Anda di halaman 1dari 30

VIRUS

Pada bagian 1, kita telah melihat bagaimana, pada akhir abad 19, salah satu penyakit satu
demi satu pada tanaman maupun hewan menunjukkan memiliki sesuautu yang merupakan
bakteri penyebabnya. Pada tahun 1982, bagaimanapun seorang berkebangsaan Rusia, Dmitri
Ivanovsky membuat suatu penemuan yang mengejutkan tentang penyakit yang dikenal
sebagai penyakit mosaik tembakau. Dmitri menunjukkan bahwa ekstrak dari daun yang
terinfeksi dapat mempertahankan kemampuannya untuk menularkan penyakit ke tanaman
lain bahkan setelah melewati sebuah saringan porselin. Perangkat yang baru dikembangkan
ini diyakini dapat memindahkan bakteri terkecil, dan oleh karena itu diusulkan kemungkinan
penyebab enyakit tersebut bukanah suatu organisme tetapi racun yang dapat tersaring. Para
pekerja ahli botani Belanda Martinus Beijerinck dan orang lain disekitarnya pada saat
pergantian abad, namun (lihat Tabel 10.1) memunculkan ide tentang virus, entitas yang
disaring jauh lebih kecil dari bakteri, yang bertanggungjawab pada berbagai penyakit pada
tanaman, hewan dan anggota dunia mikroba.
APAKAH VIRUS ITU?
Semua virus merupakan parasit interseluler obligat; mereka menghuni pada suatu tempat
yang tidak bertuan antara makhluk hidup atau tidak hidup, dan memiliki karakteristik
keduanya. Virus sekarang dikenal berbeda secara radikal dari yang organisme asli paling
sederhana, bakteri dalam sejumlah hal.
-

Virus tidak dapat diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya


Virus tidak mempunyai struktur seluler internal
Virus mengandung DNA atau RNA, tapi tidak kedua-duanya
Virus memiliki kemampuan untuk mereplikasi apabila menempati suatu inang yang hidup

pada tempat yang sesuai


Virus memiliki kemampuan untuk melakukan metabolisme
Virus merupakan individu yang tidak menunjukkan perningkatan ukuran

Ketika virus dalam sel inang, virus menunjukkan beberapa fitur dari organisme hidup, seperti
kemampuan untuk mereplikasi diri, tetapi di luar sel, virus hanya berupa struktur kimia inert,
sehingga memicu perdebatan mengenai apakah virus dapat dianggap sebagai berntuk
kehidupan. Sebuah virus tertentu memiliki kisaran inang yang terbatas, yaitu, hanya mampu
menginfeksi jenis tertentu. Tidak ada yang yakin bagaimana virus berevolusi; pada tabel 10.1
menjelaskan beberapa ide saat ini.

Tabel 10.1 Beberapa pencapaian dalam sejarah Virologi


1892

1898

1901
1915/1917
1918
1935
1937
1939
1955
1971
1980
1982

Penyakit
tembakau
mosaik
(TMD)
menunjukkan menjadi penyebab zat yang dapat
disaring
Proposal TMD disebabkan oleh jenis agen
infeksi baru
Ditemukannya penyakit virus pertama kali
pada hewan (bagian kaki dan mulut)
Ditemukannya pertama kali penyakit virus
pada manusia (demam kuning)
Ditemukannnya virus bakteri (bakteriofage)
Pandemik Influenza Di Spanyol
TMV merupakan virus pertama yang dapat
dikristalkan
Pemisahan TMV ke dalam protein dan fungsi
asam nukleat
Virus dapat dilihat di bawah mikroskop cahaya
Perakitansecara
spontanTMVdariproteindankomponenRNA
Ditemukannya viroid
Urutan genom virus yang lengkap untuk
pertama kalinya (CaMV)
Urutan genom RNA untuk pertama kalinya
(TMV)
Rekombinan vaksin Hepatitis B
Ditemukannya prion

Iwanowsky

Beijerinck
Loefer & Frosch
Reed
Twort, dHerelle
Stanley
Bawden dan Piric
Kausche, Pfankuch & Ruska
Fraenkel-Conrat
& Williams
Diener
Frank

PRUSINER
1983
Dtemukannya HIV, melalui agen kausatif pada Montaigner dan Gallo
AIDS
1990
Retrovirus digunakan sebagai vektor pertama Anderson
kalinya dalam gen manusia pada percobaan
terapi
2001
BSE menyebar di Amerika
2003
Penyebaran penyakit virus baru pada manusia
(SARS) di Asia
TMV, Virus Mosaik Tembakau, CaMV, Caulimovirus mosaik kembang kol

STRUKTUR VIRUS
Demontstrasi oleh Wendel Stanley pada Tahun 1935 yang mempersiapkan suatu virus mosaik
tembakau yang dapat dikristalkan merupakan suatu indikasi homogenitas kimia relatif virus,
dan artinya virus tidak bisa hidup dalam kondisi yang sama dengan makhluk hidup lainnya.
Dibandingkan dengan organisme seluler lain, virus lebih primiti, karena virus memiliki
struktur yang sangat sederhana (Gambar 10.1). Suatu partikel virus yang utuh atau virion,
pada dasarnya memiliki dua komponen penyusun, yaitu inti asam nukleat yang hanya
dikeliling dan dilindungi oleh selubung protein atau kapsid, kombinasi dari dua komponen ini
dikenal sebagai nukleokapsid. Pada jenis tertentu, nukleokapsid dikeliling oleh selubung
membran yang sebagian berasal dari inangnya. Kebanyakan virus lebih kecil dari sel bakteri;
Gambar 10.2 yang menujukkan ukuran beberapa virus jika dibandingkan dengan sel-sel
bakteri dan eukariotik.
Selubung
protein (kapsid)

Gambar 10.1 struktur virus. Virus terdiri dari genom asam nukleat yang dikelilingi oleh suatu
pelindung protein (kapsid). Keduanya merupakan bagian yang tidak tertutupi dan diselubungi
ditunjukkan pada gambar.
Kotak 10.1 Darimana Virus Berasal?
Tiga mekanisme utama telah ditunjukkan untuk evousi virus:
- Teori gen yang dapat meloloskan dirinya: virus berasal dari asam nukleat seluler yang
normal dan gain yang bebas dari sel. Virus DNA berasal dari plasmid atau unsur yang
berpindah (lihat bab 12),s edangkan virus RNA bisa berasal dari mRNA.
- Teori Regresif: kemunduran secara bertahap pada prokariota yang hidu secara parasit
dalam sel eukariot. Bentuknya terselubung seperti poxvirus yang mungkin terbentuk
dengan cara ini.
- Teori koevolusi: evolusi yang terikat bersama-sama merupakan bentuk seluler dari sup
purba
Beberapa ilmuwan menganggap kecil kemungkinan mekanisme yang sama dapat
menjelaskan keragaman virus yang kita lihat sekarang, dan karena itu mengusulkan bahwa
virus telah berevolusi berkali-kali. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2004 sebaliknya
mengusulkan bahwa semua virus berbagi nenek moyang yang sama dan mungkin bahkan
telah berkembang sebelum bentuk kehidupan selular.

Sel hati manusia

Gambar 10.2 virus lebih kecl dari sel. Virus ditunjukan pada gambar dalam skala dan
dibandingkan antara sel E.colidengan sel hati manusia. Sebagai panduan, sel-sel E.coliyang
memiliki panjang 2 m. Foto diambil dari Black, JG: Mikrobiologi: Prinsip dan Eksplorasi,
Edisi ke Empat, John Wiley & Sons Inc., 1999. Diterbitkan dengan izin dari penerbit.

