Anda di halaman 1dari 21

Vitamin K deficiency bleeding

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kecenderungan terjadinya perdarahan akibat gangguan proses koagulasi yang disebabkan oleh
kekurangan vitamin K atau dikenal dengan Vitamin K Deficiency Bleeding (VKDB/PDVK).
Patofisiologinya adalah Vitamin K diperlukan untuk sintesis prokoagulan faktor II, VII, IX dan X
(kompleks protrombin) serta protein C dan S yang berperan sebagai antikoagulan (menghambat proses
pembekuan). Selain itu Vitamin K diperlukan untuk konversi faktor pembekuan tidak aktif menjadi
aktif. Diklasifikasikan menjadi tiga yaitu HDN/PDVK dini, HDN/PDVK klasik, dan HDN/PDVK
lambat

atau

acquired

prothrombin

complex

deficiency (APCD) Secondary

prothrombin

complex(PC) deficiency. yang tidak mendapat vitamin K profilaksis.


Di Amerika Serikat, frekuensi PDVK yang dilaporkan bervariasi antara 0,25-1,7%. Angka
kejadian PDVK ditemukan lebih tinggi pada daerah-daerah yang tidak memberikan profilaksis vitamin
K secara rutin pada bayi baru lahir.
Survei di Jepang menemukan kasus ini pada 1:4.500 bayi, 81% di antaranya ditemukan
komplikasi perdarahan intrakranial, sedangkan di Thailand angka PDVK adalah 1:1.200 bayi.10 Angka
kejadian pada kedua negara ini menurun setelah diperkenalkannya pemberian vitamin K profilaksis
pada semua bayi baru lahir.
Angka kejadian perdarahan intrakranial karena PDVK di Thailand dilaporkan sebanyak 82%
atau 524 kasus dari 641 penderita PDVK, sedangkan di Inggris 10 kasus dari 27 penderita atau sebesar
37%. Sedangkan di India angka kejadian PDVK dilaporkan sebanyak 1 kasus tiap 14.000 bayi yang
tidak mendapat vitamin K profilaksis saat lahir.
Data dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 1990-2000 terdapat 21 kasus PDVK. Tujuh belas kasus (81%)
mengalami komplikasi perdarahan intrakranial dengan angka kematian 19% (Catatan Medik IKARSCM tahun 2000).
PDVK dibedakan dengan gangguan hemostasis lain misalnya gangguan fungsi hati. Pencegahan
PDVK Dapat dilakukan dengan pemberian vitamin K Profilaksis, Vitamin K1 pada bayi baru lahir 1
Page 1

Vitamin K deficiency bleeding

mg im (dosis tunggal) atau per oral 3 kali @ 2 mg pada waktu bayi baru lahir, umur 3-7 hari dan umur
1-2 tahun. Ibu hamil yang mendapat pengobatan antikonvulsan mendapat profilaksis vitamin K1 5
mg/hari selama trimester ketiga atau 10 mg im pada 24 jam sebelum melahirkan. Selanjutnya bayinya
diberi vitamin K1 1 mg im dan diulang 24 jam kemudian. Pengobatan PDVK Vitamin K1 dosis 1-2
mg/hari selama 1-3 hari Fresh frozen plasma (FFP) dosis 10-15 ml/kg.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari PDVK ?
2. Apakah Sebab sebab terjadinya PDVK ?
3. Bagaimana Proses terjadinya PDVK ?
4. Bagaimanakah Manifestasi klinis dan Komplikasi dari PDVK ?
5. Bagaimanakah Pemeriksaan diagnostik untuk PDVK ?
6. Bagimanakah penatalaksanaan secara medis untuk PDVK ?
7. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan yang sebaiknya dilakukan untuk PDVK?
1.3. Tujuan Pembahasan
1. Menjelaskan pengertian dari PDVK
2. Untuk mengetahui Sebab sebab terjadinya PDVK
3. Menjelaskan Proses terjadinya PDVK
4. Dapat mengetahui Manifestasi klinis dan Komplikasi dari PDVK
5. Dapat menjelaskan Pemeriksaan diagnostik untuk PDVK
6. Dapat mengetahui penatalaksanaan secara medis untuk PDVK
7. Dapat memahami dan menerapkan Asuhan Keperawatan yang sebaiknya dilakukan untuk
PDVK

BAB II
Ilustrasi Kasus
2.1.

