Anda di halaman 1dari 16

PRESENTASI KASUS KOLIK URETER DEXTRA

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RUMAH SAKIT HUSADA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Topik

: Kolik Ureter Dextra

Dokter pembimbing

: Dr. Liliati Widjaya

Nama penyaji

: Shirley C.R.

NIM

: 11-2004-099

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. U

Umur

: 20 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Karyawan

Agama

: Islam

Alamat

: Diketahui

Tanggal masuk RS Husada

: 6 Juni 2006, pukul 10.33

Anamnesa
Berdasarkan autoanamnesa pada tanggal 6 juni 2006 pukul 13.00 WIB.
Keluhan utama

: Nyeri perut kanan bawah yang menjalar ke pinggang kanan sejak


2 jam SMRS.

Keluhan tambahan

: Mual

Riwayat penyakit sekarang


Sejak 2 jam SMRS Husada os mengeluh nyeri yang hebat pada perut kanan
bawah saat sedang berjalan. Nyeri yang dirasakan hilang timbul dan menjalar ke
pinggang kanan tetapi tidak sampai ke skrotum. Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dan
tidak hilang dengan perubahan posisi. Selain itu os juga mengeluh mual. Karena sakit
yang tidak tertahankan, os datang ke UGD RS Husada dan dianjurkan untuk dirawat.
Muntah dan kembung disangkal.

Os mengaku dalam sehari minum 1-2 liter botol aqua dan os juga sering
meminum extra joss 1-2 gelas sehari.
Os mengatakan tidak ada kesulitan sewaktu BAK. Os menyangkal adanya riwayat
kencing yang mengeluarkan batu, kencing yang merasa tampias atau tidak puas, kencing
yang terasa panas atau perih, kencing yang tidak dapat ditahan atau kencing yang sulit
dikeluarkan, nyeri tulang dan nyeri otot. Riwayat trauma disangkal.
Riwayat BAK : Lancar, kuning jernih, frekuensi baik sesuai dengan jumlah air yang os
minum, darah (-).
Riwayat BAB : Lancar, kuning kecoklatan, konsistensi lunak, darah (-), lendir (-), busa
(-).
Riwayat penyakit dahulu
Kencing batu, darah tinggi, kencing manis, asma, jantung, trauma, maag
disangkal.
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada yang menderita penyakit seperti ini dalam keluarga os.
Pemeriksaan fisik
Dilakukan pada tanggal 6 Juni 2006 jam 13.30 WIB.
A. Status generalis
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis, GCS = 15 ( E=4, V=5, M=6 )

Tanda-tanda vital :
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 80 x/ menit

Suhu

: 36,7c

RR

: 20 x/menit

Kepala

: Bentuk normal, rambut berwarna hitam, terdistribusi merata,


tidak mudah dicabut, tidak mudah patah.

Mata

: Bentuk normal, kedudukan kedua bola mata simetris,


palpebra sup et inf tidak oedema, konjungtiva tidak anemis,

sclera tidak ikterik, pupil bulat isokor 3 mm, refleks


cahaya +/+.
Hidung

: Bentuk normal, septum nasi tidak deviasi, secret -/-.

Telinga

: Bentuk normal, CAE lapang, serumen -/-, secret -/-,


membrane timpani utuh.

Mulut

: Perioral tidak sianosis, bibir tidak kering, lidah tidak kotor,


tonsil T1-T1 tenang, faring tidak hiperemis, uvula ditengah.

Leher

: Trakea ditengah, KGB tidak teraba membesar.

Thorax

Paru-paru
o Inspeksi

: Simetris dalam statis dan dinamis.

o Palpasi

: Stem fremitus kanan dan kiri sama kuat.

o Perkusi

: Sonor pada seluruh lapang paru.

o Auskultasi : Vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-.


Jantung
o Inspeksi

: Pulsasi iktus kordis tidak tampak.

o Palpasi

: Teraba pulsasi iktus kordis di ICS V MCL sinistra


depan.

o Perkusi

: Redup dalam batas normal.

