Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam praktek sehari-hari anxietas atau kecemasan sering dikenal
dengan

istilah

perasaan

c e m a s , perasaan bingung, was-was, bimbang dan

sebagainya, dimana istilah tersebut lebih merujuk pada kondisi normal. Sedangkan gangguan
anxietas merujuk pada kondisi patologik. Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang
terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat sebagai sindroma pada neurosis cemas dan
dapat juga sebagai kondisi normal. Anxietas normal sebenarnya sesuatu halyang sehat,
karena merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya
dapat mempertahankan diri dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang
pelajar y a n g a k a n m e n g h a d a p i u j i a n , m e r a s a c e m a s , m a k a i a a k a n
b e l a j a r s e c a r a g i a t s u p a y a kecemasannya dapat berkurang. Sensasi anxietas /
cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai
oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh
gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya.
Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervariasi, pada setiap
orang tidak sama. Gangguan kecemasan merupakan salah satu penyakit yang paling tersering
di dalam ilmu kejiwaan. Banyak pasien dengan gangguan kecemasan ini mengalami
gejala fisik dan biasanya mereka akan segera mencari dokter untuk mendapatkan
pertolongan. Disamping dari begitu banyaknya prevalensi kejadian gangguan
kecemasan ini, banyak yang tidak mengetahui bahwa mereka mempunyai gangguan
kecemasan. D a l a m p r a k t e k s e h a r i - h a r i a n x i e t a s s e r i n g d i k e n a l d e n g a n
i s t i l a h p e r a s a a n c e m a s , perasaan bingung, was-was, bimbang dan sebagainya, dimana
istilah tersebut lebih merujuk pada kondisi normal. Sedangkan gangguan anxietas merujuk
pada kondisi patologik. Anxietas sendiri mempunyai rentang yang luas dan normal
sampai level yang moderat misalnya pertandingan sepak bola, ujian, wawancara
untuk masuk kerja mempunyai tingkat anxietas yang berbeda.

Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik,
dapat sebagai s i n d r o m a p a d a n e u r o s i s c e m a s d a n d a p a t j u g a s e b a g a i
k o n d i s i n o r m a l . An x i e t a s n o r m a l sebenarnya sesuatu hal yang sehat, karena
merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dantubuh manusia supaya dapat
mempertahankan diri dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, m i s a l n y a
s e o r a n g p e l a j a r ya n g a k a n m e n g h a d a p i u j i a n , m e r a s a c e m a s , m a k a i a
akan

b e l a j a r secara giat supaya

kecemasannya

dapat berkurang. Istilah

kecemasan dalam psikiatri muncul untuk merujuk suatu respon mental dan fisik
terhadap situasi yang menakutkan dan mengancam. S e c a r a
merupakan

respon

fisiologis

ketimbang

respon

mendasar

patologis

lebih

terhadap

ancaman. Sehingga orang cemas tidaklah harus abnormal dalam perilaku


m e r e k a , b a h k a n kecemasan merupakan respons yang sangat diperlukan. Ia
berperan untuk meyiapkan orang untuk menghadapi ancaman (baik fisik maupun
psikologik). Perasaan cemas atau sedih yang berlangsung sesaat adalah normal dan
hampir semua orang pernah mengalaminya. Cemas pada umumnya terjadi sebagai reaksi
sementara terhadap stress dalam kehidupan sehari-hari. Bila cemas menjadi begitu
besar atau

sering

seperti

yang

disebabkan oleh tekanan

ekonomi

yang

berkepanjangan, penyakit kronik dan serius atau permasalahan keluarga maka


akan berlangsung lama; kecemasan yang berkepanjangan sering
menjadi patologis. Ia menghasilkan serombongan gejala-gejala
hiperaktivitas

otonom

yang

mengenai

sistem

muskuloskeletal,

kardiovaskuler, gastrointestinal dan bahkan genitourinarius. Respon kecemasan yang