Identitas Pasien
Nama Pasien
Jenis Kelamin
Usia
Tanggal Masuk
Alamat
Suku

: An Sahir
: Laki-laki
: 2 bln
: 03-05-2015
: Sp II Guntung
:
Page 2

Vitamin K deficiency bleeding

Pekerjaan
Status Pernikahan

::Anamnesis

2.2.
1. Keluhan Utama

Demam dialami OS 4 hari ini


2. Riwayat Penyakit Sekarang
OS kiriman RSUD Guntung, Sejak 4 hari yang lalu OS mengluh demam, Kejang berulang (+) 2
hari yang lalu, hari ini kejang 1x, kejang kedua anggota gerak (+), muntah (+), BAB menceret (+) 3
hari yang lalu, cairan > ampas, hari ini mencret (-). OS tampak pucat menagis melengking, muntahmuntah, ubun-ubun tampak menonjol.
OS lahir dirumah dibantu oleh dukun, dan tidak mendapat suntik vit K saat lahir. Riwayat
perdarahan tali pusat, hidung, mulut, telinga, saluran kemih atau anus (-). Memar tanpa sebab ( bukan
karena terantuk benda )(-). OS hanya minum ASI (+), dirumah OS tidur dengan bantuan ayunan.
3.
4.
2.3.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat mengkonsumsi obat antikejang, obat antituberkulosis, obat antihipertensi (-)
Keluhan yang sama (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga tidak di temukan keluhan yang sama dengan pasien,
Pemeriksaan Fisik
PEMERIKSAAN FISIK (03 Mei 2015)
Keadaan Umum
Keadaan umum

tampak sakit

Keadaan sakit

sakit berat

Kesadaran

somnollen

Gizi

sedang

Dehidrasi

(-)

Tekanan Darah

- mmHg

Nadi

128 kali per menit, reguler, isi dan tegangan cukup

Pernafasan

40 kali per menit

Suhu

38,9o C
Page 3

Vitamin K deficiency bleeding

Berat Badan

Tinggi Badan :
2.4.

4,3 kg
- cm
Keadaan Spesifik

Kulit
Warna sawo matang, efloresensi (-), pigmentasi normal, ikterus (-), sianosis (-), spider nevi (-), muka
telapak tangan dan kaki pucat (+), pertumbuhan rambut normal.
KGB
Kelenjar getah bening di submandibula, leher, axila, inguinal tidak teraba.
Kepala
Bentuk lonjong, simetris, warna rambut hitam, rambut mudah rontok (-), deformitas (-). Ubun-ubun
menonjol (+).
Mata
Eksophtalmus (-), endophtalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra pucat (+), sklera ikterik
(-), pupil isokor, reflek cahaya (+), pergerakan mata ke segala arah baik, mata cekung (-).

Hidung
Bagian luar hidung tak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan baik, selaput lendir
dalam batas normal, epistaksis (-).
Telinga
Pendengaran baik.
Mulut
Pembesaran tonsil (-), gusi berdarah (-), lidah kering (-), tepi lidah hiperemis (-), lidah tremor (-), atrofi
papil(-), stomatitis(-), rhagaden(-), bau pernapasan khas (-).
Leher
Pembesaran kelenjar thyroid (-), JVP (5-2) cmH2O, hipertrofi musculus sternocleidomastoideus (-),
kaku kuduk(-).
Page 4

Vitamin K deficiency bleeding

Dada
Bentuk dada normal, retraksi (-), nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-).
Paru
Inspeksi

: statis simetris kanan dan kiri, dinamis ka = ki, tidak ada yang tertinggal

Palpasi

: stemfremitus sama pada paru kanan dan kiri

Perkusi

: sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi : vesikuler (+/+) , ronkhi basah kasar (-/-) , wheezing (-/-)


Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: ictus cordis teraba linea axilaris anterior sinistra ICS V

Perkusi

: batas atas ICS II, batas kanan linea parasternalis dextra ICSVI, batas kiri 2 jari medial
garis midklavikula sinistra ICSVI

Auskultasi : HR 128 x/menit, reguler. Murmur (-), punctum maximum di katup mitral.Gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: datar

Palpasi

: lemas, nyeri tekan daerah epigastrium (-), Hepar dan Lien tidak teraba.

Perkusi

: thympani, shifting dullness (-)

Auskultasi : bising usus (+) normal


Genital (Tidak diperiksa)
Ekstremitas
Ekstremitas atas

: gerakan bebas, edema (-), jaringan parut (-), pigmentasi normal, telapak
tangan pucat (+), jari tabuh (-), turgor < 2 detik, sianosis (-).

Page 5

Vitamin K deficiency bleeding

Ekstremitas bawah

: gerakan bebas, jaringan parut (-), pigmentasi normal, telapak kaki pucat (+),
jari tabuh (-), turgor kembali lambat (-), edema pretibia dan pergelangan kaki
(-).

2.5.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium 03 Mei 2015
Hematologi
No
1
2
3
4
5
7
8
9
10

Pemeriksaan
Hemoglobin
Eritrosit
Hematokrit
Leukosit
Laju Endap Darah
Trombosit
Clothing Time
Bleeding Time
GDS

Hasil
3,7 g/dl
11 vol%
22.700/mm3
596.000 / mm3
10
130
111

2. Pemeriksaan Laboratorium 06 Mei 2015


Hematologi
No
1
2
3
4
5
7

2.6.

Pemeriksaan
Hemoglobin
Eritrosit
Hematokrit
Leukosit
Laju Endap Darah
Trombosit

Hasil
9,2 g/dl
25 vol%
12.300/mm3
707.000 / mm3

Diagnosis
Diagnosis Kerja :
Vitamin K deficiency Bleeding
Page 6

Vitamin K deficiency bleeding

2.7.

