Anda di halaman 1dari 23

9

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab 2 ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep penyakit
dan asuhan keperawatan meternitas pada pasien dengan post sectio caesarea atas
indikasi pre eklamsia berat.
2.1
2.1.1

Konsep Post Partum


Pengertian Post Partum
Post partum/masa nifas adalah masa sesudahnya persalinan terhitung saaat

selesai persalinansampai pulihnya kembali alat kandungan ke keadaan sebelum


hamil dan lamanya masa nifas kurang lebih 6 minggu. (Padila, 2014)
Masa nifas/ puerperium adalah masa yang di mulai setelah plasenta keluar
dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil).
Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6minggu (Sulistyawati, 2009).
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta,
serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti
sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha, 2009).
2.1.2

Tahapan Post Partum

1. Immediate PP : 24 jam pertama


2. Early PP : 1 minggu pertama
3. Laten PP : minggu 2 sampai minggu 6

2.1.3

Adaptasi Fisik
Menurut Padilah (2014) adaptasi fisik psot partum dapat di uraikan

sebagai berikut :
1. Sistem Kardiovaskuler
Selama kehamilan secara normal volume darah untuk mengakomodasi
penambahan aliran darah yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh darah

10

uterus. Penurunan dari esterogen mengakibatkan diuresid yang menyebabkan


volume plasma menurun secara cepat dalam kondisi normal. Keadaan ini
terjadi pad 24 sampai 48 jam pertama setelah kelahiran. Selama ini pasien
mengalami sering kencing. Penurunan progesteron membantu mengurangi
retensi cairan sehubungan dengan penambahan vaskularisasi jaringan selama
kehamilan.
a. Curah jantung meningkat
b. Tekanan darah menurun ringan, karenan penurunan tekanan intra pelvic
c. Nadi : bradikardi sampai hari 6-10
d. Stasis darah pada ekstremitas bawah- resiko tromboplebitis
e. Faktor pembekuan darah meningkat-resiko tromboemboli
2. Sistem urologi
a. Dieresis pada awal periode pasca partum
b. Penurunan sensasi kandung kemih
3. Sistem endokrin
Plasenta lahir- penurunan hormone esterogen dan progesterone, kadar
terendah dicapai pada kira-kira satu minggu pasca partum.
4. Sistem pencernaan
Gangguan defekasi : konstipasi karena masih ada efek progesterob,
penurunan tekanan otot abdomen, kurang cairan dan rasa takut nyeri pada luka
episiotomy atau rupture perineum.
5. Sistem integument
- Suhu meningkat sampai 38

derjat-

karena

kelelahan

dan

diaporesais/dieresis 24 jam pertama


- Hiperpigmentasi berkurang
6. Sistem musculoskeletal
- Dinding abdomen mereganag, tampak longgar dan lembek, diastasis otot
-

recti abdominis
Perubahan pusat berast saat hamil-hipermobilitas sendi. Stabilitas sendi
lengkap dapat tercapai pada 6-8 minggu pasca partum

7. Uterus

11

Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi
dan retraksi otot-ototnya. Perubahan status setelah melahirkan dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.

Involusi

TFU

Berat
Uterus

Diameter bekas
melekat plasenta

Keadaan
Cervix

Setelah
plasenta

Sepusat

1000 gr

12,5 cm

Lembut

Pertengahan
pusat simpisis

500 gr

Dapat dilalui
2 jari
Dapat
2 minggu
Tak teraba
350 gr
5 cm
dimasuki 1
jari
Hampir
Seperti hamil 2
6 minggu
50 gr
2,5 cm
kembali
minggu
normal
8 minggu
Normal
30 gr
0 cm
Normal
Table 2.1 Perubahan uterus post partum (Rustam Muchtar, 1998)
8. Involusi tempat plasenta
Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh
1 minggu

7,5 cm

darah besar yang menyumbat oleh trombus. Luka bekas implantasi plasenta
tidak meninggalkan parut karena dilepaskan dari dasarnya

dengan

pertumbuhan endometrium baru dibawah permukaan luka. Endometrium ini


tumbuh dari pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
9. Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh darah yang
besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah
yang banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam masa nifas. (Padila, 2014)
10. Perubahan pada cervix dan vagina
Beberapa hari stelah persalinan ostium eksternum dapat dilalui oleh 2
jari, pada akhir minggu pertama dapat dilalui oleh 1 jari saja. Karena
hiperplasi ini dank arena retraksi dari cervix, robekan servix jadi sembuh.
Vagina yang sangat direganang waktu persalinan, lambat laun mencapai
ukuran normal. Pada minggu ke 3 post partum ruggae mulai Nampak kembali.

