Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH GEOLOGI KELAUTAN

HUBUNGAN PASIR DENGAN MATERIAL PEMBENTUK


BATUPASIR

Disusun Oleh :
Laras Cahyani Putri
21100113120050

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
MEI 2015

HUBUNGAN PASIR DENGAN MATERIAL PEMBENTUK


BATUPASIR

Pendahuluan tentang batupasir


Batupasir (Sandstone) merupakan batuan yang terbentuk dari mineral
yang berukuran pasir, dimana mineral tersebut dominan berupa mineral kuarsa
atau feldspar. Mineral kuarsa merupakan mineral yang resisten, sehinga
mineral tersebut masih terdapat pada batuan yang terbentuk dari material
berukuran pasir ini bahkan sampai ukuran yang lebih halus seperti ukuran
lempung. Warna pada batupasir tergantung dari mineral pembentuknya, warna
yang umum adalah coklat muda, coklat, kuning, merah, abu-abu dan putih.
Batupasir merrupakan litologi yang baik untuk dijadikan sebagai akuifer
(hidrogeologi) dan reservoir konvensional bagi fluida-fluida ekonomis.
Batupasir terbentuk dari material pasir yang berukuran macam-macam.
Klasifikasi yang menjelaskan mengenai ukuran butir pada batuan sedimen
klastik yaitu, klasifikasi Wentworth, 1922.
Pasir

merupakan

material

pembentuk

batupasir

yang

belum

terkompaksi dan masih dalam bentuk material yang terurai. Pasir itu sendiri
merupakan suatu bentuk ukuran dari material pembentuk batupasir (terdapat
dalam klasifikasi Wentwort,1922) mulai dari ukuran pasir sangat kasar hingga
pasir sangat halus. Material tersebut dapat berupa fragmen, matriks.
Penjelasan mengenai fragmen, matriks dan semen akan dijelaskan dibawah.
Batupasir merupakan tergolong batuan sedimen klastik, yang dimana
penyusunnya kebanyakan berupa berukuran pasir. Pembentukan batupasir
dominan terbawa oleh pergerakan air atau dipengaruhi oleh adanya arus
gelombang yang membawanya. Batupasir ini terbentuk dari material berupa
fragmen, matriks dan semen. Fragmen merupakan kerangka penyusun
batupasir yang ukurannya lebih besar dari material pembentuk lainnya, lalu

material yang lebih halus merupakan matriks dan material yang menyatukan
atau merekatkan antara fragmen dan matriksnya dinamakan semen. Semen
tersebut dapat bersifat karbonatan dan non karbonatan tergantung lokasi
pembentukan dari batupasir tersebut. Ukuran semen itu sendiri lebih kecil dari
pasir (silt dan mud).

Komposisi batupasir
Batupasir disusun oleh material fragmen yang berukuran pasir, matriks
yang berukuran lebih halus dari pasir dan semen yang berupa mineral yang
sangat halus dapat berupa karbonatm silika dan lainnya, yang berfungsi untuk
mengunci (interlocking) akibat reaksi kimia selama litifikasi. Fargmen yang
berukuran pasir tersebut dapat berupa mineral ataupun fragmen batuan (yang
berasal dari batulanau, batulempung atau batuan beku halus bertekstur afanitik
dan batuan metamorf yang bertekstur halus). Mineral-mineral paling umum
terdapat pada batupasir adalah kuarsa, feldspar dan beberapa jumlah kecil
mineral asesoris, fragmen batuan (rock fragmen atau lithic fragmen) disusun
oleh fragmen batuan beku bertekstur halus (andesit, basalt, tuf dan lainnya),
batuan metamorf (metakuarsit, schist, filit, slate dan argilit), dan batuan
sedimen yang bertekstur halus (pasir sangat halus, silststone, shale, dan chert,
batugamping).