berkepanjangan

ini

sering

diberi

istilah

gangguan

kecemasan

dan

ini

merupakan penyakit. Dari aspek klinik kecemasan dapat dijumpai pada


o r a n g ya n g menderita stress normal; pada orang yang menderita sakit fisik
berat, lama dan kronik; padaorang dengan gangguan psikiatri berat (skizofrenia,
gangguan bipoler dan depresi); dan pada segolongan penyakit yang berdiri sendiri yang
dinamakan gangguan kecemasan. Anxietas dapat bersifat akut atau kronik. Pada
anxietas akut serangan datang mendadak dan cepat menghilang. Anxietas kronik
biasanya berlalu untuk jangka waktu lama walaupun tidak seintensif anxietas akut,
pengalaman penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya dirasakan cukup gawat
untuk mempengaruhi prestasi kerjanya. Bila dilihat dan segi jumlah, maka orang
yang menderita anxietas kronik jauh lebih banyak dari pada anxietas akut.

1.2 EPIDEMIOLOGI
S u r v e i t e r k i n i d i Am e r i k a ( 1 9 9 6 ) m e l a p o r k a n b a h w a 1 5 - 3 3 %
p a s i e n y a n g d a t a n g berobat ke dokter non psikiater merupakan pasien dengan gangguan
mental. Dari jumlah tersebut minimal sepertiganya menderita gangguan kecemasan. Di
Indonesia menunjukkan bahwa di puskesmas jumlah gangguan kesehatan jiwa
yang sering muncul sebagai gangguan fisik adalah 28,73% untuk dewasa dan 34,39%
untuk anak.
Gangguan kecemasan mengenai 19 juta Amerika dewasa.
K e b a n y a k a n g a n g g u a n kecemasan dimulai ketika masa kanak-kanak, remaja
dan dewasa muda. Gangguan kecemasan ini banyak terjadi pada wanita dari pada lakilaki dan kejadian ini terjadi sama banyak pada orang berkulit putih, African-American, dan
Hispanics.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekawatiran yang timbul karena
dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak
diketahui dan berasal dari dalam (DepKes RI, 1990).
Kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak
tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui
atau dikenal (Stuart and Sundeens, 1998).
Kecemasan adalah suatu keadaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan yang disertai
dengan tanda somatik yang menyatakan terjadinya hiperaktifitas sistem syaraf otonom.
Kecemasan adalah gejala yang tidak spesifik yang sering ditemukan dan sering kali
merupakan suatu emosi yang normal (Kusuma W, 1997).
Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal,
samar-samar atau konfliktual (Kaplan, Sadock, 1997).
Definisi lain gangguan cemas adalah Kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan
kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap
berbagai kehidupan sehari-hari, yang berlangsung sekurangnya selama 6 bulan.

2.2 EPIDEMIOLOGI

Jenis kelamin wanita 2-3kali lebih sering terkena dari pada laki-laki. Walaupun kurangnya
diagnosis gangguan panik pada laki-laki mungkin berperan dalam distribusi yang tidak sama
tersebut. Perbedaan antara kelompok Hispanik, kulit putih non-Hispanik dan kulit hitam
adalah sangat kecil.
Faktor sosial satu-satunya yang dikenali berperan dalam perkembangan gangguan panik
adalah riwayat perceraian atau perpisahan yang belum lama. Gangguan paling sering
4

berkembang pada dewasa muda, usia rata-rata timbulnya adalah kira-kira 25 tahun, tetapi
baik gangguan panik maupun agorafobia dapat berkembang pada setiap usia. Sebagai
contohnya. gangguan panik telah dilaporkan terjadi pada anak-anak dan remaja.dan
kemungkinan kurang diagnosis pada mereka.
Survei terkini di Amerika (1996) melaporkan bahwa 15 - 33% pasien yang datang berobat ke
dokter non psikiater merupakan pasien dengan gangguan mental. Dari jumlah tersebut
minimal sepertiganya menderita gangguan kecemasan. Di Indonesia penelitian yang
dilakukan diPuskesmas menunjukkan bahwa di puskesmas jumlah gangguan kesehatan jiwa
yang sering muncul sebagai gangguan fisik adalah 28,73% untuk dewasa dan 34,39% untuk
anak.