GENOM VIRUS
Materi genetik pada suatu virus kemungkinan berasal dari DNA atau RNA, dan lainnya yang
merupakan rantai tunggal atau rantai ganda (Gambar 10.3). seperti yang ditunjukkan pada
gambar 10.4, genom virus selanjutnyaakanmelingkaratau berbentuk linier. Sebuah variasi
tambahan dalam genom virus terlihat pada virus RNA tertentu, seperti virus influenza; di sini,
bukan sebagai molekul tunggal, tersegmentasi, yang ada sebagai beberapa bagian,yang
masing-masing dapat mengkodekan protein yang terpisah. Pada beberapa virus tanaman,
segmen mungkin berada di dalam partikel yang terpisah, sehingga terjadi replikasi, sejumlah
virion perlu menginfeksi sel, sehingga saling melengkapi (genom multipartite) rantai ganda
RNA slealu terdapat pada bentuk yang tersegmentasi.

Gambar 10.3 Keragaman genom virus


Ukuran genom besar variasinya ; mungkin karena mengandung sedikitnya empat gen atau
sebanyak 200 (Lihat kotak 10.2). Gen ini dapat dikodekan untuk kedua protein struktural dan
non-struktural; yang terakhir termasuk enzim seperti RNA polimerase/DNA yang diperlukan
untuk replikasi virus.

A:Untaian tunggal bergaris


D: Segmentasi bergaris

B: Untaian tunggal berbentuk lingkaran


E: Untaian ganda berbentuk lingkaran

C:bentuk bergaris, untaian


ganda

Gambar 10.4 genom virus. Genom virus mungkin berbentuk lingkaran atau garis. Beberapa
virus RNAmempunyai genom yang dipecah menjadi segmen, setiap penkodean pemisahan
protein (1) untaian tunggal bergaris; (b) untaian tunggal berbentuk lingkaran; (c) untaian
ganda berbentuk garis; (d) bentuk garus yang tersegmentasi; (e) untaian ganda erbentuk
lingkaran. Dari Hardy, SP: Mikrobiologi Manusia, Taylor dan Francis, 2002. Diterbitkan
dengan izin Penerbit Thomson.
Untaian RNA tunggal pada genom virus dapat dibagi menjadi dua jenis, yang dikenal sebagai
sense (+) dan sense RNA (-). Yang terlebih dahulu bertindak sebagai mRNA, adalah ribosom
yang melekat dan diterjemahkan ke dalam protein yang sama dalam sel inang. Dengan
demikian, hal ini menginfeksi dirinya. Sense minus RNA (-), di sisi lain hanya menginfeksi

karena adanya protein kapsid yang memiliki aktivitas RNA polimerase. Hal ini diperlukan
untuk mengkonversi RNA (-) yang menjadi pelengkap untaian (+), yang kemudian bertindak
sebagai template untuk memproduksi protein, seperti yang dijelaskan di atas.
Kotak 10.2 Asal muasal Penemuan
Suatu gen pada kebanyakan organisme terdiri dari urutan linear diskrit DNA dengan titik
awal yang berbeda, yang dikodekan untuk memproduksi protein tertentu. Namun pada
beberapa virus menggunakan peregangan DNA yang sama lebih dari satu gen. Dengan
memulainya pada titik yang berbeda dan menggunakan kerangka membaca yang berbeda,
kode yang sama dapat memiliki arti yang berbeda! Gen saling tumpang tindih, yang juga
ditemukan pada beberapa bakteri, memberikan solusi kreatif untuk permasalahan seperti
ukuran genom yang kecil

Ketika DNA membentuk genom virus, biasanya untaian ganda (dsDNA), meskipun
beberapa lebih yang lebih kecil seperti parvovirus yang memiliki ssDNA (Gambar 10.3).
STRUKTUR KAPSID
Bentuk karakteristik partikel virus ditentukan oleh selubung protein atau kapsid. Pada
virus yang tidak terselubungi, kapsid merupakan lapisan terluar dan berperan untuk
menempelkan virus ada permukaan sel inang. Hal ini juga berperan dalam melindungi asam
nukleat terhadap faktor lingkungan berbahaya seperti sinar UV dan pengeringan, serta asam
dan enzim degradatif yang ditemui pada saluran pencernaan.
Kapsid terdiri dari sejumlah sub unit yang disebut kapsomer (Gambar 10.5), dan terdiri
dari jenis protein yang berbeda atau hanya satu. Jumlah kapsomer adalah konstan untuk jenis
virus tertentu. Hal ini konstruksi subunit berulang yang diharuskan oleh sejumlah kecil
protein encoding RNA/DNA dalam genom virus. Kapsomer yang memiliki kemampuan
untuk berinteraksi satu sama lain secara spontan membentuk kapsid pada saat proses
perakitan diri. Hal ini akan lebih mudah dicapai jika ada sejumlah besar jenis protein yang
berbeda. Kapsomer disusun secara simetris, sehingga menimbulkan dua bentuk utama kapsid,
ikosahedral dan heliks (Gambar 10.5). Kedua bentuk virus dapat ditemukan baik diselubungi
atau tidak diselubungi. Virus yang kompleks, seperti bakteriofag tertentu, mengandung unsurunsurdari kedua simetriheliks dan ikosahedral.

Bagian dari virus mosaik


tembakau

Ikosahedral (Adenovirus)

Gambar 10.5 Kapsid virus memiliki dua bentuk dasar, heliks dan ikosahedral. Virus
kompleks merupakan perpaduan dari kedua bentuk. Dari Harper, D: MolecularVirology, edisi
kedua, Penerbit Bios Ilmiah, 1998.Direproduksi dengan izindariThomsonPublishing Service
KAPSID BERBENTUK HELIKS
Sejumlah virus tanaman, termasuk virus mosaik temabaku yang dikenal baik, mempunyai
struktur yang berbentuk seperti batang ketika dilihat di bawah mikroskop cahaya (Gambar
10.5a). hal ini disebabkan karena pengaturan heliks kapsomer, yang menghasilkan bentuk
suatu tabung atau silinder, dengan ruang di tengah untuk elemen asam nukleat, yang cocok
menjadi alur di dalam. Diameter heliks ditentukan oleh sifat protein (s) yang membentuk
kapsomer; panjangnya tergantung pada ukuran inti asam nukleat.
KAPSID BERBENTUK IKOSAHEDRAL
Sebuah ikosahedron adalah bentuk dimensi teratur tiga
dengan 20 permukaan segitiga, dan 12 titik atau sudut
(Gambar 10.5). Efek keseluruhan adalah struktur secara kasar

Ikosahedon
memiliki
luas
permukaan
yang
rendah
terhadap
volume,
yang
memungkinkan untuk jumlah
maksimum asam nukleat yang

berbentuk bola.

SELUBUNG VIRUS
Selubung virus biasanya terdapat pada virus yang terdapat pada hewan dibandingkan dengan
virus yang terdapat tanama. Lapisan ganda lipid meliputi virus yang terbungkus berasal dari

membran nuklear atau sitoplasma inang sebelumnya. Bagaimanapun protein (biasanya


glikoprotein) dikodekan oleh genom virus itu sendiri. Hal ini dikarenakan proyeksi dari
permukaan virion sebagai duri, yang mungkin berperan daam kemungkinan virus dalam
mengikat atau menembus inang selnya (Gambar 10.6) pembungkus virus lebih peka terhada
kapsid pada tekanan lingkungan dan kebutuhan virus untuk tetap lembab agar dapat bertahan
hidup. Akibatnya, virus ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah (misalnya virus
hepatitis B) atau sekresi pernapasan (misalnya virus influenza).
KLASIFIKASI VIRUS
Seperti yang telah kita lihat pada awalbab ini, virus bukan
makhluk

hidup

dan

klasifikasi

virus

merupakan

permasalahan yang kompleks. Seperti organisme asli yang


memiliki tingkatan spesies genus, family dan ordo pada
virus, tetapi tidak ada pengelompokkan yang lebih tinggi
(kelas, filum kingdom). Tingkat Binomial (misalnya Homo
sapiens, Eschericia coli) famili dari taksonomi biologis
konvensional,

yidak

digunakan

untuk

virus;

namun,

pengajuan untuk binomial virus yang bukan nama latin telah


diajukan. Pada awalnya, tidak ada upaya yang dilakukan
untuk menyusun semacam hubungan kekerabatan antara

