Anda di halaman 1dari 14

PROGRAM MANAJEMEN LAKTASI

disusun oleh
Bagian umum dan SDM

RUMAH SAKIT BERSALIN DUREN TIGA


Jl.Duren Tiga Raya No.5, Pancoran 12780
JAKARTA SELATAN

PROGRAM KLINIK LAKTASI


RS BERSALIN DUREN TIGA

I. PENDAHULUAN
Menyusui memang proses alami, tetapi banyak kesulitan yang ditemui
seorang ibu dalam pelaksanaannya, entah karena puting susu ibu lecet,
payudara bengkak, ASI tak mau keluar dan sebagainya. Banyak juga alasan
yang dikemukakan oleh ibu-ibu yang tidak menyusui bayinya antara lain ibu
tidak memproduksi cukup ASI atau bayinya tidak mau menghisap.
Sesungguhnya hal ini tidak disebabkan kerena ibu tidak memproduksi ASI
yang cukup, melainkan karena ibu kurang percaya diri bahwa Asi-nya cukup
untuk bayinya. Disamping itu cara-cara menyusui yang tidak baik dan tidak
benar dapat menimbulkan gangguan pada putting susu ibu.
Kurangnya pengertian dan pengetahuan ibu tentang keunggulan ASI dan
manfaat menyusui menyebabkan ibu-ibu mudah terpengaruh dan beralih
kepada
pemberian
susu
formula
atau
yang
lainnya.
Klinik Laktasi mencoba membantu menangani kasus ibu dan bayi dalam
soal menyusui. Klinik Laktasi adalah suatu tempat di mana para ibu dapat
melakukan konsultasi mengenai berbagai masalah dalam menyusui bayinya.
II. LATAR BELAKANG Untuk menanggapi permasalahan tersebut RS
Bersalin Duren Tiga berusaha untuk meningkatkan pelayanannya secara
optimal dengan memberikan pelayanan kepada para ibu untuk melakukan
konsultasi mengenai berbagai masalah dalam menyusui bayinya, sehingga
dapat memberikan dukungan kepada para ibu untuk lebih berhasil dalam
menyusui.

III. TUJUAN
2.1 Tujuan Umum :
Agar ibu-ibu yang berkunjung ke kilinik laktasi memahami tentang
proses menyusui yang benar sehingga anak sehat, ibu sehat, ayah
senang, keluarga bahagia.
2.2 Tujuan Khusus :
2.2.1 Ibu memahami tentang keunggulan ASI
2.2.2 Ibu memahami tentang cara sukses menyusui
2.2.3 Ibu memahami cara menyimpan ASI
2.2.4 Ibu dapat mendemonstrasikan cara menyusui yang benar dengan
menggunakan alat peraga
2.2.5 Ibu memahami cara pencegahan dan penanganan bila ada
permasalahan dalam pemberian ASI
2.2.6 Meningkatkan mutu pelayanan dan menambah pengetahuan ibu
tentang asi

III. SASARAN
Peningkatan pelayanan tentang pentingnya asi melalui klinik
laktasi.Sehingga keluhan para ibu saat tentang asi berkurang. Berdas
rkan jumlah persalinan dari bulan januari sampai oktober .....org.Dan
yang datang...org.Dan diharapkan pencapaian sampai akhir tahun
berjumlah....org.
V. KEGIATAN POKOK
Membantu menangani kersulitan ibu dalam soal menyusui dengan cara
memberikan konseling sesuai dengan kasus yang dialami.
Mendemonstrasikan cara memerah asi dan tehnik-tehnik dalam manajeman
lakatasi.
VI. RINCIAN KEGIATAN

I.