12

Rasa sakit yang disebut after pains (meriang atau mules-mules)


disebabkan kontraksi biasanya berlangsung 3-4 hari pasca persalinan. Perlu
diberikan pengertian pada ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu
analgesic.
11. Lochia
Lochia adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina
dalam masa nifas. Lochia bersifat alkalis, jumlahnya lebih banyak dari darah
menstruasi. Lochia ini berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi tidak busuk.
Pengeluaran lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya
yaitu lochia rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua, verniks
kaseosa, rambut lanugo, sisa mekonium, sisa darah dan keluar mulai hari
pertama sampai hari ketiga.
Lochia sangiolenta berwarna putih bercampur merah, mulai hari ke
tiga sampai hari ke tujuh. Lochia serosa berwarna kekuningan dari hari ke
tujuh sampai hari keempat belas. Lochia alba berwarna putih setealah hari
keempat belas.
12. Dinding perut dan peritoneum
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama,
biasanya akan pulih dalam 6 minggu. Ligament facia dan diafragma pelvis
yang meregang pada waktu partus setelah bayi lahir berangsurberangsur
mengecil dan pulih kembali. Tidak jarang uterus jatuh ke belakang menjadi
retrofeksi karena ligamentum rotundum jadi kendor. Untuk memulihkan
kembali sebaiknya dengan latihan-latihan pasca persalinan.
13. Ginjal
Aktifitas ginjal bertambah pada masa nifas karena reduksi dari volume
darah dan ekskresi produk sampah dari autolysis. Puncak dari aktifitas ini
terjadi pada hari pertama post partum.
14. Oxytoxin

13

Oxytoxin disekresi oleh kelenjar hipofise posterior dan bereaksi pada


otot uterus dan jaringan payudara. Selama kala tiga persalinan aksi oxytoxin
menyebabkan pelepasan plasenta. Setelah itu oxytoxin beraksi untuk
kestabilan kontraksi uterus,memperkecil besar perlekatan plasenta dan
mencegah perdarahan. Pada wanita yang memilih untuk menyusui bayinya,
isapan bayi menstimulasi ekskresi oxytoxindimana keadaan ini membantu
kecepatan involusi uterus dan pengeluaran susu. Setelah placenta lahir,
sirkulasi HCG, estrogen, progesteron, dan hormon laktogen placenta menurun
cepat, keadaan ini menyebabkan perubahan fisiologis pada ibu nifas.
15. Prolaktin
Penurunan estrogen menyebabkan prolaktin yang disekresi oleh
glandula hipose anterior bereaksi pada alveolus payudara dan merangsang
produksi susu. Pada wanita yang menyusui kadar prolaktin terus tinggi dan
pengeluaran FSH di ovarium ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui kadar
prolaktin turun pada hari ke 14 sampai 21 post partum dan penurunan ini
mengakibatkan FSH disekresi kelenjar hipofise anterior untuk bereaksi pada
ovarium yang menyebabkan pengeluaran estrogen dan progenteron dalam
kadar normal, perkembangan normal folikel de graaf, ovulasi dan menstruasi.
(Padila, 2014)
16. Laktasi
Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu
ibu. Air susu ibu ini merupakan makanan pokok, makanan yang terbaik dan
bersifat alamiah bagi bayi yang disediakan oleh ibu yang baru saja melahirkan
bayi yang akan tersedia makanan bagi bayinya dan ibuny sendiri.
Selama kehamilan hormone esterogen dan progesterone merangsang
pertumbuhan kelenjar susu sedangkan progesterone merangsang pertumbuhan

