Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah


Bakat adalah anugrah yang tidak boleh disia siakan dan harus dikembangkan
secara maksimal. Setiap manusia terlahir dengan memiliki bakat tertentu. Bakat adalah
sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk
membangkitkan dan mengembangkannya Seperti halnya bakat, kreativitas yang dimiliki
oleh seseorang juga anugrah yang harus dipergunakan secara tepat sasaran.
Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk
pembangunan masyarakat , juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia.
Kreativitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada
dibelakang sebuah penemuan besar. Kreativitas dan bakat sangat dibutuhkan individu
untuk bisa melewati seleksi alam. Perpaduan keduanya juga sangat diperlukan untuk
menghasilkan produk kreativitas yang bermanfaat. Maka dari itu, Pemakalah
mengangkat tema kreativitas dan keberbakatan.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.

Kreativitas,
Intelegensi
Hubungan antara kreativitas dan intelegensi

1.3 Tujuan Masalah


1. Mengetahui tentang kreativitas,
2. Mengetahui tentang intelegensi
3. Mengetahui Hubungan antara kreativitas dan intelegensi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kreativitas
Secara umum kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuuan untuk berpikir sesuatu yang
baru dan tidak biasa dan menghasilkan penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan.
Perlu kita ketahui ciri-ciri yang mencerminkan kepribadian kreatif, diantaranya, mempunyai
daya imajinasi yang kuat, mempunyai inisiatif dan minat yang luas, bebas dalam berpikir,
bersifat ingin tahu, selalu ingin mendapat pengalaman baru, percaya diri, penuh semangat dan
berani mengambil resiko.
Salah satu masalah yang kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan mengembangkan
kreativitas ialah bahwa ada begitu banyak definisi tentang kreativitas, tetapi tidak ada satu
definisi pun yang dapat diterima secara universal. Mengingat kompleksitas dari konsep
kreativitas, agaknya hal ini tidak mungkin dan tidak perlu, karena kreativitas dapat ditinjau
dari berbagai aspek, yang kendatipun saling berkaitan tetapi penekanannya berbeda beda.
Rodhes (1961, dalam Isaksen, 1987) dalam menganalisis lebih dari 40 definisi tentang
kreativitas, menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah
pribadi (person), proses, dan produk.
Kreativitas dapat pula ditinjau dari kondisi pribadi dan lingkungan yang mendorong ( press)
individu ke perilaku kreatif. Rodhes menyebut keempat jenis definisi tentang kreativitas ini
sebagai four ps of creativity ,yaitu dimensi Person,Proses, Press dan Product. Kebanyakan
definisi kreativitas berfokus pada salah satu dari empat P ini atau kombinasinya. Keempat P
ini saling berkaitan: pribadi kreatif yang melibatkan diri dalam menghasilkan produk kreatif,
dan dengan dukungan dan dorongan ( press) dari lingkungan menghasilkan produk kreatif.
Torrance ( 1988) yang memilih definisi proses tentang kreativitas, menjelaskan hubungan
antara keempat P tersebut sebagai berikut : dengan berfokus pada proses kreatif, dapat
ditanyakan jenis pribadi yang bagaimanakah akan berhasil dalam proses tersebut, macam
lingkungan yang bagaimanakah akan memudahkan proses kreatif, dan produk yang
bagaimanakah yang dihasilkan dari proses kreatif.
Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli psikologi tentang pengertian Kreativitas yaitu
sebagai berikut :
a)

b)

David Campbell, Ph.D menyatakan bahwa kreativitas adalah kegiatan yang


mendatangkan hasil dengan kandungan ciri ; Inovatif : belum pernah ada, segar,
menarik, aneh, mengejutkan dan teobosan baru. Berguna : lebih enak, lebih baik,
lebih praktis, mempermudah, mendorong, memecahkan masalah, mengurangi
hambatan. Dapat dimengerti : hasil yang sama dapat dibuat pada waktu yang lain.
James R Evan, menyatakan kreativitas adalah keterampilan untuk membentuk
kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah ada dalam pikiran.
2

c)

d)