Preinduksi (Tahapan ini untuk membangun relasi dengan pasien)


Persiapannya :
IV. KEGIATAN
Waktu: Hari Kamis, Pukul:11.00 sampai selesai
Tempat: Poliklinik anak
V. METODA
1 Demonstrasi
2 Diskusi dan tanya jawab
VI. PENANGGUNGJAWAB PROGRAM
Konselor ASI
VII. ANGGARAN BIAYA
Boneka dan Alat peraga payudara = 2.500.000
Biaya pendaftaran
=
35.000
Spuit 10 cc
=
5.000
Aqua
=
500 +
2.540 500
VIII. EVALUASI
Evaluasi dilakukan dalam bentuk Tanya jawab atau mendemonstrasikan
kembali saat proses berlangsung dan setelahnya, mengenai berbagai
permasalahan yang dialami oleh ibu menyusui serta memahami cara
menyusui yang benar.
IX. MATERI BAHASAN
9.1 Keunggulan ASI
Ada beberapa keunggulan ASI yaitu:
9.1.1 ASI mengandung zat gizi paling sempurna untuk pertumbuhan
bayi dan perkembangan kecerdasannya.
9.1.2 ASI mengandung kalori 65 kcal/100ml yang memberikan cukup
energi bagi pertumbuhan bayi
9.1.3 Sebanyak 90 persen kandungan lemak ASI dapat diserap oleh
bayi.
9.1.4 ASI dapat menyebabkan pertumbuhan sel otak secara optimal,
terutama karena kandungan protein khusus, yaitu Taurin, selain
mengandung laktosa dan asam lemak ikatan panjang lebih
banyak dari susu sapi/kaleng.

9.1.5 Protein ASI adalah spesifik spesies sehingga jarang


menyebabkan alergi untuk manusia.
9.1.6 ASI memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi. Juga
akan merangsang pertumbuhan system kekebalan tubuh bayi.
9.1.7 Pemberian ASI dapat mempererat ikatan batin antara ibu dan
bayi. Ini akan menjadi dasar si kecil percaya pada orang lain, lalu
diri sendiri, dan akhirnya bayi berpotensi untuk mengasihi orang
lain.
9.1.8 ASI selalu tersedia, bersih, dan segar.
9.1.9 ASI jarang menyebabkan diare dan sembelit yang berbahaya.
9.1.10 ASI lebih ekonomis, hemat, sekaligus praktis
9.1.11 ASI dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
9.1.12 ASI dapat membantu program Keluarga Berencana.
9.2 Kiat menyusui
9.2.1 Menyusui disarankan dimulai satu jam setelah melahirkan.
Meskipun belum mengeluarkan air susu, namun sudah bisa
menghasilkan kolostrum yang berfungsi sebagai antibodi bagi
bayi.
9.2.2 Frekuensi menyusui bisa diberikan berdasarkan kebutuhan.
Namun, bayi yang baru lahir biasanya menyusu setiap dua jam
sekali.
9.2.3 Berhati-hati terhadap kemungkinan infeksi yang bisa terjadi pada
putting susu. Gejala infeksi biasanya diikuti dengan demam dan
rasa sakit. Bila hal itu terjadi, segera periksakan ke dokter.
9.2.4 Tingkatkan kualitas makanan yang dikonsumsi. Wanita menyusui
dituntut untuk melakukan diet seimbang agar kebutuhan nutrisi
bayi dapat terpenuhi dengan baik.
9.3 Cara menyimpan ASI perah
9.3.1.Mengeluarkan ASI sebaiknya jangan menggunakan peralatan
pompa manual yang banyak dijual di apotek dan toko-toko.
Umumnya, dokter tidak menyarankan menggunakan alat pompa
manual karena bisa merusak jaringan payudara, dan proses
sterilisasi peralatannya diragukan. Disarankan menggunakan
pompa listrik, atau sistem perah tiga jari yang bisa dipelajari di
klinik-klinik laktasi.
9.3.2.ASI yang telah diperah sebaiknya disimpan di dalam botol-botol
kecil yang sudah disterilkan, sehingga dapat digunakan sesuai
kebutuhan. ASI yang telah dipanaskan tidak bisa disimpan
kembali di dalam termos ataupun lemari pendingin.
9.3.3.Ketahanan ASI: Disimpan di ruang terbuka bisa bertahan enam
hingga delapan jam. Di termos yang berisi es bisa bertahan
sekitar 24 jam. Disimpan di tempat buah, lemari es, bisa
bertahan 2 kali 24 jam. Disimpan di freezer berpintu sama
dengan tempat buah, daya tahan ASI mencapai dua minggu.
Disimpan di freezer yang pintunya berbeda dengan tempat buah
atau sering disebut lemari es dua pintu, ketahanan ASI mencapai
tiga bulan.
9.3.4.Bila tidak sangat terpaksa, umumnya para dokter tidak
menyarankan penyimpanan ASI di freezer. Sebab ASI yang telah
disimpan di freezer akan kehilangan beberapa jenis antibodi
yang dibutuhkan bayi.