14

saluran kelenjar, kedua hormone ini mengerem LTH. Setelah plasenta lahir
maka LTH dengan bebas dapat merangsang laktasi.
Lobus posterior hypofise mengeluarkan ocitocin yang merangsan
mengeluaran air susu. Pengeluara air susu adalah reflek yang ditimbulkan oleh
rangsangan penghisapan putting susu oleh bayi. Rangsang ini menuju ke
hypofise dan menghasilkan oxtocin yang menyebabkan buah dada
mengeluarkan air susunya.
Pada hari ke-3 post partum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri.
Ini menandai permulaan sekresi air susu, dan kalau aerola mamae dipijat,
keluarlah cairan putting dari putting. Air susu ibu kurang lebih mengandung
Protein 1-2%, lemak 3-5%, gula 6,5-8%, garam 0,1-0,2%.
Hal yang mempengaruhi susunan air susu adalah diit, gerak badan.
Banyaknya air susu sangat tergantung pada banyaknya cairan serta makanan
yang dikonsumsi ibu.
17. Tanda-tanda Vital
Perubahan tanda-tanda vital pada masa nifas meliputi:
Parameter
Tanda-tanda vital

Penemuan normal
Penemuan abnormal
Tekanan darah <140/90 Tekanan darah > 140/90
mmHg, mungkin bisa mmHg.
naik dari tingkat disaat
persalinan 1-3 hari post
partum.
Suhu > 38oC
Suhu tubuh <38 oC
Denyut nadi: > 100
Denyut nadi: 60-100 x/menit
x/menit
Table 2.2 Tanda-tanda vital pada masa nifas

2.1.4

Adaptasi Psikologis
Kelahiran seorang anak menyebabkan timbulnya suatu tantangan

mendasar terdahap struktur interaksi keluarga yang sudah terbentuk. Menjadi


orang tua menciptakan periode ketidakstabilan yang menuntut perilaku untuk
menjadi orang tua. Ada tiga fase penyesuaian ibu terhadap perannya sebagai orang
tua (Bobak, 2004) yaitu :

15

1. Fase dependen (Taking in)


Pada fase ini ibu memerlukan perlindungan dan perawatan selama 1-2 hari
pertama setelah melahirkan, ketergantungan ibu mungkin menonjol pada
waktu ini, ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang
lain, ibu memindahkan energy psikologisnya kepa anaknya.
2. Fase dependen mandiri (Taking hold)
Muncul kebutuhan untuk mendapatkan perawatan dan penerimaan dari orang
lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri, ia
berespon dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar dan
berlatih tentang cara perawatan bayinya secara langsung. Fase ini berlangsung
kira-kira 10 hari.
3. Fase interdependen (Letting go)
Merupakan fase yang penuh stress bagi orang tua. Ibu dan keluarganya maju
sebagai suatu sistem dengan para anggota saling berinteraksi satu sama lain.
Kesenangan dan kebutuhan sering terbagi dalam masa ini, pria dan wanita
harus menyelesaikan tugas dari perannya masing-masing dalam hal mengasuh
anak, mengatur rumah dan membina karir.

2.2

Konsep Sectio caesarea

2.2.1

Pengertian
Sectio caesarea adalah tindakan untuk melahirkan bayi melalui

pembedahan abdomen dan dinding uterus (Nugroho, 2011)


Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam
keadaan utuh serta berat janin diatas 500gram.(Mitayani, 2009).

16

Persalinan dengan seksio cesarea bertujuan untuk secepatnya mengangkat


sumber perdarahan dengan demikian memberikan kesempatan kepada uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahannya dan untuk menghindari
perlukaan serviks dan segmen-segmen uterus apabila dilakukan persalinan
pervaginam (Prawirohardjo, 2008).
2.2.2

Klasifikasi Sectio Caesarea


Menurut Reader (2011) menyatakan bahwa klasifikasi sectio caesarea

adalah sebagai berikut :


1)

Sectio caesarea klasik atau corporal : insisi memanjang pada segmen atas
uterus.

2)

Sectio caesarea transperitonealis profunda : a) insisi pada segmen bawah


rahim, teknik ini paling sering dilakukan. b) terdapat dua macam yaitu,
melintang (secara kerr) dan memanjang (secara kronig)

3)

Sectio caesarea extra peritnealis : rongga peritoneum tidak dibuka, dulu


dilakukan pada penderita dengan infeksi intra uterin yang berat.

4)

Sectio caesarea histerektomi : setelah sectio caesarea selesai kemudian di


kerjakan histerektomi dengan indikasi Antonia uteri, plasenta accrete, mioma
uteri, infeksi intra uterin yang berat.

