Anda di halaman 1dari 65

LAPORAN KASUS

Perdarahan Saluran
Makan Bagian Atas
Pembimbing :
dr. Ilum Anam Sp.PD - KGEH
Oleh:
Febrian Dheni Suwandi
Hilyah Islami Anggawasita
Cut Aini Fauzi Yanti
Wijayanti

Perdarahan Saluran Makan


Bagian Atas

Pendahuluan
Perdarahan Saluran Makan Bagian Atas
(PSMBA) merupakan salah satu penyakit yang
sering dijumpai di bagian gawat darurat
rumah sakit. Sebahagian besar pasien datang
dalam keadaan stabil dan sebahagian lainnya
datang dalam keadaan gawat darurat yang
memerlukan tindakan yang cepat dan tepat.
Kejadian perdarahan akut saluran cerna ini
tidak hanya terjadi diluar rumah sakit saja
namun dapat pula terjadi pada pasien-pasien
yang sedang menjalani perawatan di rumah
sakit terutama di ruang perawatan intensif
dengan mortalitas yang cukup tinggi.

LAPORAN
KASUS

Nama
: Nurhayati
Usia
: 59 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat
: leung keubeu jagat
Agama
: Islam
Tanggal Masuk : 22- 06 2015

Datang ke Rumah Sakit dengan keluhan


nyeri pada ulu hati.

Keluhan utama:
nyeri ulu hati
Keluhan tambahan:
nyeri ulu hati, mual, muntah, nyeri kepala
Riwayat penyakit sekarang:
Os datang dengan keluhan nyeri pada bagian ulu
hati sejak 2 hari yang lalu , os mengatakan kadang
badan terasa lemah dan meriang. os juga mengeluh
nyeri terasa sampai kebelakang pinggang, os juga
mengalami mual dan muntah 6x yang berisi air
dan tidak berdarah, os juga mengeluh nyeri
dibagian kepala

Riwayat Penyakit Dahulu : sebelum nya


os pernah dirawat dengan keluhan BAB
berwarna hitam dan bercampur darah
beberapa bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Pengobatan : -

Pemeriksaan fisik 23 juni 2015

Keadaan umum : lemah


Kesadarn/GCS : Compos Mentis/15
Vital sign :
TD
: 90/70 mmHg
Nadi
: 80x/menit
Suhu
: 36.5 c
Respirasi : 20x/menit

Kepala & Leher :


Kepala : normochepali
Rambut : pigmen rambut berkurang distribusi
tidak merata
Wajah : normal
Mata : konjungtiva anemis (+)

Thorax :
Inspeksi : dalam batas normal
Palpasi : benjolan pada payudara kanan (+)
Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi : dalam batas normal

Abdomen :
Inspeksi : dalam batas normal
Palpasi : nyeri tekan sampai ke bagian
belakang pinggang
Perkusi : hipertimpani
Auskutasi : bising usus meningkat
Ekstremitas : dalam batas normal

pemeriksaan lanjutan
Darah rutin
KGDS
Golongan darah

Hasil Laboratorium
Jenis pemeriksaan

Hasil

Nilai rujukan

Hb

4,2

12-7

Eritrosit

2,15

4-6

Leukosit

8,9

5-10

Trombosit

460

150-450

PCT/HT

13,8

35-50

Kadar gula darah


sewaktu
Kolesterol

102,9

120-140

227,3

< 220

Terapi

IVDL RL 4 / hari
Cefritaxone 1gr/ 12 j
Ranitidine 1 ampul/ 12 j
Metoclropramide 1 ampul/ 12 j
Tranexamic acid 1ampul/ 8 j
Anjuran : transfusi PRC 4 bag

Tanggal

23/04/201
5

- Nyeri ulu
hati
sampai
ke
pingang.
- Mual

K U: lemah
PSMBA
Kesadaran:
Anemia
compos
mentis
TD :
90/50mmHg
HR :
80x/menit
RR :
23x/menit
T :36.5c
K/L :
konjungtiva
anemis
Thorax:
benjolan
pada
payudara
kanan.
Abdomen:
nyeri
tekan(+),hipe