Batas atas

: ICS II parasternal line sinistra

Batas Kanan : ICS V midsternal line


Batas kiri

: ICS V midclavicula line sinistra

o Auskultasi : Bunyi jantung I dan II regular, mur-mur (-), gallop (-)


Abdomen
o Inspeksi

: Tampak datar, tidak tampak gambaran vena.

o Palpasi

: Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, nyeri

tekan regio iliaca kanan (+), nyeri lepas dan nyeri ketok (-).
o Perkusi

: Timpani

o Auskultasi : Bising usus (+) normal.

B. Status urologi
Status urologi
1. CVA:

kanan kiri

Nyeri ketok

(+)

(-)

Nyeri tekan

(-)

(-)

Ballotement

(-)

(-)

2. Regio suprasymphisis : nyeri tekan dan nyeri ketok (-)


3. Genitalia externa : laki-laki, tidak dilakukan rectal toucher.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium tanggal 06-6-2006
Darah

Urin

Hb

: 16,2 g/dl

Warna

: kuning

Ht

: 48 vol%

Kejernihan

: jernih

Leukosit

: 8800/l

BJ

: 1,025

Trombosit

: 208.000mm

pH

:5

APTT

: 34 (os)

Urobilinogen : 2

32 (kontrol)
PT

: 12 (os)
12 (kontrol)

GDS

: 103 mg/dl

Ureum

: 30 mg/dl

Kreatinin

: 0,9 mg/dl

Kalium

: 4,21 mq/L

Natrium

:132 mq/L

Klorida

: 108 mq/L

Sedimen urin :
Leukosit

:2

Eritrosit

: >30

Bakteri

:+

Hasil BNO-IVP tanggal 07-06-2006


BNO :

Psoas line simetris kanan dan kiri, tidak tampak kelainan.

Mencurigakan batu opaq kecil di pelvis kanan.

Tulang lumbal spine dan pelvis intact.

IVP :
4

Fungsi ekskresi kedua ginjal baik, tampak bendungan ginjal kanan dan distal
ureter kanan. Ec: batu di distal ureter kanan.

Drainase ureter kiri lancar. Tampak kiking ureter kanan.

Buli-buli tidak tampak kelainan. Post miksi sisa urine minimum.

Kesan : suspect batu di distal ureter kanan.


Resume
Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 20 tahun, datang dengan keluhan nyeri
pada perut kanan bawah yang menjalar hingga ke pinggang kanan ditusuk-tusuk yang
hilang timbul dan tidak berkurang dengan perubahan posisi sejak 2 jam SMRS. Mual (+).
Riwayat BAB dan BAK lancar.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis, GCS = 15 ( E=4, V=5, M=6 )

Tanda-tanda vital :
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 80 x/ menit

Suhu

: 36,7c

RR

: 20 x/menit

Pada pemeriksaan kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, thorax, ekstrmitas, superior
et inferior dan kulit dalam batas normal.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan : nyeri tekan regio iliaca kanan.
Status urologi : nyeri ketok CVA kanan (+).
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium tanggal 06-6-2006
Darah
Natrium

Urin
:132 mq/L

Warna

: kuning

Kejernihan

: jernih

BJ

: 1,025

pH

:5

Urobilinogen : 2

Sedimen urin :
Leukosit

:2

Eritrosit

: >30

Bakteri

:+

Hasil BNO-IVP tanggal 07-06-2006


Kesan : suspect batu di distal ureter kanan.
Diagnosa kerja
Kolik ureter ec batu di distal ureter kanan.
Diagnosa Banding
Appendicitis akut
Pielonefritis akut
Penatalaksanaan

Medikamentosa : Anti spasmodic


Antibiotik
Anti piretik
Antiemetikum

Pro URS (ureteroscopic Stone Removal)

Anjuran

Bedrest

Banyak minum air (2,5 L/hari)

Batasi makanan tinggi kalsium dan oksalat seperti kacang-kacangan, teh, kopi,
jeruk, cola, coklat, tofu, berries, anggur.