2.2.3

Indikasi
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan

menyebabkan resiko pada ibu atau janin, dengan tindakan yang perlu
dipertimbangkan hal-hal yang perlu tindakan sectio caesarea atas beberapa
indikasi menurut Prawirihardjo (2007) sebagai berikut :
1. Faktor ibu

17

a. Panggul sempit absolute


Holmer mengambil batas terendah untuk melahirkan janin ialah CV = 8
cm, panggul dengan CV = 8 cm tidak dapat melahirkan janin secara
normal.
b. Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
c. Rupture uteri mengancam
d. Partus lama
e. Plasenta previa
f. CPD (Cefalo Pelvik Disproporsi)
Ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan panggul.
g. Keadaan umum lemah
h. Pre eklamsi dan hipertensi
i. Infeksi partum
2. Faktor janin
a. Kelainan letak
1) Letak lintang
2) Letak bokong
3) Letak defleksi (presentasi dahi dan muka)
4) Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil
5) Gemelli (bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu.

b. Gawat janin
Pada umumnya sectio caesarea tidak dilakukan pada
1) Janin mati.

18

2) Syok, anemia berat yang belum diatasi.


3) Kelainan congenital berat (monster)
4) Infeksi partum.
2.2.4 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001), antara lain :
1.

Nyeri akibat luka pembedahan

2.

Luka insisi pada bagian abdomen

3.

Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus

4.

Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan atau banyak

5.

Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 800 ml

6.

Emosi pasien labil dengan mengekspresikan ketidakmampuan menghadapi


situasi baru

7.

Terpasang kateter urinarius pada sistem eliminasi BAK

8.

Dengan auskultasi bising usus tidak terdengar atau mungkin samar

9.

Immobilisasi karena adanya pengaruh anastesi

10.

Bunyi paru jelas dan vesikuler dengan RR 20x/menit

11.

Karena kelahiran secara SC mungkin tidak direncanakan maka biasanya


kurang pahami prosedur

2.2.5 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada sectio caesarea menurut Manuba (2009)
adalah :
1) Infeksi puerperal atau peritonitis
Yaitu jika isi rahim sudah dihinggapi infeksi. Untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya ingeksi rahim, maka penderita calon sectio caesarea sedikit
mungkin ditoucher.

19

2) Rupture uteri pada kehamilan yang berikutnya. Supaya luka dinding rahim ada
kesempatan menjadi kuat kembali, dinasehatkan supaya penderita jangan
hamil lagi selama 3 tahun.
2.2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ibu post partum sectio caesarea menurut Saifuddin (2009)
aantara lain:
1. Observasi kesadaran penderita
Pada anestesi lumbal, kesadaran penderita baik oleh ahli bedah karena ibu
dapat mengetahui hampir semua proses persalinan, dan pada anestesi umum,
pulihnya kesadaran oleh ahli bedah diatasi dengan memberikan oksigen
menjelang akhir operasi.
2. Mengukur dan memeriksa tanda-tanda vital (TTV).
Pengukuran meliputi tensi, nadi, suhu, pernafasan (tiap 15 menit dalam 1 jam
pertama, kemudian 30 menit dalam 1 jam berikutnya dan selanjutnya tiap
jam). Keseimbangan cairan melalui produksi urin dengan perhitungan
(produksi urin normal 500-600 cc, pernafasan 500-600 cc, penguapan badan
900-1000 cc).Pemberian cairan pengganti sekitar 2000-2500 cc dengan
perhitungan 20 tetes permenit (1 cc permenit), infus setelah operasi sekitar 2 x
24 jam.

3. Pemeriksaan fisik pada abdomen dan genetalia


Untuk mengetahui adanya edema perut, bising usus menandakan berfungsinya
usus (dengan adanya flatus), perdarahan lokal pada luka operasi, kontraksi
rahim untuk menutup pembuluh darah dan perdarahan pervaginam.

20

4. Perawatan luka insisi


Luka insisi dibersihkan di desinfeksi lalu ditutup dengan kain penutup luka,
secara periodik luka dibersihkan dan diganti, Jahitan diangkat pada hari ke 6-7
post operasi, diperhatikan apakah luka sembuh atau dibawah luka terdapat
eksudat. Jika luka dengan eksudat sedikit ditutup dengan band aid operative
dressing. Luka dengan eksudat sedang ditutup dengan regal filmated swaba,
sedangkan luka dengan eksudat banyak ditutup dengan surgical pads atau
dikompres dengan cairan suci hama lainnya, sedangkan untuk memberikan
kenyamanan bergerak bagi penderita sebaiknya pakai gurita.
5. Pemberian cairan
-

Pasien operasi dianjurkan puasa sebelum dan sesudah post operasi, maka
pemberian cairan perinfus harus cukup banyak dan mengandung elektrolit
yang diperlukan, agar tidak terjadi hipertermia, dehidrasi dan komplikasi
pada organ-organ tubuh lainnya.