P
IVDL RL 4 /
hari
Cefritaxone
1gr/ 12 j
Ranitidine 1
ampul/ 12j
Metoclropra
mide 1
ampul/ 12 j
Tranexamic
acid
1ampul/8 j
Anjuran :
transfusi
PRC 4 bag

Follow up pasien
Tanggal
24/06/201
5

S
Sakit
pinggang
Sakit ulu
hati

O
K U: lemah
Kesadaran:
compos
mentis
TD : 100/60
mmHg
HR :
68x/menit
RR :
23x/menit
T : 36c
K/L : dbn
Thorax:
benjolan
dipayudara
kana
Abdomen:
nyeri tekan
(+),
hipertimpani

PSMB IVDL RL 4 / hari


A
Cefritaxone 1gr/ 12
Anem
j
Ranitidine 1 ampul/
ia
12j
Metoclropramide 1
ampul/ 12 j
Tranexamic acid
1ampul/8 j
Anjuran : transfusi
PRC 4 bag
Transfusi 1 bag

Follow up pasien
Tanggal
25/06/201
5

S
Sakit ulu
hati

O
K U: sedang
Kesadaran:
compos
mentis
TD :
100/70mmHg
HR :
62x/menit
RR :
23x/menit
T : 36c
K/L : dbn
Thorax:
benjolan
dipayudara
kana
Abdomen:
nyeri tekan
(+),
hipertimpani

PSMB IVDL RL 4 / hari


A
Cefritaxone 1gr/ 12
Anem
j
Ranitidine 1 ampul/
ia
12j
Metoclropramide 1
ampul/ 12 j
Tranexamic acid
1ampul/8 j
Tranfsusi 1 bag

Follow up pasien
Tanggal
26/06/201
5

S
Sakit ulu
hati

O
K U: sedang
Kesadaran:
compos
mentis
TD : 100/60
mmHg
HR :
70x/menit
RR :
20x/menit
T : 36c
K/L : dbn
Thorax:
benjolan
dipayudara
kana
Abdomen:
nyeri tekan
(+),
hipertimpani

PSMB IVDL RL 4 / hari


A
Cefritaxone 1gr/ 12
Anem
j
Ranitidine 1 ampul/
ia
12j
Metoclropramide 1
ampul/ 12 j
Tranexamic acid
1ampul/8 j
transfusi PRC 1bag
Pasien di
perbolehkan
pulang ke rumah.

Obat Anti
perdarahan

Obat anti perdarahan


Obat
anti
perdarahan
disebut
juga
hemostatik.
Hemostatis merupakan proses penghentian
perdarahan pada pembuluh darah yang
cedera.
Jadi,Obat
haemostatik(Koagulansia)
adalah
obat
yang digunakan untuk menghentikan
pendarahan

Perdarahan dapat disebabkan oleh defisiensi


satu faktor pembekuan darah dan dapat
pula akibat defisiensi banyak faktor yang
mungkin sulit untuk didiagnosis dan
diobati.Defisiensi atau factor pembekuan
darah dapat diatasidengan memberikan
factor yang kurang yang berupa konsentrat
darahmanusia. Perdarahan dapat pula
dihentikan dengan memberikan obat yang
dapatmeningkatkan
factor-faktor
pembentukan darah misalnya vitamin K
atau
yang
menghambatmekanisme
fibrinolitik seperti asam aminokaprot

Obat hemostatik sendiri terbagi dua yaitu :


1. Obat hemostatik lokal
2. Obat hemostatik sistemik

hemostatik lokal
Yang termasuk dalam golongan ini dapat dibagi lagi
menjadi beberapa kelompokberdasarkan mekanisme
hemostatiknya
Hemostatik serap
Mekanisme kerja : Menghentikan perdarahan dengan
pembentukan suatu bekuan buatan atau memberikan
jala serat-serat yang mempermudah bila diletakkan
langsung pada permukaan yang berdarah. Dengan
kontak pada permukaan asing trombosit akan pecah dan
membebaskan factor yang memulai proses pembekuan
darah.
Indikasi : Hemostatik golongan ini berguna untuk
mengatasi perdarahan yang berasal dari pemubuluh
darah kecil saja misalnya kapiler dan tidak efektif untuk
menghentikan perdarahan arteri atau vena yang
tekanan intra vaskularnya cukup besar

