 Mey 11 July 2015

Pendahuluan
Tumor Buli-Buli atau juga bisa disebut tumor vesika urinaria
(kandung kemih) merupakan keganasan kedua setelah
karsinoma prostat.
Tumor ini dua kali lebih banyak mengenai laki-laki daripada
wanita. Terdapat kasus yang melaporkan, pernah
mengeluhkan kencing yang berwarna merah dan bercampur
darah.
Di Eropa dan Amerika Serikat, kanker kandung kemih
menyumbang 5% sampai 10% dari semua keganasan pada
pria. Risiko terkena kanker kandung kemih pada <75 tahun
adalah 2% sampai 4% untuk pria dan 0,5% sampai 1% pada
wanita dibandingkan dengan risiko kanker paru-paru,
misalnya, yang merupakan 8% pada pria dan 2% pada wanita.

Anatomi

Etiopatologi

Etiopatologi
Sifat karsinogenisitas dari naphthylamine yang telah ditemukan.
Substansi ini diyakini terbawa dalam urine
dan menyebabkan asal tumor dalam
kaitannya dengan kontak dengan
permukaan mukosa vesika dalam waktu
lama.
Substansi kimia lainnya yang diwaspadai
bersifat karsinogenik adalah benzidine.

Faktor Resiko

Pekerjaan
Pekerja pabrik kimia, terutama pabrik cat, laboratorium, pabrik korek
api, tekstil, pabrik kulit, dan pekerja salon/ pencukur rambut sering
terpapar oleh bahan karsinogen berupa senyawa amin aromatik (2naftilamin, benzidine, dan 4-aminobifamil).

Perokok
Resiko untuk mendapat karsinoma buli-buli pada perokok 2-6 kali lebih
besar dibanding dengan bukan perokok. Rokok mengandung bahan
karsinogen amin aromatik dan nitrosamin.

Infeksi saluran kemih


Telah diketahui bahwa kuman-kuman E. Coli dan Proteus spp
menghasilkan nitrosamin yang merupakan zat karsinogen.

Kopi, pemanis buatan, dan obat-obatan


Kebiasaan mengkonsumsi kopi, pemanis buatan yang mengandung
sakarin dan siklamat, serta pemakaian obat-obatan siklofosfamid yang
diberikan intravesika, fenasetin, opium, dan obat antituberkulosa INH
dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan resiko timbulnya
karsinoma buli-buli.

Berdasarkan Jenis
histopatologi

Klasifikasi

Karsinoma sel transisional

Sebagian besar dari seluruh tumor buli adalah karsinoma


sel transisional. Tumor ini biasanya berbentuk papiler,
lesi eksofitik, sesile atau ulcerasi

Karsinoma non sel transisional

Adenokarsinoma : Primer terdapat di buli-buli, Urakhus


persisten, Tumor sekunder yang berasal dari fokus
metastasis dari organ lain

Karsinoma sel skuamosa


.

Karsinoma sel skuamosa terjadi karena rangsangan


kronis pada buli-buli sehingga sel epitelnya mengalami
metaplasia berubah menjadi ganas

Karsinoma yang tidak berdiferensiasi

Merupakan tipe tumor yang jarang (kurang dari 2 % dari


seluruh tipe tumor buli). Dalam karsinoma yang tidak
terdiferensiasi, sel-selnya belum matang sehingga
diferensiasi ke arah pola yang jelas seperti papilari,
epidermoid atau adenokarsinoma tidak terjadi.2,7

Karsinoma campuran

Terdapat 4-6 % dari seluruh tipe tumor. Merupakan


kombinasi antara bentuk transisional, glandular,
skuamosa, dan tidak berdiferensiasi. Yang tersering
adalah campuran bentuk transisional dan skuamosa

Karsinoma epitelian dan non epitelial

Karsinoma epiteliai di buli ditemukan dengan adenoma


villi, tumorkarsinoid, karsinosarkoma, dan melanoma.
Karsinoma non epitelial ditemukan bersama dengan
feokromositoma, limfoma, koriokarsinoma, dan tumor
mesenkim.2,7