Cairan yang diberikan biasanya dektrosa 5-10%, garam fisiologis dan


ringer laktat secara bergantian. Jumlah tetesan tergantung pada keadaan
dan kebutuhan. Bila kadar hemoglobin darah rendah, berikan transfusi
darah (packed red cell = PRC) sesuai dengan kebutuhan.

Jumlah cairan yang ditampung dan diukur, hal ini dapat dipakai sebagai
pedoman pemberian cairan. Pemberian cairan perinfus dihentikan setelah
penderita flatus, lalu mulailah pemberian makanan dan cairan peroral

6. Diit
-

Pemberian cairan per infus biasanya dihentikan setelah pasien flatus, lalu
dimulai dengan pemberian makanan dan minuman oral. Pemberian sedikit

21

minum sudah dapat diberikan 6-10 jam pasca bedah berupa air putih atau
air teh.Setelah cairan infus dihentikan berikan makanan bubur saring,
minum air buah dan susu kemudian secara bertahap makanan lunak dan
nasi biasa.
-

Ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan kalori 500 kalori tiap hari,
makan dengan diit berimbang untuk mendapatkan protein, mineral,
vitamin yang cukup, minum sedikitnya 3 liter air setiap hari, pil zat besi
selama 40 hari pasca operasi atau persalinan dan kapsul vitamin A
(200.000 unit).

7. Nyeri
Sejak penderita sadar, dalam 24 jam pertama nyeri masih dirasakan di daerah
operasi, untuk mengurangi nyeri diberikan obat anti nyeri, penenang seperti
pethidin IM dengan dosis 100-150 mg atau morfin sebanyak 10-15 mg atau
secara infus. Setelah hari pertama atau kedua rasa nyeri akan hilang sendiri.
8. Mobilisasi
-

Mobilisasi segera secara bertahap sangat berguna untuk mebantu jalannya


penyembuhan penderita. Kemajuan mobilisasi bergantung pula dengan
jenis-jenis operasi yang dilakukan dan komplikasi yang mungkin dapat
dijumpai. Secara psikologis hal ini memberikan pula kepercayaan pada si
sakit bahwa diia mulai sembuh. Perubahan gerakan dan posisi ini harus
segera

diterangkan

kepada

penderita

atau

dan

keluarga

yang

menungguinya.
-

Miring ke kanan dan kekiri dimulai 6-10 jam pasca operasi (setelah sadar).
Hari ke 2 penderita dapat duduk selama 5 menit dan hari ke 3-5 mulai

22

berjalan. Mobilisasi berguna untuk mencegah terjadinya trombosisi dan


emboli. Sebaiknya, bila terlalu dini melakukan mobilisasi dapat
mempengaruhi penyembuhan luka operasi. Jadi mobilisasi secara teratur
dan bertahapserta diikuti dengan istirahat adalah sangat dianjurkan.
9. Eliminasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa tidak nyaman dan dapat
menghalangi involusi uterus karena itu dianjurkan pemasangan kateter
tetap.Bila tidak dipasang, dilakukan kateterisasi rutin kira-kira 12 jam pasca
operasi, kecuali jika pasien dapat kencing sendiri sebanyak 8-9 jam.Buang air
besar (BAB) biasanya tertunda selama 2-3 hari setelah melahirkan karena
edema pre-persalinan, diit cairan, obat-obatan dan analgetika selama
persalinan.Diharapkan bila belum BAB anjurkan pada pasien untuk
mengkonsumsi buah dan sayuran, minum air dalam jumlah lebih dari biasa,
berikan obat pelunak feses, laksatif ringan atau suposituria sesuai instruksi.
10. Obat-obatan : Antibiotika, anti kembung, anti nyeri
11. Perawatan rutin

Setelah operasi, dokter bedah dan anestesi telah membuat pemeriksaan rutin
bagi penderita pasca bedah yang diteruskan pada dokter atau perawat dikamar
tempat penderita dirawat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan
dan pengukuran adalah tekanan darah, jumlah nadi per menit, frekuensi
pernafasan per menit, jumlah cairan masuk dan keluar (rutin), suhu badan,
pemantauan tinggi fundus uteri (TFU) dan kontraksi uterus.