9.3.5.Jangan memanaskan ASI langsung di atas api. Gunakan air


panas yang mengalir untuk menghangatkan ASI sebelum
diberikan kepada bayi.
9.4 Masalah dalam Menyusui dan penanganannya
9.4.1 Masalah menyusui masa antenatal
Kurang/salah informasi puting susu terbenam atau puting susu
datar.
Penanganannya :
a. Segera setelah lahir lakukan skin to skin kontak dan biarkan
bayi menghisap sedini mungkin
b. Biarkan bayi mencari puting kemudian mengisapnya.
c.Apabila puting benar-benar tidak muncul, dapat ditarik dengan
pompa puting susu, atau yang paling sederhana dengan
sedotan spuit yang dipakai terbalik.
d. Jika tetap mengalami kesulitan, usahakan agar bayi tetap
disusui dengan sedikit penekanan pada areola mammae
dengan jari sehingga terbentuk dot ketika memasukkan puting
susu ke dalam mulut bayi.
9.4.2 Masalah menyusui pada masa pasca persalinan dini
Puting susu lecet
Penanganannya:
a. Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaaan luka
tidak begitu sakit
b. Olesi putting susu dengan ASI akhir, jangan memberikan
obat lain, seperti krim, salep dll
c. Puting susu yang sakit dapat didistirahatkan untuk
sementara waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan
sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam
d. Selama putting diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap
dikeluarkan dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan
alat pompa karena nyeri
e. Cuci payudara sekali saja sehari dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan dengan sabun.
Payudara bengkak
Penanganannya:
a. Kompres panas untuk mengurangi sakit

b. Ibu harus rileks


c.

Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah


payudara)

d. Pijat ringan pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan


kearah tengah)
e. Stimulasi payudara dan putting
f.

Selanjutnya kompres dingin pasca menyusui, untuk


mengurangi oedema, pakai BH yang sesuai, bila terlalu
sakit dapat diberikan obat analgetik.

Mastitis atau abses payudara


Penanganannya:
a. Kompres hangat
b. Rangsang oksitosin; dimulai pada payudara yang tidak
sakit, yaitu stimulasi puting, pijat leher-punggung, dll
c.

Pemberian Antibiotik

d. Bila perlu bias diberikan istirahat total dan obat untuk


penghilang rasa nyeri
e. Kalau sudah terjadi abses sebaiknya payudara yang sakit
tidak boleh disusukan karena mungkin memerlukan
tindakan bedah.

9.4.3 Masalah menyusui pada masa pasca persalinan lanjut


Sindroma ASI kurang
Penanganannya:
Cara penanganannya disesuaikan dengan penyebab,
terutama dicari pada 4 kelompok factor penyebab:
a. Faktor teknik menyusui, keadaan ini yang paling sering
dijumpai, a.l masalah frekuensi, perlekatan, penggunaan
dot/botol dll
b. Faktor psikologis
c.

Faktor fisik ibu, a.l KB, diuretic, hamil, merokok, kurang


gizi dll

d. Faktor kondisi bayi, a.l penyakit, abnormalitas dll

Ibu yang bekerja


Penanganannya:
a. Susuilah bayi sebelum ibu bekerja
b. ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum
berangkat bekerja
c.