Contoh obat
Spon gelatin, oksisel ( selulosa oksida )
Spon gelatin, dan oksisel dapat digunakan sebagai
penutup luka yang akhirnya akan diabsorpsi. Hal ini
menguntungkan karena tidak memerlukan penyingkiran
yang memungkinkan perdarahan ulang seperti yang
terjadi pada penggunaaankain kasa.
Untuk absorpsi yang sempurna pada kedua zat
diperlukan waktu 1- 6jam. Selulosa oksida dapat
mempengaruhi
regenerasi
tulang
dan
dapatmengakibatkan pembentukan kista bila digunakan
jangka panjang padapatah tulang. Selain itu karena
dapat menghambat epitelisasi,selulosa oksida tidak
dianjurkan untuk digunakan dalam jangkapanjang.
Busa fibrin insani yang berbentuk spon, setelah
dibasahi dengan tekanan sedikit dapat menutupi
dengan baik permukaan yang berdarah.

Astringen
Mekanisme kerja: Zat ini bekerja local
dengan
mengendapkan
protein
darah
sehingga perdarahan dapat dihentikan,
sehubungan dengan cara penggunaannya
zat ini dinamakan juga stypic.
Indikasi :
Kelompok ini digunakan untuk menghentikan
perdarahan kapiler tetapi kurang efektifbila
dibandingkan dengan vasokontriktor yang
digunakan local.
Contoh Obat :
Antara lain feri kloida, nitras argenti, asam
tanat.

Koagulan
Mekanisme kerja : Obat kelompok ini pada
penggunaan
lokal
menimbulkan
hemostatis
dengan
2cara
yaitu
dengan
mempercepat
perubahan protrombin menjadi trombindan secara
langsung menggumpalkan fibrinogen.
Contoh Obat :
Russells viper venom yang sangat efektif sebagai
hemostatik local dan dapat digunaka numpamanya
untuk alveolkus gigi yang berdarah pada pasien
hemofilia. Untuk tujuan inikapas dibasahi dengan
larutan segar 0,1% dan ditekankan pada alveolus
sehabisekstrasi gigi, zat ini tersedia dalam bentuk
bubuk atau larutan untuk penggunaaan lokal.
Sediaan ini tidak boleh disuntikkan IV, sebab
segara menimbulkan bahaya emboli.

Vasokonstriktor
Mekanisme Kerja :
Epinefrin
dan
norepinefrin
berefek
vasokontriksi, dapat digunakan untuk
menghentikan perdarahan kapiler suatu
permukaan.
Cara pemakaian :
Penggunaanya ialah dengan mengoleskan
kapas yang telah dibasahi dengan larutan
1:1000 tersebut pada permukaan yang
berdarah.

Hemostatik sistemik
Dengan memberikan transfusi darah,
seringkali
perdarahan
dapat
dihentikan dengan segera. Hasil ini
terjadi
karena
penderita
mendapatkan
semua
faktor
pembekuan darah yang terdapat
dalam darah transfusi. Keuntungan
lain transfusi ialah perbaikan volume
sirkulasi.
Perdarahan
yang
disebabkan
defisiensi
faktor
pembekuan darah tertentu dapat
diatasi
dengan
mengganti/