Batasi makanan yang mengandung protein hewani.

Batasi asupan vitamin C, D, minyak ikan, atau suplemen mineral yang


mengandung kalsium.

Appendicogram

Follow up
07-06-2006
S : Sakit pada perut kanan bawah sampai ke pinggang kanan.
O : TTV:
Td : 130/70 mmHg
N : 76 x/menit
S : 36,6c
RR :20x/menit
A : Kolik ureter ec batu di distal ureter kanan.
P : Medikamentosa : Anti spasmodic
Antibiotik
Anti piretik
Antiemetikum
Pro URS
08-06-2006
S : Sakit pada perut kanan bawah sampai ke pinggang kanan. Pasien menolak dilakukan
URS dengan alasan biaya. OS minta pulang.
O : TTV:
Td : 130/70 mmHg
N : 76 x/menit
S : 36,7c
RR :20x/menit
A : Kolik ureter ec batu di distal ureter kanan.
P : Medikamentosa : Anti spasmodic
Antibiotik

Anti piretik
Antiemetikum
Prognosa
Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad functionam

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam
PEMBAHASAN KHUSUS

Dasar diagnosa kolik ureter ec batu di distal ureter kanan :


Berdasarkan anamnesa :
1. Nyeri yang hebat pada perut kanan bawah hilang timbul dan menjalar ke
pinggang kanan tetapi tidak sampai ke skrotum.
2. Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dan tidak hilang dengan perubahan posisi.
3. Mual
Berdasarkan pemeriksaan fisik :
1. Abdomen : : nyeri tekan regio iliaca kanan.
2. Nyeri ketok CVA kanan (+).
Berdasarkan pemeriksaan penunjang :
1. Laboratorium tanggal 06-6-2006
Sedimen urin :
Leukosit

:2

Eritrosit

: >30

Bakteri

:+

2. Hasil BNO-IVP tanggal 07-06-2006


Kesan : suspect batu di distal ureter kanan.
Diagnosa
Kolik ureter ec batu di distal ureter kanan.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang sesuai untuk kolik ureter ec batu di distal ureter kanan
adalah dengan URS yaitu dengan mengatasi secara langsung penyebab penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Way, LW, Doherty, GM (2003). Current 11th edition, New york : Mc Graw Hill.
2. Syamsuhidajat R, de jong wim. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi.Jakarta :
EGC.
3. Sabiston, Buku ajar bedah, bagian I edisi I (1992). Jakarta :EGC.
4. www.emedicine.renalcalculi.articlebysandycraig,MD.htm
5. www.kidneystonesinadult.htm
6. www.nationalkidneyfoundationatozhealthguideitem.htm
7. www.beritaiptek.com/zpenulisberitaiptek-60-sandro-mihradi.shtml

PEMBAHASAN UMUM
BATU SALURAN KEMIH
Anatomi ginjal :
Traktus urinarius dibagi 3 :

Bagian atas : ginjal ureter

Bagian tengah : vesika urinaria (buli-buli)

Bagian bawah : urethra

Letak : retroperitoneal
Batas-batas :

Atas : diafragma

Depan : peritoneum parietale

Belakang : m. psoas, m. quadriceps lumborum

Medial : columna vertebralis thorakal XII-LIII

Ginjal kanan :

Atas : kelenjar supra renal kanan

Depan : duodenum

Depan atas : hepar

Depan bawah : flexura hepatic colon

Ginjal kiri :

Atas : kelenjar supra renal kiri

Depan : pancreas sebagian lambung, sebagian jejunum, limpa,plexura lienalis


colon.

Vaskularisasi :

10

Aorta A. renalis hilus ginjal V. renalis V. cafa inferior.