Rencana Pemeriksaan Lanjutan


-

2.8.

Rencana Pengobatan
- IVFD Nacl 0,9 % 6 gtt/i (macro)
- Parentral
o Vit K1 inj. 1 x 3mg i.v ( 3 hari berturut-turut )
o Fenobarbital 20 mg/kgBB (LD) = 86 mg dalam NaCl 9cc habis dlam 15-30
menit, selanjutnya (MD) = Fenobarbital 5 mg/KgBB = 21,5 mg dalam NaCl 2
dosis - 10,75mg/12jam, dalam Syring Pump.
Paracetamol fls 5cc / 8jam
Ampicillin inj. 215mg/8jam
Gentamicin inj. 21,5mg/12jam
Transfusi FFP 10ccc/KgBB
Transfusi PRC (kebutuhan 125cc)
I - 15cc
II - 40cc
III - 70cc
(selang Transfusi 12 jam )
- Pasang OGT - Diet ASI bertahap mulai 10cc/3jam
- Rawat ICU
Prognosis
Ad Vitam
: Dubia ad Bonam
Ad Functionam : Dubia ad Bonam
Ad sanasionam : Dubia ad Malam
o
o
o
o
o

2.9.

Page 7

Vitamin K deficiency bleeding

BAB III
PEMBAHASAN
1. Penegertian
Perdarahan Devisiensi Vitamin K(PDVK) adalah terjadinya perdarahan spontan atau perdarahan karena
proses lain seperti pengambilan darah vena atau operasi yang disebabkan karena berkurangnya aktivitas
faktor koagulasi yang tergantung vitamin K (faktor II, VII, IX dan X) sedangkan aktivitas faktor
koagulasi yang tidak bergantung pada vitamin K, kadar fibrinogen dan jumlah trombosit masih dalam
batas normal (Sutor dkk 1999). Hal ini dibuktikan bahwa kelainan tersebut akan segera membaik
dengan pemberian vitamin K dan setelah sebab koagulopati lain disingkirkan.
2. Klasifikasi
PDVK dibagi menjadi early, clasiccal dan late berdasarkan pada umur saat kelainan tersebut
bermanifestasi (Sutor dkk 1999, Von Kries 1999).
1. Early VKDB (PDVK dini), timbul pada hari pertama kehidupan. Kelainan ini jarang sekali dan
biasanya terjadi pada bayi dari ibu yang mengkonsumsi obat-obatan yang dapat mengganggu
Page 8

Vitamin K deficiency bleeding

metabolisme vitamin K. Insidens yang dilaporkan atas bayi dari ibu yang tidak mendapat
suplementasi vitamin K adalah antara 6-12% (tinjauan oleh Sutor dkk 1999).
2. Classical VKDB (PDVK klasik), timbul pada hari ke 1 sampai 7 setelah lahir dan lebih sering
terjadi pada bayi yang kondisinya tidak optimal pada waktu lahir atau yang terlambat
mendapatkan suplementasi makanan. Insidens dilaporkan bervariasi, antara 0 sampai 0,44%
kelahiran. Tidak adanya angka rata-rata kejadian PDVK klasik yang pasti karena jarang
ditemukan kriteria diagnosis yang menyeluruh.
3. Late VKDB (PDVK lambat), timbul pada hari ke 8 sampai 6 bulan setelah lahir, sebagian besar
timbul pada umur 1 sampai 3 bulan. Kira-kira setengah dari pasien ini mempunyai kelainan hati
sebagai penyakit dasar atau kelainan malabsorpsi. Perdarahan intrakranial yang serius timbul
pada 30-50%. Pada bayi berisiko mungkin ditemukan tanda-tanda penyakit hati atau kolestasis
seperti ikterus yang memanjang, warna feses pucat, dan hepatosplenomegali. Angka rata-rata
kejadian PDVK pada bayi yang tidak mendapatkan profilaksis vitamin K adalah 5-20 per
100.000 kelahiran dengan angka mortalitas sebesar 30% (Loughnan dan McDougall 1993).
3. Faktor Resiko
Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya PDVK antara lain ibu yang selama kehamilan
mengkonsumsi obat-obatan yang mengganggu metabolisme vitamin K seperti, obat antikoagulan oral
(warfarin), obat-obat antikonvulsan (fenobarbital, fenitoin, karbamazepin), obat-obat antituberkulosis
(INH, rifampicin), sintesis vitamin K yang kurang oleh bakteri usus (pemakaian antibiotik, khususnya
pada bayi kurang bulan), gangguan fungsi hati (kolestasis), kurangnya asupan vitamin K dapat terjadi
pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, karena ASI memiliki kandungan vitamin K yang rendah yaitu
<20 ug/L bila dibandingkan dengan susu sapi yang memiliki kandungan vitamin K 3 kali lipat lebih
banyak (60 ug/L). Selain itu asupan vitamin K yang kurang juga disebabkan sindrom malabsorpsi dan
diare kronik.
4. Patofisiologi
Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu naftokuinon yang berperan
dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein yang berperan dalam pembekuan darah, seperti
Page 9