Faktor anti hemoflik(faktor VIII) dan cryoprecipitated anti


HemophilicFactor

Indikasi :Kedua zat ini bermanfaat untuk mencegah atau mengatasi


perdarahan pada penderita hemofilia A ( defisienxi faktor VIII) yang
sifatnya herediter dan pada penderita yang darahnya mengandung
inhibitor factor VII
Efek samping:Cryoprecipitated antihemofilik factor mengandung
fibrinogen dan protein plasma lain dalam jumlah yng lebih banyak
dari sediaaan konsentrat faktor VIII, sehingga kemungkinan terjadi
reaksi hipersensitivitas lebih besar pula. Efek samping lain yang dapat
timbul pada penggunaan kedua jenis sediaan ini adalah hepatitis
virus, anemi hemolitik,hiperfibrinogenemia,menggigil dan demam.
Cara pemakaian: Kadar faktor hemofilik 20-30% dari normal yang
diberikan IV biasanya digunakan untuk mengatasi perdarahan pada
penderita hemofilia.Biasanya hemostatik dicapai dengan dosis
tunggal 15-20 unit/kg BB.
Untuk perdarahan ringan pada otot dan jaringan lunak, diberikan
dosistunggal 10 unit/kg BB. Pada penderita hemofilia sebelum operasi
diperlukan kadar anti hemofilik sekurang kurangnya 50% dari
normal, dan pasca bedah diperlukan kadar 20-25 % dari normal untuk
7-10 hari.

Kompleks Faktor X
Indikasi :Sediaan ini mengandung faktor II, VII, IX,X serta
sejumlah kecil protein plasma lain dan digunakan untuk
pengobatan hemofilia B, atau bila diperlukan faktorfaktor
yang
terdapat
dalam
sediaan
tersebut
untukmencegah perdarahan. Akan tetapi karena ada
kemungkinan timbulnya hepatitis preparat ini sebaiknya
tidak diberikan pada penderita nonhemofilia.
Efek samping: trombosis,demam, menggigil, sakit
kepala, flushing, dan reaksi hipersensivitas berat(shok
anafilaksis).
Dosis : Kebutuhan tergantung dari keadaan penderita.
Perlu dilakukan pemeriksaan pembekuan sebelum dan
selama pengobatan sebagai petunjuk untuk menentukan
dosis. 1unit/KgBB meningkatkan aktivitas factor IX
sebanyak 1,5%, selama fase penyembuhan setelah
operasi diperlukan kadar factor IX 25-30% dari normal.

Vitamin K
Mekanisme kerja : Pada orang normal vitamin K tidak mempunyai
aktivitas farmakodinamik, tetapi pada penderita defisiensi vitamin
K, vitamin ini berguna untuk meningkatkan biosintesis beberapa
faktor pembekuan darah yang berlangsung di hati. Sebagai
hemostatik, vitamin K memerlukan waktu untuk dapat
menimbulkan efek, sebab vitamin K harus merangsang
pembentukan faktor- faktor pembekuan darah lebih dahulu.
Indikasi :Digunakan untuk mencegah atau mengatasi perdarahan
akibat defisiensi vitamin K.
Efek samping :Pemberian filokuinon secara intravena yang terlalu
cepat dapat menyebabkan kemerahan pada muka, berkeringat,
bronkospasme,
sianosis,
sakit
pada
dada
dan
kadang
menyababkankematian.
Sediaan :
Tablet 5 mg vit. K (Kaywan)
Dosis :
1-3 x sehari untuk ibu menyusui untuk mencegah pendarahan pada
bayinya
3-4 x sehari untuk pengobatan hipoprotrombinemia

Asam aminokaproat
Mekanisme kerja :Asam aminokaproat merupakan penghambat bersaing
dari activator plasminogen dan penghambat plasmin. Plasmin sendiri
berperan menghancurkan fibrinogen/ fibrin danfaktor pembekuan darah
lain. Oleh karena itu asam amikaproat dapat mengatasi perdarahan berat
akibat fibrinolisis yang berlebihan.
Indikasi :
Pemberian asam aminokaproat, karena dapat menyebabkan pembentukan
thrombus yang mungkin bersifat fatal hanya digunakan untuk mengatasi
perdarahan fibrinolisis berlebihan
Asam aminokaprot digunakan untuk mengatasi hematuria yang berasal
dari kandung kemih.
Asam aminokaproat dilaporkan bermanfaat untuk pasien homofilia
sebelum dan sesudah ekstraksi gigi dan perdarahan lain karena troma di
dalam mulut.
Asam aminokaproat juga dapat digunakan sebagai antidotum untuk
melawan efektrombolitik streptokinase dan urokinase yang merupakan
activator plasminogen.
Cara pemakaian :Dapat diberikan secara peroral dan IV
Efek samping:Asam aminokaproat dapat menyebabkan prutius,eriterna
konjungtiva, dan hidung tersumbat. Efek samping yang paling berbahaya
ialah trombosis umum, karena itu penderita yang mendapat obat ini harus
diperiksa mekanisme hemostatik.