Setiap kreasi merupakan kombinasi baru dari ide-ide dan produk yang inovatif, seni
dalam pemenuhan kebutuhan manusia.
Michael A.West, menyatakan bahwa kreativitas merupakan penyatuan pengetahuan
berbagai bidang pengalaman yang berlainan untuk menghasilkan ide-ide baru yang
lebih baik. Kreativitas merupakan salah satu bagian dasar dari usaha manusia.
Kreativitas melibatkan kita dalam penemuan-penemuan terus-menerus cara baru
dan baik dalam mengerjakan berbagai hal. Atau dalam pengertian yang lebih luas,
kreativitas terkait dengan penggunaan berbagai potensi yang dimiliki, baik
pengetahuan, intuisi maupun imajinasi sedemikian rupa sehingga dapat
menghasilkan ide-ide baru yang lebih baik dan bermanfaat.
Rawlinson (1979:9) mengemukakan Kreativitas merupakan kemampuan seseorang
untuk melahirkan sesuatu gagasan baru maupun karya nyata baru yang merupakan
kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada sehingga relatif berbeda dengan yang
telah ada.

2.1.1 Perkembangan kreativitas anak


Sejumlah studi kreativitas menunjukan bahwa perkembangan kreativitas mengikuti
suatu pola yang memiliki beberapa variasi. Beberapa factor yang berpengaruh terhadap
variasi tersebut diantaranya, jenis kelamin, status ekonomi, posisi urutan kelahiran,
lingkungan kota versus desa, dan intelegensi. Anak laki-laki cenderung lebih kreatif
dibandingkan dengan anak perempuan karena anak laki-laki mempunyai kesempatan
yang lebih luas daripada anak perempuan. Anak yang berlatar belakang ekonomi tinggi
lebih kreatif daripada anak yang mempunyai latar belakang ekonomi yang rendah karena
lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mengakses pengetahuan dan pengalaman
yang diperlukan untuk pengembangan kreativitas. Untuk anak-anak yang sebaya, anak
yang cerdas menunjukan kemampuan yang lebih bila dibandingkan dengan anak-anak
yang kurang cerdas

2.2 Intelegensi
Intelegensi berasal dari bahasa Inggris Intelligence yang juga berasal dari bahasa
Latin yaitu Intellectus dan Intelligentia atau Intellegere. Teori tentang intelegensi
pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol pada tahun 1951.
Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan
(power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati.
Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan Nous, sedangkan penggunaan
kekuatannya disebut Noeseis. Intelegensi berasal dari kata Latin,yang berarti
memahami. Jadi intelegensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan
dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu.
Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah
untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual.
3

Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang
beragam.
Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat
dikembangkan berdasarkan hasil laporan berbagai studi pengukuran dengan
menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya, yang dilakukan secara longitudinal
terhadap sekelompok subjek dari dan sampai ketingkatan usia tertentu secara test-retest
yang alat ukurnya disusun secara sekuensial. Dengan menggunakan hasil pengukuran
test inteligensi yang mencakup general (Infomation and Verbal Analogies, Jones and
Conrad telah mengembangkan sebuah kurva perkembangan Inteligensi, yang dapat di
tafsirkan anatara lain sebagai berikut :
1) Laju perkembangan Inteligensi pada masa anak-anak berlangsung sangat pesat,
2) Terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis
kecakapan khusus tertentu.
Bloom melukiskan berdasarkan hasil studi longitudinal, bahwa dengan
berpatokankepada hasil test IQ dari masa-masa sebelumnya yang di tempuh oleh subyek
yang sama, kita akan dapat melihat perkembangan prosentase taraf kematangan dan
kemamppuannya sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Usia 1 tahun berkembang sampai sekitar 20%-nya


Usia 4 tahun sekitar 50%-nya
Usia 8 tahun sekitar 80%-nya
Usia 13 tahun sekitar 92%-nya

Hasil studi Bloom ini tampaknya juga menugaskan bahwa laju perkembangan IQ itu
bersifat proposional.
Berikut ini adalah pendapat beberapa ahli psikologi tentang pengertian Intelegensi yaitu
sebagai berikut :
a)
b)
c)

d)