Pengosongan payudara di tempat kerja, setiap 3-4 jam

d. ASI dapat disimpan dilemari pendingin dan dapat diberikan


pada bayi saat ibu bekerja, dengan cangkir
e. Pada saat dirumah, sesering mungkin bayi disusui, dan
ganti jadwal menyusuinya sehingga banyak menyusui di
malam hari
f.

Ketrampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal


menyusui sebaiknya telah mulai dipraktekkan sejak satu
bulan sebelum kembali bekerja

g. Minum dan makan makanan yang bergizi dan cukup selama


bekerja dan selama menyusui bayinya.

EVALUASI PROGRAM KLINIK LAKTASI


PERIODE JUNI-DESEMBER 2009

disusun oleh
Bagian Umum dan SDM

RUMAH SAKIT BERSALIN DUREN TIGA


Jl.Duren Tiga Raya No.5, Pancoran 12780
JAKARTA SELATAN

EVALUASI PROGRAM KLINIK LAKTASI


PERIODE JUNI-DESEMBER 2009

I. PENDAHULUAN
Klinik Laktasi mencoba membantu dalam menangani kasus ibu dan bayi dalam
soal menyusui, dengan harapan dalam setiap kegiatannya dapat memberikan
pelayanan kesehatan secara optimal, evaluasi dari program Klinik Laktasi juga
diharapkan dapat membantu menilai kinerja dari klinik laktasi serta menghindari
pengelolaan yang salah dalam ruang lingkupnya.
II. TUJUAN
2.1 Tujuan Umum
Untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program klinik laktasi serta
kegiatan-kegiatannya tercapai secara optimal.
2.2 Tujuan Khusus
2.2.1 Mengevaluasi seberapa jauh pemahaman ibu terhadap penanganan
masalahnya
2.2.2 Menyusun tindak lanjut dari evalusi yang dilakukan
2.2.3 Menyusun ulang bentuk kegiatan yang belum tercapai
III.Sasaran
3.1 Jumlah kunjungan ibu hamil di klinik laktasi rata-rata 3-4 orang /bulan
3.2 Jumlah kunjungan ibu nifas di klinik laktasi rata-rata 3-4 orang/bulan
IV. Kegiatan
Untuk kunjungan ibu hamil permasalahan yang sering ditangani di klinik
laktasi adalah konsultasi tentang produksi ASI dan persiapan menyusui,
sedangkan pada ibu nifas umumnya tentang permasalahan-permasalahan
yang timbul baik pada ibu/bayi.
V. Sarana dan prasarana
Tempat klinik laktasi masih menumpang di poliklinik anak sehingga kurang
bisa menarik pengunjung, karena ruangan bukan khusus disiapkan untuk
fasilitas klinik laktasi maka kegiatan kurang dapat dilakukan secara optimal,
hal ini ditandai dengan kurangnya gambar-2 yang mendukung promosi ASI.
Peralatan yang tersedia belum lengkap sehingga dalam penyajian kurang
bisa mengena ke permasalahan pasien.

VI. Penanggung jawab program


Pada bulan januari 2009 konsultasi dilakukan oleh bidan dengan pelatihan
manajemen laktasi, dengan berkembangnya ilmu tentang ASI eksklusif
mulai bulan Agustus 2009 di usulkan untuk mengikutsertakan 2 bidan
tersebut untuk mengikuti pelatihan konselor laktasi yaitu 2 orang ka.unit, dan
sudah diberangkatkan pada tanggal 10 Agustus 2009 sampai 14 Agustus
2009 yang selanjutnya menjadi konselor ASI di klinik laktasi.
VII. Kesimpulan
Melihat dari jumlah kunjungan klinik laktasi masih jauh dari harapan, hal ini
mungkin disebabkan kurangnya kesadaran ibu hamil dan ibu nifas tentang
pentingnya proses menyusui dan keunggulan-keunggulan ASI bagi bayi.
Kurangnya fasilitas peralatan yang mendukung program klinik laktasi sehingga
kegiatan tidak dapat dilakukan secara optimal.
VIII.Rekomendasi
1. Dukungan dari menejemen RS sangat dibutuhkan dalam keberhasilan klinik
laktasi dengan penyediaan tempat khusus klinik laktasi
2. Penambahan konselor laktasi sangat dibutuhkan untuk mendukung program
klinik laktasi
3. Promosi klinik laKtasi melalui praktek dokter anak, obgyn dan dalam
kegiatan senam hamil
4. Informasi tentang klinik laktasi pada formulir pesanan pulang
5. Pembuatan banner dan brosur tentang kegiatan klinik laktasi