Fragmen pada batupasir


Fragmen pada batupasir dapat berupa mineral, mineral yang paling
dominan menyusun yaitu kuarsa dan feldspar, dimana produk dari hasil
transportasi jauh dan resisten. Selain itu pengaruh dari keterdapatannya yang
melimpah di bumi. Komposisi fragmen mineral yang dominan merupakan
mineral silikat (deret bowen). Penyusun batuan yang merupa material

berukuran butir dan dominan silika membuat batupasir ini sering disebut
sebagai batuan silisiklastik.
Mineral Primer
Komposisi mineral ini lebih dominan membentuk batupasir
-

Kuarsa
Mineral dengan resistensi tinggi terhadap pelapukan dan jumlahnya
melimpah di alam. Karena ketahanan terhadap abrasi dan resisten terhadap
reaksi kimia mengakibatkan disintegrasi. Kuarsa dapat berasal dari batuan
plutonik, terutama batuan yang tersusun oleh mineral felsik seperti granit
yang kaya akan kuarsa, selain itu dapat berasal dari batuan metamorf dan
batupasir sendiri yng umurnya lebih tua.

Feldspar
Mineral feldspar merupakan mineral yang tergolong melimpah di alam,
walaupun kekerasannya tidak setara dengan kuarsa namun karena
keberadaannya yang melimpah sehingga mineral ini mudah ditemui.
Mineral feldspar ini dapat berupa plagioklas dan k-feldspar (potasium
feldspar.

Mineral Accesories
Jumlahnya hanya sekitar 2-3% mengisi komposisi batupasir. Mineral ini
mengacu kepada mineral selain dua mineral yang disebutkan sebelumnya,
dapat berupa mineral silikat dalam deret bowen (deret olivin, piroksen,
hondblenda, biotit, muskovit) maupun mineral asesoris berupa mineral berat
serpeti zirkon, apatit, turmalin, korundum, atau intan dan logam ekonomis.
Mineral mafic pada seri bowen dapat hadir setelah melalui proses erosi saat
transportasi dan alterasi selama proses diagenesis. Sementara untuk mineral
berat yang memiliki sifat fisik keras dan berat jenisnya yang besar sehingga

tertransport dengan settling velocity (kecepatan jatuh) yang lebih besar dan
terendapkan lebih cepat sehingga tidak tertransport terlalu jauh sehingga
proses abrasi tidak terlalu dominan bekerja sehingga mineral ini masih dapat
ditemukan pada batupasir.
Mineral Autigenik
Mineral yang hadir secara insitu akibat kondisi kimia tertentu pada suatu
daerah. Mineral yang hadir dari proses diagenetik atau proses tertentu seperti
glaukonit, klorit, zeolit.
Fragmen Litik
Fragmen litik merupakan fragmen penyusun berupa fragmen batuan
dimana ukurannya yang berbeda sendiri dari ukuran butir disekitarnya.
Pecahan batuan sumber purba yang telah lapuk dan tertransport. Fragmen litik
ini berukuran berbagai jenis klastika sedimen yang terdapat pada skala
wentworth, dapat berupa bongkah, berangkal, kerakal, kerikil dan pasir.

Matriks pada batupasir


Material yang ukurannya lebih halus dari fragmen yang terdapat pada
batupasir. Sifatnya yang cenderung mengisi ruang antar butirnya. Mineral
penyusun matriks ini seperti illite (K2[Si6Al2]Al4O20(OH)4], smectite
(montmorillonite)

[(Al,

Mg)8(Si4O10)3(OH)10.12H2O],

kaolinite

(Al2Si2O5(OH)4], dan chlorite [(Mg, Fe)5 (Al, Fe3+)2Si3O10(OH)8].


montmorilonit merupakan jenis lempung berlayer dua. Mineral lempung
adalah mineral-mineral mika (kayak biotit dan muskovit tapi bukan originnya
hasil kristalisasi magmatik kayak dua mineral itu dihasilkan dari proses kimia
dan diagenesis). Mineral lempung terbentuk dari hasil pelapukan subaerial dan
hidrolisis. Namun pelapukan subaqueous juga dapat membentuk mineral
lempung dan diagenesis akibat burial.
Keberadaan matriks menurut pettijohn, potter dan siever, 1987,
dikontrol oleh tiga faktor yaitu :