Vitamin K deficiency bleeding

protrombin atau faktor II,VII,IX,X dan antikoagulan protein C dan S, serta beberapa protein lain seperti
protein Z dan M yang belum banyak diketahui perannya dalam pembekuan darah.
Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui yaitu:
1. Vitamin K1 (phytomenadione), tedapat pada sayuran hijau. Sediaan yang ada saat ini adalah
cremophor dan vitamin K mixed micelles (KMM).
2. Vitamin K2 (menaquinone) disintesis oleh flora usus normal seperti Bacteriodes fragilis dan
beberapa strain E. coli.
3. Vitamin K3 (menadione) merupakan vitamin K sintetik yang sekarang jarang diberikan pada
neonatus karena dilaporkan dapat menyebabkan anemia hemolitik.
Secara fisiologis kadar faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K dalam tali pusat sekitar
50% dan akan menurun dengan cepat mencapai titik terendah dalam 48-72 jam setelah kelahiran.
Kemudian kadar faktor ini akan bertambah secara perlahan selama beberapa minggu tetapi tetap berada
di bawah kadar orang dewasa. Peningkatan ini disebabkan oleh absorpsi vitamin K dari makanan.
Sedangkan bayi baru lahir relatif kekurangan vitamin K karena berbagai alasan, antara lain
simpanan vitamin K yang rendah pada waktu lahir, sedikitnya perpindahan vitamin K melalui plasenta,
rendahnya kadar vitamin K pada ASI dan sterilitas saluran cerna. Tempat perdarahan utama adalah
umbilikus, membran mukosa, saluran cerna, sirkumsisi dan pungsi vena. Selain itu perdarahan dapat
berupa hematoma yang ditemukan pada tempat trauma, seperti hematoma sefal. Akibat lebih lanjut
adalah timbulnya perdarahan intrakranial yang merupakan penyebab mortalitas atau morbiditas yang
menetap.
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang sering ditemukan adalah perdarahan, pucat dan hepatomegali ringan.
Perdarahan dapat terjadi spontan atau akibat trauma, terutama trauma lahir. Pada kebanyakan kasus
perdarahan terjadi di kulit, mata, hidung dan saluran cerna. Perdarahan kulit sering berupa purpura,
ekimosis atau perdarahan melalui bekas tusukan jarum suntik.
Perdarahan intrakranial merupakan komplikasi tersering (63%), 80-100% berupa perdarahan subdural
dan subaraknoid. Pada perdarahan intrakranial didapatkan gejala peningkatan tekanan intrakranial
(TIK) bahkan kadang-kadang tidak menunjukkan gejala ataupun tanda. Pada sebagian besar kasus
Page
10

Vitamin K deficiency bleeding

(60%) didapatkan sakit kepala, muntah, anak menjadi cengeng, ubun-ubun besar membonjol, pucat dan
kejang. Kejang yang terjadi dapat bersifat fokal atau umum. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah
fotofobia, edema papil, penurunan kesadaran, perubahan tekanan nadi, pupil anisokor serta kelainan
neurologis fokal.
6. Komplikasi
Komplikasi pemberian vitamin K antara lain reaksi anafilaksis (bila diberikan secara IV), anemia
hemolitik, hiperbilirubinemia (dosis tinggi) dan hematoma pada lokasi suntikan.
7. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Penurunan kompleks protombin (faktor II,VII,IX,X) ditandai oleh pemanjangan masa pembekuan,
masa protrombin dan masa tromboplastin parsial. Masa perdarahan, jumlah leukosit dan trombosit
biasanya normal. Kebanyakan kasus disertai anemia normokromik normositik.
Pemeriksaan yang lebih spesifik yaitu pemeriksaan dekarboksilasi kompleks protrombin (protein
induced by vitamin K absence = PIVKA-II), pengukuran kadar vitamin K1 plasma atau pengukuran
areptilase time yang menggunakan bisa ular Echis crinatum.12,15-16 Pemeriksaan tersebut saat ini
belum dapat dilakukan di Indonesia. Perdarahan intrakranial dapat terlihat jelas dengan pemeriksaan
USG kepala, CT-Scan, atau MRI. Pemeriksaan ini selain untuk diagnostik, juga digunakan untuk
menentukan prognosis.
8. Penatalaksanaan
Hampir semua negara di dunia merekomendasikan pemberian profilaksis vitamin K1 pada bayi
baru lahir. Di Australia profilaksis dengan menggunakan Konakion 1 mg, IM dosis tunggal sudah
diperkenalkan sejak awal tahun 1970-an. Tindakan tersebut mula-mula diberikan kepada bayi sakit,
yaitu bayi kurang bulan, atau yang mengalami asfiksia perinatal, dan akhirnya menjadi rutin untuk
semua bayi baru lahir. Pada tahun 2000, National Health and Medical Research Council (NHMRC)
Australia menyusun rekomendasi pemberian profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir.
Page
11