2.3 Konsep Preeklamsia


2.3.1 Definisi Preeklamsia

23

Preeklamsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil,


bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria yang muncul
pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
(Icesmi dan Sudarti, 2014)
Sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil dan masa nifas yang
terdiri atas hipertensi, oedema dan proteinuria, tetapi pada ibu hamil tidak
menunjukkan adanya kelainan vaskuler atau hipertensi sebelum hamil. (Diyan,
2013).
Preeklamsia adalah suatu sindrom khas-kehamilan berupa penurunan
perfusiorgan akibat vasospasme dan pengaktifan endotel. Dalam hal ini
proteinuria adalah adanya 300 mg atau lebih protein urine per24 jam atau 30
mg/dL (1+ pada dipstick) dalam sampel urine acak. Derajat proteinuria dapat
sangat berfluktuasi dalam perioden 24 jam, bahkan pada kasusu yang parah. Oleh
karena itu, satu sampel acak mungkin gagal memperlihatkan adanya proteinuria
yang signifikan. Kombinasi proteinuria plus hipertensi selama kehamilan sangat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal. (Kenneth, 2009)
2.3.2 Etiologi
Secara pasti penyebab timbulnya gejala tersebut belum diketahui secara
pasti, diduga ada keterkaitan beberapa hal berikut : Penyakit Trophoblastic,
Multigravida, Penyakit Hpertensi Kronik, Penyakit Ginjal Kronik, Hidroamnion,
gemmeli, Usia ibu lebih dari 35 tahun, cenderung genetic, memiliki riwayat
preeklamsi, DM, obesitas, hidroamnion, mola hidatiosa. (Diyan, 2013)
Dalam Icesmi dan Sudarti (2014) dijelaskan beberapa teori yang
mengatakan bahwa perkiraan kelainan tersebut sehingga kelainan ini sering
dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain :
Peran Prostasiklin dan Trombusan.

24

Peran faktor imunologis. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi

system komplemen pada preeklamsi/eklamsi.


Peran faktor genetik/familial. Terdapat kecenderungan

meningkatnya

frekuensi preeklamsi/eklamsi pada anak-anak dari ibu yang menderita


preeklamsi/eklamspspia

dan

anak

cucu

ibu

hamil

dengan

riwayat

preelmasi/eklamsia dan bukan pada ipar mereka. Peran rennin-angiotensin-

aldosteron system (RAAS)


Faktor presidposisi : molahidatiosa, diabetes mellitus, kehamilan ganda,

hidrops fetalis, obesitas, umur yang lebih dari 35 tahun.


2.3.3 Klasifikasi
Menurut Diyan (2013) klasifikasi preeklamsi dibagi menjadi 2 golongan,
yaitu sebagai berikut :
1) Preeklamsi ringan, ditandai dengan tekanan darah sistol 140 atau kenaikan
30 mmHg dengan interval 6 jam pemeriksaan, tekanan darah diastole 90
atau kenaikan 15 mmHg, BB naik lebih dari 1 kg/minggu, proteinuria 0,3
gram atau lebih dengan tingkat kualitatif 1-2 pada setiap urine kateter atau
2)

midstrearth.
Preeklamsia berat, ditandai dengan apabila kehamilan > 20 minggu
didapatkan satu atau lebih didapatkan tanda gejala tekanan darah > 160/110
dengan syarat diukur dalam keadaan relaksasi, proteinuria > 5 gram/24 jam
atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif, oliguria (produksi urine < 500
cc/24 jam yang disertai kenaikan kreatinin plasma), gangguan visus serebral,
nyeri epigastrum, edema paru dan sianosis, gangguan pertumbuhan janin
intrauteri, adanya HEELP syndrome (hemolysis, elevates liver enzyme, low

platelet count).
2.3.4 Tanda dan gejala
Dalam Diyan (2013) dijelaskan bahwa tanda gejala prekelmsia adalah
sebagai berikut :