Arteri dan vena renalis disebut pedicle ginjal.
Letak pedicle ginjal ada di depan pelvis renalis sehingga untuk mengambil batu harus
dari belakang untuk menghindari pembuluh darah.
CVA (costo vertebra angle) ialah sudut antara cosat XII dan columna vertebralis.
Ilio costal space ialah daerah antara costa XII belakang dan crista iliaca posterior.
Faal ginjal
Darah melalui A. renalis yang kemudian bercabang-cabang dan menuju vasa aferentia
dan disaring oleh corpuscle malphigi.
Filtrasi ini dilakukan secara pasif oleh tubuli.
Ginjal menyaring darah 180-300 L/24 jam
Reabsorbsi pasif : air, ureum, ca,phospat, sulfat.
Reabsorbsi aktif : glukosa, Na, K, asam urat
Sekresi : K dan asam urat.
Fungsi ginjal :

Menjaga keseimbangan cairan tubuh

Menjaga keseimbangan elektrolit dan asam basa

Sekresi bahan-bahan toksik / tidak terpakai

Anatomi ureter
Mulai dari renal pelvis dan berakhir di vesika urinaria.
Panjang : 24-34 cm dengan arah cranio lateral ke cauda medial.
Ureter mengadakan penyempitan fisiologis di :
1. Urethro pelvic junction (diameter = 2 mm)
2. Ketika menyilang A dan V iliaca (diameter = 4 mm)
3. Ketika memasuki vesika urinaria (diameter = 3-4 mm)
Batu sampai diameter 6 mm masih dapat melewati ureter sebab ereter bersifat elastis.
Vaskularisasi :

atas dan pelvis renalis : dari cabang A. renalis


11

tengah : dari A. iliaca, A. mesenterica inferior, A. hypogastrica, A. spermatica/


A. ovarica.

distal : cabang A. vesicalis, cabang A. vesiculo diferential.

Aliran vena menuju : V. vesicalis, V. uterine, A. iliaca, V. vaginalis, V. spermatica/ V.


ovarica, V. lumbalis/ V. renalis.
Inervasi :

Stimuli ureter dapat dipindahkan ke daerah : N. ilio inguinalis, N. ilo


hypogastricus, N. genitor-femoralis.

Jika ada batu, sering memberikan keluhan reffered pain (nyeri alih) di pinggang
dan genitalia.

Definisi
Batu ureter adalah batu ginjal yang telah bergerak turun dalam ureter.
Patofisiologi
Hampir semua batu yang terbentuk dalam ginajl terjadi ketika urin menjadi jenuh
membentuk kristal solid yang tidak larut. Batu ini mulai sebagai materi kecil yang tidak
larut dan terlokalisasi ketika urine terkumpul di ginjal. Ketika urin mengalir keluar dari
ginjal, materi tidak larut ini tertinggal di belakang. Biasanya materi ini berupa mineral
yang dinamakan kalsium oksalat. Materi umum lainnya dalam jumlah kecil dapat bersifat
sistin, kalsium fosfat, asam urat dan struvit. Berjalan dengan waktu, materi ini dapat
bertambah besar. Kebanyakan batu memasuki ureter ketika mereka berukuran cukup
kecil untuk turun ke dalam kandung kemih. Dari sana, mereka dikeluarkan mereka
dikeluarkan tubuh lewat proses berkemih. Beberapa batu dapat bertambah besar ketika
mereka meninggalkan ginjal, mereka menghambat saluran ureter, menimbulkan kolik dan
dapat menghambat aliran urin. Batu seperti inilah yang harus diberikan tindakan
pengobatan.
Angka kesakitan

Sebesar 80-85% batu dapat lewat secara spontan.

Sebesar 20% pasien membutuhkan perawatan rumah sakit karena sakit yang
tidak tertahankan, ketidakmampuan untuk mengeluarkan batu dari tubuh.