Claparde dan Stern mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk


menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru.
K. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan
pemahaman atau pengertian.
David Wechster (1986). Definisinya mengenai intelegensi mula-mula sebagai
kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan akal budi untuk mengatasi
tantangan-tantangannya. Namun di lain kesempatan ia mengatakan bahwa
intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara
rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut: intelegensi ialah
kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan
menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya. William Stern
berpendapat bahwa intelegensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan,
pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang.
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran masalah inteligensi merupakan salah satu
4

masalah pokok; karenanya tidak mengherankan kalau masalah tersebut banyak di


kupas orang, baik secara khusus maupun secara sambil lalu dalam pertautan dengan
pengupasan yang lain. Tentang peran inteligensi itu dalam proses pendidikan ada
yang menganggap demikian pentingnya sehingga di pandang menentukan dalam
hal berhasil dan tidaknya seseorang dalam hal belajar; sedang pada sisi lain ada
juga yang menganggap bahwa inteligensi tidak lebih mempengaruhi soal tersebut.
Tetapi pada umumnya orang berpendapat, bahwa inteligensi merupakan salah satu
faktor penting yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang;
terlebih-lebih pada waktu anak masih sangat muda, inteligensi sangat besar
pengaruhnya.
2.2.1 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi
1. Faktor pembawaan
Faktor pembawaan merupakan faktor pertama yang berperan di dalam intelegensi.
Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau
kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor
bawaan. Oleh karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak
pintar, dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang
sama.
2. Faktor minat dan pembawaan yang khas
Faktor minat ini mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan
dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luas, sehingga apa yang diminati
oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
3. Faktor pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi
perkembangan intelegensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan sengaja,
seperti yang dilakukan di sekolah dan pembentukan yang tidak disengaja, misalnya
pengaruh alam disekitarnya.
4. Faktor kematangan
Di mana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan
perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis, dapat dikatakan telah
matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan
menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila
anak-anak belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di
kelas empat SD, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ
tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut
dan kematangan berhubungan erat dengan umur.

5. Faktor kebebasan
5

Faktor kebebasan artinya manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam
memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.
2.2.2 Teori-Teori Intelegensi
1. Teori Faktor
Teori ini dikembangkan oleh Spearman, dia mengembangkan teori dua faktor
dalam kemampuan mental manusia. Yakni :
a. Teori faktor g (faktor kemampuan umum) : kemampuan menyelesaikan
masalah atau tugas tugas secara umum (misalnya, kemampuan menyelesaikan
soal soal matematika).
b. Teori faktor s (faktor kemampuan khusus) : kemampuan menyelesaikan
masalah atau tugas tugas secara khusus (misalnya, mengerjakan soal soal
perkalian,atau penambahan dalam matematika).
2. Teori Struktural Intelektual
Teori ini dikembangkan oleh Guilford, dia mengatakan bahwa tiap-tiap
kemampuan memiliki jenis keunikan tersendiri dalam aktifitas mental atau pikiran
(operation), isi informasi (content), dan hasil informasi (product).
Penjelasannya adalah sbb :
a.

Operation (aktivitas pikiran atau mental)


Cognition, yaitu aktivitas mencari, menemukan, mengetahui dan memahami
informasi. Misalnya mengetahui makna kata adil atau krisis.
Memory,
yakni
menyimpan
informasi
dalam
pikiran
dan
mempertahankannya.
Divergent production, yakni proses menghasikan sejumlah alternative
informasi dari gudang ingatan untuk memenuhi kebutuhan, misalnya
mengusulkan sejumlah judul sebuah cerita.
Convergent production, yaitu penggalian informasi khusus secara penuh dari
gudang ingatan. Misalkan menemukan kata kata yang cocok untuk jawaban
TTS.
Evaluation, yakni memutuskan yang paling baik dan yang cocok dengan
tuntunan berpikir logis.

b. Content (isi informasi)


Visual, yaitu informasi informasi yang muncul secara langsung dari
stimulasi yang diterima oleh mata.
Auditory, yakni informasi informasi yang muncul secara langsung dari
stimulasi yang diterima oleh system pendengaran (telinga).
Simbolic, yaitu item item informasi yang tersusun urut bersamaan dengan
item item yang lain. Misalnya sederet angka, huruf abjad dan
kombinasinya.
Sematic, biasanya berhubungan dengan makna atau arti tetapi tidak melekat
pada simbol simbol kata.
6