Asam Traneksamat (Kalnex)


Mekanisme Kerja :
Sebagai anti plasmin, bekerja menghambat aktivitas dari
aktivator plasminogendan plasmin
Sebagai hemostatik, bekerja mencegah degradasi fibrin,
meningkatkan agregasi platelet
Memperbaiki kerapuhan vaskular dan meningkatkan aktivitas
factor koagulasi.
Indikasi
Hipermenorrhea
Pendarahan pada kehamilan dan pada pemasangan AKDR
Mengurangi pendarahan selama dan setelah operasi Perhatian
Bila diberikan IV dianjurkan untuk menyuntikkan perlahan-lahan
(10 ml / 1-2 menit)
Efek Samping
Gangguan gastrointestinal : mual, muntah, sakit kepala, anoreksia
Gangguan penglihatan, gejala menghilang dengan pengurangan
dosis atau penghentian pengobatan
Sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg

Karbazokrom Na Sulfonat (ADONA)


Mekanisme Kerja :
Menghambat peningkatan permeabilitas
kapiler
Meningkatkan resistensi kapiler
Indikasi
Pendarahan disebabkan menurunnya
resistensi kapiler dan meningkatnya
permeabilitas kapiler
Pendarahan abnormal selama/pasca operasi
akibat penurunan resistensi kapiler
Pendarahan otak
Sediaan :
Tablet 10 mg/ Forte 30 mg

Terapi pendarahan saluran


cerna bagian atas
Pemberian Vit K pada pasien dengan penyakit hati
kronis yang mengalami perdarahan SCBA diperbolehkan
dengan pertimbangan pemberian tersebut tidak
merugikan dan relaif murah.
Vasopressin dapat menghentikan perdarahan SCBA
lewat efek vasokontriksi pembuluh darah splanknik,
menyebabkan aliran darah dan tekanan vena porta
menurun. Terdapat dua sediaan yaitu pitresin yang
mengandung vasopressin murni dan preparat pituitary
gland yang mengandung vasopressin dan oxcytocin.
Pemberian vasopresin dilakukan dengan mengencerkan
sediaan vasopressin 50 unit dalam 100 ml dextrose 5 %
diberikan 0,5 1 mg/menit/iv selama 20 -60 menit dan
dapat di ulang tiap 3-6 jam atau setelah pemberian
pertama dilanjutkan per infus 0,1-0,5 U/menit.

Somatostatin dan analognya (octreotide) diketahui


dapat menurunkan aliran darah splanknik, khasiatnya
lebih selektif dibanding vasopressin. Dosis pemberian
somatostatin diawali denagan bolus 250 mcg/iv,
dilanjutkan per infus 250 mcg/jam selama 12-24 jam
atau sampai perdarahan berhenti. Oktreotide dosis
bolus 100 mcg/iv dilanjutan per infus 25 mcg/jam
selama 8- 24 jam atau sampai perdarahan berhenti.
Oba-obatan golonga antisekresi asam yang dilaporkan
bermanfaat untuk mencegah perdarahan ulang SCBA
karena tukak peptik adalah inhibitor pompa proton
dosis tinggi. Diawali dengan bolus omeprazole 80 mg/iv
kemudian dilanjutkan perinfus 8 mg/kgbb/jam selama
72 jam.
Pada perdarahan SCBA ini antasida ,sukralfat dan
antagonis reseptor H2 masih boleh diberikan untuk
tujuan penyembuhan lesi mukosa penyebab
perdarahan.