1. Pelapukan dan erosi dari batuan provenance. Dua jenis dari material
detrital mampu menjadi matriks batupasir ketika lapuk yaitu kelompok
filosilikat-lempung, mika dan klorit yang secara primer dapat menjadi
matriks dan fragmen batuan yang labil.
2. Dipengaruhi oleh proses kimia pada lingkungan pengendapan, sebagai
contoh kecepatan arus dan densitas yang mengontrol jumlah material
matriks berbutir halus yang tertransportasikan dan diendapkan bersama
pasir. Kontrol keasaman (pH), potensial oksidasi (Eh), stabilitas berbagai
fase mineral selama dan setelah pengendapan, stabilitas, filosilikat yang
dikontrol oleh kimia dari dasar air dan pori.
3. Proses diagenesis. Proses rekristalisasi, neokristalisasi dan deformasi
ringan. Fragmen material yang kaya akan lempung akan sangat produktif
dalam membentuk matriks. Feldspar yang ada dapatterkena alterasi dan
membentuk mineral lempung atau mika. Hasil presipitasi larutan
intergranular antar butir dan air laut dapat membentu klorit baru dan
lempung.

Semen pada batupasir


Material utama penyusun semen adalah silika dan karbonat. Semen
silika dapat hadir dengan sifatnya yang overgrowth (saling tumbuh). Tidak
semua sandstone memiliki struktur overgrowth yang bersemen silika,
umumnya terdapat pada batu kaya kuarsa (quartz arenite sandstone). Semen
silika tidak selalu berasal dari kuarsa, namun dapat berasal dari mineral silikat
lain, dimana sifat silika yang mudah terdisintegrasi dibandingkan kuarsa yang
lebih resisten. Kelompok semen kedua yang banyak dijumpai berupa semen
karbonat, seperti kalsit dan dolomite. Semen karbonat berasal dari larutan
garam kalsium karbonat yang terpresipitasi membentuk semen. Semen lainnya
yang dapat terbentuk berupa mineral autogenik klorit, zeolit dan glaukonit.
Kesimpulannya yaitu semua semen merupakan mineral sekunder yang
terbentuk setelah pengendapan terjadi dan berhubungan dengan proses postdepositional diagenesis.

Klasifikasi dan komposisi kimia batupasir


Karena butiran pada batuan sedimen silisiklastik berasal dari berbagai
tipe batuan yaitu beku, metamorf dan sedimen, sehingga analisis mengenai
komposisi kimia tidak terlalu diperhatikan. Namun hasil dari analisis tersebut
dapat menentukan provenance batupasir tersebut, dapat juga menentukan
source rock yang membawa batupasir tersebut (provenance analysis). Sebagai
contoh batupasir yang kaya akan besi, magnesium, kalsium dan sodium dan
potasium maka dapat diinterpretasikan tipe source rocknya kemungkinan
batuan mafic. Sebaliknya batupasir yang kaya akan kuarsa, alkali feldspar dan
mineral felsic lainnya kemungkinan provenancenya adalah pluton granit dan
lainnya.

Tekstur pada sedimen silisiklastik


Pada awalnya material sedimen silisiklastik ini belum terkonsolidasi
dengan ukuran pada klasifikasi wentworth, 1922. Hingga setelah terlitifikasi
dan mengalami proses sedimentasi lanjutan maka akan membentuk yang
dinamakan tekstur pada batuan sedimen. Dimana tekstur menjelaskan
mengenai hubungan antar butir material pembentuk suatu batuan. Secara
tekstural dilapangan sedimen silisiklastik dapat berupa pencampuran antar
material pembentuknya yang tidak seideal yang dipelajari, sehingga dikenal
dengan istilah nomenclature. Dijelaskan pada gambar dibawah ini:

Gambar 1. nomenklatur pencapuran sedimen oleh Folk, dan Robinson (dalam Boggs,
2006 hal 129)

Tekstur batupasir adalah epiklastik, yang tersusun berupa yang


terbentuk di permukaan dan mengandung akumulasi butiran (clast), baik
butiran yang membundar maupunmenyudut. Tekstur batuan sedimen sendiri
dibagi menjadi: ukuran butir sesuai dengan skala Wenworth, 1922, bentuk
butir (roundness) yang dibagi menjadi angular, sub angular, subrounded,
rounded

dan

well

rounded.