Taksonomi Family pada virus


selalu diakhiri oleh -viridae,
subfamili dalam -virinae dan
genus nya dalam -virus.
Nama tersebut dimiringkan
dan dikapitalisasi, sedangkan
hal ini tidak dilakukan untuk
spesies.
Misalnya
Order:
Mononegavirales,
Family:
Paramyxoviridae, Subfamili:
Paramyxoviridae,
Genus:
morbilli virus, Spesies: virus
campak. Untuk penggunaan
resmi, kami akan berbicara
tentang, misalnya, family
picorna virus, atau genus
enterovirus.

virus, tetapi perkembanan terbaru dalam urutan virus genom


yang artinya bahwa dapat dipahami.
Faktor yang diperhitungkan dalam klasfikasi adalah:
-

Kisaran

algae,/jamur, bakteri)
Morfologi (kapsid yang berbentuk simetr, diselubungi

atau tidak, jumlah kapsomer)


Jenis genom/mode replikasi (lihat gambar 10.3)

inang

(vertebrata/invertebrata,

tanaman,

Pada tahun 1971, David Baltimore mengusulkan skema yang


memerintahkan virus yang berkaitan dengan strategi yang
digunakan untuk produksi mRNA. Ini menghasilkan tujuh

Suatu
indikasi
betapa
taksonomi
virus
yang
kompleks dapat ditentukan
oleh fakta bahwa pada tahun
1999, sebuah penelitian
yang diterbitkan dalam
jurnal virologi terkemuka,
yang berjudul:Bagaimana
menulis nama untuk spesies
virus!.

kelompok utama (Tabel 10.2). Pertemuan terbaru (2005) dari Komisi Internasional
Taksonomi Virus (ICTV, didirikan pada tahun 1973) menghasilkan laporan yang mengakui

tiga ordo, 73 family, 287 genus dan lebih dari 1.900 spesies virus. Lain yang tak terhitung
jumlahnya, belum ditemukan atau belum cukup ditandai, juga ada.

Lapisan protein
(kapsid)
pembungkus

tonjolan

Gambar 10.6 suatu selubung virus. Selubung virus merupakan turunan dari membran sel
inangnya dan meliputi protein virus yang dikodekan. Beberapa selubung viral mengandung
tonjolan, yang mungkin membantunya untuk menempel pada sel inang
Tabel 10.2 Kelompok Umum Virus Didasarkan pada sistem Baltimore
Kelompok I
Kelompok II
Kelompok III
Kelompok IV
Kelompok V
Kelompok VI

dsDNA virus
ssDNA virus
dsRNA virus
ssRNA virus sense (+)
ssRNA virus sense (-)
RNA Untaian tunggal sense (+) dengan DNA
intermediet
Kelompok VII
DNA Untaian ganda dengan RNA
intermediet
*proses yang terjadi pada tingkatan molekul dibandingkan pada tingkatan organisme, lebih
tepatnya membahas tentang replikasi virus dibandingkan dengan reproduksinya.

SIKLUS REPLIKASI VIRUS


Satu karakteristik virus berbagi kesamaan dengan organisme hidup yang hidup adalah
kebutuhan untuk memperbanyak diri. Sebagaimana telah kita lihat, semua virus adalah
parasit intraseluler obligat , dan agar dapat mereplikasi, suatu sel inang harus berhasil masuk.
Ini adalah sel inang yang menyediakan banyak 'mesin' yang diperlukan untuk replikasi virus.
Semua siklus pertumbuhan virus mengikuti urutan umum yang sama dari setiap tahapan

siklus (Gambar 10.7), dengan beberapa perbedaan dari satu jenis yang lain, ditentukan oleh
struktur virus dan sifat sel inang.
penempelan

Pemecahan sel inang

Perakitan

Penetrasi

Replikasi

Gambar 10.7 Tahapan utama dalam siklus replikasi virus. Siklus replikasi virus semua
didasarkan pada pola umum ini

SIKLUS REPLIKASI PADA BAKTERIOFAG


Virus yang menginfeksi sel bakteri disebut bakteriofag (disingkat fag), yang berarti, secara
harfiah, 'bakteri pemakan'. Dapat dipahami dari semua siklus replikasi virus adalah dari kelas
bakteriofag yang menginfeksi E.coli, yang dikenal sebagai bakteriofag bentuk T. Bakteriofag
ini merupakan virus yang kompleks dengan karakteristik struktur kepala dan ekor (hamar
10.8). Untaian ganda, genom DNA yang bergaris mengandung lebih dari 100 gen, dan yang
terkandung dalam kepala ikosahedral. Siklus pertumbuhan dikatakan litik karena pada
akhirnya siklusnya akan lisis (pecah) dari sel inang. Gambar 10.9 menunjukkan siklus litik
Bakteriofag T4 dan tahapnya secara umum dijelaskan di bawah ini.

Kepala berbentuk ikosahedral


leher
Selubung kontraktil

ekor

Dasar plat
Serabut ekor

Gambar 10.8 Suatu Bakteri berbentuk T. Perhatikan struktur karakteristik kepala ditambah
ekor. Seratekor dan dasar platyangterlibat dalam penempelan fagke permukaaninangselnya.
Direproduksi dengan izindariProfesorMichaelJPelczar, UniversitasMaryland

1. Adsorpsi (penempelan): T4Penempelan dengan menggunakan protein yang berada di


serat ekor khususnya yang digunakan sebagai reseptor
komplementer pada permukaan sel inang. Sifat reseptor ini
adalah salah satu faktor utama dalam menentukan suatu sel
inang virus yang khusus.
2. Penetrasi:enzim lisozim, yang terdapat pada ekor fag,
dengan cara melemahkan dinding sel pada tempat yang
menjadi tempat penempelannya dan suatu kotraksi terjadi
pada sleubung ekor fag sehingga menyebabkan inti yang
akan mendorong ke arah dalam sel, melepaskan DNA virus
ke bagian dalam bakteri. Kapsid tetap sepenuhnya berada di

Anda mungkin akan bertanya


kepada diri sendiri mengapa
molekul resptor untuk virus
berkembang lebih cepat,
ketika pada akhirnya tidak
ada
kejelasan
untuk
kepentingan dalam hal ini.
Jawabannya adalah , tentu
saja, bahwa virus tidak
memiliki molekul reseptor;
reseptor
memiliki
sifat
biologis lainnya, tetapi virus
dapat menguasainya

luar sel, seperti yang ditunjukkan dalam percobaan yang dikenal dengan Hershey dan

Chase (lihat BAB 11).


3. Replikasi: gen fag yang menyebabkan protein pada sel inang dan sintesis asam nukleat
harus dimatikan, sehingga semua mesin metabolisme sel inang menjadi didedikasikan
untuk sintesis DNA fag dan protein. Asam nukleat pada sel inang yang terdegradasi oleh
enzim fag dikodekan, sehingga memberikan persediaan pembuatan blok nukleotida.

Enzim pada sel inang digunakan untuk mereplikasi DNA fag, yang kemudian
ditranskripsikan menjadimRNA`dan diterjemahkan menjadiprotein.
4. Perakitan:Setelahdisintesisdalam jumlah yang cukup, komponenkapsiddanDNA dirakit
secara spontandalampartikel virus. Kepaladan ekordaerahdisintesissecara terpisah,
makakepaladiisidengangenomDNA, dan bergabungkeekor
5. Pelepasan:fag mengkodekan enzim lisozim untuk Pada
melemahkan dinding sel, dan menyebabkan sel inang
lisis dan pelepasan partikel virus baru, hal ini dapat
menginfeksi sel inang baru, dan dengan demikian
akan mengulang kembali siklusnya. Selama faseawal
infeksi, sel inangmengandungkomponenfag, tetapi
tidak adapartikellengkap. periode ini dikenal sebagai
periode

eclipse.Waktu

yang

terjadi

antara

perlekatan dari partikel fag ke permukaan sel dan

awalnya,
protein
merupakan enzim-enzim virus
yang termasukd dalam DNA
polimerase yang digunakan
untuk mensintesis lebih banyak
fage DNA dan lain-lainnya
yang mengganggu proses sel
inang secara normal. Kemudia,
produksi akhirnya merupakan
protein
struktural
yang
diperlukan untuk pembuatan
kapsid; bahan ini diproduksi
dalam jumlah yang lebih besar

pelepasan fagyang baru disintesis disebut periode


laten (kadang-kadang dikenal sebagai waktu pemecahan); untuk T4 dalam kondisi
optimal, hal ini terjadi sekitar 22 menit. Hal ini dapat dilihat pada kurva pertumbuhan satu
tahap, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 10.10.

