Anda di halaman 1dari 1

KPK Minta Aturan Pelarangan

Thursday, 18 February 2010

JAKARTA (SI) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) untuk mengeluarkan kebijakan yang secara tegas melarang penerimaan fee
oleh sejumlah kepala daerah.

Kebijakan ini diperlukan jika semua daerah menerima fee dari Bank Pembangunan Daerah
(BPD). ”Jika ternyata semua daerah menerima (fee), maka harus ada kebijakan dari Presiden,”
desak Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan M Jasin dalam diskusi terbatas ”Pro dan Kontra
Honor dan Fee Kepala Daerah” di Kantor Indonesia Corruption Watch (ICW) di Jakarta
kemarin.Jasin meminta agar kebijakan pelarangan itu segera diperjelas.

Alasannya, koordinasi yang dilakukan selama ini belum menghasilkan solusi nyata. Bahkan,
penerimaan fee itu tidak hanya dari BPD, melainkan juga dari bank lain. ”Hampir di semua
wilayah begitu.Bukan hanya BPD,tapi juga bank lain,”ungkapnya. Menurut Jasin, KPK sudah
secara tegas menganggap pemberian fee BPD kepada sejumlah kepala daerah itu sebagai
penyimpangan. KPK juga menilai kepala daerah tidak berhak menerima fee yang diberikan
BPD sebagai hadiah atas penyimpanan dana APBD di bank tersebut.

”Ada marketing fee ke rekening pejabat atau cash tanpa tanda tangan.Atau diberikan ucapan
terima kasih kepada orang yang dianggap key person,”beber Jasin. KPK sebelumnya menduga
sejumlah kepala daerah menyelewengkan uang kas daerah sejak 2008.Penyimpangan
tersebut mencapai lebih dari Rp360 miliar yang terdiri atas fee,bunga,dan fasilitas yang
diberikan bank atas penempatan uang APBD di BPD.

Setidaknya enam daerah disinyalir melakukan praktik ini,yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat-
Banten, DKI Jakarta,Kalimantan Timur, Surabaya, dan Semarang. Hingga kini belum satu pun
kepala daerah yang mengembalikan fee tersebut. Jasin menyatakan,KPK saat ini sedang
menelusuri siapa saja kepala daerah lain yang menikmati fee BPD. KPK juga akan
berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk membicarakan soal regulasi terkait
penerimaan fee ini.

”Kita identifikasi dengan BPK siapa yang sudah menerima fee tersebut,”katanya. Peneliti ICW
Tama S Langkun mendukung langkah KPK menerapkan single salary system.Dengan sistem
ini secara otomatis pejabat dilarang menerima pendapatan lain selain gaji. ”Kepala daerah
dan wakil kepala daerah tidak dibenarkan menerima penghasilan atau fasilitas rangkap dari
negara,”ujar Tama.

ICW juga merekomendasikan agar KPK tidak sekadar melakukan tindak pencegahan terhadap
kepala daerah yang enggan mengembalikan fee. KPK diharapkan bisa memperjelas aturan
mengenai penerimaan dana ke kantong pribadi para pejabat. ”Kasus BPD harus ada
penindakan, tak hanya pencegahan. Harus memberi sanksi tegas bagi penerima,” desak
Tama. (rd kandi)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/305208/

http://www.warsidi.com