KLASIFIKASI DAN STAGING

KLASIFIKASI DAN STAGING

KLASIFIKASI DAN STAGING

KLASIFIKASI DAN STAGING

Pembagian Stage berdasarkan


derajat invasi tumor
Stage 0
Menunjukkan tumor papilar, namun belum menginvasi lamina propria
Stage A
Tumor sudah menginvasi lamina propria, namun belum menembus
otot dinding vesika.
Stage B1
Neoplasma sudah menyebar superficial sampai setengah dari otot
detrusor.
Stage B2
Tumor ditemukan jauh di dalam lapisan otot.
Stage C
Tumor menyebar sampai lapisan lemak perivesikal atau ke
peritoneum.
Stage D
Tumor sudah bermetastasis.

Gejala Klinis
Merasa panas waktu berkemih
Merasa ingin berkemih
Sering berkemih terutama malam hari dan pada fase selanjutnya
mengalami kesulitan untuk berkemih
Nyeri suprapubik yang konstan
Panas badan dan merasa lemah
Hematuria yang bersifat tanpa disertai rasa nyeri (painless),
Kambuhan (intermitten), Terjadi pada seluruh proses miksi
(hematuria total).
Edema Tungkai.
Nyeri pinggang.

Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Jarang ditemui adanya kelainan,tumor tersebut
baru dapat diraba bila tumor tersebut sudah
tumbuh keluar dari dinding buli-buli.
Pemeriksaan laboratorium
Hb menurun, Leukositosis, Right Finger Tapping
(RFT) normal, Peningkatan kadar ureum dan
kreatinin.
Sitologi urin, yaitu pemeriksaan sel-sel urotelium
yang terlepas bersama urin.
Antigen permukaan sel dan flow cytometri, yaitu
mendeteksi adanya kelainan kromosom sel-sel
urotelium

Diagnosis
Pemeriksaan Radiologi
Excretory urogram biasanya normal, tapi mungkin dapat
menunjukkan tumornya.
Retrograde cystogram dapat menunjukkan tumor.
Fractionated cystogram adanya invasi tumor dalam dinding buli-buli.
Angiography untuk mengetahui adanya metastase lewat pembuluh
lymphe
Pemeriksaan Foto Polos Abdomen dan Pielografi Intra Vena (PIV)
USG, CT sacn, MRI
Foto toraks juga perlu dilakukan untuk melihat bila ada metastasis ke
paru-paru.

Diagnosis
Sistoskopi dan biopsi
Pemeriksaan sistoskopi
(teropong buli-buli) dan biopsi
mutlak dilakukan pada
penderita dengan persangkaan
tumor buli-buli, terutama jika
penderita berumur 40-45 tahun.
Dengan pemeriksaan ini dapat
dilihat ada atau tidaknya tumor
di buli-buli sekaligus dapat
dilakukan biopsi untuk
menentukan derajat infiltrasi
tumor yang menentukan terapi
selanjutnya.
Selain itu pemeriksaan ini dapat
juga digunakan sebagai
tindakan pengobatan pada
tumor superfisial (permukaan)

DIAGNOSIS BANDING

Tumor ginjal atau tumor ureter


Benign Prostatic Hipertrofi
Batu ginjal, ureter, buli
Infeksi Saluran Kemih

PENATALAKSANAAN
Reseksi buli-buli transuretra atau TUR bulibuli.
Instilasi intravesika dengan obat-obat
Mitosimin C, BCG, 5-Fluoro Uracil,
Siklofosfamid, Doksorubisin, atau dengan
Interferon dimasukkan zat kemoterapeutik
ke dalam buli melalui kateter.
Zat ini diberikan tiap minggu selama 6-8
minggu.