Selanjutnya

sortasi

(pemilahan)

yaitu

keseragaman dari ukuran besar butir penyusun batuan sedimen, artinya bila
semakin seragam ukurannya dan besar butirnya maka, pemilahan semakin
baik. Sortasi tersebut dibagi menjadi sortasi baik dan sortasi buruk. Tekstur
selanjutnya berupa kemas (fabric) yaitu hubungan antara masa dasar dengan
fragmen batuan/ mineralnya. Kemas dalam sedimen dibedakan menjadi dua
yaitu kemas terbuka, yaitu hubungan antara masa dasar dan fragmen butiran
yang kontras sehingga terlihat fragmen yang mengambang diatas masa dasar
batuan. Kemas tertutup, yaitu hubungan antara fragmen butiran yang relatif
seragam, sehingga masa dasar tidak terlihat.

Gambar 2. Klasifikasi ukuran butir (Wentworth, 1922)

Struktur pada sedimen silisiklastik

Struktur sedimen menyangkut kenampakan massa batuan dalam skala yang


lebih luas. Struktur sedimen dapat terbentu pada, saat dan setelah
sedimentasi. Selain itu dapat pula terbentuk oleh proses kimia dan biologi.
Struktur dalam batupasir hampir mencakup semua jenis struktur sedimen
yang telah kita diskusikan. Struktur ini dapat bersifat mesoskopis sampai
makroskopis (raksasa) (pettijohn dan Potter 1964). Struktur mesoskopis telah
kita bahas sebelumnya yaitu seluruh struktur yang kita jumpai dilapangan
baik secara internal dalam beds maupun pada skala antar bed. Sedangkan
sturktur makroskpis dinsini menunjukan struktur tubuh formasi batupasir
secara menyeluruh dan bentuk fisik persebarannya terhadap formasi lain.
Seperti berbentuk tabulra, leniticular, membaji (Wedge), Shoestring dan lain
lian. Struktur mesoskopis yang banyak dijumpai di lapangan seperti pada
grafik di bawah ini.

Gambar 3. Struktur Sedimen

Gambar 4. Struktur Primer Sedimen

Klasifikasi Mineralogi
Klasifikasi penamaan batupasir berdasarkan komposisi mineralogi dan
material penyusunnya salah satunya toblerone plot dari pettijohn (1975) atau
dikenal juga dengan QFL plot (Quartz, Feldspar, Lithic fragment) dan lain
sebagainya. komponen utama adalah tiga material kerangka penyusun
batupasir berukuran pasir yaitu kuarsa, feldspar, dan fragmen batuan (Fragmen
litik). banyak klasifikasi yang diutarakan oleh sedimentologis dan kesemuanya
bervariasi modelnya tapi tetap saja tiga komponen tadi (QFL) merupakan
unsur paling utama dalam klasifikasi manapun, pada toblerone plot nya
pettijohn menambahkan unsur matrik agar klasifikasi lebih sistematis bukan
terpaku hanya pada kompenen butiran kasar penyusun. Klasifikasi tersebut
berupa pembagian nama-nama batupasir seperti quartz arenite, quartz wacke,
feldspathic wacke, greywacke, lithic arenite, lithic wacke, dan lain sebagainya.

Gambar 5. Klasifikasi penamaan batupasir (Pettijohn)

Plot QFL diatas, fragmen penyusun utama pasir dalam klasifikasi ada tiga
komponen yaitu kuarsa (Q), Feldspar (k-feldspar dan plagioklas yaitu F) dan
fragmen batuan (lithic fragment L), bidang lateral yang membentuk tobleron
adalah meningkatnya kandungan matrik dalam batuan, bila matrik kurang dari
15% maka batuan disebut batupasir arenite dan bila matrik barada pada
kisaran 15%-75% dinamakan batupasir wacke (greywacke) bila lebih dari
75% disebut mudstone (bukan pasir lagi udah gak ada yang kasar. selanjutnya
tiga komponen utama ini (QFL) menjadi panamaan bagian depan yang
dipadankan dengan sifat kandungan matriknya tadi (arenite dan wacke)
misalnya quartz arenite, quartz wacke, feldspahtic arente, dan sebagainya.
kuarsa menjadi dominasi dalam penamaan (menjadi quarzt arenite or wacke)
bila kandungannya terhadap komposisi batuan mencapai minimal 95%.
kemudian feldpar dikatakan akan menjadi batupasir feldspathic (arenite atau
wacke) bila kandungannya dalam fragmen mencapai minimal 25% dari total
fragmen penyusun, begitu juga dengan fragmen litik (fragmen batuan)