Penempelan

Pelepasan partikel fage baru

Kromosom sel inang

Sel inang lisis


Injeksi fage DNA

2. Penetrasi

5. Pelepasan

Sintesis protein awal (enzim fage)

4. Perakitan

Sel inang berdegradasi

Sintesis'akhir' protein struktural

3. Replikasi

Fage DNA

Gambar 10.9 Siklus Litik oleh Fag T4. Siklus ini terdiri dari lima tahapan utama yang
digambarkan dalam gambar di atas; mulai dari injeksi DNA fag ke dalam sel yang
lisis selama 22 menit. Jumlah partikel fag yang dihasilkan per sel nya disebut dengan
ukuran yang pecah, dan untukT4berkisar dari 50 sampai 200 partikel

Virus ekstraseluler

Unit Infeksi per sel inang

Jumlah
virus

Virus
yang

Periode
laten

Waktu

Gambar 10.10 Kurva pertumbuhan satu tahap. Selama periode Eclipse sel inang tidak
mengandung partikel fag lengkap. Setelah sintesis partikel baru, partikel virus fag dilepaskan,
menandakan akhir dari periode laten. Kurva kiri mewakili jumlah partikel fag, sedangkan
jumlah bebas (ekstraseluler) partikel ditunjukkan oleh kurva kanan

Siklus Replikasi Lisogenik


Gae seperti Bakteriofag T4, yang menyebabkan sel inang lisis, disebut dengan fagVirulen.
Fag beriklim, dengan kata lain mengikuti siklus litik seperti yang diuraikan di atas,
mengalami suatu bentuk alternatif pada siklus pertumbuhan. Di sini, DNA fag bergabung ke
dalam genom inang sebagai profag(Gambar 10.11). Dalam keadaan lysogeni, sel inang tidak
berbahaya. Hal ini dikarenakan aksi protein represor dikodekan oleh fag, mencegah sebagian
besar gen fag lainnya yang sedang ditranskrip. Gen ini, bagaimanapun, direplikasi bersama
dengan kromosom bakteri, sehingga semua keturunan bakteri mengandung profag yang
tergabung. Keadaan lisogenik akan berakhir ketika keberlangsungan hidup sel inang
terancam, biasanya dengan faktor lingkungan seperti sinar UV atau mutagen kimia. Inaktivasi
protein represor memungkinkan DNA fage yang akan dipotong, dan mengadopsi bentuk
melingkar dalam sitoplasma. Dalam bentuk ini, fage memulai siklus litik, yang
mengakibatkan kerusakan sel inang. Contoh dari fag beriklim adalah bakteriofage
(lambda), yang menginfeksi strain tertentu dari E. Coli. Strain bakteri yang dapat
menggabungkan DNA fage dengan cara ini disebut lisogenik.

Fage DNA
menginjeksi ke
dalam sel inang

Fage DNA bereplikasi

Jalur litik
INDUKSI:
pemotongan
Profage

Sintesis
partikel
fage yang
baru

Sel iang lisis

Fage
DNA
berintegrasi
ke
dalam kromosom
sel inang sebagai
profage

Jalur
Lisogenik
Pembagian
bakteri

Profage bereplikasi
bersama dengan
DNA bakteri

Gambar 10.11Siklus Replikasi pada fag beriklim. Dalam jalur lisogenik, DNA fag
berintergasi ke dalam genom sel inang, dan direplikasian sepanjang siklusnya. Setelah
diinduksi oleh stimulus yang tepat, DNA fag dihapus dan memasuki siklus litik
Siklus Replikasi pada Virus Hewan
Virus yang menginfeksi organisme multiseluler seperti binatang tertentu tidak hanya pada
organisme tertentu, tetapi juga pada sel tertentu atau jenis jaringan. Hal ini dikenal sebagai
tropisme jaringan dari virus, dan karena disebabkan oleh penempelan yang terjadi melalui
reseptor spesifik pada permukaan sel inang.
Siklus pertumbuhan virus hewan memiliki tahap utama yang sama seperti yang dijelaskan
untuk bakteriofag (gambar 10.7), tetapi mungkin berbeda banyak baik dalam beberapa
penjelasan. Sebagian besar variasi ini adalah refleksi dari perbedaan dalam struktur antara
bakteri dan hewan sel inang.
Adsorbsi dan Penetrasi
Virus hewan tidak memiliki struktur kepala dan ekor fag, sehingga metode penempelan virus
berbeda-beda. Interaksi spesifik diantara reseptor yang dibuat melalui beberapa komponen

kapsid, atau dalam pembungkus selubung virus., dengan sturktur yang spesifik seperti
tonjolan (peplomers). Tempat penempelan virus sering diblokir oleh molekul antibodi sel
inang, namun beberapa virus (misalnya rhinovirus) berhasil mengatasinya dengan memiliki
tempat yang terletak paling dalam sehingga tidak dapat diakses oleh antibodi.
Sedangkan bakteriofag yang menginjeksi komponen asam nukleatnya dari luar, proses virus
hewan lebih kompleks, suatu kenyataan yang tercermin dalam waktu yang dibutuhkan untuk
penyelesaian proses replikasi. virus Hewan tidak harus menghadapi suatu dinding sel yang
tebal, dan dalam kasus seperti ini banyak virion diinternalisasikan. Hal ini memerlukan
langkah tambahan dimana prosesnya yang tidak dilapisi oleh enzim sel inangnya. Banyak
virus hewan yang memiliki selubung pembungkus; virus tersebut dibawa ke dalam sel baik
secara peleburan dengan membran sel, atau secara endositosis (Gambar 10.12). Sementara
beberapa jenis yang tidak terbungkus hanya menghasilkan komponen nukleat ke dalam
sitoplasma, sedangkan yang lain memerlukan tambahan bahwa virus yang dikodekan oleh
enzim diperkenalkan untuk memastikan replikasi berhasil dengan baik.

Tonjolan
Peleburan selubung
pembungkus dengan
membran sel inang

Virus yang
diambil dan
dikelilingi oleh
membran sel
untuk
membentuk

Pelepasan
nukleokapsid ke dalam

Peleburan
dengan
endosom

pH rendah dalam
endosom yang
disebabkan
peleburan
pembungkus viral
dengan membran
endosomal dan
mengeluarkan
nukleokapsid

Gambar 10.12 Selubung virus memasuiku sel inang dengan cara peleburan atau endositosis,
(1) peleburan diantara selubung pembungkus virus dan membran sel inang menghasilkan
suatu pelepasan nukleokapsid ke dalam sel. Peleburan tergantung pada interaksi antara
tonjolan dalam selubung pembungkus dan reseptor permukaan tertentu . (b) partikel virus
yang terikat pada membran plasma diinternalisasikan oleh endositosis.
Pengasamandalamendosommemungkinkanpelepasannukleokapsid ke dalam sel.

Replikasi (Virus DNA)


DNApada sel hewan, tidak sepertibakteri, virus terkompartementalisasi dengan suatu inti sel,
dan dalam hal ini terjadi replikasi dan transkripsi pada virus DNA yang terjadi secara
umum*. RNA messenger kemudian melewati ribosom dalam sitoplasma untuk melakukan
translasi (Gambar 10.13). dalam hal ini virus dengan suatu genom ssDNA, suatu untaian
ganda intermediet terbentuk, yang berfungsi sebagai template untuk sintesis mRNA.
*Poxivirus merupakan suatu pengecualian. Baik replikasi dan perakitan yang terjadi di dalam
siotoplasma.

