Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Desain produk merupakan bidang keilmuwan yang menentukan bentuk/ form dari
sebuah produk manufaktur yang bertujuan untuk mengolah bentuk tersebut untuk
disesuaikan dengan keinginan pemakainya dan disesuaikan dengan proses produksi
yang ada di industri yang memproduksinya. Seperti kita ketahui selama ini telah
banyak terdapat beragam produk yang muncul di pasaran. Namun, sampai saat ini
para desainer produk masih terus berusaha untuk menciptakan produk-produk yang
dirasa lebih baik, efektif, e.fisien, dan dapat memenuhi keinginan konsumen dalam
satu produk yang akan dibuat. Dengan demikian diperlukan suatu cara untuk
mendapatkan produk sesuai dengan keinginan customer, dengan menerapkan disiplin
ilmu desain produk dalam dunia industri.
Schneider Electric Indonesia, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
manajemen energi. Salah satu produk yang dihasilkan dari Schneider Electric
Indonesia adalah panel listrik yang berfungsi mengatur distribusi listrik di suatu area
atau ruangan. Panel listrik ini di buat berdasarkan pesanan dari klien (custom made).
Pihak klien membuat permintaan berdasarkan kebutuhan klien (Technical
requirement). Adapun proses pembuatan panel listrik digambarkan seperti berikut :

Gambar 1.1 Proses Pembuatan Panel Listrik

Pada kesempatan kali ini kami mencoba untuk menggunakan pendekatan QFD
(Quality Function Deployment) untuk mendesain panel listrik sesuai dengan
permintaan.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Perancangan dan Pengembangan Produk


Perancangan merupakan suatu proses yang meliputi sederetan langkah yang
berhubungan dengan sasaran tertentu. Perancangan adalah kemampuan untuk
menggabungkan gagasan, prinsip-prinsip ilmiah, sumber daya dan sering produk
yang telah ada ke dalam penyelesaian suatu masalah. Perancangan merupakan suatu
cara menghayati dan menciptakan gagasan baru dan kemudian mengkomunikasikan
gagasan-gagasan tersebut kepada orang lain dengan cara yang mudah dipahami. Hal
ini paling efisien dilakukan melalui penggunaan grafik.
Perancangan dapat digunakan untuk mencerminkan ekspersi pribadi atau unuk
meningkatkan pengembangan produk. Pencerminan ekspersi pribadi ini sering
disebut sebagai perancangan estetika sementara peningkatan pengembangan produk
dianggap sebagai perancangan fungsional. Estetika dan fungsi dapat bekerja sama
untuk menciptakan produk yang tidak saja menawan tetapi memenuhi kebutuhan
produk tetentu.
Perancangan produk merupakan salah satu bagian dari pengembangan produk
yang mencari bentuk baru yan memeberikan nilai tambah bagi produk tersebut agat
dapat bersaing dipasaran. Perancangan produk juga merupakan bagian dari
pengembangan produk baru yang mencari bentuk baru untuk mendapatkan nilai
tambah bagi produk tersebut agar dapat bersaing di pasaran.
Sedangkan pengembangan produk sendiri merupakan serangkaian aktivitas
yang dimulai dengan persepsi mengenai peluang pasar dan dilanjutkan dengan
produksi, penjualan dan pengiriman produk.

2.2 Proses Desain Quality Function Deployment (QFD)


QFD adalah metode terstruktur yang digunakan dalam proses perencanaan
dan pengembangan produk untuk menetapkan spesifikasi kebutuhan dan keinginan
konsumen, serta mengevaluasi suatu produk dalam

memenuhi kebutuhan dan

keinginan konsumen (Cohen,1995:11). QFD memungkinkan organisasi untuk

memprioritaskan kebutuhan pelanggan, menemukan tanggapan inovatif terhadap


kebutuhan tersebut, dan memperbaiki proses hingga tercapai efektivitas maksimum.
Konsep QFD dikembangkan untuk menjamin bahwa produk yang memasuki
tahap produksi benar-benar akan dapat memuaskan kebutuhan para konsumen atau
pelanggan dengan jalan membentuk kualitas yang diperlukan dan kesesuaian
maksimum pada setiap tahap pengembangan produk.
Qualitiy Fuction deployment direpsentasikan sebagai sebuah perubahan dari
arus utama pengendalian kualitas manufaktur tradisional sederhana ke pengendalian
kualitas desain produk. Penggunaan QFD untuk membantu mendefinisikan apa
yang dilakukan (what to do) dan transformasi yang progresif apa yang dilakukan ke
dalam bagaimana harus (how do) dengan berbagai cara sehingga didapatkan hasil
performance yang konsisten didalam memuaskan konsumen.
2.2.1 Manfaat penerapan QFD
Penggunaan metodologi QFD dalam proses perancangan dan pengembangan
produk merupakan suatu nilai tambah bagi perusahaan. Sebab perusahaan akan
mempunyai keunggulan kompetatif dengan menciptakan suatu produk atau jasa yang
mampu memuaskan konsumen. Manfaat-manfaat yang diperoleh oleh penerapan
QFD dalam proses perancangan produk adalah (Dale, 1994):
1. Meningkatkan kehandalan produk
2. Meningkatkan kualitas produk
3. Meningkatkan kepuasan konsumen
4. Memperpendek time to marker
5. Mereduksi biaya perancangan
6. Meningkatkan komunikasi
7. Meningkatkan produktifita
2.2.2 Hierarkhi Matrik QFD