2.3 ETIOLOGI

Penyebab pasti gangguan kecemasan tidak diketahui, banyak gangguan ini disebabkanoleh
kombinasi faktor, termasuk perubahan di otak dan stres lingkungan.
Kecemasan merupakan suatu respon terhadap situasi yang penuh dengan tekanan. Stres dapat
didefinisikan sebagai suatu persepsi ancaman terhadap suatu harapan yang mencetuskan
cemas. Hasilnya adalah bekerja untuk melegakan tingkah laku (Rawlins, at al, 1993). Stress
dapat berbentuk psikologis, sosial atau fisik. Beberapa teori memberikan kontribusi terhadap
kemungkinan faktor etiologi dalam pengembangan kecemasan. Teori-teori tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Teori Psikodinamik

Freud (1993) mengungkapkan bahwa kecemasan merupakan hasil dari konflik psikis yang
tidak disadari. Kecemasan menjadi tanda terhadap ego untuk mengambil aksi penurunan
cemas. Ketika mekanisme diri berhasil, kecemasan menurun dan rasa aman datang lagi.
Namun bila konflik terus berkepanjangan, maka kecemasan ada pada tingkat tinggi.
Mekanisme pertahanan diri dialami sebagai simptom, seperti phobia, regresi dan tingkah laku
ritualistik. Konsep psikodinamik menurut Freud ini juga menerangkan bahwa kecemasan
timbul pertama dalam hidup manusia saat lahir dan merasakan lapar yang pertama kali. Saat
5

itu dalam kondisi masih lemah, sehingga belum mampu memberikan respon terhadap
kedinginan dan kelaparan, maka lahirlah kecemasan pertama. Kecemasan berikutnya muncul
apabila ada suatu keinginan dari Id untuk menuntut pelepasan dari ego, tetapi tidak mendapat
restu dari super ego, maka terjadilah konflik dalam ego, antara keinginan Id yang ingin
pelepasan dan sangsi dari super ego lahirlah kecemasan yang kedua. Konflik-konflik tersebut
ditekan dalam alam bawah sadar, dengan potensi yang tetap tak terpengaruh oleh waktu,
sering tidak realistik dan dibesar-besarkan. Tekanan ini akan muncul ke permukaan melalui
tiga peristiwa, yaitu : sensor super ego menurun, desakan Id meningkat dan adanya stress
psikososial, maka lahirlah kecemasan-kecemasan berikutnya (Prawirohusodo, 1988).
Faktor pencetus yang sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan
faktor-faktor yang menahun seperti amarah yang direpresi atau impuls untuk
melampiaskan hal yang di rasakan.
Biasanya urut-urutan kejadian sebagai berikut : Ketakutan ( kecemasan akut )
represi dankonflik ( tak sadar ) kecemasan menahun stres pencetus
penurunan daya tahan danmekanisme untuk mengatasinya nerosa cemas.

b. Teori Perilaku

Menurut teori perilaku, Kecemasan berasal dari suatu respon terhadap stimulus khusus
(fakta), waktu cukup lama, seseorang mengembangkan respon kondisi untuk stimulus yang
penting. Kecemasan tersebut merupakan hasil frustasi, sehingga akan mengganggu
kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang di inginkan.

c. Teori Interpersonal

Menjelaskan bahwa kecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan antar individu,
sehingga menyebabkan individu bersangkutan merasa tidak berharga.

d Teori Keluarga
Menjelaskan bahwa kecemasan dapat terjadi dan timbul secara nyata akibat adanya konflik
dalam keluarga, dapatdi wariskan dari satu atau kedua orang tuanya, seperti warna rambut
atau mata. Selain itu, faktor lingkungan tertentu seperti trauma atau peristiwa penting dapat
memicu gangguan kecemasan pada orang yang memiliki kerentanan diwariskan kepada
mengembangkan kekacauan.