PENATALAKSANAAN
Sisteksomi parsial
Dilakukan pada tumor infiltratif, soliter yang berlokasi di
sepanjang dinding posterolateral atau puncak buli. Pada
sistektomi radikal dilakukan pengangkatan seluruh buli
dan jaringan atau organ di sekitarnya.
Sistektomi radikal
Pengangkatan buli-buli dan jaringan sekitarnya (pada pria
berupa sistoprostatektomi) dan selanjutnya aliran urin
dari kateter dialirkan melalui beberapa cara diversi urine,
antara lain:
-

Ureterosigmoidostomi
Konduit usus
Diversi urin kontinen
Diversi urin Orthotopic

PENATALAKSANAAN
Radiasi eksterna
Radiasi eksterna diberikan selama 5-8 minggu.
Merupakan alternatif selain sistektomi radikal
pada tumor ilfiltratif yang dalam. Rekurensi
lokal sering terjadi.
Radiasi paliatif
Pemberian single kemoterapi agent atau
kombinasi menunjukkan respon yang baik pada
pasien tumor buli metastase.
Respon meningkat pada pemberian kombinasi:
methotrexate, vinblastin, cisplastin, doxorubicin,
siklofosfamid.

PENATALAKSANAAN

Komplikasi
Dapat terjadi infeksi sekunder
kandung kemih yang parah bila
terdapat ulserasi tumor.
Bila tumor menginvasi leher buli,
maka dapat terjadi retensi urin.
Hidroneprosis dan urosepsis, dengan
gagal renal, toxemia

Kontrol Berkala
Semua pasien karsinome buli harus
mendapatkan pemeriksaan secara berkala,
dan secara rutin dilakukan pemeriksaan
klinis, sitologi urin serta sistoskopi.
Jadwal pemeriksaan berkala itu pada :
Tahun pertama dilakukan setiap 3 bulan
sekali.
Tahun kedua setiap 4 bulan sekali.
Tahun ketiga dan seterusnya : setiap 6 bulan.

Prognosis
Secara umum, prognosis tumor buli bergantung
pada derajat invasi dan diferensiasi.
Pada tumor Grade 1,2, Stage 0, A, B1 hasil
terbaik didapatkan dengan reseksi transuretral.
Sistektomi dapat untuk mengatasi 15-25%
tumor Grade 3,4, Stage B2, C dengan
persentasi kematian saat operasi sebesar 515%.
Radioterapi pada neoplasma ganas dapat
mengontrol 15-20% neoplasma selama 5 tahun

Kesimpulan

Tumor Buli-Buli atau juga bisa disebut tumor vesika urinaria (kandung kemih)
merupakan keganasan kedua setelah karsinoma prostat. Tumor ini dua kali lebih
banyak mengenai laki-laki daripada wanita. Penyebab-penyebab tumor buli
semakin banyak dan rumit, dan beberapa substansi-substansi dalam industri
kimia diyakini bersifat karsinogenik (Hueper, 1942).
Salah satunya adalah sifat karsinogenisitas dari -naphthylamine yang telah
ditemukan. Substansi ini diyakini terbawa dalam urine dan menyebabkan asal
tumor dalam kaitannya dengan kontak dengan permukaan mukosa vesika dalam
waktu lama. Substansi kimia lainnya yang diwaspadai bersifat karsinogenik
adalah benzidine..Gejala pada kanker buli-buli tidaklah spesifik. Banyak penyakitpenyakit lain, yang termasuk kondisi inflamasi, melibatkan ginjal dan kandung
kemih, menunjukkan gejala yang sama. Gejala pertama yang paling umum
adalah adanya darah dalam urin (hematuria).
Hematuria dapat terlihat dengan mata telanjang, ataupun berada dalam level
mikroskopik. Gejala seperti adanya iritasi pada urinasi juga dapat dihubungkan
dengan kanker kantung kemih, seperti rasa sakit dan terbakar ketika urinasi, rasa
tidak tuntas ketika selesai urinasi, sering urinasi dalam jangka waktu yang
pendek. Iritabilitas vesikal dengan atau tanpa sakit biasanya menandakan
adanya infiltrasi, walaupun tidak dalam semua kasus. Diagnose dapat dilakukan
melalui pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, Sistoskopi dan biopsy.
Tindakan yang pertama kali dilakukan pada pasien karsinoma buli-buli adalah
reseksi buli-buli transuretra atau TUR buli-buli. Pada tindakan ini dapat ditentukan
luas infiltrasi tumor. Terapi selanjutnya tergantung pada stadiumnya