Dengan menggunakan metodologi QFD dalam proses perancangan dan


pengembangan produk, maka akan dikenal empat jenis tahapan, yaitu masing-masing
adalah (Basterfield dalam Risenasari 2009):
1. Tahap Perencanaan Produk (House of Quality)
Fase ini dimulai dari persyaratan pelanggan, untuk setiap persyaratan pelanggan
harus ditentukan persyaratan desain yang dibutuhkan, dimana jika memuaskan
akan membawa hasil dalam pemenuhan persyaratan pelanggan.
2. Tahap Perencanaan Komponen (Part Deployment)
Persayaratn desain dari matriks pertama dibawa ke matriks kedua untuk
menentukan karakteristik kualitas bagian
3. Tahap Perencanaan Proses (Proses Deployment)
Operasi proses kunci ditentukan oleh karakteristik kualitas bagian dari matriks
sebelumnya.
4. Tahap Perencanaan Produksi (Manufacturing/ Production Planning)
Persyaratan produksi ditentukan dari operasi proses kunci. Pada fase ini dihasilkan
prototype dari peluncuran produk
Proses QFD dimulai dari riset segmentasi pasar untuk mengetahui siapa
pelanggan produk kita dan karakteristik serta kebutuhan pelanggan, kemudian
mengevaluasi tingkat persaingan pasar. Hasil dari riset pasar diterjemahkan kedalam
desain produk secara teknis yang sesuai atau cocok dengan apa yang dibutuhkan
pelanggan. Setelah desain produk dilanjutkan dengan desain proses, yaitu merancang
bagaimana proses pembuatan produk sehingga diketahui karakteristik dari setiap
bagian atau tahapan proses produksi. Kemudian ditentukan proses operasi atau
produksi dan arus proses produksi. Akhirnya disusun rencana produksi dan
pelaksanaan produksi yang menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan pelanggan
(Nasution dalam Riesenasari, 2009)

Gambar 2.7 Proses QFD (sumber: Nasution dalam Riesenasari, 2009)

2.2.3 House of Quality (HOQ)


Rumah kualitas atau biasa disebut juga House of Quality (HOQ) merupakan
tahap pertama dalam penerapan metodologi QFD. Secara garis besar matriks ini
adalah upaya untuk mengkonversi voice of costumer secara langsung terhadap
persyaratan teknis atau spesifikasi teknis dari produk atau jasa yang dihasilkan.
Perusahaan akan berusaha mencapai persyaratan teknis yang sesuai dengan target
yang telah ditetapkan, dengan sebelumnya melakukan benchmarking terhadap produk
pesaing. Benchmarking dilakukan untuk mengetahui posisi-posisi relatif produk yang
ada di pasaran yang merupakan kompetitor. Gambar 2.8 menunjukan struktur matrik
pada HOQ:

Gambar 2.8 House of Quality (Sumber: Cohen, 1995)

Setiap bagian dari House of Quality tersebut adalah:


1. Costumer requirements
Berisi data masukan dari konsumen tentang kebutuhan atau keinginan konsumen
terhadap suatu produk atau jasa, (Cohen,1995). Data tersebut biasanya diperoleh
melalui riset pasar dengan mengambil data kualitatif dari konsumen, (Cohen,
1995). Data kualitatif ini diperoleh dengan melakukan observasi atau wawancara
dengan konsumen. Kemudian kebutuhan konsumen digunakan untuk menentukan
hierarki atau tingkatan dari kebutuhan tersebut, yaitu primer sekunder dan tersier.
2. Importance rating
Masing-masing kebutuhan konsumen dinyatakan besarnya dengan menggunakan
rating 1 hingga 5. Importance rating dibuat dengan menggunakan data kuantitatif
dari konsumen, untuk menentukan tingkat kepentingan kebutuhan konsumen dan
kompetisi dari produk. (Cohen, 1995)
3. Competitive assessment
Menunjukan nilai evaluasi posisi produk dengan produk pesaing. Kegiatan ini
dilakukan membandingkan dan menganalisis produk yang telah ada untuk