Tranfusi Darah
Pembimbing: dr. Ilum
wijayanti

Dasar-Dasar Tranfusi Darah


Fokus utama dari tranfusi adalah pelaksanaan
tranfusi/produk darah yang aman dan tekhnik
untuk mengurangi untuk mengurangi
kebutuhan tranfusi darah.
Sebuah penelitian melaporkan bahwa reaksi
tranfusi yang tidak diharapkan ditemukan paa
6,6% resipien, dimana sebagian besar (55%)
berupa demam. Gejala lain adalah menggigil
tanpa demam sebanyak 14%, reaksi alergi
20%, hepatitis serum positif 6%, reaksi
hemolitik 4% dan overload sirkulasi 1%.

Fungsi Darah
Respirasi: Mengangkut O2 dari paru-paru dan Codari
jaringan.
Nutrisi: Membawa zat-zat makanan yang diserap diusus
ke sel-sel.
Ekskresi: mengelurakan zat-zat makanan yang tidak
perlu dari tubuh melalui ginjal.
Imun: mengandung antibody pada leukosit untunk
penghadang kuman-kuman.
Temperatur: menyimpan, mengalirkan dan mengeluarkan
panas sehingga suhu tubuh tetap konstan.
Water balance: turut memungkinkan perpindahan air
diantara k-3 ruangan dalam tubuh.

Indikasi Tranfusi
Pertimbangan dalam melakukan tranfusi harus
diputuskan dengan cermat sesuai tingkat
kebutuhan pasien, mengingat banyaknya resiko yg
dapat ditimbulkan dari tranfusi.
Ambang batas untuk melakukan tranfusi adalah
kadar hemoglobin deibawah 7,0 atau 8,0g/dl,
kecuali pada pasien kritis.
Kadar Hb 8,0 g/dl adalah ambang batas tranfusi
untuk pasien yang dioperasi yang tidak memiliki
faktor resiko iskemia, sementara untuk pasien
dengan resiko isemia ambang batasnya dampai
10,0 g/dl.

Golongan Darah
Berdasarkan sistem ABO
Golongan
Darah

Antigen

Antibodi

Anti-A

Anti_B

AB

AB

Tidak Ada

Tidak Ada

Anti-A, Anti-B, Anti-AB

Berdasarkan faktor rhesus (Rh)


Merupakan jenis antigen yang ada pada
sel darah Anti
merah.
Kontrol
Tipe Rh
Rho(D)

Rh

Positif

Negatif

D+

Negatif

Negati

D-(d)

positif

positif

Harus iulang atau


diperiksa dengan Rho(D)

Golongan darah Rh+ bersifat


dominan, oleh karena itu Rh+ tidak
boleh mendonorkan darahnya ketipe
Rh- karena akan terjadi aglutinasi.
Akan tetapi orang bergolongan darah
rh- boleh mendonorkan darah ke
orang bergolongan darah rh+.

Seleski Donor Darah


Donor darah harus memenuhi beberapa kriteria untuk
dapat mendonorkan darahnya, yaitu keadaan umum
baik, usia 17-65 tahun, berat badan 50 kg atau lebih,
tidak demam (temperatur oral <37,5), frekuensi dan
irama denyit nadi normal, tekanan darah 50-100/90180 mmHg, dan tidak ada lesi kulit yang berat.
Persaratan lain adalah menjadi pendonor terakhir
minimal 8 minggu yang lal, tidak hamil, tidak
menderita Tb aktif, tidak menderita asma bronkial
simptomatik, pasaca pembedahan (6 bulan setelah
operasi besar, luka operasi telah sembuh pada operasi
kecil, minimal 3 hari untuk pebedahan mulut.

Lanjutan.....
Calon donor yang baru saja mendapat
imunisasi atau vaksinasi dapat diterima
sebagai donor jika tidak ada gejala setelah
tindakakn tersebut. Jika yang didapat
adalah vaksin dengan virus hidup yang
dilemahkan, maka calon donor yang tidak
menunjukkan gejala appun dapat diterima
dengan batasa waktu sebagai berikut:
Cacar air. Dua minggu setelah timbul reaksi
imun atau setelah lesi bekas suntikan mereda.
Campak, gondok, yellow fever, polio. Dua
minggu setelah imunisasi berakhir

Lanjutan......
Malaria. Calon donor yang baru
bepergian kedaerah endemis dapat
diterima menjadi donor 6 bulan
setelah kembali dan terbukti tidak
menunjukkan gejala dan tidak
minum obat antimalaria. Calon donor
yang menderita malaria dapat
diterima setelah 3 tahun penyakitnta
asimptomatik atau obat dihentikan.