Vitamin K deficiency bleeding

Dalam rekomendasi tersebut dinyatakan bahwa semua bayi baru lahir harus mendapatkan
profilaksis vitamin K1; bayi baru lahir yang bugar seharusnya menerima vitamin K baik secara IM 1
mg, dosis tunggal pada waktu lahir atau 3 kali dosis oral, masing-masing 2 mg yang diberikan pada
waktu lahir, umur 3-5 hari dan umur 4-6 minggu. Orang tua harus mendapat informasi pada saat
antenatal tentang pentingnya pemberian profilaksis vitamin K; dan setiap rumah sakit harus memiliki
protokol tertulis yang jelas tentang pemberian profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir. Selandia Baru
sejak tahun 1995 telah merekomendasikan profilaksis vitamin K kepada bayi baru lahir. Begitu pula
dengan British Columbia pada Maret 2001 dan Canadian Paediatric Society tahun 2002.
Untuk negara berkembang seperti Thailand, sekitar 30-40 tahun yang lalu (1960-1970) setengah
dari persalinan dibantu oleh dukun atau bidan. Injeksi parenteral tidak dapat dilakukan oleh bidan
sehingga Isarangkura meminta perusahaan farmasi menyediakan vitamin K oral (Konakion, Roche,
Basel) serta melakukan penelitian mengenai profilaksis vitamin K oral 2 mg dosis tunggal yang dapat
dilakukan secara rutin.
Efikasi yang tinggi, toksisitas dan harga yang rendah, cara pemberian dan penyimpanan yang
sederhana menjadikan profilaksis vitamin K secara oral memungkinkan untuk dilakukan di negara
berkembang.
Pemberian vitamin K profilaksis oral 2 mg untuk bayi baru lahir bugar dan 0,51 mg IM untuk bayi
tidak bugar (not doing well) telah dilakukan secara rutin di Thailand sejak 1988 dan pemberiannya
diwajibkan di seluruh Thailand pada tahun 1994-1998.
Insidens PDVK lambat laun menurun dari 30-70 per 100.000 kelahiran menjadi 4-7 per 100.000
kelahiran. Sejak 1999 semua bayi baru lahir diberikan vitamin K profilaksis IM karena sebagian besar
persalinan terjadi di rumah sakit. Vitamin K profilaksis IM ini diberikan bersama dengan imunisasi
rutin seperti Hepatitis B dan BCG.
Vitamin K yang digunakan untuk profilaksis adalah vitamin K1. Cara pemberian dapat dilakukan
baik secara IM ataupun oral. Intramuskular, dengan dosis 1 mg pada seluruh bayi baru lahir. Pemberian
dengan dosis tunggal diberikan pada waktu bayi baru lahir.
1. Oral

Page
12

Vitamin K deficiency bleeding

Dengan dosis tunggal 2 mg diberikan tiga kali, yaitu pada saat bayi baru lahir, pada umur 3-7 hari,
dan pada umur 4-8 minggu.
Efektivitas Profilaksis
Cornelissen dkk(1997) merangkum hasil surveilans aktif tentang PDVK lambat yang dilakukan di
Jerman, Australia, Belanda dan Swiss yang dikumpulkan dengan strategi sama dan dibandingkan angka
kegagalannya. Terdapat 4 strategi pemberian vitamin K, yaitu :
a. pemberian vitamin K dosis rendah 25 ug/hari untuk bayi yang mendapat ASI (Belanda)
b. 3x1 mg secara oral (Australia: January 1993 Maret 1994 dan Jerman: Desember 1992Desember 1994)
c. 1 mg IM (Australia: Maret 1994)
d. 2x2mg vitamin K oral (preparat KMM) (Swiss).
Angka kegagalan per 100.000 kelahiran hidup adalah 0,2 di Belanda, 2,3 di Jerman, 2,5 (profilaksis
oral)

dan

(profilaksis

IM)

di

Australia,

3,6

di

Swiss.

Angka kegagalan setelah profilaksis lengkap adalah 0 di Belanda, 1,8 di Jerman, 1,5 (profilaksis oral)
dan 0 (profilaksis IM) di Australia, 1,2 di Swiss. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa dosis oral 3x1
mg kurang efektif bila dibandingkan dengan profilaksis vitamin K g/hari untuk bayi yang mendapat
ASImIM; profilaksis dosis rendah 25 mungkin sama efektif seperti profilaksis vitamin K parenteral.
Isarangkura dkk (Thailand, 1989) telah melakukan evaluasi pengaruh pemberian vitamin K
profilaksis dosis tunggal pada bayi baru lahir peroral dibandingkan dengan cara parenteral pada waktu
lahir. Dua ratus enam puluh enam bayi sehat yang mendapat ASI dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu
kelompok 1 mendapat vitamin K IM 1 mg; kelompok 2, 3, 4 mendapat vitamin K oral pada waktu 2-4
jam setelah lahir masing-masing dengan dosis 2 mg, 3 mg dan 5 mg.
Didapatkan hasil tidak ada perbedaan statistik bermakna dalam rerata kadar kompleks
protrombin.17 Profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir peroral 2 mg ternyata sangat menguntungkan,
sama halnya dengan pemberian secara parenteral. Isarangkura menyatakan bahwa seharusnya semua
bayi baru lahir mendapatkan profilaksis vitamin K baik secara oral maupun parenteral. Pemberian
vitamin K secara oral praktis untuk negara berkembang karena cara pemberian sederhana, harga murah,
toksisitas rendah dan kegunaan tinggi.