mengetahui kelebihan dan kekurangannya sehingga dapat diperoleh informasi


yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah pengembangan produk (Cohen,
1995)
4. Quality Characteristics
Berisi persyaratan-persyaratan teknis untuk pengembangan produk. Persyaratan
teknis ini diperoleh dari penurunan informasi mengenai kebutuhan konsumen.
Karakteristik teknis yang dibuat harus mempunyai arti, dapat di ukur, dan bersifat
global. Karakteristik teknis disebut juga dalalam istilah metrik. Karakteristik teknis
merupakan terjemahan kebutuhan konsumen ke dalam kebutuhan pengembang,
berupa bahasa teknis yang digunakan untuk mendeslkripsikan produk.
5. Characteristic correlations
Berisi penilaian mengenai kekuatan hubungan antara elemen-elemen yang terdapat
pada

bagian

persuaratan

teknis.

Matmatriks

interkasi

berguna

untuk

mengidentifikasikan pertukaran (trade-off) duiantara elemen tnaggapan teknik.


Matriks menunjukan interkasi diantara tanggapan teknik yang menunjukan
kemungkinan hubungan yang akan terjadi yaitu hubungan kuat, hubungan sedang
dan hubungan lemah. Penentuan antar elemen sangat penting, karena jika salah
satu elemen dianggap kritis dan perlu ditinjak lanjuti maka elemen lain yang
berhubungan dengan elemen kritis tersebut harus diperbaiki.
6. Requirements vs characteristics (Relationship matrix)
Berisis hubungan antara kebutuhan konsumen dengan persyaratan teknis.
Umumnya menggunakan symbol utnuk menjelaskan hubungan kuat sedang
maupun lemah. Hubungan tersebut menunjukan seberapa besar pengaruh
karakteristik teknis terhadap pemenuhan kebutuhan konsumen. Dalam QFD,
terdapat 4 kemungkinan hubungan antara karakteristik teknis dan kebutuhan
konsumen dalam matris, yaitu: (1) performansi kapuasan konsumen tidak memiliki
hubungan dengan karakteristik teknis (bernilai = 0) (2) performansi kepuasan
konsumen mungkin memiliki hubungan dengan karakteristik teknis (bernilai =1),

(3) performansi konsumen memiliki hubungan moderat dengan karakterisitk teknis


(bernilai=3), dan (4) performansi kepuasan konsumen memiliki hubungan yang
erat dengna karakteristik teknis (bernilai = 5, 7, 9 atau 10). Pada matriks QFD,
hubungan tersebut bernilai positif, sehingga apabila semakin bbesar derajat
hubungan anatra karakteristik teknis dengan kebutuhan konsumen, maka semakin
besar pengaruhnya terhadap kepuasan konsumen. (Cohen, 1995)
7. Technical importance
Menyatakan besarnya nilai prioritas persyaratan teknis terhadap pemenuhan
kebutuhan konsumen. (Cohen, 1995)
8. Target values for the characteristic
Menentukan target untuk setiap persyaratan teknis. Hal ini bertujuan untuk
mengukur tingkat kemajuan yang dicapai dalam memenuhi kebutuhan konsumen
sesuai dengan desain awal yang ditawarkan. (Cohen, 1995)
9. Technical benchmarking
Menunjukan persyaratan teknis antar hasil prisuk dengan pesaingnya dengan
menggunakan persyaratan teknis. Digunakan skala 1 sampai 5 yang akan
memberikan informasi seberapa besar keunggulan produk terhadap pesaingnya. .
(Cohen, 1995)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka pikir yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini merupakan
gambaran seluruh aspek-aspek yang terdapat didalam penelitian dan membantu
memahami isi dan maksud dari penelitian yang dilakukan. Tujuan dari pembuatan
kerangka pikir ini yaitu untuk menunjukkan suatu sistem atau objek penelitianyang
dapat dideskripsikan secara jelas. Kerangka pikir yang digunakan pada penelitan ini
terlihat pada gambar berikut :

Gambar 3.1 Kerangka Pikir Penelitian

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam penyusunan House of Quality tentu didahului oleh pengumpulan data.
Data didapat dari data sekunder hasil pembahasan pada pertemuan antara PT.
Schneider Electric Indonesia dengan PT. PLN yang membicarakan tentang spesifikasi
apa saja yang diinginkan PT. PLN untuk ada pada panel switchgear.
4.1 Penentuan Keinginan Pelanggan (Voice of Customer)
Data keinginan pelanggan (voice of customer) didapat dari data sekunder.
Data sekunder ini berasal dari rangkuman hasil pertemuan antara PT Schneider
Electric dengan PT. PLN. Berikut adalah daftarnya :
Tabel 4.1 Voice of Customer