Batu ureter yang terkait dengan obstruksi dan infeksi traktus urinarius bagian
atas merupakan kasus kedaruratan bedah urologi. Komplikasinya dapat berupa
12

abses perirenal, urosepsis, dan kematian. Rujukan sesegera mungkin ke dokter


bedah urologi sangat dianjurkan.
Etiologi
Teori pembentukan batu :
a. Teori inti (nucleus) : kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan
kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.
b. Teori matriks : matriks organic yang berasal dari serum atau protein- protein urin
memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
c. Teori inhibitor kristalisasi : beberapa substansi dalam urin menghambat terjadinya
kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini memungkinkan
terjadinya kristalisasi.
Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi itu bergantung pada
pH urin, kekuatan ion, konsentrasi cairan, dan pembentukan kompleks.
Batu kalsium dapat disebabakan oleh :

Hiperkalsiuria absorptive : gangguan metabolisme yang menyebabkan absorpsi


usus yang berlebihan juga pengaruh vitamin D dan hiperparatiroidi.

Hiperkalsiuria renalis : kebocoran pada ginjal.

Batu oksalat dapat disebabkan oleh :

Primer autosomal resesif

Ingesti inhalasi : vitamin C, enthylen glycol, methoxyflurane, anestesi.

Hiperoksaluria enteric : inflamasi saluran pencernaan, reseksi usus halus, bypass


jejunoileal, sindrom malabsorpsi.

Batu asam urat dapat disebabkan oleh :

Makanan yang banyak mengandung purin.

Pemberian sitostatik pada pengobatan neoplasma.

Dehidrasi kronis

Obat-obatan : tiazid, lasix, salisilat.

Manifestasi klinis
Gejala dan tandanya bergantung pada lokasi batu. Pasien dengan batu ginjal akan
merasa pegal dan kolik pada daerah sudut kostovertebralis (CVA). Pada pemeriksaan

13

fisik didapatkan nyeri tekan dan nyeri ketok CVA. Bila terjadi hidronefrosis akan teraba
adanya massa. Dapat terjadi infeksi dan bila terjadi sepsis akan demama, menggigil serta
apatis. Gejala traktus digestivus seperti : nausea, vomitus, dan distensi abdomen dapat
terjadi karena ileus paralitik. Hematuria dapat terjadi secara mikro (90%) dan makro
(10%).
Pada pasien dengan batu ureter terdapat rasa nyeri yang mendadak yang
disebabkan batu yang lewat, rasa sakit berupa rasa pegal di CVA atau kolik yang menjalar
ke perut bawah sesuai lokasi batu dalam ureter. Pada pria rasa sakit akan menjalar ke
testis bila batu di ureter proksimal atau ke vulva pada wanita dank e skrotum pada batu di
ureter distal. Dapat pula terjadi gangguan traktus digestivus. Bila batu sudah menetap di
ureter hanya ditemukan rasa pegal di CVA karena bendungan. Pasien yang mengalami
kolik tampak gelisah dan kulitnya basah dan dingin. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
nyeri tekan nyeri ketok CVA, spasme otot-otot abdomen, testis hipersensitif. Bila batu
menetap di ureter hanya ditemukan nyeri tekan dan nyeri ketok atau tidak ditemukan
kelainan sama sekali.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium darah yang sebaiknya dilakukan ialah pemeriksaan
darah perifer lengkap (termasuk Ca, asam urat, fosfat), fungsi ginjal (termasuk urin 24
jam).
Pada pemeriksaan urinalisa bila pH > 7,6 biasanya ditemukan kuman urea
splitting yang menyebabkan batu anorganik sedangkan pH asam menyebabkan batu
organic (batu asam urat). Dapat pula ditemukan sediment, hematuria mikroskopik (90%),
dan bila terjadi infeksi, leukosit akan meningkat. Pemeriksaan untuk mencari penyebab
antara lain dapat diukur ekskresi Ca, fosfor, asam urat dalam urin 24 jam.
Pada pemeriksaan BNO didapatkan : kontur ginjal, batu radioopaq, lokasi dan
besar batu. Pada pemeriksaan IVP didapatkan : fungsi ekskresi ginjal, struktur sistem
pelvikalises, ureter, dinding buli-buli, batu radioluscent (filling defect). Dilakukan
retrograde pielografi jika tidak dapat dilakukan IVP. Urutan yang radiopaq hingga
radioluscent pada BNO : kalsium fosfat, kalsium oksalat, magnesium ammonium fosfat,
sistin, asam urat, xantin. Pemeriksaan radiologist lain yang dapat menunjang yaitu USG,