Partikel
virus
baru

Protei
n
kapsi

Sel
inang

Sel inang RNA


polimerase
Virus DNA
polimerase

Gambar 10.13 Replikasi dalam birus dsDNA. Replikasi virus DNA dan transkripsi menjadi
mRNA mengambil bagian dalam nukleus pada sel inang. mRNA kemudian melewatinya ke

dalam sitoplasma, dimana terjadi sintesis protein pada ribosom. Protein kapsid menghasilkan
kembali inti sel untuk dirakit kembali ke dalam partikel virus yang baru. Sintesis DNA
polimerase yang baru . Juga kembali menuju ke nukleus, untuk selanjutnya melakukan
replikasi DNA. Diambil dari Hardy; Mikrobiologi mansia, Taylor dan Fracir, 2002.
Diterbitkan dengan izin Penerbit Thomson.
Perakitan
Hasil translasi pada akhirnya kembali ke inti sel untuk dirakit menjadi partikel virus baru.
Pelepasan
Virus yang tidak terbungkus biasanya dihasilkan secara lisispada
sel inang. Dalam kasus ini, selubung pembungkus terbentuk,
menghasilkan tahapan selanjutnya. Sel inang membran plasma
dimodifikasi dengan penyisipan protein virus yang dikodekan,
sebelum khirnya menelan partikel virus dan pelepasan secara
proses tunas.Hal ini dapat dilihat sebagai dasar kebalikan dari
proses internalisasi dengan peleburan(Gambar 10.12a).

virus
Herpes
merupakan
suatu
keadaan yang tidak
biasa
dalam
melepaskan selubung
pembungkus dari inti
sel,
daripada

Untaian positif Virus


RNA

Sel
inang

Partikel
virus baru
Protei
n
kapsi

Untaian RNA
Untaian RNA
template
RNA
polimerase
virus

Gambar 10.14 Replikasi pada untaian RNA virus sense tunggal (+). Pada saat memasuki sel
genom ssRNA senses (+) dapat bertindak secara langsung sebaga mRN, secara langsung
mensintesis protein kapsiddan RNA polimerase. Pada kondisi ini, replikasi terjadi sendiri,
kemudian dikonversikan pertama kali dalam suatu ssRNA sense intermediate (Semua tahapan

mengambil tempat dari luar inti sel. Dari Hardy; SP: mikrobiologi manusia, Taylor dan
Francis, 2002. Diterbitkan degan izin penerbit Thomson.

Replikasi Virus RNA


Siklus pertumbuhan virus hewan danFag telah dijelaskan sampai sejauh ini yang semuanya
terlibat dalam untaian ganda genom virus. Seperti yang telah Anda ingat pada awal bab ini,
bagaimanapun , banyak virus mengandung RNA tidak hanya DNA saja yang dijadikan
sebagai materi genetik dan kamu sekarang perlu mempertimbangkan secara singkat
bagaimana siklus replikasi virus yang lengkap.
Replikasi virus RNA terjadi dalam sitoplasma sel inang; tergantung pada apakah RNA
tunggal atau rantai ganda, dan sense (+) atau (-), rincian berbeda. Genom dari suatu untaian
tunggal sense (+) berfungsi secara langsung sebagai suatu molekul mRNA, yang
menghasilkan suatu poliprotein yang besar, dimana kemudian membelah menjadi berbagai
struktur dan protein fungsional virus. Agar RNA sense (+) menjadi tereplikasi, suatu untaian
sense lengkap (-) harus dibuat, yang bertindak sebagai template untuk menghasilkan
tindakan pertamanya sebagai template untuk menginformasikan urutan komplementer
olehRNApolimerasesecara viraldikodekan. Sense RNA (+) juga membentuk dua fungsi: (i)
untuk bertindak sebagai mRNA dan mengalami translasi ke dalam berbagai protein yang
bervariasi, dan (ii) untuk bertindak sebagai template yang menghasilkan genom lebih pada
sense RNA (-) (gambar 10.15).

Untaian negatif
RNA virus

Sel
inang

protein
kapsid&

Partikel
virus

Untaian
Untaian
RNA

RNA yang bergantung pada


RNA polimerase
Gambar 10.15 Replikasi pada untaian sense tunggal virus RNA (-). Sebelumnya dapat
berfungsi sebagai mRNA, ssRNA senses (-) harus dikonversikan menjadi pelengkap urutan
sense (+). Keduanya berfungsi sebagai mRN dan sebagai template untuk menghasilkan suatu
genom ssRNA sense yang baru (-). Dari Hardy. SP: mikrobiologi manusia, Taylor dan
Francis, 2002, diterbitan dengan izin penerbit Thomson.
Untaian ganda Virus RNA semuanya tersegmentasi. Virus membentuk pemisahan mRNA
pada setiap protein dengan transkripsi pada untaian genomnya (-). Untk setiap translasi nya,
da pada akhirnya membenty suatu agregat (partikel subviral) dengan protein yang spesifik,
dimana virus tersebut bertindak sebagai template untuk mensintesis suatu untaian ganda
genom RNA, yang siap untuk disatukan ke dalam suatu artikel virus baru.
Kedua yang terakhir, sedikit rumit, varasi pada siklus replikasi virus melibatkan enzim
transkriptase reverse, pada awalnyaditemukan pada tahun 1970 (lihat kotak 10.3).

Tabel 10.3 Enzim yang melanggar peraturan.


Penemuan pada tahun 1970 pada suatu enzim dapat dikonversiknan pada suatu RNA
template dalam DNA yang menyebabkan kejutan yang hebat dalam dunia sains. Tindakan
enzim transkriptase reverse atau RNA tergantung pada DNA polimerase yang dimulai dengan
suatu pengecualian pada biologi molekuler sentral dogm (lihat bab 11) hal ini direvisi
membentuk hal yang mewakili:

(Panah melingkar ke kiri menunjukkan kemampuan DNA untuk direplikasi, panah putusputus mewakili tindakan transcriptase reverse

Retrovirus
Virus ini, yang meliputi beberapa patogen manusia yang
penting, mempunyai suatu genom yang terdapat sebagai RNA Penggabungan DNA retroviral ke
dan DNA pada bagian yang berbeda pada siklus replikasi. dalam genom inang sejajar
Retrovirus memiliki genom ss-RNA sense (+) yang unik dari dengan integrasi terlihatdalam
pertumbuhan
fage
beberapa virus yang diploid. Dua kopian genom berfungsi siklus
menjadi template untuk enzim transkriptase reverse untuk lisogenik. Tidak seperti profag,
menghasilkan suatu untaian DNA yang lengkap. Komponen namun, provirus tidak mampu
RNA yang hibrid kemudian didegradasi, mengikuti suatu dari terpisah jauh dari kromosom
sintesis untaian kedua DNA. DNA proviral melalui inti sel, inang.
dimana terintegrasi ke dalam sel inang genom (gambar 10.16).
transkripsi yang menjadi suatu sel inang RNA polimerase
menghasilkan mRNA, dimana ditranslasikan ke dalam partikel
protein dan juga menjadi sebagai materi genom untuk partikel retrovirus baru.Human
immunodeciency virus (HIV), merupakan agen kausatif yang memerlukan agen penyebab
sindrom defisiensi imun, merupakan contoh penting dari retrovirus.