minimal harus 25% dari komposisi total fragmen penyusun. dan perbandingan
antara feldspar dan fragmen litik bila komposisinya melimpah lihat yang
dominan dengan batas perbandingan 50%.
istilah arkose sering digunakan geologis untuk penamaan lain dari feldspathic
arenite secara informal. istilah lainnya adalah greywacke merupakan istilah
informal untuk batupasir feldspathic wacke. umumnya graywacke ini
batupasir yang kaya matrik dengan komposisi apapun yang telah mengalami
deep burial (pembebanan dan tertimbun dalam/sudah mengalami diagenesis),
kaya klorit, berwarna abu abu gelap sampai hijau gelap, sangat kompak, dan
sangat padat. meskipun istilah ini masih menjadi kontroversi, karena lebih
baik menggunakan nama klasifikasi yang formal.

Gambar 6. Klasifikasi batupasir dari Dott (1964) yang dimodifikasi oleh Guilbert
(1982)

skema diatas hampir sama dengan klasifikasi pettijohn (1975) perbedaannya


pada kadar persentase matrik pengisinya saja, di pettijohn matrik sampai 15%
batupasirnya masih bisa dibilang arenite, tapi di Dott (1962 dalam Guilbert
1982) batupasir dikatakan arenite jika matriknya kurang dari 5%. untuk
komposisi komponen QFL nya, kuarsa minimal 90% artinya yang lain

(Feldspar dan Litik) minimal 10% untuk memenangkan nama feldspathic atau
litik di depan.

Gambar 7. Klasifikasi Dott untuk sandstone bentuk lain dalam Raymon, 2002

Gambar 8. Klasifikasi Folk

pada klasifikasi folk dibedakan menjadi dua kelompok nama arkose dan
arenit, dan quartzarenite. kelemahannya matriks diabaikan pada klasifikasi
folk, tapi bukan berarti kadar matriks diabaikan dalam penjelasannya. kadar
matrik digunakan untuk mengetahui kadar kematangan (maturitas) dari
batupasir. Pada klasifikasi Folk ini semua yang berhubungan dengan feldspar
(kaya feldspar) maka batuannya akan disebut arkose. sedangkan untuk rock
fragmen (pengganti lithic fragment), akan jadi arenite dan turunannya. kadar
persentase kuarsa yang cukup tinggi bila mencapai 75% dan kandungan
fragmen lain (feldspar dan rock fragment) menurun maka batuannya diberi
nama jadi sub, subarkose dan sublitharenite. untuk kadar kuarsa >95%
dinamakan quartz arenite. Kemudian pemlotan dilakukan fokus pada tiga
komponen tersebut jadi komponen lain diabaikan, hingga jumlah ketiganya
100% untuk diplot pada diagram. Sementara fragmen lain yang tidak dapat
diplot dalam diagram (fosil, mineral berat) hanya dijadikan paramter
pembanding untuk formasi batuan lain.

Gambar 8. Klasifikasi Folk (1974) dan Mc Bride (1963)

tingkat kematangan (maturitas) batuan diukur berdasarkan parameter


kandungan matriknya bila matrik lebih dari 5% dengan tekstur terpilah buruk
dan menyudut maka batuan tidak matang (immature), kemudian submature
bila clay <5% dan butiran menyudut tanggung-membundar tanggung dan
terpilah buruk, batuan dikatakan mature (matang) bila butiran bersortasi baik
dan butiran tidak menyudut dengan sedikit clay, supermature bila butiran
membundar bersortasi baik dan tidak ada clay sama sekali.

REFERENSI
https://basdargeophysics.files.wordpress.com/2012/04/klasifikasi-batupasir.jpg
(diakses pada 24 mei 2015, pukul 17:25 WIB)
https://thekoist.wordpress.com/2012/04/26/tetek-bengek-2-komposisi-teksturstruktur-dan-klasifikasi-batuan-sedimen-batupasir/ (diakses pada 24 mei
2015, pukul 18:32 WIB)