Page
13

Vitamin K deficiency bleeding

Pemberian vitamin K profilaksis IM menunjukkan insidens PDVK lambat lebih kecil


dibandingkan dengan cara pemberian oral.
Konsensus berbagai organisasi profesi di Selandia baru (dokter anak, dokter umum, dokter
kebidanan, bidan dan perawat) merekomendasikan bahwa semua bayi seharusnya mendapat profilaksis
vitamin K. Cara pemberian yang direkomendasikan adalah secara IM 1 mg (bagi bayi prematur = 0,5
mg) diberikan pada waktu lahir. Jika orang tua tidak setuju dengan pemberian secara IM, maka bayi
diberikan vitamin K oral 2 mg yang diberikan 3 kali yaitu pada waktu baru lahir, umur 3-5 hari dan 4-6
minggu.
Jika bayi muntah dalam waktu satu jam setelah pemberian oral maka pemberiannya harus diulang.
Hal ini juga direkomendasikan oleh NHMRC pada tahun 2000, Newborn Services Medical Guidelines
(Selandia Baru) pada tahun 2000 dan British Columbia Reproductive Care Program pada tahun 2001.
International Society on Thrombosis and Haemostasis, Pediatric/Perinatal Subcommittee seperti
yang dilaporkan oleh Sutor dkk24 (tahun 1999) menyatakan bahwa pemberian vitamin K baik secara
oral maupun IM sama efektif dalam mencegah PDVK klasik, tetapi vitamin K IM lebih efektif dalam
mencegah PDVK lambat. Efikasi profilaksis oral meningkat dengan pemberian berulang 3 kali
daripada dosis tunggal, dan efikasi lebih tinggi bila diberikan dalam dosis 2 mg daripada dosis 1 mg.
Pemberian vitamin K oral yang diberikan tiap hari atau tiap minggu sama efektif dengan profilaksis
vitamin K IM.
2. Intramuskular
American Academy of Pediatricians (AAP) (tahun 2003) merekomendasikan bahwa Vitamin K
harus diberikan kepada semua bayi baru lahir secara IM dengan dosis 0,5-1 mg.25 Canadian Paediatric
Society (1997) juga merekomendasikan pemberian vitamin K secara IM. Metode ini lebih disukai di
Amerika Utara karena efikasi dan tingkat kepatuhan yang tinggi.
Cara pemberian vitamin K secara IM lebih disukai dengan alasan berikut ini:
a. Absorpsi Vitamin K1 oral tidak sebaik vitamin K1 IM, terutama pada bayi yang menderita
diare.
b. Beberapa dosis vitamin K1 oral diperlukan selama beberapa minggu. Sebagai konsekuensinya,
tingkat kepatuhan orang tua pasien merupakan suatu masalah tersendiri.
Page
14

Vitamin K deficiency bleeding

c. Mungkin terdapat asupan vitamin K1 oral yang tidak adekuat karena absorpsinya atau adanya
regurgitasi.
d. Efektivitas vitamin K1 oral belum diakui secara penuh.
Hubungan

Profilaksis

Vitamin

dan

Kanker

pada

Anak

Tidak ada cukup bukti yang mendukung hubungan profilaksis vitamin K dengan insidens kanker pada
anak di kemudian hari. Hal ini berdasarkan pada satu penelitian yang melibatkan 54.000 kelahiran di
Amerika Serikat, satu penelitian yang melibatkan 1.383.000 bayi di Swedia, dua penelitian case control
terhadap 132 dan 272 anak dengan kanker, penelitian case control berbasis pada populasi pada 515
anak di Skotlandia, dan penelitian case control lain atas 685 anak penderita kanker.
Penelitian case control dilakukan oleh Von Kries dkk28 (1996) terhadap 272 anak yang menderita
leukemia dan kanker lainnya untuk mengetahui hubungan antara pemberian profilaksis vitamin K IM
dengan terjadinya kanker pada anak. Didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara pemberian
profilaksis vitamin K IM dengan terjadinya kanker pada anak.
Kelompok kerja vitamin K AAP meninjau ulang laporan yang dikemukakan oleh Golding dkk serta
informasi lain, juga menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian vitamin K IM dengan
leukemia pada anak atau kanker anak lainnya.