Kabag Umum dan SDM

(Imansyah Rani)

EVALUASI PROGRAM KLINIK LAKTASI


PERIODE JANUARI-JUNI 2010

disusun oleh
Bagian Umum dan SDM

RUMAH SAKIT BERSALIN DUREN TIGA


Jl.Duren Tiga Raya No.5, Pancoran 12780
JAKARTA SELATAN

EVALUASI PROGRAM KLINIK LAKTASI


PERIODE JANUARI-JUNI 2010
I. PENDAHULUAN
Klinik Laktasi mencoba membantu dalam menangani kasus ibu dan bayi dalam
soal menyusui, dengan harapan dalam setiap kegiatannya dapat memberikan
pelayanan kesehatan secara optimal, evaluasi dari program Klinik Laktasi juga
diharapkan dapat membantu menilai kinerja dari klinik laktasi serta menghindari
pengelolaan yang salah dalam ruang lingkupnya.
II. TUJUAN
2.1 Tujuan Umum
Untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program klinik laktasi serta
kegiatan-kegiatannya tercapai secara optimal.
2.2 Tujuan Khusus
2.2.1 Mengevaluasi seberapa jauh pemahaman ibu terhadap penanganan
masalahnya
2.2.2 Menyusun tindak lanjut dari evalusi yang dilakukan
2.2.3 Menyusun ulang bentuk kegiatan yang belum tercapai
III. Sasaran
Jumlah kunjungan ibu hamil dan ibu nifas di klinik laktasi belum tampak ada
kenaikan dari tahun 2009, rata-rata kunjungan 4 pasien sebulan.
IV. Kegiatan
Untuk kunjungan ibu hamil permasalahan yang sering ditangani di klinik laktasi
adalah konsultasi tentang produksi ASI dan persiapan menyusui, sedangkan
pada ibu nifas umumnya tentang permasalahan-permasalahan yang timbul baik
pada ibu/bayi.
Pelaksanaan klinik laktasi hanya terjadual di hari Kamis atau on call sesuai
dengan kesempatan pasien

V. Sarana dan prasarana


Sarana klinik laktasi: sudah terbentuk ruangan tersendiri, tapi belum tersedia
peralatan di klinik laktasi sehingga kegiatan program belum bisa terlaksana
secara optimal.
VI. Penanggung jawab program
Tenaga konselor yang ada sekarang berjumlah 3 orang, bila klinik laktasi
pelaksanaannya aktif setiap hari, masih perlu penambahan untuk tenaga
konselor.
VII. Kesimpulan

Melihat dari jumlah kunjungan klinik laktasi masih jauh dari harapan, hal ini
mungkin disebabkan belum aktifnya ruang klinik laktasi yang baru serta
promosi yang kurang gencar hal ini terbukti dengan belum adanya brosur yang
dicetak hanya pemasangan banner, serta kurangnya fasilitas peralatan yang
mendukung program klinik laktasi sehingga kegiatan tidak dapat dilakukan
secara optimal.
VIII.Rekomendasi
1. Inventarisasi peralatan yan gdibutuhkan di klinik laktasi
2. Pengusulan untuk kelengkapan peralatan di klinik laktasi
3. Kerjasama dengan tenaga medis yang ahli di bidang laktasi untuk
mengembangkan klinik laktasi.
4. Pengusulan untuk penambahan jadwal klinik laktasi
5. Bila peralatan di klinik laktasi sudah lengkap dan siap, segera sosialisasikan
dan aktifkan.

Kabag Umum dan SDM

(Imansyah Rani)