e. Teori Biologik
Beberapa kasus kecemasan (5 - 42%), merupakan suatu perhatian terhadap proses fisiologis
(Hall, 1980). Kecemasan ini dapat disebabkan oleh penyakit fisik atau keabnormalan, tidak
oleh konflik emosional. Kecemasan ini termasuk kecemasan sekunder (Rockwell cit stuart &
sundeens, 1998).
Penelitian tentang dasar biologis untuk gangguan panik telah menghasilkan berbagai temuan;
satu interpretasi adalah bahwa gejala gangguan panik dapat disebabkan oleh berbagai
kelainan biologis di dalam struktur otak dan fungsi otak. penelitian
t e r s e b u t d a n p e n e l i t i a n lainnya telah menghasilkan hipotesis yang melibatkan
disregulasi system saraf perifer dan pusat di dalam patofisiologi gangguan panik. Sistem saraf
otonomik pada beberapa pasien gangguan panik telah dilaporkan menunjukkan peningkatan
tonus simpatik, beradaptasi secara lambat terhadap stimuli yang berulang, dan berespon
secara berlebihan terhadap stimuli yang sedang.

Gejala Penyerta

Gejala depresif seringkali ditemukan pada serangan panik dan agoraphobia, dan
pada beberapa pasien suatu gangguan depresif ditemukan bersama-sama dengan
gangguan panik. Penelitian telah menemukan bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada
orang dengan gangguan panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan
mental.

Faktor Predisposisi Kecemasan

Setiap perubahan dalam kehidupan atau peristiwa kehidupan yang dapat menimbulkan
keadaan stres disebut stresor. Stres yang dialami seseorang dapat menimbulkan kecemasan,
atau kecemasan merupakan manifestasi langsung dari stres kehidupan dan sangat erat
kaitannya dengan pola hidup (Wibisono, 1990).
Berbagai faktor predisposisi yang dapat menimbulkan kecemasan (Roan, 1989) yaitu
faktor genetik, faktor organik dan faktor psikologi. Pada pasien yang akan menjalani operasi,
faktor predisposisi kecemasan yang sangat berpengaruh adalah faktor psikologis, terutama
ketidak pastian tentang prosedur dan operasi yang akan dijalani.

2.4 Gejala klinis

Gejala utamanya adalah kecemasan, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonom, dan


kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik sering dimanifestasikan dengan gemetar, gelisah,
dan nyeri kepala. Hiperaktivitas dimanifestasikan oleh sesak napas, keringat berlebihan,
palpitasi, dan gejala gastrointestinal. Gejala lain adalah mudah tersinggung dan dikejutkan.
Pasien seringkali datang ke dokter umum atau penyakit dalam dengan keluhan somatik yang
spesifik.
Berdasarkan gejala utama yang muncul tersebut maka penderita yang mengalami
kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang khas dan terbagi dalam beberapa fase,
yaitu:
a. Fase 1

Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh mempersiapkan diri untuk
fight (berjuang), atau flight (lari secepat-cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak
sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan nor adrenalin.
Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa tegang di otot dan
kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam persiapannya untuk
berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri
8

dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok agonis dan
antagonis akan menimbulkan tremor dan gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jarijari tangan (Wilkie, 1985). Pada fase ini kecemasan merupakan mekanisme peningkatan dari
sistem syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah
informasi yang ada secara benar (Asdie, 1988).

b. Fase 2

Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah, ketegangan otot,
gangguan tidur dan keluhan perut, penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan
tidak ada motifasi diri (Wilkie, 1985).
Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah menangis tanpa sebab, yang beberapa saat
kemudian menjadi tertawa. Mudah menangis yang berkaitan dengan stres mudah diketahui.
Akan tetapi kadang-kadang dari cara tertawa yang agak keras dapat menunjukkan tanda
adanya gangguan kecemasan fase dua (Asdie, 1988).
Kehilangan motivasi diri bisa terlihat pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan
barang ke tanah, kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat barang
yang jatuh tanpa berbuat sesuatu (Asdie, 1988).

c. Fase 3

Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan stresor tetap saja
berlanjut, penderita akan jatuh kedalam kecemasan fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala
yang terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres, gejala
kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya
tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres.
Pada fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti : intoleransi dengan rangsang sensoris,
kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang sebelumnya telah mampu ia tolerir,

gangguan reaksi terhadap sesuatu yang sepintas terlihat sebagai gangguan kepribadian
(Asdie, 1988).