14

CT scan, MRI, atau nuclear scintigraphy yang dapat mengidentifikasi batu yang kecil
yang sulit diidentifikasi dengan cara konvensional.
Diagnosa banding dari batu ureter adalah tumor primer ureter, sumbatan bekuan
darah dari ginjal, pielonefritis akut. Sedangkan penanganannya dapat berupa terapi
natural atau pasif dengan meminum obat-obatan tertentu untuk membantu meluruhkan
batu ginjal secara kimia, dan simtomatik, denagan bahan pelarut, dengan tindakan
pembedahan baik non-invasive seperti ESWL, kemudia terapi minimal-invasive seperti
PNL (Percutaneous Nephrolithotomy) dan URS (Ureteroscopic Stone Removal) dan
sebagai pilihan terakhir adalah operasi terbuka.
ESWL adalah terapi yang menggunakan gelombang kejut (shock wave) yang
ditembakkan dari luar tubuh ke arah batu ginjal sampai batu ginjal tersebut hancur dan
ukuran serpihannya cukup kecil hingga dapat dikeluarkan secara natural dengan urinisasi.
Dikatakan sebagai terapi non-invasive, karena tidak memerlukan pembedahan atau
memasukkan alat kedalam tubuh pasien. Sedangkan PNL dan URS dikatakan sebagai
terapi minimal-invasive karena memerlukan sedikit pembedahan dengan memasukkan
alat kedalam tubuh untuk menghancurkan dan mengeluarkan batu ginjal.
Dalam terapi PNL, guide wire dimasukkan melalui kulit dekat pinggang
kemudian dengan membuat lubang kecil menembus masuk ke dalam ginjal sampai ia
menemukan posisi batu ginjal. Sejenis tabung kecil kemudian dimasukkan sepanjang
guide wire untuk membuat tunnel, dimana nantinya lewat tunnel ini dimasukkan
instrumen kecil untuk menghancurkan batu ginjal dan mengeluarkan serpihannya.
Sedangkan URS prinsip kerjanya mirip dengan PNL, namun dalam URS
digunakan alat yang dinamakan ureteroscopes, dimana alat ini dimasukkan melalui
urethra (saluran kencing), kemudian melalui bladder (kandung kemih) dan ureter
(saluran

kemih),

sampai

menemui

posisi

batu

ginjal.

Dari beberapa terapi di atas, ESWL merupakan terapi pilihan pertama untuk kasus
umum penanganan batu ginjal dikarenakan keamanan, keefektifan serta kefleksibelannya
terhadap posisi batu ginjal. Sebagai perbandingan, terapi PNL hanya efektif untuk
penanganan batu ginjal yang masih berada dalam ginjal atau atau yang berada pada ureter
bagian atas. Sedangkan terapi URS efektif pada batu ginjal yang berada pada ureter
bagian bawah atau pada kandung kemih. Kemudian dari segi keamanan dan kenyamanan,

15

pasien yang diterapi dengan ESWL pada umumnya tidak memerlukan obat bius atau
penahan sakit saat terapi dilakukan, dan sudah dapat melakukan aktifitas seperti biasa
dalam satu atau dua hari setelah terapi. Sedangkan untuk PNL dan URS diperlukan waktu
pemulihan sekitar satu sampai dua minggu, dan waktu pemulihan yang lebih panjang
dibutuhkan lagi bagi pasien yang menjalani operasi terbuka , yaitu sekitar enam minggu.

16