Behaviora, yakni item informasi mengenai keadaan mental dan perilaku


individu yang dipindahkan melalui tindakan dan bahasa tubuh.
Product (bentuk informasi yang dihasilkan)
Unit, yaitu suatu kesatuan yang memiliki suatu keunikan didalam kombinasi
sifat dan atributnya, contoh bunyi musik,cetakan kata.
Class, yakni sebuah konsep dibalik sekumpulan objek yang serupa. Misalkan
bilangan genap dan ganjil.
Relation, yakni hubungan antara dua item. Contoh dua orang yang memiliki
huruf depan berurutan, Abi kawin dengan Ani.
Sistem, yakni tiga item atau lebih berhubungan dalam suatu susunan totalitas.
Misalkan tiga orang berinteraksi didalam sebuah acara dialog di TV.
Transformation, yaitu setiap perubahan atau pergantian item informasi.
Implication, yakni item informasi diusulkan oleh item informasi yang sudah
ada. Misalkan melihat 4X5 dan berpikir 20.
3. Teori Kognitif
Teori ini dikembangkan oleh Sternberg menurutnya inteligensi dapat dianalisis
kedalam beberapa komponen yang dapat membantu seseorang untuk memecahkan
masalahnya diantaranya :
Metakomponen adalah proses pengendalian yang terletak pada urutan lebih
tinggi yang digunakan untuk melaksanakan rencana, memonitor, dan
mengevaluasi kinerja dalam suatu tugas.
Komponen kinerja adalah proses proses pada urutan lebih rendah yang
digunakan untuk melaksanakan berbagai strategi bagi kinerja dalam tugas.
Komponen perolehan pengetahuan adalah proses proses yang terlibat
dalam mempelajari informasi baru dan penyimpanannya dalam ingatan.
4. Teori Inteligensi Majemuk (multiple intelligences)
Teori ini dikembangkan oleh Howard Gadner, dalam teorinya ia mengemukakan
sedikitnya ada tujuh jenis inteligensi yang dimiliki manusia secara alami,
diantaranya:
Inteligensi bahasa (verbal or linguistic intelligence) yaitu kemampuan
memanipulasi kata kata didalam bentuk lisan atau tulisan. Misalnya
membuat puisi
Inteligensi matematika-logika (mathematical-logical) yaitu kemampuan
memanipulasi sistem-sistem angka dan konsep-konsep menurut logika.
Misalkan para ilmuwan bidang fisika, matematika.
Inteligensi ruang (spatial intelligence) adalah kemampuan untuk melihat dan
memanipulasi pola-pola dan rancangan. Contohnya pelaut, insinyur dan
dokter bedah.
Inteligensi musik (musical intelligence) adalah kemampuan memahami dan
memanipulasi konsep-konsep musik. Contohnya intonasi, irama, harmoni
Inteligensi gerak-tubuh (bodily-kinesthetic intelligence) yakni kemampuan
untuk menggunakan tubuh dan gerak. Misalkan penari, atlet.
Inteligensi intrapersonal yaitu kemampuan untuk memahami perasaan
perasaan sendiri, refleksi, pengetahuan batin, dan filosofinya,contohnya ahli
sufi dan agamawan.
Inteligensi interpersonal yaitu kemampuan memahami orang lain, pikiran
maupun perasaan perasaannya, misalnya politis, petugas klinik, psikiater.
7