Klasifikasi Tingkat Kecemasan


Ada empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat dan panik (Townsend,

1996).
1. Kecemasan ringan;
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan
menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan
kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang
persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan
tingkah laku sesuai situasi.
2. Kecemasan sedang;
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan
mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif,
namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini
yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat,
ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi
menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan konsentrasi
menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang tidak menambah ansietas,
mudah tersinggung, tidak sabar,mudah lupa, marah dan menangis.
3. Kecemasan berat;
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan kecemasan berat
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat
berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah
mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare,
palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada
dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak
berdaya, bingung, disorientasi.
4. Panik;
Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami
kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun
10

dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah
bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat
berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan
delusi.
Respon Fisiologis terhadap Kecemasan
1. Kardio vaskuler;
Peningkatan tekanan darah, palpitasi, jantung berdebar, denyut nadi meningkat,
tekanan nadi menurun, syock dan lain-lain.
2. Respirasi;
napas cepat dan dangkal, rasa tertekan pada dada, rasa tercekik.
3. Kulit:
perasaan panas atau dingin pada kulit, muka pucat, berkeringat seluruh tubuh, rasa
terbakar pada muka, telapak tangan berkeringat, gatal-gatal.
4. Gastro intestinal;
Anoreksia, rasa tidak nyaman pada perut, rasa terbakar di epigastrium, nausea, diare.
5. Neuromuskuler;
Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, kejang, ,
wajah tegang, gerakan lambat.
Respon Psikologis terhadap Kecemasan
1. Perilaku;
Gelisah, tremor, gugup, bicara cepat dan tidak ada koordinasi, menarik diri,
menghindar.
2. Kognitif;
Gangguan perhatian, konsentrasi hilang, mudah lupa, salah tafsir, bloking, bingung,
lapangan persepsi menurun, kesadaran diri yang berlebihan, kawatir yang berlebihan,
obyektifitas menurun, takut kecelakaan, takut mati dan lain-lain.
3. Afektif;
Tidak sabar, tegang, neurosis, tremor, gugup yang luar biasa, sangat gelisah dan lainlain.

2.5 Kriteria diagnosis


Kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV adalah :
1. Kecemasan dan kekhawatiran berlebihan (harapan yang mengkhawatirkan), terjadi
lebih banyak dibandingkan tidak selama paling kurang 6 bulan, tentang sejumlah
peristiwa atau aktivitas (seperti pekerjaan atau aktivitas sekolah)
2. Orang kesulitan untuk mengendalikan kekhawatiran
11

3. Kecemasan dan kekhawatiran adalah dihubungkan dengan tiga (atau lebih) dari enam
gejala berikut (dengan paling kurang beberapa gejala terjadi lebih banyak

a.
b.
c.
d.
e.
f.

dibandingkan tidak selama 6 bulan terakhir).


Catatan : hanya 1 gejala yang diperlukan pada anak-anak.
gelisah atau perasaan tegang tegang atau cemas
merasa mudah lelah
sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
iritabilitas
ketegangan otot
gangguan tidur ( kesulitan untuk mulai atau lelap tidur atau yang gelisah atau tidak

memuaskan)
4. Fokus kecemasan dan kekhawatiran adalah tidak dibatasi pada gambaran utama
gangguan axis 1, misalnya; kecemasan atau ketakutan adalah suatu serangnan panik
(seperti pada gangguan panik), merasa malu didepan umum (seperti pada fobia
sosial), terkontaminasi (seperti pada gangguan obsesif-kompulsif), merasa jauh dari
rumah atau kerabat dekat ( seperti pada gangguan cemas perpisahan), pertambahan
berat badan (seperti pada gangguan anoreksia nervosa), menderita berbagai keluhan
fisik (seperti pada gangguan somatisasi) atau menderita penyakit serius (seperti pada
hipokondriasis) serta kecemasan atau kekhawatiran tidak terjadi secara eksklusif
selama gangguan stres pasca trauma
5. Kecemasan, kekhawatiran atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
6. Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat (misal:
penyalahgunaan zat, pengobatan) dan tidak terjafi secara eksklusif selama suatu
gangguan mood, gangguan psikotik atau gangguan perkembangan pervasif.