Sel

Partikel
virus
baru

Untaian RNA
Untaian RNA +

Kromosom sel
inang dengan
provirus yang
terintegrasi

Gambar 10.16 replikasi dalam retrovirus. Enzim reverse transkriptase (enzim transkriptase
balik) membuat suatu kopian DNA untaian RNA tunggal genom retrovirus. hal ini kemudian
diintegrasikan ke dalam genom sel inang dan ditranskripsi oleh mesin seluler. Messenger
RNA keluar ke ribosom, dimana terjemahan ke protein virus mantel dan transcriptase lebih
banyak sebaliknya terjadi. Kemasan retrovirus terjadi di luar inti
Virus Hepadna
Pada dua family virus (virus hepadna dan virus caulimovirus), fase DNA dan RNA
mengalami kembali fase alternatif, tetapi virus ini urutan dari penampilannya dibalik,
sehingga genom dsDNA diproduksi. Hal ini dimungkinkan oleh enzim transcriptase reverse
terjadi pada tahap berikutnya, selama pendewasaan partikel virus.
Siklus Replikasi pada Virus Tanaman
Infeksi virus tanaman dapat disebarkan oleh salah satu dari dua jalur utama. Transmisi
horizontal adalah pengenalan virus dari luar, dan biasanya melibatkan vektor serangga, yang
menggunakan mulut mereka untuk menembus dinding sel dan memasukkan virus. Bentuk
penularan juga dapat terjadi dengan menggunakan benda mati seperti peralatan kebun. Dalam
transmisi vertikal, virus ditularkan dari tanaman untuk keturunannya, baik dengan propagasi
aseksual atau melalui biji yang terinfeksi.
Mayoritas virus tanaman yang ditemukan sejauh ini memiliki genom RNA, meskipun bentuk
DNA seperti caulimovirus (lihat di atas) juga dikenal. Replikasi mirip virus hewan tersebut,
tergantung pada sifat dari genom virus. Infeksi hanya menjadi signifikan jika menyebar ke

seluruh tanaman (infeksi sistemik). Partikel virus berpindah melalui plasmodesmata, secara
alami terjadi dalam utaian sitoplasma yang berdekatan dengan sel tanaman.
Viroid
Pada tahun 1971. Theodor Diener mengusukan suatu nama
viroid untuk menggambarkan suatu penemuan patogen baru Suatu viroid pada suatu
pada kentag. Viroid seringkali berukuran kecl dibandingkan patogen tanaman terdiri dari
virus, dan terdiri hanya darilingkaran kecil ssRNA yang hanya ssRNA dan tidak
mengandung beberapa nukleotida basa sebanyak 300-400 dan dikodekan untuk suatu
tidak ada pelindung protein. Enzim di dalam inti sel inangnya protein yang dihasilkan
digunakan untuk mereplikasi RNA, yang mana tidak terlihat
untuk ditranslasikan ke dalam protein. Urutan homologi yang
ckup besar menunjukkan bhawa viroid muncul dari unsur yang berpindah (lihat pada bab 11),
segmen DNA yang mampu bergerak di dalam atau di antara molekul DNA. Sampai saat ini,
viroid hanya ditemukan pad atumbuhan, dimana dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Prion
Suatu Prion (=proteinaceous =
Satu dekade setelah penemuan viroid, Stanley Prusiner
partikel menular) merupakan
membuat pernyataan mengejutkan yang disebut dengan
suatu protein yang
Scrapie, penyakit neurodegenerative pada domba, yang
bertanggungjawab
disebabkan oleh suatu agen yang mereplikasikan diri
mereplikasikan dirinya sendiri
terdiri hanya dari protein. Dia menyebut jenis entitasprion,
untuk berbagai gangguan neuro
dan di tahun-tahun yang diikuti, lainnya, terkait, penyakit
degeneratif pada manusia dan
manusia dan hewan yang terbukti memiliki penyebab yang
mamalia.
sama.
Hal ini
termasuk
Bovine Spongiform
Encephalopathy (BSE, 'penyakit sapi gila') dan setara
manusia, penyakit Creutzfeldt-Jakob.
Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak mengandung asam nukleat mampu mereplikasi
sendiri? Ide Prusiner tampaknya bertentangan dengan aturan dasar biologi. Tampaknya
prion dapat berubah versi protein hewani yang normal, dan entah bagaimana memiliki
kemampuan untuk menyebabkan versi normal melipat kembali dirinya menjadi bentuk
mutan. Dengan demikian prion memperbanyak diri sendiri. Semua penyakit prion yang
dijelaskan sejauh ini adalah kondisi yang sama, yang melibatkan degenerasi jaringan otak.
Pengkulturan Virus
Sementara pertumbuhan bakteri di laboratori umumnya menuntut hanya pasokan
nutrisi yang relevan dan kondisi lingkungan yang sesuai, virus mempertahankan
menyediakan tantangan khusus. Pikirkan kembali ke awal bab ini, dan Anda akan menyadari
mengapa demikian; semua virus adalah parasit intraseluler obligat, dan karena itu
membutuhkan sel inang yang sesuai jika mereka ingin bereplikasi.
Misalnya Bakteriofag yang tumbuh dalam bakteri yang dikulturkan. Persediaan kultur fag
disusun dengan memungkinkan fag untuk menginfeksi suatu pengkulturan kaldu dari bakteri
yang sesuai. Propagasi yang berhasil dari hasil fag dalam pembersihan turbiditas kultur;
sentrifugasi menghilangkan bakteri yang tersisa, meninggalkan partikel fag dalam
supernatan. Ukuran kuantitatif fag, yang dikenal sebagai titer, dapat diperoleh dengan
mencampur mereka dengan jumlah yang jauh lebih besar dari bakteri dan imobilisasi
(mendiamkan) mereka dalam agar. Karena jumlah mereka, bakteri tumbuh sebagai rumput
konfluen. Beberapa menjadi terinfeksi oleh fag, dan kemudian partikel virus baru dihasilkan
setelah pemecahan (lisis) pada sel inangnya, mereka menginfeksi beberapa sel inang. Karena
mereka immobilising (mendiamkan)dalam agar, fag hanya mampu untuk menginfeksi sel

inang yang berda didaerah sekitarnya. Seperti sel-sel semakin banyak di daerah yang sama ini
segaris, wilayah pembersihan yang disebut plak muncul di halaman bakteri(Gambar 10,17).
Kuantifikasi didasarkan pada asumsi bahwa setiap plak yang terlihat muncul dari infeksi oleh
fag partikel tunggal. Dengan demikian, kita berbicara tentang unit pembentukan plak (PFU:
lihat Kotak10.4).

Suspensi
bakteriofa
g

Pencampura
n agar

Dituangka
n ke dalam
piring agar

Plak

Gambar 10.17 Alat tes plak untuk bakteriofag. Jumlah partikel dalam persiapan fag dapat
diperkirakan dengan menggunakan alat tes plak. Fag dan bakteri dicampur dalam agar lembut
kemudian dituangkan ke permukaan piring agar. Bakteri tumbuh untuk mengembangkan
suatu rumput konfluen, dan adanya fag ditunjukkan oleh daerah kliring(plak) di mana bakteri
telah segaris
Kotak 10.4 Penghitungan Plak
Jumlah pembentukan unit plak (pfu) per milimeter suspensi dapat dihitung oleh dengan
menggunakan perhituangan plak dengan rumus sebagai berikut:

pfu/ ml=

nomor plak
faktor larutan x volume(ml)

Misal 100l dalam suatu 10.000 laturan yang memberikan 53 koloni ketika dilapisi dari luar.
Kemudian suspensi aslinya dihitung sebagai berikut:

53
=5.3 x 106 pfu/ml
10 x 0.1
4

Virus hewan digunkana untuk memperabnyak diri dalam sel inang hewan; jelas ada
keterbatasan untuk ini, paling tidak ketika sel inang itu adalah manusia! Salah satu terobosan
besar di bidang budidaya virus dibuat pada tahun 1931 ketika ditunjukkan oleh Alice
Woodruff dan Ernest Goodpasture bahwa telur ayam yang dibuahi bisa berfungsi sebagai sel
inang untuk sejumlah hewan seperti yang menyebabkan penyakit rabies dan influenza. Telah
dikatakan bahwa embrio ayam dapat melakukan budaya virus yang bagaimana agar-agar
lakukan untuk pertumbuhan bakteri. Tergantung pada virus yang bersangkutan, inokulasi
dapat dibuat menjadi embrio berkembang sendiri atau ke salah satu dari berbagai membran
dan rongga seperti membran chorioallantoicatau rongga allantois (gambar 10.18). Propagasi
viral ditunjukkan dengan kematian embrio, atau tampilan lesi pada membran.
cangkan
g