2.3 Hubungan antara intelegensi dengan kreativitas


Intelegensi menyagkut pada cara berpikir konvergen (memusat) sedangkan kreativitas
berkenaan dengan cara berpikir divergen ( menyebar). Penelitian Torrance (1965)
mengungkapkan bahwa anak yang kreativitasnya tinggi mempunyai taraf intelegensi
(IQ) di bawah rata-rata IQ teman sebayanya. Dalam konteks keberbakatan, ia
menyatakan bahwa IQ tidak dapat dijadikan sebagai criteria tungal untuk
mengidentifikasi orang-orang yang berbakat.
Berbagai penelitian mengenai hubungan intelegensi dan kreativitas melaporkan hasil
yang berbeda beda. Pada intinya, penelitian itu membuktikan bahwa sampai tingkat
tertentu terdapat hubungan antara intelegensi dan kreativitas. Namun, pada tingkat IQ di
atas 120, hamper tidak ada hubungan antara keduanya. Artinya, orang yang IQ-nya
tinggi, mungkin kreativitasnya rendah atau sebaliknya. Dengan demikian, kreativitas dan
intelegensi merupakan dua domain kecakapan manusia yang berbeda. Baik intelegensi
maupun kreativitas, dijadikan criteria untuk menentukan bakat seseorang.
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas
juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan
antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan.
Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear
dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak
mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang
rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang
tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti.
Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan
tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan
bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan
untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.
Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat
konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang
logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan
tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir
divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang
dicapai oleh ilmu pengetahuan.
Secara global hakekat intelegensi bisa diilustrasikan sebagai berikut:
a. Kemampuan memahami sesuatu
Makin tinggi intelegensi seseorang, maka makin cepatlah ia memahami sesuatu yang
dihadapi.
8

b. Kemampuan berpendapat
Makin cerdas seseorang, makin cepat pula mengambil ide,langkah penyelesaian
masalah, memilih cara-cara yang tepat diantara sekian alternatif penyelesaian segera
dipilih mana yang paling ringan dan kecil resikonya dan besar manfaatnya.
c. Kemampuan kontrol dan kritik
Makin cerdas seseorang makin tinggi pula daya kontrol dan kritiknya terhadap apa
yang diperbuat, sehingga tidak diulangi lagi, paling tidak frekuensi pengulangan
kesalahan kecil.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kreativitas, disamping bermakna untuk pengembangan diri maupun pembangunan
masyarakat, juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan
perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi manusia ( Maslow, 1968 ).
Kreativitas dalam perkembangannya sangat terkait dengan empat aspek, yaitu aspek
pribadi, pendorong, proses, dan produk. Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul
dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya. Ditinjau dari proses, menurut
Torrance ( 1988), kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah,
membuat dugaan tentang kekurangan ( masalah ) ini, menilai dan menguji dugaan atau
hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil
hasilnya. Proses kreatif meliputi beberapa tahap, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan
verifikasi. Definisi mengenai produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan
dari proses kreativitas, ialah sesuatu yang baru, orisinalitas, dan bermakna. Ditinjau dari
aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal
maupun eksternal dari lingkungannya.
Jadi peranan Intelegensi / kecerdasan setiap orang sangat mempengaruhi kreativitas,
bakat , dan prestasi belajarnya. Seseorang yang Tingkat intelegensinya (IQ) tinggi belum
tentu memiliki kreativitas, bakat, dan prestasi belajarnya tinggi pula karena setiap
individu memiliki motivasi yang berbeda. Tetapi individu yang memiliki IQ lebih tinggi
akan lebih mudah berkreativitas dan meraih prestasi belajar yang tinggi dibandingkan
dengan yang memiliki IQ rendah.

3.2 Saran
Makalah ini kami angkat berdasarkan dari sumber penerbit dan pengatahuan dan diskusi
kelompok kami. Semoga pembaca dapat menambah wawasan dan pengatahuan tentang
Kreativitas dan Intelegensi. Selain itu kami meyakini bahwa dalam makalah ini masih ada
kesalahan-kesalahan. Oleh sebab itu kami memohonkan maaf dan kritikan oleh para
pembaca.

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Munandar, Utami.2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : PT
RINEKA CIPTA.
2. http://sunartombs.wordpress.com/2009/08/09/pengertian-kreativitaskreativitas;;pengertian kreativitas2010-2011/.com
3. http://www.indosiar.com/ragam/21364/anak-berbakat-dalam-pendidikan
4. http://books.google.co.id/books?id
5. Suharnan (2005). Psikologi kognitif. Surabaya. Srikandi
6. http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/18/intelegensi-dan-kreativitas-adakahhubungan-di-antara-keduanya-320034.html

11

Anda mungkin juga menyukai