25

a. Gejala awal yang muncul adalah hipertensi, dimana untuk menegakkan


diagnose tersebut adalah yaitu kenaikan tekanan systole paling tidak naik
hingga 30 mmHg atau lebih dibandingkan dengan tekanan darah sebelumnya.
Kenaikan diastolic 15 mmHg atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Untuk
memastikan diagnose tersebut dilakukan pemeriksaan darah minimal dua kali
dengan jarak waktu 6 jam pada saat istirahat.
b. Oedema adalah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam
jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dengan kenaikan BB yang
berlebihan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Bila kenaikan BB
> 1 kg setiap minggunya selama beberapa kali, maka perlu adanya
kewaspadaan akan timbulnya preeklamsi.
c. Proteinuria berarti kosentrasi protein dalam urin >0,3 gr/liter urin 24 jam atau
pemeriksaan kuantitatif menunjukkan +1 atau +2 gr/liter atau lebih dalam
urine midstream yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam.
Proteinuri timbul lebih lambat dari dua gejala sebelumnya, sehingga perlu
kewaspadaan jika muncul gejala tersebut.
2.3.5 Patofisiologi
Vasokonstriksi merupakan dasar pathogenesis preeklamsi dan eklamsia.
Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan
hipertensi. Adanya vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel
setempat, sehingga terjadi kerusakan endotel, kebocoran arteriole disertai
perdarahan mikro pada tempat endotel. Selain adanya vasokonstriksi arteri spiralis
akan menyebabkan terjadinya penurunan perfusi uteroplasenter yang selanjutnya
akan menimbulkan maladaptasi plasenta.
Hipoksia atau anoksia jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase
lemak, sedangkan proses hiperoksidase itu sendiri memerlukan peningkatan
konsumsi oksigen sehingga dengan demikian akan mengganggu metabolism

26

didalam sel peroksidase lemak dalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang
menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak merupakan radikal
bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu , dimana peroksidase
dan oksidan lebih dominan, maka akan timbul keadaan yang disebut stress
oksidatif.
Pada preeklamsi dan eklamsi serum anti oksidan kadarnya menurun dan
plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan pada wanita
hamil normal, serumnya mengandung transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang
berperan sebagai antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam
aliran darah melalui ikatan lipoprotein. Eroksidase lemak ini akan sampai ke
semua komponen sel yang dilewati termasuk sel-sel endotel tersebut. Rusaknya
sel-sel endotel tersebut akan mengakibatkan antara lain : adhesi dan agregasi
trombosit, gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma, terlepasnya
enzim lisosom, tromboksan dan seroronin sebagai akibat rusaknya trombosit.
Produksi prostasiklin terhenti. Tergangguanya kesseimbangan prostasiklin dan
tromboksan. Terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase
lemak.
Pada preeklamsi terdapat penurunan plasma dan sirkulasi dan terjadi
peningkatan hematokrit, dimana perubahan pokok pada preeklamsi yaitu
mengalami sapsme pembuluh darah perlu adanya kompensasi hi[ertensi. Dengan
adanya spasme pembuluh darag menyebabkan perubahan-perubahan ke organ
antara lain : 1) Otak. Mengalami resistensi pembuluh darah ke otak meningkat
akan terjadi oedema yang menyebabkan kelainan cerebral bisa menimbulkan
pusing dan CVA, serta kelainan visus pada mata. 2) Ginjal. Terjadi spasme
arteriole glomerulus yang menyebabkan aliran darah ke ginjal berkurang maka

27

terjadi filtrasi glomerulus negative, dimana filtrasi natrium lewat glomerulus


mengalami penurunan sampai 50 % dari normal yang menyebabkan retensi garam
dan air, sehingga terjagi oliguri dan edema. 3) URI. Dimana aliran darah plasenta
menurun yang menyebabkan gangguan plasenta maka terjadi IUGR, oksigenasi
berkurang sehingga akan terjadi gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, serta
kematian janin dalam kandungan. 4) Rahim.tonus otot rahim peka ransangan
terjadi peningkatan yang akan menyebabkan partus rematur. 5) Paru.
Dekompensasi kordis yang akan menyebabkan oedema paru sehingga oksigenasi
terganggu dan sianosis makan akan terjadi gangguan pola nafas. Juga mengalami
aspirasi paru yang bisa menyebabkan kematian. 6) Hepar. Penurunan perfusi ke
hati dapat mengakibatkan oedema hati, dan perdarahan subskapular sehingga
sering menyebabkan nyeri epigastrum, serta ikterus. (Diyan, 2013)
2.3.6 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Reader (2011) menyatakan bahwa pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan adalah :
1. Urin : protein, reduksi, bilirubin, sedimen urine.
2. Darah : thrombosis, ureum, kreatinin, SGOT, LDH dan bilirubin.
3. USG
4. Pemantauan hemodinamik yang menggunakan arteri pulmonalis merupakan
alat pengkajian yang sangat bermanfaat untuk mengukur CVP dan tekanan
arteri pulmonalis pada kasus preeklamsia berat.
2.3.7 Komplikasi
Menurut Yulianti (2010) menyatakan bahwa komplikasi yang dapat terjadi
pada preeklamsi berat adalah :
1. Antonia uterus
2. Sindrom HELLP
3. Ablasi retina
4. Koagulasi Intravaskuler Diseminata
5. Gagal ginjal
6. Perdarahan otak
7. Edema paru
8. Gagal jantung
9. Syok dan kematian