Tehnik Pengambilan Darah


Hemaferesis. Merupakan istilah umum yang merujuk kepada
pengambilan whole blood dari seseorang donor atau pasien,
pemisahan menjadi komponen-komponen darah, penyimpanan
komponen yang diinginkan dan pengembalian elemen yang
tersisa ke donor atau pasien.
Plasmaferesis. Merupakan prosedur dimana sejumlah unit
darah dari donor diambil untuk mendapatkan plasmanya, diikuti
dengan pengifusan kembali sel-sel darah merah donor. Tehnik ini
dilakukan untuk mendapatkan plasma atau FFP. Plasma yang
didapat juga dapat difraksinasi menjadi produk seperti albumin
serum dan gama globullin
Sitaferesis. Sejumlah besar trombosit atau leukosit dapat
dikoleksi dari donor tunggal menggunakan sentrifugasi aliran
intermiten atau kontinyu.
Plateleferesis. Adalah prosedur dimana trombosit dipisahkan
secara sentrifugal dari WB.
Leukaferesis. Prosedur ini mengambil granulosit dan kemudian
mengembalikan darah sisanya kedonor.

Uji Cocok Silang


Uji cocok silang atau uji kompatibilitas adalah prisedur
yang paling penting dan paling sering dilakukan
dilaboratorium tranfusi darah. Uji cocok silang secara
umum terdiri dari serangkaian prosedur yang dilakukan
sebelum tranfusi untuk memastikan seleksi darah yang
tepat untuk seorang pasien dan untuk mendeteksi
antibodi ireguler dalam serum resipien yang akan
mengurangi atau mempengaruhi ketahanan hidup dari
sel darah merah donor setelah aktif
Terdapat 2 jenis uji cocok silang, mayor, yaitu menguji
reaksi antara sel darah merah donor dengan serum
resipien, dan minor yaitu menguji reaksi antara serum
donor dengan sel darah merah resipien.

Komponen Darah
Whole blood ( darah lengkap)
Digunakan untuk memenuhi jumlah darah yang hilang seperti pada perdarahan
hebat atau perdarahan akut serta anemia berat, tapi tidak di boleh diberikan
pada pasien dengan anemia kronik dengan normo tensi atau yang bertujuan
meningkatkan sel darah merah.
Whole blood dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Fresh blood (darah segar)
Mempunyai kelebihan yaitu:
Clotting faktor masih lengkap, termasuk faktor V dan VIII.
Secara relatif kehidupan sel darah merah lebih baik.
Kekurangan ny yaitu sulit didapatkan pada waktu yang tepat dan lues masih
aktif selama 96 jam.
2. Preserved blood ( darah simpan)
Dalam acid citrat & dekstrose (ACD) pada suhu 2C-4C, dapat tahan 21 hari.
Keuntungannya yaitu:
Pengadaan setiap waktu ada.
Bahaya lues hilang.
Kelemahannya adalah clotting faktor (V & VIII) banyak berkurang. Setelah 5
hari, kemampuan transport O2 berubah sehingga O2 release pada jaringan
berubah.

Sel Darah Merah (S.D.M)


Kalau tujuan tranfusi adalah hanya merubah jumlah s.d.m atau
memperbaiki kemampuan oksigenisasi, maka pemberian s.d.m lebih
baik karena :
Sebagian besar plasma tidak diberikan sehingga beban sirkulasi
pada penderita usia lanjut.
Untuk penderita dengan gangguan ginjal dimana diperlukan
pembatasan pemberian protein.
Mengurangi reaksi allergik terhadap plasma protein.
Jenis-jenis S.D.M
Packed Red Cell (s.d.m pekat)
Diperoleh dari pemisahan/pengeluaran plasma secara tertutup/septik
sedemikian rupa sehingga hematocriet (Ht) menjadi 70-80%
Red Cell Suspension (suspensi SDM)
Dibuat dengan mencampur Prc dengan cairan pelarut dalam jumlah
yang sama.
Washed Red Cell (s.d.m yang dicuci)
Diperoleh dengan mencuci Prc 2-3 kali dengan saline sisa plasma
terbuang habis. Berguna untuk penderita yang tidak diberi plasma.