Rongga

Cangkang
membran
Kantung
albumin

Kantu
ng
Membran
korio alantois

Rongga
alantois

Kantung
kuning
telur

Gambar 10.18 pengkulturan virus hewan dalam embriotelur. Cirus seperti virus influenza
yang dikulturkan lebih efektif dalam telur dibandingkan dalam sel. Membran Korioalantois
membagikan sel epitel yang bertindak sebagai sel inang bagi virus.
Padatahun 1950. Teknik kultur sel yang maju, sebagian berkat ketersediaan luas antibiotik,
yang membuat pengendalian pencemaran bakteri jauh lebih mudah dicapai. Sel biasanya
ditanam sebagai lapisan tunggal dalam labu kultur jaringan yang mengandung pertumbuhan
media cair yag sesuai. Perluakuan dengan protease tripsin melarutkan jaringan ikat matriks
antara sel-sel, yang memungkinkan mereka untuk dipanen, dan digunakan untuk benih baru
budaya. Perubahan dalam morfologi sel, diketahui secara umum sebagai efek sitopatik,
merupakan indikator injeksi virus dan mungkin digunakan secara diagnostik dalam
pengidentifikasian jenis virus tertentu.
Birus tanaman membutuhkan penghalang lebih yang disediakan oleh dinding sel selulosa
pada tanaman; di alam hal ini sering dicapai dengan bagian mulut yang menusuk dari vektor
serangga atau dengan memasukkan bidang jaringan yang rusak. Secara eksperimen, virus
dapat ditularkan ke sel inang yang sesuai dengan menggosok permukaan daun dengan virus
bersama-sama dengan abrasif ringan untuk membuat luka kecil.

Penyakit Virus pada Manusia


Virus bertanggungjawab karena menyebabkan beberapa infeksi penyakit yang serius pad
amanusia. Beberapa contoh yang penting dirincikan pada tabel 10.3 dan beberapa dibahas
dalam rincian singkat di bawah ini.
Tabel 10.3 beberapa virus penting pada manusia
Virus
Adenovirus

Family
Adenoviridae

Jenis genom
dsDNA

Herpesviridae
Picornaviridae
Herpesviridae
Herpesviridae

Penyakit
Menginfeksi
pernapasan
Demam
Haemorhagik
Infeksi mononukleus
Hepatitis A
Sariawan
Kutil kelamin

Virus Ebola

Filoviridae

Virus Epstein Barr


Hepatovirus A
Herpes simplex tipe I
Herpes simplex tipe
II
HIV
Human
papilomavirus
Virus influenza
Virus lassa
Morbilivirus
Virus norkwalk
Paramyxovirus
Virus polio
Virus rabies
Rhinovirus
Rotavirus
Virus Rubella
Virus cacar
Zoster varisela

Retroviridae
Papoviridae

AIDS
Kutil

ssRNA (+) *
dsDNA

ssRNA(-)
dsDNA
ssRNA(+)
dsDNA
dsDNA

Orthomyxoviridae
Arenaviridae
Paramyxoviridae
Calciviridae
Paramyxoviridae
Picornaviridae
Rhabdoviridae
Picornaviridae
Reoviridae
Togaviridae
Poxviridae
Herpesviridae

Influenza
ssRNA(-)
Demam lassa
ssRNA(-)
Campak
ssRNA(-)
Radang usus
ssRNA(+)
Penyakit gondok
ssRNA(-)
Poliomyelitis
ssRNA(+)
Rabies
ssRNA(-)
Demam
ssRNA(+)
Radang usus
dsRNA
Campak
ssRNA(+)
Cacar
dsDNA
Cacar air, herpes
dsDNA
zoster
Virus demam kuning Flaviridae
Demam kuning
ssRNA(+)
*genom HIV, seperti retorvirus lainnya juga mempunyai suatu fase DNA, lihat padateks.
Virus Influenza melalui Udara
Influenza merupakan suatu penyakit pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh
kelompok Orthomyx oviridae. Transmisi terjadi sebagai hasil tetesan respirasi udara yang
masuk dari individu yang terinfeksi. Infeksi oleh virus influenza merupakan hasil dari
hancurnya sel epitel pada saluran pernafasan, meninggalkan sel inang terbuka untuk infeksi
kedua dari bakteri seperti Haemophilus influenzae dan Staphylococcus aureus. Hal ini
merupakan infeksi kedua yang bertanggung jawab atas sebagian besar kematian yang
disebabkan oleh influenza. Umumnya, penderita dari influenza sembuh sepenuhnya dalam
waktu 10-14 hari, tetapi beberapa orang, terutama orang tua dan mereka yang memiliki

masalah kesehatan kronis, dapat berkembang menjadi penyakit komplikasi seperti radang
paru-paru.
Virus influenza memliki suatu selubung pembungkus dan suatu segmentasi genom ssRNA
sense (-) (Gambar 10.19). pembungkusnya terdiri mengandung dua jenis tonjolan protein,
setiap komponennya memiliki peranan penting dalam infektivitas virus:
1. Neuraminidase merupakan suatu enzim yang dihidrolisis oleh asam sialik, sehingga
membantu pelepasan partikel virus
2. Haemagglutinin memungkinkan virus untuk melampirkan sel inang dengan mengikat
epitel sialik asam residu. Dan juga membantu dalam peleburan pembungkus virus dengan
membran sel.
Neuraminidase
pembungku
s

Hamegglutinin

Segmentasi genom ssRNA

Gambar 10.19 virus Influenza. Segmen RNA disekitar protein, membentuk suatu
nukleokapsid, dan dikeliligi oleh protein. Dua jenis tonjoloan membantu dalam penempelan
dan penetrasi virus ke dalam sel inang.
Kedua jenis tonjolan sebagai antigen, protein yang distimulasikan untuk menghasilkan
antibodidalams el ianng. Satu alasan bahwa influenza seperti suatu virus yang berhasil yang
dimana antigen N dan H yang cenderung mengalami perubahan sehingga virus antigen
ditandai' menjadi berubah, dan kekebalan sel inang dihindari. Strain yang berbeda dari di
virus influenza diberi dengan kode yang varian dari antigen yang mereka bawa; strain yang
menyebabkan pandemik pad atahun 1918, seperti contoh, N1H1m keika satu yang
bertanggungjawab pada menyebarnya virus flu burung di Asia Tenggara tahun 2003/2004
yaitu H5N1.
Transmisi oleh Air atau Makanan; Virus Radang Usus
Setiap orang harus mengenal dengan gejala gastroentrtir (radang usus), diarrhoea, sakit
kepala dan demam. Penyebabnya oleh gastroentritis yang mungkin disebabkan bakteri (misal
Salmonella) atau virus. Penyebab utama virus membentuk rotavirus pad amanusia, dimana
secara vbersama-sama dengan virus Norkwalk, bertanggungjawab secara umum pada kasus

yang dilaporkan. Penyakit rotavirus mempunya suatu segmnetasi,


genom dsRNA dan suatu virus yang tidak terbungkus.

Rota = sebuah roda",

menggambarkan
penampilan yang khas
dari jenis virus.