9. Proses Keperawatan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan dalam bidang keperawatan meliputi pengkajian dan
diagnosis sampai kepada intervensi medis.
a. Pengkajian
1. Biodata Klien
Terjadi pada semua umur biasanya anak laki-laki dan anak perempuan.
2. Keluhan Utama
a Perdarahan lama (pada sirkumsisi)
b Epitaksis
c Memar, khususnya pada ekstremitas bawah ketika anak mulai berjalan dan terbentur
d

pada sesuatu.
Bengkak yang nyeri, sendi terasa hangat akibat perdarahan jaringan lunak dan hemoragi
pada sendi
Page
15

Vitamin K deficiency bleeding

e Pada hemofilia C biasanya perdarahan spontan


f Perdarahan sistem GI track dan SSP
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Apakah klien mengalami salah satu atau beberapa dari keluhan utama
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah dulu klien mengalami perdarahan yang tidak henti-hentinya serta apakah klien
mempunyai penyakit menular atau menurun seperti DERMATITIS, Hipertensi, TBC.
5. Riwayat Penyakit Keluraga
Keluarga klien ada yang menderita hemofili pada laki-laki atau carrier pada wanita.
6. Kaji Tingkat Pertumbuhan Anak
Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak terlewati dengan sempurna.
7. ADL (Activity Daily Life)
a Pola Nutrisi
Anoreksia, menghindari anak tidak terlewati dengan sempurna
b Pola Eliminasi
Hematuria, feses hitam
c

Pola personal hygiene


Kurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan dini.
d Pola aktivitas
Kelemahan dan adanya pengawasan ketat dalam beraktivitas
e Pola istirahat tidur terganggu karena nyeri
Kebutuhan untuk tidur terganggu karena nyeri.
8. Pemeriksaan fisik
a Keadaan umum : kelemahan
b BB : menurun
c Wajah : Wajah mengekspresikan nyeri
d Mulut : Mukosa mulut kering,perdarahan mukosa mulut
e Hidung : epitaksis
f Thorak/ dada :
- Adanya tarikan intercostanalis danbagaimana suara paru
- Suara jantung pekak
- Adanya kardiomegali
g Abdomen adanya hepatomegali
h Anus dan genetalia :
- Eliminasi urin menurun
- Eliminasi alvi feses hitam
i Ekstremitas
Hemartrosis memar khususnya pada ekstremitas bawah
9. Pemeriksaan Penunjang (labolatorium)
a Uji Skrinning untuk koagulasi darah
- Masa pembekuan memanjang (waktu pembekuan nrmal adalah 5 sampai 10 menit)
Page
16

Vitamin K deficiency bleeding

Jumlah trombosit (normal)


Uji pembangkitan tromboplastin (dapat menemukan pembentukan yang tidak efisien

dari tromboplastin akibat kekurangan F VIII)


Biopsi hati (kadang-kadang) digunakan untuk memperoleh jaringan untuk pemeriksaan
patologi dan kultur. Uji fungsi hati (kadang-kadang) digunakan untuk mendeteksi

adanya penyakit hati.


b. Diagnosis Keperawatan
1. Resiko tinggi kekurangan volum cairan berhubungan mekanisme pembekuan darah yang
2.
3.
4.
5.

tidak normal.
Nyeri berhubungan dengan sendi dan keterbatasan sendi sekunder akibat hemartosis.
Resiko tinggi cidera berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang penyakit.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi inadekuat.
Resiko tinggi kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan gerak sendi
sekunder akibat hemartosis perdarahan pada sendi.

c. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa resiko tinggi kekurangan volum cairan berhubungan dengan mekanisme
pembekuan darah yang tidak normal.
Hasil yang diharapkan : episode perdarahan anak terkendali Intervesi :
a. Observasi semua bayi laki-laki dengan cermat setelah sirkumsasi
- Pada genetalia terdapat banyak pembuluh darah.
b. Awasi tanda-tanda vital
Penurunan sirkulasi darah dapat terjadi peningkatan kehilangan cairan mengakibatkan
hipotensi dan takikardi
c. Instruksikan dan pantau anak berkaitan dengan perawatan gigi yaitu menggunakan sikat
gigi berbulu anak
- Sikat gigi berbulu keras dapat menyebabkan perdarahan mukosa mulut.
d. Kolaborasi pemberian produk plasma sesuai indikasi
- Pemberian plasma untuk mempertahankan homeostatis.
2. Diagnosa nyeri berhubungan dengan sendi dan keterbatasan sendi sekunder akibat
hemartrosis
Hasil yang diharapkan : menyatakan nyeri reda/ terkontrol
Intervesi :
Page
17