Thrombosit
Pemberian trombosi sering kali diperlukan pada kasus-kasus
yang disebabkan oleh kekurangan trombosit. Kekurangan
trombosit tersebut bisa primer dan bisa sekunder sebagai
akibat dari perdarahan itu sendiri.
Jenis-jenis sediaan trombosit:
Platelet Rich Plasma (P.R.P)
Pembuatan sederhana, yaitu melakukan pemisahan plasma
dari darah segar. Penyimpanan 34C, sebaliknya 24 jam.
Platelet Consentrate
Dibuat dengan melakukan pemusingan (centrifige) lagi pada
P.R.P sehingga diperoleh endapan yang merupakan platelet
concentrate dan kemudian memisahkannya dari plasma
yang diatas yang berupa P.P.P (platelet poor plasma).
Penyimpanan ada 2 macam:
Pada suhu 4C hemostatik baik, viability kurang.
Pada suhu 18C hemostatik kurang, ability lebih baik.

Plasma Darah
Manfaat plasma dan bagiannya dalam pengobatan adalah sebagai
berikut:
Untuk memperbaiki volume dari sirkulasi darah (hypovolemia, luka
bakar, dan sebagaianya)
Menggantikan protein yang terbuang seperti pada nefrotik syndrom dan
sirosis hepatis, dimana jumlah albumin berkurang banyak.
Menggantikan dan memperbaiki jumlah faktor-fdaktor tertentu dari
plasma. Misalnya globulin, AHF (anti haemophilic faktor).
Jenis-jenis sediaan plasma:
Plasma cair
Diperoleh dengan memisahkan plasma dari whole blood pada pembuatan
P.R.C. untuk penyimpanan lama, sebaiknya ditambahkan anhydrous
dekstrose 5% sehingga bisa tahan 18 bulan.
Plasma Kering
Diperoleh dengan mengeringkan plasma beku dan lebih tahan lama yang
telah disetujui ialah dengan expiration date 3 tahun.
Fresh_Frozen plasma
Plasma digunakan untuk mengganti faktor koagulasi. Dibuat dengan cara
pemisahan plasma dari darah segar dan langsung dibekukan pada suhu60C (es CO2), kemudian disimpan pada suhu -30C selama 1 tahun,
pada suhu 20C selama 6 bulan.

Terapi Tranfusi Darah


Jumlah darah dihitung berdasarkan EBV
EBV neonatus : 90 ml/ KgBb
EBV bayi : 80 ml/ KgBb
EBV anak+dewasa : 70 ml/ KgBb
Maka Rumus EBV = KgBb X EBV X Jumlah
perdarahan (%).
Kebutuhan tranfusi darah diberikan pada :
Orang dewasa : jika perdarahan >15% EBV
Bayi dan anak2 : jika perdarahan >10% EBV

Kebutuhan darah berdasarkan Hb


Darah WB = ( Hb yang diinginkan
Hb sekarang ) X KgBb X 6
Darah PRC = ( Hb yang diinginkan
Hb Sekarang) X KgBb X 3
Darah FFP = ( Hb yang diinginkan
Hb sekarang ) X KgBb X 10

Prosedur Tranfusi Darah


Tranfusi darah diberikan menggunakan
blood set yang memiliki filter (penyaring)
dengan ukuran 170-200 m untuk
menyaring partikel debris dan bekuan
fibrin.
Set tranfusi darah diganti setelah 1X24
jam walaupun tranfusi masih dilanjutkan.
Set tranfusi darah tidak membutuhkan
filter udara.

Daftar Pustaka
Sudoyono. W A,2009. Ilmu Penyakit Dalam I oleh :
Adi P, Pengelolaan Saluran Cerna Bagian Atas.
Interna Publising: Jakarta

TERIMAKA
SIH