Virus yang berbahaya dalam usus (villi) pada bagian bawah pada
slauran intestinal, menyebabkan pengangkutan ion normal, dan
menyebabkan hilangnya air. Transmisi gastroentritis melalui rotasi
antara mulut dan faces, aitu dengan konsumsi makanan atau air
yang terkontaminasi oleh faeces. Praktik kebersihan yang buruk atau pasokan air yang
terkontaminasi biasanya menjadi penyebab untuk kelangsungan siklus. Biasanya, kondisi ini
membatasi diri, berlangsung hanya beberapa hari; pengobatan normal adalah terapi
penggantian fluida. Di daerah di mana pasokan air bersih tidak tersedia, namun,hasilnya bisa
jauh lebih serius. Di Dunia Ketiga, kondisi adalah pembunuh utama; itu adalah penyebab
utama kematian bayi, dan menyebabkan lima sampai sepuluh juta kematian per tahun
Penyakit Laten dan Infeksi Virus yang lambat (Persistensi)
Setelah infeksi telah berlalu, virus kadangkala menetap dalam tubuh untuk waktu yang lama,
sehingga tidak membahayakan. Mungkin diaktifkan, namun, oleh adanya stres atau
perubahan kesehatan individu, sehingga akan memulai suatu penyakit. Contoh infeksi virus
laten terkenal ini adalah luka dan herpes zoster dingin,baik yang disebabkan oleh anggota
keluarga virus herpes. Sebuah virus semacam ini akan tetap menjadi suatu individu sepanjang
hidupnya.
Sedangkan infeksi virus laten ditandai oleh peningkatan mendadak dalam produksi virus,
pada persisten(lambat) infeksi-infeksi meningkat lebih bertahap, membangun selama
beberapa tahun. Infeksi tersebut memiliki efek serius pada sel target, dan umumnya fatal.
Contohnya adalah virus campak, yang dapat kembali mewujudkan sendiri setelah bertahuntahun dalam kondisi langka yang disebut sub akut sclerosingpanencephalitis.
Virus dan Kanker
Sejumlah agen kimia dan fisika diketahui memicu proliferasi
Suatu
onkogen
tidak terkendali pada ciri sel kanker, tapi dalam dua dekade merupakan suatu gen
terakhir telah menjadi jelas bahwa setidaknya enam jenis yang
berasosiasi
kanker manusia dapat diinduksi secara viral.Bagaimanasel-sel dengan
pengubahan
kehilangan kontroldivisi mereka, dan bagaimana virus mampu suatu sel pada suatu
membawaini sekitar? Sekarang diketahui bahwa sel mengandung gen yang disebut onkogen
proto, terlibat dalam replikasi sel normal. Mereka biasanya di bawah kendali lainnya, gen
supresor tumor, tetapi ini dapat diblokir oleh protein yang disandikan oleh virus DNA
tertentu. Ketika hal ini terjadi, fungsi onkogen proto sebagai onkogen, dan pembelahan sel
dibiarkan berlanjut tidak terkendali. Retrovirus memiliki mekanisme yang berbeda; mereka
membawanya sendiri, diubah, versi onkogen seluler, yang menjadi terintegrasi ke dalam
genom inang dan menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Retrovirus onkogen
diduga diperoleh berasal dari manusia (atau hewan) genom, dengan transkrip RNA menjadi
dimasukkan ke dalam partikel retrovirus.

Penyakit Virus yang Muncul dan Kembali


Sebagai suatu hasil perubahan pada patogen atau dalam populasi sel inang, secara lengkap
penyakit infeksi yang baru dapat terjadi, atau mungkin mengalami penimbulan kembali pada
penyakit sebelumnya yang dianggap menjadi tidak terkontrol. Hal ini secara respektif,
kemunculan dan infeksi yang muncul kembali. Pola perubahan populasi manusia berubah
seiraing dengan tanggungjawabnya pada perkembangan infeksi, dengan penyebaran cacar
pada koloni di Eropa yang menjadi contoh terkenal . kemunculan sesring mungkin infeksi
virus adlah zoonotik pada slinya. Yang diana mereka mentransferkannya ke dalam tubuh
manusia sebagai reservoir. HIV, sebagai contohnya, meskipun berkembang membentuk suatu
virus yang sama ditemukan dalam monyet.
Meskipun demikian, terdapat pengingat yang tajam yang selalu hadir ancaman penyakit virus
yang muncul, dalam bentuk penyakit virus baru yang disebut sindrom pernafasan akut parah
(SARS). Wabah penyakit ini dimulai di provinsi Guangdong di China selatan pada November
2002. Pihak berwenang China dikritik karena tidak melaporkan tingkat wabah sampai
beberapa bulan kemudian, dimana kasus waktu yang muncul di banyak bagian dunia,
menggambarkan perannya dalam peningkatan perjalanan antar benua dalam penyebaran
penyakit tersebut. Pada puncaknya yaitu pada bulan April 2003, lebih dari 1000 kasus baru
SARS yang dilaporkan per minggu. Penyebab SARS dengan cepat diidentifikasi sebagai
anggota Coronaviridae(virus RNA untai tunggal). Ditularkan oleh butiran dari batuk dan
bersin, yang menghasilkan gejala seperti flu, namun memiliki angka kematian sekitar 4%.
Tindakan kesehatan masyarakat berlaku, termasuk pembatasan dalam penerbangan ke dan
dari daerah yang terkena penyebaran virus, dan jumlah kasus yang dilaporkan mulai mereda.
Pada bulan Juli 2003,Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan bahwa negara akhir,
Taiwan, telah dihapus dari daftar negara-negara SARS yang terinfeksi. Pada saat ini, SARS
telah merenggut lebih dari 800 nyawa, terutama di China dan HongKong, namun terjadi
jumlah kematian yang terjadi di sebuah lapangan Kanada dan Afrika Selatan. Meskipun
tampaknya terkendali, kasus isolasi dari infeksi SARS muncul pada akhir 2003, dan awal
tahun 2004, yang sebagian besar dapat dikaitkan dengan pekerja laboratorium. Pada bulan
Januari 2004, pemerintah Cina mengumumkan bahwa vaksin SARS akan memasuki uji klinis
manusia.
Vaksin Virus
Cacar, setelah bencana ini, pada tahun 1979 penyakit pertama menular akan dinyatakan
berhasil diberantas. Vaksinasi merupakan strategi pencegahan yang bertujuan untuk
merangsang sistem kekebalan tubuh inang, dengan mengekspos ke agen infeksi tersebut
dalam bentuk tidak aktif atau tidak lengkap.
Terdapat empat kelas utama vaksin virus:
1. Dilemahka n(= 'melemahkan') vaksin yang berisi virus 'hidup', tetapi memiliki lebih
patogenisitas telah dikurangi secara signifikan. Tujuannya untuk meniru infeksi guna

merangsang respon kekebalan tubuh, namun tanpa membawa penyakit itu sendiri.
Suatu contoh yang terkenal dari jenis vaksin adalah vaksin polio yang dikembangkan
oleh Albert Sabin pada tahun 1960. Virus Cacar sapi yang digunakan oleh Edward
Jenner dalam penelitiannya yang membuat vaksinasi pada akhir abad ke-18 ini
merupakan suatu versi untuk melemahkan virus cacar secara alami.
2. Vaksinin aktif berisi virus yang telah terkena agen denaturasi seperti formalin. Hal ini
mempunyai efek membuat non-infeksi, sementara pada saat yang sama
mempertahankan kemampuan mereka untuk merangsang respon kekebalan tubuh.
Vaksin ini ditujukan untuk mengobati influenza.
3. Vaksin sub unit yang bergantung pada rangsangan suatu respon kekebalan dengan
hanya sebagian virus. Karena virus lengkap tidak diperkenalkan, tidak ada
kemungkinan infeksi, sehingga vaksin jenis ini memiliki daya tarik yang sangat aman.
Vaksin subunit sering dibuat dengan menggunakan teknologi DNA rekombinan (Bab
12); contoh pertama yang disetujui adalah untuk digunakan pada manusia berupa
vaksin hepatitis B, yang terdiri dari bagian lapisan protein virus yang dihasilkan
dalam sel ragi yang direkayasa secara khusus.
4. Vaksin DNA juga dihasilkan dari teknik biologi molekuler. DNA mengkodekan
antigen virus secara langsung untuk menginjeksi ke dalam sel inang, dimana vaksin
tersebut dinyatakan dan memicu respon oleh sistem kekebalan tubuh, vaksin jenis ini
tidak disetujui digunakan bagi manusia.