Vitamin K deficiency bleeding

a. Kaji derajat nyeri


Perdarahan jaringan lunak dan hemoragi pada sendi dapat menekan saraf
b. Dorong klien untuk secara hati-hati memposisikan bagian tubuh menekan sakit.
- Menurunkan rasa nyeri
c. Kompres es pada sendi yang sakit
- Kompres es dapat menyebabkan vasokontraksi
d. Kolaborasi pemberian analgesik (hindari aspirin)
- Aspirin dapat mengganggu pH darah dan dapat ketidakcukupan mudah terjadi
3. Diagnosa resiko tinggi cidera berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang
penyakit
Hasil yang diharapkan : mencegah terjadinya cidera dan perdarahan
Intervesi :
a. Ciptakan lingkungan yang aman seperti menyingkirkan benda-benda tajam, memberikan
bantalan pada sisi keranjang bayi untuk yang tidak aktif
- Anak yang aktif memiliki resiko cidera yang tinggi apabila tidak diawasi
b. Tekankan bahwa olahraga kotak fisik dilarang
- Kontak fisik dapat menyebabkan perdarahan
c. Berikan tekanan setelah injeksi/ fungsi vena
- Tekanan ini meminimalkan perdarahan
d. Anjurkan orang tua untuk memberikan pengawasan pada saat bermain di luar rumah.
4. Diagnosa kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi inadekuat
Hasil yang diharapkan : menyatakan nyeri reda/ terkontrol
Intervesi :
a. Instruksikan anak dan orang tua tentang pemberian penggantian trehadap faktor yang
b.
c.
d.
e.

kurang.
Ajarkan pada orang tua dan anak tentang perlunya pencegahan cidera.
Anjurkan untuk tidak menggunakan obat yang dijual bebas seperti aspirin.
- Aspirin dapat mengganggu pH dan dapat membuat perdarahan mudah terjadi
Ajarkan keluarga atau anak tentang apa itu hemofili dan tanda serta gejalanya
Berikan penjelasan pada keluarga dan atau anak bahwa penyakit ini belum dapat
disembuhkan dan tujuan terapi adalah mencegah munculnya gejala.
- Informasi yang adekuat akan dapat meningkatkan pengetahuan klien.

Page
18

Vitamin K deficiency bleeding

5. Diagnosa resiko tinggi kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan gerak
sendi sekunder akibat hemartosis
Hasil yang diharapkan : peningkatan rentang gerak sendi dan tidak ada tanda inflamasi
Intervesi :
a. Ajarkan untuk melakukan latihan rentang gerak aktif pada anggota gerak yang sehat
- Meningkatkan kepercayaan diri pada klien.
b. Lakukan latihan rentang gerak pasif pada anggota gerak yang sakit.
- Melatih persendian dan menurunkan resiko perlukaan.
c. Kolaborasi/ konsultasi dengan ahli terapi fisik/ okupasi, spesialisasi, rehabilitas.
- Sangat membantu dalam membuat program latihan/ aktivitas individu dan
menentukan alat bantu yang sesuai.

Page
19

Vitamin K deficiency bleeding

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Kecenderungan terjadinya perdarahan akibat gangguan proses koagulasi yang disebabkan oleh
kekurangan vitamin K atau dikenal dengan Vitamin K Deficiency Bleeding (VKDB/PDVK).
Patofisiologinya adalah Vitamin K diperlukan untuk sintesis prokoagulan faktor II, VII, IX dan X
(kompleks protrombin) serta protein C dan S yang berperan sebagai antikoagulan (menghambat proses
pembekuan). Selain itu Vitamin K diperlukan untuk konversi faktor pembekuan tidak aktif menjadi
aktif. Diklasifikasikan menjadi tiga yaitu HDN/PDVK dini, HDN/PDVK klasik, dan HDN/PDVK
lambat

atau acquired

prothrombin

complex

deficiency (APCD) Secondary

prothrombin

complex (PC) deficiency. yang tidak mendapat vitamin K profilaksis.


PDVK

dibedakan

dengan

gangguan

hemostasis

lain

misalnya

gangguan

fungsi

hati. Pencegahan PDVK Dapat dilakukan dengan pemberian vitamin K Profilaksis, Vitamin K1 pada
bayi baru lahir 1 mg im (dosis tunggal) atau per oral 3 kali @ 2 mg pada waktu bayi baru lahir, umur 37 hari dan umur 1-2 tahun. Ibu hamil yang mendapat pengobatan antikonvulsan mendapat profilaksis
vitamin K1 5 mg/hari selama trimester ketiga atau 10 mg im pada 24 jam sebelum melahirkan.
Selanjutnya bayinya diberi vitamin K1 1 mg im dan diulang 24 jam kemudian. Pengobatan
PDVKVitamin K1 dosis 1-2 mg/hari selama 1-3 hari Fresh frozen plasma (FFP) dosis 10-15 ml/kg.
4.2. Saran

Page
20

Vitamin K deficiency bleeding

Dikarenakan belum pasti penyebab dan gejala awal penyakitnya dan menginngat kompleksnya
komplikasi dan dampak yang diakibatkan dari perdarahan akibat defisiensi vitamin K, sebaiknya
dilakukan deteksi dini terhadap individu yang mempunyai resiko dan faktor faktor pencetus.

Page
21