2.6 Terapi
Pengobatan yang efektif adalah kombinasi psikoterapi, farmakoterapi, dan pendekatan
suportif.
a. Psikoterapi
1. Terapi kognitif perilaku:
Pendekatan kognitif secara langsung menjawab distorsi kognitif pasien dan
pendekatan perilaku menjawab keluhan somatik secara langsung.
2. Terapi suportif:
Terapi yang menawarkanketentraman dan kenyamanan bagi pasien.
3. Terapi berorientasi tilikan:

12

memusatkan untuk mengungkapkan konflik bawah sadar dan mengenali


kekuatan ego pasien.

Terapi kognitif-perilaku yang efektif bagi banyak orang, membantu mereka untuk
mengidentifikasi, memahami, dan memodifikasi pemikiran yang salah dan pola perilaku. Hal
ini memungkinkan orang dengan gangguan cemas belajar untuk mengendalikan khawatir
mereka. Beberapa orang dengan gangguan cemas juga minum obat.

b. Konseling dan medikasi diperlukan diantaranya:


1. informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik dan
mental.
2. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stresmerupakan pertolongan
yang paling efektif.
3. Mengenali, menghadapi dan menantangkekhawatiran yang berlebihan dapat
mengurangi gejala anxietas.
4. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang
teratur sering menolong.

Medikasi m e r u p a k a n t e r a p i s e k u n d e r, t a p i d a p a t d i g u n a k a n j i k a
d e n g a n k o n s e l i n g g e j a l a m e n e t a p . Konsultasi spesialistik bila anxietas
berat dan berlangsung lebih dan 3 bulan.

Untuk mengatasinya biasanya diberikan obat anti-cemas (misalnya benzodiazepin);


tetapi karena pemberian jangka panjang bisa menyebabkan ketergantungan fisik,
maka dosisnya harus dikurangi secara perlahan, tidak dihentikan secara tiba-tiba.
Buspiron merupakan obat lainnya yang juga efektif untuk mengatasi kecemasan
menyeluruh. Pemakaian obat ini tampaknya tidak menyebabkan ketergantungan
fisik. Tetapi efeknya baru tampak setelah 2 minggu atau lebih, sedangkan
efek benzodiazepin akan tampak beberapa menit setelah pemberian obat. Beta
bloker dapat membantu mengobati gejala fisik, antidepresan bila ada depresi.

13

Terapi perilaku biasanya tidak efektif,karena keadaan yang memicu terjadinya

kecemasan tidak jelas. Kadang dilakukan relaksasi dan teknik biofeed-back.


Penyakit kecemasan menyeluruh bisa berhubungan dengan pertentangan psikis.
Pertentangan ini seringkali berhubungan dengan rasa tidak aman dan sikap
kritis yang merusak diri sendiri. Pada keadaan ini dilakukan psikoterapi

untuk membantu memahami dan menyelesaikan pertentangan psikis.


Gangguan cemas menyeluruh adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan
dan dihayati disertai gejala somatik yang menyebabkan gangguan bermakna dan
fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien

2.7 Prognosis
Gangguan cemas menyeluruh adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati
disertai gejala somatik yang menyebabkan gangguan bermakna dan fungsi sosial atau
pekerjaanatau penderitaan yang jelas bagi pasien sehingga gangguan ini bersifat kronis residif
dan prognosisnya sukar diramalkan.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. American Psychiatric Association, Diagnostic Creteria, DSM -IV - TR, 2005 : 209
-223
2. Departemen Kesehatan R.l. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
diIndonesia III, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik 1993: 171 -195.
3. Anxiety
Disorder.
Diunduh
dari
: http://www.webmd.com/anxietypanic/guide/mental-health-anxiety-disorders?page=2
4. Departemen Kesehatan R.l. Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat , Direktorat
JenderalBina Kesehatan Masyarakat: Gangguan Anxietas.
5. Sadock BJ, Sadock VA: Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry 10 th.ed.
LippincottWilliams & Wilkins, 2007:579- 633.
6. Setyonegoro KR, IskandarY : Anxietas. Yayasan Drama Usada, Yakarta, 1980:2-4.
7. Stahl SM: Essential Psychopharmacology Neuroscientific Basis and
PracticalApplications 2nd ed Cambridge University Press . 2002 : 300

15