28

2.3.8 Penatalaksanaan
Menurut Diyan (2013) penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien
denga preeklasmsi adalah :
a. Segera rawat diruangan
b.
c.
d.
e.

yang

terang

dan tenang,

terpaseng

infus

dextrosa/ringer laktat.
Total bed rest
Diet cukup protein, rendah karbohidrat lemak dan garam
Antasida
Diuretika antepartum : manitol, Post partum: Sipronolakton (non K release),
furosemide (K release). Indikasi : edema paru, gagal jantung kongestif, edema

f.
g.
h.
i.

anasarka.
Anti hipertensi, indikasi : tekanan darah > 180/110 mmHg
Kardiotonika, indikasi : gagal jantung.
Antiperetika, jika suhu > 38,5 oC
Anti kejang :
1) Sulfas Magnesikus (MgSO4), syarat : tersedia antidotum calcium glukonas
10 % ( 1 ampul/iv dalam 3 menit). Reflek patella (+) kuat respiratory rate
> 16 x/menit, tanda distress nafas (-), produksi urine > 100 cc dalam 4 jam
sebelumnya. Penghentian SM : pengobatan dihentikan bila terdapat tandatanda intoksikasi, setelah 6 jam pasca persalnan, atau dalam 6 jam
mencapai normo tensi.
2) Diazepam : digunakan bila MgSO4 tidak tersedia, atau syarat pemberian
MgSO4 tidak dipenuhi. Cara pemberian : drip 10 mg dalam 500 ml,
maksimal 120 mg/24 jam. Jika dalam dosis 100/24 jam tidak ada

pemberian, alih rawat ruang ICU.


j. Pengobatan obstetric :
1) Belum inpartu : amniotomi & oxcytocin drip (OD), sectio caesarea :
syarat, kontraindikasi oxytocin drip 12 jam OD belum masuk fase aktif.
2) Sudah inpartus : kala I fase aktif, 6 jam tidak masuk fase aktif dilakukan
SC. Fase laten, amniotomy saja 6 jam kemudian pembukaan belum
lengkap lakukan SC. Kala II pada persalinan pervaginam, digunakan
partus buatan vacuum ekstraksi (VE)/forceps ekstraksi (FE).

29

3) Untuk kehamian < 37 minggu, bila memungkinkan terminasi ditunda 2x24


jam untuk maturasi paru janin.

30

2.3.9

Web Of Caution (WOC)

Faktor imunologis

Faktor genetik

Faktor predisposisi :
molahidatiosa, diabetes mellitus,
kehamilan ganda, hidrops fetalis,
obesitas, umur yang lebih dari 35 tahun.

Vasokonstriksi

Peningkatan total perifer

Hipertensi

Perfusi ke organ

Otak

Resistensi
pembuluh darah
Edema serebri
TIK
Gangguan
perfusi serebral

Darah

Paru-paru

Jantung

Endhotiolisis

Kongesti vena
pulmonal

Gangguan
kontraktilitas
miokard

Oedem
paru

Payah jantung

Sel darah merah


dan pembuluh
darah pecah
Anemia
hemolitik

Kerusakan
pertukaran gas

Penurunan
curah jantung

Ginjal

Peningkatan
reabsorbsi
natrium
Retensi cairan
Edema
Kelebihan
volume cairan

Hati

perfusi
ke hati
Oedem
hati
Nyeri
epigastrium

Plasenta

Rahim

Hipoksia
/anoksia

Tonus otot
rahim peka
rangsang

IUFD/
Resiko
gawat
janin

Resiko
kejang