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

VOICE OF CUSTOMER
Jika terjadi ledakan tidak membahayakan operator
Memiliki indikator sensor pencegah kebakaran/bahaya lain
Memiliki indikator pencegah human error
Binatang / serangga tidak bisa masuk ke dalam unit box
Unit box tidak mudah karat
Design disesuaikan lingkungan sekitar
Ketebalan unit box sesuai standar yang ditetapkan
Mudah untuk melihat parameter
Mudah dalam pengiriman dan instalasi
Mudah dalam pergantian suku cadang
Mudah dan tidak memerlukan space yang berlebih dalam pengoperasian
Memiliki pencegahan kesalahan Operasi
Mudah untuk melihat jumlah pemakaian umur komponen

4.2 Penentuan Respon Teknikal

Teknikal respon merupakan jawaban atas kebutuhan pelanggan dimana hasil


dari teknikan respon ini merupakan penterjemahan kebutuhan konsumen ke dalam
bahasa organisasi. Adapun respon teknikal dari kebutuhan pelanggan untuk panel
switchgear adalah sebagai berikut :
Tabel 4.2Atribut Respon Teknikal

No.

VOICE OF CUSTOMER

RESPON TEKNIKAL
Flap Deflector

Jika terjadi ledakan tidak

Internal Arc

membahayakan operator
Memiliki indikator sensor pencegah

Locking pintu kompartemen


ada alarm/suara

kebakaran/bahaya lain
Memiliki indikator pencegah human

Auto lock/unlock

error
Binatang / serangga tidak bisa masuk ke

mechanical interlock Ronis Key


IP 4X Unit Box

5
6
7

dalam unit box


Unit box tidak mudah karat
Design disesuaikan lingkungan sekitar
Ketebalan unit box sesuai standar yang

Galvanized sheet metal type


knockdown installation
Ketebalan cover sesuai std (2-3 mm)

8
9
10
11

ditetapkan
Mudah untuk melihat parameter
Mudah dalam pengiriman dan instalasi
Mudah dalam pergantian suku cadang
Mudah dan tidak memerlukan space

drawable
drawable
Daun pintu hanya bisa terbuka sebesar 90

yang berlebih dalam pengoperasian

derajat
Pintu kompartemen harus terkunci saat

Memiliki pencegahan kesalahan Operasi


Mudah untuk melihat jumlah pemakaian

breaker berada pada kondisi Closed/ On.


Adanya counter penghitung jumlah

umur komponen

pemakaian

12
13

Display yang jelas


knockdown installation

4.3 Hubungan Antara Respon Teknikal Dan Suara Konsumen


Dalam menyusun House Of Quality, hal penting yang dilakukan adalah
melihat hubungan antara respon teknikal dan atribut produk atau pelayanan.
Hubungan tersebut disusun antara respon teknikal dan atribut produk atau pelayanan.
Hubungan tersebut disusun dalam bentuk matriks. Matriks ini menilai kuat tidaknya
hubungan antara respon teknikal dan atribut produk atau pelayanan yang merupakan
kebutuhan customer. Penilaian antar respon teknikal dan suara konsumen disimbolkan
dengan angka 9-3 dan 1. Dimana 9 berarti memiliki hubungan yang kuat, 3 memiliki
hubungan yang lemah dan 1 memiliki arti tidak berhubungan.

4.4 Interaksi Antar Karakteristik Teknis


MatrIks hubungan antar karakteristik teknik menunjukkan interaksi antar
masing-masing karakteristik teknis (respon teknikal). Penentuan hubungan antar
elemen karakteristik teknis sangat penting untuk dilakukan, karena jika salah satu
elemen dianggap kritis dan ditindaklanjuti, elemen lain yang berhubungan dengan
elemen kritis tersebut juga harus diperbaiki antau ditindak lanjuti.
Penilaian interaksi antar elemen teknikal disimbolkan dengan lambing dengan arti
sebagai berikut :

Gambar 4. Simbol Penilaian antar Elemen Teknikal

Berikut ini adalah matriks interaksi antar respon teknikal yang ditunjukkan
pada gambar berikut:

Gambar 4.1 Hubungan antar respon teknikal

4.5 Benchmarking dan Positioning Produk


Benchmarking yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk memberikan
penilaian terhadap metrik-metrik yang ada berdasarkan informasi yang dimiliki. Selai
melakukan benchmarking terhadap produk pesaing, juga dilakukan positioning
produk yang akan dirancang. Terlihat pada tabel berikut :

4.6 Hasil House Of Quality


Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode QFD untuk
pembuatan panel switchgear, makan berikut adalah ringkasan hasil yang didapat :

Gambar 4. Hasil HOQ


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa karakteristik yang penting menurut konsumen adalah
item 4, 6, 5 dan 1. Hal ini terlihat dari nilai prosentasi yang besar pada perhitungan HOQ. Oleh karena
itu, pihak Schneider harus mementingkan aspek nilai-nilai tersebut untuk pembuatan panel switchgear
untuk PLN.